Anda di halaman 1dari 26

BAB II

ANALISIS SITUASI
A Visi dan Missi Puskesmas Poasia
Puskesmas Poasia mempunyai rencana strategis, untuk pengembangan
kedepan hal tersebut Puskesmas Poasia mempunyai Visi dan Misi yaitu:
1. Visi
Visi Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas
adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat.
Kecamatan sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang
ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang
hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku yang sehat, memiliki
kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara
adil dan merata serta memiliki derajat kesehatansetinggi-tingginya.
2. Misi
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna, bermutu, manusiawi,
serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
b. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia dalam pelaksanaan
pelayanan kesehatan.
c. Meningkatkan pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan
sehingga masyarakat bisa mandiri.
d. Menjalin kemitraan dengan semua pihak yang terkait dalam pelayanan
kesehatan masyarakat.
B Motto
Puskesmas Poasia

mempunyai motto dan janji serta etika Pegawai

Puskesmas poasia yaitu:


SENYUM

: Kepada setiap pengguna jasa pelayanan kesehatan di


puskesmas poasia.

SALAM

: Kepada setiap pasien yang berkunjung ke puskesmas.

SAPA

: Kepada setiap pengunjung yang membutuhkan pelayanan


kesehatan di Puskesmas Poasia.

SANTUN

: Kepada setiap orang yang berkunjung di Puskesmas.

SABAR

: Melayani setiap pasien dalam keadaan apapun.

C Tugas Pokok Dan Fungsi Puskesmas


1. Tugas Pokok
Puskesmas

mempunyai

wewenang

dan

tanggung

jawab

atas

pelayanan, pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.


2. Tujuan
Puskesmas

kecamatan

poasia

kemampuan untuk hidup sehat

bertujuan

yakni

tercapainya

bagi setiap penduduk agardapat

mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah


satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.
3. Fungsi
a.

Sebagai Pusat Pengembangan Kesehatan Masyarakat di wilayah


kerjanya

b.

Membina peran serta masyarakat diwilayah kerjanya dalam rangka


meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.

c.

Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu


kepada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Poasia.

D Lingkungan
Keadaan dan kondisi geografis
Puskesmas Poasia terletak di Kecamatan Poasia Kota kendari, sekitar 9
KM dari Ibukota Propinsi. Sebagian besar wilayah kerja merupakan dataran
rendah dan sebagian merupakan perbukitan sehingga sangat ideal untuk
pemukiman. Di bagian utara berbatasan dengan Teluk Kendari yang sebagian
besar berupa hamparan empang. Pada bagian barat yang mencakup 2

kelurahan (Kelurahan Anduonohu dan Kelurahan Rahandouna) merupakan


daerah dataran yang ideal untuk pemukinan sehingga sebagian besar penduduk
bermukin di kedua kelurahan tersebut. Pada bagian timur merupakan daerah
perbukitan, yang semua daerah tersebut dapat dilihat pada penjelasan dibawah
ini:
a

Sebelah Utara berbatasan dengan Teluk Kendari

Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Abeli

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo

Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kambu.


Luas wilayah kerja Puskesmas Poasia sekitar 4.175 Ha atau 44.75. KM
2

atau 15,12 % dari luas daratan Kota Kendari terdiri dari 4 Kelurahan
definitif, Yaitu

Anduonohu

luas 1.200 Ha, Rahandouna luas 1.275 Ha,

Anggoeya luas 1.400 Ha dan Matabubu luas 300 Ha. dengan 82 RW/RK
dengan jumlah penduduk 25.474 jiwa serta tingkat kepadatan penduduk 49
2

orang/m atau 490 orang/KM , dengan tingkat kepadatan hunian rumah ratarata 5 orang/rumah.

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Poasia Tahun 2015


PASIEN DATANG

PASIEN PULANG

LOKET

APOTEKK

POLI UMUM
POLI KIA
KLINIK GIZI
POLI GIG
KLINIK SANITASI
KLINIK PSIKOLOGI

LABORATORIUM

Gambar 2. Bagan Alur Pelayanan Rawat Jalan

BILA ADA MASALAH


DI UNIT PELAYANAN

LOKET PENGADUAN

KOTAK SARAN

PELAYANAN LANGSUNG

JAWABAN DI PAPAN INFO

PUAS

TIDAK PUAS ALHAMDULILLAH

KEPALA PUSKESMAS

KA DINKES

Gambar 3.Alur Pengaduan Masyarakat

TIDAK

10

Kepala Puskesmas
dr.H.Juriadi Paddo, M.Kes

Sekretaris
Muhammad Jaya
Keuangan
Naomi SE

Upaya kesehatan
masyarakat

Pengembangan
1. Prog. Kesehatan
Jiwa Rabiah,
S.Kep
2.Prog.Kesehatan
Gigi
drg. Eka
4. Lansia

Upaya kesehatan
perorangan

Esensial
1. Promkes
Hendra, Amd. Keb
2. Kesling
Fitri, SKM
3. KIA-KB
Salvia, Amd. Keb
4. Program Gizi
Nurasia, AMG
5. P2M
Agustina Kofi,

1. Poli umum
dr.Sunarni
2. Poli gigi
dr.Eka
3.UGD
dr.zahra
4.Klinik Gizi
Nurasia,
AMG

Kepegawaian
Ahmanur SPd

Jejaring pel. Puskesmas

5. PP
Dewi,Amd
6. RI
Aswar
7. PK
Rini,Apt
8. Lab.
Marlina

1.Pustu
Rabiatul, S.Kep
2. Puskel
Juli, Amd.Kep
3. Bidan Desa
a. Andonohu:
b. Rahandouna
c. Anggoeya
d. Matabubu

Keterangan (PP=Pelayanan Persalinan, RI= Rawat Inap, PK=Pelayanan Kefarmasian, UGD=Unit Gawat Darurat)
Gambar 4. Struktur Organisasi

11

A. Keadaan Penduduk
Penduduk adalah orang atau sejumlah orang yang menempati suatu wilayah
tertentu dalam jangka waktu tertentu. Data tentang kependudukan sangat
penting artinya di dalam menghitung sebaran jumlah penduduk, usia penduduk,
pekerjaan, pendapatan dan pendidikan. Data ini bisa diperoleh dari laporan
penduduk, sensus penduduk dan survei penduduk.Data yang bisa ditampilkan
untuk melihat keadaan demografi di wilayah kerja Puskesmas Poasia adalah:
1. Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk disini adalah jumlah orang yang menempati suatu
wilayah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Kepadatan penduduk
dinyatakan dalam satuan orang / Km.
Jumlah Penduduk
Luas Wilayah

Kepadatan penduduk =

27.054 Orang / Km 2
4.175 Ha

x 100

27.054orang
417,5 Km
=
2

= 64Orang/Km
Tabel 1. Distribusi Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Poasia Tahun 2016
NO
1
2
3
4

KELURAHAN

PRIA

ANDUONOHU
5577
RAHANDOUNA
6168
ANGGOEYA
2799
MATA BUBU
714
TOTAL
15258
Sumber: Data Sekunder Kecamatan Tahun 2016

WANITA

TOTAL

5485
5836
2671
682
14674

11062
12004
5470
1396
29932

12

2. Natalitas (kelahiran)
Angka yang menunjukkan laju kelahiran dengan banyaknya bayi yang
dilahirkan untuk setiap 1000 orang penduduk/tahun. Laju kelahiran ini
disebut juga tingkat kelahiran atau fertilitas.

Jumlah Bayi Lahir Hidup


x1000
Jumlah Penduduk
Natalitas (n)

533
x1000
25.474
= 20,92

Kriteria Laju Kelahiran:


1. < dari 20 tergolong rendah
2. Antara 20-30 tergolong sedang
3. Di atas 30 tergolong tinggi
Tabel 2. Distribusi Jumlah Kelahiran Menurut Jenis Kelamin PerKelurahan
Puskesmas Poasia Tahun 2015
Jumlah Kelahiran
No
1
2
3
4

Kelurahan
Anduonohu
Rahandoun
a
Anggoeya
Matabubu
Jumlah

Laki-Laki

Perempuan
H M
100 0

H+M
100

LakiLaki+Perempuan
H
M
H+M
195
0
195

H
95

M
0

H+M
95

191

120

94

95

213

215

51
9
274

0
0
1

51
9
275

48
15
257

0
0
1

48
15
258

99
24
531

0
0
2

99
24
533

Sumber: Data Sekunder Kecamatan Tahun 2015


Ket :
H = Hidup
M = Mati
Angka kelahiran atau fertilitas di wilayah kerja Puskesmas Poasia sebesar
20,92 per 1000 penduduk, tergolong pada laju kelahiran sedang.
3. Mortalitas (M) atau kematian

13

Adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian untuk setiap


1000 orang penduduk per tahun.
Jumlah Kematian
Jumlah Penduduk

Mortalitas (M)

x 1000

2
x 1000
27.054

= 0,07
Kriteria:
a. < dari 14 tergolong rendah
b. antara 14-18 tergolong sedang
c. diatas 18 tergolong tinggi
Angka kematian diwilayah Puskesmas Poasia sebesar 0,08 per 1000
orang penduduk per tahun tergolong rendah.
Tabel 3. Distribusi Angka Kematian Menurut Kelurahan Di Puskesmas
Poasia Tahun 2015
No
1

Kelurahan
Anduonohu
Rahandoun

Jumlah kematian
0

(%)
0

2
3
4

a
2
0,01
Anggoeya
0
0
Mata Bubu
0
0
Total
2
0
Sumber: Data sekunder PKM KIA 2015

Jumlah Penduduk
10.000
10.852
4.645
1.261
27.054

Proporsi kematian yang adalah Kelurahan Rahandouna masing-masing


sebanyak 2 kematian atau 0,01% sedangkan kelurahan lain tidak terdapat
kematian pada tahun 2015.(Profil Puskesmas 2015)

14

Tabel 4. Distribusi Laju Kematian Kasar, Kelahiran, Kematian Bayi Di


Puskesmas Poasia Tahun 2015
No
1
2
3

Indikator
Laju Kematian Kasar per 1000 penduduk
Laju Kematian Bayi per 1000 penduduk
Laju Kelahiran Normal per 1000
penduduk

Tahun 2015
2
2
533

Sumber : Data sekunder KIA Puskesmas Poasia 2015


B. Data Kesehatan Lingkungan
Di wilayah Kerja Puskesmas Poasia secara rutin dilakukan survey PHBS
untuk menilai perilaku masyarakat sehubungan dengan masalah kesehatan.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan 10 indikator perilaku hidup bersih
dan sehat. Hasil penilaian tiap indikator digunakan untuk menentukan
klasifikasi tiap rumah tangga.
Indikator PHBS
1

Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan

Memberi bayi ASI Eksklusif

Menimbang balita setiap bulan

Menggunakan Air Bersih

Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

Menggunakan jamban sehat

Memberantas jentik di rumah

Makan sayur dan buah setiap hari

Melakukan aktifitas fisik setiap hari

10 Tidak merokok di dalam rumah.

Tabel 5. Cakupan Pemeriksaan dan Rumah Sehat per kelurahan di kecamatan


Poasia tahun 2015
N
O

KELURAHAN
JUMLA

DIPERIKS

RUMAH
%

JUMLA

15

H
RUMA

DIPERIKS

RUMA

YANG

SEHAT

SEHAT

ANDUONOH
U
RAHANDOUN

1658

1232

74

1157

94

A
ANGGOEYA
MATABUBU
PUSKESMAS

1537
773
297
4265

1225
674
276
3470

80
87
93
80

1170
612
236
3175

96
91
86
93

3
4

Data Primer Kesling Puskesmas Poasia 2015


Tabel 6.Cakupan Pemeriksaan Rumah Bebas Jentik per kelurahan sekecamatan
Poasia tahun 2015

JUMLAH
NO

KELURAHAN

RUMAH
YANG ADA

1
2

ANDUONOHU
RAHANDOUN

1658

3
4

A
ANGGOEYA
MATABUBU
PUSKESMAS

1537
773
297
4265

RUMAH/BANGUNAN

RUMAH/BANGUNAN

DIPERIKSA

BEBAS JENTIK

JUMLA
H
1232

JUMLA

74

H
911

1225

80

949

62

674
285
3163

87
96
74

539
218
2617

70
73
82

73

Sumber Data: Data Primer Kesling Puskesmas Poasia 2015.


C. Input
1. Sumber Daya Manusia
Jumlah tenaga pegawai Puskesmas Poasia sebanyak 139 orang, terdiri
dari: (Jumlah Penduduk = 27.054Jiwa).

Tabel 7. Jumlah tenaga pegawai Puskesmas Poasia tahun 2015


Tenaga Penduduk
Dokter umum

Jumlah
4 orang

Presentase
0,01%

16

Dokter gigi
2 orang
S1 Keperawatan
20 orang
Kesmas
20 orang
Perawat
47 orang
Perawat gigi
2 orang
Bidan
20 orang
Tenaga Penduduk
Jumlah
Tenaga gizi
9 orang
Sanitarian
5 orang
Apoteker
5 orang
Laboran
2 orang
Asisten apoteker
3 orang
Sumber Data: Data Primer Puskesmas Poasia 2015

0,007%
0,07%
0,07%
0,017%
0,007%
0,07%
Presentase
0,03%
0,01%
0,01%
0,007%
0,01%

Dalam meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan juga


ditunjang oleh adanya tenaga sukarela/honor, terdiri dari tenaga perawat,
bidan dan petugas cleaning cervices.
2. Sarana dan Prasarana
Puskesmas Poasia dalam melaksanakan kegiatannya baik promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif ditunjang oleh:
a. Puskesmas Pembantu sebanyak 2 unit tediri dari:
1) Pustu Anggoeya
2) Pustu Batumarupa
b. Pondok bidan Kelurahan sebanyak 4 buah, terdapat di Kelurahan:
1) Kelurahan Anduonohu
2) Kelurahan Matabubu
c. Kendaraan roda 4 sebanyak 1 unit
d. Kendaraan roda dua sebanyak 14 unit
e. Posyandu aktif sebanyak 16 unit
f. Posyandu Usia Lanjut sebanyak 4 unit
g. Dukun terlatih sebanyak 4 orang
h. Kader posyandu sebanyak 75 orang
i. Toko obat berizin sebanyak 4 buah
Puskesmas Poasia merupakan Puskesmas Perawatan dengan kapasitas
tempat tidur 17 buah, yang terdiri dari perawatan persalinan dengan

17

kapasitas tempar tidur 2 buah dan perawatan umum dengan kapasitas tempat
tidur 15 buah.
3. Pendanaan
Definisi pembiayaan kesehatan adalah besarnya dana yang harus
disediakan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk menyediakan dan
memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan perseorangan,
keluarga, kelompok maupun masyarakat. Di negara berkembang seperti
Indonesia beaya pelayanan kesehatan masih belum bisa lepas dari campur
tangan pemerintah baik dalam penyelenggaraan maupun pemanfaatannya.
Sumber pembiayaan upaya pelayanan kesehatanantara lain:
a. Sepenuhnya bersumber dari pemerintah
b. Sebagian ditanggung masyarakat
c. Sepenuhnya ditanggung oleh pihak ketiga baik itu swasta maupun
bantuan luar negeri
Pada era desentralisasi, fungsi pembiayaan usaha pelayanan kesehatan
yang dilakukan pemerintah memiliki pembagian yang terperinci antara
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Puskesmas memiliki sumber
pembiayaan antara lain:
a. Pemerintah pusat, provinsi, kabupaten maupun kota
b. Pendapatan puskesmas melalui retribusi yang besarnya ditentukan
pemerintah kabupaten atau kota setempat
c. Sumber lain dari BPJS Kesehatan.
Sesuai dengan azas desentralisasi, sumber pembiayaan pemerintah
datang dari APBD. Selain itu Puskesmas juga menerima pendanaan dari
alokasi APBD provinsi dan APBN (Biaya Operasional Kesehatan/BOK).
Dana yang disediakan oleh pemerintah dibedakan atas dua macam, yakni
dana anggaran pembangunan yang mencakup dana pembangunan gedung,
pengadaan peralatan serta pengadaan obat, dan dana anggaran rutin yang
mencakup gaji karyawan, pemeliharaan gedung dan peralatan, pembelian
barang habis pakai serta biaya operasional.

18

Anggaran tersebut disusun oleh dinas kesehatan kabupaten/kota untuk


diajukan

dalam

Daftar

Usulan

Kegiatan

(DUK)

kepemerintah

kabupaten/kota untuk seterusnya dibahas bersama DPRD kabupaten/kota.


Puskesmas diberikan kesempatan mengajukan kebutuhan untuk kedua
anggaran tersebut melalui dinas kesehatan kabupaten/Kota. Anggaran yang
telah disetujui tercantum dalam dokumen keuangan diturunkan secara
bertahap ke Puskesmas melalui dinas kesehatan kabupaten/kota. Untuk
beberapa

mata

anggaran

tertentu,

misalkan

pengadaan

obat

dan

pembangunan gedung serta pengadaan alat, anggaran tersebut dikelola


langsung oleh dinas kesehatan kabupaten/kota atau oleh pemerintah
kabupaten/kota.
Penanggungjawab penggunaan anggaran yang diterima Puskesmas
adalah kepala Puskesmas sedangkan administrasi keuangan dilakukan oleh
pemegang keuangan Puskesmas yakni staf yang ditetapkan oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota atas usulan kepala Puskesmas. Penggunaan dana
sesuai dengan usulan kegiatan yang telah disetujui dengan memperhatikan
berbagai ketentuan peraturan perundang-undangan yang belaku.
Sesuai dengan kebijakan pemeritah, masyarakat dikenakan kewajiban
membiayai upaya kesehatan perorangan yang dimanfaatkannya, dan besar
biaya (retribusi) ditentukan oleh masing-masing pemerintah daerah. Seluruh
pendapatan Puskesmas disetor secara berkala ke kas negara melalui dinas
kesehatan kabupaten/kota. Total dana retribusi dari Puskesmas ini kemudian
menjadi bagian dari sejumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain dari
retribusi yang dipungut dari pasien sebagai pemanfaat layanan (pasien
umum), puskesmas juga menerima dana dari BPJS Kesehatan.
D. Proses
1.

Perencanaan (P1): Perencanaan Tingkat Puskesmas


Perencanaan

tingkat

Puskesmas

akan

memberikan

pandangan

menyeluruh terhadap semua tugas, fungsi dan peranan yang akan dijalankan
dan menjadi tuntunan dalam proses pencapaian tujuan Puskesmas secara

19

efisien dan efektif. Perencanaan Puskesmas merupakan inti kegiatan


manajemen Puskesmas, karena semua kegiatan manajemen diatur dan
diarahkan

oleh

perencanaan.

Dengan

perencanaan

Puskesmas,

memungkinkan para pengambil keputusan dan pimpinan Puskesmas untuk


menggunakan sumber daya Puskesmas secara berdaya guna dan berhasil
guna. Untuk menjadikan organisasi dan manajemen Puskesmas efektif dan
berkinerja tinggi diawali dari perencanaan efektif. Perencanaan Puskesmas
adalah fungsi manajemen Puskesmas yang pertama dan menjadi landasan
serta titik tolak pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Semua
kegiatan dan tindakan manajemen Puskesmas didasarkan dan/atau
disesuaikan dengan perencanaan yang sudah ditetapkan. Ini berarti, setelah
perencanaan disusun, kemudian struktur organisasi, tata kerja, dan
personalia Puskesmas yang akan melaksanakan tugas organisasi ditentukan
(fungsi pengorganisasian). Selanjutnya personalia yang bekerja dalam
organisasi Puskesmas digerakan dan diarahkan agar mereka bertindak dan
bekerja efektif untuk mencapai tujuan Puskesmas yang direncanakan (fungsi
penggerakan dan pelaksanaan). Semua aktivitas personalia dan organisasi
Puskesmas diawasi, dipantau, dan dibimbing agar aktivitas tetap berjalan
sesuai tujuan dan target kinerja Puskesmas (fungsi pengawasan dan
pengendalian). Akhirnya dilakukan penilaian untuk mengetahui dan
menganalisis kinerja pegawai dan organisasi Puskesmas. Penilaian meliputi
masukan, proses transformasi/konversi yaitu pelaksanaan fungsi-fungsi
manajemen dan pelaksanaan program dan kegiatan serta pelayanan
kesehatan Puskesmas. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan tujuan dan
terget kinerja Puskesmas yang telah ditetapkan (fungsi penilaian).
Penyusunan rencana kegiatan Puskesmas dilakukan secara sistematis
untuk memecahkan masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
Hal ini meliputi:
a.Upaya kesehatan wajib
b.

Upaya kesehatan pengembangan

c.Upaya penunjang

20

Adapun tahapan dalam penyusunan perencanaan tingkat puskesmas


yaitu sbb :
a.

Persiapaan
Mempersiapkan data yang akan di analisis, sehingga untuk
selanjutnya dapat mempermudah perencanaan yang akan dibuat.

b.

Analisis situasi Penyusunan


Analisis situasi merupakan langkah awal proses penyusunan (rencana
operasional) RO Puskesmas yang bertujuan untuk identifikasi
masalah. Secara konsepsual, analisis situasi Puskesmas adalah proses
berikut kecenderungannya dan faktor-faktor yang mempengaruhi
masalah tersebut, serta potensi sumber daya Puskesmas yang dapat
digunakan untuk melakukan intervensi. Analisis situasi akan
menghasilkan rumusan masalah dan berbagai faktor yang berkaitan
dengan masalah kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas
serta potensi sumber daya Puskesmas yang dapat digunakan untuk
melakukan intervensi. Langkah ini dilakukan dengan mengumpulkan
dan menganalisis data atau fakta yang berkaitan dengan masalah
kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.

c.

Rencana Usulan Kegiatan


Terdapat 2 tahap dalam penyusunan rencana usulan kegiatan (RUK),
yaitu:
1) Analisis masalah, meliputi :
a) Identifikasi masalah,
b) Prioritas masalah,
c) Merumuskan masalah,
d) Penyebab masalah.
2) Penyusunan RUK
Pada dasarnya menyusun RUK harus memperhatikan berbagai
kebijakan yang berlaku secara global, nasional maupun daerah
sesuai dengan hasil kajian data dan informasi yang tersedia di
puskesmas. Puskesmas haruslah mempertimbangkan masukan dari
masyarakat

melalui

Konsil

Kesehatan

Kecamatan/Badan

Penyantun Puskesmas. Rencana usulan kegiatan harus dilengkapi

21

pula dengan usulan pembiayaan untuk kebutuhan rutin, sarana,


prasarana, dan operasional puskesmas. RUK yang disusun tersebut
merupakan RUK untuk tahun mendatang (H+1). Penyusunan RUK
tersebut disusun pada bulan januari tahun berjalan (H) berdasarkan
hasil kajian pencapaian kegiatan pada tahun sebelumnya (H-1).
Dalam hal ini diharapkan penyusunan RUK telah selesai
dilaksanakan di puskesmas pada akhir bulan januari tahun berjalan
(H).
Setelah menyusun, kemudian RUK tersebut dibahas di Dinas
kabupaten/kota,

kemudian

diajukan

ke

Pemerintah

Daerah

kabupaten/kota melalui Dinas kesehatan kabupaten/kota. RUK


yang terangkum dalam usulan Dinas kesehatan kabupaten/kota
akan

diajukan

ke

DPRD

untuk

memperoleh

persetujuan

pembiayaan dan dukungan politis. Setelah mendapat persetujuan,


selanjutnya diserahkan ke puskesmas melalui dinas kesehatan
kabupaten/kota. Berdasarkan alokasi biaya yang disetujui tersebut
puskesmas menyusun rencana pelaksanaan kegiatan.
2. Penggerakan dan Pelaksanaan (P2): Lokakarya Mini
Sesuai

dengan

diselenggarakan

Sistem

melalui

Kesehatan

upaya

Nasional,

kesehatan

upaya

Puskesmas,

kesehatan

peran

serta

masyarakat, dan rujukan upaya kesehatan.Puskesmas mempunyai fungsi


sebagai pusat pengembangan peran serata masyarakat, pusatpembinaan
kesehatan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam
rangka membina petugas Puskesmas untuk bekerjasama dalam tim sehingga
dapat melaksanakan fungsi Puskesmas dengan baik, telah dikembangkan
Lokakarya Mini Puskesmas.
Lokakarya Mini Puskesmas merupakan suatu pertemuan antar petugas
Puskesmas dengan sektor terkait (lintas sektoral) untuk meningkatkan
kerjasama tim, memantau cakupan pelayanan Puskesmas serta membina
peran serta masyarakat secara terpadu agar dapat meningkatkan fungsi
Puskesmas. Ditinjau dari fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan

22

(P1), Penggerakan Pelaksanaan (P2) dan Pengawasan Pengendalian


Penilaian (P3) maka Lokakarya Mini Puskesmas merupakan penerapan
Penggerakan, Pelaksanaan (P2).
Adapun tujuan dilakukannya lokakarya mini adalah sebagai berikut :
a.

Tujuan Umum
Meningkatkan fungsi Puskesmas melalui penggerakan pelaksanaan
Puskesmas, bekerjasama dalam tim dan membia kerja sama lintas
program serta lintas sektoral,

b.

Tujuan Khusus
1)

Tergalangnya kerjasama dalam tim antar tenagaPuskesmas dan

pelaksana
2)

Terselenggaranya lokakarya bulanan antar tenaga Puskesmas

dalam rangka pemantauan hasil kerja tenaga Puskesmas dengan cara


membandingkan rencana kerja bulan lalu dari setiap petugas dengan
hasil kegiatannya dan membandingkan cakupan kegiatan dari daerah
binaan dengan targetnya serta teersusunnya rencana kerja bulan
berikutnya.
3)

Tergalangnya kerjasama lintas sektoral dalam rangka pembinaan

dan pengembangan peran serta masyarakatsecara terpadu.


4)

Terselenggaranya lokakarya tribulanan lintas sektoral dalam

ranngka mengkaji kegiatan kerjasama lintas sektoral dan tersusunnya


rencana kerja tribulan berikutnya.Manfaatnyaadalah mengevaluasi
kegiatan yang telah dilakuakan pada bulan lalu dan untuk
merencanakan kegiatan yang akan dilakukan.
c.

Penggalangan / peningkatan kerjasama dalam Tim


Lokakarya yang pada dasarnya dilaksanakan setahun sekali
dilingkungan Puskesmas sendiri, dalam rangka meningkatkan kerjasama
antar petugas Puskesmas untuk meningkatkan fungsi Puskesmas.

d.

Penggalangan / peningkatan kerja sama lintas sektoral


Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dan dukungan
sektor-sektor yang bersangkutan diperlukan penggalangan kerjasama

23

lintas sektor, yang dilaksanakan dalam suatu pertemuan setahun sekali.


Sebagai hasil pertemuan adalah kesepakatan rencana kerja lintas sektoral
dalam membina dan mengembanngkan peran serta masyarakat dalam
bidang kesehatan. Khususnya dalam rangka peningkatan kesejahteraan
ibu dan kelangsungan hidup anak. Harapannya peningkatan pelayanan
kesehatan, laporan kegiatan tepat waktu.Salah satu bentuk upaya dalam
penggalangan maupun pemantauan berbagai kegiatan adalah melalui
pertemuan lokakarya mini puskesmas. Pada dasarnya ruang lingkup
kegiatan lokmin itu, mencakup dua hal pokok, yang meliputi :
1) Lokmin Lintas Program :
a) Meningkatkan kerjasama antar petugas internal puskesmas
b) Mendapatkan kesepakatan sesuai rencana pelaksanaan kegiatan
c) Meningkatkan motivasi tugas seluruh staf puskesmas
d) Mengkaji pelaksanaan rencana kerja (RPK) yang telah disusun.
2) Lokmin Lintas Sektor :
a) Mendapatkan kesepakatan rencana kerja lintas sektoral,
b) Untuk membina dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam
bidang kesehatan.
Berdasarkan waktunya, lokakarya mini dibagi menjadi 2 :
a. Lokakarya mini bulanan
Sebagai tidak lanjut lokakarya penggalangan / peningkatan
kerjasama dalam Tim, setiap awal bulan berikutnya diadakan pertemuan
antar tenaga Puskesmas untuk membandingkan rencana kerja bulan yang
lalu dengan hasil kegiatan serta cakupan daerah binaan. Bilaman
dijumpai masalah, dibahas dan dipecahkan bersama, serta kemudian
menyusun rencana kerja bulan berikutnya bagi setiap tenaga.Lokarya
bulanan ini mempunyai beberapa tujuan yang terbagi menjadi 2 :
1)

Tujuan umum :
Terselenggaranya lokakarya bulanan intern puskesmas dalam
rangka pemantauan hasil kerja petugas puskesmas dengan cara
membandingkan rencana kerja bulan lalu dari setiap petugas dengan

24

hasil kegiatannya dan membandingkan cakupan kegiatan dari daerah


binaan dengan targetnya serta tersusunnya rencana kerja bulan
berikutnya.
2)

Tujuan khusus :
a) Diketahuinya hasil kegiatan puskesmas bulan lalu
b) Disampaikannya hasil rapat dari kabupaten/kota, kecamatan dan
berbagai kebijakan serta program
c) Diketahuinya hambatan atau masalah kegiatan bulan lalu
d) Dirumuskannya cara penyelesaian masalah
e) Disusunnya rencana kerja bulan baru.
Lokakarya mini bulanan diselenggarakan dalam dua tahap, yaitu

1) Lokakarya mini bulanan yang pertama


Merupakan lokakarya penggalangan tim yang diselenggarakan
dalam rangka pengorganisasian untuk dapat terlaksananya rencana
pelaksanaan kegiatan (RPK). Pelaksanaan lokakarya mini bulanan
yang pertama sebagai berikut :
a) Masukan
(1) Penggalangan tim dalam bentuk dinamika tentang peran,
tanggung jawab staf dan kewenangan puskesmas
(2) Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru yang
berkaitan dengan puskesmas
(3) Informasi tentang tatacara penyusunan rencana kegiatan (PoA)
puskesmas
b) Proses
(1) Inventarisasi kegiatan puskesmas termasuk kegiatan lapangan
dan daerah binaan
(2) Analisis beban kerja tiap petugas
(3) Pembagian tugas baru termasuk pembagian daerah binaan
(4) Penyusunan rencana kegiatan puskesmas tahunan berdasarkan
RPK

25

c) Keluaran
(1)

Rencana kegiatan puskesmas tahunan

(2)

Kesepakatan bersama untuk pelaksanaan kegiatan berdasarkan


PoA

(3)

Matriks pembagian tugas dan daerah binaan.

2) Lokakarya mini bulanan rutin


Merupakan tindak lanjut dari lokakarya mini bulanan yang
pertama. Lokakarya bulanan rutin ini dilaksanakan untuk memantau
pelaksanaan PoA puskesmas yang dilakukan setiap bulan secara
teratur. Pelaksanaan lokakarya bulanan rutin puskesmas senagai
berikut :
a) Masukan :
(1) Laporan hasil kegiatan bulan lalu
(2) Informasi tentang hasil rapat di kabupaten/kota
(3) Informasi tentang hasil rapat di kecamatan
(4) Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru
b) Proses :
(1) Analisis

hambatan

dan

masalah,

antara

lain

dengan

menggunakan PWS
(2) Analisis sebab masalah, khusus untuk mutu dikaitkan dengan
kepatuhan standar pelayanan
(3) Merumuskan alternatif pemecahan masalah
c) Keluaran :
(1) Kesepakatan untuk melaksanakan kegiatan
(2) Rencana kerja bulan yang baru.
b. Lokakarya mini tribulan
Lokakarya mini tribulan ini dilakukan sebagai pemantau
pelaksanaan kerjasama lintas sektoral. Tujuan dari pelaksanaan ini dibagi
menjadi 2, yaitu :
1. Tujuan umum

26

Terselenggaranya

lokakarya

lintas

sektoral

dalam

rangka

mengkaji hasil kegiatan kerja sama lintas sektoral dan tersusunnya


rencanan kerja tribulan selanjutnya.
2. Tujuan khusus
a) Dibahas dan dipecahkan masalah dan hambatan lintas sektoral yang
dihadapi
b) Dirumuskannya rencana kerja lintas sektoral yang baru untuk
tribulan yang akan datang.
Lokakarya tribulan lintas sektor dilaksanakan dalam dua tahap :
1) Lokakarya mini tribulan pertama
Merupakan lokakarya yang diselenggarakan tim dalam rangka
pengorganisasian. Pengorganisasian dilaksanakan untuk dapat
terlaksanakannya kegiatan sektoral yang terkait dengan kesehatan.
Pelaksanaan lokakarya mini tribulan pertama sebagai berikut :
a) Masukan :
(1) Penggalangan

tim

yang

dilakukan

melalui

dinamika

kelompok
(2) Informasi tentang program lintas sektor
(3) Informasi tentang program kesehatan
(4) Informasi tentang kebijakan, program dan konsep baru.
b) Proses :
(1) Inventarisasi peran bantu masing-masing sektor
(2) Analisis masalah peran bantu masing-masing sektor
(3) Pembagian peran dan tugas masing-masing sector

c) Keluaran :
(1) Kesepakatan tertulis lintas sektor terkait dalam mendukung
program kesehatan
(2) Rencana kegiatan masing-masing sector.
2) Lokakarya mini tribulan rutin

27

Merupakan tindak lanjut dari lokakarya penggalangan kerjasama


lintas sektoral yang telah dilakukan dan selanjutnya dilakukan tiap
tribulan secara tetap. Pelaksanaan lokakarya mini tribulan rutin
adalah:
a) Masukan :
(1) Laporan

kegiatan pelaksanaan program kesehatan

dan

dukungan sektor terkait


(2) Inventarisasi maslah/hambatan dari masing-masing sektor
dalam pelaksanaan program kesehatan
(3) Pemberian informasi baru
b) Proses :
(1) Analisis

masalah

dan

hambatan

pelaksanaan

program

kesehatan
(2) Analisis masalah dan hambatan dukungan dari masing-masing
sektor
(3) Merumuskan cara penyelesaian masalah
(4) Menyusun rencana kerja dan menyepakati kegiatan untuk
tribulan yang baru
c) Keluaran :
(1) Rencana kerja tribulan yang baru
(2) Kesepakatan bersama
3. Pengawasan, pengendalian dan penilaian (P3)
Dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan dan pembinaan
kesehatan masyarakat telah di bangun Puskesmas. Puskesmas adalah unit
pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten /kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja tertentu.
Puskesmas berfungsi sebagai :
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan .
b. Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama.

28

Mempertimbangkan rumusan pokok-pokok program dan programprogram unggulan sebagaimana disebutkan dalam Rencana Strategis
Departemen Kesehatan dan program spesifik daerah,maka area program
yang akan menjadi prioritas di suatu daerah, perlu dirumuskan secara
spesifik oleh daerah sendiri demikian pula strategi dalam pencapain
tujuannya, yang harus disesuaikan dengan masalah, kebutuhan serta potensi
setempat.

Puskesmas

merupakan

ujung

tombak

terdepan

dalam

pembangunan kesehatan mempunyai peran cukup besar dalam upaya


mencapai pembangunan kesehatan. Untuk mengetahui tingkat kinerja
Puskesmas, perlu diadakan Penilaian Kinerja Puskesmas.
1)

Pengertian penilaian kinerja puskesmas


Penilaian kinerja Puskesmas adalah suatu upaya untuk melakukan
penilaian hasil kerja / prestasi Puskesmas. Pelaksanaan penilaian dimulai
dari tingkat Puskesmas sebagai instrumen mawas diri karena setiap
Puskesmas melakukan penilaian kinerjanya secara mandiri, kemudian
Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota melakukan verifikasi hasilnya.
Adapun aspek penilaian meliputi hasil pencapaian cakupan dan
manajemen kegiatan termasuk mutu pelayanan (khusus bagi Puskesmas
yang telah mengembangkan mutu pelayanan) atas perhitungan seluruh
Puskesmas. Berdasarkan hasil verifikasi, dinas kesehatan kabupaten/Kota
bersama Puskesmas dapat menetapkan Puskesmas kedalam kelompok
(I,II,III) sesuai dengan pencapaian kinerjanya.Pada setiap kelompok
tersebut, dinas kesehatan kabupaten/kota dapat melakukan analisa tingkat
kinerja Puskesmas berdasarkan rincian nilainya, sehingga urutan
pencapian kinerjanya dapat diketahui, serta dapat dilakukan pembinaan
secara lebih mendalam dan terfokus.

2)

Tujuan penilaian kinerja puskesmas


a) Tujuan Umum

29

Tercapainya tingkat kinerja Puskesmas yang berkualitas


secara optimal dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan
kesehatan kabupaten / kota.
b) Tujuan Khusus
(1) Mendapatkan gambaran tingkat pencapaian hasilcakupan dan
mutu kegiatan

serta manajemen Puskesmas pada akhir tahun

kegiatan.
(2) Mengetahui tingkat kinerja puskesmas pada akhir tahun
berdasarkan urutan peringkat kategori kelompok Puskesmas.
(3) Mendapatkan informasi analisis kinerja Puskesmas dan bahan
masukan dalam penyusunan rencana kegiatan Puskesmas dan
dinas kesehatan kabupaten/kota untuk tahun yang akan datang.
3)

Manfaat penilaian kinerja puskesmas


a) Puskesmas

mengetahui

tingkat

pencapaian

(prestasi)kunjungan

dibandingkan dengan target yang harus dicapai.


b) Puskesmas dapat melakukan identifikasi dan analisismasalah, mencari
penyebab dan latar belakang serta hambatan masalah kesehatan di
wilayah kerjanya berdasarkan adanya kesenjangan pencapaian kinerja
Puskesmas (out put dan out come)
c) Puskesmas dan dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan
tingkat urgensi suatu kegiatan untuk dilaksanakan segera pada tahun
yang akan datang berdasarkan prioritasnya.
d) Dinas kesehatan kabupaten/kota dapat menetapkan dan mendukung
kebutuhan sumber daya Puskesmas dan urgensi Pembina.
4)

Ruang lingkup penilaian kinerja puskesmas


Ruang lingkup kinerja Puskesmas meliputi penilaian pencapaian
hasil pelaksanaan pelayanan kesehatan, manajemen Puskesmas dan mutu
pelayanan.

Penilaian

terhadap

kegiatan

upaya

kesehatan

wajib

Puskesmas yang telah ditetapkan di tingkat kabupaten/kota dan kegiatan


upaya kesehatan pengembangan dalam rangka penerapan ketiga fungsi
Puskesmas

yang

diselenggarakan

melalui

pendekatan

kesehatan

30

masyarakat, dengan tetap mengacu pada kebijakan dan strategi untuk


mewujudkan visi Indonesia Sehat
5)

Pelaksanaan penilaian kinerja


a) Bahan dan pedoman
Bahan yang dipakai pada penilaian kinerja Puskesmas adalah
hasil pelaksanaan pelayanan kesehatan manajemen Puskesmas dan
mutu pelayanan, sedangkan dalam pelaksanaannya mulai dari
pengumpulan data, pengolahan data, analisis hasil/masalah sampai
dengan penyusunan laporan berpedoman pada Buku Pedoman
penilaian kinerja Puskesmas dari Direktorat Jenderal Bina Kesehatan
Masyarakat Departemen Kesehatan R.I. th 2006.
b) Teknis pelaksanaan
Dalam pelaksanaan dapat dilakukan tahap-tahap sebagai berikut:
(1) Pengumpulan Data
(2) Pengolahan Data
Setelah proses pengumpulan data selesai, dilanjutkan dengan
penghitungan sebagai berikut:
Cakupan sub variabel (SV) dihitung dengan membagi hasil
pencapaian (H) dgn target sasaran (T) dikalikan 100 atau SV (%) =
H/T x 100%
Cakupan variabel (V) dihitung dgn menjumlah seluruh nilai
subNvariabel (SV) kemudian dibagi dengan jumlah variabel (n) atau
V (%) = SV/n
Jadi nilai cakupan kegiatan Yankes adalah Rerata per jenis
kegiatan. Kinerja cakupan pelayanan di kelompokkan sebagai
berikut :
(a) Kelompok I (kinerja baik) : Tingkat pencapaian hasil 91 %
(b) Kelompok II (kinerja cukup) : Tingkat pencapaian hasil 81 90 %
(c) Kelompok III (kinerja kurang) : Tingkat pencapaian hasil 80 %