Anda di halaman 1dari 41

Mata Kuliah

: Kesehatan Reproduksi

Dosen Pembimbing

: Ns.ST Nurbaya , S.Kep.,M.Kes.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN GANGGUAN SISTEM


REPRODUKSI KASUS UTERINA PROLAPS

Disusun Oleh:
KELOMPOK 11
KELAS A3/2013

PROGRAM STUDY S1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

NAMA KELOMPOK
1. REZKY AMALIAH
2. SABRIANA

NH0113236
NH0113261

3.
4.
5.
6.
7.
8.

RUFIANA
SARKINA
SRI INDRI RAMADANI
PUTU PURNAWATI
RAHMAYUNI
YELLIKA A. MUKUDSEY

NH0113259
NH0113267
NH0113278
NH0113222
NH0113226
NH0113318

LAPORAN PENDAHULUAN UTERINA PROLAPS


I. KONSEP DASAR MEDIS
A.

DEFENISI

Prolapsus uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena
kelemahan otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokongnya. Atau
turunnya uterus melalui dasar panggul atau hiatus genitalis. (Wiknjosastro, 2008).
Pripsip terjadinya prolaps uteri adalah terjadinya Defek pada dasar pelvik yang
disebabkan oleh proses melahirkan akibat regangan dan robekan fasia endopelvik,
muskulus levator serta perineal body. Neuropati perineal dan parsial pudenda juga
terlibat dalam proses persalinan. Sehingga, wanita multipara sangat rentan
terhadap faktor resiko terjadi nya prolaps uteri (Prawirohardjo, 2005).
Prolapsus uteri adalah suatu keadaan yang terjadi akibat otot penyangga
uterus menjadi kendor sehingga uterus akan turun atau bergeser ke bawah dan
dapat menonjol keluar dari vagina. Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke
puncak vagina dan pada kasus yang sangat berat dapat terjadi protrusi melalui
orifisium vagina dan berada di luar vagina. (Marmi, 2011)
Prolaps uteri adalah keadaaan yang terjadi ketika ligamen kardinal yang
mendukung rahim dan vagina tidak kembali normal setelah melahirkan ( Bobak
LM; 2002; 1270)
Prolapse uteri adalah kondisi rahim runtuh, jatuh, atau perpindahan ke
bawah dari uterus dengan kaitannya dengan vagina. Hal ini juga didefinisikan
sebagai menggembung rahim ke dalam vagina.
B.

ETIOLOGI

Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya prolapsus uteri antara lain:
1.

Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan
penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan memperburuk prolaps
yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan janin pada pembukaan
belum lengkap. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nulipara, faktor
penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang
uterus (Wiknjosastro, 2007).

2.

Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopouse.


Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap,

laserasi dinding vagina bawah pad kala II, penatalaksanaan pengeluaran


plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada menopouse,
hormon estrogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi
atrofi dan melemah (Wiknjosastro, 2007).

C.

KLASIFIKASI PROLAPUS UTERI


Mengenai istilah dan klasifikasi prolapus uteri terdapat perbedaan
pendapat

antara

ahli

ginekologi.

Friedman

dan

Little

(1961)

mengemukakan beberapa macam klasifikasi yang dikenal yaitu:


1.

Prolapsus uteri tingkat I, dimana servik uteri turun sampai introitus


vaginae; proplasus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar
dari introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat III, seluruh uterus
keluar dari vagina, prolapsus ini juga dinamakan prosidensia uteri.

2.

Prolapsus uteri tingakat I, serviks masih berada didalam vagina;


prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus, sedang pada
prosidensia uteri, uterus seluruhnya keluar dari vagina.

3.

Prolapsus uteri tingkat I, serviks mencapai introitus vaginae;


prolapsus uteri tingkat II, uterus keluar dari introitus kurang dari
bagian ; prlapsus uteri tingkat III, uterus keluar dari introitus lebih
besar dari bagian.

4.

Prolapsus uteri tingkat I, serviks mendekati prosessus spinosus;


prolapsus uteri tingkat II, serviks terdapat antara prosessus spinosus
dan introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat III; serviks keluar dari
introitus.

5.

Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi 4, ditambah dengan


prolapsus uteri tingkat IV (prosidensia uteri)
Dianjurkan klasifikasi berikut:
Desensus uteri, uterus turun, tetapi serviks masih didalam vagina.

Prolapsus uteri tingkat I, uterus turun dengan serviks uteri turun paling

rendah sampai introitus vaginae; prolapsus uteri tingkat II, uterus untuk
sebagian keluar dari vagina; prolapsus uteri tingkat III, atau prosidensia
uteri, uterus keluar seluruhnya dari vagina, disertai dengan inversio vagina.
Menurut beratnya, prolapsus dibagi menjadi :
1. Prolapsus tingkat I : prolapsus uteri dimana serviks uteri turun sampai
introitus vagina
2. Prolapsus tingkat II : prolapsus uteri dimana serviks menonjol keluar
dari introitus vagina
3. Prolapsus tingkat III : prolapsus totalis (prosidensia uteri, dimana
seluruh uterus keluar dari vagina). (Marmi, 2011)
D. MANIFESTASI KLINIK
Gejala sangat berbeda-beda dan bersifat individual. Kadang kala
penderita yang satu dengan prolaps yang cukup berat tidak mempunyai
keluhan apapun, sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai
banyak keluhan.
Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai:
1.

Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genitalia


eksterna

2.

Rasa sakit di panggul dan pinggang (backache). Biasanya jika penderita


berbaring, keluhan menghilang atau menjadi kurang .

3.

Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:


a.

Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari, kemudian


bila lebih berat juga pada malam hari;

b.

Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya;

c.

Stress incontinence, yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk


mengejan. Kadang- kadang dapat terjadi retensio uriena pada sistokel
yang besar sekali.

4.

Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi:

5.

a.

Obstipasi karena faeses berkumpul dalam rongga rektokel;

b.

Baru dapat defeksi, setelah diadakan tekanan pada rektokel dari vagina.

Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut:


a. Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita waktu berjalan
dan bekerja. Gesekan porio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai
luka dan dekubitus pada porsio uteri
b. Leukorea karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks, dan karena
infeksi serta luka pada porsio uteri

6.

Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan


rasapenuh di vagina.
E. PATOFISIOLOGI
Prolapsus uteri terdapat dalam beberapa tingkat, dari yang paling ringan
sampai prolapsus uteri totalis. Terutama akibat persalinan, khususnya
persalinan per-vaginam yang susah dan terdapatnya kelemahan-kelemahan
ligamen yang tergolong dalam fasia endopelvik dan otot-otot, serta fasiafasia dasar panggul. Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang
meningkat dan kronik akan meningkatkan dan memudahkan penurunan
uterus, terutama apabila tonus-tonus mengurang seperti pada penderita
dalam menopouse (Wiknjosastro, 2007).
Serviks uteri terletak di luar vagina akan bergeser oleh pakaian wanita
tersebut, dan lambat laun menimbulkan ulkusyang dinamakan ulkus
dekubitus. Jika fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya
trauma obstetrik, ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga
menyebabkan penonjolan dinding depan ke belakang yang disebabkan
sistoke. Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi
besar karena persalinan berikutnya yang kurang lancar atau yang
diselesaikan dalam penurunan dan meyebabkan urethrokel. Urethrokel
harus dibedakan dari divertikulum urethra. Pada divertikulum keadaan
urethra dan kandung kencing normal, hanya di belakang urethra ada

lubang, yang membuat kantong antara urethra dan vagina (Wiknjosastro,


2007).
Kekendoran fasia di bagian belakang dinding vagina oleh trauma
obstetrik atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rektum ke
depan dan menyebabkan dinding ke belakang vagina menonjol ke lumen
vagina yang dinamakan rektokel (Wiknjosastro, 2007).
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.

Penderita pada posisi jongkok disuruh mengejan dan ditemukan


dengan pemeriksaan jari,apakah portio pada normal atau portio
sampai introitus vagina atau apakah serviks uteri sudah keluar dari
vagina.

b.

Penderita berbaring pada posisi litotomi,ditentukan pula panjangnya


serviks uteri.Serviks uteri yang lebih panjang dari biasanya dinamakan
Elongasio kolli.

c.

Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik


lembek dan tidak nyeri tekan.Benjolan ini bertambah besar jika
penderita mengejan.Jika dimasukkan kedalam kandung kencing
kateter logam,kateter itu diarahkan kedalam sitokel,dapat diraba
kateter tersebut dekat sekali pada dinding vagina.Uretrokel letaknya
lebih kebawah dari sistokel,dekat pada oue.
Menegakkan diagnosis retrokel mudah,yaitu menonjolnya rectum
kelumen vagina 1/3 bagian bawah.Penonjolan ini berbentuk
lonjong,memanjang dari proksimal kedistal,kistik dan tidak nyeri.
Untuk memastikan diagnosis,jari dimasukkan kedalam rectum,dan
selanjutnya dapat diraba dinding retrokel yang menonjol kelumen
vagina.Enterokel menonjol kelumen vagina lebih keatas dari
retrokel.Pada pemeriksaan rectal,dinding rectum lurus,ada benjolan ke
vagina terdapat di atas rectum.

G.

PENATALAKSANAAN MEDIS

Faktor-faktor yang harus diperhatikan: keadaan umum pasien, umur,


masih bersuami atau tidak, tingkat prolapsus, beratnya keluhan, keinginan
punya anak lagi dan ingin mempertahankan haid. Penanganan dibagi atas :
a. Pencegahan
Faktor-faktor yang mempermudah prolapsus uteri dan dengan anjuran:
1) Istirahat yang cukup, hindari kerja yang berat dan melelahkan gizi
cukup
2) Pimpin yang benar waktu persalinan, seperti : Tidak mengedan
sebelum waktunya, Kala II jangan terlalu lama, Kandung kemih
kosongkan), episiotomi agar dijahit dengan baik, Episiolomi jika ada
indikasi, Bantu kala II dengan FE atau VE
b. Pengobatan
1.

Pengobatan Tanpa Operasi


(a) Tidak memuaskan dan hanya bersifat sementara pada
prolapsus uteri ringan, ingin punya anak lagi, menolak untuk
dioperasi, Keadaan umum pasien tak mengizinkan untuk
dioperasi
(b) Caranya : Latihan otot dasar panggul, Stimulasi otot dasar
panggul dengan alat listrik, Pemasangan pesarium, Hanya
bersifat paliatif, Pesarium dari cincin plastik.
Prinsipnya : alat ini mengadakan tekanan pada dinding atas
vagina sehingga uterus tak dapat turun melewati vagina bagian
bawah. Biasanya dipakai pada keadaan: Prolapsus uteri dengan
kehamilan, Prolapsus uteri dalam masa nifas, Prolapsus uteri
dengan dekubitus/ulkus, Prolapsus uteri yang tak mungkin
dioperasi: keadaan umum yang jelek

2. Pengobatan dengan Operasi

Prolapsus

uteri

vagina.Maka,jika

biasanya

dilakukan

disertai

dengan

prolapsus

untuk

prolapsus

pembedahan

uteri,prolapsus vagina perlu ditangani juga.ada kemungkinan


terjadi prolapsus vagina yang membutuhkan pembedahan,padahal
tidak ada prolapsus uteri,atau prolapsus uteri yang tidak ada belum
perlu dioperasi.Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus
vagina adalah adanya keluhan.
Indikasi untuk melakukan operasi pada prolapsus uteri
tergantung dari beberapa factor,seperi umur penderita,keinginanya
untuk mendapat anak atau untuk mempertahankan uterus,tingkat
prolapsus dan adanya keluhan. Beberapa pembedahan yang
dilakukan antara lain:
a)

Operasi Manchester/Manchester-Fothergill

b)

Histeraktomi vaginal

c)

Kolpoklelsis (operasi Neugebauer-La fort)

d)

Operasi-operasi

lainnya

:Ventrofiksasi/hlsteropeksi,

Interposisi
Jika Prolaps uteri terjadi pada wanita muda yang masih ingin
mempertahankan fungsi reproduksinya cara yang terbaik adalah
dengan :

H.

a)

Pemasangan pesarium

b)

Ventrofiksasi (bila tak berhasil dengan pemasangan pesarium)

KOMPLIKASI
a. Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri
b. Dekubitus
c. Hipertropi serviks uteri dan elongasioa koli
d. Gangguan miksi dan stress inkontinensia
e. Infeksi saluran kencing

f. Infertilitas
g. Gangguan partus
h. Hemoroid
i. Inkarserasi usus

II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN DATA
1.

Data Subyektif

a.

Biodata
Prolapsus uteri lebih sering ditemukan pada wanita yang telah
melahirkan, wanita tua dan wanita yang bekerja berat. (Wiknjosastro,
2007)

b.

Keluhan utama

Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.


Kadangkala penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup
berat tidak mempunyai keluhan apapun, sebaliknya penderita lain
dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Keluhankeluhan yang hampir sering dijumpai menurut Wiknjosastro, 2007:
1)

Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol

2)

Rasa sakit di pinggul dan pinggang, biasanya jika penderita


berbaring, keluhan menghilang dan menjadi kurang

c.

Riwayat kebidanan
1)

Haid
Awal menstruasi (menarche) pada usia 11 tahun atau lebih
muda. Siklus haid tidak teratur, nyeri haid luar biasa, nyeri
panggul setelah haid atau senggama (Wiknjosastro, 2010:346).

2)

Riwayat kehamilan
Faktor resiko yang menyebabkan prolaps uteri jumlah
kelahiran spontan yang banyak, berat badan berlebih, riwayat
operasi pada area tersebut, batuk dalam jangka waktu lama saat
hamil.

3)

Riwayat persalinan
Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus
dengan penyulit merupakan penyebab prolapsus genitalis dan
memperburuk prolaps yang sudah ada. Faktor-faktor lain
adalah tarikan janin pada pembukaan belum lengkap. Bila
prolapsus uteri dijumpai pada nulipara, faktor penyebabnya
adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang
uterus (Wiknjosastro, 2007).

Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan


menopouse. Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum
pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pad kala II,
penatalaksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot dasar
panggul yang tidak baik. Pada menopouse, hormon estrogen
telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi
atrofi dan melemah (Wiknjosastro, 2007).
d.

Pola kebiasaan sehari-hari


1)

Eliminasi
Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:
(a) Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada
siang hari, kemudian lebih berat pada malam hari
(b) Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat
dikosongkan seluruhnya
(c) Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan
kencing jika batuk dan mengejan. Kadang-kadang dapat
terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali
Rektokel dapat menjadi gangguan pada defekasi
a)

Obstipasi karena feses berkumpul dalam rongga


rektokel

b)

Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada


rektokel vagina

2)

Aktivitas dan istirahat


Pengeluaran serviks uteri dari vulva mengganggu penderita
saat berjalan dan beraktivitas. Gesekan portio uteri oleh
celana dapat menimbulkan lecet hingga dekubitus pada
porsio.

2.

Data Obyektif
a.

Keadaan umum lemah

b.

Tanda-tanda vital
TD = 110/70-130/90 mmHg
N = 60-90x/mnt
S = 36,5-37,5
RR = 16-24x/mnt

c.

Pemeriksaan fisik
1)

Muka
Tampak pucat pertanda adanya anemia, keluar keringat dingin
bila terjadi syok.
Bila perdarahan konjungtiva tampak anemis. Pada klien yang
disertai rasa nyeri klien tampak meringis. (Manuaba, 1998 :
410).

2)

Mulut
Mukosa bibir dan mulut tampak pucat, bau kelon pada mulut
jika terjadi shock hipovolemik hebat.

3)

Dada dan payudara


Gerakan nafas cepat karena adanya usaha untuk memenuhi
kebutuhan O2 akibat kadar O2 dalam darah yang tinggi,
keadaan jantung tidak abnormal.

4)

Abdomen
Adanya benjolan pada perut bagian bawah (Sastrawinata, 1981
: 158).
Teraba adanya massa pada perut bagian bawah konsisten
keras/kenyal, tidak teratur, gerakan, tidak sakit, tetapi kadangkadang ditemui nyeri (Sastrawinata, 1981 : 160).
Pada pemeriksaan bimanual akan teraba benjolan pada perut,
bagian bawah, terletak di garis tengah maupun agak kesamping

dan sering kali teraba benjolan-benjolan dan kadang-kadang


terasa sakit (Wiknjosastro, 2006 : 344).
Pada pemeriksaan Sondage didapatkan cavum uteri besar dan
rata (Sastrawinata, 1981 : 161).
5)

Genetalia
Pada kasus ringan, bagian uterus turun ke puncak vagina dan
pada kasus yang sangat berat dapat terjadi protrusi melalui
orifisium vagina dan berada di luar vagina.

6)

Anus
Akan timbul haemoroid, luka dan varices pecah karena
keadaan obstipasi akibat penekanan mioma pada rectum.

7)

Ekstremitas
Oedem pada tungkai bawah oleh karena adanya tekanan pada
vena cava inferior (Sastrawinata, 1981 : 159).

2.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Sebelum Operasi
Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin
Kecemasan

berhubungan

dengan

akan

dilakukan

tindakan

pembedahan.
Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
inkontenensia urin
Setelah Operasi

Nyeri berhubungan dengan luka operasi.


Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan
muntah setelah pembedahan.
Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pada luka
operasi.
Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan
dengan kurang informasi.
3. INTERVENSI KEPERAWATAN
Sebelum Operasi
1)

Diagnosa Keperawatan 1.
Nyeri berhubungan dengan eliminasi urin
Hasil yang diharapkan :
Nyeri berkurang sampai hilang secara bertahap.
Pasien dapat beradaptasi dengan nyerinya,
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital
R/ Peningkatan nyeri akan meningkatkan tanda-tanda vital
2. Observasi keluhan nyeri, lokasi, jenis dan intensitas nyeri
R/ untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.
3. Jelaskan penyebab rasa sakit, cars menguranginya.
R/ pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan
mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk
diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan.
4. Beri posisi senyaman mungkin buat pasien.
R/ Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan
pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin.
5. Ajarkan tehnik-tehnik relaksasi = tarik nafas dalam.

R/ Teknik relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan


pasien.
6. Beri obat-obat analgetik sesuai pesanan dokter.
R/ Obat obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien.
7. Ciptakan lingkungan yang tenang.
R/ Rangasangan yang berlebihan dari lingkungan akan
memperberat rasa nyeri.
2)

Diagnosa Keperawatan 2.
Kecemasan berhubungan dengan akan dilakukan tindakan
pembedahan.
Hasil yang diharapkan :
Ekspresi wajah tenang.
Rencana tindakan :
1. Kaji tingkat kecemasan pasien.
R/ mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh
pasien
2. Jelaskan prosedur persiapan operasi seperti pengambilan darah,
waktu puasa, jam operasi.
R/ Pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah
diberikan.
3. Dengarkan keluhan pasien
R/ perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk terbuka
sehingga dapat
mendiskusikan dan menghadapinya
4. Beri kesempatan untuk bertanya.
R/ Memberikan kesempatan pasien untuk menerima informasi yang
ingin diperoleh, meningkatkan kepercayaan diri pasien
5. Jelaskan pada pasien tentang apa yang akan dilakukan di kamar
operasi dengan terlebih dahulu dilakukan pembiusan.

R/ untuk memberikan informasi mengenai pemahamannya


tentang tindakan yang akan dilakukan.
6. Jelaskan tentang keadaan pasien setelah dioperasi.
R/ memberikan pemahaman kepada pasien agar pasien memahami
keadaannya setelah dilakukan tindakan operasi.
3)

Diagnosa Keperawatan 3.
Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
inkontenensia urin
Hasil yang diharapkan :
Turgor kulit elastis.
Rencana tindakan
1. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
R/ Tanda vital merupakan acuhan untuk mengetahui keadaan
umum pasien
2. Timbang berat badan tiap hari.
R/ penimbangan berat badan harian yang tepat dapat mendeteksi
kehilangan cairan
3. Kalau perlu pasang infus clan NGT sesuai program dokter.
R/ Mempertahankan intake yang adekuat

Sesudah Operasi
1)

Diagnosa Keperawatan 1.
Nyeri berhubungan dengan luka operasi.
Hasil yang, diharapkan :
Nyeri berkurang, secara bertahap.
Rencana tindakan :
1. Kaji intensitas nyeri pasien.
R/ untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.
2. Observasi tanda-tanda vital dan keluhan pasien.

R/ Peningkatan nyeri akan meningkatkan tanda-tanda vital dan


dengan menanyakan keluhannya, perawat dapat mengetahui keluhan
yang diderita melalui pengkajian tersebut
3. Letakkan klien di tempat tidur dengan teknik yang tepat sesuai
dengan pembedahan yang dilakukan.
R/ membantu posisi tepat apsien
4. Berikan posisi tidur yang menyenangkan clan aman.
R/ pasien mungkin nyaman dengan terlentang dan kepala
ditinggikan
5. Anjurkan untuk sesegera mungkin beraktivitas secara bertahap.
R/ menganjurkan untuk pasien siap secara mental dan fisiknya
untuk melakukan aktivitas seperti biasa
6. Berikan therapi analgetik sesuai program medis.
R/ analgetik diberikan untuk membantu menghambat stimulus
nyeri ke pusat persepsi nyeri di korteks serebri sehingga nyeri
dapat berkurang.
7. Lakukan tindakan keperawatan dengan hati-hati.
R/ tindakan keperawatan dilakukan dengan hati-hati untuk
mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan dan menghindari
kejadian yang tidak diharapkan.
8. Ajarkan tehnik relaksasi.
R/ pendekatan dengan menggunakan teknik relaksasi nafas dalam
dan teknik relaksasi nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan
keefektifan dalam mengurangi nyeri.

2)

Diagnosa Keperawatan 2.
Resiko Tinggi Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan
muntah setelah pembedahan.
Hasil yang diharapkan
Turgor kulit elastis, tidak kering.

Mual clan muntah ticlak ada.


Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
R/ Tanda vital merupakan acuhan untuk mengetahui keadaan
umum pasien
2. Monitor pemberian infus.
R/ pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan kekurangan
volume cairan
3. Beri minum & makan secara bertahap
R/ memenuhi kebutuhan nutrisi pasien
4. Monitor tanda-tanda dehidrasi.
R/ untuk menentukan intervensi selanjutnya
5. Monitor clan catat cairan masuk clan keluar.
R/ mengetahui kekurangan cairan yang dialami pasien
6. Timbang berat badan tiap hari.
R/ Untuk mendapatkan pembacaan yang paling akura
7. Catat dan informasikan ke dokter tentang muntahnya.
R/ untuk Mengetahui perkembangan kondisi pasien dan
menentukan tindakan selanjutnya

3)

Diagnosa Keperawatan 3.
Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka operasi.
Hasil yang diharapkan
Luka operasi bersih, kering, tidak ada bengkak. tidak ada perdarahan.
Rencana tindakan :
1. Observasi keadaan luka operasi dari tanda-tanda peradangan :
demam, merah, bengkak dan keluar cairan.

R/ mengetahui dan mengidentifikasi kerusakan kulit untuk


melakukan intervensi yang tepat
2. Rawat luka dengan teknik steril.
R/ Untuk menghindari kontaminasi
3. Jaga kebersihan sekitar luka operasi.
R/ untuk mencegah infeksi
4. Beri makanan yang bergizi dan dukung pasien untuk makan.
R/ Nutrisi dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mengganti
jaringan yang rusak dan mempercepat proses penyembuhan.
5. Libatkan keluarga untuk menjaga kebersihan luka operasi clan
lingkungannya.
R/ agar keluarga juga mendapatkan pengetahuan terutama
mempercepat penyembuhan luka pasien
6. Kalau perlu ajarkan keluarga dalam perawatan luka operasi.
R/ agar pasien lebih mudah melakukan perawatan di rumah dengan
bantuan keluarganya
4)

Diagnosa Keperawatan 4.
Resiko Tinggi hypertermi berhubungan dengan infeksi pada luka
operasi.
Hasil yang diharapkan :
1. Luka operasi bersih, kering, tidak bengkak. tidak ada perdarahan.
2. Suhu dalam batas normal (36-37C)
Rencana tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam.
R/ Peningkatan nyeri akan meningkatkan tanda-tanda vital
2. Beri terapi antibiotik sesuai program medik.
R/ Pemberian oabt antibiotik unuk mencegah infeksi
3. Beri kompres hangat.

R/ Dengan kompres akan terjadi perpindahan panas secara


konduksi dan kompres hangat akan mendilatasi pembuluh darah
4. Monitor pemberian infus.
R/ mengetahui kekurangan cairan yang dialami pasien
5. Rawat luka operasi dengan tehnik steril.
R/ Untuk menghindari kontaminasi
6. Jaga kebersihan luka operasi.
R/ untuk menghindari infeksi pada luka operasi
7. Monitor dan catat cairan masuk dan keluar.
R/ untuk mengetahui intervensi sesuai dengan kondisi pasien

5)

Diagnosa Keperawatan 5.
Kurang pengetahuan tentang perawatan luka operasi berhubungan
dengan kurang informasi.
Hasil yang diharapkan :
1. Klien/ keluarga mengerti tentang perawatan luka operasi.
2. Klien/ keluarga dapat memelihara kebersihan luka operasi clan
perawatannya.
Rencana tindakan :
1. Ajarkan kepada klien dan keluarga cara merawat luka operasi &
menjaga kebersihannya.
R/ memudahkan perawatan luka operasi secara mandiri di rumah
2. Diskusikan tentang keinginan keluarga yang ingin diketahuinya.
R/ mengurangi kecemasan dan memotivasi pasien untuk kooperatif
selama masa perawatan atau penyembuhan
3. Beri kesempatan keluarga untuk bertanya.
R/ untuk memberikan informasi dan menambah pengetahuan
keluarga guna membantu perwatan mandiri pasien
4. Jelaskan tentang perawatan dirumah, balutan jangan basah & kotor.

R/ untuk memudahkan pasien melakukan perawatan mandiri di


rumah
5. Anjurkan untuk meneruskan pengobatan/ minum obat secara teratur
di rumah, dan kontrol kembali ke dokter.
R/ untuk mempercepat kesembuhan pasien

4.

IMPLEMENTASI
Setelah menyusun perencanaan, tindakan, langkah selanjutnya
adalah implementasi atau pelaksanaan tindakan. Di dalam tahap ini
perlu mendapatkan perhatian di dalam tahap implementasi
(Depkes,1995:11) adalah
1.

Intervensi yang dilakukan harus berdasarkan prosedur tetap yang


lazim dilakukan.

2.

Pengamatan yang telah dilakukan secara cermat dan tepat sesuai


dengan kriteria dan evaluasi yang telah ditetapkan.

3. Pengendalian kepada klien/pasien sehingga secara berangsurangsur mencapai kondisi yang diharapkan.

5.

EVALUASI
a. Sebelum Operasi
1) Mendapatkan peredaan nyeri.
2) Mengalami redanya nyeri saat beristirahat.
3) Mengalami ketidaknyamanan minimal sebelum operasi dan
setelah operasi
4) Klien menyatakan kecemasan berkurang dan siap
menjalani operasi
5) Klien mendapat asupan volume cairan yang adekuat
b.

Setelah Operasi
1)

Mendapatkan peredaan nyeri.

2)

Klien mendapat asupan volume cairan yang adekuat

3)

Integritas kulitklien baik.

4)

Turgor kulit baik

5)

Suhu tubuh klien dalam batas normal.

6)

Mendapatkan pengetahuan mengenai prolaps uteri dan


program penanganannya.

7)

Menyebutkan bagaimana perawatan luka operasi yang


baik dan benar.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R DENGAN GANGGUAN SISTEM


REPRODUKSI KASUS UTERINA PROLAPS
Ny RA, 50 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri perut pada bagian
bawah karena peranakan turun
dirasakan sejak 1 tahun yang lalu.

dan teraba benjolan pada kemaluannya yang


peranakan turun setelah melahirkan anak ke

empat. Peranakan turun mengeluarkan darah sampai menembus celana dalamnya.


Pada saat BAK ibu merasakan nyeri dan rasa tidak enak. Nyeri perut bagian
bawah (+), nyeri punggung bawah (+), perdarahan (+), nyeri pada peranakan yang
turun (+),BAK nyeri (+), demam (-).Pasien adalah ibu rumah tangga, sering
mengangkat berat, memompa air dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Riwayat hipertensi (-), diabetes mellitus (-), penyakit jantung (-), batuk lama (-),
alergi (+), asma (+). Multiparitas per vaginam (+), menopause (+) sejak 10 tahun
lalu. Riwayat KB (+) spiral.

Pada pemeriksaaan fisik didapatkan keadaan umum compos mentis, kesan


gizi lebih, IMT 27.34, tanda vital dan status generalis tidak ada kelainan. Pada
status ginekologik inspeksi tampak massa uterus keluar sebagian dari introitus
vagina, bentuk bulat, warna merah muda. pada palpasi teraba massa ukuran
2cmx2cmx3cm, konsistensi kenyal, vaginal touche massa dapat dimasukkan,
kesan uteri atrofi.
Pada POPQ didapatkan prolaps uteri derajat IV, sistokel derajat IV, rektokel
derajat III. Pemeriksaan laboratorium DPL dan kimia darah dalam batas normal,
urinalisis terdapat leukosit penuh, bakteri (+), nitrit (+), protein +2, esterase
leukosit (+).

PENGKAJIAN
1. IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien
Nama Suami
Usia
Alamat
Pekerjaan
Agama
Pendidikan
No. MRS
Masuk RS

: Ny. RA
: Tn. B
: 50 thn
: Jln. Perintis Kemerdekaan 8
: IRT
: Islam
: SMP
: 330 21 06
: 6 Juni 2016

2. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal dan data sekunder
3. KELUHAN UTAMA
Seluruh peranakan turun sejak 8 tahun SMRS
4. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Sejak 1 tahun sebelum masuk RS , pasien datang ke RS dengan keluhan


nyeri perut pada bagian bawah karena peranakan turun dan teraba benjolan
pada kemaluannya yang dirasakan sejak 1 tahun yang lalu.

peranakan turun

setelah melahirkan anak ke empat. Peranakan turun mengeluarkan darah


sampai menembus celana dalamnya. Pada saat BAK ibu merasakan nyeri dan
rasa tidak enak. Terdapat keluhan nyeri perut, nyeri punggung bawah dan
perdarahan, dan ada keluhan nyeri pada peranakan yang turun.
Pasien kemudian berobat ke PKM, diberi obat (pasien tidak ingat
namanya), keluhan nyeri dan perdarahan hilang tapi kamubuh kembali. Pada
pasien terdapat keluhan nyeri sat BAK.

Tidak ada keluhan demam

sebelumnya. Hingga saat ini pasien sering mengeluh keluar darah dari
kemaluannya. Pasien berobat ke RS atas anjuran dari suaminyas.
.
5. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Hipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit jantung, batuk lama disangkal
Alergi (+) kacang dan ikan
Asma (+), minum obat napasin setiap hari, beli sendiri
6. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Hipertensi, Diabetes Melitus, Penyakit jantung, Asma disangkal
7. RIWAYAT SOSIAL
Pasien seorang ibu rumah tangga, sehari sering melakukan aktivitas berat,
seperti memompa air. Pasien tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak ada
riwayat berbaganti-ganti pasangan.
8. RIWAYAT MENSTRUASI
Menstruasi pertama saat usia 14 tahun, siklus teratur tiap bulan, lama lupa,
ganti pembalut lupa, tidak nyeri. Pasien sudah menopause sejak 10 tahun
yang lalu.
9. RIWAYAT MENIKAH
Pasien menikah 1x
10. RIWAYAT KEHAMILAN: P4A0
Anak pertama
: wanita, 27 tahun, lahir spontan di Sp.OG, BL 3400 gram
Anak kedua
: wanita, 26 tahun, lahir spontan di Sp.OG, BL 2700 gram
Anak ketiga
: wanita, 20 tahun, lahir spontan di Sp.OG, BL > 3000
gram
Anak keempat

: wanita, 12 tahun, lahir spontan di bidan, BL > 300 gram

11. RIWAYAT KB
KB (+) spiral 26 tahun yang lalu, selama 5 tahun.
12. PEMERIKSAAN FISIK
1) Status Generalis
a) Keadaan Umum : Baik
b) Kesadaran
: Composmentis
c) TTV
: TD : 120/80 mmHg N : 80 x/menit
R :20 x/menit

S : 36.8 0C

d) Tinggi badan
: 160 cm
e) Berat Badan
: 70 kg
2) Pemeriksaan sistemis
a) Kepala
(1) Rambut
rontok
(2) Muka
serta cemas

: Warna hitam, bersih, tidak ada ketombe dan mudah


: Tidak odema, tidak ada kelainan dan tampak sedih

(3) Mata
(a) Oedema : Tidak oedema
(b) Conjungtiva
(c)

Sklera

: Tidak pucat

: Berwarna Putih

(4) Hidung

: Simetris, bersih dan tidak ada benjolan

(5) Telinga

: Simetris, bersih dan tidak ada serumen

(6) Mulut/gigi/gusi: Agak kotor, ada caries, tidak stomatitis dan gusi
tidak berdarah

b) Leher
(1) kelenjar gondok
gondok

: Tidak ada pembesaran kelenjar

(2) Tumor

: Tidak ada tumor

(3) Pembesaran kelenjar limfe


limfe

: Tidak ada pembesaran kelenjar

c) Dada dan axilla


(1) Dada

: Simetris, normal

(2) Mammae
(a) Membesar : Tidak ada pembesaran
(b) Tumor

: Tidak ada tumor

(c) Simetris : Simetris kanan dan kiri


(d) Puting susu: Menonjol
(e) Kolostrum: Tidak ada pengeluaran
(3) Axilla
(a) Benjolan : Tidak ada benjolan
(b) Nyeri

: Tidak ada nyeri

d) Abdomen
(1) Benjolan/tumor

: Ada benjolan

(2) Nyeri tekan

: Ada nyeri tekan pada perut bagian bawah

(3) Luka ekas operasi

: Tidak ada luka bekas operasi

e) Anogenital
(1)Vulva vagina
(a)

Varices

: Tidak ada varices

(b)

Luka

: Tidak ada luka

(c)

Kemerahan

: Ada kemerahan

(d)

Nyeri

: Ada nyeri

(e)

Pengeluaran pervaginam : Terdapat pengeluaran sedikit


dan berwarna kemerahan

(2) Status Ginekologi


Inspeksi
: tampak massa uterus keluar sebagian dari introitus
vagina, bentuk bulat, warna merah muda,
: teraba massa ukuran 2 cmx2cmx3cm, konsistensi

Palpasi

kenyal, nyeri perut bagian bawah (+).


Kesan : prolapsus uteri derajat IV, sistokel derajat IV, rektokel
derajat III
(3) Anus
(a) Hemoroid

: Tidak hemoroid

(b) Keluhan lain : Tidak ada


f) Ekstremitas
(1) Varices

: Tidak ada varices

(2) Oedema

: Tidak ada oedema

(3) Reflek patella

: Positif kanan dan kiri

13. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium (24 Maret 2009)
1. Hematologi rutin
Hb
Ht
MCV
MCH
MCHC
Leukosit
Trombosit
2. Hemostasis
BT
CT

12.2
36.6
77.2
25.7
33.3
6.9
291

13 16 g/dl
40 48 %
82 93 fl
27 31 pg
32 36 g/dl
5 10 10^3/ l
150 400 10^3/ l

02:00
13:00

< 02:00 Menit


< 12:00 Menit

3. Kimia darah
SGOT
SGPT
Albumin
Natrium
Kalium
Klorida
Ureum
Kreatinin
Glukosa Puasa
Glukosa 2 jam PP
HbsAg
4. Urinalisis lengkap
Sedimen
Sel epitel
Leukosit penuh
Eritrosit
Silinder
Kristal
Bakteri
Berat jenis
pH
Protein
Glukosa
Keton
Darah/Hb
Bilirubin
Urobilinogen
Nitrit
Esterase leukosit 3+

14.

15
14
4.3
139
4.25
113
24
0.8
96
118
-

+
2-3
+
1,025
6,5
2+
+
3.2
+

+
0-1 /LPB
2-6 /LPB
- /LPK
1,003 1,030
4,5 8
0.1-1.00 mol/l
-

Pemeriksaan USG : Terdapat massa pada perut bagian bawah

POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI


a) Pola nutrisi
1) Sebelum masuk rumah sakit
Pasien mengatakan makan 3x sehariporsi sedang, menu nasi, sayur,
lauk pauk dan kadang ditambah buah. Minum 7-8 gelas per hari jenis
ir putih dan teh.
2) Selama di rumah sakit

Pasien mengatakan makan menu dari rumah sakit hanya habis 4


sendok, jenis nasi sayur, lauk tahu dan minum 1 gelas air putih dan 1
gelas air teh
b) Pola eliminasi
1) Sebelum masuk rumah sakit
Pasien mengatakan BAB 1 x sehari, konsistensi lunak, warna
kuning, bau khas feces. BAK 6-7 kali sehari, warna kuning jernih.
2) Selama di rumah sakit
Pasien mengatakan belum BAB dan semalam sudah BAK 4 kali,
warna kuning keruh dan ibu merasa nyeri.
c) Pola istirahat
1) Sebelum masuk rumah sakit
Pasien mengtakan tidur siang kurang lebih 1 jam dam tidur malam
kurang lebih 7-8 jam sehari.
2) Selama di rumah sakit
Pasien mengatakan tidak bisa istirahat karena suasana yang tidak
nyaman
d) Personal hygiene
1) Sebelummasuk rumah sakit
Pasien mengtakan mandi 2 kali sehari, ganti pakian 2 kali sehari,
gosok gigi 1 kali sehari dan keramas 2 kali seminggu
2) Selama di rumah sakit
Pasien mengatakan selama dirumah sakit hanya dimandikan
menggunakan kain bersih dan air hangat serta ganti pakaian 2 kali.
e) Pola aktivitas
1) Sebelum masuk rumah sakit
Pasien mengatakan mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu,
memasak, mencuci dan melakukan aktivitas lainnya
2) Selama di rumah sakit
Pasien mengatakan aktivitasnya hanya tiduran di tempat tidur

f) Pola seksual
Tidak ditanyakan
g) Data Psikososial
Psien mengatakan saat ini merasa cemas dengan keadaan yang sedang
dialaminya

KLASIFIKASI DATA
Data Objektif
1)
2)
3)
4)

Ibu mengatakan ada benjolan pada kemaluannya


Ibu mengatakan ada seseatu yang keluar dari kemaluannya berupa darah
Ibu mengatakan merasakan nyeri pada perut bagian bawah
Ibu mengatakan saat BAK merasakan nyeri dan rasa tidak enak

Data Subkjektif
1) Keadaan umum : baik
2) Kesadaran
: Composmentis
TTV
: TD : 120/80 mmHg
R :20 x/menit

N : 80 x/menit
S : 36.8 0C

3)
4)
5)
6)

TB : 160 cm
BB :70 kg
Abdomen : Terdapat nyeri tekan pada abdomen bagian bawah
Anogenital : Tidak terdapat luka, ada kemerahan, terdapat nyeri dan
pengeluaran pervaginam berupa perdarahan yang berwarna kemerahan
7) Pemeriksaan USG : Terdapat massa pada abdomen bagian bawah

ANALISA DATA
No Data

Etiologi

1.

Multipara/partus Nyeri

Data Subkjektif:
1) Ibu mengatakan ada benjolan pada

Problem

kemaluannya
2) Ibu mengatakan ada seseatu yang
keluar dari kemaluannya berupa darah
3) Ibu mengatakan merasakan nyeri pada
perut bagian bawah
4) Ibu mengatakan saat BAK merasakan
nyeri dan rasa tidak enak
Data Objektif:
1) Keadaan umum : baik
2) Kesadaran : Composmentis
3) TTV : TD : 130/80 mmHg
N : 88 x/menit
R :20 x/menit
S : 36.8 0C
S : 36.8 0C
4) TB : 160 cm
5) BB : 70 kg
6) Abdomen : Terdapat nyeri tekan pada
abdomen bagian bawah
7) Anogenital : Tidak terdapat luka, ada
kemerahan, terdapat nyeri dan
pengeluaran pervaginam berupa
perdarahan yang berwarna kemerahan
8) Pemeriksaan USG : Terdapat massa
pada abdomen bagian bawah

berulang kali

Kelemahan
ligamen/ otot
fasia endopeptik

P
tekanan intra
abdominal

Kubah vagina
prolapses

Prolaps rahim

nyeri

DIAGNOSIS KEPERAWATAN :
Nyeri berhubungan dengan peranakan turun dan saat BAK

INTERVENSI

NO
1

DIAGNOSA
Nyeri berhubungan
dengan eliminasi
urin

TUJUAN
Hasil yang
diharapkan :
Nyeri
berkurang
sampai
hilang secara
bertahap.
Pasien dapat
beradaptasi
dengan
nyerinya,

INTERVENSI

1. Observasi tanda-tanda
vital
R/ Peningkatan nyeri akan
meningkatkan tanda-tanda
vital
2. Observasi keluhan nyeri,
lokasi, jenis dan intensitas
nyeri
R/ untuk mengetahui
berapa berat nyeri yang
dialami pasien.
3. Jelaskan penyebab rasa
sakit, cars menguranginya.
R/ pemahaman pasien
tentang penyebab nyeri
yang terjadi akan
mengurangi ketegangan
pasien dan memudahkan
pasien untuk diajak
bekerjasama dalam
melakukan tindakan.
4. Beri posisi senyaman
mungkin buat pasien.
R/ Posisi yang nyaman akan
membantu memberikan
kesempatan pada otot
untuk relaksasi seoptimal
mungkin.
5. Ajarkan tehnik-tehnik
relaksasi = tarik nafas

dalam.
R/ Teknik relaksasi dapat
mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan pasien.
6. Beri obat-obat analgetik
sesuai pesanan dokter.
R/ Obat obat analgesik
dapat membantu
mengurangi nyeri pasien.
7. Ciptakan lingkungan
yang tenang.
R/ Rangasangan yang
berlebihan dari lingkungan
akan memperberat rasa
nyeri.

IMPLEMENTASI
NO TANGGAL/JAM DIAGNOSA

IMPLEMENTASI

1.

7 Juni 2016/

Nyeri

1. mengobservasi tanda-tanda

09.00

berhubungan

vital

dengan
peranakan
turun dan
saat BAK

H: TD : 130/80 mmHg
N : 88 x/menit
R :20 x/menit

S : 36.8 0C
S : 36.8 0C
2. Mengobservasi keluhan nyeri,
lokasi, jenis dan intensitas nyeri

H : P : nyeri
Q : Hilang timbul
R : Abdomen bagian bawah
S : skala 5 (sedang)
T : Pada saat BAK dan saat
abdomen bagian bawah
ditekan
3. menjelaskan penyebab rasa
sakit, cara menguranginya
. H : Pasien mengerti penyebab
rasa sakit yang dirasakan dan
cara mengatasinya
4. memberi posisi senyaman
mungkin buat pasien.
H : pasien nyaman dengan posisi
semi fowler
5. Mengajarkan tehnik-tehnik
relaksasi = tarik nafas dalam.
H : Paien memahami dan
melakukan tekhnik relaksasi
nafas dalam
6. Memberi obat analgetik sesuai
resep dokter.

H : diberikan injeksi ketorolac 1


7 juni 2016 /
13.00

amp / 8 jam
7. menciptakan lingkungan yang
tenang.
H : Pengunjung pasien dibatasi
untuk kenyamanan pasien

1. mengobservasi tanda-tanda
vital
H: TD : 130/70 mmHg
N : 86 x/menit
R :20 x/menit
S : 36.8 0C
2. Mengobservasi keluhan nyeri,
lokasi, jenis dan intensitas
nyeri
H : P : nyeri
Q : Hilang timbul
R : Abdomen bagian
bawah
S : skala 4 (sedang)
T : Pada saat BAK dan saat
abdomen bagian bawah
ditekan

7 juni 2016 /
16.00

5. Mengajarkan tehnik-tehnik
relaksasi = tarik nafas dalam.
H : Paien memahami dan

melakukan tekhnik relaksasi


nafas dalam
6. Memberi obat analgetik sesuai
resep dokter.
H : diberikan injeksi ketorolac 1
amp / 8 jam

1. mengobservasi tanda-tanda
vital
H: TD : 120/70 mmHg
N : 76 x/menit
R :20 x/menit
S : 36.8 0C
S : 36.7 0C
2. Mengobservasi keluhan nyeri,
lokasi, jenis dan intensitas
nyeri
H : P : nyeri
Q : Hilang timbul
R : Abdomen bagian bawah
S : skala 3 (ringan)
T : Pada saat BAK dan saat
abdomen bagian bawah
ditekan

6. Memberi obat analgetik sesuai


resep dokter.

H : diberikan injeksi ketorolac 1


amp / 8 jam

EVALUASI
No

Diagnosa

Tanggal/Jam

Evaluasi

1.

Nyeri

7 juni 2016 /

S : Klien mengatakan masih merasa

berhubungan

09.00

dengan

nyeri pada perut bagian bawah dan


nyeri juga terasa saat BAK

peranakan

O : Nyeri tekan pada abdomen bagian

turun dan

bawah

saat BAK

A : Masalah belum teratasi


P : Lanjutkan intervensi :
1. observasi tanda-tanda vital

2. observasi keluhan nyeri,


lokasi, jenis dan intensitas
nyeri
5. ajarkan tehnik-tehnik
relaksasi = tarik nafas
dalam.
6. berikan obat analgetik
sesuai resep dokter
7 juni 2016 /
13.00
S : Klien mengatakan nyeri pada perut

bagian bawah dan nyeri saat BAK


mulai berkurang
O : Nyeri tekan pada abdomen bagian
bawah dengan skala 4
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi :
1. observasi tanda-tanda vital

2. observasi keluhan nyeri,


lokasi, jenis dan intensitas
nyeri
6. berikan obat analgetik
7 juni 2016 /

sesuai resep dokter

16.00
S : Klien mengatakan nyeri pada perut
bagian bawah dan nyeri saat BAK
mulai berkurang
O : Nyeri tekan pada abdomen bagian
bawah dengan skala 3 (nyri ringan)
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi :
1. observasi tanda-tanda vital

2. observasi keluhan nyeri,


lokasi, jenis dan intensitas
nyeri
6. berikan obat analgetik

sesuai resep dokter

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC
Olsen AL, Smith VJ, Bergstrom JO, et al. Epidemiology of surgically managed pelvic
organ prolapse and urinary incontinence. Obstet Gynecol. Apr 1997;89(4):501506. [Medline].
Lazarou G, Scotti RJ, Zhou HS, et al. Preoperative Prolapse Reduction Testing as a
Predictor of Cure of Urinary Retention in Patients with Symptomatic Anterior
Wall Prolapse. Int Urogynecol J Pelvic Floor Dysfunct. 2000;11:S60.
Scotti RJ, Flora R, Greston WM, et al. Characterizing and reporting pelvic floor
defects: the revised New York classification system. Int Urogynecol J Pelvic Floor
Dysfunct. 2000;11(1):48-60. [Medline].
Lazarou GL, Chu TW, Scotti RJ, et al. Evaluation of pelvic organ prolapse: interobserver reliability of the New York classification system. Int Urogynecol J Pelvic
Floor Dysfunct. 2000;11:S57.