Anda di halaman 1dari 10

ASSIGNMENT MARKETING MANAGEMENT

ASSIGNMENT MARKETING MANAGEMENT Oleh: Agriqisty Muthia Rahma Dianti Rantika Wiranti Junia Suzuki Seeks ‘Divorce’ From Volkswagen

Oleh:

Agriqisty Muthia Rahma Dianti Rantika Wiranti Junia

Suzuki Seeks ‘Divorce’ From Volkswagen After 20 Month Tie-Up

MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS ANDALAS

2016

Suzuki Seeks ‘Divorce’ From Volkswagen After 20 Month Tie-Up

  • A. Case Summary

Suzuki Motor Corp. akan berusaha untuk membubarkan aliansi berusia 20-bulan dengan Volkswagen AG setelah 222.5 billion yen ($2.9 billion) investasi produsen mobil Jerman itu gagal menghasilkan satu proyek.

Produsen otomotif Jepang, yang memiliki 1,49 persen Volkswagen, berencana menjual kepemilikannya jika Volkswagen setuju untuk mengakhiri kerjasama, perusahaan mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Bursa Efek Tokyo. Produsen mobil yang berbasis di Jerman Wolfsburg memiliki 19,9 persen dari Zuzuki, menurut data Bloonberg.

Suzuki akan berusaha untuk mengakhiri perjanjian dengan Volkswagen, bahkan jika mobil Jerman ingin mempertahankan itu, Ketua Osamu Suzuki mengatakan hari ini di Tokyo. Volkswagen saat ini mengatakan perusahaan tidak memiliki rencana untuk membubarkan aliansi aliansi produsen mobil jepang.

"Hubungan seperti perkawinan dan perceraian," kata Ketua Suzuki. "Kami hanya harus memiliki istirahat yang sederhana dengan senyum dan mengatakan kami tidak dimaksudkan untuk satu sama lain. Dua pembuat mobil berhenti berbicara setelah Volkswagen digambarkan mitranya sebagai "associate" dalam laporan tahunannya. Volkswagen tidak berniat menjual atau mengurangi sahamnya di Suzuki, juru bicara Michael Brendel mengatakan hari ini. Suzuki telah melanggar perjanjian kemitraan antara kedua pembuat mobil dengan memutuskan untuk membeli mesin dari mobil italia fiat SpA katanya. “Terkenal independen”.

"Kami sudah tahu bahwa Suzuki adalah perusahaan terkenal independen dengan ketua yang tidak akan berusaha sekuat tenaga untuk bekerja sama," kata Ashvin Chotai, seorang managing director berbasis di London Intelligence Automotive Asia Ltd "Volkswagen adalah lebih baik berfokus pada strategi berbasis non-Suzuki untuk India dan Indonesia. "

Suzuki memutuskan untuk mencari mengakhiri aliansi modal dengan Volkswagen pada pertemuan dewan terjadwal hari ini, menurut pernyataan itu. Suzuki ingin membeli saham Volkswagen memiliki dan memiliki cukup uang untuk melakukannya, kata Ketua Suzuki. "Anda dapat menyebabkan kuda untuk air tetapi Anda tidak bisa membuatnya minum," kata Ketua Suzuki. "Kita perlu saling berdiskusi dan sampai pada suatu kesimpulan." Suzuki turun 2,8 persen menjadi ¥ 1.484 di 3:00 penutupan perdagangan di Tokyo. saham telah turun 28 persen dari ¥ 2.061 per saham yang VW dibayar pada pertengahan Januari 2010. Gagal

Alliance Gagal

Produsen mobil Jepang mengatakan itu tidak melanggar perjanjian kerjasama dengan Volkswagen dan tidak mengharapkan putus akan menyebabkan denda, menurut Executive Vice President Yasuhito Hayamara. Suzuki dan Volkswagen kemitraan tidak akan menjadi aliansi pertama mobil Jerman – Jepang yang gagal.

Daimler AG membeli saham 37 persen di Mitsubishi Motors Corp pada tahun 2000 dan 2001. holding itu dibatalkan pada 2005 setelah dua tahun penurunan penjualan pada produsen mobil Jepang. Pendapatan jatuh setelah Mitsubishi Motors mengaku cacat bersembunyi, mendorongnya ke rekor kerugian ¥ 215.400.000.000 pada tahun yang berakhir

Maret

2004.

Sebaliknya, Perancis Renault SA dan Jepang Nissan Motor Co membentuk aliansi pada tahun 1999 yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Daimler bergabung dengan aliansi pada bulan April 2010 dengan memberikan saham 3,1 persen untuk kedua pembuat mobil.

Mitsubishi Motors dan PSA Peugeot Citroen juga memiliki kemitraan yang sukses, kata Masatoshi Nishimoto, seorang IHS analis mobil yang berbasis di Tokyo.

Mitsubishi-Peugeot

Mitsubishi dan Peugeot mulai kemitraan pada tahun 2005 ketika produsen mobil Jepang mulai memasok mobil berdasarkan Outlander sport-utility vehicle untuk mitra Perancis. Sejak itu, mereka telah membangun pabrik bersama-sama di Rusia yang mulai beroperasi September lalu, dan Peugeot di 2010 mengumumkan akan menjual mobil listrik yang disediakan oleh Mitsubishi. VW dan Suzuki awalnya mengatakan mereka berniat untuk bekerja sama pada teknologi, termasuk hibrida dan mobil listrik dan berkembang di pasar negara berkembang. Dalam kesepakatan yang ditandatangani pada bulan Desember 2009, VW mengambil 19,9 persen saham Suzuki. Ketua Suzuki mengatakan hari ini bahwa perusahaan "tidak melihat alasan mengapa Volkswagen akan marah" tentang Suzuki memperluas pembelian mesin dari Fiat.

Suzuki membentuk aliansi dengan Fiat untuk membuat mesin diesel di Asia pada tahun 2005. Pada bulan Juni tahun ini, itu diperluas perjanjian untuk membeli mesin dari Fiat di Hongaria. Ketua Suzuki mengatakan mobil menjelaskan aliansi mesin dengan Fiat untuk CEO Volkswagen Martin Winterkorn pada bulan Januari 2011.

Terkemuka Di India

Kemitraan ini juga dimaksudkan untuk menggabungkan posisi terdepan Suzuki di India, ekonomi besar kedua-pertumbuhan tercepat di Asia, dengan jangkauan global Volkswagen sebagai terbesar ketiga produsen mobil dunia.

VW, yang memperkirakan pengiriman akan naik 5 persen tahun ini setelah menjual 7,2 juta kendaraan pada 2010, bertujuan untuk mengungguli Toyota Motor Corp dan General Motors Co sebagai produsen mobil terbesar di dunia pada 2018 dan menargetkan india sebagai pasar yang berkembang.

Suzuki, yang terjual 2,64 juta mobil pada tahun fiskal lalu, disampaikan 1,13 juta unit kendaraan tersebut di India. VW menjual 53.300 mobil di negara itu pada 2010.

Ketua Suzuki belum menemukan teknologi VW ia ingin mengadopsi menyusul tinjauan ekstensif dari apa yang mereka tawarkan, ia menulis di kolom surat kabar Nikkei pada bulan Juli. Suzuki pada bulan Juli juga mengatakan itu terbuka untuk membentuk aliansi dengan orang lain. "Hubungan antara VW dan Suzuki telah naas dari awal," kata Christopher Richter, analis senior CLSA di Tokyo. "Kedua mitra benar-benar tidak mengerti satu sama lain." Pasar kecil Volkwagen Winterkorn mengatakan Mei mobil yang direncanakan untuk menargetkan segmen mobil kecil di India sebagai proyek potensial bersama dengan Suzuki, serta pengadaan suku cadang dan pengembangn teknologi alternative drive.

Suzuki memiliki posisi dominan di India, di mana yang Maruti Suzuki India Ltd Unit adalah pemimpin pasar, sementara kompetisi mengintensifkan. Sebuah aliansi yang sukses akan memungkinkan Unit India Suzuki untuk mendapatkan keuntungan dari jangkauan dan produk portofolio global VW, dengan lebih dari 60 model di merek senama saja.

Maruti Suzuki akan menjual 36 persen dari 3.070.000 kendaraan disampaikan di India pada tahun 2011, IHS Automotive memperkirakan. keseluruhan penjualan di pasar akan naik 76 persen menjadi 5,41 juta pada tahun 2016, dengan Maruti Suzuki nabbing 25 persen.

Suzuki

sebelumnya

memiliki

aliansi

ekuitas

27

tahun

dengan

GM,

yang

mengakibatkan pengembangan produk bersama dan pembelian global. Kemitraan berakhir sebagai GM menuju kebangkrutan. Produsen mobil yang berbasis di Detroit menjual saham

17 persen di tahun 2006 untuk meningkatkan $2 miliar sampai memperkuat neraca. Ini

dibatalkan

tersisa

3%

tahun

2008.

"Ini adalah kemunduran bagi VW, mereka dihitung Suzuki untuk membantu mereka menaklukkan segmen murah di Asia dan sekarang semuanya tampak compang-camping," kata Stefan Bratzel, direktur Center of Management Otomotif di University of Applied Sciences di Bergisch- Gladbach, Jerman. "Dengan yang pangsa 50 persen dari pasar India, Suzuki adalah dibuat sebagai mitra untuk VW.

  • B. Literatur Review

Definisi Strategi Aliansi

Aliansi strategis adalah hubungan formal antara dua atau lebih kelompok untuk mencapai satu tujuan yang disepakati bersama ataupun memenuhi bisnis kritis tertentu yang dibutuhkan masing-masing organisasi secara independen. Aliansi strategis pada umumnya terjadi pada rentang waktu tertentu, selain itu pihak yang melakukan aliansi bukanlah pesaing langsung, namun memiliki kesamaan produk atau layanan yang ditujukan untuk target yang sama. Aliansi strategis adalah kerjasama (partnerships) antara dua atau lebih perusahaan atau unit bisnis yang bekerjasama untuk mencapai tujuan yang signifikan secara strategis yang saling menguntungkan (Elmuti dan Kathawala, 2001, p.205). Bentuk hubungan simbiosis mutualistis yang dilakukan oleh perusahaan ini untuk memperoleh teknologi guna mendapat akses dalam pasar yang spesifik, untuk menurunkan resiko keuangan, menurunkan resiko politik, serta untuk mencapai atau menjamin keunggulan persaingan (Wheelen dan Hunger, 2000 dalam Elmuti dan Kathawala, 2001, p. 206). Pada prinsipnya, aliansi dilakukan oleh perusahaan untuk saling berbagi biaya, resiko dan manfaat. Alasan rasional ditempuhnya aliansi strategi adalah untuk memanfaatkan keunggulan sesuatu perusahaan dan mengkompensasi kelemahannya dengan keunggulan yang dimiliki partnernya (Kuncoro, 1994, p.30). Dengan demikian, masing-masing pihak yang beraliansi saling memberikan kontribusi dalam pengembangan satu atau lebih strategi kunci dalam bidang usaha yang dialiansikan. Jadi, apapun bentuk serta lingkup kegiatan yang dilakukan, semua pihak menghendaki suatu keuntungan serta manfaat bersama yang diciptakan melalui interaksi terpadu.

Pembelajaran melalui aliansi strategis tersebut, menurut Li dan Chen (2000) meliputi 3 area fungsi yaitu technology, manufacturing, dan marketing. Pengkategorian ini dilakukan karena pengertian aliansi strategis yang sangat luas dalam lintas aktifitas fungsinya.

  • a. Technological Capabilities Dalam menjalankan bisnisnya, perusahaan memerlukan upaya untuk menghadapi pesaing yang selalu berkejar-kejaran untuk melakukan inovasiinovasi, baik yang menyangkut teknologi yang digunakan untuk proses produksi maupun inovasi terhadap produk itu sendiri (Kotabe, 1990, P. 23).

  • b. Manufacturing Capabilities Manufacturing (pabrikan) eksternal membantu pengembangan produk. Suksesnya produk baru membutuhkan kualitas pabrikan yang tinggi dan biaya pabrikan yang rendah. Pengetahuan pabrikan baru yang didapatkan melalui aliansi strategis membantu perusahaan untuk mencapai cita-cita pabrikan tersebut. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dataquest pada tahun 1990 (Das, Sen dan Sengupta, 1998, p. 42) dalam industri semi konduktor, banyak perusahaan yang memilih spesialisasi pada pengembangan produk dan aktifitas teknologi. Mereka mempercayai aliansi strategis untuk memperoleh sumber daya pabrik. Secara keseluruhan, tampak nyata bahwa perolehan kemampuan pabrikan secara langsung maupun tidak langsung akan membantu upaya pengembangan produk.

  • c. Marketing Capabilities Pengembangan produk banyak dipengaruhi faktor eksternal perusahaan, diantaranya kemampuan pemasaran (marketing capabilities). Kemampuan komunikasi dengan pihak luar atau kemampuan berinteraksi dengan sumber daya di luar perusahaan akan membantu dalam pengembangan produk. Selain itu, penting bagi perusahaan untuk mengetahui pengetahuan dan preferensi konsumen dalam pengembangan produk. Pengetahuan pemasaran akan membantu mengidentifikasi permintaan baru konsumen dan memperkirakan permintaan konsumen di masa datang akan produk baru serta melihat kesempatan yang ada dipasar

Keuntungan Aliansi Strategis

Dalam era ekonomi dewasa ini, aliansi strategis memungkinkan korporasi meningkatkan keunggulan bersaing bisnisnya melalui akses kepada sumber daya partner atau rekanan. Akses ini dapat mencakup pasar, teknologi, kapital dan sumber daya manusia. Pembentukan tim dengan korporasi lain akan menambahkan sumber daya dan kapabilitas yang saling melengkapi (komplementer), sehingga korporasi mampu untuk tumbuh dan memperluas secara lebih cepat dan efisien. Khususnya pada korporasi yang tumbuh dengan pesat, relatif akan berat untuk memperluas sumber daya teknis dan operasional. Dalam proses, korporasi membutuhkan penghematan waktu dan peningkatan produktivitas dengan tanpa mengembangkan secara individual, hal ini agar korporasi dapat tetap fokus pada inovasi dan bisnis inti organisasi. Korporasi yang tumbuh pesat dipastikan harus melakukan aliansi

strategik untuk memperoleh benefit dari saluran distribusi, pemasaran, reputasi merek dari para pemain bisnis yang lebih baik. Dengan melakukan aliansi strategik, beberapa keuntungan adalah

  • 1. memungkinkan partner untuk konsentrasi pada aktivitas terbaik yang sesuai dengan kapabilitasnya,

  • 2. pembelajaran dari partner dan pengembangan kompetensi yang mungkin untuk memperluas akses pasar,

  • 3. memperoleh kecukupan sumber daya dan kompetensi yang sesuai agar organisasi dapat hidup.

Lebih lanjut Pits dan Lei (1996, hlm. 216-217) menyatakan ada empat keuntungan bagi perusahaan bila perusahaan tersebut membangun aliansi dengan perusahaan-perusahaan lain. Keempat keuntungan tersebut adalah

  • 1. aliansi dapat menghalangi masuknya para pendatang baru,

  • 2. aliansi dapat mengurangi dampak perubahan evolusi industri,

  • 3. aliansi dapat meningkatkan pembelajaran tentang penggunaan teknologi baru, dan

  • 4. aliansi dapat memperkuat lini produk (produk line).

Penggunaan Aliansi Strategis

Aliansi strategis pada umumnya digunakan perusahaan untuk:

  • 1. Mengurangi biaya melalui skala ekonomi atau pengingkatan pengetahuan, Meningkatkan akses pada teknologi baru

  • 2. Melakukan perbaikan posisi terhadap pesaingMemasuki pasar baru

  • 3. Mengurangi waktu siklus produk

  • 4. Memperbaiki usaha-usaha riset dan pengembangan

  • 5. Memperbaiki kualitas

Proses pembentukan aliansi strategis

  • 1. Pengembangan Strategi. Pada tahap ini akan dilakukan kajian tentang kelayakan aliansi, sasaran dan rasionalisasi, pemilihan fokus isu yang utama dan menantang, pengembangan sumber daya strategi untuk mendukung produksi,teknologi, dan sumber daya manusia. Pada tahapan ini dilakukan penyesuaian sasaran dengan strategi keseluruhan perusahaan/ korporasi

  • 2. Penilaian Rekanan. Pada tahap ini dilakukan analisis potensi rekan yang akan dilibatkan, baik kekuatan maupun kelemahan, penciptaan strategi untuk mengakomodasi semua gaya manajemen rekanan, menyiapkan kriteria pemilihan rekanan, memahami motivasi rekanan dalam membangun aliansi dan memperjelas gap kapabilitas sumber daya yang mungkin akan dikeluarkan oleh rekanan.

  • 3. Negosiasi Kontrak. Tahap ini mencakup penentuan apakah semua pihak memiliki sasaran yang realistis, pembentukan tim negosiasi, pendefinisian kontribusi masing- masing pihak dan pengakuan atas proteksi informasi penting, pasal-pasal terkait pemutusan hubungan, hukuman/ penalti untuk kinerja yang buruk, dan prosedur yang jelas dan dapat dipahami dalam interaksi.

  • 4. Operasionalisasi Aliansi. Operasionalisasi aliansi mencakup penegasan komitmen manajemen senior masing-masing pihak, penentuan sumber daya yang digunakan untuk aliansi, menghubungkan dan menyesuaian anggaran dan sumber daya dengan prioritas strategik, penegasan kinerja dan hasil dari aktivitas aliansi.

  • 5. Pemutusan Aliansi. Aliansi dapat dihentikan dengan syarat-syarat tertentu yang disepakati. Pada umumnya ketika sasaran tidak tercapai, atau ketika partner melakukan perubahan prioritas strategik, atau melakukan realokasi sumberdaya ketempat yang berbeda.

Tipe Aliansi Strategis

Ada empat tipe aliansi strategi, yaitu joint venture, equity strategic alliance, nonequity

strategic alliance, dan global strategic alliances.

  • 1. Joint venture adalah aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan menciptakan perusahaan yang independen dan legal untuk saling berbagi sumber daya dan kapabilitas untuk mengembangkan keunggulan bersaing.

  • 2. Equity strategic alliance adalah aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan memiliki persentase kepemilikan yang dapat berbeda dalam perusahaan yang dibentuk bersama namun mengkombinasikan semua sumber daya dan kapabilitas untuk mengembangkan keunggulan bersaing

  • 3. Nonequity strategic alliance adalah aliansi strategis dimana dua atau lebih perusahaan memiliki hubungan kontraktual untuk menggunakan sebagian sumber daya dan kapabilitas unik untuk mengembangkan keunggulan bersaing.

  • 4. Global Strategic Alliances adalah kerjasama secara partnerships antara dua atau lebih perusahaan lintas negara dan lintas industri. Terkadang aliansi ini dibentuk antara korporasi (atau beberapa korporasi) dengan pemerintah asing.

Dalam case ini juga membahas mengenai relationship strategy. Relationship Strategy atau kerja sama usaha adalah sebuah strategi yang biasa digunakan untuk menutupi gap atau kesenjangan yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Gap atau kesenjangan ini bisa berupa skil(skill) dan sumber daya(resources). Skill dan resource ini bisa berupa aspek keuangan,

tenaga kerja ahli, teknologi, akses informasi . Ada beberapa bentuk kerjsama

yang mungkin

dilakukan seperti, joint operation, aliansi strategis. Masing-masing kerjasama ini memiliki dasar dan tujuan yang berbeda-beda disesuaikan dengan visi dan misi dari kerjasama tersebut. Joint Operation biasanya dipakai untuk mengerjakan proyek tertentu dengan jangka waktu yang tidak terlalu lama sedangkan aliansi memungkinkan untuk kerjasama strategis dan berjangka waktu lebih panjang. Seperti telah disampaikan diatas bahwa relationship strategy bisa dilakukan dengan beberapa cara tetapi saya akan membahas kerja sama operasi untuk perusahaan kontraktor. Kerjasama ini biasanya dilakukan untuk saling melengkapi dari dua atau beberapa perusahaan kontraktor baik dari aspek pembiayaan, teknis pekerjaan, maupun kebutuhan leverage atau bahkan hanya sharing informasi.

C. Kesimpulan

Aliansi

strategis

adalah sebuah strategi dalam dunia bisnis yang digunakan

perusahaan untuk meningkatkan competitiveness mereka dengan melakukan kerjasama dengan perusahaan lain. Melalui aliansi ini suatu perusahaan dapat meningkatkan competitive advantage mereka dengan menggabungkan competitif advantage mereka dengan competitive advantage perusahaan lain yang sifatnya saling melengkapi. Tidak semua aliansi dapat berhasil dan berlangsung dengan baik. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya adalah faktor perbedaan pandangan. Seperti dalam case ini Suzuki dan Volkswagen. Setelah kerjasama sejak 2009 tak berlangsung baik, Suzuki dan Volkswagen (VW) memutuskan berpisah. Memang bentuk kerjasama antara VW dan Suzuki belum memiliki proyek bersama. Namun di tengah jalan, Suzuki dan VW berbeda pandangan yang akhirnya keduanya saling tuntut di Mahkamah Arbitrase. VW menilai Suzuki melanggar kontrak yang ada yaitu bekerja sama dengan Fiat untuk membeli mesin diesel dari Fiat. Mesin diesel berkapasitas 1.600 cc itu diaplikasikan pada Suzuki SX4.