Anda di halaman 1dari 7

Konsep Taubat dalam Persfektif Tasawuf

Peradaban dunia dewasa ini tengah dihadapkan pada kehidupan dunia modern, di
mana penekanan individual dan rasionalisme-empiris serta sikapnya yang sangat
agresif terhadap kemajuan menjadi salah satu ciri masyarakat yang paling menonjol.
Harus diakui bahwa modernisme telah memacu perkembangan masyarakat dalam
berbagai bidang kehidupan. Namun pada saat yang sama, modernisme menggiring
manusia memasuki masa-masa krisis bagi kualitas kemanusiaannya.
Hal ini, ditandai dengan fenomena perilaku dan pola pikir manusia yang semakin
menjauh dari eksistensi kemanusiaannya. Nilai-nilai kemanusiaan telah banyak
diabdikan dan dikorbankan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Supremasi rasionalisme, empirisme, positivisme dan pragmatisme tampil dengan
gagahnya, seraya dianggap telah berhasil menggeser dogma agama. (Nurcholis
Madjid, 2000. 97)
Menurut Mulyadhi Kartanegara, Peradaban modern dibangun atas dasar
humanisme yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Pertama. Memberikan peran besar kepada manusia. Kedua. Memutus
hubungan manusia dengan yang Ilahi (Tuhan, malaikat, dan dunia ruhani),
Ketiga. Memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan nasib sendiri
dalam berbagai aspek kehidupannya mulai dari aspek sosial sampai politik,
meskipun pilihan bebas itu bertentangan dengan norma umum. (Mulyadhi
Kertanegara, 2004. 3-4)
Namun peran humanisme yang berciri demikian, sejatinya banyak mereduksi nilainilai kemanusiaan, khususnya nilai-nilai spiritual yang berasal dari tradisi-tradisi
besar kemanusiaan. Di sisi lain, humanisme modern juga telah melakukan
dehumanisasi, karena melihat realitas hanya pada tataran fisik. Dengan demikian,
manusia modern tidak mengenal hakikat dirinya karena apa yang dikerjakan hanya
semata-mata untuk badannya, dengan kata lain manusia modern melupakan satu
aspek lain yang ada pada dirinya, yaitu jiwanya.
Di samping melupakan dirinya, manusia modern juga melupakan Tuhannya.
Akibatnya, tanpa disadari manusia modern sesungguhnya telah melakukan
dehumanisasi terhadap dirinya. Selanjutnya, agar dapat mengungkap hakikat dan
memanusiakan dirinya, manusia modern perlu kembali merajut hubungan selaras
antara ia dan Tuhannya.( Murthada Muthahari, 1992. 27-29) Sebab jika hubungan
manusia dengan Tuhan tidak selaras, maka akan timbul kegelisahan-kegelisahan
yang dialami oleh manusia itu sendiri dalam kehidupannya di dunia. Sementara Abu
al-Wafa at-Taftazany menjelaskan bahwa ada empat sebab yang menjadikan
manusia selalu gelisah;
Pertama; gelisah karena takut kehilangan apa yang dimilikinya, kedua; gelisah
karena takut akan masa depan yang tidak disukainya, ketiga; gelisah karena
kecewa terhadap prestasi kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan tidak
mampu memuaskan jiwanya, keempat; gelisah karena banyak melakukan
pelanggaran-pelanggaran dan perbuatan-perbutan dosa.
Untuk mengatasi segala bentuk kegelisahan tersebut maka manusia perlu merajut
hubungan selaras dengan Tuhannya. Ajaran tentang bagaimana membangun

hubungan selaras antara manusia dengan Tuhan dapat ditemukan dalam agama,
karena itu manusia harus kembali melihat ajaran agama sebagai pedoman hidup.
Dalam konteks agama Islam, ada tiga ajaran utama yang harus dijadikan
pedoman dan diamalkan oleh pemeluknya, yaitu akidah, syariah, dan akhlak. Ketiga
ajaran ini merupakan satu kesatuan utuh, saling terkait dan tidak bisa dipisahkan
satu dengan lainnya. Aspek akidah, mengajarkan kepercayaan tentang adanya satu
Zat yang Maha Mutlak yang menguasai seluruh ciptaan-Nya mengharuskan
penganutnya untuk menjalankan syariah dan akhlak sekaligus. Namun pada
kenyataanya banyak orang yang sudah percaya akan adanya Tuhan, menjalankan
syariah dan akhlak tapi hidupnya tetap saja dilanda kegelisahan.
Jika demikian, muncul pertanyaan: mengapa orang yang sudah menjalankan
agamanya masih saja mengalami kegelisahan hidup? Jawabanya adalah karena cara
beragama yang ditempuhnya belum tepat. Ia meyakini adanya Tuhan, tapi tidak
mampu merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Ia menjalankan ibadah, tapi
tidak mampu merasakan dari ibadahnya. Pendeknya, meskipun telah melakukan
ibadah-ibadah, ia tetap mengalami kehampaan hidup, selalu saja tidak puas
terhadap apa yang telah dimilikinya dan tidak mampu menghadapi derita bila
ditimpa ketidakberuntungan. Kondisi demikianlah yang mendorong lahirnya corak
beragama yang di kenal dengan istilah tasawuf. (Sangidu, 2003. 3-4)
Dalam perjalanan sejarah Islam, tasawuf telah menghadapi banyak tantangan baik
dari kalangan Muslim sendiri, maupun dari kalangan non Muslim. Salah satu
penyebabnya adalah masih adanya kesalahpahaman terhadap tasawuf itu sendiri,
sehingga muncul fitnah politik dan intelektual yang dialamatkan kepada tasawuf.
Taswuf dituduh telah menjauhi realitas kehidupan dunia, menjadi penyebab
kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Tasawuf masih dianggap sebagai
penghambat kemajuan Islam, dipandang sebagai aliran dan gerakan yang
dinisbatkankan kepada Islam, yang tidak pernah diajarkan atau dipraktikkan oleh
Nabi Muhammad Saw., bahkan ada yang menganggap tasawuf telah keluar dari
koridor syariat.
Di pihak lain, masih ada anggapan bahwa tasawuf hanyalah konsumsi orang-orang
tertentu. Anggapan dan tuduhan di atasbahwa tasawuf mengabaiakan kehidupan
dunia dan menjadi sebab kemunduran umat Islam; atau tuduhan bahwa tasawuf
mengabaikan syariat-tentu saja tidak diterima, karena sebagai salah satu aspek
ajaran Islam, ia perlu diketahui dan dijadikan tuntunan bagi orang-orang yang
beriman.
Secara bahasa tasawuf berasal dari kata suffah atau suffah al-masjid artinya
serambi masjid. Istilah ini dihubungkan dengan suatu tempat di masjid Nabawi yang
didiami oleh sekelompok sahabat Nabi yang sangat fakir dan tidak mempunyai
tempat tinggal, mereka dikenal sebagai ahl al-suffah, orang yang menyediakan
waktunya untuk berjihad dan berdakwah serta meninggalkan usahanya yang bersifat
duniawi. Akan tetapi kalau istilah sufi berasal dari kata suffah, maka bentuknya yang
benar menjadi suffi bukan sufi. (Ab Qasim Abd al-Krim al-Qasyair, 1989.7-8)
Karenanya sebagian pendapat lebih cenderung pada istilah shfi yang berasal dari
kata shf (wol), kata Shfi ini tepat dari sudut pandang etimologis, karena menurut
kamus bahasa Arab, kata tasawwafa berarti dia memakai baju wol.

Pada awal perkembangan asketisme, pakaian bulu domba adalah simbol para hamba
Allah yang tulus dan asketis. Para ulama banyak yang berpendapat seperti ini,
seperti al-Sarraj al-us dalam karyanya al-Luma dan Ibn Khaldun dalam
Muqaddimah. Akan tetapi al-Hujwir kurang sependapat dengan istilah ini, menurut
pengarang kitab Kasyf al-Mahjb. Kesucian (shfa) adalah karunia Allah Swt. dan
wol (shf) adalah lebih tepat untuk ternak. (Al-Hujwiri, 1993. 45-48)
Sufi pada dasarnya adalah spiritualitas Islam yang berjalan sesuai dengan
syari'at tanpa mereduksi hukum-hukum formal (syari'at). Sufisme justru
memperjelas, mencerahkan jalan menuju al-insan, yang merupakan puncak dari
prestasi amaliah dan komunikasi antara seorang hamba dan Tuhannya, yang
selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat (qurb) kepada Tuhan. Hubungan
kedekatan tersebut dipahami sebagai pengalaman spiritual dzauqiyyah manusia
dengan Tuhan, yang melahirkan kesadaran bahwa segala sesuatu adalah kepunyaanNya dan segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada artinya di hadapan Yang
Absolut dan Tak Terbatas.
Hubungan kedekatan dan hubungan penghambaan sufi pada Khaliq-nya akan
melahirkan prespektif dan pemahaman yang berbeda-beda antara sufi yang satu dan
sufi yang lainnya. Keakraban dan kedekatan ini mengalami elaborasi sehingga
kemudian melahirkan dua kelompok besar. Kelompok pertama mendasarkan
pengalaman spiritualnya dengan pemahaman yang sederhana dan dapat dengan
mudah dipahami oleh orang awam, dan pada sisi lain melahirkan pemahaman yang
komplek dan mendalam, dengan menggunakan bahasa-bahasa simbolis-filosofis.
Ibn 'Atha Allah dalam Kitab al-Hikamnya mengutarakan; "Engkau meminta dari
Allah berarti menuduh-Nya, engkau meminta kepada-Nya berarti mengumpat-Nya,
engkau meminta kepada selain-Nya berarti engkau tak punya rasa malu kepada-Nya,
dan engkau meminta dari selain-Nya berarti engkau jauh dari-Nya."( Ibn Atha Allah,
2006. 41)
Merujuk pemahaman pertama kemudian akan melahirkan tasawuf 'amali atau
akhlak, yang tokoh-tokohnya antara lain, Junayd al-Badadi (w. 298 H / 911 M) alQusyayr ( w. 465 H/ 1073) dan al-azali (w. 505 H / 1111 M). Sedangkan pada
pemahaman kedua menjadi tasawuf falsafi atau tasawuf filosofis, dengan tokohtokohnya antara lain Ab Yazid al-Bustami, dengan ajarannya, ittihad (w. 261 H/
875 M), al-Hallaj, ajarannya, hulul, (w. 309 H / 922 M), Ibn 'Arabi, wahdat alwujd (638 H / 1240 M) dan Abd al-Karim al-Jil, dengan ajaranya, insan kamil (w.
820 H / 1417 M).
Di ungkapkan Akhmad Sodiq (2008), bahwa Tasawuf coba menghindari
dunia, karena dunia adalah lorong waktu yang memiliki dua ujung yang misterius,
yakni: kelahiran dan kematian. Dua ujung ini, tidak cukup menyediakan jawaban
atas kegelisahan meraka yang mempertanyakan kenapa ia harus melintasinya? Maka
setiap manusia yang hadir di dunia ini memiliki cara pandang yang beragam, sesuai
yang ia dapat pahami dari realitas itu. Yang pasti sama dirasa oleh setiap individu
adalah bahwa ia ada dan hadir di dunia ini. Ia melihat, memikirkan, memanfaatkan,
menikmati dan bahkan terjerumus dengan dunia tersebut. Yang menarik adalah
karena dunia itu juga merupakan misteri? Masalah ini tidak bisa dijawab oleh
mereka yang sekedar menduga dan meraba-raba dikegelapan kebenaran. Di sinilah,
manusia membutuhkan penjelasan Dia yang Maha Tahu.

Eksistensi dunia secara hakiki adalah naf jika diletakan dalam perspektif perennial.
Perspektif asketik terhadap eksistensi dan urgensi dunia semacam ini memang dapat
berakibat munculnya sikap apatis terhadap dunia. Kenyataan semacam ini bisa
disalahpahami oleh mereka yang simpatik dalam memahami ruh Islam. Adalah
benar bahwa tidak ada tawar-menawar dalam melihat dunia secara hakiki dihadapan
akhirat. Ia adalah sementara, singkat dan fana. Terlalu singkatnya dunia dibanding
kenikmatan sempurna akhirat, membuat Rasullullah Saw., harus mengatakan secara
obyektif, bahwa dunia itu tidak ada apa-apanya. Dilihat dari eksistensinya menipu
manusia yang tidak mengerti, untuk menumpuhkan hidup hanya berhenti pada
kesementaraan, dengan menafikan akhirat, menjadikan ia harus diposisikan secara
konfrontatif dan dibenci.
Sementara sebagian besar manusia, kekuatan spiritualnya tidak teraktualisasi.
Itulah yang menyebabkan manusia saling bertengkar satu sama lainnya, merebutkan
pepesan kosong. Mempertahankan sudut pandang masing-masing dan sulit
mengerti pandangan orang lain. Menjadi terkotak-kotak, dan tidak memandang
realitas secara utuh. Karena ia terjebak pada satu pola atau arus tertentu yang jarang
disadari, sering tidak cukup berprasangka baik kepada orang lain.
Al-hazl kemudian menuturkan bahwa dosa-dosa yang dilakukan manusia adalah
seperti titik hitam yang menodai hatinya. Semakin banyak dosa, maka semakin
tinggi tingkat distorsi akan kebenaran. Manusia menjadi buta terhadap realitas
sebagaimana apa adanya. Bahkan, dengan banyaknya dosa yang diulang-ulang,
hatinya tidak hanya menjadi hitam, tetapi bisa terbalik. Dalam al-Quran diceritakan,
ketika dikatakan. Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, mereka
justru berkata,
.Kamilah orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. al-Baqarah [2]: 11)
Mereka tidak sadar bahwa dirinya telah membuat kerusakan. Sering timbul paradoks
kesadaran. Semakin lemah tingkat kesadarannya, semakin gampang melihat
kebaikan dirinya. Ia terfokus pada kebaikan yang dilakukannya, sampai lupa dan
tidak melihat kejelekan dan keburukan yang diperbuat olehnya. Bahkan pada taraf
yang rendah, semakin tidak sadar seseorang, semakin dia melihat keburukannya
sebagai kebaikan.
Pada umumnya, siapa yang beristihfar, berdoa, dan dzikir, di dalam alQuran mereka adalah para nabi dan orang saleh, terkenal sedikit dosanya atau
bahkan terpelihara dari dosa (mam). Mereka yang paling banyak membaca
istighfar, memohon ampunan dari Allah Swt., tidak pernah mencontoh istghfar dan
dzikir dari mulut orang-orang kafir atau pendosa. Karena, semakin seseorang
mendekati kebenaran dan dekat dengan Tuhannya, dia semakin melihat kekurangan
dirinya. Ia segera menyadari keterbatasan-keterbatasan dirinya. Semakin orang
tertipu oleh dirinya, maka akan menganggap apapun yang di persepsinya sebagai
kebenaran. Ia bagaikan katak dalam tempurung, terbatas dan terkungkung dalam
imajinasi yang dibangunnya sendiri. (Qomaruddin SF, 122-123)
Kata twbat merupakan bentuk madar dari kata kerja tba. Selain kata twbat,
kata kerja tba masih mempunyai bentuk madar yang lain, yaitu tawban,
matban, tbatan, dan tatwibatan. secara etimologis, kata tersebut dapat berarti
kembali (al-ruj) atau menyesal (al-ndam). Secara termiologis, taubat berarti
kembali dari perbuatan maksiat atau dosa menuju taat kepada Allah Swt. dan
menyesali semua perbuatan dosa yang telah dilakukannya. Orang yang taubat
disebut al-tib. Seorang tib adalah orang yang kembali dari sifat-sifat tercela
menuju sifat-sifat terpuji; orang yang kembali dari sesuatu yang dilarang Allah
menuju apa yang diperintahkan-Nya; orang yang kembali dari sesuatu yang dibenci

Allah menuju sesuatu yang di ridlai-Nya, atau orang yang kembali kepada Allah
setelah berpisah, menuju taat kepada-Nya, setelah melakukan pelanggaran atau
kedurhakaan (al-mukhlaft). (Jamal al-Din Muhammad ibn Mukarram al-Anshar
ibn Manzhr. 226-227)
Menurut al-iddiq al-Syafi (W. 1057 H), orang yang kembali kepada Allah dari almukhlaft, karena takut terhadap siksa Allah, disebut al-tib. Orang yang
kembalinya kepada Allah karena rasa malu kepada Allah, disebut al-munb. Dan
orang yang kembali kepada Allah karena memuliakan keagungan Allah, disebut alawwb.
Bagi Ibn Atha Allah, taubat merupakan maqm pertama yang harus dilalui
seseorang penempuh jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Karena maqm-maqm setelahnya tidak akan diterima, kecuali dengan adanya
taubat terlebih dahulu. Bagi Ibn Atha Allah, taubat merupakan perintah Allah swt.
dan Rasulullah saw. Sebagaimana termaktub dalam Qs. an-Nr [24]: 31.
Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman
supaya kamu beruntung. atau dalam Qs. al-Baqarah [2]: 222. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang
menyucikan diri. (al-Baqarah/2: 222) Rasul Saw. juga bersabda: Demi Allah,
sesungguhnya aku meminta ampun pada Allah dan bertaubat pada-Nya lebih dari
tujuh puluh kali dalam sehari. (HR. al-Bukhr dan lainya).
Dalam konsep Ibn Atha Allah, ada beberapa hal yang harus dilakukan seseorang
untuk menjalani taubat, antara lain: merenung dan berinstropeksi tentang panjang
umur yang telah dijalaninya; merenung apa yang telah diperbuat dalam satu hari,
baik yang berkaitan dengan ketaatan maupun kemaksiatan. Ketika seseorang
mendapatkan ketaatan, maka bersyukurlah kepada Allah. Namun sebaliknya, jika ia
mendapatkan kemaksiatan, maka hendaknya ia mencela dirinya sendiri, serta segera
memohon ampun dan ber-taubat kepada Allah Swt. dengan penuh penyesalan, sedih
dan merasa hina. (Ibn Atha Allah al-Sakandari. 11)
Jika seseorang tidak mempunyai perasaan sedih atas kesempatan beramal yang
dilewatkan dan tidak menyesal atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya,
itu merupakan tandabahwa hatinya telah mati.(Ibn Atha Allah al-Sakandari, 21)
Ada dan tidaknya kesungguhan taubat seseorang dapat dilihat dari kesungguhanya
menjalankan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Ibn Atha Allh menukil
ucapan Syaikh Ab al-Hasn al-Syadil:
Wali-wali Allah adalah para pengantin. Dan orang yang berbuat dosa tidak akan
melihat pengantin. Ketika kamu merasa berat melakukan ketaatan dan ibadah,
serta kamu tidak merasakan kenikmatan dalam hatimu, dan kamu merasa ringan
melakukan maksiat serta kamu merasakan kenikmatanya, maka ketahuilah,
bahwa kamu belum sungguh-sungguh dalam taubat-mu. (Ibn Atha Allah alSakandari, 47)
Bagi Ibn Atha Allah, orang yang memperbanyak melakukan dosa, namun juga
memohon ampun kepada Allah atau beristifar, sama artinya dengan orang yang
memperbanyak minum racun dan minum air penawar. Akhirnya air penawar kalah
dan orang yang bersangkutan mati.
Selain bertaubat dari dosa, kata Ibn Atha Allah, seseorang harus bertaubat dari
keterlibatannya dalam pengaturan bersama Allah Swt,. Pasalnya, mengatur dan

memilih termasuk dosa besar yang dilakukan oleh hati dan jiwa. Cara taubatnya
adalah kembali kepada Allah Swt. dari segala perbuatan yang tidak diridhai-Nya.
Keterlibatan dalam pengaturan Allah merupakan syirik atas rubbiyah-Nya atau
kufur terhadap nikmat akal. Allah tidak meridhai hamba-Nya berbuat kufur. Taubat
seseorang belum dianggap benar, jika masih merisaukan pengaturan dunianya dan
mengabaikan baiknya pemeliharaan Tuhannya. (Ibn Atha Allah al-Sakandari. 13
Dalam membangun konsep taubatnya, Ibn 'Atha' Allh telah memiliki pandanganpandangan esoterik dan filosofis. Sungguhpun demikian, ia masih terikat oleh
prinsip-prinsip teologi yang dianutnya, teologi Asy'ariyah sebagaimana dianut oleh
al-hazali. Dengan demikian, pada tataran ini ajaran taubat Ibn 'Atha' Allh dapat
dikategorikan sebagai tasawuf falsafi. Di sisi lain, Ibn 'Atha' Allh adalah seorang
pembimbing spiritual dalam otoritasnya sebagai Syaikh ketiga dalam Tarekat
Syadiliyah. Dalam proses pendakian menuju Tuhan (taraqqi), ia juga
mengemukakan jenjang-jenjang spiritual yang harus ditempuh oleh para salik,
jenjang-jenjang tersebut antara lain: taubat, zuhud, sabar, syukur, khawf, raja,
tawakkal, ridha, dan mahabbah.
Keterangan di atas menunjukkan bahwa bertaubat merupakan salah satu tahap dari
perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh calon sufi dalam rangka mendekatkan
diri kepada Allah. Dengan kata lain seorang sufi apabila tidak bertaubat dalam
perjalanan panjangnya mendekat kepada Allah, mengapai ridla-Nya, mustahil dapat
tercapai.
Daftar Rujukan
Ab Qasim Abd al-Krim al-Qasyair, Rislah al-Qusairyah, Kairo: al-Mayhbah alMuasah Dar al-Syadli al-Syakhafah wa al-Thabaa wa al-Nasr, 1989
Abu al-Wafa at-Taftazani, The Role Sufism Makalah Seminar Internasionl IAIN
Sunan Kali Jaga, Jogjakarta: 1993
Akhmad Sodiq, Transformasi Ruhani dalam Perspektif al-Ghazali, Jakarta:
Disertasi UIN Syahid, 2008, dan pengajian dua mingguan di Masjid Nur Ramadhan
Bintaro, Makna Hidup. 12 Januari 2012.
Al-Hujwiri, Khasf al-Mahjb, alih bahasa: Sudjarwo Muthari dan Abdul Hadi WM,
Bandung: Mizan, 1993
Ibn Atha Allah, al-Hikam al-Athiyyah, ditashih, Syekh Fadhlalla Haeri, The Wisdom
of Ibn 'Atha' Allah, diterj. Lisma Dyawati Fuaida, Al-Hikam Rampai Hikmah Ibn
'Atha' Allah, Jakarta: Serambi Ilmu, 2006
_____________, Tj al-Ars, h. 11.
_____________, al-Tanwr F Isqa al-Tadbr, Bairt: al-Maktabah alSyabaniyyah, t.th.,
Jamal al-Din Muhammad ibn Mukarram al-Anshar ibn Manzhr, Lsan al-Arab, juz
I, Mesir : al-Muasssah al-Mishryah al-Ammah, t.th.,; Majd al-Din Muhammad ibn
Yaqb al-Fayruzabad, al-Qams al-Muhuh. juz I, Brt: Dar al-Jl t.th., h. 41;
Muhammad ibn Alan al-Shiddiqi al-Syafi' al-Asyar al-Makk (w 1057 H), kitab
Dalil al-Flihn li Thuruq Riydl al-Shlihn, juz I, Bairut : Dar al- Kitab al-Arabi,
1985, Cet. ke- 10, h. 87.
Mulyadhi Kartanegara, Pengantar dalam Seyyed Mohsen Miri, Sang Manusia
Sempurna: Antara Filsafat Islam dan Hindu, Jakarta: Teraju-Mizan, 2004. Lihat
juga Sri Mulyati (Ed.,) Mengenal dan Memaham Tarekat-tarekat Muktabarah di
Indonesia, Jakarta: Prenada Media, 2004, h. 3-4
Murthada Muthahhari, Hak-hak Perempuan dalam Islam, Bandung: Pustaka 1992

Nurcholis Madjid et. Al., Kehampaan spiritual Masyarakat Moderen: Respon dan
Transformasi Nilai-nilai Islam Menuju Masyarakat Madani, Jakarta: Mediacita,
2000
Sangidu, Wahdatul Wujd: Polemik Pemikiran Hamzah Fanzuri dan Syamsuddin
as-Sumatrani dengan Nuruddin ar-Raniri, Yogyakarta: Gama Media, 2003
Qomaruddin SF, ed. Agus Abu Bakar, Arsal Zikir Sufi Menghampiri Tuhan Lewat
Tasawuf, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta