Anda di halaman 1dari 2

3 karakter perempuan Jawa, masih adakah?

Dari masa tumbuh hingga besar di Jawa, ada tiga karakter yang saya tangkap dari umumnya
perempuan jawa itu.

1. Tangguh, bekerja keras, pantang menyerah


Karakter ini bisa terlhat jelas di pedesaan jawa, sangat banyak (mungkin semua)
perempuan jawa bekerja membantu kehidupan keluarga di sawah, rumah sendiri
atau rumah orang lain. Parameter bekerja aadalah menghasilkan (earning) dan
cukup bisa membagi waktu untuk keluarga. Ketangguhan dan pantang menyerah
terhadap tujuan hidup untuk perempuan jawa modern sekarang mungkin bisa dilihat
dengan banyaknya yang merantau keluar daerah seorang diri untuk bekerja atau
pendidikan.
2. Hemat, tidak matre, mau hidup susah
Relatif mementingkan hal yang lebih besar dan jangka panjang daripada penampilan
sesaat. Tidak berlebihan dalam bersolek sesuai dengan kondisi sosial-ekonominya,
lebih memilih rumah yang cukup daripada memaksakan diri punya mobil, hemat
sekaligus siap segala sesuatu yang menyusahkan, serta mau berjuang hidup
bersama dengan kondisi pas-pasan.
3. Penurut, setia, lembut
Menurut apa kehendak laki-laki (dan memang cenderung inferior atau justru bisa
dilihat sebagai bentuk menghargai laki-laki), tidak menuntut, dan lemah lembut
(konon apalagi untuk perempuan Solo). Ada kurang baiknya juga mungkin, dimana
banyak poligami dilakukan oleh laki-laki jawa (hanya kemungkinan melihat statistik
minimal 50% penduduk Indonesia adalah Jawa). Ingat Ayam Bakar Wong Solo, kata
sebuah sumber penjualannya di sebuah kota di non-jawa) merosot (sekarang
tutup?) karena aksi boikot yang dilakukan oleh ibu-ibu di kota tersebut. Terlepas
dari poligami, disini hanya melihat dari sisi penurutnya.
Tiga hal diatas pun sesuai dengan Ranggawarsita yang terbahas sedikit di sebuah
buku tentang 3 watak perempuan yang menjadi pertimbangan laki-laki, yaitu:
Watak Wedi, menyerah, pasrah, jangan suka mencela, membantah atau menolak
pembicaraan. Lakukan perintah laki-laki dengan sepenuh hati. Untuk pasangan yang
terpisah jarak, seorang teman yang sudah menjadi istri pernah di nasehati untuk
selalu patuh dengan kehendak suami, tentu dalam hal yang tidak bertentangan
norma. Sudah terpisah jarak dan tidak setiap hari bertemu, masa harus disertai
perselisihan yang tidak pokok.
Watak Gemi, tidak boros akan nafkah yang diberikan. Banyak sedikit harus diterima
dengan syukur. Menyimpan rahasia suami, tidak banyak berbicara yang tidak
bermanfaat. Lebih lengkap lagi ada sebuah ungkapan, gemi nastiti ngati-ati. Kurang
lebih artinya sama dengan penjelasan gemi diatas. Siapa laki-laki yang tidak mau
mempunyai pasangan yang gemi?
Watak Gemati, penuh kasih. Menjaga apa yang disenangi suami lengkap dengan
alat-alat kesenangannya seperti menyediakan makanan, minuman, serta segala
tindakan. Mungkin karena hal ini, banyak perempuan jawa relatif bisa memasak.

Betul semua bisa beli dan cepat atau pembantu, apalagi untuk perempuan kerja
zaman sekarang, tapi tetap masakan sendiri yang tidak tiap hari adalah sebuah
bentuk kasih sayang seorang perempuan di rumah untuk suami (keluarga).
Tiga karakter yang baik dan sebenarnya tidak hanya bagus untuk dilekatkan dengan
perempuan Jawa. Karena setiap laki-laki rasa-rasanya akan menyenangi karakterkarakter diatas.
Dan di era ini, bukan asal (suku) yang jadi masalah tapi karakter tersebut. Karena
pun harus diakui tidak semua perempuan jawa mempunyai semua karakter diatas.
Berkaitan dengan hal itu, saya sempat menemukan sebuah syair bagus yang dibuat
oleh seorang perempuan jawa zaman ini untuk merepresentasikan kondisi tersebut
(namun maaf, saya lupa dari mana sumber penulisnya). Jadi sekarang, semua
kembali pada kita.
wanita Jawa itu,
ngerti tata-krama..
unggah-ungguh,
lemah lembut,
pemalu,
pantang menyerah,
pembaharu,
dan
setia
tapi aku juga seorang wanita jawa