Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Hubungan kita dengan orang lain akan menentukan kualitas hidup kita bila orang lain
tidak memahami apa yang kita katakan. Itu artinya komunikasi yang kita lakukan gagal
dan tidak efektif.
Suatu saat anda berada di masjid atau rumah ibadah . Di mimbar ,berdiri
seorang yang mengkhotbahkan pentingnya memelihara kebersihan moral dan menjauhi
pembuat dosa.Yang berkhotbah memakai jeans yang sudah lusuh ,berambut gondrong
dan kusut,memakai kalung hitam yang memakai gantulan tengkorang kecil dan
memakai jaket dengan lukisan apel merah yang besar. Anda masih dapat melihat akar
bahar menghias lengannya yang kekar. Ia mengutip ayat ayat suci. Besar
kemungkinan,anda tidak akan mempercayai ocehannya. Anda akan menggangapnya
sebagai orang yang gila dan tersesat masuk rumah ibadat.
Ilustrasi diatas menunjukan bahwa ketika komunikator berkomunikasi ,yang
berpengaruh bukan saja apa yang ia katakan,tetapi juga penampilan dia sendiri. He
doesnt communicate what he says,he communicates what he is. Artinya ia tidak dapat
menyuruh pendengar hanya memperhatikan apa yang ia katakan.Pendengar juga akan
memperhatikan siapa yang mengatakan. Kadang kadang siapalebih penting dari apa.

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas adalah :


a. Bagaimana psikologi komunikator mempengaruhi keefektifan komunikasi ?
b. Apa saja kah faktor faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi ?

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
a. Mengetahui pengaruh komunikasi
b. Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi keefektifan komunikasi

D. MANFAAT
a. Sebagai pemahaman tugas psikologi komunikasi
b. Sebagai bahan pertimbangan nilai

BAB II
PEMBAHASAN

A. PSIKOLOGI KOMUNIKATOR
Didalam kegiatan komunikasi,ketika komunikator berkomunikasi yang berpengaruh
bukan hanya apa yang ia katakan,tetapi juga keadaan penampilan dia sendiri. He
doesnt communicate what he says,he communicates what he is. Ia tidak dapat
menyuruh pendengar hanya memperhatikan apa yang ia katakana .Pendengar juga akan
memperhatikan siapa yang mengatakan . Dalam psikologi komunikator unsur siapa
yang berbicara lebih penting dari apa yang dibicarakan .
Lebih dari 2000 tahun yang lalu ,Aristoleles menulis :
Persuasi

tercapai

karena

karakteristik

personal

pembicara,yang

ketika

ia

menyampaikan pembicaraannya kita menganggapnya dapat dipercaya. Kita lebih


penuh dan lebh cepat percaya pada orang orang baik daripada orang lain:ini berlaku
umumnya pada masalah apa saja dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada
kepastian dan pendapat terbagi.Tidak benar,angapan sementara penulis retorika bahwa
kebaikan personal yang diungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa apa pada
kekuatan persuasinya:sebaliknya ,karakternya hampir bias disebut sebagai alat
persuasi yang efektif yang dimilikinya.(Aristoteles,195:45)
Aristoteles menyebut karakter komunikator ini sebagai ethous. Ethous terdiri atas
pikiran baik, akhlak yang baik dan maksud yang baik (good sense,good moral
character,good will).
Hovland dan Weiss menyebutkan ethous ini kredibility yang terdiri atas dua unsur:
Expertise (keahlian ) dan trustworthiness (dapat di percaya ). Nasihat dokter kita
ikuti,karena dokter memiiki keahlian.Akan tetapi,omongan pedangang yang memuji

dagangannya agak sukar kita percayai karena kita meragukan kejujurannya.


Disini,pedagang tidak memiliki trustworthiness.
3

Kedua komonen ini telah disebut dengan istilah istilah lain oleh ahli komunikasi yang
berbeda. Untuk expertnees,McCroskey (1968) menyebutnya authoritativenees ;
Markham (1968) menamainya faktor reablelogical; Berlo,Lemert,dan MertZ (1966)
menggunakan qualification. Untuk trustworthinees ,peneliti lain menggunakan istilah
safety,,character,atau evaluative factor. Semua kita sebut saja kredibilitas sebagai
faktor yang mempengaruhi efektifitas sumber. Kita juga akan melihat dua unsur
lainya: atraksi komunikator (source attractiveness)

dan kekuasaan (source power).

Keseluruhan kredibilitas,atraksi dan kekuasaan kita sebut sebagai ethous


Dimensi dimensi ethos ,diatas telah diuraikan bahwa ethos atau faktor faktor yang
memengaruhi efektivitas komunikator terdiri atas kredibilitas,atraksi dan kekuasaan .
Ketiga dimensi ini berhubungan dengan jenis pengaruh social yang ditimbulkannya.
Menurut Herbert C.Kelman (1975) pengaruh komunikasi kita pada orang lain berupa
tiga hal yaitu :
a. Internalisasi
b. Identifikasi
c. Ketundukan

a. Internalisai .
Internalisasi terjadi bila orang menerima pengaruh karena perilaku yang dianjurkan itu
sesuai dengan system nilai yang dimilikinya.Kita menerima gagasan ,pikiran atau
anjuran orang lain karena hal tersebut berguna untuk memecahkan masalah ,penting
dalam menunjukan arah ,atau anjuran orang lain atas dasar rasional. Sebagai contoh

kita menghentikan rokok atas saran dokter ,karena kita ingin memelihara kesehatan kita
atau karena rokok tidak sesuai dengan nilai nilai yang kita anut . Dimensi ethos yang
paling relevan di sini kredibilitas ,keahlian komunikator atau kepercayaan kita terhadap
komunikator.
b. Identifikasi
Identifikasi terjadi bila individu mengambil perilaku yang berasal dari orang atau
kelompok

lain

karena

perilaku

tersebut

berkaitan

dengan

hubungan

yang

mendefinisikan diri secara memuaskan (satisfying selfdefining relationship) dengan


orang tau kelompok itu. Hubungan yang mendefinisikan diri artinya melepaskan konsep
diri .Dalam identifikasi,individu mendefinisikan perananya sesuai dengan peranan
orang lain He attempdt to be like or actually to be other person Ia berusaha seperti
atau benar benar menjadi orang lain .Dengan mengatakan apa yang ia katakan
,melakukan apa yang ia lakukan,mempercayai apa yang ia percayai,individu
mendefinisikan dirinya sesuai dengan orang yang memengaruhinya. Indentifikasi terjadi
ketika anak berperilaku mencontoh ayahnya,murid meniru gurunya,atau pengemar
bertingkah dan berpakaian seperti bintang yang dikaguminya. Dimensi ethos yang
paling relevan dengan identifikasi ialah atraksi (attractivenees) daya Tarik komunikator.

c. Ketundukan
Ketundukan (compliance) terjadi bila individu menerima pengaruh diri orang atau
kelompok lain karena ia berharap memperoleh reaksi yang menyenangkan diri orang atau
kelompok tersebut. Ia ingin menerima ganjaran atau menghindari hukuman dari pihak
yang mempengaruhinya. Dalam ketundukannya ,orang menerima perilaku yang dianjurkan

bukan karena mempercayainya ,tetapi karena perilaku tersebut membantunya untuk


menghasilkan efek social yang memuaskan .
B. Faktor faktor pengaruh keefektivan komunikasi
a. Kredibilitas
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikate tentang sifat sifat komunikator.
Dalam definisi ini terkandung dua hal : (1)kedibilitas adalah persepsi komunikate;jadi
tidak inheren dalam diri komunikator;(2) kredibilitas berkenaan dengan sifat sifat
komunikator,yang selanjutnya akan kita sebut sebagai komponen komponen
kredibilitas.
Karena kredibilitas itu masalah persepsi,kredibilitas berubah bergantung pada pelaku
persepsi (komunikate),topic yang dibahas dan situasi. Anda mungkin memiliki
kredibilitas di hadapan teman teman anda,tetapi tidak berarti apa apa didepan senat guru
besar universitas anda.Profesor botak akan didengar baik baik oleh mahasiswanya
,tetapi akan dimakan habis oleh buaya di sungai.Sekali lagi, kredibilitas tidak ada pada
diri komunikator tetapi terletak pada persepsi komunikate .
Oleh karena itu, ia dapat berubah atau diubah dapat terjadi atau dijadikan . Kita dapat
menhadirkan the man on the street diruangan kuliah dan mengumumkannya pada
mahasiswa bahwa orang itu adalah doctor dalam sosiologi. Di sini, kita membentuk
persepsi orang lain dengan deskripsi verbal. Tentu saja kita dapat juga menurunkan
kredibilitas komunikator dengan memberinya pakaian pakaian yang lusuh atau
menyuruhnya berprilaku yang menyebalkan . Disini kita memanipulasi persepsi orang
lain dengan pertujuk nonverbal.
Hal hal yang mempengaruhi pesepsi komunikate tentang komunikator sebelum ia
melakukan komunikasinya disebut prior ethos (Andersen,1972:82). Sumber komunikasi

memeroleh prior ethos karena sebagai hal . Kita membentuk gambaran tentang diri
komunikator dari pengalaman langsung dengan komunikator itu atau dari pengalaman
wakilan (vicarious experiences); misalnya , karena sudah lama bergaul dengan dia dan
sudah mengenal intergritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat atau
mendengarnya dalam media massa . Boleh jadi kita membentuk prior ethos
komunikator dengan menghubungkannya pada kelompok rujukan orang itu; kita
meletakannya dalam kategori pada skema kognitif kita. Anda akan mendengarkan
penceramah yang diperkenalkan sebagai Kiai Haji Doktor,karena gelar gelar itu
melahirkan persepsi tentang kelompok yan mendalami ilmu agamanya. Mungkin juga
prior ethos terbentuk karena sponsoratau pihak pihak yang mendukung komunikator.
Bila organisasi yang berstatus tinggi memperkenalkan anda kepada orang banyak ,bila
ahli yang terkenal membawa anda pada suatu pertemuaan,anda memiliki prior ethos
karena sponsor (by sponsor and endorsement). Boleh jadi prior ethos juga timbul
seperti dikatakan di atas oleh petunjuk petunjuk nonverbal yang ada pada diri
komunikator.
Kebanyakan penelitian kredibilitas berkenaan dengan prior ethos. Penelitian Hovland
dan Weiss di atas membuat kredibilitas dengan deskripsi verbal. Kelmandan Hovland
(1974:138-149) memutar kaset di depan subjek ekserimen. Pada satu kelompok
dikatakan bahwa pembicaraan adalah hakim yang banyak menulis masalah kenakalan
remaja (kredibilitas tingi); dan pada kelompok lain dilukiskan pembicaran sebagai
pengedar narkotika (kredibilitas rendah ) Keduanya berbicara tentang perlunya
perlakuan yang lebih ringan terhadap remaja remaja nakal . Segera setelah
komunikasi ,sikap subjek diukur.Hasilnya menunjukan bahwa subjek cenderung lehih
setuju padakomunikator yang berkredibilitas tinggi. Penelitian seperti ini telah banyak
dilakukan ( misalnya ,McCroskey,1970;Hovland et al.;1953;Milis dan Haevey, 1972)

dan membuktikan bahwa prior ethos mempengaruhi perubahansikap komunikate ke


arah yang dikehendaki komunikator.
Selain pelaku persepsi dan topik yang dibahas, faktor situasi juga mempengaruhi
kredibilitas . Pembicara pada media massa memiliki kredibilitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pertemuan RT. Begitu pula ,ceramah di hadapan Civitas Academi
sebuah perguruan tinggi yang berstatus tinggi akan meningkatkan kredibilitas
peceramah.
Kita sudah membicarakan kredibiitas sebagai persepsi. Lalu,apa saja kah komponen
komponen kredibilitas ? Dua komponen kredibilitas yang paling penting adalah :
1. Keahlian ,adalah kesan yang dibentuk komunikate tentang kemampuan
komunikator dalam hubungannya dengan topik yang dibicarakan .
2. Kepercayaan ,adalah kesan komunikate tentang komunikator yang berkaitan
dengan wataknya. apakah komunikator dinilai jujur ,tulus,bermoral,adil,sopan
dan etis ? atau apakah ia dinilai tidak jujur ,lancing, suka menipu, tidak adil ,dan
tidak etis ? Aristoteles menyebutnya dengan good moral character.Quaintilianus
menulis,A good man speaks well;orang baik berbicara baik.
Koehler,Annatol,dan Applbaum (1978;144-147) menambahkan empat komponen lagi
yaitu :
1.
2.
3.
4.

Dinamisme
Sosiabilitas
Koorientasi
Kharisma

1. Dinamisme

umumnya

komunikasi,dinamisme
.Komunikator

berkenaan

dengan

memperkokoh

memiliki

dinamisme

cara

kesan
apabila

berkomunikasi.

keahlian
ia

dan

Dalam

kepercayaan

dipandang

sebagai

bergairah,bersemangat ,aktif,tegas,dan berani . Sebaliknya komunikator yang


tidak dinamis dianggap pasif,ragu ragu, lesu dan lemah.
2. Sosiabilitas adalah kesan komunikate tentang komunikator sebagai seorang yang
periang dan senang bergaul.
3. Koorientasi merupakan kesan komunikate tentang komunikator sebagai seorang
yang mewakili kelompok yang kita senangi yang mewakili nilai nilai kita.
4. Karisma digunakan untuk menujukan suatu sifat luar biasa yang dimiliki
komunikator yang menarik dan mengendalikan komunikate seperti magnet
menarik benda benda yang ada disekitarnya. Tokoh tokoh yang baik dan yang
jelek menarik karisma ,bila ia memiliki pesona yang gaib terhadap pengikut
pengikutnya,

pesona

yang

tidak

dapat

dijelaskan

secara

ilmiah.

Kennedy,Gandhi,Ayatullah Khomeini, dan mungkin juga Soekarno diangap


sebagai tokoh yang memiliki karisma.

a. Atraksi
Atraksi ( attractiveness) adalah daya tarik komunikator yang bersumber dari fisik. Kita
cenderung menyenangi orang orang yang tampan atau cantik , yang banyak
kesamaannya dengan kita ,memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kita. Sepintas
kita juga sudah menyebutkan penelitian yang membuktikan bahwa orang cantik lebih
besar kemungkinan untuk menjadi komunikator yang efektif. Pada bagian ini ,kita akan
mengulang pengaruh faktor atraksi fisik dan kesamaan dalam hubungannya dengan
efektifitas komunikasi ,yakni mengubah sikap atau perilaku.
Atraksi fisik menyebabkan komunikator menarik ,dankarena menarik ia memiliki daya
persuasive. Namun, kita

juga tertarik kepada seseorang karena adanya beberapa

kesamaan antara dia dengan kita

10

Everett M. Rogers dan Rekha Agarwala-Rogers dalam bukunya Communication in


Organization menamakan homophily dan heterophily untuk kesamaan dan
ketidaksamaan dalam frame of reference dan field of experience antara komunikator
dan komunikate itu.
Rogers membuktikan pengaruh faktor kesamaan ini dari penelitian penelitian sosiologis.
Serangkaian studi psikologi yang dilakukan Stotland dan kawan kawanya (stotland dan
Dunn,1962;Stotland,Zander,

dan

Natsoulas,

1961)

memperkuat

teori

Rogers.

Merekamembuktikan bahwa orang mudah berempati dan merasakan perasaan orang lain
yang dipandangnya sama dengan mereka. Stotland,bersama Patchan (1961) juga
menunjukan bahwa kesamaan antara komunikator dan komunikate memudahkan
terjadinya perubahan pendapat.

Karena itulah,komunikator yang lain mempengaruhi orang lain sebaiknya memulai


dengan menegaskan kesamaan antara dirinya dengan komunikate . Kenneth Burke, ahli
retorika,menyebutkan upaya seperti ini sebagai strategy of identification. Herbert W.
Simons (1976)menamainya sebagai establishing common grounds. Kita dapat
mempersamaakan diri kita dengan komunikate dengan menegaskan persamaan
kepercayaan ,sikap, maksud , dan nilai nilai sehubungan dengan suatu persoalan .
Simons menerangkan mengapa komunikator yang dipersepsi memiliki kesamaan
dengan komunikate cenderung berkomunikasi lebih efektif.
1. Persamaan mempermudah proses penyadibalikan (decoding), yakni proses
menerjemahkan lambang lambang yang diterima menjadi gagasan gagasan.

11

2. Kesamaan membantu membangun premis yang sama . premis yang sama


mempermudah proses deduktif. Ini berarti bila kesamaan disposisional relevan
dengan topik persuasi, orang akan terpengaruh oleh komunikator.
3. Kesamaan menyebabkan komunikate tertarik pada komunikator . seperti sudah
berulang ulang kita sebutkan ,kita cenderung menyukai orang orang yang
memiliki kesamaan disposisional dengan kita. Karena tertarik pada komunikator,
kita akan cenderung menerima gagasan gagasannya.
4. Kesamaan menumbuhkan rasa hormat dan percaya pada komunikator

b. kekuasaan
Dalam kerangka teori Kelman , kekuasaan adalah kemampuan menimbulkan
ketundukan. sepertikredibilitas dan atraksi, ketundukan timbul dari interaksi antara
komunikatr dan komunikate. Kekuasaan menyebabkan seorang komunikator dapat
memaksakan kehendak nya kepada orang lain , karean ia memiliki sumber daya yang
sangatpenting (critical resources). Berdasarkan sumber daya yang dimilikinya ,French
dan Ravebn menyebutkan jenis jenis kekuasaan .
Klasifikasi ini kemudian dimodifikasikan Raven (1974) dan menghasilkan lima jenis
kekuasaan :

12

1. Kekuasaan

koersif

(coersive

power).

Kekuasaan

koersif

menunjukan

kemampuan komunikator untuk mendatangkan ganjaran atau memberikan


hukuman pada komunikate . ganjaran dan hukuman itu dapat bersifat personal
( misalnya benci dan kasih saying) atau impersonal ( kenaikan pangkat atau
pemecatan )
2. Kekuasan Keahlian (expert power) kekuasan ini berasal dari pengetahuan ,
pengalaman , keterampilan ,atau kemampuan yang dimiliki komunikator . dosen
memiliki kekuasaan keahlian , sehinga ia dapat menyuruh mahasiswanya
menafsirkan suatu teori sesuai dengan pendapatnya.
3. Kekuasaan informasional ( imformational power) kekuasaan ini berasal dari isi
komunikasi tertentu atau pengetahuan baru yang dimiliki oleh komunikator.
4. Kekuasaan Rujukan (referent power) disini komunikate menjadikan
komunikator sebagai kerangka rujukan untuk menilai dirinya. Komunikator
dikatakan memiliki kekuasaan rujukan bial ia berhasil menanamkan kekaguman
pada komunikate, sehingga seluruh perilakunya diteladani . Seorang Nabi
dengan perilakunya yang menajubkan dapat menyebabkan pengikut pengikutnya
meniru tingkah lakunya.
5. Kekuasaan Legal ( legitimate power) kekuasaan ini berasal dari seperangkat
peraturan atau norma yang menyebabkan komunikator berwewenang untuk
melakukan suatu tindakan . Rektor di Universitas ,kepala seksi di kantor,
komandan kompi di kalangan tentara, atau kiai dipeasantren memiliki kekuasaan
legal.
Penelitian psikologitentang penggunaan kekuasaan menunjukan bahwa orang
memilih jenis kekuasaan yan memilikinya tidak secara rasional. Orang menggunakan
kekuasaan koersif sering hanya karena ingin memenuhi kepuasaan diri atau harga diri.
Berikut ini disampaikan berbagai hasil penelitian yang berkenaan dengan penggunaan
kekuasaan dalam memengaruhi perilaku orang lain

13

1. Komunikate akan lebih baik diyakinkan untuk melakukan perilaku yang


tidak disukai dengan dijanjikan ganjaran daripada diancam dengan
boomerang alih alih tunduk malah melawan.
2. Efetivitas ancaman dapat ditingkatkan bila komunikator memberikan
alternative perilaku ketundukan,sehingga komunikate masih dapat meakukan
pilihan walaupun terbatas (Heilman dan garner,1975)
3. Kekuasaan informasional seringkali digunakan

bila

komunikator

memandang prestasi komunikate yang kurang baik disebabkan oleh


kurangnya motivasi (Kipnis ,1974)
4. Bila atasan melihat bahwa prestasi jelek bawahannya disebabkan
kekurangmampuanya

,ia

akan

menggunakan

kekuasaan

keahlian

(Kipnis,1974)
5. Kekuasaan koersif umumnya digunakan bila pemimpin ( komunikator)
mengangap komunikate tidak melakukan anjuran dengan baik karena ia
bersikap negative atau mempunyai kecenderungan melawan pemimpin
(Goodstadt dan Hjelle,1974)
6. Kekuasaan koersif juga sering digunakan oleh komunikator yang kurang
percaya pada diri sendiri , yang merasa tidak berdaya (goodstad dan hjlle ,
1973), atau oleh orang orang yang merasa tertekan ,tertindas, dan teraniaya (
Raven ,1974)
Akan tetapi ,ada pun jenis kekuasaan yang dipergunakan ,ketundukan adalah pengaruh
yang paling lemah dibandingkan dengan identifikasi dan internalisasi. Dengan
begitu,kekuasaan sepatutnya digunakan setelah kredibilitas dan atraksi komunikator.
Lagipula, komunikasi mungkin masih belum efektif, bila komunikator tidak
memperhatikan pesan yang disampaikannya

14

C. KOMUNIKATOR YANG BAIK


Jika individu akan menyampaikan suatu pesan ,informasi ataupun gagasan kepada
individuyang lain secara baik ,maka diperlukan niatan dan motivasi yang baik pula .
Adapun persyaratan yang harus dipenuhi antara lain
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Adanya kesiapan
Kesungguhan
Ketulusan
Kepercyaan diri
Ketenangan
Keramahan
Kesederhanaan

Phatos
Pathos diartikan sebagai imbauan emosional yang ditunjukan oleh seorang
rhetor dengan menampilkan gaya dan bahasanya yang membangkitkan kegairahan
dengan semangat yang berkobar kobar pada khalayak. Sejatinya pathos ini perlu
dimiliki oleh seorang ahli pidato yang tercermin dari gaya serta bahasanya yang mampu
membangkitkan khalayak untuk tujuan tujuan tertentu.

15

Indonesia memiliki Ir. Soekarno yang memiliki pesona dalam berbicara didepan
umum (publik) . Semangat pergerakan untuk mengusir penjajah pada waktu itu,bukan
semata mata ditentukan oleh ujung senjata,melainkan pula terletak diujung lidah.
Retrotika yang baik akan sanggup membius khalayak untuk bersatu mengusir
penjajah .
Logos
Diartikan sebagai himbauan logis yang ditunjukan oleh seorang orator bahwa
uraiannya masuk akal,sehingga patut diikuti dan dilaksanakan khalayak. Sama hal nya
dengan phatos logos pun perlu dimiliki oleh seorang orator atau rethor. Khayak akan
mau dan bersuka rela menggikuti anjuran atau ajakan komunikator aapabila pesan nya
disampaikan dengan argumentasi yang kuat. Tidak semua orang memiliki logos,dalam
setiap prkataan yang disampaikannya. Mungkin ada orang yang cenderung memiliki
phatos daripada logos atau sebalikinya . ada satu mitos yang mungkin anda percaya atau
tidak selain kematian ,hal lain yang menakutkan adalah berbicara didepan umum.
Namun bagi komunikator ulung yang melengkapi dirinya dengan ethos,phatos,dan
logos hal itu tidak berlaku.

16

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia atau
ilmu yang mempelajari gejala gejala jiwa manusia , sedangkan komunikator adalah
orang yang menyampaikan pesan kepada komunikan melalui media yang menimbulkan
efek.
Jadi psikologi komunikator adalah menciptakan kemampuan sesorang dalam
menyampaikan informasi dan meningkatkan kemampuan untuk keefektivitasan
komunikasi yaitu mengubah sikap dan prilaku komunikate dalam kegiatan komunikasi.

17

DAFTAR 17
PUSTAKA
Rakhmat,jalaludin,(2005) Psikologi Komunikasi,Bandung:PT.Remaja
Rosdakarya