Anda di halaman 1dari 3

Islam Liberal dan Islam Fundamentalis di Pondok Modern dan Salaf

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling tua usianya di


Indonesia, dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan umum lainnya.
Pada awalnya, pondok pesantren dikelola secara alami, ada kyai, lalu santri
datang kepadanya, ada masjid, ada pondokan tempat tinggal santri dan ada
pengajaran dengan system sorogan. Menurut Cak Nur (dalam Yasmadi, 2002: 59),
hingga tahun 2002—ketika penelitian itu dilakukan--pondok pesantren pada
umumnya masih dikelola secara tradisional, karena itu tidak heran jika lembaga
pendidikan pondok pesantren, hingga saat ini, sering disebut lembaga
pendidikan tradisional. Meskipun demikian, menurut Zamakhsyari Dhofier (1982:
17-18), setiap pondok pesantren, setradisional apapun, memiliki kiat-kiat dan
cara-cara tersendiri untuk mempertahankan diri, khususnya ketika menyangkut
dengan dunia luar agar terjadi sebuah dinamika di dalamnya dan mampu survive
pada masa berikutnya. Bahkan menurutnya, lembaga-lembaga pesantren itulah
dulunya, yang paling menentukan watak keislaman dari kerajaan-kerajaan Islam,
dan yang memegang peranan paling penting bagi penyebaran Islam sampai ke
pelosok-pelosok melalui peran kyai dan pengasuh-pengasuhnya. Dari lembaga-
lembaga pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam
di Asia Tenggara. Karena itu menurutnya, untuk dapat betul-betul memahami
sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mulai mempelajari lembaga-lembaga
pesantren tersebut karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah
penyebaran Islam dan pemikirannya di Indonesia.

Sebagai sumbu utama dari dinamika sosial, budaya dan keagamaan masyarakat
Islam tradisional, pesantren telah membentuk suatu subkultur, yang secara
sosiologis-antropologis bisa kita katakan sebagai masyarakat pesantren. Artinya
apa yang disebut pesantren di situ bukan semata wujud fisik tempat belajar
agama, dengan perangkat bangunan, kitab kuning, santri dan kiainya. Tetapi juga
masyarakat dalam pengertian luas yang tinggal di sekelilingnya dan membentuk
pola kehidupan budaya, sosial dan keagamaan, yang pola-¬polanya kurang lebih
sama dengan yang ber(di)kembang(kan) di atau berorientasi pesantren.
Kebudayaan masyarakat tersebut tak bisa dibantah memang dipengaruhi oleh
dan diderivasi dari pesantren. Dalam arti ini, masyarakat sekitar tersebut adalah
juga "bagian dalam" dari masyarakat pesantren.

Dalam kepustakaan pesantren selama ini, perhatian lebih diarahkan pada


hubungan "masyarakat luar" atau dalam kategori lama disebut sebagai
"kebudayaan abangan" dengan pesantren. Segala budaya yang berjenis non-
pesantren bisa dianggap sebagai abangan. Kendati dalam prakteknya tidak
sehitam-putih demikian. Hubungan ini memunculkan dinamika tersendiri dalam
kehidupan desa; konflik, ketegangan, komporomi, dan pertukaran budaya. Kyai,
seperti terlihat dalam studi, memegang peran utama dalam proses transformasi
tersebut.

Clifford Geertz (1960) misalnya, seperti tampak dari judul tulisannya “The
Javanese Kiyayi: the Changing Roles of a Cultural Broker", menye¬but kiai
sebagai penghubung budaya antara pesantren dan "du¬nia luar." Kiai menyaring
mana unsur budaya yang boleh masuk dan mana yang tidak. Tetapi,
perkembangan teknologi komuni¬kasi dan informasi, yang membuat massifnya
alur informasi, membuat kiai tak mungkin lagi untuk menyaringnya. Kiai menjadi
kehilangan perannya tersebut, dan kemudian sekedar menjalankan posisi yang
sekunder dan tidak kreatif. Kiai akan mengalami kesenjangan budaya dalam
masyarakat sekitarnya.

Studi Hiroko Horikoshi (1987) agak bersimpangan dengan tesis Geertz. Dalam
kajiannya terhadap sosok seorang kiai (ajengan) di Jawa Barat, ia menunjukkan
bahwa kiai bisa berperanan kreatif dalam perubahan sosial. Kiai tidaklah
berkeinginan meredam akibat perubahan yang terjadi, tetapi justru mempelopori
perubahan sosial dengan caranya sendiri. la bukan melakukan penyaringan
informasi, tapi menawarkan agenda perubahan nyata yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakatnya. Ia sepe-nuhnya berperan dalam proses perubahan
sosial, justru karena ia mafhum bahwa perubahan tersebut merupakan
sunnatullah yang tak terelakkan lagi. Persoalan baginya adalah bagaimana
kebutuhan akan perubahan ini dapat dipenuhi tanpa merusak jalinan sosial yang
telah ada, melainkan justru memanfaatkan jalinan-jalinan sosial tersebut sebagai
prosedur dan mekanisme perubahan sosial yang diidealkan.

Tentang peran kyai di dalam pondok pesantren, menurut Mastuhu (1994) dalam
penelitiannya tentang dinamika sistem pendidikan pondok pesantren menyatakan
bahwa kyai memiliki peran yang berbeda dalam melakukan transformasi ilmu
antara di pondok pesantren salaf dengan pondok pesantren modern. Di Pondok
Pesantren Salaf, kyai memiliki wewenang yang sangat otoriter dalam segala
aspek kehidupan di dalam pondok, sementara santri mengikuti apa yang
dikatakan oleh kyai. Santri diibaratkan seperti mayat yang siap diapakan saja oleh
kyai dan tidak boleh membantah terhadap apa yang dilakukan kyai terhadapnya.
Dari segi metode pembelajaran, kebanyakan kyai di pondok pesantren salaf
menerapkan metode sorogan dalam belajar kitab dan santri tidak diperkenankan
untuk membaca kitab lain atau mengajarkannya kepada santri lain jika tidak
mendapatkan ijazah dari kyai atau ustadznya.

Sementara itu, lanjut Mastuhu (1994), peran kyai di Pondok Modern Gontor dan
cabang-cabangnya, berbeda dengan peran kyai di pondok pesantren salaf
tersebut.. Dari segi kepemimpinan, wewenang kyai dibatasi oleh Badan Wakaf
Pondok, sistem pengajarannya dilakukan di dalam kelas seperti sekolah-sekolah
modern, dan santri diperbolehkan membaca kitab apa pun meskipun belum
diajarkan di dalam kelas oleh para ustadznya.

Namun ada fenomena menarik yang perlu kita cermati dalam kehidupan di kedua
model pesantren tersebut. Secara logika, peran kyai yang otoriter dalam
transformasi wacana pemikiran di pondok pesantren salaf, akan melahirkan
pemikir-pemikir tradisional yang kolot, fatalistik dan konservatif, sementara di
pondok pesantren modern karena kyai berperan lebih demokratis, akan
melahirkan santri-santri yang terbuka, berwawasan luas dan liberal. Akan tetapi
dalam praktek kehidupan nyata, kedua model pendidikan pesantren itu, telah
melahirkan alumni yang justru terbalik dari sisi pemikiran. Banyak jebolan pondok
pesantren salaf yang menjadi tokoh-tokoh liberal dan modernis muslim Indonesia
dan sebaliknya banyak jebolan pondok pesantren modern yang menjadi tokoh-
tokoh islam radikal dan konservatif. Kita sebut saja, Ulil Abshar Abdala,
penggagas dan ketua Jaringan Islam Liberal (JIL), Abdurrahman Wahid, penggagas
demokrasi di Indonesia, Muslim Abdurrahman penggagas fikih emansipatoris dan
sebagainya, adalah tokoh-tokoh Muslim Indonesia Kontemporer yang lebih
terbuka terhadap pemikiran-pemikiran Islam liberal, pluralisme dan
multikulturalisme, padahal mereka adalah para alumni pondok pesantren salaf
yang dianggap tradisional.

Sementara itu, tokoh-tokoh pemikiran islam radikal di Indonesia seperti Dr.


Hidayat Nurwahid, ketua Partai Keadilan Sejahtera, Abu Bakar Ba’asyir, pimpinan
Pondok Pesantren Ngruki Solo, Dr. Din Samsuddin, ketua PP. Muhammadiyah,
dan masih banyak lagi tokoh-tokoh Muslim Nasional lainnya, yang dianggap
memiliki pemikiran anti liberalisme, pluralisme, dan multikulturalisme, adalah
alumni Pondok Modern yang menerapkan sistem pendidikan modern. Di samping
itu, tokoh-tokoh teroris Indonesia seperti Ali Ghufron, Samudra, Hambali, dan
sebagainya adalah alumni Podok Pesantren di Tegal Gulun yang Kyainya adalah
jebolan dari Pondok Pesantren Ngruki, yang merupakan cucu dari Pondok modern.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa fenomena seperti ini terjadi? Apakah
ada perbedaan antara sistem pendidikan yang diterapkan di kedua model pondok
pesantren itu dengan wacana pemikiran yang dikembangkan di dalamnya?
Adakah batasan-batasan tertentu dikedua model pendidikan pesantren itu dalam
mengembangkan wacana pemikiran Islam? Bagaimana sikap kyai dan pengasuh
pondok pesantren salaf dan modern terhadap masalah liberalisme dan
radikalisme? Masalah-masalah inilah yang mungkin masih menggelayut dalam
pikiran sebagian orang yang perlu dijawab dengan serius dan hati-hati.

Menurut hemat penulis, gaya pendidikan ala pondok pesantren modern,


kebanyakan lebih bersifat tekstualis dan formalis. Berdasarkan pengalaman
penulis pondok pesantren modern lebih mementingkan formalitas dan hapalan-
hapalan daripada berpikir kritis dan bebas, sehingga para santri jarang diberi
kebebasan untuk berpikir secara kritis. BIla ada yang mencoba untuk berpikir
kritis, mereka segera diinterograsi dan bahkan dikeluarkan dari pondok
pesantren, bahkan seringkali para pengurus pondok pesantren merazia buku-
buku yang dianggap berbahaya secara pemikiran, yang kemudian harus dirampas
oleh pengurus. Karena itu, tidak heran jika di kemudian hari, banyak di antara
alumni pondok modern yang berpikiran tekstualis dan condong kepada aliran
keras dalam beragama.

Sementara itu model pendidikan pondok pesantren salaf, jauh lebih bebas
daripada pondok pesantren modern, mulai dari kedisiplinan hingga sistem
pengajaran. Mereka lebih bebas untuk mengemukakan pendapat dalam suatu
permasalahan. Pada malam-malam tertentu, biasanya mereka mengadakan
bahsul masail di mana di dalamnya para santri bebas berpendapat untuk
membahas tentang suatu masalah asalkan mereka memiliki hujjah yang kuat dan
rujukan yang bisa dipertanggung jawabkan. Hal inilah yang mungkin menjadikan
lulusan pondok pesantren salaf lebih terbuka daripada alumni pondok pesantren
modern.

Memang apa yang dipaparkan di atas tidak seluruhnya demikian, banyak juga
alumni pondok pesantren modern yang menjadi pelopor pemikiran islam liberal,
seperti Nurcholish Madjid dan sebaliknya banyak juga alumni pondok pesantren
salaf yag menjadi pemimpin gerakan Islam radikal. Di samping faktor pendidikan
di pesantren, memang ada unsur-unsur lain yang berpengaruh, seperti pergaulan,
organisasi, buku-buku bacaan dan sebagainya, yang semuanya juga ikut andil
dalam mempengaruhi pemikiran seseorang. Wallahu a'lam bishawab.

Referensi:

Dhofier, Zamahsyari (1982) Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup


Kiai. Jakarta: LP3ES.

Dirdjosanjoto, Pradjarta (1999), Memelihara Umat: Kiai Pesantren-Kiai Langgar di


Jawa. Yogyakarta, LKiS.

Gadamer, Hans-George, Truth and Methode, New York, Crossroad Publishing Co,
1989.

Geertz, C. (1960) , The Raligion of Java, Glencoe, III: The Free Press.

Geertz, C. (1960), The Javanese Kijaji: The Canging Role of a Cultural Broker,
Comperativer Studies in Society and History, (1959-1960), 2, 200-249.

Horikoshi, Hiroko (1987) Kiai dan Perubahan soaial. Jakarta: P3M.

Mansurnoor, Iik Arifin (1990), Islam in Indonesia World; Ulama of Madura.


Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Mastuhu (1994) Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren. INIS; Jakarta.