Anda di halaman 1dari 18

1

HUBUNGAN KETERKAITAN CINA DENGAN JEPANG


1. Mancuria dalam Pelukan Pemerintahan Nasionalis
Mancuria yang merupakan bagian terpencil di daerah Timur Laut Cina
sudah sejak abad XVII menjadi incarank mempersat dari ekspansionalisme Rusia
dan Jepang. Kerajaan Rusia (yang kemudian menjadi Uni Soviet), Korea, dan
kerajaan Jepang itu menempatkan dirinya menjadi daerah penyangga yang
strategis.
Pada saat dr. Sun Yat Sen berhasil menumbangkan Dinasti Qing pada
tahun 1912, yang dilanjutkan dengan usaha Jiang Kai Shek untuk mempersatukan
seluruh daerah Cina, maka Mancuria yang berada di bawah kekuasaan sang raja
perang Zhang ZoLin sudah sejak lama disusupi oleh pengaruh Uni Soviet dan
Jepang. Sedangkan pada waktu yang hampir bersamaaan kerajaan Jepang
memperoleh hak untuk menguasai jazirah Liao Dong di Mancuria bagian selatan
berdasarkan perjanjian Shimonoseki, sebagai akibat dari perang merebutkan
Korea.
Ketika pada bulan Desember 1925 terjadi beberapa gerakan yang
menentang Raja Perang Zhang Zo Lin di Mancuria, segera pasukan Jepang yang
berkedudukan di Liao Dong dikerahkan ke ibukota Mancuria, Mukden, dengan
dalil untuk mengamankan kepentingan Jepang di Mancuria. Kebetulan pada
saat itu berlangsung krisis politik di Jepang. Pemerintah Perana Menteri
Wakatsuki (yang moderat) mendapat tekanan berat dari Jenderal Tanaka, yang
politiknya terhadap Cina tercermin pada salah satu pernyataan yang berbunyi:
Jepang terutama memiliki kepentingan khusus di Mancuria dan
Mongolia;

Adalah menjadi kewajiban Jepang untuk memelihara perdamaian dan


Ketertiban di wilayah itu.
Demikian maka pada pertengahan 1926 Zhang Xue Liang menggantikan
kedudukan ayahnya sebagai Raja Perang Mancuria. Pihak Jepang segera berusaha
untuk mempengaruhi Zhang Xue Liang agar melawan pemerintah Nasionalis.
Sementara itu Pemerintahan Jepang secara berturut-turut mengirim 2 perwira ahli
siasat ke Mancuria, yaitu Letnan Kolonel Ishiwara Kanji dan Kolonel Itagaki Sei
Shiro.Kedua perwira inilah yang menganjurkan agar pemerintah Jepang
menguasai seluruh wilayah Mancuria dijadikan sebagai kubu pertahanan terhadap
Uni Soviet, di samping secara bertahap dikembangkan menjadi tanah harapan bagi
rakyat Jepang yang sejauh itu menghuni wilayah yang amat terbatas luasnya
maupun sumber alamnya.
Adapun yang dijadikan dalil adalah: Bakti Mulia yang berupa rasa belas
kasihan bangsa Jepang kepada jutaan rakyat Mancuria yang meringkuk di bawah
telapak kaki kemiskinan, kini menunggu uluran tangan dari Pemerintah Jepang.
Sebaliknya Zhang Xue Liang, yang niscaya menaruh rasa dendam terhadap pihak
Jepang karena membunuh ayahnya, sekonyong-konyong mengibarkan bendera
Negara Republik Nasionalis Cina pada akhir tahun 1928. Dengan demikian maka
terwujudlah apa yang dicita-citakan oleh dr. Sun Yat Sen: seluruh Wilayah Cina
bersatu di bawah kibaran bendera Negara Republik Nasionalis Cina.
Dalam pada itu nasionalisme Cina amat meningkat; rakyat Cina pada
umumnya sudah muak terhadap hak-hak istimewa yang dinikmati warga Negara
asing di wilayah Cina. Boikot terhadap barang produksi Jepang yang bermunculan
cukup merugikan pemerintah Jepang. Sejauh itu sesungguhnya pemerintah

Nasionalis Cina belum berkuasa secara nyata di Mancuria. Baru bendera


Nasionalnya yang dikibarkan oleh Zhang xue liang yang sementara itu terkenal
dengan sebutan "Si Marsekal Muda" (sebagai bandingan dengan ayahnya, Zhang
Zo Lin, si Marsekal Tua). Adafpun yang muncul sebagai sesuatu yang baru di
Mancuria

adalah

kampanye

dengungkan penghapusan

pemerintah

Nasionalis

yang

mendengung-

"Perjanjian tidak seimbang dengan negara-negara

asing", dan supaya Republik Nasionalis Cina diakui sebagai negara berdaulat
penuh.
Sesungguhnya masalah Jepang di Mancuria juga tidak kalah banyaknya
dengan masalah Uni Soviet, akan tetapi Sesuai dengan perkembangan politik
nasional pemerintah Nasional Cina, maka Jiang Kai Shek memilih Uni Soviet
sebagai sasaran pertama dari kampanye tersebut. Bulan Mei 1929 si Marsekal
Muda mulai menggerakkan pasukannya untuk menangkapi para pejabat Uni
Soviet disepanjang The Chinese Eastern Rail Way, dan menguasai segenap
instalasi telekomunikasi, bahkan gedung konsulat Uni Soviet do Mukden
diserbunya. Di antara dokumen yang disitanya ditemukan bukti adanya kegiatan
subversi Soviet di Mancuria.
November 1929 terjadilah pertempuran antara kedua pasukan tersebut.
Sesungguhnya jumlah pasukan si Marsekal Muda lebih besar dari pasukan
Blucher. Akan tetapi pada saat yang menentukan itu terjadi suatu bentrokan
senjata di Mukden antara pasukan si Marsekal Muda dengan pasukan Jepang.
Jiang Kai Shek memerintahkan agar sengketa dengan Jepang dihindari sejauh
mungkin. Niscaya karena Zhang xue Liang kurang memusatkan perhatian kepada
peperangan dengan unit Soviet di garis perbatasan itulah maka Blucher Berhasil

menghancurkan pasukan si Marsekal Muda. 22 Desember 1929 pemerintah


Nasionalis memenuhi tuntutan Uni Soviet guna mengakhiri peperangan yang
berlangsung satu bulan itu.
Bahwa peristiwa ini tidak mendapat tanggapan yang nyata dari Liga
bangsa-bangsa adalah sesuatu bukti betapa rapuhnya organisasi dunia tersebut.
Situasi seperti itulah yang merangsang pihak Jepang memanfaatkan kesempatan.
Di berbagai kalangan politik telah terdengar kabar angin bahwa pemerintah
Jepang sudah menetapkan awal tahun 1932 sebagai saat untuk mulai
menggunakan kekuatan militer guna menguasai seluruh wilayah Mancuria. akan
tetapi tentara Guan Dong sudah tidak sabar menunggu.
Desas-desus ini tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah; yang nyata
adalah, bahwa pada pertengahan tahun 1931 terjadi 3 peristiwa yang memacu
sengketa antara Cina dan Jepang. Yang pertama adalah terjadinya sengketa antara
petani Cina dan sekelompok imigran Korea yang berdatangan di Mancuria atas
prakarsa Jepang. Sebagai akibat dari sengketa ini maka di Korea meletus peristiwa
pembunuhan terhadap penduduk Cina di Korea. Rakyat Cina sendiri menanggapi
peristiwa itu dengan melancarkan suatu boikot total terhadap barang-barang
buatan Jepang.
Dalam keadaan yang tegang tersebut terjadi pembunuhan terhadap Kapten
Nakamura, seorang ahli pertanian yang bertugas di Mancuria. Pemerintah Cina
dalam pernyataannya yang menyebutkan bahwa Kapten Nakamura menolak
permintaan petugas keamanan Cina untuk menunjukkan tanda pengenalnya,
bahkan kemudian melarikan diri, dan oleh karena itulah maka ditembak mati.
Pihak Jepang tidak dapat menerima pertanggungan jawab dari pemerintah Cina

tersebut. Kemudian, pada bulan September 1931 suatu bom meletus di stasiun
kereta api The South Mancuria Railway ( yang berada di bawah kekuasaan
Jepang).
Pada tanggal 18 September 1931 kota Mukden diduduki tentara Guan
Dong. Dalam waktu 10 hari Liga bangsa-bangsa telah menanggapi pengaduan
Cina tersebut, dengan menyerahkan kepada pemerintah Jepang agar menarik
mundur pasukannya dari Mukden. Ternyata pemerintah Jepang tidak dapat
mengendalikan tetap tentara Guan Dong. Sedangkan pemerintah Cina yang
semakin merasa tidak mengharapkan sesuatu dari dunia internasional tetap
berusaha melawan agresi Jepang dengan cara mempertinggi intensitas boikotnya
terhadap barang buatan Jepang.
Sebagai akibat dari padanya maka jumlah ekspor barang Jepang ke Cina
dalam jangka waktu dua bulan menurun 80%, suatu pukulan ekonomi yang cukup
berat bagi Jepang. Secara mengejutkan kali ini pihak Jepang menghentikan
pertempurannya di Shanghai, bahkan segera menarik seluruh pasukannya dari
wilayah itu. Akhirnya pada Maret 1933 Jepang menyatakan keluar dari liga
bangsa-bangsa.
2. Republik nasionalis Cina melawan agresi Jepang dan subversi
komunis
a. Jepang di Mongolia
Agresi Jepang terhadap Mancuria yang sampai berakibat keluarnya Jepang
dari liga bangsa-bangsa ( Maret 1933) ternyata berkelanjutan ke wilayah
Mongolia.
Tekanan-tekanan dari pasukan Jepang tersebut memaksa si Marsekal Muda,
Zhang Due Liang, untuk mengalihkan pasukannya dari Mancuria, dengan

menjalankan hijrah ke sebelah selatan Tembok Besar. Pemerintah Nasionalis Cina


yang tidak berdaya Untuk menghentikan menjalarnya agresi Jepang, sementara itu
terpaksa menerima tuntutan pihak Jepang untuk menandatangani perjanjian Tang
Gu 31 Mei 1933 yang menentukan :
(1). Garis perbatasan antara mancuria dan provinsi Zhi Li ( yang sementara itu
berubah

namanya menjadi Ho Bei). Dinyatakan sebagai "daerah bebas

militer";
(2). Tentara Jepang dibenarkan menggunakan pesawat terbang atau cara-cara lain
untuk mengawasi pelaksanaan perjanjian termaksud; sedangkan pihak
pemerintah Cina berkewajiban untuk menjamin pengamanannya;
(3). Kepolisian Cina bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban di wilayah
kekuasaan Cina yang bersangkutan.
Mengetahui bawah pemerintah Cina dapat dipaksa menuruti kemauan
Jepang dengan kekuatan senjata, dan dunia internasional tidak berdaya untuk
menghalangi agresi Jepang di Cina, maka tentara Guan Dong bahkan tidak
menghiraukan lagi kebijaksanaan dari pemerintah pusatnya di Tokyo, kemudian
mendirikan Negara Mancuguo. Yang diangkat sebagai Kaisar adalah Henri Pu Yi,
yaitu mantan Kaisar Xuang Doing (1900-1912) dari Dinasti Qing. Dia dinobatkan
sebagai Kaisar Kang De.
Perjuangan jiang Kai Shek selama itu yang telah berhasil menundukkan
seluruh raja perang dan meletakkan seluruh wilayah Cina di bawah kekuasaan
Republik Nasionalis Cina, ternyata belum cukup kokoh untuk dapat
menanggulangi agresi Jepang dari luar, maupun subversi komunis dari dalam.

Sebaliknya Jepang yang telah berhasil menguasai seluruh wilayah


Mancuria dan mendirikan " negara boneka" Mancuguo, ternyata tidak hanya
berhenti sampai disitu. Mereka masih ingin mengamankan lambung Barat dari
Mancuria dari ancaman Uni Soviet. Untuk keperluan itulah maka Jepang berhasrat
untuk menguasai Mongolia dalam pula guna dapat dijadikan daerah penyangga.
Sebagaimana diketahui, Sejak tahun 1955 wilayah Mongolia terbagi menjadi 2
bagian, yaitu:
(1) Mongolia luar, yang pada tahun 1915 jatuh di tangan kerajaan Rusia, dan
setelah meletusnya Revolusi Oktober, maka Mongolia Luar diambil-alih
oleh Uni Soviet (1921).Kemudian daripada itu dengan bantuan Uni Soviet
berdirilah negara Republik Rakyat Mongolia (1924).
(2) Mongolia Dalam, yang karena bagian terbesar dari penduduknya adalah
etnik Cina,

maka tetap termasuk wilayah Cina.

Sama dengan yang telah berlangsung tanpa dapat dicegah oleh pemerintah
Cina ataupun oleh dunia internasional, Jepang kemudian mendesak dewan
Mongolia Dalam agar seluruh wilayah Mongolia Dalam secara juridis
dimasukkan ke dalam kekuasaan negara Mencuguo. Kemudian daripada itu pada
bulan Juli 1935 Biro Khusus Tentara Guan Dong dan para pejabat sipil Jepang
masuk ke dalam jajaran pemerintah daerah Mongolia Dalam. Akibatnya adalah
meletusnya peristiwa tembak menembak di sepanjang perbatasan Mongolia
dalam-mengolah luar secara bertubi-tubi. Lambat-laun bentrokan tersebut
meningkat sampai menjadi pertempuran dengan pengerahan pasukan berlapis baja
dan pesawat udara.

b. Subversi Komunis
Perebutan kekuasaan tersebut menemukan kegagalan karena pasukan Jiang
Kai Shek ternyata menunjukkan keunggulan senjata dari keterampilan
bertempurnya atas pasukan buruh dan tani. Meskipun mengalami kegagalan dan
korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya, Partai Komunis Cina menganggap
peristiwa tersebut sebagai kelahiran dari Tentara Merah, sehingga tanggal 1
Agustus dalam bentuk angka 1 dan 8 (dalam huruf Cina) dikukuhkan sebagai
lambang Tentara Merah.
Partai Komunis Cina juga tidak luput dari kendala-kendala yang cukup
berat. Sejak mengalami kegagalan dalam menyerang kota Nan Chang ( 1 Agustus
1927), maka Komite Sentral menyembunyikan diri di salah satu daerah konsesi
asing dalam kota Shang Hai. Dalam keadaan seperti itu mereka tetap berada
dibawah naungan komintern yang berpusat di Moskow. Betapa erat Partai
Komunis Cina terikat pada Partai Komunis Uni Soviet tampak pada kongres ke IV
( Juli 1928) diselenggarakan di Moskow.
Rumusan strategi dasarnya adalah, bahwa:
1. Kaum Tani yang menduduki jumlah terbesar dari Rakyat Cina di jadikan
kekuatan pokok revolusi, tanpa mengurangi peran Kaum Buruh sebagai Ujung
tombaknya;
2. Mengadakan serangan terhadap satuan pihak lawan hanya bilang mana
memiliki keunggulan dari padanya;
3. Bila pihak lawan menyerang, diadakan gerakan mundur;
4. Bila pihak lawan bergerak mundur, diadakan pengejaran terhadapnya;
5. Bila pihak lawan berhenti, diadakan serangan gangguan terhadapnya;

6. Bila pihak lawan menghimpun kekuatan, diadakan gerakan berpencaran;


7. Tentara Merah bergerak di tengah-tengah rakyat bagaikan "ikan dalam air".
Berdasarkan strategi tersebut di atas Tentara Merah dapat tumbuh dan
berkembang dengan pesatnya. Serangan Tentara Merah yang hanya ditujukan
pada satuan-satuan kecil dari tentara nasionalis mendorong jiang Kai Shek untuk
menilainya sebagai "banditisme". Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan
Tentara Merah itu dirasakan sebagai gangguan keamanan. hal itu tampak waktu
Jiang Kai Shek Tampak pada besarnya Pasukan Anti Banditisme yang terdiri atas
12 divisi.
Mereka yang berada di luar jangkauan dari pembinaan komite Sentral
Partai Komunis Cina yang bermarkas di Shang hai, maka pemerintah Soviet
Darurat merumuskan programnya sebagai berikut:
1. Menghapuskan segenap "Perjanjian tak seimbang";
2. Membatalkan segenap hutang Cina dari negara-negara asing;
3. Menghapuskan status "Konsensi" dan status "sewaan" wilayah Cina kepada
negara-negara asing;
4. Menyita segenap perusahaan kaum imperialis di wilayah Cina.
Disamping itu diamanatkan petunjuk pokok kepada kaum gerilyawan sebagai
berikut:
a. Jangan mengambil suatu barang apapun dari rakyat, bahkan sebatang jarum
atau seutas

benang sekalipun;

b. Serahkan segenap barang sitaan kepada yang berwajib.


Sementara itu pihak pemerintah nasionalis Cina juga menjumpai berbagai
masalah politik. Hal ini terutama disebabkan oleh agresi Jepang yang semakin

10

menjalar. Kesempatan itu Mao Ze Dong yang menjadi semakin berpengaruh


membeberkan kesalahan Bo Gu Dan Li De Yang bersikeras hendak menganut
perang terbuka, yang menurut Mao Ze Dong akan berakibat malapetaka bagi
Tentara Merah dan segenap jajaran pemerintah Soviet darurat di Rui Jin. Fakta
bahwa mereka berhasil mempertahankan kelangsungan hidupnya di tengah-tengah
gempuran Tentara Pemerintah Nasionalis yang begitu dahsyatnya itu menjadi
bukti akan ketepatan taktik perang gerilya yang dianutnya.
Jiang Kai shek kemudian merencanakan suatu operasi pengepungan dan
penumpasan yang baru terhadap kaum komunnis, denngan harapan bahwa kali ini
gerakan di Cina akan dapat di tumbas secara tuntas. Operasi kali ini ditujukan
pada daerah-daerah Soviet. Untuk menghindari dari kehancuran total maka Mao
Ze Dong akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Daerah Soviet di Rui Jin,
provinsi Jiang Xi, dengan menerobos menembus kepungan pasukan Tentara
Nasionalis (Oktober 1934).
Gerakan penyelamatan diri tersebut kemudian dikenal dengan nama
Hijrah Akbar (The Long March). Sesampainya di Propinsi Gui Zhou kaum
gerilyawan Tentara Merah berhasil merebut kota Zun Yi. Merasa telah berhasil
menyelamatkan kekuatan pokok dari tentarea Merah tersebut mendorong Mao Za
Dong untuk mendesak Partai Komunis Cina agar menyelenggarakan Sidang Biro
Politik.
Oleh karena Mao Ze Dong tetap dalam pendiriannya maka Zhang Guo Tao
memisahkan diri dari rombongan Hijrah Akbar untuk melanjutkan memimpin
kelompoknya menuju kearah propinsi Xi Gang. Dengan menderita kelaparan dan
berkali-kali bentrokan dengan pelbagai suku-terpencil yang merasa tak senang

11

daerahnya di jamah oleh suku asing, rombongan Hijrah itu akhirnya sampai juga
di Yen An,propinsi Shang Xi di Cina Barat Laut. Tinggal 8.000 orang saja yang
masih lestari sedangkan di Yen An, sendiri telah menunggu sekitar 7.000 orang
tentara Merah. Beberapa bulan kemudian rombongan Zhang Guo Tao akhirnya
juga bergabung di Yen An, sehingga alhasil Mao Ze Dong bermodalkan 30.000
orang tentara Merah beserta para kader komunis.
c. Peristiwa Xi-An Faktor Pendorong Pembentukan Fron Persatuan Nasional
Pasukan Anti-Banditisme dari Pemerintah Nasionalis Cina dengan
keunggulan senjata dan kemahiran tempur personilnya yang di harapkan dapat
menumpaskan gerakan komunis Cina secara tuntas ternyata tidak mencapaoi hasil
yang memuaskan. Kendati sekian banyak pangkalan komunis dapat disebut.
Namun kekuatan pokoknya berhasil meloloskan diri dari kehancuran dengan
menjalankan Hijrah Akbar dari daerah perbatasan Propinsi Hu Nan/Kiang XI
di Cina Tenggara menuju ke Yen An di Propinsi Shaan XI melepaskan diri dari
kedudukan menhadapi dua fron, yaitu agresi jepang di satu pihak dan subversi
komunis di lain pihak.
Kebetulan dalam pada itu perkembangan politik di dunia internasional
adalah sedemikian cepatnya, sehingga amat besar pengaruhnya terhadap keadaan
di Cina. Di Jerman, Adolf Hitler yang berkuasa mengembangkan Nazi-isme di
italia, Benito Musolini mengembangkan fasisme. Kedua-dua kekuatan di Eropa
Barat tersebut kemudian menciptakan persekutuan dengan pemerintahan militer
Jepang ; ketiga tiga negara tersebut adalah anti komunis.

12

Atas dasar seruan-seruan dari partai komunis Uni Soviet dan Komintern
tersebutlah, maka pada akhir 1935 partai Komunis Cina mengeluarkan
Manifesto 1 Agustus , yang pada pokoknya menyerukan :
1
2

Agar pertikaian antar sesame bangsa Cina dihentikan;


Agar rakyat Cina di galang menjadi front persatuan melawan agresi dari

bangsa asing;
Bahwa dari partai komunis Cina bersedia untuk merunding dengan pihak
manapun di cina demi keselamatan nasional menentang agresi jepang.

Perundingan yang berlangsung cukup alot itu akhirnyasampai pul pada suatu
kesepakatan :
1

Bahwa pemerintah nasionalis Cina pada prinsipnya akan menerima

2
3
4
5

Partai Komunis Cina sebagai mitra;


Bahwa Trisula San Min Zhu Yi di junjung tinggi oleh semua pihak;
Bahw Jiang Kai Shek diakaui sebagai penguasa tertinggi
Bahwa tentara Merah akan duilebur menjadi tentara Nasional;
Bahwa segenap pemerintahan Soviet di Cina akan dihapus dan di lebur
dalam pemerintahan Nasionalis Daerah masing-masing.

Hasil dari kesepakatan Shanghai ini selanjunya masih akan diteruskan ke ibu kota
Nan King untuk memperoleh pengesahan dari Jiang Kai Shek.
Zhang Xue Liang dan Yang Hu Cheng menyatakan bahwa mereka
menginginkan di akhirinya perang saudara, agar dapat menggalang kekuatan
nasional sebear-besarnya guna dikerahkan melawan Jepang. Jiang Kai Shek
sebaliknya besikeras beranggapan bahwa subversi komunis harus di bahmi lebih
dahulu sebelum melawan Jepang yang memiliki keunggulan militer. Oleh karena
pembicaraan tersebut kedua panglima itu meras diabaikan akhirnya mereka
memutuskan untuk mengerahakan pasukan pengawalnya untuk menangakap Jiang

13

Ki Shek dan menhadapkannya pada tuntutan sebagai berikut;; (12 Desember


1936)..
1

Pemerintah Nasionalis Cina harus di rombak sedemikian rupa sehingga


segalampihak dan golongan dapat di ikut sertakan bertanggungjawab

2
3

dalam penyelamatan banga Cina;


Perang saudara harus di akhiri;
Semua tahanan sehubungan dengan patriotic di Shanghai harus segera

4
5
6
7
8

dibebaskan;
Seluruh tahanan politik harus di bebaskan;
Kebebasan kerakan patriotok;
Terjaminnya kebebasan politik dan berorganisasi;
Wasiat Dr. Sun Yat Sen harus di laksanakan secara murni;
Permusyawaratan penyelamatan nasional supaya diselenggarakan dalam
waktu dekat.
Tuntutan 8 pasal itu oleh Zhang Xue Liangdan Yang Hu Cheng kemudian

desebarluarkan ke seluruh pelosok Cina; di samping iu pelbagai panglima tentara


nasionalis juga di ajak untuk bergabung dengan gerakan mereka utuk membentuk
front persatuan anti Jepang.
Peluang itulah yang di manfaatkan oleh partai Komunis Cina untuk
mengutus Zhou En Lai di bantu oleh kepala Staf Ye Jiang Ying ke XI An (15
Desember 1936), untuik bertindak sebagai penengah dengan tugas untuk
menyelamatkan jiwa Jiang Kai Shek dan menggalang kerja sama antara Partai
Komunis Cina dan Pemerintah Nasionalis.
3

Fron Persauan Cina Melawan Agresi Jepang

a. Umum
Peristiwa penculikan terhadap Jiang Kai Shek di Xi An (Desember 1936) telah
menciptakan perkembangan politik sedemikian rupa sehingga Pemerintah
Nasionalis Cina menjalin fron persatuan Nasional Dengan Partai komunis cina

14

guna bersama-sama menhadapi agresi Jepang. Sebagai kelanjutan dari pda itu
maka telah dipeakati oleh keduabelah pihak bahwa segenap pemerintahan Soviet
Cina di daerah-daerah dilebur ke dalam instansi-instansi Pemerintah Nasionalis
dengan Jiang Kai Shek panglima tertingginya.
b. Perkembangan Politik Internasional Yang Berpengaruh Terhadap Front
Persatuan Nasional
Atas tekanan keras dari Hitler disertai jaminan bahwa Jerman tidak akan
menuntut wilayah lain kecuali Sudetan , maka Chamberlain akhirnya
menandatangani Perjanjian Muchen (28 September 1938).
Peristiwa ini amat menggelisahkan negara-negara Eropa Barat pada
umumnya, dan menilai diplomasi Chamberlain menuai kegagalan.
Awal 1939terjadi suatu kejutan lagi, ketika Hitler menyatakan harapannya
Josef Stalin agar Jerman dan Uni soviet mempererat persahabatannya. Pada bulan
Agustus 1939 menteri luar negeri, von Ribbentrop di utus Hitler untuk
menemukan Josef Stalin guna menyampaikan penjelasan lebih rinci mengenai
keinginannya. Pertemuan von Ribbentrop- Josef Stalin itu menhasilkan suatu
Pakta tidak saling menyerang yang meliputi:
1

Tidak mendukung pihak manapun yang memusuhi kedua negara yang

2
3

bersangkutan;
Memusyawarahkan suatu hal yang menyangkut kepentingan bersama
Menyelesaikan sengketa secara damai.

Pakta tersebut berlaku untuk jangka waktu 10 tahun.


Akan tetapi ternyata disamping pakta tersebut Hitler dan Stalir secara rahasia
menjalin perjanjian khusus (Secret Protokol), yaitu dengan membagi wilayah
negara-negara di sekitar Lautan Baltik sebagai berikut:

15

Daerah perbatasan Utara dari negara Lithuania dijadikan garis perbatasan


baru antara wilayah Jerman dan wilayah Uni Soviet; atau jelasnya

Lithuania di masukkan ke dalam wilayah Uni Soviet.


Wilayah sebelah timur sungai Bug di jadikan wilayah kekuasaan Uni
Soviet.
Dua bulan kemudian pasukan Jerman melancarkan serangan kilat terhadap

Polandia dari garis perbatasan Selatan; sedangkan pasukan Uni Soviet menyerbu
Polandia dari garis perbatasan Timur. Selanjutnya wilayah Polandia dibagi dua
sesuai perjanjian rahasia tersebut di atas.
Juni 1940 Jepang mendesak Pemerintah colonial Prancis di Indo Cina
untuk menghentikan hubungan dagangnya dengan Pemerintahan Nasionalis Cina
Juli 1940 Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt menanggapai
tindakan Jepang itu dengan mengeluarkan peraturan pengawasan terhadap ekspor
barang strategis, terutama minyak bumi.
4

Keretakan Fron Persatuan Nasional

Dalam Perang Dunia ll terdapat 2 kekuatan inti yang saling berhadapan yaitu:
a
b

Jerman, Itali, dan Jepang sebagai negara-negara poros; dan


Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat sebagai negara-negara sekutu
Gejala-gejala keretakan dalam Front Persatuan itu bahkan sudah mulai

tampak sejak Uni Soviet mengadakan Pakta Saling Tidak Menyerang dengan
Jerman (Agustus 1939). Soalnya ialah bahwa bagi kaum komunis, dalih untuk
mennciptakan Fron Persatuan adalah dalam rangka menghadapi fasisme, dalam
hal ini Fasisme Jepang. Apalagi ketika Uni Soviet menghentikan bantuannnya
kepada Cina, yaitu setelah Uni Soviet mengadakan perjanjian persahabatan
dengan negara Fasis Jerman. Dengan denikian maka landasan pikiran menjalin

16

Fron Persatuan diantara tentara Nasional Cina dengan tentara Merah menjadi
kabur. Dalam suasana seperti ini maka tata cara berperang di antaara kedua tentara
angkatan bersenjata tersebut menambah keretakannya.
Keretakan dari fron Nasional Cina terutama menjadi lebih jelas lagi
ketika Jiang Kai Shek memerintahkan Satuan Tentara ke-4 dari Tentara Merah
untuk berpindah dari kedudukannya daerah Shan Dong dan Kiang Su.. Perintah
Jiang Kai Shek tersebut tidak dipatuhi, sampai-sampai dia mengerahkan suatu
pasukan Nasionalis utuk menangkap panglima daritentara ke-4 termaksud (17
Januari 1941). Sejak itu ketegangan dari suasana ciriga-mencurigai antara kedua
golongan angkatan bersenjata tersebut semakain menjadi-jadi.
5

Perang Cina Jepang

Pemerintah Jepang mengajukan tuntutan kepada Pemerintah Cina agar:


a

Menhentikan permusuhan terhadap Jepang, dan bersedia bersama-sama

b
c

menentang komunisme
Menempatkan penasihat Jepang pada segenap cabang Pemerintahan Cina;
Mengakui kedudukan khusus dari Jepang ke Cina Utara

Tuntutan Jepang ini mengingatkan orang pada 21 tuntutan Jepang pada tahun
1915, sehingga sudah barang tentu di tolak Pemerintah Cina. Bahkan rakyat
Cina menanggapi dengan aksi balkot terhadap barang produksi Jepang.
Pemerintah Nasionalis Cina menganggap tuntutan Jepang itu sebagai
pelanggaran terhadap kedaulatan negara Republik Cina, sehingga tidak
mengabulkan nya sikap dari Cina itu dianggap Cinma itu di jawab Jepang
mengadakan serangan terhadap desa Wan Bing yang kemudian bahkan di
dudukinya.
Pemerintah Jepang mencetuskn suatu strategi baru yaitu sebagai berikut:

17

1
2

terhadap bagsa Cina di jalankan politik pecah belah


bangsa-bangsa Asia Timut dan Tenggara yang masih Terjajah di rangsang
dan di bangkitkan rasa kebangsaannya dan di dorong agar memandang
Jepang sebagai contoh kemerdekaan dan kemajuan nasional.

Personilnya terdiri atas anasir-anasir Cina yang bersedia bekerja pada tentara
penduduk Jepang dengan demikian tujuan menjadi lebih jelas yaitu:
1

menyingkirkan Pemerintahan Nasionalis Cina di bawah pimpinan Jiang


Kai Shek, dan menggantikannya dengan pemerintah Cina Basru yang

2
3

tunduk pada ke pemimpinan Jepang;


menghapuskan impirialisme Barat di CIna;
membendung pengaruh Uni Soviet terhadap Cina.

Pada akhir bulan Desember 1938 Perdana menteri Jepang Pangeran Konoe
menganut politik bermuka dua terhadap Cina, yaitu di satu pihak mengajak rakyat
Cina untuk bersahabat dengan Jepang, dan di lain pihak memutuskan
utukmenghancurkan Pemerintah Nasionalis Cina karena telah bersekutu dengan
partai Komunis Cina.
Dalam kerangka politik itulah Pemerintah Jepang kemudian mendengungdengungkan niatnya unntuk menyesuaikan diri dengan suatu pemerintah
Cina yang baru atas dasar :
1 persahabatan dan perdamaian
2 pembatalan hak extrea-teritorial dan hutang Cina dari Jepang
3 pertahanan bersama terhadap komunisme
4 kerja sama ekonomi.
Sejak itu Wang Qning Wei mengambil jalan sendiri; dalam sertuannya
kepada rakyat Cina ia mengemukakan bahwa bekerja sanma dengan Jepang
adalah demi keselamatan bangsa dan negara cina yang sedang terancam oleh
bahaya komunisme. Dan sedang di landa perang saudara. Di samping itu di

18

janjikan pula Jepang akan segera menarik mundur pasukannya dari cina 2 tahun
setelah berakhirnya perang saudara.
SUMBER :
Sukisman, W. D. 1992. Sejarah Cina kontemporer. Pradnya Paramita. Jakarta