Anda di halaman 1dari 3

RESUME

JURNAL
UJI TOKSISITAS FRAKSI SPONS Callyspongia sp. DENGAN METODE Brine
Shrimp Test (BST) DARI PERAIRAN PASIR PUTIH SITUBONDO
Abstrak
Pendahuluan
Spons merupakan sumber daya alam hayati yabg terdapat di laut. Perairan Indonesia
menjadi salah satu komoditas utama dalam sumber daya alam hayati yang belum maksimal
dalam pengelolaannya. Spons itu sendiri merupakan binatangmultiseluler primitif (Metazoa)
yang hidup menempel pada permukaan substrat. Spons hidup di perarian yang jernih dan
tumbuh di sekitar kawasan terumbu karang. Salah satu jenis Spons yang banyak tumbuh di
perairan Indonesia yaitu Callyspongia sp. yang berbentuk pipa atau conules yang tajam dan
termaksud dalam leoconoid demosponge. Spons sendiri mempertahankan hidupnya di dasar
perairan dengan mengeluarkan senyawa kimia hasil metabolisme sekunder. Senyawa
metabolisme sekunder merupakan senyawa kimia yang memiliki kemampuan bioaktifitas.
Salah satu metode untuk mengetahui tingkat ketoksikannya adalah dengan
menggunakan metode Brine Shrimp Test (BST). Metode ini dikembangkan oleh Meyer et al.,
(1982) dalam Montanher et al., (2002) dengan menggunakan peralatan sederhana dimana
salah satu respon biologi yang diamati adalah kematian.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode uji toksisitas BST dengan larva Artemia salina
menggunakan fraksi spons Callyspongia sp. yang diperoleh melalui proses Kromatografi
Lapis Tipis (KLT). Penelitian menunjukkan bahwa spons Callyspongia sp. memiliki fraksi
alkaloid seperti derivate 3-alkylpiridine (Voogd, 2007) dan fraksi terpenoid seperti
isoakaterpin dan perlu dilakukan isolasi senyawa bioaktif yang dominan pada Callyspongia
sp. untuk diketahui tingkat toksisitasnya.
Ada tiga (3) jenis pelarut yang digunakan dalam pembuatan pelarut spesifik yaitu:
pereaksi Wagner (berfungsi untuk menunjukan adanya senyawa alkaloid), pereaksi
Liebermann-Burchard (berfungsi untuk menentukan adanya senyawa terpenoid dan steroid),
dan pereaksi Besi (III) Klorida (berfungsi untuk menunjukkan adanya senyawa fenolik dan
flavonoid).
Adapun cara kerja dalam menguji toksisitas spons yaitu:
Isolasi Senyawa Bioaktif dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Ekstrak kasar Callyspongia sp. yang telah kering diambil 1 gr dan dilarutkan dalam ethanol
2 ml. Larutan ekstrak dalam ethanol selanjutnya ditotolkan pada plat KLT menggunakan
pipa kapiler dengan jarak 1 cm dari tepi dasar dan kemudian kromatogram di deteksi
dengan sinar UV.
Uji Kuantitatif terhadap ekstrak spons Callyspongia sp.
Senyawa yang telah dipisahkan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), kemudian disemprot
dengan Besi(III)Klorida, Lieberman-Burchard dan Wagner. Adanya perubahan warna tersebut
menentukan jenis senyawa yang terdapat pada senyawa yang telah dipisahkan oleh KLT.
Adapun jenis senyawa tersebut dapat dilihat pada tabel 1. Uji Kuantitatif Senyawa Bioaktif
dengan Menggunakan Pereaksi Spesifik.

Tabel 1. Uji Kuantitatif Senyawa Bioaktif dengan Menggunakan Pereaksi Spesifik.

Jenis Senyawa
Alkaloid
Terpenoid
Steroid
Flavonoid
Felonik

Pereaksi
Wagner
Lieberman-Burchard
Lieberman-Burchard
Besi (III) Klorida
Besi (III) Klorida

Warna
Coklat
Biru ungu
Biru hijau
Jingga sampai Merah
Biru ungu

Isolasi Senyawa Bioaktif dengan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)


Ekstrak Callyspongia sp. yang dilarutkan dalam etanol ditotolkan pada plat KLTP berupa
garis lurus menggunakan pipa kapiler dengan jarak 2 cm dari dasar. Lalu dielusi dengan
fasa gerak yang didapat dari KLT hingga berjarak 2 cm dari tepi atas , kemudian hasil
dikeringkan.

Uji Toksisitas
Pembuatan Larutan Stok dan Larutan
untuk Uji Perlakuan
Setelah fraksi kering yang telah didapat kemudian dilarutkan dengan air laut dengan konstrasi
1000 g/mL, 500 g/mL, 250 g/mL, 100 g/mL dan 10 g/mL. Kemudian kontrol
disiapkan, hanya media air laut tanpa penambahan ekstrak spons. Konsentrasi 1000 g/mL
digunakan untuk larutan stok. Kemudian dibuat larutan dengan konsentrasi 500 g/mL, 250
g/mL, dan 100 g/mL dan 10 g/mL.
Penetasan Larva Udang

Telur Artemia salina ditetaskan dalam air laut. Telur dimasukkan dalam wadah penetasan yang
berisi 500 ml air laut. Aerasi diberikan selama 48 jam. Pakan Artemia salina berupa ragi diberikan
dengan konsentrasi 3 mg dalam 5 ml air laut sebanyak 1 tetes. Jumlah kepadatan telur yang ditetaskan
adalah 5 g/L. Oksigen disuplai melalui aerator yang dihidupkan selama penetasan. Telur ini akan
menetas dalam jangka waktu 24-48 jam dan larvanya disebut nauplius.
Uji Brine Shrimp Test (BST)
fraksi yang telah dipisahkan saat KLT dibuat larutan stok dengan konsentrasi 1000 g/mL, 500
g/mL, 250 g/mL, 100 g/mL, 10 g/mL dengan 0 g/mL sebagai kontrol. Pembuatan larutan
dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali (A, B, dan C) terhadap masing-masing konsentrasi dengan
masing-masing pengisian pada botol ampul sebanyak 1 ml dari masing-masing konsentrasi dan diberi
dengan 5 ml air laut. Larutan ini ditempatkan pada tiga botol ampul untuk masing-masing fraksi pada
masing-masing konsentrasi dan diisi dengan 20 ekor Artemia salina yang berumur 48 jam. Setelah 24
jam, dihitung jumlah Artemia salina yang hidup dan yang mati.

HASIL
Hasil uji senyawa (yang telah dihitung setelah 24 jam menggunakan BST), alkaloid pada
konsentrasi 10 g/mL didapat persen kematian sebesar 1.67%, konsentrasi 100 g/mL
sebesar 13.33%, konsentrasi 250 g/mL sebesar 15%, konsentrasi 500 g/mL sebesar 8.33%,
dan konsentrasi 1000 g/mL sebesar 20%. Hasil perlakuan pada konsentrasi yang digunakan
tidak menunjukkan adanya kematian 50%. Kematian hewan uji yang paling besar yaitu
sebesar 20% terdapat pada konsentrasi 1000 g/mL. Oleh karena itu, digunakan analisa
probit dengan program komputasi MINITAB untuk memprediksi nilai LC50. Hasil
perhitungan dengan analisa probit-MINITAB menunjukkan bahwa prediksi kematian 50%
hewan uji pada fraksi alkaloid akan diperoleh apabila dilakukan perlakuan konsentrasi

sebesar 2021.50 g/mL. Konsentrasi tersebut dapat dikatakan tidak bersifat toksik, karena
nilai LC50 1000 g/mL (Meyer et al., 1982).
Persen kematian yang diperoleh pada senyawa steroid dengan konsentrasi 10 g/mL sebesar
11.67%, konsentrasi 100 g/mL sebesar 20%, konsentrasi 250 g/mL sebesar 15%,
konsentrasi 500 g/mL sebesar 23.33%, dan konsentrasi 1000 g/mL sebesar 25%. Kematian
hewan uji paling besar terdapat pada konsentrasi 1000 g/mL sebesar 25%. Persen kematian
yang diperoleh tersebut juga tidak mencapai kematian 50% sehingga perlu dilakukan analisa
probit menggunakan MINITAB untuk memprediksi LC50. Hasil perhitungan terhadap fraksi
steroid dengan analisa probit-MINITAB menunjukkan bahwa prediksi kematian 50% akan
diperoleh bila dilakukan pemaparan fraksi steroid dengan konsentrasi sebesar 1821.05 g/mL
(lampiran 1). Hal ini sama dengan senyawa alkaloid dimana konsentrasi tersebut dapat
dikatakan tidak bersifat toksik, karena nilai LC50 1000 g/mL (Meyer et al., 1982).
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, didapat kesimpulan sebagai berikut :
1. Senyawa bioaktif yang diperoleh selama penelitian spons Callyspongia sp. menggunakan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah senyawa steroid dan alkaloid.
2. Hasil prediksi kematian menggunakan LC50 pada senyawa steroid dari hasil uji Brine
Shrimp Test (BST) adalah 1821.05 g/mL sedangkan senyawa alkaloid sebesar 2021.50
g/mL sehingga dapat dikatakan prediksi kemampuan toksisitas senyawa steroid lebih besar
bila dibanding dengan senyawa alkaloid.