Anda di halaman 1dari 29

BAB I

REKAM MEDIK
I.

IDENTIFIKASI
a. Nama

: Ny. U

b. Umur

: 40 tahun

c. Jenis Kelamin : Perempuan


d. Alamat

: Dalam kota

e. Agama

: Islam

f. Status

: Menikah

g. Suami

o Nama

: Tn. A

o Pekerjaan : Becak

II.

h. Bangsa

: Indonesia

i. MRS

: 15 Februari 2011

ANAMNESIS (autoanamnesis)
Anamnesis Umum
a. Riwayat Perkawinan
Kawin 1 kali, lamanya 23 tahun.
b. Riwayat Obstetri
Memiliki 3 orang anak
Anak ke-1: laki-laki, 21 tahun
Anak ke-2: laki-laki, 15 tahun
Anak ke-3: perempuan, 6 tahun
c. Riwayat Haid
Menarche umur 13 tahun. Haid teratur 28 hari, lamanya 5 hari, darah
haid biasa, sakit waktu haid tidak ada.
d. Nafsu Makan
Menurun, berat badan menurun.
e. Riwayat BAB dan BAK
BAK lancar. BAB lancar.
1

f. Riwayat Penyakit Yang Pernah Diderita


-

Riwayat keputihan tidak ada

Riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya tidak ada

Riwayat DM tidak ada

Riwayat hipertensi tidak ada

Riwayat penyakit jantung tidak ada

Anamnesis Khusus
Keluhan Utama : Perdarahan dari kemaluan
Riwayat Perjalanan Penyakit :
2 hari SMRS, Os mengeluh sering mengalami perdarahan dari
kemaluan sebanyak tiga kali ganti celana dalam, warna merah segar,
keputihan tidak ada. Perdarahan post coital tidak ada. Riwayat BAK dan
BAB lancar. Riwayat nafsu makan menurun ada, riwayat berat badan
menurun ada. Os 2 minggu yang lalu dirawat di RSMH dengan keluhan
yang sama dan dinyatakan curiga kanker rahim dan kemudian dilakukan
biopsi.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Presens
o Keadaan Umum

: tampak sakit sedang

o Konjungtiva Palpebra : pucat +/+, ikterus


o Kesadaran

: Kompos mentis

o Tekanan Darah: 120/80 mmHg


o Nadi

: 88x/menit

o Pernafasan

: 20x/menit

o Temperatur

: 36,8C.

o Hati dan Limpa

: tidak teraba

o Edema

: -/-

o Varises

: -/-

o Refleks fisiologis

: +/+

o Refleks patologis

: -/-

o Payudara

: Hiperpigmentasi -/-

o Jantung

: HR : 88x/menit, murmur -, gallop

o Paru-paru

: bising nafas vesikuler normal, ronki -,

wheezing -.
o Keadaan gizi

: Sedang

o Berat badan

: 52kg

o Tinggi badan

: 154cm

o Tipe badan

: Asthenicus

b. Status Ginekologis
o Pemeriksaan luar : Abdomen datar,lemar dan simetris. Fundus uteri
tak teraba, massa (-), nyeri tekan suprasimfisis (-),tanda cairan
bebas (-).
o Inspekulo : Portio berdungkul-dungkul, massa eksofitik, rapuh,
mudah berdarah, ukuran 5x4cm, OUE tertutup, flour (-),fluksus
(+). Erosi (-), polip (-), laserasi (-).
o Pemeriksaan dalam:
o Muara vagina : Mukosa licin.
o Serviks: portio berdungkul-dungkul, massa eksofitik, rapuh,
mudah berdarah, ukuran 4x5x3 cm, infiltrasi 2/3 proximal
vagina
o Corpus Uteri: dalam batas normal
o Adnexa parametrium kanan-kiri tegang
o Cavum douglas tak menonjol.
o Rectal toucher : tonus sfingter ani baik, mukosa licin, ampula rekti
kosong, massa intralumen (-), cavum uteri setara normal, adnexa
parametrium kanan-kiri tegang, cavum douglas tidak menonjol,
cancer free space kanan 50%, dan cavum free space kiri 50%.

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium
(tanggal 16 Februari 2011)
Hb: 6,6 g/dl
Eritrosit: 3.020.000/mm3
Hematokrit: 23 vol%
MCH: 22 pico gram
MCV: 77 mikrogram
MCHC: 29%
Leukosit: 25.800/mm3
LED: 66 mm/jam
Retikulosit: 1,6%
Trombosit: 330.000/mm3
Diff count: 0/2/1/90/3/4
Waktu pendarahan: 2 menit
Waktu pembekuan: 9 menit
Gambaran darah tepi:
-

Eritrosit: mikrositik hipokrom

Leukosit: jumlah meningkat, bentuk normal

Trombosit: jumlah dan bentuk normal

Kesan: anemia mikrositik hipokrom

DS: anemia penyakit kronik, DD: anemia defisiensi Fe disertai


infeksi bakteri.

BSS: 185 mg/dl


Cholesterol total: 185 mg/dl
HDL Cholesterol: 57 mg/dl
LDL Cholesterol: 98 mg/dl
Triglycerida: 144 mg/dl
Asam urat: 2,7 mg/dl
Ureum: 37 mg/dl

Kreatinin: 0,8 mg/dl


Protein total: 7,4 g/dl
Albumin: 3,2 g/dl
Bilirubin total: 3,12 mg/dl
Bilirubin Direk: 1,15 mg/dl
Bilirubin indirek: 1,97 mg/dl
SGOT: 74 U/I
SGPT: 17 U/I
LDH: 165 U/I
Natrium: 145 mmol/l
Kalium: 4,2 mmol/l
(tanggal 19 Februari 2011)
Hb: 7,2 g/dl, Leukosit: 16.400/mm3, Trombosit: 218.000/mm3
(tanggal 21 Februari 2011)
Hb: 9,2 g/dl, Eritrosit: 3.390.000/mm3, hematokrit: 27 vol%, leukosit:
10.100/mm3.
b. Patologi jaringan
No. PA : 470/A/2011
Kesan: Moderate differentiated non keratinizing squamous cell
carcinoma pada serviks
c. Konsul PDL ( 20/2/2011)
Kesan : Hepatitis C
Saran : T/ hepatoprotektor
Rawat bersama dengan divisi gastrohepatologi PDL
d. Hasil pemeriksanan onkolog SpOG
Pemeriksaan luar : Abdomen datar,lemar dan simetris. Fundus uteri tak
teraba, massa (-), nyeri tekan suprasimfisis (-),tanda cairan bebas (-).
Inspekulo : Portio tak livide, berdungkul-dungkul ukuran 5x5x4 cm,
massa eksofitik, darah tak aktif, infiltrasi ke fornik lateral kanan.
Pemeriksaan dalam ( Vaginal Toucher ): portio kenyal, berdungkuldungkul ukuran 5x5x4 cm massa eksofitik, mudah berdarah, infiltrasi

ke fornik lateral kanan, CUT 8 minggu, Adnexa parametrium kanankiri tegang, Cavum douglas tak menonjol.
Rectal toucher : tonus sfingter ani baik, mukosa licin, ampula rekti
kosong, massa intralumen (-), cavum uteri (CUT) 8 minggu, adnexa
parametrium kanan-kiri tegang, cavum douglas tidak menonjol, cancer
free space kanan 0%, dan cavum free space kiri 25%.
Kesan : Karsinoma servik stadium IIIB
Saran : Kemoterpi fase GML VI seri setelah hepatitis C

V.

DIAGNOSIS KERJA
Karsinoma Servik Stadium IIIB + Anemia Sedang

VI.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan awal:
1. Perbaikan keadaan umum
-

Tranfusi darah sampai Hb 10gr%

IVFD RL gtt xx/m.

2. Injeksi Cefotaxim 2x1gr


3. Injeksi Asam Traneksamat 3x1 amp IV
4. R/ rontgen thorax
5. R/ BNO IVP
6. R/ USG Abdomen
7. R/ Kemoradiasi
VII.

PROGNOSIS
a. Quo ad vitam : dubia
b. Quo ad fungsional : malam

VIII.

FOLLOW UP
16 Februari 2011
Keluhan

Perdarahan dari kemaluan (-)


Ikterus (+)

Status
present

KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 80x/m, RR: 20


x/m, T: 36,7oC.

St
ginekologi

PL: abdomen datar, lemas, simetris, fundus uteri tak teraba,


nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-)

Diagnosis
P:

Susp. Ca cervix st. II B + anemia berat


o Perbaiki keadaan umum
o IVFD RL gtt xx/menit
o Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
o Transfusi PRC 3 kolf
o R/ biopsi
o R/ Rontgen Thorax, USG abdomen, BNO-IVP, konsul PDL

17 Februari 2011
Keluhan
Perdarahan dari kemaluan (-)
Ikterus (+)
Status
KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 80x/m, RR: 20
present
x/m, T: 36,7oC.
St
ginekologi

PL: abdomen datar - lemas, simetris, lemas, fundus uteri tak


teraba, nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-),

Diagnosis

Susp. Ca cervix st. II B + anemia berat

P:

o
o
o
o
o
o

Perbaiki keadaan umum


IVFD RL gtt xx
Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
Transfusi PRC hingga Hb > 10 g/dl
R/ Staging
R/ Cek labor lengkap, Rontgen Thorax, USG abdomen,
BNO-IVP

Hasil PA: Kesan: Moderate differentiated non keratinizing squamous cell


carcinoma pada serviks
18 Februari 2011
Keluhan
Perdarahan dari kemaluan (-)
Ikterus (+)
Status
KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 82x/m, RR: 20
present
x/m, T: 36,8oC.
St
ginekologi

PL: abdomen datar - lemas, simetris, lemas, fundus uteri tak


teraba, nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-)

Diagnosis

Susp. Ca cervix st. II B + anemia berat

P:

o
o
o
o
o

Perbaiki keadaan umum


IVFD RL gtt xx
Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
Transfusi PRC hingga Hb > 10 g/dl
R/ Rontgen Thorax, USG abdomen, BNO-IVP

19 Februari 2011
Keluhan
Perdarahan dari kemaluan (-)
Status
KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 80x/m, RR: 20
present
x/m, T: 36,9oC.
St
ginekologi

PL: abdomen datar - lemas, simetris, lemas, fundus uteri tak


teraba, nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-), luka
bekas operasi tenang

Diagnosis
Susp. Ca cervix st. II B + anemia sedang
P:

o
o
o
o
o
o
o

Perbaiki keadaan umum


IVFD RL : NaCl : D5 1:1:1 gtt xx
Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
Fe 2x1 tab
Injeksi transamin 3x5 amp IV
Transfusi PRC hingga Hb > 10 g/dl
R/ USG abdomen, BNO-IVP

Pemeriksaan Laboratorium :
Hb : 7,9 g/dl
20 Februari 2011
Keluhan
Perdarahan dari kemaluan (-)
Status
KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 82x/m, RR: 20
present
x/m, T: 36,8oC.
St
ginekologi

PL: abdomen datar - lemas, simetris, lemas, fundus uteri tak


teraba, nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-), luka
bekas operasi tenang

Diagnosis
Susp. Ca cervix st. II B + anemia sedang
P:

o
o
o
o
o

Perbaiki keadaan umum


IVFD RL : NaCl : D5 1:1:1 gtt xx
Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
R/ cek Hb ulang
R/ cek HbsAg, R/ PDL

o R/ USG abdomen, BNO-IVP

Pemeriksaan Laboratorium :
Hematologi :
Hb: 9,8 g/dl

leukosit: 8700 /mm3

Eritrosit : 3.420.000 jt/mm3

trombosit: 270.000/mm3

MCH : 29 picogram

MCV : 83 microgram

MCHC : 34%

LED : 11 mm/jam

Retikulosit : 0,6%

Hitung jenis : 0/1/1/70/23/5

Hematokrit : 28 vol%
HbsAg (+) konsul PDL hasilnya hepatitis C
T/ curcuma 3x1
Saran cek alkali fosfatase, anti HCV
21 Februari 2011
Keluhan
Perdarahan dari kemaluan (-)
Status
KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 82x/m, RR: 20
present
x/m, T: 36,8oC.
St
ginekologi

PL: abdomen datar - lemas, simetris, lemas, fundus uteri tak


teraba, nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-), luka
bekas operasi tenang

Diagnosis
Susp. Ca cervix st. II B + anemia sedang
P:

o
o
o
o
o
o
o

Perbaiki keadaan umum


IVFD RL : NaCl : D5 1:1:1 gtt xx
Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
Curcuma 3x1 tab
R/ staging
R/ USG abdomen, BNO-IVP
Cek HB ulang

22 Februari 2011
Keluhan
Perdarahan dari kemaluan (-)
Status
KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 80x/m, RR: 20
present
x/m, T: 36,8oC.

St
ginekologi

PL: abdomen datar - lemas, simetris, lemas, fundus uteri tak


teraba, nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-), luka
bekas operasi tenang

Diagnosis
Susp. Ca cervix st. II B + anemia sedang
P:

o
o
o
o
o
o

Perbaiki keadaan umum


IVFD RL : NaCl : D5 1:1:1 gtt xx
Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
Curcuma 3 x 1 tab
R/ staging
R/ USG abdomen, BNO-IVP

Hb 11,5
23 February 2011
Keluhan
Perdarahan dari kemaluan (-)
Status
KU:sedang, sens: CM, TD: 110/70 mmHg, N: 84x/m, RR: 20
present
x/m, T: 36,8oC.
St
ginekologi

PL: abdomen datar - lemas, simetris, lemas, fundus uteri tak


teraba, nyeri tekan (-), tanda cairan bebas (-), massa (-), luka
bekas operasi tenang

Diagnosis
Susp. Ca cervix st. II B + anemia sedang
P:

o
o
o
o
o
o

Perbaiki keadaan umum


IVFD RL : NaCl : D5 1:1:1 gtt xx
Injeksi cefotaxim 2x1 gr IV
Curcuma 3x1 tab
R/ staging
R/ UDG abdomen, R/ BNO IVP

10

BAB II
PERMASALAHAN
1. Apakah faktor predisposisi terjadinya karsinoma cervix pada pasien ini?
2. Apa dasar diagnosis pada kasus ini?
3. Apa rencana pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan?
4. Bagaimana tatalaksana pada kasus ini?
5. Bagaimana prognosis kasus karsinoma serviks pada pasien ini?

11

BAB III
ANALISIS KASUS
Faktor Predisposisi
Kejadian karsinoma serviks berhubungan erat dengan sejumlah faktor
ekstrinsik, berupa usia koitus yang sangat muda (kurang dari 16 tahun).
Insidennya meningkat dengan tingginya paritas, sosioekonomi rendah, higiene
seksual jelek, aktifitas seksual yang sering berganti pasangan dan kebiasaan
merokok.
Faktor-faktor predisposisi yang mungkin antara lain adalah :
1) Coitus pertama usia sangat muda yaitu kurang dari 16 tahun;
2) Asap rokok sebagai sumber radikal bebas menyebabkan menurunnya
jumlah anti oksidan yang tersedia dalam tubuh untuk membantu
menanggulangi kelainan-kelainan dalam tubuh;
3) Sosial ekonomi yang rendah (pasien dan keluarga berprofesi sebagai
petani/berkebun) sedikit banyak berpengaruh terhadap pengetahuan
masyarakat tentang penyakit menular sexual; dan
4) Higiene daerah kemaluan kurang.
Diagnosis
Penegakan diagnosa pada kasus ini didapatkan dari anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis diketahui bahwa penderita
mempunyai keluhan perdarahan dari kemaluan. Perdarahan pada umumnya terjadi
segera sehabis senggama (perdarahan kontak), namun pada tingkat klinik yang
lebih lanjut perdarahan spontan dapat terjadi. Pada kasus ini didapatkan
pendarahan dari kemaluan yang terjadi setelah senggama dimana 75-80%
pendarahan yang terjadi diluar senggama merupakan salah satu gejala khas pada
karsinoma serviks stadium lanjut. Darah merah segar dan terdapat nyeri perut
bagian bawah.
12

Dari hasil pemeriksaan fisik pada tanggal 15 Februari 2011, dari status
ginekologis penderita didapatkan
o Pemeriksaan luar : Abdomen datar,lemar dan simetris. Fundus uteri tak
teraba, massa (-), nyeri tekan suprasimfisis (+),tanda cairan bebas (-). Tampak
scar bekas operasi lama.
o Inspekulo : Portio berdungkul-dungkul, massa eksofitik, rapuh, mudah
berdarah, ukuran 5x4cm, infiltrasi (+) 2/3 proksimal vagina, flour (-),fluksus
(-). Erosi (-), polip (-).
o Pemeriksaan dalam:
o Muara vagina : Terdapat infiltrasi pada 2/3 proksimal vagina, portio
berdungkul-dungkul, massa eksofitik, ukuran 5x4x3cm, rapuh, mudah
berdarah, cavum uteri setara normal.
o Adnexa parametrium kanan-kiri tegang, cavum douglas tak menonjol.
o Rectal toucher : tonus sfingter ani baik, mukosa licin, massa intralumen (-),
cavum uteri setara normal, adnexa parametrium kanan-kiri tegang, cancer
free space kanan 50%, dan cavum free space kiri 50%
Serta hasil pemeriksaan ginekologi dari onkolog SpOG
Pemeriksaan luar : Abdomen datar,lemar dan simetris. Fundus uteri tak teraba,
massa (-), nyeri tekan suprasimfisis (-),tanda cairan bebas (-).
Inspekulo : Portio tak livide, berdungkul-dungkul ukuran 5x5x4 cm, massa
eksofitik, darah tak aktif, infiltrasi ke fornik lateral kanan.
Pemeriksaan dalam ( Vaginal Toucher ): portio kenyal, berdungkul-dungkul
ukuran 5x5x4 cm massa eksofitik, mudah berdarah, infiltrasi ke fornik lateral
kanan, CUT 8 minggu, Adnexa parametrium kanan-kiri tegang, Cavum douglas
tak menonjol.
Rectal toucher : tonus sfingter ani baik, mukosa licin, ampula rekti kosong, massa
intralumen (-), cavum uteri (CUT) 8 minggu, adnexa parametrium kanan-kiri
tegang, cavum douglas tidak menonjol, cancer free space kanan 0%, dan cavum
free space kiri 25%.

13

Hal ini menunjang diagnosa karsinoma serviks dimana pada stadium IIIB
tumor ini telah menginfiltrasi fornik lateral kanan.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium :
A. Darah
Hematologi (Tanggal 16 Februari 2011)
Hb: 6,6 g/dl
Eritrosit: 3.020.000/mm3
Hematokrit: 23 vol%
MCH: 22 pico gram
MCV: 77 mikrogram
MCHC: 29%
Leukosit: 25.800/mm3
LED: 66 mm/jam
Retikulosit: 1,6%
Trombosit: 330.000/mm3
Diff count: 0/2/1/90/3/4
Waktu pendarahan: 2 menit
Waktu pembekuan: 9 menit
Gambaran darah tepi:
-

Eritrosit: mikrositik hipokrom

Leukosit: jumlah meningkat, bentuk normal

Trombosit: jumlah dan bentuk normal

Kesan: anemia mikrositik hipokrom

DS: anemia penyakit kronik, DD: anemia defisiensi Fe disertai


infeksi bakteri.

BSS: 185 mg/dl


Cholesterol total: 185 mg/dl
HDL Cholesterol: 57 mg/dl
LDL Cholesterol: 98 mg/dl
Triglycerida: 144 mg/dl

14

Asam urat: 2,7 mg/dl


Ureum: 37 mg/dl
Kreatinin: 0,8 mg/dl
Protein total: 7,4 g/dl
Albumin: 3,2 g/dl
Bilirubin total: 3,12 mg/dl
Bilirubin Direk: 1,15 mg/dl
Bilirubin indirek: 1,97 mg/dl
SGOT: 74 U/I
SGPT: 17 U/I
LDH: 165 U/I
Natrium: 145 mmol/l
Kalium: 4,2 mmol/l
(tanggal 19 Februari 2011)
Hb: 7,2 g/dl, Leukosit: 16.400/mm3, Trombosit: 218.000/mm3
(tanggal 21 Februari 2011)
Hb: 9,2 g/dl, Eritrosit: 3.390.000/mm3, hematokrit: 27 vol%, leukosit:
10.100/mm3.
Dari pemeriksaan penunjang didapatkan hemoglobin berkisar 6,6 g/dl yang
menunjukkan bahwa adanya pendarahan. Nilai leukosit menunjukkan adanya
proses infeksi.
B. Patologi jaringan
Moderate differentiated non keratinizing squamous cell carcinoma pada
serviks.
C. Rontgen thorax, USG, BNO-IVP
Untuk melihat penyebaran kanker

15

Penatalaksanaan
Diagnosis sementara
Pemeriksaan penunjang
(darah rutin, kimia
darah, urin rutin)

Penatalaksanaan awal:
1. Perbaikan keadaan umum
-

Tranfusi darah sampai Hb 10gr


%

IVFD RL: D5: NaCl = 2:1:1 gtt


xx/m.

2. Cefotaxim 2x1gr
3. Transamin 3x1 amp

Biopsi PA bila keadaan umum pasien baik

Hasil PA
Ca cervix (+)

Pemeriksaan penunjang :
Rontgen thorax, USG
abdomen, BNO-IVP

Ca cervix (-)

Terapi tergantung
apa yang
ditemukan

Clinical Staging
Kemoradiasi

16

Prognosis
Faktor faktor yang menentukan prognosis ialah 1) umur penderita, 2)
keadaan umum, 3) tingkat klinik keganasan, 4) ciri ciri histologik sel tumor, 5)
kemampuan ahli atau tim ahliyang menangani, 6) sarana pengobatan yang ada.
Tingkat
T1
T1
T2
T3
T4
Sumber:

UICC/

AKH-5 tahun
Hampir 100%
70 85%
40 60%
30 40%
< 10%
Clinical

Oncology;

Springer-Verlag,

New

York,Heidelberg,Berlin;1973,p:218.
Prognosis pada pasien ini adalah quo ad vitam dubia dan quo ad fungsional malam.

17

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA
A. EPIDEMIOLOGI
Kanker serviks uteri merupakan kanker pada wanita nomor dua tersering di
seluruh dunia, yaitu 15% dari semua kanker pada wanita. Di negara berkembang
merupakan kanker yang terbanyak

yaitu 20-39% dari semua kanker pada

wanita.Di negara maju frekuensinya hanya berkisar antara 4-6%. Di Indonesia,


diantara tumor ganas ginekologik, kanker serviks masih menduduki tingkat
pertama. Prevalensi umur penderita berkisar antara 30-60 tahun, terbanyak umur
45-50 tahun. Periode laten pada fase prainvasive menjadi invasive sekitar 10
tahun, hanya 9% dari penderita berumur 35 tahun yang menunjukan keganasan
serviks uteri pada saat terdiagnosis, sedangkan 53% dari karsinoma insitu terdapat
pada wanita dibawah umur 35 tahun.1
B. ETIOLOGI
Kejadiannya berhubungan erat dengan sejumlah faktor ekstrinsik,
diataranya : jarang ditemukan pada perawan, coitarche diusia sangat muda (16
tahun), multi paritas dengan jarak persalinan terlalu dekat, sosial ekonomi rendah,
higien seksual jelek, merokok, serta jarang ditemukan pada wanita yang suaminya
disirkumsisi.2
Seiring dengan berkembangan biomolekuler, tampak bahwa HPV
anogenital beperan penting dalam patogenesis kanker serviks. Pada 90-95 %
kanker serviks telah dibuktikan adanya hubungan dengan HPV resiko tinggi. Pada
saat ini diketahui terdapat 70 macam tipe HPV. Yang dimaksud dengan HPV tipe
high risk adalah HPV tipe 16,18,31, 33, 39, 45, 51, 52, 56 dan 58. Tipe 16 dan
18 merupakan tipe HPV onkogen yang dapat menyebabkan instabilitas
kromosomal, terjadinya mutasi dalam DNA dan gangguan regulasi pertumbuhan.
Sedangkan HPV tipe 6, 11, 42, 43 dan 44 disebut low risk yang merupakan tipe
non-onkogen.1

18

C. PATOLOGI
Karsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi ektoserviks
(portio) dan endoserviks kanalis serviks yang disebut skuamo kolumnar junction
(SCJ). Pada wanita muda SCJ terletak diluar OUE, sedang pada wanita diatas 35
tahun, didalam kanalis serviks.3
Tumor dapat tumbuh :
1. Eksofitik. Mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai massa proliferatif
yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
2

Endofitik. Mulai dari SCJ tumbuh kedalam stroma serviks dan cenderung
infitratif membentuk ulkus

2. Ulseratif. Mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan pelvis
dengan melibatkan fornices vagina untuk menjadi ulkus yang luas. Serviks
normal secara alami mengalami metaplasi/erosi akibat saling desak kedua
jenis epitel yang melapisinya. Dengan masuknya mutagen, portio yang erosif
(metaplasia skuamos) yang semula faali berubah menjadi patologik (diplatikdiskariotik) melalui tingkatan NIS-I, II, III dan KIS untuk akhirnya menjadi
karsinoma invasive. Sekali menjadi mikroinvasive, proses keganasan akan
berjalan terus.
D.PENYEBARAN
Penyebaran

karsinoma

serviks

terjadi

melalui

jalan

yaitu

perkontinuitatum ke dalam vagina, septum rektovaginal dan dasar kandung


kemih. Penyebaran secara limfogen terjadi terutama paraservikal dalam
parametrium dan stasiun-stasiun kelenjar di pelvis minor, baru kemudian
mengenai kelenjar para aortae terkena dan baru terjadi penyebaran hematogen
(hepar, tulang).
Secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah :
1. fornices dan dinding vagina
2. korpus uteri
3. parametrium dan dalam tingkatan lebih lanjut menginfiltrasi septum
rektovagina dan kandung kemih.
19

Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar kelenjar limfe


regional melalui ligamentum latum, kelenjar iliaka, obturator, hipogastrika,
parasakral, paraaorta, dan seterusnya ke trunkus limfatik di kanan dan vena
subklvia di kiri mencapai paru, hati, ginjal, tulang serta otak.3
E. DIAGNOSIS
Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah
kanker serviks, dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadap lesi
prakanker serviks. Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertai
dengan kemampuan dalam penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkan
angka kematian akibat kanker serviks.2,3,4
a.

Keputihan.

Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbau busuk


akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
b. Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahan
timbul akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin sering
terjadi diluar senggama.
b.

Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut


saraf.

c.

Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat


metastase jauh.

Tiga komponen utama yang saling mendukung dalam menegakkan diagnosa


kanker serviks adalah :
1. Sitologi.
Bila dilakukan dengan baik ketelitian melebihi 90%. Tes Pap sangat
bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini. Sediaan sitologi harus
mengandung komponen ektoserviks dan endoserviks.
Kolposkopi.
Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkop, yaitu
suatu alat seperti mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya di
dalamnya. Pemeriksaan kolposkopi merupakan pemeriksaan standar bila
20

ditemukan pap smear yang abnormal. Pemeriksaan dengan kolposkopi,


merupakan pemeriksaan dengan pembesaran, melihat kelainan epitel
serviks, pembuluh darah setelah pemberian asam asetat. Pemeriksaan
kolposkopi tidak hanya terbatas pada serviks, tetapi pemeriksaan meliputi
vulva dan vagina. Tujuan pemeriksaan kolposkopi bukan untuk membuat
diagnosa histologik, tetapi untuk menentukan kapan dan dimana biopsi
harus dilakukan.
Biopsi
Biopsi dilakukan di daerah abnormal di bagian yang telah dilakukan
kolposkopi. Jika kanalis servikalis sulit dinilai, sampel diambil secara
konisasi.
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan karsinoma serviks dibagi berdasarkan stadium5
1.

Karsinoma serviks mikroinvasive


Histerektomi totalis

2.

Stadium IA1
Total Abdominal Histerektomi (TAH)/Total Vaginal Histerektomi (TVH).
Bila

disertai Vaginal Intra Epitelial Neoplasma (VAIN) dilakukan

pengangkatan vaginal cuff.


3.

Stadium IA2
Histerektomi radikal tipe 2 dan limfe adenektomi pelvis

4.

Ca invasive
Biopsi untuk konfirmasi diagnosis

5.

Stadium IB1 IIA < 4cm


Jika mempunyai prognosis baik dapat dikontrol dengan operasi dan radio
terapi

6.

Stadium IB2 IIA >4cm


Kemoradiasi primer
Histerektomi radikal primer + limfadenektomi + radiasi neoadjuvan
Kemoterapi neo adjuvan

7.

Ca serviks stadium lanjut meliputi stadium IIB, III, IV A


21

Pengobatan terpilih adalah radioterapi lengkap yaitu radiasi eksterna


dilanjutkan intrakaviter radioterapi. Terapi variasi yang sering diberikan
khemoradiasi, khemoterapi yang sering diberikan antara lain cisplatinum,
pachitaxel, docetaxel, fluorourasil, gemcitabine
8. Stadium IV B
Pengobatan yang diberikan bersifat paliatif, radioterapi paliatif yang
diberikan
Radioterapi, Kemoterapi, dan Radikal Histerektomi
Adapun alasan untuk memilih salah satu terapi diatas adalah berdasarkan
keuntungan dan kerugian masing-masing terapi.
KEMOTERAPI
Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat
sitostatika yaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker.6
Prinsip kerja obat kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker :
Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat ini bekerja
terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi, semakin aktif sel-sel
kanker tersebut berproliferasi maka semakin peka terhadap sitostatika hal ini
disebut Kemoresponsif, sebaliknya semakin lambat proliferasinya maka
kepekaannya semakin rendah. Hal ini disebut Kemoresisten.7,8
Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
1)

Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan Antibiotik


Anthrasiklin obst golongsn ini bekerja dengan antara lain mengikat DNA di
inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa melakukan replikasi.

2) Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa inti sel,
yang berakibat menghambat sintesis DNA.
3)

Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan Taxanes


bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga terjadi hambatan
mitosis sel.

22

4) Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan menghambat


sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam sintesis DNA dan RNA
dari sel-sel kanker tersebut.
Pola pemberian kemoterapi 5,6
1) Kemoterapi Induksi
Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau jumlah
sel kanker, contoh pada tomur ganas yang berukuran besar (Bulky Mass Tumor)
atau pada keganasan darah seperti leukemia atau limfoma, disebut juga dengan
pengobatan penyelamatan.
2) Kemoterapi Adjuvan
Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti pembedahan atau
radiasi, tujuannya adalah untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa
atau metastase kecil yang ada (micro metastasis).
3) Kemoterapi Primer
Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas, diberikan
pada kanker yang bersifat kemosensitif,

biasanya diberikan dahulu sebelum

pengobatan yang lain misalnya bedah atau radiasi.


4) Kemoterapi Neo-Adjuvan
Diberikan mendahului/sebelum pengobatan/tindakan yang lain seperti
pembedahan atau penyinaran kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi lagi.
Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa tumor yang besar sehingga operasi
atau radiasi akan lebih berhasil guna.
Cara pemberian obat kemoterapi6,8
1) Intra vena (IV)
Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini, dapat berupa bolus IV
pelan-pelan sekitar 2 menit, dapat pula per drip IV sekitar 30 120 menit, atau
dengan continous drip sekitar 24 jam dengan infusion pump upaya lebih akurat
tetesannya.
2) Intra tekal (IT)

23

Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk memusnahkan tumor


dalam cairan otak (liquor cerebrospinalis) antara lain Metrotexat, Ara.C.
3)

Radiosensitizer, yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum radiasi,

tujuannya untuk memperkuat efek radiasi, jenis obat untukl kemoterapi ini antara
lain Fluoruoracil, Cisplastin, Taxol, Taxotere, Hydrea.
4) Oral
Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran, Alkeran,
Myleran, Natulan, Puri-netol, hydrea, Tegafur, Xeloda, Gleevec.
5) Subkutan dan intramuskular
Pemberian subkutan sudah sangat jarang dilakukan, biasanya adalah
L-Asparaginase, hal ini sering dihindari karena resiko syok anafilaksis. Pemberian
per IM juga sudah jarang dilakukan, biasanya pemberian Bleomycin.
6) Topikal
7) Intra arterial
8) Intracavity
9) Intraperitoneal/Intrapleural
Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites hemoragis yang banyak
pada kanker ganas intra-abdomen, antara lain Cisplastin. Pemberian intrapleural
yaitu diberikan kedalam cavum pleuralis untuk memusnahkan sel-sel kanker
dalam cairan pleura atau untuk mengehntikan produksi efusi pleura hemoragis
yang amat banyak , contohnya Bleocin
Tujuan pemberian kemoterapi6,7
1) Pengobatan.
2) Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.
3) Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.
4) Mengurangi komplikasi akibat metastase.
Efek samping kemoterapi8
Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas :
1. Efek samping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang timbul dalam 24
jam pertama pemberian, misalnya mual dan muntah.

24

2.

Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang timbul dalam
beberapa hari sampai beberapa minggu kemudian, misalnya netripenia dan
stomatitis.

3. Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects) yang timbul
dalam beberapa hari sampai beberapa bulan, misalnya neuropati perifer,
neuropati.
4. Efek samping yang terjadi kemudian ( Late Side Effects) yang timbul dalam
beberapa bulan sampai tahun, misalnya keganasan sekunder.
Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis pada setiap
pemberian, maupun dosis kumulatif, selain itu efek samping yang timbul pada
setiap penderita berbeda walaupun dengan dosis dan obat yang sama, faktor
nutrisi dan psikologis juga mempunyai pengaruh bermakna.6
Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala gastrointestinal,
supresi sumsum tulang, kerontokan rambut. Gejala gastrointestinal yang paling
utama adalah mual, muntah, diare, konstipasi, faringitis, esophagitis dan
mukositis, mual dan muntah biasanya timbul selang beberapa lama setelah
pemberian sitostatika dab berlangsung tidak melebihi 24 jam.6,7
Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan jumlah sel
darah putih (leukopenia), sel trombosit (trombositopenia), dan sel darah merah
(anemia), supresi sumsum tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat
terjadi segera atau kemudian, pada supresi sumsum tulang yang terjadi segera,
penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari ke-8 sampai hari ke14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk menaikan kadar laukositnya
kembali. Pada supresi sumsum tulang yang terjadi kemudian penurunan kadar
leukosit terjadi dua kali yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar
minggu ke empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan
mencapai nilai mendekati normal pada minggu keenam. Leukopenia dapat
menurunkan daya tubuh, trombositopenia dapat mengakibatkan perdarahan yang
terus-menerus/ berlabihan bila terjadi erosi pada traktus gastrointestinal.7
Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan sampai pada
kebotakan. efek samping yang jarang terjadi tetapi tidak kalah penting adalah
kerusakan otot jantung, sterilitas, fibrosis paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati,

25

sklerosis kulit, reaksi anafilaksis, gangguan syaraf, gangguan hormonal, dan


perubahan genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker baru.8
Kardiomiopati akibat doksorubin dan donorubisin umumnya sulit diatasi,
sebagian besar penderita meninggal karena pump failure, fibrosis paru
umumnya irreversibel, kelainan hati terjadi biasanya menyulitkan pemberian
sitistatika selanjutnya karena banyak diantaranya yang dimetabolisir dalam hati,
efek samping pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif kecil dan lebih
mudah diatasi.6
RADIOTERAPI
Dalam menentukan teknik dan dosis radiasi pada pengobatan karsinoma serviks
uteri perlu dipertimbangkan faktor daya toleransi dari jaringan-jaringan di dalam
rongga pelvis.6
Teknik radiasi
Kombinasi antara radiasi lokal dan radiasi eksternal merupakan pilihan yang
umumnya diberikan dengan maksud:7

Radiasi lokal (intrakaviter) dapat memberikan dosis tinggi pada serviks


dan korpus uteri tetapi dosis cepat menurun pada jaringan di sekitarnya,
sehingga dosis ke rektum, sigmoid, kandung kencing dan ureter dapat
dibatasi sampai batas-batas toleransi.

Kemungkinan timbulnya metastase limfogen pada karsinoma serviks uteri


cukup tinggi. Oleh karena itu kelenjar-kelenjar dalam panggul kecil harus
mendapat penyinaran juga. Dosis radiasi lokal cepat menurun diluar
uterus, sehingga dosis yang sampai pada kelenjar limfe sangat rendah.
Untuk mencapai dosis yang dapat mengamankan metastasis kelenjar limfe
ini diperlukan penyinaran luar yang dapat memberikan distribusi dosis
yang merata pada daerah yang lebih luas.

Komplikasi-komplikasi sesudah terapi radiologik antara lain:7,8


a. Komplikasi umum
Gejala umum yang sering timbul adalah nafsu makan menurun, rasa mual,
lesu, dan tidak ada gairah kerja. Pada keadaan yang lebih berat terdapat
muntah-muntah, tidak bisa makan, lemah, sampai tidak bisa bangun dari

26

tempat tidur. Berat ringannya gejala-gejala sangan dipengaruhi oleh status


fisik dan psikologi penderita.
b. Komplikasi lokal
Gejala-gejala yang timbul ialah gejala-gejala dari alat-alat tubuh yang
terkena radiasi secara langsung, yaitu:

Problema koitus (pengkerutan vagina)

Fistel radiologik

Gejala sistitis

Proktitis hemoragik

Fibrosis daerah pelvis demikian luas terutama pada penyinaran yang


luas dengan dosis yang tinggi sehingga timbul frozen pelvis dengan
kemungkinan penyempitan vagina, rectum, kandung kencing atau
ureter.

Atropi mucosa rectum yang disertai teleangiektasi yang sewaktuwaktu bila defekasi keras dapat menimbulkan perdarahan

Nekrosis pada dinding vagina dengan kemungkinan timbulnya fistula


rectovaginalis atau fistula vesikovaginalis.

HISTEREKTOMI RADIKAL
Histerektomi radikal primer menguntungkan karena dapat dilakukan
surgical staging.4,7
Operasi radikal yang memerlukan waktu yang cukup lama, tidak mungkin
tanpa terjadi komplikasi. Oleh karena itu, persiapan operasi perlu dilakukan
dengan cermat sehingga dapat mengurangi komplikasi seperti lazimnya
komplikasi operasi, yaitu :7
1. Trias pokok komplikasi (perdarahan, infeksi dan trauma tindakan operasi).
2. Komplikasi emboli (kardiovaskular dan paru).
3. Komplikasi lainnya
Emboli dan emboli paru yang berat
Faktor yang dapat menimbulkan terjadinya emboli paru, yaitu:7
1. Operasi yang lama saat mengangkat jaringan lemak di pelvis.

27

2. Invasi sel karsinoma yang dapat menimbulkan emboli melalui proses


hiperkoagulasi.
Komplikasi alat perkemihan
Manipulasi yang cukup lama dan bervariasi sekitar pelvis menyebabkan
kemungkinan terjadi komplikasi alat perkemihan pada:6
1. Disfungsi vesikouterina
Kejadian ini berkaitan dengan upaya penyisihan dan upaya pemotongan
ligamentum kardinale yang terlalu ke lateral dan pemotongan ligamentum
sakrouterinum terlalu dekat dengan rektum.
2.

Fistula
Manipulasi yang berat di sekitar vesika urinaria

Infeksi pascaoperatif
Infeksi yang berat dapat menimbulkan komplikasi berantai, seperti:6

Sepsis meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

Memperpanjang hospitalisasi

Terjadi wound dehicense

Pembentukan abses sekitar pelvis.

G. FOLLOW UP
Tiap 3 bulan selama 2 tahun pertama, kemudian tiap 6 bulan, tergantung
keadaan. Jangan lupa meraba kelenjar inguinal dan supraclavikla, abdomen,
abdominal vaginal, dan abdominalrektal, pemeriksan sitologik puncak vagina, dan
foto rontgen thoraks (setiap 6 bulan).1,2
Kolposkopi untuk meneliti puncak vagina, serta bentuk-bentuk praganas.
Rektoskopi, sistoskopi, renogram, Intra Venous Pyelografi (IVP), dan CT scan
panggul, hanya dilakukan menurut indikasi.6
H. PROGNOSIS
Faktor-faktor yang menentukan prognosis adalah: umur, keadaan umum,
tingkat klinik keganasan, ciri histologi sel tumor, kemampuan tim penolong, dan
sarana pengobatan.2

28

Angka ketahanan hidup 5 tahun menurut data internasional


Tingkat

AKH-5 Thn

TIS
T1
T2
T3
T4

Hampir 100%
70-85%
40-60%
30-40%
<10%

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim, Harapan Baru Vaksin Kanker Serviks. 2007. didapatkan dari
http://www.The Home of Urogyn Indonesia - Various Info.htm/. diakses
tanggal 2 oktober 2007.
2. Wiknjosastro H. Karsinoma Serviks Uterus. Dalam : Wiknjosastro H. Ilmu
Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta :
1999,380-388
3. Mansjoer A dkk. Kanker Serviks. Dalam : Mansjoer A dkk. Kapita Selekta
Kedokteran. Media Aesculapius : Jakarta; 2001, 379-381.
4. Sjamsuddin S. Pencegahan dan deteksi dini kanker serviks. Cermin Dunia
Kedokteran 2001;133;9-14.
5. Agustria ZS. Penuntun pelaksanaan praktis kanker ginekologi. Palembang,
2004;20-26
6. Kaufman RH. Adam E. Vonka V. Human papilloma virus infection and
cervikal carcinoma. Clin obstet gynecol 2002;43:363-80
7. Bosman FT, Wagener DJ, et al. Tumor alat kelamin wanita. Dalam : Bosman
FT, Wagener DJ, et al. Onkologi. Edisi kelima. Yogyakarta : 1996;494-507.
8. Aziz, M. F, Kemoterapi pada kanker serviks. Dalam : Indones J Obstet Gynecol
20(3):Jakarta 1996, 186-192.

29