Anda di halaman 1dari 60

MANAJEMEN RESIKO

oleh
H.A

: Mazhar

SUSUNAN ORGANISASI PMKP


DIREKTUR

KETUA TIM
PMKP

SEKRETARIS

PENANGGUNG JAWAB
MUTU

PENANGGUNG JAWAB
MANAJEMEN RESIKO

PENANGGUNG JAWAB
KESELAMATAN PASIEN

RISK MANAGEMENT PROCESS OVERVIEW

IDENTIFIKASI RISIKO

ANALISA RISIKO

EVALUASI RISIKO

MONITOR DAN REVIEW

ASESMEN RISIKO

KOMUNIKASI DAN KONSULTASI

TEGAKKAN KONTEKS

KELOLA RISIKO
Komisi Akreditasi Rumah Sakit 4 des 2014

RISK REGISTER
3

Analisis Matriks Grading Risiko

Tujuan : untuk menentukan derajat risiko suatu


insiden berdasarkan dampak dan probabilitasnya.
a. Dampak
Penilaian dampak adalah seberapa berat akibat
yang dialami pasien mulai tidak ada cedera
sampai meninggal.
b. Probabilitas / Frekuensi / Likelihood
Penilaian tingkat probabilitas / frekuensi risiko
adalah seberapa seringnya insiden tersebut terjadi

Penilaian Dampak Klinis/Konsekuensi/Severity


Tingkat
Risiko

Deskripsi

Dampak

Tidak
signifikan

Tidak ada cedera

Minor

Cedera ringan, misal : luka robek


Dapat diatasi dengan pertolongan pertama

Moderat

Mayor

Katastropik

Cedera sedang, misal luka robek


Berkurangnya fungsi motorik/sensorik/psikologis
atau intelektual (reversibel), tidak berhubungan
dengan penyakit
Setiap kasus yang memperpanjang perawatan
Cedera luas / berat, misal cacat, lumpuh
Kehilangan fungsi motorik / sensorik atau
psikologis atau intelektual (irreversibel) tidak
berhubungan dengan penyakit
Kematian yang tidak berhubungan dengan penyakit

Penilaian Probabilitas/Frekuensi
Tingkat
Risiko

DESKRIPSI

Sangat jarang / Rare (>5tahun / kali)

Jarang / Unlikely (> 2-5tahun/kali)

Mungkin / Possible (1-2 tahun/kali)

Sering / Likely (Beberapa kali / tahun)

Sangat sering / Almost certain (Tiap minggu / Bulan )

SKOR RISIKO = DAMPAK X


PROBABILITY

Tindakan sesuai Tingkat dan Bands Risiko


Probabilitas

Tidak
significant
1

Minor
2

Moderat
3

Mayor
4

Katastrop
ik
5

Sangat sering terjadi (tiap


Modera
Ekstri
minggu/bulan)
Moderat
Tinggi
Ekstrim
t
m
5
Sering terjadi (beberapa kali/
Modera
Ekstri
th)
Moderat
Tinggi
Ekstrim
t
m
4
Mungkin terjadi ( 1- <2
Modera
Ekstri
x/tahun)
Rendah
Tinggi
Ekstrim
t
m
3
Jarang terjadi (>2-<5kali/tahun
Rendah
Rendah
Tinggi
Ekstrim
Level / bands
TindakanModerat
2
Ekstrim
(sangat
Risiko ekstrim, dilakukan RCA paling lama 45 hari,
Sangat
jarang terjadi
tinggi) (>5x/tahun) membutuhkanRendah
tindakan segera,
perhatian
sampaiTinggi
ke direktur
Rendah
Moderat
Ekstrim
High (tinggi)
Risiko tinggi, dilakukan RCA paling lama 45 hari, kaji dengan
1
Moderate (sedang)
Low (rendah)

detil dan perlu tindakan segera serta membutuhkan perhatian


top manajemen
Risiko sedang, dilakukan investigasi sederhana paling lama 2
minggu. Manajer / pimpinan klinis sebaiknya menilai dampak
terhadap biaya dan kelola risiko
Risiko rendah. Dilakukan investigasi sederhana paling lama 1

Dampak Risiko RS
Aspek
(Nilai)
Keuangan
Keselamat
an &
Kesehatan

Sangat ringan
(1)
Sd Rp 10 Juta

Ringan
(2)
>Rp 10 Juta sd
Rp 50 Juta
Cidera tidak
Menyebabkan
serius/minor
cidera/penyakit
misalnya: lecet,
yang
luka kecil, hanya memerlukan
perlu penanganan perawatan medis
P3K.
lebih dari 7 hari
dan dapat
disembuhkan

Operasiona Pelayanan tidak


l
terhambat

Keluhan
pelanggan

Pelayanan
terhambat
kurang dari 30
menit

Sedang
(3 )
>Rp 50 Juta sd Rp
100 Juta
Menyebabkan cidera
serius seperti cacat
atau kehilangan
anggota tubuh
permanen,
menyebabkan
penyakit yang
memerlukan
perawatan medis
lebih dari 7 hari dan
dapat disembuhkan

Berat
( 4)
>Rp 100 Juta sd Rp 1
milyar
Menyebabkan satu
kematian, memperberat
atau menambah
penyakit pada pasien
atau karyawan,
menyebabkan penyakit
yang bersifat kronis atau
permanen (HIV,
Hepatitis, Keganasan,
Tuli, gangguan fungsi
organ menetap)

Sangat berat
(5)
>Rp 1 Milyar
Beberapa kematian
dan menyebabkan
penyakit yang bersifat
komunitas/endemik
pada karyawan atau
pasien

Pelayanan
Sebagian proses berhenti Berhenti total
terhambat lebih dari dan pelayanan
30 menit
terhambat hingga lebih
dari 1 hari

Adanya keluhan
Adanya keluhan Adanya keluhan
Adanya keluhan tertulis
yang disampaikan tertulis sebanyak tertulis dan tuntutan dan tuntutan pasien Rp
secara lisan
> 5 kasus dalam pasien < RP 10 juta 10 juta sd Rp 50 juta
sebulan

Adanya keluhan
tertulis dan tuntutan
pasien > Rp 1 Milyar

Kriteria Skor Risiko RS

Skor
Kriteria
20 25 Sangat tinggi
14 16 Tinggi

10 13 Menengah

59

Rendah

1-3

Rendah

Keterangan
Hentikan kegiatan dan perlu perhatian
manajemen puncak.
Perlu mendapat perhatian dari manjemen
puncak dan tindakan perbaikan segera di
lakukan.
Lakukan perbaikan secepatnya dan tidak
diperlukan keterlibatan pihak manajemen
puncak.
Tindakan perbaikan dapat dijadwalkan
kemudian
dan
penanganan
cukup
dilakukan dengan prosedur yang ada
Risiko dapat diterima

ASESMEN RESIKO
Dampak
No

Identifikasi Resiko

Probabilitas

Skor
Resiko

Band Resiko
L

Ranking
Resiko

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Pely. Darah Lambat


AC Mati
Klaim BPJS Tidak Dibayar
Brankar Rusak
Tumpahan B3
Pasien Jatuh
Salah Site-Marking
Salah Obat
Salah Tranfusi
Genset Rusak
Air Macet

v
v
v
v
v

v
v

v
v

v
v

v
v

v
v

v
v

9
8
8
6
6
4
4
4
4
4
4

v
v

v
v

v
v
v
v

v
v

9
8
8
6
6
4
4
4
4
4
4

12

Atribut Keselamatan Pasien


Tidak dipasang

v
v

4
4

4
4

13 Salah Diagnosa
14 Plebitis
Pengelolahan Sampah Tidak
Tepat
16 SDM Kurang
15

Dampak
No
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35

Identifikasi Resiko

Rekam Medik Hilang


Rekam Medik Tidak Lengkap
Bahan Kebersihan Kurang
Obat Tidak Disuntikkan
Kalibrasi Terlambat
Salah Suntik
Bayi Tertukar
Bayi Diculik
Alergi Obat
SPO tidak dilaksanakan
Salah Dosis
Salah Pemberian Obat
Pasien Tanpa Gelang
Kejut Listrik
Paparan Radiasi
Plafon Ambruk
Kasus Hukum
Labelisasi
Kedisiplinan Pegawai Kurang
Screening Resep Tidak
36
DIlakukan
Distribusi One-Day Dose
37
Terlambat

Probabilitas

Skor
Resiko

v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v

Band Resiko
L

Ranking
Resiko

4
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2

v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v

v
v
v
v
v
v
v

4
4
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2

FMEA

Siklus dan
Prosedur FMEA

Actions + check

Risk priority number


RPN

Step 4 : Detection
number

Step 1 : detect a failure


mode

Failure Mode & effect


analysis

Step 3 : Probability
number

Step 2 : severity number

JUDUL PROSES :

PELAYANAN DARAH DI
RSUD dr. H. SLAMET MARTODIRDJO
KABUPATEN PAMEKASAN

TIM FMEA
Ketua : dr. Mazhar
Anggota : 1. Helda Yusita
2. Hidayat, AMK, SH
3. R. Achmad
Koerniawan,M.MKes
4. Ika Widya W.
5. Samsul Hidayat Yunus
6. Abdussyukur

Alur Proses
Pemeriksaa
n Pasien
oleh
Dokter

Pemesana
n Darah

Keluarga
ke bank
darah

Pemeriksaa
n di bank
darah

Penyerah
an Darah

Failure Mode
1. Formulir permitaan
ttdak ada
2. Pemeriksaaan
dokter tdk tepat
waktu
3. Identitas px tdk
jelas
4. Hasil lab tdk akurat
5. Komunikasi
petugas kurang
6. Permintaan darah
tdk ditulis

1.Formulir tdk ada


2. Formulir tertukar
3. identitas tdk jelas
4. Keluarga tdk
mempunyai biaya

1. Keluarga
tidak ada
2. Keluarga tdk
tanggap

1.Cross match salah


2. Listrik padam
3. Genset tdk berfungsi
4. SDM kurang
5. Lokasi terlalu jauh
6. Stok darah kurang

1.Darah tertukar
2. Darah rusak

N
O

PROSES

1Pemeriksaan
Pasien oleh
Dokter

POTENSIA
POTENSIAL
L FAILURE S
CAUSE
EFFECT
FAILURE MODE
Formulir
keluarga
1 Formulir
permintaan komplain
permintaan
tidak ada

habis

penyimpanan

yang tidak benar


permintaan
darah terhambat
pemeriksaan penyakit
1 beban kerja
dokter tidak tambah
tinggi
tepat waktu parah
dokter sibuk
komitmen
kurang
perawatan
1 beban kerja
lama
tinggi
dokter sibuk
komitmen
kurang
FAILURE
MODE

RPn

4
4

1
1

4
4

4
4

1
1

4
4

FAILUR POTENSIAL
E
FAILURE
MODE
EFFECT
Pemeriksa Identita salah
an Pasien s pasien pemeriksaan
oleh
tidak
Dokter
jelas
Sampel

N
PROSES
O

POTENSIAL CAUSE
FAILURE MODE

RPn

2 SPO tidak dilaksanakan


petugas tidak kompeten
beban kerja tinggi
2 SPO tidak dilaksanakan
Darah salah petugas tidak kompeten
beban kerja tinggi
hasil lab perawatan
1 mesin error
tidak
lama
mesin Tidak terkalibrasi
akurat
SPO tidak dilaksanakan
sample tertukar
kesalahan
2 mesin error
diagnose
mesin Tidak tercalibrasi
SPO tidak dilaksanakan

4
2
4
4
2
4
2
2
4
1
2
2
4

2
1
2
2
1
2
1
1
2
1
1
1
2

16
4
16
16
4
16
2
2
8
4
4
4
16

N
FAILURE
PROSES
O
MODE

Pemeriks hasil lab


aan
tidak
Pasien
akurat
oleh
Dokter

POTENSIAL
POTENSIAL CAUSE
FAILURE
S
FAILURE MODE
EFFECT
kesalahan
2 sample tertukar
diagnosa
permintaan
1 mesin error
darah tidak
mesin Tidak tercalibrasi
sesuai
SPO tidak dilaksanakan
kebutuhan
sample tertukar

komunika pelayanan
si petugas Terhambat
kurang

RPn

2
2

1
1

2
2

1 beban kerja tinggi

kendala bahasa

komitmen kurang

12

keluarga/pasie 1 informed concent tidak


n tidak paham
dilaksanakan
tentang
kendala bahasa
penyakitnya

POTENSIAL
FAILURE
EFFECT
Pemeriksaa komunika keluarga/pasien
n Pasien
si petugas tidak paham
oleh Dokter kurang
tentang
penyakitnya
permintaa pelayanan
n darah Terhambat
tidak
ditulis

N
PROSES
O

FAILURE
MODE

rekam medis
tidak lengkap

petugas ragu

POTENSIAL
S CAUSE FAILURE
MODE
1 komitmen kurang

RPn

20

1 beban kerja tinggi

komitmen kurang

20

SPO tidak
dilaksanakan
1 beban kerja tinggi
komitmen kurang

4
4

2
5

8
20

SPO tidak
dilaksanakan
1 SPO tidak
dilaksanakan

N
O

POTENSIA
FAILURE
POTENSIAL CAUSE FAILURE
PROSES
L FAILURE S
O D RPn
MODE
MODE
EFFECT
PEMESANAN Formulir keluarga
1 formulir permintaan habis
3 1
3
DARAH
tidak ada komplain
penyimpanan yang tidak benar
4 1
4
permintaan darah terhambat
4 1
4
Formulir
tertukar

pelayanan
Terhambat

1 beban kerja tinggi


komitmen kurang
SPO tidak dilaksanakan
1 SPO tidak dilaksanakan

keluarga
komplain
Identitas salah
1 SPO tidak dilaksanakan
tidak
pemeriksaa
petugas tidak kompeten
jelas
n
beban kerja tinggi
pelayanan
di bank
darah
Terhambat

SPO tidak dilaksanakan


1
petugas tidak kompeten
beban kerja tinggi

4
4
4
4

2
5
2
2

8
20
8
8

4
3
4

2
1
2

8
3
8

4
3
4

2
1
2

8
3
8

N
O

POTENSIAL
PROSES FAILURE MODE FAILURE
EFFECT
PEMESANA keluarga tidak
N DARAH
mempunyai
biaya

POTENSIAL
CAUSE
FAILURE
MODE

darah tidak
tersedia

2 tidak ada
penjamin

pelayanan
terhambat

2 tidak ada
penjamin

pasien tidak
mampu

pasien tidak
mampu

RPn

N
O

PROSES
Keluarga ke
bank darah

FAILURE
MODE
keluarga
tidak ada

POTENSIAL
FAILURE
EFFECT
pelayanan
Terhambat

keluarga
pelayanan
tidak tanggap Terhambat

S
2

4
4

POTENSIAL
CAUSE FAILURE
MODE
penunggu tidak
ada
ruang tunggu
jauh
tidak ada
pengeras suara
kendala bahasa
kartu asuransi
pinjam
penunggu tidak
ada
ruang tunggu
jauh
tidak ada
pengeras suara
kendala bahasa
kartu asuransi

D RPn

1
4

1
2

2
16

1
4

1
2

4
32

N
PROSES
O

pemeriksa
an di bank
darah

FAILURE
MODE

POTENSIA
L FAILURE S
EFFECT

POTENSIAL CAUSE
FAILURE MODE

RPn

cross martch reaksi


4 kompetensi kurang
salah
transfusi
pembacaan salah

beban kerja tinggi

SDM kurang

SPO tidak dilaksanakan

pasien mati 5 SPO tidak dilaksanakan

petugas tidak kompeten

beban kerja tinggi

24

16

32

3
4

2
2

24
32

40

15

40

listrik padam penyedian

darah

terhambat

10

pemadaman listrik PLN

gangguan aliran listrik

1 daya kurang

FAILUR POTENSIA
POTENSIAL CAUSE FAILURE
E
L FAILURE S
MODE
MODE EFFECT
pemerik listrik
darah rusak 3 daya kurang
saan di padam
pemadaman listrik PLN
bank

gangguan aliran listrik


darah
peralatan
4 daya kurang
BDRS rusak
pemadaman listrik PLN
gangguan aliran listrik
genset penyedian
3 SDM kurang
tidak
darah
BBM habis
berfung terhambat
Proses pengadaan barang jasa
si
peralatan
4 SDM kurang

BDRS rusak
BBM habis
Proses pengadaan barang jasa
darah rusak 3 SDM kurang

BBM habis

Proses pengadaan barang jasa

N PROSE
O
S

RPn

4
4

1
1

12
12

4
4
4
4
4

1
1
1
1
2

12
12
12
12
24

3
3
4
3
3
4
3
3

1
2
2
1
2
2
1
2

9
18
32
12
24
24
9
18

N
FAILUR
PROSES
O
E MODE
pemeriksa SDM
an di bank Kurang
darah

lokasi
terlalu
jauh
Stok
Darah
kurang

POTENSIAL
FAILURE
EFFECT
penyedian darah
terhambat

POTENSIAL CAUSE
FAILURE MODE

RP
D
n

1 tidak ada rekruitmen


tidak ada peminat
pengelolaan SDM kurang
Pelayanan lamban 1 tidak ada rekruitmen
tidak ada peminat

3
3
3
3
3

1
1
2
1
1

3
3
6
3
3

penyedian darah 1 gedung tidak satu atap


terhambat
bangunan diluar master plan
Pelayanan lamban 1 tidak ada rekruitmen
tidak ada peminat
Pelayanan lamban 1 pendonor kurang
tidak ada stok darah di PMI
recipient banyak
penyediaan darah 1 pendonor kurang
terhambat
tidak ada stok darah di PMI
recipient banyak

1
1
3
3
4
4
4
4
4
4

1
1
1
1
2
2
2
2
2
2

1
1
3
3
8
8
8
8
8
8

N
O

PROSES
Penyerahan
Darah

POTENSIA
FAILURE
POTENSIAL CAUSE FAILURE
L FAILURE S
MODE
MODE
EFFECT
darah
Reaksi
3 beban kerja
tertukar tranfusi
petugas tidak kompeten

identifikasi kurang jelas


pasien mati 5 beban kerja

petugas tidak kompeten

darah
rusak

tambah
parah

O D

RP
n

4 2 24
3 1 9
1 1 3
4 2 40
3 1 15

identifikasi kurang jelas

3 1 15

3 penyimpanan tidak tepat

4 1 12

distribusi darah tidak sesuai


prosedur

3 1 9

KALKULASI BERDASAR TOTAL RPN


pemeriksaan
1 darah
pemeriksaan
2 darah
pemeriksaan
3 darah
pemeriksaan
4 darah
pemeriksaan
5 darah
pemeriksaan
6 darah
pemeriksaan
7 darah
pemeriksaan
8 darah
pemeriksaan
9 darah
1pemeriksaan

di bank cross martch


salah
di bank cross martch
salah
di bank
listrik padam
di bank genset tidak
berfungsi
di bank
listrik padam
di bank cross martch
salah
di bank cross martch
salah
di bank cross martch
salah
di bank
listrik padam
di bank genset tidak

SPO tidak
5 dilaksanakan

4 2 40

5 beban kerja tinggi

4 2 40

4 daya kurang

4 2 32

4 SDM kurang
pemadaman listrik
4 PLN

4 2 32

reaksi transfusi 3 beban kerja tinggi

4 2 24

reaksi transfusi 3 SDM kurang


SPO tidak
reaksi transfusi 3 dilaksanakan

4 2 24

darah rusak

4 2 24

pasien mati
pasien mati
peralatan
BDRS rusak
peralatan
BDRS rusak
peralatan
BDRS rusak

3 daya kurang

4 2 32

4 2 24

KALKULASI BERDASAR TOTAL RPN


pemeriksaan di bank Stok Darah
11 darah
kurang
pemeriksaan di bank cross martch
12 darah
salah
pemeriksaan di bank cross martch
13 darah
salah
pemeriksaan di bank
14 darah
listrik padam
pemeriksaan di bank Stok Darah
15 darah
kurang
pemeriksaan di bank Stok Darah
16 darah
kurang
pemeriksaan di bank Stok Darah
17 darah
kurang
pemeriksaan di bank genset tidak

Pelayanan
lamban

1recipient banyak

3 12

reaksi transfusi

3kompetensi kurang

2 12

reaksi transfusi
penyedian
darah
terhambat
penyediaan
darah
terhambat
penyediaan
darah
terhambat
penyediaan
darah
terhambat
penyedian
darah

3pembacaan salah

2 12

1daya kurang

2 10

tidak ada stok darah di


1 PMI

2 10

1recipient banyak

1pendonor kurang

REDESIGN PROCESS
PROSES
pemeriksaan
di bank darah

FAILURE
MODE

POTENSIAL
FAILURE EFFECT

cross
martch
salah

pasien mati

listrik
padam

POTENSIAL
CAUSE

SPO tidak
dilaksanakan
beban kerja
tinggi
peralatan BDRS daya kurang
rusak

REDESIGN
RECOMMENDATIONS
Sosialisasi SPO
Rekrutmen SDM
Sesuai Kompetensi
Penambahan Daya
Pengadaan UPS

Stok Darah
kurang

penyediaan
darah
terhambat

recipient
banyak

genset
peralatan BDRS SDM kurang
tidak
rusak
berfungsi

Kerjasama dengan
PMI luar kabupaten
Kerjasama dengan
PMI untuk kegiatan
donor darah
Rekrutmen SDM
Peningkatan
Kompetensi SDM

PIC

TARGET
COMPLATION
DATE FOR TEST

Ka. Unit

7 - 15 hari

1 tahun (terkait
anggaran)
1 tahun (terkait
Ka. IPS
anggaran)
1 tahun (terkait
Ka. IPS
anggaran)

Ka. Unit

Ka. Unit

3 bulan

Ka. Unit

3 bulan

1 tahun (terkait
anggaran)
1 tahun (terkait
Ka. IPS
anggaran)
Ka. IPS

Insidens Patient
Safety

PENGERTIAN
Keselamatan pasien (patient safety) :
Suatu sistem dimana RS membuat asuhan pasien
lebih aman.
Sistem tsb meliputi :
asesmen risiko
identifikasi dan pengelolaan hal yang
berhubungan dengan risiko pasien
pelaporan dan analisis insiden
kemampuan belajar dari insiden dan
tindak lanjutnya
implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya risiko

Program Keselamatan Pasien

Jenis Insiden
INSIDEN KESELAMATAN PASIEN :
adalah kejadian tidak sengaja dan kondisi yang
mengakibatkan / berpotensi mencederai pasien, yang
dapat dicegah.

PERMENKES 1691 TH 2011 : INSIDEN TERDIRI 5


JENIS
1.
2.
3.
4.
5.

Kejadian Sentinel
Kejadian Tidak Diharapkan (KTD)
Kejadian Tidak Cedera (KTC)
Kejadian Nyaris Cedera (KNC)
Kondisi Potensial Cedera (KPC)

ALUR PENCATATAN DAN PELAPORAN INSIDEN KESELAMATAN PASIEN


Unit /Instalasi

Atasan
langsung

talasi

TimPKPRS
TKP RS

DDireksiEKSI

KKP
KemenkesKP
PERSI

Laporan
Kejadian

Insiden
(Sentinel, KTD,
KTC, KNC, KPC)

(2x24 jam)
Atasan langsung

Tangani Segera
Grading

Biru

Hija
u

Investigasi
sederhana

Rekomendas
i

Feed Back ke
unit

Kuni
ng

Mera
h

Investigasi
komprehensif
/ RCA maks.
45 hari

Laporan
Kejadian
Analisis/
regrading
RCA

Pembelajaran/
Rekomendasi

Laporan

Laporan

DATA INSIDEN PASIEN SAFETY


Bulan Juli 2015 Januari 2016
. KNC
1; 57

. KTC

60

. KTD

50

. KPC

40
30

1; 26
1; 19

20
10
0

1; 5

ANGKA KEJADIAN BERDASARKAN TIPE INSIDEN


Resiko jatuh

6% 1%1%
20%

20%

Kesalah Prosedur
Medical Error
Reaksi Tranfusi

52%

Ketidak cocokan Dx. Pre & Pos


Op
Kejadian Saat anestesi

RCA KEJADIAN TIDAK DIINGINKAN

Px post op luka
terbentur
pengaman TT

Tidak ada punishmen


Pengawasan kurang

METODE

MANUSIA

Komitmen Kurang

Tidak ada punishmen

Tidak tersedianya anggaran kegiatan


Tidak ada penjadwalan Op

Pengawasan kurang

Komitmen Kurang

Beban kerja tinggi

Komitmen SDM kurang

Komitmen Kurang

Pengelolaan SDM kurang optimal


Jumlah SDM kurang

SPO resiko jatuh tidak dilaksanakan

Kualifisikasi keahlian kurang

Kurangnya komunikasi
Komitmen tinggi

Untuk kesejahteraan

Tidak ada rekruitmen


Tidak tersedianya anggaran kegiatan

Beban kerja tinggi


Tidak ada penjadwalan Op

Komitmen Kurang

Sistem area OK tidak


dilaksanakan

Tidak ada punishmen


Pengawasan kurang

Pengaman brankar tidak standar


Atribut resiko jatuh tidak
dilaksanakan

LINGKUNGAN

Pekerjaan sampingan

MATERIAL

Tidak ada suku cadang

MESIN

Tidak optimalnya
pelayanan di RR
pada pasien Pasca
Operasi

Akar Masalah dari KTD tersebut adalah :


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Atribut resiko jatuh tidak dilaksanakan


pengaman brankar tidak standar belum ada perbaikan
krn suku cadang tidak ada
Tidak ada penjadualan operasi SPO tidak dilaksanakan
Sistem area kamar aperasi tidak dilaksanakan
Komitmen yang masih kurang, terutama masalah patient
safety
Tidak adanya punishment dari atasan pengawasan
kurang
kebutuhan kesejahteraan yang tinggi, sehingga bekerja di
beberapa tempat.

PANDUAN PRAKTEK KLINIK


dan
CLINICAL PATHWAY

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS
1. Pengertian ( Definisi)

2. Anamnesis
3.Pemeriksaan Fisik

ASFIKSIA NEONATORUM
Asfiksia neonatorum adalah kondisi gangguan
pertukaran gas karbon dioksida dengan oksigen
yang menyebabkan terjadinya hipoksemia dan
hiperkarbia pada janin sehingga menyebabkan
asidosis
Bayi tidak bernapas spontan dan adekuat setelah
lahir atau sesaat setelah lahir
1.
Bayi tidak bernapas atau napas megapmegap
2.
Kulit sianosis
3.
Tonus otot menurun
4.
Denyut jantung <100x/menit
5.
Tidak ada respon terhadap reflek serangan

Nama pasien :
.
Diagnosis awal :
Aktifitas pelayanan

Diagnosis :asfiksia neonatorum


Penyakit utama

Penyakit penyerta

Komplikasi

CLINICAL PATHWAYS
SMF ANAK RSUD DR. H. SLAMET MARTODIRJO PAMEKASAN
ASFIKSIA NEONATORUM
2015
Umur
Beratbadan
Tinggibadan
NomorRekamMedis

kg
..cm

Kode ICD 10 : P21.9


RencanaRawat : 4 hari
R. Rawat
Tgl/Jam
Tgl/jam Lama
Kelas
Tarif/hari
Masuk
Keluar rawat
(Rp)
Harirawat 1
Harirawat 2
Harirawat 3
Harirawat 4 Harirawat 5
Harisakit :
Harisakit :
Harisakit :
Harisakit :
Harisakit :
asfiksia
neonatorum

Assesmen klinis :

4. Kriteria Diagnosis
1.

5. Diagnosis Kerja
6. Diagnosis Banding

7. Pemeriksaan Penunjang

Ada nya asidosis metabolik (ph<7.00) pada


darah arteri umbilicus atau analisa darah
arteri apabila fasilitas
2.
Adanya persisten nilai apgar 0-3 selama >5
menit
3.
Manifestasi neurologis segera pada waktu
perinatal dengan gejala kejang,
hipotonia,koma,ensefalopati hipoksik
iskemik
4.
Adanya gangguan funsi multi organ segera
pada waktu perinatal
Asfiksia Neonatorum
1.
Pengaruh sedasi ,pemnberia anastesi
dengan analgesia lainnya pada ibu pada
waktu persalinan
2.
Infeksi virus,sepsis atau meningitis
3.
Kelainan kongenital susunan syaraf
pusat,jantung ,paru
4.
Penyakit neuromuscular
5.
Trauma persalinan
6.
Kelainan metabolisme bawaan
1.
Laboratorium: Darah Rutin, analisa gas
darah ,elektrolit,gula darah
2.
USG kepala

Pemeriksaan dokter
Apgar skor
Vital sign
Manifestasi
neurologis
Konsultasi

Pemeriksaan penunjang :
GDA
BGA :
Ph <7.35/ph>7,45
Pco2<35 mmhg
Saturasi o2 <98 %
Tindakan :
Infus kristaloid
O2
Resusitasi bila perlu
Obat-obatan :
Bikarbonat bila perlu
Epinefrin bila denyut nadi <60x/mnt
Nutrisi : ASI
Mobilisasi :
Hasil (outcome)

+
+

+
+
+

+
+
+

+
+
+

+
+
+

+
+
+

+
+
+

+
+
+

+
+
+

8. Tata Laksana

9. Edukasi
(Hospital Health

1.
2.

Resusistasi:
a.
Tahapan resusitasi tidak melihat nilai apgar
i. Langkah awal resusitasi
Indikasi:bila terdapat salah satu jawaban
tidak dari pertanyaan cukup bulan,bernapas
atau menangis dan tonus otot baik
ii. Ventilasi tekanan postitif (VTP)
iii. Ventilasi tekanan postitif dan kompresi dada
bila denyut
jantung kurang dari 60x/menit setelah 30
detik dilakukan Ventilasi tekanan positif
Epinefrin:
Indikasi:Denyut jantung bayi <60x/m setelah dilakukan 30 s
ventilasi yang adekuat
Dosis:
0,1-0,3ml/kg dalam larutan 1:10.000 diberikan iv,dibilas
dengan 0,5-1ml NS
0,3-1ml/kg BB larutan 1:10.000 bila diberikan endotrakeal
Dapat diulang setelah 3-5 menit bila perlu
Volume ekspander:
Indikasi:
Hipovolemia
Tidak ada respon dengan resusitasi
Jenis cairan
Larutan kristaloid yang isotonis
Tranfusi darah golongan 0 negatif jika diduga banyak
kehilangan cairan
Dosis
Dosis awal 10ml/kg BB iv pelan selama 5-10 menit. Dapat
diulang sampai menunjukan respon klinis
Bikarbonat
Indikasi:
Asidosis metabolic.Diberikan bila ventilasi dan sirkulasi sudah
baik
Pengunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolic dan
hyperkalemia harus disertai dengan pemeriksaan analisa gas
darah dan kimiawi
Dosis :1-2 mEq/kg BB atau 2ml/kg (4,2%) atau 1ml/kg
BB(8,4%)
Cara:
Diencerkan dengan aquabides atau dekstrose 5% sama
banyak diberikan secara intravena dengan kecepatan minimal
2 menit
Efek samping:
Pada keadaan hiperosmolaritas dan kandungan C02 dari
bikarbonat merusak fungsi miokardium dan otak
Jaga kehangatan
Jaga saluran agar tetap bersih dan terbuka

10. Prognosis

11.
12.
13.
14.

Tingkat Evidens
Tingkat Rekomendasi
Penelaah Kritis
Indikator

15. Kepustakaan

Advitam
: dubia ad malam
Ad Sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam
IV
Level c
1.
Dr spesialis anak
1.
Bayi bernapas ,denyut jantung >10x/m ,tidak sianosis ,tonus
otot baik
2.
Sebagian besar bayi baru lahir (90%) tidak memerlukan
bantuan pernapasan
3.
Sekitar 10% bayi baru lahir memerlukan bantuan
pernapasan dan 1% memerlukan resusitasi lengkap
4.
80% pasien sembuh dalam waktu 3 minggu
1.
Kattwinkel J,Mvgowan JE,Zaikin J. textbook of neonatal
resuscitation; edisi ke-6 .AAP &AHA ,2011:1-302
2.
Hansen AR,Soul JS.Perinatal asphyxia and hypoxic-ischemia
encephalopathy.Dalam Cloherty JP,Stark AR.eds. Manual of
neonatal care;edisi ke-7.Boston ;Lippincott
Williams&Wilkins,2012;711-28
3.
Indrasanto E,Dharmasetiawani N,Tohsiswantomo R, Kaban
RK. Buku acuan pelatihanpelayanan obstetric dan neonatal
emergensi komprehensif,Jakarta:Depkes RI,2008;31-41

PROSENTASE KETIDAKPATUHAN TERHADAP PARAMETER

100%

LABORATORIUM

TERAPI

LAMA RAWAT

ANALISA
a. Dari hasil grafik menunjukkan bahwa angka kepatuhan terhadap CP 4 bulan terakhir
mengalami peningkatan, bulan januari 2016 sampai 90,55 %
b. Ketidakpatuhan parameter murni terhadap lama rawat inap.
. TINDAK LANJUT
a. Perlu komitmen terhadap kepatuhan pelayanan ini.
b. Perlunya sosialisasi peningkatan mutu dan keselamatan pasien.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS

1. Pengertian ( Definisi)

2. Anamnesis

GAGAL JANTUNG
Suatu sindrom klinis yang disebabkan oleh suatu kelainan
jantung sehingga jantung tidak mampu memenuhi
kebutuhan metabolism tubuh dan dapat dikenali dari
respons hemodinamik, renal, neural, dan hormonal yang
karakteristik.
1.
2.
3.
4.

Sesak nafas
Orthopnea
Paroxysmal Nocturnal Dyspnea
Kaki bengkak

3. Pemeriksaan Fisik

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dyspnea
Rhonki
Irama gallop
Murmur
Apex jantung melebar
Edema ekstremitas
Hepatomegali

4. Kriteria Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang

5. Diagnosis Kerja

Gagal jantung

6. Diagnosis Banding

1.
2.

Edema paru akut


PJK

7. Pemeriksaan Penunjang

1.
2.
3.

DL
ECG
Foto thoraks

8. Tata Laksana

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Perubahan gaya hidup


Olahraga ringan teratur
Diit rendah garam
Menurunkan berat badan
Furosemide / Spironolakton
Captopril / valsartan
Digoxin

1.
2.
3.
4.
5.

Menghindari merokok
Menghindari alcohol
Olahraga ringan teratur
Diit rendah garam
Minum obat teratur

9. Edukasi
(Hospital Health Promotion)

Nama pasien :
.
Diagnosis awal :
Aktifitas pelayanan

CLINICAL PATWAYS
SMF INTERNA RSUD DR. H. SLAMET MARTODIRJO PAMEKASAN
GAGAL JANTUNG
2015
Umur
Berat badan
Tinggi badan
Nomor Rekam Medis

kg
..cm

Kode ICD 10 :
Rencana Rawat : 5 hari
R. Rawat
Tgl/Jam
Tgl/jam Lama
Kelas
Tarif/hari
Masuk
Keluar rawat
(Rp)
Hari rawat 1 Hari rawat 2 Hari rawat 3 Hari rawat 4 Hari rawat 5
Hari sakit :
Hari sakit :
Hari sakit :
Hari sakit :
Hari sakit :

Diagnosis :
Penyakit utama

Gagal
jantung

Penyakit penyerta

Komplikasi :

Atrial Fibrilasi
Edema paru
Syok Hipovolemia
Assesmen klinis :

Pemeriksaan dokter
Dyspnea, Rhonki, px
Jantung Melebar,
Edema Ekstremitas
Konsultasi
Pemeriksaan penunjang
DL, ECG, Foto thorax

Tindakan :
Obat-obatan :
Furosemide, Captopril
Nutrisi :
Diet jantung
Tinggi serat
Mobilisasi :
Hasil (outcome)

Pendidikan / Rencana pemulangan :


Varians :

10. Prognosis

11. Tingkat Evidens


12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis

Advitam
: adbonam
Ad Sanationam : adbonam
Ad Fungsionam : adbonam
IV
C
Dokter spesialis penyakit dalam

14. Indikator

Klinis dan laboratorium

15. Kepustakaan

1.

Braunwald E. patophysiology,
Clinical aspects and
management of heart failure in
heart disease. A textbook of
cardiovascular medicine. 4th
edition. Engena Braunwald. WB
Saunders Comp. Philadelphia,
London, Toronto, Montreal,
Sydney, Tokyo, 1992, p.393-519.

ANALISA
a. Dari hasil grafik menunjukkan bahwa angka kepatuhan pelayanan hearth
failure terhadap clinical pathway masih cukup rendah.
b. Data 3 bulan terakhir masih di bawah 80 %.
. TINDAK LANJUT
a. Perlu komitmen terhadap kepatuhan pelayanan ini.
b. Perlunya sosialisasi peningkatan mutu dan keselamatan pasien.

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS

1. Pengertian ( Definisi)

2. Anamnesis

TONSILITIS KRONIK
Tonsillitis kronik adalah infeksi kronik pada tonsil yang
berulang lebih dari tiga kali setahun atau tonsil berukuran
besar yang dapat mengakibatkan gangguan menelan dan
gangguan pernafasan

Radang tenggorokan berulang


Rasa mengganjal di tenggorokan
Nyeri telan
Nafas dapat berbau
Tidur mendengkur

5. Diagnosis Kerja

Permukaan kripta melebar

Detritus didapatkan pada eksaserbasi akut

Ukuran tonsil dapat membesar

Sesuai dengan :
- kriteria diagnosis
-kriteria pemeriksaan fisik
Tonsilitis kronik

6. Diagnosis Banding

Difteri tonsil

7. Pemeriksaan Penunjang

3. Pemeriksaan Fisik

4. Kriteria Diagnosis

o
o
o
8. Tata Laksana

Persiapan operasi
Pemeriksaan darah lengkap

Gula darah sewaktu

Foto thorax PA

Diatas 40 tahun konsul Jantung

SGOT ,SPGT

Bila perlu foto kepala tampak lateral


Pasca operasi:pemeriksaan histopatologi jaringan
tonsil
Bila perlu kultutr resistensi/swab tenggorokan
Umum
a.
Perbaikan hygiene mulut ,obat kumur atau
obat hisap
Simptomatik
a.
Obat kumur yang mengandung desinfektan
b.
Paracetamol
Antibiotic
Amoksisillin clavunat 50-100mg/kg/hari

Eritromisin 25-50 mg/kg

Tonsilektomi pada:
o. Tonsilitis kronik
o. Tonsil hipertrofi

Nama pasien :
.
Diagnosis awal :
Aktifitas pelayanan

CLINICAL PATHWAYS
SMF INTERNA RSUD DR. H. SLAMET MARTODIRJO PAMEKASAN
TONSILITIS KRONIS
2015
Umur
Beratbadan
Tinggibadan
NomorRekamMedis

kg
..cm

Kode ICD 10 : J35.0


RencanaRawat : 3hari
R. Rawat
Tgl/Jam
Tgl/jam Lama
Kelas
Tarif/hari
Masuk
Keluar
rawat
(Rp)
Harirawat 1 Harirawat 2
Harirawat 3
Harirawat 4 Harirawat 5
Harisakit :
Harisakit :
Harisakit :
Harisakit :
Harisakit :

Diagnosis : Tonsilitis Kronis


Penyakit utama

Penyakit penyerta :
Faringitis kronis

Komplikasi :
Abses peritonsil

Tonsilitis
Kronis

Assesmen klinis :

Pemeriksaan dokter
Cavum oris, Tonsil : T1-T4
Faring, Beslag
Manifestasi perdarahan
Konsultasi

Pemeriksaan penunjang
Lab lengkap, Foto thorax,
EKG
Tindakan : tonsilektomi
Obat-obatan :
Injeksi ceftriaxone 2x1 gr
Drip carbasocrum 3x50 mg
Kalium diklofenak 3 x 1
Infus RL
Asam traneksamat
Nutrisi :
Bubur halus, Air es, Es krim
Mobilisasi :
Hasil (outcome)
Beslag
Perdarahan
blood clothing
Pendidikan / Rencana pemulangan

9. Edukasi
(Hospital Health
Promotion)
10. Prognosis

11. Tingkat Evidens


12. Tingkat
Rekomendasi
13. Penelaah Kritis
14. Indikator

Menjelaskan perjalanan penyakit dan komplikasi yang


timbul
Menjelaskan rencan pengobatan ,operasi dan

komplikasi
Advitam
: adbonam
Ad Sanationam : adbonam
Ad Fungsionam : adbonam
IV
C
a. dr. Supra Dharma, Sp.THT
b. dr. Diah Pratiwi, Sp.THT
Pasien tonsillitis kronik sembuh dengan operasi tonsilektomi
Target:
90% pasien tonsillitis kronik sembuh dengan operasi

tonsilektomi
10% pasien tonsillitis kronik tanpa tonsilektomi terjadi

eksaserbasi akut kurang dari 3 kali setahun

15. Kepustakaan
1. Rusmarjono, Soepardi EA. FAringitis, Tonsilitis danHipertrofi
Adenoid. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Bashirudin
J,Restuti Dwi R, editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga
hidung tenggorok. Balai Penerbit FKUI. Jakarta 2007: h.223-5.
2. Adams GL. Boies LR and Paparella MA :Fundamentals of
Otorhinolarryngology. WB. Saunders Co Asean ED, 1978, 5th
Edition
3. Ballenger JJ. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and
Neck. 14th edition. Philadelphia Lea and Febiger 1991.
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology head and neck surgery. 9th
ed. McGrawHill Medical. New York 1991: p 543.

PROSENTASE KETIDAKPATUHAN TERHADAP PARAMETER

13%
LABORATORIUM
26%
61%

TERAPI
LAMA RAWAT

ANALISA
a. Dari data grafik, 4 bulan terakhir progress kepatuhan meningkat cukup
signifikan. Bulan januari 2016 telah sesuai target.
b. Ketidak patuha lebih banyak pada parameter lama hari rawat (61%) diikuti
dengan pemberian antibiotik (26%)
. TINDAK LANJUT
a. Perlu monitoring dan evaluasi lebih lanjut untuk Pemantapan / sosialisasi CP
ke DPJP
b. Perlu peningkatan komitmen terhadap mutu pelayanan.

1. Pengertian (Definisi)

2. Anamnesis

3. Pemeriksaan fisik

4. Kriteria diagnosis

5. Diagnosis kerja
6. Diagnosis banding
7. Pemeriksaan penunjang
8. Terapi

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS
ABORTUS INCOMPLETE
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan, dan sebagai
batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau
berat anak kurang dari 500 gram.
1.
Adanya terlambat haid kurang dari 20 minggu
2.
Perdarahan pervaginam disertai keluarnya jaringan
hasil konsepsi
3.
Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simpisis
Keadaan umum tampak baik atau shock akibat

perdarahan
Tekanan darah normal atau menurun

Denyut nadi bisa normal atau cepat dan kecil

Pemeriksaan ginekologi

1.
Inspeksi vulva
Perdarahan pervagina
2.
Inspekulum
Ostium uteri eksterna terbuka, tampak sisa hasil
konsepsi
3.
Pemeriksaan bimanual
Portio terbuka, tinggi fundus uteri lebih kecil dari
usia kehamilan, tidak didapatkan nyeri goyang
porsio, teraba sisa jaringan
a.
Anamnesa
b.
Pemeriksaan fisik
c.
Pemeriksaan penunjang
Abortus inkomplit
Abortus insipiens
1.
DL
2.
Plano Test
Pemberian antibiotik profilaksis

Bila didapatkan hemodinamik tidak stabil, dilakukan

resusitasi, dilanjutkan dengan :


Pada usia kehamilan <12 minggu:
Kuretase
Pada usia kehamilan > 12 minggu:
Oxytocin drip 20 IU dalam cairan Ringer Lactat 500cc,
diberikan 28 tetes/menit , dilanjutkan kuretase, drip
dilanjutkan sampai 12 jam pasca kuretase

Nama pasien :
.
Diagnosis awal :
AbortusInkomplete
Aktifitas pelayanan

CLINICAL PATHWAYS
RSUD DR. H. SLAMET MARTODIRJO PAMEKASAN
ABORTUS INKOMPLETE
2015
Umur Beratbadan
Tinggibadan
NomorRekamMedis
.. kg
..cm

Kode ICD 10 : O 03.4


RencanaRawat : 3hari
R. Rawat
1. UGD/IRJ
2. Ruang :
10

Tgl/Jam
Masuk

Tgl/jam
Lama Kelas
Tarif/hari
Keluar
rawat
(Rp)

..

Harirawat
Harirawat 1 Harirawat 2
Harirawat 4 Harirawat 5
3

Diagnosis :
Penyakit utama

AbortusInkomplete

Penyakit penyerta (+/-)


Hipertensi
Diabetes Militus
Penyakit jantung
Penyakit Ginjal
..
Komplikasi Maternal :
Syok Hipovolemik
Anemia
Gangguan Asam Basa
Gangguan Ginjal
Gangguan Faal
Hemostasis
Gangguan Elektrolit
Gangguan Hepar
Gangguan
Kardiopulmoner
......
Assesment Klinis :
Pemeriksaan Dokter

+
+

Pengkajian Keperawatan

Kajian Awal Gizi

Pengkajian Kefarmasian

9. Edukasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kondisi penyakit pasien


Tujuan dan tatacara tindakan medis
Alternatif tindakan medis dan resikonya
Rencana perawatan, pemberian obat-obatan dan tindakan yang
dilakukan
Kemungkinan resiko dan komplikasi yang bisa terjadi
Pragnosa penyakit dan prognosa terhadap tindakan yang dilakukan

10. Prognosis

Ad vitam
: dubia ad bonam / malam
Ad sanationam : dubia ad bonam / malam
Ad fungsionam : dubia ad bonam / malam

11. Tingkat Evidens


12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis

I/II/III/IV
A/B/C
a.
dr. Mulyohadi Sungkono, Sp.OG-K
b.
Dr. dr. Siti Candra W B, Sp.OG-K
c.
dr. I Wayan Agung Indrawan, Sp.OG-K

14. Indikator Medis

1.
2.

15. Kepustakaan

Perdarahan berhenti
Tidak terjadi komplikasi
Williams Gynecology 23rd edition
Ilmu kandungan, Sarwono

KONSULTASI :
IPD
Anestesi
Cardiologi
..

Pemeriksaan Penunjang :
Lab Dl
Plano Test
Tindakan :
Pemasangan Infus
Kuretase
Oksitosin Drip
..
Tindakan
Keperwatan / Kebidanan :
Asuhan Keperawatan / Kebidanana
total
Asuhan Keperawatan / kebidanan
Mandiri
Asuhan Keperawatan / kebidanan
Parsial
Pengambilan Sampel Darah Vena
Pemasangan Infus
Pemberian Obat Injeksi
Pemberian Oksigen
Tranfusi Darah

Asuhan gizi
Asuhan kefarmasian

Obat-obatan injeksi :
ceftriaxone
RL
Nutrisi :
Diet TKTP
Energi 1.200 2.100 kkal/hr
Protein 40-82 gr/hari
Mobilisasi :
Tirah baring
Duduk
Berdiri
Jalan

+/+/+/+/+/+
+

+
+
+

+
-

+
-

+
+

+
+

+
+

Hasil (outcome) :
Perdarahan berhenti
Tidak terjadi komplikasi
Pendidikan / rencana pemulangan /
promosi kesehatan
Kondisi penyakit
Tujuan dan tatacara tindakan medis
Rencana perawatan, pemberian
obat-obatan,
tindakan
yang
dilakukan
Resiko dan komplikasi yang bisa
terjadi
Prognosis penyakit
Follow up kuretase

Varians :

84.2
2

ANALISA
a. Dari hasil grafik dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan dpjp terhadap CP masih belum
stabil, 4 bulan pertama terjadi kenaikan yang cukup signifikan, kemudian terjadi tren
penurunan. 2 bulan terakhir ( des 2015 dan jan 2016 } terjadi peningkatan sampai 84
84,22%
b. Ketidak patuhan terbanyak pada parameter hari rawat (55%) dan laboratorium (41%).
c. kondisi di atas lebih banyak disebabkan karena kasus emergency yang unpredictable.
. TINDAK LANJUT
a. Masih memerlukan sosialisasi kepada DPJP akan pentingnya kepatuhan terhadap clinical

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)


TATA LAKSANA KASUS
1. Pengertian ( Definisi)

2. Anamnesis

3. Pemeriksaan Fisik

4. Kriteria Diagnosis

5. Diagnosis Kerja
6. Diagnosis Banding

7. Pemeriksaan Penunjang

8. Tata Laksana

APENDICITIS AKUT
Adalah penyumbatan dan peradangan pada
inner lining appendiks vermiformis (usus buntu)
dengan jangka waktu kurang dari 2 minggu.
1.
Nyeri (mula-mula di daerah epigastrium
atau umbilical, kemudian menjalar ke titik
Mc burney)
2.
Mual dan atau muntah
3.
Anoreksia
4.
Dapat disertai demam
1.
Status generalis : tampak kesakitan,
demam, fleksi ringan art coxae dextra
2.
Status lokalis : nyeri tekan mcburney
3.
Defans muscular (+)
4.
Rovsing sign (+)
5.
Psoas Sign (+)
6.
Blumberg Sign (+)
7.
Obturator sign (+)
8.
RT : nyeri searah jam 9-11
9.
Peritonitis Umum (perforasi) : nyeri seluruh
abdomen, pekak hati menghilang, bising
usus (-)
Memenuhi kriteria anamnesa

Memenuhi kriteria pemeriksaanfisik

Skor alvarado

Apendisitis akut
1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Urolitiasis dekstra
KET
Adnexitis
UTI dextra
Kista ovarium terpuntir
Tumor caecum
USG
DL, PTT, aPTT
Ur/Cr
UL
GDS
Teskehamilan
HbsAg
Operasi dalam bius spinal atau umum
Open appendictomi

3 hari

CLINICAL PATWAYS
SMF BEDAH RSUD DR. H. SLAMET MARTODIRJO PAMEKASAN
APENDISITIS AKUT
2015
Nama pasien :
Umu
Berat badan
Tinggi badan
Nomor Rekam Medis
.
r
kg
..cm

.
.
Diagnosis awal : Apendisitis
Kode ICD 10 : K 35.9
Rencana Rawat : 3 hari
Akut
Aktifitas pelayanan
R. Rawat
Tgl/Jam
Tgl/jam
Lama
Kelas
Tarif/hari
UGD/IRJ
Masuk
Keluar
rawat
(Rp)
R. Rawat :
..

Hari rawat
Hari
Hari rawat
Hari rawat
Hari rawat 4
1
rawat 2
3
5
Diagnosis :

Penyakit utama
APENDISITIS
AKUT
Penyakit
penyerta

(+/-)
Apendisitis perforasi
Sepsis
Ileus obstruksi
DM
HT
Lain-lain:
Komplikasi

Durante
Operasi : perdarahan
intra peritoneal, dinding
perut, robekan sekum
atau usus lain
Pasca bedah
Dini
:
perdarahan,
infeksi,
hematom,
parlitik ileus, peritonitis,
fistel
usus,
abses
intraperitoneal
Pasca bedah:
Lanjut : obstruksi usus
jeratan,
hernia
sikatrikalis
1. PEMERIKSAAN KLINIS
+
Dokter IGD atau

9. Edukasi
(Hospital Health Promotion)

1.
2.
3.
4.

10. Prognosis

11. Tingkat Evidens


12. Tingkat Rekomendasi
13. Penelaah Kritis

Penjelasan diagnose, diagnose banding,


pemeriksaan penunjang
Penjelasan rencana tindakan, lama
tindakan, resiko dan komplikasi
Penjelasan alternative tindakan
Penjelasan perkiraan lama perawatan

Advitam
: adbonam
Ad Sanationam : adbonam
Ad Fungsionam : adbonam

1.
2.

I/II/III/IV
A/B/C
SMF bedahumum
Tim HTA RS

14. Indikator

Klinis dan laboratorium

15. Kepustakaan

1.

2.

3.

4.

Persatuan Dokter Spesialis Bedah umum


Indonesia. Pedoman pelayanan medic edisi
kedua, 2006:60-61
Browse NL, et all. The symptoms and sign
of surgical disease. Fourth edition.
Taylor&francis group,2005.
R, De Jong Wim. Buku ajar ilmu bedah.
Edisikedua. Jakarta:penerbit buku
kedokteran EGC 2004.
Grace, Borley, At Glance Ilmu Bedah. Edisi
ketiga. Jakarta:penerbit Erlangga, 2006.

2. LABORATORIUM
Darah lengkap
PTT, aPTT,
GDS
Fungsi ginjal (Ur/Cr)
3. RADIOLOGI / IMAGING
ELEKTRONIK
Thorax foto
EKG
4. KONSULTASI
Dokter bedah umum
Dokter anestesi
Dokter internis
Dokter lain
5. ASESMEN KLINIS
Pemeriksaan DPJP
Co. dokter / dr. ruangan
6. EDUKASI
Penjelasan diagnosis
Rencana terapi dan tindakan
Tujuan
Resiko
Komplikasi
Pragnosa
7. PENGISIAN FORM
Rencana terapi
Lembar edukasi

+
+
+
+
+
+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+
+

11. TERAPI / MEDIKAMENTOSA


Antibiotik : Ceftriaxon 2 gram iv 30
menit sebelum
Operasi dan 2 x 1 gram setelah
operasi
Injeksi
Analgesik :
Ketoprofen
Antimuntah :
Ondansetron bid

+
+

12. MONITORING
Perawat
Monitoring tanda vital
Monitoring 14 kebutuhan

+
+

Pasien
Dokter DPJP
Monitoring tanda vital
Monitoring luka operasi
13. MOBILISASI
Tirah baring
Duduk di tempat tidurr
Aktivitas harian mandiri
14. OUTCOME
Keluhan : nyeri daerah
operasi makin berkurang
Pemeriksaan klinis : luka
operasi membaik

+
+
+

Lama rawat : sesuai PPK (3


hari )
Kriteria pulang KU pasien
baik,
tidak
terdapat
komplikasi medis lainnya
15. RENCANA PULANG /
EDUKASI
Penjelasan mengenai
perkembangan penyakit
berkaitan terapi dan
tindakan yang sudah
dilakukan
Penjelasan mengenai diet
yang
diberikan
sesuai
dengan keadaan umum
pasien
Surat pengantar kontrol

ANALISA
a. Dari hasil grafik dapat disimpulkan, tingkat kepatuhan cukup stabil di atas 80%, bahkan
bulan januari 2016 tingkat kepatuhan 90,10%
b. Ketidak patuhan lebih banyak pada parameter lama hari rawat (60%), diikuti dengan
pemeriksaan laboratorium).
TINDAK LANJUT
c. Masih memerlukan sosialisasi kepada DPJP akan pentingnya kepatuhan terhadap clinical
pathway

Terima Kasih