Anda di halaman 1dari 23

BAB 11

Validasi Metode Analitik


Pendahuluan
Validasi metode adalah proses yang digunakan untuk mengkonfirmasi terkait prosedur
analitik yang digunakan untuk tes tertentu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Hasil
dari validasi metode dapat digunakan untuk menilai kualitas, reliabilitas, dan konsistensi dari
hasil analisis.
Metode analisis membutuhkan validasi atau revalidasi

Sebelum digunakan untuk penggunaan secara rutin


Adanya perubahan pada metode yang terlah divalidasi (contoh: instrumen dengan

karakteristik berbeda atau sampel dengan matriks berbeda)


Setiap perubahan metode diluar metode dari metode aslinya

USP mengeluarkan pedoman khusus terkait validasi metode untuk mengevaluasi


senyawa. Terdapat 8 langkah untuk validasi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Akurasi
Presisi
Spesifitas
Limit of Detection
Limit of Quantitation
Linearitas dan range
Ketangguhan (Ruggedness)
Kekuatan (Robustness)

Strategi Validasi Metode


Validitas dari metode spesifik harus dibuktikan pada laboratorium percobaan
menggunakan sampel atau standar yang sama dengan sampel tidak dikenal yang dianalisis
secara rutin. Persiapan dan pelaksanaannya harus mengikuti protokol validasi yang ditulis
dalam bentuk instruksi tahap demi tahap yang tertera pada tabel 1.

Prosedur operasi atau Validation Master Plan (VMP) secara jelas mendefinisikan peran
dan tanggung jawang masing-masing departemen yang terlibat dalam validasi metode
analisis. Cakupan dari metode dan kriteria validasi harus dijelaskan pada awal proses.
Karakteristik dari kinerja suatu metode harus didasarkan pada tujuan penggunaan metode
tersebut, tidak selalu diperlukan validasi untuk semua parameter analisis untuk suatu teknik
tertentu. Parameter awal yang harus dipilih berdasarkan pengalaman dari analis dan penilaian
terbaik. Parameter akhir harus disetujui antara laboratorium yang melakukan validasi dan
individu yang menerapkan metode dan pengguna data yang akan dihasilkan oleh metode
tersebut. Contoh parameter yang diuji untuk analisis tertentu tertera pada Tabel 2.

Cakupan dari metode termasuk perbedaan jenis alat dan lokasi metode tersebut
dijalankan. Dengan demikian, eksperimen dapat dibatasi terhadap yang penting untuk
dilakukan. Validasi harus dilakukan oleh seorang analis berpengalaman untuk menghindari
kesalahan dan harus pandai dalam pengoperasian instrumen yang digunakan. Sebelum

instrumen digunakan untuk memvalidasi metode, spesifikasi dari instrumen tersebut harus
diverifikasi menggunakan standar. Beberapa bahan kimia yang digunakan untuk pengujian
parameter kritis validasi seperti reagen dan standar referensi (standards reference), harus:
1. Tersedia dalam jumlah yang cukup
2. Teridentifikasi secara akurat
3. Cukup stabil, dan
4. Pengecekan kemurnian dan komposisi yang tepat
Apabila informasi terkait karakteristik kinerja dari metode tersebut sedikit bahkan tidak
ada, disarankan untuk membuktikan kesesuaian dari metode yang akan digunakan dalam
eksperimen awal. Penelitian tersebut harus mencakup presisi, range, dan batas deteksi.
Apabila data validasi awal tidak sesuai, maka metode, alat dan teknik analisis atau batas
penerimaan harus diubah. Tidak ada pedoman resmi terkait urutan yang benar dari suatu
validasi dan urutan yang optimal tergantung pada metode itu sendiri.
Paramater, batas penerimaan dan frekuensi dari uji kesesuaian sistem berkelanjutan atau
pemeriksaan QC harus dijelaskan selama validasi metode. Kriteria dari validasi metode harus
didefinisikan untuk menunjukkan saat metode dan sistem diluar kontrol statistik. Tujuannya
untuk mengoptimalkan eksperimen tersebut sehingga analisis kontrol dengan jumlah
minimum, metode dan sistem analisis lengkap memberikan hasil jangka panjang untuk
memenuhi tujuan yang terlah ditetapkan pada cakupan metode.
Setelah metode tersebut dikembangkan dan tervalidasi, harus dibuat laporan validasi
yang mencakup:
Tujuan dan cakupan metode (penerapan dan jenis)
Ringkasan dari metodologi
Tipe dari senyawa dan matriks
Semua bahan kimia, reagen, referensi standar (standards reference), sampel QC dengan

kemurnian, mutu, sumber, atau instruksi detail terkait preparasi


Prosedur untuk pemeriksaan kulatisa dari standar dan bahan kimia yang digunakan
Tindakan pengamanan
Rencana dan prosedur untuk implementasi metode dari pengembangan metode

laboratorium menuju analsis rutin


Parameter metode
Parameter kritis dari uji ketahanan (robustness)
Daftar alat dan syarat fungsional dan kinerja
Kondisi rinci terkait bagaimana validasi dilakukan, termasuk persiapan sampel. Laporan

tersebut harus rinci untuk memastikan dapat diperbanyak


Prosedur stastik dan kalkulasi representatif
Prosedur untuk QC pada analisis rutin
Representatif plot
Data batas penerimaan kinerja suatu metode
Ketidakpastian yang diharapkan dari hasil pengukuran

Kriteria revalidasi
Personel yang mengembangkan dan memvalidasi metode
Referensi (jika ada)
Ringkasan dan kesimpulan
Persetujuan dengan nama, judul, tanggal dan tanda tangan dari personel yang bertanggung
jawab untuk review dan persetujuan dari prosedur uji analisis

Verifikasi Metode Standar


Sebuah laboratorium menerapakan metode tertentu harus mendokumentasikan bukti
bahwa metode tersebut telah tervalidasi dengan tepat. Evaluasi dan verifikasi metode standar
harus mengikuti proses dokumentasi yang biasanya merupakan rencana validasi. Hasilnya
harus didokumentasikan pada protokol validasi. Kedua dokumen tersebut akan menjadi
sumber utama untuk laporan validasi. Salah satu contohh dari tahapan rencana eveluasi dan
validasi dari metode standar ditunjukkan dalam sebuah diagram pada Gambar 1. Tahap
pertama, cakupan dari metode tersebut seperti yang diterapkan pada laboratorium pengguna
harus dijelaskan. Hal berikut harus dilakukan secara independen sesuai dengan yang tertulis
pada metode standar dan mencakup informasi sebagai berikut:

Jenis bahan/senyawa yang dianalisis


Matriks
Jenis informasi yang dibutuhkan (kualitatif atau kuantitatif)
Limit deteksi dan kuantitasi
Range
Presisi dan akurasi
Jenis alat, lokasi dan kondisi lingkungan

Tahap kedua, persyaratan kinerja suatu metode harus dijelaskan secara rinci. Hasil dari
langkah tersebut mengarah pada eksperimen yang dibutuhkan validasi metode yang adekuat
dan kriteria penerimaan minimal diperlukan untuk membuktikan bahwa metode tersebut
cocok untuk digunakan. Ketiga, eksperimen yang diperlukan dan hasil yang diharapkan harus
dibandingkan dengan yang tertulis pada metode standar. Dilakukan pemeriksaan pada metode
standar untuk beberapa hal, Gambar 2 dapat digunakan untuk pengecekan tersebut.

Validasi lengkap dari prosedur analisis harus meliputi seluruh proses dimulai dari
pengambilan sampel, preparasi sampel, analisis, kalibrasi dan evaluasi data untuk dilaporkan.
Laporan validasi harus mencakup referensi untuk metode standar.
Validasi Metode Non-rutin
Seringkali suatu metode tertentu digunakan hanya untuk analisis beberapa sampel. Pada
kasus ini, validasi membutuhkan lebih banyak waktu daripada analisis sampel dan
kemungkinan tidak efisien, karena biaya per sampel akan meningkat pesat. Kesesuaian
metode analisis yang digunakan merupakan prasyarat untuk memperoleh data akurat. Oleh
karena itu, hanya metode tervalidasi yang harus digunakan untuk memperoleh data yang
berarti. Pada situasi tertentu, upaya validasi dapat dikurangi dengan metode non-rutin.
Rekomendasi tersebut untuk menurunkan biaya validasi dengan menggunakan metode
generik, contohnya metode dengan penerapan secara luas. Tanpa modifikasi atau dengan
sedikit modifikasi, metode generik dapat diaplikasikan untuk sampel dalam jumlah besar.
Parameter kinerja harus tervalidasi pada sampel khusus yang ditandai dengan sampel matriks,
jenis senyawa dan range konsentrasi.
Quality Control Plan
Untuk beberapa metode yang akan digunakan untuk analisis rutin, rencan QC harus
dikembangkan. Rencana tersebut memastikan bahwa metode, bersama dengan alat yang
digunakan memberikan hasil akurat secara konsisten. Rencana tersebut mencakup
rekomendasi sebagai berikut:
1. Seleksi, penanganan, dan pengujian standar QC

2. Jenis dan frekuensi pemeriksaan dan kalibrasi alat (contohnya akurasi panjang
gelombang yang diperiksa setelah setiap analisis sampel atau setiap hari atau setiap
minggu?)
3. Jenis dan frekuensi kesesuaian sistem pengujian (misalnya, dimanakah titik
kesesuaian standar harus dianalisis selama rangkaian sistem?)
4. Jenis dan frekuensi sampel QC (misalnya, haruskah sampel QC yang akan dianalisis
setelah 1, 5, 20, atau 50 sampel tidak diketahui dan apakah harus ada satu atau analsis
duplikat sampel QC atau apakah harus dijalankan menjadi satu atau dibagi menjadi
beberapa konsentrasi?)
5. Kriteria penerimaan pemeriksaan pelaratan, uji kesesuaian sistem dan analisis sampel
QC
6. Rencana tindakan dalam kriteria kasus 2, 3 dan/ atau 4 tidak terpenuhi
Implementasi untuk analisis rutin
Pada saat metode ditransfer ke laboratorium analisis rutin, pemeliharaan harus dilakukan
dan parameter kritis dipahami dengan baik oleh personel pada departemen yang
mengaplikasikan metode tersebut. Rincian protokol validasi, prosedur dokumentasi untuk
implementasi metode dan komunikasi yang baik antara pengembangan dan departemen
operasi sangat penting. Apabila metode tersebut digunakan oleh beberapa departemen,
direkomendasikan untuk memverifikasi parameter validasi metode dan uji penerapan dan
kegunaan metode pada beberapa departemen tersebut sebelum didistribusikan ke departemen
lainnya. Apabila metode tersebut dimaksudkan untuk digunakan oleh satu atau dua
departemen, seorang analis dari departemen pengembangan harus membantu pengguna
metode selama awal operasi. Pengguna metode harus memberikan umpan balik yang konstan
pada penerapan dan kegunaan metode tersebut kepada departemen pengembangan. Apabila
ada permasalahan, harus diperbaiki.
Pemindahan Metode Rutin Tervalidasi
Ketika metode rutin tervalidasi yang dipindahkan antara laboratorium dan tempat,
keadaan tervalidasinya harus dipertahankan untuk memastikan bahwa pada laboratorium
penerima didapatkan hasil yang sama dan dapat dipercaya. Pemindahan harus dikontrol oleh
sebuah prosedur, rekomendasi langkah-langkahnya sebaga berikut:
Menunjuk pemilik proyek
Mengembangkan rencana pemindahan
Menjelaskan uji pemindahan dan kriteria penerimaan
Mendeskripsikan alasan untuk pengujian
Kereta operator penerima laboratorium dalam pemindahan alat, metode, parameter kritis
dan pemecahan masalah

Mengulangi dua uji validasi metode kritis di laboratorium rutin


Menganalisa setidaknya tiga sampel dalam pemindahan dan laboratorium penerima
Dokumen hasil pemindahan

Revalidasi
Kemungkinan besar beberapa parameter metode harus diubah atau disesuaikan selama
usia dari metode tersebut jika kriteria kinerja metode berada diluar kriteria penerimaannya.
Pertanyaannya adalah apakah metode tersebut membutuhkan revalidasi atau tidak. Rentang
operasi harus didefinisikan secara jelas untuk setiap metode, baik berdasarkan pengalaman
dengan metode yang sama atau diinvestigasi selama pengembangan metode. Rentang tersebut
harus diverifikasi selama validasi metode pada studi kekerasan (robustness) dan termasuk
dalam karakteristik metode. Adanya rentang operasi memudahkan untuk memutuskan metode
tersebut harus direvalidasi.
Revalidasi adalah diperlukan setiap kali metode tersebut berubah dan parameter baru
berada diluar rentang operasi. Revalidasi juga diperlukan jika cakupan metode tersebut telah
diubah atau diperpanjang, misalnya jika perubahan matriks sampel atau perubahan kondisi
operasi. Selanjutnya, revalidasi diperlukan apabila bertujuan untuk menggunakan instrumen
dengan karakteristik berbeda dan karakteristik baru belum tercakup dalam validasi awal.
Setiap kali adanya perubahan yang mungkin memerlukan sebagian atau revalidasi
keseluruhan, perubahan tersebut harus mengikuti perubahan sistem kontrol terdokumentasi.
Diagram alir untuk proses tersebut terdapat pada Gambar 3. Perubahan harus dijelaskan,
resmi untuk diimplementasikan dan didokumentasikan. Perubahan yang mungkin terjadi
meliputi:
Sampel baru dengan senyawa baru atau matriks baru
Analis baru dengan kemampuan berbeda
Instrumen baru dengan karakteristik berbeda
Lokasi baru dengan kondisi lingkungan baru
Bahan kimia baru dan/ atau standar referensi (reference standards). Dan
Modifikasi parameter analitik

Apabila evaluasi metode tersebut menyatakan perubahannya masih dalam lingkup


metode, maka tidak diperlukan revalidasi. Apabila perubahan terletak diluar ruang lingkup
metode tersebut maka parameter untuk revalidasi harus dijelaskan. Jika perlu, setelah
eksperimen validasi, sistem kesesuaian uji parameter harus diselidiki dan dijelaskan secara
ulang.
Parameter Validasi Metode
Parameter yang ditetapkan oleh ICH, organisasi lain dan penulis terangkum dalam Tabel
3 dan dijelaskan secara singkat dalam paragraf berikut.

Selektivitas/ Spesifisitas
Istilah selektivitas dan spesifisitas sering digunakan secara bergantian. Istilah spesifik
mengacu pada metode yang menghasilkan respon untuk analit tunggal saja, sedangkan
selektif merujuk pada metode yang memberikan respon untuk sejumlah kesatuan kimiawi
yang mungkin atau mungkin tidak dapat dibedakan satu sama lain. Apabila respon tersebut
berbeda dari semua respon lainnya, maka metode tersebut dikatakan selektif. Karena sangat
sedikit metode yang merespon pada hanya satu analit, istilah selektifitas biasanya lebih tepat
digunakan. Monografi USP mendefinisikan selektivitas suatu metode analisis merupakan
kemampuan untuk secara akurat mengukur suatu analit dengan adanya gangguan, seperti
prekursor sintetis, eksipien, enansiomer, dan produk degradasi yang dikenal yang diharapkan
terdapat pada matriks sampel.
Studi selektivitas juga harus menilai gangguan yang mungkin disebabkan oleh matriks,
misalnya urin, darah, tanah, air atau makanan. Persiapan sampel yang dioptimalkan dapat
menghilangkan sebagian besar komponen matriks. Tidak adanya gangguan matrisk pada
metode kuantitatif harus dibuktikan dengan analisis lima sumber independen matriks kontrol.
Presisi dan Reprodusibilitas
Presisi metode (Tabel 4) adalah sejauh mana hasil pengujian individu beberapa injeksi
dari serangkaian standar yang disetujui. Pengukuran standar deviasi dibagi menjadi 3
kategori: repeatabilitas, presisi intermediat, dan reprodusibilitas. Repeatabilitas

(Pengulangan) diperoleh ketika analisis dilakukan dilaboratorium oleh operator menggunakan


suatu alat selama rentang waktu yang relatif singkat. Setidaknya 6 penentuan dari 3 matriks
berbeda pada 2 atau 3 konsentrasi harus dilakukan dan dihitung RSD.
ICH menghendaki presisi setidaknya 6 replikasi yang akan diukur pada 100%
konsentrasi target uji atau setidaknya 9 replikasi untuk menutupi keseluruhan rentang yang
ditetapkan. Kriteria penerimaan presisi tergantung pada jenis analisisnya. Pedoman AOAC
untuk program metode Peer-Verified meliputi tabel estimasi data presisi vs konsentrasi analit
(Tabel 4).

Presisi intermediat adalah istilah yang ditetapkan oleh UCH sebagai variabilitas jangka
panjang dari proses pengukuran yang ditentukan dengan membandingkan hasil dari metode
yang sedang berjalan pada laboratorium tunggal selama beberapa minggu. Tujuan dari
validasi presisi intermediate untuk memverifikasi metode pada laboratorium yang sama akan
memberikan hasil yang sama saat tahap pengembangan selesai.
Reprodusibilitas (Tabel 5) yang ditetapkan oleh ICH, mewakili presisi yang diperoleh
antara laboratorium yang berbeda. Tujuannya untuk memverifikasi bahwa metode tersebut
akan memberikan hasil yang sama pada laboratorium berbeda. Validasi reprodusibilitas
penting jika metode tersebut digunakan pada laboratorium berbeda.

Tabel 6 merupakan ringkasan terkait faktor yang harusnya sama, atau berbeda antara
presisi, presisi intermediate dan reprodusibilitas.

Akurasi dan Recovery


Akurasi dapat dideskripsikan sebagai kedekatan dari suatu persetujuan antara nilai yang
diadopsi, baik sebagai nilai referensi konvensional, benar atau nilai yang dapat diterima dan
nilai yang ditemukan (value found).
Nilai benar (true value) untuk penilaian akurasi dapat diperoleh dengan beberapa cara.
Salah satu alternatif cara yang digunakan adalah membandingkan hasil dari metode denga
hasil dari metode referensi. Kedua, akurasi dapat dilakukan dengan menganalisa suatu sampel
dengan konsentrasi diketahui (contohnya, sampel kontrol atau bahan referensi tersertifikasi)
dan membandingkan nilai pengukuran dengan nilai benar (true value) seperti yang tersedia
pada bahan.
Recovery yang diharapkan tergantung pada matriks sampel, prosedur proses sampel dan
konsentrasi analit. Pada Tabel 7 mendeskripsikan perkiraan data recovery vs konsentrasi

analit. Akurasi harus dilaporkan sebagai persen recovery dari uji penambahan jumlah analit
dalam sampel yang diketahui atau sebagai perbedaan antara mean dan nilai benar yang
diterima, bersama dengan interval kepercayaan.

Linearitas dan Kurva Kalibrasi


Linearitas metode analisis merupakan kemampuan untuk memperoleh hasil pengujian
berbanding lurus dengan konsentrasi analit sampel dalam rentang tertentu atau proporsional
dengan cara transformasi matematika yang baik. Seringkali linearitas dievaluasi
menggunakan grafik, sebagai alternatif evaluasi matematika. ICH merekomendasikan untuk
laporan akurasi meliputi koefisien korelasi kurva linearitas, y-intercept, slope regresi, dan
jumlah kuadrat residual. Plot dari data tersebut juga termasuk dalam laporan.
Range
Rentang atau range dari metode analisis merupakan interval antara batas atas dan bawah
yang telah dibuktikan dengan penentuan presisi, akurasi dan linearitas menggunakan metode
yang tertulis. Rentang normal dinyatakan dalam satuan yang sama dengan hasil pengujian
(misalnya persentase, bagian/juta) yang diperoleh dengan metode analisis.
Limit deteksi (LOD)
Limit deteksi merupakan titik dimana nilai terukur lebih besar dari ketidakpastian yang
terkait. Merupakan konsentrasi terendah dari analit pada sampel yang dapat dideteksi tetapi
tidak terlalu diperhitungkan. Limit deteksi seringkali membingungkan pada metode yang
sensitif. Sensitivitas metode analisis adalah kemampuan metode tersbut untuk membedakan
perbedaan kecil konsentrasi atau massa analit yang diuji.

Limit Kuantitasi (LOQ)


Limit kuantitasi merupakan minimum jumlah yang diinjeksikan yang menghasilkan
pengukuran kuantitatif dalam target matriks dengan presisi yang diterima pada kromatografi,
biasanya membutuhkan ketinggian peak 10-20 kali lebih tinggi dari baseline noise.
Hasil dari limit deteksi dan kuantitasi harus diverifikasi dengan uji eksperimental dengan
sampel yang mengandung analit pada tingkat antara dua daerah.

Ruggedness
Ruggedness (Ketangguhan) adalah suatu pengukuran reprodusibilitas dari hasil
pengujian dibawah normal. Ruggedness ditentukan oleh analisis aliquot dari bagian homogen
pada laboratorium yang berbeda.
Robustness
Uji robustness menguji pengaruh parameter operasional terhadap hasil analisis. Apabila
pengaruh paramete dalam toleransi yang sebelumnya telah ditentukan, maka dapat dikatakan
parameter tersebut dalam rentang metode robustness.
Stabilitas
Istilah stabilitas sistem telah ditetapkan sebagai stabilitas dari sampel yang dianalisis
pada larutan sampel. Merupakan ukuran dari bias dalam hasil pengujian yang dihasilkan
selama interval waktu pre-operator, misalnya setiap jam hingga 46 jam menggunakan larutan
tunggal. Stabilitas sistem harus ditentukan dengan analisis replikasi dari larutan sampel.

Manakah parameter yang harus dimasukkan dalam validasi metode?


Untuk proses validasi yang efisien sangat penting untuk menentukan spesifikasi
parameter validasi dan kriteria penerimaan yang benar. Semakin banyak parameter yang
digunakan, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk validasi. Semakin ketat spesifikasi
atau batas penerimaan, semakin sering alat yang digunakan dikalibrasi ulang dan mungkin
juga dikualifikasi ulang untuk memenuhi spesifikasi lebih tinggi pada suatu waktu. Tidak
selalu penting untuk memvalidasi setiap paramete tetapi perlu untuk menentukan mana yang
diperlukan. Parameter validasi tergantung pada beban analisis dan cakupan suatu metode.
Berikut jenis validasi untuk tugas yang berbeda.

BAB 12
Review Data, Validasi dan Evaluasi Ketidakpastian
Validasi data merupakan proses dimana data direvied, dicek untuk plausibilitas dan
akurasi, dan penerimaan atau penolakan berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan. Hal itu
juga merupakan tahap akhir sebelum dikeluarkannya hasil pengujian. Poin yang harus
dipertimbangkan:

SOP harus ada definisi dari data mentah, data entry, keamanan dan review
Akurasi dari data kritis harus diverifikasi
Pengecekan
Hasil akhis harus mudah dilacak kembali
Apabila ada kegagalan harus dicatat secara otomatis di loh-book dan ditempatkan

bersamaan dengan data mentah


Apabila terdapat perubahan pada data, data mentah asli tidak dihilangkan.
Laporan data kuantitatif harus dimasukkan

Validasi Data
Data harus direview dan divalidasi dengan personel yang telah terkualifikasi sesuai
dengan SOP. Sebuah prasyarat untuk analisis data yang akurat adalah instrumen berfungsi
dengan baik dan metode uji tervalidasi. Pengecekan dibuat untuk:
Identifikasi sampel yang tepat
Kesalahan pengiriman
Plausabilitas, dan
Konsistensi
Teknik yang digunakan untuk mencapai hal tersebut mencakup:
Perbandingan dengan data yang sama
Pengecekan plausabilitas dari nilai dengan batas yang ditentukan
Analisi regresi, dan
Uji outlier

Pelaporan Data
Jenis dari informasi yang dilaporkan tergantung banyaknya situasi individual. Hasil dari
setiap pengujian harus dicatat secara akurat, jelas, dan objektif serta sesuai dengan instruksi
dalam metode pengujian dan diminta pelanggan. Yang harus dimasukkan dalam laporan:
Nama dan alamat laobratorium
Identifikasi sampel dan item tes
Metode pengambilan sampel dan analisis
Hasil pengujian dan ketidakpastian

Nama, fungsi dan tanda tangan personel yang bertanggung jawab


Jumlah halaman laporan dan nomor halaman

Pengukuran dan Pelaporan ketidakpastian


Setiap pengukuran memiliki ketidakpastian yang berkaitan dengan hasil dari kesalahan
yang muncul pada berbagai tahap pengambilan sampel, injeksi sampel, pengukuran dan
evaluasi data. Dengan kata lain, setiap kali pengukuran kuantitatif dilakukan, nilai yang
diperoleh merupakan perkiraan nilai sebenarnya. Pernyataan ketidakpastian memberikan
informasi kepada personel terkait toleransi pengukuran dan batas-batas nilai sebenarnya dari
pengukuran, seperti konsentrasi analit yang seharusnya tidak benar.
Informasi tentang ketidakpastian penting jika batas spesifikasinya diverifikasi dan
dilaporkan. Ketika parameter diklaim berada pada toleransi yang diinginkan, nilai
pengukuran diperpanjang dengan estimasi ketidakpastian pengukuran yang harus jatuh pada
batas spesifikasi. Skema dari proses estimasi ketidakpastian ditunjukkan pada Gambar 2.

Keseluruhan prosedur harus didokumentasikan sedemikian rupa sehingga informasi


cukup tersedia untuk memungkinkan hasil akan re-evaluasi apabila adanya informasi baru.
Untuk analisis sampel rutin, pengukuran ketidakpastian kemungkinan diletakkan pada akhir
validasi metode, sebelum metode divalidasi digunakan di laboratorium dan pada interval
diskrit. Untuk metode non-rutin, investigasi adekuat dari prosedur analisis yang sama sudah
cukup.

BAB 13
Penanganan Situasi diluar Spesifikasi
OOS (Out-Of-Spesification) dan investigasi kegalalan diilustrasikan menggunakan
diagram alir (Gambar 1). Pada gambar 1 mengilustrasikan prosedure lengkap dimulai dari
identifikasi dari hasil OOS hingga investigasi kegagalan danperbaikan serta tindakan
pencegahan.

Gambar 1. Overview OOS


Berdasarkan pedoman FDA, identifikasi hasil OOS harus diikuti dengan investigasi
penentuan penyebab dari OOS tersebut. Dimulai dari bahan mentah, API, dan produk jadi
diuji berlawanan dengan spesifikasi produk; contohnya, jumlah pengotor dalam produk jadi
harus < 0,1%. Apabila hasilnya memenuhi spesifikasi, maka dilaporkan dan direview ileh
supervisor laboratorium dan penanggung jawab pada QC untuk perpindahan bets. Apabila
hasilnya diluar spesifikasi, dilakukan investigasi untuk mengidentifikas sumber
permasalahan. Apabila kesalah tidak dapat diidentifikasi, diasumsikan produksi yang
berkaitan dengan masalah tersebut tidak dapat mengeluarkan bets tersebut pada saat itu.
Fase 1: Investigasi Laboratorium
Pada gambar 2 menunjukkan detail proses investigasi laboratorium. Apabila terdapat
situasi OOS, analis melakukan setiap tahap dari analisis dan melakukan pengecekan jika
terjadi masalah, baik dengan sampel, alat ataupun kesalahan selama pelaksanaan pengujian.
Penggunaan checklist sangat direkomendasikan untuk efisiensi dan kelengkapan. Ketika OOS
telah teridentifikasi, supervisor diberitahukan dan melakukan penilaian terhadap akurasi dari
hasil sesegera mungkin.

Gambar 2. Investigasi kegagalan laboratorium


Apabila tidak ditemukan kesalahan laboratorium pada saat investigasi kegalalan
laboratorium, dilakukan full-scale investigasi fase II.
Tanggung Jawab
Tanggung jawab seorang analis meliputi:

Kinerja saat pengujian benar


Memiliki kesadaran tinggi terhadap potensi suatu masalah
Mengikuti SOP
Mengikuti ilmu pengetahuan yang baik
Menghentikan pengujian dalam kasus kesalahan yang jelas
Memberitahukan supervisor terkait hasil OOS
Menahan uji preparasi hingga data direview dan diinvestigasi secara lengkap
Melakukan investigasi dan mendokumentasikan hasil OOS invetigasi (bekerja
sama dengan supervisor)

Tugas supervisor meliputi

Mereview dan menerima atau menolak hasil pengujian


Melakukan investigasi laboratorium yang berhubungan dengan analis
Melakukan investigasi kegagalan secara efisien, menyeluruh dan objektif
Menginformasikan manajaer QCU terkait situasi OOS
Membantu pada investigasi fase II
Menyediakan sumber daya untuk pengembangan dan pelaksanaan perbaikan dan
pencegahan

Tugas QA:

Mereview dan menyetujui prosedur


Verifikasi prosedur yang diikuti
Konsultasi QCU terkait keputusan release bets

Tugas QC:

Mengevaluasi investigasi OOS fase I dan fase II


Pemindahan bets berdasarkan evaluasi dari investigasi hasil OOS

Pencegahan situasi OOS yang disebabkan kesalahan laboratorium


Kesalahan laboratorium secara umum, antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Minimnya integritas data laboratorim


Penggunaan tidak sesuai standar
Minimnya metode pengujian pembersihan yang tidak tepat tervalidasi
Kesalahan alat/instrumen
Alat gelas terkontaminasi
Validasi metode tidak sesuai
Personel tidak cukup terlatih
Human errors

Usage dan Performance-based Preventative Maintenance


Salah satu alasan paling umum terjadinya kesalahan laboratorium adalah bagian
pemeliharaan yang buruk sebelum diganti menjadi bagian pemeliharaan preventif. Hal ini
dapat terjadi ketika jumlah sampel meningkat dan penggunaan instrumen lelbih tinggi
daripada biasanya. Secara tradisional, bagian pemeliharaan terganti pada jdwal reguler. Jika
pengunaan instrumen berbanding lurus dengan waktu, pemeliharaan yang dilakukan
terlambat untuk menghindari kesalahan.
Dalam beberapa kasus, instrumen merupakan sebagai bagian dari self-diagnosis dapat
mengukur fungsi yang benar yang menjadi bagian dari pemeliharaan untuk mengukur
karakteristik kinerja.
Performance-based Control Charts
Analisis quality control sampel dengan qualitiy control chart telah disarankan sebagai
cara untuk pemeriksaan gabungan terkait kualitas hasil yang dihasilkan. Tujuannya untuk

mengidentifikasi masalah secepat mungkin dan diharapkan sebelum terjadinya OOS.


Perbaikan dapat dilakukan sehingga menyita sedikit waktu untuk dilakukan investigasi OOS.
Identifikasi Parameter Sistem Kritis
Prinsip menggunakan quality control dan control chart dapat diaplikasikan untuk
memonitor karakteristik sistem kritis yang dapat menyebabkan situasi OOS. Keputusan
parameter kritis tergantung pada sistem itu sendiri. Parameter yang terpilih harus mencakup
karakteristik yang dapat berubah dari waktu dan berdampak pada keputusan berdasarkan
hasil pengujian. Parameter penting harus ditentukan berdasarkan pengalaman dengan sisitem
sebagai bagian dari Failure Modes and Effect Analysis (FMEA).
CORRECTIVE AND PREVENTIVE ACTION PLANS (CAPA)
CAPA dikenal sebagai konsep aturan cGMP yang berfokus pada investigasi, pemahaman,
dan perbaikan dari perbedaan ketika mencoba untuk mencegah keterulangannya.
Correction plan sangat penting untuk memperbaiki masalah berdasarkan akar dari
permasalahan, tindakan perbaikan yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kembali
situasi yang sama. CAPA harus menjadi bagian dari suatu perusahaan/sistem kualitas
laboratorium dan harus didokumentasikan. Tidak hanya untuk diaplikasikan pada situasi OOS
tetapi juga untuk mengatasi masalah kualitas lainnya.
Elemen penting dari program CAPA meliputi:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Identifikasi
Evaluasi
Analisis
Rencana tindakan
Implementasi
Verifikasi efektivitas

Ketika diterapkan dengan benar, program CAPA terus meningkatkan kualitas


laboratorium analisis dan juga berkontribusi terhadap penurunan insiden OOS.
TRACKING AND TRENDING OF OOS INVESTIGATION
Rekomendasi jalur investigasi data OOS berdasarkan:

Jenis aktivitas selama hasil diidentifikasi


Alasan investigasi
Penyebab code dan sub-cause code
Ketepatan waktu
Jumlah total investigasi dimulai dan ditutup dalam kerangka waktu

Jumlah bets yang terkena dampaknya


Perbaikan dan pencegahan
Jumlah total hasi OOS dikonfirmasi
Informasi diatas ketika digunakan sesuai tujuannya sangat membantu dalam menentukan

akar permasalahan. Frekuensi dari tracking dan trending harus ditetapkan oleh masingmasing perusahaan tergantung dari besar dan spesifisitas suatu aktivitas dalam perusahaan
tersebut.