Anda di halaman 1dari 5

UJIAN AKHIR SEMESTER

Disusun Dalam
Mata Kuliah Perceptorship (KUP607)

Disusun Oleh :
Nia Firdiantyt
NIM: 22020115410014

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


KEPERAWATAN KOMUNITAS
JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2016

1. Jelaskan bagaimana strategi saudara dalam mengimplementasikan konsep perceptorship!


Jawab:
Preceptor dapat berperan sebagai panutan, mentor dan pelatih bagi mahasiswa, sedangkan
peran tersebut tidak akan didapatkan di fakultas. Proses membimbing tidak akan
memberikan dampak stress pada preceptor dan akan lebih efektif jika sejak awal bimbingan
telah ditentukan strategi pemenuhan target kompetensi, mengenali masalah yang mungkin
dapat terjadi, dan mencari cara penyelesaian masalah tersebut (Murphy, 2008). Salah satu
cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengendalikan mutu pelayanan
keperawatan adalah dengan mengembangkan lahan praktek keperawatan disertai dengan
adanya pembinaan masyarakat professional keperawatan untuk melaksanakan pengalaman
belajar di lapangan dengan benar bagi peserta didik (Dermawan, 2012). Mutu pelayanan
keperawatan perlu ditingkatkan, untuk itu dibutuhkan tenaga perawat yang kompeten dan
professional, sehingga penting bagi manajer keperawatan mengelola tenaga
keperawatan dengan baik sejak proses awal (Kuntoro, 2010). Memilih calon
yang berkualitas dilakukan dengan kualifikasi dari setiap posisi dalam unit
kerja, kemudian memberi kesempatan kepada staf baru tersebut untuk
berorientasi terhadap lingkungan rumah sakit, melatihnya dan memberikan
pelajaran melalui pekerjaan langsung kepada pasien.

2. Jelaskan bagaimana saudara mengintegrasikan konsep perceptorship dengan atau kedalam


penerapan Patient Center Care (PCC)!
Jawab:
Prinsip pelaksanaan PCC, orientasi pelayanan terfokus pada pasien, disisi lain, mahasiswa
keperawatan yang sedang dan akan menjalani praktik klinik pada saatnya akan memberikan
pelayanan kesehatan pada pasien, termasuk salah satunya adalah dengan menerapkan
prinsip PCC. Pasien sebagai pusat pelayanan keperawatan dan aktifitas, sehingga
pemberian pelayanan lebih efektif dengan orang yang tepat dan waktu yang tepat;
meningkatkan kontinuitas perawatan dan integrasi tenaga kesehatan profesional dalam
berkolaborasi untuk kepentingan pasien mereka, dengan meminimalisir perpindahan pasien
ke rumah sakit lain. Selain itu, PCC juga dapat meningkatkan otonomi pasien dan
pemberdayaan anggota staf untuk merencanakan dan menjalankan pekerjaan mereka sesuai
dengan kebutuhan pasien.

3. Jelaskan bagaimana saudara mengembangkan kapasitas perceptor dan mempersiapkan


perceptee dalam hubungan professional dengan perseptor!
Jawab:
Hubungan antara perceptor dan perceptee (mahasiswa keperawatan) dapat menggunakan
acuan diagram di atas. Pada diagram tersebut terlihat bahwa hubungan antara perceptee dan
perceptor merupakan suatu hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi satu sama
lain. Peran dan fungsi kedua koomponen tersebut memiliki ujung pangkal yaitu teaching
dan learning. Hubungan profesional antara perceptor dan perceptee tidak terlepas dari
prinsip perceptor membimbing (teaching) dan penerimaan oleh perceptee melalui proses
learning. Perceptor bertanggung jawab memberikan pembimbingan terhadap mahasiswa
dengan prinsip-prinsip komunikasi yang profesional tanpa ada kepentingan pribadi
didalamnya, berusaha selalu meng-inspirasi mahasiswa untuk memberikan inovasi-inovasi
baru serta senantiasa mendukung kegiatan positif yang dilakukan oleh mahasiswa. Hal
tersebut diakhiri dengan memberikan reiforcement positif yang membangun.

4. Uraikan pandangan saudara tentang Interprofessional Education baik ditatanan klinis


maupun akademik!
Jawab:
Seperti halnya pendapat Hind (2003) yang menyebutkan bahwa kolaborasi adalah satu
usaha peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Salah satu bentuk kolaborasi adalah dalam
hal pendidikan, Pendidikan sangat fundamental dikarenakan dasar suatu pembentukan
karakter adalah pendidikan,. Kemampuan Kolaborasi adalah suatu karakter yang
membutuhkan pembentukan melalui pendidikan formal. WHO (1988) telah membuat
sebuah grand design tentang pembetukan karakter kolaborasi dalam sebuah bentuk
pendidikan formal yaitu berupa interprofessional education. Interprofessional education
(IPE) adalah suatu pelaksanaan pembelajaran yang diikuti oleh dua atau lebih profesi yang
berbeda untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan dan pelakasanaanya dapat
dilakukan dalam semua pembelajaran, baik itu tahap sarjana maupun tahap pendidikan
klinik untuk menciptakan tenaga kesehatan yang profesional (Lee, 2009). Demikian juga
jika dilihat dari segi klinis, pemanfaatan IPE sagatlah penting, sebab tidak dapat dipungkiri
pada pelaksanaan ilmu keperawatan sendiri akan selalu berkenaan dengan profesi lain.
Banyak profesi yang menjadi rekanan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, sebagai
contoh yaitu petugas gizi, laboratorium, dokter, fisioterapis dan ilmu lain. Dengan demikian
sangatlah penting pendidikan (coaching) kepada mahasiswa (perceptee) dalam hal
memrapkan IPE sebagai metode pelayanan berbasis keperawatan terhadap pasien. Tujuan
dari pelaksanaan hal tersebut tidak lain adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pasien
dalam segala aspek.