Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN HASIL NEKROPSI

KASUS PENYAKIT PADA AYAM


PPDH Gelombang XXV Kelompok 5
Periode 04 22 Januari 2016

Oleh:
KARTIKA PURNAMASARI
061513143116

DEPARTEMEN PATOLOGI VETERINER


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2016

LEMBAR PERSETUJUAN

Laporan Hasil Nekropsi ini Dinyatakan Sah


dan Memenuhi Persyaratan Yang Telah Ditentukan

Surabaya, 18 Januari 2016


Mengetahui,
Dosen Pembimbing

(Roesno Darsono, M.Kes., drh.)


NIP. 195306021980021001

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ayam pedaging (broiler) adalah hasil perkawinan silang dari bangsa-bangsa
ayam yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu
relatif singkat (4-5 minggu). Mutu genetik ayam broiler akan muncul secara
maksimal apabila diberi faktor lingkungan yang mendukung, misalnya pakan yang
berkualitas tinggi, sistem perkandangan yang baik, serta perawatan kesehatan dan
pencegahan penyakit. Sebab ayam broiler dapat terserang penyakit seperti berak
darah (Coccidiosis), tetelo (New Casstle Diseae), gumboro (Infectious Bursal
Disease), penyakit ngorok (Chronic Respiratory Disease), berak kapur (Pullorum),
dan lain-lain.
Bedah bangkai atau nekropsi adalah suatu upaya mengkoleksi data dari
perubahan organ dalam hewan untuk membuat sebuah diagnosa yang harus
dilakukan sebelum bangkai mengalami autolisis, maksimal 8 jam setelah kematian.
Nekropsi disini dilakukan untuk mengetahui sebab kematian ayam broiler dari suatu
peternakan di Madura. Untuk melengkapi hasil diagnosa yang akurat, nekropsi
biasanya dilengkapi dengan

hasil pemeriksaan dari beberapa laboratorium

penunjang, seperti bakteriologi, virologi, patologi klinik, toksikologi, parasitologi,


dan sebagainya.
1.2. Rumusan masalah
Apakah penyebab kematian pada ayam broiler yang dilihat dari sisi patologi
anatomi?
1.3. Tujuan
Untuk mengetahui penyebab kematian pada ayam broiler.
1.4. Manfaat
-

Dapat mengetahui perubahan makroskopis dan mikroskopis dari organ-organ

yang menampakkan perubahan patologis dari suatu penyakit.


Dapat mengaplikasikan teknik nekropsi ayam.
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Signalment
Pemilik
Tempat asal
Jenis hewan
Jenis kelamin
Umur

: Peternakan rakyat Denny Jaya


: Bangkalan, Madura
: Ayam broiler
: Jantan
: 2 minggu

Tanggal kematian : 05 januari 2016


Tanggal nekropsi : 05 januari 2016
2.2 Anamnesa
Lemas
Tidak nafsu makan
Mati mendadak
2.3 Alat dan Bahan
Alat:
- scalpel
- blade
- pinset cirrugis
- pinset anatomis
- gunting tulang
- gunting lancip tumpul
- pot organ
Bahan:
- ayam sakit
- formalin 10%
- air

2.4 Hasil Pemeriksaan Makroskopis dan Mikroskopis


A. Kondisi Fisik
Organ
Normal
Abnormal
Keterangan
Bulu

Kusam
Kulit

Pucat, kebiruan
Pial dan jengger

Cavum oris

Discharge
Cavum nasalis

Hasil pemeriksaan menunjukkan bulu ayam terlihat kusam, kulit berwarna


pucat kebiruan, dan adanya discharge pada cavum oris.

(a)
(b)
(a) Kondisi ayam post mortem; (b) Discharge pada cavum oris
B. Sistem respirasi dan sirkulasi
Organ
Normal
Abnormal
Keterangan
Laring

Trakhea

Hemoragi
Pulmo

Hemoragi
Air sac

Keruh
Hasil pemeriksaan menunjukkan perubahan-perubahan pada air sac (kantung
hawa), trakhea dan pulmo. Air sac berubah menjadi keruh, trakhea mengalami
hemoragi serta pulmo bewarna merah kehitaman dan konsistensinya lunak.
Berdasarkan pemeriksaan histopatologi, dijumpai adanya infiltrasi eritrosit pada
septa alveoli dan endapan fibrin pada lumen alveoli.

(a)
(b)
(a) Organ-organ sistem respirasi; (b) Mikroskopis pulmo perbesaran 40x
C. Sistem pencernaan dan organ asesoris
Organ
Esofagus
Crop
Jantung
Hepar
Proventriculus
Ventriculus
Duodenum
Ilium
Sekum
Caeca tonsil
Pankreas
Limpa
Vesica felea
Bursa fabricius

Normal

Abnormal

Keterangan
Nekrosis
-

Hasil pemeriksaan makroskopis menunjukkan hepar agak membesar, terdapat


hemoragi dan tampak foci nekrotik pada permukaannya (multifokal nekrosis). Pada
pemeriksaan histopatologi dijumpai adanya infiltrasi eritrosit pada sinusoid, nekrosis
sel hepatosit dan foci nekrotik intralobuler.

(a)
(b)
(a) Organ-organ sistem pencernaan; (b) Mikroskopis hepar perbesaran 400x
D. Sistem urinaria dan reproduksi
Organ
Ginjal
Testis

Normal

Abnormal

Keterangan
Radang
-

Hasil pemeriksaan makroskopis menunjukkan ginjal sedikit membengkak,


berwarna pucat dan konsistensinya lunak. Berdasarkan pemeriksaan histopatologi,
dijumpai adanya kongesti dan sel radang pada interstitial sel tubulus.

(a)
(b)
(a) Organ ginjal dan testis; (b) Mikroskopis ginjal perbesaran 400x

E. Sistem syaraf dan otot


Organ
Otak
Otot dada
Otot paha

Normal

Abnormal

Keterangan
Hiperemis
-

Hasil pemeriksaan menunjukkan otak berwarna kemerahan (hiperemis) dan


adanya hemoragi pada selaput otak. Pada pemeriksaan histopatologi dijumpai adanya
kongesti, infiltrasi sel radang dan cairan fibrin pada sulcus sel otak.

(a)
(b)
(a) Hemoragi pada otak; (b) Mikroskopis otak perbesaran 400x
2.5 Diagnosa
Berdasarkan pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis didapatkan diagnosa
sebagai berikut:
-

Pulmo mengalami pneumonia fibrinosa, yaitu radang pulmo yang bisa

diakibatkan oleh infeksi yang masuk secara hematogenous.


Hepar mengalami multifokal nekrosis hepatitis, yaitu radang hepar yang

bisa disebabkan oleh infeksi bakteri seperti colibacillosis dan salmonellosis.


Ginjal mengalami nefritis interstitialis akut, yaitu radang ginjal yang

prosesnya terbatas pada jaringan interstitial yang bersifat akut.


Otak mengalami meningitis, yaitu radang pada selaput otak yang ditandai
dengan adanya kongesti, hemoragi atau nekrosis.

Berdasarkan diagnosa-diagnosa tersebut diatas dugaan penyakit mengarah pada


CRD (Chronic Respiratory Disease) kompleks.
Penyakit CRD kompleks merupakan penyakit yang sering di sebuah
peternakan. Ditingkat peternak ayam pedaging, kasus CRD kompleks merupakan

kasus teratas yang sering dijumpai. Hampir di setiap periode pemeliharaan, serangan
bakteri Mycoplasma gallisepticum (penyebab penyakit CRD) selalu muncul.
Kemunculannya pun kerap kali diikuti dengan serangan penyakit lainnya, yang salah
satunya adalah infeksi bakteri Eschericia coli (penyebab colibacillosis). Komplikasi
kedua penyakit ini disebut sebagai penyakit CRD kompleks.
Anak ayam yang terserang CRD kompleks akan menunjukkan gejala berupa
tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan diare berwarna seperti tanah. Pada
perkembangan selanjutnya, anak ayam menjadi rentan terhadap infeksi penyakit
lainnya, misalnya Coryza, IB atau ND. Hal ini disebabkan infeksi CRD
menyebabkan kerusakan sinus hidung (sinus infraorbitalis) yang merupakan sistem
pertahanan pertama bagi masuknya bibit penyakit melalui saluran pernapasan.
CRD kompleks merupakan penyakit komplikasi antara infeksi

M.

gallisepticum dan E. coli. Komplikasi keduanya menimbulkan perubahan yang khas,


yaitu sinusitis (peradangan pada sinus), peradangan pada trakea dan air sac (air sac
found material cheesy), dan perihepatitis. Air sac mengalami peradangan dan
terdapat eksudat berwarna kuning terang dan keruh.
Penyakit CRD kompleks identik terjadi pada ayam pedaging, namun ayam
petelur juga sering mengalami penyakit ini. Pada perkembangannya, serangan CRD
kompleks pada ayam pedaging mulai terjadi saat umur > 2 minggu dan serangan
CRD kompleks banyak terjadi pada umur 22-28 hari. Penyakit yang menjadi
diagnosa banding CRD kompleks adalah Coryza, ILT, IB, ND, AI, dan pullorum.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Diagnosa sementara penyakit pada ayam broiler ini adalah CRD kompleks.
Dengan diagnosa banding yaitu Coryza, ILT, IB, ND, AI, dan pullorum.
3.2 Saran
Diperlukan

pemeriksaan

penunjang

seperti

pemeriksaan

darah

dan

pemeriksaan isolasi identifikasi bakteri maupun virus untuk meneguhkan diagnosa


penyakit penyebab kematian ayam broiler ini.