Anda di halaman 1dari 15

APLIKASI SISTEM PNEUMATIK HIDROLIK

1. Rangkaian Sistem Pneumatik Pada Palang Parkir

Pada posisi awal pedal dalam keadaan bebas, katup keluar (ex) dalam keadaan
terbuka katup masuk (in) dalam keadaan tertutup pada sistem ini pelumasan
menggunakan stemplet pada pipa katup in merupakan saluran masuk udara
bertekanaan dan pipa katup ex merupakan saluran keluar udara bertekanaan, dari
sistem pneumatik. Dan penggunaannya adalah pada sebuah palang parkir seperti
contoh diatas dan keterangan gambarnya adalah sebagai berikut:
1.
Pedal untuk mengoperasikannya
2.
Dudukan pedal sekaligus sebagai dudukan kabel/kawat pedalnya dan juga
ada komponen yang berbentuk bundar kecil yang berkaitan dengan kabel
pedalnya itu merupakan roda-roda kecil sebagai pengulur kabel pedalnya
3.
Kabel pedal dari kawat semacam kabel rem
4.
Pipa saluran masuknya udara bertekanan pada sistem pneumatik
5.
Pipa saluran keluarnya udara bertekanan pada sistem pneumatik
6.
Katup masuk (in)
7.
Katup keluar (ex)
8.
Pegas katup
9.
Pendorong pegas semacam plat besi
10. Pipa saluran penghubung kedalam ruang silinder piston
11. Blok silinder yang memiliki ruang silinder
12. Piston
13. Pegas pengembali untuk mengembalikan piston (no.12) ke posisi semula
14. Pegas berbentuk melingkar berfungsi untuk mengembalikan (no.15) ke
posisi semula
15. mekanisme penggerak palang parkir dilengkapi dengan tuas pendorong
pegas (no.14)
16. Bantalan yang berfungsi agar kedudukan pegas (no.14) tidak bergeser
17. Batang dudukan keseluruhan dari komponen yang berkaitan dengan
(no.17)

Cara Kerjanya adalah sebagai berikut:


1. Pada saat pedal ditekan

Pada saat pedal diinjak atau ditekan kabel tertarik dan Pendorong pegas(no.9)
tertarik ke bawah, pegasnya(no.8) mengerut, Pendorong pegas(no.9) mendorong
katup in sehingga katup in terbuka dan katup ex tertutup, udara bertekanan masuk
melalui Pipa saluran masuk(no.4) mengalir dan masuk melalui Pipa saluran
penghubung(no.10) dan udara yang bertekanan mengisi pipa yang memiliki ruang
sebagian ada yang ke ruang silinder piston(no.11) dan sebagian lagi ada yang
mengalir ke saluran katup keluar(ex) dikarenakan katup keluar(ex) tertutup
sehingga udara bertekanaan tertahan oleh katup ex dan udara yang mengalir ke
ruang silinder(no.11) mendorong piston(no.12) menyebabkan piston(no.12)
terdorong oleh udara bertekanan, pegas(no.13) mengerut menyebabkan
piston(no.12) mendorong mekanisme penggerak palang parkir(no.15), pegas
(no.14) mengerut oleh tuas pendorong(no.14) dan posisi palang parkir membentuk
vertikal.
2. Pada saat pedal dilepaskan

Pada saat pedalnya dilepaskan kabel yang tertarik mengulur kembali pegasnya pun
mengembang dan pendorong pegas(no.9) kembali ke posisi semula, katup in
tertutup dan katup ex terbuka udara bertekanan yang tertahan oleh katup ex keluar
dan udara bertekanan yang ada di saluran katup in tertahan dikarenakan katup in
tertutup sehingga udara bertekanan hanya keluar melalui saluran katup ex
bersamaan dengan ini udara bertekanan di ruang silinder(no.11) berkurang sampai
akhirnya tidak ada tekanaan udara lagi, menyebabkan Pegas pengembali(no.13)
mengembang mendorong piston(no.12) sampai ke posisi semula dan pegas(no.14)
mengembang mendorong tuas mekanisme penggerak palang parkir(no.15)
sehingga palang parkir kembali ke posisi semula sampai membentuk horizontal.
2. Rem Hidrolik
Rem hidrolik merupakan suatu rangkaian yang sangat rumit dimana terdiri dari
berbagai komponen alat yang memeiliki fungsi kerja berbeda-beda. Setiap
komponen memiliki peranan dalam hal pengeraman. Berikut adalah komponen
rem hidrolik pada mobil:

Master silinder
Master silinder berfungsi meneruskan tekanan dari pedal menjadi tekanan hidrolik
minyak rem untuk menggerakkan sepatu rem atau menekan pada rem (pada model
rem piringan).
Piston
Metupakan komponen pengerak dari system kerja rem hidrolik. Piston rem ada 2
jenis yatu piston pedal dan piston cakram. Piston pedal adalah piston yang
terhubung dengan pedal penginjak rem, sedangkan piston cakram adalah piston
yang terhubung dengan kanvas rem, dimana kanvas ini akan menghentikan
perputaran roda dengan cara mencengkram cakram.
Boster Rem
Boster rem termasuk alat tambahan pada sistem rem yang berfungsi
melipatgandakan tenaga penekanan pedal. Rem yang dilengkapi dengan boster rem
disebut rem servo (servo brake). Boster rem ada yang dipasang menjadi satu
dengan master silinder, tetapi ada juga yang dipasang terpisah.
Cara kerja boster rem
Bila pedal rem ditekan maka tekanan silinder hidrolik membuka
sebuah katup, sehingga bagian belakang piston mengarah ke luar
Adanya perbedaan tekan antara bagian depan dan belakang piston
mengaklbatkan torak terdorong ke dapan
Katup Pengimbang
Katup pengereman atau yang lebih dikenal dengan nama katup proporsional adalah
alat yang berfungsi sebagai pembagi tenaga pengereman. Komponen ini berfungsi
misalnya saat mobil yang mengerem mendadak, yang mengakibatkan sebagian
besar beban kendaraan tertumpu pada ban depan. Alat ini bekerja secara otomatis
menurunkan tekanan hidrolik pada silinder roda belakang, dengan demikian daya
pengereman roda belakang lebih kecil daripada daya pengereman roda depan.
Cakram atau tromol
Adalah bagian yang ikut berputar bersama roda. Bagian inilah yang akan menjadi
media untuk menghentikan perputaran roda.
Rem model tromol
Pada rem model tromol, kekuatan tenaga pengereman diperlukan
dari sepatu rem yang diam menekan permukaan tromol bagian dalam
yang berputar bersama-sama roda.
Cara Kerja Rem Hidrolik

Pada rem hidrolik terdapat pipa-pipa hidrolik yang berisi cairan berupa minyak
rem. Pada ujung-ujung pipa ini terdapat piston penggerak yaitu piston pedal dan
piston cakram. Pipa dan piston inilah yang memegang peranan penting dimana
konsep dan sterukturnya telah didesain sedemikian rupa sehingga sesuai dengan
hukum pascal, dengan tujuan menghasilkan daya cengkram yang besar dari
penginjakan pedal rem yang tidak terlalu dalam. Penyesuaian terhadap hukum
pascal yang dumaksud adalah dengan mendesain agar pipa pada pedal rem lebih
kecil daripada pipa yang terhubung dengen piston cakram.
Saat pedal rem diinjak pedal yang terhubung dengan booster rem akan mendorong
piston pedal dalam sehingga minyak rem yang berada pada pipa akan
mendapatkan tekanan. Tekanan yang didapat dari pedal akan diteruskan ke segala
arah di permukaan pipa termasuk ujung-ujung pipa yang terhubung dengan piston
cakram.Karena luas permukaan piston cakram lebih besar daripada piston pedal.
maka gaya yang tadinya digunakan untuk menginjak pedal rem akan diteruskan ke
piston cakram yang terhubung dengan kanvas rem dengan jauh lebih besar
sehingga gaya untuk mencengkram cakram akan lebih besar pula. Cakram yang
besinggungan dengan kanvas rem akan menghasilkan gaya gesek, dan gaya gesek
adalah gaya yang bernilai negative maka dari itu cakram yang ikut berputar
bersama roda semakin lama perputarannya akan semakin pelan, dan inilah yang
disebut dengan proses pengereman. Selain itu karena diameter dari cakram yang
lebih lebar juga ikut membantu proses pengereman. Hal itulah yang menyebabkan
system kerja rem cakram hidrolik lebih efektif daripada rem konvensional (rem
tromol).

gambar cara kerja rem hidrolik

3 . Pintu Bus Dengan Kontrol Pneumatik

Silinder pneumatik penggerak ganda diletakkan di sisi dalam salah satu daun
pintu lipat bus. Bagian pangkal silinder penggerak ganda diikatkan pada bodi
mobil mekakui engsel, demikian pula pada ujung batang torak silinder, sehingga
gerakan maju mundur stang torak akan memudahkan pintu bus membuka dan
menutup dengan fleksibel. Pintu bus akan menutup bila batang torak silinder
pneumatik penggerak ganda bergerak maju (A+), sedangkan pintu bus akan
membuka bila batang torak silinder pneumatik penggerak ganda tersebut
bergerak mundur (A -). Agar dapat bekerja seperti di atas, maka rangkaiannya
adalah sebagai berikut

Cara Kerja Rangkaian Pintu Bus dengan Kontrol Pneumatik

Pada saat bus sedang menunggu penumpang di terminal, halte ataupun tempattempat pemberhentian bus lainnya, maka pintu dikondisikan terbuka terus. Halini
dimungkinkan dengan mengoperasikan katup S4. Ketika katup S4 dioperasikan,
saluran 1 terbuka, saluran 3 tertutup, aliran udara dari saluran 1 ke saluran 2
menuju saluran 1.2

(X) pada katup V4 melalui katup V3. Aliran udara pada katup V4 adalah udara
masuk saluran 1 keluar saluran 2 menuju saluran silinder bagian depan melalui
katup V6. Udara mendorong silinder ke belakang (A-). Udara dalam silinder
bagian belakang didorong keluar menuju saluran 4 dan keluar saluran 5 pada katup
V4 melalui katup V5. Dengan gerakan A- (silinder mundur) maka pintu bus akan
terbuka. Pada saat kondisi pintu bus terbuka maksimal, akan mengaktifkan katup
S1. Sehingga aliran udara pada katup S1 adalah saluran 1 terbuka, saluran 3
tertutup, udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 dan selanjutnya diteruskan ke
katup V1. Aliran udara ini akan mengaktifkan katup V1 sehingga udara dari
kompresor akan mengalir ke katup V4 melalui saluran 1.4

(Y). Pada saat yang bersamaan, pada saluran 1.2 (X) masih terdapat udara mampat
sehingga kondisi ini tidak akan mempengaruhi posisi katup V4. Posisi silinder
masih dalam kondisi awal dan posisi pintu bus masih dalam keadaan terbuka terus.

Pada saat bus akan berangkat, sopir/kondektur bus harus menutup pintu bus
terlebih dahulu. Untuk itu maka katup S4 harus dikembalikan ke posisi semula.
Saluran 1 tertutup dan saluran 3 terbuka. Udara mampat pada saluran 1.2 (X) akan
mengalir ke katup V3 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup
S4. Akibatnya udara pada saluran 1.4 (Y) akan mendorong katup V4 sehingga

aliran udara pada katup V4 adalah udara dari kompresor masuk saluran 1
diteruskan ke saluran 4 menuju katup V5 dan kemudian masuk ke saluran silinder
bagian belakang. Udara pada bagian depan akan didorong ke luar melewati katup
V6 menuju saluran 2 dan dibuang melalui saluran 3 pada katup V4. Dengan
gerakan maju ini (A+), pintu bus akan segera tertutup

Apabila di tengah perjalanan ada penumpang yang akan turun, maka untuk
membuka pintu, penumpang tinggal menekan katup S2. Pada waktu katup S2
ditekan maka saluran 1 terbuka dan saluran 3 tertutup. Aliran udara dari saluran 1
menuju saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan ke V2 dan V3, kemudian menuju ke
katup V4 melalui saluran 1.2 (X). Aliran udara pada katup V4 udara masuk saluran
1 menuju saluran 2 kemudian diteruskan ke katup V6. Selanjutnya diteruskan ke
silinder melalui saluran bagian depan. Udara mendorong silinder ke belakang.
Udara pada bagian belakang silinder akan didorong ke luar melalui katup V5
menuju saluran 4 dan dibuang melalui saluran 5. Silinder bergerak mundur (A-)
dan pintu bus terbuka

Pada waktu pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1. Dengan
terbukanya katup S1, maka katup V1 akan mengalirkan udara dari kompresor
menuju katup V4 melalui saluran 1.4 (Y). Pada saat udara masuk ke saluran 1.4
(Y), pada saluran 1.2 (X) tidak ada udara mampat karena pada saat katup S2
dilepas maka posisi akan kembali ke posisi awal. Sehingga udara pada saluran 1.2
(X) akan segera dibuang ke udara bebas melalui saluran 3 pada katup S2.
Akibatnya silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu bus akan segera menutup
kembali

Apabila akan menaikkan penumpang di tengah perjalanan, maka untuk membuka


pintu bus, dilakukan oleh sopir atau kondektur bus tersebut yaitu dengan cara
menekan katup S3. Ketika katup ditekan, maka saluran 1 terbuka, saluran 3
tertutup, udara mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 untuk selanjutnya diteruskan
ke saluran 1.2

(X) pada katup V4 melalui katup V2 dan katup V3. Aliran udara ini akan
mengubah arah aliran pada katup V4 yaitu udara masuk dari saluran 1 ke saluran 2
menuju katup V6. Selanjutnya masuk ke silinder melalui saluran bagian depan.
Silinder bergerak mundur (A-) dan pintu bus akan terbuka

Pada saat pintu terbuka maksimal maka akan mengaktifkan katup S1 sehingga
udara dari kompresor akan mengalir dari saluran 1 ke saluran 2 menuju katup V1

Dengan terbukanya katup V1, maka udara dari kompresor akan masuk ke katup V4
melalui saluran 1.4 (Y). Akibatnya udara dari kompresor akan mengalir dari
saluran 1 ke saluran 4 menuju katup V5 menuju silinder bagian belakang. Maka
silinder akan bergerak maju (A+) dan pintu akan tertutup kembali

Fungsi-fungsi katup V5 dan V6 adalah untuk mengatur kecepatan gerak pintu bus
pada saat membuka dan menutup. Katup V1 merupakan katup tunda waktu. Katup
ini berfungsi untuk memberikan selang waktu pintu bus menutup kembali setelah
pintu bus terbuka. Sedangkan katup V2 dan V3 merupakan katup balik fungsi
ATAU yang memungkinkan pintu bus dapat dioperasikan dengan menggunakan
beberapa jenis katup pneumatik menurut situasi dan kondisi pada saat pintu bus
tersebut dioperasikan.

4. Pembuat Profil Plat

Benda kerja berupa plat diletakan di atas landasan berupa profil sesuai bentukyang
di inginkan. Silinder pneumatik yang digunakan berupa silinder pneumatik
penggerak ganda. Gerakan menekan benda kerja diawali dengan naiknya stang
torak ke atas (A+) selanjutnya akan menekan tuas mekanik, yang dihubungkan
dengan profil menekan plat. Setelah selesai dengan penekanan siolinder pneumatik
kembali ke Posisi Awal (A-). Tombol penekan dibuat dua buah, agar tidak terjadi
kecelakaan pada lengan tangan saat penekanan, sedangkan untuk mengangkat
dilakukan dengan, menekan satu buah tombol.

5. Dongkrak Hidrolik

Cara kerja dongkrak hidrolik ditunjukkan pada gambar di bawah.

Dongkrak hidrolik terdiri dari sebuah bejana yang memiliki dua permukaan. Pada
kedua permukaan bejanaterdapat penghisap (piston), di mana luas permukaan
piston di sebelah kiri lebih kecil dari luaspermukaan piston di sebelah kanan. Luas
permukaan piston disesuaikan dengan luas permukaan bejana.Bejana diisi cairan,
seperti pelumas (oli dkk).Apabila piston yang luas permukaannya kecil ditekan ke

bawah, maka setiap bagian cairan juga ikuttertekan. Besarnya tekanan yang
diberikan oleh piston yang permukaannya kecil (gambar kiri)diteruskan ke seluruh
bagian cairan. Akibatnya, cairan menekan piston yang luas permukaannya
lebihbesar (gambar kanan) hingga piston terdorong ke atas. Luas permukaan piston
yang ditekan kecil,sehingga gaya yang diperlukan untuk menekan cairan juga
kecil. Tapi karena tekanan (Tekanan = gaya /satuan luas) diteruskan seluruh bagian
cairan, maka gaya yang kecil tadi berubah menjadi sangat besarketika cairan
menekan piston di sebelah kanan yang luas permukaannya besar. Jarang sekali
orangmemberikan gaya masuk pada piston yang luas permukaannya besar, karena
tidak menguntungkan.Pada bagian atas piston yang luas permukaannya besar
biasanya diletakan benda atau begian bendayang mau diangkat (misalnya mobil
dll)