Anda di halaman 1dari 39

TOLERANSI DALAM MULTIKULTURALISME DI INDONESIA

Makalah
Diajukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Pendidikan Sosial Budaya

Disusun oleh:
Agam Anugrah Fajri
Ajeng Ayu Karnoto
Gunawan Prabowo
Nita Gustianti
Rani Rahmawati
Sonia Alamsyah
Syifa Aprilia
Tika Nafisah

1401198
1401886
1005589
1400778
1407069
1400262
1403298
1406999

KELAS A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MANAJEMEN
PERKANTORAN
FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas
limpahan anugerah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul Toleransi Dalam Multikulturalisme Di Indonesia dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan
Sosial Budaya. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
baik dalam isi maupun sistematikanya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan
pengetahuan dan wawasan penyusun. Oleh karena itu, penyusun mengaharapkan
kritik dan saran demi penyempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penyusun mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa
dan semua pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini. Penyusun
mengharapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Bandung, April 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHUUAN...............................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................................2
C. Tujuan dan Manfaat............................................................................................2
D. Pendekatan dan Metode Pemecahan Masalah....................................................2
BAB 2 KAJIAN TEORI................................................................................................3
A. Pengertian Kebudayaan Nasional.......................................................................3
B. Problematika Kebudayaan Nasional...................................................................4
C. Pengeretian Multikulturalisme...........................................................................5
D. Jenis Multikulturalisme......................................................................................6
E. Multikultiralisme di Indonesia............................................................................7
F.

Penyebab Multikulturalisme di Indonesia..........................................................8

G. Pengertian Toleransi.........................................................................................11
H. Hambatan dalam Toleransi...............................................................................13
BAB 3 PEMBAHASAN.............................................................................................17
A. Pemahaman Toleransi Multikulturalisme Masyarakat di Indonesia.................17
B. Faktor Penyebab Kurangnya Toleransi Multikulturalisme...............................19
C. Solusi bagi Toleransi dalam Multikulturalisme di Indonesia...........................22
D. Studi Kasus (Peristiwa Ambon-Maluku)..........................................................28
BAB 4 PENUTUP.......................................................................................................32
A. KESIMPULAN................................................................................................32
B. SARAN.............................................................................................................32
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................33
LAMPIRAN................................................................................................................34

BAB 1
PENDAHUUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah suatu negara yang terdiri dari ber bagai kelompok etnis,
budaya, suku, dan agama sehingga Indonesia secara sederhana dapat dis ebut sebagai
masyarakat multikultural. Akan tetapi, di lain pihak, realitas multikultural terse but
berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali kebudayaan
nasional Indonesia yang dapat menjadi integrating force yang mengikat seluruh
keragaman etnis dan budaya tersebut. Pluralisme pasti dijumpai dalam setiap
komunitas masyarakat. Teristimewa pada saat ini, ketika teknologi transportasi dan
komunikasi telah mencapa i kemajuan pesat. Kemajemukan merupakan inevitable
destiny di tingkat global maupun di tingkat bangsa-negara dan komunitas. Secara
teknis dan teknologis, kita telah mampu untuk tinggal bersama dalam masyarakat
majemuk. Namun demikian, spiritual kita belum memahami arti sesungguhnya dari
hidup bersama dengan orang yang memiliki perbedaan kultur yang antara lain
mencakup perbedaan dalam hal agama, etnis, dan kelas sosial. Indonesia memiliki
kemajemukan suku. Kemajemukan suku ini merupakan salah satu cirri masyarakat
Indonesia yang bisa dibanggakan. Akan tetapi, tanpa kita sadari bahwa kemajemukan
tersebut juga menyimpan potensi konflik yang dapat mengancam kehidupan
berbangsa dan bernegara. Hal ini telah terbukti di beberapa wilay ah Indonesia terjadi
konflik seperti di Sampit (antara Suku Madura dan Dayak), di Poso (antara Kri stiani
dan Muslim), di Aceh (antara GAM dan RI), ataupun perkelahian yang kerap terjadi
antarkampung di beberapa wilayah di pulau Jawa dan perkelahian pelajar
antarsekolah.
Untuk meminimalisir hal di atas, di sekolah harus ditanamkan nilai-nilai
kebersamaan, toleran, dan mampu menyesuaikan diri dalam berbagai perbedaan.
Proses pendidikan ke arah ini dapat ditempuh dengan pendidikan multikultural.
Pendidika n multikultural merupakan proses penanaman cara hidup menghormati,

tulus, dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah-tengah


masyarakat plural. Dengan pendidikan multikultural diharapkan adanya kelenturan
mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pemahaman toleransi multikulturalisme di masyarakat?
2. Apa saja faktor penyebab kurangnya toleransi multikulturalisme?
3. Bagaimana solusi bagi toleransi dalam multikulturalisme di indonesia?

C. Tujuan dan Manfaat


1. Untuk mengetahui pemahaman toleransi multikulturalisme di masyarakat?
2. Untuk mengetahui faktor penyebab kurangnya toleransi multikulturalisme?
3. Untuk mengetahui solusi bagi toleransi dalam multikulturalisme di indonesia?

D. Pendekatan dan Metode Pemecahan Masalah


Pendekatan dan metode pemecahan masalah yang digunakan dalam makalah ini
adalah pendekatan analisis deskriptif dan metode literatur atau studi kepustakaan
yang bersumber dari buku, jurnal dan situs internet.

BAB 2
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Kebudayaan Nasional
Ada beberapa pengertian mengenai kebudayaan nasional, diantaranya :
Koentjaraningrat mengatakan bahwa kebudayaan nasional adalah suatu
kebudayaan yang didukung oleh sebagian besar warga suatu negara, dan memiliki
syarat mutlak bersifat khas dan dibanggakan, serta memberikan identitas terhadap
warga.
Menurut Nugroho Notosusanto, kebudayaan nasional adalah kebudayaankebudayaan daerah dan kebudayaan kesatuan.
Kebudayaan nasional dalam TAP MPR No. 11 tahun 1998, yaitu bahwa kebudayaan
nasional yang berlandaskan pancasila adalah perwujudan cipta , karya dan karsa
bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk
mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk
memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang
kehidupan bangsa.
Sedangkan dalam pandangan Ki Hajar Dewantara kebudayaan nasional adalah
puncak-puncak kebudayaan daerah.
Berdasarkan pada pendapat diatas, maka kebudayaan nasional merupakan paduan
atau gabungan seluruh lapisan kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencerminkan
semua aspek kehidupan bangsa, dan merupakan totalitas berdasarkan aspek
kerohanian bangsa.
Kebudayaan nasional adalah apa saja yang dihasilkan oleh manusia Indonesia
dulu , sekarang dan dimasa yang akan datang. Dengan perkataan lain, kebudayaan
nasional ialah kepribadian manusia Indonesia yang dalam wujudnya berupa
pandangan hidup, cara berfikir, dan sikap terhadap berbagai aspek kehidupan bangsa,
atau sebagai kebudayaan yang dianut oleh semua warga dalam suatu Negara, yakni
keseluruhan cara hidup, cara berfikir, dan pandangan hidup suatu bangsa yang
terekspresi dalam segi kehidupannya dalam ruang dan waktu tertentu. Kepribadian
inilah merupakan identitas bangsa yang membedakan bangsa kita dari bangsa lain.

Artinya, identitas bangsa dapat dikatakan sebagai perwujudan kebudayaan nasional


yang beragam.

B. Problematika Kebudayaan Nasional


Dalam mewujudkan kebudayaan nasional ada 2 tantangan yang harus kita
hadapi, yaitu tantangan yang bersifat internal dan yang bersifat eksternal.
Tantangan internal adalah hambatan-hambatan yang muncul

dalam

kebudayaan kita, yakni sikap tidak saling membudayakan terhadap budaya yang
sudah ada kepada generasi selanjutnya, sehingga hanya segelintir orang yang
mengetahui tentang kebudayaan kita sendiri.Pada akhirnya sikap menghargai kepada
kebudayaan kian melemah.
Tantangan eksternal adalah berupa pengaruh nilai-nilai kebudayaan asing,
terutama yang berasal dari Negara-negara industry maju, yang dewasa ini semakin
tak terbendung.Pengaruh budaya asing ini kemudian menjalar ke seluruh sendi-sendi
kehidupan berupa pemikiran, tingkah laku, sampai kepada yang berbentuk barang.
Usman Pelly (Maran, R.R.2007:65), menyebutkan beberapa permasalahan
yang merupakan tantangan konkret dalam pembentukan kebudayaan nasional, yaitu
sebagai berikut :
1. Masalah komersialisasi dalam kebudayaan;
2. Masalah komsumerisme dan materialisme;
3. Masalah ketahanan budaya dan konflik njilai;
4. Masalah pendidikan dan proses alih nilai;
5. Masalah adaptasi hukum dalam pengembangan pariwisata;
6. Masalah seks dan kesehatan;
7. Masalah sekularisasi kehidupan beragama;
8. Masalah pengembangan potensi masyarakat dalam upaya mengambil manfaat
optimal dari pariwisata dan interaksi antar bangsa;
9. Masalah pengembangan kemampuan kritis-rasional dalam menghadapi
pengaruh kebudayaan asing.
Selanjutnya, ketidaksanggupan kita dalam menggarap serta mengolah
permasalahan-permasalahan

tersebut

secara

kreatif

dengan

menjerumuskan kita dalam krisis kebudayaan yang berkepanjangan.

sendirinya

Berdasarkan pemaparan diatas, maka pendidikan merupakan salah satu


komponen

utama

dalam

rangka

membendung

musnahnya

kebudayaan

nasional.Pendidikan haruslah menghasilkan sikap reflektif secara kritis.Artinya


dengan pendidikan diusahakan membentuk manusia Indonesia yang ber-Pancasila.

C. Pengeretian Multikulturalisme
Lahirnya paham multikulturalisme berlatar belakang kebutuhan akan
pengakuan (the need of recognition) terhadap kemajemukan budaya, yang menjadi
realitas sehari-hari banyak bangsa, termasuk Indonesia(Irhandayaningsih, 2013, p. 5).
Oleh karena itu, sejak semula multikulturalisme harus disadari sebagai suatu ideologi,
menjadi alat atau wahana untuk meningkatkan penghargaan atas kesetaraan semua
manusia dan kemanusiaannya yang secara operasional mewujud melalui pranatapranata sosialnya, yakni budaya sebagai pemandu kehidupan sekelompok manusia
sehari-hari.Dalam konteks ini, multikulturalisme adalah konsep yang melegitimasi
keanekaragaman budaya. Kita melihat kuatnya prinsip kesetaraan (egality) dan
prinsip pengakuan (recognition) pada berbagai definisi multikulturalisme:
Multikulturalisme pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian
dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan
penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat
dalam kehidupan masyarakat.Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai
pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi
Azra, 2007).
Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa
macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan
konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah,
adat serta kebiasaan (Parekh, 1997 yang dikutip dari Azra, 2007).
Multikulturalisme mencakup suatu pemahaman, penghargaan serta penilaian
atas budaya seseorang, serta suatu penghormatan dan keingintahuan tentang budaya
etnis orang lain (Lawrence Blum, dikutip Lubis, 2006:174), sebuah ideologi yang
mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual

maupun secara kebudayaan (Suparlan, 2002, merangkum Fay 2006, Jari dan Jary
1991, Watson 2000).
Multikulturalisme mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan
dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya,
agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat
kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggan untuk mempertahankan
kemajemukan tersebut (A. Rifai Harahap, 2007, mengutip M. Atho Muzhar).

D. Jenis Multikulturalisme
Parekh (1997) membedakan lima model multikulturalisme:
1. Multikulturalisme isolasionis
Yaitu masyarakat yang berbagai kelompok kulturalnya menjalankan
hidup secara otonom dan terlibat dalam interaksi minimal satu sama lain.
2. Multikulturalisme akomodatif
Yaitu masyarakat yang memiliki kultur dominan yang membuat
penyesuaian dan akomodasi-akomodasi tertentu bagi kebutuhan kultur kaum
minoritas. Masyarakat ini merumuskan dan menerapkan undang-undang,
hukum, dan ketentuan-ketentuan yang sensitif secara kultural, dan
memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk mempertahankan dan
mengembangkan kebudayaan mereka. Begitupun sebaliknya, kaum minoritas
tidak menantang kultur dominan. Multikulturalisme ini diterapkan di
beberapa negara Eropa.
3. Multikulturalisme otonomis
Yaitu masyarakat plural yang kelompok-kelompok kultural utamanya
berusaha mewujudkan kesetaraan (equality) dengan budaya dominan dan
meng-inginkan kehidupan otonom dalam kerangka politik yang secara
kolektif bisa diterima. Perhatian pokok kultural ini adalah untuk
mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan
kelompok dominan; mereka menantang kelompok dominan dan berusaha

menciptakan suatu masyarakat yang semua kelompoknya bisa eksis sebagai


mitra sejajar.
4. Multikulturalisme kritikal/interaktif
Yakni masyarakat plural yang kelompok-kelompok kulturalnya tidak
terlalu terfokus (concerned) dengan kehidupan kultural otonom, tetapi lebih
membentuk penciptaan kolektif yang mencerminkan dan menegaskan
perspektif-perspektif khas mereka.
5. Multikulturalisme cosmopolitan
Yaitu masyarakat plural yang berusaha menghapus batas-batas kultural
sama sekali untuk menciptakan sebuah masyarakat tempat setiap individu
tidak lagi terikat kepada budaya tertentu, sebaliknya secara bebas terlibat
dalam percobaan-percobaan interkultural dan sekaligus mengembangkan
kehidupan kultural masing-masing (Azra, 2007).

E. Multikultiralisme di Indonesia
Masyarakat multikultural terjadi ketika kondisi masyarakat ditemukan tidak
hanya satu ragam kultur saja tetapi ada banyak ragam kultur atau budaya yang
berkembang didalamnya. Dalam studi sosiologi dan antropologi menyatakan bahwa
masyarakat multikultural adalah masyarakat yang tersusun dari berbagai macam
etnik, dan setiap etnik tersebut memiliki respect satu sama lain sehingga tercipta
kontribusi terhadap negara (lihat Alo, 2005: 68).
Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang termasuk dalam kategori
multikultural, hal tersebut dikarenakan terdapat begitu banyak kebudayaan dan corak
kehidupan serta latar belakang yang berbeda-beda disetiap daerah. Karena hal itulah,
masyarakat Indonesia juga disebut masyarakat majemuk, yang memiliki sekitar 300
suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia, dengan jumlah penduduk disetiap
suku beragam, ada yang banyak dan ada pula yang sedikit.
Adapun suku bangsa yang jumlah penduduknya banyak antara lain suku Jawa,
Sunda, Dayak, Batak, Minang, Melayu, Aceh, Bali, Manado, dan Makasar.Sementara
suku bangsa dengan jumlah penduduk sedikit antara lain suku Nias, Kubu, Mentawai,

dan Asmat. Dengan berbagai macam suku bangsa tersebut, pasti akan menimbulkan
yang namanya perbedaan. Perbedaan terjadi karena adanya hal yang berusaha
dilindungi oleh setiap golongan tertentu, misalnyagolongan A yakin bahwa setiap
manusia akan mati dan kemudian tidak akan lahir kembali. Namun, golongan B
berbeda pendapat, menurut golongan B setiap manusia yang mati pasti akan hidup
kembali melalui renkarnasi dari Tuhan. Perbedaan tersebut, membuat kedua belah
pihak berusaha untuk melindungi pendapat sekaligus keyakinan mereka masingmasing (lihat Maryati, Kun.& Juju, 2001: 171).
Dengan melindungi pendapat masing-masing tanpa pernah ada toleran,
merupakan salah satu hal yang melatarbelakangi terjadinya konflik antar golongan
yang berimbas pada terjadinya konflik antar individu.

F. Penyebab Multikulturalisme di Indonesia


Secara awam, kita menyadari kebutuhan untuk mengakui berbagai ragam
budaya sebagai sederajat demi kesatuan bangsa Indonesia.Namun secara filosofis,
ternyata multikulturalisme mengandung persoalan yang cukup mendasar tentang
konsep kesetaraan budaya itu sendiri.Beberapa kritikus multikulturalisme telah bicara
tentang kelemahan multikulturalisme.Kritik terhadap multikulturalisme biasanya
berangkat dari dua titik tolak.
Pertama, kesadaran tentang ketegangan filosofis antara kesatuan dan
perbedaan (one and many). David Miller (1995) menulis bahwa multikulturalisme
radikal

menekankan

perbedaan-perbedaan

antarkelompok

budaya

dengan

mengorbankan berbagai persamaan yang mereka miliki dan dengan demikian


multikulturalisme akan melemahkan ikatan-ikatan solidaritas yang berfungsi
mendorong para warga negara untuk mendukung kebijakan-kebijakan redistributif
dari negara kesejahteraan. Hal ini, komentar Anne Phillips (2007:13), akan
menghancurkan kohesi sosial, melemahkan identitas nasional, mengosongkan
sebagian besar dari isi konsep kewarganegaraan. Jika telah sampai pada titik yang

berbahaya, multikulturalisme radikal akan membangkitkan semangat untuk


memisahkan diri atau separatisme dalam psike kelompok-kelompok kultural.
Kedua, kenyataan bahwa dapat terjadi benturan prinsip kesetaraan antara
elemen minoritas dalam kelompok sosial.Peneliti feminis Susan Moller Okin (lihat
Okin, 1998, 1999, dan 2002), misalnya, menilai bahwa agenda multikulturalisme
tidak dapat berbuat banyak, atau justru makin melemahkan posisi perempuan dalam
tatanan masyarakat lokalnya. Praktik-praktik seperti poligami, penyunatan alat
kelamin perempuan, pernikahan paksa terhadap anak-anak perempuan termasuk
anak-anak perempuan berusia dini, dan lain sebagainya praktik yang bias gender,
justru dilegitimasi oleh multikulturalisme yang memberikan hak otonom bagi setiap
kelompok kultural untuk melanggengkan tatanan sosial masing-masing. Jika tatanan
sosial dari kelompok kultural tersebut didasarkan atas sistem patriarki, kata Okin,
posisi perempuan dalam masyarakat itu sangat lemah.
Anne Phillips menganalisis situasi ini sebagai benturan antarprinsip
kesetaraan.Terjadi konflik antara dua klaim kesetaraan.Multikulturalisme ingin
menghapuskan ketidaksetaraan yang dialami oleh kelompok-kelompok kultural
minoritas, sementara feminisme ingin menghapuskan ketidaksetaraan yang dialami
oleh kaum perempuan. Kedua proyek ini, multikulturalisme dan feminisme,
sebetulnya berangkat dari komitmen yang sama terhadap prinsip kesetaraan dan
keduanya berhadap-hadapan sebagai dua aspek yang harus diseimbangkan. Karena
keduanya sama-sama mengurusi isyu ketidaksetaraan yang nyata, sangat tidak tepat
untuk memutuskan yang satu lebih fundamental daripada yang lain (Phillips, 2007:3).
Ada risiko konseptual dalam multikulturalisme bahwa perbedaan budaya akan
terlalu disakralkan sehingga kebenaran universal tentang praktik sosial-politik yang
ideal tidak lagi dicari dan kritik normatif atas praktik budaya tertentu ditabukan. Para
feminis sudah lama 7
mengkritik multikulturalisme sebagai ideologi yang merugikan perempuan
karena melegitimasi sistem sosial patriarkis dalam budaya-budaya lokal. Sekalipun
prinsip kesetaraan (principle of equality) bersifat mendasar bagi demokrasi dan
kehidupan kebangsaan modern, namun kesetaraan bukanlah satu-satunya prinsip yang

berlaku.Demokrasi juga mengandung penghargaan terhadap hak asasi manusia dan


memberikan ruang luas bagi individu dalam kelompok untuk mengekspresikan diri
secara unik.Isyu ketegangan antara penghargaan terhadap keberbedaan dan hak untuk
menjadi berbeda dengan konsep universal tentang martabat individu sesungguhnya
inilah perlu diteliti lebih lanjut agar ditemukan solusi yang tepat.
Sampai di titik ini, kita bisa memandang proyek multikulturalisme dengan
lebih menyeluruh, bukan semata-mata sebagai jargon politik untuk mencitrakan
ideologi atau organisasi yang pro kemanusiaan, melainkan sebagai sebuah konsep
filosofis dengan asumsi-asumsi yang ternyata problematis. Salah satu ironi dari
proyek multikultural, lanjut Anne Phillips (2007:25), adalah bahwa atas nama
kesetaraan dan respek mutual antarelemen masyarakat, ia juga mendorong kita untuk
memandang kelompok-kelompok dan tatanan-tatanan budaya secara sistematis lebih
berbeda

daripada

kenyataan

sesungguhnya

dan

dalam

proses

tersebut,

multikulturalisme berkontribusi menciptakan stereotipisasi wujud-wujud kultural


yang ada.

G. Pengertian Toleransi
Secara etimologi toleransi berasal dari kata tolerance (dalam bahasa Inggris)
yang berarti sikap membiarkan, mengakui dan menghormati keyakinan orang lain
tanpa memerlukan persetujuan. Di dalam bahasa Arab menterjemahkan dengan
tasamuh, berarti saling mengizinkan, saling memudahkan.(Munawar, hal. 13)
Dari dua pengertian di atas penulis menyimpulkan toleransi secara etimologi
adalah sikap saling mengizinkan dan menghormati keyakinan orang lain tanpa
memerlukan persetujuan.
Pada umumnya, toleransi diartikan sebagai pemberian kebebasan kepada
sesama manusia atau kepada sesama warga masyarakat untuk menjalankan
keyakinannya atau mengatur hidupnya dan menentukan nasibnya masing-masing,
selama di dalam menjalankan dan menentukan sikapnya itu tidak bertentangan
dengan syarat-syarat atas terciptanya ketertiban dan perdamaian dalam masyarakat.
(Hasyim, hal. 22)

10

Secara terminologi banyak batasan yang diberikan oleh para ahli sebagai
berikut:
1. W.J.S Purwadarminta menyatakan Toleransi adalah sikap atau sifat menenggang
berupa menghargai serta membolehkan suatu pendirian, pendapat, pandangan,
kepercayaan maupun yang lainnya yang berbeda dengan pendirian sendiri.
(Porwadarminta, hal. 1084)
2. Dewan Ensiklopedi Indonesia Toleransi dalam aspek sosial, politik, merupakan
suatu sikap membiarkan orang untuk mempunyai suatu keyakinan yang berbeda.
3. Ensiklopedi American Toleransi memiliki makna sangat terbatas. Ia berkonotasi
menahan diri dari pelanggaran dan penganiayaan, meskipun demikian, ia
memperlihatkan sikap tidak setuju yang tersembunyi dan biasanya merujuk
kepada sebuah kondisi dimana kebebasan yang di perbolehkannya bersifat
terbatas dan bersyarat.
Dari beberapa definisi di atas dapatdi simpulkan bahwa toleransi adalah
suatu sikap atau sifat dari seseorang untuk membiarkan kebebasan kepada orang
lain serta memberikan kebenaran atas perbedaan tersebut sebagai pengakuan hakhak asasi manusia.
Pelaksanaan sikap toleransi ini harus didasari sikap kelapangan dada
terhadap orang lain dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang dipegang sendiri,
yakni tanpa mengorbankan prinsip-prinsip tersebut.Jelas bahwa toleransi terjadi
dan berlaku karena terdapat perbedaan prinsip, dan menghormati perbedaan atau
prinsip orang lain tanpa mengorbankan prinsip sendiri. Dengan kata lain,
pelaksanaannya hanya pada aspek-aspek yang detail dan teknis bukan dalam
persoalan yang prinsipil.
Selain itu toleransi mempunyai unsur-unsur yang harus ditekankan dalam
mengekspresikannya terhadap orang lain. Unsur-unsur tersebut adalah:
1. Memberikan kebebasan atau kemerdekaan
Dimana setiap manusia diberikan kebebasan untuk berbuat,
bergerak maupun berkehendak menurut dirinya sendiri dan juga di dalam
memilih suatu agama atau kepercayaan. Kebebasan ini diberikan sejak

11

manusia lahir sampai nanti ia meninggal dan kebebasan atau kemerdekaan


yang manusia miliki tidak dapat digantikan atau direbut oleh orang lain
dengan cara apapun. Karena kebebasan itu adalah datangnya dari Tuhan
YME yang harus dijaga dan dilindungi.Di setiap negara melindungi
kebebasan-kebebasan setiap manusia baik dalam undang-Undang maupun
dalam peraturan yang ada.Begitu pula di dalam memilih satu agama atau
kepercayaan yang diyakini, manusia berhak dan bebas dalam memilihnya
tanpa ada paksaan dari siapapun.
2. Mengakui Hak Setiap Orang
Suatu sikap mental yang mengakui hak setiap orang di dalam
menentukan sikap perilaku dan nasibnya masing-masing. Tentu saja sikap
atau perilaku yang dijalankan itu tidak melanggar hak orang lain, karena
kalau demikian, kehidupan di dalam masyarakat akan kacau.
3. Menghormati Keyakinan Orang Lain
Landasan keyakinan di atas adalah berdasarkan kepercayaan,
bahwa tidak benar ada orang atau golongan yang berkeras memaksakan
kehendaknya sendiri kepada orang atau golongan lain. Tidak ada orang
atau golongan yang memonopoli kebenaran dan landasan ini disertai
catatan bahwa soal keyakinan adalah urusan pribadi masing-masing orang.
4. Saling Mengerti
Tidak akan terjadi, saling menghormati antara sesama manusia bila
mereka tidak ada saling mengerti. Saling anti dan saling membenci, saling
berebut pengaruh adalah salah satu akibat dari tidak adanya saling
mengerti dan saling menghargai antara satu dengan yang lain.

H. Hambatan dalam Toleransi


Sikap toleransi dan peduli sosial yang merupakan jati diri bangsa
Indonesia kini mengalami penurunan.Meskipun pada masyarakat Kasaran lebih
mudah untuk mewujudkan sikap toleransi, namun masih ada kendala atau
hambatan diantaranya:

12

1. Manakala dari masing-masing tidak bisa mengendalikan diri dari sifat egois
yang cenderung tidak bisa menerima keberadaan keyakinan agama lain, dan
fanatisme yang tinggi yaitu sifat yang menonjolkan kebenaran keyakinannya
dan menyalahkan keyakinan orang lain.
2. Warga yang belum menyadari bahwa kita hidup dilingkungan masyarakat
yang plural, tidak bisa menerima perbedaan-perbedaan yang ada, menutup diri
dengan tetangganya.
3. Rendahnya sikap toleransi dan peduli sosial terhadap sesama ternyata juga
berimbas pada berbagai sendi kehidupan.
4. Carut-marutnya moralitas anak bangsa bisa diamati dalam kehidupan seharihari. Seperti pemberitaan media tentang semangat toleransi dalam kehidupan
berbangsa di kalangan pelajar semakin menurun.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Balitbang
Kemendikbud Hurip Danu Ismaji memaparkan bahwa Pada konflik sosial yang
terjadi ditengah masyarakat, acapkali pelajar tak sekedar menjadi penonton tetapi
sudah kerap ambil bagian secara aktif (http://www.poskotanews.com, 29
November 2013). Terbukti saat ini makin banyak pelajar terlibat dalam konflik
sosial seperti tawuran, geng motor dan tindak kekerasan lainnya. Hidup di tengahtengah perbedaan akan menyulitkan bagi individu yang tidak mampu menerima
dan menghargai perbedaan tersebut. Setiap individu di masyarakat memiliki ciri
khas, latar belakang, agama, suku dan bahasa yang berbeda.Banyaknya perbedaan
tersebut merupakan sebuah potensi yang dapat memicu konflik dan perpecahan di
masyarakat apabila tidak mampu disikapi secara bijak. Sebagai contoh yang lain,
banyak kerusuhan yang berbau SARA, Pertentangan antar kelompok masyarakat
makin meningkat, kebencian yang makin kuat terhadap etnik tertentu, kebencian
yang makin kuat terhadap sistem dan pelaksanaan program pemerintah yang
dinilai sangat sentralistik dan otoriter, geng motor yang anarkhis, dan tawuran
pelajar merupakan bukti nyata bahwa menghargai dan menghormati orang lain
sudah menjadi sesuatu yang sangat langka di negara Indonesia.

13

Kendala-kendala lain yang umumnya bisa menghambat pelaksanaan


toleransi antara lain:
1. Rendahnya Sikap Toleransi

Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam


komunikasi antar agama sekarang ini, khususnya di Indonesia, adalah
munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana
diungkapkan P. Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola
perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya
menyangkut persoalan teologi yang sensitif.Sehingga kalangan umat
beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan.
Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi
kemudian membiarkan satu sama lain bertindak dengan cara yang
memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi hanyalah perjumpaan tak
langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat menimbulkan
sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan
timbullah yang dinamakan konflik.
2. Kepentingan Politik
Faktor ini terkadang menjadi faktor penting sebagai kendala dalam
mncapai tujuan sebuah kerukunan antar umat beragama khususnya di
Indonesia.Muncul kekacauan politik yang ikut memengaruhi hubungan
antaragama.Seperti yang sedang terjadi di negeri kita saat ini.Tanpa politik
kita tidak bisa hidup secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu
membangun sebuah negara, tetapi banyak kepentingan politik dengan
mengatasnamakan agama.
3. Sikap Fanatisme
Di kalangan Islam, pemahaman agama secara eksklusif juga ada
dan berkembang. Bahkan akhir-akhir ini, di Indonesia telah tumbuh dan
berkembang pemahaman keagamaan yang dapat dikategorikan sebagai
Islam radikal dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan yang
menekankan praktik keagamaan tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran
agama seharusnya diadaptasikan dengan situasi dan kondisi masyarakat.

14

Mereka masih berpandangan bahwa Islam adalah satu-satunya agama


yang benar dan dapat menjamin keselamatan menusia. Jika orang ingin
selamat, ia harus memeluk Islam. Segala perbuatan orang-orang nonMuslim, menurut perspektif aliran ini, tidak dapat diterima di sisi
Allah.Pandangan-pandangan semacam ini tidak mudah dikikis karena
masing-masing sekte atau aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya,
juga memiliki agen-agen dan para pemimpinnya sendiri-sendiri.Islam
tidak bergerak dari satu komando dan satu pemimpin. Ada banyak aliran
dan ada banyak pemimpin agama dalam Islam yang antara satu sama lain
memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang
bertentangan. Tentu saja, dalam agama Kristen juga ada kelompok
eksklusif seperti ini. Kelompok Evangelis, misalnya, berpendapat bahwa
tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang percaya untuk
meningkatkan keimanan dan mereka yang berada di luar untuk masuk
dan bergabung. Bagi kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan
gereja yang akan dianugerahi salvation atau keselamatan abadi. Dengan
saling mengandalkan pandangan-pandangan setiap sekte dalam agama
teersebut, maka timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.

15

BAB 3
PEMBAHASAN
A. Pemahaman Toleransi Multikulturalisme Masyarakat di Indonesia
Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dari pulau sabang sampai
merauke, berbagai macam suku bangsa, ras, dan kebudayaan yang ada di Indonesia.
Bagaimana tidak? Indonesia yang posisinya sangat geografis dan berada di tengahtengah garis khatulistiwa. Indonesia juga mempunyai pulau terbanyak mencapai
ribuan, unik bukan?
Dari itu semua kita juga tahu bahwa Indonesia kaya akan alam yang indah
yang tidak ada di negara lain. Multikulral adalah budaya yang banyak dan berbedabeda, mulai dari masyarakat sosialnya, sukunya, budayanya, dan adatnya pun
berbeda. Dari hal ini lah kita perlu menamkan sikap toleransi dari berbagai aspek baik
agama maupun sosial budaya (Tobari, 2015, p. 1). Tak jarang kita temui banyak
terjadi konflik antar agama maupun budaya dan apa penyebabnya? Penyebabnya
yaitu tidak ada rasa kasing sayang dan empati. Bila sudah timbul rasa kasih sayang
maka akan tumbul sikap menghargai dan sikap toleransi di antara berbedanya suku,
budaya dan agama yang ada di Indonesia.
Masyarakat Indonesia sangat unik dengan keberagamannya, karakter warga
masyarakatnya juga berbeda dan unik sesuai dengan perkembangan wilayahnya dan
budayanya masing-masing. Dalam beberapa kasus yang dulu-dulu pernah terjadi, kita
sudah bahwa sudah banyak terjadi perang maupun konflik antar budaya maupun suku
yang sudah terjadi di Indonesia. Ini juga menjadi keresahan masyarakat Indonesia,
jangan-jangan nanti akan terjadi di wilayah tempat kita tinggal? Ya semua orang pasti
juga akan merasakan hal yang sama. Dimana perang yang terjadi ini sebenarnya
terjadi karena tidak adanya rasa saling mengerti dan percaya, dan juga tidak ada rasa
menghargai satu sama lain. Masing-masing menganggap bahwa budaya sendirilah
yang paling bagus atau yang paling benar atau paling bermartabat dari budaya yang
lain. Tidak adanya jalinan atau hubungan silaturahmi juga merupakan faktor
terjadinya konflik yang tidak bisa di prediksi. Artinya konflik-konflik yang terjadi

16

bisa saja terjadi begitu saja, lantaran ada salah satu pihak yang merasa terpancing
amarahnya aau merasa dilecehkan dan direndahkan bahwa budayanya itu rendah atau
tidak berguna sama sekali. Kepahaman akan multikulturalisme juga salah satunya.
Apabila kita mengetahui apa itu multikultural, maka kita juga akan memahami
multilkulturalisme. Multikulturalisme yaitu suatu paham yang meyakini dan
menerima bahwa kebudayaan itu beraneka ragam dan tidak hanya ada budaya sendiri.
Apabila sudah memahmi konsep ini maka masyarakt kita akan mudah untuk
saling menerima, menghargai, toleransi. Budaya juga merupakan hasil cipta rasa dan
karya manusia. Sekarang berapa jumlah manusia di Indonesia? Ini yang sering tidak
kita pahami, bahwa perbedaan itu sebenarnya indah dan unik. Kalau tidak ada
perbedaan maka kita tidak akan saling kenal karena kita tahu bahwa mereka juga
sama dengan kita. Dengan adanya perbedaan kita akan selalu penasaran seperti apa
kebudayaan yang lain dari kebudayaan kita? Seperti apa bahasa lokal daerah ini
daerah itu. Apabila kita sudah memahami konsep kebudayaan ini dan bahwa budaya
itu berbeda maka akan timbul rasa toleransi sedikit demi sedikit.
Toleransi ini juga merupakan dasar bagi kita untuk bisa menciptakan
kehidupan yang damai dan harmonis. Itu sudah menjadi keinginan semua manusia
untuk hidup damai dan sejahtera tanpa adanya konflik. Konflik ini menyebabkan
banyak sekali kerugian bahkan merenggut nyawa hanya karena konflik ini. Untuk
itulah mari kita sama-sama untuk memahami betapa pentingnya multikultural, karena
Indonesia masyarakatnya multikultural dan mempunyai keunikan tersendiri. Tak
dapat dipungkiri bahwa kita juga harus menerima Indonesia merupakan masyarakat
yang multikultural (Tobari, 2015, p. 1).

B. Faktor Penyebab Kurangnya Toleransi Multikulturalisme


Keanekaragaman budaya dan masyarakat dianggap pendorong utama munculnya
persoalan-persoalan bagi bangsa Indonesia. Contoh keanekaragaman yang berpotensi
menimbulkan permasalahan baru, sebagai berikut.
1. Keanekaragaman Suku Bangsa

17

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki kekayaan budaya yang
luar biasa banyaknya. Yang menjadi sebab adalah keberadaan ratusan suku bangsa
yang hidupdan berkembang di berbagai tempat di wilayah Indonesia. Kita bisa
membayangkan apa jadinya apabila masing-masing suku bangsa itu mempunyai
karakter, adat istiadat, bahasa, kebiasaan, dan lain-lain. Kompleksitas nilai, norma,
dan kebiasaan itu bagi warga suku bangsa yang bersangkutan mungkin tidak menjadi
masalah. Permasalahan baru muncul ketika suku bangsa itu harus berinteraksi sosial
dengan suku bangsa yang lain. Konkretnya, apa yang akan terjadi denganmu saat
harus bertemu dan berkomunikasi dengan temanmu yang berasal dari suku bangsa
yang lain?
2. Keanekaragaman Agama
Letak kepulauan Nusantara pada posisi silang di antara dua samudra dan dua
benua, jelas mempunyai pengaruh yang penting bagi munculnya keanekaragaman
masyarakat dan budaya. Dengan didukung oleh potensi sumber alam yang melimpah,
maka Indonesia menjadi sasaran pelayaran dan perdagangan dunia. Apalagi di
dalamnya telah terbentuk jaringan perdagangan dan pelayaran antarpulau. Dampak
interaksi dengan bangsa-bangsa lain itu adalah masuknya beragam bentuk pengaruh
agama dan kebudayaan. Selain melakukan aktivitas perdagangan, para saudagar
Islam, Hindu, Buddha, juga membawa dan menyebarkan ajaran agamanya. Apalagi
setelah bangsa Barat juga masuk dan terlibat di dalamnya. Agama-agama besar pun
muncul dan berkembang di Indonesia, dengan jumlah penganut yang berbeda-beda.
Kerukunan antarumat beragama menjadi idam-idaman hampir semua orang, karena
tidak satu agama pun yang mengajarkan permusuhan. Tetapi, mengapa juga tidak
jarang terjadi konflik atas nama agama?
3. Keanekaragaman Ras
Salah satu dampak terbukanya letak geografis Indonesia, banyak bangsa luar yang
bisa masuk dan berinteraksi dengan bangsa Indonesia. Misalnya, keturunan Arab,
India, Persia, Cina, Hadramaut, dan lain-lain. Dengan sejarah, kita bisa merunut
bagaimana asal usulnya.Bangsa-bangsa asing itu tidak saja hidup dan tinggal di

18

Indonesia, tetapi juga mampu berkembang secara turun-temurun membentuk


golongan sosial dalam masyarakat kita. Mereka saling berinteraksi dengan penduduk
pribumi dari waktu ke waktu. Bahkan ada di antaranya yang mampu mendominasi
kehidupan perekonomian nasional. Misalnya, keturunan Cina. Permasalahannya,
mengapa sering terjadi konflik dengan orang pribumi?
Dari keterangan-keterangan tersebut terlihat bahwa bangsa Indonesia terdiri
atas berbagai kelompok etnis, agama, budaya yang berpotensi menimbulkan konflik
sosial.
Berkaitan dengan perbedaan identitas dan konflik sosial muncul tiga
kelompok sudut pandang yang berkembang, yaitu:
1. Pandangan Primordialisme
Kelompok ini menganggap perbedaan-perbedaan yang berasal dari genetika
seperti suku, ras, agama merupakan sumber utama lahirnya benturan-benturan
kepentingan etnis maupun budaya.
2. Pandangan Kaum Instrumentalisme
Menurut mereka, suku, agama, dan identitas yang lain dianggap sebagai alat
yang digunakan individu atau kelompok untuk mengejar tujuan yang lebih besar baik
dalam bentuk materiil maupun nonmateriil.
3. Pandangan Kaum Konstruktivisme
Kelompok ini beranggapan bahwa identitas kelompok tidak bersifat kaku,
sebagaimana yang dibayangkan kaum primordialis. Etnisitas bagi kelompok ini dapat
diolah hingga membentuk jaringan relasi pergaulan sosial. Oleh karena itu, etnisitas
merupakan sumber kekayaan hakiki yang dimiliki manusia untuk saling mengenal
dan memperkaya budaya. Bagi mereka persamaan adalah anugerah dan perbedaan
adalah berkah.
Kemudian dalam jurnal (Arifudin, 2007, p. 5) dijelaskan terdapat beberapa
sikap yang menyebabkan kurangnya toleransi dalam multikulturalisme di Indonesia,

yaitu:

19

1. Primordialisme artinya perasaan kesukuan yang berlebihan. Menganggap suku


bangsanya sendiri yang paling unggul, maju, dan baik. Sikap ini tidak baik untuk
dikembangkan di masyarakat yang multicultural seperti Indonesia. Apabila sikap
ini ada dalam diri warga suatu bangsa, maka kecil kemungkinan mereka untuk
bisa menerima keberadaan suku bangsa yang lain.
2. Etnosentrisme artinya sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat
dan kebudayaannya sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang
meremehkan masyarakat dan kebudayaanyang lain. Indonesia bisa maju dengan
bekal kebersamaan, sebab tanpa itu yang muncul adalah disintegrasi sosial.
Apabila sikap dan pandangan ini dibiarkan maka akan memunculkan
provinsialisme yaitu paham atau gerakan yang bersifat kedaerahan dan
eksklusivisme yaitu paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan
diri dari masyarakat.
3. Diskriminatif adalah sikap yang membeda-bedakan perlakuan terhadap sesama
warga negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku bangsa, ekonomi, agama,
dan lain-lain. Sikap ini sangat berbahaya untuk dikembangkan karena bisa
memicu munculnya antipati terhadap sesame warga Negara.
4. Stereotip adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka
yang subjektif dan tidak tepat. Indonesia memang memiliki keragaman suku
bangsa dan masing-masing suku bangsa memiliki cirri khas. Tidak tepat apabila
perbedaan itu kita besar-besarkan hingga membentuk sebuah kebencian
Multikulturalisme

adalah

sebuah

ideologi

yang

mengakui

dan

mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun


secara kebudayaan. Dalam multikulturalisme, sebuah masyarakat (termasuk juga
masyarakat Indonesia) dilihat sebagai sebuah kebudayaan yang berlaku umum
dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mozaik. Di dalam
mozaik tercakup semua kebudayaan dari masing-masing suku bangsa yang sangat
jelas dan belum tercampur oleh warna budaya lain membentuk masyarakat yang
lebih besar.Ide multikulturalisme menurut Taylor merupakan suatu gagasan untuk

20

mengatur

keberagaman

dengan

prinsip-prinsip

dasar

pengakuan

akan

keberagaman itu sendiri (politics of recognition).

C. Solusi bagi Toleransi dalam Multikulturalisme di Indonesia


Indonesia adalah suatu negara yang terdiri dari berbagai kelompok etnis,
budaya, suku, dan agama sehingga Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai
masyarakat multikultural. Akan tetapi, di lain pihak, realitas multikultural tersebut
berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali kebudayaan
nasional Indonesia yang dapat menjadi integrating force yang mengikat seluruh
keragaman etnis dan budaya tersebut. Karena masyarakat Indonesia merupakan
masyarakat yang majemuk, maka dari itu agar kemajemukan ini tidak berkembang
menjadi ancaman disintegrasi harus diupayakan untuk dikelola. Proses pembelajaran
tentang manusia Indonesia harus merupakan mata pelajaran wajib di seluruh
tingkatan jenjang pendidikan.
Guru, kurikulum, sarana-prasarana, Garis Besar Pedoman Pengajaran dan
berbagai hal yang diperlukan untuk suatu proses pembelajaran yang mendukung
multikulturalisme harus disediakan oleh Negara, karena Negara adalah otoritas
tertinggi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Untuk membentuk manusia Indonesia yang bercirikan ke-Indonesiaan
diperlukan adanya penyeragaman dalam beberapa mata pelajaran yang berdifat umum
seperti Bahasa Indonesia. Selain tentunya mata pelajaran yang mutlak harus diberikan
untuk membentuk karakter manusia Indonesia. Selain tentunya mata pelajaran olah
raga dan kesenian. Selama ini proses pembelajaran lebih cenderung mengupayakan
penyeragaman, dan kurang memperhatikan keragaman masyarakat bangsa Indonesia
(Sudiadi, 2009, p. 38).
Pendidikan multikultural tersurat dalam beberapa pasal Undang-Undang
Sisdiknas,antara lain pasal 3 yang menyatakan bahwa: "Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

21

bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi waga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."
Kalimat menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
menunjukkan adanya tekad untuk melaksanakan pendidikan multikultur.
Lebih lanjut dalam pasal 4 menegaskan bahwa pentingnya pendidikan
multikultur dalam rangka mendukung proses demokratisasi dan dalam rangka
terciptanya integritas nasional.
Pendidikan multikultural dapat didefinisikan sebagai pendidikan untuk atau
tentang keragaman kebudayaan dalam merespon perubahan demografis dan kultural
lingkungan masyarakat tertentu bahkan dunia secara keseluruhan. Hal ini sejalan de
ngan pendapat Paulo Freire, pendidikan bukan merupakan menara gading yang
berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya, harus mampu
menciptakan tatanan masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagai
akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya.
Dari definisi tentang multicultural education terlihat bahwa muncul multi
cultural education sangat relevan dilaksanakan dalam mendukung proses
demokratisasi, dimana adanya pengakuan hak asasi manusia, tidak adanya
diskriminasi dan diupayakannya keadilan sosial. Disamping itu dengan pendidikan
multikulturalini dimungkinkan seseorang dapat hidup dengan tenang di lingkungan
kebudayaan yang berbeda dengan yang dimilikinya (Freire, 2002, p. 19).
Selanjutnya James Banks (1994) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural
memiliki lima dimensi yang saling berkaitan :
1. Content Integration
Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep
mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu.
2. The Knowledge Construction Process
Membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata
pelajaran (disiplin).
3. An Equity Paedagogy
Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka
memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya
ataupun social.

22

4. Prejudice Reduction
Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran
mereka.
5. Melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, berinteraksi
dengan seluruh staff dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya
menciptakan budaya akademik.
Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural, yaitu :
Pertama, tidak lagi terbatas pada menyamakan pandangan pendidikan
(education) dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan
program-program sekolah formal. Pandangan yang lebih luas mengenai pendidikan
sebagai transmisi kebudayaan membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung
jawab primer menegmbangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik
semata-mata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang
bertanggung jawab karena program-program sekolah seharusnya terkait dengan
pembelajaran informal di luar sekolah.
Kedua, menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan kebudayaan
dengan kelompok etnik adalah sama. Artinya, tidak perlu lagi mengasosiasikan
kebudayaan semata-mata dengan kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi
selama ini. secra tradisional, para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya
dengan kelompok-kelompok sosial yang relatif self sufficient, ketimbang dengan
sejumlah orang yang secara terus menerus dan berulang-ulang terlibat satu sama lain
dalam satu atau lebih kegiatan. Dalam konteks pendidikan multikultural, pendekatan
ini diharapkan dapat mengilhami para penyusun program-program pendidikan
multikultural untuk melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara
stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi
pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak
didik dari berbagai kelompok etnik.
Ketiga, karena pengembangan kompetensi dalam suatu kebudayaan baru
biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki
kompetensi, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa uapaya-upaya untuk mendukung

23

sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan


pendidikan multikultural. Mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok
adalah menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru. Pendidikan bagi
pluralisme budaya dan pendidikan multikultural tidak dapat disamakan secara logis.
Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa
kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi.
Kelima, kemungkinan bahwa pendidikan bahwa pendidikan (baik dalam
maupun luar sekolah) meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa
kebudayaan. Kesadaran seperti ini kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi
budaya atau dikhotomi antara pribumi dan non-pribumi. Dikotomi semacam ini
bersifat

membatasi

individu

untuk

sepenuhnya

mengekspresikan

diversitas

kebudayaan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran akan multikulturalisme sebagai


pengalaman normal manusia.
Mengenai fokus pendidikan multikultural, H.A.R. Tilaar mengungkapkan
bahwa dalam program pendidikan multikultural, fokus tidak lagi diarahkan sematamata kepada kelompok sosial, agama, dan kultural mainstream. Pendidikan multikul
tural sebenarnya merupakan sikap peduli dan mau mengerti ataupun pengakuan
terhadap orang lain yang berbeda. Dalam konteks itu, pendidikan multikultural
melihat masyarakat secara lebih luas. Berdasarkan pandangan dasar bahwa sikap
indeference dan non-recognition tidak hanya berakar dari ketimpangan struktur rasi
al, tetapi paradigma pendidikan multikultural mencakup subjek- subjek mengenai
ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, dan keterbelakangan kelompok-kelompok
minoritas dalam berbagai bidang, baik itu sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan
sebagainya . Dalam konteks deskriptif, pendidikan multikultural seyogyanya
berisikan tentang tema-tema mengenai toleransi, perbedaan ethno-cultural dan
agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, hak asasi manusia,
demokratisasi, pluralitas, kemanusiaan universal, d an subjek-subjek lain yang
relevan.
Adapun pelaksanaan pendidikan multikultural tidaklah harus mengubah
kurikulum. Pelajaran pendidikan multikultural dapat terintegrasi pada mata pelajaran

24

lainnya. Hanya saja diperlukan pedoman bagi guru untuk menerapkannya. Yang
utama k epada para siswa perlu diajari mengenai toleransi, kebersamaan, HAM,
demokratisasi, dan sal ing menghargai. Hal tersebut sangat berharga bagi bekal hidup
mereka di kemudian hari dan sangat penting untuk tegaknya nilai-nilai kemanusiaan.
Sekolah memegang peranan penting dalam menanamkan nilai multikultural
pada siswa sejak dini. Bila sejak awal mereka telah memiliki nilai-nilai kebersamaan,
toleran, cinta damai, dan menghargai perbedaan, maka nilai-nilai tersebut akan
tercermin pada tingkah-laku mereka seharihari karena terbentuk pada kepribadiannya.
Bila hal tersebut berhasil dimiliki para generasi muda kita, maka kehidupan
mendatang dapat diprediksi aka n relatif damai dan penuh penghargaan antara sesama
dapat terwujud. (Arifudin, 2007, p. 2)
Pelaksanaan pendidikan multikulturalisme di sekolah harus menanamkan
nilai-nilai kebersamaan, toleran, dan mampu menyesuaikan diri dalam berbagai
perbedaan. Proses pendidikan ke arah ini dapat ditempuh dengan pendidikan
multikultural. Pendidikan multikultural merupakan proses penanaman cara hidup
menghormati, tulus, dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah
tengah masyarakat plural. Dengan pendidikan multikultural diharapkan mampu
menanamkan kesadaran akan pentingnya sikap toleransi dalam kehidapan
bermasyarakat kepada masyarakat Indonesia khususnya generasi penerus bangsa
adanya kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik sosial.
Kemudian sumber lain menjelaskan bahwa masyarakat multikulturalisme
harus mengembangkan sikap yang saling memahami dan saling menghargai antar
individu maupun kelompok yang beranekaragam tersebut. Langkah terbaik di
antaranya adalah mengedepankan komunikasi yang intensif dan dialogis di antara
individu dan kelompok-kelompok tersebut. Sikap menghargai perbedaan dan
menerima kenyataan bahwa setiap manusia adalah unik dengan keinginan, persepsi,
dan demokratis dalam masyarakat yang beranekaragam. Berikut ini adalah solusi agar
sikap toleransi senantiasa dapat terbentuk, yaitu:

25

1. Mengembangkan sikap saling menghargai terhadap nilai-nilai dan norma social


yang berbeda dari anggota-anggota masyarakat yang kita temui, tidak
mementingkan kelompok, ras, etnik, atau kelompok agamanya sendiri dalam
menjalankan tugas-tugasnya.
2. Meninggalkan sikap primodialisme, terutama sikap yang menjurus pada sikap
etnosentrisme dan sikap yang berlebih-lebihan.
3. Menegakkan peraturan perundang-undangan kepada semua warga Negara tanpa
memandang kedudukan social, ras, etnik, dan agama yang mereka anut.
4. Mengembangkan rasa nasionalisme teruttamaa melalui penghayatan wawasan
berbangsa dan bernegara.
5. Menyelesaikan semua konflik dengan cara akomodatif melalui mediasi,
kompromi dan adjudikasi.
6. Mengembangkan kesadaran social dan menyadari peranan bagi setiap individu
terutamma para pemegang kekuasaan dan penyelenggaraan Negara secara secara
formal.
Di era reformasi menuju Indonesia baru mari kita berupaya semain
meningkatkan kualitas hidup. Salah satunya adalah bagaimana seharusnya kita bina
ataau menjalin hubungan toleransi dengan benar. Kita perlu dan wajib membina dan
menjalin kehidupan dengan sikap toleransi. Kita sebagai manusia yang secara kodrat
tiddak bisa hidup sendiri. Hal ini berarti seseorang tidak bisa hidup tanpa bantan dari
orang lain atau dengan kata lain tidak bisa hidup sendirian, tetapi kita sebagai
manusia tidak pernah lepas dari berteman, bertetangga. Sikap dan perilaaku toleransi
dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, lingungan masyarakat, bahkan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dari beberapa penjelasan diatas mengenai solusi untuk menanamkan sikap
toleransi dalam masyarakat multikultural, dapat disimpulkan bahwa dengan melalui
pendidikan multukulturalisme, maka masyarakat Indonesia akan memahami dan
menanamkan sikap toleransi sosial yakni sikap yang menghargai perbedaanperbedaan sosial yang terdapat dalam masyarakat. Kemudian masyarakat dapat
menyadari akan suatu keadaan ketika seseorang berusaha memahami perbedaan-

26

perbedaan sosial yang ada dalam masyarakat dengan cara menempatkan dirinya
sebagai individu atau kelompok yang berbeda tersebut. Sehingga masyarakat
Indonesia

akan

terhindar

dari

problematika

ataupun

konflik-konflik

yang

kemungkinan terjadi pada masyarakat multikultural.

D. Studi Kasus (Peristiwa Ambon-Maluku)


1) Pembahasan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti akar persoalan
sumber konflik di Maluku Utara seperti halnya yang terjadi di Maluku Tengah,
tidaklah tunggal. Persoalan kesenjangan sosial, perebutan sumberdaya alam serta
pertikaian elite politik dan birokrasi merupakan faktor pembungkus konflik agama
yang selama diyakini oleh sebagian besar masyarakat baik dalam konteks nasional
maupun dalam konteks lokal. Dalam konteks lokal, setidaknya ada dua faktor penting
yang mendasari konflik di wilayah ini yaitu : (1) Rivalitas elite dalam merebutkan
pengelolaan sumberdaya alam dan jabatan-jabatan birokrasi serta politik, (2)
Menguatnya etnosentrisme sebagai alat untuk merebutkan sumber-sumber ekonomi
dan politik.
Untuk melihat sumber konflik yang terjadi di Maluku Utara (1999-2004)
penulis melihat dari tiga gelombang pertikaian yang di Jelaskan oleh Tamrin Amal
Tamagola. Tamagola (Tamrin Amal Tamagola, Halmahera Berdarah, Ketika
Semerbak Cengkeh Tergusur Asap Mesiu, Jakarta, tapak Ambon 2001, hal.
86.) membagi konflik di Maluku Utara dalam tiga gelombang pertikaian yang di

mulai yang di mulai pada bulan Agustus 1999 dan berakhir di sekitar bulan Maret
2000. Gelombang pertama dan kedua terjadi atau berawal dari kecamatan Malifut di
teluk Koa, yang kemudian menyebar ke Ternate, Tidore, dan wilayah lain di Maluku
Utara. Gelombang ketiga kerusuhan kembali ke desa-desa Muslim di Kecamatan
Tobelo yang berada di Teluk Kao. Tetapi setelah itu masih terjadi berbagai
penyerbuan ke wilayah-wilayah Kristen dengan korban dan kerugian yang cukup
besar, bahkan sempat meluluh lantakan desa Duma di kecamatan Galela, Halmahera

27

Utara yang menjadi simbol perkembangan agama Kristen di wilayah ini. Karena
kejadian ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan ketiga gelombang
sebelumnya, maka penyerangan ke Duma ini diusulkan sebagai gelombang atau
periode konflik yang ke empat.
2) Penyebab Konflik di Maluku Utara

Sumber konflik Maluku Utara (1999-2000) adalah adanya kebangkitan


Etnosentrisme, hal ini banyak dilakukan oleh elite-elite lokal untuk kepentingan
pribadi bahkan sebagai mesin politik untuk merebutkan posisi-posisi politik. Gejala
ini misalnya terlihat dari : Pertama, kentalnya mobilisasi massa atas nama adat yang
terlihat dalam pembentukan Pasukan Kuning (Kesultanan Ternate) dan Pasukan Putih
(Kesultanan Tidore) dalam perebutan jabatan kursi Gubernur Maluku Utara. Kedua
adanya upaya untuk memunculkan kembali kesultanan-kesultanan lama yang sudah
vakum berpuluh-puluh tahun seperti kesultanan Bacan dan Jailolo dalam proses
perebutan kursi di DPRD setempat.
Penguatan etnosentrisme sebagai alat manipulasi dalam perebutan jabatan-jabatan
politis di tingkat lokal ini biasanya dilakukan dengan memunculkan kembali tentang
kejayaan masa lalu dan penegasan bahwa berbagai persoalan yang terjadi pada masa
lalu sesungguhnya belum selesai hingga saat ini. Berbagai persoalan tersebut antara
lain : 1) Pertentangan Ternate dan Tidore, 2) eksentasi Wilayah Adat, dan 3) Konflik
masalah agama yang sesungguhnya hanya merupakan pembentukan stereotipe guna
mempertahankan atau memperluas teritori kesultanan.
Sumber utama dari konflik yang terjadi di Maluku Utara (1999-2004) adalah
persaingan dua kubu dalam memperebutan kekuasaan di Maluku Utara antara kubu
Sultan Ternate dan kubu Selatan. Kelompok Selatan terdiri dari suku pendatang dan
pulau Tidore yang berada di Selatan pulau Ternate. Tokoh-tokoh dari kelompok
Selatan adalah Sekwilda Maluku Utara I Taib Armayn, Walikota Ternate Syamsir
Andili, Bupati Maluku Utara Asegaf, Bupati Halmahera Tengah Bahar Andili.
Sedangkan kubu Sultan terdiri dari Sultan Ternate Mudaffar Syah, dewan adat,

28

masyarakat pendatang, warga Ternate bagian Utara, masyarakat Kristen di Halmahera


Utara.
Isu-isu yang digunakan dalam pertikaian dua kubu ini adalah :
a. Isu Malifut sebagai ibukota calon kabupaten Maluku Utara
b. Isu Perebutan kursi gurbenur Maluku Utara
c. Isu penempatan Ibu kota propinsi
d. Isu pembentukan Kabupaten Makian Daratan (Malifut)
e. Pembentukan Kesultanan Tidore sebagai penyeimbang kekuatan Kesultanan
Ternate.

29

BAB 4
PENUTUP
A. KESIMPULAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Multikultural bagi Indonesia merupakan suatu strategi dan integrasi sosial di


mana keanekaragaman budaya benar diakui dan dihormati, sehingga dapat
difungsikan secara efektif dalam mengatasi setiap isu-isu separatisme dan disintegrasi
sosial. Multikulturalisme mengajarkan semangat kemanunggalan atau ketunggalan
(tunggal ika) yang paling potensial akan melahirkan persatuan kuat, tetapi pengakuan
adanya pluralitas (Bhinneka) budaya bangsa inilah yang lebih menjamin persatuan
bangsa.
Konflik-konflik yang terjadi di Indonesia umumnya muncul sebagai akibat
keanekaragaman etnis, agama, ras, dan adat, seperti yang mendasari konflik di daerah
Maluku Utara dan Maluku Tengah. Tapi Seharusnya keberagaman dan perbedaan
Indonesia harus di jaga agar dengan adanya perbedaan dalam kebudayaan membuat
Indonesia semakin kaya dan sesuai dengan semboyan Negara Indonesia yaitu
bhineka tunggal ika (berbeda tetapi satu tujuan). Solusi untuk menghadapi konflik
akibat multikulturalisme diantaranya:
Memberikan Toleransi yang tinggi terhadap kebudayaan yang berbeda
dengan kebudayaan kita
Menghargai suku,agama,dan ras yang berbeda
Jika permasalahnnya karena miss communication bisa dengan mengadakan mediasi
antar kepala suku atau kepala daerah yang ada di daerah sampit
Pemerintah harus lebih telaten dalam mengurusi masalah-masalah yang ada di sudutsudut Negara, jangan hanya terpaku pada ibu kota saja
Pemerintah harus lebih peka dan adil dalam pembuatan peraturan-peraturan agar
tidak ada yang merasa di anak tirikan dan merasa tidak di perdulikan oleh
pemerintah.
Perbaikan pada manajemen konflik agar mampu mengurangi konflik yang terjadi
antara kelompok minoritas dengan minoritas maupun antara kelompok minoritas
dengan mayoritas.
Diadakannya pendidikan multikultural sebagai pengembangan pola positif
masyarakat pada masyarakat.
Mengenali dan mencintai budaya lain dengan pengenalan budaya.
Pendidikan di Indonesia yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam ras,
suku budaya, bangsa, dan agama dirasa penting untuk menerapkan pendidikan
multikultural.Karena tidak dapat dipungkiri bahwa dengan masyarakat Indonesia
yang beragam inilah seringkali menjadi penyebab munculnya berbagai macam
konflik.

30

B. SARAN
Indonesia adalah bangsa yang multikultural, bangsa yang berdiri dari bebagai
macam suku, budaya, ras dan berbagai bahasa. Namun hal tersebut tidak menutup
kemungkinan bagi kita sebagai bangsa indonesia untuk bersatu dan berjuang untuk
bangsa yang terdiri dari bermacam-macam kultur ini. Kita harus bersatu agar duduk
sama rendah dan berdiri sama dengan bangsa yang lain dan bersama-sama, bergotong
royong untuk mengangkat martabat bangsa Indonesia di mata dunia.Untuk itu sebagai
warga Negara yang cinta tanah air kita harus menjaga keanekaragaman kebudayaan
kita. Kita dianjurkan untuk hidup saling berdampingan satu sama lain sehingga tidak
ada pertengkaran dan perpecahan.

31

32

DAFTAR PUSTAKA
Arifudin, I. (2007). Urgensi Implementasi Pendidikan Multikultural di Sekolah.
Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan , 220-233.
Hasyim, U. (1972). Toleransi dan Kemerdekaan Beragama dalam Islam Sebagai
Dasar Menuju Dialog dan Kerukunan Antar Agama. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Munawar, P. D. Fikih Hubungan Antar Agama . Jakarta: Ciputat Press.
Porwadarminta, W. (1986). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sudiadi, D. (2009). Menuju Kehidupan Harmonis dalam Masyarakat yang Majemuk.
Jurnal Kriminologi Indonesia , 33-42.
Tobari, A. (2015, April 11). Pentingnya Sikap Toleransi dalam Multikulturalisme
Bangsa

Indonesia.

Retrieved

April

25,

2016,

from

Kompasiana:

www.kompasiana.com/alantobari/pentingnya-sikap-toleransi-dalammultikultural-bangsa-indonesia_5535a7426ea8348216a4e8

33

LAMPIRAN
Contoh problematika multikulturalisme di Indonesia

34

35