Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTEK FARMAKOTERAPI

SISTEM PERNAFASAN DAN PENCERNAAN


(DEF4272T)
SEMESTER GENAP

DISUSUN OLEH KELOMPOK A3


ANGGOTA:
Dian Fitriana (NIM. 145070501111001)
Hamidah (NIM145070500111015)
Nur Aisyah W N (NIM.145070501111021)
Syifa Mardiyah Ramadhani ( NIM. 145070501111019)
Tika Yasmin R (NIM. 145070507111009)
Tanti Anggraini ( NIM. 145070507111013)
Pradia Paramita (NIM. 145070509111001)
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TAHUN AJARAN 2015/2016

PENYAKIT DIARE INFEKSI


1. DEFINISI
Menurut , The Nasional Heart, Lung, and Blood Institude ( NHLBI ) dan
WHO , COPD didefinisikan sebagai penyakit yang ditandai oleh terbatasnya
saluran udara yang progresif yang tidak sepenuhnya dapat pulih kembali.
Keterbatasan saluran udara biasanya dapat progresif dan terasosiasi dengan respon
inflamasi abnormal pari-paru terhadap partikel asing atau gas. Kondisi paling
umum yang menyebabkan COPD adalah Bronkitis Kronik dan Emfisema.

Bronkitis Kronik berhubungan dengan sekresi berlebih mukus kronik


atau berulang terhadap cabang bronkus dengan batuk yang terjadi hampir
setiap hari selama paling tidak 3 bulan dalam setahun, dan ini
berlangsung paling tidak dalam 2 tahun berturut-turut bila penyebab

batuk lain telah dikeluarkan.


Emfisema didefinisikan sebagai pembesaran permanen yang abnormal
dari ruang udara pada posisi disatal terhadap bronkhiol terminal, disertai
dengan kerusakan dindingnya, tetapi tanpa fibrosis yang jelas.

2. EPIDEMIOLOGI
Diare infeksius dapat terjadi pada anak-anak maupun manusia dewasa.
Walaupun demikian diare infeksius lebih sering menimbulkan komplikasi yang
dapat berakibat fatal pada anak-anak. Setiap tahunnya terjadi 1,7juta kasus
diare infeksi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Setiap tahun diare
menyebabkan 760.000 kasus kematian di dunia, di mana setengah dari kasus
tersebut terjadi di Asia Selatan dan Afrika. Pada umumnya anak-anak yang
berusia di bawah 2 tahun lebih rentan terhdap diare infeksius. Walaupun sudah
terjadi tren penurunan kasus diare infeksi dalam 20 tahun terakhir, namun
tingkat kematian dari diare infeksi masih sangat tinggi. Satu dari 5 kasus diare
infeksius pada anak-anak dapat menyebabkan kematian karena penanganan
yang kurang tepat. Diare infeksi masih menjadi penyebab kematian anak-anak
berusia di bawah 5 tahun paling tinggi kedua di dunia setelah pneumonia.

Distribusi diare pada anak-anak berusia di bawah 5 tahun berdasarkan wilayahnya


3. ETIOLOGI
Secara garis besar penyebab diare infeksi dapat dibagi menjadi 3
kelompok berdasarkan penyebabnya, yaitu virus, bakteri, dan
parasit (Tabel 1). Rotavirus diperkirakan sebagai penyebab diare
akut pada 20-80% anak di dunia. Penelitian yang dilakukan di 6
rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 55% kasus
diare akut pada balita disebabkan oleh rotavirus.

Tabel 1. Etiologi diare infeksi ( Guandalini, 2014 )

4. PATOFISIOLOGI
Patogen enterik melekat pada sel mukosa melalui fimbrial atau afimbrial.
Setelah interaksi ini, patogenesis diare tergantung apakah organisme masih
menempel pada permukaan sel dan menghasilkan toksin sekretorik, menginvasi
ke dalam mukosa, atau penetrasi ke dalam mukosa (tipe penetrasi atau sistemik).

Pada dasarnya mekanisme patogenesis diare infeksi dapat dibagi menjadi


(Soewondo ES, 2002) :
1. Diare sekretorik karena toksin
2. Patomekanisme invasif
3. Diare karena perlukaan oleh substansi intraluminal
Diare sekretorik biasanya disebabkan adanya enterotoksin yang dikeluarkan
oleh organisme pada saat melekat pada permukaan sel. Beberapa mekanisme
toksin menimbulkan diare antara lain: (1) aktivasi adenilsiklase dengan akumulasi
cAMP intra selular (Vibrio cholerae), (2) aktivasi guanil siklase dengan akumulasi
cGMP intra selular (ETEC), (3) perubahan kalsium intra selular (EPEC), dan (4)
stimulasi sistem saraf enterik (Vibrio cholerae). Beberapa enterotoksin lainnya
menyebabkan diare melalui induksi sekresi klorida atau inhibisi reabsorbsi
natrium dan klorida (Thielman NM, 2004).
Diare karena bakteri invasif diperkirakan sebagai penyebab 10-20 % kasus
diare pada anak. Infeksi Shigella, E. Coli strain invasif dan Camphyllobacter
jejuni sering menimbulkan kerusakan mukosa usus halus dan usus besar. Invasi
bakteri diikuti oleh pembengkakan dan kerusakan sel epitel mukosa usus, yang
menyebabkan diketemukannya sel-sel lekosit dan eritrosit dalam tinja atau darah
segar (Thielman NM, 2004).
Virus yang juga berperanan dalam diare, memberikan perubahan morfologi
dan fungsional mukosa jejunum. Virus enteropatogen seperti Rotavirus
menyebabkan infeksi lisis pada enterosit. Invasi dan replikasi virus dalam sel
menginduksi kematian dan lepasnya sel. Enterosit yang lepas digantikan oleh sel
imatur. Akibatnya terjadi penurunan enzim laktase dan gangguan transpor
glukosa-Na+ karena pengurangan aktifitas Na-K-ATPase. Hal ini menyebabkan
terjadinya maldigesti karbohidrat dan diare osmotik (Wells BG, 2003).
Hasil metabolisme bakteri kadang-kadang dapat berupa bahan yang dapat
melukai mukosa usus. Bahan hasil metabolit tadi berupa dekonjugasi garam
empedu, hidroksi asam lemak, asam organik rantai pendek, dan substansi alkohol.

Selain itu substansi ini dapat merangsang usus sehingga terjadi diare (Wells
BG,2003).
5. TERAPI NON-FARMAKOLOGI
Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan cara menggunakan air bersih,
selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, penggunaan jamban untuk
pembuangan tinja, memberikan ASI, memperbaiki makanan pendamping ASI
(Amiruddin, 2007). Pemberian edukasi sangat penting, sebagai langkah
pencegahan. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan dan imunisasi melalui
vaksinasi sangat berarti, selain terapi farmakologi (Manjoer, 2001). Maka
pengobatan diare ini ditujukan untuk mengobati gejala yang ada dan mencegah
terjadinya dehidrasi atau kurang cairan. Diare akut dapat disembuhkan hanya
dengan meneruskan pemberian makanan seperti biasa dan minuman/ cairan yang
cukup saja, pemberian makanan atau nutrisi yang cukup selama diare dan
mengobati penyakit penyerta, minuman dan makanan jangan dihentikan lebih dari
24 jam, karena pulihnya mukosa usus tergantung dari nutrisi yang cukup. Untuk
anak yang masih menyusui sebaiknya ASI dan susu formula harus tetap
dilanjutkan pemberiannya secara signifikan untuk mengurangi lamanya dan
beratnya diare pada anak, oleh karena nucleotida adalah bahan yang sangat
diperlukan untuk replikasi sel termasuk sel epitel usus dan sel imunokompeten.
Pada anak yang lebih besar makanan yang direkomendasikan meliputi air tajin
(beras, kentang, pisang, gandum, cereal) dan makanan yang dihindari yaitu
makanan yang mengandung tinggi gula seperti minuman kaleng, sari buah apel
serta makanan tinggi lemak yang sulit ditoleransi karena menyebabkan lambatnya
pengosongan lambung ( Amirudin, 2007 ).
Diet merupakan prioritas utama dalam penanganan diare. Menghentikan
konsumsi makanan padat dan susu perlu dilakukan. Rehidrasi dan maintenance air
dan elektrolit merupakan terapi utama yang harus dilakukan hingga episode diare
berakhir. Jika pasien kehilangan banyak cairan, rehidrasi harus ditujukan untuk
menggantikan air dan elektrolit untuk komposisi tubuh normal. Sedangkan pada
pasien yang tidak mengalami deplesi volume, pemberian cairan bertujuan untuk
pemeliharaan cairan dan elektrolit ( Manjoer, 2001 ).

Pemberian cairan parenteral perlu dilakukan untuk memasok air dan


elektrolit jika pasien mengalami muntah dan dehidrasi berat, selain untuk
mencegah terjadinya hipernatremia. Dosisnya ; 1 sachet ORS dilarutkan dalam 1
liter air matang. Bayi dan anak anak dengan dehidrasi ; 10 ml/kg berat badan
setiap jam sampai gejala gejalanya lenyap (dalam waktu 6 3), sebaiknya dalam
botol susu atau diberikan sendok demi sendok. Untuk pemeliharaan ; 10 ml/kg BB
setelah setiap kali buang air. Dewasa 1,5 2 liter diminum sepanjang hari ( Myer,
2005 ).
6. TERAPI FARMAKOLOGI
Penggantian cairan dan elektrolit
Aspek paling penting dari terapidiare adalah untuk menjaga hidrasi
yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan
dengan rehidrasi oral, dimana harus dilakukan pada semua pasien kecuali yang
tidak dapat minum atau yang terkena diare hebat yang memerlukan hidrasi
intravena yang membahayakan jiwa. Idealnya cairan rehidrasi oral harus terdiri
dari 3.5 g natrium klorida dan 2.5 g natrium bikarbonat, 1.5 g kalium klorida, dan
20 g glukosa per liter air. Cairan seperti itu tersedia secara komersial dalam paket
paket yang mudah disiaplan dengan mencampurkan dengan air. Jika sediaan
secara komersial tidak ada, cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan
menambahkan sendok the garam, 12 sendeok the baking soda, dan 2-4 sendok
makan gula per liter air. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk
mengganti kalium. Pasien harus minum cairan tersebut sebanyak mungkin sejak
mereka haus pertama kalinya. Jika terapi intravena dieprlukan, cairan normotonik
seperti cairan saline normal atau laktat ringer harus diberikan dengan
suplementasi kalium sebagaimana panduan kimia darah. Status hidrasi harus
dimonitor dengan baik dengan memeprhatikan tanda-tanda vital, pernafasan, dan
run dan penyesuain infus jika diperlukan. Pemberian harus diubah ke cairan
rehidrasi oral sesegera mungkin. (Farthing, 2013)
Obat diare
Kelompok antisekresi selektif
Terobosan terbaru dalan millennium ini adalah mulai tersedianya
secara luas racecadotril yang bermafaat sekali sebagai penghambat enzim
enkephalinase sehingga encephalin dapat bekerja kembali secara normal.

Perbaikan fungs gizi akan menormalkan sekresi dari elektrolit sehingga


keseimbangan cairan dapat dikembalikan secara normal. Di Indonesia saat ini
tersedia di bawah nama hidrasec sebagai generasi pertama jenis obat baru anti
diare yang dapat pula digunakan lebih aman pada anak. (Farthing, 2013)
Kelompok opiate
Dalam kelompok ini tergolong kodein fosfat, loperamid Hcl serta
kombinasi difenoksilat dan atropine sulfat (lomotill). Penggunaan kodein adalah
15-60 mg 3x sehari, loperamid 2-4 mg/3-4x sehari dan lomotil 5 mg 3-4x sehari.
Efek kelompok obat tersebut meliputi penghambatan populasi, peingkatan absorbs
cairan sehingga dapat memeprvaiki konsistensi feses dan mengurangi frekuensi
diare. Bila diberikan dengan cara yang benar obat ini cukup aman dan dapat
mengurangi frekuensi defekasi sampai 80%. Bila diare akut dengan gejala demam
dan sindom disentri obat ini tidak dianjurkan (Farthing, 2013)
Probiotik
Kelompok probiotik terdiri dari lactobacillius dan Bifidobacteria
atau Saccharomyces boulardii, bila mengalami peningkatan jumlahnya di saluran
cerna akan memiliki efek positif karena berkompetisi untuk nutrisi dan reseptor
saluran cerna. Syarat penggunaan dan keberhasilan mengurangi/menghilangkan
diare harus diberikan dalam jumlah yang adekuat. (Farthing, 2013)
Adsorbent
Arang aktif, attapulgit, bismuth subsalisilat, pectin, kaolin, atau
smektit diberikan atas dasar argumentasi bahwa zat ini dapat menyerap bahan
infeksius atau toksin. Melalui efek etrsebut, sel mukosa usus terhindar kontak
langsung dengan zat-zat yang dapat merangsang sekresi elektrolit (Farthing, 2013)
Antibiotic
Pemberian antibiotic secara empiris jarang diindikasikan kepada
pasien diare akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3
hari tanpa pemberian antibiotic. Antibiotic diindikasikan pada pasien dnengan
gejala dan tanda diare infeksi, serpeti demam, feses berdarah,, leukosit pad a
feses, mengurngi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau
penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pelancong, dan pasien

immunocompromised. Pemberian antibiotic dapat secara empiris, tetapi terapi


antibiotic spesifik diberikan berdasarkan kultur dan resistensi kuman (Farrar,
2013)
Table 1. antibiotic empiris pada diare akut infeksi (Farrar, 2013)
Organisme
Campylobacter,
Salmonella spp

Shigella,

Antibiotic pilihan pertama


Antibiotic pilihan kedua
Ciprofloxacin 500 mg oral 2 Salmonella/Shigella
Ceftriaxone 1 gram IM/IV se
kali sehari, 3-5 hari
TMP-SMX DS oral 2

sehari, 3 hari
Campylobacter spp
Azithromycin 500 mg oral 2

sehari
Erythromycin 500 mg oral 2

Travelers diarrhea

sehari, 5 hari
Tetracycline 500 mg oral 4 Resisten tetracycline
Ciprofloxacin 1 gram oral 1
kali sehari, 3 hari
Doxycycline 300 mg oral, sehari
Erythromycin 250 mg oral 4
dosis tunggal
sehari, 3 hari
Ciprofloxacin 500 mg 2 kali TMP-SMZ DS oral 2 kali se

Clostridium difficile

sehari
3 hari
Metronidazole 250-500 mg Vancomycin 125 mg 4

Vibrio Cholera

4x sehari, 7-14 hari, oral sehari, 7-14 hari


atau IV

Swamedikasi diare
Swamedikasi dapat diartikan sebagai upaya seseorang untuk mengobati
drinya sendiri dengan tujuan adalah untuk mengontrol kehilangan air dan
elektrolit, meringankan gejala, mengindentifikasi dan menghilangkan penyebab
serta mencegah morbiditas dan mortalitas.
Pengobatan sendiri pada diare ini meliputi terapi non farmakologi dan

terapi farmakologi. Terapi non farmakologi di sini adalah pemberian Oral


RehydrationTherapy (ORT) atau oralit yang diimbangin dengan diet spesifik
untuk beberapa makanan tertentu, untuk kasus diare ringan sampai sedang, ORT
memiliki keefektifan sebanding dengan terapi larutan elektrolit intravena pada
pengatasan dehidrasi ringan sampai sedang, ORT mengandung konsentrasi rendah
glukosa atau dextrose (2 sampai 2.5 %) . pada terapi rehidrasi oral ini jika diare
dapat teratasi sebelum 48 jam maka terapi sudah bisa dihentikan, namun jika
setelah 48 jam diare belum juga teratasi maka perlu rujukan media. Pada terpai
farmakologi , obat yang direkomendasikan untuk mengatasi diare akut yaitu
Loperamid atau absorben. Obat pilihan lain yaitu bismuth subsalisilat, namum
pengobtan lebih disarankan pada loperamid dengan memberikan efek terapi yaitu
mereduksi volume fecal harian dan meningkatkan viskositas. Loperamid tidak
direkomendasikan untuk anak di bawah umur 6 tahun , karena efeknya pada ileus
dan toxic megacolon. Adsorben yang sering digunakan adalah attapulite, kaolin
dan pectim yaitu pada kasus diare nonspesifik ringan (Simadibarata, 2010).

LABORATORIUM PRO-SEHAT
Jl. Belakang RS 55 Malang Telp. (0341) 55673
Tgl. Pemeriksaan: 16/5/2016
Tgl. Keluar Hasil : 18/5/2016

7. KASUS PRAKTEK FARMAKOTERAPI


Ny. Wantri (43 tahun) datang ke

Nama Pasien: Anak Nana


Usia Anda
: 5 thn
(Perempuan)
apotek
untuk
menebus resep
Alamat
: Jl. Merdeka 2 Malang

Jam: 09.15
Jam: 10.10

berisi obat

diare untuk anaknya Nana (5 tahun) sebagai berikut. Ny. Wantri membawa hasil
HASIL PEMERIKSAAN KULTUR

lab pemeriksaan kultur dan bersedia menunjukkan kepada Anda. Pasien


Dokter penanggungjawab,
mengharapkan Anda selaku Apoteker dapat memberi banyak penjelasan
terkait

terapi dalam resep serta hasil lab nya.

dr. Arinda
SIP 1212/52/1990
Jl. Piranha10 Malang (0341-56742)
Malang, 19/5/2016
R/ Ciprofloxacin 100 mg dtd pulv No. X
S 2 dd 1

R/ Antrain 100 mg dtd pulv


S 3 dd 1 prn

No. X

R/ Lodia 1/4 tab


S 3 dd 2 prn

No. X

R/ Renalyte 200 mL No. I


Suc

Nama pasien : Anak Nana


Usia: 5 th
Hasil asesmen terhadap pasien:
Alamat: Jl. Merdeka No.2 Malang

Pasien demam
Keluhan: BAB 5-7 kali/hari dan tidak tuntas, BAB berlendir (+), BAB
berdarah (kadang-kadang), mual (+), muntah (+), pusing, lemas, nafsu

makan menurun (+)


Riwayat alergi obat: antalgin (+), ampisilin (+)
Riwayat pengobatan: Biodiar 1/4 tab 3x/hari pada Tgl. 15/5/2016
Riwayat penyakit: -

TUGAS YANG HARUS DISELESAIKAN OLEH MAHASISWA TERKAIT


KASUS DI ATAS:
1. Tuliskan Rekam Pasien di atas sebagai dokumen di apotek Anda!
2. Mahasiswa diminta bermain peran (role play) mulai dari menyapa pasien
datang, assessment pasien, penjelasan terkait data lab pasien, hingga KIE
terkait terapi pasien, jangan lupa menutup komunikasi dengan pasien!
(Role play sebagai pasien, apoteker, maupun dokter diperankan oleh
mahasiswa)

3. Mahasiswa dalam satu kelompok wajib mencari dan menjelaskan


Guideline Management Therapy Diarrhea untuk pasien dewasa dan anak
(mhs juga wajib menunjukkan sumber referensi guideline yg didapatnya)!
(Dalam 1 kelompok minimal berhasil mendapatkan 3 guideline dari
referensi yang berbeda dan tidak boleh sama dengan slide kuliah )
Identitas Pasien

Permasalahan

Anak Nana usia 5 tahun


Jalan Merdeka 2 Malang
Pasien demam, BAB 5-7 kali/hari dan tidak tuntas, BAB a
b
berlendir (+),BAB berdarah (kadang-kadang), mual (+),

muntah (+), pusing, lemas, nafsu makan menurun (+)


Riwayat alergi obat: antalgin (+), ampisilin (+)
Riwayat pengobatan: Biodiar 1/4 tab 3x/hari pada Tgl. c
d
15/5/2016
: Riwayat penyakit: e

BAB 5-7
Ketika

berlendir

inflamas
Mual, m
Nafsu m

mual, mu

asupan n
Riwayat
namun

kerja ya
diare.
Status (Diagnosa)
Penyakit
Pemantauan Klinis

:
:

Pemantauan Lab

Diare infeksi
Perlu dilakukan adanya monitoring vital sign, serta tingkat

dehidrasi yang mungkin terjadi pada anak


Telah dilakukan kultur faeces yang menunjukkan adanya Untuk men

bakteri Shigella pada spesimen tinja. Juga telah ditentukan perlu dilak
sensitifitas antibiotik dari bakteri tersebut

kultur feces

tinja, ditem
diare
:

infla

Trimetropim

ceftriaxone,

intermediet

Bakteri shi

metronidazo
Perencanaan Terapi

: Berdasarkan resep yang diberikan dokter:

a. Diberikan ciprofoxacin 100 mg dua kali sehari


untuk mengatasi bakteri penyebab diare.

a. Ciprof

lain k

ciprof
DNA
yang

digant
mg 2

yang m

Trime

Komb

bakter

dua ta

sangat

Cotrim

luas d

gramTiap

Trime
mg.)
b. Diberikan antrain 100 mg tiga kali sehari

b. Antrai
nama

menga

sebaik

digant

mengh

mengh

bekerj

perifer

memp
c. Diberikan lodia tab
c. Lodia

sedang

Shigel
yang
usus
Lodia

obat d
HCl

kronis

digant

inflam

abdom

adalah
15 ml

per ha
d. Diberikan renalyte

d. Renaly
secara

Renaly

mEq, G

mEq, g
Terapi non farmakologi:

Menjaga kebersihan

Mengkonsumsi makanan yang bernutrisi

Disarankan menghindari makanan yang dapat


menyebabkan iritasi saluran cerna, misalnya
makanan yang pedas atau asam dan juice dalam
kaleng karena bersifat hiperosmotik dan dapat
memicu diare.

Mengkonsumsi produk yang dapat membantu


mengurangi gejala diare misalnya nasi, pisang, dan
whole-what.

Menghindari konsumsi kafein saat terjadi diare.

Menambah

volume

intake

cairan

untuk

menghindari dehidrasi saat diare.

Monitoring terkait

Mengkonsumsi probiotik

a. Suhu tubuh pasien menurun (tidak demam)


b. Pasien tidak mual dan muntah

Efikasi
:

c. Frekuensi BAB pasien menurun


d. Pasien tidak mengalami BAB yang berlendir dan
berdarah.
a. Cotrimoksazol: ruam kulit, sakit kepala dan gangguan

Monitoring terkait

pencernaan misalnya mual, muntah dan diare

ESO

b. Paracetamol:

mual,

muntah,

pusing,

insomnia,

hepatotoksik
c. Renalyte
:

a. Died

kotr

terja

mer

b. Di e

d. Bismuth subsalisilat: mual, diare, nyeri abdomen,

hany

muntah, feces gelap, lidah gelap, pusing, flatulence

diko

men

c. Di e

rena

tubu

Resep yang diresepkan oleh dokter sebenarnya tidak sesuai dengan pasien. Seperti
penggunaan antibitotik ciprofloxacin. Pasien ini berumur 5 tahun, penggunaan
ciprofloxacin sebaiknya dihindari untuk anak yang masih dalam usia pertumbuhan
karena dapat menghambat pertumbuhan anak. Selain itu ciprofloxacin sendiri
tidak sesuai terapinya untuk diare infeksius yang disebabkan oleh bakteri Shigella,
sehingga pada kondisi ini antibiotik ciprofloxacin tidak digunakan. Untuk
mengganti antibiotik tersebut digunakan trimetropin-sulfametoxazole, antibiotik
ini sudah sesuai dengan guideline untuk diare infeksius.

Selanjutnya untuk penggunaan antipiretik juga disarankan untuk diganti, karena


dari riwayat pasien sendiri memiliki alergi terhadap antalgin, sedangkan resep
obat yang diberikan yaitu antrain 100 mg yang sifatnya seperti antalgin. Agar
tidak terjadi reaksi alergi yang tidak diinginkan maka diganti dengan
menggunakan paracetamol 100 mg di konsumsi 3 kali sehari jika demam saja.
Pada kasus diare infeksius memang dibutuhkan menggunakan anti motilitas,
seperti contohnya yang diresepkan seperti lodia. Tetapi pada kasus ini jika
digunakan lodia tidak sesuai indikasinya dengan pasien yang mengalami diare
infeksius yang disebabkan bakteri Shigella. Pada kasus ini pasien mengalami
diare infeksi akut yang penggunaan loperamid tidak boleh digunakan pada diare
infeksi akut. Dapat diganti dengan Memiliki efek anti sekretori, anti inflamasi,
dan anti bakteri. Mengurangi kram abdomen, mengontrol diare. Dosis yang
diberikan adalah 30 ml larutan bismuth subsalisilat 262mg/ 15 ml setiap 30 menit
1 jam PRN hingga 8 dosis per hari Penggunaan renalyte tetapi digunakan karena
untuk mencegah pasien berada dalam kondisi dehidrasi. Renalyte sendiri
digunakna sebagai penambah cairan, elektrolit sebagai rehidrasi tubuh pasien.
Renalyte 200 mL tetap diberikan yang digunakan secara bertahap untuk mengatasi
dehidrasi pasien. Renalyte mengandung Natrium 18 mEq, Kalium 4 mEq,
Glukosa 4 gram, Klorida 16 mEq, Sitrat 2 mEq, glukosa 4000 mg tiap 200 ml
larutan
Untuk KIE kepada pasien bisa ditambahkan zing , asam folat
Setelah diare berhenti dapat di sarankan untuk mengkonsumsi pisang, karena
kandungan zing banyak ada didalam pisang.
KIE mengenai dehidrasi terhadap anak, seperti ciri-ciri dehidrasi
Penggunaan renalyt, berapa kali dalam sehari. Diberikan dengan sendok secara
perlahan semampunya si anak. Agar mengcover dehidrasi
Dapat ditanyakan mengenai keluhan pasien mual muntah dapat menyebabkan
dehidrasi. Apakah bisa diberikan untuk mengatasi mual muntah tersebut

DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin R, dkk, 2007, Current Issue Kematian Anak ( Penyakit Diare ) , Makassar,
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar.
Arief Mansjoer, 2001, Kapita Selekta Kedokteran 1, Buku Kedokteran , Jakarta, EGC.
Farrar, J. 2013. Acute Diarrhea. Mansons Topical Disease. Elsevier.
Guandalini S. 2013. Diarrhea.
http://emedicine.medscape.com/article/928598.
diakses 4 Juni 2016.
Juffrie M, Mulyani NS, 2009, Modul Pelatihan Diare, Edisi Pertama, Jakarta,
UKK GastroHepatologi IDAI.
Myer, F. N. D., 2005, Including new recommendations for the use of ORS and zinc
supplementation for Clinic-Based Healthcare Workers, USA, Arlington.
Soewondo ES, 2002, Penatalaksanaan diare akut akibat infeksi (Infectious Diarrhoea). Dalam:
Suharto, Hadi U, Nasronudin, editor. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan
Terkini Dalam Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi. Surabaya, Airlangga
University Press.
Subagyo B, Santoso NB, 2010, Diare akut, Dalam: Buku Ajar
GastroenterologiHepatologi, Jakarta, IDAI
Thielman NM, Guerrant RL, Acute Infectious Diarrhea, N Engl J Med 2004;350:1: 38-47.
Wells BG, DiPiro JT, Schwinghammer TL, Hamilton CW. Pharmacotherapy