Anda di halaman 1dari 18

BAGIAN ILMU BEDAH

REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS TADULAKO

PERIAPENDIKULAR INFILTRAT

Oleh:
AYU PUSPITA SARI, S.Ked
(N 111 14 075)
Pembimbing:
dr. I MADE WIRKA, Sp. B

BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2016

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL.........................................................................................1
DAFTAR ISI..........................................................................................................2
PENDAHULUAN..................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Anatomi................................................................................................5
Fisiologi.................................................................................................6
Etiologi..................................................................................................6
Patofisiologi............................. ............................................................7
Manifestasi klinis..................................................................................9
Diagnosis.............................................................................................10
Penatalaksanaan.................................................................................14

PENUTUP............................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................19

BAB I
PENDAHULUAN

Periapendikular infiltrat adalah inflamasi di appendiks atau mikroperforasi


yang ditutupi atau di bungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus atau
peritoneum sehingga terbentuk suatu massa.1
Massa periapendikular adalah salah satu komplikasi yang sering terdapat
pada pasien setelah beberapa hari mengalami appendisitis akut. Massa appendiks
lebih sering terjadi pada pasien usia lima tahun atau lebih karena daya tahan tubuh
telah berkembang dengan baik dan omentum telah cukup panjang dan tebal untuk
membungkus proses radang. 2
Riwayat klasik apendisitis akut, yang diikuti dengan adanya massa yang
nyeri di regio iliaka kanan dan disertai demam, mengarahkan diagnosis ke massa
atau abses periapendikuler. Gejala klasik apensisitis akut biasanya berupa nyeri di
daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah.
Kemudian nyeri beralih k kuadran kanan, yang akan menetap dan di perberat bila
berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang
tidak terlalu tinggi. 1
Appendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya saja pada anak
kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok umur
20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidensi pada laki-laki dan perempuan
umumnya sebanding.1
Belum ada kesempakatan pendapat antara para ahli dalam pengelolaan
massa apendisitis, sehingga di dapatkan pendapat yang kontroversial.
1. Melakukan operasi cito
Vikili dkk menyatakan bahwa operasi segera dapat dikerjakan dengan
aman, morbiditas tidak lebih tinggi dari appendisitis perforasi. Dengan
keuntungan

memperpendek

waktu

rawat

inap.

Kerugiannya

adalah

kemungkinan penyebaran infeksi pada saat manipulasi, adanya kesulitan saat


deseksiyang menimbulkan trauma usus yang sudah rapuh dengan
kemungkinan timbulnya fistula
3

2. Melakukan operasi hanya pada massa apendiks yang mobile, dengan


pertimbangan operasi dapat lebih mudah dikerjakan karena proses walling
off belum sempurna.
3. Melakukan terapi konservatif terhadap massa apendiks yang terfiksir, dengan
pemberian antibiotik dan observasi ketat bila gagal dan terbentuk abses maka
dilakukan drainase dengan atau tanpa apendektomi. Bila berhasil pasien d
pulangkan dengan pesan datang kembali untuk appendektomi interval.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI
Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal.
Namun demikian, pada bayi, appendiks berbentuk kerucut, lebar pada
pangkalnya dan menyempit ke arah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi
sebab rendahnya insiden appendisitis pada usia tersebut.1
Appendiks vermiformis terletak di regio iliaca dextra, dan ujungnya
diproyeksikan ke dinding anterior abdomen pada titik sepertiga bawah garis
yang menghubungkan spina iliaca anterior superior dan umbilicus (titik
McBurney).3
Hubungan antara dasar apendiks dan caecum tetap konstan tetapi
ujung appendiks dapat di temukan retrocaecal, pelvic, subcecal, preileal, atau
kanan pericolica.4

Gambar 1
Variasi posisi anatomi appendiks
Pada 65% kasus, appendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu
memungkinkan appendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada
panjang mesoappendiks penggantungnya. Oleh karenanya, gejala klinis
appendisitis ditentukan oleh letak appendiks.1

Arteria appendicularis merupakan cabang arteri ileocaecalis (cabang


a.mesenterica superior). Arteri appendikularis merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada infeksi
maka appendiks akan mengalami gangren.. Aliran darah balik yaitu melalui
vena appendikularis mengalirkan darahnya ke vena ileocaecal, kemudian
menuju vena mesenterika superior dan masuk ke sirkulasi portal.3
Cabang-cabang saraf simpatis (nervus thoracalis X) dan parasimpatis
(nervus vagus) dari plexus mesentericus superior. Serabut saraf aferen yang
menghantarkan rasa nyeri visceral dari appendiks vermiformis berjalan
bersama saraf simpatis dan masuk ke medulla spinalis setinggi vertebra
thoraxica X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada appendisitis bermula di
sekitar umbilikus.1,3
B. FISIOLOGI
Apendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 mL per hari. Lendir itu
normalnya dicurahkan kedalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.
Hambatan aliran lendir di muara apendiks berperan dalam patogenesis
apendisitis. Imunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT ( gut
associated lymphoid tissue) yang terdapat di saluran cerna, termasuk apendiks
ialah IgA. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap
infeksi. Namun demikian, pengangkatan apendiks tidak mempengaruhi sistem
imun tubuh karena jumlah jaringan limfoid disini kecil sekali jika
dibandingkan denan jumlah nya disaluran cerna dan diseluruh tubuh.1

C. ETIOLOGI
Massa apendiks terbentuk di awali oleh adanya apendisitis akut.
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai
faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor yang di
ajukan sebagai faktor penceus. Disamping hiperplasia jaringan limfoid,
fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris. Penyebab lain yang di juga dapat

menyebabkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks akibat parasit seperti


E. Histolytica.1,2
Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makanan
rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap imbulnya apendisitis.
Konstipasi akan menaikkan tekanan intrasekal, yang berakibat timbulnya
sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora
kolon.1
D. PATOFISIOLOGI
Patologi apendisitis dapat dimulai di mukosa dan kemudian
melibatkan seluruh lapisan dinsing apendis dalam waktu 24-48 jam pertama.
Tekanan di dalam sekum akan mingingkat jika katup ileosekal kompeten.
Kombinasi tekanan itnggi di sekum dan peningkatan flora kuman di kolon
akibat sembelit menjadi pencetus radang di mukosa apendiks. Pencetus lain
ialah erosi dan tukak kecil dia di selaput lendir oleh E. Histolytica dan
penghambatan evakuasi isi apendiks. Evakuasi ini terhambat oleh stenosis
atau penyumbaan lumen atau gangguan motilitas oleh pita atau adhesi dan
faktor lain yang mengurangi gerakan bebas apendiks. Perkembangan dari
apendisitis mukosa menjadi apendisitis komplit yang meliputi semua lapisan
dinding apendiks tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor pencetus setempat
yang menghambat pegosongan lumen apendiks atau mengganggu motilitas
normal apendiks.1
Patofisiologi dasar appendisitis adalah obstruksi lumen appendiks
yang diikuti oleh infeksi. Obstruksi lumen appendiks menyebabkan
pertumbuhan bakteri yang berlebihan dan produksi mukus yang terusmenerus sehingga terjadi distensi intraluminal dan peningkatan tekanan
dinding appendiks. Distensi luminal mengakibatkan sensasi nyeri visceral
yang dirasakan oleh pasien sebagai nyeri periumbilikal. Berkurangnya aliran
vena dan limfatik selanjutnya mengakibatkan mukosa iskemia. Gabungan hal
tersebut mengakibatkan proses inflamasi lokal yang dapat berkembang
menjadi gangren dan perforasi.5
Upaya pertahanan tubuh berusaha membatasi proses radang ini
dengan menutup apendiks dengan omentum, usus halus, atau adenksa

sehingga terbentuk massa periapendikular. Didalamnya dapat terjadi nekrosis


jaringna berupa absess yang dapat mengalami perforasi. Jika tidak terbentuk
abses, apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi
tenang dan selanjutnya akan mengurai diri secara lambat.1
Pada massa periapendikuler dengan pembentukan dinding yang belum
sempurna, dapat terjadi penyebaran pus ke seluruh rongga perioneum jika
perforasi diikuti oleh peritonitis purulenta generalisata.1
Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi waktu
tersebut dapat berbeda beda setiap pasien karena di tentukn banyak fktor. Bila
sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut
akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan bakteri akan
menembus dinding

apendiks. Peradangna timbul meluas dan mengenai

peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah akanan bawah.


Keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut. Bila kemudian arteri
terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengna gnagrene.
Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah
rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas
berjalan lambat, omentum dana usus yeng berdekatan akan bergerak kearah
apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infilrat apendikulalris.
Peradangan aaapendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
Infiltrat apendikualris merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai di
mukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48
jam pertama, ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengna membatasi
proses radang dengan menutup apendiks dengna omentum, usus halus, atau
adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular.
Jika tidak terbentuk abses apendisitis akan sembuh dan massa
apendikular akan menjadi tenang untk selanjutnya akan mengurai diri secara
lambat. Pada anak-anak akrena omentum lebih pendek dan apendik lebi
apnjang, dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan
daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi.
Sedangkan pada orang tua perforasi terjadi karena telah ada gangguan
pembuluh darah.1

Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi


mikroorganisme, daya tahan tubuh, fibrosis pada dinding apendiks, omentum,
usus lain, peritoneum parietale,dan juga organ lain seperti vesika urinaria,
tuba uterina, mencoba membatasi dan melokalisisr proses peradangna ini.
Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kua
menahan tahanan atau tegangna dalam cavum abdominalis, oleh akrena itu
penderita ahrus benar-benar istirahat (bedrest). Apendiks aygn pernah radang
tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk jaringna parut yang
menyebabkan perlengketan dengna jaringan sekitarnya. Perlengketan ini akan
menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada suatu ketika
organ ini akan dapat meradang kembali dan dinyatakan sebgai eksaserbasi
akut.1
E. MANIFESTASI KLINIS
Appensisitis infiltrat didahului oleh keluhan apendisitis akut yang
kemudian disertai adanya massa periapendikular. Gejala klasik apendisitis
akut biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau periumbilikus yang
berhubungan dengan muntah. Dalam 2-12 jam nyeri beralih ke kuadran
kanan, yang akan menetap dan di perberat bila berjalan atau batuk. Terdapat
juga keluhan anoreksia, malaise dan demam yang tidak terlalu tinggi.
Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi adang kadang terjadi diare, mual dan
muntah. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen
yang menetap. Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan
semakin progresif.6
Appendiks yang terletak retrosekal retroperitoneal (antara sekum dan
otot psoas mayor), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan
tidak ada rangsangan peritoneal karena appendiks terlindung oleh sekum.
Rasa nyeri lebih kearah perut sisi kanan atau nyeri timbul saat berjalan
karena kontraksi otot psoas mayor yang menegang dari dorsal.1,4
Nyeri atipikal biasanya timbul jika appendiks terletak di dekat otot
obturator internus, rotasi dari pinggang meningkatkan nyeri pada pasien
ditemui ketika ujung appendiks terletak di panggul. Radang pada appendiks
yang terletak di rongga pelvis dapat menimbulkan gejala dan tanda
9

rangsangan sigmoid atau rectum sehingga peristaltis meningkat dan


pengosongan rectum menjadi lebih cepat serta berulang. Appendiks yang
menempel ke kandung kemih dapat menimbulkan dysuria dan peningkatan
frekuensi kencing akibat rangsangan appendiks terhadap dinding kandung
kemih.1,7
F. DIAGNOSIS
a. Anamnesis
Pada anamnesis, keluhan utama appendisitis biasanya adalah nyeri
samar-samar dan tumpul yang mula-mula dirasakan di epigastrium atau
regio umbilical yang diiukuti dengan anoreksia dan mual. Nyeri kemudian
dirasakan berpindah ke perut kanan bawah, tepatnya di titik McBurney.
Selain itu terdapat pula keluhan muntah, obstipasi, dan febris. Namun,
keluhan yang dirasakan pasien appendisitis dapat berbeda oleh karena
gejala ditentukan dari posisi ujung appendiks.1,5
b. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan demam biasanya ringan,
dengan suhu sekitar 37,5-38,5C. Bila suhu lebih tinggi, mungkin sudah
terjadi perforasi. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai
1C.1
Apendisitis infiltrat terlihat dengan adanya penonjolan di perut
kanan bawah. Pada palpasi di dapatkan nyeri yang terbatas pada regio
iliaka dekstra, bisa disertai nyeri lepas. Defans muskular menunjukkan
adanya rangsangan peritoneum parietale. Nyeri tkena perut kanan bawah
ini merupakan kunci diagnosis. Pada penekanan perut kiri bawah akan
dirasakan nyeri di perut kanan bawag yang di sebut rovsing sign. Pada
apensiistis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk
menentukan adanya rasa nyeri.6
Jika sudah terbentuk abses yaitu bila ada omentum atau usus lain
yang dengan cepat membendung daerah apendiks maka selain ada nyeri
pada fosa iliaka kanan selama 3-4 hari (waktu yang dibutuhkan unutk
pembentukan abses) juga pada palpasi akan teraba massa yang terfiksir
dengna nyeri tekan dan tepi atas massa daapt teraba. Jika apendiks

10

intrapervikal maka massa dapat diraba pada rectal toucher sebagai massa
yang hangat. Peristaltik usus sering normal, peristaltik dapat hilang karena
ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis perforasi.8
c. Pemeriksaan laboratorium
Darah rutin
Leukosit meningkat dengan neutrofil lebih dari 75% pada sebagian
besar pasien. Hitung leukosit yang tinggi (>20.000/mL) mengarah pada
komplikasi appendisitis dengan gangren atau perforasi.1
Urinalisis
Urinalisis berguna untuk menyingkirkan saluran kemih sebagai
sumber infeksi. Meskipun beberapa sel darah putih atau merah bisa
berasal dari ureter atau iritasi kandung kemih sebagai akibat dari radang
pada appendiks, bakteriuria dalam spesimen urin yang diperoleh melalui
kateter umumnya tidak terlihat dalam appendisitis akut.7
d. Pemeriksaan radiologi
Foto polos abdomen dikerjakan apabila hasil anamnesis atau
pemeriksaan fisik meragukan. Tanda-tanda perionitis kuadran kana
bawah. Gambaran perselubungan mungkin terlihat ileal atau sekal ileus,
tampak gambaran air fluid level. Patognomoni jika terdapat feklit.9
Ultrasound dengan radiasi pengion yang rendah harus menjadi
penunjang pilihan pada pasien muda, dan efektif mengidentifikasi
appendiks abnormal, terutama pada pasien yang kurus.
Graded compression sonography telah diusulkan sebagai cara yang
akurat untuk menegakkan diagnosis appendisitis. Diagnosis sonografi
appendisitis akut memiliki sensitivitas dari 55-96% dan spesifisitas 8598%.5 Hasil scan dianggap positif jika noncompressible appendix 6 mm
pada arah anteroposterior. Penebalan dinding appendiks dan adanya
cairan periappendiceal sangat sugestif. Gambaran sonografi yang normal
yaitu compressible, struktur tabung blind-ending berukuran 5 mm, dapat
menyingkirkan diagnosis apendisitis akut. 10

11

Gambar 2
Potongna longitudilan dan aksial menunjukkan appendiks
berbentuk tubular dan distensi tampak dinding hipoechoic
menunjukkan inflamasi apendiks.
Appendiks yang meradang memiliki diameter lebih besar dari 6
mm, dan biasanya dikelilingi oleh hyperechoic inflamed fat di sonografi.
Tanda-tanda

yang

sangat

mendukung

apendisitis

yaitu

adanya

appendicolith, penebalan caecal apikal.10


Pada CT scan, appendiks yang meradang tampak melebar (> 5 cm)
dan dinding yang menebal, sehingga memberi tampakan halo atau target
sign. Jika inflamasi berlanjut, dapat terlihat periappendiceal fat stranding,
edema, cairan peritoneal, phlegmon, atau abses periappendiceal. Fekalit
dapat dengan mudah divisualisasikan, tetapi adanya fekalit bukan
patognomonik dari appendisitis.5

Gambar 3
12

CT scan abdomen, yang menunjukkan penebalan dinding appendiks,


memberi tampakan target sign (A), distensi appendiks dengan cairan
periappendiceal (B)
Meskipun dilakukan pemeriksaan dengan cermat dan teliti, diagnosis
klinis appendisitis akut masih mungkin salah pada sekitar 15-20% kasus.
Untuk menurunkan angka kesalahan diagnosis appendisitis akut, bila
diagnosis meragukan, sebaiknya penderita diobservasi di rumah sakit
dengan frekuensi setiap 1-2 jam. Pemeriksaan ultrasonografi dapat
meningkatkan akurasi diagnosis.1
Kemungkinan appendisitis dapat diyakinkan dengan menggunakan
skor Alvarado dan skor Kalesaran. Sistem skor dibuat untuk meningkatkan
cara mendiagnosis appendisitis.4

Tabel 1. Alvarado score4


The Modified Alvarado Score
Gejala
Perpindahan nyeri dari ulu hati ke perut
kanan bawah
Mual-Muntah
Anoreksia
Tanda
Nyeri di perut kanan bawah
Nyeri lepas
Demam diatas 37,5C
Pemeriksaan
Leukositosis
Lab
Hitung jenis leukosit shift to the left
Total
Interpretasi dari Modified Alvarado Score:
0-4 : kemungkinan Appendisitis kecil
5-6 : bukan diagnosis Appendisitis
7-8 : kemungkinan besar Appendisitis
9-10 : hampir pasti menderita Appendisitis

Skor
1
1
1
2
1
1
2
1
10

G. PENATAL
AKSANA
AN
13

Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan
satu-satunya pilihan yang baik adalah appendektomi. 1 Pasien dengan riwayat
klasik dan temuan pemeriksaan fisik, dengan analisis urin normal (atau
piuria) dan jumlah leukosit yang tinggi dengan pergeseran ke kiri biasanya
tidak memerlukan studi pencitraan tambahan sebelum appendektomi.
Pembedahan juga diindikasikan pada pasien dengan presentasi atipikal dan
temuan radiografi yang konsisten dengan appendisitis. Setiap pasien dengan
nyeri perut atipikal yang memiliki (1) nyeri persisten dan menjadi demam, (2)
peningkatan jumlah leukosit, atau (3) temuan pemeriksaan klinis memburuk
harus menjalani laparoskopi diagnostik dan usus buntu.11
Managemen bedah pada massa apendikular masih kontroversial.
Penanganan non operatif awal di kenalkan oleh ochsner pada tahun 1901. Hal
ini meliputi :
F regimen (Ochsner-Sherren Regimen)
Fowler Posistion
Fluids by mouth atau intravena
Four hourly atau lebih sering, observasi nadi dan 2x sehari ukur
suhu.
Feel, palpasi massa apakah mengecil atau makin membesar
Fungi, antibiotik
Forbidden analgetik
Managemen non operatif pada massa apendiks membutuhkan
penilaian yang berkelanjutan terhadap perkembangan pasien. Terdapatnya
abses apendiks ahrus dilakukan drinase selama followup, appendektomi
elektif di rekomendasian setelah terjadi resolusi massa apendiks. Biasanya
disarankan dengan periode interval kira-kira 4-8 minggu.12
Appendektomi segera pada pasien dengan massa apendikular adalah
pilihan terapi konservatif konvensional. Tujuan utamanya adalah perbaikan
yang lebih awal dan kesembuhan total selama serangna awal. Disisi lain hal
ini memiiliki komplikasi kira-kira 36% pasien dengna massa apendiks.
Komplikasi yang sering setelah apendektomi segera adalah infeksi luka,
fistula intestinal, small bowel obstruksi, abses intraabdomen, dan sepsis.12

14

Massa apendiks berfariasi dari flegmon sampai abses dan ini terbentuk
2%-6% kasus yang di awali dengna apendisitis akut. Pada kasus abses
apendiks yang jelas tidak terdapat kontroversi terhadap managemen nya.
Operasi drainase segera (perkutaneus atau open) adalah tatalaksana pilihan
oleh sebagian besar spesialis bedah. Untuk flegmon, dapat dilakukan
beberapa pendekatan tatalaksana pilihan dari konservatif sampai agresif.
Terdapat tiga pendekatan yang populer dilakukan untuk tatalaksana massa
apendiks. a) terapi konservatif diikuti dengan apendektomi interval 6-8
minggu kemudian, b) apendektomi segera jika terdapat resolusi massa
inflamasi, c) konservatif secara keseluruhan tanpa apendektomi interval pada
pasien dengan massa apendiks.13
Masalah bagi ahli bedah adalah jika pederita ditemui setelah 48 jam.,
ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang apendiks yang mungin
gangrene dari dalam massa perlengketan ringan yang longgar dan sangat
berbahaya, dan bilamana karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi dan
vaskular, sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu
pembentukan abses yang dapat mudah di drainase. Massa periapendikular
yang masih bebas disarankan segera dioperasi unutk mencegah penyulit.
Selain itu operasi lebih mudah. Pada anak dipersiapkan operasi dalam waktu
2-3 hari saja. Pada pasien dewasa dengan massa periapendikular yang
berdinding sempurna di anjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik
sambil di awasi suhu tubuh, ukuran massa, serta luasnya perionitis. Bila
sudah tidak ada demam, massa periapendikular hilang, dan leukosit normal,
penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan
kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil
mungkin. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses apendiks. hal ini di
tandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan
teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit. Massa
apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan
tindakan pembedahan segera setelah pasien di persiapkan, karena ditakutkan
terjadi abses apendiks dan peritonitis umum.13

15

Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat


penyulit infeksi luka lebih tinggi dari pada pembedahan pada apendisitis
sederhana dan tanpa perforasi. Pada periapendikular infiltrat dilarang keras
membuka perut, tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan
lebih banyak, terlebih jika massa apendik telah terbentuk lebih dari satu
minggu sejak serangan sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam
perawatan terjadi abses dengan ataupun tanda peritonitis umum. Terapi
sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Pada anak kecil,
wanita hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik
atau berkembang menjadi abses, di anjurkan operasi segera. Bila pada waktu
membuka perut terdapat periapendikualr infiltrat maka luka operasi di tutup
lagi, apendiks dibiarkan saja.13
Jika sudah terjadi abses, di anjurkan drainase saja dan apendektomi
dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian. Jika ternyata tidak ada keluhan atau
gejala apapun dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan
tanda radang atau abses, sangat di pertimbangkan membatalkan tindakan
bedah. Analgesik di berikan hanya kalau perlu saja. Observasi suhu dan nadi.
Biasanya 48 jam akan mereda. Bila gejala menghebat tandanya terjadi
perforasi maka harus dipertimbangkan apendektomi. Batas dari massa
hendaknya di beri tanda (demografi) setiap ahri. Biasanya pada hari ke 5-7
massa mulai mengecil dan terlokalisir.13
Jika massa tidak juga mengecil artinya sudah terjadi abses dan massa
harus segera di buka untuk di drainase. Cara dengan membuat insisi pada
dinding perut sebelah lateral dimana nyeri tekan adalah maksimum (incisi
grid iron). Abses dicapai secara ekstraperitoneal, bila apendiks mudah di
ambil lebih baik di ambil karena apendiks ini akan menjadi sumber infeksi.
Bila apendiks sukar dilepas, maka apendiks dapat dipertahankan karena jika
di apksakan akan ruptur dan infeksi dapat menyebar. Abses di drainase
dengan selang berdiameter besar, dan dikeluarkan lewat samping peru. Pipa
drainase didiamkan selama 72 jam, bila pus sudah kurang dari 100 cc/hari,
drain dapat diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci setiap
hari. Antibiotik sistemik di lanjutkan sampai minmal 5 hari post operasi. 13
16

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Periapendikular

infiltrat

adalah

inflamasi

di

appendiks

atau

mikroperforasi yang ditutupi atau di bungkus oleh omentum dan atau lekuk
usus halus atau peritoneum sehingga terbentuk suatu massa Appensisitis
infiltrat didahului oleh keluhan apendisitis akut yang kemudian disertai
adanya massa periapendikular.
Managemen bedah pada massa apendikular masih kontroversial.
Penanganan non operatif awal di kenalkan oleh ochsner pada tahun 1901. Hal
ini meliputi F regimen (Ochsner-Sherren Regimen), Fowler Posistion, Fluids
by mouth atau intravena, Four hourly atau lebih sering, observasi nadi dan 2x
sehari ukur suhu, Feel, palpasi massa apakah mengecil atau makin membesar,
Fungi, antibiotic, Forbidden analgetik.
massa periapendikular yang berdinding sempurna di anjurkan untuk
dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil di awasi suhu tubuh, ukuran
massa, serta luasnya perionitis. Bila sudah tidak ada demam, massa
periapendikualr hilang, dan leukosit normal, penderita boleh pulang dan
apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan
akibat perlengketan dapat ditekan sekcil mungkin.

DAFAR PUSTAKA

17

1. Sjamsuhidajat R. Usus Halus, Apendiks, Kolon, dan Anorektum: Apendiks


Vermiformis. In: Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Theddeus OHP,
Rudiman Reno. Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-deJong. 3 rd ed.
Jakarta:EGC, 2010.
2. Malik AM, shaikh NA. Recent Trends In The Treatment Of The
Appendicular Mass. Liaquat University of Medical and Health Sciences,
Janshoro (Sindh) Pakistan. 2010.
3. Snell RS. Abdomen: Bagian II Cavitas Abdominalis. In: Sugiharto L,
Hartanto H, Listiawati E, Suyono YJ, Susilawati, Nisa TM, et al. Anatomi
Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. 6th ed. Jakarta:EGC, 2006.
4. Brunicardi FC, Andersen DK, Biliar TR, et al. The Appendix. Shwartzs
Principles of Surgery. 9th Ed. USA: McGrawHill Companies. 2010.
5. Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL. Sabiston
Textbook of Surgery: The Biological Basis of Modern Surgical Practice,
19th Ed. Philadelphia, Elseviers Saunders. 2012
6. Cushieri A, Grace PA, Darzi A, Borley N, Rowley DI. Clinical surgery.
Blackwell publishing. 2008
7. Vermiform Appendix. WebMD LLC; c1994-2014 [Updated: 2015 Oct 19,
cited Feb 2016]. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/195652.
8. Lugo VH. Periappendiceal mass. Pediatric surgery update. Vol 23 no 03
september 2004.
9. Itskowiz MS, jones SM. Appendicitis. Emerg med 36 (10): 10-15.
www.emergmed.com
10. Kalola J, HapaniH, Trivedi A, Yadav M. Utrasound evaluation of
appendicular pathologies. Sholar journal of applied medical sciences.
2014. www.saspublisher.com
11. Appendicitis. WebMD LLC; c1994-2014 [Updated: Jul 21, 2014, cited Feb
2016].

Available

from:http://emedicine.medscape.com/article/773895-

overview#aw2aab6b2b7aa.
12. Kaya B, Sana B, Eris C, Kutanis R. Immediate appendectomy for
appendiceal mass. Turkish journal of trauma and emergency surgery. 2012
13. Garba ES, Ahmed A. Management of appendiceal mass. Annals of african

medeicine. Vol 7, no 4, 200-204, 2008

18