Anda di halaman 1dari 2

Unhas Buka Disaster Management

Posted by PENERBITAN KAMPUS


'IDENTITAS'UNHAS on 11/15/2007 in | 0
komentar
Awal tahun 2008 Unhas akan membuka program magister baru yang nantinya
menghasilkan SDM yang mampu terlibat dalam pengelolaan bencana dan konflik. Unhas bakal
jadi yang pertama.
Mengapa di tanahku terjadi bencana. Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah
kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, penggalan bait lagu yang dipopulerkan
Ebit G Ade ini tentunya mengingatkan masyarakat Indonesia betapa bencana dan konflik secara
beruntun telah melanda negeri ini.
Masih jelas dalam ingatan kita, konflik yang terjadi di Aceh, Ambon dan beberapa daerah
lainnya telah menelan korban jiwa. Belum lagi gempa yang kemudian disusul tsunami di Aceh,
gempa dan letusan gunung merapi di Yogjakarta, tanah longsor dimana-mana, genangan lumpur
Lapindo di Jawa Timur, dan masih berderet rentetan bencana lainnya.
Musibah yang berkali-kali menghantam Indonesia tidak banyak dijadikan pelajaran untuk
lebih matang dalam pengelolaan bencana maupun konflik. Sangat disesalkan, pemerintah
maupun lembaga yang berada di Indonesia terkesan lemah dalam manajeman penanganan
bencana. Maka diperlukan adanya institusi yang bisa mencetak SDM yang handal dalam
manajemen penanganan bencana alam maupun konflik. Berangkat dari kesadaran ini, Unhas
berencana membentuk program studi baru yang nantinya akan mencetak SDM dalam mengelola
bencana maupun konflik.
Program Magister (S2) ini bernama Disaster and Emergency Management (Manajemen
Bencana dan Kegawatdaruratan). Dimana-mana seringkali kita temui terjadi bencana, karena itu
Unhas membuka program Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan. Program ini akan dibuka
Januari tahun depan, dan ini adalah yang pertama kali di Indonesia, ujar Dr dr Andi Asadul
Islam SpBs, PD III Fakultas Kedokteran sekaligus yang menjadi Sekretaris Pembentukan
Program, saat ditemui di ruangannya, Kamis (4/10).
Andi Asadul menambahkan bahwa program ini dibawahi langsung oleh Fakultas
Kedokteran, bukan Program Pascasarjana. Selain itu, program ini merupakan hasil kerjasama
dengan Departemen Kesehatan RI, WHO (World Health Organization), serta beberapa

Universitas di Indonesia, antara lain adalah UI, Unair, UGM, dan Univ Udayana (Unud).
Disaster and Emergency Management difokuskan untuk mencetak tenaga medis (Medical
Emergency). Jadi program ini ditujukan bukan hanya bagi lulusan Jurusan Pendidikan Dokter.
Tapi juga untuk lulusan Jurusan Ilmu Keperawatan, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat, ujar
PD III FK.
Rencananya, program ini akan terdiri atas empat semester, 42 SKS, dan akan menampung
lebih kurang 24 mahasiswa tiap semesternya. Namun, menurut dr Syafruddin Gaus PhD SpAn,
Ketua Program Studi untuk Magister Manajemen Bencana dan Kegawatdaruratan, mengenai
prosedur akademik program, baru akan dibahas dalam lokakarya bulan November nanti.
Prosedur itu di antaranya mengenai kurikulim, modul, kompetensi, lama pendidikan, persyaratan
masuk, dan gelar lulusannya.
Masih banyak perdebatan mengenai ini. Misalnya mengenai lama pendidikan. Dari
WHO mengharapkan program ini akan berjalan selama setahun. Tapi kita di sini untuk
menjalankan program Magister memerlukan waktu tiga sampai empat semester, ujarnya. Oleh
karena belum ada kejelasan mengenai prosedur akademik itu maka belum ada sosialisasi ke
mahasiswa. Setelah lokakarya dan kemudian disahkan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi, baru
kita bisa sosialisasi ke mahasiswa, lanjut Syafruddin.
Meski belum ada sosialisasi ke mahasiswa, namun program ini dinilai cukup menarik
bagi sebagian mahasiswa. Fariz Munandar misalnya, ketua Tim Bantuan Medis (TBM)
Calcaneus ini mengaku berniat memasuki program tersebut nantinya. Ini bagus sekali! Insya
Allah saya akan masuk pada program ini. Kebetulan kami di sini (TBM Calcaneus, red) memang
bergerak di bidang kegawatdaruratan, ujarnya. Fariz optimis program tersebut bakal banyak
peminatnya khususnya teman-teman dari TBM Calcaneus. Pasalnya program yang dibuka Unhas
ini adalah yang pertama kalinya di Indonesia dengan kondisinya yang sangat diperlukan. Fariz
menilai pembentukan program ini sangat perlu melihat kondisi Indonesia yang rawan terkena
bencana.
Diharapkan dari pembentukan program baru ini nantinya akan sangat membantu
utamanya dalam menanggulangi bencana ataupun konflik yang melanda negeri ini. Sehingga
korban dapat diminimalisir. Semoga pembentukan program ini benar-benar ditindaklanjuti.
M12, M28/Ayh
http://www.identitasonline.net/2007/11/unhas-buka-disaster-management.html?m=1