Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Varises eshofagus adalah suatu kondisi kelainan hemodinamik yang berhubungan
dengan adanya peningkatan tekanan portal dimana merupakan komplikasi paling
berat dari sirosis hati, peningkatan tekanan portal jika lebih dari 5 mmHg sangat
berbahaya. Terjadinya perdarahan oleh karena varises esophagus sering terjadi
pada 25-35% penderita sirosis hati. Pada kasus perdarahan pertama biasanya
memberi angka mortalitas yang tinggi, biasa sampai 30% sementara 70% dari
penderita yang selamat akan mengalami perdarahan ulang setelah terjadi
perdarahan pertama.
Perdarahan tersebut bermakna secara klinis bila kebutuhan transfusi darah 2 unit
atau lebih dalam waktu 24 jam sejak penderita masuk rumah sakit, disertai
tekanan darah sistolik kurang dari 100 mmHg atau penurunan tekanan darah lebih
dari 20 mmHg.
Di negara-negara maju setiap penderita dengan perdarahan akut saluran cerna
bagian atas, terutama perdarahan varises dianjurkan untuk dirawat di RS.
Pengobatan penderita dengan perdarahan varises esophagus meliputi prevensi
perdarahan ulang setelah perdarahan pertama terjadi. Pengelolaan perdarahan
varises akut merupakan proses yang sangat kompleks, termasuk diantaranya
penanganan secara umum, seperi resusitasi, monitoring kardio, pulmo, transfusi,
pengobatan terhadap perdarahannya sendiri, dan pencegahan dalam komplikasi.
Pada kasus An. F usia 13 tahun dengan diagnosa medis varises esophagus dengan
perdarahan stadium III-IV, dengan keluhan BAK berwarna hitam, badan terasa
lemas. An. F sebelumnya 3 hari lalu sebelum masuk Rumah sakit mengalami mual
dan muntah bercampur darah kental seperti jelly, dengan intesitas cukup banyak
yang menyebabkan An. F kondisinya menurun. Ketika masuk Rumah sakit
keadaan klien masih sangat lemas, ini merupakan perawatan yang le-4 kali sejak
oktober 2014.

Kondisi klien dengan varises esophagus ini menyebabkan klien membutuhkan


perawatan medis yang lebih lanjut agar mampu menangani penyakitnya. Untuk itu
dengan adanya masalah varises esophagus maka ditemukan beberapa masalah
keperawatan yang dialami klien dan akan di berikan beberapa penanganan
keperawatan yang sesuai terkait dengan diagnose keperawatan yang muncul.

PEMBAHASAN
Pada kasus An. F (13 tahun 2 bualn) dengan diagnosa medis varises esophagus
dengan perdarahan grade III-IV, dengan keluhan utama ketika BAK warna urin
hitam selama 3 hari sebelum masuk RS dan klien mengalami mual dan muntah
darah warna merah kehitaman seperti jelly. Klien An. F sudah 4 kali ini dirawat
dirumah sakit dengan diagnosa yang sama. Klien tidak memilliki riwayat penyakit
apapun dalam keluarga.
Pada pemeriksaan fisik klien An. F fokus pemeriksaan pada mata karena
kemingkinan adanya konjungtiva anemis sebab muntah darah dan kondisi badan
lemas. Kemudian untuk fokus yang berikutnya yaitu pemeriksaan abdomen dan
tidak ditemukan adanya gangguan pada abdomen. Ke-3 pada bagian kulit juga
tidak didapatkan adanya gangguan pada bagian kulit. Namun pada pemeriksaan
ekstremitas nampak adanya abnormalitas pada akral klien yaitu teraba akral
dingin, serta kekuatan otot klien 4 dikarenakan klien tampak lemah. Untuk
pemeriksaan lain yang sangat harus diperhatikan adalah kebutuhan eliminasi pada
pengeluaran BAB dan BAK ditemukan adanya keabnormalitas dengan
pengeluaran feses dan urin warna hitam.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil abnormal hemoglobin yang
seharusnya normal namun klien mengalami penurunan kadar Hb yaitu 8.84 g/dL
yang menyebabkan klien mengalami konjungtiva anemis sehingga klien merasa
lemah sebab klien dengan kadar Hb yang abnormal maka transport oksigen dalam
darah dan transport nutrisi mengalami gangguan sehingga klien merasa lemah.
Diagnosa keperawatan yang didapatkan pada kasus klien An. F yaitu :
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan,
transport oksigen tidak adekuat. Penegakan diagnosa ini dikarenakan klien
tampak pucat, konjungtiva klien anemis serta kondisi klien yang lemas.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
mual, muntah, ketidakmampuan untuk mengabsorbsi nutrisi. Penegakan

diagnosa ini dikarenakan kondisi status gizi klien berada pada status gizi
kurang dan IMT : 15.4 serta berat badan klien turun 15kg semenjak sakit.
3. Kelemahan berhubungan dengan anemia, penegakan diagnosa ini
dikarenakan kondisi klien yang lemah dan lemas, kemudian hasil
laboratorium Hb klien pada renang rendah atau abnormal yaitu 10,2 gr/dL
serta ketika dilakukan pengkajian tampak konjungtiva anemis.
Klien dengan varises esophagus biasanya akan mendapatkan terapi diit
yang sesuai karena adanya gangguan sistem pencernaan sehingga klien
mandapatkan diit bubur dan susu agar pencernaan klien tidak berat ketika
mengabsorbsi makanan yang masuk yang nantinya akan menjadi energi
klien untuk beraktivitas. Terapi diit sesuai dengan intervensi keperawatan
yang harus memberikan terapi diit bertahap dari makanan cair, lembek,
sedikit padat dan padat.
Klien juga diberikan terapi kolaborasi transfusi darah, hal ini dilakukan
karena klien mengalami penurunan kadar hemoglobin yang menyebabkan
klien lemas. Jadi tujuannya agar meningkatkan kandungan-kandungan
yang ada dalam darah sehingga transport oksigen dan nutisi tidak
terganggu.

DAFTAR PUSTAKA
De Franchis R. Envolving Concencus in Portal Hypertention report of the Baveno
IV Concencus Workshop on Metodhology of Diagnosis and Therapy in
Portal Hypertention Special Report. J Of Hepatology. 2005; 43: 167-176
Kusumobroto, H, dkk. 2007. Panduan Penatalaksanaan Perdarahan Varises
Pada

Sirosis

Hati

Dalam

Konsensus

Nasional

Perkumpulan

Gastroenterologi Indonesia. Surabaya.


Robins. 2007. Buku Ajar Patologi Volume 2. Jakara : EGC
Prince and Wilson. 2005. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi. 6 Vol.2.
Jakarta : EGC.

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fistel entrokutan adalah keadaan abnormal kebocoran isi perut atau usus (usus
besar atau kecil) ke organ lain, biasanya bagian dari usus (entero-enteral) atau
kulit (enterocutaneus) (Lee, 2006).
Penyebab dari terbentuknya fistel pasca pembedahan sangat bervariasi tergantung
pada lokasi organ, faktor predisposisi, faktor resiko pasien dan tehnik atau
prosedur pembedahan. Kompleksitas dari fisel enterokutan terganung dari jumlah
pengeluaran. Jumlah output dapat digunakan untuk memprediksi kematian seperti
tercantum dalam seri klasik oleh Edmunds, dkk. Klien dengan output fistel tinggi
memiliki mortalitas 54%, klien dengan moderat output meninggal dalam 30%
kasus, sedangkan rendah output fistel meninggal dalam 16% kasus.
Penatalaksanaan dari kasus fistel enterokutan meliputi foto sinar-x, CT- Scan,
parcel dressing dipakai pada luka bertujuan untuk menampung eksudat,
melindungi jaringan, mencegah infeksi silang, memonitor volume pengeluaran,
meningkatkan rasa nyaman, dan mengurangi rasa cemas pada klien.
Pada kasus An. B usia 4 tahun dengan diagnosa medis fistel enterokutan. Keluhan
klien sejak 2 hari yang lalu BAB An. B keluar melalui anus dan fistel. An. B
memiliki riwayat megakolon sejak lahir, sehingga kondisi klien pada saluran
pencernaannya memang terganggu. Sebelum dilakukan operasi kodisi An. B
nampak masih dalam kondisi komposmentis dan hanya merasa risih ketika BAB
keluar pada lubang fistel.
Kondisi klien dengan fistel enterokutan ini menyebabkan klien membutuhkan
perawatan medis yang lebih lanjut agar mampu menangani penyakitnya. Untuk itu
dengan adanya masalah fistel enterokutan maka ditemukan beberapa masalah
keperawatan yang dialami klien dan akan di berikan beberapa penanganan
keperawatan yang sesuai terkait dengan diagnosa keperawatan yang muncul.

PEMBAHASAN
Pada kasus An. B (4 Tahun 6 Bulan) dengan diagnosa medis fistel enterokutan,
klien dengan keluhan keluar BAB pada lubang fistel dan anus dan telah 2 kali
menjalani operasi serta dengan riwayat megacolon sejak lahir mengalami
beberapa tanda dan gejala terkait dengan penyakit yang dialami yaitu timbulnya
fistel klien disebabkan karena adanya proses pembedahan sebelumnya yaitu
pembedahan appendixitis. Selain itu riwayat megacolon klien juga menyebabkan
adanya gangguan pada sistem pencernaan sehigga menyebabkan klien merasa
lemas dan harus dilakukan tindakan pembedahan.
Pada kasus klien An. B, dengan usia pada masa bermain dan berinteraksi dengan
orang lain yang berada dilingkungannya menjadi terhambat karena ketika klien
akan BAB maka tidak bisa mengontrol apakah fesesnya keluar dari anus ataupun
fistel sehingga klien merasa malu ketika BABnya keluar.
Pada pemeriksaan fisik pada klien hanya ditemukan adanya masalah pada
abdomen dengan adnaya luka fistel yang terbuka. Sedangkan untuk kondisi secara
umum ketika sebelum dilakukan pembedahan (post-operasi) karena dari hasil
pemeriksaan tidak didapatkan adanya masalah.
Setelah dilakukan post-operasi pada tanggal 21 oktober 2015 didapatkan keadaan
klien merasa nyeri pada bagian perutnya dengan skala 5 (nyeri sedang). Ketika
setelah operasi klien masih terpasang Dower Cateter (DC) dengan banyaknya urin
yang keluar yaitu 250cc, pemasangan DC dimaksudkan karena pada klien dengan
post-operasi memerlukan pembatasan gerak atau mobilisasi agar tidak menambah
rasa nyeri pada luka post-operasi.

sedangkan untuk peningkatan suhu tubuh

masih dalam rentang normal yaitu 37,2C. Klien juga mendapatkan diet TPN
(tanpa nasi) atau tidak boleh makan selama 5 hari, hal ini dimaksudkan karena
pada An. B dengan post-operasi laparatomi eksplorasi harus dilakukan
pembatasan gerak dan aktifitas pada usus agar usus yang baru mengalami
perlukaan mampu mengalami perbaikan dahulu agar nantinya mampu digunakan
kembali ketika proses mencerna makanan.

Klien An. B pasca operasi juga mengalami peningkatan kadar leukosit yaitu 19,6
10^3/uL karena pada klien dengan post-operasi selalu mengalami peningkatan
pada kadar leukosit yang memicu resiko infeksi karena bakteri, namun biasanya
kadar leukosit tersebut akan berkurang ketika luka dirawat dengan baik dan
kondisi luka bersih serta tidak ditemukan tanda-tanda infeksi.
Diagnosa keperawatan yang didapatkan pada klien An. B pre-operasi yaitu :
1. Resiko infeksi hal ini dikarenakan adanya lubang terbuka pada luka fistel
yang memungkinkan terjadinya infeksi karena feses yang keluar dari
bagian yang tidak seharusnya.
2. Ansietas berhubungan dengan feses yang keluar dari fistel penegakan
diagnosa ini karena orang tua klien yaitu Ny. D cemas dengan kondisi
anaknya yang tidak mengeluarkan feses ketika ingin BAB melalui lubang
yang seharusnya.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang didapatkan pda klien An. B pos-operasi
yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik :proses pembedahan,
penegakan diagnosa ini karena pada saat dilakukan pengkajian postoperasi klien mengeluh nyeri pada bagian abdomennya dan tampak
meringis menahan sakit.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan restrain fisik atau pembatasan
mobilisasi, post-operasi, penengakan diagnosa ini karena pada saat
dilakukan pengkajian ibu klien mengatakan An. B tidak bisa tidur tadi
malam post-operasi dan meringis kesakitan. Dan An. B tampak tidak ingin
dekat dengan perawat atau dokter dulu karena masih merasa cemas.
3. Diagnosa yang ke-3 yaitu resiko infeksi, penegakan diagnosa ini
dikarenakan klien dengan post-operasi laparotomy akan mengalami
peningkatan pada hasil laboratorim terutama kandungan leukosit dalam

darah yang seharusnya pada rentang 5-14.5 10^3/uL naik menjadi 19,6
10^3/uL, hal ini mampu meningkatkan adanya resiko infeksi klien.
Klien An. B mendapatkan terapi Injeksi ceftriaxone 500mg/24 jam, injeksi
metronidazole 250mg/8 jam, injeksi tramadol 30 mg/8 jam, serta
paracetamol syrup 250mg/8jam. Dan mendapatkan terapi pemberian
nutrisi TPN/ puasa dahulu selama 5 hari.
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa klien telah
mendapatkan penanganan yang baik terkait dengan asuhan keperawatan di
RS.

DAFTAR PUSTAKA
Price A, Sylva, Loraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Jakarta : EGC.
Smeltzer, Suzzane C. 2002.

Buku Ajar

Keperawaan Medikal Bedah

Brunner&Suddarh edisi. 8 Vol.2. Jakarta : EGC.


Everson, Amy R.,Josef E. Fischer, MD, Facs. 2006. Peristiwa Pengelolaan
Enterocutaneus.

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hiperbilirubin adalah suatu kondisi dimana produksi bilirubin yang berlebihan di
dalam darah (Slusher, 2013). Hiperbilirubin merupakan kondisi klinis yang sering
ditemukan pada bayi baru lahir, dapat disebabkan oleh faktor fisiologis, patologis
atau kombinasi dari keduanya (Lubis, 2013). Derajat hiperbilirubin menurut
khamer diklasifikasikan menjadi 5 derajat sehingga nantinya mampu menentukan
terapi apa yang tepat yang akan diberikan kepada klien.
Penyebab hiperbilirubin dapat dikarenakan oleh beberapa sebab, yaitu
peningkatan jumlah sel darah merah, isoimmun hemolytic disease, kelainan
sruktur

dan

enzim

darah,

keracunan

obat,

hemolysis

ekstravaskuler,

cepalhematoma, ecchymosis, gangguan fungsi hati serta karena adanya


komplikasi yang terjadi ketika proses persalinan bayi.
Pemeriksaan diagnostic yang biasanya dilakukan pada klien dengan hiperbilirubin
yaitu pemeriksaan laboratorium, USG, radioisotope scan. Pemeriksaan diagnosik
ini dilakukan untuk mengetahui penyebab dari peningkatan bilirubin klien apakah
secara fisiologis atau patologis.
Pada kasus By. M usia 0 tahun dengan diagnosa medis

neonatus

hiperbilirubinemia. Keluhan klien sejak usia 2 hari klien mengalami penurunan


kondisi karena sudah tidak mau menetek ketika diberikan ASI oleh ibunya. Selain
itu klien juga mengalami ikterik khamer derajat 4 serta peningkatan kadar
bilirubin indirek dan bilirubin total. Kondisi By. M nampak lemas dan terpasang
OGT untuk mengalirkan nutrisi klien.
Kondisi klien dengan hiperbilirubin ini menyebabkan klien membutuhkan
perawatan medis yang lebih lanjut agar mampu menangani penyakitnya. Untuk itu
dengan adanya masalah hiperbilirubin maka ditemukan beberapa masalah

keperawatan yang dialami klien dan akan di berikan beberapa penanganan


keperawatan yang sesuai terkait dengan diagnosa keperawatan yang muncul.

PEMBAHASAN
Pada kasus By. M (0 tahun 8 hari) dengan diagnosa medis neonatus hiperbilirubin,
dengan keluhan utama klien mengalami penurunan kondisi pada hari ke-2 pasca
dilahirkan yaitu ibu klien mengeluh bahwa By. M mulai tidak mau untuk menetek
lagi dan tampak hanya diam saja ketika akan diberikan ASI oleh ibunya. Pada hari
ke-3 By. M nampak kuning dengan riwayat persalinan klien dilahirkan dengan
Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) yang hanya 2100 gram.
Pengkajian yang difokuskan pada pemeriksaan klien neonatus lebih berfokus pada
riwayat kehamilan dan persalinan ibu klien, pada pengkajian didapatkan hasil jika
ibu klien mengatakan ketika hamil mengalami peningkatan tekanan darah. Selain
itu ketika persalinan klien mengatakan persalinan normal padahal sebelumnya
pada persalinan pertama dilakukan secara section caesarea. Selain pemeriksaan
fisik, pemeriksaan lain yang sangat penting dilakukan adalah cek darah klien.
Meliputi cek DR, Kimia Klinik, serta elekrolit. Pentingnya melakukan
pemeriksaan kimia klinik dilakukan pada pemeriksaan kadar bilirubin total dan
bilirubin indirek. Pada kasus klien dengan neonates hiperbilirubin, klien akan
mengalami peningkatan pada kadar kimia klinik yaitu lebih dari 1 mg/dL. Selain
itu dengan melihat kondisi perubahan warna kulit klien menjadi lebih ikterik perlu
diketahui tingkat atau derajad ikterik menurut khamer agar perawat mampu
menentukan terapi apa yang akan dilakukan pada klien.
Selain

pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan USG juga sangat diperlukan,

pemeriksaan USG ini dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi hiperbilirubin


atau peningkatan bilirubin diakibatkan karena faktor fisiologis yaitu faktor yang
secara fisiologis terjadi pada klien neonatus yang memang akan mengalami
peningkatan kadar bilirubin pada usia 0-7 hari dan akan turun ketika sudah
memasuki usia 8 hari. Mungkin juga klien mengalami peningkatan bilirubin
karena faktor patologis yaitu faktor keadaan abnormal pada organ hati klien yang
mengalami gangguan sehingga mengakibatkan klien mengalami ikterik.

Setelah dilakukan pemeriksaan USG didapatkan hasil bahwa klien mengalami


kolebtasis, sehingga peningkatan kadar bilirubin klien disebabkan karena faktor
patologis.
Diagnosa keperawatan yang didapatkan pada klien By. M yaitu :
1. Ikterik neonatus berhubungan dengan peningkatan bilirubin. Penegakan
diagnosa ini dikarenakan dari data-data pengkajian didapatkan hasil jika
klien mengalami ikterik, derajat khamer 4, kemudian By. M nampak lemah
dan tidak mampu menelan dan menghisap kuat ketika akan diberikan ASI
langsung oleh ibunya. Selain itu hasil laboratorium klien juga mendukung
penegakan diagnosa ini dikarenakan kadar bilirubin total dan bilirubin
indirek lebih dari normal.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
ketidakmampuan menelan, reflex hisap lemah. Penegakan diagnosa ini
dikarenakan klien yang mengalami gangguan reflex hisap sehingga
pemberian nutrisi pada klien tidak adekuat. Pemberian intervensi pada
masalah nutrisi klien ini dilakukan pemasangan OGT agar nutrisi klien
tetap terpenuhi, pemberian nutrisi hanya diberikan susu ASI dari ibu yang
telah dipompa dan disimpan sebelumnya. Kerana pada klien usia neonatus
nutrisi yang paling baik digunakan adalah ASI saja. Serta untuk ibu klien
diberikan motivasi agar ibu klien mampu memberikan nutrisi yang
adekuat meskipun tidak mampu memberikan secara langsung.
3. Resiko

ketidakseimbangan

termoregulasi

(hipertermi),

penegakan

diagnosa ini dikarenakan klien mendapatkan terapi fototerapi. Pada klien


dengan hiperbilirubin tindakan yang biasa dilakukan yaitu melakukan
fototerapi hal ini dilakukan apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 10
mg/dL, fototerapi dilakukan selama 2x24 jam dan pada klien setelah
dilakukan fototerapi mengalami penurunan kadar bilirubin yaitu menjadi 5
mg/dL. Ada juga pada beberapa kasus yang dilakukan double fototerapi,
pemberian terapi ini apabila kadar bilirubin sudah sampai lebih dari 24

mg/dL, selain itu ada pula klien yang diberikan terapi transfusi tukar. Pada
klien dengan terapi tukar dilakukan jika pada tindakan double fototerapi
tidak mampu menurunkan kadar bilirubin dan malah kadar bilirubin lebih
dari 32 gr/dL.
4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan anemia, penegakan
diagnosa ini dikarenakan pada hari ke-5 perawatan klien mengalami
penurunan pada kadar Hb sehingga klien harus diberikan intervensi yang
tepat yaitu memberikan terapi transfuse darah 2 kolf WE. Kemudian
setelah dilakukan transfuse Hb klien meningkat.

DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Hidayat A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta : EGC
Potter, Patricia A. 2005. Buku Fundamental Keperawatan : Konsep Proses dan
Praktik Volume 2 . Jakarta : EGC.
Jhonson, Morion. 2012. IOWA Outcomes Project Nursing Classification (NOC).
Missouri : St. Louis Mosby.