Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

KASUS BANK CENTURY

Makalah Ini di Buat Guna Memenuhi


Tugas Mata Kuliah Auditing II
Dosen Pengampu Deny Kurniawan, SE.

Disusun Oleh :
Bunga Prestiwaning Fitri
NPM. 13109258

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI


(STAIN) JURAI SIWO METRO LAMPUNG
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga saya dapat menyelesaikan sebuah yang berjudul Makalah Kasus
Bank Century.
Saya menyadari bahwa saya masih dalam taraf belajar, sehingga mohon
maaf apabila terdapat beberapa hal yang akan menjadi kurang tepat dalam
makalah saya

ini, namun sesungguhnya dengan segala usaha, saya

telah

mencoba untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik dan sesuai harapan.
Harapan saya , semoga laporan ini dapat bermanfaat dan saya

selalu

mengharapkan kritik dan saran yang membangun, supaya kedepannya dapat


membuat laporan yang lebih baik.

Metro, Juni 2016


Penulis

Bunga Prestiwaningfitri

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...................................................................................

KATA PENGANTAR ..................................................................................

ii

DAFTAR ISI ...............................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................

A.
B.

Latar Belakang.......................................................................
Tujuan ...................................................................................

1
1

BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................

2.1 Sejarah Singkat Bank Century.................................................

2.2 Keruntuhan Bank Century dari Sisi Manajemen.....................

2.1.1 Akibat Manajemen Buruk dan Krisis Global. .

2.3 Pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek ( FPJP ).....10


2.4 Kasus Bank Century Kesalahan Bank Indonesia
dan KSSK................................................................................

12

2.5 Hak Angket Bank Century.......................................................

13

2.6 Komite Stabilitas Sistem Keuangan ( KSSK ).........................

15

2.7 Pansus Century........................................................................

17

2.8 Permasalahan kasus.................................................................

18

2.9 Pengambilalihan bank century kepada


pemerintah melalui LPS...........................................................

19

BAB III PENUTUP.....................................................................................

21

3.1 Kesimpulan...............................................................................

21

KESIMPULAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Kasus Bank Century yang berkelanjutan membuat masyarakat menjadi

bingung mengenai kebenaran dari kasus tersebut. Makalah ini dibuat sebagai
tugas dari dosen Sistem Pengendalian Manajemen , yang mengangkat contoh
kasus Analisis Kasus Bank Century dari Sudut Pandang Pemerintah. Sadar atau
tidak sadar bahwa Kasus Skandal Century telah menyita perhatian sebagian besar
masyarakat kita, khususnya dari kalangan mahasiswa sebagai kaum intelek
masyarakat.
Dengan adanya makalah ini diharapkan kaum mahasiswa dapat mengetahui
detail permasalahan yang ada dalam tubuh Bank Century, sehingga nantinya dapat
menjelaskan kepada masyarakat bagaimana sebenarnya yang terjadi dan upaya
apa yang telah dilakukan sebagai penyelesaian dari proses yang berkepanjangan
ini.
1.2

Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini, saya mencoba menganalisa sebuah kasus

yang nanti nya semoga dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi saya
sendiri dan orang lain yang membaca nya. Kasus yang saya akan coba untuk
angkat dalam makalah ini adalah masalah yang di alami oleh bank century.
Dalam kasus bank century ini, banyak sekali masalah yang harus di teliti
karena sudah banyak merugikan keuangan Negara yang dapat menyengsarakan
rakyat Indonesia. Banyak kebijakan-kebijakan yang menyimpang dan transaksi
transaksi yang fiktif. Saya selaku masyarakat Indonesia merasa perihatin, karena
masih banyak pejabat yang berkuasa malukakan tindak pidana korupsi.
Tujuan dan manfaat yang dapat diambil dari berjalannya kasus century yang
sedang dihadapi oleh bangsa indonesia ini adalah agar kita semua selalu melihat
aturanaturan atau undangundang dalam memecahkan sebuah masalah. Kita juga

di anjurkan agar tidak terburuburu dan berhatihati dalam mengambil sebuah


keputusan.
Setiap apa yang kita putuskan seharusnya, di musyawarahkan dan juga di
koordinasikan dengan pihakpihak terkait lainya, agar nantinya tidak ada yang
dirugikan, apalagi bila keputusan tersebut menyangkut kepentingan orang banyak,
setiap apa yang kita lakukan harus ada transparansi sehingga kedepannya tidak
menimbulkan konflik. Dengan hadirnya kasus skandal bank century, tentu akan
menjadi suatu pelajaran dan juga pengalaman untuk kita kedepannya, agar hal ini
tidak sampai terjadi untuk yang kedua kalinya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Sejarah Singkat Bank Century


Kisah Bank Century berawal dari tahun 1989 ketika didirikan, hingga 20

November 2008 saat ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai Bank Gagal yang
memiliki dampak sistemik.
Ada beberapa catatan penting terkait perjalanan Bank Century. PT Bank
Century Tbk didirikan berdasarkan Akta No. 136 tanggal 30 Mei 1989 yang
dibuat Lina Laksmiwardhani, SH, notaris pengganti Lukman Kirana, SH, notaris
di Jakarta. Disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat
Keputusannya No. C.2-6169.HT.01.01.TH 89 tertanggal 12 Juli 1989. Didaftarkan
kePengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2 Mei 1991 dengan No. 284/Not/1991.
Anggaran

Dasar

Bank

telah

disesuaikan

dengan

Undang-Undang

PerseroanTerbatas No. 1 Tahun 1995 dalam Akta No. 167 tanggal 29 Juni 1998
dari Rachmat Santoso, S.H, notaris di Jakarta. Pada tanggal 16 April 1990, Bank
Century memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum dari Menteri Keuangan
Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. 462/KMK.013/1990. Pada
tanggal 22 April 1993, Bank Century memperoleh peningkatan status menjadi
Bank Devisa dari Bank Indonesia melalui Surat Keputusan No. 26/5/KEP/DIR.
Anggaran Dasar Bank Century telah beberapa kali berubah, terakhir sesuai
Akta No. 159 tanggal 29 Juni 2005 dari Buntario Tigris Darmawa NG, SH, S.E,
notaris di Jakarta. Perubahan anggaran dasar ini telah mendapat persetujuan dari
Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia No. C-20789.HT.01.04.TH.2005
tanggal 27 Juli 2005. Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar Bank, ruang lingkup
kegiatan usaha adalah menjalankan kegiatan umum perbankan termasuk
berdasarkan prinsip syariah. Bank Century memulai operasi komersialnya pada
bulan April 1990.
Berdasarkan

Surat

Keputusan

Gubernur

Bank

Indonesia

No.

6/92/KEP.GBI/2004 tanggal 28 Desember 2004, menyetujui perubahan nama PT


Bank CIC Internasional Tbk menjadi PT Bank Century Tbk dan izin untuk

melakukan usaha sebagai bank umum berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan


Republik Indonesia No. 462/KMK.013/1990 tanggal 16 April 1990 tentang
Pemberian Izin Usaha, nama PT Bank CIC Internasional Tbk dinyatakan tetap
berlaku bagi PT Bank Century Tbk. Bank Century berdomisili di Indonesia
dengan 27 Kantor Cabang Utama, 30 Kantor Cabang Pembantu dan 8 Kantor Kas.
Kantor Pusat Bank beralamat di Gedung Sentral Senayan II, Jl. Asia Afrika No. 8
Jakarta. Dari jumlah kantor tersebut diatas yang beroperasi sebanyak 63 kantor.
2.2 Keruntuhan Bank Century dari Sisi Manajemen
Masalah yang terjadi di Bank Century merupakan masalah internal yang
dilakukan oleh pihak manajemen bank yang berhubungan dengan klien mereka :
1.

Penyimpangan dan untuk peminjam $ 2,8 milyar (Rp 1,4 triliun Bank
Century pelanggan dan pelanggan delta Antaboga Securities Indonesia
adalahRp 1,4 Triliiun).

2.

Penjualan produk-produk investasifiktif Antaboga Delta Securities


Indonesia. Jika produk tidak perlu mendaftar BI dan Bappepam LK.

Kedua Point tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi Nasabah
Bank Century dan Uang para nasabah pun yang ada di Bank Century tidak bisa
dicairkan dan tidak ada uang tidak dibayar oleh pelanggan.
Setelah tanggal 13 November 2008, Pelanggan Bank Century tidak dapat
melakukan transaksi dalam bentuk devisa, kliring dan tidak dapat mentransfer
juga tidak bisa karena Bank Century tidak mampu untuk melakukannya. Bank
hanya dapat mentransfer uangketabungan.Jadi uang itu tidak bisa keluar dari
bank. Hal ini terjadi pada semua pelanggan Bank Century.
Nasabah bank yang merasa dikhianati dan dirugikan karena banyak menyimpan
uang di bank century, tapi sekarang bank tersebut tidak bisa dilikuidasi. Pelanggan
mengasumsikan bahwa Bank Century Memperjual belikan produk investasi ilegal.
Alasannya adalah investasi dipasarkan Antaboga Century Bank tidak terdaftar di
Bapepam LK. Dan benar manajemen Bank Century tahu bahwa produk adalah
ilegal. Kasus ini dapat mempengaruhi bank lain, di mana orang tidak percaya

bahwa mereka lebih terhadap sistem perbankan nasional. Kasus Bank Century,
sehingga bisa menyakiti bank di Indonesia, bahkan dunia.
Berdasarkan kasus Bank Century diatas menimbulkan dampak yang cukup besar
terhadap perekonomian Indonesia sendiri. Karena menyeret banyak pejabatpejabat penting. Dan lebih khususnya adalah masalah pergerakan harga saham
yang terus mengalami penurunan akibat dari dampak sistemik kasus Bank
Century ini.
Kebangkrutan PT Bank Century Tbk tidak mungkin terjadi begitu saja, ada
beberapa hal yang menyebabkan kebangkrutan bank century antara lain
penyimpangan manajemen dan pengawasan BI yang tidak efektif yang diduga
menjadi penyebab utama bank itu akhirnya mengalami kebangkrutan. Beberapa
Penyebab bangkrutnya bank Century :
1. Penyimpangan Manajemen
Modus kejahatan perbankan yang diduga dilakukan manajemen Bank
Century adalah penempatan dana yang sembrono di pasar uang (money market).
Hal ini terlihat dari penyimpangan yang dilakukan manajemen Bank Century yang
memiliki kewajiban surat berharga valas sebesar US$ 210 juta. Kasus itu
menunjukkan manajemen Bank Century tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian
perbankan.
2. Pengawasan BI yang lemah
BI ternyata pernah memberikan kelonggaran aturan kepada Bank Century,
yakni dengan memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang macet ke kategori
lancar. Hal itu dilakukan agar Bank Century tidak perlu menyisihkan provisi
(pencadangan) atas SSB yang macet itu, sehingga tidak menggerus modalnya.
Yang harus dipertanyakan sejauhmana keefektifan Direktorat Pengawasan
Perbankan BI karena selama ini manajemen Bank Century memberikan laporan
harian dan mingguan sehingga kesehatan perbankan pasti terpantau. Di samping
itu, Bapepam selaku otoritas pasar modal harusnyajugabertanggungjawabkarena
Bank Century merupakan

perusahaan publik. Kasus Bank Century ini

menunjukkan ada praktik-praktik yang menyimpang di bank sentral menyangkut


tes kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) yang tidak akurat.BI juga dinilai

gagal dalam menciptakan tata kelola yang baik (good corporate governance dan
good governance). Kesehatan merupakan hal yang paling penting di dalam
berbagai bidang kehidupan, baik bagi manusia maupun perusahaan.
3. Kesehatan Bank
Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk
melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi
semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan
perbankan yang berlaku.
Pengertian tentang kesehatan bank diatas merupakan suatu batasan yang sangat
luas, karena kesehatan bank memang mencakup kesehatan bank untuk
melaksanakan seluruh kegiatan usaha perbankannya kegiatan tersebut meliputi :
1.

Kemampuan menghimpun dana masyarakat dari lembaga lain dan dari


modal sendiri

2.

Kemampuan mengolah dana

3.

Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat

4.

Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik


modal dan pihak lain

5.

Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku

4. Aturan Kesehatan Perbankan


Berdasarkan Undang-undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU
No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, pembinaan dan pengawasan bank dilakukan
oleh Bank Indonesia. UU tersebut lebih lanjut menetapkan bahwa :
1.

Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan


kecukupan modal, kualitas asset, kualitas manajemen, likuiditas, solvabilitas
& aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank dan wajib melakukan
kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.

2.

Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah


dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara yang
tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan
dananya kepada bank

3.

Bank wajib menyampaikan kepada BI segala keterangan dan penjelasan


mengenai usahanya menurut tata cara yang ditetapkan oleh BI

4.

Bank

atas

permintaan

BI, wajib memberikan kesempatan

bagi

pemeriksaan buku-buku dan berkas-berkas yang ada padanya serta wajib


memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka memperoleh kebenaran
dari segala keterangan, dokumen dan penjelasan yang dilaporkan oleh bank
yang bersangkutan
5.

Bank Indonesia melakukan pemeriksaaan terhadap bank, baik secara


berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan, BI dapat menugaskan
akuntan publikuntuk dan atas nama bank Indonesia melaksanakan
pemeriksaan terhadap bank.

6.

Bank wajib menyampaikan kkca, perhitungan laba rugi tahunan dan


penjelasannya, serta laporan berkala lainnya dalam waktu dan bentuk yang
ditetapkan oleh BI. Neraca dan perhitungan laba rugi dalam waktu dan bentuk
yang ditetapkan BI

5. Aspek-Aspek Penilaian
Penilaian untuk menentukan kondisi suatu bank, biasanya menggunakan
berbagai alat ukur. Salah satu alat ukur yang utama yang digunakan untuk
menentukan kondisi suatu bank dikenal dengan nama analisis CAMEL. Analisis
ini terdiri dari aspek capital, assets, management, earning dan liquidity. Hasil dari
salah satu aspek ini kemudian akan menghasilkan kondisi bank.
a. Aspek Permodalan (Capital)
Penilaian pertama aspek permodalan (Capital) suatu bank. Dalam aspek ini
yang dinilai adalah permodalan yang dimiliki oleh bank yang didasarkan pada
kewajiban penyediaan kewajiban penyediaan modal minimum bank. Penilaian
tersebut didasarkan kepada CAR (Capital Adequcy Ratio) yang telah ditetapkan
BI perbandingan rasio CAR adalah rasio modal terhadap Aktiva Tertimbang
Menurut Resiko (AMTR). Sesuai ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah,
maka CAR perbankan untuk tahun 2002 minimal harus 8%. Bagi bank yang
memiliki CAR dibawah 8% harus segera memperoleh perhatian dan penanganan
yang serius untuk segera diperbaiki.

b. Aspek Kualitas Asset


Aspek yang kedua adalah mengukur kualitas asset bank. Dalam hal ini upaya
yang dilakukan adalah untuk menilai jenis-jenis asset yang dimiliki oleh bank.
Penilaian asset harus sesuai dengan peraturan oleh Bank Indonesia dengan
memperbandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan terhadap aktiva
produktif. Kemudian rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap
aktiva produktif yang diklasifikasikan. Rasio ini dapat dilihat dari neraca yang
telah dilaporkan secara berkala kepada Bank Indonesia.
c. Aspek Kualitas Manajemen ( Management )
Penilaian yang ketiga meliputi penilaian kualitas manajemen bank. Untuk
menilai kualitas manajemen dapat dilihat dari kualitas manusianya dalam
mengelola bank. Kualitas manusia juga dilihat dari segi pendidikan serta
pengalaman para karyawannya dalam menangani berbagai kasus yang terjadi.
Dalam aspek ini yang dinilai adalah manajemen permodalan, manajemen kualitas
aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas dan manajemen likuiditas.
Penilaian didasarkan kepadda jawaban dari 250 pertanyaan yang diajukan
mengenai manajemen bank yang bersangkutan.
d. Aspek Earning
Merupakan aspek digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam
meningkatkan keuntungan. Kemampuan ini dilakukan dalam suatu periode.
Kegunaan aspek ini juga untuk mengukur tingkat efisiensiusaha dan profitabilitas
yang dicapai bank bersangkutan. Bank yang sehat adalah bank yang diukur secara
rentabilitas yang terus meningkat diatas standar yang telah ditetapkan.
6. Hal-hal yang perlu diketahui Mengenai Pengendalian Resiko Operasional
yang Efektif di perbankan
Manajemen risiko operasional sangat efektif jika budaya bank mendorong
standar tingkah laku etis yang tinggi di semua tingkatan bank. Dewan dan
Manajemen senior harus mempromosikan budaya organisasi yang membangun
melalui tindakan dan kata-kata harapan integritas untuk semua pegawai dalam
melakukan bisnis bank.

Prinsip-prinsip yang harus dijalankan supaya suatu organisasi dapat berjalan


sesuai dengan prosedur operasional yang berlaku dan meminimasi resiko
operasional dan resiko-resiko yang lain adalah seperti yang dijelaskan sebagai
berikut:
Prinsip 1: Board of director (BOD), sebagai pimpinan tertinggi organisasi harus
menyadari aspek utama risiko operasional bank yang harus dikelola, dan harus
menyetujui dan mereview secara periodik kerangka manajemen risiko operasional
bank. Kerangka harus memberi definisi risiko operasional menyeluruh pada
perusahaan dan menentukan standar untuk mengidentifikasi, menilai, memonitor,
dan mengendalikan (control/mitigate) risiko operasional.
Prinsip 2: Board of directors, sebagai pimpinan tertinggi organisasi harus
memastikan bahwa ada audit reguler terhadap kerangka manajemen risiko
operasional yang dilakukan oleh tim internal yang independen dan kompeten
(yaitu independen dari tim risiko operasional biasanya fungsi internal audit).
Bank harus memiliki cakupan internal audit yang memadai untuk verifikasi
kebijakan dan prosedur operasi telah diimplementasikan secara efektif.
2.2.1

Akibat Manajemen Buruk dan Krisis Global

Bank

century

menjadi

bangkrut

karna

terjadi

kesalahan

didalam

memanajemen resiko institusi perbankan mereka, belum lagi ada bantuan dari
dalam bank century sendiri untuk menggembosi bank century sendiri setelah
terjadi fasilitas pinjaman jangka pendek (FPJP) ataupun bail out / dana pinjaman.
Secara global bank century adalah contoh nyata terjadinya ketidak patuhan
terhadap hukum perbankan yang berlaku, khususnya hukum manajemen resiko
dan manajemen perbankan pada umumnya, sehingga mudah sekali terjadi
kehancuran sedikit demi sedikit, secara jujur manajemen bank century adalah
salah satu contoh dimana ketidak patuhan terhadap hukum perbankan dari
manajemen resiko dan manajemen perbankan akan berujung pada kebangkrutan
dan kehancuran yang nyata
Hancurnya Bank Century sehingga harus diselamatkan oleh pemerintah
melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui suntikan dana Rp 6,7 triliun
terjadi karena perpaduan pengurusan bank yang mengarah pada tindak kriminal

serta krisis ekonomi global yang terjadi. Surat-surat berharga bodong yang ada di
Century menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi bank tersebut. Belakangan
dilihat ada pengaruh Antaboga, masalah surat bodong itu pasti ada pengaruhnya
dari Bank Century. Tetapi diperburuk karena kondisi krisis global, kalau keadaan
seperti itu tidak dalam krisis global, maka tidak akan meletus seperti itu. namun
suatu saat pasti akan meletus juga, tutur Miranda Goeltom usai rapat dengan
Pansus Century di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.
PT Bank Century Tbk (BCIC) pada awalnya ternyata agen penjual produk
investasi yang diterbitkan PT Antaboga Delta Sekuritas. Hal itu diketahui
berdasarkan pemeriksaan awal Bank Indonesia (BI) pada 2005. Tapi, dari
penelusuran BI diketahui produk yang dijual tidak mempunyai izin dari
Bapepam, kata Deputi Gubernur BI, Siti Ch Fadjrijah dalam pertemuan dengan
Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat
2.3

Pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek ( FPJP )


Kisah pemberian fasilitas pendanaan bermula ketika Bank Century

mengalami kesulitan likuiditas pada Oktober 2008. Manajemen Bank Century


mengirim surat kepada Bank Indonesia pada tanggal 30 Oktober 2008. Mereka
meminta fasilitas laporan aset senilai Rp 1 triliun. Direktur Pengawasan
Perbankan Zainal Abidin, yang mendapat tembusan permohonan dari Bank
Century, mengirimkan laporan tertulis kepada Boediono dan Fadjrijah pada 30
Oktober 2008.
Century tak memenuhi syarat untuk mendapat fasilitas pendanaan jangka
pendek. Penyebabnya, masalah kesulitan likuiditas Century sudah mendasar
akibat penarikan dana nasabah dalam jumlah besar secara terus-menerus. Century
juga insolvent karena rasio kecukupan modal (CAR)-nya hanya 2,02 persen.
Padahal, sesuai dengan aturan Nomor 10/26/PBI/2008 tertanggal 30 Oktober
2008, syarat untuk mendapat bantuan itu adalah CAR harus 8 persen.
Ini yang membuat audit Badan Pemeriksa Keuangan atas Century
menyimpulkan adanya ketidaktegasan Bank Indonesia terhadap bank milik Robert
Tantular itu. Bank Indonesia diduga mengotak-atik peraturan yang dibuat sendiri
agar Century bisa mendapat Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP).

Bank Indonesia mengubah Peraturan Bank Indonesia No 10/26/PBI/2008


mengenai persyaratan pemberian FPJP dari semula dengan CAR 8 persen menjadi
CAR positif. BPK menduga perubahan ini hanya rekayasa agar Century mendapat
fasilitas pinjaman itu. Karena menurut data BI, posisi CAR bank umum per 30
September 2008 berada di atas 8 persen, yaitu berkisar 10,39-476,34 persen.
Menurut BPK, satu-satunya bank yang CAR-nya di bawah 8 persen hanya
Century.
BI akhirnya menyetujui pemberian FPJP kepada Century sebesar Rp 502,07
miliar, karena CAR Century sudah memenuhi syarat PBI. Belakangan, BI bahkan
memberi tambahan FPJP Rp 187,32 miliar. Sehingga total FPJP yang diberikan BI
kepada Century sebesar Rp 689 miliar.
BPK akhirnya mencium kejanggalan karena posisi CAR Century ternyata
sudah negatif 3,53 sejak sebelum persetujuan FPJP. Dengan demikian, BPK
menilai Bank Indonesia telah melanggar PBI No 10/30/PBI/2008

yang

menyatakan bank yang dapat mengajukan FPJP adalah bank dengan CAR positif.
Selain itu, jaminan FPJP Century hanya Rp 467,99 miliar atau hanya 83 persen.
Ini melanggar PBI No 10/30/PBI/2008 mengenai jaminan kredit.
Berikut kronologi pemberian FPJP Bank Indonesia kepada Century seperti
dikutip dari hasil audit BPK atas Bank Century:

30 September 2008
Rasio kecukupan modal (CAR) Bank Century positif 2,35 persen. Menurut
Peraturan Bank Indonesia No 10/26/PBI/2008, bank penerima FPJP harus
memiliki CAR minimal 8 persen. Dengan demikian Century tidak
memenuhi syarat memperoleh FPJP.

30 Oktober 2008
Bank Century mengajukan report aset kredit kepada Bank Indonesia
sebesar Rp 1 triliun.

14 November 2008
BI mengubah PBI mengenai persyaratan pemberian FPJP dari semula
CAR 8 persen menjadi CAR positif. Pada hari yang sama, BI menyetujui
pemberian FPJP kepada Century sebesar Rp 502,07 miliar, karena CAR
Century sudah memenuhi syarat PBI.

14 November 2008, pukul 20.43 WIB

Bank Indonesia mencairkan FPJP Century Rp 356,81 miliar.


17 November 2008

BI kembali mencairkan 145,26 miliar.


18 November 2008

BI memberi tambahan FPJP Rp 187,32 miliar, sehingga total FPJP yang


diberikan BI kepada Century sebesar Rp 689 miliar.
Menurut banyak pihak yang mengatakan bahwa pemberian Fasilitas
Pendanaan Jangka Pendek ( FPJP ) yang berikan oleh pemerintah kepada
bank century tidak tepat.
2.4

Kasus Bank Century Kesalahan Bank Indonesia dan KSSK


Kasus pemberian dana "bail out" (dana talangan) ke Bank Century diduga

karena kesalahan Bank Indonesia (BI) dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan
(KSSK). Pernyataan tersebut dikatakan Anggota Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) Hasan Bisri.
BI patut diduga melakukan kesalahan karena tidak memberikan data-data dan
informasi lengkap kepada Menteri Keuangan sebelum diputuskan sebagai bank
gagal berdampak sistemik," kata Hasan Bisri pada rapat Panitia Angket kasus
Bank Century di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (16/12).
Sedangkan KSSK, katanya, patut diduga melakukan kesalahan karena
menetapkan Bank Century sebagai bank gagal yang berdampak sistemik. Apalagi
penetapan tersebut, kata dia, dilakukan tanpa melakukan "assessment" terhadap
analisis BI mengenai dampak sistemik tersebut, tapi hanya melakukan `judgment`
(penilaian sepihak)," katanya. Kelanjutan dari penetapan tersebut, katanya, KSSK
melakukan "bail out" ke Bank Century tanpa memiliki dasar hukum "Ini makin
memperkuat dugaan kesalahan yang dilakukan KSSK," kata Hasan.
Menurut dia, dasar hukum dilakukannya "bail out" ke Bank Century adalah
Perppu No 4 tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (JPSK)
sudah ditolah DPR pada 18 Nopember 2008, tapi dana talangan tersebut masih
dilakukan setelah tanggal tersebut yakni pada 23 Nopember 2008 dan beberapa
kali pemberian dana talangan berikutnya.

Ketua BPK Hadi Purnomo menjelasakan, pengucuran dana talangan ke Bank


Century dilakukan beberapa kali yakni pada 23 Nopember 2008 sebesar Rp2,7
triliun, pada 5 Desember 2008 sebesar Rp2,2 triliun, serta pada 3 Februari 2009
sebesar Rp1,1 triliun. Menurut Hasan, dari dana talangan yang dialirkan ke Bank
Century sekitar Rp5,8 triliiun di antaranya diduga digunakan untuk menutupi
kerugian yang terjadi akibat perbuatan para pemegang saham atau pihak-pihak
tertentu yang terkait dengan Bank Century.
Rapat panitia angket dipimpin Ketua Panitia Angket Idrus Marham (FPG)
yang didampingi tiga wakilnya yakni Gayus Lumbuun (FPDIP), Mahfud Siddiq
(FPKS), dan Yahya Sacawiria (FPD).Pimpinan BPK hadir seluruhnya yakni ketua
Hadi Purnomo didampingi seluruh anggota.(ant/waa)
2.5

Hak Angket Bank Century


Rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat secara aklamasi menerima usulan

dilakukan hak penyelidikan terhadap Bank Century. Usulan penggunaan Hak


Angket DPR terhadap langkah penyelamatan pemerintah kepada Bank Century
akhirnya didukung 503 dari 550 anggota DPR.
Dengan disetujuinya usulan penggunaan Hak Angket, maka DPR selanjutnya
akan membentuk panitia khusus pada tanggal 4 Desember mendatang. Pansus
yang terdiri dari 30 orang anggota selanjutnya akan melakukan penyelidikan
terhadap berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah kepada Bank Century.
Seperti kita ketahui, pemerintah telah memerintahkan Lembaga Penjamin
Simpanan untuk menyuntikkan modal guna menyehatkan Bank Century. Sejak
pengucuran pertama pada bulan November 2008 hingga Juli 2009, LPS telah
menyetorkan dana sekitar Rp 6,7 triliun. Langkah tersebut menimbulkan
pertanyaan banyak pihak. Bahkan para pengambil keputusan pun sempat kaget
ketika biaya penyelamatan yang semula hanya dilaporkan membutuhkan sekitar
Rp 630 miliar, akhirnya melonjak sampai Rp 6,7 triliun.
Laporan hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan secara tegas
menyebutkan adanya pelanggaran terhadap undang-undang dalam penyelamatan
Bank Century. Antara lain tidak layaknya Bank Century untuk mendapatkan
fasilitas pinjaman jangka pendek karena rasio kecukupan modal sudah negatif,

padahal peraturan Bank Indonesia yang diubah mengharuskan CAR dari bank
yang berhak mendapatkan fasilitas itu harus positif. Juga soal langkah penyertaan
modal sementara yang dilakukan LPS, yang dilakukan tanpa verifikasi terhadap
aset-aset Bank Century terlebih dahulu.
Sejauh yang bisa kita tangkap, alasan dari para pengambil keputusan, ketika
keputusan tersebut diambil keadaannya sudah sangat genting. Yang dipertaruhkan
adalah kepercayaan terhadap sistem perbankan dan itu menyangkut dana Rp 1.500
triliun milik masyarakat yang disimpan di bank. Ketika keputusan penyelamatan
dilakukan, data yang dimiliki BI termasuk dalam urusan CAR Bank Century
adalah data per 31 Oktober 2008. Pada saat itu CAR Bank Century masih di atas 2
persen, sehingga berhak untuk mendapatkan fasilitan pendanaan jangka pendek.
Berbeda dengan Hak Angket sebelumnya, Hak Angket Bank Century dilakukan
terhadap data yang sudah tersedia. Anggota DPR sebenarnya tidak perlu
melakukan penyelidikan, karena hal itu sudah dilakukan BPK dan hasil auditnya
sudah disampaikan kepada BPK.
Kalau pun ada yang masih harus dilakukan Pansus Bank Century adalah
tinggal pendalaman. Misalnya, mengapa BI tidak bisa menyediakan data paling
mutakhir tentang CAR Bank Century ketika malam itu hendak diputuskan
langkah penyelamatan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Bagaimana bias ketika dalam proses transisi dari pemilik lama ke LPS masih
terjadi penarikan dana secara besar-besaran, sehingga ketika LPS masuk uang kas
yang ada di seluruh Bank Century hanya tersisa Rp 20 juta saja. Ke mana saja
aliran dana penyelamatan Bank Century mengucur? Siapa pihak-pihak yang
diuntungkan?
Pansus Bank Century akan dinilai rakyat menjalankan tugas dengan baik
apabila mampu membuat pohon aliran dana Bank Century. Tidak perlu punya
motif untuk menjatuhkan siapa pun, yang lebih penting terbuka siapa yang
sebetulnya diuntungkan dengan penyelamatan Bank Century.
Ketika Bank Bali dulu, PriceWaterhouse Copper mampu menjelaskan setiap
sen dana cessie Bank Bali yang dikucurkan Bank Indonesia. Dari sana kita
mengetahui untuk kepentingan siapa dan untuk kepentingan apa BI mau
mencairkan tagihan milik Bank Bali tersebut.

Memang masih menjadi tanda tanya besar seperti apa ancaman sistemik yang
akan terjadi apabila Bank Century ketika itu dilikuidasi. Data BI memang
menyebutkan bahwa ada aliran dana yang sangat kuat dari bank-bank kecil ke
bank besar. Tetapi seberapa akurat data BI tersebut, sebab untuk mengetahui CAR
yang sebenarnya dari Bank Century, BI tidak mampu memberikan. Aneh jika
dikatakan kita sedang krisis, kondisi krisis itu hanya terjadi pada satu bank saja
dan itu bank yang sangat kecil. Ketika krisis terjadi di Amerika Serikat dan Eropa,
itu terjadi pada banyak bank dan mereka adalah bank-bank yang memang besar
sehingga pihak bank sentral akhirnya turun tangan.
Yang kita butuhkan dari Hak Angket Bank Century adalah terungkapnya
sebuah kebenaran. Sudah terlalu banyak bangsa ini dirugikan karena ulah
segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka memperkaya diri sendiri
dengan merampok uang negaranya sendiri.
Tidak ada satu pun di antara kita yang merasa rela karena begitu banyak
rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Terlalu lama mereka ditelantarkan,
sementara sekelompok orang dengan enaknya hidup bergelimangan harta karena
mengambil hak rakyat yang termarjinalkan.
Sekali lagi kita tidak berkeinginan Pansus Bank Century lebih banyak
bergerak di ranah politik. Lebih baik fokus kepada persoalan keuangan negara.
Kalau pun nanti harus mengimbas ke ranah politik, itu merupakan konsekuensi,
merupakan dampak bukan tujuan utama.
Sekarang tentunya kita mengucapkan selamat bekerja Pansus Bank Century.
Jangan sia-siakan kepercayaan yang masih ada dan diberikan oleh rakyat kepada
para anggota DPR. Di tangan Andalah pengungkapan kebenaran itu kini
ditumpukan.
2.6

Komite Stabilitas Sistem Keuangan ( KSSK )


Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) setiap saat selalu melaporkan

rencana dan perkembangan penanganan kasus Bank Century. Itu terlihat dari
laporan pihak KSSK, Menteri Keuangan, dan Bank Indonesia kepada Panitia
Angket DPR RI.

Berdasarkan laporan yang kami terima dari pihak Departemen Keuangan dan
Bank Indonesia, sebelum menyatakan Bank Century gagal mereka sudah laporkan
ke Presiden RI (Susilo Bambang Yudhoyono). Bahkan setelah Bank Century
dinyatakan gagal, masih ada laporan ke Presiden.
Menurut dokumen yang beredar di kalangan pers, pada risalah rapat KSSK 13
November 2008, Menteri Keuangan selaku Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati
menginformasikan telah menyampaikan permasalahan Bank Century kepada
Presiden.
Pada risalah itu tertulis "Sri Mulyani menyampaikan telah permasalahan ini
kepada Presiden RI. Namun pada hari ini Presiden RI, akan melakukan perjalanan
dinas ke San Fransisco, USA yang artinya sampai dengan esok hari, dalam hal
diperlukan Presiden RI belum dapat mengambil keputusan. Kemudian terkait
dengan kemungkinan penerapan blanket guarantee sebagai alternatifkeputusan
darurat dalam menyelesaikan permasalahn Bank Century. Berdasarkan informasi
Sdr Marsilam, keputusan penerapan blanket guarantee tidak dapat dilakukan atas
persetujuan Wakil Presiden RI."
Pada notulen rapat KSSK 13 November 2008 tersebut tertulis nama
Marsillam Simanjuntak sebagai Ketua UKP3R. Dari risalah tersebut juga terlihat
bahwa Marsilam memberi informasi dari Istana mengenai keputusan penerapan
blanket guarantee tidak bisa diputuskan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ketika itu.
Pada 21 November KSSK memutuskan Bank Century sebagai bank gagal.
Keputusan tersebut dilaporkan Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati dan Anggota
KSSK Gubernur BI Boediono pada 25 November 2008 dengan perihal laporan
pencegahan krisis.
Laporan tersebut tentu melampirkan fotokopi notulen rapat dan keputusan
KSSK. Menteri Keuangan kemudian mengirimkan surat kepada Presiden 4
Februari 2009 perihal laporan perkembangan penanganan Bank Century. Laporan
lengkap tentang penanganan Bank Century kemudian dilaporkan Menteri
Keuangan Sri Mulyani kepada Presiden RI pada 29 Agustus. Laporan ini
dilengkapi dengan executive summary dan dokumen-dokumen terkait Bank
Century. (Ken/OL-06)

2.7

Pansus Century
Anggota panitia khusus (pansus) Bank Century DPR RI menyatakan bahwa

Robet Tantular telah merekayasa kasus Bank Century dengan berdalih bahwa
pencairan uang senilai 18 juta dolar AS milik Boedi Sampoerna merupakan
pinjam-meminjam antara Robert dengan Budi.
"Robert merekayasa hal ini, seolah-olah ini merupakan pinjam-meminjam
antara Boedi dengan Robert," kata anggota tim pansus Bank Century Achsanul
Qosasi (Fraksi Demokrat) usai menyelidiki aliran dana Bank Century di Bank
Mutiara (dulu Bank Century) di Surabaya
Achsanul menjelaskan dari awal, jika dilihat dari strukturnya, ternyata Bank
Century cabang Surabaya sangat tergantung pada deposan besar. "Bayangkan
sebuah cabang bank dengan aset Rp 1,950 triliun milik satu orang yakni Boedi
Sampoerna," katanya.
Hal inilah yang menyebabkan transaksi besar Bank Century berada di
Surabaya. Tentunya ini yang menjadi soroton terpenting yang harus dikunjungi
pansus Bank Century.
Ia menjelaskan bahwa total dana Boedi Sampoerna di Bank Century diketahui
hampir Rp 1,4 triliun d imana di antaranya, Rp 1 triliun ada di Surabaya. Selain
itu, kata dia, uang senilai 18 juta dolar AS milik Budi Sampoerna yang dikirim
dari Bank Century Cabang Surabaya ke kantor pusat Jakarta adalah atas
permintaan Boedi Sampoerna berdasarkan surat tertanggal 14 November 2008.
"Dikirimnya surat ini agar mempermudah kalau Bank Century nanti akan
ditutup. Sehingga 18 juta dolar AS ini pecah-pecah menjadi Rp 2 miliaran,"
katanya. Pemecahan deposito Rp 2 miliaran tersebut bukan kehendak Bank
Century Cabang Surabaya melainkan kehendak Boedi Sampoerna.
Ternyata diketahui bahwa Rp 18 juta dolar tersebut digunakan untuk menutup
kerugian valas yang dilakukan Dewi Tantular, kakak dari Robert Tantular. "Dewi
Tantular ini adalah kakanya, sehingga Robert merekayasa hal ini seolah ini
merupakan pinjam-meminjam antara Boedi dengan Robert," katanya.
Padahal dalam rapat pansus beberapa waktu lalu, Robert menyebutkan bahwa
18 juta dolar AS tersebut dipinjamnya untuk menutup kerugian valas yang terjadi
di Bank Century. Namun pernyataan Robert tersebut, kata dia, dibantah Boedi

Sampoerna yang mengatakan bahwa tidak terjadi pinjam-meminjam antara Boedi


dengan Robert.
2.8

Permasalahan kasus
Kebangkrutan PT Bank Century Tbk tidak mungkin terjadi serta-merta.

Penyimpangan manajemen dan pengawasan BI yang tidak efektif diduga menjadi


penyebab utama bank itu akhirnya mengalami kebangkrutan. Modus kejahatan
perbankan yang diduga dilakukan manajemen Bank Century adalah penempatan
dana yang sembrono di pasar uang (money market-red), kata Pengamat ekonomi
Ichsanuddin Noorsy, Hal ini terlihat dari penyimpangan yang dilakukan
manajemen Bank Century yang memiliki kewajiban surat berharga valas sebesar
US$ 210 juta.
Kasus itu menunjukkan manajemen Bank Century tidak mengindahkan
prinsip kehati-hatian perbankan. Akibatnya, ketika surat utang senilai US$ 56 juta
jatuh tempo, tidak mampu dibayar, padahal pemegang saham pengendali memiliki
dana di bank luar negeri. Ia menyatakan kecurangan yang dilakukan manajemen
(pemegang saham pengendali), yakni menjamin surat utang itu dalam rekening
penampung di Bank Dresdner Luxemburg yang jumlahnya US$ 230 juta. BI
seharusnya memerintahkan pemegang saham pengendali untuk mencairkan uang
dari rekening penampung untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo.
BI juga dinilai gagal dalam menciptakan tata kelola yang baik (good
corporate governance dan good governance) serta lemahnya pengawasan berbasis
risiko. Pengamat perbankan Iman Sugema mendesak agar kejahatan perbankan
yang dilakukan pemegang saham pengendali dan manajemen Bank Century
segera dituntaskan. Tidak mungkin Bank Century serta-merta bangkrut tanpa
didahului kecerobohan berbagai pihak, tandasnya.
Kasus bank century merupakan kasus penyalahgunaan kebijakan dana
talangan dari Bank Indonesia kepada Bank Century yang total nya mencapai Rp
6,7 triliun. Dana talangan ini di indikasikan merugikan negara karena banyak nya
trnasaksi transaksi yang fiktif. Banyak dana talangan bank century yang tidak
sesuai dengan keadaan yang sebenar nya, dalam masalah century ini sebenar nya
adalah masalah krisis keuangan yang dialami oleh bank century dan anggap

pemerintah akan berdampak sistemik terhadap keuangan negara apabila tidak


mendapatkan kucuran dana talangan. Bank century adalah bank kecil sehingga
banyak publik yang mempertanyakan dana talangan yang sebesar Rp 6,7 Triliun,
sedangkan menurut pandangan para ahli keuangan yang ada, bahwa krisis yang di
alami oleh bank century tidak akan berdampak pada keuangan negara atau
sistemik.
2.9

Pengambilalihan bank century kepada pemerintah melalui LPS


Mulai tanggal 21 November 2008, PT. Bank Century Tbk diambil alih oleh

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), untuk selanjutnya tetap beroperasi sebagai


Bank Devisa penuh yang melayani berbagai kebutuhan jasa perbankan bagi para
nasabahnya.
Pengambilalihan bank tersebut oleh lembaga Pemerintah ini dimaksudkan
untuk lebih meningkatkan keamanan dan kualitas pelayanan bagi para nasabah.
Tim manajemen baru yang terdiri dari para profesional telah ditunjuk hari ini
untuk mengelola dan meningkatkan kinerja bank.
Beberapa waktu lalu diberitakan bahwa terdapat minat dari investor untuk
mengakuisisi bank ini. Namun karena proses akuisisi tersebut memakan waktu,
maka demi memberi rasa aman dan kepastian segera bagi para nasabah Bank
Century, Pemerintah dan Bank Indonesia melalui Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK) memutuskan pengambil alihan bank tersebut oleh LPS.

BAB III
KESIMPULAN

3.1

Kesimpulan
Ternyata masalah sesungguhnya dari Bank Century baru muncul ketika dana

bail out mulai bergulir dan kejanggalan dalam neraca nya mulai terungkap.
Kelemahan manajemen mulai ramai setelah kekacauan reksadana Antaboga Delta
sekuritas yang dikeluarkan Bank Century.Dari sini bisa kita simpulkan bahwa
sebenarnya bailout untuk Century memang diperlukan namun dibalik itu ternyata
banyak fakta bahwa kinerja dan tata kelola Century yang sangat buruk.Sebuah
ironi memang, ketika kita terpaksa menolong orang jahat agar tida menimbulkan
kerugian yang lebih besar bagi orang banyak. Namun yang lebih penting adalah
bagaimana kita mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa ini. UU PJSK
yang mampu melindungi perbankan harus diimbangi dengan pengawasan dan
tindakan tegas bag ipelanggar peraturan BI.Pemberian FPJP oleh pemrintah
kepada bank century, karena bank century mengalami kesulitan likuiditas yang
terjadi pada tahun 2008. Pemberian FPJP ini dilakukan pemerintah setelah dari
pihak bank century mengirim kan surat kepada pejabat bank Indonesia.
Seharus nya pemberian FPJP ini tidak dilakukan oleh pemerintah, karena
bank century tidak memenuhi standar persyaratan pemberian FPJP, pada saat itu
standar pemberian FPJP yang berlaku adalah harus memiliki Rasio Kecukupan
Modal ( CAR ) diatas 8 persen, namun bank century di bawah jauh dari standar
yang di tetapkan.
Dari pemberian FPJP ini dari pihak BPK ( Badan Pemeriksa Keuangan )
menganalisa bahwa pihak dari Bank Indonesia kurang tegas dalam pengambilan
kebijakan. Selain itu juga di duga BI telah mengotak atik peraturan yang telah
dibuat sehingga Bank Century menjadi layak mendapatkan Fasilitas Pendanaan
Jangka Pendek. Peraturan yang telah di ubah oleh BI adalah yang semula dalam
pemberian FPJP adalah harus memiliki Rasio Kecukupan Modal ( CAR ) 8 persen

diubah menjadi CAR positif, dengan alasan inilah bank century dapat menerima
FPJP.
Selain Bank Indonesia, BPK juga menduga KSSK melakukan kesalahan dalam
metetapkan kasus Bank century sebagai Bank yang gagal dan akan berdampak
sistemik pada keuangan negara. Dasar hukum yang digunakan KSSK adalah
dalam pemberian dana Bail Out kepada Bank Century adalah Perpu No. 44 Tahun
2008. sedangkan perpu yang di gunakan oleh KSSK sudah ditolak oleh anggota
DPR namun KSSK tetap memberikan dana Bail Out nya kepada Bank Century.
Namun menurut KSSK pemberian FPJP yang diberikan sudah sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Karena setiap saat selalu melaporkan rencana dan
perkembangan penanganan kasus Bank Century. Itu bisa dilihat dari laporan pihak
KSSK, menteri Keuangan, dan Bank Indonesia kepada Hak Angket DPR RI.
Rapat paripurna yang dilakukan oleh anggota DPR menghasilkan usulan untuk
dilakukan hak penyelidikan terhadap kasus Bank Century. Dengan usulan
tersebut DPR membentuk panitia kusus untuk menangani kasus Century, panitia
khusus tersebut terdiri dari 30 anggota yang selanjut nya bertugas melakukan
penyelidikan terhadap langkah atau kebijakan yang di berikan pemerintah kepada
Bank Century.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Century
http://azizullah82.blogspot.com/2012/11/kronologis-peristiwa-bank-centurymulai.html
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/07/140716_bankcentury_1
01
http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2069/1/skandal.bailout.bank.century
http://yamantoisa.wordpress.com/2012/04/01/keruntuhan-bank-century/