Anda di halaman 1dari 72

Vol.

16/XXII/Maret 2010

ISSN 2085-871X

Topik Utama:
Pemberantasan Korupsi dan
Penegakan Hukum di Indonesia
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

PPI JEPANG
Membuka Dunia Untuk Indonesia
dan
Membuka Indonesia Untuk Dunia

Majalah INOVASI
ISSN: 2085-871X
Volume 16/XXII/Maret 2010

Halaman
EDITORIAL
Perang Tanpa Akhir Melawan Korupsi (Murni Ramli) 2
TOPIK UTAMA
1. Paradigma Baru Pemberantasan Korupsi di Indonesia (Azhar) 4
2. Quo Vadis Pemberantasan Mafia Peradilan, (Pan Mohamad Faiz) 14
IPTEK & INOVASI
Mikroenkapsulasi dalam Industri Pangan (Vita Paramita) 19
NASIONAL
Pengawasan Terhadap Aparatur Negara Pasca Reformasi (Oce Madril) 28
KESEHATAN
Cardiac Biopacemaker (Udin Bahrudin) 36
HUMANIORA
1. Kontribusi Pemahaman Budaya dalam Penafsiran Majas Metafora Bahasa 43
Jepang (Didik Nurhadi)
2. Ekor Verba -u/-ru sebagai Konstituen Penyambung, Sebuah Pemikiran (Roni) 49
CATATAN RISET
Legal Stipulation of Educational Personnel in Indonesia and Its 56
Implementation (Murni Ramli)
KILAS RISET
Terapi Sel Punca, Harapan yang Menjanjikan (Udin Bahrudin) 67
REDAKSI
Panduan Penulisan Naskah untuk Majalah Inovasi 68
Susunan Dewan Editor 71

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 1
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

EDITORIAL

Perang Tanpa Akhir Melawan Korupsi

Murni Ramli
Editor Utama

Seorang teman bercerita bahwa anaknya mulai pandai menggunakan uang untuk menyogok
teman-temannya. Si kecil sering meminta dibelikan alat-alat tulis atau makanan kecil yang
ternyata dibagikannya kepada teman-temannya supaya dia tetap diajak sebagai anggota
kelompok/geng bermain. Anak-anak mengenal penyalahgunaan uang secara alami dan tidak
ada yang dapat memahamkannya bahwa tindakan tersebut adalah tindakan negatif jika orang
dewasa tidak turun tangan.

Kasus penyalahgunaan uang dan kekuasaan bukan wacana yang muncul pada era modern
saja, tetapi dan dapat diduga bahwa penyalahgunaan hukum dan jabatan di dunia lahir
semenjak manusia mengenal uang dan kekuasaan. Demikian pula kasus pelanggaran hukum
muncul sejak hukum itu belum dibuat dan apalagi setelah diberlakukan.

Peperangan melawan tindakan kejahatan melalui penyusunan sistem perundangan dan hukum
seakan dua sisi yang senantiasa beriringan. Ketika ada pelanggaran, hukum dibuat, dan segera
setelah hukum baru diberlakukan muncullah jenis dan bentuk pelanggaran yang baru. Hukum
dan perundangan adalah salah satu tameng antisipasi munculnya pelanggaran yang
berketerusan, oleh karenanya mutlak diadakan sekalipun para pelaku dan penontonnya
mungkin sudah jenuh.

Kasus makelar korupsi “Gayus Tambunan” yang berhasil terungkap bulan Maret 2010 adalah
sebuah gambaran tentang ketidakoptimalan niatan aparat hukum dan pemegang jabatan untuk
membangun pemerintahan yang bersih. Slogan anti korupsi, kabinet bersih, pejabat bersih
hanya terpahami dengan baik oleh sebagian pejabat. Semangat untuk membangun Indonesia
dan keberpihakan kepada rakyat jelas hanya dimiliki oleh segelintir orang yang sedihnya
barangkali bukan kalangan yang memiliki kekuasaan dan penentu kebijakan.

Berbagai kasus penyalahgunaan uang dan kekuasaan yang terjadi di Indonesia utamanya
dilakukan oleh pihak-pihak yang justru memahami seluk beluk hukum atau bahkan aparat
penegak hukum sendiri. Ketidakmulusan proses penegakan hukum itu bukan karena
perundangan atau produk hukum yang tidak sempurna, tetapi cenderung karena lemahnya
mental manusia yang menjalankan hukum tersebut.

Inovasi Online edisi 16 mengangkat tema pemberantasan korupsi dan penegakan hukum di
Indonesia. Dua tulisan dalam Topik Utama membeberkan masalah mafia hukum dan
pemberantasan korupsi di Indonesia. Pan Mohamad Faiz menjabarkan betapa peliknya upaya
penegakan hukum dan sulitnya memberantas mafia hukum di lembaga peradilan di Indonesia.
Azhar menuliskan kasus korupsi dan paradigm baru penanganannya.Sebuah tulisan juga
ditampilkan dalam rubrik Nasional terkait tema yang dipaparkan oleh Oce Madril yaitu tentang
perlunya lembaga Ombudsman dalam rangka menjalankan fungsi pengawasan aparatur
negara di era reformasi.

Selain tulisan tersebut, Inovasi Online edisi ini juga menampilkan tulisan Udin Bahrudin tentang
Cardiac Biopacemaker yang menyoroti upaya pembuatan alat pacu jantung biologis melalui
metoda rekayasa genetika, sebagai alternatif pemakaian alat pacu jantung elektrik yang selama
ini dikenal. Tulisan lain dalam bidang iptek dan inovasi ditulis oleh Vita Paramita tentang upaya
memperpanjang masa simpan makanan olahan melalui teknik mikroenkapsulasi.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 2
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Rubrik Humaniora kali ini menyajikan dua tulisan bertema linguistik. Keduanya menampilkan
wacana pemahaman majas dalam bahasa Jepang dengan mengaitkannya dengan pemahaman
budaya yang ditulis oleh Didik Nurhadi, dan Roni menuliskan sebuah pemikiran tentang
penggunaan konstituen penyambung dalam bahasa Jepang.

Rubrik Catatan Riset menampilkan hasil penelitian tentang peraturan perundangan tentang
peningkatan kompetensi pendidik di Indonesia. Tulisan ini menyoroti perundangan yang melatar
belakangi sertifikasi guru di Indonesia dan sekaligus implementasinya. Pada bagian akhir
disajikan Kilas Riset yang mengulas hasil riset dibidang sel punca untuk kedokteran regeneratif.

Selamat membaca.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 3
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
TOPIK UTAMA

Paradigma Baru Pemberantasan Korupsi di Indonesia


Azhar
Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya
E-mail: aazhar_2000@yahoo.com

1. Pendahuluan

Yang dimaksud dengan tindak pidana korupsi adalah ”setiap orang yang secara melawan
hukum,melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan
atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.”1

Tindak pidana korupsi dapat digolongkan menjadi tujuh macam yaitu2:


a. perbuatan yang merugikan keuangan negara.3
b. suap menyuap.4
c. penggelapan dalam jabatan.5
d. Pemerasan. 6
e. perbuatan curang.7
f. benturan kepentingan dalam pemborongan, pengadaan atau persewaan barang dan
jasa.8 .
g. gratifikasi.9 .

Menurut Syed Hussien Alatas dalam bukunya The Sociology of Corruption bahwa korupsi
bercirikan antara lain: 1) Korupsi selalu melibatkan lebih dari satu orang. Biasanya ada
persetujuan secara rahasia di antara pegawai yang terkait dengan si pemberi hadiah, dan di
kalangan pegawai yang melakukan korupsi ada pengertian tersendiri; 2) Pada umumnya
korupsi adalah suatu rahasia, kecuali di tempat yang sudah biasa dilakukan dan merajalela
serta mengakar, sehingga setiap individu yang melakukannya sudah tidak menghiraukan lagi
untuk melindungi perbuatan mereka dari khalayak ramai; 3) Korupsi melibatkan kewajiban dan
keuntungan timbal balik bisa berupa uang atau bukan. Korupsi secara sederhana dapat
diartikan sebagai “penggunaan fasilitas publik untuk kepentingan pribadi dengan cara
melawan hukum.”10

Berdasarkan laporan tahunan dari lembaga internasional yang ternama, Political and Economic
Risk Consultancy (PERC) yang bermarkas di Hongkong dalam hasil surveinya tahun 2001,
Indonesia adalah negara yang terkorup nomor tiga di dunia bersama Uganda. Indonesia juga
terkorup nomor 4 pada tahun 2002 bersama Kenya. Pada tahun 2005 PERC mengemukakan

1
Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
2
Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 juncto Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan
Korupsi.
3
Pasal 2 dan 3.
4
Pasal 5 (1) a,b, 5 (2) 6 (1) a,b, 6 (2) , 11, 12 (a,b,c,d) dan 13.
5
Pasal 8,9,10 (a,b,c).
6
Pasal 12 (e,f,g).
7
Pasal 7 (1) a,b,c,d, 7 (2), 12 (h).
8
Pasal 12 (i).
9
Pasal 12B juncto Pasal 12 c ).
10
Hamilton-Hart, Natasha. 2001. Anti Corruption Strategies in Indonesia. Bulletin of Indonesian
Economic Studies 37(1):65:82.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 4
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

11
bahwa Indonesia masih urutan pertama sebagai negara terkorup di Asia (Tabel 1).
Transparency International menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup nomor 5 dalam
12
hasil surveinya yang melibatkan negara ASEAN (Tabel 2). Jika kita lihat dalam kenyataan
sehari-hari korupsi hampir terjadi di setiap tingkatan dan aspek kehidupan masyarakat. Mulai
dari administrasi yang sangat mendasar seperti membuat kartu tanda penduduk dan kartu
13
keluarga.

Tabel 1. Skor Korupsi di 12 Negara Asia


Negara Skor Peringkat
Indonesia 9.92 1
India 9.17 2
Vietnam 8.25 3
Philipines 8 4
Cina 7 5
Taiwan 5.83 6
Korsel 5.75 7
Malaysia 5.71 8
Hongkong 3.33 9
Jepang 3.25 10
Singapura 0.9 11
Sumber: Political and economic Risk Consultancy Tahun 2005.

Tabel 2. Index Persepsi Korupsi Negara ASEAN


Peringkat Negara IPK
3 Singapura 9.2
56 Malaysia 4.5
84 Thailand 3.4
111 Indonesia 2.8
120 Vietnam 2.7
139 Philipines 2.4
158 Laos 2.0
158 Kamboja 2.0
178 Myanmar 1.3
Sumber: Survei Transparency International 2009.

Tanpa disadari korupsi muncul dari kebiasaan yang dianggap lumrah dan wajar seperti
memberi hadiah kepada sanak saudara, teman, dan tetangga. Kebiasaan ini dibawa ke ranah
kedinasan dengan memberi hadiah kepada pegawai negeri/pejabat sebagai imbal jasa sebuah
pelayanan. Penyalahgunaan budaya ketimuran ini, lama-lama menjadi bibit-bibit korupsi yang
nyata. Di samping itu sistem pengawasan dan peraturan yang ada memberi kesempatan untuk
melakukan korupsi. Sehingga hal ini mendorong para pegawai negeri/pejabat mencari
tambahan dengan memanfaatkan fasilitas publik.

Bank Dunia mengungkapkan bahwa korupsi di Indonesia terjadi di mana-mana, diberbagai


tingkatan golongan pegawai negeri sipil, tentara, polisi dan politisi bahkan sudah melanda

11
Harian Kompas, 19 Maret 2005. www.kompas.com
12
Transparency International. www.transparancy.org
13
Harian Kompas 28 Januari 2009. www.kompas.com. Penilaian dari Forum Warga Kota
Jakarta (Fakta) Tersebut didasarkan atas hasil Survei terhadap 350 responden di Jakarta
Tentang berbagai masalah Kependudukan dan Pemerintahan.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 5
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

kelembagaan seperti kepolisian, kejaksaan, peradilan, dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
14
yang seharusnya berfungsi untuk memberantas korupsi.

Tulisan ini akan membahas tentang permasalahan dan tantangan dalam pemberantasan
korupsi di Indonesia, Kemudian, mengulas tentang Komisi Pemberantasan Korupsi dan
wewenangnya, Selain itu perlunya paradigma baru pemberantasan korupsi dalam rangka
mewujudkan Indonesia yang bebas dari korupsi.

2. Permasalahan Pemberatasan Korupsi di Indonesia

Selama ini pemberantasan korupsi di Indonesia dilakukan dan menjadi tanggung jawab instansi
pemerintah, peradilan, kepolisian, kejaksaan yang dikenal dengan Sistem Peradilan Pidana
(SPP) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Di instansi pemerintah dari tingkat kabupaten dan kota hingga departemen di pemerintahan
pusat dibentuk inspektorat yang bertugas mengawasi apabila terjadi penyalahgunaan
wewenang dan korupsi terhadap uang negara. Namun, pada kenyataannya lembaga yang
bernama inspektorat ini tidak mampu memberantas korupsi dan bahkan terjebak dalam korupsi
tersebut dan terkesan melindungi para koruptor di lingkungannya dari pihak kepolisian dan
kejaksaan, sehingga sulit untuk diajukan ke pengadilan. Dengan demikian pemerintahan yang
berdasarkan hukum, meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas terhadap pelayanan pada
15
masyarakat dan memerangi korupsi tinggal harapan belaka. Hal tersebut berdasarkan
kenyataan bahwa kualitas birokrasi di Indonesia masih sangat buruk. Survei Political and
Economic Risk Consultancy tahun 2005 menunjukkan bahwa kualitas birokrasi Indonesia
menempati urutan kedua terburuk di Asia dengan skor 8.2 (Skala nilai berkisar dari 0 paling
16
baik hingga 10 paling buruk).

Peradilan di Indonesia yang diharapkan akan menjadi benteng terakhir dalam rangka
pemberantasan korupsi di Indonesia malah menjadi salah satu lembaga terkorup yang dikenal
dengan mafia peradilannya. Salah seorang Hakim Agung mengakui masih maraknya mafia
17
peradilan..”Mafia peradilan itu seperti buang angin, tak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan."
Almarhum mantan Presiden Republik Indonesia mengatakan bahwa ”sistem peradilan kita
18
masih bisa dibeli.” Jual beli perkara terhadap putusan telah terjadi di berbagai tingkatan dari
Pengadilan Negeri (PN), Pengadilan Tinggi (PT) dan bahkan di Mahkamah Agung (MA).
Sehingga lembaga ini tidak bisa diharapkan untuk memberantas korupsi.

Kejaksaan merupakan salah satu bagian dari Sistem Peradilan Pidana di Indonesia. Lembaga
ini sering mengejutkan masyarakat Indonesia. Mafia di kejaksaan tidak hanya terjadi di
lingkungan Kejaksaan Negeri, Kejaksaan Tinggi, tetapi juga di tingkat Kejaksaan Agung.
Reputasi institusi kejaksaan dipermalukan dengan tertangkaptangannya Jaksa Urip Tri
Gunawan yang menerima suap dari Artalita Suryani (Ayin). Jaksa Urip dihukum 20 tahun
19
penjara dan menyeret Kemas Yahya Rahman, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus,
Untung Uji Santoso, Jaksa Agung Muda Tata Usaha Negara, M. Salim, Direktur Penyidikan ke
meja hijau. Mereka dicopot dari jabatannya, termasuk bekas Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta
20
Timur Djoko Widodo yang dijatuhi hukuman teguran tertulis.

14
Harian Kompas. 21 Oktober, 2003. www.kompas.com
15
Camdessus, Michel. 1999.
16
Harian Kompas, 26 Mei 2006.
17
Kompas 16 Oktober 2008. www.kompas.com
18
Tempo Interaktif, www.tempo.co.id. 4 Januari 2009.
19
Tempo Interaktif, www.tempo.co.id. 4 September 2008.
20
Tempo Interaktif, 22 Desember 2008. http://www.tempo.co.id

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 6
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Kemudian pada tahun 2009 rakyat Indonesia dikejutkan dengan rekaman pembicaraan yang
melibatkan Anggodo Widjojo dan Abdul Hakim Ritonga, Wakil Jaksa Agung di hadapan sidang
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Dimana isi pembicaraan untuk kriminalisasi Bibit dan
Chamzah, Ketua KPK. Hal ini menuai kritikan dari berbagai lapisan masyarakat dan memaksa
21
Wakil Jaksa Agung mengundurkan diri.

Kepolisian pun mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat Indonesia. Sehingga ada
ungkapan bahwa “kalau seseorang kehilangan seekor ayam, lalu mengadu ke polisi, bukan
ayam yang kembali akan tetapi menambah kerugian menjadi kehilangan kambing.” Korupsi
yang berkembang di lembaga kepolisian dari hal yang sangat kecil seperti pengurusan surat
izin mengemudi, pelanggaran lalu lintas, hingga illegal logging, perjudian, bisnis narkoba, obat
bius, perampokan, penyelundupan sudah biasa dilakukan oleh oknum aparat kepolisian.

Masyarakat yang mengalami tindak kejahatan cenderung untuk tidak melaporkan ke polisi
karena adanya rasa takut, prosesnya berbelit belit, makan waktu dan bisa jadi diperas oleh
oknum polisi. Masih dalam ingatan tentang keterlibatan beberapa Jenderal Markas Besar
Kepolisian dalam kasus penyidikan Bank Negara Indonesia (BNI). Karena tersangka kasus
22
pembobolan BNI menyebutkan ada tiga jenderal terlibat, kasus ini menyeret dan berakhir
dengan dihukumnya Komisaris Jenderal Suyitno Landung selama 18 bulan penjara, dan
mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polisi Republik Indonesia
23
(Kabareskrim Mabes Polri). Sedangkan Brigadir Jenderal Samuel Ismoko, Direktur Ekonomi
24
Khusus pada Bareskrim Mabes Polri divonis selama 15 bulan. Demikian pula Komisaris Polisi
25
Imam Santoso dan 16 penyidik di Mabes Polri dihukum.

Dengan demikian, peradilan, kejaksaan, dan kepolisian bukanlah merupakan lembaga yang
bisa diharapkan untuk memerangi korupsi karena banyak oknum di lembaga ini yang
melakukan korupsi.

Tidak adanya kesungguhan dan komitmen dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) selaku
pemegang legislasi terhadap pemberantasan korupsi menyebabkan korupsi berkembang biak
tanpa terkendali. Media massa maupun Indonesian Corruption Watch mengungkapkan bahwa
mayoritas anggota DPR dari berbagai partai telah menerima suap dari lembaga pemerintah dan
26
sektor swasta untuk menentukan atau memasukkan anggaran. Lebih lanjut, komisi tertentu
di DPR yang berhubungan dengan anggaran dan pembangunan merupakan tempat basah
yang bisa terjadinya transaksi suap untuk meluluskan anggaran. Masih belum hilang dalam
ingatan kita, tiga anggota DPR RI dikenai sanksi oleh Badan Kehormatan (BK) DPR karena
terlibat pencaloan proyek dana bencana alam yang dianggarkan pemerintah tapi mereka hanya
27
dikenakan sanksi ditarik oleh fraksinya dari anggota Panitia Anggaran DPR. Kemudian
pemborosan uang rakyat yang dilakukan 15 anggota DPR RI dengan cara melakukan
kunjungan mubazir ke Mesir dengan kedok studi banding tentang perjudian mencengangkan
rakyat karena di berbagai tempat di Indonesia sedang ditimpa bencana alam seperti gempa
bumi, tsunami yang belum selesai penanggulangannya dan shock karena kenaikan BBM yang
28
lebih dari seratus persen pada tahun 2005. Belum termasuk banyaknya anggota DPR yang
masuk penjara karena terlibat kasus korupsi.

21
Tempo Interaktif, 5 November 2009.http://www.tempo.co.id
22
Jawa Pos, 29 desember 2005. www.jawapos.com
23
Kompas, 10 Oktober 2006. www.kompas.com
24
DetikNews, 11 Februari 2007. www.detknews.com
25
Jawa Pos, 8 Januari 2006. www.jawapos.com
26
StraitTimes, 29 November 2001. www.staritimes.asial.com
27
Kompas, 14 Desember 2005. www.kompas.com
28
Antara, Desember 2005. www.antara.co.id

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 7
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Survei yang dilakukan Gallup International yang dilansir oleh Todung Mulya Lubis, Ketua
Dewan Transparency Internasional Indonesia, dalam rangka memperingati hari anti korupsi
menyebutkan bahwa partai politik merupakan lembaga terkorup sedangkan Dewan Perwakilan
29
Rakyat di Indonesia menjadi lembaga terkorup kedua bersama polisi, dan bea cukai.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tidak kalah bersaing dalam menandingi jejak DPR
RI melakukan money politic dan korupsi. Bahkan beberapa anggota DPRD bersama-sama
dengan pemerintah daerah menjual aset pemerintah daerah ke pihak swasta dengan harga di
basah standar Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), begitu juga korupsi yang dilakukan dalam
30
menggunakan dana operasional. Hal tersebut di atas, menyebabkan masyarakat Indonesia
menaruh harapan yang sangat besar terhadap institusi baru yang mempunyai tugas khusus
memberantas korupsi yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi.

3. Komisi Pemberantasan Korupsi dan Wewenangnya

Sebagai salah satu motor penggerak pemberantasan korupsi, Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat
31
independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan manapun (Pasal 3). Tujuan dibentuknya
KPK tidak lain adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya
pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK dibentuk karena institusi kepolisian, kejaksaan,
peradilan, dan Dewan Perwakilan Rakyat tidak berjalan sebagaimana mestinya, bahkan larut
dan terbuai dalam korupsi itu sendiri. KPK mempunyai kewenangan yang luar biasa, sehingga
kalangan hukum menyebutnya sebagai lembaga super (super body). Kewenangan yang luar
biasa seperti yang diatur dalam Pasal 6 butir b,c,d dan e Undang-undang Nomor 30 tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Korupsi bahwa lembaga ini dapat bertindak mulai dari:
a. mensupervisi instansi yang berwenang melakukan tindak pidana korupsi;
b. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
c. melakukan tindak pencegahan tindak pidana korupsi, dan
d. memonitor penyelenggaraan pemerintahan negara.

Ini berarti dalam menangani kasus korupsi, KPK diberi kewenangan memperpendek jalur
birokrasi dan proses dalam penuntutan. KPK mempunyai dua peranan yaitu menjalankan
tugas kepolisian dan kejaksaan yang selama ini tidak berdaya dalam memberantas korupsi.

KPK juga berwenang untuk melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap
instansi yang menjalankan tugas dan wewenang yang berkaitan dengan pemberantasan
32
korupsi dan terhadap instansi yang melaksanakan pelayanan publik. Selanjutnya, KPK
33
mengambil alih kasus korupsi yang ditangani kepolisian atau kejaksaan apabila :
a. laporan masyarakat mengenai tindak pidana korupsi tidak ditindaklanjuti
b. proses penanganan tindak pidana korupsi tidak ada kemajuan/berlarut-larut/tertunda
tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan
c. penanganan tindak pidana korupsi ditujukan untuk melindungi pelaku korupsi yang
sesungguhnya
d. penanganan tindak pidana korupsi mengandung unsur korupsi
e. adanya hambatan penanganan tindak pidana korupsi karena campur tangan eksekutif,
yudikatif atau legislatif, atau
f. keadaan lain yang menurut pertimbangan kepolisian atau kejaksaan, penanganan
tindak pidana korupsi sulit dilaksanakan secara baik dan dapat dipertanggung jawabkan.

29
Kompas, 23 Desember 2005. www.kompas.com
30
Sriwijaya Post, 3 januari 2005. www.indomedia.com
31
UU No30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
32
Pasal 8 ayat 1 Undang-undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi
33
Pasal 9 Undang-undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 8
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

KPK juga berwenang untuk melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak pidana
34
korupsi yang :

a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara dan orang lain yang ada
kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum
dan penyelengara negara
b. mendapat perhatian dan meresahkan masyarakat,dan /atau
c. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp1.000.000.000 (satu milyar rupiah).

Untuk memberantas tindak pidana korupsi yang dikategorikan sebagai tindak pidana luar biasa
35
(extra ordinary crime), maka KPK diberi tambahan kewenangan yang lain, yaitu :

a. melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan


b. memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang berpergian ke
luar negeri
c. meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan
keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa
d. memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir
rekening yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain yang
terkait
e. meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada instansi
terkait
f. menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan
perjanjian lainnya atau pencabutan sementara perizinan, lisensi serta konsensi yang
dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau terdakwa yang diduga berdasarkan bukti
awal yang cukup ada hubungan dengan tindak pidana korupsi yang sedang diperiksa
g. meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum negara lain untuk
melakukan pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti luar negeri
h. meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakukan
penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara tindak pidana
korupsi yang sedang ditangani.

Selain itu, berdasarkan Pasal 40 UU No 30/2002 tentang KPK, maka KPK tidak berwenang
mengeluarkan SP3 untuk menghindari adanya main mata antara tersangka dan penyidik di
KPK. Dengan kewenangan yang super tersebut, KPK diharapkan mampu mengeliminasi
korupsi secara konseptual dan sistematis.

4. Paradigma Baru dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia

Pemberantasan tindak pidana korupsi yang dilakukan hingga saat ini menggunakan paradigma
lama yaitu dengan penekanan pada penindakan semata-mata. Mengandalkan kemampuan
Komisi Pemberantasan Korupsi untuk memberantas korupsi di Indonesia adalah sesuatu yang
sangat sulit untuk dicapai. Hal ini dapat dilihat pada data tahun 2008, ketika KPK menerima
8.000 pengaduan. Dari jumlah tersebut yang diselidiki hanya sebanyak 70 kasus dan 43
perkara yang sedang dalam proses penuntutan, 7 perkara telah berkekuatan hukum tetap, dan
36
21 perkara telah dieksekusi. Dari jumlah pengaduan dibanding dengan yang diselidiki,
diproses, berkekuatan tetap sangat kecil sekali persentasinya. Masih banyak lagi kasus korupsi
yang terjadi dan belum dilaporkan. Di samping itu timbul dampak negatif yaitu egoisme dan

34
Pasal 11 Undang-undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi
35
Pasal 12 Undang-undang No. 30 Tahun tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
36
Harian Koran Koran tempo, 31 Desember 2008, hal. A6.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 9
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

persaingan kelembagaan yang kontraproduktif dan saling menjatuhkan. Seperti kasus ”Cicak
melawan Buaya,” kasus ”celekai mencelakai” antarpimpinan lembaga.

Oleh karena itu pemberantasan korupsi di Indonesia harus menggunakan paradigma baru
yaitu tidak hanya penekanan pada penindakan tetapi juga dibarengi dengan tindakan preventif.
Pemberantasan korupsi perlu ditingkatkan secara profesional, secara menyeluruh, intensif,
berkesinambungan, terpadu dan melibatkan para pemangku kepentingan. Pemberantasan
korupsi di Indonesia akan menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang maha dahsyat
tanpa melibatkan mereka. Para koruptor maupun calon koruptor akan melakukan segala daya
upaya untuk mencegat dan mencegah usaha pemberantasan korupsi, dan melindungi jangan
sampai aksi korupsinya terbongkar. Bila perlu meminjam kewenangan para penguasa.

KPK dapat melaksanakan perannya secara optimal apabila didukung oleh keinginan dan
tindakan yang nyata dari pemerintah, masyarakat, pengusaha, akademisi, pengacara,
kepolisian, kejaksaan dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemberantasan korupsi. Dukungan
pemerintah bukan hanya dengan retorika dan tebar pesona, tetapi harus ada keinginan
(political will), tindakan dan harus sejalan antara perkataan dan perbuatan. Apa yang telah dan
sedang dilakukan KPK adalah memotong puncak gunung es, sedangkan gunung esnya sendiri
masih kekar dan mengakar ke dalam. Hal ini dapat dilihat dari fakta di masyarakat dan berbagai
hasil survei yang dilakukan lembaga independen dalam dan luar negeri, maupun KPK sendiri.
Paradigma baru pemberantasan korupsi di Indonesia dilaksanakan dengan cara melakukan
langkah-langkah sebagai berikut:

Berdasarkan kebijakan korupsi KPK tahun 2008-2011 yang pertama dikatakan bahwa ” Korupsi
adalah kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara komprehensif dan
37
melibatkan semua pihak (everyone business), konsisten, dan berkesinambungan.” Namun,
dalam kenyataan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih tebang pilih. Banyak
kasus korupsi yang sudah jelas statusnya dilihat dari segi pembuktian akan tetapi ditelan bumi.
Berdasarkan survei Litbang Media Group tanggal 17 Juni 2008, mayoritas publik (58%)
responden menilai KPK tebang pilih sedangkan hanya 29% yang menilai sebaliknya. KPK
harus mengevaluasi kinerjanya sehingga dapat memperbaiki diri dan dengan sendirinya akan
menghilangkan penilaian tebang pilih dari masyarakat.

Kebijakan kedua bahwa ”KPK merupakan lembaga yang disegani dan dihormati, bukan
38
ditakuti.” Apakah tujuan untuk menjadikan KPK menjadi suatu institusi yang disegani dan
dihormati sudah tercapai? Di mas media dan pembicaraan orang ramai bahwa KPK adalah
institusi yang paling ditakuti. Hal ini terjadi juga dilingkungan penyelenggara negara dan
pemerintahan. Banyak aparat yang menahan diri untuk menjadi bendaharawan proyek karena
ketakutan terhadap KPK. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kallah pada tahun 2006 mengatakan
bahwa pemberantasan korupsi menimbulan ketakutan yang mengakibatkan melambatnya roda
pertumbuhan ekonomi. Nampaknya tujuan untuk menjadikan KPK menjadi institusi yang
disegani dan dihormati belum tercapai. Untuk itu KPK harus melakukan tindakan yang nyata
dalam rangka menjadikan institusi KPK disegani dan dihormati baik oleh institusi penegak
hukum lainnya seperti kepolisian, kejaksaan dan peradilan maupun para pemangku
kepentingan. Dalam hal ini diperlukan sistem, kebijakan, dan peraturan yang jelas dan terpadu
sehingga dapat membuat orang nyaman melakukan aktivitas ekonomi dan mendorong
pertumbuhan ekonomi
39
Kebijakan ketiga ”KPK mengedepankan tidakan pencegahan.” , Upaya pencehagan korupsi
secara formal baru dimulai pada Maret tahun 2009 dangan adanya permintaan KPK Ke

37
Rencana Strategik Komisi Pemberantasan Korupsi 2008-2011.
38
Rencana Strategik Komisi Pemberantasan Korupsi 2008-2011.
39
Rencana Strategik Komisi Pemberantasan Korupsi 2008-2011.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 10
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Departemen Pendidikan Nasional dan dinas pendidikan diberbagai daerah untuk menyisipkan
pendidikan anti korupsi dalam setiap mata pelajaran di pulau Jawa. Seharusnya dari awal
berdirinya KPK tidak hanya mengedepankan penindakan tetapi juga pencegahan.

Tindakan pencegahan dapat berupa reformasi birokrasi, karena untuk membasmi korupsi yang
penting bukan hanya menangkap koruptor atau dengan refresi, tetapi, lebih dari itu, perbaikan
sistem yang memungkinkan orang atau malah menjerumuskan orang atau memaksa orang
untuk melakukan korupsi. Membangun sistem pemerintahan yang transparan, berintegritas dan
akuntabel adalah suatu keharusan.

Meningkatkan demokrasi dan menguatkan masyarakat sipil, meningkatan kebebasan pers


yang bertanggung jawab sebagai pilar demokrasi yang keempat dan melibatkan pemangku
kepentingan lainnya. Dalam hal ini masyarakat pada umumnya, pemerintah, pengusaha,
kalangan akademisi, pengacara, anggota DPR dan DPD, aparat penegak hukum (hakim, jaksa,
dan polisi), dan organisasi swadaya masyarakat. Karena korupsi melibatkan lebih dari satu
orang pelaku korupsi dan sumber korupsi berasal dari para pemangku kepentingan tersebut.

Mereformasi secara menyeluruh di bidang hukum seperti lembaga peradilan dan sistem
peradilan pidana di Indonesia. Menghilangkan celah-celah terjadinya mafia peradilan dan para
koruptor serta harmonisasi antara undang-undang yang satu dengan yang lainnya.

Menanamkan, membentuk dan meningkatkan nilai-nilai antikorupsi melalui pendidikan baik


formal yang sedang dirintis KPK, maupun non-formal. Selain itu yang lebih penting lagi adalah
dengan memberikan contoh dan praktek yang nyata di lingkungan institusi pendidikan dasar
hingga pendidikan tinggi bahkan pada tingkatan tadika secara berkesinambungan. Para pejabat
tinggi negara harus memberikan contoh teladan kepada bawahan dan masyarakat nilai-nilai
antikorupsi seperti yang dilakukan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew.
Sehingga bawahan dan masyarakat menghormati, segan dan takut untuk melakukan korupsi.

Meningkatkan kerjasama di antara instansi penegak hukum dan instansi lain seperti KPK,
kepolisian, kejaksaan, peradilan dan badan pemeriksa keuangan untuk menyatukan tindakan
dan sikap dalam memberantas korupsi. Sehingga timbul gerakan yang masif, dinamis dan
harmonis dan menghindari dari egoisme dan revalitas kelembagaan.

Melakukan proaktif investigasi (deteksi) untuk mengenali dan memprediksi kerawanan korupsi
dan potensi masalah penyebab korupsi secara periodik untuk disampaikan kepada masyarakat.

Melakukan perbaikan sistem rekruitmen pegawai, sistem layanan masyarakat, anggaran,


administrasi, karir, dan gaji di lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Meningkatkan integritas
dan efektifitas fungsi pengawasan pada masing-masing instansi melalui rekstrukturisasi
kedudukan tugas dan fungsi unit/lembaga. Melakukan kajian sistem administrasi negara dan
pengawasan terhadap lembaga negara/pemerintahan secara selektif untuk dibenahi sehingga
dapat meminimalisasi ruang untuk korupsi.

Peningkatan integritas pegawai negeri melalui penciptaan bersama sistem pengukuran kinerja,
penegakan kode etik pegawai atau peraturan kepegawaian.

Memasyarakatkan pemberantasan korupsi secara komprehensif dan melibatkan semua pihak,


konsisten dan berkesinambungan. Harus ditanamkan dalam mindset masyarakat Indonesia
bahwa korupsi itu adalah kejahatan yang harus diberantas dan sangat berbahaya bagi
kelangsungan hidup setiap orang.

Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya korupsi dan mendorong masyarakat


untuk melaporkan tindak pidana korupsi ke KPK, jika mereka terlibat dan mengetahui langsung

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 11
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

adanya tindak pidana korupsi sesuai dengan Pasal 16 UU No 30 tahun 2002 Tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berbunyi: ”Setiap pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang menerima gratifikasi wajib melaporkan kepada Komisi
Pemberantasan Korupsi.”

Memasyarakatkan penggunaan e-government untuk menghindari kontak fisik antara pengguna


jasa pemerintah dan pelayan masyarakat di pemerintahan begitu juga dalam hal proses
pengajuan tender di pemerintahan. Sehingga menutup lobang untuk terjadinya korupsi.

Meningkatkan taraf hidup dan pendapatan masyarakat dengan cara mendorong dunia usaha
dan masyarakat membangun dan membuka lapangan kerja baru. Hal ini sangat mempengaruhi
pemberantasan korupsi. Di masyarakat yang berpendapatan tinggi dimana rendahnya angka
pengangguran menunjukkan korelasi berkurangnya tingkat korupsi dikalangan pemangku
kepentingan seperti yang terjadi di Singapura, Jepang, Hongkong dan Brunei Darussalam.

Menggalakkan perlindungan saksi dan korban korupsi sehingga orang berani mengungkapkan
terjadinya korupsi. Perlu melaksanakan Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban serta
mengefektifkan Lembaga Perlindungan Saksi.

Mendorong lembaga dan masyarakat untuk mengantisipasi kerawanan korupsi (kegiatan


pencegahan) dan potensi masalah penyebab korupsi (dengan menangani hulu permasalahan)
di lingkungan masing-masing.

Kebijakan keempat KPK adalah ”upaya represif untuk menimbulkan efek jera dan
40
mengembalikan kerugian negara secara optimal.” Apa yang dilakukan oleh KPK dengan
upaya refresif atau penindakan nampak sudah menimbulkan hasil. Karena KPK telah menjadi
momok yang menakutkan bagi koruptor di Indonesia. Namun, upaya represif tanpa
pencegahan tidak akan dapat memberantas korupsi sampai keakarnya. Begitu juga dengan
prestasi yang dicapai oleh KPK dalam pengembalian uang negara dari 1 Januari hingga 15
41
Desember 2009 sebesar Rp 142.290.575.282,00 , suatu angka yang cukup membanggakan.
KPK harus bekerja lebih keras lagi karena masih banyak uang negara yang belum
dikembalikan.

Selanjutnya, mengevaluasi proses penanganan korupsi yang ditangani POLRI, Kejaksaan


Agung dan KPK. Meningkatkan teknik penyidikan agar penyidik lebih ahli dan maju dari pelaku
korupsi. Menggalakkan koordinasi antar institusi penegak hukum di dalam negeri dan menjalin
kerjasama internasional dalam rangka pemberantasan korupsi. Terakhir, harus banyak belajar
dari negara-negara yang telah sukses memerangi korupsi seperti Singapura, Jepang dan
Hongkong.

3. Kesimpulan

Dari uraian di atas nampak jelas bahwa keberadaan KPK sebagai jawaban dari Sistem
Peradilan Pidana di Indonesia dalam hal ini kepolisian, kejaksaan dan peradilan telah gagal
total memberantas korupsi. Korupsi sudah merupakan penyakit masyarakat yang kronis hampir
di setiap institusi pemerintah sehingga disebut extra ordinary crime. Keberadaan lembaga
superbody seperti KPK sangat diperlukan untuk memberantas korupsi di Indonesia.
Pemberantasan korupsi dengan menggunakan paradigma lama terbukti tidak dapat membasmi
korupsi di Indonesia secara tuntas. Terkesan tebang pilih dan menimbulkan banyak ekses
negatifyang banyak memakan tenaga dan waktu para pejabat tinggi dan masyarakat pada
umumnya. Untuk itu harus menggunakan paradigma baru yang menekankan tidak hanya

40
Rencana Strategik Komisi Pemberantasan Korupsi 2008-2011
41
Siaran Pers KPK Akhir Tahun 2009.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 12
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

penindakan/refresif tetapi juga pencegahan/preventif secara dini dengan melibatkan pemangku


kepentingan.

Pemerintah dan KPK harus proaktif dalam mendorong segenap institusi dan masyarakat untuk
meningkatkan kesadaran anti korupsi. Sangat diperlukan melibatkan segenap masyarakat
untuk membasmi korupsi di Indonesia yang sudah sangat parah. Selain itu terus mendorong
perbaikan sistem di lembaga kejakasaan, kepolisian, peradilan, Dewan Perwakilan Rakyat dan
institusi pemerintah yang melayani masyarakat.

Pemerintah dan KPK harus meberikan teladan tentang nilai-nilai anti korupsi dan menggugah
masyarakat untuk mengantisipasi kerawanan korupsi dan potensi timbulnya penyebab korupsi.
Akhirnya, harus banyak belajar dari negara-negara lain yang telah sukses memberantas
korupsi dan juga mencari alternatif untuk menggunakan e-government serta meningkatkan taraf
hidup dan pendapatan masyarakat.

4. Daftar Pustaka

[1] Antara. www. antara.com.

[2] Camdessus, Michel. 1999. Good Governance: The IFM’s Role. www.imf.org.

[2] Detiknews. www.detiknews.com

[4] Hamilton-Hart, Natasha. 2001. Anti Corruption Strategies in Indonesia. Bulletin of Indonesian
Economic Studies 37(1):65:82.

[5] Kompas. www.kompas.com

[6] Rencana Strategik Komisi Pemberantasan Korupsi 2008-2011

[7] Strait Times, 26 Agustus 2000. www.straitimes.asia.com.sg

[8] Suara Pembaharuan, 7 Februari 2006. www.suarapembaharuan.com

[9] Syed, Hussein, Alatas.1968. The Sociology of Corruption: The Nature, Function, Causes
and Prevention of Corruption. Singapore: Donald Moore Press.

[10]Tempo Interactive, www.tempo.co.id

[11]Undang-undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi

[12]Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 entang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi


juncto Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Korupsi

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 13
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
TOPIK UTAMA

Quo Vadis Pemberantasan Mafia Hukum?


Pan Mohamad Faiz
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Ikatan Sarjana Hukum Indonesia (ISHI)
Email: pan.mohamad.faiz@gmail.com

1. Pendahuluan

“Geger!” Demikian ungkapan yang mungkin tepat untuk melukiskan suasana ingar-bingar dunia
hukum di Indonesia pasca peristiwa pemutaran rekaman penyadapan atas ‘perselingkuhan
hukum’ dalam proses pembuktian di persidangan Mahkamah Konstitusi menjelang akhir
penghujung tahun lalu. Betapa tidak, pemutaran rekaman yang disiarkan secara langsung ke
berbagai stasiun televisi dan radio akhirnya membuktikan secara nyata bahwa mafia hukum itu
ternyata benar adanya baik berupa wujud maupun jaringannya.

Syahdan, publik terkejut dan akhirnya menyeruak hingga turun ke jalan. Fenomena “Cicak
versus Buaya” menjadi mahakarya sinetron teranyar di seantero negeri. Tak tanggung-
tanggung, untuk meredam kontroversi hukum yang berlarut-larut ini, Presiden terpaksa
mengeluarkan kebijakan untuk membentuk “Tim 8” menyusul dibukanya PO BOX 9949 dengan
Kode “Ganyang Mafia”, hingga pembentukan “Tim Satgas Mafia Hukum”. Prestasi awal
memang cukup menggembirakan. Tim Satgas kembali mempertegas betapa mafia hukum telah
bersarang hingga ke sudut-sudut sel tahanan ketika mereka menemukan para terpidana kasus
korupsi besar ternyata memiliki ruang tahanan yang mewah bak hotel bintang lima.

Pertanyaannya kini, apa yang sejatinya harus dilakukan untuk memberantas mafia hukum
tatkala hampir sebagian besar fakta dan data yang ada telah terpetakan? Sementara itu,
penulis kembali teringat ucapan Ketua Mahkamah Konstitusi, Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., ketika
1
membuka acara Debat Publik “Akar-Akar Mafia Peradilan” yang belum lama ini
2
diselenggarakan di Jakarta dengan mengucapkan, “Sudah habis teori di gudang!”. Artinya,
hendak ditegaskan lagi olehnya bahwa untuk memecahkan masalah mafia hukum, sudah
banyak pihak yang memberikan beragam teori dan menghasilkan studi, cetak biru, kesimpulan,
dan rekomendasi, termasuk yang secara resmi dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang
bersinggungan langsung dengan permasalahan mafia hukum ini.

Namun faktanya, tak banyak perubahan signifikan yang kita rasakan, kalaupun ada sifatnya
bagai terapi kejut (shock therapy) saja. Kondisi ini akhirnya menegasikan, benarkah bangsa
Indonesia hanya pandai membuat rencana saja, namun tidak pandai menjalankannya? Ataukah
memang problematika mengenai mafia hukum ini sangat teramat rumit yang tidak saja telah
mengakar, namun juga telah mendarah daging dalam tubuh para oknum pelaku dan institusi
hukum?

Atas dasar pernyataan dan pertanyaan itulah, tulisan singkat ini justru tidak bermaksud sekedar
untuk menambah deret khazanah teori, pun juga tidak berkeinginan untuk menggarami lautan.
Akan tetapi, lebih pada wujud representasi kegelisahan intelektual yang mungkin juga sedang
dialami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Syukur apabila kemudian dalam goresan ini
ternyata terdapat tawaran solusi yang lebih baik dari apa yang telah ada sebelumnya.

1
Mohammad Fajrul Falaakh, ed, Akar-Akar “Mafia Peradilan” di Indonesia (Masalah Akuntabilitas Penegak Hukum),
Jakarta: Komisi Hukum Nasional, 2009.
2
Moh. Mahfud MD, “Pemberantasan Mafia Peradilan: Mendiagnosa Akar Masalah, Menemukan Solusi Terarah”,
Keynote Speech disampaikan dalam Dialog Publik KHN pada 16 Februari 2010 di Jakarta.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 14
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

2. Lahan dan Praktik Mafia Hukum

Masyarakat tentu bertanya-tanya bagaimana, kapan, dan darimana sebenarnya awal terjadinya
praktik mafia hukum di Indonesia. Hasil telusur penulis, tak ada yang lebih gamblang
3
memberikan jawabannya selain dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Sebastian Pompe.
Menurutnya, wajah peradilan Indonesia mulai berubah suram sejak tahun 1974. Pada saat itu
meletus peristiwa Malari yang menyebabkan mulai ditempatkannya aktor-aktor Orde Baru di
segala lini pemerintahan untuk melindungi oligarki kekuasaannya, termasuk di lingkungan
Mahkamah Agung. Sejak saat itulah, tunas-tunas mafia hukum yang telah tertanam menjadi
tumbuh subur hingga menjalar ke instansi-instansi penegak hukum lainnya.

Setelah hampir empat dekade dari peristiwa di atas, praktik penyalahgunaan kewenangan
(abuse of power) dalam dunia hukum semakin mempertajam giginya. Sebutlah misalnya,
proses penyelidikan, penyidikan, penyusunan dakwaan, pengajuan tuntutan, hingga putusan
hakim, semuanya dapat diatur oleh oknum-oknum pengacara, institusi Kepolisian, Kejaksaan,
dan Pengadilan. Ironisnya lagi, para Saksi, Ahli, atau Akademisi yang diminta untuk
memberikan keterangan di persidangan dapat ”dipesan” sesuai dengan keinginan terdakwa
lewat prakarsa para pengacaranya. Tak terbayangkan seandainya saja dunia akademis lambat
laun kian terseret ke lembah praktik hitam mafia hukum, maka Indonesia tinggal menunggu
kehancurannya saja.

Praktik-praktik tersebutlah yang kemudian dianggap ikut memberi andil atas bertenggernya
Indonesia pada peringkat pertama negara terkorup dari 14 negara Asia menurut Political and
Economic Risk Consultancy (PERC) pada 2009. Lebih spesifik lagi, International Transparency
dalam Global Corruption Barometer pada 2008 menempatkan lembaga peradilan sebagai salah
satu lembaga terkorup di Indonesia.

Ketua Komisi Yudisial, Busyro Muqoddas, mencatat 4 (empat) faktor utama yang menyebabkan
sistem peradilan Indonesia menjadi terkorup seperti sekarang ini. Pertama, Moralitas yang
sangat rendah dari aparat penegak hukum, seperti aparat kepolisian, jaksa, panitera, hakim,
dan pengacara yang dalam praktiknya bekerja sama dengan cukong, makelar kasus, dan aktor
politik; Kedua, Budaya politik yang korup telah tumbuh subur dalam birokrasi negara dan
pemerintahan yang feodalistik, tidak transparan, dan tidak ada kekuatan kontrol dari
masyarakat; Ketiga, Tingginya apatisme dan ketidakpahaman masyarakat tentang arti dan cara
bekerja aparat yang berperan dalam praktik kriminal tersebut; Keempat, Kriteria dan proses
rekrutmen aparat kepolisian, jaksa, dan hakim yang masih belum sepenuhnya transparan dan
profesional; dan Kelima, Rendahnya kemauan negara (political will) di dalam memberantas
4
praktik mafia peradilan secara sungguh-sungguh dan jujur.

3. Tersandera Lingkaran Setan

Harus diakui bahwa pasca reformasi, pemberantasan terhadap praktik kotor mafia hukum yang
menjadi sumber terjadinya korupsi pengadilan (judicial corruption) mencatat beberapa
kemajuan. Berbagai peraturan perundang-undangan dilahirkan bersamaan dengan
terbentuknya lembaga-lembaga baru, seperti Komisi Yudisial, Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK), Komisi Kejaksaan, dan Komisi Kepolisian, sebagai bentuk kontrol terhadap sistem yang
dianggap telah korup.

3
Sebastian Pompe, “The Indonesian Supreme Court: Fifty Year of Judicial Development”, Disertasi Ph.D,
Leiden University, 1996.
4
M. Busyro Muqoddas, “Korupsi di Lembaga Peradilan Kita”, dalam Wijayanto dan Ridwan Zachrie, eds,
Korupsi Mengorupsi Indonesia: Sebab, Akibat, dan Prospek Pemberantasan, Jakarta: Penerbit PT
Gramedia Pustaka Utama, 2009, hal. 625-640.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 15
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Namun demikian, sebagaimana disampaikan oleh Lawrence M. Friedman, tak akan optimal
perubahan hukum apabila tidak memenuhi ketiga unsur sistem hukum, yaitu struktur hukum
5
(legal structure), substansi hukum (legal substance), dan budaya hukum (legal culture). Dalam
konteks pemberantasan mafia hukum, apa yang telah dilakukan selama ini barulah menyentuh
aspek struktur hukum, sementara substansi hukum dinilai kurang berhasil, apalagi terhadap
budaya hukum. Budaya organisasi di banyak lembaga penegak hukum masih menunjukan
birokrasi yang terkesan lambat dan cenderung koruptif, sehingga menyebabkan penegakan
hukum berjalan tidak optimal.

Bagaikan lingkaran setan (the devil circle), antara oknum satu dengan lainnya saling menutupi
dan melindungi, bahkan tak jarang saling mengancam agar sama-sama tidak membuka kedok
hitam praktik mafia hukum yang mereka jalankan selama ini. Apabila sirkulasi kotor ini terus-
menerus terjadi dan dipertahankan, maka akan selamanya pula rantai mafia hukum akan sulit
diputus dan dibersihkan. Belum lagi terhadap pemegang kebijakan atau pimpinan lembaga
yang memang sejak awal telah ”tersandera” dengan tindak perilaku kelamnya, sudah dipastikan
tidak akan berani mengambil kebijakan tegas untuk memberikan sanksi terhadap rekan kerja
atau bawahannya. Oleh karena itulah muncul ungkapan, ”tak mungkin membersihkan lantai
kotor dengan menggunakan sapu yang kotor juga”.

Sementara itu, mereka yang masih bertahan dengan idealismenya, seringkali tersingkir akibat
politik internal kelompok penguasa tertentu. Bahkan bagi kelompok yang selama ini merasa
puas atas kesuksesannya melakukan praktik mafia hukum, mereka tidak akan segan-segan
untuk ”memutilasi” siapa saja yang berusaha mengancam kenyamanannya, jika perlu
menggiringnya hingga ke kursi pesakitan.

4. Menyelamatkan Generasi

Sekelumit ilustrasi di atas setidaknya menggambarkan betapa telah akutnya permasalahan


mafia hukum, sehingga sudah selayaknya diambil langkah luar biasa untuk menuntaskan
masalah yang berkepanjangan ini. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, untuk
menyelesaikan masalah tersebut, beragam forum pembahasan telah dilakukan dan beribu jenis
solusi sudah seringkali ditawarkan baik yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang.
Tentunya kita harus memberikan apresiasi terhadap segala pemetaan dan solusi yang telah
ada itu, sebab tidak dapat dinafikan bahwa terdapat beberapa hasil dalam upaya
pemberantasan mafia hukum, sehingga tidak perlu juga untuk menghentikan implementasi
upaya eksekusi dari solusi yang disajikan.

Namun demikian, beberapa pihak menilai bahwa ternyata laju pengembangbiakan mafia hukum
bergerak lebih cepat dari upaya pemberantasannya itu sendiri bahkan mampu menarik generasi
baru hingga terjebak ke dalam lingkaran setan. Akibatnya, selisih antara upaya pemberantasan
dan pengembangbiakan mafia hukum menjadi negatif nilainya. Berangkat dari fenomena
tersebut, maka di tengah belantara solusi yang tengah didedahkan, terdapat satu langkah lain
yang masih menjanjikan dan belum pernah dilakukan, namun juga membawa konsekuensi
serius, yaitu amputasi satu generasi!

Amputasi satu generasi di sini dilakukan dengan cara ”memotong” para aparat hukum yang
terindikasi dengan keterlibatan mafia hukum, baik dengan tindakan pemberhentian dengan
hormat, tidak hormat apabila terbukti bersalah, atau pengunduran diri secara sukarela dengan
konsekuensi diberikannya pemutihan. Pro-kontra dan perlawan terhadap gagasan ini sudah
tentu akan terjadi, terlebih lagi dalam menghadapi keguncangan kepemimpinan di masing-
masing instansi penegak hukum. Namun di sinilah justru kesempatan bangsa Indonesia untuk
menyelamatkan generasi yang belum tercemar perspektif moral dan perilakunya, sehingga
mereka dapat diproyeksikan untuk menduduki pucuk-pucuk kepemimpinan dengan harapan

5
Lawrence M. Friedman, American Law: An Introduction, New York: W. W. Norton & Company, 1984.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 16
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

tidak akan ada lagi yang merasa tersandera atau terancam untuk mengambil kebijakan tegas
terhadap mereka yang terlibat dalam praktik kotor mafia peradilan.

Langkah ini memang terbilang cukup drastis karena melompat jauh ke depan di antara varian
solusi yang ditawarkan. Filosofis keberangkatan solusi ini berawal dari pidato Cicero di tengah-
tengah Tribunus ketika mengatakan bahwa ikan membusuk mulai dari kepala hingga ke ekor,
sehingga tindakan yang pantas dilakukan adalah dengan memotong dan membuang kepala
6
ikan tersebut terlebih dahulu.

Pertanyaannya adalah apakah cara ini pernah berhasil dilakukan oleh negara lain?
Jawabannya adalah pernah. Salah satu negara bekas bagian Uni Soviet, yakni Georgia,
merombak sistem peradilannya dengan memberhentikan semua hakim dan kemudian
melakukan rekrutmen baru dengan proses yang ketat, selektif, transparan, dan berbobot. Untuk
menghindari adanya intervensi terhadap proses tersebut, rekrutmen sengaja dilakukan bukan di
Georgia tetapi di Amerika Serikat. Keputusan fenomenal ini dilakukan karena adanya keinginan
yang sama antara pemerintah dan masyarakat untuk membuka lembaran baru (clean slate) dari
7
gelap gulitanya dunia hukum Georgia.

Bilapun langkah ini dianggap cukup ekstrem untuk dijalankan di Indonesia, maka jalan lain yang
lebih soft harus dimulai melalui ekor, yaitu dengan melindungi satu generasi di bawah melalui
pengawasan dan pembinan sangat khusus untuk membentuk generasi pembaharu dunia
hukum di Indonesia. Hanya saja diperlukan sebuah komitmen tinggi dan bersama serta waktu
yang relatif panjang dengan dimulai dari target group di tingkat generasi sekolah dasar,
perguruan tinggi hukum, hingga para pekerja hukum pemula di berbagai institusi dan lembaga
profesi hukum.

5. Peran Civil Society dan Mass Media

Perjalanan sejarah Indonesia selalu terekam dan tidak pernah lepas dari sejarah sebuah
pergerakan. Setiap peralihan era mulai dari masa sebelum kemerdekaan, orde lama, orde baru,
hingga memasuki masa reformasi selau bermula dari kekuatan pergerakan yang dimotori oleh
civil society. Berangkat dari tradisi liberal, de Tocqueville merumuskan civil society sebagai
semangat untuk membentuk kekuatan penyeimbang dari kekuatan negara, sehingga menurut
Gramsci masyarakat sipil (civil society) menjadi satu dari tiga komponen penting di samping
8
negara (state) dan pasar (market).

Dengan mengombinasikan strategi gerakan sosial lama dan baru (old and new social
movement), kekuatan civil society juga dapat meluruskan hal-hal yang dianggap bertentangan
dengan kehendak rakyat, termasuk dalam konteks pemberantasan mafia hukum. Begitu pula
halnya dengan kekuatan mass media sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate of
democracy) yang digambarkan oleh Robert K. Merton memiliki kekuatan utama sebagai alat
kontrol sosial yang ekstensif dan efektif. Sementara itu, Elizabeth menyatakan bahwa mass
media setidak-tidaknya memiliki fungsi dan peran dalam pengawasan (surveillance), interpretasi
9
(interpretation), dan transmisi nilai (value transmission).

Ilustrasi sederhana tergambarkan betapa peran civil society dan mass media membawa
pengaruh dan kekuatan yang maha dahsyat dalam mengungkap konspirasi mafia hukum dan
kasus korupsi, seperti misalnya pada kasus “Bibit-Chandra” dan “Bupati Garut”. Tidak saja

6
Robert Harris, Imperium, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
7
Saldi Isra dan Eddy O.S. Hiariej, “Perspektif Hukum Pemberantasan Korupsi di Indonesia” dalam
Wijayanto dan Ridwan Zachrie, eds, Korupsi Mengorupsi Indonesia: Sebab, Akibat, dan Prospek
Pemberantasan, Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 2009, hal. 553-603.
8
John Ehrenberg, Civil Society, New York: NYU Press Reference, 2009.
9
Elizabeth M. Perse, Media Effects and Society, Routledge, 2001.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 17
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

elemen masyarakat sipil dan NGO begerak sendiri di bawah payung pemberitaan media massa,
namun juga secara individual masyarakat mampu menambah amunisi perlawanan melalui
media elektronik dan jejaring sosial, seperti facebook, twitter, dan kegiatan citizen journalism
lainnya melalui Blog.

Tren global seperti di Chile, Maladewa, Maroko, Iran, Filipina, dan Rusia, menunjukan bahwa
kekuatan web2.0 atau media sosial (social media) mampu memberikan dukungan terhadap
tuntutan transparansi dan akuntabilitas dengan fungsi: (1) Collaborative and crowd-based; (2)
De-centralised action and new forms of organisation; dan (3) Empowering. Aktivis sosial, politisi,
NGO, aparat pemerintah, dan pelaku bisnis memperlihatkan angka peningkatan dalam
menggunakan kekuatan komunikasi dan saling berinteraksi dengan dukungan internet dan
10
media elektronik. Oleh karena itu, Thomas L. Friedman menyatakan bahwa kekuatan ICT
(Information and Communication Technolgies), khususnya internet, telah menyebabkan dunia
11
bagaikan lempeng yang datar.

Dengan demikian, pemanfaatan dan pengawasan serta penggalian fakta melalui media sosial
menjadi penting untuk dikembangkan dalam upaya mendukung pemberantasan mafia hukum,
dengan catatan Pemerintah tidak membuat Peraturan Pemerintah atau Peraturan Menteri yang
membatasi kebebasan berekspresi dan mengeluarkan berpendapat bagi civil society atau mass
media sebagaimana telah dijamin dalam UUD 1945.

6. Penutup

Memberantas mafia hukum bukanlah perkara yang mudah karena sifat, jaringan, dan praktiknya
yang terselubung. Untuk itu, diperlukan usaha ekstra keras untuk menyelesaikan persoalan
mendasar ini yang diyakini telah menjadi faktor penyebab utama atas bobroknya penegakan
hukum di Indonesia. Tak ayal berkembang perumpaman bahwa hukum tajam terhadap
masyarakat lemah, namun tumpul terhadap mereka yang berkuasa.

Bagaikan problema kemiskinan dan praktik korupsi, mafia hukum memang tak dapat ditumpas
hingga titik nol. Namun demikian, optimisme, upaya, dan usaha pemberantasannya tidak
pernah boleh berhenti sedikit pun. Satu hal yang perlu kita yakini bahwa setiap langkah
penyelesaian apapun itu bentuk dan caranya, sudah pasti akan memiliki konsekuensi,
keunggulan, dan kelemahannya masing-masing.

Oleh sebab itu, prasyarat utama yang diperlukan untuk menghentikan berlarut-larutnya penyakit
berkepanjangan ini yaitu komitmen tinggi dan ketegasan mutlak dari pucuk pimpinan tertinggi di
negeri ini untuk mengawal langsung perang melawan mafia hukum. Apabila tidak,
pemberantasan mafia hukum tentu akan terus berputar melewati velodrome yang sama tanpa
ujung. Jika demikian jadinya, quo vadis pemberantasan mafia hukum?

***
* Penulis adalah Staf Analis Ketua Mahkamah Konstitusi RI. Sekretaris Dewan Pakar Ikatan
Sarjana Hukum Indonesia (ISHI). Tulisan ini adalah pendapat pribadi.

10
Transparency International, “Anti-Corruption 2.0: What’s your say on corruption?”,
http://www.transparency.org/ news_room/in_focus/2009/your_say_on_corruption, diakses terakhir pada 12
Februari 2010.
11
Thomas L. Friedman, The World is Flat: a Brief History of the Twenty-First Century, Farrar, Straus and
Giroux, 2006.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 18
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
IPTEK & INOVASI

Mikroenkapsulasi dalam Industri Pangan


Vita Paramita
Department of Biotechnology, Graduate School of Engineering, Tottori Uninersity, Japan
Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
E-mail: vita_paramita@yahoo.co.id
1. Pendahuluan

Mikroenkapsulasi adalah proses fisik dimana bahan aktif (bahan inti), seperti partikel
padatan, tetesan air ataupun gas, dikemas dalam bahan sekunder (dinding), berupa
lapisan film tipis. Proses ini digunakan untuk melindungi suatu zat agar tetap tersimpan dalam
keadaan baik dan untuk melepaskan zat tersebut pada kondisi tertentu saat
digunakan.5,27,29,31,38 Ide dasar mikroenkapsulasi berasal dari sel, yaitu permeabilitas selektif
membran sel memberikan perlindungan terhadap inti sel dari kondisi lingkungan yang berubah-
ubah dan berperan dalam pengaturan metabolisme sel. Mikroenkapsulasi yang berkembang
saat ini menggunakan prinsip yang sama untuk melindungi bahan aktif dari kondisi lingkungan
yang tidak mendukung.

Penerapan mikroenkapsulasi secara komersial bermula dari pembuatan salinan kertas tanpa
kertas karbon oleh National Cash Register. Salinan tercetak ketika tekanan pena memecah
mikrokapsul yang mengandung prekursor pewarna yang kemudian diikuti reaksi kimia antara
prekursor pewarna di bagian atas halaman dan sumber asam di halaman bagian bawah sehingga
terbentuk gambar atau tulisan. Gelatin digunakan sebagai bahan mikrokapsul dan bahan aktif yang
11,36
digunakan adalah prekursor pewarna.

Penelitian dan publikasi mengenai teknologi mikroenkapsulasi telah banyak dilakukan dan
diterbitkan di berbagai belahan dunia dalam kurun waktu 60 tahun terakhir ini. 6,8,10,31Namun
hingga saat ini, masih banyak bidang untuk dikembangkan dengan berbagai modifikasi pada
metoda, pemilihan bahan sebagai mikrokapsul maupun bahan yang dimikroenkapsulasi.
Penulisan ini ditujukan untuk memberikan gambaran umum mengenai teknologi
mikroenkapsulasi yang diterapkan dalam industri pangan, manfaat yang diperoleh, kelebihan
maupun kekurangan dalam penerapan, dan perkembangannya dewasa ini.

Laporan pertama mengenai aplikasi enkapsulasi dalam industri pangan diterbitkan pada tahun
5
1956 oleh Scultz dan kawan-kawan. Mereka mengkapsulkan minyak sitrus ke dalam sukrosa
dan dekstrosa. Produk yang dihasilkan memberikan stabilitas yang baik dan selama
26
penyimpanan citarasa dapat bertahan hingga enam bulan. Proses enkapsulasi juga
30,21,28
diterapkan oleh peneliti-peneliti yang lain. Proses ini berkembang menjadi
32,2,3 25,22,20
mikroenkapsulasi dan berkembang lebih lanjut menjadi nanoenkapsulasi .
Core material
Wall material (oil droplets)

Core
material
Void
(oil)

Single core Multiple core

12
Gambar 1. Dua jenis struktur utama mikrokapsul

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 19
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

2. Ciri-ciri Mikrokapsul

Pengelompokan kapsul berdasarkan pada ukuran partikel > 5000 µm (makro), 1,0-5000 µm
16
(mikro) dan < 1,0 µm (nano). Mikrokapsul dapat berbentuk bola, persegi panjang ataupun tak
beraturan. Dua jenis struktur utama dari mikrokapsul adalah satu inti (single core) dan banyak
inti (multiple core) pada bagian dindingnya (Gambar 1). Mikrokapsul dengan satu inti biasanya
diproduksi dengan cara coacervation, droplet co-extrusion dan pemasukan molekul. Model ini
biasanya memiliki muatan inti yang tinggi, misalnya 90% dari total berat mikrokapsul.
Mikrokapsul dengan struktur banyak inti di bagian dinding umumnya diproduksi menggunakan
spray drying. Bahan inti tersebar secara merata di bagian dinding dan bagian tengah
mikrokapsul biasanya berupa rongga kosong yang dihasilkan dari pemuaian selama tahap-
tahap pengeringan akhir. Biasanya, struktur ini memiliki persentasi pelapis hingga 70% dari
berat mikrokapsul.

Bahan di dalam mikrokapsul disebut sebagai inti, fasa internal, atau pengisi. Bahan inti dapat
10
berupa emulsi, bahan kristalin, suspensi padatan, atapun gas. Isi dalam mikrokapsul
dilepaskan dengan berbagai macam mekanisme. Pelapis dapat rusak secara mekanik,
misalnya akibat dikunyah, meleleh ketika terekspos dengan panas, terlarut dalam solvent
(pelarut). Perubahan pH dapat mengubah kemampuan proses penembusan bahan aktif
sehingga mengendalikan pelepasan. Pelapis dari lemak (lipid) dapat terdegradasi akibat enzim
lipase dan bahan aktif berdifusi ke lingkungan. Sifat fisik dan kimia dari bahan aktif (seperti
kelarutan, difusivitas, tekanan uap, dan koefisien partisi) dan pelapis (seperti ketebalan,
porositas dan kemampuan bereaksi) juga mempengaruhi pelepasan bahan aktif.

Bahan pelapis yang disebut juga sebagai kulit, dinding, atau membran, dapat berasal dari film-
forming (pembuat lapisan tipis) polimer natural atau sintesis. Memilih pelapis harus berdasarkan
pada sifat kimia maupun fisik bahan aktif, juga proses yang digunakan untuk membuat
mikrokapsul. Bahan pelapis harus tidak larut dan tidak bereaksi terhadap zat aktif. Umumnya,
polimer yang tidak larut dalam air digunakan untuk membuat mikrokapsul dengan bahan aktif
seperti air, dan polimer yang dapat larut air digunakan untuk mikrokapsul pada bahan aktif
organik. Untuk meningkatkan kualitas lapisan, lapisan dibuat beberapa lapis, memiliki sifat yang
seperti plastik, cross-linking, juga ada perlakuan pada permukaannya. Ketebalan lapisan
11,12
dimanipulasi untuk meningkatkan permeabilitas dan stabilitas dari mikrokapsul. Gambar 2
memberikan rangkuman secara umum mengenai proses mikroenkapsulasi.

3. Jenis-jenis Mikrokapsul

Tujuan utama umum mikroenkapsulasi adalah untuk membuat bahan cairan bersifat seperti
padatan. Hal ini menyebabkan beberapa sifat bahan inti menjadi berubah, misalnya sifat aliran
bahan dan penangan bahan menjadi lebih mudah dalam bentuk padatan. Bahan yang memiliki
higroskopis dapat dilindungi dari kelembaban lingkungan. Selain melindungi zat aktif, proses ini
juga bermanfaat untuk menutupi rasa, aroma ataupun yang tidak diinginkan dari bahan aktif.
Kestabilan dari bahan yang mudah menguap, sensitif terhadap cahaya, oksidasi atau panas
9,10,12,23
dapat dipertahankan. Hal penting lain dalam proses mikroenkapsulasi bahan makanan
29,38
adalah juga untuk mengatur pelepasan bahan aktif pada waktu yang dikehendaki. Bahan-
bahan yang berhubungan dengan makanan yang dienkapsulasi meliputi asam, pewarna, enzim,
mikroorganime, perasa, lemak dan minyak, vitamin dan mineral, garam, pemanis dan gas.
Pemanfaatan enkapsulasi dalam makanan dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 20
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Bahan inti Bahan dinding

Contoh Contoh:
Penyedap rasa: Karbohidrat:
d-limonene, minyak kayu manis, minyak pati yang dihidrolisa, pati yang dimodifikasi,
serai (citral) getah, siklodekstrin
Lipid: Protein: protein susu, protein kedelai
minyak ikan, mentega, lemak susu
Bahan lain:
Bahan bioaktif: enzim, bakteri asam laktat gelatin, kitosan, selulosa yang dimodifikasi
Gas: karbon dioksida
Sifat-sifat bahan dinding:
Asam: asam sitrat, asam askorbat
Tidak bereaksi dengan bahan inti;
Sifat-sifat bahan inti: Mampu memberikan perlindungan maksimal
selama proses dan penyimpanan dari kondisi
Tekanan uap yang tinggi, dapat mempersulit
lingkunan;
proses penyimpanan;
Memiliki alasan ekonomi (harga) yang baik;
Berat molekul bahan, berpengaruh terhadap
difusivitas bahan selama proses; Melepaskan bahan inti dengan sempurna
pada kondisi yang diinginkan;
Kelarutan bahan terhadap air, makin mudah
larut akan mudah menguap Memiliki kelarutan dan rheological yang baik

Mikroenkapsulasi

Tujuan:
Untuk mengurangi pengaruh dari lingkungan luar (mis. cahaya, oksigen dan air);
Untuk memudahkan penanganan;
Untuk mengatur pelepasan pada waktu yang dikehendaki;
Untuk menutupi rasa atau bau yang kurang baik;

Metoda fisik:
spray drying, spray cooling/chilling, freeze drying, spinning disk, fluidized bed,
extrusion, co-crystallization;
Metoda kimia:
interfacial polymerization;
Metoda fisik-kimia:
coacervation/fase pemisahan, enkapsulasi molekular, liposome entrapment;

Mikrokapsul
(Produk enkapsulasi)

12
Gambar 2. Alur proses mikroenkapsulasi

3.1. Penyedap rasa/perasa

Beberapa contoh pemanfaatan enkapsulasi perasa adalah minyak sitrus, minyak peppermint,
minyak bawang putih maupun bawang bombay, minyak bumbu-bumbu. Ketertarikan
pemanfaatan enkapsulasi dalam bumbu-bumbu terutama dalam proses pembuatan saus.
Mikroenkapsulasi perasa pada umumnya menggunakan spray drying meskipun spray
cooling/chilling, extrusion, inculsion complexation juga sering digunakan. Spray drying paling
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 21
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

sering digunakan untuk enkapsulasi karena selain murah dalam ongkos produksi juga
menghasilkan butiran (powder) yang lebih seragam ukurannya. Bahan-bahan yang umum
digunakan untuk menyimpan perasa adalah bahan yang mengandung gula, seperti pati dan
gum.

Di dalam minyak sitrus terdapat perasa yang meliputi lemon, orange, grape, lime, dan
37
grapefruit. Enkapsulasi minyak sitrus yang disimpan dalam maltodextrin menggunakan proses
spray drying memiliki kestabilan yang lebih baik dari pada minyak yang tidak dillindungi. Minyak
sitrus sangat mudah mengalami proses oksidasi karena adanya ikatan tidak jenuh pada struktur
mono dan sesquiterpenoid-nya. Proses oksidasi menghasilkan rasa yang tidak menyenangkan
seperti turpentine. Meningkatkan nilai dextrose equivalent pada maltodextrin memberikan
24,29
perlindungan yang lebih baik pada minyak karena adanya sifat pelindung dari oksigen.

Enkapsulasi jinten oleoresin telah dikembangkan di India. Dengan memiliki sifat yang sulit larut
dalam makanan berair mengakibatkan bahan ini sulit tercampur merata dalam makanan. Selain
itu, mereka sensitif terhadap cahaya, panas dan oksigen, serta memilki waktu simpan yang
pendek jika tidak disimpan dengan benar. Penyedap jinten ini mengandung bermacam-macam
komponen kimia, termasuk terpen (misalnya pinene, p-cymene,-terpinen), aldehida (misalnya
cuminaldehyde, 1,3-p-Mentha dan 3-p-menthen-7-al) dan terpen alkohol (cuminyl alkohol).
Penyedap rasa ini memberikan rasa hangat, berbumbu seperti kare, yang didominasi oleh
14
cuminaldehyde.

Proses enkapsulasi ini efektif untuk sterilisasi bumbu maupun herbal dengan kehilangan rasa
yang minimal. Sehingga, bahan-bahan ini dapat digunakan dengan aman dalam pendingin
ataupun jika membutuhakan proses dalam suhu tinggi.

3.2. Enzim

Mikroenkapsulasi laktase dikembangkan untuk menghindari adanya hidrolisa laktose sebelum


konsumsi. Enzim laktase, yang dihasilkan dalam usus kecil, diperlukan untuk menghidrolisa
laktose menjadi glukosa dan galaktosa. Ketiadaan laktase dapat menyebabkan
4
ketidaknyamanan pada proses pencernaan saat mengkonsumsi susu, seperti kram atau diare.
Untuk mengatasi masalah ini, enzim laktase ditambahkan pada susu sebelum dikonsumsi.
Namun, hal ini mengakibatkan terjadinya proses hidrolasi laktose sebelum dikonsumsi dan
mengubah rasa susu empat kali lebih manis dibanding sebelum ditambahkan. Dengan
mikroenkapsulasi, laktase yang ditambahkan akan bereaksi dengan laktose setelah dikonsumsi
karena rusaknya mikrokapsul akibat proses pencernaan. Bahan pelapis yang memberikan
17,18
efisiensi enkapsulasi hingga 94.9% adalah Medium Chain Triglyceride (MCT).

Penambahan enzim secara langsung ke dalam susu pada proses pembuatan keju memberikan
hasil tidak seperti yang diinginkan karena hilangnya enzim dalam whey, pendistribusian enzim
yang kurang baik sehingga mengurangi kualitas keju. Penambahan enzim yang telah
dienkapsulasi menghilangkan masalah akibat penambahan enzim langsung dan mencegah
proteolisis yang segera dan ekstensif serta kontaminasi whey. Secara fisik, immobilisasi enzim
dalam mikrokapsul terpisah dari substrat dalam campuran dadih susu dan keju selama proses
pembuatan keju. Enzim hanya dilepaskan ke dalam matrix keju ketika kapsul rusak selama
1,13
proses pematangan. Lemak susu digunakan beberapa peneliti untuk melapisi enzim yang
bertanggung jawab pada penghasil rasa di keju. Keju yang dihasilkan dengan mikrokapsul ini
11
memiliki rasa yang sangat kuat daripada keju tanpa mikroenkapsulasi enzim.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 22
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

3.3. Asam

Asam askorbat dapat meningkatkan penyerapan zat besi dari usus dengan mereduksi zat besi
menjadi senyawa yang lebih mudah larut dan mudah diserap. Meskipun demikian, asam
askorbat merupakan senyawa yang sangat tidak stabil dan mudah hancur dalam pengolah oleh
suhu, pH, oksigen dan sinar ultraviolet. Teknik mikroenkapsulasi merupakan aplikasi yang baik
untuk mengatasi kekurangan dari asam askorbat. Bahan pelapis yang digunakan adalah
polyglycerol monostearate (PGMS) dan Medium Chain Triglyceride (MCT).19

Asam dapat menghasilkan bau yang tidak sedap ketika ditambahkan secara langsung ke
makanan. Dengan mikroenkapsulasi, asam dapat ditambahkan pada makanan tanpa bau
mencolok hingga kadar tertentu, dimana tanpa mikroenkapsulasi pada kadar yang sama
memberikan bau mencolok. Manfaat dari enkapsulasi asam adalah untuk mengatur saat
11
pelepasan, melindungi dari panas dan cahaya.

4. Teknik Mikroenkapsulasi

Ada beberapa teknik yang digunakan dalam mikroenkapsulasi makanan. Pemilihan proses
berdasarkan pada sensitivitas bahan aktif, sifat fisik dan kimia baik bahan aktif maupun lapisan
kulit, ukuran mikrokapsul yang diinginkan, tujuan aplikasi bahan makanan, mekanisme
pelepasan bahan aktif, dan alasan ekonomi. Gambar 3 menginformasikan perkembangan
teknik mikroenkapsulasi dari tahun 1955 hingga 2005. Metode fisik dari mikroenkapsulasi
meliputi spray drying, spray cooling/chilling, freeze drying, spinning disk, fluidized bed, extrusion
dan co-crystallization. Proses mikroenkapsulasi secara kimia adalah interfacial polymerization.
Proses mikroenkapsulasi baik secara fisik maupun kimia diantaranya coaservation/fase
11,23
pemisahan, enkapsulasi molekular, dan liposome entrapment.

10
Gambar 3. Perkembangan teknik mikroenkapsulasi di dunia

4.1. Spray drying

Mikroenkapsulasi menggunakan spray dyring paling banyak digunakan dalam industri pangan
karena biayanya relatif lebih rendah. Proses ini fleksibel, dapat digunakan untuk variasi bahan
dalam mikroenkapsulasi karena peralatannya mudah diterapkan dalam pengolahan bermacam

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 23
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

bahan dan menghasilkan partikel-partikel yang berkualitas baik dengan distribusi ukuran
partikel yang konsisten.5
Bahan makanan yang dikemas dengan cara ini meliputi lemak, minyak, dan penyedap rasa.
Pelapisnya dapat berupa karbohidrat, seperti dekstrin, gula, pati, dan gum, atau protein, seperti
gelatin dan protein kedelai. Proses mikroenkapsulasi meliputi pembentukan emulsi atau
suspensi antara bahan aktif dan pelapis, dan pengkabutan emulsi ke sirkulasi udara kering
panas dalam ruang pengering menggunakan atomizer ataupun nozzle. Kadar air dalam droplet
emulsi diuapkan akibat kontak dengan udara panas. Padatan yang tersisa dari bahan pelapis
menjebak bahan inti.

Spray drying berguna untuk bahan makanan yang sensitif terhadap panas karena proses
pengeringan berlangsung sangat cepat. Bagaimanapun juga masih terdapat kehilangan bahan
aktif yang memiliki titik didih rendah. Sifat fisik dari mikrokapsul tergantung pada suhu udara
panas (sekitar 150 — 200°C), derajat dan keseragaman dalam pengkabutan emulsi, kadar
kepadatan dari emulsi (30 — 70%), dan suhu emulsi. Keuntungan spray drying mencakup
keanekaragaman dan ketersediaan mesin, kualitas mikrokapsul yang tetap baik, berbagai
ukuran partikel yang dapat diproduksi, dan kemampuan dispersibilitas yang baik dalam media
berair. Beberapa kerugian yang diperoleh di antaranya kehilangan bahan aktif dengan titik didih
rendah, adanya proses oksidasi dalam senyawa penyedap rasa, dan keterbatasan pada pilihan
10
bahan dinding, dimana bahan dinding harus dapat larut pada air dengan jumlah yang layak.

4.2. Spinning disk

Spinning disk merupakan modifikasi proses dari spray cooling/chilling dengan menggunakan
metode atomisasi. Prinsip dari spray cooling/chilling mirip dengan spray drying, namun
menggunakan udara dingin dalam proses pengeringannya. Spinning disk melibatkan
pembentukan inti suatu suspensi di lapisan cairan dan suspensi ini terletak di atas disk yang
berputar dalam kondisi yang mengakibatkan lapisan film jauh lebih tipis daripada ukuran partikel
inti. Pemakaian proses ini meningkat dengan cepat sejak tahun 2000 (gambar 3) karena
memberikan hasil yang seimbang atau bahkan lebih baik daripada spray drying atau spray
10
cooling/chilling dengan biaya proses yang tidak berbeda.

4.3. Coacervation/Fase pemisahan

Teknik coacervation merupakan pemisahan fase cair/cair secara spontan yang terjadi ketika
dua polimer yang bermuatan berlawanan (misalnya protein dan polisakarida) dicampur dalam
media berair kemudian mengarah ke pemisahan menjadi dua fase. Fase yang lebih rendah
disebut (kompleks) coacervate dan memiliki konsentrasi yang tinggi dari kedua polimer. Fase
atas disebut sebagai supernatan atau fase kesetimbangan, yang merupakan larutan polimer
35 7
encer. Coacervate digunakan sebagai bahan makanan, misalnya pengganti lemak atau
33
memberi rasa yang mirip daging dan biomaterial, seperti lapisan tipis (film) yang dapat
dimakan dan kemasan15. Metode ini sangat efisien dan menghasilkan mikrokapsul dengan
ukuran yang lebih bervariarif daripada teknik mikroenkapsulasi yang lain.

Proses ini meliputi tiga tahap, pertama, mecampur tiga fase yang saling tidak melarutkan (fase
kontinyu atau air, bahan aktif yang akan dimikroenkapsulasi dan bahan pelapis). Kedua, bahan
pelapis membentuk lapisan pada bahan inti. Hal ini dicapai dengan merubah pH, suhu atau
kekuatan ion yang menghasilkan pemisahan fase (coacervation) dari pelapis dan sebaran inti
yang terjebak. Terakhir, bahan pelapis memadat karena adanya panas, crosslinking (hubungan
silang) dan teknik desolvasi. Mikrokapsul yang dihasilkan dari pemisahan fase encer memiliki

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 24
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

dinding yang larut air dan bahan aktif yang bersifat menjauhi air (hidrofobik), seperti minyak
11
sayur, penyedap rasa, dan vitamin yang larut dalam minyak.

4.4. Enkapsulasi molekuler

Enkapsulasi molekuler juga dikenal dengan nama pemasukan kompleksasi. Proses ini
menggunakan cyclodextrin untuk membuat kompleks dan imobilisasi molekul. cyclodextrin
digunakan untuk menstabilkan emulsi dan melindungi bahan makanan yang sensitif dari cahaya,
panas, dan oksigen. Siklodextrin dapat meningkatkan kelarutan bahan yang bersifat hidrofobik,
mengurangi penguapan dari penyedap rasa pada makanan, dan menutupi rasa, aroma, atau
warna makanan yang tidak diinginkan.

Reaksi umum dalam enkapsulasi molekuler menggunakan prinsip “host-guest”. Kemampuan


cyclodextrin untuk membentuk pemasukan kompleksasi dengan molekul tamu memiliki dua
faktor kunci. Yang pertama adalah tergantung pada ukuran relatif cyclodextrin dengan ukuran
molekul tamu atau kunci tertentu di dalam kelompok-kelompok fungsional tamu. Jika ukuran
tamu salah maka tidak akan sesuai untuk masuk ke dalam rongga cyclodextrin. Faktor kritis
kedua adalah termodinamik interaksi antara berbagai komponen dari sistem (cyclodextrin, tamu,
pelarut). Diperlukan adanya daya dorong dari molekul tamu ataupun daya tarik dari cyclodextrin
34
yang menguntungkan. Dalam hal ini, cyclodextrin memiliki sifat fungsional hidrofilik (mendekati
air) pada bagian bawah dan atas strukturnya yang seperti donat dan bersifat hidrofobik
(menjauhi air) pada bagian tengah karena terhubung dengan jembatan glikosidik oksigen.
Senyawa yang dapat membetuk kompleks dengan cyclodextrin adalah senyawa yang bersifat
hidrofobik atau memiliki bagian yang hidrofobik. Bagian hidrofobik dari molekul tamu
11
membentuk interaksi yang stabil non-kovalen dengan bagian tengah cyclodextrin.

5. Kesimpulan

Penekanan utama dalam mikroenkapsulasi bahan makanan berkonsentrasi pada peningkatan


efisiensi enkapsulasi selama proses dan memperpanjang masa simpan (pengawetan pangan).
Mikroenkapsulasi memberikan harapan dalam pengembangan pangan olahan, terutama untuk
menghasilkan pangan kering dan pangan yang membutuhkan proses yang minimal dalam
penyajiannya. Berbagai macam metoda telah dikembangkan untuk mendapatkan hasil dengan
harga terjangkau, waktu proses efisien dan hemat energi. Pemilihan metode mikroenkapsulasi
didasarkan pada sifat bahan pangan yang akan dikapsul, jenis kapsul yang diinginkan (dengan
inti tunggal atau banyak inti), dan bahan pelapis yang digunakan. Umumnya, spray drying
merupakan metode yang paling banyak dipilih untuk mikroenkapsulasi karena cocok untuk
produksi yang berkelanjutan dan produk akhir dapat mematuhi standar kualitas yang tepat
mengenai distribusi ukuran partikel, bentuk partikel, kadar air sisa, dan kerapatan
8,12,23,24,27
curah. Meskipun demikian metoda yang lain tetap terus dikembangkan, untuk terus
meningkatkan nilai efisiensi mikroenkapsulasi dan penerapan yang lebih bervariatif.

6. Daftar Pustaka

1. Anjani K., K. Kailasapathy, dan M. Philips. 2007. Microencapsulation of enzymes for potential
application in acceleration of cheese ripening, International Dairy Journal, 17, 79-86.
2. Bakan, J.A. 1971. Method of making microscopic capsules, United States Patent, 3,567,650.
3. Bakan, J.A. 1973. Microencapsulation of food and related products, Food Technology, 27(11), 34–38.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 25
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

4. Bayless T.M. and N.S. Rosensweig. 1966. A racial difference in incidence of lactase deficiency: A
survey of milk intolerance and lactase deficiency in healthy adult males, Journal of the American
Medical Association, 197, 968–972.
5. Desai K.G.H. dan H.J. Park. 2005. Recent developments in microencapsulation of food ingredients.
Drying Technology, 23(7), 1361-1394.
6. Dziezak J.D. 1988. Microencapsulation and encapsulated ingredients. Food Technol., 42(4), 136-51.
7. Dziezak J.D. 1989. Fat, oils, and fat substitutes, Journal of Food Technology, 7, 66-74.
8. Gharsallaoui A., G. Roudaut, O. Chambin, A. Voilley, dan R. Saurel. 2007. Applications of spray-
drying in microencapsulation of food ingredients: An overview, Food Research International, 40,
1107-1121.
9. Gibbs, B.F., S. Kermasha, I. Alli, dan C.N. Mulligan. 1999. Encapsulation in the food industry: A
review. International Journal of Food Sciences and Nutrition, 50, 213-224.
10. Gouin, S. 2004. Microencapsulation: industrial appraisal of existing technologies and trends. Trends
in Food Science & Technology, 15, 330-347.
11. Jackson, L.S. dan K. Lee. 1991. Microencapsulation and the Food Industry, Lebensm.-Wiss. U.-
Tchnol., 24, 289-297.
12. Jafari S.M., E. Assadpoor, Y. He, dan B. Bhandari. 2008. Encapsulation Efficiency of Food Flavours
and Oils during Spray Drying, Drying Technology, 26, 816-835.
13. Kailasapathy K. dan S.H. Lam. 2005. Application of encapsulated enzymes to accelerate cheese
ripening, International Dairy Journal, 15(6-9), 929-939.
14. Kanakdande D., R. Bhosale, dan R.S. Singhal. 2007. Stability of cumin oleoresin microencapsulated
in different combination of gum arabic, maltodextrin and modified starch, Carbohydrated Polymers,
67, 536-541.
15. Kester J.J. dan O.R. Fennema. 1986. Edible films and coatings: a review, Journal of Food
Technology, 40, 47-59.
16. King, A.H. 1995. Encapsulation of food ingredients – a review of available technology, focusing on
Hydrocolloids. In Encapsulation and Controlled Release of Food Ingredients, American Chemical
Sociaty Symposium Series, 590, 26–39.
17. Kwak H.S., M.R. Ihm, dan J. Ahn. 2001. Microencapsulation of β-Galactosidase with Fatty Acid
Esters, Journal of Dairy Science, 84, 1576-1582.
18. Kwak H.S. dan Lee J.B. 2006. Method of removing residual enzymes in enzyme microencapsulation,
United States Patent, 7,018, 820.
19. Lee J.B., J. Ahn, J. Lee, dan H.S. Kwak. 2003. The microencapsulated ascorbic acid release in vitro
and its effect on iron bioavailability, Archives of Pharmacal Research, 26(10), 874-879.
20. Livney, Y.D. dan Dalgleish D.G. 2009. Casein micelles for nanoencapsulation of hydrophobic
compounds. United States Patent, US 2009/0311329 A1.
21. Morotta, N.G., R.M. Boettger, D.H. Nappen, dan C.D. Szymanski. 1969. Method of encapsulating
water-insoluble substances and products, United States Patent, 3,455,838.
22. Quintanilla-Carvajal, M.X., Camacho-Díaz, B.H., Meraz-Torres, L.S., Chanona-Pérez, J.J., Alamilla-
Beltrán, L., Jimenéz-Aparicio, A., dan Gutiérrez-López, G.F. 2010. Nanoencapsulation: a new trend in
food engineering processing, Food Engineering Reviews, 2, 39-50.
23. Re, M.I. 1998. Micronecapsulation by spray drying. Drying Technology, 16(6), 1195-1236.
24. Reineccius G.A. 2004. The spray drying of food flavors, Drying Technology, 22(6), 1289-1324.
25. Sanguansri, P. dan Augustin, M.A. 2006. Nanoscale materials development – a food industry
perspective, Trends in Food Science & Technology, 17(10), 547-556.
26. Schultz, T.H., K.P Dimick, dan B. Makower. 1956. Incorporation of natural fruit flavors into fruit juice
powders. I. Locking of citrus oils in sucrose and dextrose, Food Technology, 10(1), 57–60.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 26
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

27. Shiga H., H. Yoshii, T. Nishiyama, T. Furuta, P. Forssele, K. Poutanen, dan P. Linko. 2001. Flavor
encapsulation and release characteristics of spray-dried powder by the blended encapsulant of
cyclodextrin and gum arabic, Drying Technology, 67(2), 426-428.
28. Smith, R.A., dan A. Lambrou. 1974. Encapsulated flavoring composition, United States Patent,
3,819,838.
29. Soottitantawat A., H. Yoshii, T. Furuta, M. Ohgawara, P. Forssell, R. Partanen, K. Putanen, dan P.
Linko. 2004. Effect of water activity on the release characteristics and oxidative stability of d-limonene
encapsulated by spray drying, Journal of Agricultural and Food Chemistry, 52, 1269-1276.
30. Swisher, H.E. 1957. Solid flavoring composition and method of preparing the same, United States
Patent, 2,809,895.
31. Thijssen H.A.C. dan W.H. Rulkens. 1968. Retention of aromas in drying food liquids, De Ingenieur,
47, 45-56.
32. Todd, R.D. 1970. Microencapsulation and food industry, Flavor Industry, 1, 78–81.
33. Tolstoguzov V.B., D.B. Izmujov, V.Y. Grinberg, A.N. Marusova, dan V.T. Chekovskaya. 1974. Method
of making protein-containing foodstuffs resembling minced-meat, United States Patent, 3,829,587.
34. Valle E.M.M.D. 2004. Cyclodextrins and their uses: a review, Process Biochemistry, 39, 1033-1046.
35. Weibreck F., R.H.W. Wientjes, H. Nieuwenhuijse, G.W. Robijn, dan C.G.d. Kruif. 2004. Rheological
properties of whey protein/gum arabic coacervates, Journal of Rheology, 48(6), 1215-1228.
36. White M.N. 1998. The chemistry behind carbonless copy paper, Journal of Chemical Education, 75(9),
1119-11120.
37. Yang R.K. dan N.J. Randolph. 1987. Encapsulation composition for use with chewing gum and edible
product, United States Patent, 4,711,784.
38. Yoshii H., A. Soottitantawat, X.-D. Liu, T. Atarashi, T. Furuta, S. Aishima, M. Ohgawara, dan P. Linko.
2001. Flavor release from spray dried maltodextrin/gum arabic or soy matrices as a function of
storage relative humidity, Innovative Food Science and Emerging Technologies, 2, 55–61.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 27
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
NASIONAL

Ombudsman dan Pengawasan Terhadap Aparatur Negara


Pasca Reformasi

Oce Madril
Pusat Kajian Anti (PuKAT) Korupsi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Graduate School of International Development, Governance and Law Program,
Nagoya University, Japan
Email: ocemadril@yahoo.com

1. Pendahuluan

Gerakan reformasi mengamanatkan perubahan kehidupan ketatanegaraan yang didasarkan


pada pemerintahan yang demokratis dan berlandaskan hukum (rule of law). Sebelum reformasi,
praktik pemerintahan cenderung diwarnai praktek-praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Kondisi tersebut membuat masyarakat tidak percaya pada aparat pemerintah, sehingga untuk
memperbaki citra pemerintahan, mutlak diperlukan pemerintahan yang baik dan bersih (good
governance) melalui upaya penegakan asas-asas pemerintahan yang baik dan penegakan
hukum.

Dalam rangka menegakkan pemerintahan yang baik dan upaya meningkatkan pelayanan publik
kepada masyarakat, maka diperlukan keberadaan lembaga pengawas yang secara efektif
mampu mengontrol penyelenggaraan tugas aparat penyelenggara negara. Selama ini,
pengawasan secara internal dinilai kurang memenuhi harapan masyarakat dari sisi obyektifitas
dan akuntabilitas. Sehingga, dibutuhkan lembaga pengawas eksternal agar mekanisme
pengawasan pemerintahan bisa diperkuat dam berjalan secara lebih efektif untuk mewujudkan
birokrasi yang bersih, transparan dan responsif terhadap kebutuhan publik.

2. Pengawasan Sebelum Reformasi

Sebelum reformasi, sistem pengawasan diatur dalam Instruksi Presiden (Inpres) nomor 15
tahun 1983. Namun, peraturan hukum tersebut tidak memberikan keterangan yang tegas dan
jelas mengenai apa yang dimaksud dengan pengertian pengawasan itu sendiri.
Menurut George R. Terry, pengawasan adalah `Control is to determine what is accomplished
evaluate it, and apply corrective measures, if needed to insure result in keeping with the plan.`
Sedangkan Newman berpendapat bahwa `Control is assurance that the performance conform
to plan.` Kemudian, Siagian memberikan definisi tentang pengawasan bahwa proses
pengamatan daripada pelaksanaan seluruh kegiatan organsasi untuk menjamin agar semua
1
pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.

Dari pengertian diatas terlihat bahwa pengawasan dititikberatkan pada dua hal, yakni pada
proses pelaksanaan kegiatan dan pada tahap evaluasi serta koreksi terhadap pelaksanaan
kegiatan. Kedua aspek pengawasan tersebut dilakukan untuk menjamin agar pelaksanaan
suatu tugas berjalan sesuai dengan tujuan dan hasil yang telah direncanakan.

Pengawasan, juga membutuhkan beberapa unsur, yakni :


a. Adanya kewenangan yang jelas yang dimiliki oleh aparat pengawas
b. Tindakan pengawasan dapat dilakukan terhadap proses kegiatan yang sedang berlangsung
atau yang telah dilaksanakan
2
a. Pengawasan dapat ditindaklanjuti secara administratif maupun yuridis.

1
Muchsan, Sistem Pengawasan Terhadap Perbuatan Aparat Pemerintah dan Peradilan Tata Usaha Negara di
Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 2000. hal. 36.
2
Ibid.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 28
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Ada tiga jenis mekanisme pengawasan yang dikenal umum. Pertama adalah pengawasan
melekat. Bentuk pengawasan ini merupakan suatu mekanisme pengawasan yang
mengombinasikan sistem manajemen dan sistem pengawasan atasan langsung. Di dalam
pengawasan ini, diharapkan kekurangan-kekurangan dalam suatu instansi pemerintahan dapat
diselesaikan dengan cepat, murah dan efisien. Akan tetapi, fakta di lapangan menunjukkan
penggunaan pengawasan melekat sulit dilakukan dalam lingkungan mental-mental aparatur
negara yang dinilai koruptif.

Penitikberatan pada atasan inilah yang menjadi kendala besar untuk melaksanakan
pengawasan melekat dalam suatu lembaga pemerintahan. Padahal tujuan dari adanya
pengawasan melekat adalah untuk menciptakan penyelenggaraan pemerintahan dan
pelayanan kepada masyarakat yang bersih, transparan, profesional dan memiliki budaya kerja
yang baik. Bagaimana dapat menyelenggarakan pemerintahan yang bersih, transparan,
profesional kalau orang-orang di dalamnya pun masih bermental money oriented, menghalalkan
segala cara dan bertendensi melakukan praktek-praktek korup. Mereka lupa bahwa menjadi
aparat pemerintah bahkan menjadi pejabat adalah menjadi pelayan publik.

Bentuk pengawasan lainnya dalam melakukan mekanisme pengawasan terhadap setiap


tindakan pemerintah adalah pengawasan fungsional. Pengawasan fungsional yang mana
merupakan bentuk mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh suatu lembaga independen
yang memang sengaja dibentuk untuk mengawasi lembaga tertentu menjadi pilihan awal
daripada pengawasan melekat. Berdasarkan Inpres No. 15 tahun 1983, subyek yang
melaksanakan fungsi pengawasan fungsional adalah:
1. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan
2. Inspektorat Jenderal Departemen, aparat pengawasan lembaga non departemen/instansi
pemerintah lainnya
3. Inspektorat wilayah provinsi
3
4. Inspektorat kabupaten/kota.

Lembaga Pengawas Struktural, seperti Inspektorat Jenderal, selama ini tidak bisa mandiri
karena secara organisatoris merupakan bagian dari kelembagaan/departemen terkait. Lagi pula
pengawasan yang dilakukan bersifat intern artinya kewenangan yang dimiliki dalam melakukan
pengawasan hanya mencakup urusan institusi itu sendiri. Kemudian, Lembaga Pengawas
Fungsional, seperti Badan Pengawasan dan Pemeriksaan Keuangan, meskipun tidak bersifat
intern namun substansi/sasaran pengawasan terbatas pada aspek tertentu terutama masalah
keuangan. Lagi pula aparat pengawas fungsional pada umumnya tidak menangani keluhan-
keluhan yang bersifat individual, mereka melakukan pengawasan terhadap pengelolaan
keuangan secara rutin baik yang merupakan anggaran rutin maupun pembangunan.

Kondisi ini membuat lembaga pengawasan struktural maupun fungsional tidak berjalan dengan
baik. Bahkan, ada kecenderungan lembaga-lembaga tersebut malah larut dalam prilaku koruptif
birokrasi sehingga, pengawasan tidak pernah dijalankan secara serius dan keluhan-keluhan
baik yang berasal dari internal birokrasi maupun dari eksternal (masyarakat) tidak dapat
ditindaklanjuti secara serius.

3. Munculnya Lembaga Pengawas Eksternal

Ketatanegaraan Indonesia menampilkan wajah baru setelah perubahan UUD 1945, yang
secara berantai dilakukan MPR selama 4 tahun, sejak 1999 hingga 2002. Reformasi konstitusi
di era transisi itu, relatif mampu meletakkan sistem ketatanegaraan anyar yang lebih baik. Tentu

3
Ibid.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 29
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

di sana-sini ada kekurangan hasil perumusan, namun dibandingkan dengan konstitusi sebelum
4
amandemen, UUD 1945 hasil amandemen adalah konstitusi yang lebih demokratis.

Salah satu kecenderungan wajah ketatanegaraan Indonesia transisi, serta setelah perubahan
UUD 1945 adalah lahirnya lembaga-lembaga `eksternal` yang memiliki kewenangan untuk
mengawasi institusi negara (pemerintah). “komisi negara independen” (independent regulatory
agencies) maupun lembaga negara non struktural lainnya, seperti komisi eksekutif (executive
branch agencies). Bak jamur di musim hujan, semua bidang kenegaraan berlomba
menghadirkan komisi negara. Nyatalah bahwa Indonesia tidak imun dari kecenderungan global,
yaitu mendirikan lembaga baru di masa transisi pasca pemerintahan otoriter. Salah satu
penyebab utamanya adalah lunturnya kepercayaan publik atas lembaga negara konvensional.
Ketidakpercayaan publik (public distrust) itu mendorong hadirnya komisi negara yang diidamkan
5
memberikan kinerja baru yang lebih terpercaya.

Jeremy Pope dalam buku berjudul Pengembangan Sistem Integritas Nasional secara
sederhana menguraikan bahwa pada saat warga negara melihat ada sesuatu yang salah,
ketidakpuasan bermunculan, dan keluhan terhadap lembaga birokrasi pemerintahan tidak
ditanggapi, padahal pada saat yang sama sistem penegakan hukum yang menjadi tumpuan
akhir memperoleh keadilan sangat lamban, mahal, bersifat publik, dan jauh dari kemudahan
6
(not-user friendly), maka saat itulah Ombudsman mulai banyak dilirik orang.

Kondisi negara yang secara ilustratif diuraikan Jeremy Pope tersebut sangat relevan untuk
menggambarkan keadaan negara Indonesia pasca reformasi dimana birokrasi masih dinilai
sebagai institusi yang korup, tidak efektif dan tidak responsif terhadap kebutuhan publik. Kondisi
inilah yang menyebabkan masyarakat tidak percaya pada birokrasi pemerintahan. Sikap tidak
puas bahkan mengarah pada sikap tidak percaya pada birokrasi merupakan sikap yang
membahayakan bagi keberlangsungan pembangunan. Karena bagaimanapun, birokrasi
merupakan tulang punggung jalannya roda pemerintahan. Baik buruknya pemerintahan
tergantung pada kualitas birokrasinya. Sehingga, adalah suatu keharusan untuk merebut
kepercayaan publik terhadap birokrasi. Kepercayaan ini penting agar kedepannya, masyarakat
dapat bekerjasama dengan aparat birokrasi sehingga bermanfaat bagi proses jalannya program
pemerintahan.

4. Lembaga Ombudsman
Untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap birokrasi, salah satu langkah penting yang
ditempuh pemerintah pasca reformasi adalah dengan memperkuat pengawasan terhadap
birokrasi dengan membentuk lembaga pengawas eksternal, yakni lembaga ombudsman.
Lembaga ini dibentuk pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid berdasarkan
Keputusan Presiden nomor 44 tahun 2000. Kemudian, dasar hukum ombudsman diperkuat
dalam bentuk Undang-undang (UU), yakni UU nomor 37 tahun 2008.

Secara internasional, tidak kurang 65 negara kini memiliki lembaga Ombudsman yang
keberadaannya bahkan diatur dalam konstitusi. Ombudsman di negara-negara yang sudah
lama memilikinya seperti Finlandia, Swedia, dan Norwegia, dinamai "Parliamentary
Ombudsman". Ini terkait dengan para anggotanya dipilih dan diangkat oleh parlemen, sehingga
kedudukan mereka sangat kuat. Ombudsman Finlandia dan Polandia diberikan kewenangan
untuk mengawasi lembaga peradilan sekaligus menghukum hakim-hakim yang terbukti korup.
Kemudian, hampir semua negara eks Komunis di Eropa Timur, termasuk Rusia, kini memiliki
sistem Ombudsman; apalagi negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Belanda, Australia
dan Selandia Baru. Negara-negara Afrika yang tergolong sebagai negara berkembang seperti

4
Denny Indrayana, Komisi Negara, Evaluasi Kekinian dan Tantangan Masa Depan, 2007.
5
Ibid.
6
Antonius Sujata, Ombudsman dan Gerakan Antikorupsi, www.ombudsman.go.id, diakses tanggal 24 Februari 2010.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 30
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Zambia, Ghana, Uganda, Pantai Gading, Burkina Faso dan Kamerun, juga mempunyai
7
Ombudsman. Sehingga, pilihan Indonesia untuk membentuk lembaga Ombudsman tidak
terlepas dari trend internasional yang memilih strategi model Ombudsman untuk memperbaiki
kualitas pemerintahannya, terutama di negara-negara yang sedang berada dalam proses
transisi dari rezim otoriter ke rezim demokrasi.

Pembentukan lembaga Ombudsman di Indonesia didasarkan pada beberapa pertimbangan,


yakni, pertama, bahwa pelayanan kepada masyarakat dan penegakan hukum yang dilakukan
dalam rangka penyelenggaraan negara dan pemerintahan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari upaya untuk menciptakan pemerintahan yang baik, bersih, dan efisien guna
meningkatkan kesejahteraan serta menciptakan keadilan dan kepastian hukum bagi seluruh
warga negara.

Kedua, bahwa pengawasan pelayanan yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan
pemerintahan merupakan unsur penting dalam upaya menciptakan pemerintahan yang baik,
bersih, dan efisien serta sekaligus merupakan implementasi prinsip demokrasi yang perlu
ditumbuhkembangkan dan diaplikasikan guna mencegah dan menghapuskan penyalahgunaan
wewenang oleh aparatur penyelenggara negara dan pemerintahan. Terakhir, pembentukan
Ombudsman sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat agar turut terlibat aktif untuk
melakukan pengawasan terhadap aparat pemerintah sehingga akan lebih menjamin
penyelenggaraan negara yang jujur, bersih, transparan, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme.
Pemberdayaan pengawasan oleh masyarakat ini merupakan implementasi demokratisasi yang
perlu dikembangkan serta diaplikasikan agar penyalahgunaan kekuasaan, wewenang ataupun
jabatan oleh aparatur negara dapat diminimalisasi.

Dalam UU Ombudsman ditegaskan bahwa Ombudsman adalah lembaga negara yang


mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik baik yang
diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan termasuk yang
diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan
Hukum Milik Negara serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas
menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber
dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja
daerah.

Sasaran utama kerja Ombudsman adalah praktek maladministrasi, yakni perilaku atau
perbuatan melawan hukum, melampaui wewenang, menggunakan wewenang untuk tujuan lain
dari yang menjadi tujuan wewenang tersebut, termasuk kelalaian atau pengabaian kewajiban
hukum dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh Penyelenggara Negara
dan pemerintahan yang menimbulkan kerugian materiil dan/atau immateriil bagi masyarakat
dan orang perseorangan.

Terdapat beberapa tujuan pembentukan Ombudsman :


a. Mewujudkan negara hukum yang demokratis, adil, dan sejahtera;
b. Mendorong penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang efektif dan efisien, jujur,
terbuka, bersih, serta bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme;
c. Meningkatkan mutu pelayanan negara di segala bidang agar setiap warga negara dan
penduduk memperoleh keadilan, rasa aman, dan kesejahteraan yang semakin baik;
d. Membantu menciptakan dan meningkatkan upaya untuk pemberantasan dan pencegahan
praktek-praktek Maladministrasi, diskriminasi, kolusi, korupsi, serta nepotisme;
e. Meningkatkan budaya hukum nasional, kesadaran hukum masyarakat, dan supremasi
hukum yang berintikan kebenaran serta keadilan.

7
Tjipta Lesmana, Ombudsman Indonesia Mau Dimatikan, Sinar Harapan, 2004.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 31
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Selanjutnya, dinyatakan dalam pasal 2 UU Ombudsman bahwa Ombudsman merupakan


lembaga negara yang bersifat mandiri dan tidak memiliki hubungan organik dengan lembaga
negara dan instansi pemerintahan lainnya, serta dalam menjalankan tugas dan wewenangnya
bebas dari campur tangan kekuasaan lainnya. Kemandirian dan independensi Ombudsman
dimaksudkan agar dalam melaksanakan tugasnya Ombudsman dapat bersikap obyektif,
transparan, dan mempunyai akuntabilitas kepada publik.

5. Fungsi, tugas dan wewenang Ombudsman

Ombudsman berfungsi mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan


oleh Penyelenggara Negara dan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah termasuk yang
diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan
Hukum Milik Negara serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas
8
menyelenggarakan pelayanan publik tertentu.

Terkait dengan tugas, Ombudsman mempunyai tugas sebagai berikut :


a. Menerima Laporan atas dugaan Maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik;
b. Melakukan pemeriksaan substansi atas Laporan;
c. Menindaklanjuti Laporan yang tercakup dalam ruang lingkup kewenangan Ombudsman;
d. Melakukan investigasi atas prakarsa sendiri terhadap dugaan Maladministrasi dalam
penyelenggaraan pelayanan publik;
e. Melakukan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga negara atau lembaga pemerintahan
lainnya serta lembaga kemasyarakatan dan perseorangan;
f. Membangun jaringan kerja;
g. Melakukan upaya pencegahan Maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik;
dan
9
h. Melakukan tugas lain yang diberikan oleh undang-undang.

Dalam menjalankan fungsi dan tugas, Ombudsman berwenang:


a. Meminta keterangan secara lisan dan/atau tertulis dari Pelapor, Terlapor, atau pihak lain
yang terkait mengenai Laporan yang disampaikan kepada Ombudsman;
b. Memeriksa keputusan, surat-menyurat, atau dokumen lain yang ada pada Pelapor ataupun
Terlapor untuk mendapatkan kebenaran suatu Laporan;
c. Meminta klarifikasi dan/atau salinan atau fotokopi dokumen yang diperlukan dari instansi
mana pun untuk pemeriksaan Laporan dari instansi Terlapor;
d. Melakukan pemanggilan terhadap Pelapor, Terlapor, dan pihak lain yang terkait dengan
Laporan;
e. Menyelesaikan laporan melalui mediasi dan konsiliasi atas permintaan para pihak;
f. Membuat Rekomendasi mengenai penyelesaian Laporan, termasuk Rekomendasi untuk
membayar ganti rugi dan/atau rehabilitasi kepada pihak yang dirugikan;
10
g. Demi kepentingan umum mengumumkan hasil temuan, kesimpulan, dan Rekomendasi.

Selain itu, Ombudsman berwenang:


a. Menyampaikan saran kepada Presiden, kepala daerah, atau pimpinan Penyelenggara
Negara lainnya guna perbaikan dan penyempurnaan organisasi dan/atau prosedur
pelayanan publik;
b. Menyampaikan saran kepada Dewan Perwakilan Rakyat dan/atau Presiden, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah dan/atau kepala daerah agar terhadap undang-undang dan
peraturan perundang-undangan lainnya diadakan perubahan dalam rangka mencegah
Maladministrasi.

8
Pasal 6 UU No. 37 tahun 2008.
9
Pasal 7 UU No. 37 tahun 2008.
10
Pasal 8 UU No. 37 tahun 2008.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 32
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Melihat fungsi, tugas dan wewenang Ombudsman tersebut, jelaslah bahwa pembentukan
Ombudsman terutama untuk membantu upaya pemerintah dalam mengawasi jalannya proses
pemerintahan. Dengan tujuan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik yang menerapkan
prinsip-prinsip good governance, bersih dari KKN dan meningkatkan pelayanan umum (public
service). Terlihat juga bahwa Ombudsman dibentuk untuk memfasilitasi peran serta masyarakat
dalam pengawasan pemerintah. Aspek partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dapat lebih
terjamin melalui mekanisme Ombudsman. Sehingga, partisipasi masyarakat dalam
mewujudkan pemerintahan yang bersih dari KKN sebagaimana yang diamanatkan dalam
Undang-undang nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan
Bebas dari KKN, dapat dilaksanakan secara optimal.

Anggota Ombudsman terdiri dari 9 komisioner. Ketua, Wakil Ketua, dan anggota Ombudsman
11
dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat berdasarkan calon yang diusulkan oleh Presiden.
Tugas mulai untuk mengawasi aparat pemerintah, mengharuskan komisioner Ombudsman
haruslah orang yang cakap, jujur, memiliki integritas moral yang tinggi, dan memiliki reputasi
yang baik. Komisioner juga tidak boleh menjadi pengurus partai politik untuk menjaga
kemandirian lembaga.

6. Ombudsman dan Antikorupsi

Salah satu tujuan pembentukan Ombudsman dalam UU adalah untuk memberantas dan
mencegah korupsi dikalangan aparat pemerintah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa
melenyapkan korupsi sampai ke akar-akarnya tidak cukup hanya dengan tindakan represif
dengan memberikan hukuman kepada pelaku korupsi. Pemberantasan korupsi harus dimaknai
sebagai bentuk tindakan yang komprehenshif, meliputi pencegahan, penindakan, dan perbaikan.

Ombudsman merupakan salah satu kelembagaan antikorupsi yang direkomendasikan


ketetapan (TAP) MPR Nomor VIII tahun 2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan Negara
yang Bersih dan Bebas KKN. Lembaga antikorupsi lain, yang juga direkomendasikan dibentuk
perundangundangannya meliputi Komisi Antikorupsi, Pencucian Uang, Perlindungan Saksi,
Kebebasan Memperoleh Informasi dan sebagainya.

Disamping peran dan kewenangan sebagai pengawas penyelenggaraan pemerintahan,


Ombudsman juga berperan dalam proses pemberantasan dan pencegahan Korupsi. Bahkan,
sebagaimana ditunjukkan oleh TAP MPR, sesunggguhnya Komisi Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi bersama-sama dengan Komisi Ombudsman Nasional dilihat sebagai dua
lembaga yang sama-sama berperan dalam Pemberantasan dan Pencegahan KKN, tetapi
masing-masing diberi tugas dan kewenangan untuk memberantas dan mencegah KKN dari
sudut dan melalui jalur yang berbeda. Bila Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
bertugas dan berperan memberantas KKN yang merupakan tindak pidana, dan karena itu
bertindak sebagai Pengawas Kejaksaan dalam hal pemeriksaan dan penuntutan perkara
pidana korupsi, yang bahkan dapat menggantikan/mengambil alih peran Kejaksaan itu, maka
Komisi Ombudsman Nasional memberantas dan mencegah aspek-aspek KKN dari jalur yang
lain, yaitu melalui jalur administrasi dan Penyelenggara Negara, serta melalui pengembangan
12
Asas-asas Umum Pemerintahan yang Benar (Good Governance).

Kwik Kian Gie pernah berpendapat bahwa untuk memberantas korupsi harus dimulai dari
membersihkan manusia agar bebas korupsi atau setidaknya takut melakukan korupsi. Ia
kemudian menawarkan konsep pemberantasan korupsi dengan menggunakan metode
pemberian carrot and stick. Menurut Kwik Kian Gie, memberi kesejahteraan dan mempertegas

11
Pasal 14 No. 37 tahun 2008.
12
C.F.G. Sunaryati Hartono, Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi Secara Sistemik, dalam Peranan Ombudsman
Dalam Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi serta Pelaksanaan Pemerintahan Yang Baik, Komisi Ombudsman
Nasional, Jakarta, 2005. hal. 134.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 33
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

hukuman (carrot and stick) bagi penyelenggara negara/pemerintah seharusnya menjadi starting
point yang sangat penting dalam pemberantasan korupsi. Tentu saja dengan tidak
mengabaikan perbaikan perangkat hukum, kelembagaan, sistem prosedur pengambilan
keputusan dan transparansi.

Pada tahap inilah, peran Ombudsman sangat dibutuhkan. Sebab selain “menghukum” para
pelaku korupsi, tidak kalah penting adalah mengawasi proses pemberian hukuman tersebut
apakah sudah sesuai prosedur atau sarat dengan berbagai penyimpangan. Sehingga dalam hal
ini, Ombudsman lebih berperan untuk melakukan pencegahan secara dini agar dalam setiap
aspek pemberantasan korupsi tidak terjadi penyimpangan atau maladministrasi. Oleh karena itu,
sebagai lembaga yang menitikberatkan pada pengawasan proses pemberian pelayanan umum,
dalam konteks pemberantasan korupsi, Ombudsman lebih berperan guna mencegah terjadinya
perilaku koruptif setiap aparatur penyelenggara negara/pemerintah. Peran ini dilaksanakan atas
dasar pemikiran bahwa pemberantasan korupsi harus dimulai dengan memperbaiki sistem
pelayanan umum. Pendapat ini dibangun dengan asumsi bahwa sistem pelayanan umum
(termasuk proses penegakan hukum) menjadi tidak berjalan secara baik karena didalamnya
sarat dengan praktek-praktek penyelenggaraan negara yang koruptif. Sehingga apabila proses
pemberian pelayanan umum diawasi sedemikian rupa, maka setidaknya dapat mencegah
13
adanya peluang bagi penyelenggara negara melakukan tindakan-tindakan yang koruptif.

Berbeda dengan tindakan hukum (repressive) bagi Koruptor, maka pencegahan (prevention)
terhadap terjadinya praktek-praktek koruptif dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh
banyak orang. Apabila kita bisa mencegah praktek-praktek koruptif dalam proses pemberian
pelayanan umum seperti misalkan permintaan uang dalam pembuatan KTP, SIM, IMB dan
perijinan lainnya, tentu lebih banyak orang yang merasakan dampaknya. Dengan demikian
ratusan ribu bahkan jutaan orang di Indonesia dapat memperoleh pelayanan prima tanpa
dibebani biaya-biaya tidak resmi yang memberatkan. Oleh karena itu, memasukkan upaya
pencegahan korupsi sebagai bagian penting dalam strategi pemberantasan korupsi akan
semakin melengkapi dan memperkuat gerakan antikorupsi di Indonesia. Hal ini akan semakin
memperjelas peran Ombudsman dalam gerakan antikorupsi di Indonesia. Apabila
pemberantasan korupsi dimaknai sebagai bentuk tindakan yang komprehenshif, meliputi
pencegahan (preventif), penindakan (represif), dan perbaikan (kuratif), permasalahannya
adalah bagaimana mensinergikan peran masing-masing lembaga yang menjadi stakeholder
gerakan antikorupsi sehingga menjadi kekuatan yang utuh dari hulu (pencegahan) sampai hilir
14
(perbaikan).

7. Ombudsman di Daerah

Untuk konteks Indonesia, dengan luas wilayah kepulauan dan jumlah penduduk yang sangat
besar, barangkali tidak mungkin semua masalah maladministrasi publik bisa ditangani oleh
Ombudsman nasional secara cepat dan murah. Dalam konteks otonomi daerah, dimana hampir
seluruh kewenangan public administration dilimpahkan ke daerah, maka harus dimungkinkan
dibentuk Ombudsman daerah yang independen. Pelaksanaan desentralisasi kekuasaan yang
tidak diikuti dengan pembangunan sistem akuntabilitas dan pengawasan eksternal yang kuat
15
cenderung akan mengakibatkan terjadinya desentralisasi korupsi.

Sebagai lembaga yang menitikberatkan pada pengawasan proses pemberian pelayanan umum,
dalam konteks pemberantasan korupsi di daerah, Ombudsman daerah berperan di baris paling
depan guna mencegah terjadinya korupsi dan perilaku koruptif setiap aparatur penyelenggara
pemerintahan daerah. Peran Ombudsman daerah dalam proses pencegahan korupsi dimulai

13
Antonius Sujata, op.cit.
14
Ibid.
15
Teten Masduki, Ombudsman Daerah dan Pemberdayaannya.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 34
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

dengan mendorong upaya perbaikan sistem pelayanan umum pemerintahan daerah dengan
mengedepankan transparansi dan akuntabilitas publik.

8. Penutup

Secara universal diakui bahwa pada hakikatnya Ombudsman mengemban misi untuk
melakukan pengawasan terhadap aparat pemerintah. Rekomendasi Ombudsman meskipun
tidak mengikat (not legally binding) namun secara moral diikuti (morally binding). Ombudsman
tidak memberi sanksi hukum sebagaimana Lembaga Peradilan akan tetapi memberi pengaruh
kepada aparatur negara. Dengan memperkuat pengawasan, diharapkan pemberian pelayanan
kepada masyarakat akan lebih meningkat kualitasnya. Memperoleh pelayanan secara baik dari
Penyelengara Negara merupakan sebuah permasalahan penting saat ini yang harus kita atasi.
Institusi Ombudsman ingin mengembalikan paradigma bahwa sesungguhnya lembaga
pengawasan memiliki peran strategis untuk mewujudkan birokrasi pemerintahan yang baik.

Terkait pemberantasan korupsi, pendekatan yang dilakukan Ombudsman berbeda dengan


fungsi lembaga represif antikorupsi seperti KPK, kejaksaan atau kepolisian. Fungsi
Ombudsman lebih tertuju pada perbaikan administrasi guna memastikan bahwa sistem-sistem
tersebut membatasi korupsi sampai tingkat minimum, yakni penyelenggaraan administrasi yang
transparan, efisien dan dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

9. Daftar Pustaka
9.1. Daftar buku :
Hadjon, Philipus M, 2005, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Muchsan, 2000, Sistem Pengawasan Terhadap Perbuatan Aparat Pemerintah dan Peradilan Tata Usaha
Negara di Indonesia, Liberty, Yogyakarta.
Sujata, Antonius, 2005, Peranan Ombudsman Dalam Rangka Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi
Serta Penyelenggaraan Pemerinthan Yang Bersih, Komisi Ombudsman Nasional, Jakarta
Sujata, Antonius,2002, Ombudsman Indonesia, Masa Lalu, Sekarang dan Masa Mendatang. Komisi
Ombudsman Nasional, Jakarta

9.2. Daftar peraturan perundang-undangan:


Instrruksi Presiden Nomor 15 tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengawasan
Keputusan Presiden Nomor 44 tahun 2000 tentang Komisi Ombudsman Nasional
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor VIII tahun 2001 tentang Rekomendasi Arah Kebijakan
Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Undang-undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan pemerintahan Yang Bersih dan Bebas
dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.
Undang-undang Nomor 37 tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia

9.3. Makalah dan Internet :


Hartono, C.F.G. Sunaryati, 2005, Pemberantasan dan Pencegahan Korupsi Secara Sistemik.
Indrayana, Denny, 2007, Komisi Negara, Evaluasi Kekinian dan Tantangan Masa Depan.
Lesmana, Tjipta, 2004, Ombudsman Indonesia Mau Dimatikan, Sinar Harapan.
Masduki, Teten, Ombudsman Daerah dan Pemberdayaannya.
Sujata, Antonius, Ombudsman dan Gerakan Antikorupsi.www.ombudsman.go.id

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 35
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
KESEHATAN

Cardiac Biopacemaker
Udin Bahrudin
Institute of Regenerative Medicine and Biofunction, Tottori University Graduate School of Medical Science,
Japan; Bagian Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler, Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro, Indonesia
E-mail: bahrudin@med.tottori-u.ac.jp

1. Pendahuluan

Jantung merupakan organ vital yang bekerja terus-menerus memompa darah ke seluruh bagian
tubuh manusia. Fungsi tersebut dapat terlaksana dengan adanya otot yang berkontraksi secara
teratur dengan irama yang ditentukan oleh sistem persyarafan jantung serta terkoordinasi
dengan sistem syaraf pusat melalui persyarafan otonom simpatis dan parasimpatis. Pada
jantung normal, impuls syaraf dihasilkan bagian jantung yang disebut pacemaker yang terletak
pada nodus sinoatrial (SA). Pacemaker ini bertanggung jawab dalam proses inisiasi potensial
aksi secara ritmik dan diteruskan ke atrium dan ventrikel melalui sistem konduksi jantung yang
terdiri dari nodus atrioventrikuler (AV), dan berkas Purkinje (Gambar 1a).

A B

Nodus
SA

Bundle His

Nodus AV

Serabut Purkinje

Gambar 1. (A) Sistem konduksi jantung, terdiri atas nodus SA, nodus AV, Bundle His, dan serabut
Purkinje. Dikutip dari http://n.ecgpedia.org dengan modifikasi. (B) Pacemaker elektronik, generator
ditanam di bawah kulit dada, elektroda dalam atrium dan ventrikel kanan dihubungkan dengan generator
melalui kabel yang berada dalam pembuluh vena. Dikutip dari http://mykentuckyheart.com.

Gangguan pembentukan potensial aksi pada pacemaker pada nodus SA dan atau gangguan
konduksi impuls syaraf menyebabkan gannguan kontraksi jantung. Terapi untuk kelainan
seperti ini adalah pemakaian alat pacu denyut jantung (cardiac pacemaker). Sejauh ini, alat
yang telah digunakan pada pasien adalah pacu jantung elektronik yang ditanam di bawah kulit
dada (Gambar 1b). Implantasi pacemaker diperlukan pada pasien dengan bradikardia (denyut
jantung lambat, kurang dari 60 kali per menit) disebabkan oleh disfungsi nodus SA. Kelainan ini
banyak ditemukan seiring dengan proses penuaan. Data yang diperoleh dari 28 penelitian yang
berbeda menunjukkan median insiden tahunan 0,6% (0% s/d 4.5%) dengan prevalensi total
2,1% (0% s/d 11,9%).30 Manifestasi klinik pasien dengan kelainan ini bervariasi, tetapi yang
paling mengkhawatirkan adalah pingsan yang disebabkan oleh aliran darah ke otak berkurang
akibat melambatnya atau berhentinya denyut jantung. Bradikardia yang disertai aritmia (ritme
jantung tidak normal) dapat memicu terjadinya aritmia ventrikel yang fatal dan gagal jantung.
Indikasi lain implantasi pacemaker adalah bradikardia karena disfungsi nodus AV, blok
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 36
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

bivasikuler kronik, blok terkait infark miokardium akut, sindroma sinus carotis hipersensitif,
sindroma long-QT, pasien anak dengan penyakit jantung bawaan, dan lain-lain seperti yang
telah disebutkan dalam guideline.9

Alat pacu jantung elektronik merupakan terobosan terapi yang bagus untuk menolong pasien
dengan gangguan konduksi jantung dan telah terbukti efektif dapat memperpanjang harapan
4,19,12,31
hidup pasien. Meskipun demikian, alat ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu: (a)
tidak dapat merespons persyarafan otonom untuk menyesuaikan kecepatan denyut jantung
sesuai peningkatan kebutuhan pasokan darah bagi tubuh, yaitu saat terjadi perubahan aktivitas
fisiologis dan emosi, seperti pada olahraga, stres, istirahat, atau tidur, (b) terkait umur baterai
yang memerlukan tindakan operasi berulang untuk mengganti pacemaker atau baterainya saja;
(c) kemungkinan elektroda patah, rusak, ataupun kerusakan isolasi kabel pacu jantung
sehingga menimbulkan risiko terjadinya infeksi atau trombosis vena, (d) keterbatasan geometris
khususnya pada pasien anak dan terlebih bayi baru lahir, yakni ukuran alat pacu yang telah
ditanam tidak dapat menyesuaikan dengan pertumbuhan badan pasien dan berakibat pada
pergeseran posisi elektrode dan atau generator selama pertumbuhan sehingga memerlukan
koreksi ukuran pacemaker berkelanjutan. Dengan adanya berbagai keterbatasan tersebut,
muncullah ide kreatif untuk menciptakan alat pacu jantung biologis (cardiac biopacemaker).

2. Biopacemaker

Biopacemaker adalah jaringan yang secara langsung atau melalui rekayasa teknologi dipakai
sebagai pacemaker pada organ jantung.28 Jaringan dapat diambil dari sel pacemaker tanpa
rekayasa genetika, misalnya dari sel punca embrional yang telah berdiferensiasi menjadi sel
pacemaker. Bisa juga diambil dari sel yang telah mengalami rekayasa genetika. Prinsip dasar
penciptaan biopacemaker dengan rekayasa adalah meningkatkan arus ke dalam sel dan/atau
menurunkan arus ke luar sel sehingga terjadi depolarisasi membran sel yang menginduksi
denyut jantung.

Bagian penting sel pacemaker untuk memproduksi sinyal listrik (potensial aksi) adalah
keberadaan kanal-kanal ion yang tersebar baik di membran sel maupun pada retikulum
sarkoplasma. Di antara kanal ion tersebut, ada satu kelompok kanal ion yang berperan pada
tahap awal (inisiasi) potensial aksi yaitu kanal HCN (hyperpolarized activated and cyclic
nucleotide gated). Kanal ini memiliki celah selektif yang dilalui oleh aliran arus listrik ke dalam
sel pacemaker yang dikenal dengan simbol If (funny current). Penelitian biopacemaker akhir-
akhir ini banyak difokuskan pada kanal HCN dan akan diuraikan lebih detail di bagian bawah
tulisan ini.

3. Penelitian dan pengembangan Cardiac Biopacemaker

Ada beberapa pendekatan yang telah dilakukan untuk menciptakan biopacemaker, yang secara
garis besar dibagi menjadi dua metode yaitu rekayasa (transfer) gen dan transplantasi sel.
Berikut diulas secara singkat beberapa penelitian pembuatan biopacemaker yang telah
dikerjakan.

3.1. Rekayasa (transfer) gen

Dengan menggunakan viral vector atau electroporation (syok listrik) untuk memasukkan gen ke
5,14,19-21
dalam jaringan jantung, tempat gen dimasukkan secara langsung ke dalam sel otot
jantung untuk membuat atau meningkatkan denyut spontan dalam sel (Tabel 1).

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 37
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Penelitian pertama adalah dengan mengekspresikan secara berlebihan (over-expression)


7,8
reseptor adrenergik ß2 untuk meningkatkan sensitivitas respons terhadap catecholamin. DNA
7
yang mengodekan reseptor adrenergik ß2 diinjeksikan ke dalam atrium kanan jantung tikus
8
atau babi . Kedua penelitian ini menemukan terapi gen tersebut dapat meningkatkan denyut
jantung dasar sebesar 40–50%. Efek rangsangan syaraf otonom pada denyut jantung tidak
dilaporkan pada penelitian ini. Akan tetapi, penelitian lain secara in vitro menunjukkan ekpresi
berlebihan reseptor adrenermgik ß2 pada sel jantung fetus tikus meningkatkan denyut jantung
7
dasar maupun saat dirangsang dengan isoprotenol 1 mM sebesar 50%.

Tabel 1. Percobaan pembuatan biopacemaker dengan rekayasa gen


Spesies Model Gen Efek Referens
i
Tikus reseptor adrenergik Peningkatan kronotropik jantung 7
ß2
Marmot Kir2.1AAA Aktivitas pacemaker tidak tertekan 19
Kv1.4 sintetis Ritme idioventrikuler dengan 13
pemberian metacolin
Babi reseptor adrenergik Peningkatan denyut jantung 50% 8
ß2
Anjing Blok AV mHCN2* Denyut atrium spontan 27
mHCN2 Denyut abnormal ventrikel 23
menghilang
hMSCs** + mHCN2 Denyut spontan 24
mHCN2 Wt + mutan Penurunan denyut dari 1
pacemaker elektronik
Babi Sindrom mHCN1 mutan Pengurangan ketergantungan 33
Sick- pada pacemaker elektronik
sinus
Blok AV hHCN4 Denyut idioventrikuler 3
*mHCN2 = mouse HCN2, **hMSCs = human mesenchimal stem cells

Penelitian selanjutnya memakai rekayasa konstruksi plasmid adenovirus yang mengodekan


19
kanal ion IK1 (inward rectifier current) yang merupakan arus penyearah ke dalam sel. Plasmid
tersebut diinjeksikan ke dalam ruang ventrikel marmot in vivo. IK1 ini merupakan kanal ion yang
ekspresinya tinggi pada sel otot atrium dan ventrikel dewasa, tetapi tidak pada sel pacemaker,
sehingga diperkirakan kanal ion ini berperan penting dalam menekan eksitabilitas potensial aksi
pada sel selain sel pacemaker. Hasilnya, kanal ion IK1 terekspresi pada 20% sel-sel ventrikel
2
dan terjadi penurunan 80% inward rectifier current. Percobaan ini menunjukkan bahwa
ekspresi IK1 dominan negatif (Kir2.1AAA) menurunkan arus keluar sel dan meningkatkan
kecepatan (rate) pacemaker.

Penelitian kelompok lainnya memakai gen HCN yang berperan penting dalam membentuk arus
19,21,22,26,27
utama pacemaker pada jantung yaitu If. Kanal ini memiliki 4 bentuk yaitu isoform 1
sampai 4. Isoform HCN1, HCN2, HCN4, dan HCN mutan dan chimera telah dikembangkan
1,3,19,20,23-25,29
untuk mengoptimalkan kecepatan dan ritme pacemaker. Kemudian juga telah
29
dilakukan rekayasa gen yang menyerupai HCN (HCN-like). Dengan memakai vetor
adenovirus, gen HCN2 normal, mutan, dan chimera dimasukkan melalui kateter menuju sistem
cabang bundel (bundle branch) jantung anjing yang telah diblok total dengan
13,21,22,27
radiofrequency. Hasilnya, jantung berdenyut dengan ritme dalam kisaran normal serta
memperlihatkan respons positif terhadap rangsangan syaraf otonom. Penelitian lain
menggunakan gen HCN2 tikus yang dimasukkan ke dalam human mesenchymal stem cells
(hMSCs) dengan metode elektroporation lalu diinjeksikan pada dinding ventrikel kiri jantung
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 38
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

24
anjing. Hasilnya, terjadi denyut spontan pada daerah injeksi. Berdasarkan pengalaman
penulis, kelemahan metode elektroporation adalah efisiensi transfer gen relative rendah dan
toksisitas terhadap sel tinggi.

Penggunaan vektor virus memberikan peluang terkirimnya gen ke dalam sel dengan efisiensi
tinggi, tetapi ada risiko terjadi efek negatif berupa ekspresi gen yang tidak terduga seperti
timbulnya keganasan.

3.2. Transplantasi sel

Sel yang menunjukkan karakteristik sel nodus SA ditanam dalam otot jantung dan berdenyut
spontan untuk membuat jaringan di sekitarnya berdenyut dan menggerakkan otot jantung
(Tabel 2). Penggunaan terapi sel merupakan alternatif untuk menghindari pemakaian vektor
viral.

Tabel 2. Percobaan pembuatan biopacemaker dengan transplantasi sel


Spesies Model Sel Efek Referens
i
Marmot Sel punca embrional Menggerakkan otot 33
manusia ventrikel yang diam
Anjing Ablasi nodus Sel nodus SA dan Denyut dari sel yang 29
AV atrium fetus anjing ditranplantasikan
menggerakkan jantung
Babi Ablasi nodus Sel nodus SA dan Terbentuk pacing 17
AV atrium fetus manusia fungsional
Ablasi nodus Sel nodus SA dan Terbentuk pacing 2
AV atrium fetus babi fungsional
Ablasi nodus Sel punca embrional Terbentuk pacing 14
AV manusia fungsional

Percobaan awal dengan tranplantasi sel atrium termasuk di dalamnya sel nodus SA dari fetus
anjing pada otot ventrikel kiri anjing yang telah diblok nodus AV-nya. Hasilnya, terbentuk
31
denyut “penyelamat” ventrikel dari daerah transplantasi. Dengan pewarnaan menggunakan
antibodi Dystrophin, diketahui bahwa sel transplan berintegrasi dengan sel jantung resipien
melalui gap junction. Dua penelitian lain menggunakan sel nodus SA dan atrium fetus manusia
ataupun sel nodus SA dan atrium fetus babi pada jantung yang telah diblok pada nodus AV
2,17
menunjukkan hasil positif dengan terbentuknya denyut ventrikel. Stimuli reseptor adrenergik
2,17
beta dengan isoprotenol dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung.

Selain pengambilan sel pacemaker dari jantung, sumber lain yang potensial untuk memproduksi
biopacemaker adalah sel punca embrional. Kelebihan dari sel punca embrional adalah
kemampuannya membentuk gap junction fungsional yang menghubungkan sel transplan
dengan sel resipien dan juga dalam hal kemampuannya menghasilkan denyut secara
11,14,15,18
spontan. Pemberian sel punca embrional memicu terbentuknya sel pacemaker pada
14,33
jantung babi yang diblok pada nodus AV. Akan tetapi, ada hal lain yang perlu diperhatikan
pada pemakaian sel punca embrional ini, yaitu terkait dengan reaksi penolakan implantasi sel
sehingga perlu pemberian obat imunosupresif, di samping adanya risiko timbulnya transformasi
keganasan.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 39
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

4. Perspektif ke depan

Telah diuraikan perkembangan penelitian untuk menciptakan biopacemaker yang terdiri dari
transfer gen dengan vektor virus dan transplantasi sel. Isu penting terkait transfer gen adalah
terkait pemakaian vektor virus yang dapat menginduksi keganasan. Demikian pula dengan
transplantasi sel punca embrional, ada risiko timbul keganasan dan adanya reaksi penolakan
dari sel atau organ resipien. Risiko keganasan dapat dihindari dengan pemakaian sel punca
embrional yang telah didiferensiasi menjadi sel pacemaker. Saat ini grup kami di Univeritas
Tottori sedang berupaya mengisolasi sel pacemaker dari sekian banyak jenis sel hasil
diferensiasi. Kami memanfaatkan metode teknologi gen rekombinan untuk menandai sel
20
pacemaker secara spesifik dan kemudian memisahkannya dengan mesin pemilah sel.
Meskipun demikian, masih ada isu etika terkait pemakaian sel punca embrional pada manusia.
Ada harapan baik dengan telah ditemukannya alternatif lain yaitu sel induced plurypotent stem
35
(iPS). Dengan optimisme bahwa penelitian sel iPS yang saat ini sedang giat dijalankan dapat
menemukan metode yang dapat diterapkan dan terjangkau dari segi biaya untuk diterapkan
pada pasien. Selain itu, metode fusi sel juga telah dicoba untuk membuat sel pacemaker untuk
menghindari pemakaian vektor virus, tetapi masih diperlukan elaborasi lebih dalam secara in
5
vivo.

Isu lain adalah optimasi fungsi biopacemaker. Implantasi biopacemaker dan pacemaker
elektronik secara tandem13,29 dapat diujicobakan untuk tahap awal uji coba biopacemaker pada
binatang percobaan. Pacemaker elektronik diharapkan dapat mengawal fungsi biopacemaker
apa bila terjadi kegagalan tiba-tiba, dengan kata lain sebagai penyelamat kegagalan.
Sementara biopacemaker memungkinkan respon terhadap syaraf otonom dan juga
memperpanjang umur baterai pacemaker elektronik. Metode tandem ini penting untuk
diterapkan sampai dapat tercapainya hasil implantasi biopacemaker yang dinilai dengan
parameter keselamatan, fungsional, dan durasi. Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan
sebelum biopacemaker diujicobakan pada jantung manusia adalah adanya risiko migrasi dan
pro-aritmia. Meskipun data-data riset yang ada saat ini mendukung untuk aplikasi klinis, masih
diperlukan penelitian lebih lanjut sampai keamanan pada pasien dapat dijamin.

5. Daftar Pustaka

1. Bucchi A, Plotnikov AN, Shlapakova I, Danilo P Jr, Kryukova Y, Qu J, et al. 2006. Wild-type and
mutant HCN channels in a tandem biological-electronic cardiac pacemaker. Circulation. 114: 992-999.
2. Cai J, Lin G, Jiang H, Yang B, Jiang X, Yu Q, Song J. 2006. Transplanted neonatal cardiomyocytes as
a potential biological pacemaker in pigs with complete atrioventricular block. Transplantation. 81:1022-
1026.
3. Cai J, Yi FF, Li YH, Yang XC, Song J, Jiang XJ, et al. 2007. Adenoviral gene transfer of HCN4 creates
a genetic pacemaker in pigs with complete atrioventricular block. Life Sci. 80: 1746-1753.
4. Chen J, Mitcheson JS, Tristani-Firouzi M, Lin M, Sanguinetti MC. 2001. The S4–S5 linker couples
voltage sensing and activation of pacemaker channels. Proc Natl Acad Sci USA. 98:11277–11282.
5. Cho HC, Kashiwakura Y, Marbán E. 2007. Creation of a biological pacemaker by cell fusion. Circ Res.
100:1112–1115.
6. Cohen IS, Brink PR, Robinson RB, Rosen MR. 2005. The why, what, how and when of biological
pacemakers. Nat Clin Pract Cardiovasc Med. 2:374–375.
7. Edelberg JM, Aird WC, Rosenberg RD. 1998. Enhancement of murine cardiac chronotropy by the
molecular transfer of the human β2 adrenergic receptor cDNA. J Clin Invest. 101: 337-343.
8. Edelberg JM, Huang DT, Josephson ME, Rosenberg RD. 2001. Molecular enhancement of porcine
cardiac chronotropy. Heart. 86:559-562.
9. Epstein AE, DiMarco JP, Ellenbogen KA, Estes NA 3rd, Freedman RA, Gettes LS, et al. 2008.
ACC/AHA/HRS 2008 Guidelines for Device-Based Therapy of Cardiac Rhythm Abnormalities: a report
of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines
(Writing Committee to Revise the ACC/AHA/NASPE 2002 Guideline Update for Implantation of

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 40
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Cardiac Pacemakers and Antiarrhythmia Devices): developed in collaboration with the American
Association for Thoracic Surgery and Society of Thoracic Surgeons. Circulation. 117:e350–408.
10. Friedman RA, Fenrich AL, Kertesz NJ. 2001. Congenital complete atrioventricular block. Pacing Clin
Electrophysiol. 24: 1681-1688.
11. Gepstein L. Cardiovascular therapeutic aspects of cell therapy and stem cells. 2006. Ann NY Acad Sci.
1080: 415-425.
12. Hauser RG, Hayes DL, Kallinen LM, Cannom DS, Epstein AE, Almquist AK, et al. 2007. Clinical
experience with pacemaker pulse generators and transvenous leads: an 8-year prospective
multicenter study. Heart Rhythm. 4:154-160.
13. Kashiwakura Y, Cho HC, Barth AS, Azene E, Marban E. 2006. Gene transfer of a synthetic
pacemaker channel into the heart: a novel strategy for biological pacing. Circulation. 114:1682-1686.
14. Kehat I, Khimovich L, Caspi O, Gepstein A, Shofti R, Arbel G, et al. 2004. Electromechanical
integration of cardiomyocytes derived from human embryonic stem cells. Nat Biotechnol. 22: 1282-
1289.
15. Kolossov E, Lu Z, Drobinskaya I, Gassanov N, Duan Y, Sauer H, et al. 2005. Identification and
characterization of embryonic stem cellderived pacemaker and atrial cardiomyocytes. FASEB J.
19:577-579.
16. Liechty KW, MacKenzie TC, Shaaban AF, Radu A, Moseley AM, Deans R, et al. 2002. Human
mesenchymal stem cells engraft and demonstrate site specific differentiation after in utero
implantation in sheep. Nat Med. 6:1282–1286.
17. Lin G, Cai J, Jiang H, Shen H, Jiang X, Yu Q, Song J. 2005. Biological pacemaker created by fetal
cardiomyocyte transplantation. J Biomed Sci. 12:513-519.
18. Maltsev VA, Rohwedel J, Hescheler J, Wobus AM. 1993. Embryonic stem cells differentiate in vitro
into cardiomyocytes representing sinusnodal, atrial and ventricular cell types. Mech Dev. 44:41-50.
19. Miake J, Marban E, Nuss HB. Biological pacemaker created by gene transfer. 2002. Nature. 419:132-
133.
20. Morikawa K, Bahrudin U, Miake J, Igawa O, Kurata Y, Nakayama Y,et al. 2010. Pacing Clin
Electrophysiol. (In press)
21. Plotnikov AN, Shlapakova IN, Kryukova Y, Bucchi A, Pan Z, Danilo P Jr, et al. 2005a. Comparison of
mHCN2 and mHCN2-E324A genes as biological pacemakers. Circulation. 112:II-126 (Abstract).
22. Plotnikov AN, Shlapakova IN, Szabolcs MJ, Danilo P Jr, Lu Z, Potapova I, et al. 2005b. Adult human
mesenchymal stem cells carrying HCN2 gene perform biological pacemaker function with no overt
rejection for 6 weeks in canine heart. Circulation. 112:II-221 (Abstract).
23. Plotnikov AN, Sosunov EA, Qu J, Shlapakova IN, Anyukhovsky EP, Liu L, et al. 2004. A biological
pacemaker implanted in the canine left bundle branch provides ventricular escape rhythms having
physiologically acceptable rates. Circulation. 109:506–512.
24. Potapova I, Plotnikov A, Lu Z, Danilo P Jr, Valiunas V, Qu J, et al. 2004. Human mesenchymal stem
cells as a gene delivery system to create cardiac pacemakers. Circ Res. 94:952-959.
25. Qu J, Barbuti A, Protas L, Santoro B, Cohen IS, Robinson RB. 2001. HCN2 over-expression in
newborn and adult ventricular myocytes: distinct effects on gating and excitability. Circ Res. 89:e8–
e14.
26. Qu J, Kryukova Y, Potapova IA, Doronin SV, Larsen M, Krishnamurthy G, et al. 2004. MiRP1
modulates HCN2 channel expression and gating in cardiac myocytes. J Biol Chem. 279:43497–43502.
27. Qu J, Plotnikov AN, Danilo P Jr, Shlapakova I, Cohen IS, Robinson RB, Rosen MR. 2003. Expression
and function of a biological pacemaker in canine heart. Circulation. 107:1106–1109
28. Rosen MR. 2007. Conference report: building a biologic pacemaker. J Electrocardiol. 40(6
Suppl):S197–S198.
29. Rosen MR, Brink PR, Cohen IS, Robinson RB. 2004. Genes, stem cells and biological pacemakers.
Cardiovasc Res. 64:12–23.
30. Rosenqvist M, Obel IW. 1989. Atrial pacing and the risk for AV block: is there a time for change in
attitude? Pacing Clin Electrophysiol. 12:97–101.
31. Ruhparwar A, Tebbenjohanns J, Niehaus M, Mengel M, Irtel T, Kofidis T, et al. 2002. Transplanted
fetal cardiomyocytes as cardiac pacemaker. Eur J Cardiothorac Surg. 21: 853-857.
32. Senaratne J, Irwin ME, Senaratne MP. 2006. Pacemaker longevity: are we getting what we are
promised? Pacing Clin Electrophysiol. 29:1044–1054.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 41
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

33. Tse HF, Xue T, Lau CP, Siu CW, Wang K, Zhang QY,et al. 2006. Bioartificial sinus node constructed
via in vivo gene transfer of an engineered pacemaker HCN channel reduces the dependence on
electronic pacemaker in a sick-sinus syndrome model. Circulation. 114:1000–1011.
34. Xue T, Cho HC, Akar FG, Tsang SY, Jones SP, Marban E, et al. 2005. Functional integration of
electrically active cardiac derivatives from genetically engineered human embryonic stem cells with
quiescent recipient ventricular cardiomyocytes: insights into the development of cell-based
pacemakers. Circulation. 111:11–20.
35. Yamanaka S. 2007. Strategies and new developments in the generation of patient-specific pluripotent
stem cells. Cell Stem Cell. 1:39–49.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 42
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
HUMANIORA

Kontribusi Pemahaman Budaya dalam


Penafsiran Majas Metafora Bahasa Jepang

Didik Nurhadi
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Surabaya
Fakultas Sastra Universitas Hiroshima
E-mail: roended@yahoo.com

1. Pendahuluan

Bahasa berfungsi referensial mengandung pengertian bahwa bahasa merupakan alat


mengungkapkan segala sesuatu, baik sesuatu itu berada dalam alam fikirannya (perasaan,
pendapat, emosi), maupun objek yang berada di luar dirinya. Namun, pengungkapan sesuatu
hal, kejadian melalui bahasa tersebut dilakukan dengan bermacam-macam bentuk
pengungkapan. Pertama, pengungkapan secara langsung terhadap segala sesuatu yang akan
diungkapkan melalui bahasa berdasarkan pemikiran umum dan kebiasaan-kebiasaan yang
telah umum dilakukan. Kedua, pengungkapan secara tidak langsung atau pengungkapan
dengan sudut pandang yang berbeda terhadap segala sesuatu melalui bahasa. Bentuk
ungkapan-ungkapan seperti “gakkou no mae ni tatte iru kata wa nihongo no atarashii sensei
desu”. <seseorang yang berdiri di depan sekolah adalah guru bahasa Jepang yang baru> atau
bentuk lain seperti “sono sensei wa dare ni taishite mo yasashii desu yo”. <guru tersebut selalu
berlaku ramah kepada semua orang>. Adalah contoh model pengungkapan objek secara
langsung yang memberikan informasi secara jelas melalui bentuk, variasi bahasa yang ada.
Lain halnya bila ungkapan-ungkapan seperti “kanojo koso wa watashitachi no megami da”.
<hanya pacarlah permata hati kami”, “kare wa suieikai no tobiuo” <dia (laki-laki) adalah raja
dalam dunia perenangan> (dalam Yamanashi, 1998:26). Dua ungkapan yang disebutkan
terakhir ini merupakan model pengungkapan objek secara tidak langsung dan mengandung
makna pengandaian, dalam linguistik dikenal dengan istilah majas. Artinya, kedua contoh
ungkapan yang dikemukakan Yamanashi tidak akan bisa dipahami jika mendasarkan pada
makna leksikal kata pembentuk kalimat atau ungkapan yang bersangkutan. Kedua kalimat itu
hanya bisa dipahami dengan menguraikan makna majas dari ungkapan tersebut. Yamanashi
(1998:27) mendefinisikan bahwa majas dimaknai sebagai bentuk ungkapan yang tidak
menunjuk pada makna leksikal ungkapan yang bersangkutan, melainkan menunjuk pada
makna pengandaian yang berupa perbandingan.

Banyak pertimbangan yang mendasari penggunaan majas dalam komunikasi dengan bahasa.
Termasuk pertimbangan yang mendasarkan pada alasan yakni untuk menghormati hubungan
para penutur bahasanya.Yamanashi (1998;1) menyebutkan bahwa majas sebagai salah satu
jenis retorika bahasa, serta tendensi majas dipahami sebagai media retorika untuk menghiasi,
mempercantik kata-kata secara bebas. Penggunaan bentuk kata-kata yang “dipoles” tersebut
mempunyai alasan selain untuk menyampaikan segala aktivitas sehari-hari secara lebih efektif,
juga berperan dalam pengenalan dan penemuan sesuatu agar menciptakan dunia baru yang
dinamis. Hal ini berkait dengan konsepsi majas sebagai alat penyampai sesuatu yang
berkarakteristik fungsi inti dalam mekanisme bahasa yang dipakai manusia sehari-hari. Hal ini
berarti majas merupakan wujud nyata hasil pemikiran manusia.

2. Bahasa Dan Budaya

Terdapat berbagai pandangan ihwal hubungan antara bahasa dan budaya. Ada teori yang
menyebutkan bahwa bahasa merupakan bagian dari budaya. Dalam pengertian tersebut maka
bahasa akan mencerminkan budaya masyarakat penuturnya. Sedangkan pendapat lain yang
berbeda pandangan menyebutkan bahwa bahasa dan budaya merupakan dua hal yang
berbeda, namun mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Selain itu, ada juga yang
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 43
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

menyebutkan bahwa bahasa sangat dipengaruhi oleh budaya, sehingga bahasa merupakan
manifestasi budaya. Serta masih banyak pendangan lain yang menyebutkan hubungan diantara
keduanya.

Tulisan ini tidak akan memberikan simpulan terkait dengan pendapat mana yang paling tepat
menyangkut permasalahan keterkaitan budaya dan bahasa. Namun, penulis sependapat
dengan Chaer dan Agustina (1995:216) budaya menyangkut seluruh hal yang terkait dengan
kehidupan manusia, termasuk aturan hukum, hasil karya, kebiasaan dan tradisi, termasuk juga
komunikasi yang digunakan manusia, yakni bahasa. Mendasarkan pada pendapat tersebut,
serta pendapat Silzer (dalam Chaer, 1995:222) maka bahasa dan budaya merupakan dua
fenomena terikat, seperti dua anak kembar maupun sekeping mata uang, satu sisi merupakan
cerminan budaya, sisi lain merupakan sistem bahasa.

3. Majas dan Pemahamannya

Permasalahan pertama yang harus dijelaskan sebelum mengupas tentang majas dalam bahasa
Jepang yakni bagaimana bentuk ungkapan tertentu disebut sebagai majas. Perlu diperjelas
bahwa ungkapan bahasa disebut majas atau bukan majas tidak harus dibedakan atas
perbedaan bentuk ungkapannya, meskipun bentuk ungkapannya sejenis. Nakamura (1989:19)
memberikan contoh satu majas dalam kalimat bahasa Jepang.
(1) Kusamura no hebi no manako no you ni tsumetaku kagayatte ita.
rumput Gen bolamata ular seperti dingin berkilau aspect
matanya dingin memancar seperti mata ular yang bersembunyi di rerumputan.

Bagian kalimat tersebut yang mengandung bentuk pengandaian, bentuk majas terdapat pada
frase yang digaris bawah. Sebenarnya ‘hebi no manako’, bukanlah menyatakan makna
sebenarnya “mata seekor ular”. Kesadaran (sebagai unsur terpenting bila dibanding dengan
kenyataan) bahwa ungkapan tersebut menyampaikan pesan bukan pada mata seekor ular,
tetapi perasaan terhadap sesuatu (kemungkinan seseorang) yang mempunyai bentuk mata
yang terlihat tidak wajar, melukiskan kekejaman dan kebengisan. Pemahaman tentang makna
majas dari bentuk ungkapan ‘hebi no manako’ seperti ini hanya bisa dipahami jika pelaku
komunikasi memahami betul makna lain dibalik makna leksikal ungkapan yang bersangkutan.

Morita et.all (2000:105) mendefinisikan Majas yakni,


“Hiyu wa, sono taishou no tokuchou ya joukyou o, imi no chigau hoka no go o motte rensou ya
ruisui saseru hyougenhou de aru”.
<majas merupakan bentuk ungkapan yang maknanya didapat dari analogi, hubungan pikiran
untuk menunjukkan karakter, keadaan atas penggunanaan kata lain yang berbeda makna>

Mendasarkan pada pendapat-pendapat ini, yang menyebutkan bahwa ungkapan dikatakan


sebagai majas disebabkan bentuk ungkapan yang bersangkutan memenuhi persyaratan
tertentu. Persyaratan minimal bentuk majas yakni adanya pengingkaran atas kebenaran yang
diungkapkan atas makna sebenarnya/makna struktur bentuk bahasa yang dipakai dalam
ungkapan tersebut. Melalui bentuk bahasa itu, sebenarnya ingin menyatakan sesuatu yang lain.
Pertanyaannya, hal apa yang mendasari hubungan bentuk ungkapan tersebut mampu
melukiskan sesuatu hal yang lain, sebagai makna kiasan bagian dari majas. Untuk menjelaskan
hal tersebut, penulis menggunakan pendapat Yamanashi (1998:14) yakni:
“Tatoerumono to tatoerarerumono, soshite kono tatoe no konkyou to narumono, kono mitsu no
yousou wa, hiyuuhyougen no ninchiwaku no juuyou na kousei yousou de aru”

Pendapat ini memberikan batasan yang jelas, bentuk ungkapan dalam majas mempunyai unsur
pembentuk esensial yang merupakan keharusan pada bentuk yang diakui sebagai majas
tersebut. Ketiga unsur tersebut adalah sesuatu/objek yang dibandingkan, sesuatu/objek yang
menjadi pembanding, dan alasan hubungan perbandingan tersebut. Unsur yang disebutkan

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 44
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

terakhir inilah yang memberikan bukti, alasan dan deskripsi yang dapat dipergunakan sebagai
makna bentuk majas tersebut.
(2) Sono otoko wa ookami de aru
itu Laki-laki Top srigala tobe
Laki-laki itu berkarakter licik dan garang

Majas merupakan bentuk ungkapan yang didalamnya mengandung pengingkaran kenyataan


objek yang sebenarnya ditunjukkan oleh satu bahasa yang digunakan. Mendasarkan pada
karakter ini, contoh 2 merupakan bentuk majas dalam bahasa Jepang. Kalimat (2) menunjukkan
pengingkaran kenyataan, peminjaman karakter makna yang melekat pada “ookami” untuk
menjelaskan karakter yang sama pada “otoko”, kemungkinannya adalah karakter sifat pada
orang laki-laki dipersamakan, mirip dengan karakter sifat serigala. Jika mengandalkan
penganalisaan komponen makna dengan cara di atas akan belum mampu menyajikan deskripsi
karakter makna yang dipertukarkan tersebut. Yamanashi menyajikan satu langkah untuk
memperjelas karakter yang dipertukarkan tersebut dengan penggalian karakter khusus pada
objek pembandingnya, istilah yang dipakai yakni “kengen tokusei”<manifestasi sifat khas>.
Misalnya pada contoh (2) “ookami” sebagai objek pembanding mempunyai manifestasi sifat
khusus yakni kebuasan, kegarangan “doumou”, licik, curang “inken”. Karakter inilah yang
dipinjam untuk menjelaskan objek yang diperbandingkan dalam contoh kalimat 2 di atas.

Bertolok ukur pada pemikiran di atas, peneliti mencoba untuk mendeskripsikan pemahaman
makna majas bahasa jepang khususnya majas metafora “inyu” yang dalam pemahaman
makanya mendapatkan kontribusi pengetahuan sosial budaya, bahkan dipengaruhi latar sosial
budaya masyarakat bahasa Jepang itu sendiri. Bagaimana sumbangan pengetahuan budaya
dalam praktik pemahaman makna majas bahasa Jepang akan terlihat pada beberapa kasus
bentuk-bentuk majas berikut.

4. Pembahasan Majas
(3) Yuki no hada
salju gen kulit
Kulit yang putih

Bentuk majas jenis metafora ini mempunyai makna kiasan pengandaian warna kulit yang
berwarna putih. Warna kulit putih dari seseorang (umumnya adalah kulit seorang wanita)
dipersamakan dengan warna salju. Peminjaman bentuk ungkapan tertentu untuk
mengungkapkan suatu maksud yang lain yang mendasarkan pada konsep kemiripan atau
kesamaan “ruijisei” merupakan bentuk majas metafora. Jikalau dianalisis secara mendalam
bahwa kemiripan antara warna salju (objek nyata yang sebenarnya) dengan warna kulit
seseorang (objek yang diperbandingkan) mempunyai kesamaan kesan diantara kedua objek
yang diperbandingkan tersebut. Kesamaan kesan inilah yang mendorong masyarakat penutur
bahasa yang bersangkutan, ketika ingin melukiskan maksud begitu lembut dan putihnya kulit
seseorang, menggunakan bentuk ungkapan “yuki no hada”. Kontribusi pengetahuan budaya
pada saat menganalisa makna majas ini terlihat pada waktu memahami kata “yuki”. Bagi
pembelajar bahasa jepang yang berasal dari negara tropis, dan prinsipnya tidak mempunyai
musim yang mampu menurunkan salju, bahkan belum pernah melihat salju tidak akan mampu
memahami bahwa salju mempunyai karakter makna mampu memberikan kesan “lembut dan
putih”. Pemahaman tentang musim, keadaan alam (dalam pengertian luas merupakan bagian
budaya) mampu memberikan kemudahan pemahaman bentuk pengandaian jenis metafora
tersebut. Hal ini dapat dibuktikan pula, ketika bahasa tertentu tidak mempunyai karakter musim
yang mampu menurunkan salju, maka bentuk ungkapan yang mengusung kata salju pun tidak
akan pernah ada.

Bentuk majas yang lain seperti: nami, yama, hi no de ikioi, sakura , takane no hana mempunyai
merupakan contoh-contoh majas metafora yang karakter yang sama dengan pemaknaan

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 45
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

ungkapan yuki no hada. Pemahaman tentang kondisi alam beserta tumbuhan yang
melingkupinya menjadi penting dalam pemahaman makna majas yang bersangkutan.

(4) Neko to saru


kucing dan monyet
Seperti kucing dan monyet

Majas metafora pada bentuk ungkapan neko to saru memiliki makna kiasan yakni lukisan
hubungan yang tidak akan pernah akur, bersahabat dan selaras. Bentuk ungkapan ini muncul
berdasarkan pada kesan pada masyarakat Jepang yang mempunyai pandangan, pendapat
(sebagai cermin budaya) terhadap hubungan kedua jenis binatang tersebut yang selalu
menunjukkan ketidakharmonisan. Kesamaan kesan atas dasar pandangan yang sama terhadap
hubungan kedua jenis binatang tersebut dijadikan sebagai pembanding, untuk menyatakan
maksud hubungan manusia yang tidak pernah harmonis, selalu menunjukkan gejala
permusuhan, saling serang. Pemahaman budaya terlihat jelas waktu menganalisa karakter dan
sifat kedua binatang tersebut dalam kehidupan masyarakat Jepang, serta pandangan orang
Jepang terhadap kedua binatang tersebut sangat menentukan dalam memahami makna kiasan
majas bentuk ini.

Contoh metafora lain yang termasuk dalam jenis ini adalah karasu no gyouzui, suzume no
namida, ushi no ayumi, inuji ni merupakan beberapa contoh bentuk-bentuk majas metafora
yang dalam pemahaman maknanya memerlukan pemahaman pula pada makna pengandaian
binatang dalam pemikiran orang Jepang.

(5) Shougi daoshi


mirip buah catur jatuhnya
Layaknya jatuhnya buah catur

Majas metafora ini mempunyai makna kiasan ‘satu bagian mengalami keruntuhan atau
kehancuran, maka bagian seluruhnya segera menyusul mengalaminya’. Makna majas
metafora ini terjadi karena kesamaan analogi ‘ruijisei’ dengan bentuk dan model permainan
catur, cermin dari makna leksikal bentuk ungkapan tersebut. Dalam Daijirin Jiten (1995)
memberikan penjelasan tentang makna shougi daoshi sebagai berikut. Pertama, dalam bangsa
Jepang dikenal pula permainan catur. Kedua, bentuk permainan catur ditata, diatur secara
berderet untuk semua buah caturnya. Bila beranalogi satu deret buah catur mengalami
keruntuhan, maka akan memberikan efek terhadap deretan buah catur yang lain, begitu
seterusnya, sehingga semua buah catur akan mengalami keruntuhan, kejatuhan. Kesan atas
bentuk dan model penataan buah catur sebagai salah satu permainan masyarakat Jepang
(sebagai bagian dari bentuk seni permainan) dijadikan sebagai pembanding, untuk menyatakan
maksud satu bagian mengalami keruntuhan atau kehancuran maka bagian seluruhnya segera
menyusul mengalaminya. Pemahaman atas satu bentuk permainan dalam masyarakat Jepang
(permainan catur) sebagai bagian dari produk budaya sangat membantu dalam memahami
makna metafora jenis ini. Contoh lain dari majas metafora sejenis ini yakni itachi gokko, oyama
no taishou, hinoki butai, dan lain sebagainya.

(6) Onshitsu sodachi


Ruangan dengan suhu tertentu menumbuhkan, merawat
Mendidik dengan cara menjaga dari pengaruh di luar lingkungannya

Makna dari jenis majas metafora ini banyak terkait dengan sistem mata pencaharian
masyarakat Jepang yang terlukis dalam makna kiasan dari majas ini. Pertama, makna majas
metafora onshitsu sodachi bersumber pada kesamaan kesan dari kegiatan yang berisi tentang
lukisan satu bentuk sistem mata pencaharian dalam kehidupan masyarakat Jepang. Lukisan
sistem mata pencaharian berdasarkan makna sebenarnya ungkapan ini yakni satu bangunan
atau fasilitas yang dipakai untuk membudidayakan tanaman dengan menjaga kestabilan
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 46
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

temperatur, serta menjaga pengaruh buruk dari luar lingkungan. Sedangkan makna kiasan dari
majas metafora ini mengibaratkan seseorang yang dididik secara baik dalam dunia yang sempit,
dan menjaganya dari pengaruh di luar lingkungan tersebut, bahkan dijadikan sindiran bagi
orang yang tidak tahu bagaimana susahnya mejalani kehidupan. Kegiatan yang ditampilkan
melalui pemaknaan leksikal/sebenarnya bentuk ungkapan ini dengan makna kiasannya
mengandung kesamaan “ruijisei” kesan yang dimunculkan dari kegiatan tersebut. Pemahaman
budaya, secara spesifik yakni karakter satu bentuk sistem mata pencaharian di Jepang
melatarbelakangi penciptaan majas metafora, serta pemahaman satu model pembudidayaan
tanamanan sebagai satu mata pencaharian tertentu (bahkan model ini terus berlanjut sampai
sekarang) akan mempermudah dalam memahami makna majas metafora seperti ini.

(7) Oni ni kanabou


Jin dat. pemukul besi
Seseorang yang mempunyai kekuatan yang besar dan didukung dengan senjata yang
ampuh

Dalam Daijirin jiten (1995) disebutkan bahwa kata oni selain memiliki makna leksikal, kata ini
juga digunakan dalam bentuk pengandaian jenis metafora. Makna leksikal kata oni dapat
diartikan dalam beberapa makna, misalnya jin, setan, iblis, atau raksasa. Oni juga berarti ruh
dari orang yang sudah meninggal. Menurut tradisi, cerita masyarakat Jepang, ruh orang yang
sudah mati akan bisa menjelma kembali dan melingkupi kehidupan manusia yang masih hidup.
Dalam cerita masyarakat, oni (ruh, setan) dikenal dalam bentuk raksasa yang mempunyai
kekuatan besar dan mampu mempengaruhi kehidupan manusia. Cerita dalam agama Budha,
manifestasi oni dalam kehidupan masyarakat Jepang, misalnya mampu memberikan kutukan
kepada seseorang dengan cara memberikan wajah buruk pada orang tersebut. Selain itu, oni
juga akan bisa menampakkan dirinya dalam bentuk wanita dan pria yang sangat menarik.
Deskripsi tersebut merupakan karakter makna kata oni yang ada dan muncul berlatar belakang
pada pemahaman religi, sistem kepercayaan dalam masyarakat Jepang. Pemahaman ini
mampu diajukan sebagai dasar pemikiran dalam proses pemahaman makna kiasan kata oni.

4. Simpulan

Para ahli bahasa Jepang menyebutkan bahwa pemahaman makna majas metafora bisa
diformulasikan melalui pencarian alasan-alasan, bukti-bukti yang mendasari kesamaan “ruijisei”
antara objek yang diperbandingkan dengan pembandingnya. Alasan-alasan atau bukti-bukti
inilah yang memberikan warna baru, pandangan baru terhadap suatu objek tertentu, yang pada
awalnya hanya disampaikan melalui penggunaan bentuk ungkapan yang lazim dan umum.
Penggunaan majas inilah yang membuka jalan untuk memberikan warna baru, menghiasai
ungkapan-ungkapan tersebut menjadi lebih menarik dan indah, dan bahkan dari majaslah satu
bentuk ungkapan akan meluaskan karakter makna yang disandangnya. Pemahaman budaya
dari masyarakat penutur bahasa yang bersangkutan, dalam hal ini yakni budaya Jepang banyak
berkontribusi dalam memperbanyak dan memperluas bukti dan alasan yang mendasari
kesamaan “ruijisei” sebagai dasar konsep metafora, guna mendapatkan pemahaman antara
objek yang diperbandingkan dengan pembandingnya. Unsur-unsur budaya yang
melatarbelakangi dan membantu dalam pemahaman bentuk-bentuk metafora dalam bahasa
Jepang, misalnya, karakter kondisi alam dan hasilnya, cara pandang orang Jepang, kesenian,
sistem mata pencaharian, dan bahkan religi masyarakat Jepang pun terlukiskan dalam
ungkapan majas metafora. Mungkin masih banyak unsur-unsur budaya yang lain yang belum
terjelaskan karena keterbatasan sampel data analisis yang diajukan dalam tulisan ini.

5. Daftar Pustaka

Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Morita, Yoshiko. 1989. Keesu Sutadii Nihongo no Goi.Tokyo: Oufuu.
Nakamura, Akira. 1989. Hiyu no Bunrui ni Kansuru Mondaishuu. Nihongo Gaku., Vol. 4. Tokyo: Meijishoin.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 47
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Subandi. 2000. Terjadinya Makna Idiomatikal Kata Majemuk Bahasa Jepang Ditinjau Dari Konsep
Metafora. Verba FBS Unesa, Vol. 8, No. 2. Surabaya: FBS Unesa.
Sumarsono dan Partana, Paina. 2002. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA Pustaka Pelajar
Yamanashi, Masaaki. 1995. Ninchi Bunpooron. Tokyo: Hitsuji Shoboo.
Yamanashi, Masaaki. 1998. Hiyu to Rikai. Tokyo: Tokyo Daigaku Shuppaikai.

Daftar Kamus

Muraishi, Shouji. 1986. Kumon no Gakushuu Kokugo Jiten. Tokyo: Kumon Shuppan.
Matsumura Akira et.al. (1995) Daijirin jiten dainihan. Tokyou: Sanseidou

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 48
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
HUMANIORA

Ekor Verba -u/-ru sebagai Konstituen Penyambung dalam Bahasa Jepang,


Sebuah Pemikiran

Roni
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya
Fakultas Sastra Universitas Nagoya
Email: ronniewae@yahoo.com

Abstrak
Ekor verba -u/-ru dikenal sebagai konstituen yang menyatakan makna kala tidak lampau (mendatang).
Makna kala tidak lampau ini berada pada level konkrit yaitu pada kalimat sehari-hari. Pada level abstrak
yaitu dalam pembentukan konstruksi predikat verba, -u/-ru tidak mempunyai makna kala. Contoh yang
paling jelas adalah verba dalam bentuk kamus. Konstituen -u/-ru dalam level abstrak inilah yang dalam
tulisan ini dapat diposisikan sebagai konstituen penyambung. Misalnya konstituen penyambung -u dalam
kalimat sehari-hari ada yang tetap -u, ada yang berubah menjadi -i, -a, dan -e, dan ada juga yang hilang
menjadi Ø. Selanjutnya, konstituen penyambung -u, -i, -a, -e, dan Ø ini diposisikan sebagai alomorf, yaitu
anggota dari sebuah morfem yang sama.
Kata-kata kunci: ekor verba –u/-ru, konstituen penyambung, frasa predikat.

1. Pengantar

Berbicara mengenai konstituen penyambung, tentu akan membawa angan ke arah kata
sambung atau yang dalam bahasa Jepang disebut setsuzokushi. Kata sambung dipergunakan
untuk menyambung antara klausa (atau kalimat) yang satu dengan klausa yang lain. Tetapi
dalam tulisan pendek ini tidak hendak membahas kata sambung yang digunakan untuk
menyambung klausa; namun lebih kecil dari klausa, yaitu frasa.

Secara tatabahasa preskriptif, kalimat majemuk terdiri dari beberapa klausa, klausa tersusun
dari rangkaian frasa, frasa tersusun dari rangkaian kata, kata terdiri dari rangkaian suku, dan
suku terdiri rangkaian fonem (huruf). Dari beberapa satuan lingual ini akan difokuskan pada
konstruksi yang disebut frasa. Jadi, konstituen penyambung yang dimaksud terdapat dalam
konstruksi frasa.

Dalam kajian fungsi sintaksis, kalimat terdiri dari fungsi subjek, fungsi predikat, dan fungsi objek.
Dan, dalam tatabahasa tradisional ditambahkan pula fungsi keterangan. Dalam pengisian
predikat, masing-masing bahasa akan berbeda. Walaupun demikian, ada jenis kata tertentu
yang dipastikan sama secara antar-bahasa dalam pengisian predikat. Artinya, semua bahasa
menempatkan jenis kata tersebut di slot predikat. Jenis kata yang dimaksud adalah kata kerja
atau verba. Untuk memudahkan pembahasan akan difokuskan pada fungsi predikat yang diisi
oleh verba, yaitu predikat verba.

Ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dalam tulisan ini: adakah konstituen
penyambung dalam konstruksi frasa predikat verba?

2. Verba dalam Bahasa Jepang

Verba dalam bahasa Jepang dibedakan menjadi tiga, yaitu verba konsonan, verba vokal, dan
verba tidak beraturan. Verba konsonan adalah verba yang akarnya berakhir dengan fonem
konsonan atau disebut juga verba dengan ekor kata -u. Misalnya pada verba ka(w)u (membeli),
uru (menjual), asobu (bermain), yomu (membaca), dan kaku (menulis), fonem -u yang bergaris
bawah adalah ekor kata. (Selengkapnya lihat tabel (1)). Sedangkan, yang menjadi akar verba
masing-masing adalah kaw, ur, asob, yom, dan kak (lihat kolom 1c), serta masing-masing akar
verba tersebut diakhiri dengan konsonan w, r, b, m, dan k (kolom 1c). Oleh karenanya disebut
verba konsonan.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 49
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Verba vokal adalah verba yang berekor kata -ru dan akar verbanya berakhir dengan vokal.
Misalnya pada verba miru (melihat) dan taberu (makan), ekor verbanya adalah -ru (bergaris
bawah). Akar verbanya adalah mi dan tabe (kolom 1c), serta masing-masing berakhir dengan
vocal i dan e (kolom 1d). Oleh karena itu disebut verba vokal. Verba tidak beraturan adalah
verba yang sulit ditentukan akar verbanya. Misalnya verba kuru (datang) dan suru
(mengerjakan) jika ditambahkan imbuhan -tai (ingin) dan -nai (tidak) menjadi kitai (ingin datang),
konai (tidak datang), shitai (ingin mengerjakan), dan shinai (tidak mengerjakan). Di situ sulit
untuk menentukan akar verbanya kuru adalah ku, ko, atau ki; akar verbanya suru adalah su
atau shi. Dalam tulisan ini hanya berkonsentrasi pada dua jenis verba yang disebut di awal.

(1) Jenis Verba dalam Bahasa Jepang


Jenis Contoh Akar Verba Konsonan Arti
Verba Akhir
a b c d e
ka(w)u ka(w) w membeli
motu mot t membawa
Konsonan uru ur r menjual
(berekor asobu asob b bermain
kata -u) shinu shin n mati
yomu yom m membaca
kaku kak k menulis
oyogu oyog g berenang
hanasu hanas s berbicara
Vokal miru mi i melihat
(berekor niru ni mirip
kata -ru) taberu tabe e makan
neru ne tidur
Tidak suru mengerjakan
Beraturan kuru datang
irassharu datang/pergi

3. Konstruksi Frasa Predikat Verba

Sebelum masuk pada pembicaraan konstituen penyambung, dalam sub ini akan diulas
mengenai konstruksi frasa predikat verba dalam bahasa Jepang. Kita lihat contoh-contoh
berikut ini dengan menggunakan verba yomu (membaca).

(2) a. yomimasu
b. yomitai
c. yomanai
d. yomanakerebanaranai

Pada contoh (2) di atas, yang menjadi konstituen utama atau head adalah akar verba yom dan
bukan yomi atau yoma. Sedangkan yang menjadi keterangan atau modifier-nya adalah
konstituen yang masing-masing secara berurutan menyatakan kesopanan (2a), keinginan (2b),
1
negative (2c), dan keharusan (2d) masih menjadi tanda tanya . Apakah bentuk modifiernya
adalah -masu, -tai, -nai, nakerebanaranai atau -imasu, -itai, -anai, -anakerebanaranai, hal ini
masih menjadi perdebatan. Ada ahli yang memosisikan bahwa -masu, -tai, -nai,
nakerebanaranai dan -imasu, -itai, -anai, -anakerebanaranai adalah morfem yang sama dengan

1
Mengenai konstituen mana yang menjadi head dan mana yang menjadi modifier dalam konstruksi predikat, ada dua
sudut pandang yang berlawanan. Misalnya pada konstruksi predikat tabe-tai (ingin makan), menurut kebiasaan ahli
logika yang menjadi head adalah –tai (ingin); sedangkan menurut Lehmann (1973) yang menjadi head adalah tabe-
(makan). Tulisan ini bersandar pada sudut pandang yang ke dua.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 50
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

2
bentuk yang berbeda . Artinya, dianggap sebagai alomorf. Hal ini bisa kita samakan dengan
morfem atau awalan me- dalam bahasa Indonesia. Awalan me- dalam bahasa Indonesia
beralomorf dengan men-, mem-, meny-, meng-, dan menge-. Ada juga ahli yang menjelaskan
bahwa konstituen yang menyatakan kesopanan, keinginan, negative, dan keharusan masing-
masing adalah -masu, -tai, -nai, -nakerebanaranai. Bagaimana dengan buku-buku pelajaran
dalam pendidikan bahasa Jepang di luar negeri (di luar Jepang)? Rupa-rupanya dalam buku
pelajaran bahasa Jepang seperti “Minna no Nihongo” menggunakan cara yang disebutkan
belakangan (ke dua), yaitu -masu, -tai, -nai, dan -nakerebanaranai. Tulisan pendek ini akan
mengikuti alur pemikiran yang ke dua.

Dengan bersandarkan pada pendapat yang ke dua, maka akar verba pada contoh (2) di atas
adalah yom, dan imbuhan yang menyatakan kesopanan, keinginan, negatif, dan keharusan
masing-masing adalah -masu, -tai, -nai, -nakerebanaranai. Bagaimana dengan konstituen i dan
a yang bergaris bawah pada contoh (2) di atas? Konstituen inilah yang pada tulisan ini
diposisikan sebagai konstituen penyambung. Konstituen i bertugas merekatkan akar verba
yom- dengan -masu dan -tai, sedangkan konstituen a bertugas merekatkan akar verba yom-
dengan -nai dan -nakerebanaranai.

4. Dasar Pemikiran Konstituen i dan a sebagai Konstituen Penyambung

4.1. Frasa Nomina

Istilah konstituen penyambung ini tidak begitu akrab di perlinguistikan Indonesia. Konstituen
penyambung mengindikasikan tugasnya sebagai penyambung antara konstituen yang satu
dengan konstituen yang lain. Ibaratnya lem, dia mempunyai tugas merekatkan atau
menempelkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Perhatikan frasa pada contoh
bahasa Indonesia dan bahasa Jepang berikut.

(3) Bahasa Indonesia Bahasa Jepang


Head Penyam Modifier Modifier Penyam Head
bung bung
Nomina buku Ø saya watashi no hon
(saya) (buku)
buku (nya) Pak Sugeng Sugeng sensei no hon
Ajektiva buku (yang) mahal taisetsu na hon
(penting)
takai Ø hon
↓ ↓
taka i
(mahal)
Verba orang yang minum futoru Ø hito
↓ ↓ (orang)
futor u
(gemuk)

Konstituen head dan modifier dalam konstruksi frasa, bahasa Indonesia dan bahasa Jepang
memiliki konstruksi urutan yang berlawanan. Bahasa Indonesia menempatkan konstituen head
di awal frasa, sebaliknya bahasa Jepang menempatkan konstituen head di akhir frasa. Pada
contoh bahasa Indonesia, frasa nomina + nomina buku saya di antaranya tidak membutuhkan
penyambung; sedangkan pada buku(nya) Pak Sugeng, konstituen penyambung -nya digunakan
secara opsional. Pada frasa nomina + ajektiva buku (yang) mahal, konstituen penyambung
yang juga digunakan secara opsional; sedangkan pada frasa nomina + verba, konstituen

2
Lihat bukunya Shirota Shun (1998) dengan judul Nihongo Keitairon.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 51
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

penyambung yang digunakan secara wajib seperti pada orang yang minum. Ajektiva mahal dan
verba minum adalah akar kata.

Dalam frasa nomina bahasa Jepang dengan konstruksi frasa nomina + nomina watashi no hon
(buku saya) dan Sugeng sensei no hon (buku Pak Sugeng), konstituen penyambung no
digunakan secara wajib. Dalam konstruksi frasa ajektiva tipe na + nomina taisetsu na hon (buku
penting), penyambung na juga digunakan secara wajib. Sedangkan dalam konstruksi frasa
ajektiva tipe i + nomina takai hon (buku mahal) dan konstruksi frasa verba + nomina futoru hito
(orang gemuk), tidak terdapat penyambung seperti no dalam Sugeng sensei no hon di atas.
Akan tetapi pada ajektiva takai (mahal) dan verba nomu (minum) yang menjadi menjadi akar
verba masing-masing adalah taka dan futor, serta ekor katanya adalah i dan u. Pada konstituen
i dan u setidaknya ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah sebagai konstituen
yang menyatakan kala (mendatang) dan kemungkinan ke dua tidak menyatakan makna kala.
Menilik ajektiva yang selalu menyatakan keadaan maka i pada takai hon agak sulit menemukan
contoh yang menyatakan kala mendatang. Demikian pula pada verba futoru (gemuk) juga
menyatakan keadaan. Hal ini berbeda dengan verba yang menyatakan kegiatan seperti contoh
(4) kaeru (pulang) dan contoh (5) taberu (makan). Konstituen -u pada kaeru dan -ru pada taberu
menyatakan kala mendatang. Jika i pada takai dan u pada futoru tidak menyatakan kala, maka
dia dapat diposisikan sebagai konstituen penyambung.

(4) Korekara kaeru hito wa mazu jibun no teburu o katazukete kudasai.


(Orang yang akan pulang setelah ini, bereskan dulu mejanya sendiri-sendiri)
(5) Korekara taberu hito wa te o aratte kudasai.
(Orang yang akan makan, silakan cuci tangan)

4.2. Hierarki Penyambungan

Teori hierarki penyambungan ini didasarkan pada uraian Verhaar (1996, 318-327). Dalam
setiap bahasa terdapat hierarki konstruksi frasa nomina + non-nomina. Dalam frasa dengan
konstituen head atau utamanya nomina dan konstituen modifiernya non-nomina,
penyambungannya dapat bersifat rapat sehingga tidak diperlukan konstituen penyambung; atau
sebaliknya bersifat longgar sehingga konstituen penyambung dipakai secara opsional bahkan
wajib. Deretan hierarki penyambungan tersebut membentuk continuum. Perhatikan hierarki
penyambungan (6) berikut.

(6) Hierarki Penyambungan


semakin ke atas 7. nomina + artikel
semakin rapat 6. nomina + deiktik
5. nomina + pronominal interogatif
4. nomina + pembilang
3. nomina + ajektiva
3
semakin ke bawah 2. nomina + partisipia
semakin longgar 1. nomina + klausa relatif

Deret hierarki penyambungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Bahwa urutan
konstruksi frasa nomina + non-nomina tidak dipermasalahkan. Artinya, bisa saja urutannya
menjadi non-nomina + nomina. Semakin tinggi (angkanya besar) konstruksi frasa tersebut
hubungan antara nomina head dan non-nomina modifier semakin rapat sehingga konstituen
penyambung tidak diperlukan; sebaliknya, semakin rendah (angkanya kecil) konstruksi frasa
tersebut hubungan antara nomina head dan non-nomina modifier semakin longgar sehingga
diperlukan konstituen penyambung. Jika pada salah satu deret hierarki tersebut konstituen
penyambung digunakan secara wajib, maka semua deret di bawahnya juga wajib memakai
konstituen penyambung.

3
Partisipia (partisipel) adalah verba yang digunakan sebagai ajektiva (Harimurti Kridalaksana, 1993: 156)
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 52
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Berdasarkan uraian tersebut di atas, berikut ini penerapan teori hierarki penyambungan frasa
nomina + non-nomina dalam bahasa Jepang.

(7) Hierarki Penyambungan dalam Bahasa Jepang


7. Jakarta e (ke Jakarta)
6. kono hon (buku ini)
5. dono hito (orang mana)
4. futari *(no) gakusei (dua orang siswa)
3a. kirei *(na) ojoosan (gadis cantik)
3b. utsukushi *(i) ojoosan (gadis cantik)
2. futo *(ru) hiro (orang gemuk)
1. mi *(ru) hito (orang yang melihat)
Ket: Tanda *(_) artinya konstituen yang berada dalam tanda tersebut bersifat wajib hadir

Dari hierarki penyambungan (7) tersebut, dapat diketahui bahwa konstituen penyambung wajib
digunakan pada deret nomor 4 yaitu pembilang + nomina. Sehingga, semua deret dibawahnya
konstituen penyambung juga wajib digunakan. Dengan demikian, pada deret 3b ajektiva tipe i +
nomina, 2 partisipia + nomina, dan 1 verba + nomina, konstituen ekor kata -i dan ekor kata -ru
dapat berfungsi sebagai konstituen penyambung.

Dengan dasar pemikiran tersebut di atas, ekor verba -u/-ru dalam tulisan ini diposisikan sebagai
konstituen penyambung. Sebagai konstituen penyambung, -u/-ru tidak hanya menyambung
nomina dan non-nomina dalam frasa nomina, tetapi juga dapat menyambung verba
(maksudnya: akar verba) dengan kata bantu predikat dalam konstruksi predikat verba.

5. Dua Level -u/-ru

Sampai di sini, telah diuraikan tentang dasar bahwa ekor verba -u/-ru dapat diposisikan sebagai
konstituen penyambung dalam konstruksi predikat verba bahasa Jepang. Sebenarnya yang
berekor kata -u/-ru tidak hanya verba, konstituen-konstituen yang disebut dengan kata bantu
predikat yang menyatakan kesopanan seperti -desu dan -masu juga berekor dengan -u.
Demikian pula kata bantu predikat -reru/-rareru (pasif), -seru/-saseru (kausatif), dan -eru/-rareru
(kemungkinan) juga berekor dengan -ru. Fungsi -u/-ru baik dalam verba maupun kata bantu
predikat hanyalah sebagai pelengkap nama verba dan kata bantu yang bersangkutan. Dalam
pembentukan kata maupun frasa ekor -u/-ru tidak mempunyai makna, karena dia hanya
sebagai pelengkap sebuah nama. Perhatikan contoh (8) dan (9) berikut.

(8) Watashi wa korekara sugu ne- -ru.


`saya` TOP `setelah ini` `segera` `tidur` FUTURE
(Setelah ini saya akan segera tidur)
(9) Hayaku ne- -ta- -i.
`cepat` `tidur` `ingin` FUTURE
(Saya ingin cepat tidur)

Pada contoh (8), predikatnya berkonstruksi akar verba ne- (tidur) dan ditempeli kata bantu
predikat yang menyatakan kala mendatang -ru (akan); keseluruhan konstruksinya adalah neru.
Pada contoh (9), berkonstruksi akar verba ne- (tidur) + -ta- (ingin) + -i (akan). Dalam hal ini ne-
berasal dari verba neru juga seperti pada contoh (8). Kemudian, apa perbedaan antara neru
yang disebut pertama dan neru yang disebut kedua. Di sinilah, rupanya perlu dibedakan antara
-ru yang menyatakan makna kala mendatang (8) dan -ru yang tidak mempunyai makna. Pada -
ru yang pertama berada pada level konkrit, seperti dalam pemakaian sehari-hari. Oleh karena
itu disebut dengan -ru pada level konkrit. Sedangkan -ru yang kedua adanya dalam otak
penutur dan bersifat abstrak, yang pada tulisan ini disebut dengan -ru pada level abstrak.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 53
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Dengan demikian, -u/-ru dalam verba kau (membeli) taberu (makan) seperti dalam bentuk
kamus, kata bantu predikat -desu, -masu, -reru/-rareru, -seru/saseru, dan lain sebagainya
bersifat abstrak. Sedangkan, -u/-ru dalam kalimat nyata yang dipakai dalam kalimat sehari-hari
bersifat konkrit. Dalam hal ini, -ru dan -u diposisikan sebagai bentuk berbeda dari morfem yang
sama atau sering disebut sebagai alomorf.

6. Alomorf -u

Sebagai konstituen penyambung, -u/-ru ibaratnya sebuah lem, dia mempunyai tugas
menyambungkan antara konstituen akar verba dan konstituen yang dalam tulisan ini disebut
dengan kata bantu predikat. Istilah kata bantu predikat ini untuk meng-indonesiakan istilah
jodooshi dalam bahasa Jepang. Jenis kata yang disebut kata bantu predikat ini dalam bahasa
Jepang mencakup konstituen yang menyatakan kala, aspek, modal, diatesis, dan sebagainya.
Para linguis Jepang berbeda-beda dalam mengelompokkan kata bantu predikat ini. Pada
tulisan pendek ini, kata bantu predikat didefinisikan sebagai jenis kata yang bersama-sama
dengan akar verba membentuk konstruksi predikat. Dalam bahasa Jepang, dipandang dari segi
urutan morfem/kata, jenis kata bantu predikat ini berada setelah akar verba.

Subbab ini akan membahas tentang jenis bentuk konstituen penyambung secara sekilas.
Pembahasan terbatas pada konstituen penyambung -u. Seperti sudah dijelaskan pada subbab
sebelumnya bahwa -u/-ru mempunyai dua level. Level abstrak dan level konkrit. Pada level
abstrak, -u/-ru tidak mempunyai makna; sedangkan pada level konkrit -u/-ru mempunyai makna
kala tidak lampau atau mendatang. Pada level abstrak, konstituen penyambung -u ketika
digunakan dalam kalimat sebenarnya (level konkrit) ada yang tetap -u, ada yang berubah
menjadi -i, -a, dan -e, serta ada yang hilang (Ø) seperti pada tabel (10). Hubungan antara -u, -i,
-a, -e, dan Ø, dalam tulisan ini diposisikan sebagai alomorf, yaitu anggota dari sebuah morfem
(morfem penyambung) yang sama yaitu morfem -u.

(10) Alomorf Konstituen Penyambung -u


Verba Penyambung Kata Bantu Predikat
-u
i -masu (sopan)
-tai (keinginan)
-yasui (habituatif)
a -nai (negative)
-seru (kausatif)
yom(n)- -reru (pasif)
(membaca) -nakerebanaranai (harus)
Ø -u (kala mendatang)
-e (perintah)
-oo (ajakan)
u -kotogadekiru (mungkin)
-mae (urutan: sebelum)
-na (larangan)
i→Ø -d(t)a (kala lampau)
-d(t)e (bentuk sambung)
e -ba (pengandaian)
-baii (saran)

7. Simpulan

Ekor verba -u/-ru selama ini dikenal sebagai konstituen yang menyatakan kala mendatang. Hal
ini benar adanya, karena pada level konkrit memang -u/-ru menyatakan makna itu. Akan tetapi,

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 54
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

seperti telah diuraikan bahwa -u/-ru juga bisa diposisikan sebagai konstituen penyambung
dalam konstruksi predikat verba. Sebagai penyambung dia merangkai akar verba dan kata
bantu predikat sebagai satu kesatuan untuk membentuk konstruksi predikat.

Konstituen penyambung -u pada kalimat nyata mempunyai alomorf berupa -u, -i, -a, -e, dan Ø.
Tulisan ini hanya membahas secara global tentang adanya konstituen penyambung dalam frasa
predikat verba. Berdasarkan jenis-jenis kata bantu predikat yang lain, jumlah alomorf konstituen
penyambung -u dapat bertambah. Hal ini perlu pembahasan lebih lanjut. Demikian juga halnya
dengan konstituen penyambung -ru yang tidak sempat dibahas alomorfnya dalam tulisan
pendek ini.

8. Daftar Rujukan

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama


Lehmann, WP. 1973 “A Structural Principle Of Language And Its Implications” dalam Language Vol. 49 No.
1
Roni. 2009 “Jutsugokumatsu Onso no Keitaioninronteki Ichizuke” dalam Nagoya Daigaku Jimbun Kagaku
Kenkyuu Nomor 38, Februari 2009
Shirota Shun, 1998. Nihongo Keitairon. Hitsuji Shoboo
Verhaar, JWM. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 55
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
CATATAN RISET

Legal Stipulation of Educational Personnel in Indonesia and Its


Implementation

Murni Ramli
Department of Educational Management, Graduate School of Education and Human
Development, Nagoya University, Japan
E-mail: moernier@gmail.com

Abstract

The study aimed to analyze discourse of the improvement of educational personnel through
legal provision in Indonesia, and to discuss the teacher certification system as the new policy for
standardization teacher quality. Two National Educational Laws, i.e., Law 2/1989 and Law
20/2003 were compared on the issue of educational personnel. More detailed analysis was
focused on the standardization of educational personnel stipulated in Teacher and Lecturer Law
No.14/2005. The concept of teacher certification was referred to some ministerial regulations
and instructions. To verify the legal provision, interviewed to the related persons had been
conducted in three cities in 2007 and 2008. The main findings were the issue of educational
personnel has been maturely promoted in Law 20/2003, which can be verified from the
comprehensiveness and clarified wording; the standardization of educational personnel were
formulated as for entire the nation, but there were some discrimination and dispensation to fix
some heterogonous condition of persons and regions; the concept of teacher competence does
not meet directly to the necessity of teaching improvement.

Key words: teacher certification, teacher quality, teacher qualification, teacher evaluation

1. Introduction

It is universally agreed that the quality of teaching and nursing at the school is the main factor
influenced student achievement. Some theoretical arguments and empirical studies have been
reported to provide evidence of this argument, for example Goldhaber & Brewer (2000) who
reported that in mathematics, teacher who have standard certification in USA have significantly
th
affected student test score. He tested student of grade 12 which were taught by the teachers
with probationary certification, emergency certification, private school certification, or no
certification compare relatively to the student taught by teacher who has standard certification.

The good quality of teaching comes from teacher with outstanding quality too. And teacher
quality depends on teacher academic background. This point becomes the basis of categorizing
teachers through teacher certification system in Indonesia. Teacher certification comes to be an
important issue in many countries with show low student achievement which is tested through
the international evaluation, such as TIMMS or PISA.

Problems of teacher in Indonesia are the low quality of teacher, the teacher shortage in rural
area, and the unbalance of teacher allocatioan (Jalal, 2007). The low quality of teacher in
Indonesia can be traced from routes to become a teacher, or the process of teacher assignment.
Teacher assignment is various and sometimes not firmly regulated. It is simplified often, for
instance, recruitment based on the teaching experience or family relationship, which is
commonly happened in many private Islamic schools (madrasah). Madrasah is mostly
developed as a part of the modernization of pesantren, the traditional Islamic institution. Senior
teachers (about 50 years old) in public or private schools mostly graduated from the SPG

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 56
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

(Sekolah Pendidikan Guru), 1 a 3-year teacher school taking after graduating from lower
secondary school, or a few of them completed the courses at a school of education in the
2
national colleges or universities. Those who have a certificate of completion are eligible to be
assigned as a civil servant (Pegawai Negeri Sipil or PNS) teaching in public school after passing
the national selection for PNS organized by the Ministry of National Education (MONE), and the
3
Ministry of Religion Affairs (MORA) for teacher of religious education (Pendidikan Agama).

In many rural and remote areas, teacher shortage becomes the problem of most schools
particularly the private schools. Thus, the route to become part time teachers and private school
teachers that can be defined as private school route, have been applied traditionally to appoint
someone as a teacher. For example, screening teacher candidates based on simple portfolio
(e.g., certificate of graduation, curriculum vitae). The unbalance condition between demand and
supply of teachers in many provinces also cause what we can define as the emergency teacher,
which assigned personnel from non-related academic background, or in the more isolated area
such as in the mountainous, teaching is a voluntary work.

However, a modern system of teacher recruitment has been commonly employed in some
private schools in the big cities. For example, teacher recruitment which is advertised in the
mass media, followed by portfolio screening with more complex requirements, examination,
teaching practice, and interview.

As the problem of teacher shortage has become gradually increased particularly in the urban
and rural areas, which directly occurs after the rapid increasing of population or, on the contrary,
population declined sharply, the problem of hiring teachers also arises. Thus, alternate teacher
routes have to be applied, such as those beings popular in the US since 1960s (Kirby, Darling-
Hammond & Hudson, 1989; Darling-Hammond, 1990; Zeichner & Schulte, 2001). According to
Bliss, it is necessary to bring exceptionally qualified individuals with diverse backgrounds into
teacher profession (Bliss, 1990).

In Indonesia, the issue of teacher who live under the poverty line and low-quality welfare are
blown up as the political issue by the political parties during the governor and mayor election.
The issue is also aggrandized by the Teacher Union of Republic Indonesia (Persatuan Guru
Republik Indonesia, PGRI) which can be judged as the stimulator of the enactment of Teachers
and Lecturer Law in 2005.Usman et.al. (2004) also reported that some primary school teachers
engage in additional employment or do side jobs due to the lack of income. Therefore they
suggested a policy to improve teacher welfare and teacher allocation.

However, what actually being boasted by PGRI as an urgent policy to improve teacher’s good
life was captured by government as the need to improve teacher’s quality as well. By all means,
government do not want to voluntary increase the salary of teachers as PGRI’s demanding, but
as the excess of salary increasing, the minimum competencies of teachers should also be
standardized. Therefore, the issue of teacher quality improvement is not just a legal article in the
Law of National Educational System No. 20/2003, and further regulated in Teacher and Lecturer
Law No. 19/ 2005 (Undang-Undang Guru dan Dosen), but in another aspect, Indonesia has
started to develop the teacher/lecturer certification system which will be the basic requirement to
entering teaching profession.

Certification or licensure for teaching is absolutely and urgently needed as the basic selection of
teacher candidates. Kinney defined certification in education as a process of nation licensing,
authorizing the holder of the certificate to perform specified services in the schools of the nation.

1
In 1989, all SPG had been integrated as the part of IKIP
2
It is commonly called IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Kependidikan), but there was significant change in 1999, when
via The Presidential Decree, all IKIP changed to University, sometimes called Univeristas Pendidikan or Universitas
Negeri X. X is the name of city where the university is located.
3
Dual system of education is controlled by two ministries, the Ministry of National Education (MONE) and the Ministry of
Religious Affairs (MORA). The higher education administered by the MORA called IAIN or Institut Agama Islam Negeri.
However, all IAIN had been changed to University, with the new nom enclature i.e., UIN or Universitas Islam Negeri
(Islamic National University)
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 57
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

It is a measurement to insure the quality in the program of instruction when public schools are
delegated to be managed under the regional government. He also concluded the common
procedures that state in America have mainly apply in professional certification, i.e.,
classification of positions, specification of duties, lay control of regulations, and assurance of
supply to meet the demand (Kinney, 1965).

Now, as the first certification system applied in Indonesia, the analysis of legal items concerning
teacher certification should be done, which developed based on the questions, first, whether it
represents the whole condition of teachers problems in the heterogeneous nation likes
Indonesia or just something adopted from abroad. Second, whether it clearly defined the
functions, approaches, definition, process, responsibility, and authorization or implication. Those
findings will be further applied to study the relation between teacher certification and the quality
of teaching.

2. Research Methodology

Policy analysis was a main methodology used in this study, followed by some literature study
and interview. First, this study was focused on analyzing the following laws and regulations: The
Law of National Educational System No. 2/1989 (hereinafter called as Law 2/1989), The Law of
National Educational System 20/2003 (hereinafter called as Law 20/2003), The Law 14/2005 on
Teacher and Lecturer (called as Law 14/2005), the MONE’s Regulation 18/2007 on In-service
Teacher Certification (Regulation 18/2007), the MONE Regulation 16/2007 on Standard of
Academic Qualification and Competencies of teachers (Regulation 16/2007),and the MONE’s
Instruction on Determination of Scoring of Teacher based on its functional position. Policy
analysis were mostly based on model developed by Thomas (1996) for analysing the maturity of
Law 2/1989 compare to its former, Law 4/1950. He applied six dimensions, i.e.
comprehensiveness, equity, clarity, relevant differentiation, balance of control, and flexibility to
juxtapose both laws.

Second, the fact of teacher and schooling are captured through interviews with the principals,
teachers, staffs of the MONE and the MORA at Regional Level, assessor of teacher certification,
and leaders of PGRI chapter Madiun, Semarang and Jakarta. The interview was conducted
twice, in April-May, 2007 and February, 2008. The content of interviews was focused on
understanding and implementation of teacher certification.

3. Findings and Discussion

3.1. The Conception of Educational Personnel in Law 2/1989 and Law 20/2003

The issue of educational personnel is mentioned in six articles in the National Educational
System, both in Law No. 2/1989 and Law No. 20/2003. There is a difference on titling the
articles, i.e. in Law 2/1989 the issue of teachers mentioned under the title Educational
Personnel (Tenaga Kependidikan), however, in Law 20/2003, it is mentioned as Educators and
Educational Personnel (Pendidik dan Tenaga Kependidikan). Educational Personnel as
mentioned in the Law 2/1989 includes educators, teachers, school administrators, government
officer works in education. In contrast, Educational Personnel in Law 20/2003 exclude
teacher/educator and only covers person who administer and manage the school. The word
“Pendidik” means teacher or educator. Law 20/2003 more clearly defines the school
administrator and the teacher as different profession.
The right of teacher as mentioned in both laws can be categorized as right of payment, right of
allowance, right of career guidance and promotion, right of legal protection, right of award, and
right of using the educational facilities. However, there is a slight difference on defining the right
of career guidance and promotion and right of legal protection. First, right of career guidance
and promotion in Law 2/1989 has been defined as the benefit that teacher earns based on his
achievement (article 30 verse 2), but in Law 20/2003, this right is received not based on teacher
good achievement, but will be received with non discrimination as the component of quality
improvement (article 40 verse 1c). Second, the right of legal protection in Law 2/1989 have

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 58
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

been defined as a security guarantee during its duty (article 30 verse 3), but in Law 20/2003, it
is defined widely including the patent and copyright (article 40 verse 1d).

Table 1. Comparative analysis on the content of two educational fundamental laws


Aspect Law 2 /1989 Law 20/2003

Title of the Educational Personnel (Tenaga Educators and Educational


article Kependidikan) Personnel (Pendidik dan Tenaga
Kependidikan)

Coverage Issue Terminology, teacher qualification, Terminology, rights and obligatory,


assignment of non-teacher and regional government role on educational
foreigners as teachers, rights and personnel, teacher standardization,
obligatory, reward and career teacher certification, reward and
development allowances, career and quality
improvement

Definition and Educational personnel (Tenaga Educational personnel (Tenaga


function Kependidikan): teachers, school Kependidikan): function to administer,
administrators, school’s inspector, manage, develop, and provide services at
researchers, educators, librarian, school
technician, library’s operators
Teaching Personnel (Tenaga pengajar): Educator (Pendidik) is teacher and lecturer
teacher and lecturer

Function: teaching, training, researching, Function: professional person, function on


developing, managing, and providing planning and conducting
services in educational field. schooling/learning, evaluating the result of
learning, providing guidance and training,
conducting research and community
participation.

Rights and Rights: obtain salary and allowances Rights: no change


obligation from government for the civil servant
teacher (PNS) and paid by the
foundation for private teachers; get
career guidance, work under law
protection, rewarded, have the
opportunity to use the facilities
Obligation: creating the creative, dynamic,
Obligation: loyal to Pancasila and dialogist and delightful learning
national constitution (UUD 1945), atmosphere; have the commitment on
respect national culture, work with improving the quality education; become a
responsibility and dedication, upgrading leader with good image.
knowledge and ability, keep good image
as teachers.

Teacher Believe on one God, have a good Having a minimum qualification or posses
qualification perspective on carrying out the value of certificate as teachers, physically and
Pancasila and the Constitution, UUD spiritually health, having ability to gain the
1945, posses the qualification as aim of national education, posses
teachers academic degree from accredited
university
Non-educational person and foreigner
have chance to teach

Reward and Given based on teachers ability and Given based on academic background,
Promotion performances experience, ability and their performances
in educational field.

The role of The role of local government is not National government and local government
management clearly stated share the role on educational personnel’
management

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 59
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Teachers’ obligations are described dissimilar in both laws. Law 2/1989 article 31 refer to five
obligations, i.e. nurture the commitment to Pancasila and the Constitution (both teacher and
student); appreciate national tradition/culture; has strong commitment and full of responsibility;
improve the quality of profession; and keep the good reputation. While, Law 20/2003 article 40,
verse 2 refer to only three obligations, i.e., create the meaningful, fun, creative, dynamic, and
communicative learning atmosphere; have a professional commitment to improve the quality of
education; showing good performance and personality, and have strong commitment to keep
the good reputation of the institution. It can be surmised that Law 20/2003 demands
teacher/educator to improve educational quality rather than become a good citizenship who
keep loyalty to constitution.

Law 2/1989 only hints two requirements to become a teacher, i.e., a candidate have to believe
and devout to only One God, possessing a perspective on Pancasila and the Constitution 1945,
and have fulfilled the qualification of teacher (article 28, verse 2). What refer as the qualification
as teacher is not further explained. In the contrary, Law 20/2003 article 42 describes more
complicated requirement, i.e., teacher has to possess minimum qualification and certification
suitable with his teaching authority; physically and mentally health; able to achieve the purpose
of national education (verse 1); and graduates from the accredited university (verse 2).

Promotion and reward for teacher are designated more explicit in Law 20/2003 as mentioned in
article 43; those allotments are assigned based on academic background, experience, ability,
and career achievement in educational field. Reverse to that, in the Law 2/1989, the allotments
are consigned based on the work achievement and teacher capability. In Law 20/2003,
government seriously count the academic background and experience, which means senior
teachers are scored more than junior, as same as post graduate degree counted more than
undergraduate degree.

Concerning the teacher quality improvement, Regulation 14/2005 is the first and probably the
only detailed document about teachers since Indonesia’s independency. There are 14 articles
regulating teacher and lecturer as profession, 33 articles explained about teacher and 35
articles on lecturer issue. The law clarified the term of teachers, teacher qualification, teacher
certification, right and obligation, payment and allowance, promotion, relocation, and dismissal,
probationary work, career development, reward, professional organization, juridical protection,
and vacancy. This law seems to reflect the maturity of management of public services and
serious intention of government in regard to improve teacher quality.

3.2. Laws of Teacher Certification: Definition, Function, Process and Implication

It is pretty much difficult to use sort of measurements to determine the quality of teachers. Many
works stated the importance to examine it through student achievement, such as work did by
Goldhaber & Bewer (1996;2000) and Darling-Hammond (2000). However, there are many
factors mutually influencing students’ achievement except the quality of teaching.

For that reason, the teacher certification in Indonesia is based on the minimum qualification and
competency of teacher. The detailed system as refer in Law 20/2003 is described in the
following laws: Teacher and Lecturer Law No.14/2005, the Ministry of National Education
Regulation No. 18/2007 on In-Service Teacher Certification and the Ministry of National
Educational Regulation No. 16/2007 on Teacher Academic Qualification and Teacher
Competency.

Teacher certification is a formal verification as acknowledgment to teacher and lecturer as


4
professional job , obtained from accredited university. The Regulation 18/2007 has particularly
describes the in-service teacher certification (Sertifikasi dalam jabatan), which is designated for
teachers who meet the minimum qualification.

4
Law 14/2005 article 1 subsection 12
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 60
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

The minimum qualification means an academic background of teachers which proven by the
certificate released by the university or teacher higher education. Most of teacher qualification
prior the certification put the minimum a 4–year diploma degree or baccalaureate degree on
subject area, and that should be completed in accredited department or faculty as the minimum
qualification (Boyd et al., 2007).

The Regulation 16/2007 stipulates that the minimum qualification of teacher of all level of
education is a 4-year diploma degree (D-IV) or baccalaureate degree. Additional requirement for
kindergarten and elementary school’ teacher is majoring in psychology. Thus, only teacher
posses D-IV degree or bachelor degree can apply the certificate. The applicant is either public
or private schools’ teachers, civil servant or non-civil servant teachers.

According to Regulation 18/2007, in-service teacher certification is conducted through


competency test, using a portfolio screening. The portfolio screening is as an acknowledgment
of teacher experience, which is verified from the following documents: academic qualification,
training, teaching experience, learning plan, evaluation from the school administrator and
superintendent, academic achievement, professional achievement and invention, take part in
scientific forum, participation in educational and social organization, and reward on educational
field (article 2).

Teacher who passes the portfolio screening will acquire the teacher certificate, and who failed
have two options; attempting some activities related to the given matters in portfolio screening,
or attending teacher training or courses approved with examination which captures the
pedagogy competency, personality competency, and social and professional competency. The
result of this exam is used as a reason for acquiring the certificate. Teacher who failed again in
the second screening have to attend the third examination (article 5, verses 4-8). There is no
detailed explanation about the content of second or third examination, but it is supposed to be
similar to the first one. It remains murky whether teacher failed the second exam has another
chance or be expelled.

Teacher competencies are sort of knowledge, skill, and attitude that teacher and lecturer have
5
to possess and master during his careers . Teacher competencies are further explained in
Regulation 16/2007 as four basic competencies, i.e., pedagogy competency, personality
competency, social competency and professional competency, each competency is explained
according to level of education, i.e., competency of pre-school’s teacher, competency of
elementary school’ teacher, and competency on subject matter of elementary, lower and upper
secondary schools’ teacher.

There is an additional obligation refer to Regulation 18/2007 that teacher who possess
certificate have to teach at least 24 hours per week and will acquire the allowance as bigger as
monthly payment which will paid on January in the next fiscal year.

Before teacher certification system employed in Indonesia, there is also legal license called Akta
Mengajar, briefly called as the AKTA-4, for teacher candidate or in-service teacher. This license
is a verification obtained after attempting a certain number of courses in Educational University
or UIN, particularly for teacher who have no degree from Teacher College or IKIP. Usually
AKTA-4 is used to apply a position as a civil servant teacher. The AKTA-4 is still being
implemented as well as teacher certification, thus it makes confusing since both are similar in
terms on teacher quality improvement, but slightly differ in their purpose. Teacher certification
can be argued as a basis for giving teachers some allowances, however, the AKTA-4 is a
license to be a civil servant teacher.

5
Law 14/2005 article 1, verse 10.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 61
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

3.3. Measuring Competencies through Portfolio System and Its Problem

The process of certification is preceded with the registration, which is organized hierarchically
from the lowest administration level in each province to the Educational Personnel College
(Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, LPTK). At the first year of implementation (2006),
there were 10 LPTK assigned by the MONE to certify elementary and middle secondary school
teachers.

According to a survey on education reported by the MONE in 2006, the percentages of teacher
meet the minimum qualification for Elementary School, Lower Secondary, Upper General
Secondary, and Upper Vocational School were 15.3%, 60.34%, 82.61%, and 75.54%,
6
respectively . It shows that most of teachers in Elementary School do not meet the minimum
requirement to possess the certificate. Therefore, the program should be lead to upgrade the
academic degree of those teachers first. It means that government has to allocate the budget
for two purposes, first for upgrading teachers who possess academic degrees lower than 4-year
diploma degree or bachelor degree, and second for certifying ones who already have acquired
the minimum qualification.

There was about 2.6 millions teachers had to be certified and the only efficient assessment for
those mass target is portfolio. As mentioned above, there are ten items representing the four
competencies in portfolio screening: 1) academic qualification (issued by an institution of higher
education); 2) profession-related training; 3) teaching experience; 4) planning and syllabus of
teaching; 5) evaluation from the principal and evaluator; 6) academic achievement; 7) invention
in teaching methodology, 8) participation in seminars and scientific forums; 9) participation in
social and educational associations; 10) awards related to profession7.

Those documents will be examined by a number of assessors selected through one committee
in each LPTK. The assessors have to possess bachelor degree as a minimum academic
qualification as well as be employed as the lecturers of LPTK, though it can be criticized that
they have lower competencies compare to teachers who already have the similar degree or
some are even higher.

Table 2. The scoring system of portfolio assessment

Components of portfolio Fixed and Predicted


Maximum Score
Qualification and Main Task
Academic qualification 525
Planning and syllabus of teaching 160
Teaching experience 160
Subtotal 845
Career Development
Training and professional course 200
Evaluation from the principal and evaluator 50
Academic achievement 160
Invention in teaching methodology 85
Subtotal 495
Professional Support
Participation in seminar and scientific forum 62
Participation in social and educational association 48
Awards relevant to educational profession 50
Subtotal 160
Total 1500
Source: Teacher Certification site, http://www.sertifikasiguru.org/

6
Data are compilation of percentage of teachers possess minimum the 4-year diploma or bachelor degree by ignoring
the major field.
7
Article 1 and 2 of Law 18/2007
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 62
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

The screening process is conducted under tight system where sorting of applicants documents
have to be finished in a day, and all the process is to be conducted in a closed room during the
certain period. The assessors are prohibited to bring the documents outside the room or do the
verification at in another place. To fit the time target, certification in a fiscal year plan is
8
scheduled tightly .

Scoring system is diverse according to the type of competence and the value of document
submitted, for instance, the academic qualification and task as teachers is scored highest
among other components, and career development is appraised as second highest, and other
professional documents is scored lowest (Table 2). The minimum score for academic
qualification in the first category is 300 points, and all components in the category Qualification
and Main Task have to be completely filled. The minimum score for training and professional
course in the second category should be scored 200 points, and there is an exception for
remote schools’ teachers, notably, they have to acquire minimum 150 points. Then, the
maximum score of each components in third category should be 100 points, and no component
should be scored 0 (zero). Teachers acquire 57% of the prediction maximum score, means 57%
of 1500, or equal to 850 points are eligible to obtain the certificate.

More detailed scoring system is based on the type and value of documents submitted. For
instance, teachers graduated from abroad university; have master or doctoral degree are scored
higher than who own bachelor degree. Course or training is scored based on the number of
hours and level of organization. Teacher who has teaching experience more than 25 years is
counted in the maximum score, compare to junior teachers who have two or four years
experience are scored lower. According to the syllabus or plan of learning, teacher has to collect
five learning plans which consist of the purpose of learning, selecting and organizing the subject
of learning, selecting the resources and learning materials, describing the scenario of learning,
and evaluation. In addition, teachers also have to submit evaluation report of their classes done
by the principals or evaluators. The latter document is scored higher than the first one. Principal
and evaluator also evaluate some personality qualities, such as religious worship, responsibility,
honesty, discipline, motivation, communication skill, and team working, which is scored 5 for
each. Academic achievement is the certificate or award that teacher get from competitions or
finding grandiose invention in education or non-education. It is scored based on level of
competition and the relevancy to education. The experiences as instructor for competition
participated by students are also counted. Other academic activities, such as writing books, or
articles, to be a reviewer, writing teaching module or textbooks, inventing learning tools,
submitting report about educational research, and creating an art or technological works, are
scored totally 85. The score of publication is divers depend on the level of publications.
Competence related to social and professional activities such as seminars, organizations,
assignment as school administrators are also scored based on the level of institution.

Teacher who passes the portfolio screening will receive a certificate, and also acquire the
allowance and payment twice bigger than of the previous one. However, one who failed can
choose one of two alternatives, i.e., accomplishing the documents demanded or attending the
course or training ended with examination on four basic competencies, which is organized by
the teacher higher education. Passing the exam allows teacher to receive certificate, but who
9
failed in one or two subject has a chance to repeat the examination . If teacher fails at last
opportunity, his final status will be judged by the provincial administration.

3.4. Teacher Certification and Teacher Payment System

Close scrutiny should be paid on whether the documents submitted in are exactly representing
teacher qualifications. As one assessor in Semarang Educational Public University said that
many teachers do not understand well what kind of those documents, as some of them bring

8
Based on interview to one assessor in Semarang
9
Article 2 subsection 5 to 8 Law 18/2007
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 63
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

forth unrelated documents, such as in one case showed that teacher submitted a paper which
explained about his social activity as ‘imam’ or leader in praying activities at mosque10. This
case might occur since the dissemination of the program is insufficient. However, I think that the
social competency should be interpreted in various meaning, and ‘imam’ should be considered
as one of social activity among moslem community.

Four categories of competencies measured in teacher certification should be critically analyzed


whether it is appropriate to select teachers for the certification Since the main problem of low
student achievement is probably because of the lack of knowledge in pedagogy, or teachers for
secondary schools have problems in mismatch the subject taught, then attention should be lead
to academic background. Should participation in social organization be evaluated? If yes, then
what the impact is expected? Promising empirical research should be conducted to verify the
correlation of those criteria to the student outcomes. Then, if those ten criteria significantly affect
student achievement, they should be kept. However if they do not work well, it is necessary to
make them more simple. Other consideration is , that a stringent requirement will not be
intrigued for young people to challenge teaching.

The validation of documents submitted are also becoming untouchable, as some facts found
that teacher from same school submitted similar document as copied from his peers. Worst of
all, principal also legalized the documents as the true ones. On the contrary, a teacher in
Madiun said that his award in national competition is not approval as one document of teacher
invention. It is because there are differences of criteria applied by the local government for
certification.

According to the leader of PGRI chapter Madiun, most of PGRI’s members have the difficulty in
writing research papers or, since it is unusual for Indonesian teachers. Some teachers, because
of misunderstanding, submitted their undergraduate thesis, others, even paid university student
to write for them a scientific report, or copied from published materials. Hence, we can easily
understand why only about 49% teachers could get certificate in 2006.

To solve the problem, PGRI has organized short training on writing academic paper for its
members. However, this effort is just simply purposing to get the certificate, rather than
organized as the continuous effort for improve the quality of teachers. As the impacts of teacher
certification, there are new phenomena in Indonesia recently, i.e., the number of seminars and
training for teachers are mushrooming across the country, followed by the large participation of
teachers. Unfortunately, sometimes it does not meet the problem of teaching low performance.

Refer to the Regulation 18/2007 article 6, certified teacher will obtain the allowance as much as
a month payment after accomplishment of 24 hours lessons per week. Usually the maximum
teaching load of one teacher is only 18 hours per week. Thus, some principals in Madiun
answered get trouble since in some schools teachers are over supplied. In the era of regional
autonomy teacher allotment and allocation are decided by regional government (Kabupaten or
Kota, a district under Province) which are in many big cities have over supplied teachers which
should be assigned only among the schools in the city. This situation sometime does not match
actually the demand of teacher in one school. To anticipate the oversupply teachers, some
11
schools applied Team Teaching (TT) as the approach to meet the 24 hours lesson per week .

Thus, teacher’s payment after certification consists of three components, i.e., monthly basic
salary, one month payment as allowance of certification, and allowance from regional
government. Monthly basic salary according to Government Regulation No.10/2008 on Civil
Servant Payment as the minimum base payment is 910,000 rupiah and the maximum is
2,910,000 rupiah (Table 3). Since the amount of regional allowance differs, depends on the
regional budget, monthly payment that teacher gets is also diverse among the region. For

10
It is usual in Indonesia, a person who has higher knowledge about Islam is assigned to be a leader in praying together
five times a day at mosque.
11
Based on interview of principals in Madiun city conducted in 2007
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 64
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

example, the rich province, like DKI Jakarta Province gives 2 millions rupiah, the small region,
likes Madiun city provides only 450 thousands rupiah.
Supposed that teacher who has the certificate and as fresh graduated from 4-year college
(Category III/a) will be paid 1,440,600 rupiah per month in the first year of assignment, and
senior teachers possess Bachelor Degree or 4-year Diploma Degree after work for 32 to 33
years will be paid 2,089,000 rupiah monthly as the basic salary. If those teachers live in DKI
Jakarta province, they will get about 4,881,200 to 6,170,800 rupiah per month, and for teachers
posses Master Degree will get 5,003,000 to 6,354,800 rupiah. Teacher life in a small city likes
Madiun will obtain 3,331,200 to 4,628,000 rupiah for the owner of Bachelor Degree owners, and
for Master Degree is 3,452,000 to 4,804,800 rupiah. These calculations only fix to the payment
for civil servant teachers, mostly served in public schools.

Table 3. Civil Servant Payment System in Indonesia 2008

Monthly Payment
Category of Civil Servant (Rupiah)
Min Max
Graduate from Elementary School = Category I/a 910,000 1,230,800
Graduate from Middle Secondary School= Category I/b 982,200 1,297,900
Graduate from Upper Secondary School = Category II/a 1,151,700 1,689,700
Graduate from 1or 2-years Diploma = Category II/b 1,243,000 1,761,100
Graduate from 4-year Diploma or Bachelor = Category III/a 1,440,600 2,089,000
Graduate from Graduate School (Master) or 4-year Medical College
1,501,500 2,177,400
or 4-year Pharmaceutical College = Category III/b
Graduate from Graduate School
1,565,100 2,269,500
(Doctoral Program) = Category III/c
Source : Compiled from the Government Regulation No.10/2008 on Change in Civil Servant’s Salary
System. The minimum payment is counted from the year 0 or 1 and the maximum counted after about 27-
33 years work.

From the economic side, teacher certification costs a lot because it is put as the tools to decide
the promotion of teacher payment. Thus, for teachers, this certification means allowance. Some
points should be questioned, such as after acquiring the certificate and obtaining the allowance,
can we guarantee that the quality of teaching will increase parallel too? Some teachers in
Madiun answered that at least they can buy books or attend the training with that allowance. But,
others answers it does not affect any for teachers who live under poverty line.

Since it is tightly related to teacher’s payment, the teacher certification doubtfully will be
continuously run in the future. Moreover, in fact, the budget of teacher certification is also finally
taken from the 20% of the national education budget which should be allocated for improving
the standard of public schools.

4. Conclusion

The effort of redefining the concept of teacher as a profession has been run intensively after the
enactment of the National Educational System Law No. 20/2003 and other related regulations.
Law 20/2003 reflects the modern system of teacher standardization compare to the former law,
Law 2/1989. The educational personnel conceptions in Law 20/2003 are also more mature and
advanced.

Teacher certification as a verification of teaching profession has been stipulated in the


regulations mentioned above. It consists of approach, implementation, and implications or

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 65
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

authorizations. Different from the other countries, the teacher certification in Indonesia is
expected to be a two-edged sword; one is for improving the teaching quality and the other is for
improving teacher’s welfare. However, it is difficult to implement them incessantly because it is
attached to the teacher payment matter.

Continuous and systematic approach should be introduced as an effort to improve the quality of
teaching and nursing in schools, such as partnership between school and universities, teacher
self-appraisal system, school evaluation, and teacher evaluation.

In-service certification is also better if it is conducted separately between the certification for
senior and the one for junior teachers. In concern with senior teachers, portfolio system based
on teaching experience and teaching ability is approval; however, for junior teachers, test-based
competency and evaluation of teaching practice is suggested as an appropriate model.

5. References

Bjork, C. 2004. Decentralisation in Education, Institutional Culture and Teacher Autonomy in


Indonesia. International Review of Education 50(4), 245-262
Bliss, T. (1990). Alternate Certification in Connecticut: Reshaping the Profession. Peabody
Journal of Education 67(3): 35-54
Boyd D.; D. Goldhaber; H.Lankford; J. Wyckoff. 2007. The Effect of Teacher Certification and
Preparation on Teacher Quality. The Future of Children 17(1): 45-68
Darling-Hammond, L. (1990). Teaching and knowledge: Policy issues posed by alternate
certification for teachers. Peabody Journal of Education, 67(3), 123-154.
----------------------------- (2000). Teacher quality and student achievement: A review of state policy
evidence. Evaluation Policy Analysis Archives 8 (1). Available :
http://www.epaa.asu.edu/epaa/v8n1
Departemen Keuangan. 2008. Ketentuan Pembayaran Kenaikan Gaji PNS, TNI, POLRI dan
Hakim. 28 Februari 2008, available on
http://www.hukmas.depkeu.go.id/Ind/News/NewsFiscal.asp? link=SP_32_ 280208.htm
Goldhaber, D.D., and D.J. Bewer. 1996. Evaluating the Effect of Teacher Degree Level on
Educational Performance. Development in School Finance 1996, NCES 97(535), 197-
210
-------------------------------------------. 2000. Does Teacher Certification Matter? High School
Teachner Certification Status and Student Achievement. Educational Evaluation and
Policy Analysis, 22 (2),129-145
Jalal, F. 2007. Teachers’ Quality Improvement in Indonesia: New Paradigm and Milestones.
th
The 20 UNESCO-APEID Hiroshima Seminar on Teacher Education, March, 5-9, 2007
Kinney, L. B. 1965. Professional Standard : Through Licensure or Certification ? The
American Journal of Nursing 65 (10) ,118-121.
Kirby, S.N., Darling-Hammond, L., & Hudson, L. 1989. Nontraditional recruits to mathematics
and science teaching. Educational Evaluation and Policy Analysis, 11(3), 301-323
Thomas, R. M. 1990. Education Law as a Mirror of Maturity: The Indonesian Case. International
Review of Education vo. 36 (1), 7-19
Usman, S., Akhmadi, Daniel S. 2004. When Teachers are absent : Where do they go and what
the impact on students ? SMERU Research Institute. 2004.
Zeichner, Kenneth M and A.K. Schulte. 2001. What we know and don’t know from peer-
reviewed research about alternative teacher certification programs. Journal of Teacher
Education 52(4), 266-282

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 66
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010
KILAS RISET

Terapi Sel Punca, Harapan yang Menjanjikan

1. Cell Transplant. 2009; 18(1):899–9.


2. Pacing Clin Electrophysiol. 2010; 33(3):290-303.

Terapi sel punca merupakan terobosan dalam kedokteran untuk meregenerasi jaringan atau
organ tubuh yang disebabkan karena penyakit, trauma, ataupun proses penuaan. Pada tulisan
ini, Kilas Riset mengambil 2 buah artikel hasil kerja putra Indonesia yang sedang belajar di
Jepang untuk diulas singkat. Artikel pertama, Marhaen Hardjo (Univ. Hasanudin-Okayama),
1
dkk. melaporkan bahwa tranpantasi cell line yang mereka ciptakan dari rat mesenchymal bone
marrow (salah satu jenis sel punca dewasa) dapat menekan proses penyakit liver (fibrosis) dan
sekaligus mengembalikan fungsi liver. Satu hal yang menarik dari penelitian ini adalah
transplantasi sel hepar (hepatogenic cell) derivat dari cell line tersebut, hasilnya tidak seefektif
transplantasi cell line, bahkan juga kalah efektif dibandingkan dengan derivat lainnya yaitu sel
lemak (adipogenic cell). Tingkat ekspresi matrix metalloproteinase (MMP)-2 dan MMP-9
ditemukan lebih tinggi pada cell line dibandingkan 2 jenis sel derivatnya. MMP merupakan
enzim yang terlibat dalam pemecahan matriks ekstraselular seperti kolagen tipe IV dan V,
sehingga temuan ekspresi MMP-2 dan -9 mungkin menjelaskan mengapa transplatasi sel
tersebut dapat menekan fibrosis dan meregenerasi fungsi sel hepar.
2
Artikel kedua, bersama Kumi Morikawa, Udin Bahrudin (Univ. Diponegoro-Tottori), dkk. meneliti
aplikasi sel punca embional untuk pacemaker jantung. Sel punca embrional tikus dideferensiasi
menjadi sel pacemaker dan dipisahkan dengan mesin pemilah sel (flow cytometer) dari
berbagai macam sel hasil diferensiasi. Poin utamanya adalah bagaimana menandai sel
pacemaker secara spesifik sehingga dapat dikenali oleh mesin pemisah dan meminimalkan
kontaminasi sel selain sel pacemaker. Dengan rekayasa teknologi, gen HCN4 yang merupakan
penanda sel pacemaker dilabel dengan protein hijau (green fluorescent protein), sehingga sel
pacemaker yang tercipta dari sel punca embrional akan mengekspresikan protein hijau yang
dapat dikenali oleh mesin pemilah sel. Dilaporkan pula pada penelitian ini bahwa sel pacemaker
yang dilabel tersebut memiliki karakteristik yang sama dengan sel pacemaker hasil diferensiasi
sel punca embional asalnya (tanpa label).

Kedua artikel di atas merupakan bagian dari upaya transfer teknologi, yang diharapkan dapat
diteruskan di Indonesia, sejalan dengan aspirasi dan mimpi Asosiasi Sel Punca Indonesia
(ASPI) untuk menjawab berbagai tantangan di bidang kedokteran regeneratif. (Udin Bahrudin,
editor Inovasi).

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 67
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Panduan Penulisan Naskah untuk Majalah Inovasi


(font: Arial 12 points, bold)
Nama penulis-1 (font: Arial 10.5 points, bold)
Afiliasi penulis-1 (font: Arial 10 points)
E-mail: email[at]address.com (font: Arial 10 points, italic)
Nama penulis-2 (font: Arial 10.5 points, bold)
Afiliasi penulis-2 (font: Arial 10 points)
E-mail: email[at]address.com (font: Arial 10 points, italic)

1. Inovasi (font: Arial 10 points, bold)

Majalah INOVASI (ISSN: 0917-8376) diterbitkan oleh Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang
(http://www.ppi-jepang.org/) sebagai majalah ilmiah semi-populer berkala dan bersifat on-line
untuk menyajikan tulisan-tulisan berbagai topik, seperti IPTEK, sosial-politik, ekonomi,
pendidikan, dan topik humaniora lainnya. Majalah INOVASI berfungsi sebagai media untuk
mengartikulasikan ide, pikiran, maupun hasil penelitian dalam rangka memperkaya wawasan
dan khazanah ilmu pengetahuan.

2. Kategori Artikel

Majalah INOVASI menerima naskah baik yang bersifat ilmiah populer maupun ilmiah non-
populer dengan kategori sebagai berikut:

2.1. Artikel Populer

Berisi tentang ide-ide atau gagasan baru yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Ditulis
dalam bahasa Indonesia dan tidak lebih dari 6000 karakter atau maksimal 4 halaman.

2.2. Artikel Non-populer

Naskah asli yang belum pernah dipublikasikan dan tidak akan dipublikasikan di media lainnya.

a. Maksimal 9000 karakter atau tidak lebih dari 6 halaman dan ditulis dalam bahasa
Indonesia/Inggris.
b. Judul harus menggambarkan isi pokok secara ringkas dan jelas serta tidak melebihi 10 kata.
c. Struktur naskah terdiri atas Pendahuluan, Uraian Isi (metode dan pembahasan), kesimpulan
dan daftar pustaka. Judul bab tidak harus seperti struktur naskah tersebut, missal: I.
Pendahuluan, II. Uraian… Akan tetapi dapat disesuaikan, misal: Perspektif Pertanian 5 tahun
masa reformasi (mewakili pendahuluan)… dst. Huruf pertama setiap kata dalam judul bab
harus ditulis dengan huruf kapital
d. Pendahuluan berisi latar belakang/masalah, hipotesis, pendekatan dan tujuan yang hendak
dicapai.
e. Uraian isi terdiri dari judul bab yang disesuaikan dengan kebutuhan dan informasi yang
tersedia. Apabila naskah ini menyampaikan hasil penelitian yang khas, judul bab dalam
uraian isi dapat terdiri dari Bahan dan Metode serta Hasil dan Pembahasan.
f. Sangat disarankan jika dalam uraian isi/pembahasan bersifat kuantitatif. Misal: A lebih besar
10% daripada B, bukan A lebih besar dari B.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 68
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

g. Kesimpulan memuat secara singkat hasil yang telah diuraikan sebelumnya. Dapat dibuat
dengan menggunakan penomoran atau dalam satu paragraph.

3. Format Penulisan Artikel

Ukuran kertas: A4; Margin atas: 3 cm; margin kiri, kanan dan bawah: 2.5 cm; tulisan: 2 kolom;
spasi: tunggal; jenis huruf: Arial; ukuran: 10 points.

Judul, nama penulis, afilisasi penulis dan alamat email ditulis dalam 1 kolom (center). Judul
ditulis dengan font Arial, 12 points, bold, huruf kapital. Nama penulis ditulis dengan font Arial,
10.5 points, bold. Afiliasi penulis ditulis dengan font Arial, 10 points. Alamat email ditulis dengan
font Arial, 10 points, italic.

4. Penulisan Gambar/Ilustrasi

Gambar/Ilustrasi diberi nomor dan judul singkat. Sumber kutipan dicantumkan dengan jelas (jika
gambar/ilustrasi merupakan hasil kutipan). Judul diletakkan di bawah gambar/ilustrasi dan
ditulis dengan font Arial 9 points, center dan setiap kata diawali dengan huruf besar, kecuali
kata-kata seperti, dan, atau, dalam, kata depan, yang, untuk.

GAMBAR

Gb.1. Judul Gambar/Ilustrasi

5. Penulisan Tabel

Judul tabel diletakkan di atas tabel dan ditulis dengan font Arial 9 points, center dan ditulis
mengikuti aturan seperti penulisan Judul Gambar..

Tabel.1. Judul Tabel

Frekuensi Standard Deviasi (cm/s)


(kHz) N=10 N=12
76.8 6.723 4.751
104.6 3.375 2.112
205.1 2.418 1.869

6. Pengiriman Naskah

Naskah dikirim melalui elektronik mail dalam bentuk attachment file MS Word ke alamat redaksi
INOVASI online sebagai berikut: editor.inovasi@gmail.com

7. Daftar Pustaka

Daftar pustaka setiap sumber harus dirujuk dan disusun berdasarkan urutan pemunculan dalam
naskah dengan menuliskan angka arab subscript (misalnya: 1,2-4). Urutan penulisannya mulai

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 69
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

dari nama pengarang, tahun terbit, judul, nama majalah, volume, halaman. Daftar pustaka
diketik dengan menggunakan font 9

39. Bucchi A, Plotnikov AN, Shlapakova I, Danilo P Jr, Kryukova Y, Qu J, et al. 2006. Wild-type and
mutant HCN channels in a tandem biological-electronic cardiac pacemaker. Circulation. 114: 992-999.
40. Cai J, Lin G, Jiang H, Yang B, Jiang X, Yu Q, Song J. 2006. Transplanted neonatal cardiomyocytes
as a potential biological pacemaker in pigs with complete atrioventricular block. Transplantation.
81:1022-1026.
41. Cai J, Yi FF, Li YH, Yang XC, Song J, Jiang XJ, et al. 2007. Adenoviral gene transfer of HCN4
creates a genetic pacemaker in pigs with complete atrioventricular block. Life Sci. 80: 1746-1753.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 70
INOVASI Vol.16/XXII/Maret 2010

Susunan Dewan Editor Inovasi

Penanggung Jawab Farid Triawan, Ketua PPI-Jepang


Editor Utama Murni Ramli, Universitas Nagoya
Editor Agustan, Universitas Nagoya
Bambang Widyantoro, Universitas Kobe
Udin Bahrudin, Universitas Tottori
Oce Madril, Universitas Nagoya
Muhareva Raekiansyah, Universitas Nagasaki
Haryanto, Universitas Kanazawa
Mukti Ali, Universitas Tohoku
Editor Bahasa Dina Faoziah, TUAT
Reviewer/Editor Tamu Ardiansyah Michwan, Universitas Tohoku
Yuniarsih, Universitas Ryukoku
Franky Najoan, GRIPS Tokyo
Lea Santiar, Universitas Chuo
John Fresly Hutahayan, Setjen DPR RI
Muhamad Surya, Asahi Shimbun
Sholihatun Kiptiyah, KPPU
Produksi Aries Setiawan, Universitas Kyoto
Cover Udin Bahrudin

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia 71