Anda di halaman 1dari 2

ISLAM TRANSFORMATIF

Munculnya beberapa kelompok muslim yang menampilkan gaya kehidupan yang


konservatif, eksklusif dan kolot, menjadikan adanya anggapan oleh sebagian
orang, terutama non muslim, bahwa Islam adalah agama yang kolot, konservatif
dan eksklusif seperti yang ditampilkan oleh sebagian para penganutnya yang
seperti itu. Apalagi jika dilihat lebih jauh, kebanyakan masyarakat Islam,
menampilkan wajah-wajah yang kurang menggembirakan. Kebanyakan mereka
hidup dalam lingkungan yang kumuh, tertinggal, kotor dan tidak maju. Yang
menjadi pertanyaan adalah, benarkah bahwa Islam adalah agama yang
konservatif, kolot dan eksklusif, sehingga setiap orang yang memeluknya akan
menjadi orang yang kolot, konservatif dan eksklusif?

Bila kita melihat pada sejarah Islam pada masa-masa awal Islam di Madinah,
kedatangan Islam mampu merubah tatanan masyarakat Madinah pada saat itu,
dari tatanan masyarakat Jahiliyah yang berbudaya rendah, menjadi masyarakat
yang sangat maju dibandingkan dengan masyarakat lain non Muslim. Nabi
Muhammad saw., sebagai utusan Allah, tidak saja berperan sebagai seorang dai
yang menyebarkan ajaran agama, tetapi juga berperan sebagai seorang
pembaharu dalam segala bidang.

Dalam bidang politik misalnya, Nabi Muhammad saw. merubah dari sistem
pemerintahan kesukuan menjadi sistem kekhalifahan, yang menyatukan seluruh
suku dan bangsa Arab yang tadinya saling bermusuhan dan saling menguasai,
menjadi satu di bawah kekhalifahan. Dalam bidang ekonomi, beliau merubah
sistem jual beli yang konvensional menjadi sistem jual beli yang diatur dengan
sistem syariah, dengan mengharamkan riba dan segala bentuk jual beli yang
merugikan orang lain.

Dalam bidang pendidikan, yang tadinya masyarakat Arab kurang tertantang


untuk mencari ilmu pengetahuan, setelah Islam datang Rasulullah menganjurkan
dalam berbagai macam sunnahnya agar menuntut ilmu dan bahkan Rasulullah
menyamakan derajat orang yang menuntut ilmu dengan orang yang berjihad di
jalan Allah. Misalnya Rasulullah saw. Bersabda, “Carilah ilmu walaupun sampai ke
negeri China”, “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi orang mukmin laki-laki
dan perempuan” dan sebagainya. Karena itu, dalam waktu singkat, ilmu
pengetahuan pada masa Islam klasik, berkembang dengan cepat melampaui
bangsa-bangsa lain, hingga Islam menemui masa keemasannya.

Intinya, bahwa kedatangan Islam di jazirah Arab telah mampu merubah segala
sesuatu yang bersifat buruk, kolot, tertinggal dan konservatif, menjadi sebuah
komunitas yang maju, inovatif, pandai, terpelajar dan modern, hingga kota Yatsrib
yang tadinya adalah kota mati, kumuh dan tertinggal, dirubah namanya menjadi
Madinah, yang berarti “kota” yang maju, besar dan indah.

Dengan demikian sebenarnya Islam adalah agama transformatif, yiatu agama


yang memiliki semangat untuk mentransformasikan masyarakat dari kegelapan
menuju cahaya, dari kemiskinan menjadi kaya, dari terbelakang menjadi maju,
dari masyarakat yang tidak beradab menjadi masyarakat yang beradab, dari
masyarakat yang bodoh menjadi pandai, dari masyarakat yang kacau menjadi
tertib dan sebagainya. Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk bersifat
statis, kumuh, kolot, eksklusif dan sebagainya, terutama dalam masalah urusan
dunia. Sedangkan dalam masalah akidah, ada hal-hal tertentu yang memang
harus bersifat eksklusif. Tetapi untuk masalah yang berkaitan dengan urusan
dunia, asalkan tidak bertentangan dengan syariat, maka Islam tidak pernah
melarang untuk mengembangkannya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa kemudian masih muncul kelompok


muslim yang konservatif, kolot dan eksklusif? Siapa yang salah, agama Islamnya
ataukah orang islamnya yang salah dalam memahami Islam?
Sejak kedatangannya, Islam telah melakukan transformasi besar-besaran
terhadap masyarakat Islam, dalam berbagai bidang seperti yang telah dipaparkan
di atas, mulai dari dalam bidang moralitas hingga peradaban. Jika semangat
transformasi Islam ini terus dikibarkan dalam dunia Islam, seharusnya tidak ada
lagi kebodohan dalam dunia Islam, tidak ada lagi kemiskinan, tidak ada lagi
kekumuhan, tidak ada lagi sifat-sifat kegelapan lainnya yang pada saat ini
melanda dan menggelayuti umat Islam, karena dengan berislam mestinya
mereka telah melakukan transformasi, baik secara individu maupun kelompok,
kepada sesuatu yang lebih baik. Akan tetapi, jika kenyataannya umat Islam
sekarang berada pada kondisi sebaliknya, dalam keterpurukan, tertinggal, bodoh,
kolot dan sebagainya, berarti semangat transformasi Islam yang telah
dihembuskan sejak pertama kali diperkenalkan kepada umat manusia itu, telah
ditinggalkan oleh umat Islam sendiri. Karena itu, bila umat Islam ingin mengambil
kembali masa kejayaannya, mereka harus memanggil kembali semangat
transformasi Islam itu ke dalam dunia mereka dan mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga mereka terbebas dari sifat-sifat kegelapan itu.
Karena pada dasarnya, dengan transformasi itu, umat Islam tidak akan terjebak
lagi dalam kegelapan dan keterpurukan, seperti yang kita alami bersama dewasa
ini. Wallahu a’lam bishawab.

Sejak Pertama kali Islam datang