Anda di halaman 1dari 3

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes Mellitus merupakan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak an
protein yang ditandai dengan hiperglikemia. Penyebab terjadinya diabetes mellitus
adalah berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap
insulin (M P Ngugi et al., 2012). Data Riskesdas menunjukkan adanya
peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia dari 5,7% pada tahun 2007 menjadi
6,9% atau sekitar 9,1 juta penderita pada tahun 2013. Sementara itu, data
International Diabetes Federation (IDF) tahun 2015 juga menyatakan bahwa
estimasi penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta penderita.
Jika tidak dicegah, maka angka penyandang diabetes diperkirakan akan meningkat
menjadi 16,2 juta pada tahun 2040. Seperti kondisi di dunia, diabetes kini menjadi
salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia. Data Sample Registration
Survey tahun 2014 menunjukkan bahwa diabetes merupakan penyebab kematian
terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah Stroke
(21,1%) dan penyakit Jantung Koroner (12,9%) (Kementrian Kesehatan RI,
2016).
Penyakit periodontal mengacu pada proses inflamasi yang terjadi pada
jaringan di sekitar gigi sebagai respon dari akumulasi bakteri, atau dental plak
pada gigi. Akumulasi bakteri menyebabkan respon inflamasi dari tubuh. Infeksi
bakteri yang kronis dan progresif pada gingiva menyebabkan kerusakan tulang
alveolar dan kehilangan perlekatan jaringan pada gigi (Kim dan Amar, 2006). Di
antara periodonto-pathogens, sebagian besar bukti menunjukkan peran patogenik
pada Porphyromonas gingivalis, yang sering terdeteksi pada lesi aktif
periodontitis. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Porphyromonas
gingivalis berpenetrasi pada epitel barier di sekitar sulkus gingiva dan menyerang
sel-sel endotel (Yun et al., 2006). Lipopolysaccaride (LPS) dari Porphyromonas
gingivalis merupakan faktor kunci perkembangan periodontitis karena berpotensi

mengaktifkan inflamasi serta respon imun bawaan. LPS Porphyromonas


gingivalis menginduksi sitokin proinflamatori seperti IL-1, IL-6 dan IL-8 yang
menyebabkan destruksi jaringan periodontal (Mysak et al., 2014).
Sebuah hipotesis menghubungkan inflamasi subklinis kronis dengan resistensi
insulin dan memulai perkembangan diabetes. Pemicu inflamasi termasuk infeksi
oral yang dapat menyebabkan peningkatan produksi sitokin, aktivasi sintesis
protein fase akut, dan akibat resistensi insulin yang menghasilkan diabetes (Kim
dan Amar,

2006).

Penelitian

menunjukkan

bahwa

periodontitis

selain

menyebabkan reaksi inflamasi lokal, juga dapat mengerahkan berbagai efek


sistemik yang luas. Pasien dengan periodontitis mengalami peningkatan leukosit
dan protein C-reaktif dibandingkan dengan kontrol (Al-Rasheed, 2012).
Jumlah leukosit merupakan marker objektif dari infeksi akut, kerusakan
jaringan dan kondisi inflamasi. Dewasa ini, beberapa peneliti mengajukan
hipotesis bahwa resistensi insulin yang mungkin disebabkan oleh aktivasi kronis
sistem imun dan inflamasi seperti tumor necrosis factor- (TNF-) dan interleukin
6 (IL-6). Aktivasi sitokin dapat berkontribusi baik pada peningkatan jumlah
leukosit maupun resitensi insulin. Leukosit yang teraktivasi berperan pada injuri
mikrovaskuler, melepaskan radikal bebas oksigen, enzim proteolitik dan metabolit
asam arakidonat (Al-Rasheed, 2012; Shim et al., 2006). Leukosit memiliki peran
penting dalam progess komplikasi diabetes. Leukosit dapat diaktifkan oleh
glycation end products, stres oksidatif, angiotensin II yang dihasilkan dari kondisi
hiperglikemia yang terlibat dalam patogenesis komplikasi kronis diabetes (Moradi
et al., 2012).
Diagnosis dan perawatan dini dari diabetes dapat mencegah atau mengurangi
perkembangan dari komplikasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui jumlah leukosit sebagai biomarker inflamasi. Hitung leukosit lebih
efektif dari segi biaya dan uji laboratori yang tersedia untuk menunjukkan
aktivitas inflamasi.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, terdapat permasalahan yaitu bagaimana
pengaruh Porphyromonas gingivalis terhadap jumlah total leukosit pada tikus
wistar jantan yang mengalami diabetes ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Porphyromonas
gingivalis terhadap jumlah total leukosit pada tikus wistar jantan yang mengalami
diabetes.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Memberi informasi kepada pembaca bahwa kondisi kesehatan rongga
mulut dapat berpengaruh pada kondisi sistemik sehingga sehingga dapat
lebih menjaga oral hygiene-nya.
2. Sebagai diagnosa dini untuk mencegah keparahan komplikasi penyakit
sistemik.
3. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan
acuan pada penelitian selanjutnya.