Anda di halaman 1dari 37

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah kesehatan lingkungan
2. Memberi informasi tentang prinsip dan konsep dasar kesehatan lingkungan sebelum,
saat, dan setelah terjadi bencana
1.2 Latar Belakang
Bencana mempunyai arti sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian
atau penderitaan. Sedangkan bencana alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh
alam . Bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami dan aktivitas
manusia, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor dan lain-lain. Karena ketidak
berdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga
menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian.
Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari
bencana dan daya tahan mereka. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: bencana
muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidak berdayaan. Dengan demikian,
aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa
ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni.
Konsekuensinya, pemakaian istilah alam juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan
hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga
tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan
individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban
umat manusia.
Namun demikian pada daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki
kerentanan / kerawanan (vulnerability) yang juga tinggi tidak akan memberi dampak yang
hebat / luas jika manusia yang berada disana memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster
resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan evaluasi kemampuan sistem dan
infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan
serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah
penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup.
Terjadinya bencana alam tidak dapat di prediksi. Oleh karena itu, dibutuhkan surveilans
untuk meminimalisir kerusakan dan korban. Surveilans bencana dilakukan sebelum bencana
terjadi, saat bencana dan sesudah terjadinya bencana.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang
menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan bencana
alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh alam . Menurut Undang-Undang No.24
Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam
dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana
merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan
yang dipicu oleh suatu kejadian. Bencana didefinisikan sebagai suatu gangguan serius
terhadap keberfungsian suatu masyarakat, sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada
kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui
kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan
sumberdaya mereka sendiri. Bencana merupakan hasil dari kombinasi: pengaruh bahaya
(hazard), kondisi kerentanan (vulnerability) pada saat ini, kurangnya kapasitas maupun
langkah-langkah untuk mengurangi atau mengatasi potensi dampak negative .9
Berikut ini adalah macam-macam bencana :

Bencana alamadalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian


peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung
meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah langsor.

Bencana nonalamadalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian


peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi,
epidemi, dan wabah penyakit.

Bencana sosialadalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian


peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok
atau antar komunitas masyarakat, dan teror. Kejadian Bencana adalah peristiwa
bencana yang terjadi dan dicatat berdasarkan tanggal kejadian, lokasi, jenis bencana,
korban dan/ataupun kerusakan. Jika terjadi bencana pada tanggalyang sama dan
melanda lebih dari satu wilayah, maka dihitung sebagai satu kejadian.

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang
disebabkanoleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif, akitivitas gunung api
atau runtuhan batuan.17

Letusan gunung apimerupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan
istilah erups. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran
material (pijar), hujan abu vulkanik, lava, gas beracun, tsunami dan banjir lahar.

Tanah longsormerupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan,
ataupun percampuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat terganggunya kes
tabilan tanah atau batuan penyusun lereng. 12

Tsunamiberasal dari bahasa Jepang yang berarti gelombang ombak lautan (tsu
berarti lautan, nami berarti gelombang ombak). Tsunami adalah serangkaian
gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut
akibat gempa bumi.

Banjiradalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan
karena volume air yang meningkat.

Banjirbandang adalah banjir yang datang secara tiba-tiba dengan debit air yang besar
yang disebabkan terbendungnya aliran sungai pada alur sungai.

Kekeringanadalah ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air untuk kebutuhan
hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Adapun yang dimaksud
kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi dilahan pertanian
yang ada tanaman (padi, jagung,kedelai dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan .

Kebakaranadalah situasi dimana bangunan pada suatu tempat seperti


rumah/pemukiman, pabrik, pasar, gedung dan lain-lain dilanda api yang menimbulkan
korban dan/atau kerugian.

Kebakaranhutan dan lahan adalah suatu keadaan di mana hutan dan lahan dilanda api,
sehingga mengakibatkan kerusakan hutan dan lahan yang menimbulkan kerugian
ekonomis danatau nilai lingkungan. Kebakaran hutan dan lahan seringkali
menyebabkan bencana asap yangdapat mengganggu aktivitas dan kesehatan
masyarakat sekitar.

Angin puting beliungadalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba, mempunyai
pusat, bergerak melingkar menyerupai spiral dengan kecepatan 40-50 km/jam
hingga menyentuh permukaan bumi dan akan hilang dalam waktu singkat (3-5 menit).
5

Gelombang pasangatau badai adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena


efek terjadinya siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan berpotensi kuat
menimbulkan bencana Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis tetapi
keberadaan siklon tropis akan memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang,
gelombang tinggi disertai hujan deras.

Abrasiadalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang
bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai. Kerusakan garis pantai
akibat abrasi inidipicu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai tersebut.
Walaupun abrasi bisa disebabkan oleh gejala alami, namun manusia sering disebut
sebagai penyebab utama abrasi.

Kecelakaan transportasiadalah kecelakaan moda transportasi yang terjadi di darat, laut


dan udara.

Kecelakaan industryadalah kecelakaan yang disebabkan oleh dua faktor, yaitu


perilaku kerja yang berbahaya (unsafe human act) dan kondisi yang berbahaya
(unsafe conditions). Adapun jenis kecelakaan yang terjadi sangat bergantung pada
macam industrinya, misalnya bahan dan peralatan kerja yang dipergunakan, proses
kerja, kondisi tempat kerja, bahkan pekerja yang terlibat di dalamnya.

Kejadian Luar Biasa(KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan


atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun
waktu tertentu. Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan
RI No.949/MENKES/SK/VII/2004.

Konflik Sosialatau kerusuhan social atau huru hara adalah suatu gerakan massal yang
bersifat merusak tatanan dan tata tertib sosial yang ada, yang dipicu oleh
kecemburuan sosial, budayadan ekonomi yang biasanya dikemas sebagai
pertentangan antar suku, agama, ras (SARA).

Aksi Teroradalah aksi yang dilakukan oleh setiap orang yang dengan sengaja
menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana
teror atau rasa takut terhadaporang secara meluas atau menimbulkan korban yang
bersifat masal, dengan cara merampas kemerdekaan sehingga mengakibatkan
hilangnya nyawa dan harta benda, mengakibatkan kerusakan atau kehancuran
terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik
internasional.

Sabotaseadalah tindakan yang dilakukan untuk melemahkan musuh melalui subversi,


penghambatan, pengacauan dan atau penghancuran. Dalam perang, istilah
ini digunakan untuk mendiskripsikan aktivitas individu atau grup yang tidak
berhubungan dengan militer, tetapidengan spionase. Sabotase dapat dilakukan
terhadap beberapa sruktur penting, sepertiinfrastruktur, struktur ekonomi, dan lainlain .5

Komponen yang mempengaruhi bencana ada 4 (empat), yaitu:


1. Resikoadalah besarnya kerugian atau kemungkinan terjadi korban manusia, kerusakan
dan kerugian ekonomi yang disebabkan oleh bahaya tertentu disuatu daerah pada
suatu waktu 2
2. Bahayaadalah sebuah kondisi atau peristiwa yang memiliki potensi untuk
menyebabkan cedera atau kerusakan/kerugian.Bahaya alam (natural hazards) dan
bahaya karena ulah manusia (man-made hazards) yang menurut United Nations
International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR) dapat dikelompokkan
menjadi bahaya geologi (geological hazards), bahaya hidrometeorologi
(hydrometeorological hazards), bahaya biologi (biological hazards), bahaya
teknologi(technological hazards) dan penurunan kualitas lingkungan (environmental
degradation)
3. Kerentananadalah sekumpulan kondisi/akibat keadaan yang berpengaruh buruk
terhadap upayaupaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Kerentanan juga
bias diartikan sebagai kemungkinan terganggunya are geografis karena dampak
bahaya tertentu, misal: dengan dengan daerah rawab Faktor-faktor yang
mempengaruhi kerentanan, meliputi: (1) Fisik: kekuatan struktur bangunan rumah,
jalan dan jembatan terhadap ancaman bencana; (2) sosial: kondisi demografi jenis
kelamin, usia, kesehatan, gizi, perilaku masyarakat terhadap ancama bencana; (3)
ekonomi: kemampuan financial masyarakat dalam menghadapi ancaman di
wilayahnya; (4) lingkungan: tingkat ketersediaan/kelangkaan sumber daya lahan, air,

Dan udara, serta kerusakan lingkungan. Kerentanan (vulnerability) yang tinggi dari
masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen didalam kota/ kawasan yang berisiko
bencana
4. Kapasitasadalah kemampuan, kekuatan, potensi dari perorangan, keluarga, dan/atau
masyarakat yang membuat mereka mampu mencegah, mengurangi, siap siaga,
menanggapi dengan cepat atau segera pullih dari suatu situasi kedaruratan dan
kekacauan atauchaos akibat bencana. Kapasitas yang rendah dari berbagai
komponen di dalam masyarakat.2
Bencana (disaster) merupakan fenomena sosial akibat kolektif atas komponen ancaman
(hazard) yang berupa fenomena alam dan atau buatan di satu pihak, dengan kerentanan
(vulnerability) komunitas di pihak lain. Bencana terjadi apabila komunitas mempunyai
tingkat kemampuan yang lebih rendah dibanding dengan tingkat ancaman yang mungkin
terjadi padanya. Ancaman menjadi bencana apabila komunitas rentan, atau memiliki
kapasitas lebih rendah dari tingkat bahaya tersebut, atau bahkan menjadi salah satu sumber
ancaman tersebut.15 Bencana alam (natural disaster) seringkali dianggap sama dengan bahaya
alam (natural hazard). Bahaya alam merupakan satu kondisi atau peristiwa alam yang tidak
normal seperti banjir, gempa bumi, letusan gunung berapi, dll. Sebagai bagian dari
lingkungan, bahaya alam dapat terjadi dimana saja tidak selalu menimbulkan bencana alam.
Bencana alam dengan demikian merupakan suatu peristiwa yang ditimbulkan oleh bahaya
alam dan atau perilaku manusia sehingga menyebabkan jatuhnya korban, kecelakaan, atau
kematian pada manusia, kerugian harta benda, kerusakan sarana dan prasarana lingkungan
hidup, kemerosotan mutu sumberdaya alam, serta berubahnya ekosistem secara drastis.24
University of Wisconsin mendefinisikan manajemen bencana sebagai the range of activities
designed to maintain control over disaster and emergency situation and to provide a
framework for helping at-risk persons to avoid or recover from the impact of disaster.
Disaster management deals with situation that occurs prior to, during, and after the disaster.
(serangkaian kegiatan yang didesain untuk mengendalikan situasi bencana dan darurat dan
untuk mempersiapkan kerangka untuk membantu orang yang rentan-bencana untuk
menghindari atau mengatasi dampak bencana tersebut. Manajemen bencana berkaitan dengan
situasi yang terjadi sebelum, selama, dan setelah bencana). Universitas British Columbia
merumuskan definisi bencana (disaster) dengan memperhatikan tiga hal. (1). Bencana
dipertentangakan dengan darurat (emergency). Bencana tidak sama dengan emergensi. Istilah
emergensi biasanya dikaitkan dengan bencana mini, seperti kebakaran, robohnya sebuah
rumah, dan sejenisnya. Sedangkan bencana dikaitkan dengan kejadian yang tidak biasa, sulit
direspon, dan dampaknya bisa sampai beberapa generasi, (2). Bencana dikaitkan dengan
kemampuan mereka yang mengalami bencana untuk mengatasinya. Sesuatu disebut bencana
bila yang mengalami masalah atau masyarakat lokal tidak mampu menanganinya. Oleh
karena itu, perlu keterlibatan masyarakat secara regional atau nasional, bahkan internasional.
(3). Bencana berkaitan dengan isu yang luas, bukan saja masalah ekonomi, tetapi masalah
sosial, ekologi, bahkan merambah ke wilayah politik. Ketidakmampuan menangani bencana
bisa berakibat fatal terhadap kepercayaan masyarakat kepada penguasa.
Dengan demikian, Universitas British Columbia mendefiniskan manajemen
bencana (disaster)sebagai process of forming common objectives and common value in
order to encourage participants to plan for and deal with potential and actual
disaster ( proses pembentukan atau penetapan tujuan bersama dan nilai bersama (common

value) untuk mendorong pihak-pihak yang terlibat (partisipan) untuk menyusun rencana dan
menghadapi baik bencana potensial maupun aktual).14
Siklus managemen disaster (bencana) terdiri dari pencegahan dan mitigasi; kesiapsiagaaan;
tanggap darurat; rehabilitasi dan rekonstruksi
1. Pencegahan dan Mitigasi
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencan. Proses mitigasi adalah beberapa tindakan yang seharusnya diambil sebelum
terjadinya suatu bencana dalam rangka pengurangan resiko bencana yang terintegrasi dengan
menggunakan system pengembangan yang berkelanjutan /sustainable development
(Haifani).Penanggulangan bencana alam bertujuan untuk melindungi masyarakat dari
bencana dan dampak yang ditimbulkannya. Karena itu, dalam penanggulangannya harus
memperhatikan prinsip-prinsip penanggulangan bencana alam.
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disebutkan
sejumlah prinsip penanggulangan yaitu:
1. Cepat dan Tepat
Yang dimaksud dengan prinsip cepat dan tepat adalah bahwa dalam penanggulangan
bencana harus dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan tuntutan keadaan.
Keterlambatan dalam penanggulangan akan berdampak pada tingginya kerugian material
maupun korban jiwa.
1. Prioritas
Yang dimaksud dengan prinsip prioritas adalah bahwa apabila terjadi bencana, kegiatan
penanggulangan harus mendapat prioritas dan diutamakan pada kegiatan penyelamatan jiwa
manusia.
1. Koordinasi dan Keterpaduan
Yang dimaksud dengan prinsip koordinasi adalah bahwa penanggulangan bencana didasarkan
pada koordinasi yang baik dan saling mendukung. Yang dimaksud dengan prinsip
keterpaduan adalah bahwa penanggulangan bencana dilakukan oleh berbagai sektor secara
terpadu yang didasarkan pada kerja sama yang baik dan saling mendukung.
1. Berdaya Guna dan Berhasil Guna
Yang dimaksud dengan prinsip berdaya guna adalah bahwa dalam mengatasi kesulitan
masyarakat dilakukan dengan tidak membuang waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan.
Yang dimaksud dengan prinsip berhasil guna adalah bahwa kegiatan penanggulangan
bencana harus berhasil guna, khususnya dalam mengatasi kesulitan masyarakat dengan tidak
membuang waktu, tenaga, dan biaya yang berlebihan.
1. Transparansi dan Akuntabilitas

Yang dimaksud dengan prinsip transparansi adalah bahwa penanggulangan


bencana dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Yang dimaksud dengan
prinsip akuntabilitas adalah bahwa penanggulangan bencana dilakukan secara terbuka dan
dapat dipertanggungjawabkan secara etik dan hukum.
1. Kemitraan
Penanggulangan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kemitraan dalam
penanggulangan bencana dilakukan antara pemerintah dengan masyarakat luas termasuk
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) maupun dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan
lainnya. Bahkan, kemitraan juga dilakukan dengan organisasi atau lembaga di luar negeri
termasuk dengan pemerintahannya.
1. Pemberdayaan
Pemberdayaan berarti upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengetahui,
memahami dan melakukan langkah-langkah antisipasi, penyelamatan dan pemulihan
bencana. Negara memiliki kewajiban untuk memberdayakan masyarakat agar mengurangi
dampak dari bencana.
1. Non Diskriminatif
Yang dimaksud dengan prinsip nondiskriminatif adalah bahwa negara dalam penanggulangan
bencana tidak memberi perlakuan yang berbeda terhadap jenis kelamin, suku, agama, ras dan
aliran politik apapun.
1. Non Proletisi
Yang dimaksud dengan prinsip proletisi adalah bahwa dilarang menyebarkan agama atau
keyakinan pada saat keadaan darurat bencana, terutama melalui pemberian bantuan dan
pelayanan darurat bencana. Badan Penanggulangan Bencana dan Daerah yang selanjutnya
disebut BPBD adalah merupakan unsur pendukung dan pelaksana tugas dalam
penyelenggaraan pemerintahan di bidang penanggulangan bencana dan perlindungan
masyarakat terhadap bencana alam, non alam dan sosial.
Penanggulangan bencana adalah segala upaya kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan
pencegahan, penjinakan (mitigasi), penyelamatan, rehabilitasi dan rekonstruksi, baik sebelum
bencana, pada saat terjadinya bencana maupun setelah bencana dan menghindarkan dari
bencana yang terjadi. Upaya penanggulangan dampak bencana dilakukan melalui
pelaksanaan tanggap darurat dan pemulihan kondisi masyarakat di wilayah bencana. Upaya
penanggulangan dampak bencana tersebut dilakukan secara sistematis, menyeluruh, efisien
dalam penggunaan sumberdaya dan efektif dalam memberikan bantuan kepada kelompok
korban. Upaya penanggulangan dan pemulihan tersebut dilakukan dengan pendekatan secara
utuh dan terpadu melalui tiga tahapan, yaitu tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi
dalam pelaksanaan penanggulangan dampak bencana.1
2. Kesiap siagaan
Menurut Undang-Undang RI No.24 Tahun 2007, kesiap siagaan adalah serangkaian kegiatan
yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui

langkah yang tepat guna dan berdaya guna (Presiden Republik Indonesia, 2007). Adapun
kegiatan kesiapsiagaan secara umum adalah : (1) kemampuan menilai resiko; (2) perencanaan
siaga; (3) mobilisasi sumberdaya; (4) pendidikan dan pelatihan; (5) koordinasi; (6)
mekanisme respon; (7) manajemen informasi; (8) gladi atau simulasi.
Kesiap siagaan adalah upaya yang dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan
terjadinya bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda, dan
berubahnya tata kehidupan masyarakat. Sebaiknya suatu kabupaten kota melakukan kesiap
siagaan. Kesiap siagaan menghadapi bencana adalah suatu kondisi suatu masyarakat yang
baik secara invidu maupun kelompok yang memiliki kemampuan secara fisik dan psikis
dalam menghadapi bencana. Kesiap siagaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
manajemen bencana secara terpadu. Kesiap siagaan adalah bentuk apabila suatu saat terjadi
bencana dan apabila bencana masih lama akan terjadi, maka cara yang terbaik adalah
menghindari resiko yang akan terjadi, tempat tinggal, seperti jauh dari jangkauan banjir.
Kesiap-siagaan adalah setiap aktivitas sebelum terjadinya bencana yang bertujuan untuk
mengembangkan kapasitas operasional dan memfasilitasi respon yang efektif ketika suatu
bencana terjadi.
Perubahan paradigma penanggulangan bencana yaitu tidak lagi memandang penanggulangan
bencana merupakan aksi pada saat situasi tanggap darurat tetapi penanggulangan bencana
lebih diprioritaskan pada fase pra bencana yang bertujuan untuk mengurangi resiko bencana
sehingga semua kegiatan yang berada dalam lingkup pra bencana lebih diutamakan.
Sesuai dengan yang disampaikan oleh Priyanto (2010) bahwa pada masyarakat yang
berpendidikan tinggi lebih mampu dalam mengurangi risiko, meningkatkan kemampuan dan
menurunkan dampak terhadap kesehatan sehingga akan berpartisipasi baik sebagai individu
atau masyarakat dalam menyiapkan diri untuk bereaksi terhadap bencana. Aktifitas
pendidikan disamping untuk penyediaan informasi adalah mempelajari keterampilan dan
pemberdayaan diri sedemikian rupa sehingga mampu melakukan tindakan yang
memungkinkan untuk mengurangi resiko bahaya bencana.
Perkembangan baru kebijakan penanggulangan bencana dalam dekade terakhir adalah
memberikan prioritas utama pada upaya pengurangan resiko bencana seperti kegiatan
pencegahan, kegiatan mengurangi dampak bencana (mitigasi) dan kesiapsiagaan dalam
menghadapi bencana (Bappenas, 2006).
Kesiap siagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya
guna.Kesiap siagaan menghadapi bencana adalah suatu kondisi suatu masyarakat yang baik
secara invidu maupun kelompok yang memiliki kemampuan secara fisik dan psikis dalam
menghadapi bencana. Kesiapsiagaan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari manajemen
bencana secara terpadu.
Kesiap siagaan adalah bentuk apabila suatu saat terjadi bencana
dan apabila bencana masih lama akan terjadi, maka cara yang terbaik adalah menghindari
resiko yang akan terjadi, tempat tinggal, seperti jauh dari jangkauan banjir. Kesiapsiagaan
adalah setiap aktivitas sebelum terjadinya bencana yang bertujuan untuk mengembangkan
kapasitas operasional dan memfasilitasi respon yang efektif ketika suatu bencana terjadi.
Pada tingkat pengembangan dan pemeliharaan kesiapsiagaan, berbagai usaha perlu dilakukan
untuk mengadakan elemen-elemen penting seperti:

1. Kemampuan koordinasi semua tindakan (adanya mekanisme tetap koordinasi)


2. Fasilitas dan sistim operasional
3. Peralatan dan persediaan kebutuhan dasar atau supply
4. Pelatihan
5. Kesadaran masyarakat dan pendidikan
6. Informasi
7. Kemampuan untuk menerima beban yang meningkat dalam situasi darurat atau krisis.
Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir akan maksimal untuk itu pengetahuan,
sikap, pendidikan dan pendidikan petugas merupakan faktor yang menjadi perhatian dalam
menghasilkan kesiapsiagaan yang baik dalam menghadapi bencana banjir.1
3. Tahap Tanggap Darurat
Tahap ini telah selesai dilaksanakan oleh Pemerintah melalui BNPB, BPBD serta LSM dan
masyarakat baik lokal maupun internasional juga beberapa instansi terkait di pusat. Tahap ini
bertujuan membantu masyarakat yang terkena bencana langsung untuk segera dipenuhi
kebutuhan dasarnya yang paling minimal. Sasaran utama dari tahap tanggap darurat ini
adalah penyelamatan dan pertolongan kemanusiaan. Dalam tahap tanggap darurat ini,
diupayakan pula penyelesaian tempat penampungan sementara yang layak, serta pengaturan
dan pembagian logistik yang cepat dan tepat sasaran kepada seluruh korban bencana.
Pada tahap ini berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana.
Contoh-contoh kegiatan pada tahap ini adalah:
1. Pembuatan waduk untuk mencegah terjadinya banjir dan kekeringan
2. Penanaman pohon bakau atau mangrove di sepanjang pantai untuk menghambat
gelombang tsunami
3. Pembuatan tanggul untuk menghindari banjir
4. Pembuatan tanggul untuk menahan lahar agar tidak masuk ke wilayah
5. Reboisasi untuk mencegah terjadinya kekeringan dan banjir
Pada tahap tanggap darurat, hal yang paling pokok yang sebaiknya dilakukan adalah
penyelamatan korban bencana. Inilah sasaran utama dari tahapan tanggap darurat. Selain itu,
tanggap darurat bertujuan membantu masyarakat yang terkena bencana langsung untuk
segera dipenuhi kebutuhan dasarnya yang paling minimal.
Para korban juga perlu dibawa ke tempat sementara yang dianggap aman dan ditampung di
tempat penampungan sementara yang layak. Pada tahap ini dilakukan pula pengaturan dan

pembagian logistik atau bahan makanan yang cepat dan tepat sasaran kepada seluruh korban
bencana. Secara operasional, pada tahap tanggap darurat ini diarahkan pada kegiatan:
1. Penanganan korban bencanatermasuk mengubur korban meninggal dan menangani
korban yang luka-luka
2. Penanganan pengungsi
3. Pemberian bantuan darurat
4. Pelayanan kesehatan, sanitasi dan air bersih
5. Penyiapan penampungan sementara
6. Pembangunan fasilitas sosial dan fasilitas umum sementara serta memperbaiki sarana
dan prasarana dasar agar mampu memberikan pelayanan yang memadai untuk para
korban 1
7. Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana.Tahap ini bertujuan mengembalikan dan memulihkan
fungsi bangunan dan infrastruktur yang mendesak dilakukan untuk menindaklanjuti tahap
tanggap darurat, seperti rehabilitasi bangunan ibadah, bangunan sekolah, infrastruktur sosial
dasar, serta prasarana dan sarana perekonomian yang sangat diperlukan. Sasaran utama dari
tahap rehabilitasi ini adalah untuk memperbaiki pelayanan publik hingga pada tingkat yang
memadai. Dalam tahap rehabilitasi ini, juga diupayakan penyelesaian berbagai permasalahan
yang terkait dengan aspek psikologis melalui penanganan trauma korban bencana.
Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada
wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran
utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya
hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah pascabencana.Tahap ini bertujuan membangun kembali daerah
bencana dengan melibatkan semua masyarakat, perwakilan lembaga swadaya masyarakat,
dan dunia usaha. Pembangunan prasarana dan sarana haruslah dimulai dari sejak selesainya
penyesuaian tata ruang (apabila diperlukan) di tingkat kabupaten terutama di wilayah rawan
gempa (daerah patahan aktif). Sasaran utama dari tahap ini adalah terbangunnya kembali
masyarakat dan kawasan wilayah bencana. 1
Gambar 2.1 Siklus managemen disaster
Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan
penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dikenal
sebagai Siklus Manajemen Bencana (seperti terlihat dalam Gambar Siklus Manajemen
Bencana), yang bertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa; (2) mengurangi penderitaan
manusia; (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta (4)
mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.16

Selain upaya yang bersifat preventif, perlu juga ada upaya-upaya yang sifatnya represif.
Tentunya upaya-upaya tersebut harus dikoordinasikan secara baik dengan pemerintah.
Beberapa contoh upaya-upaya tersebut adalah:
1. Melaksanakan tindakan darurat dengan mengutamakan keselamatan manusia dan
harta bendanya
2. Segera membentuk posko-posko penanggulangan bencana, regu penyelamat, dapur
umum, dan lain-lain
3. Melakukan pendataan terhadap faktor penyebab timbulnya bencanaalam maupun
besarnya kemungkinan korban yang diderita untuk bahan tindakan selanjutnya serta
berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait.
4. Sesuai dengan situasi dan perkembangan bencanaalam serta kemajuan yang dicapai
dari upaya-upaya penanggulangan darurat, segera menetapkan program rehabilitasi
baik bidang fisik, sosial, dan ekonomi.
5. Perlunya melaksanakan sebuah program pemantapan terhadap semua faktor
kehidupan yang realisasinya dikaitkan dengan pelaksanaan pembangunan demi
terwujudnya konsolidasi dan normalisasi secara penuh.
Disaster kesehatan (health disaster) adalah penurunan status kesehatan masyarakat secara
keseluruhan yang tidak sanggup diatasi. Ilmu kedokteran disaster disebut juga humanitarian
medicine yang merupakan cabang ilmu kedokteran dalam artian bantuan kesehatan segera
(emergency) dan aktivitas kesehatan pada penanggulangan bencana tanpa memandang
ideologi politik maupun kenegaraan. Patofisiologi atau mekanisme kejadian disaster selalu
dimulai dengan hazard untuk menimbulkan bencana (event) dan apabila bencana tersebut
mengalami kontak dengan masyarakat dan lingkungan di tempat kejadian (impact) akan
berakibat kerusakan (damage) seperti pada algoritma berikut. Manifestasi hazard akan
berdampak pada kehidupan dan lingkungan yang disebut bencana. Hazard dapat diartikan
sebagai isyarat bahaya sebelum terjadi bencana seperti turunnya binatang buas dari puncak
gunung Merapi akibat temperatur di daerah tersebut meningkat sebagai tanda gunung itu
mulai aktif. Hazard dapat juga diartikan sesuatu yang berakibat negatif terhadap kesehatan
manusia, perumahan, aktivitas dan lingkungan atau sesuatu yang membahayakan sehingga
dapat digolongkan sebagai berikut.3
Dengan koondisi lingkungan, kelelalahan fisik, serta kecemasan psikologis, pada saat terjadi
banjir ataupun setelah banjir surut, umumnya akan muncul berbagai jenis penyakit yang bisa
menghinggapi masyarakat korban bajir. Penyakit-penyakit tersebut, seperti: Diare, Cholera,
Psikosomatik, Penyakit Kulit, Penyakit Leptospirosis, Penyakit saluran Napas, dan banyak
lagi lainnya.
1. Diare
Diare merupakan penyakit yang paling sering terjadi saat bencana banjir datang. Diare dapat
menjangkit semua orang, baik anak-anak, remaja, dewasa, bapak-bapak, ibu-ibu, dan orang
tua. Gejala diare diantaranya adalah mulut kering, mata cekung, perut kram dan kembung,
mual dan muntah, sakit kepala, keringat dingin dan demam. Jika ada diantara keluarga korban
yang menderita penyakit diare, sebaiknya segera dilakukan Pertolongan Pertama Pada Diare,

Memberikan cairan gula dan garam agar dapat mengatasi dehidrasi. Memberikan suplemen
makanan yang dapat membantu stamina dan mengembalikan fungsi organ-organ tubuh secara
maksimal, Memberikan obat anti diare yang dapat membantu. Menormalkan pergerakan
saluran pencernaan pada saat diare, melawan dehidrasi dan mencegah terjadinya kram perut,
obat yang biasa digunakan, misalnyha immudium, dan antibiotik.
1. Psikosomatik
Kondisi lingkungan yang berubah tiba-tiba dan merasakan kecemasan orangtua. Demikian
pula trauma karena kehilangan orang yang dicintai, atau harta benda yang diperjuangkan
dengan susa payah, meyebabkan perasaan pilu yang luar biasa. Selanjutnya kondisi kecemsan
itu akan menekan alam bawah sadar maryakat, sehingga senantiasa merasa banjir akan datang
lagi, dan berbagai kondisi psikologis sebagai pencetus penyakit ini. Pencegahan dan
pengobatan gangguan ini dapat diatasi dengan pemberian makanan dan minuman sehat yang
cukup, serta istrihat yang cukup. Demikian pula dapat diberikan obat anticemas, misalnya:
Valium, Diazepam, dan berbagai suplemen lainnya.
1. Penyakit Kulit
Pada umumnya menghinggapi atau menjangkiti para korban banjir. Penyakit kulit ini
disebabkan oleh: Infeksi kulit karena bakteri, virus atau jamur. Demikian pula dapat
diakibatkan oleh Parasit, kutu, larva dan Alergi kulit.Pencegahannya dapat dilakukan dengan:
Seminimal mungkin menghindari kontak langsung dengan air dengan menggunakan sepatu
boot. Jagalah kebersihan dan selalu gunakan pakaian yang kering.
1. Leptospirosis
Penyakit ini diakibatkan oleh parasit bernama Leptospyra Batavie. Penyebarannya melaui air
yang tergenang dan bersumber dari air kencing tikus, babi, anjing, kambing kuda, kucing,
kelelawar dan serangga tertentu. Penyakit ini terkenal dengan penyakit kencing tikus, parasit
ini berbentuk seperti cacing spiral yang sangat kecil. Gejala Leptospirosis Stadium awal,
demam tinggi, badan menggigil (kedinginan), mual, muntah, iritasi mata, nyeri otot betis dan
sakit bila tersentuh. Stadium dua, parasit membentuk antibodi ditubuh sehingga
mengakibatkan jantung berdebar debar dan tidak beraturan, bahkan jantung bisa mengalami
pembengkakan dan gagal jantung. Pembuluh darah dapat mengalami perdarahan ke saluran
pernapasan dan pencernaan hingga bisa mengakibtkan kematian. Parasit dapat masuk melalui
bagian tubuh yang terbuka seperti luka. Pengobatan penyakit Leptospirosis dengan
pemberian antibiotik, misalya: doksisiklin, cephalosporin, dan obat-obat antibiotik turunan
quinolon. Demikian pula dapat diberikan penisilin, ampisilin atau antibiotik lainnya yang
serupa. Pemberian antibiotik sebaiknya secara intrevena (infus).
1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
ISPA juga sangat banyak diderita oleh masyarakat korban bencana banjir. Kondisi lingkungan
yang buruk dan cuaca yang tak menentu, membuat sejumlah pengungsi korban banjir mulai
terserang penyakit. Gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), berupa: flu, demam,
dan batuk. Hal ini terjadi karena asupan makanan, kurangnya air bersih, dan masih tingginya
aktivitas pengungsi guna mengecek rumah sekaligus mengambil barang-barang yang
tertinggal membuat daya tahan tubuh mereka cepat turun. Pada saat terserang penyakit ISPA,
sebaiknya penderita mengusahakan kondisi dalam keadaan yang hangat, serta makan-

makanan yang banyak mengandung energi, serta perlu diberikan beberapa obat lainnya
seperti : Parasetamol, Antihistamin, dan antibiotik jika terjadi infeksi bakteri.
1. Demam Berdarah
Saat musim hujan, terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk aedes aegypti karena
banyak sampah seperti kaleng bekas, ban bekas, dan tempat-tempat tertentu terisi air
sehingga menimbulkan genangan, tempat berkembang biak nyamuk tersebut.
1. Penyakit Saluran Cerna Lain
Penyakit yang dimaksud misalnya seperti demam tifoid. Dalam hal ini, faktor kebersihan
makanan memegang peranan penting.
1. Memburuknya penyakit kronis
Hal ini hanya terdapat pada korban yang mempunyai penyakit yang sebelumnya sudah
diderita. Hal ini terjadi karena penurunan daya tahan tubuh akibat musim hujan
berkepanjangan, apalagi bila banjir yang terjadi selama berhari-hari .25
Gambar2.2 Diagram proses pemulihan pasca bencana
Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) telah mengembangkan suatu
metodologi untuk perencanaan kedaruratan terpadu yang dikenal dengan APELL (Awarness
and Preparedness for Emergency at Local Level) atau kepedulian dan kesiapsiagaan saat
darurat di tingkat local (Gambar 1). APELL adalah metode (alat) yang dikembangkan oleh
UNEP bekerja sama dengan pihak pemerintah dan industri dengan tujuan utama adalah
meminimalkan jumlah kejadian dan efek buruk akibat bencana (kecelakaan
teknologi/industri). APELL dibentuk tahun 1988 atas dasar banyaknya kejadian kecelakaan
industri yang mengakibatkan banyak korban gangguan kesehatan dan kerusakan lingkungan.
Prinsip dasar APELL berupaya meningkatkan (1) kesadaran, kepedulian dari masyarakat,
industri/ usahawan dan pemerintah daerah maupun pusat, (2) meningkatkan kesiapsiagaan
penanggulangan bencana melibatkan seluruh masyarakat, bersama industri dan pemerintah
lokal apabila terjadi keadaan darurat akibat kecelakaan atau bencana industri yang
mengancam keselamatan lingkungan. Fokus APELL mengutamakan peningkatan kesadaran
menghadapi situasi darurat bersama-sama dengan semua pihak stakeholder setempat (lokal)
atas adanya dampak yang ditimbulkan.23
Kiat kiat mengahadapi bencana antara lain :
1. Gempa Bumi
Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan
pegangan di manapun kita berada.

Di dalam rumah Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda
harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah
meja yang kokoh untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda
tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal. Jika anda sedang
menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

Di kantor Berlindunglah di bawah meja. Lindungi kepala, leher dan mata. Hindari
pembatas kaca, jendela, lemari dan barang-barang yang belum diamankan. Jaga posisi
hingga guncangan berhenti.

Di sekolah Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau
buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang
terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.

Di luar rumah Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah
perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan
papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau
apapun yang anda bawa.

Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall Jangan menyebabkan kepanikan atau
korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.

Di dalam lift Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika
anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua
tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika
anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone
jika tersedia.

Di kereta api Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan
terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti
penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau
stasiun akan mengakibatkan kepanikan.

Di dalam mobil Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda
mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah
mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan
berhentilah, tapi janganlah berhenti di bawah jembatan. Matikan mesin dan gunakan
rem tangan. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari
mobil, biarkan mobil tak terkunci.

Di gunung/pantai Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah


langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda
merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran
yang tinggi.

Beri pertolongan Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat
terjadi gempa bumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan
mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian, maka bersiaplah memberikan
pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada di sekitar anda.

Dengarkan informasi Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul


kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang
dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh
informasi yag benar dari pihak yang berwenang atau polisi. Jangan bertindak karena
informasi orang yang tidak jelas. 21

2. Banjir
Yang harus dilakukan sebelum banjir tiba sesuai tempat adalah sebagai berikut :
Di Tingkat Warga :

Bersama aparat terkait dan pengurus RT/RW terdekat bersihkan lingkungan sekitar
Anda, terutama pada saluran air atau selokan dari timbunan sampah.

Tentukan lokasi Posko Banjiryang tepat untuk mengungsi lengkap dengan fasilitas
dapur umum dan MCK, berikut pasokan air bersih melalui koordinasi dengan aparat
terkait, bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda.

Bersama pengurus RT/RW di lingkungan Anda, segera bentuk tim penanggulangan


banjir di tingkat warga, seperti pengangkatan Penanggung Jawab Posko Banjir.

Koordinasikan melalui RT/RW, Dewan Kelurahan setempat, dan LSM untuk


pengadaan tali, tambang, perahu karet dan pelampung guna evakuasi.

Pastikan pula peralatan komunikasi telah siap pakai, guna memudahkan mencari
informasi, meminta bantuan atau melakukan konfirmasi.

Di Tingkat Keluarga :

Simak informasi terkini melalui TV, radio atau peringatan Tim Warga tentang curah
hujan dan posisi air pada pintu air.

Lengkapi dengan peralatan keselamatan seperti: radio baterai, senter, korek gas dan
lilin, selimut, tikar, jas hujan, ban karet bila ada.

Siapkan bahan makanan mudah saji seperti mi instan, ikan asin, beras, makanan bayi,
gula, kopi, teh dan persediaan air bersih.

Siapkan obat-obatan darurat seperti: oralit, anti diare, anti influenza.

Amankan dokumen penting seperti: akte kelahiran, kartu keluarga, buku tabungan,
sertifikat dan benda-benda berharga dari jangkauan air dan tangan jahil.

Yang harus dilakukan saat banjir adalah :

Matikan aliran listrik di dalam rumah atau hubungi PLN untuk mematikan aliran
listrik di wilayah yang terkena bencana,

Mengungsi ke daerah aman sedini mungkin saat genangan air masih memungkinkan
untuk diseberangi.

Hindari berjalan di dekat saluran air untuk menghindari terseret arus banjir. Segera
mengamankan barang-barang berharga ketempat yang lebih tinggi.

Jika air terus meninggi hubungi instansi yang terkait dengan penanggulangan
bencanaseperti Kantor Kepala Desa, Lurah ataupun Camat.

Yang Harus Dilakukan Setelah Banjir adalah :

Secepatnya membersihkan rumah, dimana lantai pada umumnya tertutup lumpur dan
gunakan antiseptik untuk membunuh kuman penyakit.

Cari dan siapkan air bersih untuk menghindari terjangkitnya penyakit diare yang
sering berjangkit setelah kejadian banjir.

Waspada terhadap kemungkinan binatang berbisa seperti ular dan lipan, atau binatang
penyebar penyakit seperti tikus, kecoa, lalat, dan nyamuk.

Usahakan selalu waspada apabila kemungkinan terjadi banjir susulan. 21

3. Kebakaran
Kiat Mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan adalah :
Bagi Warga :

Bila Melihat KebakaranHutan Dan Lahan, Segera Laporkan Kepada Ketua RT


dan/atau Pemuka Masyarakat Supaya Mengusahakan Pemadaman Api.

Bila Api Terus Menjalar, Segera Laporkan Kepada Posko KebakaranTerdekat

Bila Terjadi KebakaranGunakan Peralatan Yang Dapat mematikan api secara cepat
dan tepat

Tidak Membuang Puntung Rokok Sembarangan.

Matikan Api Setelah Kegiatan Berkemah Selesai

Gunakan Masker Bila Udara Telah Berasap, Berikan Bantuan Kepada SaudaraSaudara Kita Yang Menderita

Bagi Peladang :

Hindari Sejauh Mungkin Praktek Penyiapan Lahan Pertanian Dengan Pembakaran,


Apabila Pembakaran Terpaksa Harus Dilakukan, Usahakan Bergiliran (Bukan Pada
Waktu Yang Sama), Dan Harus Terus Dipantau. Bahan Yang Dibakar Harus Sekering
Mungkin Dan Minta Pimpinan Masyarakat Untuk Mengatur Giliran Pembakaran
Tersebut 21

4. Kegagalan Teknologi
Kiat-kiat Penanganan dan Upaya Pengurangan Bencana sebagai berikut :

Kurangi atau hilangkan bahaya yang telah diidentifikasikan

Tingkatkan ketahanan terhadap kebakaran dengan menggunakan material bangunan


ataupun peralatan yang tahan api.

Bangun daerah penyangga atau penghalang api serta penyebaran asap/pengurai asap.

Tingkatkan fungsi sistem deteksi dan peringatan dini.

Perencanaan kesiapsiagaan dalam peningkatan kemampuan pemadaman kebakaran


dan penanggulangan asap, tanggap darurat dan evakuasi bagi pegawai serta penduduk
disekitar.

Sosialisasikan rencana penyelamatan kepada pegawai dan masyarakat sekitarnya


bekerja sama dengan instansi terkait.

Tingkatkan Kemampuan pertahanan sipil dan otoritas kedaruratan.

Batasi dan kurangi kapasitas penampungan bahan-bahan kimia yang berbahaya dan
mudah terbakar.

Tingkatkan standar keselamatan di pabrik dan desain peralatan.

Antisipasi kemungkinan bahaya dalam desain pabrik

Buat prosedur operasi penyelamatan jika terjadi kecelakaan teknologi.

Pindahkan bahan/material yang berbahaya dan beracun.

Secara proaktif melakukan monitoring tingkat pencemaran sehingga standar


keselamatan tidak terlampaui.

Persiapkan rencana evakuasi penduduk ke tempat aman. 21

5. Kerusuhan Sosial / Disintegrasi Bangsa


Kiat-kiat Penanggulangan kerusuhan sosial / disintegrasi bangsa. Adapun kiat-kiat yang
digunakan dalam penanggulangan disintegrasi bangsa antara lain adalah :

Menanamkan nilai-nilai bela negara, patriotisme, nasionalisme,nilai-nilai Pancasila,


jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa persaudaraan, agar tercipta kekuatan dan
kebersamaan di kalangan rakyat Indonesia.

Menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primodialisme sempit pada setiap


kebijaksanaan dan kegiatan, agar tidak terjadi KKN.

Meningkatkan ketahanan rakyat dalam menghadapi usaha-usaha pemecahbelahan dari


anasir luar dan kaki tangannya.

Penyebaran dan pemasyarakatan wawasan kebangsaan dan implementasi butir-butir


Pancasila, dalam rangka melestarikan dan menanamkan kesetiaan kepada ideologi
bangsa.

Menumpas setiap gerakan separatis secara tegas dan tidak kenal kompromi.

Membentuk satuan sukarela yang terdiri dari unsur masyarakat, TNI dan Polri dalam
memerangi separatis.

Melarang, dengan melengkapi dasar dan aturan hukum setiap usaha untuk
menggunakan kekuatan massa.

Untuk mendukung terciptanya keberhasilan suatu kebijaksanaan dan strategi pertahanan


disarankan :

Penyelesaian konflik vertikal yang bernuansa separatisme bersenjata harus


diselesaikan dengan pendekatan militer terbatas dan professional guna menghindari
korban dikalangan masyarakat dengan memperhatikan aspek ekonomi dan sosial
budaya serta keadilan yang bersandar pada penegakan hukum.

Penyelesaian konflik horizontal yang bernuansa SARA diatasi melalui pendekatan


hukum dan HAM.

Penyelesaian konflik akibat peranan otonomi daerah yang menguatkan faktor


perbedaan, disarankan kepemimpinan daerah harus mampu meredam dan
memberlakukan reward and punishment dari strata pimpinan diatasnya.

Guna mengantisipasi segala kegiatan separatisme ataupun kegiatan yang berdampak


disintegrasi bangsa perlu dibangun dan ditingkatkan institusi inteligen yang handal. 21

6. Letusan Gunung Api


Persiapan Dalam Menghadapi Letusan Gunung Berapi diantaranya :

Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk mengungsi.

Membuat perencanaan penanganan bencana.

Mempersiapkan pengungsian jika diperlukan.

Mempersiapkan kebutuhan dasar


Saat Terjadi Letusan Gunung Berapi yang perlu dilakukan adalah :

Hindari daerah rawan bencanaseperti lereng gunung, lembah dan daerah aliran lahar.

Ditempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan dan awan panas. Persiapkan diri
untuk kemungkinan bencana

Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh seperti: baju lengan panjang, celana
panjang, topi dan lainnya.

Jangan memakai lensa kontak.

Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung

Saat turunnya awan panas usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah
tangan.

Setelah Terjadi Letusan Gunung Berapi adalah :

Jauhi wilayah yang terkena hujan abu

Bersihkan atap dari timbunan abu. Karena beratnya, bisa merusak atau meruntuhkan
atap bangunan.

Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak
mesin 21

7. Tanah Longsor
Strategi dan upaya penanggulangan bencana tanah longsor diantaranya :

Hindarkan daerah rawan bencanauntuk pembangunan pemukiman dan fasilitas utama


lainnya

Mengurangi tingkat keterjalan lereng

Meningkatkan/memperbaiki dan memelihara drainase baik air permukaan maupun air


tanah. (Fungsi drainase adalah untuk menjauhkan airn dari lereng, menghidari air
meresap ke dalam lereng atau menguras air ke dalam lereng ke luar lereng. Jadi
drainase harus dijaga agar jangan sampai tersumbat atau meresapkan air ke dalam
tanah).

Pembuatan bangunan penahan, jangkar (anchor) dan pilling

Terasering dengan sistem drainase yang tepat.(drainase pada teras teras dijaga
jangan sampai menjadi jalan meresapkan air ke dalam tanah)

Penghijauan dengan tanaman yang sistem perakarannya dalam dan jarak tanam yang
tepat (khusus untuk lereng curam, dengan kemiringan lebih dari 40 derajat atau
sekitar 80% sebaiknya tanaman tidak terlalu rapat serta diseling-selingi dengan
tanaman yang lebih pendek dan ringan , di bagian dasar ditanam rumput).

Mendirikan bangunan dengan fondasi yang kuat

Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan

Pengenalan daerah rawan longsor

Pembuatan tanggul penahan untuk runtuhan batuan (rock fall)

Penutupan rekahan di atas lereng untuk mencegah air masuk secara cepat kedalam
tanah.

Pondasi tiang pancang sangat disarankan untuk menghindari bahaya


liquefaction(infeksi cairan).

Utilitas yang ada didalam tanah harus bersifat fleksibel

Dalam beberapa kasus relokasi sangat disarankan. 21

8. Tsunami
Penyelamatan Diri Saat Terjadi Tsunami

Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat.

Janganlah ancaman bencanaalam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan


lautan.Namun jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempa bumi, air laut
dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju
ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan
teman-teman yang lain.

Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita
dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut.
Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke
daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang. Jika
gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban. 21

BAB 3
PEMBAHASAN
Apapun jenis bencana yang terjadi, selalu menimbulkan kerugian, baik kerugian jiwa dan
materi. Bencana juga mengakibatkan banyak masalah, seperti: pengungsi, wabah penyakit,
logistic tidak cukup, dan lain-lain. Maka, lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat yang
terlibat sangat membutuhkan pengetahuan tentang karakter, jenis, sifat bencana, dan
manajemen bencana sebagai salah satu upaya untuk mengelola dan menanggulangi bencana.
Sejak tahun 2004 bencana besar seolah-olah menjadi bagian yang tak terelakkan di Indonesia,
di mulai dengan terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami di wilayah Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara, selanjutnya gempa bumi di wilayah
Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah pada Mei 2006, serta beberapa kejadian
bencana lainnya pada tahun 2007. Kejadian bencana tersebut menuntut upaya tanggap darurat
secara cepat dan menyeluruh bagi korban dan wilayah yang terkena dampak bencana, serta
upaya pemulihan kehidupan masyarakat dan daerah pasca bencana.

Bencana alam merupakan keluaran dari interaksi antara bahaya alam dengan
kerentanan (vurnerability) suatu kawasan atau wilayah. Kerentanan suatu wilayah dibentuk
oleh kondisi fisik atau lingkungan, sosial, ekonomi, politik, kelembagaan, dan sistem serta
praktek yang tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan di wilayah tersebut yang umumnya
diakibatkan oleh kegiatan manusia. Selain kerentanan, faktor lain yang sering berpengaruh
terhadap bencana adalah capacities (kapasitas atau ketahanan). Faktor ini merupakan aspek
positif dari situasi yang ada yang bila dimobilisasi dapat mengurangi kerentanan dan
mengurangi resiko wilayah terhadap bencana. Salah satu hal yang penting untuk dilakukan
agar terhindar dari bencana alam adalah dengan menjaga kualitas lingkungan hidup. Oleh
karena itu perlu perencanaan matang dalam pengelolaan dan pelaksanaan pembangunan fisik
Kerentanan suatu wilayah dibentuk oleh kondisi fisik atau lingkungan, sosial, ekonomi,
politik, kelembagaan, dan sistem serta praktek yang tidak memperhatikan prinsip
keberlanjutan di wilayah tersebut yang umumnya diakibatkan oleh kegiatan manusia. Selain
kerentanan, faktor lain yang sering berpengaruh terhadap bencana adalah capacities
(kapasitas atau ketahanan). Faktor ini merupakan aspek positif dari situasi yang ada yang bila
dimobilisasi dapat mengurangi kerentanan dan mengurangi resiko wilayah terhadap bencana.
Salah satu hal yang penting untuk dilakukan agar terhindar dari bencana alam adalah dengan
menjaga kualitas lingkungan hidup. Oleh karena itu perlu perencanaan matang dalam
pengelolaan dan pelaksanaan pembangunan fisik.
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat
lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia
danSamudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik
(volcanicarc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa Nusa Tenggara, Sulawesi, yang
sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian
didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan
bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor. Data
menunjukkan bahwa Indonesia merupakansalah satu negara yang memiliki tingkat
kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipattingkat kegempaan di Amerika Serikat
(Arnold, 1986). Gempa bumi yang disebabkan karena interaksi lempeng tektonik dapat
menimbulkan
gelombang pasang apabila terjadi di samudera. Dengan wilayah yang sangat dipengaruhi oleh
pergerakanlempeng tektonik ini, Indonesia sering mengalami tsunami. Tsunami yang terjadi
di Indonesiasebagian besar disebabkan oleh gempa-gempa tektonik di sepanjang daerah
subduksi dan daerahseismik aktif lainnya (Puspito, 1994). Selama kurun waktu 1600?2000
terdapat 105 kejadiantsunami yang 90 persen di antaranya disebabkan oleh gempa tektonik, 9
persen oleh letusangunung berapi dan 1 persen oleh tanah longsor (Latief dkk., 2000).
Wilayah pantai di Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana tsunami
terutama pantai barat Sumatera, pantaiselatan Pulau Jawa, pantai utara dan selatan pulaupulau Nusa Tenggara, pulau-pulau di Maluku, pantai utara Irian Jaya dan hamper seluruh
pantai di Sulawesi.
Laut Maluku adalah daerah yang paling rawan tsunami. Dalam kurun waktu tahun 1600?
2000, di daerah ini telah terjadi 32tsunami yang 28 di antaranya diakibatkan oleh gempa
bumi dan 4 oleh meletusnya gunung berapi di bawah laut.Wilayah Indonesia terletak di
daerah iklim tropis dengan dua musim yaitu panas dan hujandengan ciri-ciri adanya
perubahan cuaca, suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklimseperti ini
digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang relative
beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi tanah yang
subur. Sebaliknya, kondisiitu dapat menimbulkan beberapa akibat buruk bagi manusia seperti

terjadinya bencanahidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan


kekeringan. Seiring dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya
aktivitas manusia, kerusakan lingkungan hidupcenderung semakin parah dan memicu
meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi (banjir, tanah longsor
dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti di banyak daerah di Indonesia. Pada tahun
2006 saja terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang di Jember, Banjarnegara,
Manado, Trenggalek dan beberapa daerah lainnya.
Indonesia dikenal sebagai negara kaya bencana gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi,
dll. Sejarah bencana yang tergolong besar di Indonesia seperti, pada 27 Agustus 1983 terjadi
bencana alam berupa meletusnya gunung Krakatau di selat sunda. Selain itu sejarah baru
ditorehkan yaitu bencana alam gempa besar di Aceh pada 26 December 2004, mengakibatkan
tsunami berskala 8,7 pada skala Richter di barat Aceh dan oleh dua gempa besar di
Kepulauan Nicobar dan Andaman, India, yang terjadi dalam selang waktu dua jam kemudian.
Bencana ini menewaskan sekitar 150.000 penduduk di kawasan Asia Tenggara dan Asia
Selatan.
Siklus managemen disaster antara lain tahap pencegahan dan mitigasi; tahap kesiapsiagan;
tahap tanggap darurat; tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Tahap pencegahan dan mitigasi
dilakukan sebelum terjadinya bencana (pra-bencana). Tujuan dari mitigasi bencana
gempabumi ini adalah untuk mengembangkan strategi mitigasi yang dapat mengurangi
hilangnya kehidupan manusia dan alam sekitarnya serta harta benda, penderitaan manusia,
kerusakan ekonomi dan biaya yang diperlukan untuk menangani korban bencana yang
dihasilkan oleh bahaya gempabumi.. Tindakan yang dapat dilakukan dalam tahap ini adalah
memasang rambu-rambu peringatan bahaya dan larangan di wilayah rawan bencana,
mengembangkan sumber daya manusia satuan pelaksana, mengadakan pelatihan
penaggulangan bencana kepada warga, menyiapkan tempat penampungan sementara di jalurjalur evakuasi jiga bencana terjadi, memindahkan masyarakat yg tinggal di wilayah bencana
ke tempat yg aman.
Tahap kesiapsiagaan juga dilakukan seblum tejadinya bencana . Tahap ini bertujuan untuk
memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi kejadian bencana.Tindakan yang
dapat dilakukan dalam tahap kesiapsigaan adalah penyusunan dan uji coba rencana
penanggulangan kedaruratan bencana, pengorganisasian, pemasangan, dan pengujian sistem
peringatan dini, pengorganisasian, penyuluhan, pelatihan, dan gladi tentang mekanisme
tanggap darurat. Tahap tanggap darurat terjadi saat bencana itu terjadi, tahap ini sangat
penting dalam magemen peanggulangan bencana . Tahap tanggap darurat bertujuan agar
menyelamatkan kelangsungan kehidupan manusia, mengurangi penderitaan korban bencana,
meminimalkan kerugian material. Dalam tahapan ini serangkaian kegiatan dilakukan dengan
segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan.
Kegiatan ini meliputi: penyelamatan dan evakuasi korban maupun harta benda, pemenuhan
kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan
prasarana dan saranaz. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi merupakan tahap yg dilakukan
setelah bencana tejadi (pasca bencana) . Tahap ini berperan penting dalam pemulihan pasca
bencana baik infrastruktur maupun korban bencana.
Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disebutkan
sejumlah prinsip penanggulangan yaitu Cepat dan Tepat; Prioritas; Koordinasi dan
Keterpaduan; Berdaya Guna dan Berhasil Guna; Transparansi dan Akuntabilitas; Kemitraan;
Pemberdayaan; Non Diskriminatif; Non Proletisi. Prinsip prinsip ini harus dilakukan agar

proses penaggulangan bencana berjalan baik dan lancer. Menurut laporan WHO, angka
probabilitas kematian akibat bencana setiap decade dari tahun 1951 sampai 2000 selalu
menurun walaupun jumlah kejadian bencana dan korban mengalami kenaikan. Demikian juga
data probabilitas kematian karena bencana gempa dari tahun 1960 sampai 2001 ikut
mengalami penurunan. Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh perkembangan
kedokteran disaster berupa peningkatan aktivitas pencegahan, mitigasi dan system
koordinasi, perubahan variasi alam, atau kombinasi antara menajemen dan sistem koordinasi
dengan perubahan variasi alam, tetapi dapat juga akibat data laporan tidak memadai.Prinsip
dasar penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan cara meniadakan bencana (preventif),
meniadakan maupun mengurangi kerusakan yang ditimbulkan bencana tersebut terhadap
populasi dan lingkungan (terapi), atau kombinasi preventif dan terapi. Untuk hal tersebut, tim
harus memahami patofisiologi atau mekanisme terjadinya disaster dari awal adanya
hazard sampai terjadinya disaster
Mereka harus dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuan kedokteran disaster agar
tercapai pengelolaan atau manajemen yang tepat, efektif dan efisien. Oleh sebab itu, tujuan
manajemen setelah terjadi bencana adalah pengembalian status kesehatan korban seperti
semula atau melawan dampak bencana terhadap kesehatan korban ataupun mencegah tidak
terjadi bencana. Strategi menajemen disaster yang harus dimiliki oleh tim adalah: (1)
memodifikasi hazard agar tidak terjadi bencana atau mengurangi faktor risiko sehingga
terjadi penguranganefek negatif pada masyarakat dan lingkungan; (2) mengurangi kerawanan
(vulnerability) dan kerentanan masyarakat dan lingkungan untuk masa depan; dan juga (3)
memperbaiki kesiapan menghadapi disaster agar kerusakan minimal.1,7-,9 Dapat
disimpulkan bahwa tim harus dapat melakukan pencegahan, mitigasi, menghilangkan faktor
risiko agar tidak terjadi bencana atau menyiapkan masyarakat dan lingkungan agar tidak
terjadi korban atau mengurangi kerusakan sehingga tidak menimbulkan disaster.
Pada prinsipnya, manajemen dilakukan sejak sebelum bencana terjadi, bukan pada saat dan
setelah bencana menimpa. Tujuan manajemen bencana yang baik adalah:
1. Menghindari kerugian pada individu, masyarakat, maupun negara melalui tindakan
dini (sebelum bencanaterjadi).
Tindakan ini termasuk pencegahan. Tindakan ini efektif sebelum bencana itu terjadi. Dalam
kaitan bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta, atau tsunami di Aceh, tindakan ini
sudah terlambat. Tetapi tindakan ini masih tetap efektif untuk mengantisipasi bencana yang
bisa terjadi di kemudian hari, termasuk bencana yang mungkin lebih besar akibat ulah
Gunung Merapi. Tindakan penghindaran biasanya dikaitkan dengan beberapa upaya.
Pertama, penghilangan kemungkinan sebab. Kalau bencana itu bisa disebabkan oleh
kesalahan manusia, tindakan penghilangan sebab tentunya bisa dilakukan. Tetapi hal ini akan
sulit bila penyebabnya adalah alam yang memiliki energi di luar kemampuan manusia untuk
melakukan.
Pergeseran lempeng bumi yang menyebabkan gempa bumi tektonik, misalnya, merupakan
sebab yang sampai saat ini belum bisa diatasi oleh manusia. Belum ada satu teknologi yang
mampu menghambat pergeseran lempeng bumi, atau mengatur pergeseran supaya bergerak
pelan-pelan dan tidak menimbulkan getaran hebat. Oleh karena itu, tindakan penghindaran
bencana alam lebih diarahkan pada menghilangkan, atau mengurangi kondisi, yang dapat
mewujudkan bencana. Contoh kondisi yang dimaksud adalah struktur bangunan. Kondisi
bangunan yang baik bisa meminimalisasi atau menghilangkan risiko bencana.

Struktur bangunan yang sesuai untuk kondisi gempa menyebabkan bangunan tahan terhadap
goncangan, sehingga kerugian manusia, fisik, ekonomi, dan lingkungan bisa dihindari.
2. Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat, maupun negara berupa
kerugian yang berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan lingkungan bila
bencanatersebut terjadi.
Tindakan meminimalisasi kerugian akan efektif bila bencana itu telah terjadi. Tetapi perlu
diingat, piranti tindakan meminimalisasi kerugian itu telah dilakukan jauh sebelum bencana
itu sendiri terjadi. Contoh, bencana alam dengan cepat akan menimbulkan masalah pada
kesehatan akibat luka parah, bahkan meninggal. Maka tindakan minimalisasi yang harus
dilakukan sejak dini adalah penyebaran pusat-pusat medis ke berbagai wilayah, paling tidak
sampai ke tingkat kecamatanan.
Di Inggris, pemadam kebakaran disebar hingga ke tingkat distrik dan kota (setara dengan
kabupaten) dengan koordinasi di tingkat county (setara dengan propinsi). Bila terjadi
bencana kebakaran di satu lokasi, pemadam kebakaran di berbagai daerah bisa dengan cepat
dikerahkan sehingga kerugian bisa diminimalisasi.
3. Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan masyarakat yang
terkena bencana.
Ada juga yang menyebut tindakan ini sebagai pengentasan. Tujuan utamanya adalah
membantu individu dan masyarakat yang terkena bencana supaya bisa bertahan hidup dengan
cara melepaskan penderitaan yang langsung dialami. Bantuan tenda, pembangunan kembali
perumahan yang hancur, memberi subsidi, termasuk dalam kategori ini. Tindakan yang juga
termasuk kategori ini adalah pemulihan kondisi psikis individu dan masyarakat yang terkena
bencana. Tujuannya adalah untuk mengembalikan optimisme dan kepercayaan diri. Dengan
sikap yang positif tersebut, pemulihan individu dan masyarakat akan menjadi semakin cepat
karena korban secara aktif membangkitkan diri sendiri.
4. Untuk memperbaiki kondisi sehingga individu dan masyarakat dapat mengatasi
permasalahan akibat bencana.
Perbaikan kondisi terutama diarahkan pada perbaikan infrastruktur seperti jalan, listirk,
penyediaan air bersih, sarana komunikasi, dan sebagainya. Dalam kasus Yoygakarta, jalan
merupakan salah satu infrastruktur yang perlu mendapat perhatian sekalipun (tampaknya)
tidak terlalu parah. Selain itu, berbagai fasilitas masyarakat seperti pasar, terminal, dan
sejenisnya juga termasuk dalam tindakan ini untuk membuat perputaran ekonomi masyarakat
kembali bergulir.
5. Untuk mempercepat pemulihan kondisi sehingga individu dan masyarakat bangkit ke
kondisi sebelum bencana, atau bahkan mengejar ketinggalan dari individu atau
masyarakat lain yang tidak terkena bencana.
Perbaikan infrastruktur tidaklah cukup. Itu hanya mengembalikan ke kondisi semula sehingga
aktivitas ekonomi dan sosial berjalan sebagaimana layaknya sebuah wilayah. Daerah yang
terkena bencana menjadi jauh tertinggal dibanding daerah lain. Kabupaten Bantul misalnya,
telah kehilangan banyak kesempatan untuk mengembangkan ekonominya. Itu menyebabkan
pertumbuhan ekonominya akan lambat. Apa yang perlu dilakukan adalah penerapan berbagai

kebijakan, termasuk kebijakan fiskal, supaya orang tertarik untuk mengembangkan wilayah
tersebut. Seperti yang dilakukan pemerintah Jerman Bersatu pada saat baru menggabungkan
diri antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Salah satu bentuk tindakan yang dilakukan
pemerintah pada saat itu adalah memberi insentif pajak bagi perusahaan yang bersedia
menanamkan laba bersih mereka di wilayah Jerman Timur. Pemerintah telah menetapkan
bahwa yang memiliki tanggung jawab terhadap pengelolaan bencana adalah lembaga
pemerintah non departemen (LPND) yaitu Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNPB) di tingkat pusat. Sedangkan din tingkat daerah ada 29 buah BPBD di
tingkat provinsi dan 171 BPBD di tingkat Kabupaten / Kota. Untuk provinsi DKI, Papua dan
Riau belum ada BPBD Kabupaten / Kota. Sedangkan yang bertanggung jawab terhadap
masalah kesehatan pada korban bencana adalah kementerian kesehatan : Krisis
Center(Critical Center). Terdapat 9 regional (Jakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar,
Palembang, Medan, Banjarmasin, Makasar dan Manado) dan 2 subregional ( Padang dan
Jayapura) krisis center.
Skala dan status bencana menurut UU nomor 24 tahun 2007, ditentukan oleh presiden.
Penentuan skala dan status bencana ditentukan berdasarkan kriteria jumlah korban dan
material yang dibawa oleh bencana, infrastruktur yang rusak, luas area yang terkena, sarana
umum yang tidak berfungsi, pengaruh terhadap sosial ekonomi dan kemampuan sumber daya
lokal untuk mengatasinya. Manajemen perkemahan perlu didisain sebagai tempat
pengungsian yang sehat, tertata rapih dan indah. Lingkungan yang sehat yang memiliki
sanitasi air, udara dan lingkungan pada umumnya yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.
Tertata rapih dan indah yang memungkinkan alur evakuasi dan transportasi korban serta
penghuni pengungsian melaksanakan mobilitas dan aktivitas sehari-hari. Pramuka sebagai
masyarakat awam khusus ditantang untuk dapat mengimplementasikan manajemen
perkemahan yang memenuhi syarat hidup sehat dan memudahkan mobilitas, bukan sekedar
tenda berdiri dan bisa digunakan untuk tidur. Aktivitas keseharian korban perlu segera
dinormalisasi, seperti warung atau pasar, sekolah, bekerja disamping aktivitas lain yang juga
besar yaitu membersihkan puing-puing reruntuhan atau material, memperbaiki jalan dan
sarana pembuangan limbah. Dapur umum dibuka untuk melayani warga yang membutuhkan
bantuan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal.
Reduksi stress atau trauma healing dilaksanakan sedini mungkin, terutama pada anak-anak
dan wanita hamil atau menyusui. Reduksi stres atau trauma healing dilaksanakan sedini
mungkin agar rehabibiltasi mental korban bencana bisa dipulihkan untuk menerima
kenyataan dan melakukann aktivitasnya yang baru. Menanamkan nilai-nilai atau re-orientasi
budaya termasuk didalam keterampilan yang diperlukan untuk melanjutkan hidupnya.
Strategi re-orientasi budaya pada korban bencana dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Strategi akomodasi budaya
2. Strategi negosiasi budaya
3. Strategi restrukturisasi budaya
Strategi akomodasi budaya, dilakukan bila korban bencana telah memiliki nilai-nilai, normanorma dan perilaku yang positif untuk keberlanjutan hidupnya dimasyarakat. Nilai, norma
dan perilaku tersebut agar dipertahankan dan korban bencana pada kategori ini perlu
dilibatkan secara aktif dalam pemulihan korban bencana yang lain. Pengalaman menolong

korban bencana, mereka pada umumnya memiliki persepsi yang menyempit, untuk itu bahasa
yang mungkin tepat adalah instruktif dengan persuasif yang santun. Strategi negosiasi budaya
dilakukan bila korban bencana telah memiliki nilai-nilai, norma-norma dan perilaku yang
kurang menguntungkan untuk keberlanjutan hidupnya di masyarakat. Misalnya, terdapat
korban bencana yang mempunyai kebiasaan merokok, pemenuhan kebutuhan membeli rokok
yang kurang menguntungkan tersebut perlu diganti dengan membeli bahan makanan untuk
dirinya dan keluarganya. Petugas trauma healing menegosiasikan contoh-contoh budaya
seperti ini. Strategi restrukturisasi budaya, dilakukan bila korban bencana telah memiliki
nilai-nilai, norma-norma dan perilaku yang merugikan untuk keberlanjutan hidupnya di
masyarakat. Misalnya, kebiasaan tangan dibawah, malas berusaha, hobi mencuri barang milik
orang lain. Pada siatuasi ini, petugas merestrukturisasi budaya korban bencana dengan
budaya baru yang jauh lebih baik.
Bila ketiga strategi ini dapat diterapkan oleh petugas bencana, maka saat memasuki tahap
rekonstruksi akan lebih tertib dan pada saat telah tertata masyarakat korban bencana memiliki
budaya baru yang lebih unggul. Pada sisi ini, kita memandang bencana sebagai peluang emas
menata kembali budaya Indonesia yang sudah mulai runtuh. Re-orientasi budaya perlu
menjadi pertimbangan membangunan Indonesia yang lebih baik agar mampu mandiri dan
bersaing sehat serta cerdas hidupnya.
Strategi persiapan berarti menyiapkan masyarakat, tim dan rumah sakit untuk mengelola
korban pasca bencana, kemampuan untuk mitigasi sesegera mungkin terhadap korban,
kemampuan mengurangi penderitaan dan meningkatkan penyembuhan serta rehabilitasi.
Persiapan juga meliputi sistem peringatan, evakuasi dan relokasi tempat yang aman,
persiapan makanan, obat, air bersih, pembiayaan, tenda untuk korban, tenaga, dan latihanlatihan simulasi oleh tim, masyarakat dan rumah sakit. Contoh persiapan daerah gunung
Merapi di Yogjakarta dengan melakukan evakuasi penduduk dan menentukan daerah/relokasi
bila terjadi peningkatan aktivitas Merapi dengan latihan simulasi di Rumah Sakit Sardjito.
Menghilangkan faktor risiko adalah membebaskan kemungkinan terjadinya efek negatif,
karena dari itu tim harus dapat memahami cara menghilangkan faktor risiko. Faktor risiko
disebut risk maker, seperti tumpukan salju di puncak gunung dapat menjadi banjir dan tanah
longsor apabila salju tersebut mencair. Beberapa penelitian atau observasi menunjukkan
perubahan prilaku binatang di daerah gunung Merapi
adalah pertanda atau peringatan akan peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Tim harus dapat
menghilangkan faktor risiko yang dibentuk oleh behavior pribadi, gaya hidup, kultur, faktor
lingkungan, karakteristik keturunan masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan.
Sebagai contoh kecelakaan bus terjadi akibat para supir sering mengkonsumsi minuman
alkohol yang berlebihan, karena itu perlu dilakukan pemeriksaan kadar alkohol dalam tubuh
supir secara berkala agar kecelakaan bus dapat dicegah atau dikurangi.
Tim perlu menentukan katagori korban pada pengelolaan disaster sebagai berikut:
1. Korban Luka Ringan(walking wounded)
Umumnya korban luka ringan diakibatkan benturan atau himpitan benda yang ringan. Korban
meninggalkan daerah bencana ke tempat yang lebih aman atau keluarga maupun
masyarakat/relawan membawanya ke tempat pelayanan kesehatan yang telah disediakan oleh
tim maupun rumah sakit terdekat. Lesi kebanyakan adalah kontusi, laserasi, fraktur maupun
dislokasi, strain, sprain, trauma kepala ringan, sindrom kompartemen dan adanya benda

asing di luka seperti kayu, pasir atau pecahan kaca. Tim harus dapat melakukan pengobatan
pada korban seperti perawatan luka, pemberian antibiotik, anti tetanus atau analgetik,
immobilisasi dan resusitasi serta pengobatan komorbiditas korban itu sendiri.
1. Korban Luka Berat atau Terhimpit oleh Benda Berat atau Bangunan
Korban luka berat atau korban terhimpit oleh benda berat atau bangunan sangat
memerlukan pertolongan resusitasi secepatnya. Artinya, tim harus mempunyai ketrampilan
melakukan resusitasi sebagai life-saving bersamaan dengan pembebasankorban dari himpitan
benda berat dan membawa ke tempat pelayanan yang telah disiapkan. Khusus pada
pembebasan korban yang terisolasi di tempat reruntuhan akibat gempa harus selalu
dibarengidengan prosedur resusitasi. Prosedur ini memiliki beberapa kesulitan seperti posisi
korban dan ruangan yang sangat terbatas untuk melakukan manuver oksigenasi.
Oleh karena itu tim harus mempunyai ketrampilan dan alat khusus untuk membebaskannya.
Masalah lain yang perlu dipikirkan bila terhimpit bangunan adalah stabilitas bangunan
tersebut, karena sewaktu-waktu dapat roboh lagi. Bantul adalah daerah dengan sistem
arsitektur tradisional terdiri dari bambu dan kayu, sebagian tembok tanpa beton bertulang.
Kebanyakan korban kejatuhan bahan tersebut atau tembok rumah yang lantai dasarnya
beralas tanah sehingga terjadi inhalasi debu pada korban. Keluarga korban atau tetangga yang
tidak terluka secara otomatis membebaskan korban dengan alat seadanya dan tanpa
pengetahuan kedokteran disaster. Korban segera dibawa ke tempat yang lebih aman atau ke
tempat pelayanan kesehatan yang telah dipersiapkan oleh tim tanpa memikirkan resusitasi.
Tim sebagai triase mengirim korban ke rumah sakit yang tidak sesuai dengan pengetahuan
life saving atau tanpa fasilitas yang memadai. Sebagian masyarakat juga membawa korban ke
rumah sakit dengan transportasi memakai kendaraan pribadi, truk atau bus tanpa memikirkan
pertolonganpertama. Terdapat pula Isu yang mengakibatkan korban terlambat mendapatkan
bantuan life saving, seperti isu tsunami pada kejadian gempa di Yogyakarta,sehingga
masyarakat yang tidak terluka berusaha meninggalkan korban ke tempat yang lebih aman dan
korban meninggal tanpa pertolongan.
1. Masalah Jalan Napas dan Ventilasi
Tim harus segera mengamankan jalan napas (airway) dan ventilasi untuk kebutuhan oksigen
dan rehidrasi agar tidak terjadi komplikasi hidrasi. Menurut laporan disaster di Kobe pada
tahun 1995 dan gempa di Turki pada tahun 1999 ditemukan 12,9%-25% korban dengan
trauma torak yang menimbulkan gangguan pernapasan.Di Yogyakarta pada tahun 2006
ditemukan 63 korban akibat trauma torak sehingga konsentrasi oksigen di jaringan berkurang.
Tim harus dapat mengidentifikasi adanya gas beracun, gas kimiawi, atau karbon monoksida
maupun inhalasi debu pada bencana gempa gunung berapi, gempa tektonik, tertimbun tanah
atau terperangkap di ruangan tertutup. Semua masalah tersebut dapat menimbulkan
kerusakan fungsi paru-paru atau gangguan pertukaran gas. Akibatnya korban menjadi
hipoksia, hiperkrabia, asidosis respirasi, syok, dan penurunan kesadaran
Korban harus diberi masker oksigen atau dilakukan intubasi dan mengukur konsentrasi
saturasi oksigen di perifer dengan oksimeter. Umumnya korban pada posisi tertelungkup,
ruang korban terbatas untuk melakukan intubasi, dan biasanya korban tidak sadar (koma)
atau setengah sadar tim harus mempunyai keterampilan dan alat-alat khusus pada situasi
tersebut. Banyak obat induksi pada intubasi tergantung tekanan darah dan trauma kepala yang
diderita korban. Tim sering menggunakan thiopental, etomidate, ketamine dan

succinylcholine. Obat-obat tersebut perlu dipertimbangkan keuntungan dan kerugian terhadap


komsumsi oksigen di otak, aktivitas jantung dan respirasi serta kondisi vascular korban.
Penggunaan succinylcholine dapat menghasilkan paralysis, karena itu penggunaan obat ini
harus hati-hati.
1. Crush Syndrome
Tim harus memprediksi adanya crush syndrome pada korban akibat kompressi dalam jangka
waktu cukup lama oleh benda berat. Lebih dari 40% korban disaster yang hidup menderita
crush syndrome akibat tertimpa objek berat. Laporan gempa di San Francisco, Armenia
(1988), Iran (1990), gempa di Great Hanshin Awaji, Jepang (1995), dan Marmara, Turki
(1999) menemukan crush syndrome sehingga ada yang membutuhkan dialisis dan meninggal.
Ada juga laporan disaster
tidak menemukan kelainan tersebut seperti gempa di kota Meksiko pada tahun 1985 dan di
Filipina pada tahun 1990.
Tim harus dapat mendiagnosis crush syndrome. Peningkatan keregangan otot akan
mempengaruhi permeabilitas sarkolema sehingga cairan ekstraselular dan hasil metabolism
masuk ke dalam sarkolema yang akan menimbulkan pembengkakan selular dan gangguan
fungsi sehingga berakhir kematian sel otot. Pembengkakkan otot akanmenimbulkan sindrom
kompartemen. Kematian intraselular dan otot masuk kedalam sirkulasi. Akhir dari proses ini,
korban akan mengalami hiperkalemia, hipokalsemia, hiperfosfatemia, asidosis metabolik, dan
myoglobinemia atau myoglobinuria. Korban akan meninggal mendadak (cardiac arrest) atau
gagal ginjal akut (acute renal failure). Korban bencana gempa atau peperangan yang
menggunakan alat ledak hebat dapat menimbulkan crush syndrome, kerusakan berat jaringan
lunak dan otot, syok hipovolemik, dan infeksi. Oleh sebab itu, tujuan manajemen korban
crush syndrome adalah meningkatkan hidrasi dan pengeluaran urin (diuresis) agar hasil
metabolisme toksis dan mioglobin tidak menimbulkan gagal ginjal akut dengan melakukan
hemodialisis. Pengobatan rehidrasi adalah memberikan cairan Ringer dengan dosis 20
ml/kg/jam untuk anak-anak dan dewasa atau 10 ml/kg jam untuk orang tua atau 1 1.5 L pada
jam pertama dikombinasi dengan pemberian bikarbonas dengan dosis 44 mEg/per liter dan
maksimum 300 ml untuk korban yang mengalami anuri. Kadangkala dibutuhkan Mannitol
bila pengeluaran urin (output urine) < 200 ml/jam. Pemberian manitol 20% dengan
kombinasi Furosemide. Bila urin mulai keluar, infuse harus dikurangi. Tim harus memonitor
terapi dengan urin keluar, mengukur tekanan darah, dan memeriksa konsentrasi oksigen
perifer, respirasi dan auskultasi dada.
Tim harus dapat mengidentifikasi penyebab crush symdrome seperti kerusakan otot masif
akibat trauma, terlambatnya sampai di rumah sakit rujukan, dan resusitasi tidak memadai
selama transportasi dan di rumah sakit rujukan serta ketrampilan personel tim sangat
minimal.
1. Trauma Kepala
Trauma kepala akibat benturan atau terhimpit bangunan harus diprediksi walaupun korban
tak terlihat di dalam ruangan himpitan tersebut akan mengalami hipoksia, hipertensi, dan
dehidrasi. Tanda-tanda klinis trauma kepala adalah penurunan kesadaran, tanda lateralisasi,
dan konvulsi. Bila ada trauma kepala maka tim selalu memperkirakan adanya trauma tulang
belakang terutama daerah servikal sampai tidak terbukti pada pemeriksaan berikutnya.

Tujuan pengobatan trauma kepala adalah mencegah agar tidak terjadi hipoksemia dan
menurunkan tekanan darah. Pengobatan prehospital trauma kepala berat harus mencapai
tekanan darah rata-rata 90-110 mmHg dengan saturasi (SaO2 =100%). Korban yang terhimpit
benda berat perlu pemberian oksigen bahkan kalau perlu dilakukan intubasi dengan prosedur
hiperventilasi dengan menggunakan sedasi narkotika. Bila terdapat gejala kejang-kejang,
korban harus diberikan diazepam intravenas 10 mg atau fenobarbital lebih dari 10 mg/kg dan
diikuti 1mg/kg/ jam. Menurunkan tekanan darah diberikan Mannitol intravenous 25-50 g dan
Furosemide 20-40 mg tiap 4 jam. Obat antikovulsi jangan diberikan pada korban yang masih
terhimpit di bawah bangunan atau benda berat.
1. Hipotermia
Hipotermia perlu diperkirakan pada korban yang masih berada di bawah himpitan benda
berat atau bencana lainnya, karena sulit dikoreksi walaupun temperatur lingkungan tinggi.
Oleh karena itu, membuka pakaian korban untuk melakukan pemeriksaan awal hanya
dilakukan bila ada indikasi life-saving. Korban harus segera diselimuti agar tidak terjadi
hipotermia.
Hipotermia mempunyai keuntungan terhadap korban seperti daya pertahanan tubuh korban
meningkat tapi juga mempunyai kerugian terhadap kesehatan. Temperature 32o 33o C dapat
mengurangi kerusakan neuronal setelah trauma kepala, tetapi mempunyai efek negatif
terhadap metabolisme dan fungsi hemostatik. Kebutuhan oksigen meningkat, aktivasi platelet
dan kerja enzim pembekuan darah terhambat. Dapat disimpulkan hipotermia adalah faktor
risiko independen kematian awal korban disaster atau akibat himpitan. Penggunaan
pemanasan, menyelimuti korban, dan infuse cairan yang dipanaskan tidak dapat mencegah
penurunan temperatur korban.
1. Luka Bakar dan Inhalasi Debu
Luka bakar, inhalasi debu, dan kerusakan penglihatan mata pada korban yang terhimpit atau
akibat bencana ledakan gas dan listrik perlu jadi perhatian. Tim harus dapat melakukan
debridemen luka bakar kemudian menutup luka dengan kasa steril, antibiotik dan profilaksis
antitetanus seperti toksoid tetanus 0.5 ml dan life-saving.
1. Korban Mati
Kematian korban dan juga penyebab kematian merupakan dokumen yang sangat beharga
untuk dianalisis. Umumnya, penyebab kematian prehospital tidak dapat ditentukan karena
tim hanya terfokus pada morbiditas. Menurut Coupland 20 24% kematian mendadak dapat
dicegah di lokasi disaster dengan manajemen yang tepat dan terarah. Tim dan staf medis
rumah sakit harus dapat mempersiapkan transportasi mereka ke tempat yang disediakan guna
mengurangi penumpukkan di lokasi disaster tersebut.
BAB 4
PENUTUP
4.1. Kesimpulan

1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan


mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh
faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta
benda, dan dampak psikologis.
2. Siklus managemen bencanaterdiri dari pencegahan dan mitigasi; kesiapsiagaaan;
tanggap darurat; rehabilitasi dan rekonstruksi
3. Prinsip penanggulangan bencanaantara lain cepat dan tepat; prioritas; koordinasi dan
keterpaduan; berdaya gunna dan berhasil guna; transparansi dan akuntabilitas;
kemitraan; pemberdayaan; non diskrimatif; non prolitisi
4.2. Saran
1. Dalam penaggulangan dan pencegahan bencanasangat dibutuhkan sinergi dari semua
pihak baik pemerintah, masyarakat, bahkan pihak swasta agar tercapainya tujuan dari
pencegahan dan penaggulangan bencana tersebut
2. Tindakan/kegiatan penanggulangan harus ditingkatkan lagi agar bisa mengurangi
dampak bencana tersebut
3. Tahap rehabilitasi dan rekonstruksi harus benar-benar terealisasi dan dilakukan
sebaik-baiknya supaya dapat mengembalikan keadaan korban bisa seperti semula,
sebelum terjadinya bencana. Dan bahkan bisa menjadikan korban menjadi pribadi
yang lebih baik.

SOAL SOAL
1. Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non
alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis disebut
..
2. Tsunami
b, Gempa bumi
1. Kerusuhan
2. Tanah longsor
3. Bencana
Jawaban : e. Bencana
Penjelasan :
Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologis.
2. Komponen-komponen yang mempengaruhi bencana atara lain, kecuali
3. Resiko
4. Bahaya
5. Pengungsi
6. Kerentanan
7. Kapasistas
Jawaban : c. Pengungsi
Penjelasan :
Komponen komponen yang mempengaruhi bencana ada 4 antara lain Resiko, bahaya,
kerentanan, dan kapasitas
3. Sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemenyang mempunyai tugas
membantu Presiden Republik Indonesia dalam: mengkoordinasikan perencanaan dan

pelaksanaan kegiatan penanganan bencana dan kedaruratan secara terpadu; serta


melaksanakan penanganan bencana dan kedaruratan mulai dari sebelum, pada saat,
dan setelah terjadi bencana adalah ..
4. KPK
b, BNPB
1. KPU
2. PSSI
3. MA
Jawaban : b. BNPB
Penjelasan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (disingkat BNPB) adalah sebuah Lembaga
Pemerintah Non Departemen yang mempunyai tugas membantu Presiden Republik
Indonesia dalam: mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penanganan
bencana dan kedaruratan secara terpadu; serta melaksanakan penanganan bencana dan
kedaruratan mulai dari sebelum, pada saat, dan setelah terjadi bencana yang meliputi
pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat, dan pemulihan, dibentuk
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008.
4. . adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencan.
5. Mitigasi
6. rehabilitasi
7. kesiapsiagaan
8. tanggap darurat
9. rekonstruksi
jawaban : b. rehabilitasi
Penjelasan :
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencan.
5. Lembaga Pemerintah Nonkementrian yang bertugas melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan adalah

6. BASARNAS
b. KPI
7. DPR
8. PERBASI
9. Komisi Yudisial
Jawaban : a. BASARNAS
Penjelasan :
Badan SAR Nasional (disingkat Basarnas) adalah Lembaga Pemerintah Nonkementrian yang
bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pencarian dan pertolongan
6. Undang undang Republik Indonesia No 27 Tahun 2007 mengatur tentang .
7. Ketahanan Pangan
8. Penanggulangan Bencana
9. Pertahanan
10. Pengungsi bencana
11. Bantuan sosial
Jawaban : b. Penanggulangan bencana
Penjelasan :
Undang undang Republik Indonesia no 27 Tahun 2007 mengatur tentang penanggulangan
bencana
7. Prinsip-prinsip penanggulangan bencana antara lain, kecuali .
8. Diskrimatif
9. Prioritas
10. Kemitraan
11. Pemberdayaan
12. Non proletisi
Jawaban : a. Diskrimatif
Penjelasan :

Prinsip penanggulangan bencana antara lain cepat dan tepat; prioritas; koordinasi dan
keterpaduan; berdaya gunna dan berhasil guna; transparansi dan akuntabilitas; kemitraan;
pemberdayaan; non diskrimatif; non prolitisi
8. Perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai
tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana disebut ..
9. Rekonstruksi
10. Kerentanan
11. Rehablitasi
12. Bahaya
e.Disaster
Jawaban : c. Rehabilitasi
Penjelasan :
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pada wilayah pascabencana
9. Kegiatan kesiapsiagaan yaitu, kecuali
10. Perencanaan siaga
11. mobilisasi sumberdaya
12. pendidikan dan pelatihan
13. galadi atau simulasi
14. pelayanan kesehatan, sanitasi dan air bersih
jawaban : e. pelayanan kesehatan, sanitasi dan air bersih
Penjelasan :
Adapun kegiatan kesiapsiagaan secara umum adalah : (1) kemampuan menilai resiko; (2)
perencanaan siaga; (3) mobilisasi sumberdaya; (4) pendidikan dan pelatihan; (5) koordinasi;
(6) mekanisme respon; (7) manajemen informasi; (8) gladi atau simulasi.
10. Tahap yang bertujuan membantu masyarakat yang terkena bencanalangsung untuk
segera dipenuhi kebutuhan dasarnya yang paling minimal serata sasaran utama dari

tahap ini adalah penyelamatan dan pertolongan kemanusiaan. Tahap ini adalah tahap

11. Mitigasi
12. Kesiapsiagaan
13. Rekonstruksi
14. Tanggap darurat
15. Rehablitasi
Jawaban : d. Tanggap darurat
Penjelasan :
Tahap tanggap darurat bertujuan membantu masyarakat yang terkena bencana langsung
untuk segera dipenuhi kebutuhan dasarnya yang paling minimal. Sasaran utama dari tahap
tanggap darurat ini adalah penyelamatan dan pertolongan kemanusiaan. Dalam tahap tanggap
darurat ini, diupayakan pula penyelesaian tempat penampungan sementara yang layak, serta
pengaturan dan pembagian logistik yang cepat dan tepat sasaran kepada seluruh korban
bencana.
Pada tahap ini berbagai upaya dilakukan untuk meminimalkan dampak buruk dari bencana.
DAFTAR PUSTAKA
1. Amir, A . 2013. Penanggulanagan bencana . Makalah pada Universitas Sumatera
Utara: Medan
2. Anonim . 2011. Modul 5 Surveilans dan managemen bencana. Pusat Kebijakan dan
Manajemen Kesehatan (PKMK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada :
Yogyakarta
3. 2009. Kedokteran Disaster . Jurnal dari Bagian Bedah Orthopaedi dan
Traumatologi RS Dr. Sardjito :Yogyakarta
4. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2010). Buku Panduan Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia . Jakarta :BNPB
5. Badan Nasional Penaggulangan Bencana (2012). Pedoman Pengelolaan Data dan
Informasi Bencana Indonesia. Jakarta : BNPB
6. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral,RI (2009). Panduan Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.
7. Elnasai, A.S., Kim, S.J. Yun, G.J., and Sidharta, D, 2010, The Yogyakarta of May 27,
2006, MAE Center Report No. 07- 02, University of Illinois at Urbana- Champaign,
57 pp.

8. Emami MJ, Tavakoli, AR, Alemzadeh H, Abdimejad F, et al. 2009. Strategies in


Evaluation and Management of Bam Earthquake Victims. J Prehosp and Disast Med .
20(5):327-30.
9. Fadillah, Adi Yanuar . 2010 . Penentuan Variabel Bencana pada Universitas Indonesia
Jakarta : Tidak Diterbitkan
10. Gunn SWA. 2010. Multilingual Dictionary of Disaster Medicine and International
Relief. Boston: Kluwer Academic Publishers.p. 23-24
11. Haifani, Akhmad Muktaf. 2009. Managemen Resiko Bencana Gempa Bumi. Jurnal
pada Seminar Nasional IV Sumber Daya Teknologi Nuklir : Yogyakarta
12. Hidayat, Aep Nurul . 2014. Pengertian Bencana. Makalah pada Politeknik TEDC
Bandung : Bandung
13. Kertapati, E. K., Januari 2009; Aktivitas Gempabumi di Indonesia, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Geologi, Jurnal dari Badan Penelitian dan Pengembangan,
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral : Jakarta
14. Oktiavenny, Rizky, 2010, Definisi dan Jenis Bencana ,Makalah pada UNiversitas
Negeri Yogyakarta , Yogyakarta
15. Paripurno, Eko Teguh. 2010. Mereduksi Resiko Bencana dan Konflik dalam
Pengelolaan Lingkungan dan Sumber Daya Alam Jurnal dari UPN Veteran
Yogyakarta : Yogyakarta
16. Rahmat, Agus. 2009. Manajemen dan Mitigasi Bencana Jurnal dari Badan
Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Jawa Barat : Bandung
17. Republik Indonesia . 2007 . Undang undang no 27 tahun 2007 tentang
Penanggulangan Benacana.
18. Saunder KO, Birnbaum ML. 2009. Health disaster Management Guidelines for
Evaluation and Research in the Utstein Style. Prehospital and Disaster Medicine
19. Set BAKORNAS PBP dan Gempa bumidan Tsunami, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (2010). Buku Panduan Pengenalan Karakteristik Bencana Dan
Upaya Mitigasinya di Indonesia Edisi 2. Jakarta : BNPB
20. Smith J, Greaves I. 2009. Crush injury and crush syndrome: A review. J Trauma ;
54:S226-S230.
21. Sudiharto,SKp.M.Kes. 2011. Managemen disaster . Jurnal dari Badan
Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan : Jakarta
22. UNISDR, 2009. Terminologi on Disaster Risk Reduction. United Nations
International Strategy for Disaster Reduction: Geneva.

23. Widodo, Amien. 2010. Belajar dari Bencana Luapan Lumpur Sidoarjo. Jurnal dari
UPN Veteran Yogyakarta : Yogayakarta
24. Wilonoydho, Saratri. 2009. Perencanaan Kota Berbasis Manajemen Bencana. Jurnal
dari Universitas Negeri Semarang : Semarang
25. Wulan, Retno. 2014. Epidemologi Bencana dan Kedaruratan . Makalah pada
Universitas Jember : Jember