Anda di halaman 1dari 15

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengertian budidaya adalah mulai dari pengolahan lahan, menanam,
panen, dan menjual. Tetapi lebih dari itu budidaya tanaman ini harus diusahakan
secara terpadu. Mulai dari perencanaan sebelum adanya pengolahan yang
mencakup seluruh sarana dan prasarana. Kemudian dilanjutkan dalam usaha
pertanian itu sendiri, tahap selanjutnya yaitu dilanjutkan dengan penanganan
pascapanen dan pemasaran, dan semua dukungan yang diperlukan (Aulia, 2010 )
Jagung dianggap sebagai salah satu tanaman paling penting di dunia.
Meskipun jagung merupakan tanaman biji-bijian utama di India, jagung
kebanyakan ditanam sebagai sayuran di taman rumah untuk tongkolnya yang
manis. Jagung merupakan tanaman herba tahunan, tumbuh hingga ketinggian 1,8
m, menghasilkan 2-3 tongkol per tanaman dan setiap tongkol dapat berisi sekitar
1100 biji besar. Jagung digunakan sebagai sayuran saat mentah dan jagung lezat
jika direbus atau dipanggang (Rao, 2000).
Sumber genetik tanaman jagung berasal dari benua Amerika. Konon,
bentuk liar tanaman jagung yang disebut pod maize telah tumbuh 4500 tahun lalu
di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Linneaeus (1737) seorang ahli botani
memberikan nama Zea mays untuk tanaman jagung. Zea berasal dari bahasa
Yunani yang digunakan untuk mengklasifkasikan jenis padi-padian. Adapun mays
berasal dari bahasa Indian, yaitu mahiz atau marisi yang kemudian digunakan
untuk sebutan spesies. Sampai sekarang nama latin jagung disebut Zea mays Linn
(Rukmana, 1997).

Jagung merupakan tanaman penting di Indonesia menduduki tempat kedua


setelah padi dan pada beberapa daerah di Indonesia dan Maluku khususnya
menjadikan jagung sebagai makanan pokok. Produksi ekonomi jagung adalah
berupa biji jagung merupakan sumber karbohidrat potensial untuk memenuhi
kebutuhan pangan maupun non pangan. Perbedaan kandungan gizi jagung warna
biji kuning dan jagung warna biji putih yaitu pada nutrisi vitamin A, jagung warna
biji

putih

umumnya

tidak

mengandung

vitamin

(Suprapto dalam Polnaya dan Patty, 2012).


Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur,
Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di daerah Jawa Timur dan
Madura, budidaya jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan
iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhan dan perkembangan jagung
(Aulia, 2010).
Jagung selain untuk kepentingan pangan, juga digunakan untuk bahan baku
industri pakan ternak, maupun ekspor. Teknologi produksi jagung sudah banyak
dihasilkan oleh lembaga penelitian dan pengkajian lingkup badan litbang
pertanian maupun perguruan tinggi, namun belum banyak diterapkan di lapangan.
Penggunaan pupuk urea misalnya ada yang sampai 600 kg/ha. Teknologi pasca
panen yang masih sederhana mengakibatkan kualitas jagung di tingkat petani
tergolong rendah sehingga harganya menjadi rendah. Hal ini dikarenakan petani
pada umumnya menjual jagungnya segera setelah panen. Cara pengeringan yang
banyak dilakukan, yaitu pengeringan di pohon sampai kadar air 23-25% baru
dipanen dan langsung dipipil yang selanjutnya dijual (Murni dan Arief, 2008).

Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk
urea terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jagung (Zea mays L.)
Hipotesis Percobaan
Ada pengaruh pemberian pupuk Urea terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman jagung (Zea mays L.)
Kegunaan Penulisan
Sebagai salah satu syarat untuk dapat melengkapi komponen penilaian di
Laboratorium Dasar Agronomi Program Studi Agroekoteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi
pihak yang membutuhkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Dalam sistematika tumbuhan, kedudukan jagung diklasifikasikan sebagai
berikut, yaitu Kingdom: Plantae ; Divisio: Spermatophyta ; Sub Divisio:
Angiospermae ; Class: Monocotyledone ; Ordo: Graminae ; Familia: Graminaceae
; Genus: Zea ; Species: Zea mays L (Aulia, 2010).
Tanaman jagung termasuk jenis tumbuhan semusim (annual)

yang

termasuk ke dalam golongan rumput-rumputan Gramineae. Susunantubuh


(morfologi) tanaman jagung terdiri dari akar, batang, daun, bunga, dan buah
(Rukmana, 1997).
Jagung adalah tanaman herba monokotil dan tanaman semusim iklim
panas. Tanaman ini berumah satu, dengan bunga jantan tumbuh sebagai
pembungaan ujung (tassel) pada batang utama (poros atau tangkai). Dan bunga
betina tumbuh terpisah sebagai pembungaan samping (tongkol) yang berkembang
pada ketiak daun. Tanaman ini menghasilkan satu atau beberapa tongkol. Kadangkadang bunga jantan tumbuh pada ujung tongkol dan bunga betina pada tassel
(Vincent dan Yamaguchi, 1998).
Perakaran tanaman jagung terdiri atas 4 macam akar, yaitu akar utama,
akar cabang, akar lateral dan akar rambut. Sistem perakaran tersebut berfungsi
sebagai alat untuk mengisap air serta garam garam yang terdapat didalam tanah,
mengeluarkan zat-zat organik serta senyawa yang tidak diperlukan dan alat
pernapasan (Rukmana, 1997).
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m
meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah

cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang
membantu menyangga tegaknya tanaman (Hanum, 2008).
Setelah perkecambahan akar primer akan memulai pertumbuhan tanaman.
Sekelompok akar seunder berkembang pada buku-buku pangkal batang dan akar
yang tumbuh menyamping. Akar yang tumbuh relatif dangkal ini merupaan akar
adventif dengan percabangan yang amat lebat yang memberi hara pada tanaman.
Akar layang penyokong memberikan tambahan topangan untuk tumbuh tegak dan
membantu penyerapan hara. Akar layang ini,yang tumbuh diatas permukaan
tanah, tumbuh rapat pada buku-buku dasar dan tidak bercabang sebelum masuk ke
tanah (Vincent dan Yamaguchi, 1998).
Daun jagung tumbuh melekat pada buku- buku batang. Strutur daun
jagung terdiri atas 3 bagian, yaitu kelopak daun, lidah daun, dan helai daun.
Bagian permukaan daun berbulu, dan terdiri atas sel-sel bullifor. Bagian bawh
daun pada umumnya tidak berbulu. Jumlah daun tiap tanaman bervariasi antara 848 helai. Ukurandaun berbeda-beda yaitu panjang antara 30cm150cm dan lebar
15 cm. Letak daun pada batang termasuk daun duduk bersilang ( Rukmana, 1997).
Batang tanaman kaku ini tingginya berkisar antara 1,5 sampai 2,5 m dan
terbungkus oleh pelepah daun yang berselang seling yang berasal dari setiap buku.
Buku batag mudah terlihat. Pelepah daun terbentuk pada buku dan membungkus
rapat-rapatt panjang batang utama dan sering melingkupi hingga ke buku
berikutnya (Vincent dan Yamaguchi, 1998).
Buah jagung terdiri atas tongkol, biji, dan daun pembungkus. Biji jagung
mempunyai bentuk, warna, dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung
pada jenisnya. Pada umumnya jagung tersusun dalam barisan yang melekat secara

lurus atau berkelok-kelok dan berjulah antara8-20 baris biji. Biji jagung terdiri
atas 3 bagian utama yaitu kulit biji, endosperm dan embrio ( Rukmana, 1997).
Percabangan umumnya terbentuk pada pangkal batang. Batang liar adalah
batang sekunder yang berkembang pada ketiak daun terbawah dekat permukaan
tanah (Vincent dan Yamaguchi, 1998).
Syarat Tumbuh
Iklim
Iklim sangat menentukan komoditas yang akan diusahakan baik tanaman
maupu ternak. Komoditas yang diusahakan harus cocok denganiklim setempat
agar produktivitasnya tinggi dan memberikan manfaat yang lebih baik bagi
manusia. Iklim juga berpengaruh pada cara mengusahakan serta teknologi yang
cocok dengan iklim tersebut (Suratiyah, 2011).
Suhu harian yang optimum untuk pertumbuhan tanaman jagung berkisar
antara 20-24C. Suhu yang lebih tinggi dari 35C akan menyebabkan tepung sari
menjadi steril sehingga tidak akan terjadi pembentukan buah dalam suhu tersebut
(Gruben dan Sutarya, 1995).
Unsur iklim yang berpengaruh bagi tanaman jagung yaitu penyinaran sinar
matahari. Tanaman jagung membutuhkan penyinaran matahari penuh, maka
tempat penanamannya harus terbuka. Penanaman jagung

tidak dianjurkan di

dataran tinggi lebih dari 1000 m dpl (Rukmana, 1997).


Tanah
Tanah sebagai faktor alam juga sangat menentukan. Ada tanah pasir yang
sangat porous, ada tanah kuarsa yang berbutir halus, tanah liat yang susah
penggarapannya pada waktu keirrng karena keras, ada tanah yang gembur dan

subur sehingga sangat menguntungkan. Pada tanah yang ringan tenaga kerja dapat
dimanfaatkan secara lebih baik (Suratiyah, 2011).
Jagung tidak memerlukan persyaatan tanah yang khusus. Jenis tanah yang
dapat ditanami jagung antara lain andosol (berasal dari gunung berapi), latosol,
grumosol, tanah berpasir. Pada tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih dapat
ditanami jagung dengan pengolahan yang baik (Aulia, 2010 ).
Tanah berdebu yang kaya hara dan humus amat cocok untuk tanaman jagung.
Disamping itu, tanaman jagung toleran terhadapap berbagai jenis tanah, misalnya
tanah andosol dan latosol, asalkan memiliki keasaman tanah (pH) yang memadai
untuk tanaman tersebut (Rukmana, 1997).
Keasaman tanah yang diinginkan berkisar antara 5,5 6,8. Tanaman jagung
dapat ditanam di dataran rendah atau di dataran tinggi sampai ketinggian 2000 m
diatas permukaan laut. Jagung yang diusahakan di dataran tinggi biasanya
berumur lebih panjang daripada jagung yang diusahakan di dataran rendah
(Gruben dan Sutarya, 1995).
Hal yang pasti mengenai jagung yaitu lebih produktif ditanah yang subur.
Perlakuan sekarang yaitu untuk memperbaiki defisiensi tanah daripada mencari
genotip yang merespon lebih baik terhadap perbedaan kesuburan. Pada tingkat
kesuburan tanah yang tinggi, tingkat penanaman atau pertumbuhan meningkat
(Poehlman dan Sleper, 1995).
Pupuk Urea
Pupuk Urea merupakan pupuk buatan yang bersifat tunggal, artinya pupuk
yang hanya mengandung satu unsur hara. Dan namanya disesuaikan dengan unsur

hara tersebut. Pupuk nitrogen berfungsi dalam merangsang pertumbuhan batang,


cabang dan daun. Serta pembentukan protein dan klorofil (Rahayu, 2012).
Contoh pupuk nitrogen diantaranya adalah pupuk urea dan pupuk ZA.
Pupuk urea mempunyai rumus kimia CO(NH 2)2, mempunyai kandungan nitrogen
45%-46%. Urea bersifat relatif netral dan mudah larut dalam air. Urea harus
diuraikan dahulu oleh bakteri dalam tanah untuk dapat diserap oleh tanaman
melalui siklus Nitrogen. Mengingat kadar N yang sangat tinggi maka
pemakaiannya harus tepat (Salirawati, dkk., 2007).
Pupuk Nitrogen tergolong cukup banyak ragamnya. Namun, kalau diamati
dipasaran, tidak semua pupuk tersedia atau dijual.ini erat kaitannya dengan
kebiasaan petani dalam menggunakan pupuk Nitrogen. Umumnya petani hanya
menggnakan urea atau ZA sehingga tentu saja pedagang pedagan pupuk tidak
akan menjual pupuk lain selain urea dan ZA. Ada beberapa kejelekan pupuk
nitrogen ini jika jika diberikan melebihi batas, diantaranya yaitu, tanaman menjadi
rebah karena ruas bagian bawah menjadi lemah, daya tahan tanaman terhadap
penyakit menurun karena kondisi tanaman sangat lemah, sedangkan tumbuhnya
sangat subur, buah terlambat matang karena nitrogen masih merangsang
pertumbuhan cabang, batang dan daun, sedangkan pematangan buah terabaikan,
serta menyebabkan kualitas hasil panen kurang baik (Aulia, 2010).
Penggunaan

pupuk

Nitrogen

yang

disarankan

untuk

produksi

konvensional adalah dengan menerapkan 50 pound sebelum atau pada saat tanam,
diikuti dengan pengaplikasian 60 80 pound nitrogen per ha saat tinggi tanaman
12 18 inci (Diver dkk., 2008).

Bila unsur N cukup tersedia bagi tanaman maka kandungan klorofil pada
daun akan meningkat dan proses fotosintesis juga meningkat sehingga asimilat
yang dihasilkan lebih banyak, akibatnya pertumbuhan tanaman lebih baik. Unsur
hara N dan Fe sangat dibutuhkan untuk pembentukan klorofil dan sintesa protein
yang dikandung dalam khloroplas dan merangsang pertumbuhan vegetatif
tanaman seperti menambah tinggi tanaman. Maka dengan meningkatnya
fotosintesis akan meningkatkan pertumbuhan dan perpanjangan sel, sehingga
pertumbuhan tinggi tanaman yang terbentuk semakin tinggi (Tania dkk. , 2012).
Kekurangan nitrogen menyebabkan tanaman muda menjadi pucat, berwarna
hijau muda atau kuning. Tahap seanjutnya, daun yang lebih tua akan mulai
menguning, pada awalnya menunjukkan bentuk V terbalik (Plessis, 2003).

10

BAHAN DAN METODE


Tempat dan Waktu

Penelitian

Tempat penelitian berada di lahan percobaan Fakultas Pertanian


Universitas Sumatera Utara, Medan pada ketinggian 25 m diatas permukaan
laut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2016
Bahan dan Alat
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini antara lain air untuk
menyiraman lahan jagung, benih jagung varietas Bonanza F1 sebagai objek
percobaan, pupuk kompos, pupuk urea, pupuk SP36 dan KCl sebagai penyedia
unsur hara tanaman, serta top soil yang ditambahkan diatas plot untuk
meningkatkan kesuburan lahan.
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu cangkul sebagai
alat pengolah tanah, parang sebagai alat pemotong kayu dan gulma, gembor
sebagai alat bantu menyiraman tanaman jagung, meteran sebagai alat bantu
mengukur dalam pembuatan plot dan pengukuran tinggi tanaman, tali plastk
sebagai pembatas lahan dan juga pengikat, pacak yang terbuatvdari ajir bambu
sebagai penanda lahan, garu sebagai alat bantu membersihkan gulma dan dipakai
saat pembukaan lahan, banner dari spanduk bekas sebagai pagar pembatas lahan
dan alat tulis untuk mencatat hasil pengukuran tiap minggunya.
Prosedur Percobaan
Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) non
faktorial, yaitu pemberian pupuk Nitrogen dengan lima taraf, yaitu :
N0

= 0

gram pupuk Nitrogen/ lubang tanam

N1

= 2,5 gram pupuk Nitrogen/ lubang tanam

11

N2

= 5,0 gram pupuk Nitrogen/ lubang tanam

N3

= 7,5 gram pupuk Nitrogen/ lubang tanam

N4

= 10,0 gram pupuk Nitrogen/ lubang tanam

Jumlah Ulangan (Blok)

=1

Jumlah Plot

=6

Jumlah Tanaman Sampel/Plot

=5

Jumlah Tanaman/Plot

= 15

Jumlah Tanaman Sampel Seluruhnya

= 30

Jumlah Tanaman Seluruhnya

= 90

Ukuran Plot

= 1,5m x 1,5m

Jarak Antar Plot

= 50 cm

12

PELAKSANAAN PENELITIAN
Penyiapan Lahan
Lahan tempat pelaksanaan penelitian dibersihkan dari gulma dan kotoran,
kemudian dicangkul dengan kedalaman kurang lebih 15-30 cm yang dilakukan 2
kali pengemburan. Kemudian lahan tersebut diratakan lalu dibuat petakan
percobaan yang berukuran 1.5m X 1.5m, tinggi kurang lebih 30 cm, dengan jarak
antar kelompok 50cm.
Penyiapan Bahan Tanam
Bahan tanam yang akan kami tanam terlebih dahulu kami pesiapkan
benihnya dengan cara direndam dalam air selama kurang lebih 15-30 menit lalu
setelah waktunya kami baru akan melakukan penanaman.
Penanaman
Benih jagung ditanam dengan cara ditugal dengan kedalaman 3 cm, tiap
lubang tugalan ditanam 1 butir benih dengan jarak tanam 15cm X 30 cm dan
sebelumnya setelah dibuat lubang dimasukkan kompos setengahnya terlebih
dahulu.
Pemupukan
Pada penanaman jagung ini kami tidak memberikan pupuk tambahan per
tanamannya ataupun per plotnya, kami cukup memberikan pupuk kompos yang
diberikan sejak awal penanaman.
Pemeliharaan
Penyiraman
Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari setelah tanaman ditanam.
Penyiraman ini dilakukan minimal satu kali dalam sehari agar pertumbuhan

13

tanaman normal. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor dimana


gembor bercorong halus sehingga menghasilkan butir-butir air yang halus dan
mudah meresap masuk ke dalam tanah.
Penyulaman
Penyulaman dilakukan apabila tanaman jagung yang telah ditanam tidak
tumbuh atau mati akibat adanya serangan hama dan penyakit. Penyulaman
dilakukan dengan mengganti tanaman yang mati tersebut dengan tanaman baru
dengan ukuran yang sama dan pada tempat penanaman benih tanaman yang lama.
Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu
(gulma). Penyiangan dilakukan duaminggu sekali. Penyiangan tanaman dilakukan
dengan tangan atau pun alat bantu seperti kayu kecil dan sebagainya. Yang
penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman.
Pengendalian Hama danPenyakit
Prinsip pengendalian Hamadan penyakit terpadu adalah penggabungan
beberapa cara pengendalian secara serasi dalam waktu bersamaan ataupun tidak
bersamaan untuk menekan populasi atau tingkat kerusakan hama dan penyakit di
bawah ambang ekonomi. Komponen pengendalian yang banyak dipraktekkan di
lapangan adalah perpaduan antar pengendalian cara fisik, mekanis, kultur teknis,
dan kimiawi.
Panen
Teknik panen pada umumnya dilakukan secara manual dengan tangan.
Adapun tata cara panen yaitu dengan menentukan tanaman yang bertongkol
matang fisiologis (tua), kemudian petik tongkol dengan tangan hingga terlepas

14

dari batangnya, lalu lakukan pemetikan tongkol-tongkol lainnya pada tanaman


yang terdapat di areal lahan.
Pengamatan Parameter
Tinggi Tanaman (cm)
Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setelah tanaman berumur tiga
minggu. Pengukuran ini dilakukan setiap minggunya. Cara pengamatan dilakukan
dengan mengukur tinggi tanaman jagung manis.
Jumlah Daun (helai)
Penghitungan jumlah daun dilakukan setelah tanaman jagung manis
berumur dua minggu. Pengamatan ini dilakukan setiap minggu pada lahan
pertanaman. Cara pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah daun yang
telah terbuka pada tiap minggunya.
Bobot Segar Tongkol (g)
Penghitungan berat tongkol jagung dilakukan setelah panen. Dimana seluruh
tanamannya ditimbang bobot segar tongkol.

15

DAFTAR PUSTAKA
Aulia, 2010. Pedoman Bertanam Jagung. Bandung : CV. Nuansa Aulia
Diver, S.G. Kuepper and P. Sullivan. 2008. Sweet Corn Organi Production.
United States : Agriculture Specialist
Gruben G. dan R. Sutarya. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran rendah.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Hanum, C.

2008. Teknik Budidaya Tanaman. Jakarta : Direktorat Pembinan


Sekolah Menengah Kejuruan

Murni , A.M dan R.W. Arief . 2008. Teknologi Budidaya Jagung. Jakarta : Balai
Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan
Pengembangan Teknologi Pertanian.
Plessis, J.D. 2003.Maize Production. South Africa : Department of Agriculture
and Obtainable.
Poehlman, J. M and D. A. Sleper.1995. Field Crops. New Delhi : Panima
Publishing Corporation.
Polnaya, F dan J.E. Palty. 2012. Kajia Pertumbuhan dan Produksi Varietas Jagung
Lokal dan Kacang Hijau dalam Sistem Tumpangsari. Ambon :
Universitas Pattimura
Rahayu, N. 2012. Rangkuman Kimia SMP. Jakarta : Trans Media
Rao, K.M. 2000. Text Book Of Holticulture. Delhi : Macmillan India Limited.
Rukmana, R.H. 1997. Usaha Tani Jagung. Yogyakarta :Penerbit Kanisius
Salirawaty, D, F. Meiliana, J. Suprihatiningrum. 2007. Belajar Kimia Secara
Menarik SMA/MA Kelas XII. Jakarta : Grasindo
Suratiyah, K.2011. Ilmu Usaha Tani. Jakarta : Penebar Swadaya
Tania, N., Astrina, S. Budi. 2012. Pengaruh Pemberian Pupuk Hayati Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Jagung Semi Pada Tanah Podsolik Merah
Kuning. Kalimantan Barat : Universitas Tanjung Pura
Vincent, R.E. dan M. Yamaguchi. 1998. Sayuran Dunia. Bandung : Institut
Teknologi Bandung.