Anda di halaman 1dari 105

Jun 2, 2014

Pilar-Pilar Sekolah Efektif


Artikel 2 Comments

***
Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.
Pendidikan adalah senjata yang terkuat yang dapat Anda gunakan untuk
mengubah dunia.
(Nelson Mandela).
Education, therefore, is a process of living and not a preparation for future living.
Pendidikan, oleh karena itu, adalah sebuah proses kehidupan dan bukan satu
persiapan kehidupan di masa depan.
(John Dewey).
***
Pada saat melaksanakan tugas monev tentng standar pelayanan minimal (SPM)
pendidikan dasar pada tanggal 30 Mei 2014, saya merasakan tentang pentingnya
perhatian kita terhadap pilar-pilar sekolah efektif di negeri ini. Untuk
meningkatkan perhatian terhadap pilar-pilar sekolah efektif tersebut, saya telah
mencoba menulis buku tentang Pilar-Pilar Sekolah Efektif. Kebetulan ada seorang
teman yang begitu baik hati menawarkan untuk mengedit dan memdesainnya
menjadi dami.
Awalnya buku itu akan diberi judul Faktor-Faktor Determinan Sekolah Efektif.
Memang itulah isinya. Tetapi judul itu masih panjang sedikit. Maka akhirnya judul
itu diubah menjadi Pilar-Pilar Sekolah Efektif. Mudah-mudahan ada pihak yang
mau bekerja sama untuk menerbitkannya, agar sekolah-sekolah di negeri ini
menyadari tentang pentingnya komponen-komponen penting yang besar
pengaruhnya terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Misalnya,
apakah faktor kepala sekolahnya yang perlu mendapatkan perhatian, atau
hubungan antara sekolah dengan orang tua, dan faktor-faktor determinan lainnya.
Tulisan ini merupakan inti sari buku tersebut, yang menjelaskan tentang faktorfaktor determinan yang mempengaruhi efektivitas suatu sekolah. Kelika kita
terjun langsung ke sekolah-sekolah, kita akan dapat merasakan dengan mata hati
tentang denyut nadi sekolah yang bersangkutan, apakah sekolah tersebut memiliki
faktor-faktor yang menjadi pemantik untuk dapat berhasil atau sebaliknya.
Kurikulum dan Fasilitas Sekolah Sebagai Faktor Determinan
Kita mengenal beberapa macam sebutan sekolah, seperti sekolah unggulan,
sekolah bertaraf internasional (SBI) yang dihapuskan karena dinilai diskriminatif
dengan sekolah lain, yang dikenal dengan sekolah RSBI (sekolah rintisan bertaraf

internasional) yang dipelesetkan menjadi Rintihan Sekolah Bertaraf Internasional.


Selain itu, ada pula sebutan sekolah yang tidak sepenuhnya diatur dalam sistem
pendidikan nasional, seperti sekolah berasrama (boarding school), dan sebutan
lainnya, termasuk sekolah satu atap, karena muridnya sedikit sehingga demi
efisiensi maka sekolah tersebut perlu dijadikan satu manajemen (satu atap). Di
samping itu, dalam praktik di lapangan kita mengenal sekolah-sekolah terpadu,
seperti Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT), Sekolah Memengah Islam Terpadu
(SMPIT). Jenis sekolah ini disebut lebih karena penerapan kurikulum yang
menyatukan antara kurikulum di sekolah umum dengan mata pelajaran keislaman
(keilmuan dan keislaman).
Pada masa lalu, sebutan sekolah biasanya dikaitkan dengan lengkap-tidaknya
sarana dan prasarana sekolah atau fasilitas sekolah. Contoh yang amat fenomenal
adalah gambaran sekolah masa lalu yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi,
karya Andrea Hirata. Dalam novel itu diceritakan dengan apik bahwa gedung SMP
Muhammadiyah di Pulau Belitong adalah gambaran sekolah pinggiran di daerah
pedesaan yang sudah nyaris roboh. Sekolah itu akan ditutup pemerintah jika pada
tahun pelajaran baru tidak dapat menerima siswa baru minimal 10 (sepuluh)
orang siswa. Hari terakhir penerimaan siswa baru, satu jam sebelum penerimaan
siswa baru itu ditutup, ternyata masih ada sembilan orang siswa yang telah
mendaftar. Jadi masih ada satu orang lagi yang mendaftar yang akan menjadi
dewa penolong sekolah ini. Menit-menit terakhir, seorang anak berjalan agak
pincang bersama orangtuanya datang ke sekolah ini untuk mendaftar sebagai
siswa yang kesepuluh. Alhamdulillah, sekolah ini dapat meneruskan proses belajar
mengajar, dengan hanya sepuluh siswa baru. Kesepuluh siswa baru inilah yang
kemudian diberikan gelar sebagai laskar pelangi oleh penulis novel ini. Mengapa
disebut pelangi, karena sepuluh anak ini memiliki karakter dan kecerdasan yang
berbeda-beda. Singkat cerita, laskar pelangi pulalah yang telah membawa
keharuman nama sekolahnya, yang berhasil mengalahkan sekolah gedongan
dalam berbagai acara lomba.
Definisi Sekolah Efektif
AIBEP (Australia Indonesia Basic Education Program) telah mengembangkan
pelatihan WDD (Whole District Development) dan WSD (Whole School
Development) di Indonesia. AIBEP menjelaskan definisi sekolah efektif sebagai
berikut.
Sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki sistem pengelolaan yang baik,
transparan dan akuntabel, serta mampu memberdayakan setiap komponen
penting sekolah, baik secara internal maupun eksternal, dalam rangka pencapaian
visi-misi-tujuan sekolah secara efektif dan efesien (bahan pelatihan AIBEP).

Dalam kalimat yang berbeda, ada rumusan yang menyatakan sebagai berikut:
An effective school is a school in which students achieve high standards that they
can use in their future education or the workplace, a school where students feel
safe and happy. It promotes those values that will help pupils to become good and
responsible citizens, enable them to become involved in their community and
become good family members. We all write these sorts of things in our school
mission statements and school documents, but we are all too often distracted from
them in day-to-day planning (http://www.teachingexpertise.com).
Khusus untuk sekolah dasar (primary school), secara khusus UNESCO telah
mendefinisikan dan sekaligus menyebutkan karakteristik sekolah efektif di sekolah
dasar sebagai berikut:
School effectiveness research shows that successful primary schools are typically
characterized by strong leadership, an orderly school and classroom environment
and teachers who focus on the basics of the curriculum, hold high expectations of
their students potential and performance and provide them with frequent
assessment and feedback (diberi garis bawah dan ditebalkan oleh penulis, EFA
Global Monitoring Report 2005, hal. 228).
Berdasarkan definisi tersebut karakteristik tipikal minimal sekolah efektif adalah:
(1) kepemimpinan yang kuat, lingkungan ruang kelas dan sekolah yang teratur, (3)
para pendidik yang memfokuskan pada hal-hal yang mendasar dalam kurikulum,
dan (4) mempunyai harapan yang tinggi terhadap unjuk kerja dan potensial para
siswanya, serta (5) menyediakan mereka penilaian dan umpan balik (feed back)
bagi pendidik secara teratur.
Sayang sekali, konsep sekolah efektif tersebut tidak berjalan lama di negeri ini,
dan sampai sampai ini konsep tersebut kurang mendapatkan perhatian lagi. Habis
proyeknya, selesailah sudah program dan kegiatannya.
Pilar-Pilar Sekolah Efektif
Jika pada awalnya efektivitas sekolah dilihat dari segi kelengkapan sarana dan
prasarananya, maka dewasa ini efektivitas sekolah lebih banyak ditentukan oleh
pengelolaan pendidikan, termasuk harapan guru dan peserta didiknya untuk
mencapai hasil belajar yang tinggi, melalui proses pembelajaran.
Untuk lebih mengingatkan kita, dalam laporan tahun 2005 UNESCO menyatakan
dengan tegas bahwa Schools are definitly not factories producing outputs

according to recipe in a technically deterministic way (EFA Global Monitoring


Report, 2005: 228). Dengan kata lain, sekolah-sekolah adalah sama sekali
bukanlah pabrik-pabrik yang memproduksi keluaran sesuai dengan resep dengan
satu cara yang secara teknikal dipandang sangat menentukan. Pernyataan ini
mengubah pandangan dari teori fungsi produksi (production function theory)
sebagaimana telah dijelaskan di muka. Jadi, yang penting bukan gedungnya,
bukan fasilitas fisikalnya, bukan masukan instrumental lain, bahkan berapa kali
ditatar dan ditatar terus, jika semuanya itu tidak dilaksanakan dalam proses
belajar mengajar yang optimal di dalam kelas. Kembalilah kepada pandangan
bahwa proses pembelajaran adalah kunci masalah pendidikan selama ini. Proses
pembelajaran di dalam kelas merupakan kotak kitamnya (black box) yang selama
ini harus kita temukan tempat dan kuncinya. Dengan demikian, sekali lagi pilar
sekolah efektif bukan faktor fasilitas sekolah, tetapi lebih dari proses
pembelajarannya.
Sejarah Gerakan Sekolah Efktif (Effetive School Movement)
Konsep sekolah efektif memang bukan konsep yang baru. Sebagai contoh, Dr.
Lawrence W. Lezotte (http://www.edutopia.org) menyatakan bahwa konsep
sekolah efektif telah mengalami revolusi dan evolusi lebih dari tiga puluh tahun.
Dalam tulisannya bertajuk Revolutionary and Evolutionary The Effective School
Movement telah memberikan daftar 10 (sepuluh) bahan pustaka tentang sekolah
effektif. Bahkan dalam tulisan tersebut, Lazotte telah menggunakan istilah yang
revolusioner, yakni gerakan sekolah effektif (the effective school movement).
Lezotte menjelaskan sejarah panjang tentang gerakan sekolah efektif tersebut.
Dimulai dari kajian Prof. James Coleman, yang telah melakukan kajian tentang
hasil belajar peserta didik dengan melibatkan 600.000 peserta didik di 4.000
sekolah. Pada bulan Juli 1966, Coleman telah menerbitkan hasil kajiannya dengan
tajuk The Equal Educational Opportunity Survey, dengan temuan bahwa ternyata
latar belakang keluarga bukan sekolah merupakan faktor penentu hasil belajar
peserta didik (family background, not the school, was the major determinant of
student achievement). Peserta didik yang berhasil di sekolah berasal dari keluarga
yang mampu secara ekonomis, sedang peserta didik yang berasl dari keluarga
tidak mampu ternyata tidak hanya gagal dalam menempuh pendidikannya, tetapi
juga gagal dalam kehidupannya. Tentu saja, hasil kajian tersebut telah
mengejutkan banyak pihak. Alalagi hasil kajian tersebut dipaparkan di depan The
United States Congress. Hasil kajian Colemen tersebut ternyata telah memicu para
ahli pendidikan untuk melakukan penelitian tentang sekolah efektif secara lebih
intensif.

Akhirnya, pada tahun 1982, Prof. Ron Edmonds telah menerbitkan paper bertajuk
Programs of School Improvement: An Overvew, yang mencoba untuk mencari
faktor-faktor yang disebut sebagai the Correlates of Effective School, yaitu faktorfaktor yang diidentifikasi sebagai faktor penentu sekolah efektif. Hasil kajiannya,
Edmonds menyebutkan lima faktor penentu sekolah efektif, yaitu:
1. The leadership of the principal notable for substantial attention the quality of
instruction. Kepemimpinan kepala sekolah yang kuat memberikan perhatian
secara substansial terhadap kualitas pembelajaran. Bagaimanapun juga peran
kepemimpinan kepala sekolah sangat menentukan proses pengelolaan dan
penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Namun, kepala sekolah tidak akan dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik jika tidak didukung oleh semua guru dan staf
tata usaha sekolahnya.
2. A pervasive and broadly understood instructional focus. Fokus kepada
pembelajaran dapat difahami secara mendalam oleh para guru dan semua peserta
didik. Fokus kepada pembelajaran memang menjadi faktor penentu, tetapi lebih
dari itu, sekolah juga memiliki visi dan misi, yang juga harus difahami oleh semua
warga sekolah.
3. An orderly, safe climate conducive to teaching and learning. Iklim belajar yang
aman dan teratur untuk proses belajar mengajar. Suasana belajar yang kondusif
harus diciptakan, bukan dengan tangan besi, melainkan dengan menumbuhkan
kesadaran. Disiplin sering diartikan sebagai kepatuhan kepada aturan. Tetapi
dalam pelaksanaannya disiplin itu diartikan sebagai disiplin yang mati, bukan
disiplin yang tumbuh dari kesadaran diri yang tinggi.
4. Teacher behaviors that convey the expectation that all students are expected to
obtain at least minimum mastery. Sikap dan perilaku para guru memberikan
harapan yang tinggi kepada semua siswa agar paling tidak dapat memperoleh
penguasaan minimum. Sikap dan perilaku guru memang merupakan kurikulum
tersembunyi (hidden curriculum) yang justru mempunyai pengaruh yang sangat
besar untuk menumbuhkan harapan peserta didiknya agar berhasil.
5. The use of measures of pupil achievement as the basis for program evaluation.
Menggunakan alat ukur hasil belajar peserta didik sebagai basis untuk penilaian
program. Sering hasil belajar dipandang sebagai semacam hukuman bagi siswa,
padahal seharusnya hasil belajar tersebut justru harus menjadi bahan masukan
(feed back) bagi perbaikan program pembelajaran.
Pada tahun 1995, Gary D. Borich, sebagai contoh, menggunakan istilah sekolah
efektif dalam bukunya bertajuk Beginning A Teacher, An Inquiring Dialog for
Beginning Teacher. Dalam kata pengantarnya, Gary D. Borich mengungkapkan
bahwa by effective I mean how teacher like yourself have helped their students to
learn, managed their classroom better, and felt good about themselves (1995: ix).

Ungkapan Borich ini tampak amat sederhana. Dalam ungkapan tersebut, yang
dimaksud efektif adalah bagaimana guru membantu para siswa untuk belajar,
mengelola ruang kelasnya dengan lebih baik, dan merasakan senang dengan
pekerjaannya sendiri. Bagaimana mungkin dapat dikatakan efektif jika guru di
sekolah itu sebenarnya tidak menyenangi pekerjaannya sebagai guru? Tentu saja,
guru-guru di sekolah efektif adalah guru-guru yang menyenangi tugas
profesionlnya sebagai pendidik.
Buku yang telah menuangkan dialog antara wartawan dengan para guru di suatu
sekolah, dijelaskan tentang beberapa karakteristik kunci sekolah effektif:
democratic, supportive, understanding, dan humanistic (1995:3). Di samping itu
karakteristik lain yang tidak kalah pentingnya adalah well organized, goal-based,
result-orieted climate (1995: 3). Dengan beberapa karakteristik tersebut, Borich
mencoba untuk menggambarkan bagaimana sekolah efektif.
Konsep Sekolah Efektif menurut CCES (California Center of Effective School)
Menurut California Center for Effective School (CCES), ketujuh pilar sekolah
efektif tersebut, masing-masing terdiri atas empat indikator. Dalam bentuk tabel,
tujuh faktor determinan sekolah efektif dan masing-masing empat indikatornya
menurut CCES dapat dijelaskan sebagai berikut.
Tabel 1: Tujuh Faktor determinan dan Indikator Sekolah Efektif Menurut CCES
I A clear and focused mission
1 Kepala sekolah, pendidik, dan pegawai tata usaha mengetahui dan memahami
misi utama sekolah mereka.
2 Pembelajaran peserta didik adalah kriteria terpenting yang digunakan dalam
membuat keputusan.
3 Standar tingkat negara bagian (state) sejalan dan searah dengan kurikulum lokal
yang digunakan.
4 Program instrusional sekolah memfokuskan pada upaya pencapaian indikator
keberhasilan belajar peserta didik, dengan level keberhasilan tertentu, baik
akademis maupun nonakademis. Indikator-indokator keberhasilan tersebut telah
diidentifikasi dan disetujui oleh kepala sekolah, guru, dan pegawai tata usaha,
serta semua pihak yang terkait.
II High expectations for success
1 Para guru percaya dan mengharapkan bahwa semua siswa dapat mencapai hasil
belajar. Untuk itu, para guru dapat mengkomunikasikan hal ini kepada peserta
didiknya.
2 Perhatian diberikan secara adil kepada semua peserta didik, baik yang rendah
maupun yang tinggi hasil belajarnya.

3 Peserta didik memahami apa yang diharapkan, dan para guru menyediakan
kesempatan-kesempatan untuk peserta didik untuk memperoleh pengalaman
dalam mencapai keberhasilan mereka.
4 Para guru menyediakan kesempatan-kesempatan kepada peserta didik agar
meraka dapat bertanggung jawab dan juga dalam kepemimpinan.
III Instructional leadership
1 Kepala sekolah, dengan semua jajarannya, memberikan penekanan bahwa tujuan
utama sekolah adalah pembelajaran.
2 Kepala sekolah dan para guru aktif dan terlibat dengan semua kegiatan dalam
sekolah. Mereka menjadi sumber, memberikan penegasan, dukungan, dan
berdedikasi untuk mencapai misi sekolah.
3 Kepala sekolah dan para guru menyampaikan harapan-harapan tinggi untuk
peningkatan kinerja peserta didik dan pegawai tata usaha.
4 Kepala sekolah dan para guru berkolaborasi untuk meningkatkan program
isntruksional dan memonitor kemajuan hasil belajar siswa.
IV Frequent monitoring of student progress
1 Data hasil belajar peserta didik mendorong perubahan-perubahan dalam
program pembelajaran dan prosedur-prosedur sekolah.
2 Data hasil tes, distribusi nilai, dan pola-pola penerimaan siswa baru dianalisis
berdasarkan ras, gender, etnis, dan status sosial-ekonomi untuk mengetahui
ketidakmerataan dan untuk meyakinkan bahwa semua siswa belajar.
3 Ringkasan tentang prestasi belajar diketahui bersama oleh semua staf dan
dilaporkan kepada masyarakat. Skor pada tingkat kabupaten dan sekolah
dianalisis oleh semua staf untuk membuat inferensi tentang keberhasilan program
dan target baru tentang upaya peningkatan sekolah.
4 Tes berpatokan norma dan/atau penilaian autentik dirancang dan/atau
digunakan oleh para guru untuk menilai tingkat penguasaan siswa untuk kelas
atau tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran.
V Opportunity to learn and student time on task
1 Waktu terbesar dialokasikan untuk proses pembelajaran dalam semua mata
pelajaran.
2 Para guru mengurangi kegiatan yang kurang penting dan memfokuskan pada
proses pembelajaran.
3 Para guru secara jelas mengkomunikasikan tentang maksud atau tujuan setiap
pelajaran.
4 Angka keberhasilan siswa, dalam mencapai standar-standar, adalah 80 85%
untuk memastikan pembelajaran yang produktif. Semua ini diselesaikan oleh para

guru dengan melakukan monitoring kualitas pelajarannya, revisi dan remedial


serta dengan penganekaragaman tugas-tugas siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang sama.
VI Safe and orderly environment
1 Kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi percaya, dan perilaku mereka
menunjukkan bahwa konsistensi di antara semua warga sekolah adalah kunci
untuk membangun satu suasana yang posititf.
2 Kepala sekolah, guru, dan staf tata usaha menerima proposisi bahwa mereka
siap bertugas kapan saja dan dimana saja selama di sekolah.
3 Ada suasana yang positif bagi siswa. Tingkah laku positif, keberhasilan, usaha,
dan semua atribut dari keberhasilan tersebut akan diberikan.
4 Perhatian terhadap semua peralatan interior dan administratif yang terjaga
dengan baik.
VII Home/school relations
1 Orangtua siswa telah memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan-tujuan
sekolah dan standar kurikulum melalui komunikasi yang teratur.
2 Orangtua siswa telah diberikan informasi tentang bagaimana cara membantu
anak-anaknya belajar di rumah.
3 Orangtua siswa telah diberikan informasi secara jelas tentang kemajuan peserta
didik, termasuk tes hasil belajar di tingkat negara bagian dan apakah anaknya
telah mencapai standar itu atau tidak, di bawah atau di atas standar itu.
4 Rata-rata ganda (multiple means) digunakan untuk mengkomunikasikan kepada
orangtua siswa, termasuk buku panduan, newsletters, catatan rumah, nomor
telepon, rapat orantua dan guru, kunjungan rumah, paket belajar di rumah, dan
pertemuan sekolah dan kelas.
Sumber: Sekolah efektif menurut CCES (California Center for Effective School)
Sebenarnya masih ada beberapa teori tentang sekolah efektif, namun teori CCES
tersebut sudah sangat memadai untuk misalnya dijadikan acuan penyusunan
instrumen penilaian sekolah efektif. Kalau akan melihat apakah sekolah-sekolah
itu sudah dapat kita kategorikan sebagai sekolah efektif atau belum, kita dapat
menggunakan pilar-pilar dan indikator CCES. Kemudian, indikator mana yang
harus disempurnakan, sudah tentu dapat dipastikan dari hasil evaluasi dengan
menggunakan pilar-pilar dan indikator CCES tersebut.
Akhir Kata
Buku PILAR-PILAR SEKOLAH EFEKTIF tersebut telah menjadi dami, yang satu
langkah lagi telah dapat diterbitkan menjadi buku. Niat untuk berkolaborasi untuk

menerbitkannya sangat diharapkan. Silahkan hubungi


revkapetra.media@yahoo.com atau me@suparlan.com.
*) S2 University of Houston. E-mail: me@suparlan.com. Laman:
www.suparlan.com.
Depok, Juni 2014.

(Sumber: http://suparlan.com/1562/pilar-pilar-sekolah-efektif diunduh Kamis, 19


Mei 2016)

06/03/2013

SEKOLAH EFEKTIF
Sekolah berasal dari bahasa latin skhole, scola, scolae atau schola yang mempunyai
arti waktu luang atau waktu senggang. Krishnamurti (dalam Pora, 2004: 16)
mengatakan bahwa arti senggang mempunyai maksud waktu yang tidak terbatas
bagi seseorang dalam belajar baik sains, sejarah, matematik ataupun tentang
dirinya. Maka kami menyimpulkan, sekolah adalah lembaga yang dirancang dalam
rangka penyelenggaraan proses belajar mengajar untuk mentransfer ilmu
pengetahuan dan nilai-nilai kepada peserta didik yang telah mempunyai aturan,
kurikulum dan kelengkapan lainnya.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata efektif berarti ada efeknya (akibatnya,
pengaruhnya, kesannya); manjur atau mujarab; dapat membawa hasil; berhasil
guna; mulai berlaku. Sehingga efektif dapat didefinisikan suatu pencapaian tujuan
yang dilakukan secara tepat dengan cara-cara yang telah ditentukan.
Keberhasilan sebuah sekolah biasanya ditentukan oleh sejauhmana tujuan
pendidikan itu dapat tercapai pada periode tertentu sesuai dengan lamanya
pendidikan yang berlangsung di sekolah. Oleh karena itu muncullah sekolah efektif
dan sekolah tidak efektif. Sekolah efektif mempunyai tingkat ketersesuaian yang
tinggi antara apa yang telah dirumuskan untuk dikerjakan dengan hasil yang dicapai
sekolah.
Sekolah yang efektif selalu menyempurnakan programnya setiap tahun sehingga
dapat mengembangkan kompetensi siswa yang adaptif terhadap setiap
perkembangan IPTEKs dan lingkungan global
Jadi sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki tingkat kesesuaian antara hasil
yang dicapai dengan rencana dan target hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.
Sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki manajemen yang baik, transparan dan
akuntabel yang mampu memberdayakan semua komponen sekolah untuk mencapai
tujuan sekolah secara efektif.
Sekolah adalah sistem terbuka yang mempunyai subsistem-subsistem yang saling
terkait dan berhubungan. Bosker dan Guldemon (dalam Moerdiyanto, 2007: 6)
mengatakan bahwa sistem sekolah yang efektif terdiri dari 5 komponen yaitu:

1.

Konteks. Misalnya kebutuhan masyarakat, lingkungan sekolah dan kebijakan


pendidikan

2.

Input. Misalnya sumber daya dan kualitas guru

3.

Proses. Misalnya iklim sekolah dan kurikulum

4.

Output. Misalnya hasil belajar siswa dan pencapaian keseluruhan

5.

Outcome. Misalnya kesempatan kerja dan penghasilan

Menurut Widodo (2011: 34), sekolah efektif mempunyai ciri-ciri yaitu:


1.

Adanya standar disiplin yang berlaku bagi semua warga sekolah

2.

Memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas

3.

Mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi

4.

Peserta didik mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan

5.

Peserta didik lulus dengan menguasai pengetahuan akademik

6.

Adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi

7.

Peserta didik mau bekerja keras dan bertanggung jawab

8.

Kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi dan


membuat rencana sekolah bersama-sama para guru

9.

Adanya lingkungan yang nyaman

10. Penilaian yang secara rutin mengenai program yang dibuat siswa.
Menurut Heneveld(dalam Moerdiyanto, 2007:5) faktor-faktor sekolah efektif adalah
1.

Dukungan orang tua siswa dan lingkungan

2.

Dukungan efektif dari sistem pendidikan

3.

Dukungan materi yang cukup

4.

Kepemimpinan yang efektif

5.

Pengajaran yang baik

6.

Fleksibilitas dan otonomi

7.

Waktu yang cukup di sekolah

8.

Harapan yang tinggi dari siswa

9.

Sikap positif dari para guru

10. Peraturan dan disiplin


11. Kurikulum yang terorganisir
12. Adanya penghargaan dan insentif
13. Waktu pembelajaran yang cukup
14. Variasi strategi pembelajaran
15. Frekuensi pekerjaan rumah
16. Adanya penilaian dan umpan balik

Sekolah sebagai sebuah sistem mempunyai input, proses, output, dan feedback.
Maka karakteristik sekolah efektif menurut Widodo (2011: 35) dapat dilihat dari
indikator input dan proses yaitu:

Indikator Input dan Proses Sekolah Efektif

Input

Proses

1.

1.
2.
3.
4.
5.

Memiliki kebijakan, tujuan


dan sasaran mutu yang
jelas
Sumber daya tersedia dan
siap
Staf yang kompeten dan
berdedikasi tinggi
Memiliki harapan dan
prestasi yang tinggi
Fokus pada pelanggan
(khususnya siswa)

Proses belajar mengajar


yang efektifitasnya tinggi
2. Kepemimpinan sekolah
yang kuat
3. Lingkungan sekolah yang
aman dan tertib
4. Pengelolaan tenaga
kependidikan yang efektif
5. Sekolah memiliki budaya
mutu
6. Sekolah memiliki
teamwork yang kompak,
cerdas dan dinamis
7. Sekolah memiliki
kewenangan(kemandirian)
8. Partisipasi yang tinggi dari
warga sekolah dan
masyarakat
9. Sekolah memiliki
keterbukaan (transparansi
manajemen)
10. Sekolah memiliki
kemauan untuk berubah
11. Sekolah melakukan
evaluasi dan perbaikan
secara berkelanjutan
12. Sekolah responsif dan
antisipatif terhadap
kebutuhan
13. Komunikasi yang baik
14. Sekolah memiliki
akuntabilitas.

Kepala sekolah mempunyai peranan yang penting dalam mengembangkan sekolah


efektif melalui kepemimpinannya. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan di
sekolah harus mampu mendayagunakan semua sumber yang ada di sekolah agar
mencapai sekolah efektif. Menurut Anwar (2011: 10) kepala sekolah efektif dapat
dilihat dari indikator-indikator kinerjanya yaitu:

1.

Mewujudkan proses pembelajaran yang efektif

2.

Menerapkan system evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara


berkelanjutan

3.

Melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan sekolah


yang kuat

4.

Melaksanakan pengembangan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi

5.

Menumbuhkan sikap responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan

6.

Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib (Safe and Orderly)

7.

Menumbuhkan budaya mutu di lingkungan sekolah

8.

Menumbuhkan harapan prestasi tinggi

9.

Menumbuhkan kemauan untuk berubah

10. Melaksanakan Keterbukaan/Transparan Managemen Sekolah


11. Menetapkan secara jelas mewujudkan Visi dan Misi
12. Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif
13. Melaksanakan pengelolaan sumber belajar secara efektif
14. Melaksanakan pengelolaan kegiatan kesiswaan/ Ekstrakurikuler secara efektif
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk membuat sebuah sekolah menjadi sekolah
efektif antara lain:
1.

Komunikasi yang terbuka. Komunikasi dalam sekolah baik frekuensi dan


kesempatan untuk menerima umpan balik ditingkatkan lebih transparan.
Sehingga para stakeholder sekolah mengetahui informasi yang lebih jelas dan
ikut berpartisipasi mendukung pengembangan sekolah.

2.

Pengambilan keputusan bersama. Kepala sekolah hendaknya melibatkan


stakeholder dalam pengambilan keputusan. Sehingga dapat meningkatkan rasa
tanggung jawab masing-masing pihak.

3.

Memperhatikan kebutuhan guru. Sekolah memperhatikan kebutuhan guru


sehingga dapat memberikan motivasi tersendiri bagi guru karena
kebutuhannya diperhatikan. Ketika kesejahteraan guru terjamin maka guru
akan lebih bersemangat dalam melakukan dan memerbaiki pengajarannya.

4.

Memperhatikan kebutuhan siswa. Sekolah yang memperhatikan kebutuhan


siswa akan lebih diterima oleh masyarakat. Sekolah perlu melakukan strategistrategi untuk membuat sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk
belajar dan memenuhi kebutuhan siswanya.

5.

Keterpaduan sekolah dan masyarakat. Antara sekolah dan masyarakat harus


dapat saling bekerja sama dan terpadu dalam rangka mengembangkan
sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Pora, Yusran. 2004. Selamat Tinggal Sekolah. Yogyakarta:Media Pressindo
Wibisino, Agus. 2010. Efektif dan Efisiensi, (Online),
(http://aguswibisono.com/2010/efektif-dan-efisien/, diakses 13 April 2012)
Anwar, Qomari. 2011. Sekolah yang Efektif, (Online),
(http://ngatimin.weebly.com/uploads/5/4/1/1/5411453/sekolah_efektif.ppt, diakses 13
April 2012)
SD Negeri Kamal. 2011. Sekolah Efektif dalam Prespektif Global, (Online),
(http://sdnegerikamalkulonprogo.blogspot.com/2011/08/sekolah-efektif-dalamprespektif-global.html, diakses 13 April 2012)
Danim, Sudarwan. 2010. Otonomi Manajemen Sekolah. Bandung:Alfabeta
Moerdiyanto. 2007. Manajemen Sekolah Indonesia yang Efektif Melalui Penerapan
Total Quality Mnagement, (Online), IMEC 2007 Proceedings,
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Drs.%20Moerdiyanto,
%20M.Pd./ARTIKEL%20MANAJEMEN%20SEKOLAH%20EFEKTIF.pdf, diakses 13 April
2012)
Widodo, Suparno Eko. 2011. Manajemen Mutu Pendidikan: untuk Guru dan Kepala
Sekolah. Jakarta:Ardadizya Jaya
Sodikin, Herdik. 2011. Manajemen Sekolah Efektif dan Unggul, (Online),
(http://ilmucerdaspendidikan.wordpress.com/2011/04/27/157/, diakses 12 April 2012)

(Sumber: https://ernisusiyawati.wordpress.com/tag/pengertian-sekolah-efektif/)

Strategi Pengembangan Seko


lah Unggul
Posted on 16 Februari 2008 by AKHMAD SUDRAJAT 19 Komentar

Sekolah unggul atau sekolah efektif tentunya merupakan dambaan kita semua.
Untuk menuju ke arah sana dibutuhkan strategi yang tepat. Dalam hal ini, Fasli Jalal
menyajikan sebuah tulisan tentang konsep strategi untuk menuju sekolah unggul.
Dalam tulisannya, dikemukakan bahwa sekolah unggul adalah sekolah yang :
Mampu memberikan layanan optimal kepada seluruh anak dgn berbagai

perbedaan bakat, minat kebutuhan belajar


Mampu meningkatkan secara signifikan kapabilitas yang dimiliki anak didik

menjadi aktualisasi diri yang memberikan kebanggaan


Mampu membangun karakter kepribadian yang kuat, kokoh dan mantap

dalam diri siswa


Mampu memberdayakan sumber daya yang ada secara optimal dan efektif

Mampu mengembangkan networking yang luas kepada stakeholder


Mampu mewujudkan sekolah sebagai organisasi pembelajar

Responsif terhadap perubahan

Strategi dan arah menuju sekolah unggul digambarkan secara skematik


seperti tampak dalam gambar berikut ini:

Strategi Arah Menuju Sekolah Unggul

Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang pemikiran dari Fasli Jalal tersebut,
silahkan klik saja tautan di bawah ini

(Sumber: https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/16/strategipengembangan-sekolah-unggul/)

PENGERTIAN SEKOLAH EFEKTIF


PUBLISHED 15 NOVEMBER 2012 BY RAMA CAHYATI

Definisi Sekolah Efektif:


Taylor (1990) mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang
mengorgansiasikan dan memanfaatkan semua sumber daya yang
dimilikinya untuk menjamin semua siswa (tanpa memandang ras, jenis
kelamin maupun status sosial ekonomi) bisa mempelajari materi
kurikulum yang esensial di sekolah.
Cheng (1996) mendefinisikan sekolah efektif sebagai sekolah yang
memiliki kemampuan dalam menjalankan fungsinya secara maksimal,
baik fungsi ekonomis, fungsi social kemanusiaan, fungsi politis, fungsi
budaya maupun fungsi pendidikan.
Karakteristik Sekolah Efektif:
1. Kepemimpinan yang profesional
2. Visi dan tujuan bersama
3. Lingkungan belajar
4. Kensentrasi pada belajar-mengajar
5. Harapan yang tinggi
6. Penguatan/pengayaan/pemantapan yang positif
7. Pemantauan kemajuan
8. Hak dan tanggung jawab peserta didik
9. Pengajaran yang penuh makna
10. Organisasi pembelajar
11. Kemitraan keluarga-sekolah
Berbagai Dimensi Sekolah Efektif:
A. Dimensi Leadership
Iklim dan atmosfer yang kondusif
Tujuan jelas, dapat dicapai, relevan
Guru berorientasi pengelolaan kelas yang baik
Inservice Training yang efektif untuk guru
B. Dimensi Pendukung
Konsensus terhadap nilai-nilai dan tujuan
Rencana stratejik dan koordinasi

Staf kunci yang berkelanjutan


Dukungan Dinas Pendidikan dan Pemda
C. Dimensi Efisiensi
Penggunaan waktu pelajaran yang efektif (intensitas interaksi)
Lingkungan sekolah dan kelas yang disiplin
Evaluasi dan umpan balik secara berkelanjutan
Kegiatan kelas terstruktur dengan baik
Petunjuk pembelajaran yang baik
Penekanan terhadap pengetahuan dan skill yang tinggi
Kesempatan untuk belajar secara maksimal
D. Dimensi Efficacy
Harapan untuk mencapai prestasi tinggi
Reward untuk prestasi dan kinerja tinggi
Kerjasama dan interaksi dalam kelas
Keterlibatan semua staf dalam peningkatan kinerja sekolah
Otonomi dalam melaksanakan proses pembelajaran sekolah
Guru yang empati dan memiliki kemampuan interpersonal dengan
siswa
Menekankan kepada pekerjaan rumah siswa
Akuntabilitas terhadap hasil belajar
Interaksi sesama guru yang baik yang efektif untuk guru
Berdasarkan sudut pandang keberhasilan sekolah, kemudian dikenal
sekolah efektif yang mengacu pada sejauh mana sekolah dapat
mencapai tujuan dan sasaran pendidikan yag telah ditetapkan. Dengan
kata lain, sekolah disebut efektif jika sekolah tersebut dapat mencapai
apa yang telah direncanakan. Pengertian umum sekolah efektif juga
berkaitan dengan perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa
yang telah dicapai. Sehingga suatu sekolah akan disebut efektif jika
terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan untuk
dikerjakan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah, sebaliknya
sekolah dikatakan tidak efektif bila hubungan tersebut rendah (Getzel,
1969).
Pada sekolah efektif seluruh siswa tidak hanya yang memiliki
kemampuan tinggi dalam belajar tetapi juga yang memiliki
kemampuan intelektualitas yang dapat mengembangkan dirinya
sejauh mungkin jika dibandingkan dengan kondisi awal ketika rnereka

baru memasuki sekolah. Sehingga tepatlah apa yang dikatakan


Mortimore (1991:132) yang mendefinisikan sekolah efektif
sebagai : one in which students progress further than might be
expected from a consideration of intake. Harapan ini sedikit berbeda
dengan kenyataan yang memfokuskan efektifitas sekolah pada
penguasaan kemampuan intelektual yang tercermin dari hasil Nilai
Ujian Akhir yang hanya menilai aspek intelektualitas tanpa dapat
mengukur hasil belajar siswa dalam kepribadian secara utuh.
Simpulan dari sekolah efektif yang dapat ditarik dari penjelasanpenjelasan di atas adalah sekolah yang mampu mengoptimalkan
semua masukan dan proses bagi ketercapaian output pendidikan yaitu
prestasi sekolah terutama prestasi siswa yang ditandai dengan
dimilikinya semua kemampuan berupa kompetensi yang
dipersyaratkan di dalam belajar.
(Sumber: https://ramacahyati8910.wordpress.com/2012/11/15/pengertiansekolah-efektif/)

Minggu, 14 Agustus 2011

Sekolah Efektif
Djaman Satori (2000) mengemukakan sekolah efektif dalam perspektif manajemen, merupakan
proses pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan
sistematik (mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan tindakan, dan pengendalian)
untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Selanjutnya jika dilihat dalam perspektif
ini, dimensi dan indikator sekolah efektif dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Layanan belajar bagi siswa
Dimensi ini mencakup seluruh kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan mutu pengalaman
belajar.
b. Mutu mengajar guru
Aspek ini merupakan refleksi dari kinerja profesional guru yang ditunjukan dalam penguasaan bahan
ajar, metode dan teknik mengajar untuk mengembangkan interkasi dan suasana belajar mengajar
yang menyenangkan, pemanfaatan fasilitas dan sumber belajar, melaksanakan evaluasi hasil
belajar. Indikator mutu mengajar dapat pula dilihat dalam dokumen perencanaan mengajar, catatan
khusus siswa bermasalah, program pengayaan, analisis tes hasil belajar, dan sistem informasi
kemajuan/prestasi belajar siswa.
c. Kelancaran layanan belajar mengajar
Sesuai dengan jadwal layanan belajar mengajar merupakan core bussiness sekolah. Bagaimana
kelancaran layanan tersebut, sesuai dengan jadwal yang telah disusun merupakan indikator penting
kinerja manajemen sekolah efektif. Adanya gejala kelas bebas karena guru tidak masuk kelas
atau para siswa tidak belajar disebabkan oleh interupsi rapat sekolah atau kegiatan lainnya,
merupakan keadaan yang tidak boleh dianggap wajar.
d. Umpan balik yang diterima siswa
Siswa sepatutnya memperoleh umpan balik yang menyangkut mutu pekerjaannya, seperti hasil
ulangan, ujian atau tugas-tugas yang telah dilakukannya.
e. Layanan keseharian guru terhadap siswa
Untuk kepentingan pengajaran atau hal lainnya, murid memerlukan menemui gurunya untuk
berkonsultasi. Kesediaan guru untuk melayani konsultasi siswa sangat penting untuk mengatasi
kesulitasn belajar. Kepuasan siswa terhadap layanan mengajar guru Siswa merupakan kastemer
primer di sekolah, dan oleh karenanya mereka sepatutnya mendapatkan kepuasan atas setiap
layanan yang ia terima di sekolah.
f. Kenyamanan ruang kelas
Ruang kelas yang baik memenuhi kriteria ventilasi, tata cahaya, kebersihan, kerapihan, dan
keindahan akan membuat para penghuninya merasa nyaman dan aman berada di dalamnya.
g. Ketersediaan fasilitas belajar
Sekolah memiliki kewajiban menyediakan setiap fasilitas yang mendukung implementasi kurikulum,
seperti laboratorium, perpustakaan fasilitas olah raga dan kesenian, dan fasilitas lainnya untuk
pengembangan aspek-aspek kepribadian.
h. Kesempatan siswa menggunakan berbagai fasilitas sekolah

Sesungguhnya sekolah diartikan untuk melayani para siswa yang belajar dan oleh karenanya para
siswa hendak diperlukan sebagai pihak yang harus menikmati penggunaan setiap fasilitas yang
tersedia di sekolah, seperti fasilitas olah raga, kesenian dalam segala bentuknya,ruang serba guna,
kafteria, mushola, laboratorium, perpustakaan, komputer, internet dan lain sebagainya.
i. Pengelolaan dan layanan siswa
Seperti telah diungkapkan terdahulu, siswa adalah kastemer primer layanan pendidikan. Sebagai
kastemer, para siswa sepatutnya memperoleh kepuasan. Kepuasan tersebut menyangkut;(1) mutu
layanan yang berkaitan dengan kegiatan belajarnya, (2) mutu layanan dalam menjalani tugas-tugas
perkembangan pribadinya, sehingga mereka lebih memahami realitas dirinya dan dapat mengatasi
sendiri persoalan-persoalan yang dihadapinya, dan (3) pemenuhan kebutuhan kemanusia- annya
(dari kebutuhan dasar, rasa aman, penghargaan, pengakuan dan aktualisasi diri). Untuk menjamin
layanan tersebut, sekolah yang efektif akan menyediakan layanan bimbingan konseling dan sistem
informasi yang menunjang. Demikian pula layanan untuk mememuhi bakat dan minat anak dalam
bentuk pengembangan program-program extra kurikuler mendapat perhatian yang berarti. Dalam
kondisi seperti disebutkan, sekolah yang efektif memiliki siswa yang disiplin dengan motivasi
belajar yang tinggi.
j. Sarana dan prasarana sekolah
Sarana dan prasarana atau disebut sebagai fasilitas sekolah mencakup, gedung, lahan dan peralatan
pelajaran. Aspek penting dari gedung tersebut adalah kualitas fisik dan kenyamanan ruang kelas di
mana core bussiness pendidikan di sekolah diselenggarakan. Aspek lain dari gedung adalah
kualitas fisik dan kenyamanan ruang manajemen (ruang kerja kepala sekolah dan layanan
administratif),ruang kerja guru, ruang kebersamaan (common room), dan fasilitas gedung lainnya
seperti kafetaria, toilet, dan ruang pentas. Lahan sekolah yang baik ditata sedemikian rupa
sehingga menciptakan kenyamanan bagi penghuninya. Sekolah yang efektif seperti buku-buku
pelajaran dan sumber belajar lainnya yang relevan, alat-alat pelajaran dan peraga yang mendukung
kurikulum sekolah sangat diperhatikan. Seluruhnya peralatan pengajaran tersebut, digunakan
secara optimal sesuai dengan
k. Program dan pembiayaan
Sekolah yang efektif memiliki perencanaan stratejik dan tahunan yang dipatuhi dan diketahui oleh
masyarakat sekolah. Kepemilikan perencanaan stratejik sekolah membantu mengarahkan dinamika
orientasi sekolah yang dimbimbing visi, misi, kejelasan prioritas program, sasaran dan indikator
keberhasilannya. Perencanaan tahunan merupakan penjabaran dari perencanaan stratejik yang
berisi program-program berisi program-program operasional sekolah. Program-program tersebut,
didukung oleh pembiayaan yang memadai dengan sumber-sumber anggaran yang andal dan
permanen. Kebijakan dan keputusan yang menyangkut pengembangan sekolah tersebut dilakukan
dengan memperhatikan partisipatif staf dan anggota masyarakat sekolah (dewan/komite
sekolah).Dalam kondisi seperti itu akontabilitas kelembagaan sekolah, baik yang dilakukan
melaluiself-assessment/ internal monitoring, maupun melalui external evaluation akan
berkembang secara sehat karena semua fihak yang berkepentingan (stakeholder) mendapat
tempatnya dalam setiap aspek pengembangan sekolah.
l. Partisipasi masyarakat
Di samping memberdayakan secara optimal staf yang dimilikinya, sekolah yang efektif akan
menaruh perhatian yang sungguh-sungguh pula terhadap pemberdayaan masyarakat sekolah. Hal itu
akan diwujudkan dengan cara menyediakan wadah yang memungkinkan mereka, yaitu fihak-fihak
yang berkepentingan, ikut terlibat dalam memikirkan, membahas, membuat keputusan, dan
mengontrol pelaksanaan sekolah. Wadah seperti itu, dalam penyelenggaraan sekolah-sekolah di
Australia dikenal sebagai school council, yang di Indonesia diusulkan komite sekolah, orang tua

murid, anggota masyarakat setempat (seperti tokoh agama, pengusaha, petani sukses,
cendikiawan, politikus, dan sejenisnya), dan refresentatif staf dari Depdiknas setempat.
m. Budaya sekolah
Budaya sekolah merupakan tatanan nilai, kebiasaan, kesepakatan-kesepakatan yang direfleksikan
dalam tingkah laku keseharian, baik perorangan maupun kelompok. Budaya sekolah dapat diartikan
sebagai respon psikologis penghuni sekolah terhadap peristiwa kehidupan keseharian yang terjadi di
sekolah. Budaya sekolah akan berpengaruh terhadap pencapaian misi sekolah apabila melahirkan
respon psikologis yang positif dan menyenangkan bagi sebagian besar atau seluruh penghuni
sekolah. Sebaliknya, budaya sekolah bersifat destruktif apabila melahirkan respon yang negatif atau
kurang menyenangkan bagi sebagian besar atau seluruh penghuni sekolah. Budaya sekolah dalam
pengertian ini sering diartikan sama dengan iklim sekolah, yaitu suasana kehidupan keseharian yang
berlangsung di sekolah yang memberi pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap respon
psikologis para penghuninya.
Diposkan oleh Anan Nur di 8/14/2011

(Sumber: http://anan-nur.blogspot.co.id/2011/08/sekolah-efektif.html)

SEKOLAH EFEKTIF
Abstrak
Pengembangan mutu pendidikan menjadi salah satu isu terpenting dalam rangka
menyongsong era globalisasi. Pengimplementasian sekolah efektif merupakan salah satu
jalan keluar dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, atau dengan kata lain sekolah
efektif merupakan proses penyelenggaran pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang
bermutu bukan hanya mencakup prestasi siswanya secara akademis, tetapi juga nonakademis,
seperti berakhlakul karimah, mandiri, dan peningkatan gairah belajar.Sekolah efektif adalah
sekolah yang berupaya menjalankan fungsinya sebagai tempat belajar yang paling baik
dengan menyediakan layanan pembelajaran yang bermutu bagi siswa siswinya.
Ciri ciri sekolah efektif diantaranya sekolah memiliki visi dan misi yang jelas serta
dilaksanakan secara konsisten, memiliki lingkunga yang baik, kepemimpinan sekolah yang
kuat, dukungan dari masyarakat sekitar, sekolah mempunyai rancangan program yang jelas,
guru menerapkan strategi gembelajaran yang inovatif, evaluasi berkelanjutan, kurikulum
sekolah yang terancang dan terintegrasi satu sama lain;
Dalam prespektif manajemen beberapa dimensi dan indicator sekolah efektif
diantaranya menyangkut layanan belajar bagi siswa yang maksimal, mutu mengajar guru,
kelancaran layanan belajar, kenyamanan ruang belajar serta sarana prasarana
lain, kesempatan dalam menggunakan fasilitas serta layanan sekolah, budaya sekolah dan
adanya dukungan dari masyarakat.
Pendahuluan: Definisi sekolah Efektif
Sekolah efektif dalam bahasa Inggris berasal dari dua kata, yaitu effective dan
school. Makna efektif merujuk pada kemampuan menghasilkan sesuatu atau mampu
mencapai tujuan. Efektivitas merupakan ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran atau
tujuan (kualitas, kuantitas dan waktu) telah dicapai.
Sekolah efektif memiliki pengertian yang berbeda dengan efektivitas sekolah. ACT
Council of P&C Associations (2007) mendefinisikan sekolah efektif sebagaithose that
successfully progress the learning and development of all of thei students. Definisi diatas
dapat dimaknai bahwa sekolah efektif adalah sekolah yang mampu meningkatkan belajar
peserta didiknya dan mengembangkan semua siswa yang ada di sekolah tersebut secara
sukses.
Sammons, Hilmans and Mortimore (1995: 3) mendefinisikan sekolah efektif sebagai:
one in which pupils progress further than might be expected from consideration of
its intake. In other word an effective schools adds extra value to its students outcome in
comparison with other schools serving similar intakes. By contrast an ineffective school is
one in which students make less progress than expected given their characteristic at intake.
Definisi dari Sammons, Hilman dan Mortimore ini dapat dipahami bahwa sekolah
efektif merupakan satu hal dimana kemajuan para siswa lebih baik dari kondisi yang biasa
diharapkan. Atau sekolah efektif itu sekolah yang memberikan nilai lebih pada peserta
didiknya dibandingkan sekolah lain yang memiliki karakteristik yang sama.
Sedangkan Lawrenze W. Lezotte (1985) mendefinisikan sekolah efektif yaitu sekolah
yang mampu memiliki dampak pembelajaran untuk mencapai semua misi, menunjukkan
adanya kesamaan dalam mutu/kualitas.
Sekolah efektif adalah sekolah yang menjalankan fungsinya sebagai tempat belajar
yang paling baik dengan menyediakan layanan pembelajaran yang bermutu bagi siswa
siswinya. (Joni Ukat, 2008 : 1). Pengertian umum sekolah efektif juga berkaitan dengan

perumusan apa yang harus dikerjakan dengan apa yang telah dicapai. Sehingga suatu sekolah
akan disebut efektif jika terdapat hubungan yang kuat antara apa yang telah dirumuskan
untuk dikerjakan dengan hasil-hasil yang dicapai oleh sekolah, sebaliknya sekolah dikatakan
tidak efektif bila hubungan tersebut rendah (Getzel, 1969).
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sekolah efektif
merupakan sekolah yang mampu memberikan layanan KBM yang bermutu yang didukung
oleh proses penyelenggaraan yang bermutu dan mampu menghasilkan lulusan yang bermutu.
Makna ini menunjukkan bahwa sekolah tidak dikategorikan sebagai efektif manakala peserta
didiknya memiliki hasil yang bermutu dikarenakan kontribusi dari bimbingan belajar bukan
dari proses yang dialami anak di sekolah.
Ciri-Ciri Sekolah Efektif
Sekolah efektif memiliki indikator yang beragam tetapi mengarah pada kualitas hasil
pembelajaran. Suharsaputra, Uhar (2010 : 65) memandang sekolah efektif dari tiga
perspektif, yaitu sekolah efektif dalam perspektif mutu pendidikan, sekolah efektif dalam
perspektif manajemen, dan sekolah efektif dalam perspektif teori organisme.
1. Sekolah Efektif dalam Perspektif Mutu Pendidikan
Penyelengaraan layanan belajar bagi peserta didik biasanya dikaji dalam konteks mutu
pendidikan yang erat hubungnnya dengan kajian kualitas manajemen dan sekolah efektif.
Sekolah dianggap bermutu apa bila peserta didiknya, sebagian besar atau seluruhnya,
memperoleh nilai /angka yang tinggi, sehingga berpeluang untuk melanjutkan kejenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Persepsi tersebut tidak keliru apabila nilai atau angka tersebut
diakui sebagai representasi dari totalitas hasil belajar, yang dapat dipercaya menggambarkan
derajat perubahan tingkah laku atau penguasaan kemampuan yang menyangkut aspek
kognitif, afektif dan psikomotorik.
2. Sekolah Efektif dalam Perspektif Manajemen
Manajemen sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh sumberdaya sekolah
yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik (mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pengerahan tindakan, dan pengendalian untuk mencapai tujuan sekolah
secara efektif dan efisien, (Suharsaputra, Uhar, 2010: 66). Dilihat dari prespektif manajemen,
(Suharsaputra, Uhar, 2010: 66) mengemukakan dimensi sekolah efektif yang meliputi :
a. Layanan belajar bagi siswa.
b. Pengelolaan dan layanan siswa.
c. Sarana dan prasarana sekolah.
d. Program dan pembiayaan.
e. Partisifasi masyarakat.
f. Budaya sekolah.
Djaman Satori (2000) mengemukakan sekolah efektif dalam perspektif manajemen,
merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan melalui
tindakan yang rasional dan sistematik (mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan
tindakan, dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien.
Selanjutnya jika dilihat dalam perspektif ini, dimensi dan indikator sekolah efektif dapat
dijabarkan sebagai berikut :
a. Layanan belajar bagi siswa

b.

c.

d.

e.

f.

g.

h.

i.

j.

Dimensi ini mencakup seluruh kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan mutu
pengalaman belajar.
Mutu mengajar guru
Aspek ini merupakan refleksi dari kinerja profesional guru yang ditunjukan dalam
penguasaan bahan ajar, metode dan teknik mengajar untuk mengembangkan interaksi dan
suasana belajar mengajar yang menyenangkan, pemanfaatan fasilitas dan sumber belajar,
melaksanakan evaluasi hasil belajar. Indikator mutu mengajar dapat pula dilihat dalam
dokumen perencanaan mengajar, catatan khusus siswa bermasalah, program pengayaan,
analisis tes hasil belajar, dan sistem informasi kemajuan/prestasi belajar siswa.
Kelancaran layanan belajar mengajar
Sesuai dengan jadwal, layanan belajar mengajar merupakan core bussiness sekolah.
Bagaimana kelancaran layanan tersebut, sesuai dengan jadwal yang telah disusun merupakan
indikator penting kinerja manajemen sekolah efektif. Adanya gejala kelas bebas karena
guru tidak masuk kelas atau para siswa tidak belajar disebabkan oleh interupsi rapat sekolah
atau kegiatan lainnya, merupakan keadaan yang tidak boleh dianggap wajar.
Umpan balik yang diterima siswa
Siswa sepatutnya memperoleh umpan balik yang menyangkut mutu pekerjaannya,
seperti hasil ulangan, ujian atau tugas-tugas yang telah dilakukannya.
Layanan keseharian guru terhadap siswa
Untuk kepentingan pengajaran atau hal lainnya, murid memerlukan menemui gurunya
untuk berkonsultasi. Kesediaan guru untuk melayani konsultasi siswa sangat penting untuk
mengatasi kesulitan belajar.
Kenyamanan ruang kelas
Ruang kelas yang baik memenuhi kriteria ventilasi, tata cahaya, kebersihan,
kerapihan, dan keindahan akan membuat para penghuninya merasa nyaman dan aman berada
di dalamnya.
Ketersediaan fasilitas belajar
Sekolah memiliki kewajiban menyediakan setiap fasilitas yang mendukung
implementasi kurikulum, seperti laboratorium, perpustakaan fasilitas olah raga dan kesenian,
dan fasilitas lainnya untuk pengembangan aspek-aspek kepribadian.
Kesempatan siswa menggunakan berbagai fasilitas sekolah
Sesungguhnya sekolah diartikan untuk melayani para siswa yang belajar dan oleh
karenanya para siswa hendak diperlukan sebagai pihak yang harus menikmati penggunaan
setiap fasilitas yang tersedia di sekolah, seperti fasilitas olah raga, kesenian dalam segala
bentuknya, ruang serba guna, kafteria, mushola, laboratorium, perpustakaan, komputer,
internet dan lain sebagainya.
Pengelolaan dan layanan siswa
Seperti telah diungkapkan terdahulu, siswa adalah kastemer primer layanan
pendidikan. Sebagai kastemer, para siswa sepatutnya memperoleh kepuasan. Kepuasan
tersebut menyangkut;(1) mutu layanan yang berkaitan dengan kegiatan belajarnya, (2) mutu
layanan dalam menjalani tugas-tugas perkembangan pribadinya, dan (3) pemenuhan
kebutuhan kemanusiaannya (dari kebutuhan dasar, rasa aman, penghargaan, pengakuan dan
aktualisasi diri).
Sarana dan prasarana sekolah
Sarana dan prasarana atau disebut sebagai fasilitas sekolah mencakup, gedung, lahan
dan peralatan pelajaran. Aspek penting dari gedung tersebut adalah kualitas fisik dan

kenyamanan ruang kelas di mana core bussiness pendidikan di sekolah diselenggarakan.


Aspek lain dari gedung adalah kualitas fisik dan kenyamanan ruang manajemen (ruang kerja
kepala sekolah dan layanan administratif), ruang kerja guru, ruang kebersamaan (common
room), dan fasilitas gedung lainnya seperti kafetaria, toilet, dan ruang pentas. Lahan sekolah
yang baik ditata sedemikian rupa sehingga menciptakan kenyamanan bagi penghuninya.
k. Program dan pembiayaan
Sekolah yang efektif memiliki perencanaan strategik dan tahunan yang dipatuhi dan
diketahui oleh masyarakat sekolah. Kepemilikan perencanaan strategik sekolah membantu
mengarahkan dinamika orientasi sekolah yang dimbimbing visi, misi, kejelasan prioritas
program, sasaran dan indikator keberhasilannya. Perencanaan tahunan merupakan penjabaran
dari perencanaan stratejik yang berisi program-program berisi program-program operasional
sekolah. Program-program tersebut, didukung oleh pembiayaan yang memadai dengan
sumber-sumber anggaran yang andal dan permanen. Kebijakan dan keputusan yang
menyangkut pengembangan sekolah tersebut dilakukan dengan memperhatikan partisipatif
staf dan anggota masyarakat sekolah (dewan/komite sekolah).
l. Partisipasi masyarakat
Di samping memberdayakan secara optimal staf yang dimilikinya, sekolah yang
efektif akan menaruh perhatian yang sungguh-sungguh pula terhadap pemberdayaan
masyarakat sekolah. Hal itu akan diwujudkan dengan cara menyediakan wadah yang
memungkinkan mereka, yaitu pihak-pihak yang berkepentingan, ikut terlibat dalam
memikirkan, membahas, membuat keputusan, dan mengontrol pelaksanaan sekolah. Wadah
seperti itu, dalam penyelenggaraan sekolah-sekolah di Australia dikenal sebagai school
council, yang di Indonesia diusulkan komite sekolah, orang tua murid, anggota masyarakat
setempat (seperti tokoh agama, pengusaha, petani sukses, cendikiawan, politikus, dan
sejenisnya), dan refresentatif staf dari Depdiknas setempat.
m. Budaya sekolah
Budaya sekolah merupakan tatanan nilai, kebiasaan, kesepakatan-kesepakatan yang
direfleksikan dalam tingkah laku keseharian, baik perorangan maupun kelompok. Budaya
sekolah dapat diartikan sebagai respon psikologis penghuni sekolah terhadap peristiwa
kehidupan keseharian yang terjadi di sekolah. Budaya sekolah akan berpengaruh terhadap
pencapaian misi sekolah apabila melahirkan respon psikologis yang positif dan
menyenangkan bagi sebagian besar atau seluruh penghuni sekolah. Budaya sekolah dalam
pengertian ini sering diartikan sama dengan iklim sekolah, yaitu suasana kehidupan
keseharian yang berlangsung di sekolah yang memberi pengaruh langsung atau tidak
langsung terhadap respon psikologis para penghuninya.
3. Sekolah Efektif dalam Perspektif Teori Organisme
Garmston and Wellman, (dalam Suharsaputra, Uhar, 2010:66) menyatakan bahwa
sekolah efektif adalah sekolah yang mampu mewujudkan apa yang disebut sebagai selfrenewing schools atau adaptive schools, yaitu suatu kondisi dimana kelembagaan sekolah
sebagai suatu entitas mampu menangani permasalahan yang dihadapinya, sementara
menunjukkan kapabilitasnya dalam berinovasi. Agar sekolah bisa adaptif menurut Tola dan
Furqon (dalam Suharsaputra, Uhar, 2010:67) sekolah sebagai organisasi harus secara terusmenerus pertanyakan tentang dua hal yang sangat esensial, yaitu :
a. Apakah yang menjadi hakikat keberadaan sekolah ?
b. Apakah yang menjadi tujuan utamanya ?

Dengan selalu mengingat dua hal tersebut diharapkan seluruh komponen sekolah akan selalu
melakukan langkah-langkah strategis dengan fokus pada tujuan yang telah menjadi
kesepakatan bersama.

1.
2.
3.
4.

Fungsi Sekolah Efektif


Cheng (1994) (dalam ml.scribd.com/doc/58962362/sekolahefektif)berpendapat bahwa sekolah efektif menunjukkan pada kemampuan sekolah
dalam menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, fungsi sosial
kemanusian, fungsi politis, f u n g s i b u d a y a m a u p u n f u n g s i
p e n d i d i k a n . Pengertian fungsi-fungsi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
Fungsi ekonomis, adalah sekolah memberikan bekal kepada siswa
a g a r d a p a t melakukan aktivitas ekonomi sehingga dapat hidup sejahtera.
Fungsi sosial kemanusiaan, adalah sekolah sebagai media bagi siswa
u n t u k beradaptasi dengan kehidupan masyarakat.
Fungsi politis adalah sekolah sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuantentang hak
dan kewajiban sebagai warga negara.
Fungsi budaya adalah sekolah sebagai media untuk melakukan transmisi
dantransformasi budaya.
Fungsi pendidikan adalah sekolah sebagai wahana untuk proses pendewasaan dan
pembentukkan kepribadian siswa.

Pengembangan Sekolah Efektif


Sekolah efektif merupakan sekolah yang memiliki sejumlah karakteristik
sebagaisekolah efektif. Keberhasilan sekolah mewujudkan berbagai karakteristik sekolah
efektif, bergantung pada kemampuan sumber daya manusia di sekolah dalam menyelesaikan
tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Kemampuan sumber dayamanusia di sekolah
dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya masing-masingitu dapat dikembangkan
dengan membangun budaya sekolah efektif. Membangun budaya sekolah dengan pusat
perhatian pada budaya keunggulan (culture of excellence)menekankan pada pengubahan
pikiran, kata-kata, sikap, perbuatan dan hati setiap warga sekolah. Budaya sekolah adalah
nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan
sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan,
seperti cara melaksanakan pekerjaan di sekolah serta asumsi atau kepercayaan dasar yang
dianut oleh personil sekolah.
Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan dan norma-norma yang
diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami,
yang dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama diantara seluruh
unsur dan personil sekolah baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa dan jika perlu
membentuk opini masyarakat yang sama dengan sekolah.Membangun budaya sekolah efektif
sangatlah diperlukan dalam konteks pengembangan sekolah efektif.
Berikut ini merupakan beberapa karakteristik Sekolah yang efektif:
1. Kepemimpinan Sekolah yang profesional (Professional Leadership)
2. Visi dan tujuan bersama (Shared Vision and Goals)
3. Lingkungan belajar (a Learning Environment)

4. Konsentrasi pada belajar mengajar (Concentration on Learning and Teaching)


5. Harapan yang tinggi (High Expectation)
6. Penguatan/pengayaan yang positif (Positive Reinforcement)
7. Pemantauan Kemajuan (Monitoring Progress)
8. hak dan tanggungjawab peserta didik (Pupil Rights and Responsibility)
9. pengajaran yang penuh makna (Purposeful Teaching)
10. Organisasi pembelajar (a Learning Organization)
11. Kemitraan sekolah - keluarga (Home-School Partnership).
Berdasarkan karekteristik sekolah efektif diatas, maka upaya pengembangan budaya
sekolah yang efektif seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini:
1. Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah.
2. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal.
3. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko.
4. Memiliki Strategi yang Jelas.
5. Berorientasi Kinerja.
6. Sistem Evaluasi yang Jelas.
7. Memiliki Komitmen yang Kuat.
8. Keputusan Berdasarkan Konsensus.
9. Sistem Imbalan yang Jelas.
10. Evaluasi Diri.
Penutup
Sekolah efektif adalah sekolah yang menjalankan fungsinya sebagai tempat belajar
yang paling baik dengan menyediakan layanan pembelajaran yang bermutu bagi siswa
siswinya. Dalam persfektif manajeman, sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh
sumber daya sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang rasional dan sistematik
(mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan tindakan, dan pengendalian) untuk
mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Untuk pengembangan selanjutnya,
sekolah efektif merupakan upaya dalam pengembangan mutu pendidikan, yang dilaksanakan
secara konsisten dan berkesinambungan, serta dievaluasi dan didukung oleh berbagai pihak,
termasuk didalamnya masyarakat.
Daftar Pustaka
Beare, Caldwell, Millikan (1992). Creating an excellent school. London: Routledge.
Bewa, Ibrahim (2009). Sekolah Efektif Menuju Peningkatan Mutu Pendidikan. [Online].
Tersedia: http://www.sribd.com.
Komar, (2008). Manajemen Sekolah Efektif dan Unggul. [Omline], Tersedia: http//www.
slideshare.net.
Komariah, A. (2005). Visionery Leadership menuju Sekolah Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Macbeath & Mortimer (2001). Improving school effectiveness. Buckingham: Open University
Press.
Suharsaputra, Uhar. (2010). Administrasi Pendidikan. Bandung: Rosdakarya
(Sumber: http://rukmant.blogspot.co.id/p/blog-page.html)

Kamis, 02 September 2010

MBS DALAM PRAKTIK


Manajemen Berbasis Sekolah yang menawarkan keleluasaan pengelolaan sekolah memiliki potensi
yang besar dalam menciptakan kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi yang profesional.
Oleh karena itu, dalam melaksanakan MBS perlu seperangkat kewajiban dan tuntutan
pertanggungjawaban (akuntabilitas) yang tinggi kepada masyarakat. Dengan demikian, kepala
sekolah harus mampu menampilkan pengelolaan sumber daya secara transparan, demokratis, dan
bertanggungjawab baik kepada masyarakat dan pemerintah dalam rangka meningkatkan kapasitas
pelayanan kepada siswa.
Perubahan-perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengelola
sekolah merupakan syarat utama dari keberhasilan pelaksanaan MBS. Dalam pelaksanaan MBS ini
dituntut kemampuan profesional dan manajerial dari semua komponen warga sekolah di bidang
pendidikan agar semua keputusan yang dibuat sekolah didasarkan atas pertimbangan mutu
pendidikan. Khususnya kepala sekolah harus dapat memposisikan sebagai agen perubahan di
sekolah. Oleh karena itu, kepala sekolah harus:
1. memiliki kemampuan untuk berkolaborasi dengan guru dan masyarakat sekitar sekolah
2. memiliki pemahaman dan wawasan yang luas tentang teori pendidikan dan pembelajaran
3. memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menganalisa situasi sekarang untuk
memperkirakan kejadian di masa depan sebagai input penyusunan program sekolah
4. memiliki kemampuan dan kemauan dalam mengidentifikasi masalah dan kebutuhan yang
berkaitan denga efektifitas pendidikan di sekolah
5. mampu mamanfaatkan berbagai peluang, menjadikan tantangan menjadi peluang, serta
mengkonsepkan arah perubahan sekolah.
Implementasi MBS secara benar akan memberikan dampak positif terhadap perubahan tingkah laku
warga sekolah yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
Berdasarkan 9 kewenangan yang diserahkan kepada sekolah, maka hal yang harus dilakukan oleh
kepala sekolah dan warganya adalah seperti diuraikan berikut ini.
1. Perencanaan dan Evaluasi
a. Salah satu tugas pokok yang harus dilakukan oleh kepala sekolah sebelum merencanakan program
peningkatan mutu sekolah adalah mendata sumber daya yang dimiliki sekolah (sarana dan
prasarana, siswa, guru, staf administrasi, dan lingkungan sekitar, dll)
b. Menganalisis tingkat kesiapan semua sumber daya sekolah tersebut
c. Berdasarkan data dan analisis kesiapan sumber daya, kepala sekolah dengan warga sekolah
secara bersama-sama menyusun program peningkatan mutu sekolah untuk jangka panjang, jangka
menengah, dan jangka pendek
d. Menyusun skala prioritas program peningkatan mutu untuk program jangka pendek yang akan
dilaksanakan satu tahun ke depan
e. Menyusun RAPBS untuk program satu tahun ke depan
f. Menyusun sistem evaluasi pelaksanaan program sekolah bersama dengan warga sekolah
g. Melakukan evaluasi diri terhadap pelaksanaan program sekolah secara jujur dan tranparan
kemudian ditindaklanjuti dengan perbaikan terus- menerus
h. Melakukan refleksi diri terhadap semua program yang telah dilaksanakan
i. Melatih guru dan tokoh masyarakat dalam implementasi MBS
j. Menyelenggarakan lokakarya untuk evaluasi
2. Pengelolaan Kurikulum
a. KTSP memberi keleluasaan dalam menyusun kurikulum berdasarkan SK dan KD disesuaikan
dengan potensi dan keunggulan sekolah
b. Mengembangkan silabus berdasarkan kurikulum
c. Mencari bahan ajar yang sesuai dengan materi pokok
d. Menyusun kelompok guru sebagai penerima program pemberdayaan
e. Mengembangkan kurikulum (memperdalam, memperkaya, dan memodifikasi), namun tidak boleh
mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional.
f. Selain itu, sekolah diberi kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal.

3. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar


Proses belajar mengajar merupakan aktifitas yang sangat penting dalam proses pendidikan di
sekolah. Disinilah guru dan siswa berinteraksi dalam rangka transfer ilmu dan pengetahuan kepada
siswa. Keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan sangat bergantung pada apa
yang dilakukan oleh guru di kelas. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat:
a. Menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa
b. Mengembangkan model pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual
(Contextual Teaching and Learning)
c. Jumlah siswa per kelas tidak lebih dari 32 siswa
d. Memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar
e. Memanfaatkan lingkungan dan sumber daya lain di luar sekolah sebagai sumber belajar
f. Pemanfaatan laboratorium untuk pemahaman materi
g. Mengembangkan evaluasi belajar untuk 3 ranah (cognitif, afektif, psikomotorik)
h. Mengembangkan bentuk evaluasi sesuai dengan materi pokok
i. Mengintegrasikan life skill dalam proses pembelajaran
j. Menumbuhkan kegemaran membaca
4. Pengelolaan Ketenagaan
a. Menganalisis kebutuhan tenaga pendidikan dan non kependidikan
b. Pembagian tugas guru dan staf yang jelas sesuai dengan kemampuan dan keahliannya
c. Melakukan pengembangan staf melalui MGMP, seminar, dll
d. Pemberian penghargaan (reward) kepada yang berprestasi dan sangsi (punishment) kepada yang
melanggar
e. Semua tenaga yang dibutuhkan tersedia di sekolah sesuai dengan analisis kebutuhan
5. Pengelolaan Fasilitas (Peralatan dan Perlengkapan)
a. Mengetahui keadaan dan kondisi sarana dan fasilitas
b. Mengadakan alat dan sarana belajar
c. Menggunakan sarana dan fasilitas sekolah
d. Memelihara dan merawat kebersihan
6. Pengelolaan Keuangan
a. Semua dana yang dibutuhkan dan akan digunakan dimasukkan dalam RAPBS
b. Mengelola keuangan dengan transparan dan akuntabel
c. Pembukuan keuangan rapih
d. Ada laporan pertanggungjawaban keuangan setiap bulan
7. Pelayanan Siswa
a. mengidentifikasi dan membangun kelompok siswa di sekolah
b. Melakukan proses penerimaan siswa baru dengan transparan
c. Pengembangan potensi siswa (emosional, spiritual, bakat)
d. Melakukan kegiatan ekstra kurikuler
e. Mengembangkan bakat siswa (Olahraga dan seni)
f. Mengembangkan kreatifitas
g. Membuat majalah dinding
h. Mengikuti lomba-lomba bidang keilmuan dan non keilmuan
i. Mengusahakan beasiswa melalui subsidi silang
j. Fasilitas kegiatan siswa tersedia dalam kondisi baik
8. Hubungan Sekolah-Masyarakat
a. Membentuk Komite Sekolah
b. Menjaga hubungan baik dengan Komite Sekolah
c. Melibatkan masyarakat dalam menyusun program sekolah, melaksanakan, dan mengevaluasi
d. mengembangkan hubungan yang harminis antara sekolah dengan masyarakat
9. Pengelolaan Iklim Sekolah
a. Menegakkan disiplin (siswa, guru, staf)
b. Menciptakan kerukunan beragama
c. Menciptakan kekeluargaan di sekolah
d. Budaya bebas narkoba
(Sumber: http://anan-nur.blogspot.co.id/2010/09/mbs-dalam-praktik.html )

Senin, 24 September 2012

CIRI-CIRI SEKOLAH EFEKTIF


Oleh : Sendi yona
Ciri-ciri sekolah efektif yaitu:
(1) adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan
karyawan di sekolah
(2)
memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas
(3)
mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi
(4)
siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan
(5)
siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik
(6)
adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi
(7)
siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor
keberuntungan dalam meraih prestasi
(8)
para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara
umum
(9)
kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi,
serta menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para
guru dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi
akademiknya.
Metode lain yang dipakai untuk mengidentifikasikan sekolah yang efektif adalah :
penggunaan standar tes, pendekatan reputasi, dan penggunaan evaluasi sekolah
serta pengembangan berbagai aktifitas.
Sekolah efektif memandang sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup
banyak aspek baik input, proses, output maupun outcome serta tatanan yang
ada dalam sekolah tersebut. Dimana berbagai aspek yang ada dapat
memberikan dukungan satu sama lain untuk mencapai visi, misi dan tujuan, dari
sekolah yang dikelola secara efektif dan efisien.
Banyak ruangan kelas belajar di sekolah efektif mencapai 23 ruangan yang
hampir dua kali lipat daripada banyak ruangan kelas di sekolah tidak efektif yang
hanya 12 ruangan. Jumlah dana operasional pertahun di sekolah efektif ternyata
jauh lebih banyak (hampir mencapai tiga kali lipat) daripada sekolah tidak efektif
yaitu Rp. 985.000.000 berbanding Rp. 345.000.000.
Ditinjau dari segi karakteristik guru ternyata ada perbedaan yang cukup
menonjol antara sekolah efektif dengan sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari
umur guru di sekolah efektif lebih tua daripada sekolah tidak efektif yaitu 48
tahun berbanding 42 tahun; pengalaman mengajar guru di sekolah efektif lebih
lama daripada sekolah tidak efektif yaitu 18,3 tahun berbanding 12,1 tahun.
Sejalan dengan pengalaman tersebut besar gaji guru pertahun di sekolah efektif
lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif.tetapi dari segi pendidikan terakhir
guru ternyata sama saja yaitu sarjana atau setingkat sarjana baik untuk sekolah
efektif maupun di sekolah tidak efektif. Dengan demikian, bila ditinjau dari segi
pengalaman dan umur guru ternyata kualifikasi guru di sekolah efektif lebih baik
daripada di sekolah tidak efektif, sebab dengan umur dan pengalaman mengajar
yang lebih tinggi berarti kemampuan guru dalam menyelenggarakan proses
belajar mengajar menjadi lebih baik.
Karakteristik siswa di sekolah efektif ternyata lebih baik daripada di sekolah tidak
efektif. Hal ini terlihat dari jumlah jam belajar siswa di rumah per minggu di
sekolah efektif lebih banyak daripada di sekolah tidak efektif yaitu 17,5 jam

berbanding 14,3 jam per minggu, jumlah jam les tambahan 5 jam berbanding 3,1
jam per minggu; rata-rata pendidikan orangtua siswa di sekolah efektif adalah
sarjana sedangkan di sekolah tidak efektif adalah sarjana muda; dan penghasilan
orangtua siswa di sekolah efektif jauh lebih tinggi daripada di sekolah tidak
efektif.
NEM sekolah, rata-rata skor konsep diri siswa, kepuasan kerja guru, partisipasi
orangtua siswa, dan iklim sekolah ternyata secara umum kualitasnya lebih baik
di sekolah efektif daripada di sekolah tidak efektif. Hal ini terlihat dari rata-rata
NEM Sekolah efektif yang jauh lebih tinggi daripada di sekolah tidak efektif
Dengan demikian, nampaknya penyelenggaraan pendidikan di sekolah lebih
berorientasi/sekolah efektif pada upaya-upaya pencapaian hasil belajar kognitif
siswa dengan mengabaikan pengembangan kepribadian, sikap, dan perilaku
siswa. Ini dapat dipahami dari orientasi kebijakan dan praktik penyelenggaraan
pendidikan yang memang terlalu menekankan pada kemampuan kognitif siswa
tanpa diimbangi dengan kemampuan afektif siswa seperti pada kriteria seleksi
penerimaan siswa baru, proses belajar menganjar maupun sistem evaluasi
keberhasilan sekolah.
Keberhasilan sekolah efektif di Indonesia saat ini, semata-mata diukur
berdasarkan perolehan NEM tanpa memperhatikan bagaimana keberhasilan
sekolah dalam membina perilaku dan kepribadian siswa di sekolah tersebut.
Padahal, tingkat kenakalan remaja seperti perkelahian antar pelajar, keterlibatan
jual beli dan pemakai narkoba, serta tindakan-tindakan asosial lainnya cukup
tinggi. Masyarakat dan orangtua siswa sesungguhnya sangat mengharapkan
agar sekolah menjadi tumpuan dalam membangun etika, moral, dan keadaban
siswa sebagai bagian dari pembentukan karakter bangsa.

(Sumber: http://manajemensekolah23.blogspot.co.id/2012/09/ciri-ciri-sekolahefektif.html)

Sekolah Efektif
ADA lima faktor utama yang terbukti mampu menyokong terbangunnya sekolah efektif guna
meningkatkan prestasi peserta didik. Yakni kepemimpinan yang kuat, kejelasan misi sekolah,
terjaganya iklim ketertiban dan keamananan, pengawasan kemajuan peserta didik, dan harapan
yang tinggi (David Miller Sadker & Karen R. Zittleman, 2006).
Kualitas kepemimpinan sangat memengaruhi baik buruknya prestasi anak didik dan sekolah
secara keseluruhan. Kepala sekolah harus mampu membangun kolaborasi di antara segenap
warga sekolah, mendorong partisipasi setiap guru untuk menyumbangkan hasil pemikirannya
demi kemajuan sekolah, dan mencoba hal-hal baru yang sedianya efektif untuk meningkatkan
kualitas layanan pendidikan.
Kepala sekolah sudah semestinya fokus pada apa yang terjadi di dalam kelas, sebagai inti baiktidaknya proses pendidikan. Keberlangsungan supervisi kinerja guru merupakan salah satu
langkah kunci penjaminan kelayakan layanan pendidikan.
Saat proses yang dimonitor berjalan kurang maksimal atau bahkan jauh dari kepantasan, kepala
sekolah akan bekerja keras bersama guru untuk perbaikan sehingga peserta didik hanya akan
mendapatkan layanan prima untuk mencapai hasil yang optimal.
Sekolah bergerak berdasarkan visi yang diterjemahkan ke dalam sejumlah misi untuk mencapai
tujuan pendidikan ideal. Pada awal tugas, kepala sekolah menyosialisasikan visi dan misi kepada
segenap warga sekolah dan bahu membahu melakukan inovasi dan peningkatan kualitas proses
setiap saat.
Iklim sekolah yang kondusif terwujud saat ketertiban dan keamanan terjaga dengan baik.
Dengan syarat ini, sekolah akan fokus pada pencapaian prestasi akademik dan misi yang telah
ditetapkan dengan melibatkan peran aktif keluarga dan masyarakat, serta menciptakan sebuah
lingkungan, tempat guru, siswa, dan staf diperlakukan dengan setara.
Sekolah efektif akan mengidentifikasi masalah siswa lebih awal, sebelum memburuk menjadi
kekacauan dan kekerasan. (45)
--Tuswadi SPd, guru Bahasa Inggris SMA N 1 Sigaluh Banjarnegara, sedang tugas belajar di
Universitas Hiroshima Jepang

MANAJEMEN SEKOLAH EFEKTIF


Oleh : Muhamad Muhsin
Pendidikan sekolah di Indonesia masih jauh dari kata efektif atau berkembang. Agar mutu
pendidikan di Indonesia tetap terjaga dan proses peningkatan mutu tetap stabil dan terkontrol,maka
harus ada standar sekolah di masing-masing daerah yang disepakati secara nasional. Pengelolaan
peningkatan mutu sekolah yang mampu memenuhi sumberdaya yang dimiliki sekolah akan
tercapainya tujuan pendidikan sekolah tersebut.
Kriteria atau karateristik manajemen sekolah yang efektif meliputi 5 hal yaitu:

1. Kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran


2. Pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran
3. Suasana yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya pengajaran dan
pembelajaran
4. Harapan bahwa semua siswa minimal menguasai ilmu pengetahuan
tertentu
5. Penilian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa.
Peran kepala sekolah sangat besar karena harus dapat mengembangkan
program pendidikan disekolah. Pelatihan maupun ketrampilan tekhnik tertentu
merupakan kunci terlaksananya suatu penerapan karena akan membentuk
lingkungan kerja yang sesuai dengan tujuan program. Kepemimpinan dan kerja
tim saling melengkapi dalam pelaksanaan suatu kegiatan pendidikan di sekolah.
Kehilangan faktor komunikasi antar bagian dan pelaksanaan dapat menjadi
beban atau kendala dari pelaksanaan kegiatan.
Stategi ini berbeda dengan konsep mengenai pengelolaan sekolah yang
selama ini kita kenal. Dalam sistem lama birokrasi pusat sangat mendominasi
proses pengambilan atau pembuatan keputusan pendidikan yang bukan hanya
kebijakan yang bersifat makro saja, tetapi lebih jauh kedalam hal-hal yang
bersifat mikro. Sekolah cenderung hanya melaksanakan kebijakan-kebijakan
tersebut yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan belajar siswa, lingkungan
sekitar dan harapan orang tua. Pengalaman merupakan bahwa sistem lama
sering menimbulkan kontradiksi antara apa yang menjadi kebutuhan sekolah
dengan kebijakan yang harus dilaksanakan didalam proses meningkatkan mutu
pendidikan.
(Sumber: http://manajemensekolah24.blogspot.co.id/2012/09/manajemensekolah-efektif.html)

KARAKTERISTIK SEKOLAH EFEKTIF


oleh: Koeri ulinuha

Sekolah harus memiliki visi dan misi yang jelas sehingga sekolah memiliki tuajuan untuk di capainya
maka dari itu sekolah harus mempunyai ciri-ciri dan karakteristik sekolah yang efektif. Berikut adalah
karakteristik sekolah yang efektif. pertama Adanya visi dan misi yang dipahami bersama oleh komunitas
sekolah, yang dari sini dapat dirinci lagi menjadi tiga. yaitu adanya system nilai dan keyakinan yang saling di
mengerti oleh komunitas sekolah, adanaya tujuan sekolah yang jelas dan adanya kepemimpinan intruksional.
Kedua iklim belajar yang kondusif di sekolah yang meliputi. Adanya keterlibatan dan tanggung jawab siswa,
lingkungan fisik yang mendukung, perilaku siswa yang positif, adanya dukungan keluarga dan masyarakat
terhadap sekolah. Dan yang ketiga. Ada penekanan pada proses belajar, yang terdiri dari memusatkan diri pada
kurikulum dan instruksional,ada pengembangan dan kolegialitas para guru, adanya harapan yang tinggi dari
komunitas sekolah, danadanya pemantauan yang berulang-ulang terhadap kemajuan belajar siswa.
Beberapa identifikasi karakteristik sekolah efektif terbagi menjadi tiga kelompok yaitu input, proses
dan output. Seperti dalam sistem informasi manajemen yang menekankan pada proses, dalam kelompok
karakteristik sekolah efektif juga menekan pada proses pendidikan. Input pendidikan yaitu karakteristik pertama
sekolah yang efekfif harus memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas seperti pada paragraph
pertama yaitu memiliki visi dan misi yang jelas. Kemudian sumber daya yang tersedia harus siap dari kepala
sekolah, guru, dan karyawan. Lalu memiliki fasilitas yang memadai seperti buku, dan sarana yang lainya. Dan
yang ter akhir dalam karakteristik input adalah fokus pada siswa agar memiliki harapan prestasi yang tinggi.
Kemudian kelompok karakteristik sekolah efektif yang kedua adalah proses yang paling di tekankan
dalam pendidikan. Sekolah yang efektif pada umumnya memiliki sejumlah karakteristik proses sebagai berikut.
Yang petama mempunyai proses belajar mengajar yang efektivitasnya tinggi yang menekankan pemberdayaan
peserta didik. Lalu memiliki kepemimpinan sokolah yang kuat, lingkungan sekolah yang aman dan tertib,
kemuadian karakteristik proses harus memiliki pengelolaan tenaga pendidikan yang efektif.
Tidak hanya itu dalam karakteristik proses sokolah yang efektif harus memiliki kerjasama yang
kompak, cerdas dan dinamis. Kemudian sekolah bersifat terbuka atau transparan dalam proses manajemen,
sekolah juga memiliki kemauan untuk berubah dalam hal ini menjadi lebih baik lagi. Sekolah juga memiliki
komunikasi yang baik dan akuntabilitas atau pertanggung jawaban terhadap program yang di jalankan. Dan
karakteristik proses yang terakhir adalah sekolah harus melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.
Dalam kelompok karakterisik sekolah efekif yang terakhir adalah karakteristik output seperti yang di
harapkan pada karakteristik input. Output yang diharapkan sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan oleh
proses pembelajaran dan manajemen di sekolah. Pada umumnya, output dapat diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu output berupa prestasi akademik dan output berupa prestasi non-akademik. Output prestasi akademik
misalnya, nilai/indek prestasi, lomba karya ilmiah remaja, dan lomba berbagai bidang mata pelajaran. Output
non-akademik, misalnya keingintahuan yang tinggi, harga diri, kejujuran, kerjasama yang baik, rasa kasih
sayang yang tinggi terhadap sesama. solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga,
kesenian, dan kepramukaan.
(Sumber: http://manajemensekolah24.blogspot.co.id/2012/09/karakteristik-sekolah-efektif.html)

Artikel Sekolah Efektif


Mungkin telinga Anda sudah tidak asing lagi dengan kata sekolah dan efektif.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai dua kata tersebut, baik itu secara langsung
melalui pembicaraan yang Anda lakukan dengan rekan Anda, maupun tidak langsung seperti di media
sosial. Lalu bagaimana apabila dua kata tersebut digabungkan menjadi satu pengertian, apa yang
terlintas dalam pikiran Anda setelah mendengar sekolah efektif? Apakah sekolah yang
memiliki sarana dan prasarana fantatis dengan biaya yang fantastis dapat dikatakan sebagai sekolah
efektif? Atau apakah sekolah dengan banyak peminat dapat dikatakan sebagai sekolah efektif? Oleh
karena itu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebuk, silakan disimak dulu mengenai
penjelasan tentang sekolah efektif terlebih dahulu.

Kebanyakan orang-orang di Indonesia, sekolah favorit yang dirujuk menjadi sekolah efektif adalah
sekolah yang mahal. Sarana dan prasarana sekolah lengkap, siswanya juga dari golongan-golongan
elit, dan harus megalami persaingan ketat untuk masuk ke sekolah tersebut. Sehingga mereka
berpikiran bahwa untuk masuk di sekolah favorit, tidak hanya dibutuhkan anak yang unggul dalam
segi intelektual saja, melainkan juga harus unggul dalam segi ekonomi. Padahal, pernyataan tersebut
sebenarnya kurang benar. Sekolah dengan kriteria itu belum tentu dapat dikatakan sebagai sekolah
efektif.
Kemudian pertanyaan berikutnya, apakah sekolah efektif adalah sekolah dengan banyak
peminatnya? Sekolah dengan banjir peminat belum tentu dikatakan sebagai sekolah efektif. Ada
beberapa alasan mengapa sekolah banyak peminatnya; yang pertama sekolah tersebut dikarenakan
memang memiliki kualitas yang bagus; yang kedua dikarenakan sekolah tersebut mempersyaratkan
biaya administrasi yang dapat dijangkau oleh penduduk sekitar meskipun dari segi kualitasnya belum
menjamin.
Nah, apakah sekolah dengan banyak peminat karena biaya pendidikan murah namun kualitasnya
kurang baik dapat dikatakan sebagai sekolah efektif? Padahal sekolah banyak peminat yang
dikarenakan kualitasnya unggul belum tentu juga dapat dikatakan sebagai sekolah efektif. Karena
ada kemungkinan yang membuat kualitas sekolah tersebut unggul dikarenakan hanya aspek sarana
dan prasarananya yang bagus saja, sehingga terkesan sekolah efektif padahal aspek-aspek lainnya
belum tentu menjamin. Lalu, apa toh sebenarnya kategori sekolah efektif sebenarnya? Mengapa
sekolah yang mahal belum tentu dapat dikatakan sebagai sekolah efektif? Bukankan sekolah mahal
sudah tentu difasilitasi alat-alat pendidikan dan guru-guru yang berkualitas?
Dilihat dari terminologinya, efektif berarti memiliki dampak, memiliki hasil, dan berefek. Ini berarti
sekolah efektif adalah sekolah yang memiliki dampak kepada siswanya. Maksudnya adalah bahwa
dari keberhasilan tersebut, adanya ketercapaian antara tujuan yang hendak dicapai dengan
kenyataan yang dapat diraih saat ini.
Sekolah diibaratkan sebagai suatu sistem. Dalam sebuah sistem maka terdapat beberapa komponen,
seperti: input yakni kualitas siswa baru yang masuk dalam sekolah tersebut, proses merupakan

kegiatan pengolahan input tersebut, output dapat berupa hasil secara akademik seperti nilai
raportnya, dan outcome berupa hasil akhir dari pendidikan tersebut berupa ke mana siswa setelah
lulus dari sekolah tersebut. Kualitas output dan outcome yang bagus merupakan tujuan
yang dikehendaki oleh sekolah. Nah, apabila ada kesesuaian antara output dan outcome yang
diterima saat ini dengan tujuan yang pernah dirumuskan sebelum proses pembelajaran, berarti
menandakan sekolah tersebut merupakan sekolah efektif.
Itulah sebabnya sekolah dengan biaya mahal serta sarana dan prasarana yang lengkap tidak serta
merta dapat dikatakan sebagai sekolah efektif. Sekolah mahal dengan kelengkapan sarana dan
prasarana yang bagus hanyalah ciri-ciri sekolah efektif pada biasanya. Dengan sarana dan prasarana
yang lengkap, kegiatan pembelajaran semakin dipermudah sehingga mendorong dalam pencapaian
tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sebelumnya. Namun, jika seandainya ada sebuah
sekolah yang memiliki biaya mahal sehingga gedungnya megah, sarana dan prasarananya lengkap,
untuk masuk ke dalam sekolah tersebut juga sulit karena membutuhkan biaya yang besar meski
kualitas inputnya tidak begitu diperhatikan. Sehingga ada kemungkinan, siswa-siswanya merupakan
anak dari kalangan orang mampu namun dari segi akademisnya kurang karena mereka tidak diterima
dari sekolah lain sehingga mengharuskan mereka untuk masuk di sekolah tersebut. Sehingga dalam
pencapaian output dan outcome-nya kurang menjamin. Meskipun demikian, sekolah yang dijelaskan
tersebut sangat jarang karena biasanya sekolah dengan biaya administrasi yang besar menunjukkan
sekolah tersebut memang berkualitas unggul sehingga tingkat efektivitasnya pun tinggi.
Sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap merupakan salah satu kriteria suatu sekolah dapat
dikatakan sebagai sekolah efektif. Ada 3 kriteria sekolah efektif yang sering disebut dengan place,
people, dan profit atau sering disebut dengan 3 P. Silakan disimak tentang penjelasan dari 3 P
tersebut:
1.

Place (tempat)
Kriteria ini merupakan aspek dari sarana dan prasarana. Dengan sarana dan prasarana yang
memadai disertai dengan tempat yang nyaman, bersih, dan kondusif untuk suasana belajar sangat
membantu dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena siswa sangat merasa enjoy dengan
suasana belajarnya, ia akan mudah dalam menangkap pelajaran yang disampaikan oleh guru yang
ada di depan sehingga mudah dalam memahami pelajaran yang diajarkan. Hal ini sangat membantu
dalam proses pencapaian tujuan yang hendak dicapai. Bayangkan saja, apabila Anda disuruh belajar
di tempat ramai, misalnya di sebuah kelas yang letaknya berada di dekat terminal dengan luas
ruangan yang sempit apakah Anda bisa belajar dengan nyaman dan mudah memahami materi?
Apakah Anda tidak lebih memilih mengipas-ngipaskan tangan Anda atau menutup telinga Anda
daripada konsentrasi memahami pelajaran?
Nah, tentunya untuk mendapatkan tempat dan suasana yang bagus dalam pembelajaran baik itu
seperti gedung luas, fasilitas yang lengkap, dan lain sebagainya pasti membutuhkan biaya yang
besar. Namun, untuk mendapatkan dana tidak hanya melalui biaya administrasi yang ditarikkan
kepada wali murid saja, bisa saja lho dengan meminta bantuan dari pemerintah atau alumni sekolah
tersebut yang sudah sukses apabila sekolah tersebut memang kategori sekolah efektif sejak dulu.

2.

People (Manusia)
Apa yang terlintas dalam benak Anda tentang kata-kata manusia atau people yang menjadi kriteria
sekolah efektif dalam benak Anda? Apakah guru-guru yang merupakan staf pendidik dalam kegiatan
pembelajaran? Dalam kriteria people atau manusia, tidak hanya guru saja yang masuk dalam
kategori ini, melainkan seluruh pihak yang berkaitan dengan sekolah ini. Siswa, kepala sekolah,
bagian TU, wali murid, dan bahkan masyarakat harus terlibat dalam kriteria ini. Input siswa yang
masuk dalam sekolah ini juga harus memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh sekolah ini. Kepala
sekolah juga harus turut andil dalam hal ini, mengingat siapa lagi sih yang menjadi manajer tertinggi
di sekolah tersebut? Begitu pula dengan wali murid, pihak ini harus ikut berpartisipasi dalam
mewujudkan sekolah tersebut menjadi sekolah efektif, misal dengan antusias tinggi dalam
menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut.

3.

Profit ( Laba)

Profit dalam kriteria sekolah efektif ini tidak sama dengan saat kita membicarakan tentang uang dan
kekayaan. Logislah apabila sekolah yang memiliki standar yang bagus dan baik membutuhkan dana
yang besar. Maksudnya, dalam profit ini diibaratkan sebagai imbalan. Dengan biaya dan
pengorbanan yang besar, lulusan yang diciptakan juga berkualitas. Mereka diharapkan memiliki
kemampuan dalam segi kognitif (kecerdasan), psikomotorik (ketrampilan), dan afektif (budi pekerti)
sehingga mampu meraih pekerjaan atau cita-cita yang dimiliki, berguna bagi masyarakat, bahkan
berguna bagi sekolahnya itu, baik dikarenakan sekolah ikut bangga dengan pencapaiaanya, banjirnya
minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di situ, ataupun mendonasikan dana untuk beasiswa
bagi adik kelasnya, dan lain sebagainya.
Selanjutnya, bagaimana sih ciri-ciri sekolah efektif itu sendiri? Menurut A. Squires, et.al(1983)
terdapat ciri-ciri sekolah yang efektif yaitu: adanya standar disiplin yang berlaku bagi seluruh
komponen di sekolah, memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan sekolah, mempunyai
standar yang tinggi dalam prestasi sekolah, siswa mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan,
adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi, persepsi siswa yang megatakan kerja keras lebih
peting dibandingkan factor keberuntungan dalam meraih prestasi, dan program manajemen dari
kepala sekolah yang baik.
Sedangkan menurut Jaap schreenrens (1992), menyatakan bahwa ada ciri yang sangat penting yang
harus dimiliki oleh sekolah yang efektif, yakni: adanya kepemimpinan yang kuat, penekanan pada
prestasi siswa, dan adanya penilaian yang rutin mengenai program yang dibuat siswa.
Setelah kita membicarakan tentang sekolah efektif. Kita sering mendengarkan tentang akreditas
sekolah. Mengapa ada sekolah yang terakreditasi, baik itu A, B, maupun C? Mengapa suatu sekolah
ada yang belum terakrditasi? Mengapa tidak diseterakan saja agar tidak ada perbedaan? Nah,
pemberian akreditas kepada sekolah sudah tentu memiliki tujuan. Pemerintah memberikan akreditas
pada sekolah-sekolah bahkan ke universitas-untiversitas untuk meberitahukan kepada masyarakat
yang hendak menempuh pendidikan ke jenjang berikutnya agar diberi gambaran tentang sekolahsekolah yang hendak dimasukkinya. Selain itu pula, ada tujuan lain dalam pemberian akreditas
tersebut, yakni agar memberikan efek motivasi bagi sekolah atau universitas yang diberi akreditas
tersebut, baik agar dipertahankan karena sudah memiliki akreditas bagus, maupun ditingkatkan
karena belum puas dengan pemberian akreditas tersebut sehingga kemajuan pendidikan dari segi
upaya yang dilakukan sekolah dan univeritas semakin terdongkrak.
Untuk meningkatkan akreditas sekolah ada beberapa tips yang dapat dipersiapkan oleh sekolah. Bagi
sekolah yang memiliki akreditas kurang baik dapat dipersiapkan dalam beberapa jauh agar lebih siap
dalam menyiapkan bahan-bahanya. Bahan-bahan tersebut merupakan bahan-bahan yang akan diuji
untuk pemberian akreditasi, misal RPP, laporan administrasi sekolah, piagam prestasi yang pernah
dilakukan oleh siswa, dan lain sebaginya. Perlunya sosialisasi dengan seluruh pihak yang terkait
hingga wali murid. Perlu diadakannya rapat untuk men-sosialisasikan hal tersebut. Perlunya
koordinasi dan kekompakkan pada masing-masing pihak sehingga apa yang ingin diraih yakni
peningkatan akreditasi dapat dicapai. Itulah sedikit tentang persiapan peningkatan akreditasi sekolah.
Meski sebenarnya, peningkatan akreditasi harus dilakukan bertahun-tahun dimulai sekolah tersebut
didirikan karena bagaimanapun akreditasi merupakan penilaian mutu sekolah sehingga
membutuhkan proses yang panjang dalam meningkatkan mutu sekolah tersebut tidak semudah
membalikkan telapak tangan.
Itulah sedikit tentang akreditas sekolah yang menunjukkann keefektivitas-an sekolah, selanjutnya kita
kembali lagi ke sekolah yang efektif. Ada beberapa contoh sekolah yang dikategorikan sebagai
sekolah efektif di Indonesia, misalnya SMA Taruna Nusantara Magelang, SMA Negeri 1 Surakarta,
SMA Negeri 3 Semarang, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk tingkat universitas, seperti: UI, ITB,
UGM, dan universitas-universitas lain yang termasuk kategori PTN dengan peminat yang besar.
Sekali lagi, kategori ini bukanlah mahalnya biaya untuk sekolah tersebut melainkan kualitas lulusan
atau outcome yang dicapainya.
Sekolah efektif tercemin dari profil sekolah memiliki keteraturan dalam berbagai aspek untuk
mencapai tujuan. Aspek-aspek tersebut tidak hanya guru dan muridnya saja, melainkan juga seluruh
pihak yang ada hubungannya dengan sekolah tersebut. Termasuk juga kurikulum, sarana prasarana,

KBM, hingga ekstrakurikuler merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam mencapai tujuan
sekolah. Pada intinya, untuk mewujudkan sekolah yang dikatakan sebagai sekolah yang memiliki
tingkat kefektivitasan tinggi, membutuhkan proses yang tidak serta merta dengan mudahnya seperti
hujan yang turun dari langit. Dibutuhkan terjadinya suatu sinergi antara aspek-aspek yang ada,
proses pencapaian, dan tujuan sekolah itu sendiri. Sekilas tentang gambaran dari sekolah efektif,
semoga bermanfaat.
Bahan Bacaan:

Sutomo dan Titi Prihatin.2012.Manajemen Sekolah.Semarang: Unnes Press.


Penulis:

Deni Sri Haryati, Mahasiswa S1 Jurusan Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi,


Universitas Negeri Semarang.

EFEKTIFITAS SEKOLAH
Dalam Perspektif Mutu Pendidikan
Subaidah - NIM 157976003
Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Pendahuluan
Sekolah

yang

efektif

(keefektifan sekolah) banyak dibicarakan bahkan menjadi perhatian dan


dambaan bagi hampir semua pengelola atau praktisi pendidikan, namun sejauh
ini apakah memang sudah terbukti bahwa keefektifan sekolah benar-benar dapat
mendukung dan memberikan bukti nyata dan sumbangsih riil terhadap kemajuan
sekolah. Keefektifan sekolah dengan kemajuan sekolah ternyata adalah dua hal
yang berbeda. Keefektifan sekolah berkaitan dengan dinamika pekerjaan atau
aktifitas sekolah. Namun sejauh ini belum ada standar yang tetap atau baku,
bagaimana sekolah dapat dikatakan efektif, bagaimana sistem kerjanya, elemenelemen apa saja yang terkait, elemen mana yang mempengaruhi elemen lainnya
dan dengan cara yang bagaimana. Namun dilihat dari model dan teori memang
ada hubungan-hubungan esensial antara keefektifan sekolah dengan kemajuan
sekolah dalam proses perubahan suatu institusi.
Keefektifan sekolah berpasangan dengan ketidak-efektifan sekolah,
begitupun kemajuan sekolah berpasangan dengan kemunduran sekolah. Yang
perlu di simak adalah bagaimana proses kemajuan atau kemunduran itu muncul,
secara alami tanpa kita intervensi, sehingga kita dapat melihat secara objektif
proses yang terjadi.

Pengertian Efektivitas Sekolah

Efektivitas Sekolah menurut Taylor (1990) adalah sekolah yang semua


sumber dayanya diorganisasikan dan dimanfaatkan untuk menjamin semua
siswa, tanpa memandang ras, jenis kelamin, maupun status sosial-ekonomi,
dapat mempelajari materi kurikulum yang esensial di sekolah itu.
Creemers dan De Jong (Dalam Botha, 2010),
studi efektivitas
sekolah memiliki dua
tujuan yang
berbeda:
pertama, untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang
merupakan
ciri
khasdari sekolah yang
efektif, dan kedua, untuk mengidentifikasi perbedaan antara hasil pendidikandi
sekolah-sekolah.

Mengapa Diperlukan Sekolah Efektif


Sekolah efektif sangat diperlukan karena dalam konteks pendidikan tidak
hanya menekankan pada pendekatan input-output secara makro tetapi yang
lebih penting adalah persoalan proses input agar mendapat hasil yang
memadai. Pendekatan input-output yang bersifat makro tersebut kurang
memperhatikan aspek yang bersifat mikro yaitu proses yang terjadi di sekolah.
Dengan kata lain, dalam membangun pendidikan, selain memakai pendekatan
makro juga perlu memperhatikan pendekatan mikro yaitu dengan memberi fokus
secara lebih luas pada institusi sekolah yang berkenaan dengan kondisi
keseluruhan sekolah seperti iklim sekolah dan individu-individu yang terlibat di
sekolah baik guru, siswa, dan kepala sekolah serta peranannya masing-masing
dan hubungan yang terjadi satu sama lain. Dalam kaitan ini Brookover (dalam
Yetri, 2015) mengungkapkan bahwa input sekolah memang penting tetapi yang
jauh lebih penting adalah bagaimana mendayagunakan input tersebut yang
terkait dengan individu-individu di sekolah.

Ciri dan Karakteristik Sekolah Efektif


Deskripsi berbagai teori mengenai sekolah efektif secara lebih terinci
adalah sebagai berikut. David A. Squires, et.al. (dalam Yetri, 2015) berhasil
merumuskan ciri-ciri sekolah efektif yaitu:
1.

adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala sekolah, guru, siswa, dan
karyawan di sekolah;

2.

memiliki suatu keteraturan dalam rutinitas kegiatan di kelas;

3.

mempunyai standar prestasi sekolah yang sangat tinggi;

4.

siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah direncanakan;

5.

siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan akademik;

6.

adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi;

7.
8.
9.

siswa berpendapat kerja keras lebih penting dari pada faktor keberuntungan
dalam meraih prestasi;
para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang diakui secara umum
kepala sekolah mempunyai program inservice, pengawasan, supervisi, serta
menyediakan waktu untuk membuat rencana bersama-sama dengan para guru
dan memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan prestasi
akademiknya.
Sedangkan Rutter (dalam Wijayanti, 2011) menemukan bahwa sekolah efektif
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1.
2.
3.

menekankan pada proses pembelajaran


guru merencanakan
pembelajaran,

bersama

dan

bekerjasama

dalam

pelaksanaan

terdapat supervisi yang terarah dari guru senior dan kepala sekolah.
Sementara Edmons (dalam Yetri,2015)
karakteristik sekolah efektif yaitu :

menyebutkan

bahwa

ada

1.

Kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap kualitas pengajaran,

2.

Pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran,

3.

Iklim yang nyaman


pembelajaran,

4.

Harapan bahwa semua siswa minimal akan menguasai ilmu pengetahuan


tertentu, dan

5.

dan

tertib

bagi

berlangsungnya

pengajaran

lima

dan

Penilaian siswa yang didasarkan pada hasil pengukuran hasil belajar siswa.
Penjelasan lain mengenai sekolah efektif adalah sebagai berikut : 1.
Menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya; 3. Adanya
kepemimpinan yang kuat 4. Adanya hubungan yang baik antara sekolah dengan
orangtua siswa; dan 5. Pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif
untuk belajar (Townsend, 1997).
Tinjauan yang lebih komprehensif mengenai sekolah efektif dilakukan oleh
Edward Heneveld (dalam Yetri, 2015) yang mengungkapkan serangkaian
indikator berupa 16 faktor yang berkenaan dengan sekolah efektif yaitu : (1)
dukungan orangtua siswa dan lingkungan, (2) dukungan yang efektif dari sistem
pendidikan, (3) dukungan materi yang cukup, (4) kepemimpinan yang efektif, (5)
pengajaran yang baik, (6) fleksibilitas dan otonomi, (7) waktu yang cukup di
sekolah, (8) harapan yang tinggi dari siswa, (9) sikap yang positif dari para guru,
(10) peraturan dan disiplin, (11) kurikulum yang terorganisir, (12) adanya
penghargaan dan insentif, (13) waktu pembefajaran yang cuk!up, (14) variasi

strategi pengajaran, (15) frekuensi pekerjaan rumah, dan (16) adanya penilaian
dan umpan balik sesering mungkin.
Martimare (1995) telah mengutarakan 11 rumusan tentang "Key
Characteristics of Effective Schools. Sebeias ciri sekolah berkesan yang dirumus
oleh Martimore ialah:
1. Kepemimpinan professional
2. Kebersamaan visi dan tujuan
3. Lingkungan pembelajaran
4. Berkosentrasi pada proses pengajaran dan pembetajaran
5. Pengajaran yang bertujuan
6. Ekspectasi (harapan) tinggi
7. Penguatan positif
8. Memantau kemajuan
9. Hak dan tanggungjawab pelajar
10. Hubungan rumah-sekolah
11. Organisasi Pembelajaran

Efektivitas Sekolah Dalam Perspektif Mutu Pendidikan


Penyelenggaraan layanan belajar bagi peserta didik biasanya dikaji dalam
konteks mutu pendidikan yang erat hubungannya dengan kajian kualitas
manajemen dan Efektivitas Sekolah. Di lingkungan system persekolahan, konsep
mutu pendidikan dipersepsi berbeda-beda oleh berbagai pihak. Menurut persepsi
kebanyakan orang (orang tua dan masyarakat pada umumnya), mutu pendidikan
di sekolah secara sederhana dilihat dari perolehan nilai atau angka yang dicapai
seperti ditunjukkan dalam hasil-hasil ulangan dan ujian. Sekolah dianggap
bermutu apabila para siswanya sebagian besar atau seluruhnya, memperoleh
nilai atau angka yang tinggi, sehingga berpeluang melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Persepsi tersebut tidak keliru apabila nilai atau
angka tersebut diakui sebagai representasi dari totalitas hasil belajar, yang
dapat dipercaya menggambarkan derajat perubahan tingkah laku atau
penguasaan kemampuan yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Dengan demikian, hasil pendidikan yang bermutu memiliki nuansa
kuantitatif dan kualitatif. Artinya, disamping ditunjukkan oleh indikator seberapa
banyak siswa yang berprestasi sebagai mana dilihat dalam perolehan nilai yang
tinggi, juga ditunjukkan oleh seberapa baik kepemilikian kualitas pribadi para
siswanya, seperti tampak dalam kepercayaan diri, kemandirian, disiplin, kerja

keras dan ulet, terampil, berbudi pekerti, beriman dan bertaqwa, bertanggung
jawab sosial dan kebangsaan, apresiasi, dan lain sebagainya. Analisis di atas
memberikan pemahaman yang jelas bahwa konsep Efektivitas Sekolah berkaitan
langsung dengan mutu kinerja sekolah.
Refleksi empirik yang disampaikan Djaman Satori (2006) dalam satu
diskusi tentang mutu pendidikan sampai pada kesepakatan bahwa mutu
pendidikan (MP) di sekolah merupakan fungsi dari mutu input peserta didik yang
ditunjukkan oleh potensi siswa (PS), mutu pengalaman belajar yang ditunjukkan
oleh kemampuan profesional guru (KP), mutu penggunaan fasilitas belajar (FB),
dan budaya sekolah (SB) yang merupakan refleksi mutu kepemimpinan kepala
sekolah. Penyataan tersebut dapat dirumuskan dalam formula sebagai berikut:

MP = f (PS.KP.FB.BS)

Potensi siswa (PS) adalah kepemilikan kemampuan yang telah dianugerahkan


oleh Allah SWT kepada setiap manusia. Dalam wacana psikologi pendidikan,
kemampuan tersebut dikenal sebagai natural or acquired talent yang
dibedakan menjadi kemampuan umum (General Aptitude) yang dinyatakan
dalam ukuran IQ (Intelligent Quotient) dan kemampuan khusus yang biasa
disebut bakat (secial aptitude). Kemampuan umum yang dimiliki seorang anak
biasa dipergunakan sebagai predictor untuk menjelaskan tingkat kemampuan
menyesaikan program belajar, sehingga kemampuan ini sering disebut sebagai
scholastic aptitude atau potensi akdemik. Seorang siswa yang memiliki potensi
akademik yang tinggi diduga memiliki kemampuan yang tinggi pula untuk
menyelesaikan program-program belajar atau tugas-tugas belajar pada
umumnya di sekolah, dan karenanya diperhitungkan akan memperoleh prestasi
yang diharapkan. Sementara itu, kemampuan khusus atau bakat dijadikan
predictor untuk berprestasi dengan baik dalam bidang karya seni, musik, akting
dan sejenisnya. Atas dasar pemahaman ini, maka untuk memperoleh mutu
pendidikan sekolah yang baik, para siswa yang dilayaninya harus memiliki
potensi yang memadai untuk menyelesaikan program-program belajar yang
dituntut oleh kurikulum sekolah.
Kemampuan professional guru direfleksikan pada mutu pengalaman
pembelajaran siswa yang berinteraksi dalam kondisi proses belajar mengajar.
Kondisi ini sangat dipengaruhi oleh: (1) tingkat penguasaan guru terhadap bahan
pelajaran dan penguasaan struktur konsep-konsep keilmuannya, (2) metode,
pendekatan, gaya/seni dan prosedur mengajar, (3) pemanfaatan fasilitas belajar
secara efektif dan efisien, (4) pemahaman guru terhadap karakteristik kelompok
perorangan siswa, (5) kemampuan guru menciptakan dialog kreatif dan
menciptakan lingkunganbelajar yang menyenangkan, dan (6) kepribadian guru.
Atas dasar analisis tersebut, maka upaya guru untuk meningkatkan mutu

pendidikan
di
sekolah
harus
disertai
dengan
upaya-upaya
untuk
meningkatkankemampuan professional dan memperbaiki kualitas kepribadian
gurunya. Pada tingkat sekolah, upaya tersebut ditunjukkan dalam kegiatankegiatan berikut, yaitu: (1) interaksi kolegialitas di antara guru-guru, (2)
pemahaman proses-proses kognitif dalam penyelenggaraan pengajaran, (3)
penguasaan struktur pengetahuan mata pelajaran, (4) pemilikian pemahaman
dan penghayatan terhadap nilai, keyakinan, dan standar, serta(5) keterampilan
mengajar, dan (6) pengetahuan bagaimana siswa belajar.
Fasilitas belajar menyangkut ketersediaan hal-hal yang dapat memberikan
kemudahan bagi perolehan pengalaman belajar yang efektif dan efisien. Fasilitas
belajar yang sangat penting adalah laboratorium yang memenuhi syarat bengkel
kerja, perpustakaan, komputer, dan kondisi fisik lainnya yang secara langsung
mempengaruhi kenyamanan belajar.
Budaya sekolah adalah seluruh pengalaman psikologis para siswa (sosial,
emosional, dan intelektual) yang diserap oleh mereka selama berada dalam
lingkungan sekolah. Respon psikologis keseharian siswa terhadap hal-hal seperti
cara-cara guru dan personil sekolah lainnya bersikap dan berprilaku (layanan
wali kelas dan tenaga adminstratif misalnya), implementasi kebijakan sekolah,
kondisi dan layanan warung sekolah, penataan keindahan, kebersihan dan
kenyamanan kampus, semuanya membentuk budaya skeolah. Budaya sekolah
merembes pada penghayatan psikologis warga sekolah termasuk siswa, yang
pada gilirannya membentuk pola nilai, sikap, kebiasaan dan prilaku. Aspek
penting yang turut membentuk budaya sekolah adalah kepemimpinan sekolah.
Kepemimpinan sekolah yang efektif merupakan sumber nilai dan semangat,
sumber tatanan dan prilaku kelembagaan yang berorientasi kea rah dan sejalan
dengan pencapaian visi dan misi kelembagaan, memiliki kemampuan
konseptual, memiliki keterampilan dan seni dalam hubungan antar manusia,
menguasai aspek-aspek tekhnis dan substantif pekerjaannya, memiliki semangat
untuk maju serta memiliki semangat mengabdi dan karakter yang diterima
lingkungannya.
Efektivitas Sekolah dalam perspektif mutu pendidikan dapat dikatakan
bahwa sekolah yang efektif adalah sekolah yang: (1) memiliki masukan siswa
dengan potensi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, (2) dapat menyediakan
layanan pembelajaran yang bermutu, (3) memiliki fasilitas sekolah yang
menunjang efektivitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar, (4) memiliki
kemampuan menciptakan budaya sekolah yang kondusif sebagai refleksi dari
kinerja kepemimpinan professional kepala sekolah.

Referensi:

Botha,2010, School effectiveness: conceptualising divergent assessment approaches ,


South African Journal of Education vol. 30 n. 4 Pretoria.

Edmonds R.R. (1979). Effective


Leadership. 37(1), 15 27.

Schools

for

the

Urban

Poor. Educational

Mortimore, P. (1995). "Key Characteristics Of Effective Schools". Kertas kerja Seminar


Sekolah Efektif, lnstitut Aminudin Baki, Kementeriaan Pendidikan Malaysia.
Taylor, B.O.,1990, Case Studies in Effective Schools Research. Kendal/Hunt Publishing
Company.
Wijayanti, Wiwik, 2011, Efektivitas dan peningkatan sekolah, Dinamika Pendidikan
No.02/TA.XVJJJ.
Yunus Adebumi &Olubukola James Ojo, 2014, Teacher Quality and Secondary School
Effectiveness in Ilorin South Local Goverment Area, Kwara State Nigeria, Jurnal
Pendidikan Malaysia 39(2)(2014):149-152.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=307808&val=5887&title=TOTAL
%20QUALITY%20MANAGEMENT%20DAN%20EFEKTIVITAS%20SEKOLAH

Karakteristik Sekolah Efektif


Oleh : TRI UTARI

Di Indonesia, sekolah efektif tampaknya belum begitu populer dalam masyarakat.


Kebanyakan masih beranggapan bahwa semua sekolah memiliki kriteria yang sama.
Padahal dapat di pastikan setiap sekolah memiliki acuan tersendiri untuk menuju sekolah
efektif.Untuk itu perlu adanya pengetahuan tentang sekolah efektif serta kriteria karakteristik
sekolah efektif.
Sekolah efektif memandang sekolah sebagai suatu sistem yang mencakup banyak
aspek baik input, proses, output serta tatanan yang ada dalam sekolah tersebut. Dimana
berbagai aspek yang ada dapat memberikan dukungan satu sama lain untuk mencapai visi,
misi dan tujuan, dari sekolah yang dikelola secara efektif dan efisien. Karakteristik sekolah
efektif merupakan aspek-aspek proses persekolahan yang berkontribusi terhadap hasil
belajar siswa.
Karakteristik sekolah efektif dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu output, proses, dan
input. Mengingat output memiliki tingkat kepentingan tertinggi, sedang proses memiliki
tingkat kepentingan satu tingkat lebih rendah dari output, dan input memiliki tingkat
kepentingan dua tingkat lebih rendah dari output. Untuk itu di mulai dari output dan diakhiri
dengan input.
Kategori karakteristik sekolah efektif yang pertama yaitu Output Sekolah Efektif, yang
berupa kinerja sekolah. Output sekolah dikatakan berkualitas/bermutu tinggi jika prestasi
sekolah, khusunya prestasi belajar siswa, menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam hal :
(1) prestasi akademik, dan (2) prestasi non-akademik. Output prestasi akademik misalnya,
NEM, lomba karya ilmiah remaja, cara-cara berpikir yang kritis, dan lain sebagainya.
Sedangkan output prestasi non-akademik misalnya keingintahuan yang tinggi, harga diri,
kejujuran, kerjasama yang baik, dst.
Kategori karakteristik sekolah efektif yang kedua yaitu Output Sekolah Efektif, yang
berupa proses belajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibanding dengan prosesproses lainnya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian dan penyerasian
serta pemaduan input sekolah (guru, siswa, kurikulum, uang, peralatan dsb) dilakukan

secara

harmonis,.

Sehingganya

mampu

menciptakan

situasi

pembelajaran

yang

menyenangkan (enjoyable learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan
benar-benar mampu memberdayakan peserta didik.
Kategori karakteristik sekolah efektif yang ketiga yaitu Input Sekolah Efektif, yang
berupa keseluruhan sumber daya sekolah yang mencakup :
(1) Memiliki Kebijakan, Tujuan, dan Sasaran Mutu yang Jelas;
(2) Sumberdaya Tersedia dan Siap,
(3) Staf yang Kompeten dan Berdedikasi Tinggi,
(4) Memiliki Harapan Prestasi yang Tinggi,
(5) Fokus pada Pelanggan (Khususnya Siswa),
(6) Input Manajemen.

Referensi:
http:// wordpress.com/2011/04/26/sekolah-efektif/
Sutomo dkk, 2011. Managemen Sekolah. Universitas Negeri Semarang press.
http://jeperis.wordpress.com/2011/04/08/indikator-sekolah-efektif/

(Smber: http://manajemensekolah22.blogspot.co.id/2012/10/karakteristiksekolah-efektif.html)

INDIKATOR KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH EFEKTIF


Menurut Mulyasa (2011: 19) Kepala sekolah yang efektif sedikitnya harus
mengetahui, menyadari dan memahami tiga hal: (1) mengapa pendidikan yang berkualitas
diperlukan di sekolah; (2) apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu dan
produktivitas sekolah; dan (3) bagaimana mengelola sekolah secara efektif untuk mencapai
prestasi yang tinggi.
Indikator-indikator kepemimpinan kepala sekolah yang efektif sebagai berikut.
1. Menekankan kepada guru dan seluruh warga sekolah untuk memenuhi norma-norma
pembelajaran dengan disiplin yang tinggi
2. Membimbing dan mengarahkan guru dalam memecahkan masalah-masalah kerjanya, dan
bersedia memberikan bantuan secara proporsional dan profesional
3. Memberikan dukungan kepada para guru untuk menegakkan disiplin peserta didik
4. Menunjukkan sikap dan prilaku teladan yang dapat menjadi panutan atau model bagi guru,
peserta didik, dan seluruh warga sekolah
5. Membangun kelompok kerja aktif, kreatif, dan produktif
6. Memberikan ruang pemberdayaan sekolah kepada seluruh warga sekolah
(Sumber: http://widyaningrachmawati.blogspot.co.id/2016/03/indikatorkepemimpinan-kepala-sekolah.html)

DATA PENELITIAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Mewujudkan Budaya Sekolah Efektif melalui Model


Visionary Leadership Oleh Kepala Sekolah Wanita di
Lingkungan Dinas Pedidikan Kota Bandung
Kode

: 1512/P

Jenis Penelitian

: Studi Kajian Wanita

Metode Penelitian

: SURVEY

Tahun Penelitian

: 2007

Sumber Dana

: DIKTI

Fakultas

: FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

Peneliti

- Dra.Hj. SUKARTI NASIHIN M.Pd.


- Dra. TATY ROSMIATI M.Pd.
- Dra. YATI SITI MULYATI M.Pd.

Abstrak

Rendahnya
kualitas
manajerial
organisasi
pendidikan lebih banyak disebabkan karena kurangnya
keahlian manajemen pendidikan yang merefleksikan pada
kepemimpinan pendidikan dari tingkat konsep maupun
praktis. Sedangkan komponen kehidupan di luar
organisasi pendidikan telah berkembanga dan menuntut
sikap responsive, akomodatif dan apresiatif menjawab
tantangan zaman.

Penelitian ini dilandasi oleh permasalahanpermasalahan sebagai berikut: (1) belum ada jaminan
adanya Visionary
Leadership untuk
menangani
perubahan yang terjadi di dunia pendidikan artinya
bahwa dalam kondisi yang seperti sekarang dimana dunia
semakin mengglobal, situasi tidak menentu, terjadi
perubahan yang radikal dan otonomi yang trjadi,
menginginkan kepemimpinan yang berorientasi masa
depan (visioner), (2) Belum terjamin bahwa dengan
adanya kepemimpinan dapat menghasilkan budaya yang
positif
apalagi
kalau
tidak
dilaksanakan Visionry
Leadership, (3) Belum adanya kriteria Budaya Sekolah
Efektif, dan (4) Sekolah efektif masih dinilai dari keluaran
yang dihasilkan itupun ditinjau dari sudut hasil ujian akhir
(UAN). Penelitian yang dilakukan berangkat dari
permasalahan dalam lingkup peristiwa-peristiwa yang

diamati dalam konteks kegiatan kepala sekolah


menjalankan kepemimpinannya di sekolah, budaya
sekolah yang dibangun dalam mewujudkan sekolah yang
efektif. Metode yang digunakan analisis kuantitatif yang
didukung oleh deskriprif kualitatif. Lokasi penelitian yang
digunakan adalah SMPN di lingkungan Dinas Pendidikan
Kota Bandung, dengan subjek penelitiannya adalah
kepala sekolah. Dalam rangka kepentingan pengumpulan
data, teknik yang digunakan adalah sebagai berikut :
Angket tertutup, Wawancara, dan Studi Dokumentasi.
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan
permasalahan yang ingin dipecahkan, maka data yang
terkumpul diolah dengan menggunakan rumus-rumus
statistik sederhana.

Kesimpulan dari penelitian tentang kepala sekolah


perempuan ini adalah: (1) Temuan Umum; a) Golden
age kepala sekolah perempuan berada pada rentang usia
41 sampai dengan 50 tahun, b) Pengembangan diri dalam
kesetaraan
pendidikan
sudah
memadai
dengan
pencapaian kelulusan strata 2 dengan jurusan yang
relevan, c) Pengalaman dalam pekerjaan sebagai guru
memberikan bekal dalam menjalankan tugasnya sebagai
pemimpin, d) Karakteristik individu yang rata-rata tegas
dengan rasa humoris sebagai seorang ibu dalam rumah
tangga, e) berbagai penghargaan diperoleh dari berbagai
program kegiatan sekolah. (2) Kepemimpinan Visioner
Seorang Perempuan, angka temuan menunjukan
sebesar 54,2% dari angka ideal 100% seorang
perempuan memerankan diri sebagai seorang pemimpin
yang memiliki karakteristik visioner, (3) Pembangunan
Budaya Sekolah, angka temuan menunjukan 66,3%
dalam pembangunan budaya sekolah, (4) Sekolah
efektif, dengan dukungan dua kemampuan dalam
kepemimpinan dan pengembangan budaya sekolah,
maka dimungkinkan kearah sekolah efektif dapat
dicapai. Angka 54,6% menunjukan bahwa batas tengah
dapat dicapai artinya bahwa seorang perempuan dapat
mengembangkan sekolah efektif.

Kata kunci

: Kota Bandung

Download File

Mewujudkan-Budaya-Sekolah-Efektif-melalui-Model-Visionary-LeadershipOleh-Kepala-Sekolah-Wanita-di-Lingkungan-Dinas-Pedidikan-Kota-Bandung
.doc

(Sumber: http://penelitian.lppm.upi.edu/detil/181/mewujudkan-budaya-sekolahefektif-melalui-model-visionary-leadership-oleh-kepala-sekolah-wanita-dilingkungan-dinas-pedidikan-kota-bandung)

meningkatkan efektivitas sekolah


BAB I
PENDAHULUAN

Mutu pendidikan di Indonesia sudah memprihatinkan, hal itu ditandai dengan


kurangnya prestasi akademik, kurangnya kreativitas, serta kemandirian siswa.
Selain

itu,

relevansi

pendidikan

dengan

kebutuhan

masyarakat

semakin

dipertanyakan dan menyebabkan masyarakat pesimis terhadap sekolah.


Dengan

adanya

perubahan

sistem

pemerintahan

dari

sentralisasi

ke

desentralisasi atau otonomi daerah dan dalam usaha peningkatan mutu


pendidikan

dan

penyesuaian

relevansi

pendidikan

dengan

kebutuhan

masyarakat, pemerintah menerapkan sistem pengelolaan sekolah yang baru


yang dinamakan managemen berbasis sekolah (MBS).
MBS dipandang dapat menjadi solusi untuk masalah pendidikan di atas.
Dalam MBS sekolah diberi kewenangan untuk mengelola sekolahannya sendiri,
sehingga tiap sekolah dituntut untuk dapat membuat program-programnya
sendiri untuk mengatasi masalah yang ada pada sekolah tersebut. Di dalam MBS
juga menerapkan prinsip PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan
menyenangkan) sehingga siswa diharap dapat lebih kreatif dan mandiri dalam
kegiatan

pembelajaran

mereka. Peran

serta

sehingga

dapat

masyarakat

meningkatkan

dalam

prestasi

perencanaan,

akademik

pelaksanaan,

pengawasan, dan evaluasi program pendidikan juga sangat diperlukan .


Karena definisi

efektivitas

sekolah

menjadi

sesuatu

yang

sangat

berbeda tergantung cara pandang mereka. Diharapkan dengan peran serta


masyarakat

dapat

meningkatkanefektifitas sekolah

dengan

kebutuhan

masyarakat, selain itu, masyarakat dapat membantu pelaksanaan program yang


mereka rencanakan sendiri, kemudian melakukan pengawasan dan evaluasi
sendiri.
Pemahaman efektivitas sekolah merupakan sesuatu yang sangat sulit tanpa
menjalankan fungsi sekolah. Berbagai sekolah mungkin saja memiliki tampilan
yang berbeda dan efektifitas bagi fungsi dan tujuan yang berbeda. Contoh,
beberapa sekolah mungkin baik dalam membantu peserta didik, pengembangan
pribadi, sedangkan beberapa sekolah lainnya menjadi sesuatu yang luar biasa
dalam hal teknis kompetensi produksi untuk kebutuhan komunitas.
Berdasarkan sebuah perpektif input output, efektivitas sekolah sering
diasumsikan sebagai sebuah gabungan atau perbandingan antar rasio ( jika

dalam akal kuantitatif ) yaitu apa yang telah dimasukan ke dalam sekolah dan
yang dapat diproduksi oleh sekolah.

BAB II
MENINGKATKAN EFEKTIFITAS SEKOLAH

A.

Pengertian Efektivitas
Pengertian efektivitas secara umum menurut Hidayat (1986) yang menjelaskan
bahwa : Efektifitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target
(kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang
dicapai,
makin
tinggi
efektifitasnya.
Sedangkan
pengertian
efektivitas
sekolah menurut Taylor adalah sekolah yang sumber dayanya diorganisasikan
dan dimanfaatkan untuk menjamin semua siswa, tanpa memandang ras, jenis
kelamin, maupun status sosial-ekonomi. Sehingga dapat mempelajari materi
kurikulum

yang

esensial

di

sekolah.

Sekolah

harus

mengengoptimalan

pencapaian tujuan pendidikan sebagaimana termuat di kurikulum. Kurikulum

terdapat pada Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003


tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Efektivitas sekolah sering dihubungkan dengan school efficiency ( efisiensi


sekolah). Efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi
besarnya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan.
Secara konseptualisasi efektivitas sekolah mempunyai 6 (enam) elemen
diantaranya yaitu:
1.

What criteria ( apa criteria)

2.

Effective for whom ( efektivitas untuk siapa)

3.

Who to define ( definisi untuk siapa)

4.

How to evaluate ( bagaimana mengevaluasinya)

5.

When to evaluate (kapan dievaluasi)

6.

Under what environmental constraints (di bawah kendala lingkungan apa)


Dari ke enam elemen tersebut mempunyai permasalahan yang sering
muncul karena ada beberapa hal tampak tidak sesuai dengan standar elemen
yang diterima oleh semua sudut konstitusi evaluasi.
Sebuah sekolah merupakan suatu organisasi yang berada di dalam konteks
social yang berubah dan kompleks. Semua itu dibatasi oleh sumber daya yang
terbatas

serta

pendidikan,

melibatkan

administrasi

konstitusi

sekolah,

yang

para

beragam

guru,

diantaranya

peserta

didik,

otoritas

orang

tua,

pembayaran pajak, pendidikan, dan public. (Cheng, 1993).


B.

Fungsi Untuk Mencapai Efektivitas Sekolah.


Efektivitas

Sekolah

menunjukkan

pada

kemampuan

sekolah

dalam

menjalankan fungsinya secara maksimal. Fungsi untuk mencapai efektivitas


sekolah di bagi menjadi 5 (lima) antara lain:
1.

Fungsi ekonomis adalah memberikan bekal kepada siswa agar dapat melakukan
aktivitas ekonomi, sehingga dapat hidup sejahtera. Di dalam fungsi ekonomi
terdapat beberapa level di antaranya yaitu:

a.

Level individu. Sekolah membantu pesreta didik untuk memperoleh kebutuhan


pengetahuan dan keterampilan untuk bertahan dan berkompetensi dalam
masyarakat moderen atau kompetisi ekonomi memberi kesempatan kerja.

b.

Level institusi. Organisasi layanan memberikan kualitas dalam melayani klien.


Seperti memberikan tempat hidup dan tempat kerja

c.

Level komunitas local dan masyarakat. Sekolah melayani ekonomi atau


kebutuhan instrumental, memasok kekuatan tenaga kerja yang berkualitas untuk
system

ekonomi,

memodifikasi

membentuk

perilaku

ekonomi

terhadap

pengembangan dan stabilitas struktur ekonomi tenaga kerja.


d.

Level internasional. Sekolah memasok kebutuhan kekuatan berkualitas tinggi


dalam kompetisi internasional, seperti kerjasama ekonomi, perlindungan bumi,
pertukaran teknologi dan informasi

2.

Fungsi sosial-kemanusiaan adalah sebagai media bagi siswa untuk beradaptasi


dengan kehidupan masyarakat. Di dalam fungsi social kemanusiaan terdapat
beberapa level di antaranya yaitu:

a.

Level individu. Membantu peserta didik untuk mengembangkan psikologi diri


secara social dan fisik dalam mengembangkan potensi diri.

b.

Level institusi. Sekolah merupakan entitas atau system strata social diri
interaksi manusia yang beraneka ragam.

c.

Level komunitas local dan sosial. Mendukung integrasi social dari aneka ragam
dan konstitusi masyarakat yang berbeda. Memfasilitasi pergerakan social dalam
struktur kelas yang ada dari latar belakang yang berbeda.

d.

Level

internasional.

Sekolah

mereproduksi

eksistensi

kelas

social

yaitu

mengabadikan perbedaan social. Hal ini dikarenakan untuk membangkitkan


kesadaran global. Dimana sekolah diharapkan untuk memainkan sebuah peran
penting dalam menyiapkan siswa untuk keharmonisan internasional
3.

Fungsi politis adalah sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan tentang


hak dan kewajiban sebagai warga Negara, serta mengacu pada kontribusi
sekolah untuk pengembangan politik pada level masyarakat yang berbeda. Di
dalam fungsi politis terdapat beberapa level di antaranya yaitu:

a.

Level individu. Sekolah membantu peserta didik untuk pengembangan tingkah


laku sipil yang positif dan kemampuan untuk HAM dan kewajiban bernegara.

b.

Level internasional. Sekolah bertindak secara sistematis mensosialisasikan


peserta didik kedalam aturan norma-norma politik, dan nilai kepercayaan.
Sekolah sering menjadi sebuah koalisasi politik para guru, orang tua, dan peserta
didik yang dapat berkontribusi bagi stabilitas struktur kekuatan pemerintah.

c.

Level komunitas dan social. Sekolah memainkan sebuah peran penting untuk
melayani kebutuhan politik dari komunitas social, legitimasi eksistensi autoritas
pemerintah, mempertahankan stabilitas struktur politik.

d.

Level internasional. Sekolah menggerakan damai anti perang, dan penghapusan


konflik antar agama dan bangsa.

4.

Fungsi budaya media untuk melakukan transmisi dan transformasi budaya untuk
pengembangan level social yang berbeda.

5.

Fungsi pendidikan sekolah sebagai wahana untk proses pendewasaan dan


pembentukan

kepribadian

siswa.

Serta

kontribusi

sekolah

dalam

mengembangkan dan pemeliharaan pendidikan pada level yang berbeda.


Fungsi-fungsi tersebut ada yang menjadi fungsi umum (notice function)
dalam arti berlaku bagi semua jenis dan/atau jenjang sekolah, dan adapula yang
lebih menonjol pada jenis-jenis sekolah tertentu (distinctive function), seperti
pada sekolah-sekolah yang memiliki ciri keagamaan, sekolah-sekolah kejuruan,
atau jenis-jenis sekolah lainnya. Oleh karena kata efektif itu sendiri mengandung
pengertian tentang derajat pencapaian tujuan yang ditetapkan, maka upaya
perumusan konstruk dan indicator efektivitas sekolah tidak dapat dilepaskan dari
konsep tentang kemampuan (kompetensi) yang hendak dikembangkan melalui
pendidikan di sekolah.
Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan, berbagai kelemahan yang
berkembang di masyarakat, dan mempertimbangkan akar budaya masyarakat
yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

C.

Perkembangan Fungsi Sekolah dalam Multilevel

Efektivitas sekolah di USA, Averch, dll mengatakan bahwa mayoritas sekolah telah
dipandang sebagai pelaksana lima fungsi penting yaitu:
1.

Sosialisasi

2.

Pemersatu dan pendisiplinan kekuatan dalam sebuah masyarakat yang


beragam asal-usul,

3.

Penyotiran, pengidentifikasian peran masyarakat sosial ekonomi masa depan

4.

Anak didik, misalnya mengembangkan pengetahuan dan pelatihan ketrampilan.

5.

Pengembangan literatur terkenal dengan minimal sedikit pekerjaan yang


berhubungan dengan ketrampilan dan dorongan seperti individual attributes as
creativity and self-reliance (atribut kemandirian kreatifitas dan kemandirian)
(1974;3)
Pada tahun 1989, presiden USA menyelenggarakan puncak pendidikan dengan
pemerintas dan mereka mulai dalam usaha yang bersejarah untuk mengubah
tekanan pendidikan nasional diantaranya yaitu:

1.

Pada tahun 2000, semua anak di amerika akan mulai belajar giat di sekolah

2.

Pada tahun 2000, tingkat lulusan SMA akan meningkatkan sedikitnya 90 persen

3.

Pada tahun 2000, semua peserta didik di Amerika yang lulus kelas empat,
delapan, dan dua belas telah mendemonstrasikan kompetensi dalam tantangan
materi pokok, termasuk bahasa inggris, matematika, sains, sejarah, dan
geografi. Setiap sekolah di Amerika semua peserta didik belajar memanfaatkan
pikiran mereka dengan baik, sehingga mereka mempersiapkan untuk tanggung
jawab warga Negara, melanjutkan pelajaran, dan menciptakan lapangan kerja
dalam ekonomi global

4.

Pada tahun 2000, peserta didik USA akan menjadi yang pertama di dunia dalam
prestasi sains dan matematika

5.

Pada tahun 2000, setiap remaja akan menjadi terpelajar dan akan berproses
pengetahuan dan kebutuhan keterampilan untuk berkompetisi dalam ekonomi
global dan penegakan HAM dan kewajiban bernegara

6.

Pada tahun 2000, setiap sekolah akan bebas dari narkoba dan kekerasan serta
akan menawarkan sebuah lingkungan belajar disiplin ekonomi yang kondusif
Dari beberapa tujuan tersebut, fungsi sekolah di Amerika adalah sebuah
lingkungan yang disiplin, membantu peserta didik untuk belajar giat, sarjana
sukses memperoleh kompetensi dalam materi akademik, khususnya matematika
dan sains, serta disiapkan untuk kewajiban bernegara, dan membuka lapangan
kerja dalam ekonomi global.

Efektivitas sekolah di Hong Kong, tujuan mendasar layanan pendidik sekolah


adalah untuk membangun potensi setiap anak sehingga peserta didik menjadi
berfikir independen dan remaja yang sadar social, dibekali dengan pengetahuan,
ketrampilan dan prilaku yang membatu mereka dalam memimpin kehidupan
individual dan bermain dalam peran positif dalam komunitas hidup (Education
dan Mandpower Branch, 1993:8). Layanan pendukung sebaiknya bertujuan untuk
mengantarkan ke hal-hal sebagai berikut:
1.

Bagi individu, apa pun kemampuan mereka,

setiap sekolah

sebaiknya

membantunya, dengan cara memberikan kebutuhan pendidikan yang spesial


untuk mengembangkan potensi mereka baik secara akademik maupun non
akademik, seperti literature, perhitungan, keterampilan belajar, praktik dan
keterampilan teknik, social, politik, dan kesadaran bernegara, perkembangan
fisik, dan perkembangan budaya.
2.

Bagi

komunitas,

kebutuhan

pendidikan

komunitas

bagi

sekolah
masyarakat

sebaiknya
yang

pengembangan social dan ekonomi Hong Kong.

bertujuan

dapat

menghadapi

berkontribusi

bagi

Selain untuk tujuan formal yang berkaitan untuk pendidikan peserta didik,
sekolah melayani fungsi implisit atau eksplisit dalam level yang berbeda di
dalam pandangan social baik sosiologi fungsionalisme atau teori konflik. Contoh
fungsionalisme mendorong pendidikan sekolah dapat memfasilitasi pergerakan
social dan perubahan social tetapi teori konflik beranggapan pendidikan sekolah
memproduksi kembali struktur kelas dan mempertahankan perbedaan dalam
level social.
Harus dipahami bahwa sekolah sebagai satu kesatuan system pendidikan
yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling bergantung satu sama lain.
Dengan demikian, pengembangan kompetensi pada diri siswa tidak dapat
diserahkan hanya pada kegiatan belajar-mengajar (KBM) di kelas, melainkan juga
pada iklim kehidupan dan budaya sekolah secara keseluruhan. Setiap sekolah
sebagai satu kesatuan diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar
kepada seluruh siswanya untuk menguasai keempat kompetensi di atas sesuai
dengan jenjang kependidikannya dan misi khusus yang diembannya.

D.

Katagori Efektivitas Sekolah.


Berdasarkan konsep fungsi sekolah dapat didefinisikan efektivitas sekolah
sebagai kemampuan sekolah memaksimalkan fungsi sekolah. Sehingga kepala
sekolah dapat menampilkan fungsi sekolah, ketika diberikan suatu input yang
tepat. Sejak adanya lima tipe fungsi sekolah, efektivitas sekolah melanjutkan
pengklasifikasian ke dalam lima tipe. Contoh efektivitas teknis/ekonomi mewakili
kapasitas sekolah untuk memaksimalkan fungsi teknis/ekonomi, sehingga di
kelompokkan ke dalam lima level.
Berdasarkan gabungan dari 5 tipe dan 5 level, terdapat 25 katagori dari
efektifitas sekolah. lihat table dibawah ini:
TINGKAT

Efektivitas

teknis /

ekonomi

Efektifitas

Efektivitas

Efektivitas

Efektivitas

Manusia

Politik

Budaya

pendidika

atau

sosial
Efektivitas sekolah di

ET tingkat individu

tingkat individual
Efektifitas

sekolah di

tingkat institusional

ET

tungkat

kelembagaan

ES

tingkat

EP

tingkat

EB

tingkat

EP

tingkat

individu

individu

individu

individu

ES tungkat

EP tungkat

EB tungkat

EP tungkat

kelembaga

kelembaga

kelembaga

kelembaga

an

an

an

an

Efektifitas

sekolah di

ET

tingkat

tingkat komunitas

komunitas

Efektifitas

ET

sekolah di

tingkat

tingkat masyarakat

masyarakat

Efektifitas

ET

sekolah di

tingkat internasional

tingkat

internasional

ES

tingkat

EP

tingkat

EB

tingkat

EP

tingkat

komunitas

komunitas

komunitas

komunitas

ES

EP

EB

EP

tingkat

tingkat

tingkat

tingkat

masyarakat

masyarakat

masyarakat

masyarakat

ES

EP

EB

EP

tingkat

tingkat

tingkat

tingkat

internasion

internasion

internasion

internasion

al

al

al

al

Asumsi dari ide efektivitas sekolah adalah sesuatu yang dapat diterima
serta

sekolah

menggunakannya

menyesuaikan
untuk

ide-ide

membedakan

untuk

organisasi

efektivitas

sekolah

sekolah
dari

dan

efisiensi

berdasarkan cara berikut ini:


1.

Efektivitas sekolah yaitu dalam istilah non moneter atau proses (nomor buku
teks, organisasi sekolah, pelatihan profesianalisme guru. Strategi mengejar,
pengaturan

pembelajaran,

dsb)

kemudian

membandingkan

output

fungsi

kedalam non moneter input (proses) dapat dikatakan efektivitas sekolah.


2.

Efisiensi sekolah yaitu input moneter. Contoh 1000 input setiap siswa, biaya
buku, gaji, biaya oportuniti, dsb). Kemudian membandingkan antara fungsi
output sekolah dan input moneter dapat dikatakan efisiensi sekolah. dengan
pertimbangan dari lima fungsi sekolah pada lima level, efisiensi sekolah dapat
dikatakan sama dengan klasifikasi kedalam 25 katagori termasuk efisiensi
teknis/ekonomi, efisiensi potilik, efisiensi manusia/social, efisiensi budaya, dan
efisiensi pendidikan di level individual, institusional level, komunitas local level
masyarkat dan level internasional.

E.

Indicator Efektivitas Sekolah


Penilaian efektivitas sekolah perlu dilakukan dengan cara mengkaji
bagaimana seluruh komponen sekolah itu berinteraksi satu sama lain secara
terpadu dalam mendukung keberhasilan pendidikan di sekolah. Oleh karena itu,
efektivitas sekolah dalam penelitian ini diidentifikasi melalui beberapa indikator
sebagai berikut:
Indikator Efektivitas Sekolah
No
1.

Indikator
Supporting input

Sub Indikator
Dukungan orang tua dan

masyarakat
Lingkungan belajar yang sehat
Dukungan yang efektif dari
system pendidikan
Kelengkapan buku dan sumber
belajar
2.

Enabling conditions

Kepemimpinan yang efektif


Tenaga guru yang kompeten,
fleksibilitas, dan otonomi
Waktu di sekolah yang lama

3.

School climate

Harapan siswa yang tinggi


Sikap guru yang efektif
Keteraturan yang disiplin
Kurikulum yang terorganisasi
System reward dan insentif bagi
siswa dan guru

4.

Teaching learning
process

Tuntutan waktu belajar yang


tinggi
Strategi mengajar yang
bervariasi
Pekerjaan rumah yang sering,
penilaian dan umpan balik yang
sering
Partisipasi (kehadiran,
penyelesaian studi, dan kelanjutan
studi.

BAB III
KESIMPULAN
Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari
Manajemen Berbasis Sekolah yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi
serta memberikan beberapa keuntungan berikut :

Kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada


peserta didik , orang tua, dan guru.

Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya local

Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil


belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru dan iklim
sekolah.
Efektivitas

sekolah di

Indonesia

seharusnya

dikembangkan

untuk

membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupannya di


masa depan, yaitu: (a) kompetensi keagamaan, meliputi pengetahuan, sikap dan
keterampilan keagamaan yang diperlukan untuk dapat menjalankan fungsi
manusia sebagai hamba Allah yang Maha Kuasa dalam kehidupan sehari-hari, (b)
kompetensi

akademik,

meliputi

pengetahuan,

sikap,

kemampuan,

dan

keterampulan yang diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu


pengetahuan

dan

tekhnologi

sesuai

dengan

jenjang

pendidikannya,

(c)

kompetensi ekonomi, meliputi pengetahuan, sikap dan keterampulan yang


diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi agar dapat hidup layak di
dalam masyarakat, dan (d) kompetensi sosial pribadi, meliputi pengetahuan,
system nilai, sikap, dan keterampilan untuk dapat hidup adaptif sebagai warga
negara dan warga maysarakat internasional yang demokratis.
Pendidikan harus mengubah paradigmanya. Norma-norma dan keyakinankeyakinan lama harus dipertanyakan. Sekolah mesti belajar untuk bisa berjalan
dengan sumber daya yang sedikit. Para profesional pendidikan harus membantu
para siswa mengembangkan keterampilan yang akan mereka butuhkan untuk
bersaing dalam perekonomian global. Sayangnya, kebanyakan sekolah masih

memandang bahwa efektifitas akan meningkat hanya jika masyarakat bersedia


memberi dana yang lebih besar. Padahal dana bukanlah hal utama dalam
perbaikan pendidikan.Efektifitas sekolah akan meningkat apabila administrator,
guru, staf dan anggota dewan sekolah mengembangkan sikap baru yang
terfokus pada kepemimpinan, kerja tim, kooperatif, dan akunbilitas.

(Sumber: http://syamsuddincoy.blogspot.co.id/2012/02/meningkatkan-efektivitassekolah.html)

MENGEMBANGKAN ORGANISASI SEKOLAH MENUJU SEKOLAH EFEKTIF DI ERA OTONOMI


DAERAH

Untuk meningkatkan daya saing sekolah dalam menghadapi globlalissi dunia, sekolah harus dikelola
secara efektif. Era otonomi memberikan peluang besar untuk meningkatkan
mutu pendidikan didaerahnya masing-masing. Mutu pendidikan di daerah tidak bisa lepas dari
pengelolaan sekolah yang efektif di masing-masing satuan pendidikan. Oleh karena itu, Pemerintah
Daerah harus memberikan keleluasaan yang besar kepada setiap sekolah agar mampu
mengembangkan sumber daya yang dimiliki.
Salah satunya dengan memberikan otonomi sekolah atau yang akrab disebut School Based
Management.Dengan otonomi yang diberikan, pengelola sekolah akan lebih leluasa mengelola
sumber daya yang dimiliki, sehingga sekolah efektif yang diharapkan oleh masyarakat dapat segera
diwujutkan.
Saat ini tuntutan masyarakat terhadap peningkatan mutu pendidikan semakin tak terbendung.
Pasalnya, keunggulan sebuah bangsa tidak lagi dipandang dari kekayaan Sumber Daya Alam (SDA),
tetapi dilihat dari keunggulan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki, yakni tenaga terampil yang
mampu mengantisipasi dan menyesuaikan diri terhadap dinamika kehidupan global atau
internasional. Ini merupakan salah satu dampak globlalisasi.
Sekolah memiliki tanggungjawab yang besar menyiapkan tenaga terampil dan terdidik yang memiliki
daya saing. Terkait dengan hal tersebut, wajar apabila manajemen organisasi sekolah yang baik akan
menciptakan proses pendidikan yang bermutu. Proses yang bermutu akan menghasilkan uot
put yang berkualitas.
Di era otonomi, peluang untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu sangat terbuka lebar. Hal itu
tergambar dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah. Pada Bab III
pembagian urusan pemerintahan, Pasal 14 ayat (1) menegaskan, bahwa bidang pemerintahan yang
wajib dilaksanakan oleh daerah kabupaten/kota antara lain pendidikan dan penyelenggaraan
pendidikan. Artinya, peran pemerintah pusat dalam bidang pendidikan semakin berkurang.
Pendekatan-pendekatan yang selama ini cenderung formalistik dan topdown menjadi terpingkirkan.
Sebaliknya bupati/walikota memiliki otorits penuh dalam menentukan kualitas pendidikan di
daerahnya masing-masing. Mutu pendidikan tergantung pada goodwill Pemkab/Pemkot dalam
merumuskan visi dan misi di wilayahnya masing-masing.
Namun secara empiris masih jamak dijumpai organisasi sekolah yang di-manage tanpa
memerhatikan efektivitas sekolah. Hal ini tampak dari berkembangnya anggapan masyarakat yang
selalu mengaitkanprestasi sekolah dengan nilai Ujian Nasional (UN). Sekolah dianggap berprestasi
manakala dalam UN seluruh siswanya lulus seratus persen. Anggapan ini sebenarnya tidak salah,
asalkan untuk mencapai itu dilakukan dengan benar dalam proses pembelajaran. Sebaliknya sekolah
dianggap tidak bermutu apabila ada sebagian siswanya tercecer dalam UN. Akibatnya, segala daya
dan upaya dikerahkan agar siswanya sukses. Prestasi akademik diagung-agungkan, sementara
moral dan aspek afektif lainnya terabaikan. Ini adalah sebuah wujud sekolah yang tidak efektif.

Pengelola sekolah yang baik adalah yang mampu membangun sekolah efektif. Keberhasilan
membangun sekolah efektif adalah sebuah prestasi membanggakan yang akan memberikan
kontribusi signifikan terhadap mutu pendidikan nasional. Kualitas pendidikan nasional tergantung
pada keberhasilan pendidikan di masing-masing daerah.
Mengembangkan organisasi
Mengembangkan dipahami sebagai sebuah usaha untuk menuju keadaan yang lebih baik dan ideal.
Sementara organisasi adalah kumpulan sekelompok orang yang bekerja sarna untuk mencapai
tujuan. Pada umumnya pengembangan organisasi bertujuan untuk mengubah cara-cara anggota
organisasi dalam melaksanakan kegiatan agar terjadi perbaikan dalam kinerjanya.
Menurut Beach (1980) pengembangan organisasi dimaksudkan untuk: (1) meningkatkan keterbukaan
komunikasi antar anggota, (2) meningkatkan derajat tanggungjawab anggota dalam merencanakan
dan mengimplementasikan kegiatan, (3) mendorong dilakukannya pengambilan keputusan oleh
anggota yang memiliki informasi dan pengetahuan tentang kegiatan yang akan dilakukan, (4)
menciptakan upaya kolaborasi ketimbang kompetisi secara destruktif, (5) menganalisis struktur
organisasi untuk memastikan apakah itu memudahkan atau malah menyulitkan pekerjaan, dan (6)
memecahkan masalah secara terbuka setiap konflik yang terjadi agar tidak semakin memburuk.
Untuk melakukan pengembangan, menurut Beach ada lima proses: (1) diagnosa, (2) pemilihan dan
desain intervensi, (3) implementasi intervensi, (4) evaluasi, dan (5) penyesuaian dan pemeliharaan
sistem.
Sekolah Efektif
Sekolah kerap diidentikkan dengan wiyata mandala, tempat belajar yang memiliki kewajiban untuk
menyelenggarakan pengalaman pembelajaran yang bermutu bagi peserta didiknya. Efektif yang
dimaksud dalarn tulisan ini adalah tepat guna dan sasaran.
Sekolah efektif dapat diartikan sebagai sekolah yang menunjukkan tingkat kinerja yang diharapkan
dalam menyelenggarakan proses belajarnya, dengan menunjukkan hasil belajar yang bermutu pada
peserta didik sesuai dengan tugas pokoknya. Pada sekolah efektif semua potensi yang dimiliki
peserta didik dijamin berkembang secara optimal.
Pengertian lain tentang sekolah efektif yakni menunjukkan pada kemampuan sekolah dalam
menjalankan fungsinya secara maksimal, baik fungsi ekonomis, sosial, politis, budaya maupun
pendidikan. Fungsi ekonomis sekolah memberi bekal kepada peserta didik agar dapat melakukan
aktivitas ekonomi yang bermuara pada kehidupan yang sejahtera. Sekolah sebagai media adaptasi
peserta didik dengan kehidupan masyarakat merupakan fungsi sosial. Sementara fungsi politisnya,
sebagai wahana untuk memperoleh pengetahuan teritang hak dan kewajiban sebagai warga negara.
Sekolah memiliki fungsi budaya apabila dijadikan media transformasi budaya. Adapun fungsi
pendidikan, sekolah merupakan wahana proses pendewasaan dan pembentukan kepribadian peserta
didik.
Menurut Peter Mortimore (1996), ciri-ciri sekolah efektif: (1) memiliki visi dan misi, (2) lingkungan
sekolah kondusif (3) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat, (4) reward bagi semua warga sekolah
yang berprestasi, (5) pendelegasian wewenang jelas, (6) ada dukungan masyarakat sekitar, (7)

program sekolah terencana dengan jelas, (8) fokus terhadap sistem yang ada, (9) peserta didik diberi
tanggung jawab, (10) pembelajaran inovatif kreatif dan menyenangkan, (11) evaluasi
berkesinambungan, (12)kurikulum sekolah terintegrasi, dan (13) melibatkan orangtua dan
masyarakat.
Selanjutnya pada sekolah efektif terdapat proses belajar yang efektif pula. Cirinya: (1) tidakpasif,
melainkan aktif, (2) tidak kasab mata, (3) tidak sederhana alias rumit, (4) perbedaan individual di
antara para peserta didik sangat berpengaruh, dan (5) kontekstual.
Otonomi
Maksud otonomi dalam tulisan ini adalah otonomi sekolah atau Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
dan Otonomi Oaerah (Otoda). Substansi MBS meliputi otonomi sekolah, fleksibilitas, dan partisipasi
untuk meningkatkan mutu sekolah. Otonomi kerap diartikan sebagai kewenangan atau kemandirian
dalam mengatur rumah tangganya sendiri. Tolak ukurnya adalah kemandirian pendanaan. Sebab, hal
ini penting agar keberlanjutan sekolah tetap terjaga.
Fleksibilitas diartikan sebagai keluwesan yang diberikan sekolah untuk mengelola, memanfaatkan,
dan memberdayakan sumber daya sekolah secara optimal untuk meningkatkan mutu sekolah
sehingga akan lebih responsif terhadap segala tantangan tanpa harus tercerabut dari regulasi yang
ada.
Peningkatan partisipasi yang dimaksud adalah penciptaan lingkungan yang terbuka dan demokratis.
Semua warga sekolah beserta segenap stakeholders ambil bagian secara langsung dalam
penyelenggaraan pendidikan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, hingga pelaporan.
Dengan demikian terbentuk sense of belongingyang tinggi.
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, memberikan keleluasaan bagi setiap daerah
kabupaten/kotamadya umuk mengatur pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan di daerahnya
masing-masing. Desetralisasi pendidikan tersebut berdampak pada berkurangnya peran pemerintah
pusat dalam hal pengawasan dan penyelenggaraan pendidikan. Pada Bab III, pembagian urusan
pemerintahan, pasal 14 ayat (1) jelas ditegaskan, bahwa bidang pemerintahan yang wajib
dilaksanakan. oleh daerah kabupaten kota antara lain pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan.
Mengacu pada undang-undang tersebut, setiap daerah diberi ororitas penuh untuk meningkatkan
mutu pendidikan di daerahnya masing-masing. Ini memang menjadi tantatgan tersendiri. Daerah yang
memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) besar dan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama,
akan leluasa meningkatkan mutu pendidikan di daerahnya. Sebaliknya, sikap pesimistis akan
dimnjukkan daerah yang memiliki PAD rendah. Karena daerah tersebut merasa kurang leluasa
menyelenggarakan pendidikan karena hanya mengandalkan Dana Alokasi Umum (DAU).
Mewujudkan Sekolah Efektif
Di era globalisasi, sekolah efektif adalah sebuah keniscayaan. Sebab, kedepan, salah satu yang
paling ditakuti banyak orang adalah apabila anaknya bodoh. Setiap orang rela dan sanggup
mengeluarkan berapa pun biaya yang diperlukan asal anaknya pintar. Hal ini cukup beralasan karena
persaingan di tingkat regional, nasional, maupun global sudah tidak bisa dihindari. Hanya anak-anak

pintar dan terampil yang mampu berkompetisi. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki skill niscaya
akan menjadi korban derasnya arus globalisasi.
Masyarakat saat ini memiliki kecenderungan memilih sekolah efektif bagi pendidikan anaknya.
Meskipun biayanya tinggi, sekolah-sekolah yang dapat memberikan ruang bagi pengembangan
potensi anak selalu menjadi pilihan. Biasanya sekolah seperti itu dipadati pendaftar pada saat
Penerimaan Siswa Baru /PSB7. Bahkan, PSB ditutup sebelum waktunya, karena pagunya sudah
terpenuhi.
Sekolah efektif, dapat dilihat dari sudut pandang mutu pendidikan, sudut pandang manajemendan
sudut pandang teoriorganisasi.
Sekolah efektif dari sudut pndang mutu pendidikan
Masyarakat kerap mengaitkan perolehan nilai UN sebagai parameter keberhasilan peserta didik
maupun satuan pendidikan. Peserta didik dikatakan berhasil apabila mereka berhasil menorehkan
angka di atas standar yang ditetapkan. Satuan pendidikan /baca sekolah7 dianggap bermutu tinggi
manakala seluruh peserta didiknya lulus UN, tidak ada satu pun yang tercecer disana.
Sudut pandang di atas tidak seluruhnya benar. Tetapi, demikianlah faktanya. Anehnya lagi,
masyarakat justru menikmati itu. Padahal, masih banyak indikator-indikator lain yang menjadi tolak
ukur mutu pendidikan. Misalnya, indikator nilai, sikap (afektif7, dan keterampilan (psikomotor7.
lndikator afektif dan atau kecerdasan emosi seperti kemampuan menahan diri, memiliki stabilitas
emosi, selalu memahami orang lain, tidak mudah putus asa, pantang menyerah, sabar, memiliki
kesadaran diri,motivasi yang berlipat, kreativitas yang dinamis, memiliki empati, toleran merupakan
karakteristik yang jauh lebih penting dimiliki peserta didik ketimbang sekedar pencapaian nilai UN itu
sendiri.
Sekolah efektif dari sudut pandang manajemen
Manajement dipahami sebagai rangkaian kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan,
pengawasan, dan pengendalian pekerjaan. Secara substansial jelas yang di-manage adalah seluruh
unsure termasuk keuangan, sistem, prosedur, dan metodenya serta informasi yang berkaitan. Prinsipprinsipnya, menurut Koontz (1972) adalah Beksibilitas, tidak mutlak, dan harus dapat dijalankan tanpa
memerhatikan perubahan dan keadaan tertentu.
Manajemen sekolah merupakan proses pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan
melalui tindakan yang rasional, dan sistematik (mencakup perencanaan, pengorganisasian,
pengerahan tindakan, dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektifdan efisien.
Tindakan-tindakan manajemen tersebut bersumber pada kebijakan dan peraturan-peraturan yang
menjadi konsen-sus bersama dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai, dan perilaku dari seluruh
yang terlibat di dalamnya dan terjadidalam satu keutuhan kompleksitas sistem.
Sekolah dikatakan memiliki manajemen yang baik apabila: (1) layanan belajar yang diberikan sesuai
dengan kebutuhan peserta didik, (2) pengelolaan dan layanan peserta didik pas dengan Standar
Pelayanan Minimal, (3) sarana dan prasarana represtatif, (4) program sekolah realistis dengan

konteks sosiologis serta kemampuan ekonomi masyarakat, (5) partisipasi masyarakat cukup tinggi,
dan (6) budaya sekolah yang memungkinkan berkembangnya potensi yang dimiliki peserta didik.
Sekolah efektif dari sudut pandang teori organisme
Dunia merupakan suatu energi yang memiliki kekuatan berubah menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. Bentuk kehidupan apa pun hanya akan mampu bertahan apabila organisme itu
mampu memberikan respon yang tepat umuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi
di sekitarnya.
Apabila teori ini diaplikasikan di sekolah, maka sekolah harus lebih dinamis dalam menjawab
perubahan-perubahan yang terjadi. Setiap satuan pendidikan selayaknya melakukan terobosanterobosan, sertainovasi agar memiliki cukup daya saing. Sekolah harus senantiasa mempertahankan
eksistensinya dan tetap berorientasi pada tujuan. Apabila ini dilakukan, tidak menutup kemungkinan
apa yang disebut sebagai self-renewing schools, atau adaptif schools, atau kerap diistilahkan
dengan learning organization dapat terwujud, yakni suatu kondisi di mana institusi sekolah sebagai
satu entitas mampu mengurai setiap problem yang dihadapi serta menunjukkan kemampuan
berinovasi.
Dari Otonomi Daerah ke Otonomi Sekolah
Otonomi sekolah lebih popular disebut Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). lni merupakan
terjemahan dari School Based Management. Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa
pendidikan di daerah akan berkualitas apabila penyelenggaraan pendidikan di sekolah juga bermutu
tinggi. Untuk meningkatkan kualitas pada level satuan pendidikan, otonomi sekolah merupakan harga
mati. Memberikan keleluasaan, keluwesan kepada sekolah untuk mengelola sumber daya yang
dimiliki menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.
Dengan otonomi, sekolah dapat leluasa dan lentur dalam hal: (1) mengelola proses belajar mengajar,
(2) mengelola kurikulum, (3) perencanaan, evaluasi, dan supervisi, (4) pengelolaan ketenagaan, (5)
pengelolaan fasilitas, (6) pengelolaan keuangan, (7) pelayanan siswa, (8) peran serta masyarakat,
dan (9) pengelolaan budaya sekolah.
Sekolah memang selayaknya diberi otonomi yang lebih luas dalam mengelola sumber daya yang
dimiliki. Alasannya:
a) sekolah mengetahui keuntungan, kerugian, serta peluang yang dimiliki, sehingga dapat dengan
tepat memutuskan apa yang terbaik bagi sekolahnya;
b) sekolah memiliki keahlian memutuskan hal terbaik bagi sekolah dan peserta didiknya;
c) untuk meningkatkan demokrasi dan stabilitas politik;
d) dapat dijadikan sarana menggali dana dari orang tua dan masyarakat. Bila mereka dilibatkan
dalam pengambilan keputusan, tentu mereka akan lebih termotivasi berkomitmen meningkatkan
partisipasi dalam hal pendanaan.;

e) peningkatkan prestasi peserta didik. Apabila seluruh warga sekolah, utamanya kepala sekolah
danguru dilibatkan dalam pengambilan kebijakan untuk sekolahnya maka iklim sekolah akan
mendukung usaha peningkatan prestasi;
f) pelaporan dapat meningkatkan perhatian sekolah pada usaha-usaha perbaikan; dan
g) untuk mencapai sekolah efektif, pilar-pilar sekolah efektif sangat dipengaruhi dan dicapai melalui
MBS.
Pemberian otonomi sekolah harus sepenuh hati. Sebab, hal ini akan mempercepat terwujudnya
sekolah efektif yang didambakan masyarakat. Sebaliknya, apabila otonomi diberikan setengah hati,
artinya masih ada intervensi-intervensi dari pihak lain, sekolah efektif hanya akan menjadi
sebuah wacana belaka. Semoga tidak.

Daftar Pustaka
Puskur.2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakrta: Balitbang Depdiknas
Soetrisno dan Brisma Renaldi. 2003. Manajemen Perkantoran Modern. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara
. 2001. Undang-undang Otonomi Daerah 1999. Bandung : Citra Umbara
. 2007. Panduan Teknis Peningkatan Kompetensi Profesi Kepala Sekolah. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan, Direktorat Tenaga Kependidikan
. 2007. Perubahan dan Pengembangan Organisasi Sekolah Menuju Sekolah
Efektif. Jakarta: Departemen Jendral Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan,
Direktorat Tenaga Kependidikan
. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar
Kepala Sekolah / Madrasah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
http://www.lomboktimurkab.go.id
http://media.diknas.go.id

(Sumber: http://guru.or.id/mengembangkan-organisasi-sekolah-menuju-sekolahefektif-di-era-otonomi-daerah.html)

KEPEMIMPINAN EFEKTIF "DALAM MEWUJUDKAN


SEKOLAH EFEKTIF"
Oleh: Dr. Lantip Diat Prasojo (FIP UNY)
Abstract
Effective leadership of school principals is the principal leadership that focuses
on the Development of instructional, organizational, staff, student services,
and the relationship and communication with the community. Principals who
understand effective leadership can communicate well, build teamwork, make
decisions, manage conflict, maintain a working ulture in schools, visionary, and
oriented to improving quality. School principals as effective eaders who can
create effective schools due to the strong support by school principals as
ffective leaders of school development activities can be driven in a planned
manner.
Key word: Effective leadership, Effective School.
PENDAHULUAN
Salah satu masalah pendidikan kita adalah masalah sumber daya manusia (SDM)
yang masih perlu peningkatan secara berkelanjutan. Kemampuan guru dalam mengajar
juga belum menunjukkan hasil yang maksimal. Kondisi ini dapat dibuktikan dengan
melihat fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam bertanya
masih rendah. Berdasarkan fakta, ketika anak sebelum masuk TK dia sangat kritis
dengan mengajukan berbagai macam pertanyaan yang mungkin sulit dijawab oleh orang
tuanya sendiri. Setelah masuk TK, kemampuan bertanya anak tersebut manjadi
berkurang dan terus menurun kemampuannya setelah dia masuk SD, SMP dan SMA. Hal
ini hanya salah satu contoh fakta yang terjadi pada sebagian besar sekolah-sekolah kita.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka dapat diketahui bahwa ada yang salah dengan
pendidikan kita (Surya dharma, 2010). Kita sering melihat dalam dunia kedokteran
terdapat istilah mal praktik yang sering diartikan sebagai suatu kesalahan dalam
penanganan medis yang berakibat fatal.
Kondisi pendidikan kita sebagaimana contoh tersebut di atas sangat mungkin terjadi
akibat adanya mal praktik dalam pendidikan. Mal praktik dalam dunia pendidikan
memberikan dampak dalam jangka panjang, karena sulit dideteksi dalam waktu singkat.
Kondisi siswa di atas menggambarkan bahwa terjadi pembelengguan inovasi dan
kreativitas siswa secara perlahan tetapi pasti sehingga siswa menjadi tidak berfikir kritis
dan kurang mampu dalam menyelesaikan masalah. Untuk bertanya saja siswa takut, lalu
bagaimana mereka mampu mengkritisi gurunya? Sepertinya kemampuan mengkritisi
tersebut menjadi suatu hal yang sulit diwujudkan, jika sistem pendidikan kita tidak
dilakukan perubahan secara menyeluruh. Perubahan tersebut sangat diperlukan untuk
menciptakan suatu sistem pendidikan yang mampu menjawab berbagai permasalahan
pendidikan yang ada. Perubahan tersebut dapat terjadi jika ada penggeraknya, yaitu
pemimpin yang efektif dalam dunia pendidikan yang dapat meningkatkan mutu
pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan berbagai permasalahan pendidikan sebagaimana tersebut di atas,
maka kita harus melakukan berbagai cara untuk mengatasinya. Penyelesaian
permasalahan tersebut memang tidak mudah, tetapi harus tetap diusahakan agar
pendidikan di negara kita ini semakin baik. Salah satunya adalah dengan
mengimplementasikan kepemimpinan yang efektif di sekolah-sekolah.
PEMBAHASAN
Sejalan dengan tuntutan masyarakat terhadap mutu pendidikan di Indonesia,
belakangan ini banyak uncul ide persekolahan modern dengan berbagai nama, seperti:
Sekolah Unggul, Sekolah Terpadu, Sekolah percontohan, dan seterusnya. Beberapa

negara maju menyebut gerakan ini dengan nama Sekolah Efektif. Ciri utama sekolah
efektif, berdasarkan berbagai riset meliputi: (a) kepemimpinan instruksional yang kuat;
(b) harapan yang tinggi terhadap prestasi siswa; (c) adanya lingkungan belajar yang
tertib dan nyaman; (d) menekankan kepada keterampilan dasar; (e) pemantauan secara
kontinyu terhadap kemajuan siswa; dan (f) terumuskan tujuan sekolah secara jelas (Davis
& Thomas, 1989: 12).
Untuk mewujudkan sekolah efektif hanya mungkin didukung oleh kepala sekolah
sebagai pemimpin pendidikan yang efektif. Fred M. Hechinger (dalam Davis & Thomas,
1989: 17) pernah menyatakan: "Saya tidak pernah melihat sekolah yang bagus dipimpin
oleh kepala sekolah yang buruk dan sekolah buruk dipimpin oleh kepala sekolah yang
buruk. Saya juga menemukan sekolah yang gagal berubah menjadi sukses, sebaliknya
sekolah yang sukses tiba-tiba menurun kualitasnya. Naik atau turunnya kualitas sekolah
sangat tergantung kepada kualitas kepala sekolahnya. Pandangan tersebut
menganjurkan kepada para kepala sekolah untuk memahami tugas pokok dan fungsinya
sebagai pemimpin pendidikan secara efektif.
Seluruh dunia termasuk negara-negara berkembang mengakui bahwa sekolah
membutuhkan pemimpin yang efektif, jika sekolah tersebut ingin memberikan
pendidikan yang terbaik bagi siswanya. Pemimpin adalah orang yang mengembangkan
tujuan, motivasi dan aksi orang lain (Bush, 2008). Effective leadership is a
transformational journey (Blanchard, 2007). Kepemimpinan efektif adalah kepemimpinan
yang mampu melakukan perubahan secara efektif dan efisien. Berdasarkan pendapat
ahli tersebut, maka dapat digambarkan bahwa peran pemimpin yang efektif di sekolah
sangat dibutuhkan agar berkembang menjadi sekolah yang efektif.
Pentingnya Studi tentang Kepemimpinan Sekolah Efektif
Masyarakat berharap bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan
selayaknya mampu memimpin dirinya sendiri dan mempunyai kelebihan dibandingkan
dengan yang lainnya. Untuk meningkatkan kualitas diri, banyak upaya yang dapat
ditempuh. Adair (1984) menawarkan ada lima hal yang dapat dilakukan, yaitu:
(1) mengenal diri sendiri dengan Strength, Weaknesess, Opportunities, Threats (SWOT),
(2) berusaha memiliki Kredibilitas, Akseptabilitas, Moralitas, dan Integritas (KAMI),
(3) mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan,
(4) menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan, dan
(5) belajar dari umpan balik.
Jadi, punya ilmu harus dipraktikkan seperti nasehat Confius, seorang filosof kuno
yang menyatakan, Inti pengetahuan ialah
mempunyai dan menggunakannya.
Secara obyektif, kehidupan sekolah akan selalu men alami perubahan sejalan
dengan dinamika pembangunan. Kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan harus
berupaya mengembangkan pengeahuan dan keterampilannya dalam mengelola
perubahan yang terjadi di sekolah. Melihat posisinya sebagai top leader, kepala sekolah
efektif akan menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan reformasi pendidikan pada
tingkat sekolah.
Dengan melakukan studi terhadap kepemimpinan sekolah efektif kita dapat
menggali informasi tentang nilai-nilai efektifitas harus dipelihara di sekolah. Sergiovanni
(1987) menjelaskan kriteria sekolah efektif ke dalam hal-hal berikut:
1. skor tes UAN meningkat,
2. kehadiran (guru, siswa, staf) meningkat,
3. meningkatnya jumlah PR,
4. meningkatnya waktu untuk penyampaian mata pelajaran,
5. adanya partisipasi masyarakat dan orang tua,

6. partisipasi siswa dalam ekstra kurikuler,


7. penghargaan bagi siswa dan guru,
8. kualitas dukungan layanan bagi siswa dengan kebutuhan khusus.
Demikianlah, kriteria efektifitas sekolah tersebut akan berkembang sesuai dengan
muatan nilai-nilai lokal sekolah, di samping mengikuti standar kinerja pada umumnya.
Konsep Dasar Kepemimpinan Efektif di Sekolah
Mengingat tugas kepemimpinan yang kompleks, pengertian kepemimpinan tidak
dapat dibatasi secara pasti, termasuk pengertian kepemimpinan efektif di sekolah.
Namun, sejumlah rujukan menjelaskan bahwa kepemimpinan efektif di sekolah dapat
berkait dengan kepemimpinan kepala sekolah di sekolah yang efektif. Atas dasar
pandangan ini, maka kepemimpinan efektif di sekolah dapat dimengerti sebagai bentuk
kepemimpinan yang menekankan kepada pencapaian prestasi akademik dan non
akademik sekolah. Dengan demikian, pemimpin pendidikan efektif selalu berkonsentrasi
untuk menggerakkan faktor-faktor potensial bagi ketercapaian tujuan sekolah. Sebagai
pemimpin pendidikan pula, kepala sekolah efektif mampu menunjukkan kemampuannya
mengembangkan potensi-potensi sekolah, guru, dan siswa untuk mencapai prestasi
maksimal. Seperangkat faktor pengaruh prestasi dapat digambarkan oleh model berikut:
GPSGeorgia will lead the nation in improving student achievement.
LeadershipLeadershipLeadershipLeadershipFactors Influencing Achievement
1. Guaranteed and Viable Curriculum
2. Challenging Goals and Effective Feedback
3. Parent and Community Involvement
4. Safe and Orderly Environment
5. Collegiality and Professionalism
6. Instructional Strategies
7. Classroom Management
8. Classroom Curriculum Design
9. Home Environment
10. Learning Intelligence/ Background Knowledge
11 MotivationSchoolTeacherStudent
GAMBAR 1. FAKTOR PENGARUH PRESTASI (SUMBER : MODEL GREEN FIELD
1987)
Merujuk kepada model tersebut, dapat digambarkan bahwa seorang kepala sekolah
efektif sebagai pemimpin pendidikan selayaknya harus mampu meningkatkan prestasi
sekolah dengan menunjukkan kemampuannya dalam mengelola sekolah, guru, dan siswa
sebagai komponen utama untuk mencapai tujuan sekolah. Pengelolan yang terkait
dengan komponen sekolah dapat meliputi:
(a) kurikulum praktis dan mantap;
(b) tujuan yang menantang dan balikan yang efektif;
(c) partisipasi orang tua dan masyarakat;
(d) lingkungan yang tertib dan nyaman; dan

(e) kolegialitas dan profesionalisme.


Sementara, pengelolan yang terkait dengan komponen guru dapat mencakup:
(a) strategi instruksional;
(b) manajemen kelas; dan
(c) desain kurikulum.
Adapun pengelolaan yang terakit dengan siswa mencakup: (a) lingkungan rumah;
(b) kecerdasan belajar; dan (c) motivasi. Ketiga komponen tersebut bersifat interrelatif,
oleh karenanya harus dikelola secara sinergis dengan mendasarkan kepada prinsipprinsip koordinasi, sinkronisasi, dan integrasi.
Berdasarkan beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
efektif kepala sekolah adalah kepemimpinan kepala sekolah yang memfokus kepada
pengembangan instruksional, organisasional, staf, layanan murid, serta hubungan dan
komunikasi dengan masyarakat. Sajian materi ini akan mendeskripsikan kepemimpinan
efektif kepala sekolah, ditinjau dari aktifitasnya dalam berkomunikasi, membangun
teamwork, mengambil keputusan, menangani konflik, dan memelihara budaya kerja di
sekolah.
Ciri-ciri Kepala Sekolah Efektif
Direktorat Jendral PMPTK ( 2007) menyebutkan bahwa kepala sekolah efektif harus
mampu mengetahui, yaitu:
(a) mengapa pendidikan yang baik diperlukan di sekolah?
(b) apa yang diperlukan untuk meningkatkan mutu sekolah? dan
(c) bagaimana mengelola sekolah untuk mencapai prestasi terbaik?
Kemampuan untuk menguasai jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan dapat dijadikan
standar kelayakan apakah seseorang dapat
menjadi kepala sekolah efektif atau tidak? Secara umum, ciri dan perilaku kepala sekolah
efektif dapat dilihat dari tiga hal pokok, yaitu:
(a) kemampuannya berpegang kepada citra atau visi lembaga dalam menjalankan tugas;
(b) menjadikan visi sekolah sebagai pedoman dalam mengelola dan memimpin sekolah;
dan
(c) memfokuskan aktifitasnya kepada pembelajaran dan kinerja guru di kelas (Greenfield,
1987; Manasse, 1985).
Adapun secara lebih detil, deskripsi tentang kualitas dan perilaku kepala sekolah
efektif dapat diambil dari pengalaman riset di sekolah-sekolah
unggul dan sukses di negara maju.
Atas dasar hasil riset tersebut, dapat dijelaskan ciri-ciri sebagai berikut.
1. Kepala sekolah efektif memiliki visi yang kuat tentang masa depan sekolahnya, dan ia
mendorong semua staf untuk mewujudkan visi tersebut.
2. Kepala sekolah efektif memiliki harapan tinggi terhadap prestasi siswa dan kinerja
staf.
3. Kepala sekolah efektif tekun mengamati para guru di kelas dan memberikan umpan
balik yang positif dan konstruktif dalam rangka memecahkan masalah dan memperbaiki
pembelajaran.
4. Kepala sekolah efektif mendorong pemanfaatan waktu secara efisien dan merancang
langkah-langkah untuk meminimalisasi kekacauan.

5. Kepala sekolah efektif mampu memanfaatkan sumber-sumber material dan personil


secara kreatif.
6. Kepala sekolah efektif memantau prestasi siswa secara individual dan kolektif dan
memanfaatkan informasi untuk mengarahkan perencanaan instruksional.
Ciri-ciri kepemimpinan efektif kepala sekolah di abad 21 adalah sebagai
berikut.
1. Kepemimpinan yg jujur, yg membela kebenaran, dan memiliki pengetahuan nilai-nilai
utama.
2. Kepemimpinan yg mau dan mampu mendengarkan suara guru, tenaga kependidikan,
siswa. Orang-tua, dll.
3. Kepemimpinan yg menciptakan surplus of vision- sebagai milik kita semua.
4. Kepemimpinan yang hanya percaya pada data yang benar.
5. Kemimpinan yang memulai kepemimpinannya dengan introspeksi dan refleksi.
6. Kepemimpinan yg memberdayakan diri kita semua & berbagi informasi, mengambil
keputusan bersama.
7. Kepemimpinan yg melibatkan pengidentifikasian, berkenaan dengan hambatanhambatan personal untuk berubah baik secara personal maupun organisasional
(Reinhartz & Beach, 2004).
Kepala sekolah yang tidak efektif biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Membatasi perannya sebagai manajer sekolah dan anggaran.
2. Menjaga dokumen, sangat disiplin.
3. Berkomunikasi dengan setiap orang sehingga memboroskan waktu dan tenaga.
4. Membiarkan guru mengajar di kelas tanpa ada pengawasan dan pembinaan.
5. Memanfaatkan waktu hanya sedikit untuk urusan kurikulum dan pembelajaran (Martin
& Millower, 1981; Willower & Kmetz, 1982).
Indikator mutu kepemimpinan efektif untuk kepala sekolah adalah sebagai
berikut.
1. Pengambilan keputusan diambil secara partisipatif.
2. Pengambilan keputusan bersifat objektif sesuai kebutuhan di lapangan.
3. Pengambilan keputusan relevan dengan kondisi siswa.
4. Terjadi keakraban antara kepala sekolah, guru, staf, dan siswa di sekolah.
5. Kepala sekolah terbuka menerima kritik dan saran.
6. Kepala sekolah terbuka terhadap pembaharuan-pembaharuan dalam sistem
pendidikan.
7. Ada kejelasan pendelegasian tugas antara kepala sekolah guru, dan staf.
8. Kepala sekolah memberi kesempatan yang sama ke semua guru dan staf untuk
mengembangkan diri.
9. Kepala sekolah memiliki visi, misi dan tujuan ke depan yang jelas (kepala sekolah
harus visioner).
Berdasarkan uraian di atas dan analisis secara obyektif, maka disimpulkan bahwa kepala
sekolah yang efektif dalam mewujudkan sekolah efektif setidaknya memiliki indikatorindikator kinerja kepala sekolah efektif di era global sebagai berikut:
1. Mewujudkan proses pembelajaran yang efektif, yang mencakup aktifitasaktifitas:
a. menciptakan situasi kelas yang kondusif;
b. menumbuhkan siswa (sikap) aktif, kreatif, kritis, dan memahami materi ajar;
c. menumbuhkan rasa percaya diri dan saling menghargai sesama;
d. memotivasi kemampuan siswa untuk menggunakan media pembelajaran; dan
e. siswa memiliki sumber belajar.
2. Menerapkan sistem evaluasi yang efektif dan melakukan perbaikan secara
berkelanjutan, dengan menyiapkan dan melaksanakan:

a. adanya jadwal evaluasi terprogram;


b. alat evaluasi yang standard;
c. analisa hasil evaluasi/belajar;
d. pelaksanaan program perbaikan, pengayaan, dan penghargaan yang berkelanjutan;
e. penerapan tutor sebaya; dan
f. penulisan kisi-kisi soal yang profesional.
3. Melakukan refleksi diri ke arah pembentukan karakter kepemimpinan
sekolah yang kuat, yang ditunjukkan dengan cara:
a. dapat memberi keteladanan,
b. komitmen terhadap tugas,
c. kebersamaan/kekompakan dalam melaksanakan tugas, dan
d. implementasi Imtaq/amaliah.
4. Melaksanakan pengembangan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi,
melalui:
a. pemberian penghargaan dan sanksi yang tepat,
b. pemberian tugas yang adil dan merata sesuai dengan kemampuan,
c. memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk mengembangkan kreativitas.
5. Menumbuhkan sikap responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan melalui:
a. senantiasa mengikuti perkembangan IPTEK dalam PBM (Sarana dan Metode),
b. membiasakan warga sekolah berkomunikasi dalam bahasa Inggris (Bahasa Asing),
c. membudayakan sikap selalu ingin maju,
d. memperluas kerja sama dengan pihak luar dalam rangka otonomi sekolah, dan
e. mengadopsi masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu di segala bidang.
6. Menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan tertib, dengan cara:
a. melaksanakan tata tertib yang tegas dan konsekuen;
b. kerjasama yang baik antara sekolah, masyarakat sekitar dan aparat keamanan;
c. menjadikan sekolah yang bebas dari Rokok dan Narkoba;
d. menciptakan rasa kekeluargaan yang tinggi di antara warga; sekolah; dan
e. Menciptakan nuansa sekolah yang aman, tenteram dan damai.
7. Menumbuhkan budaya mutu di lingkungan sekolah, dengan cara:
a. Memberikan reward kepada guru, siswa yang berprestasi
b. Memberdayakan MGMP tingkat sekolah/Hari MGMP/Sabtu
c. Mewajibkan warga sekolah untuk memberdayakan perpustakaan/sumber belajar
lainnya
d. Peningkatan kualitas kehidupan beragama
e. Memiliki target mutu yang tinggi dan slogan /motto
f. Menanamkan rasa memiliki pada warga sekolah
8. Menumbuhkan harapan prestasi tinggi, dengan:
a. Mengadakan lomba cepat dalam kegiatan class meeting
b. Membuat jadwal rutin Olah Raga prestasi
c. Mendorong siswa untuk mengikuti perlombaan-perlombaan
d. Memiliki komitmen dan motivasi yang kuat
e. Guru hams memiliki komitmen dan harapan tinggi terhadap siswa
f. Semua harus memiliki motivasi tinggi untuk berprestasi
9. Menumbuhkan kemauan untuk berubah, dengan:
a. Mengikutsertakan guru untuk menambah wawasan
b. Pemberian motivasi kerja yang tepat
c. Memberikan kesempatan untuk pengembangan/ peningkatan jenjang karir
d. Melakukan pembinaan

10. Melaksanakan Keterbukaan/Transparan Managemen Sekolah, dengan cara:


a. Membuat Program kerja, yang melibatkan semua warga sekolah
b. Sosialisasi Program kerja
c. Melaksanakan Program
d. Mengadakan Pembinaan secara kontinue
e. Membuat Laporan hasil pelaksanaan secara periodik
f. Mengadakan rapat Evaluasi secara periodik
11. Menetapkan secara jelas mewujudkan Visi dan Misi, dengan:
a. Memberdayakan seluruh komponen sekolah dalam menyusun Visi sekolah
b. Melibatkan semua komponen sekolah dalam menjabarkan Visi ke dalam indikator yang
jelas
c. Menyusun Misi Realistis yang terdiri dari jangka pendek, menengah dan Panjang untuk
mencapai Visi, dengan melibatkan semua komponen sekolah
12. Melaksanakan pengelolaan tenaga kependidikan secara efektif, dengan:
a. Memberdayakan disiplin guru dan karyawan
b. Membudayakan pelayanan prima
c. Meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan melalui pelatihan-pelatihan atau
lainnya
d. Meningkatkan kesejahteraan guru dan karyawan
e. Menciptakan iklim kerja yang kondusif dan kompetitif yang sehat dengan memberikan
penghargaan dan sanksi
13. Melaksanakan pengelolaan sumber belajar secara efektif, dengan:
a. Menginfentarisir semua sumber-sumber belajar, di dalam dan di luar sekolah
b. Menentukan sumber belajar yang efektif sesuai kemampuan sekolah
c. Pengadaan sumber-sumber belajar sesuai kemampuan
d. Sosialisasi pemanfaatan semua sumber belajar
e. Merencanakan pemanfaatan sumber belajar
14. Melaksanakan pengelolaan kegiatan kesiswaan/ Ekstrakurikuler secara
efektif, dengan:
a. Menginfentarisir sarana prasarana ekstrakurikuler
b. Menginfentarisir minat dan bakat siswa
c. Mencari peluang kerjasama dengan pihak lain
d. Mencari peluang pengadaan dana dari donatur
e. Menentukan jenis-jenis ekstrakurikuler
15. Mengembangkan kepemimpinan instruksional, dengan cara:
a. Mendorong murid untuk bekerja keras mencapai standar prestasi nasional.
b. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program instruksional untuk memastikan
bahwa kurikulum dan pembelajaran efektif telah diterapkan, didukung dengan
penggunaan strategi penilaian secara tepat.
c. Mengajak semua pihak terkait di sekolah melaksanakan pengambilan keputusan yang
didasarkan kepada visi, misi, dan prioritas program.
d. Memantapkan dan mempertahankan harapan berprestasi yang tinggi kepada murid
secara rutin dengan melakukan best practices dalam kepemimpinan, pembelajaran, dan
perbaikan instruksional.
e. Bekerjasama dengan para guru dan staf dalam mengidentifikasi sumber-sumber dan
materi sesuai dengan kemampuan anggaran.
f. Bekerjasama dengan guru dan staf dalam memperbaiki dan menetapkan kalender
akademik
(PMPTK, 2007).
Standar Kepemimpinan Efektif

Meskipun pengertian kepemimpinan efektif sulit didefinisikan secara tegas, secara umum
dapat dirumuskan standar kepemimpinan kepala sekolah secara efektif. Pada dasarnya
kepemimpinan efektif dapat dilihat dari tujuh perilaku kepala sekolah untuk: (a)
menerapkan kepemimpinan sekolah efektif, (b)
melaksanakan kepemimpinan instruksional, (c) memelihara iklim belajar yang berpusat
pada siswa, (d) mengembangkan profesionalitas dan mengelola SDM, (e) melibatkan
orang tua dan menjalin kemitraan dengan masyarakat, (f) mengelola sekolah secara
efektif dan melaksanakan program harian, dan (g) melaksanakan hubungan
interpersonal secara efektif.
Kepemimpinan di sekolah dapat mencakup serangkaian kegiatan kepala sekolah dalam
memimpin institusi sekolah dengan cara membangun teamwork yang kuat, mengelola
tugas dan orang secara bertanggung jawab, dan melibatkan sejumlah pihak terkait
dalam pelaksanaan visi sekolah.
Untuk membangun tim, kepala sekolah dapat melakukannya cara-cara berikut.
a. Mendorong dan merespon masukan dari anggota tim.
b. Bekerjasama dengan staf dan murid memantapkan dan membangun tim di sekolah.
c. Membantu tim menyusun tujuan.
d. Memfokuskan tim kepada pencapaian tujuan yang spesifik dan terukur.
Koordinasi dapat dilakukannya dengan menjalin kerjasama dengan instansi terkait,
melibatkan guru, staf, orang tua, dan masyarakat secara tepat dalam pengambilan
keputusan. Adapun implementasi visi sekolah dapat dilakukan dengan cara
mengembangkan visi sekolah bersama stakeholders, mengarahkan pelaksanaan program
sesuai dengan visi sekolah, dan mengkomunikasikan dan menunjukkan visi dalam rangka
peningkatan mutu sekolah.
Instructional leadership is imperative if that leadership is to be effective (SEDL,
2005). Kepemimpinan instruksional ditunjukkan kepala sekolah dalam berusaha
mendorong kesuksesan semua murid dengan menciptakan program instruksional yang
mendorong perbaikan proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Tiga hal penting
yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah asesmen, kurikulum, dan pembelajaran.
Dalam asesmen, kepala sekolah (1) mengarahkan evaluasi belajar siswa dengan
menggunakan beragam teknik dan sumber informasi; (2) menganalisis data siswa, staf,
dan masyarakat untuk pengambilan keputusan; (3) memanfaatkan data sekolah dan
siswa untuk membuat program layanan murid dan kurikulum; dan (4) memantau
kemajuan belajar siswa, didukung dengan laporan sistematis tiap bulan.
Kepala sekolah juga menyiapkan tim untuk pengembangan kurikulum, menggunakan
hasil penelitian, keahlian guru, dan rekomendasi kalangan profesional untuk membuat
keputusan kurikuler, dan bekerjasama dengan staf untuk menyesuaikan pelaksanaannya
dengan standar nasional. Terkait dengan pembelajaran, kepala sekolah memperbaikinya
dengan memantau semua kelas dan sekolah, mendorong penggunaan metode mengajar
yang inovatif dan mendorong guru mencobakan program inovatif yang melibatkan siswa,
serta menyiapkan program untuk memenuhi kebutuhan pendidikan khusus dan
kecakapan murid yang terbatas.
KESIMPULAN
Kepemimpinan sekolah yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu melakukan
perubahan dan pengembangan sekolah secara efektif dan efisien. Kepemimpinan efektif
kepala sekolah adalah kepemimpinan kepala sekolah yang memfokuskan kepada
pengembangan instruksional, organisasional, staf, layanan murid, serta hubungan dan
komunikasi dengan masyarakat. Kepala sekolah yang memahami kepemimpinan efektif

dapat melakukan komunikasi dengan baik, membangun teamwork, mengambil


keputusan, menangani konflik, memelihara budaya kerja di sekolah, visioner, dan
berorientasi kepada peningkatan mutu.
Kepala sekolah sebagai pemimpin yang efektif yang dapat mewujudkan sekolah
efektif karena dengan adanya dukungan kepala sekolah sebagai pemimpin yang efektif
kegiatan-kegiatan pengembangan sekolah dapat digerakkan secara terencana. Indikator
kinerja kelapa sekolah yang sebagai pemimpin pendidikan yang efektif adalah 1)
mewujudkan proses pembelajaran yang efektif, 2) menerapkan sistem evaluasi yang
efektif dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan, 3) melakukan refleksi diri ke arah
pembentukan karakter kepemimpinan sekolah yang kuat, 4) melaksanakan
pengembangan staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi, 5) menumbuhkan sikap
responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan sekolah, 6) menciptakan lingkungan
sekolah yang aman dan tertib, 7) menumbuhkan budaya mutu di lingkungan sekolah, 8)
menumbuhkan harapan prestasi tinggi, 9) menumbuhkan kemauan untuk berubah, 10)
melaksanakan keterbukaan/transparan pengelolaan sekolah, 11) menetapkan secara
jelas Visi dan Misi Sekolah, 12) melaksanakan pengelolaan tenaga pendidik dan
kependidikan secara efektif, 13) melaksanakan pengelolaan sumber belajar secara
efektif, 14)
melaksanakan pengelolaan kegiatan kesiswaan/ ekstrakurikuler secara efektif, 15)
mengembangkan kepemimpinan instruksional.
DAFTAR PUSTAKA
Adair, John. (1984). Menjadi Pemimpin Efektif. Jakarta: PT. Pustaka Binaman Pressindo.
Bush, T. (2008). Leardership and management development in education. London: ECIY
ISP.
Blanchard, H. (2007). Effective leadership. Massachusetts: Ally and Bacon.
Chung, K.H. & Megginson, L.C. (1981). Organizational Behavior Developing Managerial
Skills. New York:
Harper & Row, Publishers.
Davis, Gary A. & Thomas, Margaret A. (1989). Effective Schools and Effective Teachers.
Massachusetts: Ally
and Bacon.
Greenfield, W. D. (1987). Instructional Leadership: Cocepts, Issues, and Controversies.
Allyn & Bacon.
Hunsaker, P.L. (2001). Training in management skills. Upper Sadle River, New Jersey:
Printice Hall.
Jones, G.R. (1995). Organization Theory Text and Cases. Massachusetts: Addison-Wesley
Publishing
Company.
Kouzes, J.M. & Posner, B.Z. (1995). The Leadership Challenge. San Francisco: Jossey-Bass
Publishing.
Lunenburg, F.C. & Ornstein, A.C. (2000). Educational Administration Concepts and
Practices, 3rd Edition.
Belmont, C.A.: Wadsworth Thomson Learning.

Manasse, A. L. (1985). Improving Conditions for Principal Effectiveness: Policy


Implications of Research.
Elementary School Journal, 85 (3) 439-463.
Manning, G., & Curtis, K. (2003). The art of leadership. New York: McGraw-Hill Irwin.
Martin, W. J., & Millower, D. J. (1981). The Managerial Behavior of High School Principals.
Educational
Administration Quarterly, 17, 69-90.
Mintzberg, H., Raisinghani, D. & Theoret, A. (1976). The Structure of Unstructureed
Decision Process.
Administrative Science Quarterly, 21, pp. 246-275.
Newstrom, J.W. & Davis, K. (1997). Organizational Behavior Human Behavior at Work.
10th Edition. New
York: The McGraw-Hill Companies, Inc.
PMPTK Depdiknas. (2007). Panduan TOT kepala sekolah dan pengawas sekolah. Jakarta:
Dirjen PMPTK
Depdiknas.
SEDL. (2005). What is instructional leadership and why so is important. Download
tanggal 20 maret 2010
dari: http://www.sedl.org/pubs/reading100/RF-NB-2005-Spring.pdf
Sergiovanni, T. J. (1987). The Principalship: A Reflective Practice Perspective. Boston:
Allyn & Bacon.
Simon, H.A. (1997). Administrative Behavior: A Study of Decision-Making Processes in
Administrative
Organizations. 4th Edition. New York: Free Press.
Verma, V.K. (1996). The Human Aspects of Project Management Human Resource Skills
for the Project
Manager. Volume Two. Upper Darby: Project Management Institute.
Willower, D. J., & Kmetz, J. T. (1982). The Managerial Behavior of Elementary School
Principals. Paper
presented at the annual meeting of the American Educational Research Association, New
York.

(Sumber: http://mkkstarakan.blogspot.co.id/2011/04/kepemimpinan-efektifdalam-mewujudkan.html)

BUDAYA ORGANISASI SEKOLAH YANG EFEKTIF

Dalam menyikapi beratnya tantangan bangsa Indonesia kedepan dan persaingan dengan
bangsa lainya, pendidikan menempati posisi yang strategis untuk mendapatkan perhatian yang
sangat serius, dimana dalam pendidikan terdapat proses untuk mengintegrasikan individu yang
sedang mengalami pertumbuhan kedalam kreatifitas masyarakat yang akan membawa
perubahan bangsa. Sebagaimana dalam UU Sisdiknas no 20 Tahun 2003 memberi pengertian
bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. [1] Dalam
kegiatan pendidikan terjadi pembinaan terhadap perkembangan potensi peserta didik untuk
memenuhi kelangsungan hidupnya secara pribadi dan kesejahteraan kolektif dimasyarakat.
Sebagai usaha sadar, pendidikan diarahkan untuk menyiapkan peserta didik melalui bimbingan
pembelajaran dan latihan dalam rangka mengiri peranan tertentu didalam masyarakat pada
masa yang akan datang.
Sekolah sebagai suatu organisasi, dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia memiliki
peranan strategis untuk menyelenggarakan pendidikan, dalam konteks manajemen sekolah
semua kegiatan sekolah harus dikelola dengan memanfaatkan semua sumber daya yang ada

untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan
berarti pembelajaran yang bermuara pada pembelajaran yang menghasilkan output yang
berprestasi atau bermutu tinggi.
Menurut Tita Lestari, sekolah efektif atau sekolah yang unggul memiliki karakteristik sebagai
berikut: (1) Dimensi kognitif (menguasai pengetahuan dan bidang studi), (2) Dimensi
ketrampilan, antara lain; ketrampilan untuk melakukan pekerjaan, (3) pemecahan masalah,
berfikir kreatif, (4) Dimensi nilai, antara lain: sikap terhadap diri, terhadap orang lain,
terhadap lingkungan, dan kepada Maha pencipta, (5) Dimensi hubungan: hubungan yang
dibangun oleh pendidikan, terutama dunia kerja dan masyarakat. [2] Menurut Edmos, sekolah
efektif memiliki karakteristik sebagai berikut : (1) Guru memiliki kepemimpinan yang kuat dan
kepala sekolah memberikan perhatian yang tinggi terhadap perbaikan mutu pembelajaran, (2)
Guru memiliki kondisi pengharapan yang tinggi untuk mendukung pencapaian prestasi murid, (3)
Atmosfer sekolah yang tidak kaku, sejuk tanpa tekanan dan kondusif dalam seluruh proses
pembelajaran atau suatu tatanan iklim yang nyaman, (4) Sekolah memiliki pengertian yang luas
tentang fokus pembelajaran dan mengusahakan efektifitas sekolah dengan energi dan sumber
daya sekolah untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal, (5) Sekolah efektif dalam
menjamin kemajuan murid yang dimonitor secara periodik.[3]
Selain itu budaya yang ada juga sangat berpengaruh dalam pembentukan sekolah yang efektif.
Sekolah sebagai suatu bentuk organisasi punya budaya tersendiri yang membentuk corak dari
sistem yang utuh dan khas. Kekhasan budaya sekolah tidak lepas dari visi dan proses
pendidikan yang berlangsung yang menuntut keberadaan unsur- unsur atau komponenkomponen sekolah sebagai bidang garapan organisasi. Unsur- unsur tersebut saling berinteraksi
dan memiliki keterkaitan antara satu dengan yang lain, dan adakalanya suatu budaya bisa
dipakai terus, juga adakalanya harus diperbaiki dan juga adakalanya harus dibuang untuk diganti
dengan budaya baru.[4]
Dan bagaimana suatu sekolah bisa membentuk dan me- manage budaya yang ada, karena
pembentukan dan manajemen budaya sekolah yang baik akan mendukung terciptanya sekolah
efektif yang bermutu. Oleh karena itu makalah ini akan berupaya untuk membahas pembentukan
dan manajemen budaya sekolah yang efektif.
Pengertian budaya Ditinjau secara etimologis, jamak dari budaya adalah kebudayaan yang
berasal dari bahasa sansekerta yaitu Budhayah yang merupakan bentuk jamak dari budi yang

berarti akal atau segala sesuatu yang berhubungan dengan akal fikiran manusia. Demikian juga
istilah yang artinya sama yaitu keluar dari bahasa latin,colere yang berarti mengerjakan atau
mengolah. Sehingga budaya atau kultur disini dapat diartikan sebagai segala tindakan mamusia
untuk mengolah atau mengerjakan sesuatu.[5]
Dalam kamus Bahasa Indonesia meberi definisi budaya dalam pandangan, pertama: hasil
kegiatan dan penciptaan batin manusia seperti kpercayaan, kesenian dan adat istiadat, kedua:
menggunakan pendekatan aontropologi yaitu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamanya dan yang
menjadi pedoman tingkah lakunya.[6] Sebagaimana pendapat Farid dan Philip(1987), yang
menyatakan bahwa budaya sebagai norma dan perilaku yang disepakati oleh sekelompok orang
untuk bertahan hidup dan berada bersama. Sedangkan menurut Sukanto ( 1987 : 154), budaya
adalah sesuatu yang dipelajari dari pola- pola perikelakuan yang normatif yang ,mencakup pola
berfkir, merasakan dan bertindak. Secara lebih formal, Kotter dan Heskett ( Benyamin : 1997,3)
mendefinisikan budaya sebagai totalitas perilaku, kesenian,
keperayaan, kelembagaan dan semua produk lain dari karya serta pemikiran manusia yang
mendirikan suatu masyarakat atau produk yang ditransmisikan bersama.
Kebudayaan dapat tampak dalam bentuk perilaku masyarakat, hasil dari pemikiran yang dapat
direfleksikan dalam sikap dan tindakan. Ciri yang menonjol antara lain adanya nilai yang
dipersepsi, dirasakan dan dilakukan. Hal tersebut dikuatkanoleh pendapat Tasmara tentang
kandungan utama yang menjadi esensi budaya, yaitu sebagai berikut:
1.

Budaya berkaitan erat dengan persepsi terhadap nilai dan lingkunganya yang melahirkan
makna dan pandangan hidup yang akan mempengaruhi sikap dan tingkah laku.

2.

Adanya pola nilai, sikap, tingkah laku, hasil karya dan karsa, termasuk segala
instrumenya, sistem kerja dan teknologi.

3.

Budaya merupakan hasil pengalaman hidup, kebiasaan- kebiasaan serta proses seleksi
norma- norma yang ada dalam caranya berinteraksi sosial atau menempatkan dirinya ditengahtengah lingkungan tertentu.

4.

Dalam proses budaya terdapat saling mempengaruhi dan saling ketergantungan, baik
sosial maupun non sosial.[7]
Dari berbagai pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa budaya merupakan pandangan hidup
yang dapat berupa nilai- nilai, norma, kebiasaan, hasil karya, pengalaman dan tradisi yang

mengakar di suatu masyarakat dan mempengaruhi sikap serta perilaku setiap orang atau
masyarakat tersebut.
Budaya Organisasi Sekolah, Ada beberapa pengertian tentang organisasi diantaranya: menurut
Hasibun memberi pengertian bahwa organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal,
berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan
tertentu.[8] Menurut James D. Mooney, organisasi merupakan setiap bentuk perserikatan
manusia untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut Prayudi Atmosudiro, organisasi
adalah struktur tata pembagian kerja dan struktur hubungan kerja antara sekelompok orang
pemegang posisi dan bekerja sama secara tertentu untuk bersama- sama mencapai tujuan. [9]
Untuk pengertian Sekolah, menurut Nawawi (1982), sekolah tidak boleh hanya diartikan sebagai
sebuah ruangan atau gedung atau tempat anak berkumpul dan mempelajari sejumlah materi
pengetahuan, akan tetapi juga sebagai lembaga pendidikan terikat akan norma dan budaya yang
mendukungnya sebagai suaatu sistem nilai, sedangkan menurut Gorton, sekolah merupakan
suatu sistem organisasi yang didalamnya terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam
rangka mencapai tujuan sekolah.[10] Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
sekolah merupakan suatu organasasi.
Kaitanya dengan budaya, sebagaimana manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang tidak
ada satupun yang sama persis baik tingkah lakunya dan dalam berbagai hal sekalipun kembar,
begitu juga kaitanya dengan organisasi,walaupun terdapat dua organisasi pada tempat yang
sama maka organisasi tersebut tidak akan bisa menampilkan budaya yang sama persis, namun
para ahli manajemen mengungkapkan bahwa budaya organisasi dapat memepengaruhi
persepsi, pandangan dan cara kerja orang yang ada didalamnya. Budaya organisasi merupakan
suatu kekuatan yang tidak terlihat tetapi dapat mempengaruhi fikiran, perasaan dan tindakan
orang- orang yang bekerja dalam suatu organisasi.
Seperti halnya pribadi seseorang, organisasi selalu unik dan ingin tampil khas, masing- masing
organisasi punya budaya sendiri, hal ini karena dipengaruhi oleh visi, misi dan tujuan. Walaupun
organisai itu sejenis namun budayanya berbeda. Oleh karena budaya budaya organisasi juga
disebut sebagai sifat internal organisasi yang dapat membedakanya dengan organisasi lain.
Budaya organisasi ini juga dapat tampil lewat tradisi- tradisi, metode tindakanya yang secara
keseluruhan menciptakan suasana iklim.

Keunikan organisasi terjadi karena organisasi tersebut memiliki sejarah sendiri tentang
bagaimana organisasi telah mengelola hal- hal berikut:
1.

Serangkaian

cara

dalam

memecahkan berbagai

masalah

dan kegiatan

yang

diselenggarakanya.
2.

Bauran kepribadian dan gaya manajerial.

3.

Serangkaian sejarah perjuangan dan kepahlawananaya yang legendaris.

4.

Menetapkan bagaimana kita melakukan sesuatu yang berkaitan dengan seni.

5.

Pengadaan tentang bagaimana perubahan itu dilembagakan, dengan kata lain setiap
organisasi memiliki iklim, adat istiadat dan kepribadian organisasi sendiri. [11]
Aspek manusia dalam organisasi memiliki peranan penting yang membuat, mengkreasi,
menggerakkan mengontrol dan mengevaluasi struktur dalam suatu kinerja. Dalam proses
tersebut, manusia melakukan interaksi antar individu sesuai dengan peranan dan fungsinya. Hal
ini dilakukan terus dalam kurun waktu yang lama yang pada akhirnya akan membentuk suatu
pola budaya tertentu yang unik antara satu organisasi dengan organisasi lain.
Budaya organisasi memiliki dua atribut yang berbeda, pertama adalah intensitas ( batas atau
tahap- tahap ketika para anggota organisasi) unit sepakat atas norma- norma, nilai- nilai atau isi
budaya yabg sehubungan dengan organisasi atau unit tersebut. Kedua adalah integritas ( batas
atau tahap ketika unit yang ada dalam satu organisasi ikut serta memberikan budaya yang
umum). Kedua atribut tersebut cukup menjelaskan adanya budaya yang diciptakan organisasi
dalam mempengaruhi perilaku anggota dan pelaksanaan budaya organisaasi juga dipengaruhi
oleh budaya yang dibawa masing- masing pribadi dalam organisasi.
Fungsi dari budaya organisasi antara lain:

1.

Pembeda karakteristik organisasi.

2.

Menunjukkan dan mempertajam identitas.

3.

Meningkatkan komitmen bersama.

4.

Meningkatkan ketahanan sistem sosial.

5.

Menunjukkan mekanisme kontrol terhadap norma dan perilaku. [12]

Sekolah sebagai suatu organisasi, memiliki budaya sendiri yang dibentuk dan dipengaruhi oleh nilainilai, persepsi, kebiasaan, kebijakan pendidikan dan perilaku orang yang ada didalamnya.
Sebagai suatu organisasi, sekolah s kekhasan sesuai dengan cure bisnis yang dijalankan yaitu
pembelajaran. Budaya sekolah seharusnya menunjukkan kapabilitas yang sesuai dengan

tuntunan pembelajaran yaitu menumbuh kembangkan peserta didik sesuai dengan prinsipprinsip kemanusiaan. Budaya sekolah harus disadari oleh seluruh konstituen sebagai asumsi
dasar

yang

dapat

membuat

sekolah

tersebut

memiliki

citra

yang

membanggakan stakeholders. Oleh sebab itu, semua individu memiliki posisi yang sama untuk
mengangkat citra melalui performance yang merujuk pada budaya sekolah yang efektif.
Pembentukan dan Manajemen Budaya sekolah yang Efektif, Pada awal kemunculanya, budaya
organisasi mengacu pada visi pendirinya yang dipengaruhi oleh cita- cita internal dan tuntutan
eksternal yang meliputinya. Pada hakekatnya suatu budaya adalah sebuah fenomena kelompok.
Oleh sebab itu, dalam menelaah proses terbentuknya budaya organisasi tidak dapat lepas dari
proses kelompok. Selain itu, proses kemunculan budaya organisasi memakan waktu yang cukup
lama yang pada umumnya melibatkan seorang tokoh yang mengintroduksikan visi dan misi
kepda stafnya, yang kemudian dijadikan sebagai acuan anggota kelompok. Secara umum proses
kemunculan budaya organisasi pada periode early growth digambarkan sebagai berikut:
Pola Umum Proses Kemunculan Budaya

PERILAKU ORGANISASI
Mengimplementasikan pekerjaan. Orang- orang menjalankan tugas
dibimbing oleh strategi

PIMPINAN PUNCAK
Top manajer pada suatu perusahaan yang baru, mengembangkan dan
berusaha mengimplementasikan visi dan arah strategi usaha

Pembentukan dan pengelolaan budaya organisasi adalah suatu hal yang mutlak untuk
memperoleh budaya organisasi yang kental. Membentuk budaya organisasi merupakan
tanggung jawab pimpinan yang realisasinya merupakan tanggung jawab seluruh personel
sekolah. Pimpinan perlu memahami cara pembentukan dan pengelolaan budaya organisasi.
Budaya organisasi bisa terbentuk dengan tiga cara yaitu:
1.

Seleksi, sejak awal sudah ditekankan bahwa hanya pegawai yang memenuhi kriteria
organisasi yang diterima.

2.

Manajemen puncak, pimpinan menjadi pendorong kuat bagi tumbuhnya perilaku


bawahan.

3.

Sisoalisasi, penanaman norma- norma yang ditetapkan organisasi dapat dilakukan


dengan cara membicarakan dalam rapat- rapat, pertemuan atau bahkan dengan media khusus.
Hodge dan Anthony (1988), ada empat tahapan dalam pembentukan budaya organisasi yaitu:

1.

Ketergantungan/ konfrontasi otoritas.

2.

Konfrontasi keakraban, pembeda peran dan isu hubungan antar sejawat.

3.

Kreatifitas

4.

Isu pertumbuhan/ dapat bertahan.[13]


Pada tahap pertama menunjukkan adanya kekuatan peran pemimpin dalam pembentukan
budaya sehingga kelompok berupaya menentukan kriteria kepemimpinan yang sesuai dan dapat
mereka terima. Keberhasilan yang dicapai pada tahap satu mendatangkan perasaan berhasil
dan hubungan baik diantara anggota. Tahap kedua ditandai dengan adanya isu mengenai
berbagai pertentangan antara kedekatan, perbedaan peran dan hubungan antar teman sejawat.
Kemudian disusul oleh tahap ketiga yaitu kolompok mulai dihadapkan dengan perdebatan antara
melakukan berbagai inovasi dan kretifitas dengan kecenderungan terhadap kemapanan atau
kondisi tenang pada organisasi, terjadilah konflik dan peran pemimpin menentukan bagaimana
cara bernegosiasi dan meyakinkan bawahan apa mau berubah atau pada status quo. Pada
tahap selanjutnya/ keempat, kelompok akan mencapai kematangan ketika dihadapkan pada
tuntutan untuk survive dan tumbuh. Pada tahap ini, organisasi telah mapan dan enggan untuk
pindah dari keadaan dan cenderung mempertahankan status quo dan menolak perubahan.
Pada tahapan diatas, terungkap bahwa adanya peran penting pemimpin dalam membentuk
budaya. Oleh sebab itu diperlukan pemimpin yang diharapkan dapat merealisasikan budaya
positif yang mengarah pada perubahan organisasi secara signifikan. Realisasi budaya
organisasi

tergantung

pada

bagaimana

pemimpin

menanamkan

dan

dilingkungan organisasi.
Terbentuknya budaya organisasi oleh Robbins digambarkan sebagai berikut:
Pembentukan Budaya Organisasi

Manajemen
puncak

membudayakan

Budaya dalam organisasi sekolah, lebih ditekankan pada terjaganya nilai- nilai utama kehidupan
yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan pada penciptanya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan
memelihara kebiasaan produktif dalam menelaah ilmu dan melaksanakn kinerja keilmuan tanpa
mengabaikan lingkungan sosial tempat berinteraksi dan mengekspresikan kreatifitas produktif
manusia.
Puncak kepemimpinan disekolah tidak sama dengan di perusahaan yang hanya menekankan
pada untug atau rugi, walaupun demikian sekolah tetap memperhitungkan dari segi manfaat, hal
ini berimplikasi pada profit kepala sekolah yang lebih dari sebagai pemimpin yang punya amanah
untuk menciptakan buadaya yang positif yang ada relevansinya dengan produktifitas sekolah,
bukan sebagai penguasa yang hanya memaksa lewat otoritasnya.
Pembentukan organisasi dapat didasarkan pada tahap- tahap hubungan organisasi. Oleh sebab
itu perlu adanya rancangan dasar dalam pengelolaan budaya organisasi secara konsisten.
Pengelolaan ancangan dasar menurut Yayat Hidayat adalah sebagai berikut:
1.

Apabila hubungan organisasi itu berada pada internal focus maka pengelolaan kultur
didasarkan pada equity and human relation.

2.

Ketika organisasi berada pada hubungan eksternal focus maka pengelolaan budaya
harus diarahkan padacompetitive performance.

3.

Ketika hubungan organisasi berada pada tahap organization environment boundary


focus maka pengelolaan budaya mendasarkan diri pada inovasi dan felksibilitas.

4.

Pada tahap hubungan inter- unit focus, dasar pengelolaan budaya pada corperate
imtegration.[14]
Disamping itu pengelolaan kultur perlu diketahui faktor yang mempengaruhinya, seperti
pendapat Mondy dan Noe (1990: 315), yaitu: Komunikasi, motifasi, karakteristik organisasi,
proses administrasi, struktur oeganisasi dan gaya manajemen.

Sekolah yang efektif merupakan sekolah yang menunjukan standart tinggi pada prestasi
akademis dan mempunyai suatu kultur yang berorientasi pada tujuan yang ditandai dengan
adanya rumusan visi yang ditetapkan dan dipromosikan secara bersama antara administrasi
sekolah, fakultas dan para siswa. Hampir seluruh literatur sekolah efektif menjadikan kultur yang
kuat sebagai determinasinya. Budaya sekolah yang diharapkan tumbuh pada sekolah yang
efektif adalah yang mampu memberikan karakteristik utama pada perlakuan sekolah terhadap
peserta didik agar terus belajar.
Budaya sekolah dipandang sebagai eksistensi suatu sekolah yang terbentuk dari hasil saling
mempengaruhi antara tiga faktor, yaitu sikap dan kepercayan orang yang berada dilingkungan
sekolah dan diluar lingkungan sekolah, norma budaya sekolah dan hubungan antar individu yang
ada disekolah. Budaya sekolah yang efektif menggambarkan ketiga faktor tersebut berjalan
sinergi sehingga diperoleh program yang rasional dan diimplementasikan berdasarkan nilai
kemanusiaan, profesionalisme dan pemberdayaan. Pada sekolah efektif para personel
merasakan adanya kepuasan bergaul dan berhubungan satu sama lain dan mereka enggan
untuk meninggalkan sekolahnya. Bukan hanya disebabkan gaji yang memadai, tetapi lebih pada
adanya penghargaan yang profesional.
wallohu a'lam.......................

[1] UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.


[2] Tita Lestari, Pengelolaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (tk, tp, 2006), 3.
[3] Syafarrudin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan (Jakarta: Grasindo, 2002), 94.
[4] Made Pidarta, Landasan Pendidikan ( Jakarta: Rineka Cipta, 2000), 162.
[5] Aan komariah, Visionary Leadership Menuju Sekolah efektif (Jakarta: Bumi Aksara,2005), 96.
[6] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), 149.
[7] Aan Komariah, Visionary Leadership., 97.
[8] Melayu S.P Hasibun, Organisasi dan Motifasi ( Jakarta: Bumi Aksara, 2002), 25.
[9] Melayu S.P Hasibun, Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalahi ( Jakarta: Bumi Aksara,

2002), 25.
[10] Syaiful Sagala, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat ( Jakarta : Nimas Multima,

2004), 53.

[11] Aan Komariah, Visionary Leadership.,99.


[12] Aan Komariah, Visionary Leadership.,112.
[13] Aan Komariah, Visionary Leadership.,113.
[14] Aan Komariah, Visionary Leadership.,115.

Diposkan 7th April 2012 oleh MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

(Sumber: http://manajemenpendidikansilam.blogspot.co.id/2012/04/budayaorganisasi-sekolah-yang-efektif.html)

KONSEP DASAR SEKOLAH EFEKTIF


POSTED BY PAK. GUNAWAN POSTED ON 09.14 WITH NO COMMENTS

by; GUNAWAN S.Pd.I


Dalam fungsi, proses pendidikan di sekolah memiliki dua dimensi, yaitu dimensi
konsumsi pendidikan dan dimensi investasi dari pendidikan. Dimensi konsumsi
pendidikan mengacu kepada peranan sekolah dalam membina pribadi dan aspek
humanistik pada pelajar. Sementara dimensi investasi, mengacu kepada
pengharapan terhadap sekolah dalam pembinaan pelajar agar menjadi warga negara
yang baik, memperoleh pekerjaan yang terbaik serta dapat memberikan kontribusi
bagi pembangunan masyarakat dan bangsa.
Dengan demikian pendidikan di sekolah di samping mengupayakan proses
humanisasi terhadap pribadi setiap anak dan sekaligus memfungsikan dirinya
sebagai sumber daya manusia dan sebagai pelaku pembangunan. Suatu filosofi tidak
dipungkiri lagi bahwa semakin terdidik seseorang maka semakin besar
produktivitasnya yang dihasilkan di dalam pembangunan bangsanya. Namun untuk
mencapai hasil terbaik dari peranan sekolah, maka proses pendidikan di sekolah
harus dikelola secara lebih fungsional sehingga benar - benar efektif.
Tuntunan terhadap pendidikan agar mampu mengantisipasi segala perubahan tak
dapat dihindari. Pengelolaan sekolah tidak dapat dipadakan dengan sistem
konvensional yang statis. Karena itu pendidikan idealnya melahirkan pribadi yang
dapat menciptakan sistem sosial baru dengan nilai dasar dari budaya bangsa yang
modern.
Strategi dasar kebijakan pendidikan nasional dewasa ini yang diarahkan pada
peningkatan kualitas pendidikan diyakini sebagai alasan pengembangan sekolah sekolah efektif. Disamping itu timbul kesadaran baru bahwa hasil belajar siswa tidak
semata - mata dipengaruhi faktor bawaan siswa, seperti karakteristik, sosial
ekonomi, ras, latar belakang keluarga, akan tetapi dibentuk juga oleh faktor
organisasi sekolah.
Zaman industri ternyata melahirkan perubahan - perubahan besar dalam seluruh
sistem masyarakat, termasuk keluarga , bisnis dan pendidikan. Sekolah efektif
diartikan sebagai suatu sekolah yang mencapai hasil terbaik dengan sumber sumber yang dimiliki dan tersedia. Sebab kegiatan lembaga atau individu dianggap
efektif bila tujuanan dan target tercapai dengan sumber daya yang dimiliki. Dengan
kata lain istilah efektif di dalam pengelolaan sekolah efektif tertumpu kepada
percapaian hasil optimal dari sekolah. Karena itu dikembangkan sekolah unggul
untuk pengembangan potensi anak secara utuh dan optimal memerlukan strategi
alternatif yang bertujuan menghasilkan peserta didik sesuai dengan bakat, minat
dan kemampuannya.

(Sumber: http://www.blog-guru.web.id/2009/03/konsep-dasar-sekolahefektif.html)

APA TUGAS DAN FUNGSI KOMITE SEKOLAH ?


POSTED BY PAK. GUNAWAN POSTED ON 22.31 WITH 4 COMMENTS

Peran aktif dewan pendidikan, dewan sekolah, maupun komite sekolah/ madrasah
diperlukan untuk memberi dukungan ( supporting agency ) dan memenuhi
kebutuhan sekolah, pertimbangan pengambilan keputusan, pengawasan manajemen
sekolah, mediator antar pemerintah dengan masyarakat, dan lain sebagainya secara
teransparan dan demokratis serta etika yang kuat.
Bdan ini bukanlah sebagai institusi perpanjangan tangan dinas pendidikan untuk
melaksanakan keinginan dinas pendidikan. Akan tetapi badan ini merupakan suatu
institusi yang mandiri bertujuan untuk meningkatkan tanggung jawab dan peran
serta masyarakat dengan mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa
masyarakat dalam melahirkan kebijakan operasional dan program pendidikan di
satuan pendidikan.
Besarnya peran orang tua dan partisipasi masyarakat melalui badan ini dalam
mengelola implementasinya harus sesuai dengan aturan main yang berlaku dalam
proses
pembentukan komiter sekolah tersebut, dan bukan berjalan menurut selera orang
orang yang ada dalam badan tersebut. Keikutsertaan ini memang di samping
membawa dampak positif dapat juga membawa dampak negatif.
Agar tidak tumpang tindih wewenang dan bentuk partisipasi masing masing maka
perlu dibentuk/ dibuat aturan main kapan komite sekolah/ madrasah, dewan
pendidikan dan masyarakat dapat mengambil sikap untuk melakukan tindakan dan
kapan pula harus menjaga jarak.
Tugas dan fungsi utama badan in dapat memberikan masukan, pertimbangan
( advisory agency ), dan rekomendasi pada satuan pendidikan mengenai:
1.Kebijakan dan program pendidikan.
2.Rencana anggaran pendidikan dan belanja sekolah ( RAPBS )
3.Kreteria tenaga kependidikan
4.Kreteria kinerja satuan pendidikan
5.Kreteria fasilitas pendidikan
6.Hal hal yang terkait dengan pendidikan.
Konsekuensi dari tindakan advisory ini maka badan tersebut secara sesungguhnya
ikut mencari solusi dan mengatasi berbagai problemtica untuk memenuhi target
yang ditentukan.

(Sumber: http://www.blog-guru.web.id/2009/03/apa-tugas-dan-fungsi-komitesekolah.html)

TIGA POLA KOMUNIKASI DALAM PROSES BELAJAR


MENGAJAR
POSTED BY PAK. GUNAWAN POSTED ON 12.04 WITH 7 COMMENTS

TIGA POLA KOMUNIKASI DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR


Guru sebagai tenaga profesional di bidang pendidikan,disamping memahami hal-hal
yang bersifat filosofis dan konseptual,juga harus mengetahui dan melaksanakan halhal yang bersifat teknis.Hal-hal yang bersifat teknis ini,terutama kegiatan mengelola
dan melaksanakan interaksi belajar mengajar.
Dalam proses pendidikan sering kita jumpai kegagalan-kegagalan,hal ini biasanya
dikarenakan lemahnya sistem komunikasi.Untuk itu,pendidik perlu mengembangkan
pola komunikasi efektif dalam proses belajar mengajar.Komunikasi pendidikan yang
penulis maksudkan disini adalah hubungan atau interaksi antara pendidik dengan
peserta didik pada saat proses belajar mengajar berlangsung,atau dengan istilah
lain yaitu hubungan aktif antara pendidik dengan peserta didik.
Ada tiga pola komunikasi yang dapat digunakan untuk mengembangkan interaksi
dinamis antara guru dengan siswa yaitu:

1.komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah


Dalam komunikasi ini guru berperan sebagai pemberi aksi dan siswa sebagai
penerima aksi.Guru aktif dan siswa pasif.Ceramah pada dasarnya adalah komunikasi
satu arah,atau komunikasi sebagai aksi.Komunikasi jenis ini kurang banyak
menghidupkan kegiatan siswa belajar.

2.Komunukasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah.


pada komunikasi ini guru dan siswa dapat berperansama yaitu pemberi aksi dan
penerima aksi.Disini,sudah terlihat hubungan dua arah,tetapi terbats antara guru
dan pelajar secara indivudual.Antara pelajar dan pelajar tidak ada hubungan.Pelajar
tidak dapat berdiskusi dangan teman atau bertanya sesama temannya.Keduanya
dapat saling memberi dan menerima.Komunikasi ini lebih baik dari pada yang
pertama,sebab kegiatan guru dan kegiatan siswa relatif sama.

3.Komunikasi banyak arah atau komunikasi sebagai transaksi


Komunikasi ini tidak hanya melibatkan interaksi yang dinamis antara gurudenan
siswa tetapi juga melibatkan interaksi yang dinamis antara siswa yang satu dengan
yang lainnya.Proses belajar mengajar dengan pola komunikasi ini mengarah kepada
proses pengajaran yang mengembangkan kegiatan siswa yang optimal,sehingga
menumbuhkan siswa belajar aktif.Diskusi dan simulasi merupakan strategi yang

dapat mengembangkan komunikasi ini(Nana Sudjana,1989).


Dalam kegiatan mengajar,siswa memerlukan sesuatu yang memungkinkan dia
berkomunikasi secara baik dengan guru,teman,maupun dengan ligkungannya.oleh
karena itu,dalam proses belajar mengajar terdapat dua hal yang ikut menentukan
keberhasilannya yaitu pengaturan proses beljar mengajar dan pengajaran itu sendiri
yang keduanya mempunyai ketergantungan untuk menciptakan situasi komunikasi
yang baik yang memungkinkan siswa untuk belajar.

(Sumber: http://www.blog-guru.web.id/2009/03/tiga-pola-komunikasi-dalamproses.html)

CIRI-CIRI KEPALA SEKOLAH YANG EFEKTIF


Jakarta GERKINRA, Kepala

sekolah memiliki peranan yang sangat kuat dalam

mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan


yang tersedia di sekolah. Kepala sekolah dituntut mempunyai kemampuan manajemen
dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif dan prakarsa untuk
meningkatkan mutu sekolah (Mulyasa, 2005).
Manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas
pendidikan. Hal ini disebabkan karena manajemen sekolah secara langsung akan
mempengaruhi dan menentukan efektif tidaknya kurikulum, berbagai peralatan belajar,
waktu mengajar dan proses pembelajaran.
Sekolah efektif dalam perspektif manajemen, manajemen sekolah merupakan proses
pemanfaatan seluruh sumber daya sekolah yang dilakukan melalui tindakan yang
rasional dan sistematik (mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengerahan
tindakan dan pengendalian) untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien.
Darling-Hammond, L (1992) menyatakan dimensi sekolah efektif meliputi : 1) layanan
belajar bagi siswa, 2) pengelolaan dan layanan siswa, 3) sarana dan pra sarana sekolah,
4) program dan pembiayaan, 5) partisipasi masyarakat, dan 6) budaya sekolah.
Sekolah yang efektif berada dalam lapangan manajemen sekolah yang
ciri/karakteristiknya menurut Edmonds (dalam Syafaruddin, 2002) meliputi (a) Kepala
sekolah dan guru-guru memiliki komitmen dan perhatian yang tinggi terhadap
perbaikan mutu pengajaran, (b) Guru-guru memiliki harapan yang tinggi untuk
mendukung pencapaian prestasi siswa, (c) Iklim sekolah yang tidak kaku, sejuk tanpa
tekanan dan kondusif dalam seluruh proses pengajaran, (d) Sekolah mempunyai
pemahaman yang luas tentang fokus pengajaran dan mengusahakan keefektifan sekolah
dengan mendayagunakan seluruh sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan secara
maksimal, (e) Sekolah efektif dapat menjamin kemajuan siswa yang dimonitor secara
periodik.
Sejalan dengan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kepala sekolah yang
memiliki kemampuan dalam menerapkan fungsi-fungsi manajemen meliputi sebagai
berikut:
Dalam perencanaan meliputi (1) Kepala sekolah dapat menetapkan program-program
sekolah, (2) Kepala sekolah dapat merumuskan kebijakan-kebijakan sekolah, (3) Kepala
sekolah dapat menyusun program kerja sekolah, dan (4) Kepala sekolah dapat
merumuskan langkah-langkah pelaksanaan program.
Dalam pengorganisasian meliputi (1) Kepala sekolah dapat menempatkan guru sesuai
dengan potensi dan kemampuan yang dimiliki dalam KBM, (2) Kepala sekolah dapat
mengatur penggunaan sarana dan prasarana yang ada sesuai dengan kebutuhan siswa,
guru dan personel lain sehingga terjalin kerjasama yang baik, (3) Kepala sekolah dapat
memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi oleh guru dan personel
sekolah lainnya, (4) Kepala sekolah dapat mengatur kerjasama dengan pihak atau
instansi lain untuk menyukseskan program-program sekolah.
Dalam penggerakan meliputi (1) Kepala sekolah dapat memotivasi guru sehingga guru
merasa mampu dan yakin untuk melaksanakan program- program sekolah, (2) Kepala

sekolah dapat memimpin dan mengarahkan guru-guru dengan baik, (3) Kepala sekolah
dapat mendorong guru-guru untuk mengembangkan profesionalisme sesuai dengan
bidangnya, (4) Kepala sekolah dapat mendorong guru bekerja dengan tujuan untuk
pencapaian prestasi.
Dalam pengendalian meliputi (1)Kepala sekolah dapat mengevaluasi pelaksanaan
program-program sekolah seperti yang telah ditetapkan dalam tahap perencanaan, (2)
Kepala sekolah dapat mengevaluasi kinerja guru dan personel sekolah lainnya, (3) Kepala
sekolah dapat memberikan penguatan terhadap keberhasilan yang telah dicapai oleh
guru, (4) Kepala sekolah dapat memperbaiki kesalahan/kelemahan yang telah dibuat
oleh guru dan personel lainnya.
- See more at: http://gerkinra.ilmci.com/2015/12/01/ciri-ciri-kepala-sekolah-yang-efektif2808.aspx#sthash.sYB4P6wr.dpuf

Membangun Budaya Sekolah Yang Efektif


Monday, 6 May 2013
Oleh : Dunamis Foundation

"Education is the most powerful weapon which you can use to change the world." Nelson Mandela

Nyaris sepanjang dua pekan ini semua media massa ramai memberitakan tentang kisruhnya
penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) mulai dari distribusi soal yang terlambat, kertas jawaban yang
terlalu tipis sehingga mudah robek yang menyebabkan siswa merasa khawatir jawaban mereka tidak
akan terbaca oleh komputer, atau berita mengenai siswa-siswi dari sebuah sekolah tertipu setelah
saling 'gotong-royong' mengumpulkan uang untuk membeli kunci jawaban agar bisa lulus. Betapa
stress nya adik-adik kita menghadapi UN yang tidak serempak hingga hebohnya para kepala sekolah
dan guru dalam mempersiapkan dan menghadapi UN yang penuh gejolak ini.

Bukan Hanya Sekadar Mencetak Lulusan 'Ahli' Akademis


Masih banyaknya anggapan bahwa sekolah yang bagus adalah sekolah unggulan di mana di sekolah
tersebut setiap tahunnya menetaskan bibit-bibit unggul dengan nilai-nilai akademis yang
mencengangkan, akhirnya membuat kita sebagai pembimbing penerus bangsa, seolah ikut terbirit-birit
khawatir menyikapi situasi UN ini. Kita menjadi panik melihat gurat-gurat khawatir, cemas bahkan
stress di raut wajah anak kita, menjadi kalut dan khawatir jika nantinya anak kita mengerjakan UN
dalam kondisi pikiran yang kacau sehingga menyebabkan angka ketidaklulusan menjadi tinggi atau
hasil UN anak-anak kita tidak sesuai dengan keinginan.
Anggapan tersebut akhirnya membuat anak-anak ini akhirnya memusatkan hidup mereka pada
sekolah, sehingga tidak sempat menikmati masa muda mereka secara alami dan sehat. Sejatinya
sekolah bukan hanya berfokus bagaimana mencetak lulusan yang 'ahli' akademis tetapi bagaimana
sekolah mampu bertanggung jawab untuk mampu menghasilkan siswa-siswi yang berkarakter.
Pendidikan memang sungguh penting bagi masa depan dan seharusnya menjadi prioritas utama.
Namun jangan sampai hidup anak-anak kita didikte oleh keinginan mencapai indeks prestasi yang
hebat sehingga membuat mereka terobsesi akan hal ini dan lupa bahwa tujuan utama dari sekolah
adalah untuk belajar. Nilai memang penting terutama untuk mendukung mereka melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta menunjang mereka dalam bekerja kelak, tetapi
pendidikan seyogyanya lebih dari bagaimana mereka mendapatkan nilai yang tinggi.
Setiap Anak Memiliki Potensi
Untuk itu kita sebagai orangtua dan pendidik harus jeli melihat bahwa setiap anak memiliki potensi.
Kita juga perlu memberikan mereka ruang untuk belajar mengembangkan potensi tersebut bukan
hanya terfokus memperoleh nilai sehebat mungkin.
Mereka akan jauh lebih percaya diri dan terhindar dari virus 'jadi korban' dengan mentalitas
cenderung menyalahkan keadaan dan orang lain, cepat marah, mudah mengeluh dan berubah hanya

jika mereka merasa mereka perlu untuk berubah. Virus ini tentunya sangat menghambat
perkembangan anak dalam mengembangkan potensi mereka sebab kanan-kiri yang mereka lihat
adalah tembok penghalang.
Kita bisa mulai dengan mengembangkan mereka melalui karakter kepemimpinan. Dengan
mengembangkan potensi ini setidaknya mengajarkan anak kita bahwa mereka dapat menjadi
pemimpin, khususnya menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri. Dengan mengajarkan
kepemimpinan, kita menghidupkan otot-otot proaktif pada anak kita, membuat mereka mampu
bertanggung jawab atas apa yang menjadi pilihan mereka.
Anak-anak menjadi jauh lebih percaya diri karena kita membantu mereka yakin bahwa mereka
mampu memiliki sikap "aku bisa." Ketika mereka berpikir mereka bisa maka kreativitas mereka akan
bermunculan dan keinginan berinisiatif semakin terasah dan potensi-potensi lain yang sebelumnya
tidak terbayang dalam pikiran kita akan terlihat.
Jangan heran jika suatu saat mereka menerima nilai dan mereka merasa nilai tersebut tidak adil,
mereka tidak hanya bersungut-sungut di belakang kita seperti kebanyakan siswa tetapi mereka akan
berinisiatif bertemu dengan kita dan membahasnya.

Membangun Karakter dengan Budaya


Karena karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu
yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong atau penggerak, serta yang
membedakan dengan individu lain. Seseorang dapat dikatakan berkarakter ketika orang tersebut telah
berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai
kekuatan moral dalam hidupnya (M. Furqon Hidayatullah; 2010)
Selain itu membangun karakter juga bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan di sekolah yang diharapkan kelak anak didik kita akan mampu secara mandiri
meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya dalam tindakan mereka sehari-hari.
Membentuk karakter siswa memang tidak semata-mata menjadi tugas guru atau sekolah, melainkan
juga keluarga dan masyarakat. Dan guru memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan
karakter anak pada pendidikan formal di sekolah.
Membangun karakter ini tak terjadi dalam sekejap melalui nasihat, perintah, atau instruksi.
Pembentukan karakter memerlukan teladan atau role model, kesabaran, kebiasaan serta budaya
sekolah yang kondusif.
Program The Leader in Me dapat menjadi acuan kita, di mana dalam proses membentuk kebiasaan ini
akan dibangun dalam kurun waktu 3 tahun. Tahun pertama, sekolah akan melibatkan seluruh staf
pengajar dan administrasinya dalam membangun budaya kepemimpinan. Para pendidik akan
mempelajari prinsip-prinsip universal yang membuat kita menyadari potensi-potensi mereka. Dalam
fase ini para pendidik akan membuat rencana khusus untuk menerapkan prinsip-prinsip ini di sekolah
dan menjadikannya sebagai sebuah budaya pada saat kelas berlangsung.
Menjejakkan kaki pada tahun kedua, sekolah menerapkan peralatan-peralatan kepemimpinan yaitu
melalui 7 Kebiasaan selain untuk anak didik juga memberdayakan para staff atau pendidik fokus pada
tujuan untuk menjadi sekolah yang efektif yang menghasilkan dan memproduksi hasil yang langgeng
di masa depan. Masuk tahun ketiga, saatnya sekolah memaksimalkan hasil dan melakukan perbaikan

terus-menerus untuk mempertahankan budaya The Leader in Me di sekolah.


Sekolah PSKD Mandiri telah menjadi sekolah yang pertama di Indonesia dalam menerapkan konsep
ini secara terintegrasi kepada murid SD, SMP dan SMA mereka sejak 2009 dan menjadi tempat
benchmark bagi para sekolah-sekolah lain dari berbagai penjuru dunia. Mereka menilai bahwa PSKD
Mandiri berhasil menerapkan kurikulum nasional dengan kreatif serta inovatif.
The Leader in Me menjawab bagaimana kita para pendidik mampu membantu serta mengembangkan
keterampilan hidup serta karakter untuk lebih berkompeten bagi anak-anak didik kita, bagaimana
mereka nantinya akan membuat perbedaan dan muncul bukan hanya sekedar pintar di atas kertas
tetapi juga dalam pentas kehidupan mereka.

Dikutip dari DunamisNewsletter edisi Mei 2013

(Sumber: http://www.dunamis.co.id/knowledge/details/articles/258)

KEMAMPUAN PROFESIONAL KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA


PENDIDIKAN UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF (Studi Kasus pada
SD Negeri Brebes 03 Cabang Dinas P dan K Kecamatan Brebes Kabupaten
Brebes)
KHARIROH, 1103504079 (2006) KEMAMPUAN PROFESIONAL KEPALA SEKOLAH DALAM
MENGELOLA PENDIDIKAN UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF (Studi Kasus pada SD Negeri
Brebes 03 Cabang Dinas P dan K Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes). Masters thesis, Universitas
Negeri Semarang.

PDF (KEMAMPUAN PROFESIONAL KEPALA SEKOLAH DALAM MENGELOLA


PENDIDIKAN UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF (Studi Kasus pada SD
Negeri Brebes 03 Cabang Dinas P dan K Kecamatan Brebes Kabupaten
Brebes)) - Published Version
Download (1183Kb)
Abstract
Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan profesional Kepala Sekolah dalam mengelola
pendidikan untuk mewujudkan sekolah efektif. Adapun pokok masalah penelitian ini adalah
keprofesionalan Kepala Sekolah di SD Negeri Brebes 03 dalam melaksanakan manajemen dalam rangka
mewujudkan sekolah efektif. Dengan pendekatan kualitatif terhadap kasus di SD Negeri Brebes, 03
penelitian ini mencantumkan fakta-fakta empirik sebagai berikut : (1) Manajemen Kepala Sekolah dengan
keprofesionalannya menunjukkan SD Negeri Brebes 03 telah menerapkan untuk kebersamaan,
keterbukaan, kesadaran, tanggung jawab/akuntabilitas, partisipatif, visioner, kesederhanaan, (2) Proses
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang telah menerapkan sistem PAKEM ; (3) Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) yang mampu ; (4) Didukung Peran Serta Masyarakat (PSM)
dalam melaksanakan berbagai keputusan dan ; (5) Komite Sekolah sebagai organisasi yang menjadi mitra
kerja sekolah berperan aktif membantu terwujudnya sekolah efektif. Berdasarkan temuan lapangan
tersebut, penelitian ini merekomendasikan hal-hal sebagai berikut : (1) Keterbatasan Pemerintah Daerah
dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk berkunjung memberikan solusi ;(2) Belum adanya
dana khusus dari Pemerintah Daerah untuk pelaksanaan sekolah efektif ; (3) Belum adanya pemberian
penghargaan khusus dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan maupun Pemerintah Daerah untuk Kepala
Sekolah yang berhasil dalam melaksanakan manajerialnya. Saran dalam penelitian, Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan bersama Pemerintah Daerah untuk memberikan dukungan positif, baik berupa dana,
kunjungan, dan penghargaan yang mendorong bersemangatnya komponen pelaksanaan pendidikan di SD
Negeri Brebes 03. kekompakan dan komitmen serta profesional Kepala Sekolah maupun Guru serta
pelayanan yang optimal dan peran serta masyarakat perlu ditingkatkan, sehingga terwujudnya Sekolah
Dasar Efektif di SD Negeri Brebes 03 Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes.

Item Type: Thesis (Masters)


Uncontrolled Manajemen dan Profesional Kepala Sekolah
Keywords:
H Social Sciences > HD Industries. Land use. Labor > HD28
Management. Industrial Management
Subjects:
L Education > LB Theory and practice of education > LB1501
Primary Education
Fakultas: Pasca Sarjana > Manajemen Pendidikan, S2
Depositing budi santoso perpustakaan
User:
Date Deposited: 09 May 2013 22:13

Last Modified: 20 May 2013 23:29


SEKOLAH EFEKTIF
Oleh Dr. Supardi, M.Pd., Ph.D.
ISBN 9789797696061
Rilis 2013
Halaman 260
Penerbit RajaGrafindo Persada
Bahasa Indonesia
Harga Rp.49.000

Tujuan pendidikan yang hendak dicapai secara nasional maupun oleh


lembaga pendidikan sekolah masih jauh dari harapan. Hal ini terjadi
karena praktik-praktik tidak efektif dalam pengelolaan sekolah.
Pengelolaan sekolah yang tidak efektif dikarenakan berbagai macam hal,
salah satunya adalah kurang dipahaminya konsep, model, faktor penentu
dari sekolah efektif serta hasil-hasil kajian lapangan, kajian literatur
maupun kajian meta analisis tentang sekolah efektif.
Efektivitas sekolah menunjukkan adanya proses perekayasaan dan
pemberdayaan semua komponen sekolah dengan tujuan agar siswa
belajar dan mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Sekolah akan
efektif apabila kepala sekolah dapat menetapkan visi, misi, dan tujuan
sekolah, memanaj kurikulum dan pembelajaran, melakukan supervisi,
memantau kemajuan peserta didik, menciptakan iklim pembelajaran
kondusif, mengembangkan profesionalisme guru, dan kerjasama dengan
pihak luar. Sekolah akan efektif apabila guru memiliki sifat dan sikap
terpuji, profesional, memiliki etos kerja serta dapat menunjukkan
kinerjanya dengan baik. Sekolah efektif apabila siswa belajar dengan
efektif melalui efisiensi usaha belajar dan efisiensi hasil belajar.
Sekolah efektif apabila pembelajaran menunjukkan kejelasan, variasi,
berorientasi tugas, melibatkan siswa dalam pembelajaran, dan
mengantarkan siswa mencapai kesuksesan. Sekolah efektif apabila iklim
sekolah menunjukkan keakraban, kebersamaan, semangat kerja yang
tinggi, kenyamanan, kebersihan, dijunjungnya nilai sosial, moral, dan
keagamaan.
Buku ini mencoba menguraikan sekolah efektif dari sisi kepala sekolah,
guru, peserta didik, pembelajaran, dan iklim sekolah. Buku ini dapat
dijadikan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa, para praktisi
pendidikan seperti kepala sekolah, pengawas, guru maupun birokrat
pendidikan, untuk dapat dijadikan pedoman dalam menciptakan sekolah
efektif.

(Sumber: http://www.bukupedia.com/id/book/id-358-82277/pengembangan-diridan-inspirasional/sekolah-efektif-konsep-dasar-dan-praktiknya.html)