Anda di halaman 1dari 32

PENDAHULUAN

Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan
dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai dengan hipoksia, hiperkapnia dan berakhir
dengan asidosis. Hipoksia yang terdapat pada penderita asfiksia ini merupakan factor terpenting
yang dapat menghambat adaptasi bayi baru lahir terhadap kehidupan ekstrauterin. Penilaiian
statistic dan pengalaman klinis atau patologi anatomis menunjukkan

bahwa keadaan ini

merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir. Hal ini dibuktikan oleh
Drage dan Brendes yang mendapatkan bahwa skor Apgar yang rendah sebagai manifestasi
hipoksia berat pada bayi saat lahir akan memperlihatkan angka kematian yang tinggi.1

Working Diagnosis
Asfiksia Neonatorum
Asfiksia adalah ketidakmampuan bayi baru lahir untuk bernapas pada waktu 60 detik
pertama.Asfiksia kelahiran merupakan konsekuensi dari hipoksia intrapartum dimana bayi
mebutuhkan resusitasi lebih lanjut.1

Tabel 1. Faktor risiko terjadinya asfiksia.1


1

SKOR APGAR
Virginia Apgar menemukan system pengukuran yang sederhana dan handal untuk derajat stress
intrapartum saat lahir.Kegunaan utama system skor ini adalah untuk memaksa pemeriksa
memeriksa anak secara sistematis dan untuk mengevaluasi nerbagai factor yang mungkin
berkaitan dengan dengan masalah kardiopulmonal.Skor 0,1,atau 2 diberikan pada masing-masing
dari kelima variable,1 dan 5 menit setelah lahir.Skor 10 berarti bahwa seluruh tubuh bayi
berwarna merah muda dan memiliki tanda vital normal,sedangkan skor 0 berarti bahwa bayi
apnea dan tidak memiliki denyut jantung.Terdapat hubungan terbalik antara skor Apgar dengan
derajat asidosis serta hipoksia.Skor 4 atau kurang pada usia 1 menit berhubungan dengan
peningkatan insidensi asidosis,sedangkan skor 8-10 biasanya berhubungan dengan ketahanan
hidup yang normal.Skor 4 atau kurang pada 5 menit berhubungan dengan peningkatan insidensi
asidosis,distress pernapasan,serta kematian.Meskipun demikian,banyak neonates yang lahir
dengan skor Apgar rendah ternyata tidak asidotik.Pada beberapa kasus,asfiksia terjadi
sedemikian akutnya sampai tidak dicerminkan dalam pH darah.Selain itu,proses lain selain
asfiksia (prematuritas ekstrem sendiri,anestesi atau sedasi ibu,dan patologi

ssp) dapat

menghasilkan skor yg rendah.Terlepas dari factor penyebabnya,skor Apgar yang tetap rendah

memerlukan resusitasi.Penentuan skor Apgar harus diteruskan setiap 5 menit,sampai skor


mencapai nilai 7.3
Frekuensi Denyut Jantung
Frekuensi denyut jantung normal saat lahir antara 120 dan 160 denyut per menit.Denyutan
diatas 100 per menit biasanya menunjukkan asfiksia dan penurunan curah jantung.
Upaya Bernapas
Bayi normal akan megap-megap saat lahir,menciptakan upaya bernapas dalam 30 detik,dan
mencapai pernapasan yang menetap pada frekuensi 30-60 kali pee menit pada usia 2 sampai
3 menit Apnea dan pernapasan yang lambat atau tidak teratur terjadi oleh berbagai
sebab,termasuk asidosis berat,asfiksia,infeksi janin,kerusakan system saraf pusat ,atau
pemberian obat pada ibu (barbiturate,narkotik,dan trankuilizer).
Tonus Otot
Semua bayi normal menggerak-gerakkan semua anggota tubuhnya secara aktif

segera

setelah lahir.Bayi yang tidak dapat melakuka hal tersebut atau bayi dengan tonus otot yang
lemah biasanya asfiksia,mengalami depresi akibat obat,atau menderita kerusakan system
saraf pusat.
Kepekaan Refleks
Respons normal pada pemasukan kateter ke dalam faring posterior melalui lubang hidung
adalah menyeringai,batuk,atau bersin.
Warna Kulit
Hampir semua bayi berwarna biru saat lahir.Mereka berubah menjadi merah muda setelah
tercapai ventilasi yang efektif.Hamoir semua bayi memiliki tubuh serta bibir yang berwarna
merah muda,tetapi sianotik pada tangan serta kakinya (akrosianosis) 90 detik setelah
lahir.Sianosis

menyeluruh

setelah

90

detik

terjadi

pada

curah

jantung

yang

rendah,methemoglobinemia,polisitemia,penyakit jantung congenital jenis sianotik,perdarahan


intracranial,penyakit membrane hialin,aspirasi darah atau mekonium,obstruksi jalan
napas,paru-paru

hipoplastik,hernia

persisten.Kebanyakan

bayi

yang

diafragmatika,dan
pucat

saat

lahir

hipertensi
mengalami

pulmonal
vasokonstriksi

perifer.Vasokonstriksi biasanya disebabkan oleh asfiksia,hipovolemia,atau asidosis berat.3,4


Tabel 2. Skor Apgar
Tanda

Warna kulit

Seluruh tubuh biru/

Tubuh kemerahan,

Seluruh tubuh

Laju

pucat

ekstremitas biru

kemerahan

Tidak ada

<100

>100 x/ menit

Tidak bereaksi

Gerakan sedikit

Reaksi melawan

Tidak ada

Ekstremitas fleksi

Gerakan aktif

pergerakan

sedikit

Tidak ada

Lambat

jantung
Refleks
Tonus otot

Usaha

Menangis kuat

napas

Skor Apgar 8-10 pada usia 1 menit


Kebanyakan bayi yang lahir hidup mempunyai skor Apgar 8-10 pada usia 1 meit dan jarang
memerlukan tindakan resusitasi kecuali pengisapan jalan napas.Neonatus yang sangat premature
atau yang mengalami stress intrauterine yang tidak lazim,pada awalnya dapat tampak sehat,tetapi
memerlukan resusitasi beberapa menit setelah lahir.Oleh karena itu,semua bayi harus dievaluasi
ulang secara cermat pada usia 5 menit,setelah stimulasi kelahiran berhenti.Terlepas dari skor
Apgar 5 menit,semua bayi harus diobservasi secara cermat selama 12 jam pertama setelah lahir
untuk memastikan bahwa mereka telah beradaptasi dengan baik pada kehidupan ekstrauterin.3
Skor Apgar 5-7 pada Usia I Menit
Bayi-bayi ini mengalami asfiksia ringan, tetapi biasanya berespons terhadap pemberian oksigen
dan pengeringan dengan handuk. Mereka tidak boleh dirangsang dengan memberi tepukan pada
kaki atau bokong. Jika bayi tersebut gagal mempertahankan pernapasan yang ritmis saat
rangsangan dihentikan, ulangi pemberian rangsangan dan teruskan pemberian oksigen mdalui
hidung serta mulut Tentukan obat apa yang telah diterima ibu dan kapan ia memakan obat itu.
Jika ibu menerima narkotik 30-60 menit sebelum kelahiran, pertimbangkan pemberian nalokson
intra- muskular (0,1 mg/kg) kepada bayinya jika ventilasi tidak adekuat.
Skor Apgar 3-4 pada Usia 1 Menit

Bayi-bayi ini biasanya berespons terhadap ventilasi kantong serta sungkup. Jika tidak, bayi harus
ditangani sebagai bayi dengan skor 0-2. Selain itu, pertimbangkan juga pemberian nalokson jika
ibu meminum narkotik.
Skor Apgar 0-2 pada Usia 1 Menit
Bayi-bayi ini mengalami asfiksia berat, memerlukan ventilasi segera, dan mungkin memerlukan
pemijatan jantung serta bantuan sirkulasi. Jika ventilasi menggunakan sungkup serta kantong
tidak segera berhasil, lakukan intubasi trakea dan kembangkan serta ventilasikan paru dengan
oksigen yang cukup (biasanya 80-100%) untuk mempertahankan Pa02 atau saturasi oksigen
yang normal (87-92% untuk bayi prematur dan 92-97% untuk neonatus cukup bulan).
Pengembangan yang sama di antara kedua apeks dada saat inspirasi menunjukkan ventilasi
kedua paru; ini merupakan tanda yang lebih baik daripada auskultasL Bunyi napas bilateral
tidak memastikan bahwa kedua paru mendapat ventilasi karena bunyi napas dihantarkan dengan
baik pada dada yang kedl, bahkan bila ada atdcktasis atau pneumotoraks. Bila ventilasi adekuat,
frekuensi denyut jantung meningkat dan sianosis menghilang, kecuali terdapat acidosis
metabolik yang berat. Pengukuran pH arteri, PaC02 dan PaC^ adalah satu-satunya cara yang
handal dalaro menilai ventilasi yang adekuat. Untuk mulai mengembangkan paru, mungkin
diperiukan tekanan sebesar 30-40 an H2(\ tetapi tekanan sebesar 20-30 cm HzO biasanya sudah
mencukupl Begitu para mengembang, ventilasi yang adekuat biasanya dapatdicapai dengan
tekanan kurang dari 20 cm H2Q. Pada 2 menit pertama resusitasi, tekanan inflasi
(pengembangan) haras dipertahankan seJama 1-2 detik pada setiap napas kesepuluh untuk
mengembangkan alveoli seita meredis tribusi ventilasi dari segmen paru yang terventilasi baik
ke segmen yang terventilasi buruk. Tekanan akhir-ekspirasi positif (PEEP, positive end-expiratory
pressure) sebesar 3-5 cm H20 mungkin perlu dipertahankan untuk mempertahankanoksigenasi
yang adekuat.
Ventilasi kantong-dan-sungkup tidak seefektifventilasi melalui pipa endotrakea, khususnya
bila terdapat penyakit paru bermakna. VentOasi kantong-dan-sungkup sering mendistensi
lambungdengan udara, yang mengangkat diafragma dan membatasi ventilasi. Oleh karena itu,
lambung harus didekompresi menggunakan pipa orogastrik seJama ventilasi kantong-dansungkup. Keputusan untuk melanjutkan dengan intubasi trakea didasarkan pada temuan klinis
serta keterampiJan orang yang mdakukan intubasi.3,4
5

FAKTOR RISIKO YANG BERKAITAN DENGAN KEBUTUHAN RESUSITASI


NEONATUS3
A. FAKTOR ANTEPARTUM
1. Diabetes maternal
2. Hipertensi kronik
3. Anemia atau isoimunisasi
4. Riwayat kemarian janin dan neonatus
5. Perdarahan pada trimester dua dan tiga
6. Infeksi maternal
7. Ibu dengan penyakit jantung, ginjal, paru, tiroid,aatau kelainan neurologi
8. Polihidramnion
9. Oligohidramnion
10. Ketuban pecah dini
11. Hidrops fetalis
12. Kehamilan lewat waktu
13. Kehamilan ganda
14. Berat janin tidak sesuai masa kehamilan
15. Terapi obat-obat seperti Karbonat Magnesium; B bloker
16. Ibu pengguna obat-obat bius
17. Malformasi janin dan anomali
18. Berkurangnya gerakan janin
19. Tanpa pemeriksaan antenatal
20. Usia < 16 atau > 35 tahun
B. FAKTOR INTRAPARTUM
1. Bedah kaesar darurat
2. Kelahiran dengan ekstraksi vakum
3. Letak sungsang atau presentasi abnormal
4. Kelahiran kurang bulan
5. Persalinan presipitatus
6

6. Korioamnionitis
7. Ketuban pecah lama (>18 jam sebelum persalinan)
8. Partus lama (>24 jam)
9. Kala 2 lama (>2 jam)
10. Makrosomia
11. Bradikardia janin persisten
12. Frekuensi jantung janin yang tidak beraturan
13. Pengguna anestesi umum
14. Hiperstimulasi uterus
15. Pengguna obat narkotik dalam 4 jam/kurang sebelum persalinan
16. Air ketuban hijau kental bercampur mekonium
17. Prolaps tali pusat
18. Solusio plasenta
19. Plasenta previa
20. Perdarahan intrapartum

LANGKAH-LANGKAH RESUSITASI NEONATUS


Neonatus aterm yang cairan ketubannya jernih dan bersih dari mekonium, langsung bernafas,
menangis, dan tonus ototnya baik memerlukan perawatan rutin, seperti mengeringkan,
menghangatkan, dan membersihkan jalan nafas dengan balon penghisap atau kateter penghisap.
Sebaliknya, neonatus yang tidak memenuhi kriteria di atas memerlukan langkah-langkah
resusitasi. Nilai Apgar dapat digunakan untuk menentukan perlu tidaknya resusitasi.
Langkah-langkah resusitasi neonatus antara lain:
1.

Stabilisasi

2.

Ventilasi

3.

Kompresi dada

4.

Penggunakan medikasi

Setiap langkah memerlukan waktu 30 detik untuk menuju ke langkah berikutnya. Untuk menuju
ke langkah berikutnya diperlukan penilaian terhadap respirasi, detak jantung, dan kulit bayi.
7

Contohnya, apnea dan gasping merupakan indikasi bantuan ventilasi. Peningkatan atau
penurunan detak jantung dapat menunjukkan kondisi perbaikan atau perburukan. Sianosis
sentral, penurunan cardiac output, hipotermia, asidosis, atau hipovolemia merupakan indikasi
dari resusitasi lebih lanjut.2,7

Sumber : E1029 : 2005 American Heart Association (AHA) Guidelines for


Cardiopulmonary and Neonatal Patients: Neonatal Resuscitation Guidelines
Resuscitation (CPR) and Emergency Cardiovascular Care (ECC) of Pediatric . Illinois:
American Academy of Pediatrics . 2006.

Langkah Awal Resusitasi


Langkah awal untuk memulai resusitasi meliputi mengurangi pengeluaran panas,
memposisikan kepala pada sniffing position untuk membuka jalan nafas, membersihkan jalan
nafas, dan memberikan rangsangan.
Gambar 1.Langkah awal resusitasi.2

1. Menghangatkan
Termoregulasi merupakan aspek penting dari langkah awal resusitasi. Hal ini dapat dilakukan
dengan meletakkan neonatus di bawah radiant warmer. Sebaiknya bayi yang diletakkan di
9

bawah radiant warmer dibiarkan tidak berpakaian agar dapat diobservasi dengan baik serta
mencegah terjadinya hipertermi. Bayi yang dengan berat kurang dari 1500 gram, mempunyai
risiko tinggi terjadinya hipotermi. Untuk itu, sebaiknya bayi tersebut dibungkus dengan plastik,
selain diletakkan di bawah radiant warmer. Tujuan dari resusitasi neonatus yaitu untuk mencapai
normotermi dengan cara memantau suhu, sehingga tidak terjadi hipertermi iatrogenik.2,6
2. Memposisikan Kepala dan Membersihkan Jalan Nafas
Setelah diletakkan di bawah radiant warmer, bayi sebaiknya diposisikan terlentang dengan
sedikit ekstensi pada leher pada posisi sniffing position.

Kemudian jalan nafas harus

dibersihkan. Jika tidak ada mekonium, jalan nafas dapat dibersihkan dengan hanya menyeka
hidung dan mulut dengan handuk, atau dapat dilakukan suction dengan menggunakan bulb
syringe atau suction catheter jika diperlukan. Sebaiknya dilakukan suction terhadap mulut lebih
dahulu sebelum suction pada hidung, untuk memastikan tidak terdapat sesuatu di dalam rongga
mulut yang dapat menyebabkan aspirasi. Selain itu, perlu dihindari tindakan suction yang terlalu
kuat dan dalam karena dapat menyebabkan terjadinya refleks vagal yang menyebabkan
bradikardi dan apneu. 2,7

sniffing position
source : http://www.cgmh.org.tw/intr/intr5/c6700/N%20teaching/Neonatal%20Resuscitation
%20Supplies%20and%20Equipment.html//

10

Jika terdapat mekonium tetapi bayinya bugar, yang ditandai dengan laju nadi lebih dari
100 kali per menit, usaha nafas dan tonus otot yang baik, lakukan suction pada mulut dan
hidung dengan bulb syringe ( balon penghisap ) atau kateter penghisap besar jika diperlukan. 5,7
Pneumonia aspirasi yang berat merupakan hasil dari aspirasi mekonium saat proses
persalinan atau saat dilakukan resusitasi. Oleh karena itu, jika bayi menunjukan usaha nafas
yang buruk, tonus otot yang melemah, dan laju nadi kurang dari 100 kali per menit, perlu
dilakukan suction langsung pada trachea dan harus dilakukan secepatnya setelah lahir. Hal ini
dapat dilakukan dengan laringoskopi langsung dan memasukan kateter penghisap ukuran 12
French (F) atau 14 F untuk membersihkan mulut dan faring posterior, dilanjutkan dengan
memasukkan endotracheal tube, kemudian dilakukan suction. Langkah ini diulangi hingga
keberadaan mekonium sangat minimal. 5,6,7

Source : http://www.firstaidmonster.com/popup_image.php/pID/7122

sumber:

11

http://healthprofessions.missouri.edu/cpd/RT/CRCE/nrpinfo.php

Sumber : http://journal.medscape.com/content/1999/00/43/71/437101/437101_fig.html

3. Mengeringkan dan Memberi Rangsangan


Ketika jalan nafas sudah dibersihkan, bayi dikeringkan untuk mencegah terjadinya kehilangan
panas, kemudian diposisikan kembali. Jika usaha nafas bayi masih belum baik, dapat diberikan
rangsang taktil dengan memberikan tepukan secara lembut atau menyentil telapak kaki, atau
dapat juga dilakukan dengan menggosok-gosok tubuh dan ekstremitas bayi. 2,7

12

Penelitian laboratotium menunjukkan bahwa pernapasan adalah tanda vital pertama yang
berhenti ketika bayi baru lahir kekurangan oksigen. Setelah periode awal pernapasan yang cepat
maka peride selanjutnya disebut apnu primer. Rangsangan seperti mengeringkan atau menepuk
telapak kaki akan menimbulkan pernapasan.7
Walaupun demikian bila kekurangan oksigen terus berlangsung, bayi akan melakukan beberapa
usaha bernapas megap megap dan kemudian masuk ke dalam periode apnu sekunder. Selama
masa apnu sekunder, rangsangan saja tidak akan menimbulkan kembali usaha pernapasan bayi
baru lahir. Bantuan pernapasan dengan ventilasi tekanan positif harus diberikan untuk mengatasi
masalah akibat kekurangan oksigen. Frekuensi jantung akan mulai menurun pada saat bayi
mengalami apnu primer , tekanan darah akan tetap bertahan sampai dimulainya apnu sekunder.7

4. Evaluasi Pernafasan, Laju Nadi, dan Warna Kulit


Langkah terakhir dari langkah awal resusitasi yaitu evaluasi pernafasan, laju nadi dan warna
kulit. Pergerakan dada harus baik dan tidak ada megap megap (gasping ). Gasping menunjukkan
adanya usaha nafas yang tidak efektif dan memerlukan ventilasi tekanan positif. Selain itu, laju
nadi harus lebih dari 100 kali per menit, yang diukur dengan cara melakukan palpasi tekanan
nadi di daerah dasar umbilikus, atau dengan auskultasi dinding dada sebelah kiri. Jika laju nadi
kurang dari 100 kali per menit, segera lakukan ventilasi tekanan positif.

sumber : http://healthprofessions.missouri.edu/cpd/RT/CRCE/nrpinfo.php

13

Penilaian warna kulit dapat dilakukan dengan memperhatikan bibir dan batang tubuh bayi untuk
menilai ada tidaknya sianosis sentral. Sianosis sentral menandakan terjadinya hipoksemia,
sehingga perlu diberikan oksigen tambahan. Jika masih terjadi sianosis setelah diberikan oksigen
tambahan, ventilasi tekanan positif perlu dilakukan, bahkan dengan laju nadi lebih dari 100 kali
per menit. Jika sianosis sentral masih terjadi dengan ventilasi tekanan positif yang adekuat, perlu
dipikirkan adanya penyakit jantung bawaan atau adanya hipertensi pulmoner yang persisten.

PENILAIAN DAN PENATALAKSANAAN JALAN NAFAS 2


Penilaian Jalan Nafas
Seperti yang sudah disebutkan, penilaian dan penatalaksanaan dari jalan nafas dapat
dilakukan dengan cara pembersihan jalan nafas, memposisikan bayi pada sniffing position untuk
membuka jalan nafas. Selain itu, dapat pula dilakukan evaluasi terhadap laju nadi dan warna
kulit bayi. Evaluasi ini harus dilakukan dengan baik karena bila ada salah satu tanda vital yang
abnormal, akan segera membaik jika diberikan ventilasi. Jadi, di dalam resusitasi neonatus,
pemberian ventilasi yang adekuat merupakan langkah yang paling penting dan paling efektif.
Pemberian Oksigen
Pemberian oksigen diperlukan apabila neonatus dapat bernafas, laju nadi lebih dari 100
kali per menit, tetapi masih terjadi sianosis sentral. Oksigen aliran bebas oksigen diberikan
dengan cara dialirkan ke hidung bayi secara pasif, dapat diberikan menggunakan sungkup, Tpiece resuscitator, atau selang oksigen (oxygen tubing) sesuai dengan cara yang diperlukan.
Untuk memastikan neonatus mendapatkan oksigen dengan konsetrasi tinggi, sungkup harus
diletakkan menempel pada wajah, agar menciptakan tekanan yang setara dengan Continuous
Positive Airway Pressure (CPAP) atau Positive End Expiratory Pressure (PEEP). Jika
menggunakan selang oksigen, posisi tangan harus dibentuk seperti mangkok di ujung selang dan
diletakkan di depan wajah bayi. Oksigen tidak boleh diberikan lebih dari 10 liter per menit
(LPM) untuk waktu yang lama. Oksigen cukup diberikan dengan aliran 5 LPM dalam resusitasi.
2,7

14

Standar oksigen yang digunakan dalam resusitasi neonatus yaitu oksigen 100%. Terdapat
penelitian yang meneliti penggunaan udara ruangan (oksigen 21%) dan oksigen 100% untuk
resusitasi neonatus.
Penggunaan oksigen memiliki efek samping seperti dapat merusak paru-paru dan
jaringan, terutama pada bayi prematur. Hal ini menyebabkan direkomendasikannya penggunaan
oksigen dengan konsentrasi kurang dari 100%, yang dapat diperoleh dengan menggunakan
oxygen blender yang dapat mencampur oksigen dan udara untuk menghasilkan konsentrasi udara
yang diinginkan. Pada bayi yang menderita penyakit jantung bawaan, penggunaan oksigen 100%
dapat mengganggu perfusi jaringan. Secara umum, saturasi oksigen harus dijaga antara 85-95%,
dimana 70-80% didapatkan pada menit awal kehidupan. 7,8
Pemberian oksigen tambahan juga diberikan pada bayi yang memerlukan ventilasi
tekanan positif. Indikasi dari ventilasi tekanan positif dengan oksigen tambahan antara lain:
1.

Bayi yang apnea

2.

Laju nadi kurang dari 100 kali per menit setelah 30 detik

3.

Terjadi sianosis sentral setelah diberikan oksigen tambahan

sumber :
http://www.nda.ox.ac.uk/wfsa/html/u04/u0
4b_p01.html//

sumber :
www.emergent.in/images/Neopuff.gif

15

Ventilasi Tekanan Positif pada Bayi Aterm


Beberapa penelitian menunjukkan pada bayi yang mengalami apnea atau gasping (megap
megap), pemberian ventilasi tekanan positif dengan kecepatan 40-60 kali per menit dengan
oksigen 100% merupakan cara yang efektif untuk memcapai laju nadi lebih dari 100 kali per
menit. Tekanan yang diperlukan untuk dapat melakukan ventilasi tekanan positif pada bayi aterm
dan preterm dengan efektif yaitu antara 30-40 cm H2O, walaupun dengan tekanan 20 cm H2O
sudah cukup efektif. Tanda dari ventilasi yang adekuat yaitu adanya peningkatan dari laju nadi.
Apabila tidak terjadi peningkatan laju nadi, reposisi ulang kepala dan sungkup, serta bersihkan
kembali jalan nafas atau lakukan suction lagi. Bila masih gagal dengan ventilasi yang noninvasif, perlu dilakukan intubasi.
Ventilasi Tekanan Positif pada Bayi Preterm
Paru-paru pada bayi preterm lebih mudah terluka oleh volume inflasi yang besar,
sehingga lebih sulit untuk dilakukan ventilasi. Tekanan sebesar 20-25 cm H2O sudah cukup
adekuat dalam ventilasi pada bayi preterm. Pada bayi yang menunjukkan tanda-tanda pernapasan
yang buruk dan/atau sianosis dapat digunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP)
sekitar 4-6 cm H2O. Sama seperti bayi aterm, jika masih gagal, perlu dilakukan intubasi.
Alat-alat Ventilasi 7
Ventilasi pada neonatus dapat menggunakan beberapa macam alat seperti:
1.

Self-inflating bags

2.

Flow-inflating bag

3.

T-piece resuscitator

4.

Laryngeal mask airways

5.

Endotracheal tube

Self-inflating bags merupakan alat yang paling banyak dipakai dalam ventilasi manual. Alat ini
memiliki katup pengaman yang menjaga tekanan inflasi sebesar 35 cm H2O. Namun katup
pengaman ini kurang efektif bila digunakan terlalu kuat. Positive End-Expiratory Pressure
(PEEP) dapat diberikan apabila katup PEEP disambungkan. Tetapi self-inflating bags tidak
dapat menggunakan CPAP. Selain itu, self-inflating bags tidak dapat digunakan untuk
16

mengalirkan

oksigen

aliran

bebas

(free-flow

oxygen).

Sumber : http://www.nzdl.org/gsdl/collect/who/archives/HASH0176.dir/p05.gif

Flow-inflating bags atau balon tidak mengembang sendiri dapat mengembang apabila ada
sumber gas. Alat ini tidak memiliki katup pengaman, namun dengan alat ini dapat dilakukan
PEEP atau CPAP karena adanya katup yang dapat mengatur aliran udara. Selain itu, dengan alat
ini dapat dialirkan oksigen aliran bebas dan lebih baik dalam resusitasi neonatus.
T-piece resuscitator merupakan alat yang dapat mengatur aliran udara serta juga dapat
membatasi tekanan yang diberikan. Tekanan inflasi yang diinginkan dan waktu inspirasi lebih
stabil dengan alat ini dibandingkan dengan self-inflating bags dan flow-inflating bags. Selain itu,
dengan alat ini dapat dilakukan PEEP dan dapat mengalirkan oksigen aliran bebas.
Laryngeal mask airway (LMA) merupakan alat yang dapat digunakan

apabila penggunaan

sungkup sudah tidak efektif. Ukuran yang biasa digunakan yaitu 1.

Indikasi penggunaan endotracheal tube antara lain: 7,8


1.

Penghisapan mekonium dari trakea

2.

Saat ventilasi menggunakan sungkup sudah tidak efektif

3.

Koordinasi dengan kompresi dada


17

4.

Penggunaan Epinefrin

5.

Keadaan resusitasi khusus (seperti hernia diafragma kongenital)

Untuk mengurangi terjadinya hipoksia saat melakukan intubasi, sebaiknya dilakukan preoksigenasi, dengan cara memberikan oksigen aliran bebas selama 20 detik. Biasanya digunakan
blade yang lurus pada tindakan ini. Blade no.1 digunakan untuk bayi aterm, no.0 untuk bayi
preterm, dan no.00 untuk bayi yang sangat preterm. Ukuran dari endotracheal tube dipilih
berdasarkan berat dari neonatus. 9
Posisi dari endotracheal tube yang benar dapat ditandai dengan peningkatan laju nadi, adanya
pengeluaran CO2, terdengarnya suara nafas, pergerakan dinding dada, adanya embun pada
selang, dan tidak ada distensi abdomen saat ventilasi. Apabila tidak ada peningkatan dari laju
nadi dan tidak ada pengeluaran CO2, posisi dari endotracheal tube harus diperiksa dengan
laringoskop. 7,9

Ukuran ET

Berat (gram)

Usia gestasi (minggu)

2,5

<1000

<28

3,0

1000-2000

28-34

3,5

2000-3000

34-38

3,5-4,0

>3000

> 38

Kompresi Dada10
Kompresi dada harus dilakukan apabila laju nadi kurang dari 60 kali per menit walaupun
sudah dilakukan ventilasi secara adekuat dengan pemberian oksigen tambahan selama 30 detik.
Kompresi dada harus dilukan dengan kecepatan

90 kali per menit dengan perbandingan

kompresi dengan ventilasi 3:1 (90:30). Kompresi dilakukan di bawah sela iga ketiga dengan
kedalaman sepertiga dari diameter anterior dan posterior. Ada 2 cara yang dapat digunakan, yaitu
dengan metode 2 jari (2 finger method) dan metode ibu jari ( thumb method).
18

Metode ibu jari lebih direkomendasikan karena tidak cepat lelah dan dapat mengatur
kedalaman tekanan dengan baik. Selain itu, menurut beberapa penelitian, metode tangan
melingkari dada menghasilkan tekanan sistolik, diastolik, mean arterial pressure, dan perfusi
jaringan yang lebih baik daripada metode 2 jari. Metode 2 jari digunakan apabila dibutuhkan
akses ke umbilikus untuk memasang umbilical catheter.
Setelah dilakukan kompresi dada selama 30 detik, lakukan penilaian kembali terhadap
laju nadi, laju pernafasan, dan warna kulit. Kompresi dada harus dilakukan sampai laju nadi
lebih dari atau sama dengan 60 kali per menit secara spontan.

Penghentian Resusitasi 10
Di dalam persalinan, ada kondisi dimana tidak dilakukan resusitasi, antara lain bayi
dengan masa gestasi kurang dari 23 minggu, bayi dengan berat lahir kurang dari 400 gram,
anencephaly, dan bayi yang dipastikan menderita trisomi 13 dan 18. Sedangkan penghentian
resusitasi dapat dilakukan apabila tidak terjadi sirkulasi spontan dalam waktu 15 menit.
19

OBAT-OBATAN
1. Epinefrin
Epinefrin sangat penting penggunaannya dalam resusitasi, terutama saat oksigenasi dengan
ventilasi dan kompresi dada tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Epinefrin dapat
menyebabkan vasokontriksi perifer, meningkatkan kontraktilitas jantung, dan meningkatkan
frekuensi jantung. Dosis yang digunakan 0.01-0.03 mg/kg yang dapat diberikan IV atau dosis
yang lebih tinggi 0.03 sampai 0.1 mg/kg melalui pipa endotrakeal. Pemberian ini dapat diulang
setiap 3-5 menit sekali. 2,3,13
2. Volume expanders
pada neonatus yang membutuhkan resusitasi, harus dipikirkan kemungkinan terjadinya
hipovolemia terutama pada neonatus dengan respons yang tidak adekuat terhadap resusitasi yang
diberikan. Volume expanders yang dapat digunakan whole blood O-rh negative 10ml/kg, atau
Ringer Lactate 10ml/kg, dan normal saline 10 ml/kg. Semuanya ini dapat diberikan secara intra
vena selama 5-10 menit. 2,3
3. Naloxone hydrochloride
Merupakan antagonis opioid yang sebaiknya diberikan pada neonatus dengan depresi nafas yang
tidak responsif terhadap resusitasi ventilasi yang sebelumnya lahir dari ibu dengan mendapatkan
narkotik 4 jam sebelum kelahiran. Dosis yang diberikan 0.1 mg/kg secara IV ataupun melalui
pipa endotrakeal. Dosis ini dapat diulangi setiap 5 menit apabila dibutuhkan. 2,3
4. Dextrose
Glukosa darah sewaktu harus diperiksa setidaknya 30 menit setelah lahir pada neonatus yang
mengalami asfiksia, neonatus yang lahir dari ibu dengan diabetes, atau prematur. Bolus dextrosa
10% diberikan dengan dosis 1-2 ml/kg IV dan selanjutnya dapat diberikan dextrosa 10% dengan
laju 4-6ml/kg/menit (80-100ml/kg/hari) 2,3

20

KOMPLIKASI
Sistem organ

Komplikasi yang mungkin

Tindakan pasca resusitasi

terjadi
Otak

Apnue
Kejang

Pemantauan apnue
Bantuan ventilasi kalau
perlu,
Pemantauan gula darah,
elektrolit, pencegahan
hipotermi, pertimbangkan
terapi anti kejang.

Paru-paru

Hipertensi pulmoner
Pneumonia
Pneumotoraks
Takipneu transien
Sindrom aspirasi mekonium
Defisiensi surfaktan

Pertahankan ventilasi dan


oksigenasi.
Pertimbangkan antibiotika.
Foto toraks bila sesak nafas.
Pemberian oksigen alir
bebas.
Tunda minum bila sesak.
Pertimbangkan pemberian
surfaktan.

Kardiovaskular

Hipotensi

Pemantauan tekanan darah


dan frekuensi jantung.
Pertimbangkan inotropik
(missal dopamine) dan atau
cairan penambah volume
darah.

Ginjal

Nekrosis tubular akut

Pemantauan produksi urin.


Batasi masukan cairan bila
ada oligouria dan volume
vascular adekuat.
Pemantauan kadar elektrolit.

Gastrointestinal

Ileus
Entrokolitis
Nekrotikans

Tunda pemberian minum.


Berikan cairan intravena.
Pertimbangkan nutrisi

21

parenteral.
Metabolik / hematologic

Hipoglikemia
Hipokalsemia
Hiponatremia
Anemia
Trombositopenia

Pemantauan gula darah


Pemantauan elektrolit,
Pemantauan hematokrit,
Pemantauan trombosit.

Prognosis
(a) Asfiksia ringan : tergantung pada kecepatan penatalaksanaan.
(b) Asfiksia berat : dapat menimbulkan kematian pada hari-hari pertama kelainan saraf.
Asfiksia pH 6,9 dapat menyebabkan kejang sampai koma dan kelainan neurologis
permanen, misalnya restardasi mental.8

LAPORAN KASUS IBU

Seorang pasien perempuan berusia 30 tahun datang ke bangsal kebidanan kelas II tanggal
1 April 2016 dengan identitas pasien :
Nama

: Ny. M

Usia

: 30 tahun

Alamat

: Padang

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Agama

: Islam
22

Status Menikah

: Menikah

Pendidikan

: SMA

ANAMNESIS
Keluhan Utama : Pasien rujukan dari Bidan dengan diagnosis G1P0A0H0 gravid atrem 38-39
minggu + HbSAg (+) + Janin hidup tunggal intra uterin
Riwayat Penyakit Sekarang :
-

Nyeri pinggang menjalar ke ari ari (-)

Keluar lender bercampur darah dari kemaluan (-)

Keluar air-air yang banyak dari kemaluan (-)

Keluar darah yang banyak dari kemaluan (-)

Sudah tidak haid sejak kurang lebih 9bulan yang lalu

HPHT : 2 Juli 2015

TP : 9 April 2016

Gerak anak dirasakan sejak 4 bulan yang lalu

RHM : Mual (-) Muntah (-) PPV (-)

RHT : Mual (-) Muntah (-) PPV (-)

Riwayat Kehamilan dan persalinan :


-

Riwayat kehamilan :
1. Ini adalah kehamilan pertama pasien

Riwayat Menstruasi : Menarche pada usia 13 tahun, siklus teratur 1x 28 hari, lama haid
5-7 hari, 2-3x ganti duk perharinya.

ANC : kontrol teratur ke specialist kandungan sejak usia kehamilan 2 bulan

23

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Os tidak memiliki riwayat penyakit jantung, Ginjal, lien, paru, diabetes melitus, dan
hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Riwayat penyakit menular, keturunan, kejiwaan disangkal.

Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan :


-

Os seorang ibu rumah tangga, pendidikan terakhir SMA.

Riwayat kontrasepsi : Tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi

Riwayat kebiasaan : merokok, minum alkohol dan narkoba tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum

: Sakit sedang

Nadi

: 84 kali/menit

Kesadaran

: Komposmentis kooperatif

Nafas

: 18 kali/menit

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Suhu

: Afebris

STATUS GENERALISATA
Kepala

: Normocephal, rambut hitam tidak mudah rontok

Mata

: Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil isokor.

Leher

:Tidak ada pembesaran

KGB.

Paru
Inspeksi

: simetris kiri dan kanan saat statis dan dinamis.

Palpasi

: fremitus sama kiri dan kanan

Perkusi

: sonor

24

Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/Jantung


Inspeksi

: iktus kordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus kordis teraba 1 jari medial linea midclavicula sinistra RIC V

Perkusi

: batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : irama teratur, bising tidak ada, gallop (-)


Abdomen

: Status gynekologi

Genitalia

: Status gynekologi

Ekstremitas

: Akral hangat, CRT 3 detik

Status Gynekologi
Abdomen
Inspeksi

: Perut tampak membuncit.

Palpasi

: Teraba masa padat kenyal sebesar bola takraw, fluktuasi (+), NT (-), NL (-),
Defans Muskular (-)

Perkusi

: Timpani

Auskultasi : BU (+) normal.


Genitalia
Inspeksi

: vulva dan uretra tenang, perdarahan pervaginam (-)

Diagnosis Kerja : G1P0A0H0 gravid aterm 38-39 minggu + HbSAg (+) + Janin hidup tunggal
intraa uterin presentasi kepala
Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium (2 April 2016) :

25

Hb

: 11,8 gr/dl

Hematokrit

: 22%

Leukosit

: 12.700 mm3

Gula Darah

: 145

Trombosit

: 257.000 mm3

Tatalaksana
-

SC

LAPORAN KASUS BAYI


IDENTITAS PASIEN
Nama

: By. Mira

Jenis Kelamin : Laki-laki


Anak ke

:1

Umur

: 0 hari

Alamat

: Padang

ANAMNESIS
Telah dilahirkan seorang bayi laki-laki berusia 0 hari pada tanggal 4 April 2016 pukul
10.30 WIB di ruang operasi RSUP DR.M.Djamil Padang dengan:
26

Keluhan Utama: Tidak menangis langsung setelah 30 detik setelah dilahirkan.


Riwayat Penyakit Sekarang:
-

Neonatus berat badan lahir cukup 3200gram, panjang badan 49 cm, lahir SC atas indikasi
HbsAg (+), ditolong oleh dokter spesialis kebidanan, A/S = 5/6, ibu baik, ketuban jernih,
kelainan kongenital tidak ada, jejas persalinan tidak ada

Bayi tidak menangis 30 detik setelah dilahirkan

Demam tidak ada, kejang tidak ada

Sesak napas tidak ada, kebiruan tidak ada

Muntah tidak ada

Injeksi vitamin K, Hepatitis B (Hb 0) dan obat tetes mata (gentamisin) sudah diberikan
setelah lahir

Mekonium sudah keluar

Buang air kecil sudah keluar

Riwayat ibu sering demam selama hamil dan menjelang persalinan tidak ada

Riwayat ibu keputihan selama hamil dan menjelang persalinan tidak ada

Riwayat ibu nyeri saat buang air kecil selama hamil dan menjelang persalinan tidak ada.

Riwayat Kehamilan Sekarang:


-

Hamil sekarang : G1, P0, A0, H0

Pemeriksaan antenatal ke spesialis kandungan sejak usia kehamilan 2 bulan

Riwayat anemia, hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit ginjal selama
kehamilan tidak ada, namun ibu di ketahui HbsAg (+)

Tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol

Kualitas dan kuantitas makanan baik

Kehamilan cukup bulan 38-39 minggu

Riwayat Persalinan:

27

Persalinan di RSUP DR.M.Djamil Padang, dipimpin oleh dokter. Lahir tanggal 4 April
2016 dengan sectio caesaera atas indikasi HbSAg (+). Kelahiran tunggal, kondisi saat: lahir
hidup, A/S = 5/6.
Pada bayi dilakukan resusitasi setelah dilahirkan dengan cara : ???????????????????????????

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum:
Keadaan umum

: sadar

Frekuensi jantung

: 133 x /menit

Frekuensi nafas

: 57 x/ menit

Suhu

: 37,1 C

Panjang badan

: 49 cm

Berat badan

: 3200 gram

Sianosis

: tidak ada

Ikterik

: tidak ada

Pemeriksaan Khusus:
Kepala

: normochepal,

Ubun-ubun besar : cekung, ukuran 1,5 cm x 1,5 cm,

Ubun-ubun kecil : 0,5 x 0,5 cm

Jejas persalinan : tidak ada

Mata

: konjungtiva tidak pucat, sklera ikterik, pupil isokhor, diameter 2mm/2mm, reflex

cahaya (+) normal


Mulut

: sianosis sirkum oral tidak ada

Telinga

: tidak ditemukan kelainan

Hidung

: napas cuping hidung tidak ada

Leher

: tidak ditemukan kelaianan, JVP sukar di nilai

Toraks

Bentuk

: normochest, simetris kiri dan kanan, retraksi epigastrium tidak ada

Jantung

: irama teratur, bising tidak ada, gallop tidak ada


28

Paru
Abdomen

: bronkovesikuler, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada


:

Permukaan : datar
Kondisi

: lemas

Hati

: 1/4x1/4 pinggir tajam, permukaan rata, konsistensi kenyal

Limpa

: tidak teraba

Tali Pusat : segar


Umbilikus : tidak hiperemis , tidak berbau
Genitalia

: tidak ditemukan kelainan

Ekstremitas

: Atas

: akral hangat, refilling kapiler baik, CRT<2 detik

Bawah : akral hangat, refilling kapiler baik, CRT<2 detik


Kulit

: teraba hangat, ikterus ada (ikterik kramer II)

Anus

: ada

Tulang-tulang : tidak ditemukan kelainan


Refleks neonatal:

Moro

:+

Rooting : +

Isap

Pegang : +

:+

Ukuran :

Lingkaran kepala : 34 cm

Lingkaran dada

: 36 cm

Lingkaran perut

: 33 cm

Kepala-simpisis

: 27 cm

Simpisis-kaki

: 23 cm

Panjang lengan

: 20 cm

Panjang kaki

: 26 cm

29

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium
Darah
-

Hb

: 17,2 g/dL

Hematokrit

: 45 %

Leukosit

: 13.500/mm3

Trombosit

: 562.000/mm3

GDS

: 287

Bil total

:-

Bil direct

:-

Bil indirect

:-

DIAGNOSIS KERJA
Neonatus Berat Badan Lahir Cukup, berat badan lahir 2850 gram, panjang badan lahir 48 cm,
cukup bulan
Lahir SC atas indikasi HbSAg ibu (+)
Ibu baik, ketuban jernih
Apgar Skor 5/6
Kelainan kongenital tidak ada, jejas persalinan tidak ada
Penyakit sekarang: asfiksia neonatorum

ANJURAN PEMERIKSAAN
-

Pemeriksaan faal hepar

HbsAg

PENATALAKSANAAN
-

Resusitasi bayi baru lahir

ASI OD ???

30

DAFTAR PUSTAKA
1. Behrman Richard, Kliegman Roberts, Jenson Hal. Nelson Textbook of Pediatric.17th ed.
Pennsylvania : An Imprint of Elsevier Science. 2004
2. Newell J Simon,Meadow Roy Sir.Resusitasi.Dalam : Lecture Notes : Pediatrika.Jakarta :
Penerbit Erlangga;2003.h.61-3.
3. Abraham M Rudolph.Resusitasi bayi baru lahir.Dalam : Buku Ajar Pediatric
Rudolph.Jakarta : PenerbitEGC,2006.h.274-80.

31

4. Manuaba Gde Bagus Ida,Manuaba Chandranita.Asfiksia dan Resusitasi neonates.Dalam :


Pengantar Kuliah Obstetri.Jakarta: Penerbit EGC,2007.h.848-51.
5. Kaye D Alan, pickney LM, Hall M. Stan, Baluch R.Amir, Frost Elizabeth, Ramadhyani
Usha. Update On Neonatal Resuscitation [serial online]. 2009. available from URL :
http://staff.aub.edu.lb/~webmeja/20_1.html//
6. E 45 : Wu TJ, Carlo W A.. Pulmonary Physiology of Neonatal Resuscitation. Illinois:
American Academy of Pediatrics . 2001.
7. Buku resusitasi : Kattwinkel J. Buku Panduan Resusitasi Neonatus. 5th ed. USA:
American Academy of Pediatrics dan American Heart Association. 2006
8. E 16 : O'Donnell C, Kamlin O, Davis P, Morley C J. .Endotracheal Intubation
Attempts During Neonatal Resuscitation: Success Rates, Duration, and Adverse
Effects. Illinois: American Academy of Pediatrics.2006.

32