Anda di halaman 1dari 17

Data dan Fakta Seputar Blok Mahakam

12 Pebruari 2013
Menanggapi beberapa berita yang terus dihembuskan oleh beberapa pengamat terkait dengan
perpanjangan Blok Mahakam maka dirasakan perlu meluruskan data dan fakta yang ada,
demikian disampaikan oleh Gde Pradnyana, Sekretaris Satuan Kerja Khusus Migas
(SKKMIGAS). Sebagaimana diketahui, kontrak bagi hasil blok Mahakam ditandatangani tahun
1967, kemudian diperpanjang pada tahun 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai tahun
2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada tahun 1967 menemukan cadangan minyak dan
gas bumi di Blok Mahakam tahun 1972 dalam jumlah yang cukup besar. Cadangan (gabungan
cadangan terbukti dan cadangan potensial atau dikenal dengan istilah 2P) awal yang ditemukan
saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF).
Dari penemuan itu maka blok tersebut mulai diproduksikan dari lapangan Bekapai pada tahun
1974
Produksi dan pengurasan secara besar-besaran cadangan tersebut di masa lalu membuat
Indonesia menjadi eksportir LNG terbesar di dunia pada tahun 1980-2000. Kini, setelah
pengurasan selama 40 tahun, maka sisa cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel
dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF. Pada akhir maka kontrak tahun 2017 diperkirakan
masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas
sebanyak 3,8 TCF pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti
(P1) gas kurang dari 2 TCF. Jadi informasi yang disampaikan seolah-olah sisa cadangan gas
pada tahun2017 sebesar 10,1 TCF dan sisa cadangan minyak sebesar 192 juta barel jelas tidak
mempunyai dasar, jelas Gde Pradnyana.
Sebagaimana diketahui, Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang bekerja disana saat ini di Blok
Mahakam, yaitu TOTAL yang berpartner dengan INPEX 50%-50%, telah menginvestasikan
setidaknya US$ 27 miliar atau sekitar Rp 250 triliun sejak masa eksplorasi dan
pengembangannya telah memberikan penerimaan Negara sebesar US$ 83 miliar atau sekitar
Rp.750 triliun.
Masalah perpanjangan blok Mahakam sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menjamin
dan memaksimalkan penerimaan Negara. Seandainya pemerintah bermaksud memperpanjang
kontrak blok Mahakam, maka pemerintah pasti akan meminta kenaikan bagi hasil yang lebih
banyak lagi dari kontrak sebelumnya. Sisa cadangan yang ada plus fasilitas produksi yang
sudah sepenuh diberikan cost recovery harus dianggap sebagai equity pemerintah sehingga
split bagi hasil yang semula 70:30 untuk gas dan 85:15 untuk minyak harus dinaikkan secara
signifikan untuk mengkompensasi equity pemerintah tersebut, imbuh Gde. Sebagaimana
diketahui, saat ini Pemerintah masih menimbang-nimbang siapa yang akan ditunjuk sebagai
operator blok tersebut, baik opsi memperpanjang kontrak dengan perubahan split dan
perubahan komposisi participating interest, maupun opsi menyerahkan operatorship ke
perusahaan Nasional, yaitu Pertamina. Gde menegaskan bahwa: Menteri Jero Wacik adalah

orang yang sangat nasionalis, beliau pasti memperhitungkan agar opsi yang dipilih dapat
memberikan manfaat yang terbesar bagi kepentingan bangsa dan Negara.

PENGELOLA BLOK MAHAKAM HARUS TINGKATKAN CADANGAN TERBUKTI


20 Pebruari 2013
Jakarta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK
Migas) menginginkan agar pengelola Blok Mahakam yang akan datang mampu secara aktif
melakukan eksplorasi di laut dalam sekitar wilayah tersebut dengan investasi yang besar
sehingga dapat menambah cadangan gas terbukti yang tinggal sedikit di blok Mahakam.
Dulu saat cadangan di Blok Mahakam masih banyak dan produksi masih tinggi di tahun 1997,
kenapa diberikan perpanjangan kontrak ke Total Indonesie di tahun 1997 oleh yang dulu?
Sekarang cadangannya tinggal sedikit, kenapa malah ribut? Yang kita butuhkan sekarang ini
bukan memperebutkan blok tersebut. Tapi siapa yang berani investasi untuk eksplorasi di laut
yang lebih dalam lagi agar cadangan minyak dan gas di blok Mahakam dapat meningkat, ujar
Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini disela-sela acara pelantikan pejabat setingkat Kepala Dinas
dan Kepala Subdinas di Jakarta, Selasa (19/02).
Cadangan gas terbukti di blok Mahakam Kalimantan Timur ketika kontrak berakhir 2017
diperkirakan tinggal 2 triliun kaki kubik (trillion cubic feet / TCF) dan dibutuhkan investasi Rp80
triliun untuk dapat memproduksi gas dari blok tersebut selama masa operasi 20 tahun.
Jadi hanya untuk mengangkat gas yang sudah terbukti tersebut saja dibutuhkan investasi
sebesar Rp80 triliun dimana dari hasil investasi tersebut dengan sistem bagi hasil 70% untuk
Pemerintah dan 30% untuk kontraktor maka kontraktor yang akan mengelola blok mahakam

akan mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp36 triliun sementara Pemerintah Republik
Indonesia akan mendapatkan keuntungan bersih yang jauh lebih besar sekitar Rp84 triliun
tanpa harus keluarkan modal. Dalam hal Penerimaan Negara, yang kami inginkan adalah
Penerimaan Negara yang optimal ditambah dengan penambahan cadangan baru di wilayah
tersebut, ujarnya.
Diluar biaya investasi untuk mengangkat cadangan gas terbukti di Blok Mahakam, dibutuhkan
juga investasi yang jumlahnya tidak sedikit untuk melakukan eksplorasi agar cadangan terbukti
di blok Mahakam dapat ditingkatkan lebih dari 2 TCF. Dana yang dibutuhkan untuk eksplorasi
tambahan di Blok Mahakam bisa ratusan trilliun dan itu belum tentu berhasil padahal sesuai
dengan keinginan banyak pihak agar cadangan gas Indonesia juga harus meningkat. Jika tidak
ada investasi tambahan di blok Mahakam untuk eksplorasi maka masa depan cadangan gas
Indonesia akan terancam tandasnya.
Karena itu saat ini masih dibutuhkan investor untuk dapat membantu Pemerintah untuk
melakukan eksplorasi dalam rangka meningkatkan cadangan gas terbukti di blok Mahakam
tanpa perlu Pemerintah menanggung resiko kerugian jika eksplorasi tersebut gagal. Negara
jangan sampai menanggung resiko akibat kegagalan eksplorasi. Apakah BUMN dan BUMD
mau menanggung kerugian eksplorasi seluruhnya ? Kasihan Negeri ini kalau harus
mengorbankan hilangnya potensi tambahan cadangan minyak dan gas akibat tidak ada
investasi, kata Rudi. (*)

Gathering Testing Satellites (GTS) membaur harmonis dengan ekosistem rawa di Delta
Mahakam, Kalimantan Timur.
TEMPO.CO, Jakarta -- Juru Bicara Total E&P Indonesie, Kristanto Hartadi, mengatakan
cadangan minyak dan kondensat di Blok Mahakam pada 2017 diperkirakan 50 juta barel.
Adapun cadangan gas bumi diperkirakan 2 - 2,5 triliun kaki kubik (triliun cubic feet/TCF).

Pada akhir tahun lalu produksi kumulatif Blok Mahakam mencapai 16,2 TCF dan 1,5 miliar barel
minyak. Produksi ini diperkirakan 80 persen dari cadangan Blok Mahakam. "Rata-rata
diproduksi 0,5 - 0,6 TCF setahun. Maka diperkirakan tersisa 2-2,5 TCF setelah 2017," katanya
di Jakarta, Rabu, 28 Agustus 2013.
Kristanto mengatakan saat ini rata-rata produksi gas di Blok Mahakam 1.700 juta standar kaki
kubik per hari (million standard cubic feet per day/mmscfd). Sementara produksi minyak dan
kondensat 67 ribu hingga 69 ribu barel per hari.
Hingga saat ini, pemerintah tak kunjung memutuskan kelanjutan pengelolaan Blok Mahakam
pasca berakhirnya kontrak Total E&P Indonesie dan Inpex pada 2017 (Baca: Mengapa
pemerintah tak kunjung memutuskan pengelolaan Blok Mahakam). Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik dan Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo enggan
berkomentar mengenai kontrak ini. Kristanto mengaku kontraktor migas asal Perancis ini juga
belum mendapat kabar terkait kontrak baru.

VIVAnews - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, menginginkan
PT Pertamina untuk mengelola Blok Mahakam secara penuh atau 100 persen. Mantan
dirut PT Perusahaan Listrik Negara itu berharap Pertamina dapat menyaingi Petronas
dalam waktu empat tahun ke depan.
Seberapa menarik kah Blok Mahakam di Kalimantan Timur itu?
Seperti diketahui, kontrak bagi hasil Blok Mahakam ditandatangani pada 1967 dan
kemudian diperpanjang pada 1997 untuk jangka waktu 20 tahun hingga 2017. Saat ini,
Blok Mahakam dikelola oleh Total EP Indonesie, Prancis dan Inpex Jepang dengan
komposisi 50:50.
Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada 1967 menemukan cadangan minyak dan gas
bumi di Blok Mahakam dalam jumlah yang cukup besar. Cadangan (gabungan
cadangan terbukti dan cadangan potensial atau dikenal dengan istilah 2P) awal yang
ditemukan saat itu sebanyak 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi 21,2 triliun kaki
kubik (TCF). Dari penemuan itu, blok tersebut mulai diproduksi dari lapangan Bekapai
pada 1974.

Produksi dan pengurasan secara besar-besaran cadangan tersebut di masa lalu


membuat Indonesia menjadi eksportir LNG terbesar di dunia pada 1980-2000. Kini,
setelah pengurasan selama 40 tahun, sisa cadangan 2P minyak saat ini sebanyak 185
juta barel dan cadangan 2P gas 5,7 TCF.
Pada akhir masa kontrak 2017, diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak
sebanyak 131 juta barel dan cadangan 2P gas 3,8 TCF. Dari jumlah tersebut
diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF.
Total dan Inpex telah menginvestasikan setidaknya US$27 miliar atau sekitar Rp250
triliun sejak masa eksplorasi, dan pengembangannya telah memberikan penerimaan
negara sebesar US$83 miliar atau sekitar Rp750 triliun.
Pada 2011, blok tersebut menghasilkan gas 2.480 MMSCFD dan minyak 93.000 barel
per hari. Volume gas tersebut sekitar 30 persen dari produksi nasional. Blok ini
diperkirakan masih memiliki cadangan gas sekitar 12,7 triliun kaki kubik. Saat ini,
produksi Blok Mahakam terdiri atas minyak bumi sebanyak 65.204 barel per hari dan
gas bumi 1.708,59 triliun kaki kubik.
Pada 2011, Pertamina telah mengirimkan surat kepada Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral agar diberikan pengelolaan Blok Mahakam setelah 2017. Pertamina ingin
memegang mayoritas hak partisipasi sekaligus operator Blok Mahakam setelah 2017.
Pemerintah saat ini masih melakukan kajian yang mendalam dan komprehensif serta
melibatkan berbagai unsur terkait pengelolaan blok migas yang terletak di Kalimantan
Timur itu. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan final mengenai pengelolaan
Blok Mahakam yang akan berakhir masa kontraknya empat tahun lagi itu. (art)

Mengenai kemungkinan Pertamina menguasai 100% saham, menurut Naryanto, dirinya


tidak terlalu yakin karena investasi yang dibutuhkan sangat besar. Meski demikian,
pemerintah masih menunggu Pertamina menyampaikan proposal dalam pengelolaan
Blok Mahakam, dengan didukung data yang kuat mengenai kemampuannya.

"Maksimal waktunya tiga bulan dari pekan lalu," ujar Naryanto.


Sebagaimana diketahui, Total E&P Indonesie telah menguasai Blok Mahakam selama
50 tahun. Kontrak Blok Mahakam akan habis masa kontraknya pada 2017 mendatang.
Selama ini, Pertamina dan badan usaha milik daerah (BUMD) hanya mendapat 30%
hasil dari Blok Mahakam, sisanya masing-masing 35% dimiliki Total E&P Indonesia dan
Inpex Corporation Ltd.
Adapun Blok Mahakam masih menyimpan cadangan gas sekitar 1.7650 juta kaki kubik
per hari (mmscfd) dan kondensat 60.000 barel per hari (bph). Terkait biaya
pengembangannya per tahun mencapai Rp25 triliun.
JAKARTA - Perubahan skema pengembangan Blok Masela di darat (onshore) yang berbeda
dari Plan of Development (PoD) 1 yang sudah disetujui menyebabkan investasi mega proyek
tersebut bakal lebih mahal.
Pengamat Energi dari Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya mengatakan, dengan
adanya keputusan pengembangan Blok Masela dilakukan di darat, investor harus membuat
revisi PoD yang tentu membutuhkan waktu karena banyak detail yang harus dibahas bersama
dan dinegosiasikan lagi. Di lain pihak, dibutuhkan biaya dan modal yang lebih besar dalam
mengembangkan blok tersebut sesuai permintaan pemerintah.
"Pengembangan Blok Masela akan mengalami kemunduran dari proyeksi beroperasinya blok
tersebut sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan dalam PoD 1. Selain investasi proyek
tersebut akan menjadi lebih mahal, pemerintah juga harus menanggung beban cost
recovery yang sudah dikeluarkan kontraktor berdasarkan persetujuan PoD 1 sebelumnya,"
ujarnya di Jakarta Jumt (3/6/2016).
Berly menambahkan, sesuai karakteristik sektor migas dengan investasi besar, pengembangan
Blok Masela sudah pasti membutuhkan kepastian hukum dan jaminan dari pemerintah. Hal ini
dibutuhkan agar biaya dan investasi puluhan dolar sesuai skema pengembangan berdasarkan
keinginan pemerintah tidak akan sia-sia. Perubahan drastis atas skema pengembangan dapat
menyebabkan biaya yang dikeluarkan menjadi sia-sia.
"Dampak tidak langsung malah lebih besar lagi. Salah satunya turunnya kepercayaan investor

terhadap iklim investasi sektor migas di Indonesia. Yang mau investasi puluhan dolar saja bisa
cancel dan harus melakukan perubahan drastis, katanya.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan, setiap lapangan
migas memang memiliki tingkat keekonomian yang tidak selalu sama. Jaminan mengenai
kepastian hukum dan kondusifitas investasi harus tetap dilakukan oleh pemerintah. PoD Blok
Masela yang sedang direvisi saat ini akan butuh waktu lama. Selain pemerintah tetap harus
mereview sebelum melakukan persetujuan, dalam kondisi saat ini yang dibutuhkan oleh pelaku
usaha adalah kepastian usaha dan insentif investasi.
Anggota Komisi VII DPR, Mukhtar Tompo, menegaskan, pengembalian cost recoverymemang
tidak akan merugikan negara. Cost recovery hanya akan dilakukan bila kegiatan eksplorasi
menemukan cadangan yang ekonomis. Namun, yang paling dibutuhkan pengusaha energi saat
ini adalah kejelasan soal regulasi. Selama ini banyak kegiatan di bidang energi terhambat
karena kelemahan atau tidak ada dasar hukum yang tepat.
Seperti diketahui, pada Maret lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan pengembangan Blok
Masela dilakukan secara onshore, berbeda dengan skema pengembangan Blok Masela yang
sudah disetujui pada Desember 2010 melalui skema offshore. Pengumuman tersebut sebagai
jawaban atas usulan revisi PoD untuk meningkatkan kapasitas FLNG menjadi 7,5 MTPA dari
2,5 MTPA ke SKK Migas.
Inpex dan Shell sebagai kontraktor mengusulkan perubahan tersebut karena adanya temuan
cadangan yang lebih besar sekitar 10,7 TCF. Persetujuan atas pengembangan Blok Masela
pada PoD sebelumnya mengikat pemerintah untuk menjamin semua biaya yang sudah
dikeluarkan Kontraktor dapat dikembalikan sesuai skema cost recovery.

Menjelang Berakhirnya KKS Blok Mahakam (Bagian


1) : Kronologi Perpanjangan Wilayah Kerja Blok
Mahakam
25 February 2013, Editor admin

Terkait

Tata Kelola Gas, Pahami Rantai Bisnisnya

56 Anak Perusahaan PHE

Gerakan Menerangi Indonesia

Dana Ketahanan Energi: Diperlukan atau Tidak?

Rencana Merger Pertagas - PGN

Harga Minyak Menguat Tidak Bertahan Lama

Tugas Berat Menanti Otoritas Migas di 2016-2017

Pembelian Minyak dan BBM dari LN Butuh Proses Cukup Lama

Proyek CBM di Asia Jalan Terus di Tengah Kemerosotan Harga Minyak

Pendelegasian Proses Perizinan Sektor Hulu Migas ke BKPM Dilakukan Bertahap

facebook
0
twitter
google+
0
linkedin
0

Menyusul segera habisnya masa kontrak kerjasama (KKS) di Blok Mahakam pada 2017, wacana soal penghentian
kontrak mulai marak di Tanah Air. Berbagai pendapat, saran, hingga aksi hukum mewarnai ranah publik. Semua
mengklaim sebagai pihak yang ingin menyelamatkan sumber daya energi nasional. Tapi memang tidak semua
memiliki cara pandang yang sama dalam misi penyelamatan itu. Sebagian pihak berpendapat bahwa Blok Mahakam
harus sepenuhnya dikuasai oleh Indonesia lewat Pertamina sebagai perusahaan minyak dan gas nasional. Sebagian
lagi berpendapat bahwa pengelolaan Blok Mahakam memiliki risiko tinggi yang ujungnya juga akan makan biaya

tinggi. Oleh sebab itu, kubu ini berpendapat bahwa agar nasionalisme tidak sempit, sebaiknya penyertaan Pertamina
di Blok Mahakam tidak mayoritas.

Untuk menelaah masalah ini, MigasReview.com akan menurunkan tiga tulisan secara berseri, yang dimulai dengan
kronologi perpanjangan Wilayah Kerja (WK) Blok Mahakam.

DATA UMUM

Wilayah Kerja

KKKS

PSC Original

PSC Extension 1

Status

Pemegang saham

: Mahakam

: Total Indonesie E&P

: 31 Maret 1967 - 30 Maret 1997

: 31 Maret 1997 31 Desember 2017

: Produksi (Dimulai pada 1974)

: Total E&P Indonesie (50%) INPEX (50%)

Dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR-RI Di hadapan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik
bercerita bahwa 50 tahun lalu, tepatnya 1967, pertama kali Blok Mahakam ditemukan. Saat itu, asing mendapatkan
kontrak eksplorasi berjangka 30 tahun sampai dengan 1997.

Itu Total Indonesie dan Inpex memegang saham sebesar 100 persen. Kita tidak ikut dalam kepemilikan tapi kita
tetap mendapatkan hasil. Kalau mereka dapat minyak, mereka dapat bagian 15 persen, kita 85 persen. Kalau dapat
gas, mereka 30 persen dan kita 70 persen. Jadi ladang itu kita yang punya, mereka cuma kontraktor kontrak
kerjasama (KKKS), kata Jero.

Total dan Inpex telah menginvestasikan setidaknya US$ 27 miliar atau sekitar Rp250 triliun sejak masa eksplorasi
dan pengembangannya, yang telah memberikan penerimaan kepada negara sebesar US$ 83 miliar atau sekitar
Rp.750 triliun.

Sekretaris Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas) Gde Pradnyana menuturkan, kontrak bagi hasil Blok Mahakam
kemudian diperpanjang pada 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai 2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan
pada 1967 menemukan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam pada 1972 dalam jumlah yang cukup
besar.

Cadangan, yaitu gabungan cadangan terbukti dan cadangan potensial atau dikenal dengan istilah 2P awal, yang
ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF). Dari
penemuan itu, blok tersebut mulai diproduksi dari lapangan Bekapai pada 1974.

Produksi dan pengurasan cadangan tersebut secara besar-besaran di masa lalu membuat Indonesia menjadi
eksportir LNG terbesar di dunia pada 1980-2000. Kini, setelah pengurasan selama 40 tahun, sisa cadangan 2P
minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF. Pada akhir maka kontrak 2017,
diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8
TCF. Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF.

Jadi informasi yang disampaikan seolah-olah sisa cadangan gas pada tahun2017 sebesar 10,1 TCF dan sisa
cadangan minyak sebesar 192 juta barel jelas tidak mempunyai dasar, jelas Gde mengacu pada klaim the
Indonesian Resources Studies (IRESS).

Masalah perpanjangan kontrak Blok Mahakam sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menjamin dan
memaksimalkan penerimaan negara.

Seandainya pemerintah bermaksud memperpanjang kontrak Blok Mahakam, maka pemerintah pasti akan meminta
kenaikan bagi hasil yang lebih banyak lagi dari kontrak sebelumnya, kata Gde.

Dikatakannya, sisa cadangan yang ada plus fasilitas produksi yang sudah sepenuhnya diberikan cost recovery harus
dianggap sebagai equity pemerintah sehingga split bagi hasil yang semula 70:30 untuk gas dan 85:15 untuk minyak
harus dinaikkan secara signifikan demi mengompensasi equity pemerintah tersebut, imbuh Gde.

Potensi Eksplorasi

Balik ke 2010, kegiatan eksplorasi pada tahun itu berupa pengeboran sumur Stupa-6 yang merupakan sumur stepout dari Lapangan Stupa dan TM-96 yang akan membuktikan keberadaan dan produktivitas reservoir over pressure
zona H. Berdasarkan pengiriman data sumberdaya status Desember 2009, terlihat bahwa masih terdapat 9 prospek
dengan potensial sumberdaya (inplace) untuk minyak sebesar 60.6 MMBO dan gas sebesar 1350 BSCF serta 11
(sebelas) lead, sehingga program kegiatan eksplorasi ke depan masih dapat dilanjutkan.

Meskipun demikian, produksi Blok Mahakam sudah memasuki fase decline mulai 2010. Penurunan lebih tajam
terjadi pada 2012 karena terjadi problem kepasiran yang signifikan. Cadangan migas konsisten turun sejak 2000
karena tidak ada temuan eksplorasi yang cukup besar, hanya menguras lapangan existing.

Gde mengatakan, penambahan cadangan di Blok Mahakam masih dimungkinkan asal dilakukan investasi untuk
melakukan kegiatan eksplorasi. "Jadi, kuncinya harus eksplorasi agar menemukan tambahan cadangan," kata Gde.

Memang, sejak 2003 Reserves Replacement Ratio (RRR) sudah negatif. Sementara itu, rasio Reserve to Production
(R/P) adalah sekitar 5 tahun. Artinya, cadangan akan habis dalam 5 tahun lagi sejak 2017 apabila dikuras dengan
tingkat produksi terakhir yaitu sekitar 420 MBOEPD. Tetapi karena tingkat produksi mengalami penurunan yang
signifikan, maka R/P diperkirakan lebih dari 5 tahun dan analisis awal (preliminary analysis) menyebutkan kurang
lebih 10 tahun).

Withdrawal rate atau laju pengurasan terus meningkat walaupun cadangan semenjak 2000 mengalami penurunan
yang signifikan. Withdrawal rate terakhir sekitar 16% atau 2 kali lipat lebih tinggi dari rata-rata nasional sebesar 8%.

Dengan rencana produksi sesuai usulan Total Indonesie, sisa cadangan gas 4.12 TSCF (2P Risk) akan habis pada
2019. Pilihan lainnya, cadangan gas akan terkuras lebih lama lagi tetapi dengan tingkat produksi yang tidak setinggi
usulan Total Indonesie.

Menurut dokumen yang didapatkan MigasReview.com, Total E&P Indonesia (TEPI) mengajukan usulan terms and
condition yaitu perpanjangan KKS selama 15 tahun (31 Desember 2017 - 31 Desember 2032) dengan investasi
sebesar US$ 16 milliar untuk periode 2010-2017, dan selanjutnya sebagai tambahan sekitar US$ 7 milliar.

Sementara itu, terms PSC yang ditawarkan antara lain adalah investment credit tidak diberlakukan untuk projek
recovery tersier/EOR, mengharapkan perbaikan dalam masalah depresiasi, dan first tranche petroleum (FTP)
sebesar 10% payable to GOI untuk keseluruhan revenue hydrocarbon.

Hal ini tidak akan diberlakukan apabila harga gas sales domestik berada di bawah harga ekspor LNG atau jika
perolehan minyak berasal dari metode recovery tersier, bunyi keterangan TEPI.

Perusahaan juga mengusulkan agar bonus dibayarkan dalam 15 hari pada saat penandatanganan perpanjangan
KKS, dan besarnya bonus akan didiskusikan. Menyangkut eksplorasi, TEPI akan melakukan mengeboran minimal 2
sumur eksplorasi dalam 3 tahun setelah 2008. (cundoko aprilianto)

MigasReview, Jakarta Perbaikan tata kelola gas menjadi salah satu


komitmen
pemerintah
untuk
mempercepat
pembangunan
nasional.Namun, perbedaan harga gas selalu menjadi pertanyaan
dari berbagai kalangan, mengingat beberapa tahun terakhir ini
lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Tanah Air lebih banyak
ditemukan
dalam
bentuk
gas.Akan
tetapi,
infrastruktur
pendistribusian gas masih belum merata, tak heran bila Indonesia
bagian Timur belum menikmati energi dari gas bumi.

Disampaikan oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian


Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmadja
Puja, bahwa perbaikan tata kelola akan meliputi perbaikan regulasi
untuk
kenyamanan
iklim
investasi
sehingga
mendorong
pengembangan infrastruktur gas.

Sebagai bukti komitmen pemerintah terhadap pengembangan


sektor gas, maka diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor
40 Tahun 2016 Tentang Penetapan Harga Gas yang mulai berlaku
pada 10 Mei2016. Dalam Perpres tersebut, porsi bagi hasil
pemerintah dikurangi, yang tujuannya menstimulasi usaha hilir
tanpa membebani usaha di sektor hulu.

Kementerian ESDM masih menyusun turunan Perpres tersebut.


Nantinya diharapkan dapat menggerakkan perekonomian dalam
skala lebih besar, meski penerimaan negara berkurang, ujar
Wiratmadja dalam diskusi Gas Governance in Supporting the
Acceleration of Indonesia Economic Development di The 40th IPA
Convention and Exhibition2016.

Menurut Wiratmadja, kebijakan tersebut sejalan dengan semangat


menjadikan sektor minyak dan gas sebagai industri yang
memilikimultiplier effect dan menggerakkan sektor ekonomi lainnya.
Oleh sebab itu, pemerintah berkepentingan menciptakan ekosistem
yang kondusif untuk pengembangan sektor tersebut.

Harga Baru

Membicarakan mengenai harga gas memang tidak seperti minyak


yang memiliki acuan ICP (Indonesian Crude Price) yang masingmasing
jenis
minyak
punya
harganya. Sehingga
ketika
membicarakan rantai bisnisnya (gas) juga berbeda.

Hal tersebut dijelaskan oleh Mantan Direktur Utama Pertamina Gas


(Pertagas) yang kini menjabat Direktur Utama Pertamina Hulu Energi
(PHE) R. Gunung Sardjono Hadi, bahwa perlu dipahami dari
sisiupstream (hulu) dalam pengembangan suatu lapangan memiliki
karateristik yang berbeda pada saat kontrak yang sedang berjalan.
Ketika mengembangkan lapangan yang baru, dengan investasi yang
baru, maka muncul harga yang baru. Selain itu, di minyak
sederhana (rantai bisnisnya), yaitu dari producer langsung ke end
user atau katakan traderlangsung ke end user. Berbeda dengan gas,
rantai bisnisnya cukup panjang, dimana terdapat producer.

Pertama kita bisa direct (langsung) ke end user, sehingga kami bisa
mengestimasi berapa harga di hulu, keekonomian sudah dipastikan
oleh SKK Migas ditambah dengan membangun pipa. Rantai bisnis
seperti ini, masuk ke dalam mekanisme hulu, artinya bisa
dibundling dalam satu paket ketemu harga gas yang langsung

ke end user. Misalnya, pabrik pupuk, ujarnya, ketika ditemui


MigasReview di Kantornya, beberapa waktu lalu.

Namun, terdapat juga (kadang-kadang) yang sumber gasnya jauh


dari infrastruktur atau jauh dari end user. Sehingga perlu
infrastruktur tambahan, seperti pipa transmisi yang punya (saat ini)
ada 2, yaitu Pertagas dan PGN, dimana dalam transmisi terdapat
unsur toll fee. Kenapa dikenakan toll fee? karena terdapat unsur
investasi untuk membangun infrastruktur tambahan yang dikontrol
oleh BPH Migas. Sementara, di sektor upstream dikontrol oleh SKK
Migas, transportasi dikontrol oleh BPH Migas, yang belum dikontrol
adalah trader.
Karenatrader sifatnya independent,
ibarat
beli harga berapa, mau dijual hargaberapa tergantung trader, yang
penting ada yang beli.

Oleh karena itu, fluktuasi (harga) yang paling dominan ada di trader,
dan kadang-kadang trader sendiripun tidak punya infrastruktur,
apabila traderpunya infrastruktur tentunya akan memasukkan unsur
investasinya. Maka, hal ini salah satu yang dapat mengakibatkan
harga gas tinggi (mahal).

Pengembangan Lapangan

Kemudian
yang
membedakannya
lagi
(harga
gas),
memang perludipahami bahwa dari upstream di dalam suatu
pengembangan lapangan memiliki karateristik yang berbeda pada
saat kontrak yang sedang berjalan. Ketika kita menjual dengan
harga gas terdapat POD-nya, saat kondisi gas sudah mulai habis kita

mengembangkan lapangan yang baru, dengan investasi yang baru,


maka muncul harga yang baru. Tentunya, dengan IRR (Internal Rate
of Return) yang sama, harganya pasti berbeda. Tapi yang terpenting
IRR yang sudah kami tetapkan sudah mendapatkan persetujuan dari
SKK Migas dan itupun sekarang tidak tinggi.

Dulu, kita berbicara saat harga minyak masih tinggi, kemudian


mencari gas yang gampang ketimbang minyak, kita bisa mencapai
IRR di atas 30%. Sekarang? susah (dengan harga minyak
rendah), palingan IRR sekitar 15% artinya sangat sensitif sekali, bisa
goncang, tapi itu suatu pilihan yang tidak bisa dihindarkan, jelas
Gunung.

Sehingga, bila ada yang menanyakan harga gas di upstream kenapa


mahal? sebenarnya tidak mahal, namun itu harga baru dari
pengembangan lapangan baru. Kitapun mengembangkan sesuai
dengan keekonomian. Hanya saja, bila kita bicara di posisi end user,
seolah-olah harga tersebut tinggi. Maka, rantai bisnis yang dialami
cukup panjang, ujar Gunung.

Hal
yang
sama
diungkapkan
oleh Chairman
PT
Medco
Energi, Tbk.Muhammad Lutfi, bahwa investasi yang dibutuhkan
untuk
membangun
jaringan
distribusi
dan
infrastruktur
gas dapat mencapai US$42 miliar. Dengan dana sebesar itu, tidak
ada perusahaan Indonesia yang sanggup untuk membiayai proyek
tersebut. Proyek itu akan menarik jika memiliki IRR sebesar 20%.
Kalau bisa sebesar itu, pasti akan banyak yang berinvestasi,
katanya.

Maka, paradigma pemanfaatan gas bumi sebagai energi nasional


perlu dibarengi dengan memetakan atau memberi gambaran dari
sisi pasokan dan pengaturan sumber, kesiapan infrastruktur dan
transportasi atau pendisrtibusian gas, karena bentuknya dapat
berupa LNG, CNG atau LPG, yang mana masing-masing jenis gas
juga memiliki karateristik berbeda-beda. Hal inipun juga dapat
memicu perbedaan harga yang signitifikan.

Sempat tercetus sebuah ide untuk dilakukan pembentukan tim atau


semacam komite agar penentuan harga gas dapat komersil. Dimana
anggotanya
mulai
dari upstream hingga downstream termasukstakeholder terkait.
Dari upstream, dalam hal ini SKK Migas dan Kontraktor KKS,
dari downstream, dalam
hal
ini
BPH
Migas
yang
terdiri
dari transporter, trader, termasuk juga asosiasi pengguna gas dari
industri. Komite ini diharapkan dapat menjadi tim komite yang bisa
melihat dengan jernih, harga-harga mana saja yang favorable dan
bisa diterima, sehingga produk-produk gas diakhir dari end
user masih tetap kompetitif. (anovianti muharti)