Anda di halaman 1dari 122

SKRIPSI

PENGARUH KINERJA BANK TERHADAP PROFITABILITAS


BANK UMUM SWASTA NASIONAL DEVISA
DI BURSA EFEK INDONESIA

OLEH :
JHOHANNES R.W. SIMORANGKIR
070502091

PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN


DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2012

ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh kinerja
bank yang diukur dengan CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net terhadap profitabilitas
yang diukur dengan ROA pada bank umum swasta nasional (BUSN) devisa di
Bursa Efek Indonesia.
Data yang digunakan adalah laporan keuangan tahunan BUSN devisa di
BEI yang telah diaudit dari tahun 20072010. Metode analisis data yang
digunakan adalah metode analisis deskriptif dan metode analisis statistik.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-F dan uji-t dengan tingkat
signifikan ( ) 5%. Untuk mengolah dan menganalisis data, peneliti
menggunakan bantuan program statistik, software SPSS for windows.
Hasil uji-F menunjukkan bahwa kinerja bank yang diukur dengan CAR,
BOPO, LDR, dan NPL Net secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
profitabilitas yang diukur dengan ROA pada BUSN devisa di BEI dan hasil uji-t
menunjukkan bahwa CAR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap
ROA, BOPO berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA, LDR
berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ROA, dan NPL Net
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Nilai Adjusted R Square dalam
penelitian ini sebesar 0.848, hal ini berarti 84.8% variasi ROA dapat dijelaskan
oleh variasi dari empat variabel independen, yaitu CAR, BOPO, LDR, dan NPL
Net, sedangkan sisanya 15.2% dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti
dalam penelitian ini.
Kata Kunci: Kinerja Bank, CAR, BOPO, LDR, NPL Net, Profitabilitas, ROA

ABSTRACT
The objective of this research is to analyze the influence of banks
performance as measured by CAR, BOPO, LDR, and NPL Net to profitability as
measured by ROA at foreign exchange banks (BUSN devisa) in Indonesia Stock
Exhange (BEI).
The data used are annual financial reports of foreign exchange banks in
Indonesia Stock Exchange that have been audited from 20072010. Data
analysis method used is descriptive analysis method and statistic analysis method.
Hypothesis testing is done using an F-test and t-test with significant level ( ) 5%.
To process and to analyze data, researcher used a statistical assistance program,
software SPSS for windows.
F-test results show that banks performance as measured by CAR, BOPO,
LDR, and NPL Net simultaneously have a significant influence to profitability as
measured by ROA at foreign exchange banks in Indonesia Stock Exhange and
t-test results indicate that CAR has positive influence and its not significant to
ROA, BOPO has negative influence and its significant to ROA, LDR has
negative influence and its not significant to ROA, and NPL Net has negative
influence and its significant to ROA. Adjusted R Square value in this research of
0.848, this means that 84.8% ROA variation can be explained by the variation of
the four independent variables, namely CAR, BOPO, LDR, and NPL Net, while
the remaining 15.2% is explained by other factors is not examined in this study.
Keywords: Banks Perfomance, CAR, BOPO, LDR, NPL Net, Profitability, ROA

KATA PENGANTAR
Terpujilah Tuhan Yesus Kristus atas kasih setiaNya, mujizat, hikmat dan
pengetahuan yang dianugerahkanNya. Dalam suka dan duka, tanganNya
senantiasa menyertai dan membimbing penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan karya ilmiah dalam bentuk skripsi ini. Skripsi ini berjudul
Pengaruh Kinerja Bank terhadap Profitabilitas Bank Umum Swasta Nasional
Devisa di Bursa Efek Indonesia. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua Orang Tua penulis yang
terkasih, Ayah Gr. St. J. Simorangkir dan Mama M. Simanjuntak, S.Pd., atas doa,
didikan, bantuan moral dan moril serta kasih sayang yang telah diberikan kepada
penulis hingga saat ini. Demikian juga buat Kakak dan Adik yang terkasih, Kak
Elizabeth, Kak Agnes, Bintara, dan Maria yang telah mendoakan penulis.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini belumlah sempurna. Oleh karena itu,
diharapkan saran ataupun masukan yang bersifat membangun dari semua pihak.
Penulis memperoleh bimbingan dari berbagai pihak selama masa perkuliahan
hingga saat penulisan skripsi ini. Maka, pada kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih kepada:
1.

Bapak Drs. Jhon Tafbu Ritonga, M.Ec., selaku Dekan Fakultas Ekonomi,
Universitas Sumatera Utara.

2.

Ibu Dr. Isfenti Sadalia, S.E., M.E., selaku Ketua Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara.

3.

Ibu Dra. Marhayanie, M.Si., selaku Sekretaris Departemen Manajemen


Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara.

4.

Ibu Dr. Endang Sulistya Rini, S.E., M.Si., selaku Ketua Program Studi
Strata-1 Manajemen Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara.

5.

Ibu Dr. Arlina Nurbaity, S.E., M.B.A., selaku Dosen Wali yang telah
membimbing dan menasihati penulis.

6.

Bapak Dr. Muslich Lutfi, S.E., M.B.A., selaku Dosen Pembimbing yang
telah membimbing penulis, memberi arahan dan saran yang bersifat
membangun demi terciptanya hasil skripsi yang bai.

7.

Ibu Dra. Lisa Marlina, M.Si., selaku Dosen Penguji I dan Bapak Drs.
Syahyunan, M.Si., selaku Dosen Penguji II yang telah memberi masukan
ataupun saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan skripsi ini.

8.

Seluruh Dosen, Staf Pegawai Fakultas Ekonomi, Keluarga Besarku, dan


rekan-rekan mahasiswa/i yang telah memberikan jasanya kepada penulis.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada

umumnya dan para mahasiswa/i ekonomi pada khususnya. Peace, Love, and Pray;
God bless us everyone.
Medan,

Maret 2012
Penulis

Jhohannes R.W. Simorangkir

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK .................................................................................................
i
ABSTRACT ................................................................................................
ii
KATA PENGANTAR ...............................................................................
iii
DAFTAR ISI ..............................................................................................
v
DAFTAR TABEL .....................................................................................
vii
DAFTAR GAMBAR .................................................................................
viii
BAB I

PENDAHULUAN ...................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................
1.2 Perumusan Masalah ........................................................
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................
1.4 Manfaat Penelitian ..........................................................

1
1
8
8
8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA .........................................................


2.1 Uraian Teoritis ................................................................
2.1.1 Bank ....................................................................
2.1.2 Peranan Bank ......................................................
2.1.3 Jenis-Jenis Bank ..................................................
2.1.4 Laporan Keuangan Bank .....................................
2.1.5 Rasio Keuangan Bank .........................................
2.1.5.1 Return on Assets (ROA) .......................
2.1.5.2 Capital Adequacy Ratio (CAR) ............
2.1.5.3 Biaya Operasional terhadap Pendapatan
Operasional (BOPO) .............................
2.1.5.4 Loan to Deposit Ratio (LDR) ...............
2.1.5.5 Non Performing Loan (NPL) ................
2.1.6 Kinerja Perbankan ...............................................
2.2 Penelitian Terdahulu .......................................................
2.3 Kerangka Konseptual ......................................................
2.4 Hipotesis .........................................................................

9
9
9
10
12
13
17
18
19

METODE PENELITIAN ......................................................


3.1 Jenis Penelitian ...............................................................
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian .........................................
3.3 Batasan Operasional .......................................................
3.4 Definisi Operasional .......................................................
3.5 Populasi dan Sampel .......................................................
3.6 Jenis dan Sumber Data ....................................................
3.7 Metode Pengumpulan Data .............................................

40
40
40
40
41
44
46
46

BAB III

25
27
29
32
33
37
39

3.8

BAB IV

Metode Analisis Data .....................................................


3.8.1 Metode Analisis Deskriptif .................................
3.8.2 Pengujian Asumsi Klasik ....................................
3.8.3 Metode Analisis Linear Berganda ......................
3.8.3.1 Uji Koefisien Determinasi (R2 ) atau
Goodness of Fit .....................................
3.8.3.2 Pengujian Hipotesis ..............................

48
48
48
51
51
52

HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................


4.1 Tonggak Perkembangan Bursa Efek Indonesia ..............
4.2 Profil Perusahaan ............................................................
4.3 Hasil Penelitian ...............................................................
4.3.1 Analisis Deskriptif ..............................................
4.3.2 Analisis Statistik .................................................
4.3.2.1 Pengujian Asumsi Klasik ......................
4.3.2.2 Analisis Regresi Linear Berganda ........
4.3.2.3 Uji Koefisien Determinasi atau Goodness
of Fit ......................................................
4.3.2.4 Pengujian Hipotesis ..............................

54
54
57
61
61
71
71
77

KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................


5.1 Kesimpulan .....................................................................
5.2 Saran ...............................................................................

88
88
89

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

91

BAB V

LAMPIRAN

79
80

DAFTAR TABEL
No. Tabel
1.1

Judul

Halaman

Rasio-rasio Kinerja Bank dan Profitabilitas pada BUSN


devisa di BEI Tahun 2010 ................................................

3.1

Jumlah Sampel Berdasarkan Kriteria Penarikan Sampel .

45

3.2

Sampel Penelitian .............................................................

46

4.1

Profil Perusahaan Sampel .................................................

57

4.2

Capital Adequacy Ratio (CAR) BUSN devisa di BEI


Tahun 20072010 ...........................................................

4.3

Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional


(BOPO) BUSN devisa di BEI Tahun 20072010 ..........

4.4

65

Non Performing Loan Netto (NPL Net) BUSN devisa


di BEI Tahun 20072010..................................................

4.6

63

Loan to Deposit Ratio (LDR) BUSN devisa di BEI


Tahun 20072010 ...........................................................

4.5

61

67

Return on Assets (ROA) BUSN devisa di BEI Tahun


20072010 ......................................................................

69

4.7

Uji Kolmogorov-Smirnov .................................................

72

4.8

Uji Glejser .........................................................................

74

4.9

Uji Multikolinearitas .........................................................

75

4.10

Uji Breusch-Godfrey ........................................................

76

4.11

Uji Durbin-Watson ...........................................................

77

4.12

Regresi Linear Berganda ..................................................

78

4.13

Uji Kelayakan Model (Godness of Fit) ............................

79

4.14

Uji-F ..................................................................................

81

4.15

Uji-t ...................................................................................

82

DAFTAR GAMBAR
No. Gambar

Judul

Halaman

2.1

Kerangka Konseptual ...............................................

39

4.1

Histogram .................................................................

71

4.2

Normal P-Plot ...........................................................

72

4.3

Scatterplot ................................................................

73

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perbankan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup
kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan
usahanya. Perbankan memiliki kedudukan yang strategis, yakni sebagai
penunjang kelancaran sistem pembayaran, pelaksanaan kebijakan moneter dan
pencapaian stabilitas sistem keuangan sehingga diperlukan perbankan yang sehat
transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Saat ini perbankan Indonesia menghadapi perkembangan perekonomian
nasional yang senantiasa bergerak cepat, kompetitif, dan terintegrasi dengan
tantangan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, bank harus dapat
menunjukkan kinerja yang optimal serta menciptakan daya saing yang tinggi,
diantaranya dengan menjaga tingkat profitabilitasnya yang tinggi serta
meningkatkan kemampuannya dalam menghasilkan laba, sehingga bank sebagai
lembaga

perantara

yang

dipercaya

untuk

mengumpulkan

dana

dan

menyalurkannya kembali ke masyarakat, mampu bertahan dan terus berkembang.


Tingkat profitabilitas yang tinggi dapat menjadi salah satu indikator naiknya
kepercayaan masyarakat kepada bank yang bersangkutan.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada tahun 1997 merupakan
penyebab utama terjadinya krisis perbankan. Pada bulan November 1997,
pemerintah melikuidasi sebanyak 16 bank swasta nasional. Tindakan ini mendapat
tanggapan negatif dari masyarakat dengan mengambil dananya di bank tertentu

yang diisukan akan dilikuidasi. Kepercayaan masyarakat terhadap industri


perbankan Indonesia pun menjadi turun. Akibatnya, terjadi penarikan dana dalam
waktu yang bersamaan (rush) secara besar-besaran, terutama pada Bank Danamon
dan BCA yang berakibat bank tersebut diambil alih oleh pemerintah.
Hadad et al (2003), melakukan penelitan mengenai indikator awal krisis
perbankan dan menyatakan bahwa penarikan dana masyarakat secara besarbesaran dalam waktu yang bersamaan (singkat) memberikan dampak negatif pada
aspek likuiditas (LDR) bank. Hal ini apabila tidak segera ditangani akan
menimbulkan permasalahan lanjutan berupa permasalahan solvabilitas (CAR)
karena bank akan terpaksa memberikan insentif bunga simpanan yang sangat
tinggi untuk mempertahankan simpanan masyarakat dan seringkali insentif jauh
berada diatas kemampuan bank. Dengan pendapatan yang relatif terbatas, struktur
biaya bunga yang tinggi akan mengurangi profitabilitas (ROA) bank bahkan
mengakibatkan kerugian yang luar biasa.
Pada masa menjelang krisis perbankan, banyak bank swasta nasional yang
terlalu bebas atau kurang berhati-hati dalam memberikan dana kredit kepada
sektor-sektor swasta. Kondisi yang demikian menyebabkan besarnya kredit
bermasalah (NPL) dan tingginya angka kredit macet yang diderita oleh bank.
Salah satu implikasi bagi bank sebagai akibat dari timbulnya kredit bermasalah
tersebut adalah hilangnya kesempatan untuk memperoleh income (pendapatan)
dari kredit yang diberikannya, sehingga mengurangi perolehan laba dan
berpengaruh buruk bagi profitabilitas (ROA) bank (Dendawijaya, 2005).

Kinerja/performance adalah prestasi yang diperlihatkan ataupun dicapai


oleh perusahaan dalam periode tertentu yang mencerminkan kondisi kesehatan
suatu perusahaan. Salah satu bentuk informasi akuntansi yang penting yaitu
berupa rasio-rasio keuangan suatu perusahaan untuk suatu periode tertentu.
Dengan rasio-rasio keuangan tersebut akan tampak dengan jelas berbagai
indikator keuangan yang dapat mengungkapkan posisi, kondisi keuangan suatu
perusahaan (bank) maupun performance yang telah dicapai oleh perusahaan
(bank) bersangkutan untuk suatu periode tertentu. Dari berbagai indikator
keuangan tersebut, pihak manajemen bank akan dapat segera mengambil
kebijaksanaan yang penting untuk memperbaiki posisi kondisi maupun
performance dari bank yang dikelolanya (Muljono, 2002).
Ukuran profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan
pada industri perbankan adalah Return on Assets (ROA). Return on Assets (ROA)
penting bagi bank karena rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan dan
efektivitas bank didalam memperoleh atau menghasilkan keuntungan dalam
kegiatan operasi dengan memanfaatkan aktiva/aset yang dimilikinya. Return on
Assets (ROA) yang semakin besar menunjukkan kinerja keuangan yang semakin
baik, karena tingkat pengembalian (return) semakin besar (Siamat, 2005). Apabila
Return on Assets (ROA) meningkat, berarti profitabilitas bank meningkat.
Kinerja bank dapat dinilai dari beberapa rasio keuangan bank, diantaranya
adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), Biaya Operasional terhadap Pendapatan
Operasional (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Non Performing Loan

(NPL). Rasio-rasio tersebut juga mempengaruhi tinggi rendahnya profitablitas


(ROA) bank (Siamat, 2005).
Dalam rangka memperkuat pondasi keuangan perbankan dimasa
mendatang, Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan Bank Indonesia nomor:
7/15/PBI/2005 yang dikeluarkan pada tanggal 1 Juli 2005. Melalui peraturan
tersebut, BI menginstruksikan kepada bank untuk memenuhi modal minimum
sebesar 80 milyar rupiah pada tahun 2007 dan 100 milyar rupiah pada akhir tahun
2010 untuk menjaga tingkat kesehatan perbankan. Terkait dengan terbitnya
peraturan tersebut, salah satu upaya yang dilakukan pihak bank untuk mendukung
kenaikan modal bank adalah meningkatkan efisiensi kinerja perbankan dalam
memperoleh laba lewat penyaluran kredit yang pengembaliannya diharapkan
lancar.
Jumlah modal yang dimiliki bank mempengaruhi kemampuan bank dalam
memperoleh keuntungan. Rasio yang umum digunakan untuk menilai kecukupan
modal bank adalah Capital Adequacy Ratio (CAR) (Siamat, 2005:290). Semakin
tinggi rasio ini, maka semakin kuat kemampuan bank untuk menanggung
kerugian dari setiap kredit yang berisiko. Dengan meningkatnya rasio ini, maka
akan berpengaruh pada meningkatnya laba suatu bank, karena kerugian-kerugian
yang ditanggung bank dapat diserap oleh modal yang dimiliki oleh bank tersebut.
Laba merupakan komponen pembentuk rasio Return on Assets (ROA), jadi
semakin besar CAR akan berpengaruh kepada semakin besarnya Return on Assets
(ROA) bank tersebut (Muljono, 2002).

Tingginya persaingan bisnis perlu disikapi dengan meningkatkan efisiensi.


Upaya peningkatan efisiensi dilakukan dalam lingkup yang luas, diantaranya
melalui pengelolaan biaya secara efisien untuk menghasilkan peningkatan biaya
operasional yang minimal dan pengembangan sumber daya manusia. Menurut
Riyadi (2004), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan
kemampuan bank dalam kegiatan operasinya. Semakin rendah rasio BOPO berarti
semakin baik kinerja manajemen bank tersebut, karena lebih efisien dalam
menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Jika rasio BOPO semakin
meningkat berarti biaya operasi semakin besar, sehingga pada akhirnya Return on
Assets (ROA) bank menurun.
LDR menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan
yang dilakukan oleh nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang
diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini, semakin rendah
kemampuan likuiditas bank (Simorangkir, 2004:147). Besarnya jumlah kredit
yang disalurkan akan menentukan laba bank. Peningkatan LDR berarti dana yang
disalurkan dalam bentuk kredit semakin besar sehingga pendapatan bunga
bertambah dan laba bank akan meningkat. Peningkatan laba tersebut
mengakibatkan ROA semakin tinggi. Jika bank tidak mampu menyalurkan kredit
sementara dana yang terhimpun banyak maka akan menyebabkan bank tersebut
mengalami kerugian (Kasmir, 2007).
Rasio NPL digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank
dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Risiko kredit yang

diterima oleh bank merupakan salah satu risiko usaha bank, yang diakibatkan dari
ketidakpastian dalam pengembaliannya atau yang diakibatkan dari tidak
dilunasinya kembali kredit yang diberikan oleh pihak bank kepada debitur.
Semakin tinggi rasio ini, maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang
menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar dan menyebabkan
kerugian, sebaliknya jika semakin rendah NPL maka laba atau profitabilitas
(ROA) bank tersebut akan semakin meningkat (Hasibuan, 2007).
Berikut adalah tabel kinerja bank yang diukur dengan CAR, BOPO, LDR,
NPL Net dan profitabilitas bank yang diukur dengan ROA pada bank umum
swasta nasional (BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2010.
Tabel 1.1
Rasio-rasio Kinerja Bank dan Profitabilitas pada BUSN Devisa di BEI
Tahun 2010
No.

Emiten

1.

AGRO

Rasio-rasio Kinerja Bank (%)


(X)
CAR
BOPO
LDR
NPL Net
(X1 )
(X2 )
(X3 )
(X4 )
14.42
83.28
86.68
1.84

2.

BBCA

13.50

61.73

55.46

0.24

2.61

3.

BBKP

12.06

82.15

72.92

2.52

1.04

4.

BBNP

12.94

86.05

80.49

0.63

0.90

5.

BKSW

10.66

91.83

71.65

1.91

0.05

6.

BNBA

25.01

83.21

54.18

1.83

1.01

7.

BNII

12.65

90.97

83.77

1.78

0.61

8.

BSWD

26.86

67.10

87.38

2.62

2.23

9.

MAYA

22.61

90.09

78.38

2.01

0.76

10.

MEGA

15.03

77.58

56.77

0.74

1.84

11.

NISP

16.68

78.85

77.96

0.82

0.72

67.81

76.04

2.60

1.15

12.
PNBN
16.58
Sumber: www.idx.co.id (diolah)

Profitabilitas (%)
(Y)
ROA
0.46

Pada Tabel 1.1 dapat dilihat bahwa emiten BSWD memiliki nilai CAR
yang tertinggi, yaitu 26.86% dan memiliki nilai ROA sebesar 2.23%. Sementara
itu, emiten BBCA yang memiliki nilai CAR lebih rendah dari emiten BSWD,
yaitu sebesar 13.50% justru memiliki nilai ROA yang lebih tinggi, yaitu sebesar
2.61%. Hal ini bertentangan dengan teori yang ada yang menyatakan bahwa
semakin besar nilai CAR akan berpengaruh kepada semakin besarnya ROA.
Demikian juga dengan teori yang menyatakan bahwa LDR berbanding lurus
dengan ROA bank, tidak selalu benar. Emiten BSWD memiliki nilai LDR yang
tertinggi, yaitu sebesar 87.38%. Emiten BBCA yang memiliki nilai LDR hanya
sebesar 55.46%, justru memiliki nilai ROA yang lebih tinggi dari emiten BSWD,
yaitu sebesar 2.61%. Demikian juga dengan teori yang menyatakan bahwa rasio
NPL berbanding terbalik dengan rasio ROA. Emiten BSWD yang memiliki nilai
NPL Net (2.62%) lebih tinggi dari nilai NPL Net emiten MAYA (2.01%), justru
memiliki nilai ROA yang juga lebih tinggi dari emiten MAYA. Hal ini
bertentangan dengan teori yang ada. Fenomena ini menarik untuk diteliti lebih
lanjut.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Kinerja
Bank terhadap Profitabilitas Bank Umum Swasta Nasional Devisa di Bursa
Efek Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Bagaimana pengaruh CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net terhadap Profitabilitas
(ROA) bank umum swasta nasional (BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis pengaruh CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net terhadap Profitabilitas
(ROA) bank umum swasta nasional (BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Bagi Perusahaan (Emiten)
Sebagai bahan pertimbangan dan informasi kepada pihak manajemen
ataupun pengambil kebijakan dari perusahaan (bank umum swasta
nasional devisa) dalam menetapkan kebijakan selanjutnya dalam rangka
meningkatkan kinerja keuangan, khususnya profitabilitas bank.
2. Bagi Peneliti
Penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan
peneliti dalam bidang manajemen keuangan bank.
3. Bagi Akademisi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan dapat
menjadi acuan, perbandingan, dan referensi untuk penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Teoritis
2.1.1 Bank
Istilah bank berasal dari bahasa Italia, yaitu banco yang artinya meja atau
tempat untuk menukarkan uang. Pengertian bank menurut Undang-Undang RI
No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992
tentang Perbankan, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat
dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan
taraf hidup rakyat banyak.
Berdasarkan definisi bank tersebut, dapat disimpulkan bahwa kegiatan
utama bank ada dua, yaitu menghimpun/funding dana dan menyalurkan/lending
dana. Kegiatan menghimpun dana maksudnya adalah mengumpulkan atau
mencari dana (uang) dari masyarakat luas dalam bentuk simpanan. Simpanan
dalam pengertian Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 adalah dana yang
dipercayakan masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan
dana dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu. Strategi bank dalam menghimpun dana
adalah dengan memberikan rangsangan berupa balas jasa yang menarik dan
menguntungkan berupa bunga, cendera mata, hadiah, pelayanan, atau balas jasa
lainnya.

Uang yang disimpan di bank memiliki jangka waktu tertentu sampai


diminta kembali oleh pemiliknya. Oleh karena itu, bank dapat memanfaatkan
uang tersebut dengan jalan menyalurkannya kembali kepada pihak lain yang
memerlukannya dalam bentuk pinjaman (kredit). Dalam pemberian kredit,
disamping dikenakan bunga, bank juga mengenakan jasa pinjaman kepada
penerima kredit (debitur) dalam bentuk biaya administrasi serta biaya provisi
dan komisi. Kredit berasal dari bahasa Latin, yaitu credere yang artinya
kepercayaan. Bank meminjamkan uang kepada pihak lain karena bank percaya
uangnya akan dikembalikan.
Selain itu, bank juga memberikan jasa-jasa atau pelayanan bank lainnya
(services) terutama untuk mendukung kelancaran kegiatan menghimpun dan
menyalurkan dana, antara lain: jasa setoran seperti telepon, listrik, air, ataupun
uang kuliah, jasa pengiriman uang (transfer) baik secara manual ataupun secara
online, jasa penjualan mata uang asing (valas), jasa penagihan (inkaso), jasa
kliring (clearing), jasa letter of credit (L/C), jasa penyimpanan dokumen,
barang, dan surat berharga (safe deposit box), jasa penukaran uang (money
changer), serta memberikan jasa/pelayanan dalam penarikan tunai atau
pembayaran transaksi dengan menggunakan transaksi kartu ATM (automated
teller machine), kartu debit (debit card), dan kartu kredit (credit card).
2.1.2 Peranan Bank
Bank telah menempati posisi sentral dalam perekonomian modern. Dengan
demikian, hampir seluruh keperluan setiap orang dan segenap lapisan
masyarakat dalam kegiatan perekonomian terkait dengan perbankan. Posisinya

yang strategis dalam bidang ekonomi itu terutama berakar dari dua peranan
pokoknya, yaitu sebagai berikut.
a. Sebagai lembaga intermediasi, kegiatan bank adalah menghimpun danadana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat.
Peranannya ini telah mengubah penggunaan dana-dana masyarakat
tersebut menjadi lebih produktif. Hal itu dimungkinkan karena dana-dana
berlebih yang dimiliki sebagian masyarakat yang dihimpun oleh
perbankan itu diinvestasikan kembali dalam kegiatan produktif. Kegiatan
produktif itu dapat berupa pembangunan industri, perdagangan serta
investasi pada prasarana ekonomi.
b. Peranan bank sebagai lembaga penyelenggara dan penyedia layanan jasajasa di bidang keuangan serta lalu lintas pembayaran maupun pemberian
jasa-jasa keuangan lainnya. Peranannya ini telah berkembang menjadi
wahana yang mendukung, mendorong, dan mengakomodasi tumbuh
kembangnya kegiatan investasi, produksi, serta konsumsi barang dan jasa
bagi masyarakat.
Dengan peranannya yang strategis dan dominan itu, bank telah menjadi
lembaga yang turut memengaruhi perkembangan perekonomian suatu negara.
Prestasi maupun kinerja yang buruk dari perbankan akan dengan sendirinya turut
memberi andil bagi kinerja, maupun pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Tumbuh kembang dan sehatnya perekonomian suatu negara sebagian besar
tergantung pada kesehatan perbankan di negara tersebut (Ali, 2006:355).

Seperti layaknya kerja jantung dalam sistem tubuh kita yang mengatur
seluruh aliran darah dalam jumlah dan kualitas yang memadai, demikian juga
perbankan nasional berfungsi memelihara dan menjaga peredaran uang agar
memadai dalam mendanai berbagai kebutuhan perekonomian bangsa. Perbankan
sebagai industri keuangan, harus menjalankan bisnisnya berdasarkan prinsipprinsip kehatian (prudential banking) yang ekstra ketat di bawah pengawasan
langsung Bank Indonesia sebagai bank sentral. Perbankan harus dapat
memelihara kepercayaan masyarakat dengan pelayanan yang baik, ramah, cepat,
aman, cermat, dan tidak diskriminatif. Jika masyarakat tidak percaya, maka
runtuhlah bisnis perbankan. Masyarakat tidak akan segan-segan menarik
dananya dari bank walaupun mendengar kabar angin yang belum tentu benar
(Judisseno, 2005).
2.1.3 Jenis-Jenis Bank
Jenis atau bentuk bank (beserta jumlahnya hingga Desember 2011) di
Indonesia dapat dikelompokkan/dibedakan berdasarkan hal-hal sebagai berikut.
1. Jenis bank berdasarkan fungsinya, yaitu:
a.

Bank sentral, yaitu Bank Indonesia;

b.

Bank umum, berjumlah 120 perusahaan (bank);

c.

Bank perkreditan rakyat (BPR), berjumlah 1.669 perusahaan


(bank).

2. Jenis bank berdasarkan kepemilikannya, yaitu:


a.

Bank milik pemerintah (bank persero), berjumlah 4 perusahaan


(bank);

b.

Bank milik pemerintah daerah (BPD), berjumlah 26 perusahaan


(bank);

c.

Bank milik swasta nasional, berjumlah 66 perusahaan (bank);

d.

Bank milik swasta campuran, berjumlah 14 perusahaan (bank);

e.

Bank milik asing, berjumlah 10 perusahaan (bank).

3. Jenis bank berdasarkan ruang lingkup kegiatan operasinya/statusnya,


yaitu:
a.

Bank devisa, berjumlah 36 perusahaan (bank);

b.

Bank non devisa, berjumlah 30 perusahaan (bank).

4. Jenis bank berdasarkan pembayaran bunga atau pembagian hasil usaha,


yaitu:
a.

Bank konvensional, berjumlah 120 perusahaan (bank);

b.

Bank yang berdasarkan prinsip syariah (bank umum syariah),


jumlahnya ada 11 perusahaan (bank).

2.1.4 Laporan keuangan Bank


Setiap perusahaan, baik bank maupun nonbank pada periode tertentu akan
melaporkan semua kegiatan keuangannya dalam bentuk laporan keuangan.
Laporan keuangan ini bertujuan untuk memberikan informasi keuangan
perusahaan, baik kepada pemilik, manajemen, maupun pihak luar (masyarakat)
yang berkepentingan terhadap laporan tersebut. Laporan keuangan bank
menunjukkan kondisi keuangan bank secara keseluruhan yang menunjukkan
bagaimana kondisi bank yang sesungguhnya, termasuk kelemahan dan kekuatan
yang dimiliki dan kinerja manajemen bank selama satu periode sehingga pihak

manajemen dapat memperbaiki kelemahan yang ada serta mempertahankan


kekuatan yang dimiliki.
Untuk dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai sifat dan
perkembangan bank dari waktu ke waktu maka laporan keuangan disajikan
secara komparatif untuk 2 (dua) tahun terakhir. Laporan keuangan bank terdiri
atas: neraca, laporan komitmen dan kontinjensi, laporan laba rugi, laporan arus
kas, catatan atas laporan keuangan, dan laporan keuangan gabungan dan
konsolidasi.
a. Neraca
Neraca merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan bank
pada tanggal tertentu. Posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi aktiva
(harta), pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu bank. Dalam penyajiannya,
aktiva dan kewajiban dalam neraca bank tidak dikelompokkan menurut
lancar atau tidak lancar, namun sedapat mungkin tetap disusun menurut
tingkat likuiditas dan jatuh tempo. Setiap aktiva produktif disajikan di
neraca sebesar jumlah bruto dari tagihan atau penempatan bank dikurangi
dengan penyisihan penghapusan yang dibentuk untuk menutupi
kemungkinan kerugian yang timbul dari masing-masing aktiva produktif
yang bersangkutan.
b. Laporan Komitmen dan Kontijensi
Laporan ini wajib disajikan secara sistematis sehingga dapat memberikan
gambaran mengenai proses komitmen dan kontijensi, baik yang bersifat
tagihan maupun kewajiban pada tanggal laporan. Komitmen adalah suatu

ikatan atau kontrak berupa janji yang tidak dapat dibatalkan secara
sepihak dan harus dilaksanakan apabila persyaratan yang disepakati
bersama dipenuhi. Kontijensi adalah tagihan atau kewajiban bank yang
kemungkinan timbulnya tergantung pada terjadi atau tidak terjadinya
satu atau lebih peristiwa di masa yang akan datang.
c. Laporan Laba Rugi
Merupakan laporan keuangan bank yang menggambarkan hasil usaha
bank dalam suatu periode tertentu. Perhitungan laba rugi bank wajib
disusun sedemikian rupa agar dapat memberi gambaran mengenai hasil
usaha bank dalam suatu periode tertentu. Laporan laba rugi bank pada
umumnya disusun dalam bentuk berjenjang (multiple step) yang
menggambarkan pendapatan atau beban yang berasal dari kegiatan utama
bank dan kegiatan lainnya. Cara penyajian laporan laba rugi bank antara
lain: wajib memuat secara rinci unsur pendapatan dan beban, unsur
pendapatan dan beban harus dibedakan antara pendapatan beban yang
berasal dari kegiatan operasional dan nonoperasional.
d. Laporan Arus Kas
Merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan
dengan kegiatan bank yang disusun berdasarkan kas selama periode
laporan dan harus menunjukkan semua aspek penting dari kegiatan bank
tanpa memandang apakah transaksi tersebut berpengaruh langsung pada
kas.

e. Catatan Atas Laporan Keuangan


Merupakan laporan yang berisi catatan tersendiri mengenai posisi devisa
neto, menurut jenis mata uang dan aktivitas lainnya. Bank wajib
mengungkapkan dalam catatan tersendiri mengenai posisi devisa neto
menurut jenis mata uang serta aktivitas-aktivitas lain seperti kegiatan
wali amanat, penitipan harta dan penyaluran kredit pengelolaan.
f. Laporan Keuangan Gabungan dan Konsolidasi
Laporan gabungan merupakan laporan dari seluruh cabang-cabang bank
yang bersangkutan baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri.
Sedangkan

laporan

konsolidasi

merupakan

laporan

bank

yang

bersangkutan dengan anak perusahaannya.


Menurut Kasmir (2007:240), secara umum tujuan pembuatan laporan
keuangan suatu bank sebagai berikut:
1. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah aktiva dan jenis-jenis
aktiva yang dimiliki.
2. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah kewajiban dan jenisjenis kewajiban baik jangka pendek (lancar) maupun jangka panjang.
3. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah modal dan jenis-jenis
modal pada bank tertentu.
4. Memberikan informasi tentang hasil usaha yang tercermin dari jumlah
pendapatan yang diperoleh dan sumber-sumber pendapatan bank
tersebut.

5. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah biaya-biaya yang


dikeluarkan berikut jenis-jenis biaya yang dikeluarkan dalam periode
tertentu.
6. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dalam
aktiva, kewajiban, dan modal.
7. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode
dari hasil laporan keuangan yang disajikan.
2.1.5 Rasio Keuangan Bank
Rasio keuangan bank adalah hasil perhitungan antara dua macam data
keuangan bank yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara kedua data
keuangan tersebut yang pada umumnya dinyatakan secara numerik, baik dalam
persentase atau kali. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk
mengukur kinerja keuangan bank pada periode tertentu, dan dapat dijadikan
tolak ukur untuk menilai tingkat kesehatan bank selama periode keuangan
tersebut (Riyadi, 2004:137).
Sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian perusahaan adalah
laporan keuangan yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan
tersebut, dapat dihitung sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar
penilaian kinerja perusahaan. Analisis rasio keuangan perusahaan merupakan
salah satu alat untuk memperkirakan atau mengetahui kinerja perusahaan.
Apabila kinerja perusahaan meningkat, maka nilai perusahaan akan semakin
tinggi. Selain itu, dengan analisis rasio keuangan akan dapat diketahui jika suatu
perusahaan melakukan penyimpangan (Hariyani, 2010).

Rasio keuangan menjadi salah satu alat yang digunakan oleh para
pengambil keputusan baik bagi pihak internal maupun eksternal dalam
menentukan kebijakan berikutnya. Bagi pihak eksternal terutama kreditor dan
investor, rasio keuangan dapat digunakan dalam menentukan apakah suatu
perusahaan wajar untuk diberikan kredit atau untuk dijadikan lahan investasi
yang baik. Bagi pihak manajemen, rasio keuangan dapat dijadikan alat untuk
memprediksi kondisi keuangan perusahaan di masa yang akan datang.
Rasio-rasio keuangan perbankan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Return on Assets (ROA), Capital Adequacy Ratio (CAR), Biaya
Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit Ratio
(LDR), dan Non Performing Loan (NPL).
2.1.5.1 Return on Assets (ROA)
Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan aset yang dilakukan
oleh bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin besar
pula tingkat tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik
pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset. Sumber dana terbesar yang
digunakan bank bagi kelangsungan operasional bank adalah berasal dari
masyarakat. Oleh sebab itu, Bank Indonesia sebagai pembina dan pengawas
perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur
dengan aset yang dananya sebagian besar berasal dari simpanan dana
masyarakat, yakni Return on Assets (ROA), dalam menilai kondisi kesehatan
bank. Sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, ROA bank ditetapkan minimal
1,25% (Mintarti, 2009). ROA merupakan indikator kepercayaan masyarakat

kepada perbankan terhadap pengelolaan aset bank. Selain itu, ROA bank juga
menjadi salah satu ukuran untuk melihat kinerja keuangan perbankan. Semakin
tinggi rasio ini, maka semakin baik produktivitas aset dalam memperoleh
keuntungan. Semakin besar ROA bank, maka akan menunjukkan kinerja
keuangan bank yang semakin baik. Jika pihak bank dapat menjaga kinerjanya
dengan baik, terutama tingkat profitabilitas yang tinggi, maka kemungkinan nilai
saham dari bank yang bersangkutan akan ikut naik. Kenaikan tersebut
merupakan salah satu indikator naiknya kepercayaan masyarakat dan terutama
bagi para investor dalam menempatkan dana yang dimiliki pada bank yang
bersangkutan karena jaminan keamanan atas dana yang diinvestasikan semakin
besar. Profitabilitas bank merupakan hal yang terpenting karena dapat menjamin
kontinuitas berdirinya bank, menjadi tolak ukur tingkat kesehatan bank serta
tolak ukur baik atau buruknya manajemen bank, dapat meningkatkan daya saing
bank bersangkutan, meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada bank, dan
dapat meningkatkan status bank bersangkutan (Hasibuan, 2007).
Menurut Dendawijaya (2005), Return on Assets merupakan perbandingan
antara laba bersih (laba setelah pajak) dengan total aktiva. Dalam rangka
mengukur tingkat kesehatan bank, secara teoretis, laba yang diperhitungkan
adalah laba setelah pajak, sedangkan dalam sistem CAMEL, laba yang
diperhitungkan adalah laba sebelum pajak. Semakin tinggi rasio ini maka
semakin baik produktivitas aset dalam memperoleh keuntungan bersih. Return
on Assets (ROA) dapat diformulasikan sebagai berikut (Dendawijaya, 2005):
ROA =

Laba Bersih
100%
Total Aktiva

2.1.5.2 Capital Adequacy Ratio (CAR)


Rasio ini digunakan untuk mengetahui apakah permodalan bank yang ada
telah mencukupi untuk mendukung kegiatan bank yang dilakukan secara efisien,
apakah permodalan bank tersebut akan mampu menyerap kerugian-kerugian
yang tidak dapat dihindarkan, dan apakah kekayaan bank (kekayaan pemegang
saham) semakin besar atau semakin kecil (Muljono, 2002). Jika posisi modal
bank kuat, para penyimpan (deposan) suatu bank dengan sendirinya tidak merasa
was-was atau bimbang terhadap risiko seandainya simpanannya tidak dapat
dilunasi oleh bank tersebut. Modal besar yang dimiliki bank akan senantiasa
menutupinya, jika terjadi kerugian atau risiko di dalam bank (Simorangkir,
2004:153).
Modal merupakan faktor penting dalam rangka mengembangkan usaha
bank dan menampung risiko kerugian. Penggunaan modal bank dimaksudkan
untuk memenuhi segala kebutuhan guna menunjang kegiatan operasi bank.
Modal sangat diperlukan oleh bank sebagai modal kerja, menjaga kelancaran
likuiditas (penjamin likuiditas), membiayai operasi, alat untuk ekspansi usaha,
dan juga sebagai alat untuk menjaga kepercayaan para nasabah (deposan) bank
atas dana yang telah mereka simpan ataupun investasikan pada bank tersebut.
Unsur kepercayaan ini sangat diperlukan oleh pemilik bank karena menyangkut
kepentingan nilai perusahaan. Dengan demikian, kelangsungan hidup suatu bank
sangat berkaitan erat dengan posisi permodalannya. Besar dan kecilnya modal
yang dimiliki suatu bank berpengaruh terhadap tinggi rendahnya kepercayaan

dan loyalitas para nasabah dan juga berperan dalam menetukan kebijakan
manejemen bank di masa yang akan datang.
Ketentuan modal minimum bank yang berlaku di Indonesia mengikuti
standar Bank for International Settlement (BIS). Berdasarkan Peraturan BI
Nomor: 3/21/PBI/2001 Tahun 2001, Bank Indonesia mewajibkan setiap bank
umum menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aktiva tertimbang menurut
risiko (ATMR). Bank yang tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut akan
ditempatkan dalam pengawasan khusus. Ketetapan CAR sebesar 8% bertujuan
untuk menjaga kepercayaan masyarakat kepada perbankan, melindungi dana
pihak ketiga (dana masyarakat) pada bank bersangkutan, dan untuk memenuhi
ketetapan standar BIS. Bank Indonesia mengatur cara perhitungan ATMR yang
terdiri atas jumlah ATMR yang dihitung berdasarkan nilai masing-masing pos
aktiva pada neraca bank dikalikan dengan bobot risikonya masing-masing dan
ATMR yang dihitung berdasarkan nilai masing-masing pos aktiva pada rekening
administratif bank dikalikan dengan bobot risikonya masing-masing.
Menurut Kuncoro (2011:300), Capital Adequacy adalah kecukupan modal
yang menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang
mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi,
mengukur, mengawasi, dan mengontrol berbagai risiko yang timbul yang dapat
berpengaruh terhadap besarnya modal bank. Jika CAR = 8% atau > 8%, berarti
modal bank tersebut telah memenuhi ketentuan CAR, akan tetapi jika CAR <
8%, berarti modal bank tersebut belum memenuhi ketentuan CAR, jadi
manajemen bank harus menambah modal sebesar kekurangannya. Secara

teoretis, jika nilai CAR suatu bank tinggi, berarti bank tersebut akan mampu
membiayai operasi bank dan keadaan tersebut akan menguntungkan bagi bank
bersangkutan

karena

memberikan

kontribusi

yang

cukup

besar

bagi

profitabilitas.
Rasio KPMM atau CAR dihitung dengan cara membandingkan modal
sendiri dengan ATMR dengan rumus (Siamat, 2005):

CAR =

Total Modal (Modal Inti + Modal Pelengkap)


100%
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

Modal bagi bank yang didirikan dan berkantor pusat di Indonesia, sesuai
Surat Edaran BI No. 23/67/Kep/Dir tanggal 28 Februari 1991 Pasal 3 ayat (1),
terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. Adapun rincian komponen dari
masing-masing modal tersebut adalah sebagai berikut.
Modal Inti disebut juga Core Capital atau Tier 1, terdiri atas modal disetor
dan cadangan-cadangan yang dibentuk dari laba setelah pajak. Secara rinci
modal inti dapat berupa bentuk-bentuk berikut.
1.

Modal disetor, yaitu yaitu modal yang telah disetor secara efektif oleh
pemiliknya.

2.

Agio saham, yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank
sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.

3.

Modal sumbangan, yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan


saham, termasuk selisih antara nilai yang tercatat dan harga jual apabila
saham tersebut dijual.

4.

Cadangan umum, yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba


yang ditahan atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak dan mendapat
persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) atau rapat umum
anggota sesuai dengan ketentuan pendirian atau anggaran dasar masingmasing bank.

5.

Cadangan tujuan, yaitu bagian laba setelah dikurang pajak yang


disisihkan untuk tujuan tertentu dan telah mendapat persetujuan RUPS
atau rapat anggota.

6.

Laba yang ditahan, yaitu saldo laba bersih setelah dikurangi pajak yang
oleh RUPS atau rapat anggota diputuskan untuk tidak dibagikan.

7.

Laba tahun lalu, yaitu seluruh laba bersih tahun-tahun yang lalu setelah
dikurangi pajak dan belum ditetapkan penggunaannya oleh RUPS.
Jumlah laba tahun lalu yang diperhitungkan sebagai modal inti sebesar
50%. Jika bank mempunyai saldo rugi tahun-tahun lalu, seluruh kerugian
tersebut menjadi faktor pengurang dari modal inti.

8.

Laba tahun berjalan, yaitu laba yang diperoleh dalam tahun buku berjalan
setelah dikurangi taksiran utang pajak. Jumlah laba tahun buku berjalan
yang diperhitungkan sebagai modal inti hanya sebesar 50%. Jika bank
mengalami kerugian pada tahun berjalan, seluruh kerugian tersebut
menjadi faktor pengurang dari modal inti.

9.

Bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan keuangannya


dikonsolidasikan, yaitu modal inti perusahaan setelah dikompensasikan
dengan nilai penyertaan bank pada anak perusahaan (bank lain, lembaga

keuangan atau lembaga pembiayaan yang mayoritas sahamnya dimiliki


bank. Total modal nomor (1) hingga (9) di atas harus dikurangi dengan:
1.

Goodwill yang ada dalam pembukuan bank, dan

2.

kekurangan jumlah penyisihan penghapusan aktiva produktif (PPAP)


dari jumlah yang sebenarnya dibentuk sesuai ketentuan BI.

Modal Pelengkap disebut juga Supplementary Capital atau Tier 2, terdiri


dari cadangan-cadangan yang dibentuk tidak dari laba setelah pajak, serta
pinjaman yang sifatnya dapat dipersamakan dengan modal. Secara rinci, modal
pelengkap dapat berupa:
1.

Cadangan revaluasi aktiva tetap, yaitu cadangan yang dibentuk dari


selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapat persetujuan
Direktorat Jenderal Pajak.

2.

Penyisihan penghapusan aktiva produktif, yaitu cadangan yang dibentuk


dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan dengan maksud untuk
menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari tidak
diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif dengan
maksimum sebesar 1,25% dari jumlah ATMR.

3.

Modal pinjaman (sebelumnya disebut modal kuasa), yaitu utang yang


didukung oleh instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal
dan mempunyai ciri-ciri: (1) tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan,
dipersamakan dengan modal dan telah dibayar penuh, (2) tidak dapat
dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik tanpa persertujuan Bank
Indonesia, (3) mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam

hal jumlah kerugian bank melebihi dana yang ditahan dan cadangancadangan yang termasuk modal inti, meskipun bank belum dilikuidasi
dan (4) pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam
keadaan rugi atau labanya tidak mendukung untuk membayar bunga
tersebut.
4.

Pinjaman subordinasi, yaitu pinjaman dari anak perusahaan yang harus


memenuhi syarat-syarat berikut: (1) ada perjanjian tertulis antara bank
dan pemberi pinjaman, (2) mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Bank Indonesia, (3) tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan telah
disetor penuh, minimal berjangka waktu 5 tahun, (4) pelunasan sebelum
jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari BI dan dengan pelunasan
tersebut, permodalan bank tetap sehat, (5) hak tagihnya dalam hal terjadi
likuidasi berlaku paling akhir dari segala pinjaman yang ada. Jumlah
pinjaman subordinasi yang dapat dijadikan komponen modal pelengkap
adalah maksimum sebesar 50% dari modal inti.

2.1.5.3 Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)


BOPO adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan
kemampuan bank dalam kegiatan operasinya. Rasio ini menunjukkan
perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dan
sering digunakan Bank Indonesia sebagai proksi efisiensi operasional. Secara
konseptual, BOPO sangat besar kontribusinya terhadap kemampuan perusahaan
perbankan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba. Semakin rendah
rasio BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut, karena lebih

efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Jika angka
rasio berada di atas 90% dan mendekati 100% berarti kinerja bank menunjukkan
tingkat efisiensi yang sangat rendah. Tetapi jika mendekati 75% berarti
menunjukkan tingkat efisiensi yang tinggi. Sesuai dengan ketentuan BI, rasio
BOPO yang ditoleransi adalah maksimal 93,52% (Riyadi, 2004).
Biaya operasional dihitung berdasarkan penjumlahan dari total beban
bunga dan total beban operasional lainnya. Pendapatan operasional adalah
penjumlahan dari total pendapatan bunga dan total pendapatan operasional
lainnya. Mengingat kegiatan utama bank pada prinsipnya adalah bertindak
sebagai perantara, yaitu menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat, maka
biaya dan pendapatan operasional bank didominasi oleh biaya bunga dan hasil
bunga. Setiap peningkatan biaya operasional akan berakibat pada berkurangnya
laba sebelum pajak yang pada akhirnya akan menurunkan laba atau profitabilitas
(ROA) bank yang bersangkutan (Dendawijaya, 2005). Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Mawardi (2005) yang menyatakan bahwa jika
BOPO semakin meningkat berarti biaya operasi semakin besar sehingga pada
akhirnya Return on Assets (ROA) bank menurun. Oleh karena itu, manajemen
bank perlu mengambil langkah untuk menekan biaya operasi dan meningkatkan
pendapatan operasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan validasi
setiap biaya yang hendak dikeluarkan bank, apakah memang perlu dikeluarkan
atau tidak. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dapat
diformulasikan sebagai berikut (Dendawijaya, 2005:119):

BOPO =

Total Biaya (Beban) Operasional


100%
Total Pendapatan Operasional

2.1.5.4 Loan to Deposit Ratio (LDR)


Likuiditas merupakan indikator yang mengukur kemampuan perusahaan
untuk memenuhi atau membayar kewajibannya (simpanan masyarakat) yang
harus segera dipenuhi. Perusahaan yang mampu memenuhi kewajiban jangka
pendek keuangannya dengan tepat waktu berarti perusahaan tersebut dalam
keadaan likuid. Menurut Hasibuan (2007:94), bank dikatakan likuid jika bank
tersebut mempunyai: (1) cash asset sebesar kebutuhan yang akan digunakan
untuk memenuhi likuiditasnya, (2) cash asset lebih kecil dari butir (1), tetapi
bank juga mempunyai aset lainnya (khususnya surat-surat berharga) yang dapat
dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya, dan (3)
kemampuan untuk menciptakan cash asset baru melalui berbagai bentuk utang.
Pengukuran likuiditas adalah pengukuran yang sifatnya dilematik, karena
di satu sisi usaha bank yang utama adalah memasarkan dan/atau memutar uang
para nasabahnya untuk mendapatkan keuntungan. Artinya bisnis perbankan
harus memaksimalkan pemasaran uangnya dan sekecil mungkin mencegah uang
menganggur (idle money). Di sisi lain, untuk dapat memenuhi kewajibannya
terhadap para deposan dan debitur yang sewaktu-waktu menarik dananya dari
bank, bank dituntut selalu dalam posisi siap membayar, yang artinya bank harus
mempunyai cadangan uang menganggur yang cukup. Keadaan ini merupakan
dilema yang dihadapi oleh perbankan, karena antara kebutuhan likuiditas dan
tingkat keuntungan yang akan dicapai mempunyai sisi yang bertolak belakang.

Semakin tinggi tingkat likuiditas berarti akan semakin banyak uang yang
menganggur, semakin banyak uang menganggur berarti pemasaran uang tidak
maksimal dan akhirnya bank tidak bisa memaksimalkan keuntungan (Judisseno,
2005:138). Menurut Muljono (2002), penghasilan bunga dari penyaluran kredit
merupakan pendapatan utama bank. Semakin banyak bank menyalurkan kredit,
maka semakin banyak pendapatan bunga yang diperoleh yang akan
mengoptimalkan laba bagi bank. Keuntungan yang diterima bank tersebut
berasal dari selisih bunga pinjaman kepada debitur dengan suku bunga simpanan
yang dibayar kepada nasabah penyimpan (Abdullah, 2005:32). Dalam dunia
perbankan rasio likuiditas dapat diukur dengan Loan to Deposit Ratio (LDR).
LDR adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank
dengan total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank. LDR
menunjukkan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali
penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang
diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio LDR menunjukkan
semakin rendah kemampuan likuiditas bank tersebut karena jumlah dana yang
diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar. Semakin tinggi rasio
ini berarti semakin tinggi likuiditas penyaluran kredit dari bank, dengan risiko
kredit macet yang juga semakin besar. LDR = 110% atau > 110% dinilai tidak
sehat sedangkan LDR < 110% dinilai sehat. Besarnya LDR akan berpengaruh
terhadap laba melalui penciptaan kredit. Kredit yang besar akan meningkatkan
laba atau profitabilitas bank. Meskipun tingginya angka LDR dapat berpotensi
menaikkan laba bank, namun hal itu tetap harus diiringi dengan sikap hati-hati

dalam penyaluran kredit agar kelak tidak menimbulkan permasalahan kredit


bermasalah (Non Performing Loan) seperti kredit macet yang justru akan dapat
menurunkan laba atau profitablitas bank (Hariyani, 2010).
Bank Indonesia memberlakukan aturan baru tentang Loan to Deposit Ratio
(LDR) bagi industri perbankan nasional. Berdasarkan aturan baru LDR itu,
bank-bank diharuskan memiliki rasio pengucuran kredit terhadap simpanan dana
pihak ketiga dalam rentang 78% 100%. Di mata bank sentral, aturan ini dibuat
untuk mendorong perbankan lebih giat menyalurkan kredit buat menggerakkan
ekonomi. BI ingin kelebihan likuiditas di bank-bank bermodal besar bisa diserap
agar tidak memicu inflasi (Indonesian Financial Review, Edisi 2 Maret 2011,
hal. 3). Loan to Deposit Ratio (LDR) dapat dirumuskan sebagai berikut (Riyadi,
2004:146):
LDR =

Total Kredit yang Diberikan


100%
Total Dana Pihak Ketiga (DPK)

2.1.5.5 Non Performing Loan (NPL)


Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam
mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Kredit dalam hal ini
adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga tidak termasuk kredit kepada
bank lain. Kredit bermasalah terutama disebabkan oleh kegagalan pihak debitur
dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar angsuran (cicilan) pokok
kredit beserta bunga yang telah disepakati kedua belah pihak dalam perjanjian
kredit. Kredit lancar (current) adalah kredit yang tidak mengalami penundaan
pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunga. Kredit bermasalah

adalah kredit dengan kolektibilitas 3 s.d. 5, yaitu kredit dengan kualitas kurang
lancar (substandard), diragukan (doubtful), dan macet (loss). Kredit kurang
lancar adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran
bunganya telah mengalami penundaan selama 3 (tiga) bulan dari waktu yang
diperjanjikan sedangkan jika telah mengalami penundaan selama 6 (enam) bulan
atau dua kali dari jadwal yang telah diperjanjikan disebut sebagai kredit yang
diragukan dan apabila telah mengalami penundaan lebih dari satu tahun sejak
jatuh tempo menurut jadwal yang telah diperjanjikan, maka dikatakan sebagai
kredit macet. Target indikatif rasio NPL sesuai dengan ketentuan BI saat ini
adalah maksimum 5%. Rasio Non Performing Loan (NPL) terbagi atas 2 (dua),
yaitu NPL Gross dan NPL Net. Dalam penelitian ini, rasio kredit bermasalah
yang digunakan adalah NPL Net. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No.
6/9/PBI/2004 tentang Tindak Lanjut Pengawasan dan Penetapan Status Bank
tanggal 26 Maret 2004, rasio dari kredit bermasalah secara netto maksimal 5%
dari jumlah kredit yang diberikan Bank. NPL Net diformulasikan sebagai berikut
(Riyadi, 2004:142):

NPL Net =

Total Kredit Bermasalah - PPAP Khusus Kolektibilitas 3 s.d. 5


100%
Total Kredit yang Diberikan

Kredit macet adalah kredit yang diklasifikasikan pembayarannya tidak


lancar yang dilakukan oleh debitur bersangkutan. Kredit macet harus secepatnya
diselesaikan agar kerugian yang lebih besar dapat dihindari, salah satunya
dengan cara berikut.

1.

Rescheduling atau penjadwalan ulang, yaitu perubahan syarat kredit yang


hanya menyangkut jadwal pembayaran atau jangka waktu termasuk masa
tenggang (grace period) dan perubahan besarnya angsuran kredit.
Debitur yang dapat diberikan fasilitas penjadwalan ulang adalah nasabah
yang menunjukkan iktikad baik dan karakter yang jujur serta ada
keinginan untuk membayar (willingness to pay).

2.

Reconditioning atau persyaratan ulang, yaitu perubahan sebagian atau


seluruh syarat-syarat kredit meliputi perubahan jadwal pembayaran,
jangka waktu, tingkat suku bunga, penundaan sebagian atau seluruh
bunga, dll. Persyaratan ulang diberikan kepada debitur yang jujur,
terbuka, dan kooperatif yang usahanya sedang mengalami kesulitan
keuangan

tetapi

diperkirakan

masih

dapat

beroperasi

dengan

menguntungkan.
3.

Restructuring atau penataan ulang, yaitu perubahan syarat kredit yang


menyangkut: (1) penambahan dana bank, (2) konversi sebagian/seluruh
tunggakan bunga menjadi pokok kredit baru, atau (3) konversi
sebagian/seluruh kredit menjadi penyertaan bank atau mengambil partner
lain untuk menambah persyaratan.

4.

Liquidation atau penjualan barang-barang yang dijadikan agunan dalam


rangka pelunasan utang. Pelaksanaan likuidasi dilakukan terhadap
kategori kredit yang menurut bank benar-benar sudah tidak dapat dibantu
untuk disehatkan kembali atau usaha nasabah sudah tidak memiliki
prospek untuk dikembangkan. Proses likuidasi dapat dilakukan dengan:

(1) agunan disita pengadilan negeri lalu dilelang untuk membayar utang
debitur, (2) agunan dibeli bank untuk dijadikan aset bank.
2.1.6 Kinerja Perbankan
Kinerja adalah prestasi yang dicapai oleh suatu perusahaan dalam periode
tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan dari perusahaan tersebut. Kinerja
perusahaan dapat diukur dengan menganalisis dan mengevaluasi laporan
keuangan. Informasi posisi keuangan dan kinerja keuangan di masa lalu sering
kali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja di
masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai seperti
pembayaran dividen dan pergerakan harga sekuritas. Kinerja merupakan hal
penting yang harus dicapai oleh setiap perusahaan di manapun, karena kinerja
merupakan cerminan dari kemampuan perusahaan dalam mengelola dan
mengalokasikan sumber dayanya. Kinerja keuangan melalui rasio-rasio adalah
salah satu indikator penilaian kondisi keuangan perusahaan. Tingkat kesehatan
perbankan digambarkan oleh kinerja keuangan perusahaan yang dinilai dalam
berbagai aspek. Menurut Peraturan Bank Indonesia No. 6/10/PBI 2004, aspekaspek yang dinilai dalam mengukur kinerja perbankan adalah CAMELS.
Dalam penelitian ini penulis mengambil beberapa faktor tingkat kesehatan
perbankan yang dipakai sebagai alat ukur performance/kinerja BUSN devisa di
BEI, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR) yang digunakan sebagai indikator
tingkat permodalan (Capital), Non Performing Loan (NPL) yang digunakan
sebagai indikator tingkat kualitas aset (Asset Quality), Biaya Operasional
terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) yang digunakan sebagai indikator

rentabilitas (Earnings), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang digunakan


sebagai indikator likuiditas (Liquidity).
Kinerja perbankan dapat diukur dengan dengan menggunakan rata-rata
tingkat bunga pinjaman, rata-rata tingkat bunga simpanan, dan profitabilitas
perbankan (Kidwell & Peterson, 1981:247). Gilbert (1984:631633), dalam
surveinya terhadap beberapa penelitian mengambil kesimpulan bahwa tingkat
bunga pinjaman dan tingkat bunga simpanan merupakan ukuran kinerja yang
lemah dan dapat menimbulkan masalah, maksudnya apabila tingkat bunga
pinjaman yang digunakan sebagai ukuran kinerja, kemungkinan ukuran tersebut
bias karena rata-rata tingkat bunga simpanan tergantung pada distribusi jatuh
temponya bermacam-macam simpanan. Untuk mengatasi masalah tersebut,
maka menurut Gilbert, ukuran kinerja yang tepat adalah profitabilitas
(Nainggolan, 2004). Ukuran profitabilitas yang biasa digunakan adalah Return
on Assets (ROA) pada industri perbankan dan Return on Equity (ROE) untuk
perusahaan pada umumnya. ROA memfokuskan kemampuan perusahaan untuk
memperoleh earning atau keuntungan bersih dalam operasi perusahaan dengan
memanfaatkan aset yang dimiliki, sedangkan ROE hanya mengukur return yang
diperoleh dari investasi pemilik perusahaan dalam bisnis tersebut (Siamat,
2005). Oleh sebab itu, ukuran profitablitas yang digunakan untuk mengukur
kinerja keuangan bank dalam penelitian ini adalah Return on Assets (ROA).
2.2 Penelitian Terdahulu
Mintarti (2009), melakukan penelitian dengan judul Implikasi Proses
Take Over Bank Swasta Nasional Go Public terhadap Tingkat Kesehatan dan

Kinerja Bank. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh CAR,


BOPO, LDR, dan NPL terhadap ROA baik secara simultan maupun parsial.
Data laporan keuangan yang digunakan dari tahun 20022007. Alat analisis
menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan:
1. Nilai Adjusted R Square adalah 0.854, hal ini berarti 85.4% variasi ROA
dapat dijelaskan oleh variasi dari keempat variabel independen CAR,
BOPO, LDR, dan NPL. Sedangkan sisanya 14.6% dijelaskan oleh
variabel lain di luar model.
2. CAR, BOPO, LDR, dan NPL secara bersama-sama (simultan)
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap ROA bank-bank umum
swasta nasional take over. Hal ini dapat dibuktikan dengan melihat nilai
Fhitung (145.263) lebih besar dari Ftabel (2.463), demikian juga dengan
nilai signifikan sebesar 0.000 yang berada di bawah 0.05.
3. Sementara secara parsial, hanya terdapat satu variabel yaitu LDR yang
tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA. Nilai thitung variabel LDR
adalah sebesar 1.251, nilai ini lebih kecil dibandingkan dengan ttabel pada
alpha 5% yaitu sebesar 1.660. Sementara itu, tingkat signifikansi
(probabilitas tingkat kesalahan variabel) variabel LDR sebesar 0.214,
lebih besar dari 0.05.
Hayat (2008), melakukan penelitian dengan judul Analisis Faktor-Faktor
yang Berpengaruh terhadap Rentabilitas Perusahaan Perbankan yang Go Public
di Pasar Modal Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah
faktor LDR, NPL, CAR, BOPO, serta Suku Bunga Kredit berpengaruh terhadap

rentabilitas (ROA) perbankan secara simultan dan parsial, serta untuk


mengetahui faktor mana yang memberikan pengaruh paling dominan terhadap
rentabilitas (ROA) perbankan. Data laporan keuangan yang digunakan dari
tahun 20012005. Alat analisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa:
1. Nilai Fhitung sebesar 31.629 dan Ftabel sebesar 2.4044, berarti
Fhitung > Ftabel dan nilai signifikan sebesar 0.000, lebih kecil dari 0.05.
Dengan demikian, variabel independen secara simultan berpengaruh
signifikan terhadap ROA.
2. Nilai Adjusted R Square sebesar 0.739 menunjukkan kemampuan model
dalam menerangkan variasi variabel independen, yang berarti 73,9%
variasi ROA bank dapat dijelaskan oleh variasi dari kelima variabel
independen, sedangkan sisanya sebesar 26.1% dijelaskan oleh sebabsebab lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
3. Secara parsial/individual, terdapat tiga variabel yaitu LDR, NPL, dan
Suku Bunga Kredit yang tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.
Nilai thitung untuk variabel LDR sebesar 1.222 < ttabel (2.0096) dengan
tingkat signifikan sebesar 0.228 > 0.05. Nilai thitung untuk variabel NPL
sebesar 0.831 < ttabel (2.0096) dan memiliki tingkat signifikan sebesar
0.410 > 0.05 dan nilai thitung untuk variabel Suku Bunga Kredit sebesar
0.380 < ttabel (2.0096) dan memiliki tingkat signifikan sebesar 0.706.
4. Variabel BOPO mempunyai koefisien regresi, Beta Standard dan r
parsial yang terbesar diantara variabel lainnya, sehingga dapat diambil

kesimpulan bahwa variabel yang paling dominan mempengaruhi ROA


adalah variabel BOPO.
Mawardi (2005), dalam penelitiannya yang berjudul Analisis FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kinerja Bank Umum di Indonesia (Studi Kasus
Pada Bank Umum Dengan Total Assets Kurang dari 1 Triliun). Data
menggunakan laporan keuangan publikasi bank umum tahun 1998-2001 yang
diterbitkan oleh Bank Indonesia. Alat analisis menggunakan regresi linier
berganda. Hasil penelitian menunjukkan:
1. Nilai adjusted R2 sebesar 0.526 berarti sebesar 52.6% dari total variasi
ROA dapat dijelaskan oleh total variasi BOPO, NPL, NIM, dan CAR.
dan R = 0.735, berarti hubungan (relation) antara variabel BOPO, NPL,
NIM, dan CAR terhadap ROA sebesar 73.5%, artinya hubungannya erat.
2. Dari hasil uji-F, keempat variabel bebas, yaitu BOPO, NPL, NIM, dan
CAR secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap ROA. Hal
ini ditunjukkan oleh nilai Fhitung (36.325) > Ftabel (2.05) dan nilai
signifikan 0.000 < 0.05.
3. Secara parsial, Variabel BOPO dan NPL berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap ROA. Hal ini ditunjukkan oleh nilai thitung dari
masing-masing variabel yang bernilai negatif dan tingkat signifikan
variabel BOPO dan NPL yang lebih kecil dari 0.05. Variabel BOPO
memiliki nilai thitung sebesar 6.725 dengan tingkat signifikan sebesar
0.000. Nilai thitung variabel NPL sebesar 4.253 dan memiliki tingkat
signifikan sebesar 0.000. Sementara itu, variabel NIM berpengaruh

positif dan signifikan karena memiliki nilai thitung sebesar 7.225 dengan
tingkat signifikan sebesar 0.000. Variabel CAR memiliki nilai thitung
sebesar 1.561 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.120. Dengan
demikian, CAR tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.
2.3 Kerangka Konseptual
Tujuan utama operasional bank adalah mencapai tingkat profitabilitas
yang maksimal. Return on Assets (ROA) merupakan ukuran profitabilitas yang
digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh
keuntungan (laba) secara keseluruhan. Semakin besar ROA suatu bank, semakin
besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank. ROA penting bagi bank
karena rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan di dalam
menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya.
CAR merupakan rasio permodalan yang menunjukkan kemampuan bank
dalam menyediakan dana untuk keperluan pengembangan usaha dan
menampung risiko kerugian dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank.
Jika nilai CAR tinggi berarti bank tersebut mampu membiayai operasi bank dan
menyerap kerugian yang timbul dari kegiatan usahanya (Dendawijaya, 2005).
Dengan meningkatnya rasio ini, maka akan berpengaruh pada meningkatnya
laba atau profitabilitas (ROA) suatu bank, karena kerugian-kerugian yang
ditanggung bank dapat diserap oleh modal yang dimiliki oleh bank tersebut
(Muljono, 2002).
Rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan

kemampuan bank dalam kegiatan operasinya. Semakin rendah rasio BOPO


berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut karena lebih efisien dalam
menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Jika rasio BOPO semakin
meningkat berarti biaya operasi semakin besar, sehingga pada akhirnya Return
on Assets bank menurun (Riyadi, 2004).
Loan to Deposit Ratio menggambarkan seberapa jauh pemberian kredit
kepada nasabah kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera
memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah
digunakan oleh bank untuk memberikan kredit (Dendawaijaya, 2005:116).
Besarnya jumlah kredit yang disalurkan akan menentukan laba bank.
Peningkatan LDR berarti dana yang disalurkan dalam bentuk kredit semakin
besar sehingga pendapatan bunga bertambah dan laba bank akan meningkat.
Peningkatan laba tersebut mengakibatkan ROA semakin tinggi. Jika bank tidak
mampu menyalurkan kredit sementara dana yang terhimpun banyak maka akan
menyebabkan bank tersebut mengalami kerugian (Kasmir, 2007).
Rasio NPL digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank
dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Semakin tinggi
rasio ini, maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan
jumlah kredit bermasalah semakin besar dan menyebabkan kerugian, sebaliknya
jika semakin rendah NPL maka laba atau profitabilitas bank (ROA) tersebut
akan semakin meningkat. Kredit macet yang semakin kecil akan menambah laba
bank dan mengurangi kerugian yang diderita bank (Hasibuan, 2007). Pengaruh
NPL terhadap ROA menunjukkan pengaruh negatif yang artinya semakin tinggi

NPL menunjukkan resiko kredit yang ditanggung bank tinggi sehingga dapat
menurunkan pendapatan atau profitabilitas bank.
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan, maka kerangka konseptual
dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.1 di bawah ini:
Capital Adequacy Ratio (CAR)
Biaya Operasional
terhadap
Efisiensi
Operasi (BOPO)
X2
Pendapatan Operasional (BOPO)

Return on Assets (ROA)

Loan to Deposit Ratio (LDR)


Non Performing Loan Netto
(NPL Net)
Gambar 2.1: Kerangka Konseptual
Sumber: Dendawijaya (2005), Kasmir (2007), Riyadi (2004)
2.4 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah, teori, dan kerangka konseptual yang
telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Capital
Adequacy Ratio (CAR), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional
(BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Non Performing Loan Netto
(NPL Net) berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank umum
swasta nasional (BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau
lebih atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya (Sugiyono,
2006:11).
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui media
internet dengan alamat website: www.idx.co.id.
b. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan mulai dari bulan Nopember 2011 sampai
dengan Maret 2012.
3.3 Batasan Operasional
Untuk memfokuskan analisis penelitian, maka ruang lingkup penelitian
dibatasi sebagai berikut:
a. Variabel independen (X) yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Capital Adequacy Ratio (X1 ), rasio Biaya Operasional terhadap
Pendapatan Operasional (X2 ), Loan Deposit to Ratio (X3 ), dan Non
Performing Loan Netto (X4 ).

b. Variabel dependen (Y), yaitu Profitabilitas yang diukur dengan Return on


Assets (ROA).
c. Perusahaan yang diteliti adalah bank umum swasta nasional (BUSN)
devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pemilihan BUSN
devisa sebagai objek penelitian dikarenakan BUSN devisa merupakan
kelompok emiten terbesar dalam industri perbankan di BEI, sehingga
dengan asumsi semakin besar objek yang diteliti, maka akan semakin
akurat hasil penelitian.
d. Data yang digunakan adalah laporan keuangan tahunan dari BUSN devisa
di BEI yang telah diaudit dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2010.
3.4 Definisi Operasional
Definisi Operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Variabel Dependen (Y), yaitu: Return on Assets (ROA).
ROA merupakan rasio yang menunjukkan efektivitas bank dalam
menghasilkan keuntungan bersih dalam kegiatan operasinya dengan
memanfaatkan aset yang dimiliki. Semakin besar ROA, semakin besar
pula tingkat tingkat keuntungan yang dicapai bank. Semakin tinggi
rasio ini maka semakin baik produktivitas aset dalam memperoleh
keuntungan bersih. Return on Assets (ROA) dapat diformulasikan
sebagai berikut (Dendawijaya, 2005), (Siamat, 2005), (Merkusiwati,
2007), dan (Febryani dan Rahadian, 2003):

ROA =

Laba Bersih
100%
Total Aktiva

2. Variabel Independen (X), yaitu:


a. Capital Adequacy Ratio (X1 )
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio permodalan yang
menunjukkan kemampuan bank dalam menyediakan dana untuk
keperluan pengembangan usaha dan menampung risiko kerugian
dana yang diakibatkan oleh kegiatan operasi bank. Rasio ini
digunakan untuk mengetahui apakah permodalan bank yang ada
telah mencukupi untuk mendukung kegiatan bank yang dilakukan
secara efisien, apakah permodalan bank tersebut akan mampu
menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan.
Semakin besar CAR akan berpengaruh kepada semakin besarnya
Return on Assets (ROA) bank tersebut (Muljono, 2002). Rasio ini
dapat diformulasikan sebagai berikut (Siamat, 2005):

CAR =

Total Modal (Modal Inti + Modal Pelengkap)


100%
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

b. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (X2 )


BOPO adalah rasio yang mengukur tingkat efisiensi dan
kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Rasio
yang disebut juga dengan rasio efisiensi operasi ini, digunakan
untuk

mengukur

kemampuan

manajemen

bank

dalam

mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional.

Jika rasio BOPO semakin meningkat berarti biaya operasi semakin


besar, sehingga pada akhirnya Return on Assets bank menurun
(Riyadi,

2004).

Rasio

ini

diformulasikan

sebagai

berikut

(Dendawijaya, 2005):

BOPO =

Total Biaya (Beban) Operasional


100%
Total Pendapatan Operasional

c. Loan to Deposit Ratio (X3 )


LDR adalah rasio yang digunakan untuk menilai likuiditas
suatu bank dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh
bank terhadap dana pihak ketiga. Rasio ini menggambarkan
kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan
oleh nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan
sebagai sumber likuiditasnya. LDR akan menunjukkan tingkat
kemampuan bank dalam menyalurkan dana pihak ketiga yang
dihimpun oleh bank yang bersangkutan. Peningkatan LDR berarti
dana yang disalurkan dalam bentuk kredit semakin besar, sehingga
pendapatan bunga bertambah dan laba bank akan meningkat.
Peningkatan laba tersebut mengakibatkan ROA semakin tinggi.
Loan to Deposit Ratio (LDR) dapat dirumuskan sebagai berikut
(Riyadi, 2004):

LDR =

Total Kredit yang Diberikan


100%
Total Dana Pihak Ketiga (DPK)

d. Non Performing Loan Netto (X4 )


NPL adalah rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah
yang diberikan oleh bank. Kredit dalam hal ini adalah kredit yang
diberikan kepada pihak ketiga, tidak termasuk kredit kepada bank
lain. Dalam penelitian ini, yang digunakan adalah rasio NPL Net.
Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar,
diragukan, dan macet. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
(PPAP) disini adalah PPAP yang telah dibentuk untuk kredit
dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Pengaruh
NPL terhadap ROA menunjukkan pengaruh negatif yang artinya
semakin tinggi NPL menunjukkan resiko kredit yang ditanggung
bank tinggi sehingga dapat menurunkan pendapatan bank. Semakin
rendah NPL maka laba atau profitabilitas bank (ROA) tersebut
akan semakin meningkat. (Hasibuan, 2007). Rasio ini dapat
diformulasikan sebagai berikut (Riyadi, 2004):

NPL Net =

Total Kredit Bermasalah - PPAP Khusus Kol. 3 s.d. 5


100%
Total Kredit yang Diberikan

3.5 Populasi dan Sampel


a.

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah bank umum swasta nasional
devisa yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2007
sampai tahun 2010.

b.

Sampel
Penarikan sampel dilakukan berdasarkan penilaian terhadap
beberapa kriteria tertentu yang merupakan target populasi, yaitu sebagai
berikut.
1. Bank umum swasta nasional devisa (BUSN) yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia dari tahun 20072010.
2. BUSN devisa yang konsisten/selalu menerbitkan laporan keuangan
tahunan yang diaudit dari tahun 20072010, dan
3. BUSN devisa yang memiliki laporan (data) keuangan yang lengkap
dan relevan/terkait dengan variabel-variabel (rasio-rasio keuangan)
yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 3.1
Jumlah Sampel Berdasarkan Kriteria Penarikan Sampel
No.
Kriteria
Jumlah
1. Bank umum swasta nasional devisa (BUSN) yang terdaftar
19
di Bursa Efek Indonesia dari tahun 20072010
2. BUSN devisa yang tidak konsisten menerbitkan laporan
(1)
keuangan tahunan yang diaudit dari tahun 20072010.
3. BUSN devisa yang tidak memiliki laporan (data) keuangan
(6)
yang lengkap dan relevan/terkait dengan variabel-variabel
yang digunakan dalam penelitian.
12
Jumlah Sampel
Sumber: www.idx.co.id (diakses tanggal 5 Agustus 2011, data diolah)

Berdasarkan kriteria penarikan sampel, maka diperoleh sampel


sasaran penelitian sebanyak 12 perusahaan, antara lain:
Tabel 3.2
Sampel Penelitian
EMITEN

No.

KODE

AGRO

PT. Bank Agroniaga, Tbk

BBCA

PT. Bank Central Asia, Tbk

BBKP

PT. Bank Bukopin, Tbk

BBNP

PT. Bank Nusantara Parahyangan, Tbk

BKSW

PT. Bank Kesawan, Tbk

BNBA

PT. Bank Bumi Arta, Tbk

BNII

BSWD

PT. Bank Swadesi, Tbk

MAYA

PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk

10

MEGA

PT. Bank Mega, Tbk

11

NISP

PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk

PT. Bank OCBC NISP, Tbk

12
PNBN
PT. Pan Indonesia, Tbk
Sumber: www.idx.co.id (diakses tanggal 5 Agustus 2011)
3.6 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang
bersumber dari data sekunder, yaitu data yang diperoleh tidak dari sumbernya
secara langsung melainkan sudah diolah dan dikumpulkan oleh lembaga
pengumpul data ataupun pihak lain sebelumnya dan biasanya dalam bentuk
publikasi ataupun sumber-sumber tercetak (Sugiyono, 2006). Data tersebut
diperoleh dari media internet melalui situs www.idx.co.id, www.bi.go.id, dan
www.google.com.

Data tersebut meliputi:


1. Laporan keuangan tahunan yang telah diaudit dari bank umum swasta
nasional devisa di BEI selama periode 20072010.
2. Data-data lainnya yang mendukung dan relevan terhadap penelitian
ini yang diperoleh dari media internet dan sumber lainnya, antara lain:
jurnal-jurnal dan buletin penelitian, penelitian-penelitian terdahulu,
Statistik

Perbankan

Indonesia,

Booklet

Perbankan

Indonesia,

Direktori Perbankan Indonesia, Indonesian Capital Market Directory


(ICMD), dsb.
3.7 Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode studi dokumentasi (Sugiyono, 2006),
dimana peneliti mengumpulkan data, teori, pendapat para pakar dan praktisi,
dan berbagai informasi lainnya yang mendukung dan relevan terhadap
permasalahan yang akan diteliti dari berbagai literatur dan media internet
seperti buku-buku ilmiah, jurnal-jurnal penelitian, buletin penelitian, artikel,
majalah keuangan, penelitian-penelitian terdahulu, dan data-data lainnya yang
diperoleh dari situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI): www.idx.co.id, situs
resmi Bank Indonesia (BI): www.bi.go.id, dan situs www.google.com.

3.8 Metode Analisis Data


Untuk

mengolah

dan

menganalisis

data,

peneliti

menggunakan

menggunakan bantuan program statistik, software SPSS for windows. Adapun


metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan tahaptahap sebagai berikut:
3.8.1 Metode Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah suatu metode analisis yang dilakukan dengan
mengumpulkan data-data yang diperlukan, kemudian data-data tersebut
diklasifikasikan, dianalisis, dan diinterpretasikan secara objektif sehingga
diperoleh gambaran yang jelas mengenai topik ataupun masalah yang diteliti.
3.8.2 Pengujian Asumsi Klasik
Sebelum data tersebut dianalisis dengan model regresi linier berganda,
maka sebelumnya harus memenuhi syarat uji asumsi klasik, yaitu:
a. Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah variabel
dependen, independen, atau keduanya berdistribusi normal, mendekati
normal, atau tidak. Model regresi yang baik hendaknya berdistribusi
normal atau mendekati normal. Mendeteksi apakah data berdistribusi
normal atau tidak dapat diketahui dengan menggunakan penyebaran data
melalui sebuah grafik. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan
mengikuti arah garis diagonalnya maka model regresi memenuhi asumsi

normalitas. Uji kenormalan data juga bisa dilakukan dengan Uji


Kolmogorov-Smirnov (Umar, 2008:181).
b. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual dari satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual dari satu
pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau sama maka disebut
homoskedastisitas, demikian sebaliknya jika varians berbeda disebut
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi
heteroskedastisitas sehingga model regresi layak dipakai untuk
memprediksi

variabel

dependen

berdasarkan

masukan

variabel

independennya.
Untuk mengetahui ada atau tidaknya heteroskedastisitas dalam
model regresi dapat dilihat pada grafik Scatterplot. Jika titik-titik dalam
grafik menyebar tidak membentuk pola tertentu (bergelombang, melebar
kemudian menyempit), serta tersebar baik di atas maupun di bawah
angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Ada
beberapa uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada
tidaknya heteroskedastisitas, diantaranya adalah Uji Glejser.
c. Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah pada model
regresi ditemukan adanya korelasi yang tinggi antarvariabel independen.
Jika terjadi korelasi maka dinamakan terdapat problem multikolinearitas

(multiko). Deteksi adanya multikolinearitas dapat dilihat pada hasil


Collinearity Statistics pada tabel Coefficients melalui program SPSS.
Pada Collinearity Statistics tersebut terdapat nilai Variance Inflation
Factor (VIF) dan Tolerance.
Jika nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0.1, maka tidak terdapat
masalah multikolinearitas yang serius. Jika nilai VIF > 5 dan nilai
Tolerance < 0.1, maka terdapat masalah multikolinearitas yang serius
(Situmorang et al, 2010:133). Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi diantara variabel independen. Terdapat bermacam cara
untuk menghilangkan gejala multikolinearitas dalam suatu model regresi
antara lain dengan menambah data sampel atau menghilangkan salah satu
atau beberapa variabel yang mempunyai nilai korelasi yang tinggi.
d. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu (residual) pada
periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (periode sebelumnya). Jika
terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model
regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
Autokorelasi pada sebagian besar kasus ditemukan pada regresi yang
datanya adalah time series atau berdasarkan waktu berkala, seperti
bulanan, triwulanan, dan tahunan. Gejala autokorelasi dideteksi dengan
menggunakan metode The Breusch-Godfrey (BG) Test dan Uji DurbinWatson (DW test) (Situmorang et al, 2010:121).

3.8.3 Metode Analisis Regresi Linear Berganda


Analisis regresi linear berganda dilakukan pada penelitian ini untuk
mengetahui pengaruh variabel independen/bebas, yakni Capital Adequacy Ratio
(CAR), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to
Deposit Ratio (LDR), dan Non Performing Loan Netto (NPL Net) terhadap
variabel dependen/terikat, yaitu Return on Assets (ROA), dengan rumus
persamaannya adalah sebagai berikut.
Y = + 1 X1 + 2 X2 + 3 X3 + 4 X4 + e

Dimana:
Y

= Return on Assets (ROA)

= Konstanta

= Koefisien regresi variabel X1

= Koefisien regresi variabel X2

3
4

X1

= Koefisien regresi variabel X3

= Koefisien regresi variabel X4

= Capital Adequacy Ratio (CAR)

X2

= Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

X3

= Loan to Deposit Ratio (LDR)

X4

= Non Performing Loan Netto (NPL Net)

= error term

3.8.3.1 Uji Koefisien Determinasi (R2 ) atau Goodness of Fit


Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien

determinasi adalah diantara nol sampai satu. Nilai R2 yang kecil berarti
kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel
dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel
independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2009:15).
3.8.3.2 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui apakah variabel
independen/bebas mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen/terikat.
Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji
signifikansi simultan (uji-F) dan uji signifikansi parsial (uji-t).
a. Uji Signifikansi Simultan (uji-F)
Uji-F digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel
independen secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh
terhadap variabel dependennya. Perumusan hipotesisnya:
a. H0 : b1 = b2 = b3 = b4 = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang
signifikan dari variabel-variabel independen secara bersama-sama
terhadap variabel dependennya.
b. Ha : b1 b2 b3 b4 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan
dari variabel-variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel
dependennya.
Pada uji ini dilakukan uji satu sisi dengan tingkat signifikan () = 5%
untuk mendapatkan nilai F tabel. Kriteria pengambilan keputusannya
sebagai berikut:

a. Jika Fhitung Ftabel atau nilai signifikan () 0.05, maka H0 diterima.


b. Jika Fhitung Ftabel atau nilai signifikan () 0.05, maka Ha diterima.
b. Uji Signifikansi Parsial (uji-t)
Uji-t (uji individual) digunakan untuk mengetahui apakah masingmasing variabel independen (secara parsial) mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap variabel dependennya dengan asumsi variabel
independen yang lain dianggap konstan. Perumusan hipotesisnya :
a.

H0 : bi = 0, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari

masing-masing variabel independen terhadap variabel dependennya.


b.

Ha : bi 0, artinya terdapat pengaruh yang signifikan dari masing-

masing variabel independen terhadap variabel dependennya.


Pada uji ini nilai thitung akan dibandingkan dengan ttabel pada tingkat
signifikan () = 5%. Kriteria pengambilan keputusannya sebagai berikut:
a. Jika thitung ttabel atau nilai signifikan () 0.05, maka H0 diterima.
b. Jika thitung ttabel atau nilai signifikan () 0.05, maka Ha diterima.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Tonggak Perkembangan Bursa Efek di Indonesia
Pasar modal adalah suatu lembaga perantara (intermediaries) yang
mempertemukan pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang
membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas yang umumnya
memiliki umur lebih dari satu tahun, seperti saham dan obligasi. Tempat di mana
terjadinya jual-beli sekuritas disebut dengan bursa efek. Oleh karena itu, bursa
efek merupakan arti pasar modal secara fisik.
Pasar modal mempunyai peran penting dalam menunjang perekonomian.
Di samping itu, pasar modal dapat mendorong terciptanya alokasi dana yang
efisien, karena dengan adanya pasar modal, maka pihak yang kelebihan dana
(investor) dapat memilih alternatif investasi yang memberikan return yang paling
optimal. Asumsinya, investasi yang memberikan return relatif besar adalah
sektor-sektor yang paling produktif yang ada di pasar. Dengan demikian, dana
yang berasal dari investor dapat digunakan secara produktif oleh perusahaanperusahaan tersebut (Tandelilin, 2010). Di bawah ini adalah kronologi dan
perkembangan Bursa Efek di Indonesia:
1.

14 Desember 1912: Bursa Efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia


oleh Pemerintah Hindia Belanda.

2.

19141918: Bursa Efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia I.

3.

19251942: Bursa Efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan


Bursa Efek di Semarang dan Surabaya.

4.

Awal tahun 1939: Karena isu politik (Perang Dunia II), Bursa Efek di
Semarang dan Surabaya ditutup.

5.

19421952: Bursa Efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia


II.

6.

1952: Bursa Efek di Jakarta diaktifkan kembali dengan UU Darurat Pasar


Modal 1952, yang dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman (Lukman
Wiradinata) dan Menteri Keuangan (Prof. Dr.Sumitro Djojohadikusumo).
Instrumen yang diperdagangkan Obligasi Pemerintah RI (1950).

7.

1956: Program nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa efek semakin


tidak aktif.

8.

19561977: Perdagangan di Bursa Efek vakum.

9.

10 Agustus 1977: Bursa Efek diresmikan kembali oleh Presiden


Soeharto. BEJ dijalankan di bawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar
Modal). Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT Pasar Modal.
Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT.
Semen Cibinong sebagai emiten pertama.

10. 19771987: Perdagangan di Bursa Efek sangat lesu. Jumlah emiten


hingga 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen
perbankan dibandingkan instrumen Pasar Modal.
11. 1987: Ditandai dengan hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87)
yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan
Penawaran Umum dan investor asing menanamkan modal di Indonesia.

12. 19881990: Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal


diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat
meningkat.
13. 2 Juni 1988: Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola
oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan
organisasinya terdiri dari broker dan dealer.
14. Desember 1988: Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88
(PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public
dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.
15. 16 Juni 1989: Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola
oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT. Bursa Efek Surabaya.
16. 13 Juli 1992: Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan
Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ.
17. 22 Mei 1995: Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan
sistem computer JATS (Jakarta Automated Trading Systems).
18. 10 November 1955: Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini

mulai

diberlakukan mulai Januari 1996.


19. 1995: Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya.
20. 2000: Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai
diaplikasikan di pasar modal Indonesia.
21. 2002: BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote
trading).

22. 2007: Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta
(BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).
4.2 Profil Perusahaan
Berikut ini disajikan profil singkat perusahaan yang menjadi sampel
penelitian.
Tabel 4.1
Profil Perusahaan Sampel
No.

Kode

Tanggal

Emiten

1.

AGRO

PT. Bank Agroniaga, Tbk

2.

BBCA

3.

Pendirian

Pencatatan

PT. Bank Central Asia, Tbk

27 September 1989
21 Februari 1957

8 Agustus 2003
31 Mei 2000

BBKP

PT. Bank Bukopin, Tbk

10 Juli 1970

10 Juli 2006

4.

BBNP

PT. Bank Nusantara Parahyangan, Tbk

18 Januari 1972

10 Januari 2001

5.

BKSW

PT. Bank Kesawan, Tbk

1 April 1913

21 Nopember 2002

6.

BNBA

PT. Bank Bumi Arta, Tbk

3 Maret 1967

1 Juni 2006

7.

BNII

PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk

15 Mei 1959

21 Nopember 1989

8.

BSWD

PT. Bank Swadesi, Tbk

28 September 1968

1 Mei 2002

9.

MAYA

PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk

7 September 1989

29 Agustus 1997

10.

MEGA

PT. Bank Mega, Tbk

15 April 1969

17 April 2000

11.

NISP

PT. Bank OCBC NISP, Tbk

4 April 1941

20 Oktober 1994

12.

PNBN

PT. Bank Pan Indonesia, Tbk

18 Agustus 1971

29 Desember 1982

Sumber: www.idx.co.id dan Direktori Perbankan Indonesia


1.

Nama Bank

PT. Bank Agroniaga, Tbk.

Alamat Bank

Plaza Great River Indonesia, Jln. H.R. Rasuna Said


Blok X-2 No. 1, Kuningan, Jakarta 12950.

Telp.

(021) 5262570

Fax

(021) 5262559

E-mail

agrobank@indo.net.id

Website

www.bankagro.co.id

Izin Usaha

Menkeu RI SK No. 1347/KMK.013/1983, Tgl.


12 Desember 1989

2.

Izin menjadi
Bank Devisa

No. 8/41/KEP.GBI/2006, Tgl. 8 Mei 2006

Nama Bank

PT. Bank Central Asia, Tbk.

Alamat Bank

Menara BCA, Grand Indonesia, Jln. M.H. Thamrin No. 1


Jakarta 12920.

3.

4.

5.

Telp.

(021) 5208650, 5711250, 5208750

Fax

(021) 5710928, 5701865

Website

www.klikbca.com

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 9/110/KEP/DIR/UD, Tgl. 28 Maret 1977

Nama Bank

PT. Bank Bukopin, Tbk.

Alamat Bank

Jln. M.T. Haryono Kav. 50-51, Jakarta 12770.

Telp.

(021) 7989837, 7988266

Fax

(021) 7980625, 7980238, 7980244

Website

www.bukopin.co.id

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 29/135/KEP/DIR, Tgl. 2 Desember 1997

Nama Bank

PT. Bank Nusantara Parahyangna, Tbk.

Alamat Bank

Jln. Ir. H. Juanda No. 95, Bandung 40132.

Telp.

(022) 2550100, 2550187, 2513388

Fax

(022) 2514580

E-mail

living@bankbnp.com

Website

www.bankbnp.com

Izin menjadi
Bank Devisa`

SK.DIR.BI No. 27/42/KEP/DIR, Tgl. 5 Agustus 1994

Nama Bank

PT. Bank Kesawan, Tbk.

Alamat Bank

Jln. Hayam Wuruk No. 33, Jakarta 10120.

Telp.

(021) 3508888

Fax

(021) 34832741

E-mail

kesawan@cbn.net.id

Website

www.bankkesawan.co.id

6.

7.

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 28/150/KEP/DIR, Tgl. 22 Februari


1996

Nama Bank

PT. Bank Bumi Arta, Tbk.

Alamat Bank

Jln. KH. Wahid Hasyim No. 234, Jakarta 10250.

Telp.

(021) 2300893, 2300455

Fax

(021) 3102632, 325291

E-mail

bankbumiarta@cbn.net

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 24/35/KEP/DIR, Tgl. 20 Agustus 1991

Nama Bank

PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk.

Alamat Bank

Plaza BII, Menara II, Jln. M.H. Thamrin Kav. 2 No.


51, Jakarta 10350.

8.

9.

Telp.

(021) 2300888, 2300666

Fax

(021) 31934609, 330961, 301412

Website

www.bii.co.id

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 21/11/Dir/UPPS, Tgl. 9 November 1988

Nama Bank

PT. Bank Swadesi, Tbk.

Alamat Bank

Jln. H. Samanhudi No. 37, Jakarta.

Telp.

(021) 3808178, 3500007

Fax

(021) 3808178

E-mail

corporate@bankswadesi.co.id

Website

www.bankswadesi.co.id

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 27/68/KEP/DIR, Tgl. 12 Oktober 1994

Nama Bank

PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk.

Alamat Bank

Mayapada Tower Ground Floor-2, Jln. Jend. Sudirman


Kav. 28, Jakarta.

Telp.

(021) 5212288-1300, 2511588-2300

Fax

(021) 5211995-965-539-985

E-mail

mayapada@bankmayapada.com

Website

www.bankmayapada.com

Izin menjadi

Bank Devisa
10. Nama Bank
Alamat Bank

SK.DIR.BI No. 26/26/KEP/DIR/UD, Tgl. 3 Juni 1993

PT. Bank Mega, Tbk.

Menara Bank Mega, Jln. Kapten Tandean Kav. 12-14 A,


Jakarta 1279.

Telp.

(021) 79175000

Fax

(021) 79187100

Website

www.bankmega.com

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.3/1/KEP.DGS/2001, Tgl. 31 Januari 2001

PT. Bank OCBC NISP, Tbk.

OCBC NISP Tower, Jln. Prof. Dr. Satrio Kav. 25,

11. Nama Bank


Alamat Bank

Jakarta Selatan 12940.


Telp.

(021) 6006757, 6291208-1471

Fax

(021) 6006763-6507

E-mail

nisp@banknisp.com

Website

www.banknisp.com

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 23/9/KEP/DIR, Tgl. 19 Mei 1990

PT. Pan Indonesia Bank, Tbk.

Sebutan Bank

Bank Panin

Alamat Bank

Plaza Bank Centre, Jln. Jend. Sudirman Kav. 1

12. Nama Bank

(Senayan), Jakarta 10270.


Telp.

(021) 2700545

Fax

(021) 2700340, 2700391

E-mail

panin@panin.co.id

Website

www.panin.co.id

Izin menjadi
Bank Devisa

SK.DIR.BI No. 5/2-KEP.DIR Tgl 21 April 1972

4.3 Hasil Penelitian


4.3.1 Analisis Deskriptif
1. Deskripsi Nilai Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) BUSN devisa di
Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 20072010.
Tabel 4.2
Capital Adequacy Ratio (CAR) BUSN devisa di BEI Tahun 20072010
Capital Adequacy Ratio (CAR)
(%)
2007
2008
2009
2010

Rata-rata
(%)

No.

Kode Emiten

1.

AGRO

17.27

13.51

19.63

14.42

16.21

2.

BBCA

19.22

15.78

15.33

13.50

15.96

3.

BBKP

12.84

10.36

14.36

12.06

12.40

4.

BBNP

17.00

14.04

12.56

12.94

14.13

5.

BKSW

10.33

10.34

12.47

10.66

10.95

6.

BNBA

34.30

31.15

28.42

25.01

29.72

7.

BNII

20.19

19.44

14.71

12.65

16.75

8.

BSWD

20.66

33.27

32.90

26.86

28.42

9.

MAYA

29.95

23.69

19.37

22.61

23.90

10.

MEGA

11.84

16.09

18.01

15.03

15.24

11.

NISP

16.15

17.01

18.00

16.68

16.96

12.

PNBN

21.58

20.31

21.79

16.58

20.06

19.28
Rata-rata per tahun (%)
Sumber: www.idx.co.id (diolah)

18.75

18.96

16.58

18.39

Tabel 4.2 menggambarkan nilai variabel CAR pada masing-masing BUSN


devisa di BEI selama periode penelitian, yaitu tahun 20072010. Pada tabel ini
dapat dilihat nilai CAR mengalami fluktuasi pada setiap tahun penelitian (dari
tahun ke tahun). Berdasarkan tingkat rata-rata per perusahaan, nilai CAR
tertinggi diraih oleh PT. Bank Bumi Arta, Tbk (BNBA), yaitu sebesar 29.72%
dan nilai CAR terendah dimiliki oleh PT. Bank Kesawan, Tbk (BKSW), yaitu
sebesar 10.95%. Bila ditinjau dari rata-rata per tahun, nilai CAR tertinggi

terdapat pada tahun 2007, yaitu sebesar 19.28% dan nilai CAR terendah terdapat
pada tahun 2010, yaitu sebesar 16.58%.
Pada tahun 2007, nilai CAR tertinggi diraih oleh PT. Bumi Arta, Tbk
(BNBA), yaitu sebesar 34.30% dan nilai CAR terendah dimiliki oleh PT. Bank
Kesawan, Tbk (BKSW), yaitu sebesar 10.33%. Pada tahun 2008, nilai CAR
tertinggi diraih oleh PT. Bank Swadesi, Tbk (BSWD), yaitu sebesar 33.27% dan
nilai CAR terendah dimiliki oleh PT. Kesawan, Tbk, yaitu sebesar 10.34%.
Sementara itu, pada tahun 2009, nilai CAR tertinggi kembali dimiliki oleh PT.
Bank Swadesi, Tbk dengan angka 32.90% dan PT. Bank Kesawan, Tbk kembali
menempati posisi terendah dalam perolehan nilai CAR. Emiten BKSW memiliki
nilai CAR sebesar 12.47% dan pada tahun 2010, PT. Bank Swadesi, Tbk masih
memiliki nilai CAR yang tertinggi, yaitu sebesar 26.86% dan nilai CAR
terendah masih dipegang oleh PT. Bank Kesawan, Tbk, yaitu sebesar 10.66%.
Jika nilai CAR tinggi, berarti bank tersebut mampu membiayai operasi
bank dan keadaan tersebut akan menguntungkan bagi bank bersangkutan karena
memberikan kontribusi yang cukup besar bagi profitabilitas (Return on Assets)
(Kuncoro, 2011). Sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia, CAR bank
ditetapkan minimal 8%. Selama periode 20072010, semua BUSN devisa yang
menjadi sampel penelitian sudah memenuhi ketentuan CAR yang ditetapkan
oleh BI. Secara teoretis, hal ini berarti permodalan bank yang ada telah
mencukupi untuk mendukung kegiatan bank yang dilakukan secara efisien dan
mampu menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindarkan.

2. Deskripsi

Nilai

Variabel

Biaya

Operasional

terhadap

Pendapatan

Operasional (BOPO) BUSN devisa di BEI Tahun 20072010.


Tabel 4.3
Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BUSN
devisa di BEI Tahun 20072010
Biaya Operasional terhadap
Pendapatan Operasional (BOPO)
(%)
2007
2008
2009
2010

Rata-rata
(%)

No.

Kode Emiten

1.

AGRO

100.96

99.71

91.31

83.28

93.81

2.

BBCA

65.88

59.41

60.20

61.73

61.80

3.

BBKP

83.62

82.33

87.05

82.15

83.79

4.

BBNP

86.82

88.06

89.14

86.05

87.52

5.

BKSW

95.12

102.64

94.00

91.83

95.90

6.

BNBA

83.27

79.95

80.66

83.21

81.77

7.

BNII

96.29

94.52

99.52

90.97

95.32

8.

BSWD

90.68

75.00

68.85

67.10

75.41

9.

MAYA

88.46

90.63

93.82

90.09

90.75

10.

MEGA

76.42

79.17

85.87

77.58

79.76

11.

NISP

88.19

86.12

78.11

78.85

82.82

12.

PNBN

69.04

76.10

71.74

67.81

71.17

Rata-rata per tahun (%)


85.40
Sumber: www.idx.co.id (diolah)

84.47

83.36

80.05

83.32

Tabel 4.3 menggambarkan nilai variabel rasio BOPO pada masing-masing


BUSN devisa di BEI selama periode penelitian, yaitu tahun 20072010. Pada
tabel ini dapat dilihat nilai rasio BOPO mengalami fluktuasi pada setiap tahun
penelitian. Berdasarkan tingkat rata-rata per perusahaan, nilai BOPO tertinggi
diraih oleh PT. Bank Kesawan, Tbk (BKSW), yaitu sebesar 95.90% dan nilai
BOPO terendah dimiliki oleh PT. Bank Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu
sebesar 61.80%. Bila ditinjau dari rata-rata per tahun, nilai BOPO tertinggi

terdapat pada tahun 2007, yaitu sebesar 85.40% dan nilai BOPO terendah
terdapat pada tahun 2010, yaitu sebesar 80.05%.
Pada tahun 2007, nilai BOPO tertinggi diraih oleh PT. Agroniaga, Tbk
(AGRO), yaitu sebesar 100.96% dan nilai BOPO terendah dimiliki oleh PT.
Bank Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu sebesar 65.88%. Pada tahun 2008, nilai
BOPO tertinggi diraih oleh PT. Bank Kesawan, Tbk (BKSW), yaitu 102.64%
dan nilai BOPO terendah dimiliki oleh PT. Bank Central Asia, Tbk, yaitu
59.41%. Sementara itu, pada tahun 2009, nilai BOPO tertinggi dimiliki oleh PT.
Bank Internasional Indonesia, Tbk (BNII) dengan angka 99.52% dan PT. Bank
Central Asia, Tbk kembali menempati posisi terendah dalam perolehan nilai
BOPO. Emiten BBCA memiliki nilai BOPO sebesar 60.20% dan pada tahun
2010, PT. Bank Kesawan, Tbk memiliki nilai BOPO yang tertinggi, yaitu
sebesar 91.83% dan nilai BOPO terendah masih dimiliki oleh PT. Bank Central
Asia, Tbk, yaitu sebesar 61.73%.
Rasio efisiensi operasional (BOPO) yang mendekati angka 75% berarti
kinerja bank menunjukkan efisiensi yang baik/tinggi (Riyadi, 2004). Ada
beberapa bank yang menunjukkan kinerja efisiensi yang baik, diantarannya
adalah emiten BSWD pada tahun 2008. Jika rasio BOPO semakin meningkat
berarti biaya operasi semakin besar sehingga pada akhirnya Return on Assets
(ROA) bank menurun (Mawardi, 2005). Sesuai dengan ketentuan BI, rasio
BOPO yang ditoleransi adalah maksimal 93,52% (Riyadi, 2004). Selama periode
20072010, ada 4 BUSN devisa yang belum memenuhi ketentuan rasio BOPO
yang ditoleransi oleh BI, yaitu emiten AGRO, BKSW, BNII, dan MAYA.

3. Deskripsi Nilai Variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) BUSN devisa di BEI
Tahun 20072010.
Tabel 4.4
Loan to Deposit Ratio (LDR) BUSN devisa di BEI Tahun 20072010
Loan to Deposit Ratio (LDR)
(%)
2007
2008
2009
2010

Rata-rata
(%)

No.

Kode Emiten

1.

AGRO

77.10

94.67

81.23

86.68

84.92

2.

BBCA

43.55

53.83

50.54

55.46

50.84

3.

BBKP

65.37

83.72

77.09

72.92

74.77

4.

BBNP

49.39

66.12

73.79

80.49

67.45

5.

BKSW

68.46

74.66

66.97

71.65

70.43

6.

BNBA

51.99

59.86

50.58

54.18

54.15

7.

BNII

77.07

80.98

78.94

83.77

80.19

8.

BSWD

62.16

83.11

81.10

87.38

78.44

9.

MAYA

103.88

102.22

83.77

78.38

92.06

10.

MEGA

46.74

64.67

56.82

56.77

56.25

11.

NISP

89.15

76.72

72.43

77.96

79.06

12.

PNBN

92.50

79.33

73.12

76.04

80.25

Rata-rata per tahun (%)


68.95
Sumber: www.idx.co.id (diolah)

76.66

70.53

73.47

72.40

Tabel 4.4 menggambarkan nilai variabel LDR pada masing-masing BUSN


devisa di BEI selama periode penelitian, yaitu tahun 20072010. Pada tabel ini
dapat dilihat nilai LDR mengalami fluktuasi pada setiap tahun penelitian.
Berdasarkan tingkat rata-rata per perusahaan, nilai LDR tertinggi diraih oleh PT.
Bank Mayapada Internasional, Tbk (MAYA), yaitu sebesar 92.06% dan nilai
LDR terendah dimiliki oleh PT. Bank Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu sebesar
50.84%. Bila ditinjau dari rata-rata per tahun, nilai LDR tertinggi terdapat pada
tahun 2008, yaitu sebesar 76.66% dan nilai LDR terendah terdapat pada tahun
2007, yaitu sebesar 68.95%. Pada tahun 2007, nilai LDR tertinggi diraih oleh

PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk (MAYA), yaitu sebesar 103.88% dan
nilai LDR terendah dimiliki oleh PT. Bank Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu
sebesar 43.55%. Pada tahun 2008, nilai LDR tertinggi juga diraih oleh emiten
MAYA, yaitu 102.22% dan nilai LDR terendah dimiliki oleh PT. Bank Central
Asia, Tbk, yaitu 53.83%. Sementara itu, pada tahun 2009, nilai LDR tertinggi
masih dimiliki oleh emiten MAYA dengan angka 83.77% dan PT. Bank Central
Asia, Tbk kembali menempati posisi terendah dalam perolehan nilai LDR.
Emiten BBCA memiliki nilai LDR sebesar 50.54% dan pada tahun 2010, PT.
Bank Swadesi, Tbk (BSWD) yang memiliki nilai LDR tertinggi, yaitu sebesar
87.38% dan nilai LDR terendah dimiliki oleh PT. Bank Bumi Arta, Tbk, yaitu
sebesar 54.18%.
Tingkat LDR yang diperkenankan oleh Bank Indonesia adalah maksimal
sebesar 110%. Secara teoretis, LDR = 110% atau > 110% dinilai tidak sehat
sedangkan LDR < 110% dinilai sehat (Riyadi, 2004). Besarnya angka LDR
menunjukkan bahwa manajemen bank tersebut mempunyai kemampuan untuk
memasarkan dana yang dimiliki. Meskipun tingginya angka LDR dapat
berpotensi menaikkan laba bank, namun hal itu tetap harus diiringi dengan sikap
hati-hati dalam penyaluran kredit agar kelak tidak menimbulkan kredit macet
(Hariyani, 2010). Selama periode 20072010, semua BUSN devisa sudah
memenuhi ketentuan LDR yang diperkenankan oleh BI, walaupun masih ada
beberapa bank yang belum maksimal dalam menyalurkan/memasarkan dana
yang dimiliki karena nilai LDR-nya masih sangat jauh dari angka 90100%.

4. Deskripsi Nilai Variabel Non Performing Loan Netto (NPL Net) BUSN
devisa di BEI Tahun 20072010.
Tabel 4.5
Non Performing Loan Netto (NPL Net) BUSN devisa di BEI Tahun
20072010
Non Performing Loan Netto (NPL Net)
(%)
2007
2008
2009
2010

Rata-rata
(%)

No.

Kode Emiten

1.

AGRO

4.28

3.59

4.47

1.84

3.54

2.

BBCA

0.14

0.14

0.13

0.24

0.16

3.

BBKP

2.49

4.12

2.38

2.52

2.88

4.

BBNP

1.48

1.12

1.81

0.63

1.26

5.

BKSW

6.33

3.74

5.39

1.91

4.34

6.

BNBA

1.78

1.46

1.71

1.83

1.69

7.

BNII

2.34

1.54

1.56

1.78

1.80

8.

BSWD

1.36

1.64

1.42

2.62

1.76

9.

MAYA

0.34

2.07

0.49

2.01

1.23

10.

MEGA

1.05

0.79

1.02

0.74

0.90

11.

NISP

2.12

1.75

1.39

0.82

1.52

12.

PNBN

1.76

2.15

1.60

2.60

2.03

Rata-rata per tahun (%)


2.12
Sumber: www.idx.co.id (diolah)

2.01

1.95

1.63

1.93

Tabel 4.5 menggambarkan nilai variabel NPL Net pada masing-masing


BUSN devisa di BEI selama periode penelitian, yaitu tahun 20072010. Pada
tabel ini dapat dilihat nilai NPL Net mengalami fluktuasi pada setiap tahun
penelitian. Berdasarkan tingkat rata-rata per perusahaan, nilai NPL Net tertinggi
diraih oleh PT. Bank Kesawan, Tbk (BKSW), yaitu sebesar 4.34% dan nilai
NPL Net terendah dimiliki oleh PT. Bank Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu
sebesar 0.16%. Bila ditinjau dari rata-rata per tahun, nilai NPL Net tertinggi

terdapat pada tahun 2007, yaitu sebesar 2.12% dan nilai NPL Net terendah
terdapat pada tahun 2010, yaitu sebesar 1.63%.
Pada tahun 2007, nilai NPL Net tertinggi diraih oleh PT. Bank Kesawan,
Tbk (BKSW), yaitu sebesar 6.33% dan nilai NPL Net terendah dimiliki oleh PT.
Bank Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu sebesar 0.14%. Pada tahun 2008, nilai
NPL Net tertinggi diraih oleh PT. Bank Bukopin, Tbk (BBKP), yaitu 4.12% dan
nilai NPL Net terendah masih dimiliki oleh PT. Bank Central Asia, Tbk, yaitu
0.14%. Sementara itu, pada tahun 2009, nilai NPL Net tertinggi kembali dimiliki
oleh emiten BKSW dengan angka 5.39% dan PT. Bank Central Asia, Tbk
kembali menempati posisi terendah dalam perolehan nilai NPL Net. Emiten
BBCA memiliki nilai NPL Net sebesar 0.13% dan pada tahun 2010, PT. Bank
Swadesi, Tbk (BSWD) yang memiliki nilai NPL Net tertinggi, yaitu sebesar
2.62% dan nilai NPL Net terendah tetap dimiliki oleh PT. Bank Central Asia,
Tbk, yaitu sebesar 0.24%.
Semakin tinggi rasio ini, maka akan semakin buruk kualitas kredit bank
yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar dan menyebabkan
kerugian, sebaliknya jika semakin rendah NPL maka laba atau profitabilitas
bank (ROA) tersebut akan semakin meningkat (Hasibuan, 2007). Target
indikatif rasio NPL Net sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia saat ini adalah
maksimum 5%. Selama periode 20072010, hanya ada 1 bank, yakni PT. Bank
Kesawan, Tbk (BKSW) yang belum memenuhi ketentuan NPL Net yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia.

5. Deskripsi Nilai Variabel Return on Assets (ROA) BUSN devisa di BEI


Tahun 20072010.
Tabel 4.6
Return on Assets (ROA) BUSN devisa di BEI Tahun 20072010
Return on Assets (ROA)
(%)
2007
2008
2009
2010

Rata-rata
(%)

No.

Kode Emiten

1.

AGRO

-0.21

0.03

0.07

0.46

0.09

2.

BBCA

2.06

2.35

2.41

2.61

2.36

3.

BBKP

1.09

1.13

0.97

1.04

1.06

4.

BBNP

0.84

0.92

0.75

0.90

0.85

5.

BKSW

0.29

0.14

0.17

0.05

0.16

6.

BNBA

1.07

1.35

1.17

1.01

1.15

7.

BNII

0.64

0.84

0.06

0.61

0.54

8.

BSWD

0.73

1.41

2.40

2.23

1.69

9.

MAYA

0.91

0.74

0.54

0.76

0.74

10.

MEGA

1.49

1.44

1.35

1.84

1.53

11.

NISP

0.86

0.92

1.18

0.72

0.92

12.

PNBN

1.59

1.09

1.75

1.15

1.39

Rata-rata per tahun (%)


0.95
Sumber: www.idx.co.id (diolah)

1.03

1.07

1.11

1.04

Tabel 4.6 menggambarkan nilai variabel ROA masing-masing BUSN


devisa di BEI selama periode penelitian, yaitu tahun 20072010. Pada tabel ini
dapat dilihat nilai ROA mengalami fluktuasi pada setiap tahun penelitian.
Berdasarkan tingkat rata-rata per perusahaan, nilai ROA tertinggi diraih oleh PT.
Bank Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu sebesar 2.36% dan nilai ROA terendah
dimiliki oleh PT. Bank Agroniaga, Tbk (AGRO), yaitu sebesar 0.09%. Bila
ditinjau dari rata-rata per tahun, nilai ROA tertinggi terdapat pada tahun 2010,
yaitu sebesar 1.11% dan nilai ROA terendah terdapat pada tahun 2007, yaitu
sebesar 0.95%. Pada tahun 2007, nilai ROA tertinggi diraih oleh PT. Bank

Central Asia, Tbk (BBCA), yaitu sebesar 2.06% dan nilai ROA terendah
dimiliki oleh PT. Bank Agroniaga, Tbk (AGRO), yaitu sebesar -0.21%. Pada
tahun 2008, nilai ROA kembali diraih oleh emiten BBCA, yaitu 2.35% dan nilai
ROA terendah masih dimiliki oleh PT. Agroniaga, Tbk, yaitu 0.03%. Sementara
itu, pada tahun 2009, nilai ROA tertinggi kembali dimiliki oleh emiten BBCA
dengan angka 2.41% dan PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk (BNII)
memiliki nilai ROA terendah, sebesar 0.06% dan pada tahun 2010, emiten
BBCA tetap memiliki nilai ROA tertinggi, yaitu sebesar 2.61% dan nilai ROA
terendah dimiliki oleh PT. Bank Kesawan (BKSW), Tbk, yaitu sebesar 0.05%.
Bila dicermati secara mendalam, hanya emiten BBCA dan AGRO yang
mengalami peningkatan nilai ROA dari tahun ke tahun.
Rasio Return on Assets (ROA) menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan
aset yang dilakukan oleh bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA suatu
bank, semakin besar pula tingkat tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut
dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan aset
(Dendawijaya, 2005). Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik produktivitas
aset dalam memperoleh keuntungan bersih. Semakin besar ROA bank, maka
akan menunjukkan kinerja keuangan bank yang semakin baik (Merkusiwati,
2007) dan (Febryani dan Rahadian, 2003). Sesuai dengan ketentuan Bank
Indonesia, ROA bank ditetapkan minimal 1,25% (Mintarti, 2009). Selama tahun
2007 sampai dengan 2010, hanya ada 2 bank, yakni emiten BBCA dan MEGA
yang konsisten memenuhi ketentuan BI tersebut.

4.3.2 Analisis Statistik


4.3.2.1 Pengujian Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel dependen,
independen, atau keduanya berdistribusi normal, mendekati normal, atau tidak
(Umar, 2008:181).

Gambar 4.1: Histogram


Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Dengan melihat tampilan grafik histogram, dapat disimpulkan bahwa


grafik histogram memberikan pola distribusi yang normal karena distribusi
data tersebut tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan. Namun, dengan
hanya melihat grafik histogram, hal ini dapat memberikan hasil yang
meragukan/menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode
yang lebih handal adalah dengan melihat normal probability plot (Ghozali,
2009:107), sebagaimana ditampilkan pada Gambar 4.2 berikut.

Gambar 4.2: Normal P-Plot


Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar disekitar garis


diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Hal ini berarti
data berdistribusi normal. Namun seringkali data kelihatan normal karena
mengikuti garis diagonal. Secara visual kelihatan normal, padahal secara
statistik bisa jadi sebaliknya. Oleh sebab itu, analisis harus dilengkapi dengan
uji statistik, diantaranya adalah uji statistik Kolmogorov-Smirnov (KS).
Tabel 4.7
Uji Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
Normal Parameters

48
a,b

Mean
Std. Deviation

Most Extreme Differences

.0000000
.25372143

Absolute

.115

Positive

.068

Negative

-.115

Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

.797
.549

Pada Tabel 4.7 terlihat bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov adalah 0.797. Nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) adalah 0.549, nilai tersebut berada di atas nilai
signifikan (0.05). Hal ini berarti variabel residual berdistribusi normal
(Sirumorang et al, 2010:97).
2. Uji Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang
lain. Jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas sehingga model regresi layak
dipakai untuk memprediksi variabel dependen berdasarkan masukan variabel
independennya (Umar, 2008:179). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya
heteroskedastisitas, dapat dilakukan dengan metode grafik. Metode ini
dilakukan dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel dependen,
yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID (Ghozali, 2009:36).

Gambar 4.3: Scatterplot


Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Dari Gambar 4.3, dapat dilihat bahwa pada tampilan grafik scatterplot,
titik-titik menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka 0 pada
sumbu Y. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi
heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi pada penelitian
ini layak dipakai untuk memprediksi variabel dependen (ROA) berdasarkan
masukan variabel independenya (CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net). Analisis
dengan grafik plot memiliki kelemahan yang cukup signifikan oleh karena
jumlah pengamatan mempengaruhi hasil ploting. Semakin sedikit jumlah
pengamatan semakin sulit menginterpretasikan hasil grafik plot. Oleh sebab
itu, diperlukan juga uji statistik yang lebih menjamin keakuratan hasil, antara
lain adalah Uji Glejser (Ghozali, 2009:38).
Tabel 4.8
Uji Glejser
Coefficients
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Std. Error
.423

.227

CAR

-.001

.004

BOPO

-.005

Coefficients
Beta

Sig.
1.863

.069

-.023

-.147

.884

.003

-.340

-1.937

.059

.002

.002

.183

1.160

.252

NPL Net
.029
a. Dependent Variable: absut

.021

.236

1.388

.172

LDR

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Hasil tampilan ouput SPSS dengan jelas menunjukkan semua variabel


independen tidak signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini terlihat dari
probabilitas signifikansi semua variabel yang berada di atas 0.05. Dengan

demikian, tidak terdapat indikasi adanya heteroskedastisitas pada model regresi


(Situmorang et al, 2010:108).
3. Uji Multikolinearitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan
adanya korelasi yang tinggi antarvariabel independen. Jika ditemukan, maka
dinamakan terdapat problem multikolinearitas. Model regresi yang baik
seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Deteksi adanya
multikolinearitas dapat dilihat pada besarnya nilai variance inflation factor
(VIF) dan Tolerance pada hasil Collinearity Statistics pada tabel Coefficients
melalui program SPSS. Jika nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance > 0.1, maka
tidak terdapat masalah multikolinearitas. Jika nilai VIF > 5 dan nilai Tolerance
< 0.1, maka terdapat masalah multikolinearitas (Situmorang et al, 2010).
Tabel 4.9
Uji Multikolinearitas
Coefficients
Model

Unstandardized

Standardized

Coefficients

Coefficients

B
1

(Constant)

Std. Error

5.429

.368

.008

.006

BOPO

-.050

LDR

Beta

Collinearity Statistics
t

Sig.

Tolerance

VIF

14.735

.000

.077

1.274

.210

.891

1.123

.004

-.801

-11.582

.000

.676

1.479

-.003

.003

-.070

-1.129

.265

.838

1.193

NPL Net
-.071
a. Dependent Variable: ROA

.034

-.139

-2.074

.044

.721

1.387

CAR

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Berdasarkan pada nilai Tolerance dan VIF, terlihat bahwa tidak ada
variabel yang memiliki nilai Tolerance di bawah 0.1 dan tidak ada juga

variabel yang memiliki nilai VIF di atas 5. Dengan demikian, tidak ada indikasi
terjadinya multikolinearitas antarvariabel independen.
4. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu (residual) pada periode t
dengan kesalahan pada periode t-1 (periode sebelumnya). Jika terjadi korelasi,
maka dinamakan ada problem autokorelasi (Ghozali, 2009). Model regresi
yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Gejala autokorelasi
dideteksi dengan menggunakan metode The Breusch-Godfrey (BG) Test dan
Uji Durbin-Watson (DW test).
Tabel 4.10
Uji Breusch-Godfrey
Coefficients
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Std. Error
.012

.375

-.002

.006

BOPO

.000

LDR

Coefficients
Beta

Sig.
.031

.975

-.043

-.260

.796

.004

-.021

-.109

.914

.001

.003

.063

.365

.717

-.004

.035

-.020

-.105

.916

Auto
-.005
.160
a. Dependent Variable: Unstandardized Residual

-.005

-.031

.976

CAR

NPL Net

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Tampilan output menunjukkan bahwa koefisien parameter untuk variabel


Auto (Lag) memberikan probabilitas signifikan 0.976 (di atas 0.05). Hal ini
menunjukkan tidak terdapat indikasi adanya autokorelasi atau data tidak
terkena autokorelasi (Ghozali, 2009:86). Berikut ini adalah cara lain untuk

mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, yaitu dengan menggunakan Uji


Durbin-Watson (DW test).
Tabel 4.11
Uji Durbin-Watson
b

d
i
m
e
n
s
i
o
n
0

Model
1

R
a
.928

Model Summary
R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
.861
.848
.26526
1.912

a. Predictors: (Constant), NPL Net, CAR, LDR, BOPO


b. Dependent Variable: ROA

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Hasil output SPSS menunjukkan nilai DW sebesar 1.912, nilai ini akan
dibandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan derajat kepercayaan 5%,
jumlah sampel (n) = 48 dan jumlah variabel bebas (k) = 4, maka di tabel
Durbin-Watson didapatkan nilai dL (durbin-watson lower/batas bawah) =
1.362, nilai dU (durbin-watson upper/batas atas) = 1.721 dan 4 dU = 2.279.
Pengambilan keputusannya adalah dU (1.721) d (1.912) 4 dU (2.279),
artinya tidak ada autokorelasi positif atau negatif. Dengan demikian, tidak
terdapat adanya autokorelasi pada model regresi.
4.3.2.2 Analisis Regresi Linear Berganda
Hasil estimasi regresi dari pengolahan data setelah didapatkan hasil yang
BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) dapat ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 4.12
Regresi Linear Berganda
Coefficients
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Coefficients

Std. Error
5.429

.368

.008

.006

BOPO

-.050

LDR

Beta

Sig.

14.735

.000

.077

1.274

.210

.004

-.801

-11.582

.000

-.003

.003

-.070

-1.129

.265

NPL Net
-.071
a. Dependent Variable: ROA

.034

-.139

-2.074

.044

CAR

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Model persamaan regresi linear berganda pada penelitian ini sebagai


berikut:
Y = 5.429 + 0.008 CAR 0.050 BOPO 0.003 LDR 0.071 NPL Net + e
Dimana:
Y

= Return on Assets (ROA)

CAR

= Capital Adequacy Ratio

BOPO

= Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional

LDR

= Loan to Deposit Ratio

NPL Net = Non Performing Loan Netto


e

= error term (kesalahan pengganggu)

Interpretasi persamaan tersebut adalah sebagai berikut.


1. Konstanta sebesar 5.429 menunjukkan bahwa jika variabel independen
CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net dianggap konstan, maka nilai ROA
adalah sebesar 5.429.

2. Koefisien regresi CAR sebesar 0.008 menunjukkan bahwa setiap


kenaikan CAR sebesar 1%, maka ROA meningkat sebesar 0.008%.
3. Koefisien regresi BOPO sebesar 0.050 menunjukkan bahwa setiap
kenaikan BOPO sebesar 1%, maka ROA akan mengalami penurunan
sebesar 0.050%.
4. Koefisien regresi LDR sebesar 0.003 menunjukkan bahwa setiap
kenaikan LDR sebesar 1%, maka ROA bank akan mengalami
penurunan sebesar 0.003%.
5. Koefisien regresi NPL Net sebesar 0.071 menunjukkan bahwa setiap
kenaikan NPL Net sebesar 1%, maka akan menurunkan ROA sebesar
0.071%.
4.3.2.3 Uji Koefisien Determinasi (R2 ) atau Goodness of Fit
Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien
determinasi adalah diantara nol sampai satu. Nilai yang mendekati satu berarti
variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2009:15).
Tabel 4.13
Uji Kelayakan Model (Goodness of Fit)
Model
1

R
a
.928

Model Summary
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
.861
.848
.26526

di
m
e
n
si
o
n
0

a. Predictors: (Constant), NPL Net, CAR, LDR, BOPO

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Tampilan output SPSS pada model summary menunjukkan besarnya R =


0.928, berarti hubungan (relation) antara variabel CAR, BOPO, LDR, dan
NPL Net terhadap ROA sebesar 92.8%. Artinya hubungannya sangat erat.
Semakin besar R, berarti hubungannya semakin erat (Situmorang et al, 2010).
Adjusted R Square sebesar 0.848, hal ini berarti 84.8% variasi ROA dapat
dijelaskan oleh variasi dari empat variabel independen, yaitu CAR, BOPO,
LDR, dan NPL Net, sedangkan sisanya 15.2% dijelaskan oleh sebab-sebab
yang lain di luar model atau faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam
penelitian.
Standart Error of the Estimate (SEE) atau standar deviasinya sebesar
0.26526. SEE digunakan untuk mengukur variasi dari nilai yag diprediksi.
Semakin kecil nilai SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam
memprediksi variabel dependen (Ghozali, 2009:19).
4.3.2.4 Pengujian Hipotesis
a. Uji Signifikansi Simultan (Uji-F)
Uji-F

digunakan

untuk

mengetahui

apakah

variabel-variabel

independen secara bersama-sama (simultan) mempunyai pengaruh terhadap


variabel dependennya. Tampilan output SPSS ANOVA memberikan nilai F
statistik sebesar 66.508 dengan probabilitas 0.000. Karena probabilitas jauh
di bawah 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa keempat variabel
independen, yaitu CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net secara bersama-sama
berpengaruh terhadap variabel dependennya, yaitu ROA. Nilai Ftabel pada
tingkat signifikan () = 5% adalah 2.59, berarti Fhitung (66.508) > Ftabel

(2.59). Dengan demikian, keempat variabel independen/bebas, yaitu CAR,


BOPO, LDR, dan NPL Net secara bersama-sama berpengaruh signifikan
terhadap ROA. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Fhitung (66.508) > Ftabel (2.59)
dan nilai signifikan 0.000 < 0.05. Kesimpulannya adalah H0 ditolak dan
Ha diterima. Hasil Pengujian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Dendawijaya (2005) dan Riyadi (2004) yang menyatakan bahwa CAR,
BOPO, LDR, dan NPL Net berpengaruh (memiliki pengaruh) secara
simultan terhadap ROA. Hasil pengujian ini juga sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Mintarti (2009) yang menyatakan bahwa secara
simultan (serentak), variabel CAR, BOPO, LDR, dan NPL mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap ROA. Secara lebih jelas, uji-F (uji secara
serentak) dapat dilihat pada Tabel 4.14 berikut.
Tabel 4.14
Uji-F
b

ANOVA
Model

Sum of Squares

1Regression
Residual

df

Mean Square

18.719

4.680

3.026

43

.070

F
66.508

Sig.
.000

Total
21.744
47
a. Predictors: (Constant), NPL Net, CAR, LDR, BOPO
b. Dependent Variable: ROA

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

b. Uji Signifikansi Parsial (Uji-t)


Uji-t (uji individual) digunakan untuk mengetahui apakah masingmasing variabel independen, yaitu CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependennya, yaitu
profitabilitas yang diukur dengan ROA, dengan asumsi variabel independen

yang lain dianggap konstan. Hasil uji statistik t (uji secara parsial)
menunjukkan bahwa variabel independen BOPO (X2 ) dan NPL Net (X4 )
berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen ROA (Y), sedangkan
variabel CAR (X1 ) dan LDR (X3 ) tidak berpengaruh signifikan terhadap
ROA (Y). Uji signifikansi parsial dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut.
Tabel 4.15
Uji-t
Coefficients
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Std. Error
5.429

.368

.008

.006

BOPO

-.050

LDR

Coefficients
Beta

Sig.

14.735

.000

.077

1.274

.210

.004

-.801

-11.582

.000

-.003

.003

-.070

-1.129

.265

NPL Net
-.071
a. Dependent Variable: ROA

.034

-.139

-2.074

.044

CAR

Sumber: Hasil Olahan SPSS (2012)

Hasil uji-t (uji secara parsial) menunjukkan :


1. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return on Assets
(ROA)
Variabel CAR memiliki nilai thitung sebesar 1.274, angka positif (+)
menunjukkan hubungan yang searah atau berbanding lurus, artinya adalah
jika CAR mengalami peningkatan (naik), maka ROA juga akan mengalami
peningkatan (naik). Nilai ini lebih kecil dibandingkan dengan ttabel pada
alpha 5%, yaitu sebesar 2.017. Nilai signifikan yang dimiliki CAR sebesar
0.210, nilai ini lebih besar dari tingkat signifikansi 0.05. Dengan demikian,
secara parsial CAR mempunyai pengaruh positif dan tidak signifikan

terhadap ROA. Variabel ini mempunyai koefisien regresi sebesar 0.008, hal
ini berarti jika variabel CAR meningkat sebesar 1%, maka ROA tidak akan
meningkat sebesar 0.008%, dengan asumsi variabel bebas lainnya dianggap
konstan. Dengan demikian, H0 diterima dan Ha ditolak. Hasil pengujian ini
tidak mendukung hipotesis yang telah ditetapkan yang menyatakan bahwa
Capital

Adequacy

Ratio

(CAR)

berpengaruh

signifikan

terhadap

profitablitas (ROA). Hasil Pengujian ini bertentangan dengan teori yang


dikemukakan oleh Dendawijaya (2005) dan Hasibuan (2007) yang
menyatakan bahwa Jika nilai CAR tinggi berarti bank tersebut mampu
membiayai operasi bank dan menyerap kerugian yang timbul dari kegiatan
usahanya. Dengan meningkatnya rasio ini, maka akan berpengaruh pada
meningkatnya laba atau profitabilitas (ROA) suatu bank, karena kerugiankerugian yang ditanggung bank dapat diserap oleh modal yang dimiliki oleh
bank tersebut. Namun, hasil pengujian ini sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Mawardi (2005) yang menyatakan bahwa Capital Adequacy
Ratio (CAR) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Assets.
2.

Pengaruh Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional

(BOPO) terhadap Return on Assets (ROA)


Variabel BOPO memiliki nilai thitung sebesar 11.582, angka negatif
( ) menunjukkan hubungan yang terbalik, artinya adalah jika BOPO
mengalami peningkatan, maka ROA akan mengalami penurunan. Nilai ini
lebih kecil dibandingkan dengan ttabel pada alpha 5%, yaitu sebesar 2.017.
Tingkat signifikan variabel BOPO sebesar 0.000 0.05, artinya variabel

BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROA. Dengan demikian, secara


parsial BOPO mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.
Variabel ini mempunyai koefisien regresi sebesar 0.050, hal ini berarti jika
variabel BOPO meningkat sebesar 1%, maka ROA akan menurun sebesar
0.050%, dengan asumsi variabel bebas lainnya dianggap konstan. Hasil
pengujian ini mendukung hipotesis yang telah ditetapkan yang menyatakan
bahwa rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
berpengaruh signifikan terhadap profitablitas (ROA). Dengan demikian, H0
ditolak dan Ha diterima. Hasil pengujian ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Riyadi (2004) yang menyatakan bahwa semakin rendah
rasio BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut karena
lebih efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan. Jika
rasio BOPO semakin meningkat berarti biaya operasi semakin besar,
sehingga pada akhirnya Return on Assets bank menurun. Hasil pengujian ini
sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mintarti (2009) dan Hayat
(2008) yang menyatakan bahwa Biaya Operasional terhadap Pendapatan
Operasional (BOPO) berpengaruh signifikan terhadap Return on Assets
(ROA). Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mawardi
(2005) yang menyatakan bahwa BOPO berpengaruh signifikan terhadap
ROA, jika BOPO semakin meningkat berarti biaya operasi semakin besar
sehingga pada akhirnya Return on Assets (ROA) bank menurun. Oleh
karena itu, manajemen bank perlu mengambil tindakan untuk menekan
biaya operasi dan meningkatkan pendapatan operasi. Hal ini dapat dilakukan

dengan cara melakukan validasi setiap biaya yang hendak dikeluarkan bank,
apakah memang perlu dikeluarkan atau tidak. Dari Tabel 4.15 dapat
diketahui bahwa variabel BOPO mempunyai nilai Beta Standard yang lebih
besar dibandingkan dengan variabel NPL Net, yaitu sebesar 0.801 dengan
tanda negatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel yang paling
mempengaruhi profitabilitas (ROA) BUSN devisa di BEI pada periode
20072010 adalah BOPO. Dengan demikian, BOPO menjadi hal yang
sangat dominan membuktikan bahwa dalam kondisi saat ini, sesuatu yang
paling rasional dilaksanakan dalam rangka meningkatkan profitabilitas
(ROA) dan menjaga kontinuitas usaha pada bank umum swasta nasional
(BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia adalah berkinerja secara efisien.
3. Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return on Assets
(ROA)
Variabel LDR memiliki nilai thitung sebesar 1.129, angka negatif ( )
menunjukkan hubungan yang terbalik. Nilai ini lebih kecil dibandingkan
dengan ttabel pada alpha 5%, yaitu sebesar 2.017. Tingkat signifikan variabel
LDR sebesar 0.265 > 0.05, artinya variabel LDR tidak berpengaruh
signifikan terhadap ROA. Dengan demikian, secara parsial LDR
mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ROA. Variabel
ini mempunyai koefisien regresi sebesar 0.003, hal ini berarti jika variabel
LDR meningkat sebesar 1%, maka ROA tidak akan menurun sebesar
0.003%, dengan asumsi variabel bebas lainnya dianggap konstan. Hasil
pengujian ini tidak mendukung hipotesis yang telah ditetapkan yang

menyatakan bahwa Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh signifikan


terhadap profitablitas (ROA). Dengan demikian, H0 diterima dan Ha ditolak.
Hasil pengujian ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh
Kasmir (2007) yang menyatakan bahwa peningkatan LDR berarti dana yang
disalurkan dalam bentuk kredit semakin besar sehingga pendapatan bunga
bertambah dan laba bank akan meningkat. Peningkatan laba tersebut
mengakibatkan ROA semakin tinggi. Namun, jika bank tidak mampu
menyalurkan kredit sementara dana yang terhimpun banyak maka akan
menyebabkan bank tersebut mengalami kerugian (Simorangkir, 2004).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara teoretis, BUSN devisa
selama periode 20072010 belum maksimal, efektif, serta tepat guna
dalam memasarkan/menyalurkan dana yang dimiliki kepada pihak ketiga
(masyarakat). LDR dapat dijadikan tolak ukur kinerja perbankan sebagai
lembaga intermediasi yaitu lembaga yang menghubungkan antara pihak
yang kelebihan dana dengan pihak yang membutuhkan dana (Riyadi,
2004:147), berarti fungsi intermediasi yang dilakukan oleh BUSN devisa
selama periode 20072010 belum baik atau belum maksimal. Hasil
pengujian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Mintarti (2009)
dan Hayat (2008) yang menyatakan bahwa Loan to Deposit Ratio (LDR)
tidak berpengaruh signifikan terhadap Return on Assets (ROA).

4. Pengaruh Non Performing Loan Netto (NPL Net) terhadap Return on


Assets (ROA)
Variabel NPL Net memiliki nilai thitung sebesar 2.074, angka negatif
( ) menunjukkan hubungan yang terbalik. Nilai ini lebih kecil dibandingkan
dengan ttabel pada alpha 5%, yaitu sebesar 2.017. Tingkat signifikan variabel
NPL Net sebesar 0.044 0.05, artinya variabel NPL Net berpengaruh
signifikan terhadap ROA. Dengan demikian, secara parsial NPL Net
mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA. Variabel ini
mempunyai koefisien regresi sebesar 0.071, hal ini berarti jika variabel
NPL Net meningkat sebesar 1%, maka ROA akan menurun sebesar 0.071%,
dengan asumsi variabel bebas lainnya dianggap konstan. Hasil pengujian ini
mendukung hipotesis yang telah ditetapkan yang menyatakan bahwa Non
Performing Loan Netto (NPL Net) berpengaruh signifikan terhadap
profitablitas (ROA). Dengan demikian, H0 ditolak dan Ha diterima. Hasil
pengujian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Hasibuan (2007)
yang menyatakan bahwa semakin rendah NPL maka angka kedit macet juga
akan semakin kecil, sehingga laba atau profitabilitas bank (ROA) tersebut
akan semakin meningkat. Hasil pengujian ini juga sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Mintarti (2009), Hayat (2008) dan Mawardi (2005)
yang menyatakan bahwa Non Performing Loan (NPL) berpengaruh
signifikan terhadap Return on Assets (ROA).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan hasil analisis data dan
pengujian hipotesis yang telah diuraikan pada bab sebelumnya adalah sebagai
berikut:
1.

Hasil uji simultan (uji statistik F) menunjukkan bahwa kinerja bank yang
diukur dengan Capital Adequacy Ratio (CAR), Biaya/Beban Operasional
terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Loan to Deposit Ratio (LDR),
dan Non Performing Loan Netto (NPL Net) secara bersama-sama
berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas yang diukur dengan Return
on Assets (ROA) pada bank umum swasta nasional (BUSN) devisa di
Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 20072010.

2.

Hasil uji secara individual atau parsial (uji statistik t) menujukkan bahwa:
a.

Variabel Capital Adequacy Ratio (CAR) mempunyai pengaruh yang


positif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank umum
swasta nasional (BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia selama
periode penelitian, yaitu tahun 20072010.

b.

Variabel Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)


mempunyai

pengaruh

yang

negatif

dan

signifikan

terhadap

profitabilitas (ROA) bank umum swasta nasional (BUSN) devisa di


Bursa Efek Indonesia selama periode 20072010.

c.

Variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) mempunyai pengaruh yang


negatif dan tidak signifikan terhadap profitabilitas (ROA) bank umum
swasta nasional (BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia selama
periode 20072010.

d.

Variabel Non Performing Loan Netto (NPL Net) mempunyai


pengaruh yang negatif dan signifikan terhadap profitabilitas (ROA)
bank umum swasta nasional (BUSN) devisa di Bursa Efek Indonesia
selama periode 20072010.

3.

Nilai Adjusted R Square dalam penelitian ini sebesar 0.848, hal ini berarti
84.8% variasi ROA dapat dijelaskan oleh variasi dari empat variabel
independen, yaitu CAR, BOPO, LDR, dan NPL Net, sedangkan sisanya
15.2% dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain di luar model atau faktorfaktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.

5.2 Saran
Adapun saran penulis adalah sebagai berikut.
1. Perusahaan hendaknya memperhatikan faktor-faktor CAR, BOPO, LDR,
dan NPL Net dalam meningkatkan laba atau profitabilitas (ROA),
khususnya tingkat efisiensi operasional (BOPO), karena jika BOPO
semakin meningkat berarti biaya operasi semakin besar sehingga pada
akhirnya Return on Assets (ROA) bank menurun. Tingginya persaingan
bisnis pada sektor perbankan perlu disikapi dengan meningkatkan
efisiensi.

Upaya

peningkatan

efisiensi

dapat

dilakukan

melalui

pengelolaan biaya secara efisien untuk menghasilkan peningkatan biaya


operasional yang minimal dan pengembangan sumber daya manusia.
2. Perusahaan sebaiknya memperhatikan tingkat efisiensi dan kualitas
penyaluran dana kredit kepada pihak ketiga (masyarakat) serta lebih
berhati-hati atau bertindak secara rasional dalam memberikan kredit
kepada nasabah ataupun sektor-sektor tertentu agar tidak mengalami
kerugian, misalnya kredit macet.
3. Penelitian ini masih mempunyai keterbatasan, diantaranya masih banyak
faktor

internal

yang

tidak

diikutsertakan

sebagai

variabel

independen/bebas, misalnya Net Interest Margin (NIM) dan suku bunga


kredit. Penelitian ini juga tidak memperhitungkan faktor eksternal,
sehingga

diharapkan

penelitian

selanjutnya

mampu

melengkapi

keterbatasan yang ada pada penelitian ini. Penelitian selanjutnya juga


sebaiknya menambah atau memperpanjang jumlah periode pengamatan
serta menggunakan metode analisis yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Faisal. 2005. Manajemen Perbankan: Teknik Analisis Kinerja
Keuangan Bank. Edisi Revisi. Malang: UMM Press.
Ali, Masyhud. 2006. Manajemen Risiko: Strategi Perbankan dan Dunia Usaha
Menghadapi Tantangan Globalisasi Bisnis. Edisi Pertama. Jakarta:
Rajawali Pers.
Brealey, Richard A., Steward C. Myers, dan Alan J. Marcus. 2008. Dasar-dasar
Manajemen Keuangan Perusahaan. Edisi Kelima, Jilid 1 dan 2. Jakarta:
Erlangga.
Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston. 2006. Dasar-Dasar Manajemen
Keuangan. Buku 1, Edisi Kesepuluh. Jakarta: Salemba Empat.
Dendawijaya, Lukman. 2005. Manajemen Perbankan. Edisi Kedua, Cetakan
Pertama. Bogor: Ghalia Indonesia.
Febryani, Anita dan Rahadian Zulfadin. 2003. Analisis Kinerja Bank Devisa dan
Bank Non Devisa di Indonesia, Kajian Ekonomi dan Keuangan, Vol. 7,
No. 4, hal. 38-54.
Ghozali, Imam. 2009. Ekonometrika: Teori, Konsep, dan Aplikasi SPSS 17.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Hadad, Muliaman D., Wimboh Santoso, dan Bambang Arianto. 2003. Indikator
Awal Krisis Perbankan, Research Paper Bank Indonesia.
Hariyani, Iswi. 2010. Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet. Cetakan
Pertama. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
Hasibuan, Malayu S.P. 2007. Dasar-dasar Perbankan. Cetakan Keenam. Jakarta:
Bumi Aksara
Hayat, Atma, 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap
Rentabilitas Perusahaan Perbankan yang Go-Public di Pasar Modal
Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, Manajemen, dan Akuntansi,
Vol. 7, No. 1, hal. 112-125.
Judisseno, Rimsky K. 2005. Sistem Moneter dan Perbankan Indonesia. Cetakan
Kedua. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Kasmir. 2007. Manajemen Perbankan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Kuncoro, Mudrajad. 2011. Survei Perkembangan Indikator Kerja, Jurnal


Megadigma, Vol. 4, No. 3, hal. 295-326.
Erlangga.

. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta:

Mawardi, Wisnu. 2005. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Keuangan Bank Umum di Indonesia (Studi Kasus Pada Bank Umum
Dengan Total Assets Kurang dari 1 Triliun), Jurnal Bisnis Strategi,
Vol. 14, No. 1, hal. 83-94.
Merkusiwati, Ni Ketut Lely Aryani. 2007. Evaluasi Pengaruh CAMEL Terhadap
Kinerja Perusahaan, Buletin Studi Ekonomi, Vol. 12, No. 1, hal. 100-108.
Mintarti, Sri. 2009. Implikasi Proses Take Over Bank Swasta Nasional Go
Public Terhadap Tingkat Kesehatan dan Kinerja Bank, Jurnal Keuangan
dan Perbankan, Vol. 13, No. 2, hal. 346-358.
Muljono, Teguh Pudjo. 2002. Aplikasi Akuntansi Manajemen Dalam Praktik
Perbankan. Edisi Ketiga, Cetakan Kedua. Yogyakarta: BPFE.
Nainggolan, Josep. 2004. Analisis Determinan Tingkat Kesehatan Dalam
Mempengaruhi Kinerja Bank Umum, Tesis. Program Pascasarjana
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Riyadi, Selamet. 2004. Banking Assets and Liability Management. Edisi kedua.
Jakarta: LPFE UI.
Siamat, Dahlan. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan; Kebijakan Moneter dan
Perbankan. Edisi Kelima. Jakarta: LPFE UI.
Simorangkir, O.P. 2004. Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank.
Cetakan Kedua. Ciawi: Ghalia Indonesia
Situmorang, Syafrizal Helmi, Iskandar Muda, Doli M. Jafar Dalimunthe, Fadli,
dan Fauzie Syarief. 2010. Analisis Data untuk Riset Manajemen dan
Bisnis. Cetakan Pertama. Medan: USU Press.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Kedelapan. Bandung: CV.
Alfabeta.
Tandelilin, Eduardus. 2010. Portofolio dan Investasi. Edisi Pertama. Yogyakarta:
Kanisius.

Umar, Husein. 2008. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Edisi
Kedua. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
www.bi.go.id, diakses pada tanggal 5 Agustus 2011, pukul 09.00 WIB.
www.idx.co.id, diakses pada tanggal 5 Agustus 2011, pukul 11.00 WIB.

LAMPIRAN
DAFTAR SAMPEL PENELITIAN
Kriteria
2

No.

Kode
Emiten

1.

AGRO

PT. Bank Agroniaga, Tbk

2.

BABP

PT. Bank ICB Bumiputera Indonesia, Tbk

3.

BBCA

PT. Bank Central Asia, Tbk

4.

BBKP

PT. Bank Bukopin, Tbk

5.

BBNP

PT. Bank Nusantara Parahyangan, Tbk

6.

BCIC

PT. Bank Mutiara, Tbk

7.

BDMN

PT. Bank Danamon, Tbk

8.

BKSW

PT. Bank Kesawan, Tbk

9.

BNBA

PT. Bank Bumi Arta, Tbk

10.

BNGA

PT. Bank CIMB Niaga, Tbk

11.

BNII

PT. Bank Internasional Indonesia, Tbk

12.

BNLI

PT. Bank Permata, Tbk

13.

BSWD

PT. Bank Swadesi, Tbk

14.

INPC

PT. Bank Artha Graha Internasional, Tbk

15.

MAYA

PT. Bank Mayapada Internasional, Tbk

16.

MEGA

PT. Bank Mega, Tbk

10

17.

NISP

PT. Bank OCBC NISP, Tbk

11

18.

PNBN

PT. Pan Indonesia, Tbk

12

19.

SDRA

PT. Bank Himpunan Saudara, Tbk

Nama Perusahaan

Sampel
1

RINGKASAN PERHITUNGAN ROA


Emiten

2010
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2009
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2008
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA

Laba Bersih
Rp Juta

Total Aktiva
Rp Juta

Return on Assets (ROA)


%

14.027
8.479.273
492.599
47.475
1.212
26.979
460.989
35.092
76.954
951.800
320.986
1.257.925

3.054.093
324.419.069
47.489.366
5.282.255
2.589.915
2.661.052
75.130.433
1.570.332
10.102.288
51.596.960
44.474.822
108.947.955

0.46
2.61
1.04
0.90
0.05
1.01
0.61
2.23
0.76
1.84
0.72
1.15

2.199
6.807.242
362.191
29.399
3.988
28.214
40.969
36.950
41.099
537.460
435.865
915.298

2.981.696
282.392.324
37.173.318
3.896.399
2.347.791
2.403.186
60.965.774
1.537.378
7.629.928
39.684.622
37.052.596
77.857.418

0.07
2.41
0.97
0.75
0.17
1.17
0.06
2.40
0.54
1.35
1.18
1.75

684
5.776.139
368.780
28.364
3.113
27.621
480.468
19.221
40.965

2.582.432
245.569.856
32.633.063
3.094.814
2.162.316
2.044.367
56.855.129
1.359.880
5.512.694

0.02
2.35
1.13
0.92
0.14
1.35
0.84
1.41
0.74

MEGA
NISP
PNBN
2007
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN

501.681

34.860.872

1.44

316.922

34.245.838

0.92

701.361

64.391.915

1.09

-6.309
4.489.252
375.126
31.849
6.258
20.802
352.828
8.486
40.744
520.719
250.084
852.252

2.972.757
218.005.008
34.446.177
3.772.838
2.184.493
1.950.256
55.015.693
1.167.744
4.474.878
34.907.728
28.969.069
53.470.645

-0.21
2.06
1.09
0.84
0.29
1.07
0.64
0.73
0.91
1.49
0.86
1.59

RINGKASAN PERHITUNGAN CAR


Emiten

2010
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2009
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP

Total Modal
Rp Juta

ATMR
Rp Juta

Capital Adequacy Ratio (CAR)


%

278.016
27.722.168
2.668.385
535.060
169.493
388.719
7.140.575
306.375
1.522.136
4.405.094
5.597.245
10.793.317

1.927.990
205.349.477
22.129.345
4.135.630
1.589.992
1.554.185
56.450.403
1.140.421
6.730.825
29.301.148
33.551.643
65.078.846

14.42
13.50
12.06
12.94
10.66
25.01
12.65
26.86
22.61
15.03
16.68
16.58

370.918
22.832.586
2.364.266
383.059

1.889.852
148.967.979
16.461.334
3.049.036

19.63
15.33
14.36
12.56

BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2008
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2007
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN

171.863
366.095
5.639.103
291.833
1.084.801
3.847.302
4.439.087
10.071.716

1.378.212
1.288.118
38.333.273
886.938
5.601.749
21.357.836
24.656.892
46.215.365

12.47
28.42
14.71
32.90
19.37
18.01
18.00
21.79

267.854
20.876.066
1.882.464
356.214
146.423
385.234
7.111.329
280.488
1.061.991
3.555.156
4.237.964
8.627.942

1.982.851
132.276.897
18.173.883
2.537.227
1.416.329
1.236.540
36.580.084
843.017
4.482.985
22.088.860
24.919.009
42.490.133

13.51
15.78
10.36
14.04
10.34
31.15
19.44
33.27
23.69
16.09
17.01
20.31

283.925
18.590.263
1.941.786
318.326
145.871
364.395
6.186.150
123.789
1.085.909
2.342.364
3.605.272
7.987.111

1.643.719
96.705.929
15.128.126
1.872.226
1.411.512
1.062.259
30.632.169
599.144
3.625.386
19.781.408
22.325.362
37.003.834

17.27
19.22
12.84
17.00
10.33
34.30
20.19
20.66
29.95
11.84
16.15
21.58

RINGKASAN PERHITUNGAN BOPO


Emiten

2010
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2009
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2008
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII

Total Biaya
Operasional
Rp Juta

Total Pendapatan
Operasional
Rp Juta

Biaya Operasional terhadap


Pendapatan Operasional
(BOPO)
%

310.200
17.295.667
3.574.815
391.003
224.248.908
207.031
7.728.203
118.414
966.089
3.697.957
3.007.086
6.472.952

372.482
28.020.102
4.351.776
454.366
244.209.106
248.796
8.495.301
176.463
1.072.377
4.766.334
3.813.453
9.545.713

83.28
61.73
82.15
86.05
91.83
83.21
90.97
67.10
90.09
77.58
78.85
67.81

328.339
16.504.416
3.591.270
363.439
216.983.916
185.700
7.768.428
115.472
876.134
3.793.324
3.018.471
5.973.038

359.592
27.417.056
4.125.348
407.731
230.838.733
230.224
7.805.458
167.724
933.799
4.417.740
3.864.492
8.325.737

91.31
60.20
87.05
89.14
94.00
80.66
99.52
68.85
93.82
85.87
78.11
71.74

363.187
13.770.693
3.021.709
296.738
226.237.343
175.894
6.815.904

364.227
23.179.233
3.670.163
336.962
220.410.272
219.993
7.211.215

99.71
59.41
82.33
88.06
102.64
79.95
94.52

BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2007
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN

99.949
580.192
3.151.594
2.804.508
5.020.809

133.259
640.189
3.980.632
3.256.600
6.597.742

75.00
90.63
79.17
86.12
76.10

352.225
12.632.227
2.907.940
305.640
233.295.244
158.643
6.430.806
98.433
450.072
2.742.542
2.609.552
3.417.306

348.859
19.173.564
3.477.706
352.021
245.257.589
190.518
6.678.540
108.552
508.777
3.588.965
2.958.899
4.949.601

100.96
65.88
83.62
86.82
95.12
83.27
96.29
90.68
88.46
76.42
88.19
69.04

RINGKASAN PERHITUNGAN LDR


Emiten

2010
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2009
AGRO
BBCA

Total Kredit
Rp Juta

Total Dana Pihak Ketiga


Rp Juta

Loan to Deposit Ratio (LDR)


%

2.069.027
153.923.157
30.173.015
3.657.670
1.699.757
1.170.144
50.181.865
1.071.642
6.110.988
23.891.435
27.956.914
57.246.019

2.386.868
277.530.635
41.377.255
4.544.401
2.372.318
2.159.542
59.901.960
1.226.475
7.796.431
42.083.813
35.862.518
75.279.720

86.68
55.46
72.92
80.49
71.65
54.18
83.77
87.38
78.38
56.77
77.96
76.04

1.993.630
123.901.269

2.454.297
245.139.946

81.23
50.54

BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2008
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2007
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN

24.603.676
2.562.722
1.433.046
974.639
37.370.282
981.357
5.060.228
18.639.422
21.886.527
41.121.422

31.915.503
3.473.107
2.139.959
1.927.093
47.341.248
1.210.111
6.040.576
32.803.732
30.216.044
56.234.487

77.09
73.79
66.97
50.58
78.94
81.10
83.77
56.82
72.43
73.12

2.048.062
112.784.336
23.042.022
2.178.610
1.487.312
949.031
35.245.255
875.830
3.980.788
19.000.214
20.809.545
36.526.583

2.163.332
209.528.921
27.521.206
3.294.753
1.992.060
1.585.452
43.525.226
1.053.812
3.971.875
29.381.005
27.123.471
46.043.679

94.67
53.83
83.72
66.12
74.66
59.86
80.98
83.11
102.22
64.67
76.72
79.33

1.956.450
82.388.633
19.147.918
1.659.351
1.309.789
794.234
28.492.551
621.434
3.068.060
14.037.263
19.113.922
28.972.661

2.537.445
189.172.191
29.291.878
3.359.595
1.913.192
1.527.537
36.971.060
999.724
2.953.339
30.030.996
21.439.660
31.321.133

77.10
43.55
65.37
49.39
68.46
51.99
77.07
62.16
103.88
46.74
89.15
92.50

RINGKASAN PERHITUNGAN NPL Net


TOTAL

Non Performing Loan

(1) - (2)

KREDIT

Netto (NPL Net)

Rp Juta

Rp Juta

142.872
620.142
220.662
1.435
2.897
4.936
679.059
601.016
9.974
76.830
37.036
938.156

37.983
372.785
759.603
23.049
32.446
21.436
893.237
28.117
122.839
176.797
230.098
1.490.713

2.069.027
153.923.157
30.173.015
3.657.670
1.699.757
1.170.144
50.181.865
1.071.642
6.110.988
23.891.435
27.956.914
57.246.019

1.84
0.24
2.52
0.63
1.91
1.83
1.78
2.62
2.01
0.74
0.82
2.60

148.597
903.058
700.495
46.790
81.634
20.943
885.492
17.863
48.725
317.811
694.048
1.298.531

59.550
745.721
115.479
384
4.449
4.325
301.485
3.91
24.124
127.689
388.968
638.625

89.047
157.337
585.016
46.406
1.499.057
77.185
584.007
16.618
13.953
24.601
305.08
659.906

1.993.630
123.901.269
24.603.676
2.562.722
1.433.046
974.639
37.370.282
981.357
5.060.228
18.639.422
21.886.527
41.121.422

4.47
0.13
2.38
1.81
5.39
1.71
1.56
1.42
0.49
1.02
1.39
1.60

125.856
674.769
1.116.760
27.046
60.624
18.265
947.280
18.894

52.307
519.688
167.007
2.743
4.967
4.452
404.224
4.558

73.549
155.081
949.753
24.303
55.567
13.813
543.056
14.336

2.048.062
112.784.336
23.042.022
2.178.610
1.487.312
949.031
35.245.225
875.830

3.59
0.14
4.12
1.12
3.74
1.46
1.54
1.64

TOTAL KREDIT

TOTAL PPAP

EMITEN

BERMASALAH

KOL. 3 s.d. 5

2010

Rp Juta (1)

Rp Juta (2)

AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2009
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2008
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD

180.855
992.927
980.265
24.484
35.343
26.372
1.572.296
38.091
199.669
213.833
559.763
2.428.869

MAYA
MEGA
NISP
PNBN
2007
AGRO
BBCA
BBKP
BBNP
BKSW
BNBA
BNII
BSWD
MAYA
MEGA
NISP
PNBN

112.619
224.978
566.624
1.585.150

30.286
74.128
203.302
800.931

82.333
150.850
363.322
784.219

3.980.788
19.000.214
20.809.545
36.526.583

2.07
0.79
1.75
2.15

127.894
669.697
683.551
31.330
89.183
18.008
891.739
11.104
14.597
214.459
483.040
886.383

44.211
553.519
206.995
6.772
6.287
3.883
225.311
2.650
4.267
66.481
77.778
375.100

83.683
116.178
476.556
24.558
82.896
14.125
666.428
8.454
10.330
147.978
405.262
511.283

1.956.450
82.388.633
19.147.918
1.659.351
1.309.789
794.234
28.492.551
621.434
3.068.060
14.037.263
19.113.922
28.972.661

4.28
0.14
2.49
1.48
6.33
1.78
2.34
1.36
0.34
1.05
2.12
1.76

HASIL PENGOLAHAN DATA DENGAN


SOFTWARE SPSS FOR WINDOWS
Analisis Deskriptif
Descriptive Statistics
N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

ROA

48

-.21

2.61

1.0398

.68018

CAR

48

10.33

34.30

18.3931

6.42918

BOPO

48

59.41

102.64

83.3190

10.90585

LDR

48

43.55

103.88

72.4023

14.47239

NPL Net

48

.13

6.33

1.9269

1.33028

Valid N (listwise)

48

Analisis Regresi Linear Berganda


b

Variables Entered/Removed
Variables
Variables
Entered
Removed
Method
NPL Net, CAR,
. Enter
a
LDR, BOPO

Model
1
dim
ensi
on0

a. All requested variables entered.


b. Dependent Variable: ROA
Model Summary
Model
R
dim
ensi
on0

.928

R Square
.861

Adjusted R
Std. Error of the
Square
Estimate
.848
.26526

a. Predictors: (Constant), NPL Net, CAR, LDR, BOPO


b

ANOVA
Model
1

Sum of Squares
Regression
Residual
Total

df

Mean Square

18.719

4.680

3.026

43

.070

21.744

47

a. Predictors: (Constant), NPL Net, CAR, LDR, BOPO


b. Dependent Variable: ROA

F
66.508

Sig.
.000

Coefficients
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Std. Error
5.429

.368

.008

.006

BOPO

-.050

LDR
NPL Net

CAR

a. Dependent Variable: ROA

Uji Normalitas

Coefficients
Beta

Sig.

14.735

.000

.077

1.274

.210

.004

-.801

-11.582

.000

-.003

.003

-.070

-1.129

.265

-.071

.034

-.139

-2.074

.044

Uji Kolmogorov-Smirnov (KS)


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N
Normal Parameters

48
a,b

Mean
Std. Deviation

Most Extreme Differences

.0000000
.25372143

Absolute

.115

Positive

.068

Negative

-.115

Kolmogorov-Smirnov Z

.797

Asymp. Sig. (2-tailed)

.549

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Uji Heteroskedastisitas

Uji Glejser
Coefficients
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Std. Error
.423

.227

CAR

-.001

.004

BOPO

-.005

LDR
NPL Net
a. Dependent Variable: absut

Coefficients
Beta

Sig.

1.863

.069

-.023

-.147

.884

.003

-.340

-1.937

.059

.002

.002

.183

1.160

.252

.029

.021

.236

1.388

.172

Uji Multikolinearitas

Coefficients
Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Std. Error
5.429

.368

.008

.006

BOPO

-.050

LDR
NPL Net

CAR

Coefficients

Collinearity Statistics

Beta

Sig.

Tolerance

VIF

14.735

.000

.077

1.274

.210

.891

1.123

.004

-.801

-11.582

.000

.676

1.479

-.003

.003

-.070

-1.129

.265

.838

1.193

-.071

.034

-.139

-2.074

.044

.721

1.387

a. Dependent Variable: ROA

Coefficient Correlations
Model
1

NPL Net
Correlations

Covariances

NPL Net

CAR

LDR

BOPO

1.000

.169

-.135

-.407

CAR

.169

1.000

-.188

.184

LDR

-.135

-.188

1.000

-.286

BOPO

-.407

.184

-.286

1.000

.001

3.682E-5

-1.353E-5

-6.011E-5

CAR

3.682E-5

4.066E-5

-3.505E-6

5.050E-6

LDR

-1.353E-5

-3.505E-6

8.525E-6

-3.597E-6

BOPO

-6.011E-5

5.050E-6

-3.597E-6

1.861E-5

NPL Net

a. Dependent Variable: ROA

Collinearity Diagnostics
Model

Dimension

Eigenvalue Condition Index (Constant)


1
1
4.614
1.000
.00
2
.290
3.991
.00
3
.068
8.210
.01
4
.022
14.414
.08
5
.006
27.630
.90
a. Dependent Variable: ROA
dim
ensi
on0

din1

Variance Proportions
CAR
BOPO
LDR
NPL Net
.00
.00
.00
.01
.07
.00
.00
.59
.81
.02
.05
.29
.00
.08
.94
.00
.11
.90
.00
.12

Uji Autokolerasi
Uji Breusch-Godfrey (BG)
Coefficients

Model

Standardized
Unstandardized Coefficients
B

(Constant)

Coefficients

Std. Error
.012

.375

-.002

.006

BOPO

.000

LDR

Beta

Sig.
.031

.975

-.043

-.260

.796

.004

-.021

-.109

.914

.001

.003

.063

.365

.717

NPL Net

-.004

.035

-.020

-.105

.916

Auto

-.005

.160

-.005

-.031

.976

CAR

a. Dependent Variable: Unstandardized Residual

Uji Durbin-Watson (DW)


b

Model Summary
Model
R
dime
nsio
n0

.928

R Square Adjusted R Square


.861
.848

a. Predictors: (Constant), NPL Net, CAR, LDR, BOPO


b. Dependent Variable: ROA

Std. Error of the


Estimate
Durbin-Watson
.26526
1.912

Residuals Statistics
Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

Predicted Value

-.1273

2.4014

1.0398

.63109

48

Std. Predicted Value

-1.849

2.158

.000

1.000

48

.044

.143

.082

.023

48

-.1606

2.4104

1.0380

.63115

48

-.59021

.51207

.00000

.25372

48

Std. Residual

-2.225

1.930

.000

.957

48

Stud. Residual

-2.374

2.110

.003

1.010

48

-.67191

.61173

.00183

.28364

48

-2.517

2.202

-.001

1.038

48

Mahal. Distance

.290

12.610

3.917

2.773

48

Cook's Distance

.000

.173

.024

.039

48

Centered Leverage Value

.006

.268

.083

.059

48

Standard Error of Predicted


Value
Adjusted Predicted Value
Residual

Deleted Residual
Stud. Deleted Residual

a. Dependent Variable: ROA