Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

BUDIDAYA TANAMAN PADA LAHAN MARGINAL


ACARA I
PERLAKUAN PEMBENAH TANAH PADA LAHAN MARGINAL

Semester:
Ganjil 2016

Oleh :
Marsya Riska Dwi Puspa
A1L113085
Rombongan 12

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi. Tanpa tanah,
kehidupan yang kita ketahui tidak mungkin ada karena tanah mendukung
kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai
penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang
baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh karena tanah memainkan peran kritis
dalam memelihara atau menjaga kualitas udara, menyimpan air dan bahan
makanan bagi tumbuhan, serta menyaring bahan pencemar air permukaan. Tanah
juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme dan bagi sebagian besar
makhluk hidup di daratan, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak.
Lahan marginal dapat diartikan sebagai lahan yang memiliki mutu rendah
karena memiliki beberapa faktor pembatas jika digunakan untuk suatu keperluan
tertentu. Sebenarnya faktor pembatas tersebut dapat diatasi dengan masukan, atau
biaya yang harus dibelanjakan. Tanpa masukan yang berarti budidaya pertanian di
lahan marginal tidak akan memberikan keuntungan. Ketertinggalan pembangunan
pertanian di daerah marginal hampir dijumpai di semua sektor, baik biofisik,
infrastruktur, kelembagaan usahatani maupun akses informasi untuk petani miskin
yang kurang mendapat perhatian.
Untuk mengetahui apakah suatu lahan termasuk marginal jika digunakan
untuk budidaya pertanian dapat dilakukan evaluasi kesesuaian lahan. Semakin
banyak sifat tanah yang memiliki harkat tidak sesuai, menunjukkan lahan tersebut

marginal. Teknologi dan masukan yang diterapkan pada suatu lahan dapat
mengubah sifat tanah sehingga harkatnya menjadi lebih sesuai untuk pertanian.
Salah satu upaya alternatif untuk meningkatkan kualitas lahan yang telah
mengalami kemerosotan adalah mengaplikasikan pembenah tanah yang
dikombinasikan dengan pengelolaan bahan organik serta sistem pemupukan
berimbang spesifik lokasi berdasarkan hasil uji tanah dan kebutuhan tanaman.
Manfaat langsung penggunaan pembenah tanah bagi pembangunan pertanian
adalah mengubah lahan kritis menjadi produktif, sehingga produksi tanaman yang
di budidayakan dapat ditingkatkan dan ketergantungan impor

akan suatu

komoditas secara bertahap dapat dikurangi. Untuk itu pada kegiatan praktikum
ini di membahas mengenai pentingnya pembenah tanah pada lahan marginal agar
lahan tersebut dapat berproduktif sehingga dapat dijadikan tempat atau media
untuk budidaya suatu komoditas tanaman.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum perlakuan pembenah tanah pada lahan marginal
sebagai berikut:
1. Mempelajari cara pemberian pembenah tanah pada lahan marginal
2. Mengetahui pengaruh pemberian pembenah tanah pada tanah pasir pantai
terhadap pertumbuhan tanaman.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kandungan bahan organik yang cukup di dalam tanah dapat memperbaiki


kondisi tanah agar tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan dalam pengolahan
tanah. Berkaitan dengan pengolahan tanah, penambahan bahan organik akan
meningkatkan kemampuannya untuk diolah pada lengas yang rendah. Di samping
itu, penambahan bahan organik akan memperluas kisaran kadar lengas untuk
dapat diolah dengan alat-alat dengan baik, tanpa banyak mengeluarkan energi
akibat perubahan kelekatan tanah terhadap alat. Pada tanah yang bertekstur halus
(lempungan), pada saat basah mempunyai kelekatan dan keliatan yang tinggi,
sehingga sukar diolah (tanah berat), dengan tambahan bahan organik dapat
meringankan pengolahan tanah. Pada tanah ini sering terjadi retak-retak yang
berbahaya bagi perkembangan akar, maka dengan tambahan bahan organik
kemudahan retak akan berkurang. Pada tanah pasiran yang semula tidak lekat,
tidak liat, pada saat basah, dan gembur pada saat lembab dan kering, dengan
tambahan bahan organik dapat menjadi agak lekat dan liat serta sedikit teguh,
sehingga mudah diolah.
Kandungan BO merupakan indikator paling penting dan menjadi kunci
dinamika kesuburan tanah. Bahan organik mempunyai peran yang multifungsi,
yaitu mampu merubah sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi tanah. Selain itu
bahan organik juga mampu berperan mengaktifkan persenyawaan yang
ditimbulkan dari dinamikanya sebagai ZPT (zat pengatur tumbuh), sumber Enzim

(katalisator reaksi-reaksi persenyawaan dalam metabolisme kehidupan) dan


Biocide (obat pembasmi penyakit dan hama dari bahan organik).
Bahan organik dikatakan mampu merubah sifat fisik tanah, karena kondisi
fisik tanah yang keras/ liat (pejal) akan dapat berubah menjadi tanah yang gembur
oleh adanya bahan organik. Akibatnya porositas dan permeabilitas tanah semakin
baik sehingga aerasi udara meningkat, ini bermanfaat untuk menghindari
kejenuhan air yang menyebabkan kebusukan akar.
Bahan organik juga dapat merubah sifat kimia tanah, yaitu melalui proses
dekomposisi yang dilakukan oleh mikroba yang memang selalu menempel pada
bahan organik. Proses dekomposisi akan melepaskan zat-zat hara ke dalam larutan
di dalam tanah dan juga menjadikan bahan organik menjadi bentuk yang lebih
sederhana dan bersifat kolloid. Kondisi ini akan meningkatkan kemampuan
absorbsi tanah yang berkaitan juga dengan kapasitas tukar kation (KTK) tanah
karena meningkatnya luas permukaan partikel tanah. Hal ini menjadikan tanah
mempunyai kemampuan menyimpan unsur-unsur hara yang semakin baik,
mengurangi penguapan Nitrogen, maupun pencucian hara-hara kation lain. Pada
saatnya berarti pula meningkatkan kapasitas tanah untuk melepas hara kation bagi
kebutuhan tanaman, baik melalui proses pertukaran secara langsung maupun pasif
oleh proses difusi.
Ketersediaan lahan pertanian semakin menurun dengan terjadinya alih
fungsi lahan dari pertanian ke non pertanian. Salah satu usaha mengatasi
keterbatasan lahan pertanian adalah menggunakan lahan alternatif yang berupa

lahan pasir pantai. Lahan pasir pantai merupakan tanah yang didominasi oleh
fraksi pasir dengan klas tekstur pasiran.
Pengelolaan lahan pasir pantai belum dapat berjalan secara optimal. Hal ini
disebabkan lahan pasir pantai memiliki kualitas tanah yang rendah untuk
mendukung pertumbuhan tanaman. Kualitas tanah yang rendah akibat dari
struktur tanah lepas-lepas kemampuan memegang air rendah, infiltrasi dan
evaporasi yang tinggi, kesuburan rendah, bahan organik sangat rendah, suhu
tinggi dan angin kencang bergaram (Laxminarayana dan Subbaiah, 1995;
Kertonegoro, 2001) dan infiltrasi tinggi (Budiyanto, 2001).
Tanah dengan daya lulus air sangat tinggi dan bertekstur pasir mempunyai
potensi produksi pertanian rendah, hal ini di sebabkan kehilangan air dan unsur
hara yang sangat tinggi dari zone perakaran efektif selama musim hujan atau di
bawah irigasi yang berat (Mathan & Natesan, 1993). Selain itu juga pertambahan
unsur hara melalui pemupukan mudah hilang karena pelidian oleh air hujan atau
irigasi.

III.

METODE PRAKTIKUM
A. Bahan dan Alat

Bahan yang dipergunakan dalam praktikum antara lain tanah pasir, Bokasi
(dosis 0, 32 dan 64 gram/ 5 kg pasir), NPK mutiara (dosis 0, 13 dan 26 gram/ 5 kg
pasir) dan benih kangkung darat sebanyak 5 biji per polibag.
Alat yang digunakan antara lain polybag, penggaris, timbangan, screen house,
ember dan alat tulis.
B. Prosedur Kerja
1. Bahan dan alat disispkan
2. Pasir dimasukan ke polybag dan ditimbang seberat 5 kg (sebanyak 27 polibag)
3. Masing-masing polibag disusun di screen house dan diberikan label perlakuan,
yaitu:
P0 : Tanpa perlakuan Bokasi
P1 : Bokasi dosis 32 gram/ 5 kg pasir
P2 : Bokasi dosis 64 gram/ 5 kg pasir
N0 : Tanpa perlakuan NPK Mutiara
N1 : NPK Mutiara dosis 32 gram/ 5 kg pasir
N2 : NPK Mutiara dosis 64 gram/ 5 kg pasir
4. Benih kangkung ditanam pada masing-masing polibag yaitu 5 biji/ polibag
dan masing-masing polibag disiram.
5. Perlakuan diulang 3 kali dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK).
6. Pengamatan dan pengukuran tinggi tanaman dilakukan setiap 2 kali sehari
selama 13 kali pengamatan.
7. Pemeliharaan dilakukan setiap hari.
8. Dilakukan pengukuran panjang akar, tinggi tajuk tanaman, dan bobot basah
tanaman pada hari terakhir pengamatan.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Terlampir
B. Pembahasan

Pembenah tanah merupakan amelioran tanah yang mampu memperbaiki


kemampuan jerap dan tukar kation, air, dan hara mikro sehingga mengurangi
kehilangannya di dalam tanah. Pembenah tanah yang baik tentunya yang
mempunyai kemampuan jerap tinggi yang bisa diindikasi dari gugus fenol dan
karboksilat bahan organik atau muaatan netto negatif mineral liat.
Menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 02/Pert/Hk.060/2/2006 yang
dimaksud dengan pembenah tanah adalah bahan-bahan sintetis atau alami, organik
atau mineral yang berbentuk padat atau cair yang mampu memperbaiki sifat fisik,
kimia, dan biologi. Di kalangan ahli tanah bahan pembenah tanah dikenal Zeolit
Agro 2000, ZP 30 (zeolit yang diperkaya hara P) dan zeolit biasa sebagai soil
conditioner yang secara lebih spesifik diartikan sebagai bahan-bahan sintetis atau
alami, organik atau mineral, berbentuk padat maupun cair yang mampu
memperbaiki struktur tanah, dapat mengubah kapasitas tanah menahan dan
melalukan air, serta dapat memperbaiki kemampuan tanah dalam memegang hara,
sehingga hara tidak mudah hilang, dan tanaman masih mampu memanfaatkannya.
Pembenah tanah dapat digolongkan menjadi dua yaitu bahan pembenah
tanah alami dan sintetis. Bahan pembenah tanah alami yang banyak digunakan
oleh petani adalah kapur pertanian, fosfat alam, zeolit, bahan organik yang
mempunyai C/N rasio 7-12, blotong, sari kering limbah (SKL), emulsi aspal

(bitumen), dan lateks atau skim lateks. Sedangkan bahan pembenah tanah sintetis
yang sudah dipasarankan adalah VAMA, HPAN, SPA, PAAm/PAM, PolyDADMAC dan Hydrostock. Jenis-jenis pembenah tanah tersebut telah beredar di
pasaran dan banyak digunakan petani, namun hingga saat ini masih sangat sedikit
informasi yang menjelaskan sejauh mana pembenah tanah tersebut digunakan baik
menyangkut jenis, dosis maupun pengaruhnya terhadap produksi pertanian (Wade
et al, 1986).
Menurut Wade et al., (1986), pembenah tanah kapur pertanian tidak perlu
diberikan apabila kejenuhan Al dalam tanah 40% (untuk jagung), 20% (untuk
kedelai) dan 60% (untuk padi sawah), sebab penggenangan sudah merupakan
self-liming effect, kecuali jika Mg-dd<0.5 cmol(+) kg-1 dan % kejenuhan Mg
terhadap KTK efektif <5% maka Dolomit dapat diberikan untuk tanaman pangan.
Sedangkan zeolit dapat digunakan pada tanah-tanah dengan KTK sangat rendah
(<0.5 cmol(+) kg-1 seperti pada tanah-tanah regosol atau inceptisols yang belum
berkembang dan bertekstur pasir, podsolik merah kuning atau ultisols/ oxisols dan
latosol coklat atau inceptisols/ ultisols (Simanjuntak, 2002). Sebaliknya zeolit
tidak dianjurkan pemberiannya pada jenis tanah yang mempunyai mineral liat
alofan, sebab tidak dapat meningkatkan KTK tanah (Suwardi, 1997).
Bokashi adalah bahan organik kaya akan sumber hayati. Bokashi merupakan
hasil fermentasi bahan organik dari limbah pertanian (pupuk kandang, jerami,
sampah, sekam serbuk gergaji, rumput dan lain-lan) dengan menggunakan EM-4.
EM-4 (Efektif Mikroorganisme-4) merupakan bakteri pengurai dari bahan organik
yang digunakan untuk proses pembuatan bokashi, yang dapat menjaga kesuburan

tanah sehingga berpeluang untuk meningkatkan produksi dan menjaga kestabilan


produksi. Bokashi selain dapat digunakan sebagai pupuk tanaman juga dapat
digunakan sebagai pakan ternak.
Pupuk Bokashi merupakan salah satu pupuk organik yang banyak
memberikan manfaat bagi masyarakat. Peranan penggunaan pupuk bokashi
diharapkan dapat membantu menyuburkan tanaman, mengembalikan unsur hara
dalam tanah, sehingga kesuburan tanah tetap tejaga dan ramah lingkungan.
Fungsi bokashi yaitu dapat menyuburkan dan memperbaiki struktur tanah,
meningkatkan daya tumbuh tanaman dan menghambat penyakit pada tanaman
(Sholeh dkk, 1997).
Penambahan bahan organik (bokashi) ke dalam tanah dapat meningkatkan
kandungan bahan organik dan unsur hara tanah. Hal ini karena semakin banyak
dosis pupuk bokashi yang diberikan, maka N yang terkandung di dalam pupuk
bokashi juga semakin banyak yang diterima oleh tanah. Unsur N merupakan unsur
hara yang sangat penting karena merupakan unsur yang paling banyak dibutuhkan
untuk pertumbuhan tanaman. Nitrogen berfungsi sebagai penyusun asam-asam
amino, protein komponen pigmen klorofil yang penting dalam proses fotosintesis.
Sebaliknya jika kekurangan N menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman terganggu dan hasil menurun yang disebabkan oleh tergangunya
pembentukan klorofil yang sangat penting untuk proses fotosintesis (Sholeh dkk,
1997).
Dalam pupuk bokashi yang diberikan terkandung mikroorganisme EM-4
yang memiliki peran yang sangat penting dalam penyuplaian unsur hara. Kinjo

10

(1990) melaporkan bahwa pemberian EM-4 pada bahan organik akan


meningkatkan bakteri fotosintetik dan bakteri pengikat nitrogen di dalam tanah
sehingga akan berakibat pada meningkatkan produksi tanaman secara nyata dan
meningkatkan aktivitas fotosintesis
.

Peningkatan kualitas lahan di lahan pasir pantai disebabkan oleh

peningkatan atau perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Penggunaan pembenah
tanah (bokashi) telah meningkatkan jumlah lempung, sehingga membantu proses
agregasi. Hal ini terbukti dengan menurunnya BV dan meningkatkan porositas.
Pembenah tanah di tanah pasir pantai akan membantu proses agregasi. Menurut
Triwahyuningsih (1998), pemberian kalsium bersama bahan organik dapat
menyatukan butir-butir menjadi agregat mikro, sedangkan bahan organik
menyatukan agregat mikro menjadi agregat yang lebih besar. Proses agregasi
butiran tanah dapat dipercepat dengan kehadiran Ca, di mana sumbangan Ca
berasal dari pemberian kapur (Wigena et al, 2001). Pengunaan bokashi, pupuk
kandang di tanah pasir pantai dapat memperbaiki jumlah pori mikro, agregasi dan
struktur tanah (Kastono, 2007). Perubahan struktur tanah berdampak pada
permeabilitas dan kemampuan menyimpan dan menyediakan air. Penggunaan
pembenah tanah (bokashi) telah meningkatkan kandungan hara di lahan pasir
pantai. Penggunaan pembenah tanah telah meningkatkan kandungan C-organik,
pH, hara N, P, dan K di lahan pasir pantai. Penggunaan pembenah tanah ternyata
mampu memperbaiki kualitas tanah, dimana dalam hal ini mampu memperbaiki
sifat fisika, sehingga berdampak pada perbaikan sifat kimia tanah.

11

Berdasarkan kegiatan praktikum yang telah dilaksanakan untuk hasil ratarata pada tinggi tanaman yang dilakukan pada 3 ulangan dengan

dengan 9

perlakuan diperoleh hasil untuk perlakuan P0N0= 15,8; P0N1= 13,4; P0N2= 8,97;
P1N0= 20,3; P1N1= 19; P1N2= 18,23 P2N0= 20,03; P2N1= 21,3 dan P2N2=
13,7. Selanjutnya dilakukan pengujian analisis dengan rancangan RAL di peroleh
hasil bahwa F hitung pada bokashi lebih besar dibandingkan dengan F tabel.
Dalam hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada perlakuan. Kemudian
pengujian tersebut dilanjutkan pada uji lanjut, kemudian di peroleh hasil pada
tinggi tanaman dan berat basah

tidak berbeda nyata. Hal ini sesuai dengan

literatur menurut pendapat Gardner al., (1991), bahwa tinggi tanaman lebih
dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti cahaya, unsur iklim lain (kelembaban,
angin, temperatur) dan atmosfer (CO2), lainnya oleh karbon tanah (Sikora et al.,
1996) dan probiotik dalam tanah (akibat pemupukan) (Naseri et al., 2011). Hal ini
disebabkan unsur pupuk sudah tersedia dalam tanah dan dapat disuplai untuk
pertumbuhan tanaman. Bokashi

adalah pupuk organik dengan kandungan N

tinggi, namun kandungan lignin dan polifenolnya rendah (Indrawati et al., 2012).
Kandungan bahan organik dalam kompos Duckweed yaitu 80% dan N-total 9,5%
(Kelsey and Brennan, 2012).. Pupuk bokashi tidak nyata pengaruhnya terhadap
batas warna daun. Hal tersebut diduga kuat karena kurangnya kepekaan alat (saat
terik matahari), sehingga dapat mempengaruh penglihatan saat pengukuran.

12

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Kesimpulan pada praktikum ini yaitu cara pemberian pembenah tanah pada
lahan mariginal yaitu dengan mencampur tanah pasir dengan bokasi maupun NPK
Mutiara secara merata pada polibag. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil
pengujian uji F bahwa F hitung pada Bokashi lebih besar dibandingkan dengan F
tabel. Artinya dalam hal ini menunjukkan adanya pengaruh nyata pada perlakuan.
Kemudian dilakukan uji lanjut pada kedua variabel yaitu tinggi tanaman dan
bobot basah tanaman keduanya menunjukan tidak berbeda nyata. Artinya tidak
ada pengaruh yang nyata terhadap uji tersebut.

B. Saran
Untuk kedepannya kegiatan praktikum dilaksanakan lebih baik dan lebih
efektif lagi baik dari segi pelaksanaan praktikum, penyampaian materi maupun
pengamatan yang dilakukan sehingga materi yang disamapaikan dapat maksimal
serta perlu dilakukan pengaturan jadwal ulang pada praktikum agar kegiatan
praktikum yang dilaksanakan dapat efektif tidak terburu-buru.

13

Daftar pustaka

Budiyanto.G, 2001. Pemanfaatan Campuran Lempung dan Blotong dalam


Memperbaiki Sifat Tanah Pasir Pantai Selatan Yogyakarta. J. Agy UMY. IX
(1). Yogyakarta. hal. 1-12.
Gardner, F.P., R.B. Pearre, dan R.L. Mitchell.1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Indrawati, Kustiono, K., dan J. Herawati. 2012. Kajian Aplikasi Azolla dan Pupuk
Anorganik Untuk Meningkatkan Hasil Padi Sawah.Seminar Nasional:
Kedaulatan Pangan dan Energi. Fakultas Pertanian Turnojoyo. Madura.
Kastono, D, 2007. Aplikasi Model Rekayasa Lahan Terpadu Guna Meningkatkan
Produksi Hortikultura Secara Berkelanjutan di Lahan Pasir Pantai. J. Ilmuilmu Pertanian Vol. 3 (2). Jakarta. hal. 112-123.
Kelsey, J., and R.A., Brennan.2012. Optimal Growth Condition and Beneficial
Used of Duckweed Salvaged from Ecological Wastewater Treatment System.
Paper Departement of Civil Enviromental Engineering, the Pennsylvania
State University. USA.
Kertonegoro, B. D. 2001. Gumuk Pasir Pantai Di D.I. Yogyakarta : Potensi dan
Pemanfaatannya untuk Pertanian Berkelanjutan. Prosiding Seminar
Nasional Pemanfaatan Sumberdaya Lokal Untuk Pembangunan Pertanian
Berkelanjutan. Universitas Wangsa Manggala pada tanggal 02 Oktober
2001. Yogyakarta. hal 46-54.
Kinjo,S. 1990. Studies on EM or Organik Matter by Lactis Acid Fermentation.
M.S.Thesis. Departement of Agriculture, University of The Ryukyus
Okinawa. Japan.
Laxminarayana, K. And G.V. Subbaiah, 1995. Effect of Mixing of Sandy Soil with
Clay Vertisol and Potassium on Yield and Nutrient Uptake by Groundnut. J.
Ind. Soc.Soil Sci. 43 (4) : 694-696.
Mathan, K.K. and R. Natesan, 1993. Effect of Compaction on Yield and Nutrient
Uptake in Sandy Soils. J. Ind. Soc. Soil Sci. 41 (4) : 765-767.
Nasseri, A.T., S. Rasoul-Amini, M.H. Morowvat, and Y. Ghasemi. 2011. Single
Cell Protein and Process. American Journal of Food Technology 6(2): 103116.

14

Peraturan Menteri Pertanian. Nomor : 41/Permentan/Ot. 140/9/2009 Tentang


Kriteria Teknis Kawasan Peruntukan Pertanian.
Sholeh, Nursyamsi, D. Adiningsih, S.J. 1997.Pengelolaan Bahan Organik dan
Nitrogen untuk Tanaman Padi dan Ketela Pohon pada Lahan Kering yang
Mempunyai Tanah Ultisol di Lampung. Prosiding: Pertemuan Pembahasan
dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bidang Kimia dan
Biologi Tanah, Departemen Pertanian. Lampung. hal 193-206.
Sikora, L. J., C. Cambardella, V. Yakovchenko, and J. Doran. 1996. Assesing Soil
Quality by Testing Organic Matter. P. 41-50 in Soil Organic Matter:
Analysis and Interpretation. SSSA Spec. Publ. 46. SSSA Medison WI.
Suwardi. 1997. Studies on agricultural utilization of natural Zeolites in Indonesia.
Ph. D. Dissertation. Tokyo University of Agriculture. Japan.
Triwahyuningsih, N. 1998. Kajian Pemberian Blotong, kapur dan Pupuk NPK
pada Tanah Pasir Pantai, Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Jagung. Tesis S2 Program Pascasarjana UGM Yogyakarta. Yogyakarta.
Wade, M. K., M. Al-Jabri, and M. Sudjadi. 1986. The effect of liming on soybean
yield and soil acidity parameters of three red yellow podzolic soils of West
Sumatera. Pemberitaan Penelitian Tanah dan Pupuk. 6:1-8. Pusat Penelitian
Tanah, Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta.
Wigena, I.G.P, A. Rachim, D. Santoso, dan A. Saleh. 2001. Pengaruh Kapur
terhadap transformasi Sulfur-Sulfat pada Oxic Dystrudepts dan Kaitannya
dengan Hasil Kacang Tanah. Jurnal tanah dan Iklim 19 : 27-36.

15