Anda di halaman 1dari 23

REFERAT

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA


KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
Periode 12 Oktober 2015 12 Desember 2015

Dosen Pembimbing :
dr. Tri Djoko Widagdo, Sp.B

Disusun oleh :
Ahmad Tegar Alhasan 012116311
Giri Yurista 012116401
Meta Azalia 012116
Rahayu Larasati Husodo 012116492
Selvia E Rahayu 012116524

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG


2015

DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.
2.7.

Definisi
Anatomi dan Fisiologi
Etiologi
Patofisiologi
Manifestasi Klinis
Penegakan Diagnosis
Tatalaksana

BAB III PENUTUP


3.1.

Kesimpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kelenjar prostat adalah organ tubuh pria yang terletak di sebelah inferior
bulibuli dan membungkus uretra posterior (Purnomo, 2007). Paling sering
mengalami pembesaran, baik jinak maupun ganas (Rahardjo dan Birowo,
2000). Bila mengalami pembesaran, organ ini membuntu uretra pars prostatika
dan menghambat aliran urin keluar dari buli-buli (Purnomo, 2007). Benign
Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan Pembesaran Prostat Jinak (PPJ) yang
menghambat aliran urin dari buli-buli. Pembesaran ukuran prostat ini akibat
adanya hiperplasia stroma dan sel epitelial mulai dari zona periurethra
(Leveillee, 2006).
Di seluruh dunia, hampir 30 juta pria yang menderita gejala yang berkaitan
dengan pembesaran prostat, di USA hampir 14 juta pria mengalami hal yang
sama (Leveillee, 2006). BPH merupakan penyakit tersering kedua di klinik
urologi di Indonesia setelah batu saluran kemih (Fadlol dan Mochtar, 2005).
Sebagai gambaran hospital prevalence, di RS Cipto Mangunkusumo
ditemukan 423 kasus pembesaran prostat jinak yang dirawat selama tiga tahun
(1994-1997) dan di RS Sumber Waras sebanyak 617 kasus dalam periode
yang sama (Rahardjo dan Birowo, 2000). Penduduk Indonesia yang berusia
tua jumlahnya semakin meningkat, diperkirakan sekitar 5% atau kira-kira 5
juta pria di Indonesia berusia 60 tahun atau lebih dan 2,5 juta pria diantaranya
menderita gejala saluran kemih bagian bawah (Lower Urinary Tract
Symptoms/LUTS) akibat BPH (Bustan et al, 1998). BPH mempengaruhi

kualitas kehidupan pada hampir 1/3 populasi pria yang berumur > 50 tahun
(Leveillee, 2006).
Komplikasi yang terjadi pada pembesaran prostat adalah apabila buli-buli
menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urin. Karena produksi urin terus
berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urin
sehinnga

tekanan

intravesika

meningkat,

dapat

timbul

hidronefrosis dan gagal ginjal (Rahardjo dan Birowo, 2000).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

hidroureter,

2.1. Definisi
BPH (Benign Prostate Hyperplasia) adalah pembesaran jinak dari
kelenjar prostat. Penyebab dari BPH tidak diketahui secara jelas, tetapi
beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya
dengan peningkatan kadar Dihydrotestoteron (DHT) dan proses aging
(penuaan) (Kim dan Belldegrun, 2006).
Benigna Prostat Hiperplasia adalah kelenjar prostat mengalami,
memanjang keatas kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin
dengan menutupi orifisium uretra (Brunner dan Suddarth, 2002). Benigna
Prostat Hiperplasi adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan (Price,
2006)
Benigna Prostat Hiperplasi adalah hiperplasia kelenjer periuretra
yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai
bedah (Mansjoer, 2000).
Benigna Prostat Hiperplasi adalah kelenjar prostat bila mengalami
pembesaran, organ ini dapat menyumbat uretra pars prostatika dan
menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar dari buli-buli (Purnomo,
2011).
Dari pengertian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa
benigna prostat hyperplasia adalah pembesaran dari prostat yang biasanya

terjadi pada orang berusia lebih dari 50 tahun yang mendesak saluran
perkemihan
2.2. Anatomi dan Fisiologi Prostat
1. Anatomi

Gambar 1. Sistem Reproduksi Pria

Kelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang


melingkar Bledder neck dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar
prostat pada orang dewasa kira-kira 20 gram dengan ukuran rata-rata :
panjang 3,4 cm, lebar 4,4 cm, tebal 2,6 cm. Secara embriologis terdiri dari
5 lobus yaitu lobus medius 1 buah, lobus anterior 1 buah, lobus posterior 1
buah, lobus lateral 2 buah. Selama perkembangannya lobus medius, lobus
anterior dan lobus posterior akan menjadi satu disebut lobus medius. Pada
penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil
dan lobus ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi

cairan seperti susu, kista ini disebut kelenjar prostat. Pada potongan
melintang uretra pada posterior kelenjar prostat terdiri dari:
a. Kapsul anatomis.
Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan jaringan muskuler.
Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok bagian :
1) Bagian luar disebut kelenjar sebenarnya.
2) Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal, lapisan ini disebut
juga sebagai adenomatus zone.
3) Di sekitar uretra disebut periuretral gland. Saluran keluar dari
ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika
seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang
bermuara ke dalam uretra. Menurut Mc Neal, prostat dibagi atas :
zona perifer, zona sentral, zona transisional, segmen anterior dan
zona spingter preprostat. Prostat normal terdiri dari 5 lobulus
kelenjar. Duktus kelenjar-kelenjar prostat ini lebih kurang 20 buah,
secara terpisah bermuara pada uretra prostatika, dibagian lateral
verumontanum, kelenjar-kelenjar ini dilapisi oleh selaput epitel
torak dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid (Anderson, 1999).

Gambar 2. Pembesaran Prostat


2. Fisiologi
Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur,
sedangkan pada orang dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya
mudah teraba. Sedangkan pada penampang tonjolan pada proses hiperplasi
prostat, jaringan prostat masih baik. Pertambahan unsur kelenjar
menghasilkan warna kuning kemerahan, konsisitensi lunak dan berbatas
jelas dengan jaringan prostat yang terdesak berwarna putih ke abu-abuan
dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan, keluar cairan seperti susu. Apabila
jaringan fibromuskuler yang bertambah tonjolan berwarna abu-abu padat
dan tidak mengeluarkan cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini
dapat menekan uretra 10 dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai
celah. Terkadang juga penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi
fibrosis jaringan kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan
kontraksi dari vesika yang dapat mengakibatkan peradangan (Brunner dan
Suddarth, 2002).

2.3.

Etiologi
Hingga sekarang, penyebab BPH masih belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses
penuaan. Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya
hiperplasia prostat:
1. Teori dihidrotestosteron
Pertumbuhan kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon testosteron.
Dimana pada kelenjar prostat, hormon ini akan dirubah menjadi metabolit
aktif dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5 reduktase.
DHT inilah yang secara langsung memicu m-RNA di dalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu
pertumbuhan kelenjar prostat. Pada berbagai penelitian, aktivitas enzim 5
reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal
ini menyebabkan sel-sel prostat menjadi lebih sensitif terhadap DHT
sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat
normal.1
2. Ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron
Pada usia yang makin tua, kadar testosteron makin menurun, sedangkan
kadar estrogen relatif tetap, sehingga perbandingan estrogen : testosteron
relatif meningkat. Estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya
proliferasi sel-sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitivitas
sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan

jumlah reseptor androgen dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat


(apoptosis). Akibatnya, dengan testosteron yang menurun merangsang
terbentuknya sel-sel baru, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai
umur yang lebih panjang sehingga massa prostat menjadi lebih besar.
3. Interaksi stroma-epitel
Diferensiasi dan pertumbuhan selsel epitel prostat secara tidak langsung
dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor).
Setelah sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel
stroma mensintesis suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi
sel stroma itu sendiri, yang menyebabkan terjadinya proliferasi sel-sel
epitel maupun stroma.
4. Berkurangnya kematian sel prostat
Apoptosis sel pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik homeostatis
kelenjar prostat. Pada jaringan nomal, terdapat keseimbangan antara laju
proliferasi sel dengan kematian sel. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat
yang apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan
makin meningkat sehingga mengakibatkan pertambahan massa prostat.
Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian
sel karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas
kematian sel kelenjar prostat.
5. Teori sel stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalami apoptosis, selalu dibentuk
sel-sel baru. Dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang

mempunyai kemampuan berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini


bergantung pada hormon androgen, dimana jika kadarnya menurun
(misalnya pada kastrasi), menyebabkan terjadinya apoptosis. Sehingga
terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH diduga sebagai ketidaktepatan
aktivitassel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma
maupun sel epitel.
2.4.

Patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra
prostatika dan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan
peningkatan tekanan intravesikal. Untuk mengeluarkan urine, buli-buli
harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang
terus menerus ini menyebabkan perubahan anatomik buli-buli berupa
hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan
divertikel buli-buli (Purnomo, 2011). Perubahan struktur pada bulu-buli
tersebut, oleh pasien disarankan sebagai keluhkan pada saluran kemih
sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang dahulu
dikenal dengan gejala prostatismus. Tekanan intravesikal yang tinggi
diteruskan ke seluruh bagian bulibuli tidak terkecuali pada kedua muara
ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran
balik urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko ureter.
Keadaan keadaan ini jIka berlangsung terus akan mengakibatkan
hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal
ginjal. Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak

hanya disebabkan oleh adanya massa prostat yang menyumbat uretra


posterior, tetapi juga disebabkan oleh tonus otot polos yang pada stroma
prostat, kapsul prostat, dan otot polos pada leher buli-buli. Otot polos itu
dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari nervus pudendus.
Pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada
saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah
terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah
prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan merenggang sehingga
timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebut fase
kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan
akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk
berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat
menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas (Mansjoer,
2000)
2.5.

Manifestasi Klinis
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah :
a. Obstruksi :
1) Hesistensi (harus menggunakan waktu lama bila mau miksi)
2) Pancaran waktu miksi lemah
3) Intermitten (miksi terputus)
4) Miksi tidak puas
5) Distensi abdomen
6) Volume urine menurun dan harus mengejan saat berkemih.

b. Iritasi : frekuensi sering, nokturia, disuria.


2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Nyeri pinggang, demam (infeksi), hidronefrosis.
3. Gejala di luar saluran kemih :
Keluhan pada penyakit hernia/hemoroid sering mengikuti penyakit
hipertropi prostat. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering
mengejan pada saat miksi sehingga mengakibatkan peningkatan
tekanan intra abdominal (Sjamsuhidayat, 2004).
Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna
Prostat Hiperplasia:
a. Sering buang air kecil dan tidak sanggup menahan buang iar kecil,
sulit mengeluarkan atau menghentikan urin. Mungkin juga urin yang
keluar hanya merupakan tetesan belaka.
b. Sering terbangun waktu tidur di malam hari, karena keinginan buang
air kecil yang berulang-ulang.
c. Pancaran atau lajunya urin lemah
d. Kandung kemih terasa penuh dan ingin buang iar kecil lagi
e. Pada beberapa kasus, timbul rasa nyeri berat pada perut akibat
tertahannya urin atau menahan buang air kecil .
Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan,
anoreksia, mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik
(Brunner dan Suddarth, 2002).
Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu:

Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (digital


rectal examination) atau colok dubur ditemukan penonjolan prostat dan
sisa urine kurang dari 50 ml.
Derajat 2 : Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat
lebih menonjol, batas atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml
tetapi kurang dari 100 ml.
Derajat 3 : Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi
dan sisa urin lebih dari 100 ml.
Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi total
2.6.

Penegakan Diagnosis
Anamnesa
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Manifestasi klinis timbul akibat peningkatan intrauretra yang pada
akhirnya dapat menyebabkan sumbatan aliran urin secara bertahap.
Meskipun manifestasi dan beratnya penyakit bervariasi, tetapi ada
beberapa hal yang menyebabkan penderita datang berobat, yakni adanya
LUTS (Fadlol dan Mochtar, 2005).
Keluhan LUTS terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritatif. Gejala
obstruksi antara lain: hesitansi, pancaran miksi melemah, intermitensi,
miksi tidak puas, menetes setelah miksi. Sedangkan gejala iritatif terdiri
dari: frekuensi, nokturia, urgensi dan disuri.1 Untuk menilai tingkat
keparahan dari LUTS, bebeapa ahli/organisasi urologi membuat skoring
yang secara subjektif dapat diisi dan dihitung sendiri oleh pasien. Sistem

skoring yang dianjurkan oleh WHO adalah international Prostatic


Symptom Score (IPSS). Sistem skoring IPSS terdiri atas 7 pertanyaan yang
berhubungan dengan keluhan LUTS dan 1 pertanyaan yang berhubungan
dengan kualitas hidup pasien. Dari skor tersebut dapat dikelompokkan
gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:
Ringan : skor 0-7
Sedang : skor 8-19
Berat : skor 20-35
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan dapat berupa gejala obstruksi antara lain, nyeri pinggang,
benjolan di pinggang (hidronefrosis) dan demam (infeksi, urosepsis).1
3. Gejala diluar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia
inguinalis atau hemoroid, yang timbul karena sering mengejan pada saat
miksi sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan intraabdominal.1

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan buli-buli yang penuh dan
teraba massa kistik si daerah supra simpisis akibat retensi urin.1
Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination (DRE)
merupakan pemeriksaan fisik yang penting pada BPH, karena dapat
menilai tonus sfingter ani, pembesaran atau ukuran prostat dan kecurigaan

adanya keganasan seperti nodul atau perabaan yang keras. Pada


pemeriksaan ini dinilai besarnya prostat, konsistensi, cekungan tengah,
simetri, indurasi, krepitasi dan ada tidaknya nodul. Colok dubur pada BPH
menunjukkan konsistensi prostat kenyal, seperti meraba ujung hidung,
lobus kanan dan kiri simetris, dan tidak didapatkan nodul. Sedangkan pada
karsinoma prostat, konsistensi prostat keras dan teraba nodul, dan mungkin
antara lobus prostat tidak simetri.

Gambar 4. Pemeriksaan Colok Dubur


Pemeriksaan Laboratorium
Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi
atau inflamasi pada saluran kemih.1 Obstruksi uretra menyebabkan
bendungan saluran kemih sehingga menganggu faal ginjal karena adanya
penyulit seperti hidronefrosis menyebabkan infeksi dan urolithiasis.1,9
Pemeriksaan kultur urin berguna untuk mencari jenis kuman yang

menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitivitas kuman


terhadap beberapa antimikroba yang diujikan. Pemeriksaan sitologi urin
digunakan untuk pemeriksaan sitopatologi sel-sel urotelium yang terlepas
dan terikut urin. Pemeriksaan gula darah untuk mendeteksi adanya
diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada bulibuli. Jika dicurigai adanya keganasan prostat perlu diperiksa penanda
tumor prostat (PSA).
Pencitraan
Foto polos perut berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran
kemih, batu/kalkulosa prostat atau menunjukkan bayangan buli-buli yang
penuh terisi urin, yang merupakan tanda retensi urin. Pemeriksaan IVP
dapat menerangkan adanya :
- kelainan ginjal atau ureter (hidroureter atau hidronefrosis)
- memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan dengan
indentasi prostat (pendesakan buli-buli oleh kelenjar prostat) atau ureter
bagian distal yang berbentuk seperti mata kail (hooked fish)
- penyulit yang terjadi pada buli-buli, yakni: trabekulasi, divertikel, atau
sakulasi buli-buli
Pemeriksaan IVP tidak lagi direkomendasikan pada BPH.1
Pemeriksaan USG secara Trans Rectal Ultra Sound (TRUS), digunakan
untuk mengetahui besar dan volume prostat , adanya kemungkinan
pembesaran prostat maligna sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi
aspirasi prostat, menentukan jumlah residual urin dan mencari kelainan

lain pada buli-buli. Pemeriksaan Trans Abdominal Ultra Sound (TAUS)


dapat mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat
obstruksi BPH yang lama (Purnomo, 2011).

Gambar 5. TransRectal Ultra Sound (TRUS)

Pemeriksaan lain
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan
mengukur:
- residual urin, diukur dengan kateterisasi setelah miksi atau dengan
pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi

- pancaran urin (flow rate), dengan menghitung jumlah urin dibagi dengan
lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau dengan
2.7.

Tatalaksana
1.

Modalitas terapi BPH adalah :


a. Observasi yaitu pengawasan berkala pada klien setiap 3-6 bulan
kemudian setiap tahun tergantung keadaan klien.
b. Medikamentosa : terapi ini diindikasikan pada BPH dengan
Keluhan ringan, sedang, sedang dan berat tanpa disertai penyulit. Obat
yang digunakan berasal dari phitoterapi (misalnya : Hipoxis rosperi,
serenoa repens, dll), gelombang alfa blocker dan golongan supresor
androgen.

2.

Indikasi pembedahan pada BPH adalah :


a. Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin
akut (100 ml).
b. Klien dengan residual urin yaitu urine masih tersisa di kandung
kemih setelah klien buang air kecil > 100 ml.
c.Klien dengan penyulit yaitu klien dengan gangguan sistem
perkemihan seperti retensi urine atau oliguria.
d. Terapi medikamentosa tidak berhasil.
e. Flowcytometri menunjukkan pola obstruktif.

Pembedahan dapat dilakukan dengan :


1) TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat).

a) Jaringan abnormal diangkat melalui rektroskop yang dimasukan melalui


uretra.
b) Tidak dibutuhkan balutan setelah operasi.
c) Dibutuhkan kateter foley setelah operasi.
2) Prostatektomi Suprapubis
a) Penyayatan perut bagian bawah dibuat melalui leher kandung kemih.
b) Diperlukan perban luka, drainase, kateter foley, dan kateter suprapubis
setelah operasi.
3) Prostatektomi Neuropubis
a) Penyayatan dibuat pada perut bagian bawah.
b) Tidak ada penyayatan pada kandung kemih.
c) Diperlukan balutan luka, kateter foley, dan drainase.
4) Prostatektomi Perineal
a) Penyayatan dilakukan diantara skrotum dan anus.
b) Digunakan jika diperlukan prostatektomi radikal.
c) Vasektomi biasanya dikakukan sebagai pencegahan epididimistis.
d) Persiapan buang hajat diperlukan sebelum operasi (pembersihan perut,
enema, diet rendah sisa dan antibiotik).
e) Setelah operasi balutan perineal dan pengeringan luka (drainase)
diletakan pada tempatnya kemudian dibutuhkan rendam duduk. Pada
TURP, prostatektomi suprapubis dan retropubis, efek sampingnya dapat
meliputi:
1. Inkotenensi urinarius temporer

2. Pengosongan urine yang keruh setelah hubungan intim dan


kemandulan sementara (jumlah sperma sedikit) disebabkan oleh ejakulasi
dini kedalam kandung kemih (Phoenix, 2002)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.1.1 Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan Pembesaran
Prostat Jinak (PPJ) yang menghambat aliran urin dari buli-buli.
Pembesaran ukuran prostat ini akibat adanya hiperplasia stroma
3.1.2

dan sel epitelial mulai dari zona periurethra.


Gejala pada Benign Prostate Hyperplasia (BPH) ada

2, yaitu

gejala obstruksi berupa hesistensi (harus menggunakan waktu lama


bila mau miksi), pancaran waktu miksi lemah, intermitten (miksi
terputus), miksi tidak puas, distensi abdomen, volume urine

menurun dan harus mengejan saat berkemih dan gejala iritasi


3.1.3

berupa frekuensi sering, nokturia, disuria.


Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination (DRE)
merupakan pemeriksaan fisik yang penting pada BPH. BPH juga

3.1.4

dapat ditegakan dengan pemeriksaan penunjang seperti USG.


Pada penyakit BPH diterapi dengan cara medikamentosa seperti
pemberian obat golongan gelombang alfa blocker dan golongan
supresor androgen untuk BPH ringan. Pembedahan dilakukan pada
BPH yang sudah berat dengan berbagai metoe pembedahan yang
ada.

DAFTAR PUSTAKA
Arif, Mansjoer, dkk., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, Medica
Aesculpalus, FKUI, Jakarta. Purnomo. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Kedua.
Jakarta: CV.Sagung Seto. 2007. 69- 85
Brunner & Suddarth. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah, Edisi 8.,
Jakarta: EGC.
Birowo
&
Rahardjo.
Pembesaran
Prostat
Jinak.
2000.
http://fkui.co.id/urologi/ppj.mht
Fadlol & Mochtar. Prediksi Volume Prostat pada Penderita Pembesaran Prostat
Jinak. Indonesian J of Surgery 2005; XXXIII-4; 139-145
Kim & Belldegrun (eds). Urology Dalam Schwartzs Manual Of Surgery, 8th
Edition, Brunicardi et al (eds). USA: Mc Graw-Hill Medical Publishing
Division. 2006. 1036-1060
Leveillee. Prostate Hyperplasia, Benign. 2006. http://www.emedicine.com.
Phoenix
5.
Transurethral
Prostatectomy.
http://www_phoenix5_org/glossary/graphics-turp/NIDDK/gif.mht

2002.

Price, A. S., Wilson M. L., 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Alih Bahasa: dr. Brahm U. Penerbit. Jakarta: EGC

Purnomo. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Ketiga. Jakarta: CV.Sagung Seto. 2011.


R. Sjamsuhidayat, Wim De Jong. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Suryawisesa, Malawat, Bustan. Hubungan Faktor Geografis Terhadap Skor Gejala
Prostat Internasional (IPSS) Pada Komunitas Suku Makassar Usia Lanjut
Tahun 1998. Ropanasuri 1998; XXVI 4; 1-10