Anda di halaman 1dari 19

I

S
A
L
U
G
E
R
IMUNO

MOCH. ABDUL ROKIM


B2A015007

SISTEM IMUN DIKONTROL OLEH 5


FAKTOR ANTARA LAIN :
1.

REGULASI OLEH ANTIGEN

Respon imun tergantung dari dosis, waktu pemberian dan


sifat antigen. Bila antigen mempunyai imunogenitas
rendah, gabungan dengan ajuvan dapat meningkatkan
respon imun.
Antigen yang imunogenik tidak akan menimbulkan
respon imun bila tidak sampai jaringan limfoid.

2. REGULASI OLEH ANTIBODI

Pembentukan antibodi berakhir dalam feedback inhibition.


Timbulnya antibodi IgG berakhir dalam shut-off dan
sintesis IgM. Hal ini diduga terjadi karena adanya kompetisi
antigen dan reseptor untuk igg pada permukaan sel B.
Demikian pula bila kadar antibodi meningkat, kadar antigen
akan menurun.

3. TOLERANSI

Toleransi imunologik yaitu sistem yang tidak atau kurang


dapat mengekspresikan imunitas humoral atau selular
terhadap satu atau lebih aantigen spesifik. Adanya toleransi
spesifik terhadap sel antigen memungkinkan kita dapat
hidup, tumbuh dan berkembang.
Ada beberapa faktor eksogen yang dapat merusak
toleransi. Akibatnya dapat berbahaya, tergantung dari
derajat kerusakan toleransi. Penyakit autoimun adalah
akibat hilangnya self tolerance.

Toleransi tidak diinginkan terhadap infeksi, tetapi


sangat diperlukan pada transplantasi. Yang perlu
diketahui toleransi adalah antigen spesifik dan
harus dibedakan dari nonresponsif pada sistem
imun yang terganggu/rusak.

JENIS DAN FAKTOR


1. TOLERANSI NEONATAL

Neonatus hewan sangat rentan terhadap induksi toleransi


oleh karena sistem imunnya belum berkembang.
2. SELF-TOLERANCE

Diduga disebabkan oleh clonal detection dari sel sistem


imun selama masa neonatal. Limfosit baru yang belum
matang dengan sendirinya akan dihancurkan.

3. TOLERANSI SENTRAL

Ialah induksi toleransi sewaktu limfosit ada dalam


perkembangan. Sel T yang self-reaktif akan dihancurkan
dalam timus sedang sel B yang self-reaktif dihancurkan
dalam sumsum tulang
4. TOLERANSI PERIFER

Merupakan mekanisme yang diperlukan untuk


mempertahankan toleransi terhadap antigen yang tidak
ditemukan dalam organ limfoid primer atau terjadi bila ada
reseptor dengan afinitas rendah

5. TOLERANSI SEL B

Pada umumnya sel imatur lebih rentan terhadap induksi


toleransi dibanding sel yang matang dan toleransi dapat
ditimbulkan dengan dosis antigen lebih kecil. Sel B
mengalami apoptosis dalam sumsum tulang atau jaringan
limfoid sekunder.
Dalam sumsum tulang sel auto-reaktif dapat terlepas dari
self deletion. Sel B dapat juga menjadi anergik terhadap
antigen bila tidak mendapat cukup sinyal untuk diaktifkan
denga sempurna. Sel tersebut akan menekan produksi igm
permukaan sedangkan igd dipertahankan.

6. TOLERANSI SEL T

Menginduksi toleransi sel T lebih mudah dan toleransi yang


timbul lebih lama dibanding dengan sel B. Sel T imatur
dihancurkan selama perkembangannya dalam timus
meskipun sel dengan low-avidity dapat hidup.
Sel T yang matang dapat dibuat anergik yang tergantung
dari bagaimana antigen dipresentasikan. Tidak adanya
sinyal kostimulator dari sel APC dapat menginduksi
toleransi.

7. SUPERANTIGEN
Superantigen adalah antigen yang berhubungan sangat efektif dengan
molekul MHC dan dapat menginduksi clonal deletion sel T.
8. TOLERANSI HIGH-ZONE DAN LOW-ZONE
Toleransi lebih baik diinduksi dengan antigen dosis tinggi(high-zone)
yang akan menginduksi toleransi sel B. Beberapa antigen dosis
subimunogenik (low-zone) dapat menimbulkan toleransi populasi sel T.

9. ENHANCMENT

Dalam enhancment termasuk induksi toleransi pada


transplantasi untuk meningkatkan hidup jaringan yang
dicangkokkan.

4.

PERANAN SEL-SEL ASESORI DALAM TOLERANSI


APC dan makrofag merupakan sel-sel pertama yang bekerja dalam
respon imun. Bila antigen sampai di makrofag, imunitas akan
diperoleh. Bila tidak terlewati, akan terjadi beberapa toleransi.
Rusaknya makrofag oleh bberbagai bahan yang terjadi sebelum
antigen diberikan, dapat menimbulkan toleransi. Toleransi dapat
dengan mudah ditimbulkan pada bayi baru lahir yang tidak atau
sedikit memiliki makrofag.

5. REGULASI SISTEM IMUN NEUROENDOKRIN


Ada bukti-bukti yang menunjukkan susunan saraf
berpengaruh atas fungsi sistem imun baik langsung atau
tidak langsung melalui sistem endokrin.

A. INERVASI JARINGAN LIMFOID


Timus, limpa dan kelenjar limfe menerima inervasi
simpatetik non adrenergik; mengontrol aliran darah melalui
jaringan limfoid, jadi mempengaruhi arus limfosit.
Denervasi kelenjar limfoid dapat memodulasi respon imun.

B. HIPOFISA/AKSIS ADRENAL
Stres
dapat
mempengaruhi
pelepaasan
hormon
adrenokotrtikotropik (ACTH) dari hipofisa. Hal ini akan
melepaskan glukokortikoid yang bekerja imunosupresif.
Juga limfosit memproduksi steroid sebagai respon terhadap
corticotrophin-releasing factors; medula adrenal melepas
katekolamin yang dapat mengubah gambaran migrasi
leukosit dan respon limfosit.

C. ENDOKRIN DAN REGULASI NEUROPEPTIDA


Limfosit memiliki reseptor terhadap banyak hormon seperti
insulin, tiroksin, growth hormone dan somatostatin.
Hormon-hormon tersebut dan enkephalin, endorfin dilepas
selama stres., Memodulasi fungsi sel T dan B yang
kompleks yang tergantung dari kadar mediator.

CONTOH PENGONTROLAN IMUN TERHADAP


SERANGAN ORGANISME PATOGEN

Secara khas infeksi parasit merangsang lebih dari satu mekanisme pertahanan

imunologik, yaitu kedua respon imun humoral dan selular. Namun yang
menonjol ditentukan oleh jenis parasitnya sendiri.

Infeksi

parasit pada umumnya bersifat kronis, sebagai konsekuensinya maka


dalam tubuh selalu terdapat antigen parasit yang beredar sehingga akibatnya
terjadi perangsangan terus menerus. Reaksi antibody dan antigen parasit akan
membentuk kompleks imun. Kadar kelas immunoglobulin juga sangat khas bagi
parasit tertentu.

Misalnya

IgM khas pada penyakit malaria dan


trypanosomiasis, sedang IgG dalam malaria dan IgE dalam
infeksi cacing. Pada umumnya respon imun seluler lebih
efektif untuk menghadapi protozoa yang hidup intraselule,
sebaliknya antibody lebih efektif untuk parasit ekstraseluler
baik dalam darah maupun dalam cairan jaringan. Hal ini
disebabkan oleh karena antibody tidak dapat melintasi
membrane sel inang untuk mencapai parasit yang berada
dalam sel.

Mekanisme yang mengontrol system imun dipengaruhi oleh 5 faktor


utama yakni:
1. Regulasi oleh antibody
2. Regulasi oleh antigen
3. Toleransi
4. Peranan sel-sel sensori dalam toleransi
5. Regulasi system imun neuroendokrin
Mikroorganisme dan parasit patogen dalam tubuh direspon secara
berbeda, sebagai contoh pada infeksi oleh virus yang lebih banyak
berperan dalam proses imun adalah interferon, sedang pada infeksi oleh
bakteri yang berperan pada imunitas adalah antibody, sel t dan
makrofag.