Anda di halaman 1dari 10

PROFIL

GELARAN: Ibnu Khaldun.


TARIKH LAHIR: 732 Hijrah bersamaan 1332 Masihi.
TEMPAT LAHIR: Tunisia.
MENINGGAL DUNIA: 808 Hijrah bersamaan 1406 Masihi
Nama lengkap Ibnu Khaldun adalah Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun
al-Hadrami ( ) adalah seorang sejarawan muslim dari
Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi.
Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan).
Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. Ia dikenal hafal
Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi
Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh
telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823)
mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisantulisannya sudah menyebar ke mana-mana.

Menuntut ilmu
Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir,
hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika
dan matematika.
Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam,
pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan
yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes, Granada, dan Afrika Utara serta pernah
menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah.
Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini.
Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya.
Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H.
yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun
berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan
sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim
Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga
dijebloskan ke dalam penjara.

Penelitian dan penulisan


Setelah keluar dari penjara, Ibnu Khaldun berkonsentrasi pada bidang penelitian dan
penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya.
Seperti kitab al-ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di
dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-Ibar wa Diwanul Mubtada awil Khabar fi
Ayyamil Arab wal Ajam wal Barbar wa Man Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.
Kitab al-ibar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863,
dengan judul Les Prolegomenes dIbn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah
27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun
dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog German dan Austria yang memberikan
pencerahan bagi para sosiolog modern.

Hasil karya
At-Tariif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya)
Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan
filosofis)
Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-

pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin
wa al-Mutaakh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).

Pengakuan
DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen, Scotland dalam
artikelnya The Islamic Review & Arabic Affairs di tahun 1970-an mengomentari tentang
karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan, Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu
Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat,
terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis karya-karyanya dalam
bahasa Inggris). Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah
(pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji
hingga saat ini.
Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun
menganalisis apa yang disebut dengan gejala-gejala sosial dengan metoda-metodanya yang
masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala
sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang
membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem
pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.
Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara
berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis
terhadap gejala-gejala ini. Bab ke empat dan ke
lima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara.
Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alatalatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap
menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah
menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.
Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung
pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan
negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang
ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju
ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunanbangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal
maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi
kelemahannya.
Pemikiran-pemikirannya Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan
politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu
Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai
Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana

dikatakan olehnya, Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang
diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat
meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan
sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain.
Ibnu Khaldun wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal 25
Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M
Ibn Khladun adalah perkecualian dari dunia pemikiran Arab. Di saat dunia pemikiran Arab
mengalami kemandegan, Ibn Khaldun justru muncul dengan pemikirannya yang cemerlang.
Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abu Zaid Abd-Ar-Rahman Ibn Khaldun (1332-1406),
seorang sejarawan besar Islam pada abad pertengahan. Khaldun lahir pada 27 Mei 1332 di
Tunis (sekarang Tunisia). Keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut dan masih memiliki
keturunan dengan Wail Bin Hajar, salah seorang sahabat Nabi SAW.

Khaldun yang terlahir dari keluarga Arab-Spanyol sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan
intelektual dan politik. Ayahnya, Muhammad Bin Muhammad seorang mantan perwira
militer yang gemar mempelajari ilmu hukum, teologi, dan sastra. Bahkan di usia 17, Khaldun
telah menguasai ilmu Islam klasik termasuk ulum, aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, dan
metafisika). Tunisia ketika itu merupakan pusat para ulama dan sastrawan yang
memungkinkan Ibn Khaldun muda banyak belajar dari mereka.
Selain menggemari dunia pengetahuan, Ibn Khaldun juga terlibat dalam dunia politik. Ia
pernah menjabat Shabib alAllamah (penyimpan tanda tangan) pada pemerintahan Abu
Muhammad ibn Tafrakin di Tunis. Ketika ia menduduki jabatan tersebut usianya baru
menginjak 20 tahun. Situasi politik yang tidak menentu membuat Ibn Khaldun berpindahpindah pekerjaan. Situasi politik tersebut juga mempengaruhi karir hidupnya. Ketika ia
menjabat sebagai sekretaris Kesultanan di Fez maroko, ia menerima tudingan Abu Inan
sebagai komplotan politik yang hendak menyerang Sultan. Khaldun akhirnya masuk penjara
selama 21 bulan gara-gara tudingan tersebut.
Ibn Khaldun pernah diadili di tempat yang sekarang disebut Tunisia, Algeria, Maroko, dan di
Granada, Spanyol dan telah dua kali dipenjara. Pada 1375 dia diasingkan di dekat Frenda,
Algeria, empat tahun untuk menyelesaikan karya monumentalnya, al-Mukaddimah. Isi
pengantarnya Kitab al-Ibar (Sejarah Universal). Pada 1382, di kota suci Mekkah, dia ditawari

oleh Sultan kairo untuk menjadi rektor di universitas Islam terkemuka, Universitas Al Azhar,
dia juga ditunjuk sebagai hakim (qadi) Syekh Maliki Islam. Pada 1400 dia menemani
pengganti sultan ke Damaskus dalam ekspedisi menahan serangan invasi Turki, Tamerlane
(Timur Lenk). Ibn Khaldun menghabiskan beberapa minggu sebagai tamu agung Tamerlene
sebelum kembali ke Cairo, di sana ia meninggal pada 17 Maret 1406.
Kitab al-Ibar adalah sebuah panduan berharga bagi sejarah Muslim Afrika Utara. Namun
demikian, keenam jilid lain pamornya kalah dengan Muqaddimah. Di dalamnya, Ibn Khaldun
menggarisbawahi sejarah dan ilmu sosial bahwa ada kesinambungan antara abad kuno dan
pertengahan dan sangat mencerminkan sosiologi modern. Masyarakat, ia percaya, disatukan
oleh kekuatan kesatuan sosial yang dapat ditingkatkan oleh kesatuan beragama. Perubahan
sosial dan dinamika masyarakat mengikuti hukum empiris ditemukan dan merefeleksikan
aktivitas dan iklim ekonomi yang sejalan dengan realitas.
Sejarawan Arab yang hidup pada abad 14 ini telah memulai penulisan yang berkenaan
dengan antopologi. Khaldun melakukan studi penting tentang faktor sosiologi, psikologi, dan
faktor ekonomi yang berpengaruh terhadap pembangunan, perkembangan, dan jatuhnya
peradaban. Baik Khaldun maupun Herodotus menghasilkan keilmunamn yang obyektif,
analitik, penggambaran etnografi keragaman kebudayaan di dunia Mediteranian, tetapi
mereka juga terkadang menggunakan informasi dari sumber kedua.
Selama abad pertengahan (abad 5- 15) ahli injil mendominasi pemikiran Eropa. Para pemikir
Eropa masih berkutat pada pencarian hakikat manusia, yakni sekitar pertanyaan asal manusia
dan perkembangan kultural. Mereka menjawab pertanyaan ini dengan jawaban masalah
kepercayaan religius dan mengajukan ide bahwa keberadaan manusia dan semua perbedaan
manusia adalah ciptaan Tuhan. Jawaban tersebut sangat teologis meskipun sudah ada
keterbukaan berpikkir dibandingkan dengan masa gelap Eropa. Sebagaimana diketahui
pemikiran teologi Gereja mendominasi Eropa abad gelap.
Sisi lain yang mempengaruhi pemikiran Eropa adalah buah eksplorasi mereka ke dunia
Timur. Mulai akhi abad 14, penjelajah Eropa mencari kekayaan di tanah baru yang
memberikan gambaran gambling tentang kebudayaan eksotis yang mereka temui pada
perjalanan mereka di Asia, Afrika, dan tanah yang kita sebut sebagai Amerika. Tetapi
penjelajah-penjelajah ini tidak memahami bahasa-bahasa di mana mereka datang dan mereka
membuat penelitian singkat dan sistematis.

Pada abad 14 Ibn Khaldun menulis sejarah universal yang mengungkapkan secara luar biasa
luas mengenai kemampuan pembelajaran dan kemampuan yang tidak biasa dari Ibn Khaldun
yang menyusun teori umum untuk perhitungan perkembangan politik dan social sosial selama
berabad-abad. Dia adalah seorang sejarawan muslim satu-satunya yang menyarankan alasan
sosial dan ekonomi bagi perubahan sejarah, meskipun dibaca dan dikopi pekerjaannya, tetap
tak mengahasilkan pengaruh yang efektif hingga mendorong pemikiran Barat yang baru
diperkenalkan pada abad 19.
Hampir semua kerangka konsep pemikiran Ibnu Khaldun tertuang dalam al-muqadddimah.
Al-muqaddimah merupakan pengantar dalam karya monumentalnya al-Ibar wa Diwan alMubtada al-Khabar fi Ayyami al-Arab wa al-Ajam wa al-barbar wa Man Asarahum min
Dzawi as-Sultan al-Akbar (Kitab Contoh-contoh Rekaman tentang Asal-usul dan Peristiwa
Hari-hari Arab, Persi, Berber, dan Orang-orang yang Sezaman dengan Mereka yang Memiliki
Kekuasaan Besar) atau biasa orang menyebut, al-Ibar.
Di al-muqaddimah tersebut, Khaldun menerangkan bahwa sejarah adalah catatan tentang
masyarakat manusia atau perdaban dunia, tentang perubahan-perubahan yang terjadi, perihal
watak manusia, seperti keliaran, keramahtamahan, solidaritas golongan, tentang revolusi, dan
pemberontakan-pemberontakan suatu kelompok kepada kepada kelompok lain yang berakibat
pada munculnya kerajaan-kerajaan dan negara-negara dengan tingkat yang bermacammacam, tentang pelbagai kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk memenuhi kebutuhan
hidup maupun kegiatan mereka dalam ilmu pengetahuan dan industri, serta segala perubahan
yang terjadi di masyarakat.
Hal ini sejalan dengan pengertian Sejarah Universal (atau dunia) yang menginginkan
pemahaman atas keseluruhan pengalaman kehidupan masa lampau manusia secara total untuk
melihatnya pesan-pesan perbedaan pada pesan yang berguna bagi masa depan. Dua masalah
yang mendominasi penulisan sejarah universal, pertama ketersediaan kuantitas bahan dan
keberagaman bahasa di mana di dalamnya tertulis mengimplikasikan bahwa sejarah universal
mengambil bentuk kerja kolektif atau menjadi sejarah tangan kedua. Kedua, prinsip dari
seleksi yang dihubungkan dengan pemilihan studi untuk membentuk taksonomi sejarah yang
sesuai. Unit-unit tersebut secara geografis (misal benua), periode, tahap perkembangan atau
struktur, peristiwa penting, saling berhubungan (misalnya komunikasi, perjuangan bagi
kekuatan dunia, atau perkembangan sistem ekonomi dunia), peradaban atau kebudayaan,
kekaisaran dan negara bangsa, atau komunitas terpilih. Sejarah universal telah ditulis
terutama oleh sejarawan Barat atau sejarawan dari Asia Barat termasuk Ibnu Khaldun.

Khaldun bahkan memerinci bahwa ekonomi, alam, dan agama merupakan faktor yang
memengaruhi perkembangan sejarah. Meski punya pengaruh, faktor ekonomi, alam dan
agama bagi Khaldun bukan satu-satunya faktor yang menentukan gerak sejarah. Ia
mengatakan bahwa:
"Keadaan alam, bangsa-bangsa, adat istiadat, dan agama tidak selalu berada dalam alur yang
sama. Semua berbeda sesuai dengan perbedaan hari, masa, dan perlahian dari suatu keadaan
ke keadaan lain. Perbedaan itu berlaku pada individu-individu, waktu, dan kota seperti halnya
berlaku pada seluruh kota, masa dan negara.
Salah satu sumber kesalahan dalam penulisan sejarah adalah pengabaian terhadap perubahan
yang terjadi pada zaman dan manusia sesuai dengan berjalannya masa dan perubahan waktu.
Perubahan-perubahan tersebut terjadi dalam bentuk yang tidak kentara, lama baru dapat
dirasakan, sehingga sukar dilihat dan diketahui beberapa orang saja."
Pendek kata, bagi Khaldun, ekonomi, alam, dan agama merupakan kesatuan yang
memengaruhi gerak sejarah.
Teori siklus gerak sejarah sebagaimana yang dia pikirkan didasarkan pada adanya kesamaan
sebagian masyarakat satu dengan masyarakat yang lain. Teori ini sebenarnya merupakan
tafsir atas pemikiran Khladun, Khladun sendiri sebenarnya tidak menyampaikannya secara
eksplisit. Satu hal yang disampaikan Khaldun secara eksplisit adalah pemikirannya tentang
sejarah kritis. Menurut Khaldun:
"Apabila demikian halnya, maka aturan untuk membedakan kebenaran dari kebatilan yang
terdapat

dalam

informasi

sejarah

adalah

diasarkan

kemungkiknan

atau

ketidakmungkinan...Apabila kita telah melakukan hal demikian, makia kita telah memiliki
aturan yang dapat dipergunakan untuk membedakan anatara kebenaran dan kebatilan dan
kejujuran dari kebohongan dalam informasi sejarah dengan cara yang logis...selanjutnya
apabila kita mendengar tentang suatu peristiwa sejarah yang terjadi dalam peradaban, maka
kita harus mengetahui apa yang patut diterima akal dan apa yang merupakan kepalsuan. Hal
ini merupakan ukuran yang tepat bagi kita, yang dapat dipergunakan oleh para sejarawan
untuk menemukan jalan kejujuran dan kebenaran dalam menukilkan peristiwa sejarah."

Pemikiran Khaldun tentang sejarah kritis ini merupakan satu pemikiran yang melandasi
pemikiran modern orang Eropa tentang sejarah pada periode selanjutnya. Bagaimanapun Jean
Bodin (1530-1596), Jean Mabilon (1632-1707), Betrhold Georg Niebur (1776-1831), hingga
Leopald van Ranke (1795-1886), membaca atau tidak al-Muqadimmah, pemikirannya sejalan
dengan Ibnu Khladun. Dari sini kita bisa tahu bahwa Ibnu Khaldun adalah perkecualian. Ia
bukan saja pemikir yang selalu berpikir tentang hal-hal yang abstrak melainkan pemikirannya
berasal dari tanah tempat di mana dia berpijak. Memahami pemikiran Ibnu Khaldun sama
halnya memahami pemikiran seorang Islam yang berani mengkritik bangsanya. Terutama
sekali pemikiran seorang yang sangat rasionalis namun tidak kehilangan rasa dan keimannya
pada Allah SWT.
Pemikiran Ibnu Khaldun rintis ilmu sosiologi moden

IBNU Khaldun mencetus pemikiran baru apabila menyatakan sistem sosial manusia berubah
mengikut kemampuannya berfikir, keadaan muka bumi persekitaran mereka, pengaruh iklim,
makanan, emosi serta jiwa manusia itu sendiri.

Beliau juga berpendapat institusi masyarakat berkembang mengikut tahapnya dengan tertib
bermula dengan tahap primitif, pemilikan, diikuti tahap peradaban dan kemakmuran sebelum
tahap kemunduran.
Pandangan Ibnu Khaldun dikagumi tokoh sejarah berketurunan Yahudi, Prof Emeritus Dr
Bernerd Lewis yang menyifatkan tokoh ilmuwan itu sebagai ahli sejarah Arab yang hebat
pada zaman pertengahan.
Felo Amat Utama Akademik Institut Antarabangsa Pemikiran dan Ketamadunan (Istac),
Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Muhammad Uthman El-Muhammady pula
melihat pendekatan Ibnu Khaldun secara sejagat.
Dilahirkan di Tunisia, keluarga Ibnu Khaldun sebenarnya berasal dari wilayah Seville,
Sepanyol, ketika dalam pemerintahan Islam.

Ketika zaman kanak-kanak, beliau mempelajari al-Quran daripada orang tuanya sebelum
melanjutkan pengajian ke peringkat tinggi sambil dibantu sejarawan dan ulama Tunisia serta
Sepanyol.
Pada 1375, beliau berhijrah ke Granada, Sepanyol kerana mahu melarikan diri daripada
kerajaan di Afrika Utara.
Bagaimanapun, keadaan politik Granada tidak stabil, lantas mendorong beliau untuk
merantau ke Aljazair (bahagian utara Semenanjung Tanah Arab). Di sini, beliau tinggal di
kampung kecil iaitu Qalat Ibnu Salama.
Di situ juga beliau menghasilkan beberapa karya terkenal termasuk al Ibar Wa Diwan alMubtad Wa al-Khabar. Kitab ini mengandungi enam jilid dan paling terkenal, kitab
Mukaddimah.
Sehingga kini kitab itu menjadi rujukan umat Islam, khususnya dalam ilmu kajian sosial,
politik, falsafah dan sejarah.
Kitab Mukaddimah menghuraikan beberapa peristiwa dalam kehidupan masyarakat, proses
pembentukan negara, faktor kemajuan serta kemunduran, selain menerangkan beberapa
perkara yang berkaitan bidang perniagaan, perindustrian dan pertanian.
Karya Ibnu Khaldun yang menakjubkan itu membolehkan beliau digelar sebagai
Prolegomena atau pengenalan kepada pelbagai ilmu perkembangan kehidupan manusia di
kalangan ilmuwan Barat.
Dalam pada itu, Ibnu Khaldun mengutarakan pandangannya bagi memperbaiki kesilapan
dalam kehidupan menjadikan karya beliau seumpama ensiklopedia yang mengisahkan
pelbagai perkara dalam kehidupan sosial manusia.
Kajian yang dilakukan Ibnu Khaldun bukan hanya mencakupi kisah kehidupan masyarakat
ketika itu, malah merangkumi sejarah umat terdahulu.
Selain sebagai ilmuwan dalam bidang sosial, Ibnu Khaldun, mampu mentadbir dengan baik
apabila dilantik sebagai kadi ketika menetap di Mesir.

Kebijaksanaannya mendorong Sultan Burquq iaitu Sultan Mesir ketika itu memberi gelaran
Waliyuddin kepada Ibnu Khaldun.
Ibnu Khaldun juga memajukan konsep ekonomi, perdagangan, kebebasan dan terkenal kerana
hasil kerjanya dalam bidang sosiologi, astronomi, numerologi, kimia serta sejarah.
Beliau membangunkan idea bahawa tugas kerajaan hanya terhad kepada mempertahankan
rakyatnya daripada keganasan, melindungi harta persendirian, menghalang penipuan dalam
perdagangan dan menguruskan penghasilan wang.
Pemerintah juga melaksanakan kepemimpinan politik bijaksana dengan perpaduan sosial dan
kuasa tanpa paksaan.
Dari segi ekonomi, Ibn Khaldun memajukan teori nilai dan hubung kaitnya dengan tenaga
buruh, memperkenalkan pembahagian tenaga kerja, menyokong pasaran terbuka, menyedari
kesan dinamik permintaan dan bekalan ke atas harga dan keuntungan.
Beliau turut menyokong perdagangan bebas dengan orang asing, dan percaya kepada
kebebasan memilih bagi membenarkan rakyat bekerja keras untuk diri mereka sendiri.
Wacana atau pemikiran Ibnu Khaldun turut diterjemah ke dalam kehidupan masyarakat
moden yang mahu mengimbangi pembangunan fizikal dan spiritual seperti Malaysia yang
sedang menuju status negara maju.
Secara teorinya, ilmu itu dikaitkan dengan soal manusia dalam masyarakat dan ahli sosiologi
berharap ilmu berkenan dapat menjalinkan perpaduan serta membentuk penawar kepada
krisis moral yang dihadapi masyarakat hari ini.
Istilah sosiologi walaupun dicipta tokoh kelahiran Perancis abad ke-19, Aguste Comte, kajian
mengenai kehidupan sosial manusia sudah dihurai oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya
Muqaddimah, 500 tahun lebih awal, pada usianya 36 tahun.