Anda di halaman 1dari 14

1

BUTTER & BUTTERMILK


LAPORAN RESMI PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PENGOLAHAN SUSU
Disusun oleh :
Debora Anggi W

(13.70.0032)

Kelompok D4

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2016

1.
1.1.

PENDAHULUAN
Topik

Pada tanggal 1 Juni 2016 dilakukan praktikum Teknologi Pengolahan susu bab Butter
dan Buttermilk oleh kloter D yang dimulai pukul 15.00. Praktikum dibimbing dan
didampingi oleh Asisten Dosen. Pada awal praktikum Asisten Dosen memberikan
arahan dan menjelaskan alur perlakuan yang harus dilakukan dan pembagian perlakuan
masing masing kelompok. Dilanjutkan proses pembuatan butter sesuai arahan asisten
dosen. Kemudian dari pengolahan butter dihasilkan produk samping berupa buttermilk.
Kedua produk dilakukan pengamatan. Perlakuan yang diberikan pada praktikum ini
adalah penggunaan merek krim yang berbeda yaitu Roselle dan krim cair Elfir.
1.2.

Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memngetahui cara pembuatan unsalted butter
yang tidak difermentasi dan memahami prinsip pembuatannya.
2. HASIL PENGAMATAN
Hasil Hasil pengamatan karakteristik butter dan buttermilk dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Karakteristik Butter dan Buttermilk
Fisik
Kel

Produk

Wa Ras
rna a

D1

D2

Rendemen
(%)

Ar
om
a

Tek
stur

Penampakan

Butter

++

++
+

++
+

Punya body, tidak mudah


dioles, creamy

Butter
setelah
disimpan
di kulkas

++

++

Punya body, tidak mudah


dioles, creamy

Buttermilk

Sedikit creamy

66,67

Butter

++

++
+

Punya body, tidak mudah


dioles, creamy

28,90

++
++
++
+

31,64

D3

D4

Butter
setelah
disimpan
di kulkas

++

++

Punya body, tidak mudah


dioles, creamy

Buttermilk

++
++

Sedikit creamy

65,00

Butter

++

++
+

++
+

Punya body, tidak mudah


dioles, creamy

32,61

Butter
setelah
disimpan
di kulkas

++

++

Punya body, tidak mudah


dioles, creamy

Buttermilk

++
++

Sedikit creamy

++
++

++
++

Butter
++
++

D5

++

63,33

Tidak punya body, mudah


dioles, sangat creamy

Butter
setelah
disimpan
di kulkas

++
++

++

++
+

++
+

Buttermilk

++

++

++

Tidak creamy

56,67

Butter

++
+

++

++
+

++
++

Tidak punya body, mudah


dioles, sangat creamy

25,55

Butter
setelah
disimpan
di kulkas

++
+

++

++
+

++
+

Punya body, mudah


dioles, sangat creamy

Buttermilk

++

++

++

Tidak creamy

Keterangan :
Warna
+
: putih
++
: agak kuning
+++ : kuning
++++ : sangat kuning
+++++ : coklat
Aroma
+
: tidak kuat
++
: agak kuat
+++ : kuat
++++ : sangat kuat

Rasa
+
++
+++
++++

Punya body, mudah


dioles, sangat creamy

: tidak enak
: agak enak
: enak
: sangat enak

35,89

46,67

Penampakan

Punya body atau tidak

Mudah dioles atau tidak

Creamy atau tidak

Tesktur
+
: kasar/keras
++
: agak kasar/agak keras
+++ : lembut
++++ : sangat lembut

Dari tabel diatas dapat dilihat dari segi warna butter dan butter yang telah dimasukkan
disimpan kedalam kulkas memiliki karakteristik warna yang sama. Pada percobaan D1D3 butter dibuat dari krim Roselle sedangkan D4-D5 dibuat dari krim cair Elfir.

Dari segi warna, aroma dan tekstur butter dari krim cair Elfir memberikan nilai yang
lebih tinggi dari butter yang dibuat dari krim Roselle. Sedangkan dari segi rasa butter
yang dibuat dari krim Roselle memiliki nilai rasa yang lebih tinggi. Proses
penyimpanan di kulkas terlihat menurunkan parameter rasa dan tekstur pada butter yang
dibuat dari krim Roselle dan parameter tekstur pada butter dari krim cair Elfir.
Gambar butter sebelum pennyimpanan dikulkas dapat dilihat pada gambar 1. Gambar
butter setelah pennyimpanan dikulkas dapat dilihat pada gambar 2. Gambar buttermilk
dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 1. Butter sebelum disimpan dikulkas

Gambar 2. Butter setelah disimpan dikulkas

Gambar 3. Buttermilk

3. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan percobaan pembuatan butter dan buttermilk dengan
memberikan perlakuan perbedaan jenis krim yang digunakan. Butter merupakan produk
olahan berbahan baku susu yang memiliki kandungan protein rendah akan tetapi
menghasilkan energi yang tinggi. Butter memiliki sistem emulsi air dalam minyak.
Kandungan lemak dalam butter adalah sebesar 80%-82% dan fase airnya sebesar 18%20% serta tidak mengandung laktosa dan mineral. Dalam fase air pada butter
mengandung garam dan padatan susu non lemak. Kadar air maksimal pada butter
adalah sebesar 16% (Gunstone, 2002). Kadar lemak dalam butter minimal harus 80%,
hal ini disebabkan karena apabila kadar air dalam butter tinggi, dapat menyebabkan
butter menjadi lebih mudah tengik (Winarno, 1993). Menurut Herschdoefer (1986)
butter dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu flavoured butter dan sweet cream butter.
Flavoured butter merupakan butter yang dibuat dengan memfermentasikan krim atau
krim asam, sedangkan sweet cream butter merupakan butter yang dibuat tanpa
menggunakan starter dan dibuat dengan atau tanpa penambahan garam. Butter yang
dibuat dalam praktikum ini termasuk unsalted sweet cream butter karena butter yang
dibuat tidak menggunakan kultur starter dan tidak menggunakan garam.
Sedangkan Buttermilk merupakan produk sampingan dari proses pembuatan butter.
kualitas dari buttermilk ditentukan dari jenis krim yang digunakan (Smith, 2003).
Komposisi buttermilk yaitu 90,7% air, 3,5% protein, 0,5% lemak, 0,7% mineral, dan
4,6% gula. Buttermilk juga mengandung kalium, vitamin B12, kalsium, riboflavin dan
sumber fosfor, serta mengandung lemak yang lebih rendah daripada susu biasa.
Komponen larut air pada krim seperti laktosa dan mineral terdapat pada buttermilk
(Heiler & Schieberle, 1996). Corredig dan Dalgleish (1997) menambahkan komposisi
pada buttermilk hampir sama dengan susu bubuk skim, hanya saja buttermilk lebih
banyak

mengandung

komponen

membran

globul

lemak

(milk

fat

globule

membrane / MFGM). Buttermilk memiliki potensi fungsional yang tinggi, terutama


karena senyawa larut dalam air, termasuk lipid polar dan membran globul lemak susu
(MFGM) fragmen. membran biologis ini biasanya melindungi globula lemak tidak
hanya dari degradasi enzimatik, tetapi juga dapat bertindak sebagai emulsifier. The
MFGM berisi lipid polar seperti phospho- dan sphingolipids serta lipid netral seperti
trigliserida,

digliserida, monogliserida, dan kolesterol dan ester-nya. The MFGM juga kaya, perifer,
atau protein integral tertentu longgar melekat pada membran, seperti mucin, xanthine
dehidrogenase / oksidase, CD36, PAS 6/7, adipophilin, dan butyrophilin (Guggisberg, et
al., 2012).
Pada praktikum ini dibuat unsalted sweet butter dan buttermilk dengan menggunakan
metode konvensional yaitu dengan pengocokkan/ churning. Menurut Saleh (2004),
butter merupakan produk olahan susu yang bersifat plastis yang diperoleh melalui
proses pengocokan (Churning) sejumlah krim. Pengocokkan merupakan proses
konversi dimana merubah fase emulsi minyak dalam air yang ada pada bahan baku
menjadi air dalam minyak. Bahan baku yang digunakan dalam praktikum ini adalah
Krim susu. Krim susu merupakan susu sapi yang dikonversi terlebih dahulu sehingga
mengandung lemak sebesar 30%-45% (Gunstone, 2002). Menurut Potter & Hotchkiss
(1996) Pemisahan cream dari susu dilakukan melalui proses pemutaran. Akibat proses
pemutaran tersebut, partikel yang lebih berat akan terlempar keluar sedangkan partikel
yang lebih ringan tertinggal.
Cream mengandung semua jenis lemak susu, sebagian laktosa, dan protein susu. Tekstur
cream yang dihasilkan adalah lembut, berbusa, dan berwarna putih. Krim masih
memiliki sistem emulsi lemak dalam air maka dari itu dilakukan pengkonversian untuk
membuat butter. Oleh karena itu, ketika proses pengocokan atau churning akan terjadi
inversi fase dari emulsi minyak dalam air menjadi emulsi air dalam minyak
Pengkonversian emulsi lemak terjadi karena selama proses pengocokan atau churning,
emulsi lemak dalam air akan terpecah. Kemudian globula lemak berkumpul dan
mengkristal membentuk butter pada proses kneading. Pada proses akhir kandungan air
yang yang berlebih dipisahkan (Gunstone, 2002).
Proses awal yang dilakukan pada praktikum ini yaitu sebanyak 300 ml krim susu
dikocok menggunakan mixer dengan kecepatan tinggi. Metode pembuatan butter ini
termasuk dalam pembuatan dengan proses churning konvensional (Walstra, 2006).
Ditambahkan oleh Susilorini & Sawitri (2006) mengungkapkan bahwa proses churning
merupakan proses pengocokan krim dengan kecepatan tinggi yang bertujuan memecah
globula lemak. Membran yang menyelubungi butir-butir lemak akan terpecah dan

membentuk busa dari protein. Gelembung gas (bubble) akan semakin kecil ketika terus
dilakukan pengadukan. Pengecilan ukuran gelembung disebabkan oleh protein yang
mengeluarkan air sehingga membentuk busa (foam) yang kompak dan memberi tekanan
pada globula lemak. Terdapat dua jenis krim yang digunakan yaitu krim Roselle dan
krim Elfir, kedua krim ini memiliki komposisi yang berbeda.
Pengocokan terus dilakukan hingga terpisah lemak dan buttermilk. Proses churning
terus dilanjutkan agar emulsi dalam cream tersebut dapat terpisah. Pemisahan tersebut
terbagi menjadi 2 fase yaitu fase lemak yang terdiri atas lemak mentega, dan fase air
yang melarutkan berbagai zat yang terdapat dalam susu (Winarno & Fernandez, 2007).
Kemudian mixer dimatikan dan krim didiamkan hingga semua lemak naik keatas.
Setelah itu lemak dan buttermilk dipisahkan dengan menyaring buttermilk. Buttermilk
dan susu dipisahkan dengan cara penyaringan tujuannya untuk diperoleh mentega dan
krim. Buttermilk mengandung hampir semua padatan susu lain kecuali lemak dan
diproduksi ketika mentega dan ghee diproduksi. Buttermilk merupakan sumber protein,
karbohidrat, mineral, Vitamina, tokoferol dan kolesterol (Sonalika, et al., 2015). Ampas
atau butter ditekan-tekan agar seluruh buttermilk dapat dipisahkan. Kemudian dilakukan
penimbangan berat butter milk yang didapatkan. Setelah itu dianalisa secara sensori.
Butter ditutup dengan plastik cling kemudian dimasukkan ke dalam kulkas selama 1
jam, setelah itu dianalisa kembali. Proses pendinginan di dalam refrigerator bertujuan
supaya kristal lemak dapat diperbanyak dan diperkecil serta memadatkan lemak
sehingga butter tersebut berstruktur (dapat dioles) (Winarno & Fernandez, 2007).
Dari hasil analisa butter, butter milk yang diamati didapatkan Butter yang dibuat dari
krim Roselle cenderung memiliki warna agak kuning, sedangkan butter yang dibuat
dengan krim cair Elfir cenderung memiliki warna agak kuning hingga kuning. Teori
Kosikowski (1977) mengatakan bahwa warna butter dipengaruhi oleh keberadaan
pigmen larut lemak. sedangkan pada praktikum ini digunakan krim dengan komposisi
yang berbeda, hal ini mempengaruhi warna dari butter yang dihasilkan. Krim Roselle
memiliki komposisi : susu skim, lemak nabati terhidrogenasi, sirup glukosa, gula, garam
pengemulsi, penstabil. Sedangkan krim Elfir memiliki komposisi lemak total 35,1%
krim susu, dan karagenan. Dari komposisi tersebut dapat dilihat bahwa krim Roselle
terbuat dari susu skim sedangkan krim Elfir terbuat dari susu krim. Sehingga kadar
lemak krim Elfir lebih tinggi. Menurut Smith (2003), warna butter cenderung

berwarna kuning karena adanya kandungan lemak dalam krim yang digunakan, dalam
praktikum ini yang digunakan adalah whipping cream. Semakin tinggi lemak yang
terkandung dalam krim maka warna butter akan semakin kuning. Hal ini yang
mengakibatkan butter pada kelompok D4 dan D5 memiliki warna yang lebih kuning
dari D1-D3.
Butter milk yang dihasilkan dari krim Roselle memiliki warna yang putih sedangkan
dari merek Elfir memiliki warna agak kuning. Sepeti yang sebutkan sebelumnya krim
Elfir memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi. Smith (2003) menyatakan bahwa
warna pada buttermilk dipengaruhi oleh kandungan lemak dalam susu krim yang
digunakan. Semakin tinggi lemak yang terkandung maka warna buttermilk semakin
kuning. Maka dari itu butter milk dari krim Elfir memiliki warna agak kuning karena
kandungan lemaknya yang lebih tinggi. Sedangkan warna putih pada buttermilk
disebabkan karena buttermilk merupakan by-product dari proses pembuatan butter
sehingga lemak dari susu hampir seluruhnya terikut pada produk butter. Selain itu
Sodini et al., (2006) menambahkan bahwa buttermilk adalah fase air yang dilepaskan
saat churning cream pada pembuatan butter dengan komposisi yang dimiliki buttermilk
yaitu 90,7% air, 3,5% protein, 0,5% lemak, 0,7% mineral, dan 4,6% gula. Sehingga
kandungan lemaknya sangat rendah.
Dari segi rasa butter yang dibuat dengan krim Roselle sebelum disimpan dikulkas
memiliki rasa yang lebih enak dibandingkan sesudah disimpan dikulkas. Buttermilk
yang dibuat dari krim Roselle memiliki rasa yang lebih enak dari butter. Hal ini dapat
terjadi karena saat pemisahan atau pencucian butter komponen senyawa pembentuk rasa
alami dari butter terikut dalam buttermilk. Selain itu jika persentase lemak atau asam
volatil dan kandungan volatil lainnya terlalu rendah, butter akan mudah kehilangan rasa
(Herschdoefer, 1986). Sedangkan buttermilk dan butter yang dibuat dari krim cair
Elfir memiliki rasa yang sama.
Pada parameter aroma baik butter maupun buttermilk yang dibuat dari krim Roselle
memiliki aroma yang tidak kuat. Sedangkan pada

butter krim cair Elfir butter

sebelum dan sesudah penyimpanan dikulkas memiliki aroma yang sama yaitu kuat

10

namun pada buttermilk yang dihasilkan memiliki aroma yang agak kuat. Karakteristik
sensorik dari produk serta sifat fisik merupakan sifat penting bagi penerimaan
konsumen. Senyawa lakton memberikan rasa dan flavor buah, krim dan mentega pada
mentega yang diharapkan terbentuk. Namun demikian, flavor, rasa dan aroma khusunya
dipengaruhi oleh senyawa volatil dalam krim. Maka arona yang kuat mengindikasikan
kadar lakton yang tinggi (Demirkol, et al., 2015).
Pada para meter tekstur pada butter yang terbuat dari krim Roselle mengalami
penurunan tekstur selama penyimpanan dari lembut menjadi kasar. Kosikowski (1977)
mengungkapkan bahwa tekstur butter dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, jenis
dan jumlah lemak yang terkandung, metode proses produksi, bentuk kristal lemak, serta
suhu penyimpanan. Herschdoefer (1986) juga menambahkan bahwa kekerasan butter
dikontrol oleh suhu, lamanya waktu penyimpanan pada suhu tertentu, metode
pembuatan, dan struktur kimia lemaknya. Penurunan tekstur setelah pendinginan
dikarenakan terbentuknya kristal lemak yang terlalu besar sehingga merusak tekstur.
Sedangkan pada butter yang terbuat dari krim cair Elfir selama penyimpanan juga
mengalami penurunan tekstur dari sangat lembut menjadi lembut. Hal ini dijelaskan
pada teori Kosikowski (1977), yakni butter akan menghasilkan butter menjadi memiliki
konsistensi yang baik setelah mengalami pendinginan. Sehingga butter yang terbuat dari
krim cair Elfirmenglami peningkatan nilai tekstur setelah pendinginan.
Waktu pendinginan butter mempengaruhi kristal air dalam lemak yang terbentuk. Selain
itu waktu pengocokkan yang pendek membentuk kristal yang lebih besar pada
pendinginan lambat dibandingkan dengan kristal dalam krim didinginkan cepat. Kristal
yang lebih besar akan mendorong pecahnya membran globula lemak pada susu. Pada
pendinginan cepat membentuk kristal kecil, sehingg jaringan kristal lebih kokoh
dibandingkan dengan memperlambat pendinginan, di mana kristal yang lebih besar
dengan kurang titik kontak terbentuk, sehingga jaringan lunak. Hal ini akan
mempengaruhi tekstur butter yang terbentuk setelah pendinginan (Rnholt, et al., 2014).
Tektur butter juga dipengaruhi kandungkan lemak tak jenuh yang dikenal mencair pada
suhu kamar, dan mentega dihasilkan dari susu yang diperkaya dengan jenis lemak ini
tampa modifikasi asam lemak. Dengan demikian, dapat meningkatkan kelembutan
mentega (Figueiroa, et al. , 2013).

11

Butter dari krim Roselle memiliki ciri fisik : mempunyai body, tidak mudah dioles,
creamy. Selama penyimpanan di kulkas ciri fisik pada butter tidak berubah. Buttermilk
yang dihasilkan mempunyai ciri fisik yang creamy. Sedangkan pada butter dari krim
cair Elfir memiliki ciri fisik tidak mempunyai body, mudah dioles, sangat creamy.
Selama penyimpanan di kulkas ciri fisik pada butter berubah menjadi mempunyai body.
Menurut Kosikowski (1977), Spreadability butter atau kemudahan dioles adalah salah
satu karakteristik butter yang berhubungan dengan viskositas dan perubahannya seiring
dengan adanya tekanan dan perubahan suhu. Spreadability dapat dipengaruhi oleh jenis
lemak, metode pendinginan krim, dan working dari butter . semakin tinggi kandungan
lemak maka kemudahan dioles akan semakin terbentuk. Hal ini yang membuat butter
dengan krim elfis lebih memiliki kemudahan untuk dioles karena kandungan
lemaknya yang tinggi (Herschdoefer, 1986). Namun buttermilk yang dihasilkan
mempunyai sifat fisik tidak creamy. Hal ini karena Buttermilk merupakan produk cairan
yang tertinggal saat krim atau susu dikocok (churned) dan lemaknya telah diambil, rasa
yang dihasilkan dapat berasa manis atau hambar (Winarno, 1993). Hal ini didukung
oleh Sodini et al., (2006) buttermilk adalah fase air yang dilepaskan saat churning
cream pada pembuatan butter sehingga flavor terikut dalam butter dan yang tersisa
hanya dalam konsentrasi rendah. Buttermilk mengandung semua komponen larut air
dari cream, seperti protein, laktosa, dan mineral sehingga dapat memiliki flavor yang
milky (seperti susu), manis dan buttery (seperti mentega).

4. KESIMPULAN
Butter atau mentega terbuat dari susu, krim, atau kombinasi dari keduanya, dengan

atau tanpa penambahan garam maupun bahan tambahan yang lain.


Warna butter dipengaruhi oleh keberadaan pigmen larut lemak.
Semakin tinggi lemak yang terkandung dalam krim maka warna butter akan

semakin kuning.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tekstur butter antara lain, jenis dan
jumlah yang terkandung, metode proses produksi, bentuk kristal lemak, serta suhu

penyimpanan.
Buttermilk adalah fase air yang dilepaskan saat churning cream pada pembuatan

butter.
Warna putih yang dihasilkan buttermilk disebabkan karena buttermilk merupakan
by-product dari proses pembuatan butter sehingga lemak dari susu hampir
seluruhnya terikut pada produk butter.

Semarang, 9 Juni 2016


Praktikan,

Asisten Dosen

Debora Anggi W

Graytta Intannia

13.70.0032
5. DAFTAR PUSTAKA
Corredig, M. And D.G. Dalgleish. 1997. Buttermilk Properties In Emulsion With
Soybean Oil As Affected By Fat Globule Membane-Derived Proteins. J. of food
Sci. 63(3): 467-480
Demirkol, ash. et al. 2015. Volatile Compounds, Chemical and Sensory Properties of
Butters Sold in anakkale. Journal of Agricultural Sciences.
Figueiroa, et al. 2013. Production, composition and fatty acid profile of milk and butter
texture of dairy cows fed ground or pelleted concentrate with sunflower and/or
lignosulfonate1. Revista Brasileira de Zootecnia 2013 Sociedade Brasileira de
Zootecnia ISSN 1806-9290.
Guggisberg, D., et al. 2012. Effects of heat treatment of cream on the physicalechemical
properties of model oil-in-buttermilk emulsions. International Dairy Journal 26.
Gunstone, F. D. (2002). Food Application of Lipid, in Food Lipids: Chemistry, Nutrition
& Biotechnology, Second Edition, Revised & Expanded. Ed. Akoh, C.C & D.B.
Min. Marcel Dekker, Inc. New York.

Heiler, C. And P. Schieberle. 1996. Studies on the Metalic Off Flavour in Buttermilk:
identification of potent aroma compuound. Lebenson Wiss U. Technol. 29. 460464.
Herschdoefer, S. M. (1986). Quality Control in the Food Industry Volume 2. Academic
Press. London.
Kosikowski, F. V. (1977). Cheese and Fermented Milk Foods. Edwards Brother, Inc.
USA.
Potter, N. N & J. H. Hotchkiss. (1996). Food Science Fifth Edition. CBS Publishers &
Distributors. New Delhi.
Rnholt, S., et al. 2014. Effect Of Cream Cooling Rate And Water Content On Butter
Microstructure During Four Weeks Of Storage. Food Hydrocolloids 34.
Saleh, A. (2004). Teknologi pengolahan susu dan
http://library.usu.ac.id/download/fp/ternak-eniza.pdf.

hasil

ikutan

ternak.

Smith, G. (2003). Dairy Processing. Woodhead Publishing Limited. Cambridge.


Sodini, I., P. Morin, A. Olabi, dan R.J Flores. (2006). Compositional and Functional
Properties of Buttermilk: A Comparison Between Sweet, Sour, and Whey
Buttermilk.
Sonalika, et al. 2015. Studies on Utilization of Buttermilk in Chapati Making.
International Journal For Research In Emerging Science And Technology,
Volume-2, Issue-10, Oct-2015 E-Issn: 2349-7610 Volume-2, Issue-10, Oct-2015.
Susilorini, T. E. & M. E. Sawitri. (2006). Produk Olahan Susu. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Winarno, F. G.(1993). Pangan:Gizi, Teknologi, dan Konsumen. PT. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Winarno, F.G. dan I.E. Fernandez. (2007). Susu dan Produk Fermentasinya. M-Brio
Press, Bogor.
6. LAMPIRAN
6.1. Perhitungan
Rumus :
Rendemen Butter =

berat butter
100
berat awal

Rendemen Buttermilk =
Kelompok D1

volume buttermilk
100
volume awal

Rendemen Butter =

106
100 =31,64
335

Rendemen Buttermilk =

200
100 =66,67
300

Kelompok D2
Rendemen Butter =

88
100 =28,90
303,5

Rendemen Buttermilk =

195
100 =65
300

Kelompok D3
Rendemen Butter =

101,1
100 =32,61
310

Rendemen Buttermilk =

190
100 =63,33
300

Kelompok D4
Rendemen Butter =

107,5
100 =35,89
299,5

Rendemen Buttermilk =

170
100 =56,67
300

Kelompok D5
Rendemen Butter =

75
100 =25,55
293,5

Rendemen Buttermilk =

6.2.

140
100 =46,67
300

Laporan Sementara