Anda di halaman 1dari 2

MUHASABAH (INTROSPEKSI DIRI)

Manusia harus mengenal dirinya sendiri dengan sebaik-baiknya, jika tidak maka dia akan
menjadi jauh dari dirinya sendiri. Seseorang akan mampu mengerjakan sesuatu dengan baik
dan benar, jika dia mengenali dirinya sendiri dengan senantiasa melihat ke dalam dirinya.Cara
terbaik yang harus dilakukan manusia untuk mengenal dirinya sendiri adalah dengan cara
melakukan introspeksi diri atau muhasabah.
Menurut Islam, jiwa manusia memiliki sifat-sifat tertentu. Diantara sifat-sifat jiwa yang
umum adalah bahwa ketika jiwa kita merasa ridha, maka dia akan menjadi tenang, lapang
dada, berupaya meredam rasa amarah dan menjauhi kebodohan. Sebaliknya, ketika jiwa kita
sedang marah, ia akan lupa kepada kelembutannya, mengingkari ucapannya, tampak
kebodohan, ketololan, kedengkian dan perilaku jeleknya. Allah berfirman,
"Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi
puas." (Ad-Dhuha: 5).
"Banyak muka pada hari itu berseri-seri, merasa senang karena usahanya." (Al-
Ghasyiah: 8-9).
"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-
Nya." (Al-Fajr: 27-28).
"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan) nya, maka dia berada dalam
kehidupan yang memuaskan." (Al-Qariah: 6-7).
"(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema‘afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (Ali Imran: 134).
"Dan menghilangkan panas hati orang-orang mu’min. Dan Allah menerima taubat orang
yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (At-Taubah: 15).
Jika manusia mau mengoreksi diri atas segala perbuatan jeleknya, mengetahui riya’nya
dengan benar, memberikan petuah kepada dirinya sendiri untuk berbuat sesuatu atas
kelalainnya, selalu bertaubat untuk mengakui segala kekhilafan yang membawanya ke dalam
kerusakan, selalu ingat dengan janji dan ancaman Allah, menjadikan akal sebagai
penolongnya, senantiasa mengingat kesalahan dan tetap sadar atas kelalaiannya,
menerangkan baginya jalan kebaikan dan keyakinan yang tidak ada tandingannya, dan
menjadikan hati sebagai mata dan jendela untuk melihat segala sesuatu, lalu memperkuatnya
dengan alasan-alasan yang kuat, setelah mengalami gemblengan yang sedemikian berat dan
capek itu, dia akan kembali dari syahwat dan keinginan-keinginannya yang tidak pernah
terpuaskan itu.
Namun demikian, jiwa tetap tidak mau kalah dengan organ-organ lainnya. Dia selalu
ingin melonjak dan ingin menjadi lebih tinggi dari akal hingga menguasainya dengan
berbagai macam cara tanpa perasaan seperti menjatuhkan harga diri, berpura-pura baik dan
sebagainya. Dia akan memakai pakaian takwa dan berhias dengannya karena takut
kebusukannya terbongkar. Jika dia takut keburukannya tersingkap, maka dia akan
menampakkan diri dengan berbuat baik walaupun sebenarnya dia condong kepada keburukan
secara sembunyi-sembunyi. Itulah jiwa yang condong kepada keburukan, yang melakukan
sesuatu karena riya' dan tidak menepati janjinya. Sebenarnya dia menginginkan harta dunia
walaupun kelihatannya mencintai akhirat:
"Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan
jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan
kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan
kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap
mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan
(dari kebenaran)?" (Al-Munafiqun: 4).
"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,
mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” ,
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi
mereka tidak sadar. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat
kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Al-Baqarah: 11-13)
"Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik
hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia
adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di
bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang
ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan." (Al-Baqarah: 204-205).
"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Yusuf: 53).
Sebaik-sebaik perbuatan yang dilakukan manusia adalah mengoreksi dirinya sendiri,
mencoba mencari kebodohan yang telah dilakukan terhadap dirinya, menyingkap semua
kekurangannya, membuka tipuan jiwanya yang terselubung, menyingkap kepura-puraan
takwanya, meluruskan penyelewangan perbuatannya, tidak berputus asa dari rahmat Allah,
tidak menyerah dan tidak berputus harapan.
Metode yang benar untuk mengoreksi diri adalah dengan cara melakukan muhasabah atau
introspeksi kepada diri sendiri, kemudian berupaya untuk memusuhi segala sifat jelek yang
ada di dalam diri kita, sebagaimana kita memusuhi musuh-musuh kita yang benar-benar
zalim, terlaknat, dan melampui batas dalam memusuhi kita. Janganlah sekali-kali kita
mengajak untuk berdamai dengan akhlak tercela kita, sampai ia kembali dari penyimpangan
yang telah ia lakukan dan setelah kamu mengetahui urusannya. Oleh karena itu apabila kita
dapat mengungkap sendiri akhlak tercela yang ada dalam diri kita, berarti kita telah
mengetahuinya, dan jika kita telah mengetahuinya berarti mudahlah kita untuk
menundukkannya, untuk kita perbaiki menuju jiwa yang baik dan terpuji. Wallahu a’lam
bishawab.