Anda di halaman 1dari 2

BAGAI AYAM MATI DI DALAM LUMBUNG

Beberapa hari ini, beberapa stasiun televisi menayangkan adanya


beberapa anak yang mengalami gizi buruk akibat kurang gizi. Di antara
beberapa daerah yang disoroti oleh mass media sebagai kantong gizi
buruk menyebar di seluruh nusantara, terutama di daerah-daerah
terpencil. Sebagian besar ada di pulau Lombok Barat (NTB) dan beberapa
daerah terpencil di Jawa Timur, seperti Pacitan, Ponorogo, Trenggalek dan
daerah-daerah terpencil lainnya. Hal ini menggambarkan bahwa kondisi
perekonomian bangsa Indonesia pada saat ini, masih jauh dari harapan.
Seakan-akan jargon kita yang katanya merupakan negara yang makmur,
.gemah ripah loh jinawi itu, masih belum terlihat jelas

Dari laporan data tentang kemiskinan di Indonesia, selalu tercatat bahwa


angka kemiskinan di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Konon, angka kemiskinan di Indonesia pada tahun 2009 menurut
perkiraan BAPPENAS mencapai 33,5% dari seluruh penduduk Indonesia.
Tapi, bila pemerintah bisa mengendalikan laju inflasi sebesar 6% maka
jumlah orang miskin di negara ini bisa ditekan menjadi 29,9 juta saja.
Meski, "Pertumbuhan ekonomi hanya 4,5%," kata Menteri Negara
Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di
Jakarta, Kamis (12/2/09). Skenario Bappenas lainnya, jika tingkat inflasi
9% dengan pertumbuhan ekonomi 5%, diperkirakan angka kemiskinan
32,8 juta orang. Cuma, kalau inflasi bisa bertahan 6% dan ekonomi
tumbuh 5%, maka jumlah orang melarat di Indonesia hanya 29 juta. Hasil
survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2008 lalu, jumlah orang
miskin mencapai 34,96 juta atau 15% dari total penduduk Indonesia. Atau,
turun 2,21 juta jiwa ketimbang tahun 2007 yang tercatat ada 37,17 juta
.warga miskin di Tanah Air

Melihat angka-angka di atas, tentunya kita merasa ngeri, karena ternyata


di alam Indonesia yang subur makmur loh jinawi, yang dalam sebuah lagu
dikatakan bahwa tongkat kayu dibenamkan dalam tanah menjadi
tanaman, tetapi kenyataannya 30 juta jiwa di Indonesia masih kelaparan.
Dari siaran berita di televisi, kita juga sering melihat adanya beberapa
keluarga yang anaknya menderita penyakit gizi buruk dengan ciri-ciri;
badan kurus, kepala besar, mata melotot dan tubuh lemas. Gizi buruk bisa
terjadi karena asupan gizi yang dimakan oleh si anak dari orang tua tidak
mencukupi untuk mensuplai kebutuhan tubuh, sehingga menyebabkan
kondisi yang mengenaskan tersebut. Keadaan ini, tentu menjadikan kita
terpukul dan merasa prihatin. Mungkin bila gizi buruk itu terjadi di
Somalia, Ethiopia dan sebagainya orang masih memaklumi, karena di
sana kondisinya sangat panas, tidak ada hujan sehingga tanah kering
tidak bisa ditanami. Banyak masyarakat yang mati kelaparan dan
kehausan karena memang alam tidak menyediakan makanan yang cukup
untuk mereka. Belum lagi kondisi peperangan yang melanda negara
.mereka, menjadikan kondisi ekonomi tidak menentu
Akan tetapi, Indonesia tentu berbeda dengan kondisi Ethiopia atau
Somalia. Mestinya apa yang disediakan oleh Allah di bumi Indonesia yang
subur makmur ini, tidak mungkin menjadikan adanya kelaparan dan gizi
buruk, karena di mana pun tanaman disemai, pasti akan tumbuh dan
.menghasilkan buah yang bisa dimakan

Yang lebih mengherankan lagi, pemerintah masih mengimpor beras


hingga ribuan ton dari Thailand dan negara-negara yang negaranya tidak
sebesar Indonesia, sehingga banyak para petani yang merasa dirugikan,
karena harga padi menjadi anjlok, sehingga banyak para petani yang
enggan untuk bertani, sebab hasil yang mereka peroleh dari hasil
pertanian, tidak mencukupi untuk modal dan kebutuhan mereka sehari-
.hari

Memang pemerintah akan mengalami kebingunan dalam menentukan


keberpihakan mereka, antara membela para petani, wirausahawan, atau
masyarakat miskin non petani. Jika pemerintah membela petani dengan
tidak mengimpor beras dan hasil pertanian lainnya dari luar negeri, maka
harga padi dan lain-lain menjadi mahal, sehingga masyarakat miskin non
petani merasa keberatan untuk membeli beras. Jika pemerintah berpihak
kepada rakyat miskin non petani dan pengusaha, maka petani merasa
dirugikan karena harga beras menjadi murah sehingga mereka enggan
.untuk bertani

Menghadapi dilema di atas, mestinya pemerintah bisa menjamin seluruh


masyarakatnya untuk bisa makan dan terpenuhi gizi mereka hingga
empat sehat lima sempurna. Seharusnya pemerintah bisa mengendalikan
harga bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat sehari-sehari. Jika
pemerintah misalnya menetapkan harga standar yang tidak boleh
dilanggar oleh para pedagang di pasar, misalnya, harga beras dipatok Rp.
4000/kg dan tidak boleh lebih dari itu, maka masyarakat akan menjadi
stabil. Tetapi jika harga bahan pokok naik turun mengikuti harga pasar
bebas, maka masyarakat menjadi kesulitan mengikuti kenaikan dan
..keturunan harga tersebut

Ada pengalaman yang mungkin bisa diambil manfaatnya oleh bangsa


Indonesia. Di negara-negara Timur Tengah, terutama Saudi Arabia, harga
makanan pokok yang dijadikan sebagai konsumsi harian oleh masyarakat,
tidak pernah berubah hingga sekarang. Bahan pokok seperti roti, daging,
gula, minyak dan sebagainya tetap stabil dari dulu hingga sekarang,
karena pemerintah menjamin bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat
.sehingga mereka tidak kelaparan… tobe continued………..wallahu a’lam