Anda di halaman 1dari 3

KARAKTERISTIK JIWA YANG TENANG

:Allah swt. Berfirman dalam surat Al-Fajr: 27-30


Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas “
lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, dan
(masuklah ke dalam surga-Ku” (Al-Fajr: 27-30
Aya di atas secara jelas menggambarkan bahwa ada empat ciri utama dari jiwa
:yang tenang, yaitu
(Ridha (radhiyah .1
Yaitu rela dengan kebaikan merata dan karunia besar yang diberikan oleh Allah
kepadanya ketika ia bisa mengakhirinya dengan baik. Dia memberikan ganjaran,
.kemuliaan dan karunia-Nya dan Dia mengarahkan panggilan kepadanya
(Diridhai (mardhiyah .2
Ia berhasil mendapatkan keridhaan Allah yang ia dapatkan karena ketaatan
dan tauhidnya. Ridha Allah adalah tujuan utamanya yang tidak ada lagi tujuan
lain setelahnya. Bahkan keridhaan Allah menempati posisi yang istimewa dan
lebih berharga dari nikmat yang diberikan secara terus-menerus kepadanya. Al-
Qur’an di tempat lain telah menjelaskan bahwa posisi ini tidak akan dicapai
:kecuali dengan takut kepada Tuhannya. Dia berfirman di akhir surat Al-Bayyinah
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di “
bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah
ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu
(adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya” (Al-Bayyinah: 8
.Ia masuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang saleh .3
Ini adalah pengistimewaan lain bagi jiwa yang tenang yaitu dengan
ditempatkannya di antara mereka yang sejenis dan sebanding dengannya, dan
juga dengan dimaksukkannya mereka termasuk dalam golongan orang-orang
yang beribadah secara ikhlas kepada Allah. Penghargaan seperti ini adalah
.sesuatu yang akan terus bertambah dan diperbaharui
Bertambah adalah karena banyaknya kelompok dan semakin bertambahnya
anggota-anggota yang dalam timbangan kemuliaan mempunyai nilai yang lebih.
Lalu bagaimana jika dasar perkumpulan dan kebersamaan tersebut adalah duduk
di atas hamparan penghambaan dengan naungan payung Tuhan yang mulia dan
.berada di hadapan hidangan karunia dari Allah Yang disembah
Adapun keberadaannya yang terus diperbaharui adalah karena setiap kali jiwa
diberikan nikmat ketenangan, ia dipanggil dengan panggilan yang mulia untuk
masuk ke golongan hamba-hamba-Nya yang saleh. Yang demikian itu adalah
penghormatan bagi karakteristik-karaktersitik di mana jiwa-jiwa yang tenang
dikumpulkan dan ia menyenangi karakteristik-karakteristik yang baik dalam
masalah iktiqad dan penghambaan. Makna ini ditegaskan oleh ayat Al-Qur’an lain
:yaitu firman-Nya
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benAr-benar “
akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.”
((Al-Ankabut: 8
Ia termasuk penghuni surga .4
Ini adalah bentuk pengistimewaan Allah terhadap jiwa dari jenis ini. Imam Al-
:Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan3
Sebenarnya jiwa yang tenang ini berlaku umum bagi semua jiwa orang-orang “
”yang beriman, ikhlas dan taat
:Sedangkan Hasan Al-Bishri berkata
Jika Allah berkehendak untuk mencabut ruh hamba-Nya yang beriman, maka “
Dia menjadikan jiwa tersebut tenang menghadap Allah dan Allah juga tenang
menyambutnya.”4
:Sementara itu Amr bin Ash berkata
Jika orang mukmin diwafatkan, maka Allah kemudian mengutus dua malaikat “
kepadanya dan Dia juga mengirim bersama dua malaikat tersebut apel dari
surga dan keduanya berkata kepadanya, ‘Keluarlah wahai jiwa yang tenang
dalam keadaan rilda dan diridhai. Keluarlah ketenteraman (rauhun) dan rezki
(raihan), kepada Tuhan Yang ridha dan tidak marah’ Setelah itu ia keluar
dengan harum semerbak sampai-sampai salah seorang dari dua malaikat
”.tersebut mencium tanah
Setelah menunjukkan sifat-sifat yang empat ini, kita akan mengajukan teks
yang berupa hadis nabi yang menjelaskan beberapa karakteristik mendasar dari
jiwa yang tenang. Ibnu Katsir telah mengutip dalam tafsirnya bahwa Rasulullah
:Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada seseorang
Katakanlah, ‘Ya Allah, saya memohon kepada-Mu jiwa yang tenang, dan “
beriman dengan pertemuan dengan-Mu, rela dengan qadla’-Mu, serta
”.menerima pemberian-Mu
- Beriman terhadap perjumpaan dengan Allah—yaitu iman terhadap
pembangkitan—adalah sesuatu yang paling berperan dalam
membangkitkan ketakutan pada hati orang mukmin.
- Ridha dengan qadla’ adalah kunci media paling baik untuk
mendekatkan antara Tuhan dengan hamba, merupakan dalil bagi
penerimaan yang mutlak terhadap Allah serta bisa menggugurkan tabir
penghalang dengan Allah
- Menerima segala pemberian adalah sesuatu yang bisa membangkitkan
kedamaian jiwa orang mukmin dan merupakan dasar kehidupan orang
Muslim bersama orang lain, tanpa melihat apa yang ada di tangan
mereka dan tanpa ada kedengkian terhadap mereka.
Dari berbagai pendapat para ulama, bisa diambil kesimpulan bahwa jiwa yang
:tenang mendapatkan ketenangannnya dari berbagai sisi
1. Ia mendapatkan ketenangannya dari keridhaan Allah terhadap dirinya,
sedangkan ridha Allah adalah tujuannya yang paling tinggi.
2. Ia mendapatkan ketenangannya dari janji Allah terhadapnya dengan
balasan yaitu kenikmatan yang abadi, “Masuklah ke golongan hamba-
hamba-Ku dan masuklah ke surga-Ku”. Ia menjadi tenang karena ia
dijanjikan surga ketika ia meninggal, dibangkitkan dan pada saat
dikumpulkan.
3. Ia mendapatkan ketenangannya dari keberadaannya yang
mentauhidkan Allah dan menjadikannya sebagai tujuan ibadah satu-
satunya. Allah telah menjanjikannya—dan Allah adalah Yang Paling
menepati janjinya:
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka “
dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
((Al-’An`am: 82
Dalam ayat ini keamanan terbatas hanya bagi orang-orang yang bertauhid
yaitu pembatasan jalan pengajuan. Tidak ada keamanan kecuali bagi mereka,
.dan tidak ada ketenangan kecuali bagi jiwa-jiwa mereka
4. Ia mendapatkan ketenangannya karena ingat kepada Allah:
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra`du:“
(82
Mengingat Allah akan membawa ketengan di hati orang-orang yang beriman
.sebagai hasil dari penerimaan dan keimanan dengan hal-hal yang tidak nampak
Jadi, kita bisa menemukan tanda-tanda ketenangan pada diri manusia dalam
:jiwa-jiwa sebagai berikut
Jiwa yang menyesali diri (Al-lawwamah)...mendapatkan petunjuk (Al- .1
(muhtadiyah)...serta saleh (ash-shalihah
Jiwa yang alim (Al-Barah)...yang baik (Al-Khairah)...yang bersyukur (asy- .2
(syakirah
Jiwa yang adil (Al-‘adilah)...yang bisa dipercaya (Al-aminah)...yang tulus (Al- .3
(wafiyah