Anda di halaman 1dari 11

ARSITEKTUR PASCA KEMERDEKAAN JAMAN SOEHARTO

Cerita Soeharto dan Arsitektur mungkin tidak banyak, namun tidak dapat dipungkiri
bahwa gagasannya seperti pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, penggunaan
morfologi kuncup bunga melati sebagai mahkota gedung-gedung pemerintahaan turut
meramaikan drama perkembangan arsitektur di Indonesia mengingat lamanya ( 32 tahun,
1966-1998) beliau menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia.
Masa kepemimpinan Soeharto merupakan masa dimana banggsa Indonesia sedang
mencari jati dirinya, dalam hal ini Soeharto mengedepankan budaya asli Bangsa Indonesia
sebagai identitas dari arsitektur yang berkembang pada masa kepemimpinannya. Contoh
adalah pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, sebagai kompleks yang ditujukan untuk
museum edukatif yang menonjolkan kebudayaan asli Bangsa Indonesia dengan membangun
anjungan-anjungan yang berbudaya Indonesia serta Masjid Amal Bakti Pancasila sebuah
prototype masjid yang dibangun dibawah Yayasan Amal Bhakti Pancasila dan tersebar
diberbagai pelosok Indonesia dan desain rancangan atap tumpang menyerupai Masjid
Tradisional Jawa.
1. Salah Satu Anjungan pada TMII, Taman Mini Indonesia Indah menyediakan
anjungan-anjungan rumah tradisional tipe-tipe provinsi

(sumber : http://www.google.com/imgres?imgurl=http://anekatempatwisata.com)

2. Masjid Amal Bhakti Pancasila

(Sumber : http://www.google.com/imgres?imgurl=http://simbi.bimasislam.com)
Dibalik regionalitas yang diusung oleh soeharto, pembangunan ekonomi yang
berdampak pada keterbukaannya terhadap investor asing secara tidak langsung jika
mempengaruhi warna pada perkembangan arsitektur di Indonesia pada masa
kepemimpinannya. Dengan keterbukaannya tersebut, investor asing yang hendak
menanam modal di Indonesia membangun kantor-kantor berupa gedung-gedung yang
kebanyakan bergaya International style, karena investor asing lebih akrab dengan
arsitektur gaya internasional dibandingkan arsitektur local. Contohnya adalah gedunggedung yang menghiasi jalan M.H Thamrin dan Sudirman yang diisi oleh perkantoran
asing dan memiliki gaya arsitektur internasional.
Walaupun Soeharto memiliki pendekatan yang bersifat lebih dekat kepada
budaya Indonesia dibandingkan Soekarno, Franky Duville menyebut bahwa
pendekatan Soeharto yang lebih mengedepankan budaya Indonesia hendaknya tidak
kemudian dibedakan visinya dengan Soekarno yang kecenderungan lebih mengusung
arsitektur modern yang kebarat-kebaratan dibandingkan arsitektur tradisional asli
Indonesia. Menurutnya, apa yang digagas oleh Soeharto pada dasarnya adalah
melanjutkan gagasan yang telah dimulai terlebih dahulu oleh Soekarno, perbedaannya
hanya terletak pada pendekatan cara dimana Soeharto lebih lekat dengan memberikan
unsur kebudayaan Indonesia dalam rangka untuk tidak melupakan akar budaya banfsa
sedangkan Soekarno lebih melakukan pendekatan dengan unsur modern yang kebaratbaratan, sebagai ujud dari keinginannya menunjukan bahwa Indonesia tak kalah
dengan Negara-negara Barat.

Gaya Arsitektur Pasca Kemerdekaan


Jengki, langgam arsitektur asli Indonesia. Arsitektur Jengki menjadi pelopor arsitektur
di Indonesia pasca kemerdekaan dan berkembang pada tahun 1950-1960. Meski berumur
cukup pendek, arsitektur jengki muncul sebagai bentuk perlawanan (dalam bidang arsitektur)
pada kolonialisme serta semangat pencarian jati diri arsitektur Indonesia. Kita ingat dalam
pelajaran sejarah bagaimana Bung Karno pada tahun yang sama sedang gencar-gencarnya
melakukan pembangunan, untuk menunjukkan jati diri bangsa Indonesia kepada dunia.
Istilah jengki memang tidak populer dikalangan anak muda sekarang. Karena istilah
ini sebenarnya banyak ditemui di tahun 1970-an, misalkan celana jengki, merujuk pada
celana yang ketat dan sangat kecil bagian bawahnya. Juga sepeda jengki, serta perabot yang
juga muncul di tahun 1970-an kita kenal dengan sebutan meja jengki. Istilah jengki banyak
digunakan untuk menyebut gaya-gaya serta karakter yang tidak populer pada saat itu.
Meminjam istilah sekarang, jengki dapat dikatakan sepadan dengan istilah anti-mainstream.
Masih berhubungan dengan sejarah Indonesia, ketika orang-orang Belanda pulang ke
negerinya, praktis para arsitek-arsitek Belanda juga ikut kembali meninggalkan orang-orang
Indonesia yang menjadi ahli bangunan dan asisten para arsitek Belanda. Sayangnya, arsitek
angkatan pertama ini belum memiliki pengetahuan akan arsitektur yang madani. Bahkan,
kebanyakan langgam ini dipelopori oleh tukang-tukang bangunan masa itu. Namun dengan
semangat penolakan kolonialisme tadi, arsitektur jengki akhirnya lahir dengan bentukbentuknya yang unik.
Meski sering disalah-kenal dengan rumah-rumah kolonial peninggalan Belanda
(umumnya kita sama-sama menyebutnya dengan rumah kuno), arsitektur jengki memiliki ciri
dan bentuk yang sama sekali berbeda dengan arsitektur kolonial. Seperti telah disebutkan di
atas, arsitektur jengki lahir dari semangat penolakan kolonialisme. Maka jika kita perhatikan,
sebenarnya bentuk arsitektur jengki dan kolonial jauh berbeda. Jika arsitektur kolonialisme
didominasi bidang horisontal dan vertikal serta bentuk yang geometris, maka arsitektur jengki
secara umum memiliki ciri unik dengan permainan bidang yang tidak simetris, garis-garis
lengkung, serta jauh dari kesan kaku.

a) Atap yang Tidak Lazim

Rumah-rumah jengki umumnya menggunakan atap pelana yang tidak lazim.


Banyak atap yang berupa patahan dengan perbedaan ketinggian yang kemudian
diselipkan ventilasi sebagai media pembuangan panas pada atap. Selain itu atap-atap
rumah jengki memiliki kemiringan yang curam sebagai bentuk tanggap iklim tropis
yang curah hujannya tinggi.

b) Dinding yang Unik


Sebagai konsekuensi penggunaan atap pelana, rumah-rumah jengki memiliki
dinding cukup lebar pada tampak bangunan. Disinilah munculnya kreatifitas arsitekarsitek jengki menghadirkan tampak bangunan. Dinding yang miring dan membentuk
bidang segi lima menjadi ciri yang lazim kita temui pada arsitektur jengki. Selain itu

dinding dihias dengan motif-motif alam. Ada pula yang ditutup dengan batu alam
yang disusun tidak teratur. Hal ini merupakan penerapan anti-geometri dan anti-tegak
lurus pada masa itu.

c) Beranda
Keberadaan beranda atau teras merupakan elemen mutlak dalam arsitektur
tropis juga disadari oleh para arsitek jengki. Teras berfungsi sebagai ruang penerima

tamu, tempat berteduh, dan tak sedikit sebagai aksentuasi pintu masuk. Bandingkan
dengan ukuran teras rumah-rumah sekarang yang semakin mengecil, teras pada rumah
jengki masik memiliki kesan yang luas dan selaras dengan pekarangan. Atap teras
sendiri memiliki bentuk yang berbeda-beda pada rumah jengki sebagai fungsi
aksentuasi. Yang umum kita lihat adalah atap beton yang melengkung maupun yang
ditekuk-tekuk sebagai perlawanan terhadap bentuk modern yang datar dan monoton
(bayangkan, dengan ilmu arsitektur dan konstruksi yang belum madani para arsitek
jengki telah menghasilkan desain beton yang ditekuk!).

d) Permainan Bentuk Kusen dan Perletakan Jendela.


Masih dengan semangat anti-simetris, bentuk kusen yang asimetris dan
permainan letak jendela yang tidak sejajar menunjukkan kesan tersebut. Selain itu

banyaknya bukaan jendela sebagai sarana penghawaan dan pencahayaan yang alami
berlawanan dengan jendela rumah sekarang yang semakin lama semakin mengecil
(desain minimalis, jendela minimal?). Penyesuain desain kusen dan jendela yang lebar
dan besar juga menunjukkan bahwa arsitektur jengki tanggap terhadap iklim tropis.

e) Krawang atau Rooster


Penggunaan krawang atau rooter merupakan penyesuaian terhadap iklim
tropis. Fungsi utamanya adalah sebagai ventilasi untuk pergantian udara secara alami.
Selain itu dengan bermacam-macam bentuk dari segilima, segitiga, lingkaran, hingga
trapesium tak beraturan menjadi ekspresi estetika pada rumah jengki.

f) Elemen Dekoratif pada Tampak Bangunan.

Elemen-elemen dekoratif merupakan ungkapan para penghuni serta kreatifitas


para arsitek jengki. Maka kita menemukan satu ciri dekorasi yang sama antara satu
rumah jengki dengan yang lain. Ragam dekoratif kreasi arsitek jengki kebanyakan
kombinasi-kombinasi garis lengkung dengan motif alam, ataupun pola-pola garis
vertikal dan horisontal. Elemen ini dapat kita lihat pada dinding atau pada kolom
bangunan.