Anda di halaman 1dari 27

MANAJEMEN OPERASIONAL

BAB IX
(STRATEGI TATA LETAK)

KELOMPOK 3

Arnold Arzelan

(8335154461)

Ferry Andrean Sitompul

(8335154668)

Nurul Mardhiyah

(8335154391)

Rizki

(8335154944)

Wahyu Diah Nurcahyo

(8335153823

BAB I
PENDAHULUAN

Bagi perusahaan jenis apapun, baik yang bergerak dalam manufaktur maupun jasa
tentulah menyadari bahwa kelangsungan hidup perusahaan lebih penting daripada sekedar
laba yang besar. Namun, sekalipun untuk dapat terus bertahan (Going Concern), perusahaan
juga memerlukan keuntungan yang cukup. Selanjutnya untuk mendapatkan keuntungan
tersebut, produk yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan serta kepuasan
konsumen (harga, kualitas, pelayanan, dsb.).
Biasanya, masalah yang akan muncul dan harus dipertimbangkan adalah lokasi
dimana perusahaan itu berdiri dan letak dari departemen-departemen dari perusahaan
tersebut. Hal ini sangat penting, karena lokasi berdirinya perusahaan tersebut akan
mempengaruhi bukan saja komponen internal perusahaan, tetapi juga komponen eskternal
serta variabel-variabel penentu lain seperti biaya dan mata uang. Begitu juga dengan
perencanaan tata-letak yang tepat akan bermanfaat bagi efisiensi dan kelancaran aktivitas dari
perusahaan tersebut, sehingga beban atau biaya aliran material yang tidak diperlukan bisa
dihilangkan atau diminimalkan. Oleh karena itu, pada tugas makalah kelompok ini akan
membahas tentang strategi lokasi dan tata letak departemen sehingga dihasilkan tata-letak
yang mempunyai biaya aliran material yang kecil. Salah satu ujung dari masalah ini adalah
proses produksi yang harus baik dalam arti yang luas, agar output yang dihasilkan baik
berupa barang atau jasa, dapat mendukung kelangsungan hidup perusahaan.
Di satu sisi setelah proses produksi dan kehidupan perusahaan berjalan yang dengan
baik, perusahaan perlu menjaganya dengan baik, mengingat menjaga lebih sulit dari pada saat
mendirikannya. Dengan demikian proses dan kegiatan produksi sebagai dapurnya perusahaan
perlu dipelajari dengan seksama dan sungguh-sungguh sehingga sebuah perusahaan memiliki
devisi produksi yang solid dan dapat dipercaya sebagai tulang punggung kelangsungan hidup
perusahaan.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Tata Letak (Layout)
Tata letak (layout) adalah susunan letak fasilitas operasional perusahaan, baik yang
ada didalam bangunan maupun yang ada diluar. Layout yang tepat menunjukkan ciri ciri
adanya penyesuaian tata letak fasilitas operasional terhadap jenis produk dan proses konversi.
Pengaruh layout yang tepat bagi perusahaan addalah peningkatan produktifitas perusahaan.
Perihal tersebut disebabkan arus barang yang akan diproses, dan selanjutnya masuk kedalam
pemrosesan sampai menjadi produk akhir dapat berjalan dengan lancer. Aspek lain, karyawan
yang langsung terlibat didalam pemrosesan dapat bergerak leluasa tanpa takut akan
kemungkinan akan terjadi kecelakaan, sehingga mereka bekerja dengan tenang dan aman.
Tata letak mencakup desain dari bagian-bagian, pusat kerja dan peralatan yang
membentuk proses perubahan dari bahan mentah menjadi bahan jadi. Perencanaan tata letak
merupakan satu tahap dalam perencanaan fasilitas yang bertujuan untuk mengembangkan
suatu sistem produksi yang efisiesn dan efektif sehingga dapat tercapainya suatu proses
produksi dengan biaya yang paling ekonomis.Tujuan strategi tata letak adalah untuk
membangun tata letak yang ekonomis yang memenuhi kebutuhan persaingan perusahaan.
Desain tata letak harus mempertimbangkna bagaimana untuk dapat mencapai :

Utilisasi ruang, peralatan dan orang yang lebih tinggi


Aliran informasi, barang, atau orang yang lebih baik
Moral karyawan yang lebih baik, juga kondisi lingkungan kerja yang lebih aman
Interaksi dengan pelanggan yang lebih baik
Fleksibilitas (bagaimanapun kondisi tata letak yang ada sekarang, tata letak tersebut
akan perlu diubah)
Karena alasan tersebut diatas, maka diperlukan perencanaan tata letak yang seksama.

Pentingnya perencanaan layout disebabkan beberapa hal, yaitu sbb;


Untuk manufaktur
- Terjadinya perubahan desain produk secara terus menerus untuk membuat produk
-

baru.
Kemungkinan penggantian fasilitas yang harus selalu baru (up to date)
Setiap perubahan fasilitas akan menciptakan perubahan kondisi kinerja yang tidak
selalu menciptakan kepuasan atau kemungkinan terjadinya kecelakaan dalam

proses konversi.
Perpindahan lokasi pemasaran (market changes), dan untuk alasan penghematan
dan pengiriman atau pelayanan yang cepat dan baik.

Untuk usaha jasa


- Karena tuntutan pelayanan yang prima dari pelanggan, sehingga harus disesuaikan
-

didalam usaha memenuhi kepusasan pelanggan.


Perubahan layout dapat ,enciptakan persepsi pelanggan bahwa perusahaan

memperhatikan pelanggannya, atau merupakan gambaran bonafiditas perusahaan.


Tuntutan pelanggan menginginkan layanan paling cepat dengan mutu yang tinggi,

sehingga layout harus mendukung system layanan tersebut.


Perilaku pelanggan yang terus berubah harus diikuti perusahaan dengan
melakukan perubahan layout secara berkelanjutan.

2.2Tujuan Perencanaan Tata Letak


Tujuan perencanaan layout/ tata letak yang baik yaitu :

Memaksimumkan pemanfaatan peralatan pabrik


Meminimumkan kebutuhan tenaga kerja
Mengusahakan agar aliran bahan dan produk lancar
Meminimumkan hambatan pada kesehatan
Meminimumkan usaha membawa bahan

Efektifitas dari pengaturan tata letak suatu kegiatan produksi dipengaruhi oleh beberapa
faktor, sebagai berikut :
a. Penanganan material perencanaan tata letak harus memperhatikan gerakan dari
material atau manusia yang bekerja. Gerakan material akan berdampak pada biaya
penanganan material, biasanya mempunyai pengaruh yang cukup signifikan bagi
biaya produksi.
b. Utilisasi ruang utilisasi ruang dan energi merupakan salah satu faktor yang
diperhatikan dalam perencanaa tata letak. Perkembangan teknologi memungkinkan
penataan mesin-mesin tidak dalam arah horizontal, berada dalam satu lantai,
melainkan dapat ke arah vertikal.
c. Mempermudah pemeliharaan perawatan mesin selain berpengaruh terhadap mutu
produk juga berpengaruh terhadap usia mesin. Tata letak mesin harus menyediakan
ruang gerak yang cukup bagi pemeliharaan mesin.
d. Kelonggaran gerak perencanaan tata letak tidak saja untuk memperoleh efisiensi
ruang tetapi juga harus memperhatikan kelonggaran gerak bagi operatot /karyawan.
Selain meningkatkan kepuasan karyawan atas kondisi kerja, kelonggaran gerak dapat
mengurangi kecelakaan kerja.

e. Orientasi produk jenis produk yang dibuat sangat berpengaruh dalam perencanaa
tata letak. Mislanya, produk ukuran besar dan berat, atau memelukan perhatian khusus
dalam penangannya, umumnya menghendaki suatu tata letak yang tidak membuat
produk dipindah-pindah. Sebaliknya, produk yang berukuran kecil dan ringan yang
dengan mudah dapat diangkut akan menjadi lebih ekonomis apabila diproduksi
dengan suatu tata letak yang berdasarkan proses.
f. Perubahan produk atau disain produk perencanaan tata letak juga memperhatikan
perubahan jenis produk atau disain produk. Bagi perusahaan yang jenis produk atau
disainnya sering berubah, tata letak mesin harus sefleksibel mungkin dalam
mengadaptasi perubahan.
Keputusan Tata Letak
Untuk memutuskan strategi layout perlu diperhatikan desain layout, yang diikuti usaha;

Pemanfaatan secara maksimal ruangan atau tempat, mesin mesin dan peralatan, serta

pekerja.
Pengembangan arus informasi, bahan baku, dan sumber tenaga kerja.
Menjaga perubahan moral pekerja, menjaga kondisi kerja yang kondusif,
Mengantisipasi perubahan interaksi dari pelanggan.
Fleksibel (bagaimana layout yang ada sekarang harus siap untuk berubah).

2.3 Jenis Jenis Operasional


System operasional baik untuk manufaktur ataupun usaha jasa dspst dikelompokkan
menjadi tiga jenis dasar operasional berdasarkan tingkat standardisasi produk dan jumlah
output.
a. Operasional berkesinambungan (Continously)
Merupakan operasional konversi yang ditandai dengan jumlah produk yang
sangat besar, mesin dan fasilitas peralatan yang digunakan memiliki kekhususan,
menggunakan pada modal, secara umum arus produk tidak terganggu, serta perubahan
skedul produks tidak banyak, campuran produk tidak banyak disertai standardisasi
yang dibuat berdasarkan persediaan.
b. Operasional terputus putus (Intermittent)
Operasional konversi intermittent dengan ciri ciri, bahwa jumlah produk tidak
banyak, mesin dan fasilitas peralatan bersifat umum, penggunaan padat karya, disertai
arus produk yang terputus putus, skedul sering berubah ubah, produk banyak
campurannya, dan dibuat berdasarkan pesanan.
c. Operasional jasa (service Operation)

Usaha jasa pada umumnya menggunakan padat karya, dengan demikian


operasional usaha jasa lebih tergolong kepada operasional intermitten.
2.4 Tipe- Tipe Tata Letak
Tipe dasar layout adalah tempat atau bentuk dari mekanisme suatu perusahaan; apakah
bengkel, apakah pabrik, maupun usaha perbankan. Semuanya tergantung dari mesin dan
peralatan yang digunakan untuk proses konversi dan merupakan susunan suatu ruang dari
sumber sumber fisik untuk menghasilkan suatu produk.
Tata letak yang efektif memfasilitasi adanya aliran bahan, orang dan informasi di dalam
dan antar-wilayah. Untuk mencapai tujuan ini, beragam pendekatan telah dikembangkan.
Diantara pendekatan tersebut, akan dibahas enam pendekatan tata letak:
1. Tata Letak dengan Posisi Tetap - memenuhi persyaratan tata letak untuk proyek yang
besar dan memakan tempat seperti proses pembuatan kapal laut dan gedung.
2. Tata Letak yang Berorientasi pada Proses - berhubungan dengan produksi dengan
volume rendah dan bervariasi tinggi (juga disebut sebagai job shop atau produksi
terputus).
3. Tata Letak Kantor - menempatkan para pekerja, peralatan mereka dan ruangan/kantor
yang melancarkan aliran informasi.
4. Tata Letak Ritel - menempatkan rak-rak dan memberikan tanggapan atas perilaku
pelanggan.
5. Tata Letak Gudang - melihat kelebihan dan kekurangan antara ruangan dan sistem
penanganan bahan.
6. Tata Letak yang Berorientasi pada Produk - mencari utilisasi karyawan dan mesin
yang paling baik dalam produksi yang kontinu atau berulang.
1. Layout tetap (Fixed Position Layout)
Dipilih karena ukuran, bentuk ataupun karakteristik lain menyebabkan
produknya tidak mungkin atau sukar untuk dipindahkan. Tata letak seperti ini terdapat
pada pembuatan kapal lautm pesawat terbang, lokomotif atau proyek-proyek
konstruks. Tata letak posisi tetap terlihat dalam gambar 2.1.

Gambar 2.1. Tata Letak Tetap


Dalam tata letak dengan posisi tetap (fixed position layout), proyek tetap
berada dalam satu tempat, sementara para pekerja dan peralatan datang pada tempat
tersebut. Jenis layout seperti ini digunakan dibidang pertanian (membajak, memupuk,
menanam, menuai, dsb), dibidang maintenance; perawatan atau perbaikan pesawat
terbang, dok kapal laut dan lokomotif kereta api, sumur minyak bumi, dibidang
konstruksi : pembangunan gedung dan perumahan, serta tenik sipil.
Teknik untuk mengatasi tata letak dengan posisi tetap tidak dikembangkan
dengan baik dan kerumitannya bertambah karena adanya tiga factor.Factor yang
pertama adalah, terdapat tempat terbatas pada semualokasi produksi.Yang kedua,
setiap tahapan yang berbeda pada proses konstruksi, membutuhkan bahan yang
berbeda; oleh karena itu, banyak hal yang menjadi penting sejaln dengan
perkembangan proyek.Yang ketia, volume bahan yang dibutuhkan dinamis.Sebagai
contoh, tingkat penggunaan panel baja untuk galangan kapal berubah sejalan dengan
perkembangan proyek.
Keuntungan dari tata letak posisi tetap yaitu:
-

Karena banyak bergerak adalah fasilitas produksi maka perpindahan material bisa
dikurangi.

Bila pendekatan kelompok kerja digunakan dalam kegiatan produksi, maka


kontinyuitas operasi dan tanggung jawab kerja bisa tercapai dengan sebaik-baiknya.

Kesempatan untuk melakukan pengkayaan kerja (job enrichment) dengan mudah bisa
diberikan, selain itu juga dapat meningkatkan kebanggaan dan kualitas kerja karena
dimungkinkan untuk menyelesaikan pekerjaan secara penuh (do the whole job).

Fleksibilitas kerja tinggi.


Keterbatasan tata letak posisi tetap yaitu:

Besarnya frekuensi perpindahan fasilitas produksi, operator, dan komponen


pendukung pada saat operasi kerja berlangsung.

Memerlukan operator dengan skill yang tinggi disamping aktivitas supervisi yang
lebih umum dan intensif.

Adanya duplikasi peralatan kerja yang menyebabkan dibutuhkannya lokasi untuk


work-in process.

Memerlukan pengawasan dan koordinasi kerja yang ketat khususnya dalam


penjadwalan produksi.
Karena permasalahan pada tata letak dengan posisi tetap ini sulit dipecahkan
pada lokasi, strategi alternative yang ada adalah untuk melengkapi proyek sedapat
mungkin di luar lokasi.

2. Layout yang berorientasi proses (Process Oriented Layout)


Tata letak yang berorientasi pada proses (process oriented layout) dapat
menangani beragam barang atau jasa secara bersamaan. Tata letak ini paling efisien di
saat pembuatan produk yang memiliki persyaratan berbeda, atau di saat penanganan
pelanggan, pasien, atau klien dengan kebutuhan yang berbeda. Tata letak yang
berorientasi pada proses biasanya memiliki strategi volume rendah dengan variasi
tinggi.
Tata letak fungsional penyusunan tata letak dimana alat yang sejenis atau
mempunyai fungsi yang sama ditempatkan dalam bagian yang sama. Misalnya mesinmesin bubut dikumpulkan pada daerah yang sama, sedemikian pula mesin-mesin
potong diletakkan pada bagian yang sama. Layout semacam ini biasanya
dipergunakan untuk perusahaan-perusahaan yang berproduksi dalam rangka
memenuhi pesanan dimana terdapat banyak pesanan yang berbeda baik dalam bentuk,
kualitas, maupun jumlahnya. seperti dalam gambar 2.2.

Gambar 2.2 Tata Letak yang Berorientasi pada Proses


Digunakan jika arus kegiatan konversi untuk semua produk yang dihasilkan
tidak terstandarisasi, seperti halnya dengan ditemukan di pabrik yang menggunakan
proses intermitten. Arus kegiatan yang tidak terstandardisasi bisa juga tejadi karena
proses konversi menghasilkan produk yang bermacam macam, atau jika suatu produk
dasar dapat dikembangkan menjadi macam macam produk akhir.
Kelebihan dari tata letak proses :
-

Memungkinkan utilisasi mesin yang tinggi.

Memungkinan penggunaan mesin-mesin yang multi guna sehingga dapat dengan


cepat mengikuti perubahan jenis produksi.

Memperkecil terhentinya produksi yang diakibatkan oleh kerusakan mesin.

Sangat fleksibel dalam mengalokasikan peralatan dan penugasan tenaga kerja

Investasi yang rendah karena dapat mengurangi duplikasi Peralatan.

Memungkinkan spesialisasi supervisi

Tata letak proses juga memiliki kelemahan, yaitu :

Meningkatnya kebutuhan material handling karena aliran proses yang beragam serta
tidak dapat digunakannya ban berjalan.

Pegawasan produksi yang lebih sulit.

Meningkatnya persediaan barang dalam proses.

Total waktu produksi per unit yang lebih lama.

Memerlukan skill yang lebih tinggi.

Pekerjaan routing, penjadwalan dan acounting biaya yang lebih sulit, karena setiap
ada order baru harus dilakukan perencanaan / perhitungan kembali.

Peralatan yang biasanya memiliki kegunaan umum. Pesanan akan menghabiskan


waktu lebih lama untuk berpindah dalam system karena penjadwalan yang sulit,
penyetelan mesin yang berubah, dan penanganan bahan bahan yang unik.
Dalam mendesain sebuah tata letak yang berorientasi pada proses, taktik yang
plaing lazim digunakan untuk menyusun departemen atau stasiun kerja adalah untuk
meminimalkan biaya penanganan bahan. Dengan kata lain, departemen yang memiliki
aliran komponen atau orang yang banyak di antara mereka harus didekatkan satu
sama lain. Dalam pendekatan ini, biaya penanganan bahan bergantung kepada (1)
jumlah muatan (atau orang) yang harus dipindahkan di anatara dua departemen
selama beberapa waktu dan (2) biaya memindahkan muatan (atau orang) yang terkait
dengan jarak antar-departemen.Biaya diasumsikan sebagai sebuah fungsi jarak antardepartemen. Tujuan fungsi ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
Biaya Minimum :

Di mana n

= jumlah total stasiun kerja atau departemen

i, j

= masing-masing departemen

Xij

Cij

jumlah beban yang dipindahkan dari departemeni ke departemen j


biaya untuk memindahkan beban antara departemen i ke departemen j

Sel Kerja
Pengaturan sel kerja digunakan di saat volume memerlukan pengaturan khusus
mesin dan peralatan. Ide sel kerja (work cell) adalah untuk mengatur ulang orang dan
mesin yang biasanya tersebar pada departemen proses yang beragam dan sewaktuwaktu mengatur mereka dalam sebuah kelompok kecil, sehingga mereka dapat
memusatkan perhatian dalam membuat satu produk atau sekumpulan produk yang
saling berkaitan. Oleh karena itu, sel kerja dibangun di sekitar produk.Sel kerja ini

dikonfigurasi ulang sewaktu desain atau volume produk berubah. Keunggulan sel
kerja adalah :

1. Mengurangi persediaan bahan setengah jadi karena Sel kerja di-set untuk
menghasilkan keseimbangan aliran dari mesin ke mesin.

2. Ruang yang dibutuhkan lebih sedikit karena berkurangnya persediaan bahan setengah
jadi yang diperlukan di antara mesin.

3. Mengurangi persediaan bahan baku dan barang jadi karena adanya bahan setengah
jadi yang lebih sedikit, menyebabkan adanya pergerakan bahan yang lebih cepat
melalui sel kerja.

4. Mengurangi biaya tenaga kerja langsung karena adanya peningkatan komunikasi antar
karyawan, aliran bahan yang lebih baik, dan penjadwalan yang lebih baik.

5. Meningkatkan partisipasi karyawan dalam organisasi dan produk karena karyawan


dapat menerima tanggung jawab yang lebih dan kualitas produk yang dikaitkan secara
Iangsung kepada mereka dan sel kerja mereka.

6. Meningkatkan penggunaan peralatan dan mesin karena adanya penjadwalan yang


lebih baik dan aliran bahan yang lebih cepat.
7. Mengurangi modal pada mesin dan peralatan karena tingkat pemanfaatan fasilitas
yang baik mengurangi jumlah mesin dan jumlah peralatan dan perangkat

Gambar 2.3 Contoh langkah pengisian sel kerja


Persyaratan produksi selular meliputi:
1. Identifikasi produk, sering kali dengan menggunakan kode teknologi kelompok
atau yang sejenisnya.
2. Tingkat pelatihan dan fleksibilitas karyawan yang tinggi.
3. Sel kerja dibangun pertama kali oleh dukungan staf, atau karyawan yang fleksibel
dan imajinatif.
4. Pengujian (poka-yoke) terdapat pada setiap stasiun dalam sel.
Fasilitas yang berbentuk huruf U seperti yang diperlihatkan diatas memiliki
paling tidak lima keuntungan dibandingkan dengan fasilitas berbentuk garis lurus, yaitu :
1. karena tugas- tugas dapat dikelompokan maka pengujian dapat dilakukan segera.
2. pekerja yang diperlukan lebih sedikit.
3. para pekerja dapat menjangkau wilayah kerja secara lebih luas
4. wilayah kerja dapat diseimbangkan secara Iebih efisien
5. komunikasi ditingkatkan.

Pusat Kerja yang Terfokus dan Pabrik yang Terfokus


Jika sebuah perusahaan telah mengidentifikasi sebuah keluarga atau sejumlah
produk yang serupa yang memiliki permintaan yang besar dan stabil, perusahaan ini
dapat mengatur sebuah pusat kerja yang terfokus. Sebuah pusat kerja yang terfokus
(focused work center) mengalihkan produksi dari yang memiliki tujuan umum, yang
merupakan fasilitas yang berorientasi pada proses menjadi sebuah sel kerja yang besar
yang menjadi bagian dari pabrik yang ada sekarang. Jika pusat kerja yang terfokus
berada dalam fasilitas yang terpisah, hal ini sering disebut sebagai pabrik yang
terfokus (focused factory).
3. Tata Letak Kantor (Office Layout)
Tata letak kantor adalah cara mengelompokkan pekerja, perlengkapan pekerja,
dan ruang dengan mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, dan pergerakan
informasi. Perbedaan utama antara tata letak kantor (office layout) dan pabrik adalah pada
kepentingan informasi. Gambat 2.4 memperlihatkan tata letak kantor:

Gambar 2.4. : Tata Letak Kantor


Tata ruang kantor disusun berdasarkan aliran pekerjaan kantor sehingga
perencanaan ruangan kantor dapat membantu para pekerja dalam meningkatkan

produktifitas. Selain itu pengaturan tata ruang kantor yang baik akan memberikan
keuntungan-keuntungan, diantaranya :
-

Mencegah penghamburan tenaga dan waktu para pegawai, karena berjalan mondarmandir yang sebetulnya tidak perlu.

Menjamin kelancaran proses pekerjaan yang bersangkutan.

Memungkinkan pemakaian ruang kerja secara efisien, yaitu suatu luas lantai tertentu
dapat dipergunakan untuk keperluan yang sebanyak-banyaknya.

Mencegah para pegawai di bagian lain terganggu oleh publik yang akan memenuhi
suatu bagian tertentu.
Dengan penggunaan ruang yang baik proses alur pekerjaan yang efektif dan

efesien, maka tujuan tata ruang kantor adalah sebagai berikut :


-

Pekerjaan di kantor itu dalam proses pelaksanaannya dapat menempuh jarak yang
sependek mungkin.

Rangkaian aktivitas tata usaha dapat mengalir secara lancer

Kesehatan dan kepuasaan bekerja para pegawai dapat terpelihara

Pengawasan terhadap pekerjaan dapat berlangsung secara memuaskan

Seluruh ruang dipergunakan secara efesien untuk keperluan pekerjaan

Pihak luar yang mengunjungi kantor yang bersangkutan mendapat kesan yang baik
tentang organisasi tersebut2

Susunan tempat kerja dapat dipergunakan untuk berbagai pekerjaan dan mudah
diubah sewaktu-waktu diperlukan

4. Tata Letak Ritel (Retail Layout)


Tata letak ritel (retail layout) didsarkan pada ide bahwa penjualan dan
keuntungan bervariasi bergantung kepada produk yang dapat menarik perhatian
pelanggan.Jadi, banyak manajer operasi ritel mencoba untuk memperlihatkan produkproduk kepada pelanggan sebanyak mungkin. Penelitian menunjukan bahwa semakin
besar produk dapat terlihat oleh pelanggan, maka penjualan akan semakin tinggi, dan
tingkat pengembalian investasi juga semkain tinggi. Manajer operasi dapat mengubah
keduanya, baik dengan pengaturan toko keseluruhan maupun alokasi tempat bagi
beragam produk dalam pengaturan toko tersebut. Lima ide yang sangat berguna dalam
menentukan pengaturan toko secara keseluruhan :

1. Tempatkan barang-barang yang sering dibeli oleh pelanggan di sekitar batas luar toko.
Itulah sebabnya mengapa sering ditemukan produk yang berbahan dasar susu pada satu
bagia supermarket bersebelahan dengan produk roti dan kue-kue
2. Gunakan lokasi yang strategis untuk barang-barang yang menarik dan miliki nilai
keuntungan besar, seperti peralatan rumah tangga, kosmetik dan sampo
3. Distribusikan yang dikenal oleh pedagang sebagai produk yang kuat yaitu barangbarang yang menjadi alasan utama pengunjung berbelanja pada kedua sisi lorong,
dan letakan mereka secara tersebar untuk menjadikan pengunjung melihat lebih
banyak barang yang lain
4. Gunakan lokasi di ujung lorong karena mereka memiliki tingkat eksposur yang tinggi
5. Sampaikan misi toko dengan memilih posisi bagian yang akna menjadi perhentian
pertama bagi pelanggan. Sebagai contoh, jika makanan siap saji merupakan bagian dari
misi, maka tempatkan toko roti dan makanan di depan untuk menarik pelanggan yang
memiliki orientasi kenyamanan.
Tujuan utama tata letak ritel adalah untuk memaksimalkan keuntungan luas
lantaui per kaki persegi (atau, pada beberapa toko, pada panjang rak).
Permasalahan dalam tata letak disebut sebagai slooting.Biaya Slooting
(slooting fees) adalah biaya yang dibayar oleh produsen untuk menempatkan produk
mereka pada rak di rantai ritel atau supermarket dengan sewa yang tinggi. Misalnya,
sewa tempat ujung di ujung lorong, atau di depan kasir.
Servicescapes
Walaupun tujuan utama tata letak ritel adalah untuk memaksimalkan
keuntungan, terdapat beberapa aspek jasa yang harus dipertimbangkan oleh para
manajer.Yaitu servicescapes, adalah lingkungan fisik di mana jasa dilakukan dan
bagaimanan lingkunagn ini memiliki dampak pada pelanggan dan karyawan.
Untuk mendapatkan tata letak jasa yang baik, sebuah perusahaan harus
mempertimbangkan tiga elemen :
1. Kondisi yang berkenaan dengan lingkungan, yaitu karakteristik latar belakang seperti
pencahayaan, suara, bau dan suhu. Semua factor ini mempengaruhi karyawan dan
para pelanggan, dan memberikan dampak seberapa banyak pelanggan mau
mengeluarkan uang dan seberapa lama pelanggan ingin berada dalam gedung

2. Tata letak yang luas dan mempunyai fungsi, meliputi rencana pola sirkulasi
pelanggan, karakteristik lorong (seperti lebar, arah, sudut, dan jarak antar-rak), dan
pengelompokan produk
3. Tanda-tanda, symbol, dan patung, yang merupakan karakteristik desain bangunan
yang memiliki arti social (seperti dareah yang berkarpet di department store yang
mendorong pengunjung untuk melangkah secara pelan-pelan dan mencari barang
yang mereka perlukan)
5. Tata Letak Gudang dan Penyimpanan
Tujuan tata letak gudang (warehouse layout) adalah untuk menemukan titik
optimal di antara biaya penanganan bahan dan biaya-biaya yang berkaitan dengan luas
ruang

dalam

gudang.Sebagai

konsekuensinya,

tugas

manajemen

adalah

memaksimalkan penggunaan setiap kotak dalam gudang yaitu memanfaatkan volume


penuhnya sambil mempertahankan biaya penanganan bahan yang rendah.Biaya
penanganan bahan adalah biaya-biaya yang berkaitan dengan transportasi barang
masuk, penyimpanan, dan transportasi bahan keluar untuk dimasukan dalam
gudang.Biaya biaya ini meliputi peralatan, orang, bahan, biaya pengawasan, asuransi
dan penyusutan.Tata letak gudang yang efektif juga meminimalkan kerusakan bahan
dalam gudang. Gambar 2.5. memperlihatkan Tata Letak Gudang:

Intinya gudang diharapkan berfungsi untuk memaksimalkan penggunaan


sumber daya dan memaksimalkan pelayanaan terhadap pelanggan dengan sumber yang
terbatas. Maka dalam perencanaan gudang dan sistem pergudangan diperlukan hal-hal
berikut ini :

Memaksimalkan penggunaan ruangan

Memaksimalkan penggunaan peralatan

Memaksimalkan penggunaan tenaga kerja

Memaksimalkan kemudahan dalam penerimaan seluruh material dan


pengiriman material

Memaksimalkan perlindungan terhadap material


Jenis Inventory
Raw material (Bahan baku)
Work-in-progress (Setengah Jadi)
Maintenance/repair/operating supply
Finished goods (Barang Jadi)

Sebuah komponen penting dari tata letak gudang adalah hubungan antara
wilayah penerimaan/bongkar dan wilayah pengiriman/muat.Desain fasilitas bergantung
kepada jenis barang yang dibongkar, dari mana mereka dibongkar (truk, kereta,
tongkang dan sebagainya), dan di mana mereka dimuat. Pada beberapa perusahaan,
fasilitas penerimaan dan pengiriman, atau yang sebut sebagai dock sering berada di
wilayah yang sama; terkadang dock penerimaan pada pagi hari, dan pada sore hari
wilayah tersebut menjadi dock pengiriman.
Cross-Docking
Cross-docking adalah menghindari penempatan material atau barang-barang
dalam gudang dengan langsung memprosesnya saat diterima. Artinya bahan
dipindahkan langsung dari penerima untuk pengiriman dan tidak ditempatkan dalam
penyimpanan di gudang. Dalam sebuah fasilitas manufaktur, produk diterima langsung
pada lini perakitan. Pada sebuah pusat distribusi, muatan yang telah diberi label dan
disusun sebelumya tiba pada dok pengiriman untuk dirute ulang sehingga menghindari
aktivitas penerimaan secara formal, perhitungan stok/penyimpanan, dan pemilihan
pesanan. Karena aktivitas ini tidak menambah nilai pada produk, jika dihapuskan,
penghematan biayanya akan sebesar 100%. Walaupun Cross-Docking mengurangi

biaya penanganan bahan, persediaan, dan fasilitas, namun hal ini memerlukan
penjadwalan yang ketat dan juga identifikasi produk yang datang secara akurat dengan
sistem barcode.
Penghitungan Persediaan Secara Acak
Automatic

Identification

System

(AIS)

biasanya

berbentuk

barcode,

mengerjakan identifikasi barang secara akurat dan cepat. Jika AIS dipadukan dengan
sistem informasi manajemen yang efektif, maka manajer operasi dapat mengetahui
jumlah dan lokasi setiap unit yang ada.Jumlah dan lokasi persediaan yang akurat berarti
pemanfaatan fasilitas keseluruhan secara potensial karena ruang tidak perlu
dipersiapkan untuk unit penjaga persediaan (stock-keeping unit-SKU) atau keluarga
komponen. Sistem random stocking yang terkomputasi meliputi tugas-tugas berikut:
-

Membuat daftar lokasi terbuka atau yang tersedia.

Membuat catatan persediaan sekarang secara akurat dan juga lokasinya.

Mengurutkan barang-barang dalam urutan tertentu untuk meminimalkanwaktu


perjalanan yang dibutuhkan untuk mengambil pesanan.

Menggabungkan pesanan untuk mengurangi waktu penjemputan.

Menugaskan barang atau sekumpulan barang tertentu, seperti barang-barang yang


sering digunakan pada wilayah gudang tertentu sehingga jarak tempuh total dalam
gudang dapat diminimalkan.
Secara acak, sistem perhitungan persediann dapat meningkatkan pemanfaatan
fasilitas dan menurunkan biaya, tenaga kerja, tetapi membutuhkan catatan yang akurat.
Customizing
Walaupun gudang diharapkan dapat menyimpan produk sekecil mungkin dan
menyimpannya dalam waktu sesingkat mungkin, sekarang, permintaan yang ada adalah
bagaimana gudang dapat mengustomisasikan produk. Gudang dapat menjadi tempat di
mana nilai produk ditambahkan melalui kustomisasi. Kustomisasi gudang biasanya
merupakan cara yang baik dalam menghasilkan keunggulan bersaing pada pasar di
mana terdapat perubahan produknya terjadi sangat cepat. Sebagai contoh, gudang dapat
menjadi tempat di mana komponen computer dipasang, peranti lunaknya dimuat, dan
perbaikannya dilakukan. Gudang juga menyediakan label dan pengemasan yang

terkostumisasi untuk pedagang eceran sehingga barang yang datang dapat langsung
dipajang.
6. Tata Letak Proses Produksi Berulang dan Berorientasi pada Produk
Apabila proses produksinya telah distandarisasikan dan berproduksi dalam
jumlah yang besar. Setiap produk akan melalui tahapan operasi yang sama sejak dari
awal sampai akhir. Ilustrasi dari tata letak produk dapat dilihat dalam gambar 1.5.

Tata letak yang berorientasi pada produk disusun di sekeliling produk atau
keluarga produk yang sama yang memiliki volume tinggi dan bervariasi rendah.
Produksi yang berulang dan kontinu, menggunakan tata letak produk. Asumsi yang
digunakan adalah:
1. Volume yang ada mencukupi untuk utilisasi peralatan yang tinggi
2. Permintaan produk cukup stabil untuk memberikan kepastian akan penanaman
modal yang besar untuk peralatan khusus.
3. Produk distandarisasi atau mendekati sebuah fase dalam siklus hidupnya, yang
memberikan penilaian adanya penanaman modal pada peralatan khusus.
4. Pasokan bahan baku dan komponen mencukupi dan mempunyai kualitas yang
seragam (cukup terstandarisasi) untuk memastikan bahwa mereka dapat
dikerjakan dengan peralatan khusus tersebut.
Terdapat dua jenis tata letak yang berorientasi pada produk, yaitu lini pabrikasi
dan perakitan. Lini pabrikasi (fabrication line) membuat komponen seperti ban mobil
dan komponen logam sebuah kulkas pada beberapa mesin. Lini perakitan (assembly
line) meletakan komponen yang dipabrikasi secara bersamaan pada sekumpulan
stasiun kerja. Kedua lini ini merupakan proses yang berulang, dan dalam kedua kasus,

lini ini harus seimbang, yaitu waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan suatu
pekerjaan harus sama atau seimbang dengan waktu yang dihabiskan untuk
mengerjakan pekerjaan

pada mesin berikutnya pada lini pabrikasi, sebagaimana

waktu yang dihabiskan pada satu stasiun kerja oleh seoarang pekerja di lini perakitan
harus seimbang dengan waktu yang dihabiskan pada stasiun kerja berikutnya yang
dikerjakan oleh pekerja berikutnya.
Tujuan manajemen adalah untuk menciptakan aliran yang halus dan konstinu
di sepanjang lini perakitan dengan waktu kosong yang minimal pada setia stasiun
kerja.Tujuan tata letak yang berorientasi pada produk adalah untuk meminimalkan
ketidakseimbangan dalam lini pabrikasi atau perakitan.
Keuntungan utama dari tata letak yang berorientasi pada produk adalah:
1. Rendahnya biaya variabel per unit yang biasanya dikaitkan dengan produk yang
terstandarisasi dan bervolume tinggi.
2. Biaya penanganan bahan yang rendah.
3. Mengurangi persediaan barang setengah jadi.
4. Proses pelatihan dan pengawasan yang lebih mudah.
5. Hasil keluaran produksi yang lebih cepat.
Kelemahan tata letak yang berorientasi pada produk adalah:
1. Dibutuhkan volume yang tinggi, karena modal yang diperlukan untuk
menjalankan proses cukup besar.
2. Adanya pekerjaan yang harus berhenti pada setiap titik mengakibatkan seluruh
operasi pada lini yang sama juga terganggu.
3. Fleksibilitas yang ada kurang saat menangani beragam produk atau tingkat
produksi yang berbeda.
Karena permasalahan lini pabrikasi dan lini perakitan serupa, pembahasan kali
ini ditujukan pada lini perakitan. Pada sebuah lini perakitan, biasanya sebuah produk
berjalan melalui wahana yang otomatis, seperti sebuah ban berjalan, melalui
serangkaian stasiun kerja hingga selesai. Ini merupakan cara mobil dirakit, televisi
dan pemanggang kue dibuat, dan roti lapis pada restoran cepat saji dibuat. Tata letak
yang berorientasi pada produk menggunakan peralatan yang lebih otomatis dan
didesain secara khusus dari pada tata letak yang berorientasi pada proses.

Penyeimbangan lini perakitan


Lini perakitan biasanya dilaksanakan untuk meminimalkan ketidakseimbangan
antara mesin atau karyawan dan memenuhi output yang dibutuhkan dari lini
perakitan. Untuk dapat memproduksi pada tingkat tertentu, pihak manajemen harus
mengetahui perkakas, peralalatan, dan metode kerja yang digunakan. Kemudian
persyaratan waktu untuk setiap tugas perakitan (seperti membuat lubang,
mengencangkan baut, atau mengecat komponen dengan cara menyemprot) harus
ditentukan. Manajemen juga harus mengetahui hubungan prioritas antar aktivitas
yaitu, urutan beragam tugas yang harus dikerjakan.
Contoh mengembangkan diagram preseden untuk sebuah lini perakitan
Boeing ingin membuat diagram preseden untuk sebuah komponen pesawat
elektrostatis yang membutuhkan waktu perakitan total 66 menit.
Pendekatan : Stafnya mengumpulkan daftar tugas, waktu perakitan dan langkah yang
diperlukan komponen dalam tabel berikut :
Data preseden untuk Komponen Sayap
Tugas
A
B
C
D
E
F
G
H
I

Waktu (menit)
10
11
5
4
12
3
7
11
3
Total Waktu = 66

Tugas yang harus mengikuti tugas berikut


A
B
B
A
C, D
F
E
G, H

Diagram Precedence :
Pemahaman : Diagram tersebut membantu menstruktur lini perakitan dan stasiun

kerja, serta membuat kita semakin mudah memvisualisasikan langkah langkah


tugasnya.
Setelah membuat diagram preseden yang merangkum urutan dan waktu tugas, tugas
tugas ini dikelompokkan dalam stasiun stasiun kerja sehingga tingkat produksinya
dapat dipenuhi. Proses ini meliputi tiga langkah berikut.
1. Hitung unit yang perlu dihasilkan per hari (tingkat permintaan atau tingkat produksi)
dan bagi dengan waktu produksi yang tersedia per hari (dalam menit atau detik). Kita
peroleh waktu siklus (cycle time) yaitu waktu maksimal dimana produk dapat
tersedia pada setiap stasiun kerja jika tingkat produksi tercapai.
Waktu Sikus =

2. Hitung jumlah stasiun kerja minimal secara teoretis. Jumlah ini merupakan waktu
pengerjaan tugas total (waktu yang dibutuhkan untuk membuat produk) dibagi dengan
waktu siklus. Pecahannya dibulatkan ke atas ke bilangan bulat terdekat.
Jumlah Stasiun Kerja Minimum =

Dimana n merupakan jumlah tugas perakitan


3. Seimbangkan lini perakitan dengan memberikan tugas perakitan tertentu pada setiap
stasiun kerja.Keseimbangan yang efisien dapat melengkapi perakitan yang
dibutuhkan, mengikuti urutan yang telah ditentukan, dan menjaga supaya waktu
kosong pada setiap stasiun kerja tetap minimal.Berikut prosedur formal untuk
mengerjakan hal ini.
a. Mengidentifikasi daftar tugas utama.
b. Menghilangkan tugas tugas yang telah diberikan pada stasiun kerja tertentu.
c. Menghilangkan tugas tugas yang memiliki hubungan preseden yang tidak dapat
dipenuhi.
d. Menghilangkan tugas tugas yang tidak cukup waktunya untuk dilaksanakan
pada stasiun kerja.
e. Menggunakan salah satu Heuristik penyeimbang lini yang dijelaskan pada tabel
B.Terdapat lima pilihan :
- Waktu pengerjaan terpanjang
- Tugas yang paling sering diikuti
- Bobot posisi berperingkat
- Waktu tugas terpendek
- Jumlah tugas lanjutan yang paling sedikit
Beberapa cara ini dapat dicoba untuk melihat heuristik yang menghasilkan
solusi terbaik yaitu jumlah stasiun kerja yang paling sedikit dengan efisiensi yang
tertinggi. Akan tetapi, walaupun heuristik dapat memberikan solusi, tidak dijamin
bahwa solusi yang dihasilkan ini paling optimal.
Contoh menyeimbangkan lini perakitan
Dengan menggunakan diagram preseden dan waktu aktivitas, Boeing
menetapkan bahwa terdapat waktu kerja produktif sebanyak 480 menit yang tersedia
per hari. Jadwal produksi mengharuskan 40 unit komponen sayap diselesaikan
sebagai output dari lini perakitan setiap harinya. Sekarang, Boeing ingin
mengelompokkan tugas tugas tersebut ke dalam stasiun stasiun kerja.
Pendekatan : Dengan mengikuti ketiga langkah di atas, kita hitung waktu siklus
dengan dan jumlah minimum stasiun. Selain itu, kita masukkan tugas ke stasiun kerja
dalam kasus ini dengan menggunakan heuristik tugas yang paling banyak diikuti.

Solusi : Waktu siklus (dalam menit) = 480 menit/40 unit= 12 menit/unit


Jumlah stasiun kerja minimal

= Total waktu tugas/Waktu siklus


= 66/12 = 5,5 atau 6 stasiun

Tabel B. Heuristik Tata Letak yang dapat digunakan untuk memberikan tugas
pada stasiun kerja dalam penyeimbangan lini perakitan
1

Waktu pengerjaan terpanjang

Dari tugas tugas yang ada, pilihlah tugas


dengan

Tugas yang paling banyak diikuti

waktu

pengerjaan

terpanjang (terbesar)
Dari tugas tugas yang ada, pilihlah tugas
yang memiliki banyak tugas yang

Pemeringkatan bobot posisi

mengikutinya
Dari tugas tugas yang ada, pilihlah tugas
di mana jumlah waktu dari tugas
yang mengikutinya paling panjang.
(pada contoh akan dilihat bahwa
pemeringkatan bobot posisi tugas
C = 5(C) + 3(F) + 7(G) + 3(I) = 18,
dimana pemringkat bobot posisi
tugas D = 4(D) + 3(F) + 7(G) +
3(I) = 17, oleh karena itu, C akan

Waktu pengerjaan terpendek

dipilih terlebih dahulu


Dari tugas tugas yang ada, pilihlah tugas
dengan

waktu

pengerjaan

terpendek
Tugas dengan jumlah tugas yang mengikuti Dari tugas tugas yang ada, pilihlah tugas
paling sedikti

yang

tugas

lanjutannya

paling

sedikit
Gambar berikut menunjukkan sebuah solusi yang tidak melanggar persyaratan
urutan dan mengelompokkan pekerjaan pekerjaannya dalam enam stasiun. Untuk
mendapatkan solusi ini, aktivitas dengan tugas lanjutan (pengikut) yang paling banyak
dipindahkan ke stasiun kerja untuk menggunakan sebanyak mungkin waktu siklus 12
menit yang tersedia.Stasiun kerja yang pertama menghabiskan waktu 10 menit dan
memiliki waktu kosong 2 menit.

Solusi dengan enam stasiun untuk soal penyeimbangan lini

Pemahaman :Ini adalah lini perakitan yang telah diseimbangkan dengan baik. Stasiun
kerja kedua membutuhkan 11 menit, dan stasiun kerja ketiga menghabiskan waktu 12
menit.Stasiun kerja keempat mengelompokkan tiga tugas kecil dan menyeimbangkan waktu
sebesar 12 menit dengan sempurna.Stasiun kerja kelima mempunyai waktu kosong 1 menit,
dan stasiun kerja keenam (yang terdiri atas tugas D dan I) mempunyai waktu kosong 2 menit
per siklus. Waktu kosong total untuk solusi ini adalah 6 menit per siklus.
Efisiensi keseimbangan lini dapat dihitung dengan membagi waktu tugas total dengan jumlah
stasiun kerja yang dibutuhkan dikalikan dengan waktu siklus :

Efisiensi

= 66/72

= 91.7 %
Perhatikan bahwa dengan membuka stasiun kerja ketujuh, dengan alasan apapun, akan
menurunkan efisiensi keseimbangan menjadi 78.6 %

Efisiensi

= 78.6 %

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Tata letak (layout) adalah susunan letak fasilitas operasional perusahaan, baik yang
ada di dalam bangunan maupun yang ada di luar. Tata letak mencakup desain dari bagianbagian, pusat kerja dan peralatan yang membentuk proses perubahan dari bahan mentah
menjadi bahan jadi. Perencanaan tata letak merupakan satu tahap dalam perencanaan fasilitas
yang bertujuan untuk mengembangkan suatu sistem produksi yang efektif dan efisien
sehingga dapat tercapainya suatu proses produksi dengan biaya yang paling ekonomis.

3.2 saran
Dalam menentukan tata letak, sebaiknya memperhatikan langkah langkah berikut :
-

Definisikan tujuan tata letak, dalam hal ini bisa berupa produk apa yang akan dibuat
dan berapa banyak.
Memonitor jalannya pabrik dan mengevaluasi tata letak yang dioperasikan.
Melakukan Optimasi Tata Letak - Optimasi tata letak diantara yang paling banyak
diperhatikan ada dua yakni ; minimasi ongkos penanganan material pada tata letak

proses (job shop) dan maksimasi efektifitas operator dengan penyeimbangan lintas
(line balancing) pada tata letak lintas produksi.
-

Memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan tujuan tata letak.

Spesifikasikan aktifitas premier yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan diatas,
seperti aktifitas produksi ; yang meliputi identifikasi proses produksi, mesin mesin
yang terlibat, jumlah mesin dan tenaga kerja pelaksana, kapasitas produksi, kebutuhan
gudang bahan baku dan barang jadi, dan aspek perawatan mesin serta penanganan
material.

Spesifikasikan aktifitas sekunder yang mendukung aktifitas premier, seperti parkir,


kantor, ibadah/masjid, kantin, klinik , pengolah limbah/sampah, sarana olahraga,
satuan pengamanan, dan jalan jalan kendaraan dilingkungan pabrik serta taman
taman.