Anda di halaman 1dari 2

PERGESERAN NILAI PESANTREN

Pada awalnya, pendidikan pesantren berjalan sangat alami. Santri datang


kepada kyai untuk belajar agama dan kyai dengan ikhlas menerima santri
tersebut untuk belajar kepadanya. Karena jumlah santri yang datang
semakin banyak, maka kemudian santri membuat bilik-bilik kecil yang
digunakan untuk menginap para santri.

Untuk menopang kehidupan santri sehari-hari, mereka bekerja di sekitar


pondok, baik sebagai buruh tani atau menggarap sawah milik pak kyai,
yang hasilnya digunakan untuk makan bersama. Para kyai juga tidak digaji
sedikit pun oleh para santri, bahkan tidak sedikit di antara kyai yang
menghidupi para santrinya. Mereka mengajar dengan ikhlas tanpa
mengharapkan balasan apa-apa, kecuali pahala dan ridha dari Allah swt.
Para santri datang kepada kyai dalam rangka untuk belajar ilmu agama
dan mendalami akhlakul karimah sebagai bekal nanti ketika mereka
kembali kepada masyarakat.

Seiring dengan perubahan budaya masyarakat yang begitu cepat, lambat


laun nilai-nilai pesantren yang telah mengakar lama tersebut menjadi
berubah. Lembaga pendidikan pesantren tidak lagi mengajarkan akhlak
sebagai titik tekannya, tetapi justru akhlak menjadi nomor ke sekian
setelah sekolah. Banyak di antara lembaga pesantren yang lebih
mementingkan madrasahnya daripada pendidikan pondoknya, sehingga
pondok hanya berfungsi sebagai tempat tinggal semata layaknya asrama,
bukan sebagai lingkungan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman.

Bila dulu tujuan pendidikan pesantren adalah murni untuk penanaman


akhlak yang mulia dan pendalaman ilmu-ilmu agama, sekarang tujuannya
adalah hampir sama dengan sekolah-sekolah pada umumnya, yaitu
mendapatkan ijazah. Karena itu, tidak heran jika banyak di antara para
santri pondok pesantren yang “mbeling” dan setelah keluar mereka justru
menjadi brutal dan lebih nakal dari mereka yang tidak mondok.

Nilai-nilai lama pesantren, seperti keikhlasan, pengabdian dan ibadah,


juga mulai bergeser dalam pengelolaan pesantren. Jika dulu para ustadz
dan kyai mengajar dengan ikhlas meskipun tanpa digaji, bahkan
sebaliknya mereka rela mengeluarkan hartanya sendiri untuk menghidupi
pondok, sekarang setiap pondok pesantren berlomba-lomba untuk
menarik dana sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Meskipun hal
tersebut tidak menyalahi aturan, tetapi jika terlalu berlebihan bisa
menjadikan pondok pesantren kehilangan kebebasan tatkala melakukan
pembinaan kepada para santri, terutama dalam penanaman nilai-nilai
pondok.

Pembinaan dan pengajaran di pesantren bergeser menjadi sangat


transaksional. Para santri, termasuk para wali santri, memiliki bargaining
yang tinggi ketika berhadapan dengan nilai-nilai pondok seperti
kedisiplinan, kemandirian dan sebagainya. Tidak sedikit di antara santri
dan wali santri yang protes, melabrak dan bahkan melaporkan kepada
pihak yang berwajib, karena perlakuan pengasuh santri, ustadz atau kyai
yang keras kepada mereka. Penerapan hukuman kepada para santri yang
dulunya dianggap sebagai hal biasa bahkan wajib, tidak bisa lagi
diterapkan karena dianggap melanggar Hak Azazi Manusia.

Perubahan nilai pesantren sebagaimana dijelaskan di atas, juga


berpengaruh terhadap kehiduan para santri. Jika dulu pesantren menjadi
salah satu sarana untuk mendidik kemandirian para santri, dimana para
santri berupaya untuk menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja atau
mengabdi kepada kyai, sekarang nilai-nilai kemandirian tersebut telah
berubah. Para santri di beberapa pesantren tidak lagi mengurus dirinya
sendiri, melainkan selalu dilayani oleh pengasuh pondok pesantren.
Kegiatan-kegiatan harian seperti, makan, mencuci piring sendiri, mencuci
baju dan sebagainya, sudah ditangani seluruhnya oleh pondok, sehingga
para santri tinggal duduk manis dan belajar.

Fenomena seperti ini kelihatannya baik, tetapi pada hakikatnya tidak


mengajarkan kemandirian kepada santri. Karena itu banyak di antara
lulusan pesantren akhir-akhir ini yang tidak bisa beradaptasi dengan
masyarakat, karena mereka terbiasa dilayani oleh pengelola pondok
ketika berada di pesantren. Pesantren tidak lagi mendidik generasi yang
mandiri, kuat dan tangguh, tetapi justru melahirkan orang-orang yang
bermental rapuh dan cengeng.

Perubahan dan pembaharuan yang dilakukan oleh lembaga pesantren,


tidak seharusnya mengorbankan nilai-nilai lama pesantren yang baik.
Perubahan dan pembaharuan pesantren merupakan sebuah keharusan,
tetapi nilai-nilai lama pesantren seperti kemandirian, keikhlasan,
penanaman akhlak dan spiritual, harus tetap menjadi nilai-nilai utama
yang ditanamkan di lembaga pesantren, sebelum ilmu-ilmu pengetahuan
yang lain, karena justru dalam nilai-nilai pesantren itulah keunggulan dari
pesantren itu sendiri. Wallahu a’lam bishawab.