Anda di halaman 1dari 8

PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI

KONSELING
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Instrumen
dan Media Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Edi Purwanta, M. Pd & Dr. Ali Muhtadi, M. Pd.

Oleh:
Fitri Ayu Lestari, S.Pd
15713251011

PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016

PENGEMBANGAN EVALUASI KONSELING

A. PENGANTAR
Evaluasi dan sesi tindak lanjut merupakan langkah penting dalam
proses konseling, bukan hanya sekedar pelengkap. Evaluasi merupakan
bagian dari keseluruhan proses konseling itu sendiri, bukan suatu
kegiatan yang terlepas, yang dilakukan pada tahap akhir, yaitu setelah
konseling selesai. Dengan begitu, evaluasi masuk menjadi satu dalam
bagan arus proses konseling yang dimulai dari penetapan tujuan
sampai

pengakhiran

konseling

kelompok.Di

dalam

pelaksanaan

konseling, konselor / Guru Bimbingan dan Konseling, mempunyai


tanggung jawab untuk mengevaluasi kesuksesan perilaku kerja dan
mengadakan tindak lanjut. Tahap ini dimaksudkan untuk mengetahui
sejauh manakah konseling kelompok yang telah dilaksanakan mencapai
hasil, dan tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh Guru
BK/Konselor.
Evaluasi yang dilakukan oleh konselor (Guru BK/Konselor) meliputi
evaluasi proses dan evaluasi hasil konseling. Evaluasi proses konseling
mengidentifikasikan variabel proses yang memberi konstribusi atau
mendorong pencapaian tujuan. Evaluasi proses dimaksudkan untuk
mengetahui sejauh mana keefektifan layanan konseling dilihat dari
prosesnya. Aspek yang dinilai dalam evaluasi proses yaitu antara lain:
(1) kesesuaian antara program dengan pelaksanaan, (2) keterlaksanaan
program, (3) hambatan yang dijumpai, (4) faktor penunjang, dan (5)
keterlibatan siswa dalam kegiatan.
Evaluasi hasil konseling dimaksudkan untuk memperoleh informasi
keefektifan konseling dlihat dari segi hasilnya. Aspek yang dinilai dalam
evaluasi

hasil

konseling

yaitu

perolehan

siswa

dalam

hal:

(1)

pemahaman baru, (2) perasaan, (3) rencana kegiatan yang akan


dilakukan pasca pelayanan, (4) dampak layanan terhadap perubahan
perilaku ditinjau dari pencapaian tujuan layanan, tugas perkembangan,
dan hasil belajar, (5) permasalahan terpecahkan dan aspek-aspek
tertentu pada diri siswa dapat berkembang secara baik, titik-titik lemah

yang dapat mengganggu

perkembangan dapat dihilangkan, dan

permasalahan dapat dipecahkan dengan cepat dan lancar.


Hal-hal yang di evaluasi dari proses konseling

meliputi

keterampilan-keterampilan konseling diantaranya :


1) Keterampilan Atending
Keterampilan atending merupakan usaha pembinaan

untuk

menghadirkan klien dalam proses konseling. Keterampilan dasar ini


harus dikuasai oleh konselor karena keberhasilan membangun kondisi
awal

akan

menentukan

proses

dan

hasil

konseling

yang

diselenggarakan. Penciptaan dan pengembangan atending dimulai


dari upaya konselor menunjukkan sikap empati, menghargai, wajar
dan mampu mengetahui atau paling tidak mengantisipasi kebutuhan
yang dirasa klien.
Aspek-aspek keterampilan atending adalah:
Posisi badan(termasuk gerak isyarat dan ekspresi muka)
Duduk dengan badan menghadap klien
Tangan kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan gerak
isyarat yang sedang dikomunikasikan secara verbal.
Merespon dengan ekspresi wajah, seperti senyum spontan atau
anggukan kepala sebagai tanda setuju.
Badan tegak lurus tetapi tidak kaku atau kalau perlu bisa
dicondongkan ke arah klien untuk menunjukkan kebersamaan.
Kontak mata
Melihat klien terutama pada waktu bicara.
Menggunakan pandangan spontan yang menunjukkan minat
atau keinginan untuk merespon.
Mendengarkan
Memelihara perhatian penuh yang terpusat pada klien.
Mendengarkan apapun yang dikatakan klien.
Mendengarkan keseluruhan pribadi klien (kata-kata, perasaan
dan perilakunya)
Memahami keseluruhan pesannya.
2) Keterampilan Mengundang Pembicaraan Terbuka
Keterampilan ini digunakan ketika konselor melakukan wawancara
dengan klien. Ajakan terbuka untuk berbicara memberi kesempatan
klien

agar

mengeksplorasi

dirinya

sendiri

dengan

dukungan

pewawancara. Pertanyaan terbuka membuka peluang klien

untuk

mengemukakan

harus

ide

perasaan

dan

arahnya

tanpa

menyesuaikan dengan setiap kategori yang telah ditentukan oleh


pewawancara.
Contoh-contoh pertanyaan yang disarankan adalah:
Membantu memulai wawancara
Apa yang akan Anda bicarakan hari ini?
Membantu menguraikan masalah
Cobalah Anda menceritakan lebih banyak lagi tentang hal itu!
Bagaimana perasaan Anda pada saat kejadian itu?
Membantu memunculkan contoh-contoh perilaku khusus sehingga
pewawancara
dapat memahami dengan lebih baik apa yang dijelaskan oleh klien.
Apa yang Anda rasakan pada saat Anda menceritakan hal ini
kepada saya?
Bagaimana perasaan Anda selanjutnya pada saat itu?
Contoh-contoh pertanyaan yang tidak disarankan adalah:
Pemakaian pertanyaan tertutup yang terlalu sering.
Apakah telah terjadi perbaikan sejak pertemuan kita yang
terakhir?
Pengajuan pertanyaan lebih dari satu pada saat yang sama.
Apakah Anda harus memasuki pekerjaan itu?
Pengajuan pertanyaan Mengapa, karena pertanyaan ini sering
menyudutkan orang dan sukar dijawab.
Mengapa Anda tidak bergaul dengan baik?
Memasukkan jawaban dalam pertanyaan.
Anda sebenarnya belum mengerti hal itu pada saat Anda
mengatakan tentang ayahnya, bukan?
3) Keterampilan Paraprase
Paraprase adalah suatu keterampilan dasar dalam konseling yang
bertujuan untuk memperbaiki hubungan antar pribadi. Esensi dari
keterampilan ini adalah pengulangan kata-kata atau pemikiranpemikiran kunci dari klien yang dirumuskan oleh konselor sendiri.
Maksud dari kegiatan paraprase adalah: (1) menyampaikan kepada
klien

bahwa

konselor

bersama

klien,

dan

konselor

berusaha

memahami apa yang dinyatakan klien; (2) mengkristalisasi komentar


klien

dengan

lebih

singkat

sehingga

membantu

mengarahkan

wawancara; dan (3) memberi peluang untuk memeriksa kecermatan


persepsi konselor. Kegiatan paraprase bukan merupakan upaya untuk
membaca apa yang terlintas di benak, tetapi suatu bantuan untuk
memperoleh klarifikasi tambahan yang cermat.

Cara memparaprase adalah sebagai berikut:


Dengarkan pesan utama klien.
Nyatakan kembali kepada klien ringkasan pesan utamanya secara
sederhana dan singkat.
Amati pertanda atau

meminta

respon

dari

klien

tentang

kecermatan paraprase.
Berikut paraprase yang tidak disarankan:
Analisis, interpretasi, atau pertimbangan nilai tentang pesan klien
yang dimaukkan dalam respon konselor.
Respon konselor hanya tertuju kepada bagian kecil dari pesan
klien, bukan tema utamanya.
Pemakaian kata-kata paraprase atau prase yang tidak tepat dalam
wawancara (katakata teknis, istilah psikologi yang berlebihan)
4) Keterampilan Refleksi Perasaan
Refleksi perasaan merupakan keterampilan konselor untuk merespon
keadaan perasaan klien terhadap situasi yang sedang dihadapi.
Kemampuan ini akan mendorong dan merangsang klien untuk
mengemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah
yang sedang dihadapinya. Merefleksi perasaan klien merupakan
suatu teknik yang ampuh, karena melalui tindakan keterampilan
tersebut akan terwujud suasana keakraban dan sekaligus pemberian
empati dari konselor kepada klien. Esensi dari keterampilan ini adalah
untuk

mendorong

dan

merangsang

klien

agar

dapat

mengekspresikan bagaimana perasaan tentang situasi yang sedang


dialami.
Aspek-aspek keterampilan refleksi perasaan adalah:
Mengamati perilaku klien
Pengamatan ini terutama ditujukan pada postur tubuh dan ekspresi
wajah klien.
Mendengarkan dengan baik
Penekanannya pada usaha mendengarkan dengan cermat intonasi
suara klien dan kata-kata yang diucapkan.
Menghayati pesan yang dikomunikasikan klien.
Tindakan ini dimaksudkan untuk memahami dan menangkap isi
pembicaraan klien.
Mengenali perasaan-perasaan yang dikomunikasikan klien.

Menyimpulkan perasaan yang sedang dialami klien.


Menyeleksi kata-kata yang tepat untuk melukiskan perasaan

klien.
Mengecek kembali perasaan klien.
Untuk meyakinkan apakah respon yang diberikan konselor tepat
atau tidak, konselor
hendaknya
melakukan
mengamati

jawaban

dan

pengecekan
ekspresi

kembali
klien

dengan

setelah

cara

respons

itu

disampaikan.
5) Keterampilan Konfrontasi
Konfrontasi dalam wawancara konseling dimaknai sebagai pemberian
tanggapan terhadap pengungkapan kontradiksi dari klien. Konfrontasi
yang efektif tidak menyerang klien, tetapi merupakan tanggapan
khusus dan terbatas tentang perilaku klien yang tidak konsisten.
Penggunaan

keterampilan

ini

mensyaratkan

beberapa

tingkat

kepercayaan dalam hubungan konseling yang telah dikembangkan


melalui

keterampilan-keterampilan

lain.

Nada

suara,

cara

mengintroduksi konfrontasi, sikap badan dan ekspresi wajah, serta


tanda-tanda non verbal lainnya merupakan faktor-faktor utama
dalam menerapkan keterampilan ini.
Contoh-contoh materi yang secara umum diberikan konfrontasi
dalam proses konseling adalah:
Kontradiksi antara isi pernyataan dan cara mengatakan.
Konselor: Bagaimana khabar Anda hari ini?
Klien : Oh..(suara datar) dalam keadaan baik-baik saja (suara
rendah, sikap dan posisi tubuh tampak gelisah)
Konselor: Anda mengatakan baik-baik saja, tetapi suara dan sikap
Anda nampak menunjukkan kegelisahan?
Tidak konsisten antara apa yang diinginkan dan apa yang
dilakukan oleh klien.
Tidak konsisten antara apa yang dikatakan klien dengan reaksi
yang diharapkan oleh konselor.

ISTRUMEN EVALUASI PROSES KONSELING

Petunjuk pengisian :
a) Dibawah ini terdapat pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan
dengan proses konseling.
b) Anda diminta untuk memilih alternative jawaban yang sesuai dengan
kondisi nyata dengan proses pelaksanaan konseling, dengan cara
membubuhkan tanda ( ) pada kolom yang telah disediakan.
N

JAWABAN
TIDA
YA
K

PERNYATAAN

O
1
2

Konselor membuka proses konseling dengan baik


Konselor menyambut kedatangan konseli dengan

ramah
Konselor berbicara dengan kata-kata yang mudah

dimengerti
Sebelum melaksanakan proses konseling, konselor
menyampaikan

terlebih

dahulu

asas-asas

dalam

proses konseling
Konseli leluasa dalam

kepada konselor
Permasalahan konseli

7
8

dengan baik
Konselor berempati kepada konseli
Konselor telah melaksanakan fase atau keterampilan-

menceritakan
sudah

bisa

masalahnya
terselesaikan

keterampilan konseling dengan baik


Konseli merasa nyaman menceritakan masalahnya

10

kepada konselor?
Konselor menguasai seluruh proses konseling?