Anda di halaman 1dari 7

D.

Pembatasan Masalah

Adapun pemebatasan masalah yang penulis buat ialah hanya meliputi tugas-tugas yang
diberikan oleh pembimbing PKL di Perusahaan Waskita Karya,

yaitu Pekerjaan

Pondasi, struktur, dan landscape


1

Bagaimana metode pelaksanaan pekerjaan Pondasi di lapangan. Metode

pelaksanaan pekerjaan Pondasi Pile Cape meliputi:

BAB III
TINJAUAN PELAKSANAAN PROYEK
1. Pekerjaan Galian Lubang Bor Pile
Bore pile adalah pondasi dalam yang kedalamannya lebih dari 2 meter
.digunakan untuk pondasi bangunan-bangunan tinggi dan tanah keras yang tidak
memungkinkan untuk melaksanakan pekerjaan pondasi tiang pancang. Beberapa
keunggulan bore pile ialah mobilisasinya mudah, tidak mengganggu lingkungan dengan
getaran yang dapat merusak/retak dinding bangunan sekitar proyek, pengoperasian alat
sederhana, dan memenuhi syarat teknik dan spesifikasi bangunan. Ukuran lubang bore
pile umumnya berdiameter,
a.

Diameter 30 cm,

b.

Dia 40 cm,

c.

Dia 50 cm,

d.

Dia 60 cm,

e.

Dia 70 cm.

f.

Sedangkan pada proyek ini ukuran lubang bore pile yang dibuat adalah Dia 40
cm.

1)

Bore Pile
Prosedur pelaksanaan pekerjaan bore pile dapat diuraikan sebagai berikut

a)

Pekerjaan persiapan

Persiapan lahan untuk pengukuran dan pemasangan profil.


Pembersihan lahan untuk merakit dan mendirikan mesin bor pada titik yang akan di
bor
Pembuatan sumur air bila di dekat lokasi tersebut tidak terdapat air (untuk
pengeboran dengan sistem wash boring).
Gbr.1
Pengadaan baksirkulasi (untuk pengeboran dengan sistem wash boring).
Gbr 2.
Pengadaan material

Perakitan baja tulangan yang akan dipakai sebagai tulangan bor pile.
b)

Pekerjaan Galian/ pekerjaan pengeboran.


Pekerjaan galian meliputi pengeboran Bore Pile, sebelum memasang bore
pile, maka permukaan tanah dibor terlebih dahulu menggunakan mesin bor.
Pengeboran tanah menggunakan mesin bor, mesin bor yang digunakan dalam
pekerjaan ini ialah Mini crane dan mesin bor hidrolis.
Jumlah titik Bore Pile yang harus di gali / bor pada proyek pembangunan
Gedung Auditorium UNDANA ini berjumlah 346 titik bore pile yang terdiri dari 2
type Pile Cap yakni :

Type Pile Cap 1 bejumlah 220 titik


Type Pile Cap 2 berjumlah 126 titik

Diameter lubang bore pile yang dikerjakan ialah 40 cm, kedalaman lubang
bore pile dalam perencanaanya ialah 8 m.

c)

Pekerjaan Pembesian untuk tulangan Bore Pile


Pekerjaan pembesian / penulangan bore pile dimulai dari

Pengukuran tulangan,

Pemotongan tulangan,

Pembentukan tulangan spiral,

Pembentukan tulangan utama, dan

Perangkaian tulangan spiral pada tulangan utama. Besi yang digunakan ialah besi D
13 (ulir) untuk tulangan pokok dan besi 10(polos) untuk tulangan sengkang
spiral.

d)

Pekerjaan Pengecoran
Setelah pekerjaan pengeboran dan pembesian telah selasai dikerjakan maka
dilanjutkan dengan pekerjaan pemasangan tulangan yang telah dirangkai pada
lubang bor pile yang telah dibersikan
Pemasangan tulangan Bore Pile
dan dilanjutkan dengan pekerjaan pengecoran bor pile. Pada bor pile yang telah
dicor, tulangan bore pile dilebihkan 40 cm besi steak yang nanti digunakan
sebagai pengikat struktural.

Pengecoran Bore Pile

Pengecoran Bore Pile dengan mutu beton fc 26,4 ( K 300 ). Kompisisi material dengan
perbandingan berat, untuk 1 m3,ddalam konversi job mix yang setara dengan job mix di
Lab sebagai berikut

PC

= 413 kg

/=

11 sak

Psr

= 681 kg.

/=

0.43 m3

Kerikil

= 1021 kg

/=

0.8 m3

Air

= 215 liter
Pengedukan beton dilakukan dengan menggunakan mesin, yaitu diaduk

menggunakan Concrete Mixer Truck. Concrete Mixer Truck akan mengaduk


campuran beton ready mix dan akan mengangkut adukan beton dari tempat
pencampuran beton ke lokasi pengecoran, selama pengangkutan, mixer terus
berputar dengan kecepatan 8-12 RPM agar beton tetap homogen dan beton tidak
mengeras. Kemudian campuran beton yang telah matang di tuang kedalam lubang
bore pile yang telah diberi tulangan. Semua lubang bore pile yang telah berhasil
dibor akan dicor beton.
2)

Pile Cap
Pile cap merupakan salah satu konstruksi yang mengikat pondasi sebelum
didirkan kolom dibagian atasnya. Fungsi Pile Cap ialah sebagai penerima beban dari
kolom yang berada diatasnya kemudian diteruskan ke masing-masing tiang
dibawahnya, dimana masing-masing Pile 1/N dari beban oleh kolom dan
harus daya dukung yang diijinkan (Y ton ) (N = jumlah kelompok Pile). Jadi
beban maksimum yang bisa diterima oleh Pile Cap dari suatu kolom adalah sebesar
N x ( Y ton ).
Pile Cap bertujuan agar lokasi kolom benar-benar berada dititik pusat
pondasi sehingga tidak menyebabkan beban tambahan pada pondasi, dan juga
berfungsi untuk menahan gaya geser dari pembebanan yang ada. Bentuk dari Pile
Cap bervariasi, dalam proyek ini ada dua jenis Pondasi Pile Cap, yaitu Pondasi Pile
Cap Type 1 dan Pile Cap Type 2.

a)

Pekerjaan Bekesting Batako untuk pile Cap

Pekerjaan bekesting bataco dimulai dengan pengukuran dan pemasangan


bowplank, setelah itu dilanjutkan dengan pemasangan bekesting bataco, bekesting
dibuat dengan ukuran 2m x 2m x 1m untuk Pondasi Pile Cap Type 1, sedangkan
untuk Pondasi Pile Cap Type 2 berukuran 2,8m x 2m x 1m.
b)

Pekerjaan Penulangan Pile Cap


Bekesting bataco yang telah kering dan kuat maka sudah siap dipasang
tulangan Pile Cap, tulangan Pile Cap terdiri dari besi D 19.Tulangan dipotong
dengan mesin pemotong tulangan (TYC D35) kemudian dibentuk menggunakan
mesin pembentuk tulangan (TYB H 242 A) dan juga menggunakan kunci besi.
Sebelum dipasang tulangan maka dibuat lantai kerja setebal 5 cm. Perangkaian
tulangan berbeda dengan tulangan untuk bore pile, tulangan langsung dirangkai /
diikat didalam Pile Cap. Tidak lupa juga dipasang beton Decking (tahu beton) pada
tulangan untuk menjaga jarak tulangan dengan bekesting.

Pemasangan Tulangan pada Pile Cap


c)

Pekerjaan Pengecoran
Setelah pekerjaan pembesian telah selasai dikerjakan maka dilanjutkan
dengan pekerjaan pengecoran Pile. Mutu beton fc 26,4 ( K 300 ) untuk 1
m3, komposisi material
PC

= 413 kg = 11 zak
Ps

= 681 kg. = 0.43 m3

Kerikil
Air

= 1021 kg 30 mm=0.8 m3

= 215 kg

Untuk sebuah Pile Cap dibutuhkan material sebanyak :


Volume awal Pile Cap

=Pxlxt
= 2 m x 2 m x 0.8 m
= 3.2 m3

= 25 % x 3.2 m3

Angka keamanan
= 0.8 m3

Angka keamanan dimaksudkan sebagai cadangan ketika terjadi kekurangan


akibat kejadian tidak terduga seperti tumpah, kebocoran bekisting, dll.
Jadi Volume Pile Cap

= Volome awal + Angka keamanan


= 3.2 m3 + 0.8 m3

= 4 m3
Komposisi Material = PC

= Ps

; 413 x 4 = 1321.6 kg =44 zak

; 681 x 4 = 2179.2 kg =1.72 m3

= Kerikil ; 1021 x 4 = 3267.2 kg= 3.2 m3


= Air ; 215 x 4 = 688 liter
Pengedukan beton dilakukan dengan menggunakan Concrete Mixer Truck,
Concrete Mixer Truck akan mengaduk campuran beton hingga betul-betul matang,
kemudian cempuran beton yang telah matang akan dibawah ke tempat pengecoran,
dan dalam pengangkutan Mixer terus berputar agar beton tidak mengeras dan tidak
terjadi

perpisahan

material

(segregasi),

setelah

itu

pengecoranpun

dapat

dilaksanakan.
d)

Pekerjaan Timbunan
Pekerjaan timbunan meliputi pekerjaan pengurukan tanah peninggi lantai,
setinggi Pile Cap.Tanah yang digunakan untuk penimbunan ialah tanah putih.
Tanah putih yang dipakai untuk penimbunan
Proses pengangkutan material (tanah putih) untuk penimbunan
Proses penimbunan menggunakan excavat

c)

Pekerjaan Pengecoran
Setelah pekerjaan pembesian telah selasai dikerjakan maka dilanjutkan
dengan pekerjaan pengecoran sloof. Mutu beton fc 26,4 ( K 300 ) untuk 1
m3, komposisi material

; PC

= 681 kg. = 0.43 m3

Ps

= 1021 kg 30 mm= 0.8 m3

Kerikil
Air

= 413 kg = 11 zak

= 215 kg

Untuk sloof dengan panjang 1m, dibutuhkan material sebanyak :


Volume awal sloof = P x l x t
= 1 m x 0.3 m x 0.5 m
= 1.5 m3
Angka keamanan

= 25 % x 1.5 m3

= 0.375 m3
Angka keamanan dimaksudkan sebagai cadangan ketika terjadi kekurangan
akibat kejadian tidak terduga seperti tumpah, kebocoran bekisting, dll.
Jadi Volume Pile Cap

= Volome awal + Angka keamanan


= 1.5 m3 + 0.375 m3

= 1.875 m3
Komposisi Material

= PC

; 413 x 4 = 1321.6 kg = 44 m3
= Ps

; 681 x 4 = 2179.2 kg 1.72 m3

= Kerikil ; 1021 x 4 = 3267.2 kg = 3.2 m3


= Air ; 215 x 4 = 688 liter