Anda di halaman 1dari 22

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.

R)
2015

SEGITIGA EPIDEMIOLOGI PENYAKIT CHIKUNGUNYA


1. Agent (Faktor Penyebab)
Virus yang menjadi penyebab penyakit chikungunya adalah Arthopod borne
virus yang ditransmisikan oleh beberapa spesies nyamuk. Virus ini termasuk dalam
genus alphavirus (group A Arthropod-borne viruses) dan famili Togaviridae
Sedangkan DBD disebabkan oleh Group B arthrophod-borne viruses (flavivirus)
(Kemenkes RI, 2012).
2. Host (Pejamu)
Vektor utama penyakit ini sama dengan DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti dan
Aedes albopictus. Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu
penelitian lebih lanjut.
Nyamuk Aedes spp seperti juga jenis nyamuk lainnya mengalami metamorfosis
sempurna, yaitu: telur - jentik (larva) - pupa - nyamuk. Stadium telur, jentik dan
pupa hidup di dalam air. Pada umumnya telur akan menetas menjadi jentik/larva
dalam waktu 2 hari setelah telur terendam air. Stadium jentik/larva biasanya
berlangsung 6-8 hari, dan stadium kepompong (Pupa) berlangsung antara 24 hari.
Pertumbuhan dari telur menjadi nyamuk dewasa selama 9-10 hari. Umur nyamuk
betina dapat mencapai 2-3 bulan.

Gambar Siklus Hidup Nyamuk Aedes Aegypti


Perilaku Nyamuk Dewasa

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Setelah keluar dari pupa, nyamuk istirahat di permukaan air untuk sementara
waktu. Beberapa saat setelah itu, sayap meregang menjadi kaku, sehingga
nyamuk mampu terbang mencari makanan. Nyamuk Aedes sp jantan mengisap
cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan hidupnya sedangkan yang betina
mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai darah manusia daripada hewan
(bersifat antropofilik). Darah diperlukan untuk pematangan sel telur, agar dapat
menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur mulai
dari nyamuk mengisap darah sampai telur dikeluarkan, waktunya bervariasi antara
3-4 hari. Jangka waktu tersebut disebut dengan siklus gonotropik.
Aktivitas menggigit nyamuk Aedes sp biasanya mulai pagi dan petang hari, dengan
2 puncak aktifitas antara pukul 09.00 -10.00 dan 16.00 -17.00. Aedes aegypti
mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali dalam satu siklus gonotropik,
untuk memenuhi lambungnya dengan darah. Dengan demikian nyamuk ini sangat
efektif sebagai penular penyakit.
Setelah mengisap darah, nyamuk akan beristirahat pada tempat yang gelap dan
lembab

di

dalam

perkembangbiakannya.

atau

di

Pada

luar
tempat

rumah,
tersebut

berdekatan
nyamuk

dengan

habitat

menunggu

proses

pematangan telurnya.
Setelah beristirahat dan proses pematangan telur selesai, nyamuk betina akan
meletakkan telurnya di atas permukaan air, kemudian telur menepi dan melekat
pada dinding-dinding habitat perkembangbiakannya. Pada umumnya telur akan
menetas menjadi jentik/larva dalam waktu 2 hari. Setiap kali bertelur nyamuk
betina dapat menghasilkan telur sebanyak 100 butir. Telur itu di tempat yang
kering (tanpa air) dapat bertahan 6 bulan, jika tempat-tempat tersebut kemudian
tergenang air atau kelembabannya tinggi maka telur dapat menetas lebih cepat.

Gambar Siklus Gono Tropik


Mekanisme Penularan

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Virus Chikungunya ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes SPP
Nyamuk lain mungkin bisa berperan sebagai vektor namun perlu penelitian lebih
lanjut. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Chikungunya pada saat
menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum demam
sampai 5 hari setelah demam timbul. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur
berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum
dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh
manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari (intrinsic incubation period)
sebelum menimbulkan penyakit.

2 hr sblm, 5
stlh
8-10 hr

4-7 hr

Gambar Mekanisme Penularan

3. Lingkungan (Environment)
Habitat
Habitat perkembangbiakan Aedes sp. ialah tempat-tempat yang dapat
menampung air di dalam, di luar atau sekitar rumah serta tempat-tempat umum.
Habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dapat dikelompokkan sebagai
berikut:
a. Tempat penampungan air (TPA) untuk keperluan sehari-hari, seperti: drum,
tangki reservoir, tempayan, bak mandi/wc, dan ember.
b. Tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat
minum burung, vas bunga, perangkap semut, bak control pembuangan air,

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

tempat pembuangan air kulkas/dispenser, barangbarang bekas (contoh : ban,


kaleng, botol, plastik, dll).
c. Tempat penampungan air alamiah seperti: lubang pohon, lubang batu, pelepah
daun, tempurung kelapa, pelepah pisang dan potongan bamboo dan
tempurung coklat/karet, dll.
Penyebaran
Kemampuan terbang nyamuk Aedes spp betina rata-rata 40 meter, namun secara
pasif misalnya karena angin atau terbawa kendaraan dapat berpindah lebih jauh.
Aedes spp tersebar luas di daerah tropis dan sub-tropis, di Indonesia nyamuk ini
tersebar luas baik di rumah maupun di tempat umum. Nyamuk Aedes spp dapat
hidup dan berkembang biak sampai ketinggian daerah 1.000 m dpl. Pada
ketinggian diatas 1.000 m dpl, suhu udara terlalu rendah, sehingga tidak
memungkinkan nyamuk berkembangbiak.
Variasi Musiman
Pada musim hujan populasi Aedes sp akan meningkat karena telur-telur yang
tadinya belum sempat menetas akan menetas ketika habitat perkembangbiakannya
(TPA bukan keperluan sehari-hari dan alamiah) mulai terisi air hujan. Kondisi
tersebut akan meningkatkan populasi nyamuk sehingga dapat menyebabkan
peningkatan penularan penyakit Demam Chikungunya.
TATALAKSANA KASUS CHIKUNGUNYA
1. Definisi Kasus
Demam Chikungunya adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
Chikungunya (CHIKV) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk (Arthropod borne virus/
mosquito-borne virus). Virus Chikungunya termasuk genus Alphavirus, family
Togaviridae.
Diagnosis kasus Demam Chikungunya ditegakkan berdasarkan criteria sebagai
berikut: (Modifikasi Klasifikasi WHO SEARO,2009)
Kriteria Klinis: Demam mendadak > 38,5C dan nyeri persendian hebat (severe
athralgia) dan atau dapat disertai ruam (rash).
Kriteria Epidemiologis: Bertempat tinggal atau pernah berkunjung ke wilayah
yang sedang terjangkit Chikungunya dengan sekurang-kurangnya 1 kasus positif RDT/
pemeriksaan serologi lainnya, dalam kurun waktu 15 hari sebelum timbulnya gejala
(onset of symptoms)

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Kriteria Laboratoris: sekurang-kurangnya salah satu diantara pemeriksaan


berikut:
Isolasi virus
Terdeteksinya RNA virus dengan RT-PCR
Terdeteksinya antibodi IgM spesifik virus Chik pada sampel serum
Peningkatan 4 kali lipat (four-fold) titer IgG pada pasangan sampel yang diambil
pada fase akut dan fase konvalesen (interval sekurang-kurangnya 2-3 minggu)
Berdasarkan kriteria di atas, Diagnosis Demam Chikungunya digolongkan dalam 3
kategori yaitu:
a. Kasus tersangka (Suspected case/ Possible case)
Penderita dengan kriteria klinis.
b. Kasus probabel (Probable case)
Penderita dengan kriteria klinis + kriteria epidemiologis
c. Kasus konfirm (Confirmed case)
Penderita dengan kriteria laboratoris.
2. Masa Inkubasi
Masa inkubasi terdiri dari masa inkubasi intrinsik dan ekstrinsik. Masa inkubasi
intrinsik adalah periode sejak seseorang terinfeksi virus Chik sampai timbulnya
gejala klinis, sedangkan masa inkubasi ekstrinsik adalah periode sejak nyamuk
terinfeksi virus Chik sampai virus tersebut dapat menginfeksi orang lainnya melalui
gigitan nyamuk tersebut. Masa inkubasi intrinsik Chikungunya rata-rata antara 3-7
hari (range 1-12 hari), sedangkan masa inkubasi ekstrinsik berkisar 10 hari. (WHO
PAHO, 2011).

Gambar Masa Inkubasi


3. Kepekaan dan Kekebalan
Sekali seseorang terinfeksi virus Chik maka akan diikuti dengan terbentuknya
imunitas jangka panjang (long-lasting imunity) di dalam tubuh penderita (WHO

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

PAHO, 2011). Sampai saat ini hanya diketahui satu serotipe Chikungunya.
Terjadinya serangan kedua belum diketahui dengan pasti.
4. Gejala Klinis
a. Demam
Pada fase akut selama 2-3 hari selanjutya dilanjutkan dengan penurunan
suhu tubuh selama 1-2 hari kemudian naik lagi membentuk kurva sadle back
fever atau Bifasik. Bisa disertai menggigi dan muka kemerahan (flushed face).
Pada beberapa penderita mengeluh nyeri dibelakang bola mata dan terlihat
mata kemeraan (conjunctival injecton).
b. Sakit Persendian
Nyeri persendian sering merupakan keluhan yang pertama muncul sebelum
timbul demam.Nyeri sendi dapat ringan (arthralgia) sampai berat menyerupai
Rheumatoid Arthritis, terutama di sendi-sendi pergelangan kak (dapat juga nyeri
sendi tangan) sering dikeluhkan penderita.Nyeri sendi ini merupakan gejala
paling dominan, pada kasus berat terdapat tanda-tanda radang sendi, yaitu
kemerahan, kaku, dan bengkak.Sendi yang sering dikeluhkan adalah
pergelangan kaki, pergelangan tangan, siku, jari, lutut dan pinggul.Arthritis ini
dapat bertahan selama beberapa minggu, bulan bahkan ada yang sampai
beberapa tahun sehingga dapat menyerupai Rheumatoid Arthritis.

c. Nyeri Otot
Nyeri otot (fibromyalgia) bisa pada seluruh otot terutama pada otot
penyangga berat badan seperti pada otot bagian leher, daerah bahu, dan
anggota gerak. Kadang-kadang terjadi pembengkakan pada otot sekitar sendi
pergelangan kaki (achilles) atau sekitar mata kaki.
d. Bercak kemerahan (rash) pada kulit
Kemerahan di kulit bisa terjadi pada seluruh

tubuh

berbentuk

makulopapular (viral rash), sentrifugal (mengarah ke bagian anggota gerak,


telapak tangan dan telapak kaki).Bercak kemerahan ini terjadi pada hari

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

pertama demam, tetapi lebih sering muncul pada hari ke 4-5 demam.Lokasi
kemerahan

di

daerah

muka,

badan,

tangan

dan

kaki.

e. Kejang dan Penurunan Kesadaran


Kejang biasanya pada anak karena demam yang terlalu tinggi, jadi
kemungkinan bukan secara langsung oleh penyakitnya.Kadang-kadang kejang
disertai penurunan kesadaran.Pemeriksaan cairan spinal (cerebrospinal) tidak
ditemukan kelainan biokimia atau jumlah sel.
f. Manifestasi Perdarahan
Tidak ditemukan perdarahan pada saat awal perjalanan penyakit walaupun
pernah dilaporkan di India terjadi perdarahan gusi pada 5 anak dari 70 anak
yang diobservasi.
g. Gejala Lain
Gejala lain yang kadang-kadang dapat timbul adalah kolaps pembuluh darah
kapiler dan pembesaran kelenjar getah bening.
5. Diagnosis Banding
Diagnosis banding penyakit Chikungunya yang paling mendekati adalah Demam
Dengue atau Demam Berdarah Dengue.
Manifestasi Utama yang membedakan Chikungunya dengan Dengue
(WHO SEARO, 2009):

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

6. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk memastikan diagnosis perlu pemeriksaan laoratorium yang dapat
dilakukan dengan beberapa metode yaitu: isolasi virus dari inokulasi serum fase
akut, pemeriksaan serologis dengan cara ELISA, pemeriksaan IgG dan IgM dengan
metode Immuno Fluorescent Assay (IFA), pemeriksaan materi genetik dengan
Polymerase Chain Reaction (PCR), pemeriksaan antibodi dengan uji Hemaglutinasi
Inhibisi (H.I Test) menggunakan serum diambil pada masa akut ( hari ke 5 mulai
demam ) dan serum konvalesen pada minggu ke 2 sesudah demam serta
sequencing.
a. Isolasi Virus
Isolasi virus chikungunya didasarkan pada inokulasi spesimen biologis dari
nyamuk atau dari manusia (serum) secara invitro dengan menggunakan kultur
jaringan sel vero, BHK-21, HeLa sel dan sel C6/36. Isolasi virus juga dapat
dilakukan secara in vivo dengan menggunakan anak mencit yang masih menyusui
(suckling mice).
Jenis untuk isolasi virus chikungunya adalah serum pada masa akut 0-6 hari,
tetapi ada beberapa literatur menyebutkan bisa sampai 8 hari. Spesimen yang
berasal dari nyamuk juga dapat digunakan untuk bahan isolasi virus. Semua
spesimen biologis untuk isolasi virus harus diproses secepatnya, bila memang
perlu ditunda maksimal penundaan adalah 48 jam dengan disimpan pada suhu 28C.
b. Deteksi Viral RNA

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Deteksi viral RNA virus chikungunya dapat dilakukan pada saat akut penderita
(<8 hari). Deteksi viral RNA juga dapat menggunakan spesimen biologis dari
nyamuk (vektor). Deteksi viral RNA didasarkan pada gen NSP1 atau E16 saat ini
telah dikembangkan berbagai macam teknik deteksi viral RNA virus chikungunya
yaitu secara RT-PCR (Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction) dan
Real Time PCR.
c. Serologi
Infeksi Chikungunya juga dapat dideteksi secara serologi dengan mendeteksi
anti-chik berupa IgM atau IgG. Sampai saat ini telah banyak dikembangkan teknik
diagnostik

untuk

mendeteksi

chikungunya

secara

serologi

diantaranya

Haemaglutination, Complement Fixation Test (CFT), Immuno flourescent assay


(IFA), dan Plaque Reduction Neutralization Testing (PRNT). Antibodi IgM dapat
dideteksi dari hari ke-4 infeksi sampai beberapa minggu waktu lamanya. Antibodi
IgG dapat dideteksi hari ke- 15 sampai beberapa tahun lamanya.

Interpretasi:
1. Bila IgM (-) dan IgG (-) dengan gejala klinis jelas, pemeriksaan diulang 10-14 hari
kemudian.
Bila hasil pemeriksaan ulang IgM (+) IgG(-) berarti infeksi akut primer
2. Bila IgM (-)IgG(+) dilakukan pemeriksaan ulang 10-14 hari kemudian.
Bila hasil pemeriksaan ulang IgG (+) dengan kenaikan titer >4X berarti infeksi
sekunder.
3. Bila IgM (+) IgG(+) berarti sedang terjadi infeksi sekunder
Untuk saat ini pemeriksaan konfirmasi diagnosis chikungunya dapat dilakukan di
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (BALIT BANGKES), B/BTKL
PP, RSPI Soelianti Saroso, Labkesda. Metode yang digunakan adalah secara

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

deteksi Antibodi (IgM dan atau IgG), deteksi molekuler (RT-PCR) dan Isolasi
virus jika diperlukan.Spesimen yang digunakan adalah Serum atau Plasma
penderita pada masa akut. Jumlah spesimen yang dibutuhkan untuk konfirmasi
KLB chikungunya adalah 5-10 spesimen dari setiap satuan KLB (per kecamatan/
per puskesmas). jika jumlah penderita > 10, namun jika jumlah penderita < 10
maka untuk konfirmasi jumlah spesimen yang diperiksa jumlah penderita.

Untuk pemeriksaan penunjang dapat dilakukan pemeriksaan :


a. Hematologi rutin
Pemeriksaan Kadar Hemoglobin : Biasanya dijumpai Hb normal atau

anemia bila ada perdarahan .


Pemeriksaan Trombosit : Dapat ditemukan Trombositopenia
Pemeriksaan Hematokrit : Ht normal atau meningkat bila dengan dehidrasi

Pemeriksaan Leukosit : Leukopenia atau juga leukositosis

Hitung Jenis Leukosit : Pada hitung jenis bisa dijumpai relatif limfositosis.

Pemeriksaan Laju Endap Darah : LED meningkat karena adanya infeksi

b. Kimia Klinik
Fungsi hati: SGOT, SGPT dan bilirubin total/direk yang bisa meningkat bila
dijumpai hepatomegali. CK (Creatinin Kinase) yang meningkat karena adanya
nyeri otot.
c. Serologis Chikungunya
Rapid Diagnostic Test (RDT) terhadap anti-IgM Chikungunya dapat dilakukan
sebagai penapisan (screening) untuk diagnosis chikungunya. Pemilihan Rapid
Diagnostik Test (RDT) juga harus memenuhi persyaratan sensitifitas dan
spesifisitas diatas 85% dengan uji lokal.
d. Serologis Dengue : Anti Dengue IgM-IgG untuk menyingkirkan DBD
7. Cara Pengambilan Spesimen
Waktu pengambilan spesimen adalah pada periode :
Akut : 0-8 hari setelah timbul gejala/onset of symptom

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Konvalesent : 14 hari setelah gejala/symptom


Adapun cara pengambilan adalah sebagai berikut:
1) Lakukan vena punksi untuk mengambil darah vena sebanyak 35 ml lalu
dimasukkan dalam tabung kaca yang pakai penutup. Pengambilan darah
dilakukan secara aseptik dapat menggunakan spuit atau venoject.
2) Diamkan pada suhu kamar selama 10 - 15 menit sampai darah membeku.
3) Kemudian lakukan sentrifugasi 1500-2000 rpm selama 10 menit untuk
memisahkan serumnya.
4) Pisahkan serum dengan menggunakan pipet dan masukkan ke dalam tabung
sampel dengan tutup ulir yang sudah diberi identitas pasien.
Hindari menggunakan tabung kaca untuk mengirim spesimen serum.

5) Sebelum

dikirim

ke

Gambar Pengambilan Darah


laboratorium yang mampu

memeriksa

misalnya:

Litbangkes, B/BTKL PP, BLK atau LABKESDA, spesimen serum disimpan di


lemari pendingin dengan suhu 4-8oC (BUKAN DI DALAM FREEZER).
6) Pengiriman spesimen serum harus sesuai prosedur, didalam cool box dengan
dilapisi dry ice/ cool pack supaya suhu pengiriman tetap antara 4-8oC.
JANGAN mengirimkan spesimen dalam bentuk Whole Blood (darah lengkap),
karena dapat menjadi lisis dan mempengaruhi hasil pemeriksaan lab.
7) Di dalam wadah tempat pengiriman harus disertakan data-data identitas
penderita, juga meliputi tanggal mulai sakit, gejala-gejala yang timbul, tanggal
pengambilan sampel.
8) Pada bagian luar wadah pengiriman harus dituliskan alamat pengirim dan
penerima dengan jelas.
9) Sebelum mengirim sampel pasien, pengirim sebaiknya memberitahukan
kepada penerima sampel, dalam hal ini Bagian Virologi Litbangkes, BLK,
LABKESDA dan BTKL.

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

10) Jika diperlukan pemeriksaan lebih lanjut (sequensing) maka specimen dikirim
ke Balitbangkes

8. Terapi
Chikungunya merupakan self limiting disease, sampai saat ini penyakit ini belum
ada obat ataupun vaksinnya, pengobatan hanya bersifat simtomatis dan suportif.
a. Simtomatis
Antipiretik : Parasetamol atau asetaminofen (untuk meredakan demam)
Analgetik : Ibuprofen, naproxen dan obat Anti-inflamasi Non Steroid (AINS)
lainnya (untuk meredakan nyeri persendian/athralgia/arthritis)
Catatan: Aspirin (Asam Asetil Salisilat) tidak dianjurkan karena adanya resiko
perdarahan pada sejumlah penderita dan resiko timbulnya Reyes syndrome pada
anak-anak dibawah 12 tahun.
b. Suportif

Tirah baring (bedrest), batasi pergerakkan


Minum banyak untuk mengganti kehilangan cairan tubuh akibat muntah,

keringat dan lain-lain.


Fisioterapi
c. Pencegahan penularan
Penggunaan kelambu selama masa viremia {sejak timbul gejala (onset of illness)
sampai 7 hari (Kementerian Kesehatan RI 2012-Ditjen PP dan PL; Pedoman
Pengendalian Demam Chikungunya, Edisi 2).
9. Prognosis
Penyakit ini bersifat self limiting disease, tidak pernah dilaporkan adanya kematian.
Keluhan sendi mungkin berlangsung lama. Brighton meneliti pada 107 kasus infeksi
Chikungunya, 87,9% sembuh sempurna, 3,7% mengalami kekakuan sendi atau mild
discomfort, 2,8% mempunyai persistent residual joint stiffness, tapi tidak nyeri, dan
5,6% mempunyai keluhan sendi yang persistent, kaku dan sering mengalami efusi
sendi.
10. Komplikasi
Dalam literatur ilmiah belum pernah dilaporkan kematian, kasus neuroinvasif, atau
kasus perdarahan yang berhubungan dengan infeksi virus Chikungunya. Pada kasus
anak komplikasi dapat terjadi dalam bentuk : kolaps pembuluh darah, renjatan,
Miokarditis, Ensefalopati dsb, tapi jarang ditemukan.

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

SURVEILANS DAN PENANGGULANGAN KASUS CHIKUNGUNYA


1. SURVEILANS
Surveilans Chikungunya adalah proses pengumpulan pengolahan analisis dan
interpretasi dan penyebarluasan informasi ke penyelenggara program dan pihak /
instansi terkait secara sistematis dan terus menerus tentang situasi Chikungunya dan
kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit tersebut
agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien.
Surveilan Chikungunya meliputi survey kasus dan survey vektor yang dapat
dilakukan secara pasif dan aktif.
Tujuan surveillans Chikungunya, yaitu:
Menghasilkan informasi yang cepat dan akurat agar dapat disebarluaskan sebagai
dasar penanggulangan Chikungunya yang cepat dan tepat untuk menyususun

perencanaan yang sesuai dengan permasalahannya.


Mendapatkan distribusi penyakit Chikungunya menurut orang, tempat, dan waktu.
Mendapatkan trend kasus Chikungunya
Melakukan pengamatan kewaspadaan dini SKD KLB dalam rangka mencegah dan
penanggulangan KLB secara dini.
Penetapan Kejadian Luar Biasa ( KLB ) Chikungunya merujuk pada Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 1501 Tahun 2010 tentang jenis Penyakit menular
tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulanganya.
Jenis Surveilans Chikungunya

a. Surveilans Kasus (Pasif)


Yaitu penemuan kasus berdasarkan informasi dan laporan dari sarana kesehatan
(RS, puskesmas, klinik, laboratorium, KKP) maupun dari masyarakat.
b. Surveilans Kasus (Aktif)
Yaitu penemuan kasus yg diperoleh melalui kunjungan lapangan untuk melakukan
penegakan diagnosis secara epidemiologis berdasarkan gambaran umum penyakit
menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah yang selanjutnya diikuti dengan
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium.
Kegiatan surveilans aktif penyakit Demam Chikungunya dapat dalam bentuk
kegiatan penyelidikan epidemiologi (PE) berdasarkan kasus terlaporkan atau
berdasarkan pertimbangan faktor resiko lainnya.
Kegiatan surveillans aktif dapat dilaksanakan oleh petugas Dinas Kesehatan/
Puskesmas setempat.
Tersangka Chikungunya hasil temuan surveilans aktif ditindak lanjuti / dilaporkan ke
sarana kesehatan / Puskesmas untuk di lakukan pemeriksaan lanjutan.
c. Surveilans Vektor

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Surveillans vektor Chikungunya adalah kegiatan surveillans yang dilakukan untuk


mengetahui ada atau tidaknya penularan kasus setempat dalam kegiatan
penyelidikan epidemiologi (PE) dan untuk mengetahui tingkat kepadatan vector
Chikungunya melalui kegiatan survey berdasarkan faktor resiko (iklim, tingkat
kepadatan vektor, mobilisasi masyarakat). Selain itu kegiatan ini dapat digunakan
sebagai evaluasi kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang dilakukan
oleh masyarakat melalui kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB).
Tahapan surveilans vector:
1) Penentuan Lokasi Pengamatan
2) Pelaksanaan Pengamatan
Pengamatan dilakukan oleh kader/PKK/jumantik, petugas puskesmas, dan
Pengelola Program Arbovirosis baik di Dinkes Kab/Kota maupun Dinkes
Propinsi.
Kader/PKK/jumantik :
pemeriksaan jentik berkala (PJB) minimal 1 minggu sekali bersamaan
dengan pelaksanaan PSN
Petugas puskesmas :
monitoring dan evaluasi PJB dan PSN tiap 3 bulan
Pengelola Program Arbovirosis di Dinkes Kab/Kota :
monitoring dan evaluasi PJB dan PSN tiap 3 atau 6 bulan
Pengelola Program Arbovirosis di Dinkes Propinsi
:
monitoring dan evaluasi PJB dan PSN tiap 3 atau 6 bulan
3) Teknik Pengamatan
Beberapa teknis pengamatan terhadap telur, jentik, dan nyamuk melalui

beberapa metode survei sebagai berikut :


Survei Telur
Survei ini dilakukan dengan cara memasang perangkap telur (ovitrap) yang
dinding sebelah dalamnya dicat hitam, kemudian diberi air secukupnya.
Ovitrap berbentuk tabung yang dapat dibuat dari potongan bambu, kaleng
dan gelas platik/kaca. Ovitrap diletakkan di dalam dan di luar rumah atau
tempat yang gelap dan lembab. Cara kerja ovitrap adalah padel (berupa
potongan bilah bambu atau kain yang tenunannya kasar dan berwarna
gelap) yang dimasukkan kedalam tabung tersebut berfungsi sebagai tempat
meletakkan telur nyamuk. Setelah 1 minggu dilakukan pemeriksaan ada
atau tidaknya telur nyamuk di padel, kemudian dihitung ovitrap index.

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Untuk mengetahui gambaran kepadatan populasi nyamuk penular secara


lebih tepat, telur-telur padel tersebut dikumpulkan dan dihitung jumlahnya.

Gambar Ovitrap

Survei Jentik
Survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Memeriksa tempat penampungan air dan kontainer yang dapat
menjadi habitat perkembangbiakan nyamuk Aedes sp. di dalam dan
di luar rumah untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
2) Jika pada penglihatan pertama tidak menemukan jentik, tunggu kirakira -1 menit untuk memastikan bahwa benar-benar tidak ada
jentik.
3) Gunakan senter untuk memeriksa jentik di tempat gelap atau air
keruh.
Metode survei jentik:
1) Single larva

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Cara ini dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat


genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih lanjut.
2) Visual
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di
setiap tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya.
Biasanya dalam program CHIKUNGUNYA mengunakan cara visual.
Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes sp. :

Survei Nyamuk
Survei nyamuk dilakukan dengan cara menangkap nyamuk menggunakan
umpan orang di dalam dan di luar rumah, masing-masing selama 20 menit
per rumah serta penangkapan nyamuk yang hinggap di dinding dalam
rumah. Penangkapan nyamuk biasanya dilakukan dengan menggunakan
aspirator.

Gambar Contoh Aspirator

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Indeks-indeks nyamuk yang digunakan:

Apabila ingin diketahui rata-rata umur nyamuk di suatu wilayah,


dilakukan pembedahan perut nyamuk-nyamuk yang ditangkap untuk
memeriksa keadaan ovariumnya di bawah mikroskop. Jika ujung pipapipa udara (tracheolus) pada ovarium masih menggulung, berarti
nyamuk itu belum pernah bertelur (nuliparous). Jika ujung pipa-pipa
udara sudah terurai/terlepas gulungannya, maka nyamuk itu sudah
pernah bertelur (parous).
Untuk mengetahui rata-rata umur nyamuk, apakah merupakan nyamuknyamuk baru (menetas) atau nyamuk-nyamuk yang sudah tua
digunakan indek parity rate.

Bila hasil survei entomologi suatu wilayah, parity rate-nya rendah berarti
populasi nyamuk-nyamuk di wilayah tersebut sebagian besar masih
muda. Sedangkan bila parity rate-nya tinggi menunjukkan bahwa
keadaan dari populasi nyamuk di wilayah itu sebagian besar sudah tua.

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Untuk menghitung rata-rata umur suatu populasi nyamuk secara lebih


tepat dilakukan pembedahan ovarium dari nyamuk-nyamuk parous,
untuk menghitung jumlah dilatasi pada saluran telur (pedikulus).

4) Pencatatan dan Pelaporan


2. PENGENDALIAN VEKTOR
Pengendalian vektor adalah upaya menurunkan faktor risiko penularan oleh vektor
dengan meminimalkan habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan dan
umur vektor, mengurangi kontak antara vektor dengan manusia serta memutus rantai
penularan penyakit
Metode pengendalian vektor Chikungunya bersifat spesifik lokal, dengan
mempertimbangkan faktorfaktor lingkungan fisik (cuaca/iklim, permukiman, habitat
perkembangbiakan); lingkungan sosial-budaya (Pengetahuan Sikap dan Perilaku) dan
aspek vektor.
Pada dasarnya metode pengendalian vektor Chikungunya yang paling efektif
adalah dengan melibatkan peran serta masyarakat (PSM). Sehingga berbagai metode
pengendalian vektor cara lain merupakan upaya pelengkap untuk secara cepat
memutus rantai penularan.
Berbagai metode PengendalianVektor (PV) Chikungunya yaitu:
a. Kimiawi
Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida merupakan
salah satu metode pengendalian yang lebih populer di masyarakat dibanding
dengan cara pengendalian lain. Sasaran insektisida adalah stadium dewasa dan
pra-dewasa. Karena insektisida adalah racun, maka penggunaannya harus
mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran
termasuk mamalia. Disamping itu penentuan jenis insektisida, dosis, dan metode
aplikasi merupakan syarat yang penting untuk dipahami dalam kebijakan
pengendalian vektor. Aplikasi insektisida yang berulang di satuan ekosistem akan
menimbulkan terjadinya resistensi serangga sasaran.
Golongan insektisida kimiawi untuk pengendalian vektor adalah:
Sasaran nyamuk dewasa adalah : Organophospat (Malathion, methyl
pirimiphos),

Pyrethroid

(Cypermethrine,

lamda-cyhalotrine,

cyflutrine,

Permethrine & S-Bioalethrine). Yang ditujukan untuk stadium dewasa yang


diaplikasikan dengan cara pengabutan panas/Fogging dan pengabutan
dingin/ULV

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

Sasaran jentik dengan menggunakan larvasida : golongan Organophospat

(Temephos).
b. Biologi
Pengendalian vektor

dengan

biologi

menggunakan

agent

biologi

seperti

predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium pra dewasa


vektor Jenis predator yang digunakan adalah Ikan pemakan jentik (cupang,
tampalo,

gabus,

guppy,

dll),

sedangkan

larva

Capung,

Toxorrhyncites,

Mesocyclops dapat juga berperan sebagai predator walau bukan sebagai metode
yang lazim untuk pengendalian vektor .
Jenis pengendalian vektor biologi :
Parasit : Romanomermes iyengeri
Bakteri : Baccilus thuringiensis israelensis
Golongan

insektisida

biologi

untuk

pengendalian

vektor

(Insect

Growth

Regulator/IGR dan Bacillus Thuringiensis Israelensis/BTi), ditujukan untuk stadium


pra dewasa yang diaplikasikan kedalam habitat perkembangbiakan vektor. Insect
Growth Regulators (IGRs) mampu menghalangi pertumbuhan nyamuk di masa pra
dewasa dengan cara merintangi/menghambat proses chitin synthesis selama masa
jentik berganti kulit atau mengacaukan proses perubahan pupae dan nyamuk
dewasa. IGRs memiliki tingkat racun yang sangat rendah terhadap mamalia (nilai
LD50 untuk keracunan akut pada methoprene adalah 34.600 mg/kg ).
Bacillus thruringiensis (BTi) sebagai pembunuh jentik nyamuk/larvasida yang tidak
menggangu lingkungan. BTi terbukti aman bagi manusia bila digunakan dalam air
minum pada dosis normal. Keunggulan BTi adalah menghancurkan jentik nyamuk
tanpa menyerang predator entomophagus dan spesies lain. Formula BTi
cenderung secara cepat mengendap di dasar wadah, karena itu dianjurkan
pemakaian yang berulang kali. Racunnya tidak tahan sinar dan rusak oleh sinar
matahari. cenderung secara cepat mengendap di dasar wadah, karena itu
dianjurkan pemakaian yang berulang kali. Racunnya tidak tahan sinar dan rusak
oleh sinar matahari. secara cepat mengendap di dasar wadah, karena itu
dianjurkan pemakaian yang berulang kali. Racunnya tidak tahan sinar dan rusak
oleh sinar matahari.
c. Manajemen lingkungan
Lingkungan fisik seperti tipe pemukiman, sarana-prasarana penyediaan air,
vegetasi

dan

musim

sangat

berpengaruh

terhadap

tersedianya

habitat

perkembangbiakan dan pertumbuhan vektor. Nyamuk Aedes sp sebagai nyamuk


pemukiman mempunyai habitat utama di kontainer buatan yang berada di daerah

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

pemukiman. Manajemen lingkungan adalah upaya pengelolaan lingkungan


sehingga tidak kondusif sebagai habitat perkembangbiakan atau dikenal sebagai
source reduction seperti 3M plus (menguras, menutup dan mengubur, dan plus:
menyemprot, memelihara ikan predator, menabur larvasida dll); dan menghambat
pertumbuhan vektor (menjaga kebersihan lingkungan rumah, mengurangi tempattempat yang gelap dan lembab di lingkungan rumah dll).
d. Pemberantasan Sarang Nyamuk / PSN
Pengendalian Vektor yang paling efisien dan efektif adalah dengan memutus rantai
penularan melalui pemberantasan jentik. Pelaksanaannya di masyarakat dilakukan
melalui upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue PSN
dalam bentuk kegiatan 3 M plus. Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan,
kegiatan

Plus

ini

harus

dilakukan

secara

serempak

dan

terus

menerus/berkesinambungan. Tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku yang sangat


beragam sering menghambat suksesnya gerakan ini. Untuk itu sosialisasi kepada
masyarakat/individu untuk melakukan kegiatan ini secara rutin serta penguatan
peran tokoh masyarakat untuk mau secara terus menerus menggerakkan
masyarakat harus dilakukan melalui kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan di
media masa, serta reward bagi yang berhasil melaksanakannya.
e. Pengendalian Vektor Terpadu (Integrated Vector Management)
IVM merupakan konsep pengendalian vektor yang diusulkan oleh WHO untuk
mengefektifkan berbagai kegiatan pemberantasan vektor oleh berbagai institusi.
IVM dalam pengendalian vektor Chikungunya saat ini lebih difokuskan pada
peningkatan peran serta sektor lain melalui kegiatan Pokjanal, Kegiatan PSN anak
sekolah dll.
Sesuai dengan teori Notoatmodjo (2003) dan pedoman WHO (2009) dalam
Suhendi, dll (2012), hasil penelitian pemeliharaan kesehatan dikembangkan
sebagai berikut:
- Dimensi Perilaku Peningkatan Kesehatan
Rutin melakukan aktivitas fisik dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Sistem kekbalan tubuh meningkat seiring meningkatnya jumlah sel darah putih
untuk melawan segala bentuk penyakit.Untuk meningkatkan partisipasi
keluarga dalam olahraga, perlu adanya sosialisasi kegiatan olahraga secra
rutin. Dengan demikian, peningktan kesehatan dapat berjalan optimal sebgai
-

upaya pencegahan penularan penyakit.


Dimensi pemenuhan gizi
Berdasarkan PAHO (2011), tidak ada makanan pantangan khusus untuk
penderita penyakit chikungunya. Namun, salah satu anjuran untuk tercegah

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

dari penyakit adalah makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan
terutama protein serta minum air putih secara rutin. Konsumsi buah-buahan
segar atau vitamin bermanfaat untuk menghadapi kondisi tubuh yang menurun
setelah beraktivitas berat. Dengan demikian, pemenhan gizi perlu dilakukan
dengan baik sehingga fungsi imunitas berjalan optimal dan tercegah dari
-

penularan penyakit chikungunya.


Dimensi pencegahan gigitan nyamuk
Dengan pekerjaan mayoritas di kawasan perkebunan, memakai pakaian dan
celana panjang adalah suatu keharusan agar terhindar dari gigitan nyamuk.

Menggunakan lotion maupun obat nyamuk, juga dapat menggunakan kelambu.


Dimensi tindakan kontrol vektor
Pada item pencegahan masuknya nyamuk, keluarga intensif menjaga
rumahnya agar tidak dimasuki nyamuk. Hal ini dapat dilakukan seperti dengan
menutup pintu/jendela. Sedangkan pada sang hari, sangat dianjurkan
membuka ventilasi agar sinar matahari dapat masuk sehingga ruangan tidak

menjadi tempat perindukan nyamuk.


Dimensi tindakan kontrol larva
Dengan memberantas dari sumbernya, nyamuk tidak dapat berkembang biak.
Bila air dalam bak/penampungan masih bersih tapi dalam kondisi teratas dan
berjentik, penaburan abate mungkin akan menjadi efektif tanpa harus
mengurasnya.

Dimensi eliminasi perindukan nyamuk


Menggantung atau menumpuk pakaian menjadi kebiasaan yang sulit
dihilangkan, begitupun kebiasaan menutup tempat sampah. Tindakan ini
memang sederhana, tetapi apabila fihiraukan, maka memungkinkan nyamuk
dapat bertahan hidup pada tumpukan pakaian atau tempat sampah. Oleh
karena itu, keluarga perlu memperhatikan kebiasaan ini sebagai salah satu
upaya pencegahan tempat perindukan nyamuk. Hasil kedua item ini menjadi
salah satu masukan untuk memperbaiki kebiasaan sehari-hari dalam
memelihara lingkungan. Tindakannya seperti menutup tepat penampung air,
menguras bak mandi, membersihkan tempat minum hewan, membersihkan
semak halaman, menguur/membersihkan barang bekas, membersihkan wadah
perabot, mengalirkan genangan air, menutup tempat sampah, membersihkan
pot bunga, membersihkan toilet/kamar mandi.

Konsep Chikungunya di Komunitas (by: Arfianita.R)


2015

3. PENANGGULANGAN KASUS / PENANGGULANGAN FOKUS


adalah kegiatan Pemberantasan nyamuk penular Chikungunya yg dilaksanakan
dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk Chikungunya, larvasidasi,
penyuluhan, dan pengabutan panas (termal fog)/ pengabutan dingin (Ultra Low
Volume / ULV) menggunakan insektisida.