Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Tangan merupakan bagian tubuh yang penting bagi manusia, terutama untuk
aktivitas fisik terhadap lingkungan sekitarnya. Tangan memiliki kemampuan untuk
memegang, kemampuan motorik kasar maupun halus, serta kemampuan untuk
meraba dan membedakan dan mengerti hal hal yang ada di sekitar pemiliknya. 4
Fraktur pada tangan merupakan salah satu fraktur yang sering terjadi, baik
pada kasus emergensi, seperti kecelakaan, maupun pada kasus poliklinis. Evaluasi
yang baik pada pemeriksaan awal, serta manajemen yang tepat dapat secara
signifikan mencegah terjadinya morbiditas dan kecacatan pada pasien. Evaluasi dan
manajemen ini dipengaruhi juga oleh usia, tangan yang dominan, pekerjaan, faktor
komorbid.4
Terjadinya fraktur pada tangan, meliputi juga fraktur pada metacarpal dan
phalang. Fraktur ini meliputi 10% dari semua fraktur dan 15-28% dari semua kasus
yang dibawa ke UGD. Pada tangan, fraktur metacarpal kelima merupakan kasus
yang paling sering, dan terjadi sebanyak 16-34% dari semua fraktur pada tangan. 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi tangan

2.1.1 Tulang pada tangan


Pergelangan tangan (wrist) atau carpus disusun oleh 8 tulang carpal
yang tersusun dalam bagian proksimal dan distal. Tulang tulang kecil ini
memberikan fleksibilitas pergelangan tangan. Carpus ditandai dengan sisi
yang konveks di bagian posterior dan konkaf di bagian anteriornya. 5
Dari lateral ke medial, 4 tulang yang ada di deretan proksimal carpal
adalah sebagai berikut :5

Scaphoid
Tulang berbentuk seperti kapal yang berartikulasi dengan radius di bagian
proksimal

dan

mempunyai

tuberkulum

scaphoideus.

Tulang

ini

merupakan tulang terbesar di barisan proksimal tulang carpal.


Lunate
Tulang berbentuk bulan di antara tulang scaphoid dan triquertum yang

berartikulasi dengan radius di bagian proksimal.


Triquertum
Tulang berbentuk piramid pada sisi medial carpus, yang berartikulasi
dengan diskus artikularis persendian radioulnaris distal di bagian

proksimal.
Pisiform
Tulang kecil berbentuk seperti kacang polong yang ada di bagian palmar
dari tulang triquertum.
Dari lateral ke medial, 4 tulang yang ada di deretan distal carpal adalah

sebagai berikut :5

Trapezium
Tulang dengan 4 sisi pada bagian lateral dari carpus, yang berartikulasi
dengan metacarpal 1 dan 2, scaphoideus, dan tulang trapezoid.

Trapezoid
Tulang berbentuk baji, yang mirip dengan tulang trapezium. Tulang ini
berartikulasi

dengan

metacarpal

scaphoid.
2

kedua,

trapezium,

capitate,

dan

Capitate
Tulang berbentuk seperti kepala, yang berartikulasi dengan metacarpal
ketiga, dan dengan trapezoid, scaphoid, lunate, dan hamate. Tulang ini

merupakan tulang terbesar pada carpus.


Hamate
Tulang berbentuk baji, yang berartikulasi dengan metacarpal keempat dan
kelima, capitate, dan tulang triquertum.
Permukaan proksimal dari deretan distal carpal berartkulasi dengan

deretan proksimal carpal, sedangkan permukaan distalnya berartikulasi


dengan metacarpal. Metacarpal merupakan pembentuk skeleton telapak
tangan yang ada di antara carpus dan phalang. Metacarpal terdiri dari 5
tulang. Setiap tulang metacarpal mempunyai bagian basis, shaft, dan caput.
Bagian basis proksimal metacarpal berartikulasi dengan tulang tulang
carpal, dan bagian distalnya berartikulasi dengan phalang proksimal.
Metacarpal 1 merupakan metacarpal terpendek dan paling tebal dari semua
tulang metacarpal. Metacarpal 3 dikenali dengan adanya processus
styloideus pada sisi lateral basisnya. 5

Gambar 2.1 Tulang tulang tangan kanan. Skeleton tangan terdiri dari 3 segmen :
carpal, metacarpal, dan phalang.5
3

Setiap jari mempunyai 3 phalang, kecuali ibu jari. Setiap phalang


mempunyai bagian basis di proximal, corpus, dan caput di bagian distal.
Phalang proksimal merupakan phalang terbesar, phalang medial dengan
ukuran sedang, dan phalang distal merupakan phalang dengan ukuran
terkecil. Bagian terminal phalang mendatar dan meluas yang merupakan
tempat dari nail bed.5
2.1.2 Pembuluh darah pada tangan
Tabel 2.1 Perjalanan arteri pada tangan
ARTERI
RADIAL
Cabang palmar superficialis

PERJALANAN ARTERI
Membentuk

busur

(arch)

palmaris

superficialis dengan arteri ulnaris


Melalui bawah tendon flexor pollicis

Princeps pollicis

longus dan terbagi menjadi 2 arteri


digitalis proprium ke ibu jari
Melewati jari telunjuk pada sisi lateral
Terbentuk oleh bagian terminal arteri

Radialis indicis
Deep palmar arch

radialis
ULNARIS
Cabang palmaris profundus

Membentuk deep palmar arch dengan

Superficial palmar arch

arteri radialis
Terbentuk oleh bagian terminal arteri
ulnaris, dan terbagi menjadi 3 arteri
digitalis,

yang

masing

masing

membentuk 2 arteri digitalis proprium

Gambar 2.2 Arteri dan saraf pada tangan3

2.2

Fraktur

2.2.1 Definisi fraktur


Fraktur adalah hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang
rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. 6
2.2.2

Proses terjadinya fraktur


Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan
terutama tekanan membengkok, memutar, dan tarikan. Trauma bisa bersifat
trauma langsung dan trauma tidak langsung. 6
Trauma langsung
Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pad atulang dan
terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya

bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan. 6


Trauma tidak langsung
Trauma dihantarkan ke daerah lain yang lebih jauh dari daerah fraktur,
biasanya jaringan lunak tetap utuh.6

2.2.3

Klasifikasi fraktur 6
a. Klasifikasi etiologi
Fraktur traumatik
Karena trauma yang yang terjadi secara tiba-tiba.
Fraktur patologis
Karena kelemahan tulang akibat keadaan patologis tulang.
Fraktur stress
Karena trauma yang terus memenerus pada suatu tempat tertentu.
b. Klasifikasi klinis
Fraktur tertutup (simple fracture)
Fraktur yang tidak ada hubungan dengan dunia luar.
Fraktur terbuka (compound fracture)
Fraktur yang mempunyai hubungan dunia luar melalui luka pada kulit
dan jaringan lunak.Bisa dari dalam (from within) atau dari luar (from
without).
Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture)
Fraktur dengan komplikasi misal infeksi tulang, malunion, delayed
union dan nonunion.
c. Klasifikasi radiologis
Lokasi
Diafisis
Metafisis
Intra artikular
Fraktur dengan dislokasi
6

Konfigurasi
Transversal :garis patah tulang melintang sumbu tulang.
Oblik :garis patah tulang membentuk sudut pada sumbu tulang.
Spiral :garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih.
Segmental :fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak
berhubungan.
Komminutifa : fraktur lebih dari 2 fragmen fraktur dimana garis
patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
Avulsi :fraktur yang di akibatkan karena trauma tarikan atau traksi
otot yang insersinya pada tulang.
Depresi :fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang
mendorong tulang kearah permukaan lain.
Impaksi : satu fragmen masuk ke fragmen yang lain.
Fraktur epifisis

Gambar 2.3 Konfigurasi fraktur 3

Ekstensi
Total/ komplit
Tidak total (crack)/ parsial
Torus
Garis rambut
Green stick
Hubungan antar fragmen
Undisplaced (tidak bergeser)
Displaced (bergeser)
- Shifted Sideways : menggeser ke samping tapi dekat
- Angulated : membentuk sudut tertentu
- Rotated : memutar
- Distracted : saling menjauh karena ada interposisi
- Overriding : garis fraktur tumpang tindih
- Impacted : satu fragmen masuk ke fragmen yang lain
2.2.4

Gambaran klinis fraktur


7

a.

Anamnesa
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma dan diikuti dengan
ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak. Penderita
biasanya datang karena adanya nyeri, pembengkakan, gangguan
fungsi anggota gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi, atau gejala

b.

lain. 6
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal, perlu diperhatikan adanya syok, anemia,
perdarahan, kerusakan pada organ lain, dan faktor predisposisi

c.

misalnya fraktur patologis.6


Pemeriksaan lokal 6
1) Inspeksi (Look)
- Bandingkan dengan bagian yang sehat
- Perhatikan posisi anggota gerak
- Keadaan umum penderita secara keseluruhan
- Ekspresi wajah karena nyeri
- Lidah kering atau basah
- Adanya tanda anemia
- Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak
- Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam hari
- Deformitas : angulasi, rotasi, pemendekan
- Survei pada seluruh tubuh, apakah ada trauma pada organ lain
- Perhatikan kondisi mental penderita
- Keadaan vaskularisasi
2) Palpasi (Feel)
- Temperatur setempat yang meningkat
- Nyeri tekan
- Krepitasi
- Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma
- Pengukuran tungkai
3) Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakan secara
aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami
trauma.
4) Pemeriksan neurologis
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf sensoris dan
motoris serta gradasi kelainan neurologis, yaitu neuropraksia,
axonotmesis, neurotmesis.
5) Pemeriksaan radiologis
- Foto polos
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua :
Dua posisi proyeksi
Dua sendi pada anggota gerak harus difoto
Dua anggota gerak
8

Dua trauma
Dua kali dilakukan foto
- Pemeriksaan radiologis lainnya
Tomografi
CT-scan
MRI
Radioisotop scanning
2.2.5 Prinsip dan metode pengobatan fraktur
Sebelum melakukan tindakan operatif, prinsip pengobatan fraktur ada
empat (4R), yaitu :6
a. Recognition : diagnosis dan penilaian fraktur
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur
dengan anmnesis, pemeriksaan klinik, dan radiologis. Pada awal
pengobatan perlu diperhatikan lokasi fraktur, bentuk fraktur, menentukan
teknik yang sesuai untuk pengobatan, dan komplikasi yang mungkin
terjadi selama dan sesudah pengobatan.
b. Reduction : reduksi fraktur apabila perlu
Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk mendapatkan posisi yang
dapat diterima. Posisi yang baik adalah alignment yang sempurna dan
aposisi yang sempurna.
c. Retention : imobilsasi fraktur
d. Rehabilitation : mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin
2.3

Fraktur metacarpal

2.3.1 Definisi fraktur metacarpal


Fraktur metacarpal adalah fraktur pada tulang metacarpal, baik yang
melibatkan basis proksimal, shaft, atau caput bagian distal. Fraktur dapat
terjadi pada satu atau leih tulang.4
2.3.2 Etiologi fraktur metacarpal
Cedera metacarpal dapat terjadi baik karena trauma langsung maupun
tidak langsung. Arah dan kekuatan trauma menentukan tipe fraktur atau
dislokasi yang terjadi. Pola cedera spesifik yang terjadi pada sebagian besar
trauma adalah sebagai berikut :2
a. Cedera CMC

Fraktur basis metacarpal dan dislokasi persendian CMC seringkali


terjadi karena beban axial atau beban lain dalam posisi fleksi pergelangan
tangan.
b. Cedera collum dan corpus metacarpal
Fraktur pada corpus metacarpal seringkali disebabkan oleh beban
axial atau trauma langsung atau kekuatan torsional pada jari. Sedangkan,
fraktur pada collum metacarpal seringkali terjadi karena memukul benda
padat dengan posisi tangan mengepal.
c. Cedera caput metacarpal
Fraktur caput metacarpal merupakan fraktur intra-artikuler dan
terjadi karena trauma langsung. Fraktur avulsi pada bagian awal ligamen
kolateral terjadi akibat gaya deviasi dari persendian MCP yang berada
dalam posisi fleksi.
d. Dislokasi MCP
Dislokasi MCP dorsal merupakan dislokasi yang paling sering,
terjadi karena hiperekstensi jari jari. Ligamen kolateral tetap intak, dan
bagian insersi proksimal yang lemah dari sisi volar mengalami avulsi dari
collum metacarpal.
2.3.3 Epidemiologi fraktur metacarpal
Fraktur metacarpal dan phalang terjadi sebanyak 10% dari seluruh
kasus fraktur. Fraktur metacarpal terjadi sebanyak 30 40% dari seluruh
fraktur tangan. Fraktur collum metacarpal kelima terjadi sebanyak 10% dari
seluruh kasus fraktur tangan.2
2.3.4 Gejala klinik fraktur metacarpal
Pada fraktur metacarpal, pasien akan mengeluhkan rasa nyeri pada
tangan, memar, bengkak, atau kaku setelah terjadinya fraktur. Keluhan lain
yang mungkin terjadi adalah tangan pasien tidak dapat digerakkan, atau jari
saling menyilang ke jari sebelahnya bila pasien mengepalkan tangan, dan
pemendekan dari jari setelah terjadinya fraktur.7
2.3.5 Diagnosis fraktur metacarpal
10

Untuk dapat mendiagnosis fraktur metacarpal, pemeriksa perlu


melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik untuk memastikan posisi jari dan
kondisi kulit dari pasien. Pemeriksaan range of motion juga perlu dilakukan,
serta pemeriksaan sensorik pada jari jari. Hal ini perlu dilakukan untuk
memastikan tidak ada kerusakan pada saraf. 7
a. Cedera basis metacarpal
Diagnosis

biasanya

dibuat

berdasarkan

anamnesa

dan

pemeriksaan klinis. Nyeri, bengkak, dan hilangnya kemampuan gerak


sering terjadi dengan adanya fraktur ataupun dislokasi. 2
b. Fraktur collum atau corpus metacarpal
Bagian collum dan shaft merupakan bagian yang paling sering
mengalami cedera, kecuali pada metacarpal pertama dimana bagian
basis merupakan bagian yang paling sering cedera. 2
Fraktur pada corpus metacarpal berkaitan dengan terjadinya
pemendekan, rotasi, dan angulasi apex dorsalis. 2 Angulasi ini sering
terjadi karena ruang gerak persendian carpometacarpal (CMC) yang
dapat mengkompensasi angulasi hingga sudut 10-15 o pada jari telunjuk
dan jari tengah, dan 20 o pada jari manis. Semakin proksimal fraktur yang
terjadi, biasanya angulasi yang terjadi juga semakin besar, dan deformitas
tangan yang terjadi semakin jelas. 4 Deformitas rotasi minor dapat
menyebabkan jari jari tumpang tindih saat tangan membentuk kepalan.
Abnormalitas

rotasional

paling

baik

dinilai

secara

klinis

dengan

membandingkan jari jari yang cedera dan yang tidak cedera dengan
melakukan gerakan lengkap range of motion. Dalam keadaan fleksi,
seluruh jari seharusnya mengarah ke tuberositas scaphoideus. Dalam
keadaan normal, bidang kuku pada tangan yang cedera dan tangan
kontralateral

seharusnya

sama.

Tulang

metacarpal

kelima

yang

mempunyai risiko cedera paling besar.2


Fraktur pada collum metacarpal dengan mudah didiagnosa dengan
adanya nyeri lokal dan bengkak dengan hilangnya kontur dorsal knuckle.
Fraktur collum metacarpal paling sering pada metacarpal 4 dan 5. 2
Boxers fracture adalah fraktur yang terjadi pada collum metacarpal
kelima. Pada fraktur ini, tidak ada stabilisasi sepanjang sisi ulnarnya,
sehingga fraktur ini berakibat pada terlepasnya bagian caput metacarpal
11

dari semua perlekatan proksimal. Hal ini memungkinkan terjadinya


angulasi volar yang lebih besar dan dalam jangka waktu lama dapat
terjadi pengurangan fleksi metacarpal karena pemendekan ligamen
kolateral. Angulasi caput hingga 30 40 o masih dapat ditoleransi oleh
metacarpal kelima karena adanya CMC joint.4
c. Cedera caput metacarpal
Nyeri, bengkak, dan hilangnya gerakan merupakan tanda pokok
terjadinya cedera pada persendian MCP. Krepitasi bisa terjadi pada
cedera intra-artikuler.2
d. Dislokasi metacarpophalangeal
Dislokasi dorsal dapat diidentifikasi dengan posisi hiperekstensi jari
dengan hilanganya kemampuan fleksi dari persendian. 2
Kemudian, perlu dilakukan pemeriksaan x-ray untuk menentukan lokasi
dari fraktur. Foto x-ray polos merupakan pemeriksaan utama untuk
mengevaluasi cedera pada tangan setelah dilakukan anamnesa dan
pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dilakukan dengan posisi AP, lateral, dan
oblique. Untuk fraktur metacarpal kedua dan ketiga dilakukan dengan posisi
lateral pronasi 30o, sedangkan untuk fraktur metacarpal keempat dan kelima
dilakukan dengan posisi lateral supinasi 30 o. 2

12

Gambar 2.4 Foto x-ray posisi AP fraktur metacarpal keempat dan kelima

Gambar 2.5 Foto x-ray posisi lateral fraktur metacarpal keempat dan
kelima 2

13

Gambar 2.6 Foto x-ray posisi oblique fraktur metacarpal keempat dan kelima

Pada fraktur dan dislokasi CMC seringkali sulit dilihat dengan foto
polos radiografi. Pemeriksaan tambahan dengan fluoroscopy atau CT-scan
mungkin diperlukan. Dislokasi CMC akan menunjukkan hilangnya ruang
sendi pada posisi AP dan tampak sebagai broken sawtooth sign pada sendi
CMC. Tanda ini disertai dengan adanya displacement pada foto posisi lateral
dan oblique.2
2.3.6 Terapi fraktur metacarpal
a. Terapi non-pembedahan
Teknik terapi non-pembedahan dilakukan dengan buddy strapping
antara jari yang cedera dengan jari sebelahnya, dengan atau tanpa
pemasangan bidai, termasuk gips. Teknik ini dapat mengurangi risiko
terjadinya deformitas rotasional. 4

14

Gambar 2.7 Buddy strapping


Teknik lain dilakukan dengan pembidaian fraktur dengan ekstensi
pergelangan tangan 20o, fleksi sendi metacarpophalangeal 60-70 o, dan
ekstensi sendi interphalangeal. Teknik ini mengurangi risiko pemendekan
ligamen dan mempertahankan fungsi jangka panjang dari tangan. 4
Fraktur basis metacarpal yang tidak bergeser (undisplaced) dan
tidak impaksi dapat diterapi secara konservatif. Terapi non-pembedahan
untuk fraktur corpus dan collum metacarpal juga secara umum diterima
selama reposisi yang sesuai sudah terjadi.

Reduksi fraktur angulasi dianggap emergensi dengan fleksi sendiri


metacarpophalangeal

dan

interphalangeal

proksimal

sebesar

90 o.

Kemudian diberi tekanan pada sisi dorsal fraktur dengan tujuan untuk
mendorong caput metacarpal ke arah dorsal dan mendatarkan corpus
metacarpal. Teknik ini dapat dilakukan untuk fraktur tertutup. Namun, teknik
ini sulit untuk dipertahankan karena bila dilakukan pembidaian pada posisi
ini akan menimbulkan terjadinya clawing dan kontraktur dalam keadaan
fleksi.4
b. Terapi pembedahan
Indikasi dilakukan pembedahan adalah :
- Fraktur terbuka

15

Pada fraktur terbuka, perlu dilakukan debridemen dan irigasi,


serta pemberian antibiotika. Pembedahan dapat dilakukan untuk
reduksi, dengan atau tanpa fiksasi.
- Fraktur intra-artikuler
- Fraktur angulasi > 30o
- Deformitas rotasi > 10o
- Pemendekan yang terlihat (gross shortening) >5mm
- Fraktur yang tidak stabil
- Fraktur dengan melibatkan jari multipel
- Fraktur dengan hilangnya jaringan lunak yang luas
- Indikasi kosmetik dan estetika
Fraktur metacarpal dapat diterapi dengan menggunakan Kirschner
wire (K-wire), screw, atau intraosseus wiring, atau juga dengan plate.
Pemilihan teknik tersebut lebih bergantung pada preferensi masing-masing
ahli bedah. Kemudian, dilakukan immobilisasi selama lebih dari 2 minggu. 4
Fraktur metacarpal kelima seringkali memerlukan fiksasi apabila
terjadi fraktur basis disertai dengan deformitas karena tarikan dari otot
ekstensor, M.carpi ulnaris. Pada kasus ini, pemasangan K-wire merupakan
terapi yang optimum dan telah lama diterapkan.4
Pada kasus fraktur corpus metacarpal, semua cara di atas dapat
diterapkan pada seluruh tulang metacarpal. Pada kasus fraktur transversal,
pemasangan K-wire longitudinal diletakkan dalam posisi distal ke proximal.
Pada fraktur oblique, dapat dilakukan pinning longitudinal atau transversal
atau dilakukan pemasangan plate and screw fixation. Multiple lag screw
fixation merupakan pilihan untuk fraktur spiral yang panjang. 4
Selain itu, dapat dilakukan juga fiksasi eksternal pada kasus fraktur
kominutiva yang berat dengan hilangnya jaringan tulang. Pada kasus ini,
pemberian bone graft juga dapat membantu penyembuhan.4
c. Fraktur metacarpal spesifik
1) Fraktur collum metacarpal V (Boxers fracture)
Sebagian besar kasus ini tidak memerlukan manipulasi apapun.
Dapat digunakan splint untuk proteksi saja. Prosedur operasi hanya
diperlukan bila fraktur terjadi akibat pukulan tinju atau gigitan (fight
16

bite) karena risiko infeksinya lebih besar dan mungkin terjadi


kerusakan tendon dan sendi.
2) Fraktur metacarpal I (Bennets fracture)
Fraktur basis metacarpal I melibatkan CMC joint. Fraktur ini
diterapi dengan melakukan operasi karena seringkali disertai dengan
displacement yang merubah permukaan sendi. Apabila tidak diterapi,
permukaan sendi yang tidak rata ini dapat menyebabkan terjadinya
arthritis. Operasi dilakukan untuk reposisi fraktur dengan K-wire
kemudian dilakukan pemasangan gips atau splint selama 4-8 minggu.
Wire akan dilepas setelah 4 minggu.
3) Fraktur basis metacarpal IV & V (Reverse Bennetts fracture)
Fraktur basis metacarpal ini juga sering melibatkan sendi.
Fraktur ini seringkali membutuhkan operasi untuk mereposisi fraktur
dengan K-wire dan kemudian dilakukan pemasangan gips atau splint.
2.3.7 Prognosis fraktur metacarpal
Secara umum, hasil terapi fraktur metacarpal cukup baik. Kasus
terjadinya nonunion sangat jarang, tetapi kasus malunion masih banyak
terjadi. Walaupun demikian, resultan fungsi yang dihasilkan masih baik.
Selain itu juga tidak terjadi deformitas rotasional. 2

17

BAB III
KASUS RESPONSI

RESPONSI ILMU BEDAH RSU HAJI SURABAYA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA
Pembimbing : dr. Erwien, Sp. OT
Oleh
I.

: Tania Wangunhardjo

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Ny. M

Umur

: 60 tahun

Jenis Kelamin: Perempuan


Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Pendidikan

: SLTA

Alamat

: Keputih IIB/21

No. RM

: 552106

Tanggal pemeriksaan: 29 Desember 2015


II.

ANAMNESA
1. Keluhan Utama : nyeri pada punggung tangan kiri di belakang kelingking
2. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :
Pasien masuk dari UGD RS Haji dengan keluhan nyeri pada punggung
tangan kiri di belakang kelingking sejak kurang lebih 1 jam SMRS.
Sebelumnya, pasien jatuh pada saat akan duduk di kursi dengan posisi miring
ke kiri dan tangan kiri membentur lantai lebih dulu dan kemudian tertindih oleh
kepala pasien. Kepala pasien tidak sampai membentur lantai. Setelah
kejadian, pasien merasakan nyeri pada punggung tangannya, tetapi jari
kelingking masih dapat digerakkan walaupun terasa sangat nyeri. Setelah
kejadian, tidak ada memar, tidak ada luka, dan juga tidak keluar darah. Sekitar

18

30 menit SMRS, pasien merasa punggung tangannya sedikit bengkak. Selama


di rumah, pasien tidak memberikan pengobatan apapun.
3. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) :
Hipertensi (-), Diabetes Melitus (+) 5 tahun, riwayat patah tulang sebelumnya
(-), riwayat operasi sebelumnya (-), alergi obat (-)
4. Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) :
Hipertensi (-), Diabetes Melitus (-)
5. Obat-obatan yang pernah diberikan :
(-)
III. PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 29 Desember 2015 di ruangan 1c
Keadaan umum
Kesadaran GCS : 456
Derajat sakit
: Tampak sakit sedang
Vital sign

- Tensi

: 130/80 mmHg

- Nadi

: 88 x/menit, irreguler

- RR

: 20 x/menit, reguler

- Taxilla

: 36,3oC

Status Generalis
- Kepala/ wajah : Anemi/Ikterik/Cyanosis/Dsypneu: -/-/-/Jejas (-)
Thorax
:
Pulmo : I : normochest, retraksi (-)
P : fremitus raba simetris normal
P : sonor / sonor
A : ves/ves, Rh -/-, Wh -/Cor : I : ictus cordis tidak tampak
P : ictus cordis tidak teraba
P : batas jantung dalam batas normal
A : S1/S2 tunggal, Murmur (-), Gallop (-)
Abdomen
: I : flat simetris
A : BU (+) normal
P : soepel, H/L tidak terdapat pembesaran
nyeri tekan

19

P : R: Redup; T: tympani

Genitalia eksterna : P dalam batas normal


Ekstremitas : akral hangat +/+
+/+
Oedem :

-/+
-/-

Status Lokalis : Regio manus Sinistra

Look :
Vulnus (-), hematoma (-), deformitas (+), edema (+), bleeding (-), bone exposure
(-), tendon exposure (-)
Feel :
Nyeri tekan (+), edema (+), krepitasi (-), hangat (-)
20

Move :
ROM metacarpophalangeal joint V terbatas
ROM interphalangeal joint proksimal dan distal V terbatas
AVN :
CRT < 2
Status Neurologis
Motorik :
Sensorik:

+N

+N

+N

+N

Refleks : BPR +2/+2

KPR +2/+2

TPR +2/+2

APR +2/+2

IV. ASSESMENT
1. Diagnosis Kerja

: suspek fraktur metacarpal V sinistra

2. Diagnosis Banding : dislokasi carpometacarpal joint V sinistra


3. Diagnosis Definitif

a. Primer

: suspek fraktur metacarpal V sinistra

b. Sekunder

: Diabetes Melitus tipe II

c. Komplikasi

:-

V. PLANNING
1. Tatalaksana Diagnostik

: Foto Manus sinistra AP / Lateral

2. Tatalaksana Terapi

: Injeksi ketorolac 30 mg

3. Tatalaksana Operatif

:-

4. Tatalaksana Rehabilitasi

:-

21

Hasil foto manus sinistra AP/Lateral :

Terdapat garis fraktur pada os metacarpal V distal

Diagnosa akhir : Close fracture metacarpal V sinistra


Planning :
Tatalaksana diagnostik

:-

Tatalaksana terapi

: MRS
Injeksi ketorolac 3 x 30 mg
Pemasangan bidai

22

Tatalaksana operatif

: pro ORIF

Tatalaksana rehabilitasi

:-

23

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Aski, Bahubali, Bhatnagar, Abhinav, 2015. Metacarpal fractures treated by
percutaneous Kirschner wire in International Journal of Physical Education,
Sports,
and
Health.
http://www.kheljournal.com/archives/2015/vol1issue3/PartA/24.1.pdf ; diakses
tanggal 29 Desember 2015.
2. Dye, Thomas Michael, et al., 2015. Metacarpal Fractures Treatment &
Management. http://emedicine.medscape.com/article/1239721-treatment ;
diakses tanggal 29 Desember 2015.
3. Hansen, John T, Lambert, David R., 2005. Netter's Clinical Anatomy Edisi I.
USA : Elsevier
4. Haughton DN, et al., 2012. Principles of Hand Fracture Management in Open
Orthopaedics Journal. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3296112/
; diakses tanggal 29 Desember 2015.
5. Moore, Keith L, Dalley, Arthur F., 2006. Upper Limb in Clinically Oriented
Anatomy Edisi V. USA : Lippincott Williams & Wilkins
6. Rasjad, Chairuddin, 2007. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta : PT.
Yarsif Watampone.
7. Rupert,
2007.
Metacarpal
fractures.
http://www.bssh.ac.uk/patients/commonhandconditions/metacarpalfract
ures ; diakses tanggal 30 Desember 2015.

24

Anda mungkin juga menyukai