Anda di halaman 1dari 32

EVALUASI RESIKO BAHAYA BERDASARKAN

FAKTOR
LINGKUNGAN KERJA FISIK DAN K3 DENGAN
ERGONOMIC
ASSESSMENT PADA PROSES
PENGALENGAN NANAS
(STUDI KASUS : PT GREAT GIANT
PINEAPPLE, LAMPUNG)

Oleh Kelompok 2
Erdianta Sitepu
121000207
Boby Agave B
121000277
Cyntia I Sitorus
131000185
Ilvi Lian Suri
131000264
Hotmian Sara Zevo T
131000 275
Tantri I Adriati
131000394
Yossi S Purba
131000 412
Ira Risnawati
131000452

Anggy Osika
131000505
Muhammad Ridwan
131000525
Yenita Mora Nasution
131000 572
Anna Rehulina
131000608
Ramadhania
131000614
Ari Tia Vialdo
131000 657
Octavianus Sihombing
131000698

Abstrak
Cannery Department merupakan
departemen tempat dilakukannya proses
pengalengan nanas dimana memiliki jumlah
tingkat kecelakaan kerja paling tinggi.
Kecelakaan kerja yang terjadi tentunya
memiliki dampak kerugian, baik dampak
terhadap para pekerja sendiri, dampaknya
terhadap proses kerja dalam pabrik, serta
dampak terhadap produktivitas kinerja
perusahaan. Sehingga perlu adanya
evaluasi terhadap hal ini.

Pendahuluan
Saat ini, keselamatan dan kesehatan kerja sudah menjadi hal yang
mutlak diperhatikan dalam dunia industri. Faktor-faktor manusia (human
factors) memegang peranan penting dalam keselamatan dan kesehatan
kerja yang secara langsung erat kaitannya dengan pencapaian
produktivitas kerja yang baik.
Produktivitas kerja yang baik adalah dengan didukung oleh terjaganya
kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan manusia selaku pekerja.
Potensi bahaya (hazard) adalah permasalahan yang ada di perusahaan
karena merupakan sumber resiko yang potensial mengakibatkan
kerugian baik material, lingkungan, maupun manusia (Rochmoeljati,
2007).
Berdasarkan data kecelakaan yang terjadi pada Cannery Department dan
hal-hal yang terkait keselamatan dan kesehatan kerja pada proses
pengalengan, maka diperlukan suatu evaluasi yang harus dilakukan
dalam proses pengalengan nanas di pabrik. Salah satu yang dapat
dilakukan adalah dengan evaluasi ergonomi

Pada penelitian ini dilakukan


ergonomic assessment
berdasarkan faktor lingkungan
kerja fisik dan K3.
Untuk faktor lingkungan kerja
fisik digunakan kuisioner
lingkungan fisik.
Untuk faktor keselamatan dan
kesehatan kerja digunakan risk
assessment, konsumsi energi,
NASA TLX, dan nordic body map.

Metode Penelitian
Tahap ergonomic assessment ini diawali dengan tahap
pendahuluan, yaitu mengidentifikasi dan merumuskan
permasalahan dalam proses pengalengan nanas, serta
menetapkan tujuan penelitian. Studi literatur dan studi
lapangan dilakukan untuk mendapatkan gambaran
mengenai permasalahan yang ada.
Tahap kedua adalah pengumpulan data primer dan
data sekunder yang mendukung penelitian.
- Data primer yang diambil antara lain lingkungan
kerja, keluhan kerja,dan denyut jantung pekerja.
- Data sekunder yang diambil antara lain deskripsi
perusahaan, resiko bahaya kerja, dan job desciption
pekerja.

Data-data yang diperoleh kemudian diolah untuk


mendapatkan peta bahaya kerja, nilai konsumsi
energi, beban kerja mental, skor nordic body map,
dan skor lingkungan fisik. Skor yang didapatkan dari
tiap faktor diintegrasikan dengan centroid method
untuk mengetahui kategori akhir pekerja.
Selanjutnya dibuat rekomendasi perbaikan dengan
tujuan mengurangi jumlah kecelakaan kerja yang
terjadi.
Tahap analisa dilakukan untuk menguraikan hasil
yang diperoleh dari tahap sebelumnya. Hasil dari
analisa kemudian dimasukkan dalam simpulan
penelitian dan saran untuk penelitian lanjutan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tabel 3.1 Kelompok Bahaya

Bahaya

Potensi
Berbahaya

RAC

Kategori Bahaya

Bahaya fisik

kebisingan

High/serious
danger

Menganca
m

Lantai
Licin

High/serious
danger

Menganca
m

Panas

High/serious
danger

Menganca
m

Air Nanas

Medium/moder
ate
danger

Sedang

Benda
Tajam

High/serious
danger

Menganca
m

Bahaya

Potensi
Berbahaya

RAC

bahaya
kimia

gas tabung
(emisi)

Very low

Abaikan

gas buang
(emisi)

Very low

Abaikan

debu

Low/minor danger

Sedang

penggunaan
bahan kimia

Very low

Abaikan

gerakan
mekanis
mesin

High/serious
danger

Mengancam

tabrakan

Very low

Abaikan

posisi kerja
statis

Medium/moderate
danger

Sedang

kecerobohan

Medium/moderate
danger

Sedang

bahaya
mekanis

bahaya
ergonomi

Kategori Bahaya

Tabel 3.2 Kategori Beban Kerja


Kategori
Beban Kerja

Konsumsi
Oksigen L/min

Denyut
Jantung
(Denyut /min)

Energy
Expenditure
(Kkal/menit)

Sangat Ringan

< 0.5

< 60

< 2.5

Ringan

0.5 -1

60-100

2.5 - 5

Sedang

1.1-1.5

101-125

5.1 - 7.5

Berat

1.6 -2

126-150

7.5 - 10

Sangat Berat

2.1-2.5

151-175

10.1 - 12.5

Tabel 3.3 Rekap Nordic Body Map

No Lokasi Tubuh

Rata-rata

leher

2,16666667

bahu kiri

2,36666667

bahu kanan

2,56666667

lengan atas kiri

1,56666667

punggung

2,23333333

lengan atas kanan

1,63333333

pinggang

2,4

pinggul

2,03333333

pantat

1,96666667

10

siku kiri

1,36666667

11

siku kanan

1,36666667

12

lengan bawah kiri

1,46666667

13

lengan bawah kanan

1,76666667

14

pergelangan tangan
kiri

1,76666667

15

pergelangan tangan kanan

1,96666667

16

telapak tangan kiri

1,7

17

telapak tangan kanan

18

paha kiri

1,53333333

19

paha kanan

1,56666667

20

lutut kiri

1,6

21

lutut kanan

1,66666667

22

betis kiri

2,16666667

23

betis kanan

2,13333333

24

pergelangan kaki kiri

1,63333333

25

pergelangan kaki kanan

1,76666667

26

kaki kiri

1,86666667

27

kaki kanan

2,03333333

Tabel 3.4 Rekap Standardize Nordic


Questionnaire
Rekap Standardize Nordic Questionnaire
Operator

Lama Keluhan Sakit

Konsekuensi Akibat
Sakit

Waktu Kerja
Hilang

1,3

1,1

1,1

2,5

1,3

1,4

1,2

1,2

1,6

1,2

1,1

3,4

1,7

4,1

1,5

1,3

1,2

2,3

3,4

1,7

10

4,5

2,9

1,1

11

2,6

1,2

12

2,8

1,8

13

1,4

1,1

14

15

3,4

1,6

16

2,5

1,4

17

18

2,2

19

20

2,3

1,2

1,1

21

1,6

1,4

22

2,2

23

4,5

24

3,3

1,5

25

1,4

26

2,5

1,2

1,2

27

28

1,9

29

1,3

1,2

30

1,4

3.5 NASA Task Load Index


Pengolahan beban kerja mental dilakukan
untuk mengetahui pengaruh mental yang
mempengaruhi performansi pekerja ketika
melakukan pekerjaannya. Hal ini dibutuhkan
melihat kemungkinan menjadi tingkat
prioritas pekerja dalam mempengaruhi
kinerjanya. NASA TLX ini digunakan untuk
menghitung beban kerja mental. Metode ini
terdiri dari dua tahapan, yaitu perbandingan
berpasangan enam deskriptor dan pemberian
bobot.

Tabel 3.5 Rata-Rata Perhitungan Rating Scale


Kebutuhan

Total Product

Rata-rata

Kebutuhan Fisik (KF)

12105

Kebutuhan Mental
(KM)

2855

190,33333

Kebutuhan Waktu
(KW)

3235

215,66667

Performansi (P)

6585

439

Usaha (U)

9225

615

Tingkat Stres (TS)

4395

293

807

3.6 Lingkungan Kerja Fisik

Lingkungan fisik kerja merupakan faktor


yang perlu diperhatikan dalam kaitannya
mengamati resiko bahaya yang
menimbulkan kecelakaan kerja. Untuk
mengetahui apakah lingkungan fisik
kerja menimbulkan gangguan terhadap
pekerja dalam bekerja maka dilakukan
penyebaran kuisioner mengenai faktorfaktor lingkungan apa saja yang
mempengaruhi lingkungan kerja

Skoring Ergonomic Assessment


Pada sub bab sebelumnya telah dilakukan pengolahan
data terhadap faktor yang ditentukan dalam ergonomic
assessment. Metode yang digunakan antara lain konsumsi
energi untuk beban fisik kerja, NASA TLX untuk beban
kerja mental, nordic body map questionnaire dan
standardize nordic questionnaire untuk keluhan kerja, dan
lingkungan fisik kerja. Dari pengolahan data tersebut
didapatkan skor masing-masing faktor kemudian
dibandingkan tiap pekerja untuk mengetahui apakah
pekerja mampu melakukan perkerjaan yang diberikan.
Skoring ergonomic assessment ini dilakukan dengan tahap
pembobotan skor, kemudian pengkategorian skor, dan
terakhir Skoring Ergonomic Assessment

Skoring Ergonomic Assessment


Operator

NORMALISASI

Nilai
Centroid

Kategori
Pekerja

Nordi
c Body
Map

Konsumsi
Energi

Lingkungan
Fisik kerja

0,1

0,3

0,4

0,22

Mampu

0,5

0,3

0,2

0,36475

Mampu

0,1

0,3

0,3

0,17325

Mampu

0,2

0,3

0,5

0,30475

Mampu

0,8

0,3

0,6

0,6745

Kurang mampu

1,0

0,3

0,9

0,9185

Sangat kurang

0,1

0,3

0,5

0,22875

Mampu

0,4

0,3

0,7

0,49325

Kurang mampu

0,8

0,3

0,9

0,7855

Sangat kurang

10

1,2

0,3

0,7

0,91125

Sangat kurang

11

0,5

0,3

0,8

0,60575

Kurang mampu

12

0,6

0,3

0,5

0,53275

Kurang mampu

13

0,1

0,3

0,7

0,32225

Mampu

14

0,7

0,3

0,8

0,654

Kurang
mampu

15

0,8

0,3

0,7

0,70225

Kurang Mampu

16

0,5

0,3

0,8

0,58675

Kurang mampu

17

0,0

0,3

0,9

0,3295

Mampu

18

0,4

0,3

0,7

0,47425

Kurang mampu

19

0,7

0,3

0,3

0,51525

Kurang mampu

20

0,4

0,3

0,6

0,4655

Kurang mampu

21

0,2

0,3

0 ,7

0,36025

Mampu

22

0,4

0,3

0,7

0,47425

Kurang mampu

23

1,2

0,3

0,3

0,80025

Kurang mampu

24

0,8

0,3

0,6

0,6555

Kurang mampu

25

0,0

0,3

0,4

0,163

Mampu

26

0,5

0,3

0,6

0,5035

Kurang mampu

27

0,0

0,3

0,7

0,24625

Mampu

28

0,3

0,3

0,5

0,36175

Mampu

29

0,7

0,3

0,6

0,5985

Kurang mampu

30

0,0

0,3

0,5

0,19075

Mampu

Analisa Keselamatan Kerja


Berdasarkan hasil risk analysis yang telah dilakukan, diperoleh hasil
beberapa jenis bahaya yang masuk dalam kategori high / serious
danger, medium / moderate danger, dan very low. Bahaya yang
termasuk dalam kategori high / serious danger adalah:
a. Bahaya fisik, yaitu kebisingan, lantai licin, panas, dan benda
tajam
b. Bahaya mekanis, yaitu gerakan mekanis mesin.
Untuk potensi bahaya yang termasuk dalam kategori medium /
moderate danger adalah :
a. Bahaya ergonomi, yaitu potensi bahaya akibat dari posisi kerja
statis dan kecerobohan.
b. Bahaya fisik, yaitu potensi bahaya air nanas. Bahaya akibat dari
air nanas dapat menyebabkan kondisi lantai licin dan menyebabkan
iritasi mata apabila mengenai mata pekerja.

Dan potensi bahaya yang termasuk dalam


kategori very low adalah :
a. Bahaya kimia, yaitu bahaya akibat dari
gas buang (emisi). Bahaya yang dapat terjadi
akibat dari gas buang (emisi) dapat diabaikan.
b. Bahaya mekanis, yaitu bahaya akibat
tabrakan. Sakit / cedera akibat dari tabrakan
yaitu berupa luka memar, akan tetapi jenis
kecelakaan ini sangat jarang terjadi sehingga
dapat diabaikan.

3.10 Analisa Kesehatan Kerja


Faktor kesehatan kerja terdiri dari
faktor beban fisik kerja, faktor
beban kerja mental, keluhan
kerja, dan lingkungan fisik kerja.

3.10.1 Analisa Beban Kerja Fisik


Penilaian beban fisik kerja dilakukan dengan melakukan
perhitungan konsumsi energi pekerja, nilai extra calorie due
to peripheral temperature (ECPT), dan extra calorie due to
peripheral metabolism (ECPM).
Denyut jantung pekerja saat bekerja diukur tiap detik selama
5 menit kemudian menjadi input dari perhitungan konsumsi
energi, ECPT, dan ECPM.
Diperoleh hasil dari 30 pekerja terdapat 3 pekerja dengan
kategori sangat kurang mampu, 12 pekerja mampu, dan
sisanya termasuk kategori kurang mampu.
lebih dari 50% pekerja dalam penelitian ini kurang mampu
melaksanakan pekerjaannya dengan baik.
Hasil ECPT dan ECPM, terdapat 6 pekerja yang memiliki nilai
ECPM lebih tinggi dibandingkan nilai ECPT. Hal ini
menunjukkan keenam pekerja ini lebih diperngaruhi oleh
faktor internal beban kerja pekerja tersebut

3.10.2 Analisa Beban Kerja Mental


Pada dasarnya perhitungan beban kerja mental dengan NASA
Task Load Index ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan
pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Kebutuhan kerja
tersebut dijabarkan dalam 6 deskriptor, yaitu
1. kebutuhan fisik (KF),
2. kebutuhan mental (KM)
3. kebutuhan waktu (KW),
4. performansi (P)
5. usaha (U)
6. tingkat stres (TS).
Diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa kebutuhan fisik (KF)
merupakan kebutuhan dengan nilai rata-rata total product
tertinggi, yaitu 807 atau sekitar 31%. Hal ini menunjukkan bahwa
kebutuhan fisik merupakan kebutuhan yang paling
mempengaruhi beban kerja mental para pekerja.
Sedangkan kebutuhan yang memiliki nilai total product terendah
adalah kebutuhan mental (KM), yaitu sebesar 190,33 atau
sekitar 7%.

3.10.3 Analisa Keluhan Kerja


Untuk mengetahui keluhan kerja pekerja terkait
bagian tubuh yang sakit saat melakukan pekerjaan,
digunakan nordic body map. Berdasarkan hasil
nordic body map, diperoleh bahwa 10 bagian tubuh
yang dirasa paling sakit saat bekerja, yaitu leher,
bahu kanan, bahu kiri, punggung, pinggang, pinggul,
telapak tangan kanan, betis kiri, betis kanan, dan kaki
kanan.
Kesepuluh bagian tubuh yang dirasa paling sakit
tersebut digunakan sebagai inputan pada standardize
nordic questionnaire untuk mengetahui lama waktu
sakit, konsekuensi akibat sakit, dan waktu
kerja hilang akibat sakit yang dirasakan.

3.10.4 Analisa Lingkungan Fisik Kerja


Diperoleh hasil bahwa hampir seluruh pekerja
merasa terganggu dengan kondisi lingkungan
fisik kerja yang ada di sekitar tempat bekerja,
meskipun ada beberapa pekerja yang
memberikan skor 1 (tidak berpengaruh) untuk
atribut lingkungan kerja tertentu (pekerja ke-23
memberikan skor 1 atau tidak berpengaruh
untuk atribut pencahayaan).
Pada ketiga atribut tersebut terdapat masing
masing nilai kepentingan maksimal 5 atau
beberapa pekerja merasa sangat terganggu dan
menimbulkan ketidaknyamanan dalam bekerja.

3.11 Analisa Skoring Ergonomic Assessment


Metode yang digunakan dalam ergonomic assessment ini antara
lain konsumsi energi untuk beban fisik kerja, NASA TLX untuk beban
kerja mental, nordic body map questionnaire dan standardize nordic
questionnaire untuk keluhan kerja, dan lingkungan fisik kerja. Dari
hasil perhitungan nilai bobot prioritas diperoleh urutan faktor paling
dianggap penting yaitu keluhan kerja (nordic body map),
lingkungan fisik kerja, dan terakhir konsumsi energi (beban
fisik kerja).
Untuk menentukan kategori akhir pekerja, digunakan 4 kategori
batas yaitu sangat mampu, mampu, kurang mampu, dan
sangat kurang mampu
Berdasarkan hasil perhitungan dalam penentuan kategori pekerja,
dari 30 pekerja terdapat 3 pekerja dengan kategori sangat kurang,
12 pekerja mampu, dan sisanya termasuk kategori kurang mampu.
Lebih kurang 50% pekerja dalam penelitian ini masuk ke dalam
kategori kurang mampu dalam melaksanakan pekerjaannya dengan
baik.

3.12 Analisa Rekomendasi


Perbaikan
Rekomendasi perbaikan yang diberikan didasarkan pada 2
faktor hasil assessment yang memiliki bobot tertinggi. Bobot
faktor tertinggi adalah beban keluhan kerja (nordic body map)
dan lingkungan fisik kerja. Menurut hasil wawancara langsung
dengan pekerja, Perbaikan dapat dilakukan dengan perbaikan
ukuran dan dimensi kursi tersebut. Alas kursi tersebut lebih kecil
dibandingkan dengan rata-rata lebar bagian pantat. Kursi juga
perlu ditambahkan suatu bahan yang dapat memberikan
kenyamanan pekerja saat bekerja seperti busa atau bahan
lainnya.
Rekomendasi selanjutnya adalah perhatian khusus pada kondisi
lantai di dalam pabrik. Hal ini mengacu pada faktor lingkungan
fisik kerja yang merupakan faktor dengan bobot dan prioritas
kedua tertinggi. Pemberian treatment dengan dipasang kipas di
lokasi yang rawan lantai licin dapat membantu mengurangi
tingkat kelicinan lantai yang ada. Selain itu, dapat dilakukan
juga penambahan tanda-tanda peringatan bahaya di area-area
yang sering mengalami kondisi lantai yang licin.

IV. SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengumpulan data, pengolahan data, serta analisis dan
interpretasi data yang telah dilakukan maka dapat diperoleh simpulan sebagai
berikut :
1. Sebagian besar pekerja merasa terganggu dan tidak nyaman dengan
kondisi lingkungan kerja fisik.
2. Berdasarkan hasil ergonomic assessment untuk faktor keselamatan kerja,
dapat diketahui bahwa bahaya yang masuk kategori high/serious danger
adalah kebisingan, lantai licin, panas, benda tajam, dan gerakan mekanis
mesin. Bahaya yang masuk kategori medium/moderate danger antara lain
potensi bahaya akibat dari posisi kerja statis, kecerobohan pekerja, dan
bahaya dari air nanas. Sedangkan bahaya yang masuk kategori very low
adalah bahaya akibat dari gas buang (emisi) dan tabrakan.
3. Berdasar hasil ergonomic assessment faktor kesehatan kerja, dapat
diketahui bahwa dari 30 pekerja terdapat 3 pekerja dengan kategori sangat
kurang mampu, 12 pekerja mampu, dan sisanya termasuk kategori kurang
mampu. Dapat dikatakan lebih kurang 50% pekerja dalam penelitian ini
kurang mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Sedangkan untuk
hasil ECPT dan ECPM, terdapat 6 pekerja yang memiliki nilai ECPM lebih tinggi
dibandingkan nilai ECPT. Hal ini menunjukkan keenam pekerja ini lebih
diperngaruhi oleh faktor internal beban kerja pekerja tersebut.

Rekomendasi
1. Rekomendasi perbaikan yang diberikan didasarkan pada 2 faktor hasil
assessment yang memiliki bobot tertinggi. Bobot faktor tertinggi adalah
beban keluhan kerja (nordic body map) dan lingkungan fisik kerja. Untuk
keluhan kerja, perbaikan dilakukan dengan mendesain ulang kursi yang
digunakan pekerja.
2. Rekomendasi perbaikan terkait lingkungan kerja adalah dengan
memberi treatment dengan dipasang kipas pengering di lokasi yang
rawan lantai licin agar dapat membantu mengurangi tingkat kelicinan
lantai yang ada karena sampai saat ini kipas dipasang hanya didekatkan
kepada pekerja agar pekerja tidak mengalami gangguan kerja akibat suhu
panas yang tinggi.
3. Rekomendasi selanjutnya adalah pemberian lampu dan sensor pada
area mesin seamer. Pemasangan lampu dan sensor dapat menjadi alat
yang membantu pekerja agar lebih berhati-hati dalam bekerja di area ini,
sehingga kecelakaan kerja dapat dihindari.

Terimakasih