Anda di halaman 1dari 18

ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

NAMA KELOMPOK:

Anggota Kelompok
1.
2.
3.
4.

Nama: Devita Suba Mairi


Nama: Lety Sandra
Nama: Muh. Israwan Azis
Nama: Rindy Gisratami

NIM: O1A114009
NIM: 01A114021
NIM: O1A114028
NIM: O1A114041

LABORATORIUM FARMAKOLOGI & FARMASI


KLINIK
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HALU OLEO
2016

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA


Nama/NIM

: Devita Suba Mairi / O1A114009


Lety Sandra / 01A114021

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

Muh. Israwan Azis / O1A114028


Rindy Gisratami / O1A114041
Kelompok

: III (Tiga)

Tanggal

: 28 Mei 2016

Judul Percobaan

: Analisis Obat dalam Cairan Hayati

I.

Pendahuluan
1. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui langkah-langkah
2.

menganalisis obat dalam cairan hayati.


Latar Belakang
Farmakokinetik adalah studi yang menghubungkan antara regimen dosis
dan perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh setiap waktunya. Tipe konsentrasi
diukur di dalam darah, serum atau plasma, dan antara konsentrasi obat di dalam
darah dengan respon klinik atau farmakodinamik, berikut efek teraupetik dan efet
toksik, diukur dengan menggunakan profil konsentrasi-waktu yang juga dapat
menggambarkan respon optimal dan resiko minimum toksisitas (Oktaviani).
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk
digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan
patologi dalam penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi. Obat adalah zat yang digunakan untuk
diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada
manusia atau hewan (Mahdiyar, 2010).
Obat memiliki peran yang sangat penting bagi kesehatan. Penanganan dan
pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dari obat.
Berbagai pemilihan obat saat ini tersedia sehingga diperlukan pertimbangan yang
sangat cermat dalam memilih obat untuk kasus penyakit (Utami, dkk., 2009).
Pada umumnya setiap obat yang masuk ke dalam tubuh, akan mengalami
empat proses yaitu (1) absorbsi yaitu proses obat memasuki sirkulasi cairan tubuh,
(2) distribusi yaitu proses obat diangkut ke area tubuh dimana obat diharapkan
bereaksi atau disimpan dalam tubuh, (3) biotransformasi yaitu proses dimana obat

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

diubah menajdi bentuk kurang aktif, (4) ekskresi yaitu proses dimana obat
dikeluarkan dari tubuh (Priharjo, 1994).
Ketersediaan hayati zat aktif suatu obat timbul sejak adanya ketidaksetaraan
terapetik diantara sediaan bermerk dagangyang engandung zat aktif yang sama dan
dibuat dalam bentuk sediaan farmasetik yang serupa, serta diberikan dengan dosis
yang saa. Berbagai kejadian (zat aktif menjadi tidak aktif atau menjadi toksik)
dapat merupakan sebab ketidaksetaraan ((Utami, dkk., 2009).
Proses fisiologis dimana obat dan metabolit dikeluarkan dari tubuh disebut
eksresi. Sebagian besar ekskresi berlangsung melalui ginjal dalam bentuk urine.
Namun, obat juga dikeluarkan melalui paru-paru misalnya obat anastesi, melalui
feses, keringat, air mata dan saliva. Untuk memperkirakan berapa lama suatu obat
diekskresikan, ada suatu teori yang dikelan dengan half-life (waktu yang
diperlukan oleh konsentrasi obat dalam plasma untuk berkurang menjadi 50% dari
konsentrasi awalnya) (Priharjo, 1994).
Obat bebas yang tidak berikatan, yang larut dalam air, dan obat-obat yang
tidak diubah, difiltrasi oleh ginjal. Sekali obat dilepaskan ikatannya dengan protein,
maka obat menjadi bebas dan akhirnya akan diekskresikan melalui urine. pH urine
mempengaruhi ekskresi obat. pH urine bervariasi dari 4,5 sampai 8 (Kee dan
Evelyn, 1994).
Spektrofotometri merupakan suatu metode analisa yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu jalur larutan berwarna pada
panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi
difraksi dengan tabung foton hampa. Metode spektrofotometri memiliki
keuntungan yaitu dapat digunakan untuk menganalisa suatu zat dalam jumlah kecil
(Harini, dkk., 2012).
Spektrofotometri UV-Vis merupakan salah satu metode analisis yang
beragam terhadap suatu obat dalam sediaan dan juga cairan biologis yang memiliki
banyak kelebihan, diantaranya lebih praktis dan murah bila dibandingkan dengan
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, serta lebih akurat bila dibandingkan dengan
titrasi (Utami, dkk., 2009).

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

Metampiron (C13H16N3NaO4S.H2O) memiliki bobit molekul 351,4. Titik


lebur metampiron 172C. Larut dalam 1,5 bagian air, 30 bagian etanol, praktis
tidak larut dalam eter, aseton, benzen, dan kloroform. Metampiron memiliki efek
analgetik dan sering digunakan sebagai Antinflamatory Drug (NSAID), dan pereda
rasa nyeri. Pada pemakaian secara oral, dosis tunggal metampiron 500-1000 mg.
Efek samping yang parah adalah agranulositosis alergik. Semakin tinggi dosis dan
jangka pengobatan, semakin besar resikonya (Soewandhi, dkk., 2007).

II.

Cara Kerja
1. Alat dan Bahan
a. Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
1) Batang pengaduk
2) Botol gelap
3) Gelas kimia 100 ml ,250 ml dan 500 ml
4) Gelas ukur 50 ml
5) Kuvet
6) Labu takar 250 ml
7) Lumping dan alu
8) Rak tabung
9) Sentrifuge
10) Spektrofotometer UV-Vis
11) Spoit 1 ml dan 5 ml
12) Tabung reaksi

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

13) Tabung effendorf


b. Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu :
1) Alkohol 70%
2) Aquades
3) Antalgin (metampiron)
4) Larutan EDTA
5) Larutan TCA
6) Sampel darah

2. Cara Kerja
a. Pembuatan Larutan Baku Metampiron
Metampiron
ditimbang 0,05 g
dimasukkan dalam gelas kimia 100 ml
ditambahkan sedikit akuades
diaduk hingga homogen
dimasukkan dalam labu ukur 100 ml
di-ad-kan sampai tanda tera
digojok hingga homogen
disimpan digelas kimia lalu dilabeli
Larutan Baku
diambil 1 ml
dimasukkan dalam labu ukur 100 ml
di-ad-kan dengan akuades hingga tanda tera
digojog hingga homogen
disimpan digelas kimia lalu dilabeli (5 ppm)
diulangi untuk konsentrasi 10 ppm, 15 ppm, 20 ppm, 25 ppm

Larutan Metampiron

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

b. Pembuatan Larutan Stok Antalgin


Antalgin
digerus hingga halus dan homogen meng-gunakan lumping dan alu
ditimbang 0,125 g paracetamol
dimasukkan dalam gelas kimia 100 ml
ditambahkan sedikit akuades
diaduk hingga homogen
dimasukkan dalam labu ukur 100 ml
di-ad-kan sampai tanda tera
digojok hingga homogen
disimpan digelas kimia lalu dilabeli
Larutan Stok
diambil 20 ml
dimasukkan dalam labu ukur 100 ml
di-ad-kan dengan akuades hingga tanda tera
digojog hingga homogen
disimpan digelas kimia lalu dilabeli (100 ppm)
diulangi untuk konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm

Larutan Antalgin
Darah
diambil dari probandussebanyak 1 ml
c. Preparasi dalam
Sampel tabung reaksi
dimasukkan
ditambahkan 5 tetes EDTA
diaduk hingga homogen
ditambahkan 4 ml larutan stok 100 ppm
diulangi prosedur di atas untuk konsentrasi 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm
Larutan Sampel

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

d. Preparasi Larutan Sampel Darah Blanko


Darah
diambil dari probandus sebanyak 1 ml
dimasukkan dalam tabung reaksi
ditambahkan 2 ml TCA
diaduk hingga homogen
Larutan
Sampel
Larutan
Sampel
Darah Blanko
divortex selama 5 menit
e. Penetapan
Kadar TCA
Antalgin
dalam Cairan Hayati (Darah)
ditambahkan
3 ml
digojog hingga homogen
dimasukkan dalam tabung effendorf
disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit
dilakukan hal yang sama pada sampel darah blanko
diambil supernatan yang jernih

Larutan Supernatan
Dimasukkan dalam kuvet
Diukur absorbansi menggunakan spektrofotometer dengan = 259 nm
Ditentukan kadar antalgin dengan memasukkan data absorbansi pada kurva baku
divalidasi data dengan menghitung perolehan kembali, kesalahan sistemik, dan kesalahan acak

Kadar antalgin dalam darah ?


Nilai perolehan kembali ?
Nilai kesalahan sistemik ?
Nilai kesalahan acak ?

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

III.

Hasil Percobaan
1. Data Pengamatan
Larutan Baku

Kosentrasi (ppm)

Absorbansi

5 ppm

0,1736

10 ppm

0,3032

15 ppm

0,4303

20 ppm

0,5788

25 ppm

0,6354

Kurva Larutan Baku

Hubungan Antara Kadar vs Absorbansi


0.7

f(x) = 0.12x + 0.06


R = 0.99

0.6
0.5
0.4

absorbansi

Axis Title 0.3

Linear (absorbansi)

0.2
0.1
0
0

Axis Title

Perhitungan Analisis Kadar


Y = 0,1199x + 0,0645
Jadi,
- C1
Y = 0,1199x + 0,0645
1,4834 = 0,1199x + 0,0645

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

X=
-

1,4189
0,1199

X = 11,834 ppm
C2
Y = 0,1199x + 0,0645
1,9259 = 0,1199x + 0,0645
1,8614
X = 0,1199
X = 15,525 ppm
C3
Y = 0,1199x + 0,0645
2,3118 = 0,1199x + 0,0645
2,2473
X = 0,1199
X = 18,743 ppm
C4
Y = 0,1199x + 0,0645
2,7855 = 0,1199x + 0,0645
2,721
X = 0,1199
X = 22,694 ppm

2. Larutan Sampel/Blanko
Sampel Darah

Sampel Darah

Absorbansi

Konsentrasi

100 ppm

1,4834

11,834

200 ppm

1,9259

15,525

300 ppm

2,3118

18,743

400 ppm

2,7855

22,694

Kurva Sampel Darah

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

ABSORBANSI
3
2.5
2

Absorbansi

f(x) = 0x + 0.06
R = 1
absorbansi

1.5

Linear (absorbansi)

1
0.5
0
10,000

20,000

30,000

Kadar

Analisa Data
1.
Perhitungan perolehan kembali (recovery)
kadar terukur
Perolehan kembali = kadar diketa h ui x 100 %
No

Sampel

100 ppm

Perhitungan
11,834
Perolehan kembali =
10

Hasil
x

118,34 %

100 %
2

200 ppm

Perolehan kembali =

15,525
15

18,743
20

22,694
25

103,5 %

100 %
3

300 ppm

Perolehan kembali =

93,71 %

100 %
4

400 ppm

Perolehan kembali =
100 %

90,77 %

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

2.

Kesalahan sistematik
Kesalahan sistematik = 100 - % recovery

No

Sampel

Perhitungan

Hasil

100 ppm

Kesalahan sistematik = 100118,34 %

-18,34 %

200 ppm

Kesalahan sistematik = 100 103,5 %

-3,5 %

300 ppm

Kesalahan sistematik = 100 93,71%

6,29 %

400 ppm

Kesalahan sistematik = 100 90,77%

9,23 %

3.

Kesalahan acak
SD
x 100
CV = kadar ratarata
-

SD =

( xix )
n1

SD =

(11,83417,199)2+ ( 15,52517,199 ) + ( 18,74317,199 ) +(22,69417,199)2


41

SD =

(5,365 ) + (1,674 ) + (1,544 ) +(5,495)2


3

SD =

( 28,783 ) + ( 2,802 ) + ( 2,383 ) +(30,195)


3

SD =

64,163
3

SD =

21,387

SD = 4,624

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

Kadar rata-rata =

11,834 +15,525+18,743+22,694
4

Kadar rata-rata =

68,796
4

Kadar rata-rata = 17,199


SD
x 100
CV = kadar ratarata
CV =

4,624
x 100
17,199

CV = 26,88%

IV.

Pembahasan
Farmakokinetik adalah studi yang menghubungkan antara regimen dosis dan
perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh setiap waktunya. Tipe konsentrasi diukur di
dalam darah, serum atau plasma, dan antara konsentrasi obat di dalam darah dengan
respon klinik atau farmakodinamik, berikut efek terapeutik dan efet toksik, diukur
dengan menggunakan profil konsentrasi waktu yang juga dapat menggambarkan
respon optimal dan resiko minimum toksisitas.
Ketersediaan hayati dapat digunakan utuk menggambarkan keadaan dan
kecepatan obat yang diabsorpsi dari bentuk sediaan dan digambarkan dengan kurva
kadar waktu setelah obat diminum dan berada pada jaringan biologis atau larutan
seperti darah dan urine. Parameter farmakokinetika obat dapat diperoleh berdasarkan
hasil pengukuran kadar obat utuh dan / atau metabolitnya di dalam cairan hayati
(darah, urin, saliva atau cairan tubuh lainnya). Parameter-parameter lain yang berguna
dalam penentuan ketersediaan hayati suatu obat meliputi data plasma, data urin, efek
farmakologi akut, respon klinik. Ketersediaan hayati dilakukan baik terhadap bahan
aktif yang telah disetujui maupun obat dengan efek terapeutik yang belum disetujui
oleh FDA untuk dipasarkan. Setelah ketersediaan hayati dan parameter-parameter

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

farmakokinetika dari bahan aktif diketahui aturan dosis dapat diajukan untuk
mendukung pemberian label obat.
Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari dan memahami langkah-langkah
analisis obat dalam cairan hayati serta mengetahui prosedur obat dalam cairan hayati,
pada praktikum ini digunakan plasma darah dari manusia (probandus) dan obat yang
digunakan

adalah

metampiron.

Metode

yang

digunakan

adalah

dengan

spektrofotometer visible, karena gugus kromofor dan pembentuk kompleks warna


yang dapat menyerap sinar tampak. Pada proses sentrifuge, tujuannya adalah agar
partikel lain mengendap sehingga tidak menganggu pembacaan absorbansi. Penentuan
operating time digunakan untuk mengetahui kapan waktu pembacaan yang dapat
menghasilkan absorbansi maksimum yang menunjukkan reaksi sempurna. Darah
terdiri atas cairan buffer encer yang mengandung protein terlarut (solubillzed proteins),
lemak dan padatan terlarut (dissolved fats and solids), dan sel tersuspensi, kandungan
utamanya yaitu set darah merah (erythrocytes) dapat dipisahkan dengan cairan encer
(plasma) dengan sentrifugasi sederhana. Meskipun demikian, darah tidak mudah untuk
ditangani, sel dapat pecah atau rusak dan menyebarkan komponen-komponen yang
tidak diharapkan dan dapat mengganggu jalannya percobaan.
Sampel obat yang digunakan yaitu metampiron, metampiron adalah suatu
senyawa analgetika non narkotik yang berkerja sebagai analgetika dan antiinflamasi.
Metampiron merupakan natrium sulfonat dari aminopirin. Metampiron adalah salah
satu obat penghilang rasa sakit golongan NSAID (Nonsteroidal Anti Inflammatori
Drugs) atau sering disebut analgetika non narkotik. Senyawa ini merupakan turunan 5pirazolon yang secara umum digunakan untuk menghilangkan rasa sakit pada keadaan
nyeri kepala, nyeri pada spasma usus, ginjal, saluran empedu dan urin, nyeri gigi, dan
nyeri pada reumatik.
Bahan yang dipakai pada percobaan kali ini adalah EDTA, bahan ini berfungsi
sebagai antikoagulan. Antikoagulan dipakai agar darah tidak cepat membeku sebelum
dipakai. Karena bila darah membeku, darah tidak bisa digunakan kadar untuk
penetapan kadar. Lalu bahan lain yang dipakai adalah TCA yang berguna untuk

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

mengendapkan protein yang terkandung di dalam darah. Apabila protein pada sampel
tidak dihilangkan maka akan mengganggu resapan pada alat spektrofotometer UV-Vis.
Percobaan yang dilakukan, darah yang diperoleh dibagi ke dalam 5 tabung
reaksi masing-masing 1 mL yang kemudian 4 diantaranya dicampurkan dengan EDTA
dan larutan obat dengan konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm dan 500
ppm serta 1 tabung ditambahkan TCA dan disimpan sebagai blanko. Sampel darah
yang telah berisi larutan obat kemudian dihomogenkan dengan vortex selama 15 menit
sehingga larutan obat dapat tercampur merata pada sampel darah. Kemudian
ditambahkan larutan pengendap 3 ml untuk mengendapkan komponen-komponen
darah sehingga terjadi perubahan warna darah menjadi coklat. Sampel darah yang telah
diendapkan dimasukkan ke dalam tabung effendorf, disentrifius 2000 rpm selama 5
menit untuk memisahkan komponen-komponen darah berdasarkan perbedaan berat
molekul, sehingga komponen-komponen darah seperti protein, lemak dan lain-lain
yang mempunyai berat molekul lebih besar akan berada dibawah sebagai endapan.
Diambil supernatan yaitu komponen darah yang berupa cairan yang selanjutnya akan
diukur absorbansinya untuk menentukan kadar obat yang terukur dalam sampel darah
menggunakan alat spektrofotometer. Sebelum mengukur absorbansi sampel darah
pertama-tama dilakukan terlebih lebih dahulu diukur absorbansi larutan standar
metampiron murni sebagai pembanding sebab pada larutan obat metampiron tidak
hanya mengandung metampiron tetapi mengandung pula berbagai bahan tambahan.
Percobaan ini pertama-tama dibuat kurva baku dari metampiron untuk mencari
nilai a dan b dalam persamaan kurva baku y = a+ bx. Kurva baku yang baik apabila
nilai r nya mendekati nilai 1. Metode spektrofotometri visible digunakan agar hasil
analisis sesuai dengan ketentuan yang ada. Parameter yang dilakukan pada metode ini
adalah recovery (perolehan kembali / P %), kesalahan sistemik dan kesalahan acak.
Perolehan kembali merupakan tolak ukur efisiensi analisis, sedangkan kesalahan
sistemik merupakan tolak ukur inakurasi penetapan kadar. Kesalahan ini dapat berupa
kesalahan konstan atau proporsional. Kesalahan acak (Random analytical error)
merupakan tolak ukur inpresicion suatu analisis dan dapat bersifat positif atau negatif.

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

Kesalahan acak identik dengan variabilitas pengukuran dan dicerminkan oleh tetapan
variasi.
Supernatan yang diperoleh dari hasil proses sentrifugasi dipindahkan ke dalam
kuvet. Sampel diambil untuk diukur serapannya pada spektrofotometer. Penentuan
kadar dilakukan dengan mengukur absorbansi pada panjang gelombang maksimum
agar dapat memberikan absorbansi tertinggi untuk setiap konsentrasi. Spektrofotometri
UV-Vis memiliki kekurangan untuk menetapkan kadar obat yang merupakan
campuran dari beberapa zat aktif. Pada grafik dapat dilihat kurva yang diperoleh
semakin meningkat. Dilihat dari kelinearannya dan nilai kepercayaan yang besar, maka
kami menggunakan nilai regresi ini dalam perhitungan selanjutnya.
Penentuan parameter yang dilakukan pada metode ini adalah recovery
(perolehan kembali / P %), kesalahan sistemik dan kesalahan acak. Recovery
(perolehan kembali / P %) didapatkan hasil dari 4 konsentrasi larutan obat sebagai
berikut obat antalgin 1 (100 ppm), obat antalgin 2 (200 ppm), obat antalgin 3 (300
ppm) dan obat antalgin 4 (400 ppm) yaitu 118,34%; 103,5%; 93,71% dan 90,77%.
Nilai yang diperoleh sesuai dengan persyaratan 75%-90% atau lebih. Kesalahan
sistemik dari 4 konsentrasi larutan obat sebagai berikut obat antalgin 1 (100 ppm), obat
antalgin 2 (200 ppm), obat antalgin 3 (300 ppm) dan obat antalgin 4 (400 ppm)
diperoleh hasil -18,34%; -3,5%; 6,29% dan 9,23%, persyaratan kesalahan sistemik
kurang dari 10% hasil yang diperoleh sesuai dengan persyaratan kecuali pada
konsentrasi 100 ppm dan 200 ppm. Dan kesalahan acak dari 4 konsentrasi larutan obat
sebagai berikut obat antalgin 1 (100 ppm), obat antalgin 2 (200 ppm), obat antalgin 3
(300 ppm) dan obat antalgin 4 (400 ppm) diperoleh hasil 26,88%, persyaratan
kesalahan acak yaitu kurang dari 10 %, nilai yang diperoleh tidak sesuai dengan
persyaratan.
Manfaat mengetahui nilai-nilai perolehan kembali, kesalahan sistemik, dan
kesalahan acak yaitu untuk dapat mengetahui rancangan bentuk sediaan dan yang
terpenting untuk keefektifan obat tersebut. Pengkajian terhadap ketersediaan hayati ini
tergantung pada absorpsi obat ke dalam sirkulasi umum serta pengukuran dari obat

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

yang terabsorpsi tersebut dan mengetahui sediaan yang dapat digunakan sebagai
kinetika obat.

V.

Kesimpulan
Kesimpulan pada percobaan ini adalah mahasiswa telah mengetahui langkahlangkah yang digunakan dalam menganalisis obat dalam cairan hayati (darah) yang
pertama-tama dilakukan pengambilan sampel darah, penetapan kadar, pembuatan
larutan baku dan larutan sampel, serta penetapan analisis perhitungan meliputi
perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistemik.

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id

VI.

Daftar Pustaka

Harini, B. W., Rini Dwiastuti dan Lucia Wiwid Wijayanti, 2012, Aplikasi Metode
Spketrofotometri Visibel Untuk Mengukur Kadar Curcuminoid pada Rimpang Kunyit
(Curcuma domestica), Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi
(SNAST) Periode III Yogyakarta, ISSN.
Kee, J. L. dan Evelyn R. H., 1994, Farmakologi : Pendekatan Proses Keperawatan, Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Mahdiyar, D., H. Agus T. dan Farida N., 2010, Analisis secara Simultan Paracetamol dan
Ibuprofen dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Universitas Pakuan Bogor.
Oktoviani, I., Aspek Farmakokinetika Klinik Obat-Obat yang Digunakan Pasien Sirosis Hati
Di Bangsal Interne RSUP DR. M. Djamil, Padang.
Priharjo, R., 1994, Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Soewandhi, S. N. dan Aris H., 2007, Pengaruh Milling Terhadap Laju Disolusi Campuran
Metampiron-Fenilbutason (7:3), Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. IV(2).
Utami, P. I., Wahyu U. dan Nur A. M., 2009, Optimasi Metode Penetapan Ranitidin Dalam
Plasma Manusia Secara In Vitro Dengan Metode Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel,
Pharmacy, Vol. 06(03).

Kendari, 3 Juni 2016

UNIVERSITAS HALU OLEO


FAKULTAS FARMASI
Laboratorium Farmakologi & Farmasi
Klinik
Kampus Hijau Bumi Tridharma Anduonohu Jl. H.E.A. Mokodompit
Telp. (0401) 3194163, Fax (0401) 3190006 Kendari 93232, Website: uho.ac.id