Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN ANTARA

Feasibility Study Bendungan Girian

BAB IV
SURVEY PENGUKURAN TOPOGRAFI
BAB 4. SURVEY PENGUKURAN TOPOGRAFI

4.1. Survei Pengukuran Topografi Dan Pemetaan


4.1.1. Uraian Umum
Survei pengukuran topografi dimaksudkan untuk memperoleh data primer mengenai
gambaran kondisi fisik topografi terbaru (2016) Sungai Kuala Girian yang dimulai dari
awal titik di rencana as Bendungan Alternatif 1 (hulu jembatan Desa Apela 1) menuju
ke arah hilir kurang lebih 4,00 km dan ke arah hilir mengikuti alur sungai Kuala
Girian sampai ke rencana As Bendungan Girian Alternatif 3 (wilayah Desa Apela).
Survei pengukuran topografi di lapangan terdiri dari :
1.

Pengukuran topografi dan pemetaan situasi Sungai Kuala khususnya untuk


mengetahui luas genangan rencana Bendungan ditinjau dari 3 (tiga) titik
alternatif di sepanjang lingkup pengukuran.

2.

Pengukuran potongan memanjang & melintang sungai sampai elevasi genangan


yang dimungkinkan dari rencana site/as rencana Bendungan Girian.

3.

Pemasangan patok BM dan CP.

4.1.2. Pengukuran Topografi dan Pemetaan Situasi


Dimaksudkan untuk memperoleh gambaran kondisi fisik topografi situasi yang
lengkap dan jelas sesuai dengan kondisi lapangan yang sebenarnya melalui
pengukuran teristris dengan bantuan peta rupa bumi dengan skala 1 : 50.000.
Pengukuran topografi dan pemetaan situasi skala 1 : 2.000 dengan uraian pekerjaan
sebagai berikut :
1.

Inventarisasi patok Bench Mark (BM) yang ada (eksisting) di lokasi sebagai titik
ikat awal (acuan) serta pemasangan benchmark (BM) dan control point (CP).

2.

Pengukuran dan penggambaran potongan memanjang dan melintang sungai


setiap interval 100 meter pada kondisi sungai lurus dan interval 25-50 meter
atau secukupnya pada kondisi belokan sungai. Untuk bantaran sungai (luas
tampungan waduk) diambil dengan jarak melintang 200-300 meter sebelah kiri
dan kanan dari tebing sungai/menyesuaikan kondisi topografi yang ada (sesuai
ketinggian elevasi rencana genangan yang direncanakan).

3.

Hasil pengukuran topografi dipetakan pada peta situasi dengan skala 1:2.000
serta potongan memanjang skala horizontal 1:2.000 dan skala vertikal 1:200,
potongan memanjang dan melintang dengan skala 1:200 sepanjang 4,00 km

Bab 1

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

dimulai dari awal (hulu) di hulu Jembatan Desa Apela ke hilir di Kecamatan
Ranuwulu dan Matuari

Lingkup Pekerjaan Pengukuran


Topografi Rencana Bendungan
Girian sepanjang 4,00 km

Alternati
f1
Alternati
f2

Desa Apela
1

Alternati
f3

Gambar 4.1 Lingkup Survey Pengukuran Topografi

4.1.3. Pelaksanaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan


1.

Titik Referensi
Pada lokasi wilayah rencana Bendungan Girian digunakan referensi ketinggian
kontrol benchmark (BM) yang dekat dengan lokasi awal pengukuran yaitu

Bab 2

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

menggunakan TTG (Tanda Tinggi Geodesi) dengan nomor TTG.481 yang


terletak di Desa Apela 1 (Rumah Bapak Kepala Desa Apela), sehingga diambil
titik referensi awal mengacu pada titik ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
deskripsi sebagai berikut :

Bab 3

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

Untuk referensi awal pengukuran yang digunakan adalah TTG.481 yang merupakan
Jaring Kontrol Vertikal Nasional yang terdekat yang berada di sekitar lokasi studi,
dengan referensi sebagai berikut :
Titik Referensi Koordinat
No

Nama BM

TTG. 0481
Kelurahan Apela
Kec. Bitung
Utara
Kab. Kodya
Bitung
Jenis TTG :PT 1
Nomor Jalur 02

Koordinat
Lintang

Bujur

Z = Tinggi

1.4796 derajat

125.0965 derajat

261.277 meter

Posisi Horizontal didapat dari hasil


interpolasi peta joint Operations Graphic
(JOG). Manado 1:250.000

Standard deviasi
tinggi 8 Milimeter

Rata rata datum muka air laut rata-rata


di stasiun pasut Bitung
TTG.0481 di pasang dihalaman rumah
Kep.. Desa Apela Sebelah kiri jalan arah
girian 3.2 Km dari TTG - 0480

Sumber : Badan Informasi Geospasial (BIG)

2.

Pelaksanaan Survey Topografi

Pelaksanaan kegiata survey topografi untuk pekerjaan Feasibility Studi Bendungan


Girian di Sulawesi Utara ini meliputi kegiatan sebagai berikut (sesuai KAK) :
A. Pengukuran Situasi Skala 1 : 2.000
o Maksud Pekerjaan
Membuat Peta Tofografi (Peta Teknis) dengan skala 1 : 2000 daerah rencana
genangan Bendungan, sarana penunjang dan lokasi as Bendungan tersebut,
maka dengan peta tersebut dapat diperhitungkan luas genangan secara
benar. Dengan kata lain peta tersebut harus membuat batas-batas
kampung / pemukiman / kawasan industri, ladang, kebun, hutan lindung,
sawah teknis (bila ada) sawah tadah hujan, sawah semi teknis areal
perikanan/tambak, rawa dan sebagainya. Disamping itu juga memuat arah
batas jalan umum, jalan kereta api, inspeksi jalan desa, jembatan, saluran
irigasi (bila ada). Interval kontur peta adalah 0,25 m untuk daerah datar
0,50 m untuk daerah agak miring dan 1,00 m untuk daerah datar/berbukit.
o Jenis pekerjaan
Secara garis besar pekerjaan akan terdiri dari :
1. Pemasangan Bench Mark / Patok Kayu
2. Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal (Poligon Utama/Cabang)
3. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal (Waterpass utama cabang)
Bab 4

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

4. Pengukuran situasi seluruh daerah genangan.


5. Perhitungan Koordinat dan elevasi.
6. Penggambaran Situasi Daerah genangan 1 : 2000
7. Penggambaran Peta Ikhtisar 1 : 20.000
o Uraian Pekerjaan :
1. Pemasangan Bench Mark / Patok Kayu.
o Bentuk ukuran dan konstruksi Bench Mark besar seperti gambar
terlampir ukuran 20 x 20 x 100 cm.
o Bentuk ukuran dan konstruksi Bench Mark kecil tanda azimuth
seperti gambar terlampir ukuran 10 x 10 x 80 cm.
o Bench Mark harus dipasang seperti berikut :
o Setiap jarak 2-3 Km sepanjang jalur polygon utama dan cabang
atau setiap luas 100 Ha di pukul rata.
o Setiap titik simpul.
o Bench Mark kecil untuk tanda azimut di pasang di dekat Bench
Mark besar = 150 cm dan bebas pandangan.
o Benchmark-Benchmark tersebut harus dipasang sebelum dilakukan
pengukuran di tempat yang aman keadaan tanahnya stabil dan
lokasinya mudah di cari kembali.
o Setiap Benchmark harus di beri nomor yang teratur.
o Benchmark di pasang sedemikian rupa sehingga yang muncul di
permukaaan sepanjang 20 cm.
o Patok di buat dari bambu diameter 50 cm, panjang 50 cm, di tanam di
dalam tanah sedalam 30 cm, dicat merah, diberi nomor kode yang
teratur dan di pasang teratur dan di pasang paku sebagai titik
bidiknya.
2. Pengukuran Kerangka Dasar
Horizontal (Poligon Utama/Cabang) Poligon Kerangka Dasar Horizontal
terdiri dari polygon utama dan cabang sedangkan untuk pengukuran detail
lapangan dengan polygon raai.
o Poligon Utama.
-

Poligon harus meliputi daerah yang akan di petakan dan


merupakan kring yang tertutup.

Jika terlalu besar harus di bagi lagi dalam beberapa kring tertutup.

Bab 5

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

Poligon dibagi
2-3 Km.

atas

seksi-seksi dengan

panjang

maximum

Pengukuran polygon harus di ikatkan ke titik tatap yang telah ada


di titik triangulasi, Bench Mark yang sudah ada sebagai kontrol
ukuran titik referensi / awal pengukuran yang akan di tentukan
kemidian oleh Pengawas Utama dan Pengawas Lapangan
Pekerjaan.

Pengukuran sudut polygon di lakukan dengan 2 (dua) seri dengan


ketelitian sudut 5.

Salah penutup sudut maximum 10n, di mana n banyaknya titk


polygon.

Diusahakan sisi polygon sama panjangnya.

Alat ukur sudut yang harus di gunakan Theodoliet T 2 Wild atau

sejenis dan pengukuran sudut di lakukan dengan titik not berada


(0 . 45 . 90. dst)

Pengukuran jarak dilakukan dengan Edm, dilakukan pulang pergi


masing-masing minimal 5 (lima) kali bacaan untuk pergi.

Sudut vertikal dibaca 2 (dua) seri dengan ketelitian sudut 20o.

Pengamatan matahari di lakukan setiap 5 Km (maximal)


sepanjang jalur poligon utama, cabang dan titik simpul di lakukan
pagi sore dan di usahakan pengamatan pada tinggi matahari yang
sama untuk pagi dan sore dengan ketinggian <30, ketelitian azimut
10.

Alat yang digunakan untuk pengamatan harus menggunakan


Prisma Roelloph.

Ketelitian linier 1 : 10.000

o Poligon Cabang.
-

Poligon harus di mulai dari polygon utama dan diakhiri pada


polygon utama.

Poligon di bagi atas seksi-seksi yang panjang maksimum 2-3 km.

Pengukuran sudut poligon di lakukan dengan satu seri dengan


ketelitian sudut 20 .

Salah penutup maksimum 20n, di mana n banyaknya titik poligon.

Semua benchmark yang di pasang maupun yang telah ada harus


dilalui poligon.

Di usahakan sisi poligon sama panjangnya.


Bab 6

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

Alat ukur sudut yang harus di lakukan dengan rantai ukur baja, di
lakukan pulang pergi masing-masing minimal 3 (tiga) kali bacaan
untuk pulang pergi dengan titik nol yang berbeda.

Pengamatan matahari dilakukan setiap 5 Km (maksimal),


dilakukan pagi dan sore dan di usahakan pengamatan di lakukan
setinggi matahari yang sama dengan ketinggian 30, ketelitian
azimuth 20.

Alat yang di gunakan untuk pengamatan harus Prisma Roelloph


atau ditadah.

Ketelitian linier poligon 1 : 5.000

3. Pengukuran Kerangka Dasar


Vertikal (Waterpass Utama Cabang) Poligon Kerangka Dasar Horizontal
terdiri dari polygon utama dan cabang sedangkan untuk pengukuran
detail lapangan dengan polygon raai.
o Pengukuran Waterpass Utama
-

Alat yang di gunakan Waterpass Automatic Level Ni 2 atau


sederajat.

Pengecekan garis bidik alat Waterpass. Data pengecakan harus di


catat dalam buku ukur.

Waktu pembidikan rambu harus di letakkan dialas besi (Staatpod)

Bidikan rambu harus di antara interval 0,5


(untuk rambu yang 3 m panjangnya)

Jarak bidikan dari alat ke rambu maksimum 50 m.

Usahakan jumlah slaag perseksi.

Data
yang
di
catat
adalah pembacaan ketiga benang
silang yaitu benang atas, benang bawah dan benang tengah.

Pengukuran Waterpass harus di lakukan setelah Bench Mark


dipasang.

Semua Bench Mark yang ada maupun yang di pasang harus


melalui jalur Waterpass apabilah berada
ataupun
dekat
dengan jalur Waterpass.

Pada jalur yang terikat / tertutup pengukuran di lakukan dengan


cara Double Stand, sedangkan pada jalur yang terbuka di
ukur dengan cara pergi pulang.

Selisih
mm.

bacaan

stand

m dan 2,75 m

pertama dengan stand kedua harus 2

Bab 7

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

Batas toleransi untuk kesalahan penutup maksimum 7D


dimana D = Jumlah jarak dalam Km.

mm,

o Pengukuran Waterpass Cabang


-

Metode pengukuran sama seperti pada Waterpass utama.

Batas toleransi kesalahan penutup maksimum juga sama yaitu :


10D mm.

4. Pengukuran Situasi Detail.


o Alat yang digunakan adalah Theodoliet Wild To atau yang sederajat
ketelitiannya.
o metode Raai dan Vorsstraal.
o Semua kenampakan yang ada baik alamiah maupun buatan manusia
di ambil sebagai titik detail dan bila itu memanjang harus di ikuti oleh
Raai situasi misalnya saluran, jalan, batas kampong).
o Jalur Raai terikat pada polygon utama dan cabang.
o Beda tinggi dihitung dengan rumus Theciometri (tidak di perkenankan
menggunakan tabel jordan)
5. Perhitungan
o Perhitungan harus disertai sketsa arah pengukuran agar memudahkan
pemeriksaan. Station pengamat matahari harus tercantum pada sketsa.
Hitungan polygon dan waterpass kerangka utama harus dilakukan
dengan perataan Bowditch, Metode Dell atau peralatan kwadrat kecil.
Pada gambar sketsa kerangka utama harus dicantumkan hasil
hitungan.
o Salah penutup sudut poligon.
o Salah linier poligon beserta harga toleransinya.
o Salah penutup Waterpass beserta harga toleransinya.
o Perhitungan di
lakukan dalam sistem
proyeksi yang
ada sesuai dengan data referensi / awal pengukuran.

sudah

o Ketelitian peta / gambar.


o Semua tanda silang untuk grid koordinat tidak boleh mempunyai
kesalahan lebih dari 0,3 mm di ukur dari titik kontrol horizontal
terdekat.
o 90% (sembilan puluh persen) dari bangunan yang penting seperti
bendung, DAM, jembatan, saluran, dan sungai tidak mempunyai

Bab 8

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

kesalahan lebih dari garis grid atau titik kontrol horizontal terdekat.
Sisanya 5 % tidak doleh mempunyai kesalahan dari 1,2 mm.
o Pada sambungan lebar peta satu dengan yang lain,
kontur, bangunan, saluran sungai harus tepat tersambung.

garis

6. Pengukuran Situasi Detail Rencana As Bendungan Skala 1 : 500


o Garis silang untuk Grid di buat setiap 10 cm.
o Gambar draft harus di lakukan di atas kertas millimeter (grafik) kalkir
yang telah di setujui Pengawas Utama dan Pengawas Lapangan.
o Semua BM dan titik trianggulasi (titik pengikat) yang ada di lapangan
harus di gambar dengan legenda yang telah di tentukan dan di lengkapi
dengan elevasi dan koordinat.
o Pada tiap interval 5 (lima) garis kontur di buat tabel dan di tulis angka
elevasinya.
o Garis sambungan (overlap)

peta sebesar 5 cm.

o Titik pengikat / referensi peta harus tercantum pada peta dan di tulis di
bawah legenda.
B. Pengukuran Situasi Detail Rencana As Bendungan Skala 1 : 500.
Batas ukur situasi rencana as bendungan di tentukan oleh Tenaga Ahli di
bidangnya. Seluruh situasi di gambarkan pada kertas berukuran A1. Dasar
pengukuran adalah penggunaan jaringan kerangka dasar yang telah di siapkan
bagi kepentingan pemetaan 1 : 2000. BM & CP harus dipasang tersebar diareal
rencana as bendungan dan posisi rencana as dam harus dipasang 3 buah BM
& CP yang dapat diterlihat dan juga pada posisi as rencana spillway, yang di
pasang dengan cermat agar tidak mudah rusak di belakang hari. Pengukuran
kom bendungan harus menunjukkan juga letak peta rencana as dam, diversion
channel, spillway dan intake serta saddle dan bila ada. Penggambaran daerah ini
membutuhkan ukuran dengan kerapian tinggi (akurat) agar gambar tofografinya
yang akan di gunakan untuk memperkirakan kapasitas volume tampungan.
Pengukuran ini nantinya di tentukan berdasarkan sketsa petunjuk. Harus
diperoleh kerapatan spot height yang memadai untuk menjamin bentuk
tanah dapat terekam dengan teliti di atas peta. Pada daerah datar, letak
titik-titik spot height tidak boleh terpisah lebih jauh dan 20 m, untuk skala 1 :
2.000 sedangkan untuk skala 1 : 500 tidak boleh lebih dan 10 posisi terhadap
dimana titik spot height diletakkan harus jelas dan tidak membingungkan. Detail
berikut ini terlihat pada peta bangunan utama :
Garis ketinggian kedudukan- kedudukan muka air (ketinggian tertinggi dan
terendah harus terlihat pada peta).
Seluruh kelompok detail kerapatan menurut ketinggiannya di atas tanah.

Bab 9

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

Seluruh titik spot height yang di ukur.


Batas-batas (tanah lapang, pangan, dan lain-lain)
Puncak dan dasar keseluruhan tanah curam. Seluruh kondisi Curam
digambarkan sejelas mungkin guna menunjukkan bentuk sebenarnya dan
pada bagian kecuraman.
Tiap lubang bor atau

parit percobaan.

Lokasi BM & CP
Singkapan batuan dll.
Bila ada monumen Staff Gauge (atau AWLR) yang tercetak berdasarkan harus
di kaitkan pada datum proyek dengan menggunakan metode sifat datar,
kemudian di
perlihatkan di atas gambar/peta. Bilamana tidak terdapat
monumen untuk Staff Gauge, maka monumen yang baru di pasang dan diikat
dengan metode sifat datar (pergi-pulang) ke titik nol Staff Gauge.

4.2. Analisis Data Poligon dan Waterpass


4.2.1. Analisis Data Poligon

Kagiatan Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal (KDH) dilakukan dengan metode


Poligon yang dibagi menjadi beberapa Jaringan/Loop utama dengan terikat
sempurna seperti dapat digambarkan pada sketsa berikut ini :
4.2.2. Analisis Data Waterpass

Kagiatan Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal (KDV) dilakukan dengan metode


Waterpass yang dibagi menjadi beberapa seksi / jalur utama dengan pengukuran
pergi pulang seperti dapat digambarkan pada sketsa berikut ini :

4.3. Produk gambar yang dihasilkan

1. Peta dasar pendahuluan skala 1 : 2.000 harus memperlihatkan keadaan pada


saat dilakukanya pengukuran (sesuai situasi lapangan)
2. Peta ikhtisar skala 1 : 20.000
3. Interval kontur 0.25 m dengan catatan billa daerah datar maka interval kontur
0.5m sedangkan untuk daerah miring interval kontur 1.0 m
4. Ukuran tulisan, angka dan ketebalan garis harus sesuai dengan Standar
Perencanaan Irigasi (KP-07).
5. Gambar Long dan cross

Bab 10

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

4.4. Hasil Pelaksanaan Pengukuran Topografi


1.

Gambar dan Peta Hasil Pengukuran


Sampai dengan selesainya draft laporan antara (interim) ini pekerjaan
pengukuran topografi di lokasi rencana bendungan baru selesai 2,00 km yaitu
di lokasi As Bendungan Alternatif 3, sedangkan sisanya telah selesai dilakukan di
lokasi pekerjaan dan saat ini masih dalam tahap penyempurnaan gambar hasil
pengukuran.

2.

Daftar Koordinat dan Elevasi BM dan CP


Sampai dengan selesainya draft laporan antara (interim) ini sudah di buat
deskripsi BM dan CP sebanyak 1 (satu) buah BM dan 4 (empat) buah control
point (CP) dari total 5 (lima) buah BM dan 5 (lima) buah CP, dimana secara
keseluruhan adalah menjadi satu kesatuan sistem yang diikat dari titik referensi
awal (GPS) pada patok TTG.481, nilai koordinat dan elevasi adalah
sebagaimana pada Tabel sebagai berikut :
Tabel 4.1 Daftar Patok BM dan CP Yang Telah Terpasang Di Lokasi Pekerjaan
KOORDINAT UTM

NO.

NOMOR BM/ CP
X (M)

Y (M)

ELEVASI

KETERANGAN

BM GRN 5

733.788,000

161.866,000

+175,500

Tanggul Kanan Sungai

CPT . 5

733.761,469

161.875,243

+166,718

Targer Awal Pengukuran

CP. 03

733.060,852

162.557,446

+173,402

Tanggul Kiri Sungai

CP. 04

734.001,116

161.863,467

+176,159

Tanggul Kiri Sungai

CP. 05

734.294,816

161.170,242

+106,055

Tanggul Kiri Sungai

Bab 11

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

Gambar 4.2 Foto-foto Bench Mark (BM) dan CP Baru

Bab 12

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

Rencana As Bendungan
Girian (Alternatif 3)

Gambar 4.3 Peta Situasi Sungai Kuala Girian (Lokasi


Alternatif 3) Hilir Jembatan Apela

Bab 13

LAPORAN ANTARA
Feasibility Study Bendungan Girian

BAB 4. SURVEY PENGUKURAN TOPOGRAFI....................................4-1


4.1. Survei Pengukuran Topografi Dan Pemetaan...............................................4-1
4.1.1. Uraian Umum............................................................................... 4-1
4.1.2. Pengukuran Topografi dan Pemetaan Situasi....................................4-1
4.1.3. Pelaksanaan Pengukuran Topografi dan Pemetaan............................4-2
4.2. Analisis Data Poligon dan Waterpass.........................................................4-10
4.2.1. Analisis Data Poligon.....................................................................4-10
4.2.2. Analisis Data Waterpass.................................................................4-10
4.3. Produk gambar yang dihasilkan.................................................................4-10
4.4. Hasil Pelaksanaan Pengukuran Topografi...................................................4-11
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Lingkup Survey Pengukuran Topografi..............................................4-2
Gambar 4.2 Foto-foto Bench Mark (BM) dan CP Baru...........................................4-12
Gambar 4.3 Peta Situasi Sungai Kuala Girian (Lokasi Alternatif 3) Hilir Jembatan Apela 4-13

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Daftar Patok BM dan CP Yang Telah Terpasang Di Lokasi Pekerjaan........4-11

Bab 14