Anda di halaman 1dari 12

AKUNTANSI HOTEL

SAP 12
(ANALISIS DAN DESAIN SISTEM PELAPORAN PADA USAHA
PERHOTELAN)

Oleh:
Kelompok 9:
NI NYOMAN VITRIA ANJARSARI

(1306305135)

MADE RARA VIRGINIA NIRMALA

(1306305166)

IDA AYU CANDRA APSARI MANUABA

(1306305199)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2016/2017

I. Membuat Laporan Akuntansi Keuangan Berdasarkan USALI Pada Industri Hotel


Akuntansi bertujuan memberikan informasi mengenai operasional hotel. Dengan
informasi keuangan ini, manajemen akan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat.
Manajemen memerlukan informasi keuangan dengan tujuan perencanaan, analisis dan
pengendalian. Dengan informasi keuangan yang sekarang, manajemen dapat merencanakan
kegiatan periode yang akan datang, berupa anggaran periode yang akan datang. Selain itu,
manajemen juga dapat melakukan analisis dan pengendalian yang lebih baik untuk aktivitas
operasional hotel. Informasi keuangan untuk keputusan ekonomis hotel bersumber dari:
1.
2.
3.
4.

Laporan Rugi-Laba (Income Statement);


Neraca (Balance Sheet);
Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement);
Catatan atas Laporan Keuangan (Notes to Financial Statement).

Sistem akuntansi yang lazim diterapkan di industri perhotelan adalah Uniform System of
Accounts for Hotel (USAH). Sistem ini awalnya dikembangkan di Amerika Serikat oleh
perhimpunan pengusaha hotel di New York pada tahun 1925. Dengan berkembangnya industri
perhotelan bersistem jaringan (Chain Hotel) di Indonesia, hotel-hotel dengan jaringan tertentu
yang beroperasi di Indonesia mengadopsi Uniform System of Accounts for Hotel ini, USAH pun
terus dikembangkan. Kini USAH berkembang menjadi Uniform System of Accounts for The
Lodging Industry disingkat USALI. Sistem ini memberikan beberapa manfaat diantaranya
keseragaman pemahaman untuk istilah yang lazim diterapkan di bisnis perhotelan. Misalnya,
istilah gross operating profit (GOP) yang merupakan laba seluruh departemen minus biaya-biaya
departemen yang bersangkutan minus undistributed operating expenses. Dalam USALI,
terminologi yang diterapkan untuk gross operating profit adalah income after undistributed
operating expenses. Manfaat lainnya adalah data keuangan untuk hotel dengan kelas yang sama
dapat dibandingkan. Manfaat selanjutnya terutama dirasakan oleh pihak ketiga, yaitu membuat
data runut waktu dengan tujuan kompilasi dan interpretasi lebih lanjut.
Akuntansi keuangan hotel merupakan akuntansi departemental. Artinya, setiap
departemen hotel melaporkan hasil operasinya pada periode tertentu. Misalnya, kantor depan
hotel melaporkan aktivitasnya setiap bulan. Penjualan kamar yang terjadi dalam sebulan
dilaporkan bersamaan dengan biaya-biaya yang diserap untuk menghasilkan penjualan kamar
seperti biaya gaji dan upah, biaya alat tulis kantor, biaya yang dipakai habis di kamar tamu, dan

lain seagainya. Kantor depan juga melaporkan laba departemen yang di capai pada bulan atau
periode tahun tertentu.
1. Laporan Rugi-Laba
Sebagai industri jasa, hotel memiliki laporan keuangan yang sesuai dengan aktivitas
bisnisnya. Salah satu laporan keuangan hotel yang penting adalah laporan rugi-laba. Dalam
laporan rugi-laba, yang dilaporkan adalah penjualan, harga pokok penjualan, biaya-biaya yang
terjadi pada departemen yang bersangkutan, biaya-biaya operasional hotel yang tidak
didistribusikan ke masing-masing departemen hotel (undistributed operating expenses), biayabiaya tetap seperti depresiasi, sewa, bunga, pajak penghasilan, dan laba bersih. Jadi, laporan
rugi-laba merupakan laporan yang sistematis mengenai penjualan, harga pokok, dan biaya serta
laba (rugi) untuk periode tertentu. Periode tertentu dapat dalam satu bulan, tiga bulan atau satu
tahun. Secara teknis, operasional laporan rugi-laba hotel disiapkan setiap bulan sebagai laporan
antara (interim report) untuk kepentingan internal manajemen hotel yang bersangkutan. Laporan
rugi-laba yang disiapkan setiap bulan memberikan gambaran kepada manajemen hotel
pencapaian sasaran yang dicapai setiap bulan sehingga tindakan koreksi dapat dilaksanakan lebih
cepat.
2. Neraca
Neraca merupakan salah satu laporan keuangan hotel yang penting. Dalam neraca
dilaporkan posisi kekayaan hotel seperti kas, piutang, persediaan, aktiva lancar lain-lain, gedung
dan perlengkapan gedung, aktiva tetap lain-lain, dan tanah. Disamping kekayaan hotel, neraca
juga melaporkan kewajiban hotel yang terdiri dari utang dagang, utang pajak, utang gaji, utag
jangka pendek, utang jangka panjang serta modal.
3. Hubungan Laporan Rugi-Laba dengan Neraca
Laporan rugi-laba merupakan laporan yang mencakup aktivitas hotel untuk jangka waktu
setahun. Bila dalam jangka waktu operasi setahun tersebut hotel menghasilkan laba (penjualan
lebih besar daripada seluruh biaya yang terjadi) maka laba yang dihasilkan pada periode
tertentu, misalnya pada 2011, akan dilaporkan pada neraca 2011, per 31 Desember 2011
dibawah judul rekening modal, pada rekening laba yang ditahan. Laba periode ini dicantumkan
pada rekening laba yang ditahan karena laba ini pada saat pencatatan belum didistribusikan
kepada pemilik hotel berupa dividen.

Berikut ini adalah gambaran hubungan antara laporan rugi-laba dengan neraca:
1 Januari

31 Desember

Laporan Rugi Laba

Neraca

4. Elemen-elemen Laporan Keuangan Departemen Hotel


Akuntansi keuangan hotel merupakan akuntansi departemental. Disebut demikian karena
setiap departemen hotel melaporkan aktivitasnya selama periode tertentu. Departemen kamar
akan melaporkan aktivitasnya setiap periode (setiap bulan misalnya), demikian pula halnya
dengan departemen makanan dan minuman, dan departemen-departemen hotel lainnya. Laporan
aktivitas setiap departemen ini (penjualan dan biaya-biaya departemental yang diserap untuk
periode tertentu) pada laporan keuangan merupakan lampiran laporan keuangan hotel.
1. Laporan Rugi-Laba Departemen Kamar
a. Penjualan Kamar
Pada laporan rugi-laba departemen kamar dicantumkan semua sumber penjualan jasa
kamar untuk periode tertentu (sebulan, tiga bulan, atau setahun). Sumber-sumber
penjualan jasa kamar dari transient regular, transient group, permanent, dan penjualan
kamar tambahan (extraroom revenues).
b. Allowance
Allowance merupakan penyesuaian harga kamar untuk yang melampaui perjanjian
sebelumnya. Kesalahan pembebanan harga kamar yang terjadi pada saat tamu checkin dan diperbaiki beberapa hari kemudian, atau pada saat check-out, disebut
allowance. Jadi, allowance adalah istilah teknis untuk memperbaiki kesalahan
pembebanan harga kamar yang terjadi pada waktu yang lampau (kemarin atau
beberapa hari yang lalu).
c. Biaya-biaya Operasional Langsung
Biaya-biaya yang terjadi pada departemen kamar dibebankan langsung ke departemen
kamar seperti gaji dan upah, employee benefits, biaya tembikar (chinaware), bahan
habis pakai (guest supplies, cleaning supplies, paper supplies), komisi, seragam,
pelatihan (training), dan biaya resevasi.

d. Laba (Rugi) Departemen Kamar


Laba departemen kamar didapat dengan mengurangkan penjualan dengan seluruh
biaya yang diserap oleh departemen kamar.
2. Laporan Laba-Rugi Departemen Makanan dan Minuman
a. Penjualan Makanan dan Minuman
Pada penjualan dicantumkan sumber-sumber penjualan makanan dan minuman, yaitu
restoran, coffee shop, room service dan bar.
b. Allowance
Allowance adalah istilah teknis untuk memperbaiki kesalahan pembebanan harga
makanan dan minuman yang terjadi kemarin atau beberapa hari yang lalu.
c. Harga Pokok Makanan dan Minuman
Harga pokok merupakan harga pokok bahan makanan yang digunakan untuk
menghasilkan penjualan. Harga pokok makanan di industri perhotelan dihitung hanya
untuk bahan makanan yang digunakan untuk memproduksi makanan. Biaya-biaya lain
seperti tenaga kerja dan penyusutan tidak dibebankan ke hara pokok karena biaya
tenaga kerja dibebankan ke departemen yang bersangkutan. Adapun penyusutan
peralatan dibebankan ke rekening penyusutan. Pendekatan yang sama diterapan untuk
menentukan harga pokok minuman. Harga pokok dibebankan menjadi harga pokok
makanan dan minumanhang dikonsumsi dan harga pokok makanan yang dijual. Harga
pokok makanan yang dikonsumsi adalah harga pokok makanan yang digunakan untuk
memproduksi makanan yang ditawarkan. Harga pokok makanan yang dibebankan
sesuai dengan jumlah harga pokok makanan yang keluar dari gudang makanan.
Adapun harga pokok makanan yang dijual didapat dari harga pokok makanan yang
dikonsumsi minus harga pokok makanan untuk karyawan dan harga pokok makanan
untuk karyawan dan harga pokok untuk tujuan promosi dan tujuan lain seperti
pertemuan dengan dewan direksi/pemilik hotel. Hotel lazimnya memberikan makanan
dan minuman satu kali selama karyawan hotel bertugas. Harga pokok untuk makanan
dan minuman pada akhirnya dibebankan pada rekening employee benefits, pendekatan
yang sama diterapkan untuk menentukan harga pokok minuman yang dijual.

d. Biaya-biaya
Biaya-biaya yang terjadi di departemen makanan dan minuman dibebankan kepada
departemen ini. Biaya-biaya dimaksud adalah gaji dan upah, employee benefits, biaya
tembikar, bahan habis pakai (guest supplies, cleaning supplies, paper supplies),
komisi, seragam, pelatihan (training), dan biaya musik dan artis.
e. Laba (Rugi) Departemen Makanan dn Minuman
Laba departemen makanan dan minuman didapat dengan mengurangkan penjualan
dengan harga pokok dan seluruh biaya yang diserap oleh departemen makanan dan
minuman.
3. Laporan Rugi-Laba Minor Operated Departments
Departemen lain yang menghasilkan penjualan seperti telepon, laundry dan dry cleaning
(lazim dikelompokkan ke dalam minor operated departments) juga membuat laporan rugilaba dengan pendekatan sama dengan departemen kamar dan departemen makanan dan
minuman.
4. Undistributed Operating Expenses
Departemen yang hanya menyerap biaya dan tidak menghasilkan penjualan (seperti
departemen administrasi dan umum, pengolahan data, human resources, transportasi,
pemasaran, pemeliharaan dan biaya energi) hanya melaporkan semua biaya yang terjadi di
departemen tersebut untuk periode tertentu. Dengan laporan ini, aktivitas tetap separtemen
hotel dapat diketahui dan dikendalikan.
5. Contoh Laporan Keuangan Hotel
HOTEL KONTEMPORER
NERACA
PER 31 DESEMBER 20XX
(dalam rupiah)
Aktiva
Aktiva Lancar
Kas
Investasi jangka pendek
Piutang
Penyisihan piutang ragu-ragu
Persediaan
Pembayaran di muka
Jumlah Aktiva Lancar
Aktiva Tetap
Tanah
Mesin dan peralatan

Pasiva
Utang Lancar
xxx.xxx.xxx
Utang dagang
xxx.xxx.xxx
Utang yang diperhitungkan
xxx.xxx.xxx
Uang muka pemesanan kamar
(xxx.xxx.xxx) Porsi utang jangka panjang
xxx.xxx.xxx
Utang pajak penghasilan
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
Jumlah utang lancar
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx

Utang Jangka Panjang


Hipotek

xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx

Gedung

dan

perlengkapan

gedung
Furniture and fixtures
Kendaraan
Aktiva operasional
Akumulasi penyusutan
Beban yang ditangguhkan
Jumlah aktiva tetap
Jumlah Aktiva

xxx.xxx.xxx

Jumlah utang jangka panjang

xxx.xxx.xxx

xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
(xxx.xxx.xxx)
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx

Modal
Saham
Agio saham
Laba yang ditahan
Jumlah modal

xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx
xxx.xxx.xxx

xxx.xxx.xxx

Jumlah Pasiva

xxx.xxx.xxx

HOTEL KONTEMPORER
LAPORAN RUGI-LABA
PERIODE SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20XX
(dalam rupiah)
Pendapatan Departemen

Jumlah

Kamar

xxx.xxx.xxx

Makanan dan minuman

xxx.xxx.xxx

Telekomunikasi

xxx.xxx.xxx

Binatu

xxx.xxx.xxx

Lainnya

xxx.xxx.xxx

Jumlah

xxx.xxx.xxx

Biaya dan Harga Pokok


Kamar

(xxx.xxx.xxx)

Makanan dan minuman

(xxx.xxx.xxx)

Telekomunikasi

(xxx.xxx.xxx)

Binatu

(xxx.xxx.xxx)

Lainnya

(xxx.xxx.xxx)

Laba Departemen

xxx.xxx.xxx

Biaya Tidak Didistribusikan


Administrasi dan umum

(xxx.xxx.xxx)

Pemasaran

(xxx.xxx.xxx)

POMEC

(xxx.xxx.xxx)

Laba Setelah Biaya Tidak Didistribusikan

xxx.xxx.xxx

Asuransi

(xxx.xxx.xxx)

Laba Sebelum Biaya Bunga, Depresiasi, Amortisasi, dan Pajak

xxx.xxx.xxx

Biaya Bunga

(xxx.xxx.xxx)

Laba Sebelum Depresiasi, Amortisasi, dan Pajak

xxx.xxx.xxx

Depresiasi dan amortisasi

(xxx.xxx.xxx)

Laba Sebelum Pajak

xxx.xxx.xxx

Pajak

(xxx.xxx.xxx)

Laba Bersih

xxx.xxx.xxx

II. MEMBUAT LAPORAN AKUNTANSI MANAJEMEN YANG TERDIRI DARI


STATISTIC DAN DEPARTMENTAL STATEMENT
Sistem pelaporan keuangan hotel didasarkan pada pendekatan perilaku (behavioral
approach), yaitu dengan memperhatikan tujuan dan motivasi penggunaan laporan. Dengan
demikian sistem pelaporan dibedakan menjadi:
1.

Laporan akuntansi keuangan

2.

Laporan akuntansi manajemen


Bagamanapun, dalam pelaksanaannya terdapat kaitan yang sangat erat antara akuntansi

manajemen dengan akuntansi keuangan terutama yang menyangkut masalah sistem akuntansi
keuangan, terutama yang menyangkut bagan perkiraan serta prosedur akuntansi keuangan.
Laporan akuntansi manajemen dapat pula berbentuk analisa keuangan atas laporan akuntansi
keuangan khususnya yang berkaitan dengan neraca dan laporan laba rugi. Analisa keuangan
merupakan salah satu metode yang dapat menunjukkan kekuatan dan kelemahan perusahaan dari
berbagai aspek keuangan. Hasil analisa ini diperlukan oleh berbagai pihak baik eksternal maupun
internal untuk mengevaluasi kondisi perusahaan serta untuk dapat memprediksi kemampuan
perusahaan di masa yang akan datang.
1. Laporan Akuntansi Keuangan
Laporan akuntansi keuangan disususn berdasarkan SAK, sehingga secara garis besar
tidak banyak terdapat perbedaan dengan laporan akuntansi keuangan yang disusun oleh industri
lain. Hal yang menjadi ciri utama yang membedakan dengan industri lainnya hanya menyangkut
masalah banyaknya jenis pendapatan (meliputi perusahaan dagang, perusahaan jasa, perusahaan
manufaktur, dan jasa broker). Demikian juga halnya dengan perhitungan harga pokok yang

disesuaikan dengan jenis penjualan tersebut. Analisa laporan keuangan dapat dilakukan dengan
berbagai metode antara lain:
a. Analisis rasio
b. Analisis horisontal
c. Analisis vertikal
d. Analisis sumber dan penggunaan dana
e. Pengukuran kesehatan dan kinerja keuangan dari berbagai persepsi
2. Laporan Akuntansi Manajemen
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yang berkaitan dengan penyusunan
laporan akuntansi manajemen seperti:
a. Laporan akuntansi manajemen tidak terikat pada kaidah yang ditentukan dalam SAK.
b. Laporan akuntansi manajemen lebih menekankan pada relevansi informasi yang
dihasilkan sebagai dasar pengambilan keputusan,
c. Laporan akuntansi manajemen tidak hanya didasarkan pada data historis tapi juga
meliputi penafsiran serta prediksi di masa yang akan datang.
d. Laporan akuntansi manajemen tidak semata-mata melaporkan informasi dalam satuan
unit uang tetapi juga meliputi satuan ukur yang lain.
Adapun yang menjadi tujuan pelaporan akuntansi manajemen meliputi hal-hal sebagai
berikut:
a. Mengukur dan menilai kinerja suatu unit, departemen atau organisasi secara keseluruhan.
b. Memberikan informasi kepada manajemen secara cepat dan akurat dalam rangka
pengambilan keputusan.
c. Membantu manajemen dalam menentukan atau menyusun perencanaan.
3. Bentuk Dan Kerangka Laporan Akutansi Manajemen
Laporan akuntansi manajemen pada dasarnya menunjukkan perbandingan antara
anggaran dan realisasi. Dengan bentuk seperti ini, pemakai diharapkan mampu memantau secara
lebih dini adanya penyimpangan yang terjadi untuk segera mengambil keputusan serta tindakan
perbaikan. Dengan demikian laporan akuntansi manajemen memerlukan data proyeksi yang
objektif sehingga keputusan yang dihasilkan tidak bersifat bias. Perencanaan/ anggaran yang
dibuat merupakan salah satu tolak ukur dalam melakukan penilaian dan pengendalian. Proses
pengendalian umumnya terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:

a. Penentuan

pelaksanaan

pekerjaan

serta

tolak

ukur

keberhasilan

suatu

pusat

pertanggungjawaban.
b. Pendelegasian wewenang.
c. Supervisi pelaksanaan.
d. Pengukuran kerja.
e. Perbandingan antara anggaran dan realisasi. Selisih antara anggaran dan realisasi
diidentifikasi dan diuraikan lebih jauh dengan berbagai metode yang dapat memberikan
jalan keluar.
Tahap pengendalian di atas relatif sama dengan pengendalian di setiap industri. Hal yang
spesifik adalah terletak pada unit organisasi serta sifat pertanggungjawaban serta tolak ukur
keberhasilan yang sesuai dengan struktur organisasi yang ada di hotel. Laporan yang disusun
berdasarkan responsibility centre yang ada di hotel diharapkan dapat dipakai untuk mengevaluasi
pencapaian target bagi setiap responsibility centre serta mendorong terjadinya peningkatan
prestasi.

4. Laporan Manajemen
Pihak manajemen memerlukan laporan hasil aktivitas dalam suatu periode, di mana
laporan ini digunakan sebagai dasar untuk membuat perencanaan strategis dan sebagai tolak ukur
dalam pengambilan keputusan. Adapun laporan yang dihasilkan meliputi:
a. Laporan departemental, yang menjelaskan tentang hasil aktivasi dalam suatu periode
untuk masing-masing departemen operasi dan departemen pendukung (overhead).
Laporan ini digunakan sebagai informasi pendukung laporan keuangan.
b. Statistik, yaitu laporan yang memberikan informasi tentang jumlah kamar yang tersedia
dijual (room avaliable), jumlah tingkat hunian (room accupied), persentase tingkat
hunian (% of occupancy), harga jual kamar rata-rata (average room rate), jumlah tamu
yang menginap (number of guest), dan informasi lainnya. Informasi tentang statistik hotel
bisa dilihat pada Daily of sales.
c. Laporan keuangan, terdiri dari:
1. Laporan laba rugi (income statement), menjelaskan tentang pendapatan dan beban
dari hasil operasi dalam suatu periode.
2. Neraca (balance sheet), yang menjelaskan tentang hubungan antara aktiva, kewajiban
dan modal dalam laporan posisi keuangan dari operasi dari operasi pada suatu periode
keuangan.
3. Laporan arus kas (statement of cash flow), menjelaskan tentang perubahan dalam
posisi kas, baik pada pada sumber maupun penggunaan kas.

DAFTAR PUSTAKA
1.

A.A. GP. Widanaputra, Herkulanus Bambang Suprasto, Dodik

Aryanto & M.M. Ratna Sari. Akuntansi Perhotelan.


2.
https://www.scribd.com/doc/124884605/Makalah-AkuntansiPerhotelan
3.

http://meweks.blogspot.co.id/2011/12/sistem-pelaporan-dalamperhotelan.html