Anda di halaman 1dari 10

PEMBUATAN PREPARAT METODE RENTANG

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok

: Dyna Ratnasari Plashintania


: B1J013203
: B3
:V

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
I.

2016
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Preparat rentang adalah preparat yang proses pembuatanya dengan metode


rentang. Jaringan-jaringan yang dapat dibuat preparat rentang adalah jaringanjaringan yang tipis, misalnya pleura, mesenterium, peritonium, plaracnoidea dan
pericardium. Metode rentang atau spread adalah suatu metode sediaan dengan cara
merentangkan obyek yang akan diamati di atas gelas benda sehingga diperoleh
lapisan tipis yang dapat teramati di bawah mikroskop (Rudyatmi, 2014).
Hewan selomata memiliki mesoderm yang dipisahkan oleh rongga tubuh
yang terbentuk menjadi dua lapisan, yaitu lapisan dalam dan lapisan luar. Kedua
lapisan tersebut mengelilingi rongga dan menghubungkan antara dorsal dan ventral
membentuk mesenterium. Mesenterium merupakan jaringan halus yang berfungsi
sebagai penggantung organ-organ pencernaan, membentuk pembatas halus sehingga
organ pencernaan tidak saling berlekatan satu sama lain, selain itu berfungsi menjaga
kedudukan dan mempertahankan hubungan organ abdomen (Pratiwi et al., 2007).
Jaringan-jaringan yang tipis pada preparat rentang dapat langsung diamati di
bawah mikroskop tanpa pewarnaan dan juga tanpa fiksasi lebih dulu. Tetapi
pembuatan sediaan rentang dengan cara tersebut tentu saja tidak tahan lama, karena
jaringan tidak difiksasi lebih dulu. Pembuatan sediaan rentang yang dapat tahan lama
dan dapat diamati sewaktu-waktu dapat dilakukan dengan cara fiksasi terlebih dahulu
terhadap jaringan sebelum diwarnai. Metode rentang dapat digunakan untuk tujuan
sitologi dan histologi serta juga dapat digunakan untuk tujuan sitokimiawi (Subowo,
2002).
Zat warna yang dapat digunakan dalam pembuatan preparat ini antara lain
hematoxilin, eosin, dan methylen blue. Pewarna hematoxilin dengan pelarut akuades
sangat baik digunakan untuk mewarnai inti yang akan berwarna biru. Pewarna eosin
dengan pelarut alkohol 70% sangat baik untuk mewarnai sitoplasma dengan warna
merah, sedangkan methylen blue digunakan pada preparat sementara dengan cara
meneteskan langsung kejaringan, kemudian diamati di bawah mikroskop, yang man

amethylen blue akan mewarnai butir-butir pada mast cell yang mewarnai dengan
warna biru (Handari, 1983).

B. Tujuan
Praktikum kali ini bertujuan untuk dapat membuat dan mengamati preparat
mesenterium ayam dengan metode rentang.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum metode rentang adalah pisau, alat
bedah, gelas benda, gelas penutup, staining jar, kertas tissue, mikroskop cahaya, dan
pengukur waktu.
Bahan yang digunakan dalam praktikum metode rentang adalah mesenterium
ayam, pewarna malory triplestain, larutan methanol, acid fuchsin, akuades, dan
alkohol 70%.
B. Metode
Metode praktikum pembuatan preparat mesenterium ayam dengan metode
rentang adalah:
1. Gelas benda dan gelas penutup yang baru disiapkan dan dibersihkan dengan
larutan alkohol 70%.
2. Ayam dipotong (sembelih) menggunakan pisau.
3. Ayam dibedah dengan alat bedah yang telah disediakan.
4. Jaringan mesenterium ayam diambil, kemudian langsung direntangkan di atas
gelas benda sedatar dan setipis mungkin.
5. Jaringan difiksasi dalam larutan metanol selama 10 menit.
6. Dimasukkan ke larutan acid fuchsin selama 5 menit.
7. Dimasukkan ke larutan mallory triplestain selama 15 menit.
8. Dicuci dengan air kran dengan debit rendah.
9. Dikeringkan dari sisa air kran.
10. Diamati di bawah mikroskop, dan didokumentasikan hasilnya.

II.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 3.1.Hasil Preparat Metode Rentang Mesenterium


(4x10)
KeteranganGambar:
A. Serabut elastin

B. Pembahasan
Mikroteknik merupakan ilmu yang mempelajari metode pembuatan preparat
mikroskopis, baik preparat hewan maupun tumbuhan, menganalisis preparat
mikroskopis dan melakukan mikrometri, serta membahas manfaat preparat bagi
perkembangan keilmuan dan dukungan terhadap kehidupan manusia. Sedangkan
mikroteknik hewan merupakan teknik dalam pembuatan preparat mikroskopis
hewan. Beberapa metode yang dikenal dalam pembuatan preparat hewan, yaitu
metode embedding, apus darah, dan rentang (Khalil, 2013).
Preparat organisme adalah sediaan berupa organ, jaringan, sel, dan atau
tubuh organisme yang diawetkan didalam suatu media sehingga memberi kemudahan
seseorang untuk mempelajari, mengamati, atau meneliti. Berdasarkan ukurannya,
preparat organisme dibagi menjadi dua yaitu, preparat mikroskopis (preparat apus,
preparat rentang, preprat pollen, preparat squash, preparat whole mounth dan
preparat section) dan preparat (preparat kering dan preparat basah/segar) (Holil,
2011).
Prosedur pembuatan preparat rentang adalah langkah awal yaitu
menyiapkan object glass yang sudah dibersihkan dengan alkohol terlebih dahulu,
selanjutnya ayam disembelih untuk diambil jaringan mesenteriumn yang akan
dilekatkan pada objek glass, selanjutnya keringkan sementara. Masukkan objek glass
yang sudah ditempel oleh jaringan mesenterium ke dalam larutan metanol selama 10
menit, selanjutnya masukkan ke dalam larutan acid fuchsin selama 5 menit.
Masukkan ke dalam larutan mallory tripelstain selama 15 menit. Cuci dengan air
untuk selanjutnya dikeringkan. di bawah mikroskop dan dokumentasikan hasilnya.
Berdasarkan hasil gambar preparat diketahui bahwa pada jaringan tersebut
dapat teramati jaringan elastin. Pembuatan preparat rentang mesenterium ini
menggunakan mesenterium ayam. Hasil pembuatan preparat mesenterium ayam ini
cukup baik. Bagian-bagian yang diamati terlihat jelas dan kontras. Hal tersebut
menandakan bahwa semua proses pembuatan preparat dilakukan dengan benar, baik
dari komposisi larutan dan segi pewaktuan yang telah dilakukan. Preparat
mesenterium ini termasuk dalam preparat rentang artinya proses pembuatannya
dengan metode rentang yaitu dengan merentangkan obyek yang diamati di atas gelas
benda. Proses pembuatan preparat rentang mesenterium ini diawali dengan proses
fiksasi menggunakan metil alkohol (metanol).

Tujuan utama dari fiksasi adalah untuk memberikan perawatan khusus


terhadap elemen - elemen jaringan, terutama inti sel, sehingga dapat disimpan dalam
kondisi yang baik. Selain itu, fiksasi juga mencegah terjadinya kerusakan jaringan
atau perusakan oleh mikroorganisme yang disebabkan oleh enzim yang terkandung
dalam jaringan itu sendiri, yang dikenal sebagai autolisis. Dengan kata lain, tujuan
fiksasi : mematikan (menghentikan proses metabolisme) sehingga jaringan dengan
cepat situasi sedikit lebih dekat ke kondisi semula, mencegah autolisis,
meningkatkan pewarnaan karena bahan-bahan yang keras yang merupakan
komponen dari fiksatif cair (Lasantha, 2008).
Proses fiksasi metode rentang dilakukan dengan cara, jaringan mesenterium
yang telah direntangkan pada gelas benda direndam menggunakan larutan methanol
selama 5 menit. Preparat yang telah difiksasi kemudian diwarnai dengan cara
merendamnya menggunakan larutan acid fuchsin akuosa 0,5% selama 5 menit.
Preparat selanjutnya dipindahkan kepewarna Mallory selama 15 menit. Proses
pewarnaan yang dilakukan pada preparat rentang menggunakan dua jenis pewarna
yaitu acid fuchsin akuosa dan mallory. Acid fuchsin merupakan garam-garam dari
asam-asam pembawa warna yang bersifat basa. Larutan mallory merupakan
campuran dari Orange G, Anniline blue dan Phosphomolybdic Acid yang akan
bereaksi bersama dalam satu waktu (Ibrahim, 2009).
Pewarnaan Mallory Triplestain akan membuat jaringan ikat menjadi
berwarna biru. Aniline Blue akan mewarnai jaringan ikat, kartilago dan sebagainya.
Sedangkan Orange G akan mewarnai sel otot (Holder,1931). Sehingga bila dilihat di
bawah mikroskop akan terlihat serabut elastis tipis dan berwarna biru dan tidak
beraturan, serabut kolagen berwarna biru keunguan.dengan pewarnaan Mallory,
jaringan otot akan berwarna orange (Handari, 2010).
Malory triplestain merupakan teknik histokimia yang digunakan terutama
untuk menganalisis jaringan ikat dan kelenjar serta jaringan lain. Pewarnaan mallory
merupakan metode yang memungkinkan untuk membedakan sekresi sel kolumnar,
melibatkan teknik deteksi serat-serat jaringan ikat. Pewarnaan mallory termasuk
teknik yang umum digunakan dalam pewarnaan yang mengandung tiga warna yaitu:
aniline blue, orange G dan acid fuchsin yang dikombinasikan. Pewarna majemuk
tersebut memiliki kemampuan membedakan sejumlah besar struktur jaringan.
Pewarnaan tersebut digunakan untuk mendeteksi komponen jaringan dalam beberapa
organ. Pewarnaan dilaksanakan pada dua larutan. Pada awalnya, potongan jaringan

yang diwarnai dalam larutan acid fuschin 1% dalam akuades. Langkah kedua masuk
counter staining dalam larutan aniline blue 0,5%, orange G 2%, dan asam oksalat2%
dalam akuades (Choelwa et al., 2010).

IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasandapat disimpulkan bahwa:
1. Metode rentang adalah salah satu metode pembuatan preparat mesentrerium
ayam yang menggunakan prinsip merentangkan suatu jaringan.
2. Preparat yang dipakai adalah mesenterium ayam.
3. Perlakuan yang diberikan adalah fiksasi, pewarnaan, pengeringan dan
pengamatan di bawah mikroskop.

DAFTAR REFERENSI
Choelwa, M.W., K. Syzmanowski, M. Andrusiewicz, A. Szczerba, and J.B. Warchol.
2010. Trichrome Mallorys stain may indicate differential rates of RNA
synthesis in eutopic endometrium. Folis Histochemicalet Cytobiologica.
48(1):148-152.
Handari, S. Handari. 1983. Metode Pewarnaan. Jakarta: Bhatara Karya Aksara.
Holder, J.T. 1931. Elementary histological technique for animal or plant tissues.
London: J&A Churchill.
Holil, K.,Ainur, R.,& Sri, W. 2011. Pembuatan Preparat Sebagai Media Pendidikan
Pada Bidang Studi Biologi. Jurnal Dedikasi 1(1).
Ibrahim, Mohamad Nur, Miftahu Soleh, Edi Widjajanto. 2009. Mastosit Perivaskuler
Berperan Sebagai Vasodilator Pembuluh Darah pada Mesenterium Tikus.
Skripsi. Kendari : Jurusan Perikanan FPIK Universitas Haluoleo Kendari.
Khalil, M. 2013. Pemaparan merkuri nitrat dengan konsentrasi berbeda pada jaringan
hati benih ikan kakap putih Lates calcarifer Bloch tinjauan histology 2(3):
133-140.
Lasantha. 2008. Spreading Preparation. New York: Marcel Dekker Inc.
Pratiwi, A., S. Maryati, Srikini, Suharno, dan S. Bambang. 2007. Biologi SMA Jilid 1
UntukKelas X. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Rudyatmi, E. 2004. Mikroteknik. Semarang: Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
Subowo. 2002. Histologi Umum. Jakarta: Bumi Aksara.